Anda di halaman 1dari 7

PENELITIAN KUALITATIF DALAM ARSITEKTUR

Nurfitriana Apritaningtyas
1504205110
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana

Metode kuantitatif dan kualitatif berkembang terutama dari akar filosofis dan teori sosial
abad ke-20. Kedua metode penelitian di atas mempunyai paradigma teoritik, gaya, dan asumsi
paradigmatik penelitian yang berbeda. Masing-masing memuat kekuataan dan keterbatasan,
mempunyai topik dan isu penelitian sendiri, serta menggunakan cara pandang berbeda untuk
melihat realitas sosial.

Sementara metode kualitatif dipengaruhi oleh paradigma naturalistik -interpretatif


Weberian, perspektif post-positivistik kelompok teori kritis serta post-modernisme seperti
dikembangkan oleh Baudrillard, Lyotard, dan Derrida (Cresswell, 1994).

“Gaya” penelitian kualitatif berusaha mengkonstruksi realitas dan memahami maknanya.


Sehingga, penelitian kualitatif biasanya sangat memperhatikan proses, peristiwa dan
otentisitas. Memang dalam penelitian kualitatif kehadiran nilai peneliti bersifat eksplisit dalam
situasi yang terbatas, melibatkan subjek dengan jumlah relatif sedikit. Dengan demikian, hal
yang umum dilakukan ia berkutat dengan analisa tematik. Peneliti kualitatif biasanya terlibat
dalam interaksi dengan realitas yang ditelitinya. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, metode
penelitian mempunyai pula asumsi paradigmatik.

John W. Cresswell menilik beberapa dimensi asumsi paradigmatik yang membedakan


penelitian kuantitatif dengan kualitatif. Dimensi-dimensi tersebut mencakup ontologis,
epistemologis, axiologis, retorik, serta pendekatan metodologis. Peneiliti kualitatif memandang
realitas merupakan hasil rekonstruksi oleh individu yang terlibat dalam situasi sosial.
Secara epistemologis, peneliti kualitatif, menjalin interaksi secara intens dengan realitas yang
ditelitinya.

Dengan demikian, penelitian kualitatif kerap ditandai penggunaan bahasa informal dan
personal seperti “understanding”, “discover”, dan “meaning”. Secara metodologis,
penelitian kualitatif lebih mengutamakan penggunaan logika induktif dimana kategorisasi
dilahirkan dari perjumpaan peneliti dengan informan di lapangan atau data-data yang
ditemukan. Sehingga penelitian kualitatif bericirikan informasi yang berupa ikatan konteks
yang akan menggiring pada pola-pola atau teori yang akan menjelaskan fenomena sosial
(Creswell, 1994: 4-7).

Jenis, Orientasi dan Prinsip Dasar Metode Kualitatif

Setidaknya, terdapat tiga jenis metode penelitian kualitatif yang banyak dipergunakan, yaitu:

(1) observasi terlibat;

(2) analisa percakapan;

(3) analisa Keterlibatan dan interaksi peneliti kualitatif

Tabel 1. “Gaya” Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

Kuantitatif Kualitatif

Mengukur fakta-fakta Mengkonstruksikan realitas dan makna


objektif kultural

Fokus pada variabel- Fokus pada proses dan peristiwa secara


variabel interaktif

Otentisitas adalah
Reliabilitas adalah kunci kunci

Hadirnya nilai secara


Bebas nilai eksplisit

Dibatasi
Bebas dari konteks situasi
Sedikit kasus dan
Banyak kasus dan subjek subjek

Analisis
statistik Analisis tematik

Peneliti Peneliti
terpisah terlibat

Konsep Penelitian Arsitektur

Arsitektur adalah ilmu dan seni, maka perkembangan dunia keilmuan arsitektur akan
tergantung pada perkembangan desain dan penelitian yang dilakukan. Metode ilmiah dalam
penelitian arsitektur terdiri lima langkah pokok yaitu:

(1) identifikasi masalah/perumusan hipotesis,

(2) desain penelitian, termasuk penjelasan teknik dan prosedur yang digunakan,

(3) pengumpulan data, termasuk kajian literatur dan pemilihan sampel,

(4) interpretasi atau analisis data dan

(5) pembuktian dan pelaporan hasil.

Gambar 2. Pola Hubungan Langkah Penelitian Arsitektur

(Sumber: Montgomery, dalam Snyder, 1984)


Penelitian arsitektur bidang desain lingkungan dalam kaitannya dengan perubahan
budaya, Rapoport (1983), dalam papernya Development, Culture Change and Supportive
Design, mengemukakan model pendekatan deskriptif kualitatif pada suatu penelitian
perubahan bentuk lingkungan.

Titik awal analisis mulai dari lingkungan tradisional yang memiliki karakter tertentu
sesuai dengan kebudayaannya. Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi lingkungan
yang mengalami perubahan, yang memiliki dua kemungkinan. Pertama, karakter
lingkungan berubah tetapi budaya tetap. Kedua, muncul kebaruan dari karakter lingkungan
dan budaya. Dari arah lain, yaitu bagian citra baru, dilakukan langkah yang sama. Pada
akhirnya dapat ditemukan dua perangkat karakter berlawanan yang muncul bersama
sebagai sintesa baru (sinkretisme). Jadi analisis penelusuran perubahan bentuk tersebut
langkahnya maju dari dua arah dan bertemu pada titik sinkretisme dari dua bentuk tersebut.
Elemen-elemen kebudayaan bersifat inti (relatif tetap), periferal (berubah terus) dan baru.
Sementara elemen-elemen lingkungan bersifat tetap (fixed), semi tetap (semi fixed) dan
tidak tetap (non fixed).

Dari uraian metodologi ilmiah penelitian secara umum dan metodologi ilmiah
penelitian yang dikembangkan di bidang arsitektur, terdapat benang merah (nuansa
persamaan) dalam hal pendekatan dan metodenya. Penentuan pendekatan (paradigma)
penelitian bidang arsitektur pada dasarnya ditentukan oleh dua hal pokok, yaitu:

1. masalah penelitian yang dihadapi, yang dianalisis secara kuantitatif atau kualitatif
2. tujuan penelitian, apakah untuk menguji teori atau mengembangkan teori baru yang
paralel dengan teori yang sudah ada.

Pendekatan penelitian arsitektur dapat menggunakan paradigma positivistik atau


paradigma fenomenologik. Pendekatan positivistik berkaitan dengan pemecahan masalah
rekayasa teknik arsitektur, sedangkan pendekatan fenomenologik (atau sering juga disebut
sebagai naturalistik) berkaitan dengan penjelasan bentuk yang selalu mengandung unsur
makna simbolik. Penelitian positivistik cenderung menggunakan teknik kuantitatif dan
penelitian naturalistik menggunakan teknik kualitatif.
Tabel: 2. Perbedaan Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

(Sumber: Husaini Usman, 1996)

Poster tentang Metode Kuantitatif Metode Kualitatif

Latar masalah Nomotetis Ideografis

Rumusan masalah Mantap Emergent

Tujuan Menguji teori Mengembangkan teori

Mendapatkan hubungan Mencari makna

antara variabel hubungan

Atomistic variabel

Generalisasi Wholistic

Teori yang digunakan Mantap (acuan pasti) Khusus

Hipotesis Mantap (acuan pola pikir) Sementara

Penyusunan teori Logika deduktif Sementara

Waktu penelitian Terbatas Logika induktif

Sampel Banyak Bebas

Tetap Sedikit

Acak Snowball

Representatif Purposive

Pengumpulan data Angket Tidak representatif

Wawancara berstruktur Observasi partisipasi

Instrumen penelitian Utama alat bantu Tidak berstruktur

Analisis data Statistik Utama peneliti sendiri


Deduktif Non statistik

Setelah data terkumpul Induktif

Hubungan responden Kurang intim Terus menerus

Tidak setara Intim (bergaul akrab)

Jangka pendek Setara

Desain Mantap Jangka panjang

Proyektif Emergent

Langkah jelas Retrospektif

Langkah bebas

Istilah peryaratan ilmiah:

Kebenaran Validitas internal

Validitas Eksternal Kredibilitas

Konsistensi Reliabilitas Transferabilitas

Auditabilitas

Netralitas Obyektivitas Dependabilitas

Konfirmabilitas

Analisis Data Penelitian Kualitatif

Komponen pokok penelitian kualitatif terdiri:

(1) data,

(2) prosedur analisis dan intepretasi dan

(3) laporan penyajian (Strauss dan Corbin, 1997).


Sumber data dari berbagai sumber, sumber data yang paling umun dari hasil observasi dan
interviu. Prosedur analisis dan intepretasi disebut coding (pengkodean), terbagi dalam pengkodean
terbuka dan pengkodean aksial. Penyajian laporan pada umumnya bervariasi, tergantung dari audien
dan temuan-temuan penelitian. Prosedur analisis dan intepretasi merupakan bagian penting
penelitian kualitatif.

Daftar Pustaka

Sumarjo. 2010. “Analisis Data Kualitatif dalam Penelitian Teknik Arsitektur”. Inersia Vol. VI
No. 1, Mei 2010

Somantri, Gumilar Rusliwa. 2005. “Memahami Metode Kualitatif”. MAKARA, SOSIAL


HUMANIORA, VOL. 9, NO. 2, DESEMBER 2005: 57-65