Anda di halaman 1dari 3

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Usaha budidaya sidat telah banyak dilakukan oleh pengusaha perikanan


Indonesia, karena sidat (Anguilla sp.) merupakan komoditas perikanan yang
memiliki nilai ekonomis tinggi dan digemari di pasar internasional. Tingkat
konsumsi sidat masih sangat rendah jika dibanding dengan negara lain. Jepang,
Korea dan negara- negara di Eropa seperti Itali, Jerman, Belanda dan Prancis
merupakan konsumen utama dengan tingkat konsumsi sidat yang tinggi. Sidat
merupakan ikan konsumsi yang memiliki kandungan protein sebesar 30,5 %,
lemak sebesar 48,8 % dan karbohidrat 16,44% (Widyasari et al., 2013). Sidat
memiliki kandungan vitamin A sebesar 4700 IU/ 100 g (Pratiwi, 1998). Nilai
kandungan gizi tersebut yang membuat sidat banyak digemari di pasar
internasional. Pasar ekspor komoditas sidat yang tinggi menjadikan peluang
yang sangat besar bagi para pembudidaya di Indonesia.
Indonesia memiliki potensi glass eel yang sangat melimpah
dikarenakan dari 16 jenis sidat yang ada di dunia tujuh jenisnya beruaya di
perairan pesisir Indonesia. Potensi sidat yang cukup besar ditunjukkan dengan
banyak ditemukannya glass eel yang beruaya di sepanjang pantai barat
Sumatera, pantai selatan Jawa, pantai timur Kalimantan, kepulauan Maluku
dan Irian Jaya. Pemanfaatan glass eel dari alam di Indonesia untuk budidaya
masih terhitung rendah. Ilmu pengetahuan dan teknologi budidaya sidat yang
kurang dimiliki para pembudidaya di Indonesia menyebabkan proses produksi
sidat sering mengalami kegagalan. Jenis sidat yang banyak membuka peluang
untuk dikembangkan lebih intensif mulai dari budidaya sampai dengan
pemasaran (Robin, 2012). Potensi sumberdaya alam sidat yang dimiliki
Indonesia belum sepenuhnya dimanfaatkan dengan baik dalam usaha
penangkapan sidat (dewasa maupun elver) maupun untuk usaha budidaya
(Sulistijo, 1981). Potensi sidat yang sangat melimpah di Indonesia dapat
dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kecukupan kebutuhan protein
dalam negeri dan kepentingan ekspor yang potensial.

1
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan
Republik Indonesia Nomor. 18/MEN/2009, bahwa dalam rangka meningkatkan
keaneka ragaman sumber daya ikan dan pemenuhan kebutuhan benih sidat
dalam negeri, maka perlu mengatur larangan pengeluaran benih sidat (Anguilla
sp.) dari wilayah Negara Republik Indonesia ke luar wilayah Negara Republik
Indonesia. Menurut Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik
Indonesia Nomor. 19/MEN/2012, bahwa setiap perorangan atau korporasi
dilarang mengeluarkan benih sidat (Anguilla sp.) dengan ukuran kurang dari
atau sama dengan 150 (seratus lima puluh) g / ekor dari wilayah Negara
Republik Indonesia ke luar wilayah Negara Republik Indonesia. Surat
Keputusan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 44/M-
DAG/PER/7/2012, memutuskan bahwa ikan sidat (Anguilla sp.) dengan berat
kurang dari 100 g / ekor atau berdiameter 2,5 cm merupakan salah satu barang
yang dilarang di ekspor. Sesuai dengan peraturan di atas maka sidat pada tahap
glass eel tidak diperbolehkan untuk diekspor. Hal ini merupakan peluang besar
bagi para pembudidaya ikan sidat di Indonesia untuk membudidayakan ikan
sidat dan melakukan ekspor ke beberapa negara seperti Jepang, Korea dan
beberapa negara - negara di Eropa.
Usaha budidaya ikan ditentukan oleh ketersediaan pakan yang
seimbang. Pakan yang seimbang digunakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
dan untuk meningkatkan pertumbuhan ikan (Watanabe et al., 1988).
Penyediaan pakan dengan kadar protein tinggi yang sesuai dengan kebutuhan
sidat membutuhkan biaya yang cukup besar. Sidat merupakan ikan karnivora,
sehingga membutuhkan protein hewani untuk mecukupi kebutuhan hidupnya.
Penggunaan pakan buatan dalam budidaya intensif sidat memiliki keunggulan
yang sangat besar karena pakan buatan memiliki kandungan nutrisi yang lebih
lengkap seperti mineral dan vitamin jika dibanding dengan pakan alami.
Pemberian pakan buatan untuk sidat berguna untuk memacu pertumbuhan
sidat. Menurut Afrianto dan Liviawaty (2005) bahwa pakan buatan juga dapat
melengkapi penyediaan nutrisi yang tidak terdapat dalam pakan alami. Pakan
buatan merupakan komponen utama dalam usaha budidaya ikan secara intensif

2
untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ikan. Penggunaan pakan buatan dalam
budidaya intensif dapat mencapai 60% dari biaya produksi. Penggunaan pakan
yang tepat pada sidat dapat memacu pertumbuhan hingga optimal dan
menghasilkan nilai konversi pakan yang rendah, sehingga dapat memberi
keuntungan lebih pada pembudidaya sidat.
Pakan sakae merupakan pakan buatan untuk sidat dengan formula yang
berasal dari Korea buatan Galilee Eel Prima.Pakan sakae yang beredar
dimasyarakat beredar dalam kemasan 20 kg. Pakan sakae berbentuk tepung,
pemberian pakan sakae untuk sidat dengan cara menambahkan air hingga
pakan berbentuk pasta atau cake. Pakan KPA merupakan pakan buatan untuk
ikan kakap buatan PT. Suri Tani Pemuka. Pakan KPA berbentuk pelet dengan
kemasan 25 kg / sak. Pakan person merupakan pakan buatan perseorangan
yang berasal dari Solo, Jawa Tengah. Pakan Person berbentuk tepung,
pemberiannya untuk sidat harus ditambahkan air agar menjadi adonan pasta.

B. Tujuan

Tujuan penelitian ini dilaksanakan adalah untuk mengetahui pengaruh


pemberian tiga macam pakan yang berbeda (Kode pakan S, K dan P) terhadap
pertumbuhan dan sintasan sidat (Anguilla sp.)

C. Manfaat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai


pengaruh pemberian tiga macam pakan yang berbeda (Kode pakan S, K dan P)
terhadap pertumbuhan dan sintasan sidat (Anguilla sp).