Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Perkembangan (development) adalah pertambahan kemampuan struktur
dan fungsi tubuh yang lebih kompleks. Perkembangan masa awal meliputi
beberapa aspek kemampuan fungsional yaitu kognitif, motorik, emosi, sosial
dan bahasa. Perkembangan pada fase awal ini akan menentukan
perkembangan fase selanjutnya. Kekurangan pada salah satu aspek
perkembangan dapat mempengaruhi aspek lainnya. Salah satu masalah yang
sering terjadi pada masa pertumbuhan dan perkembangan anak yaitu
keterlambatan tumbuh kembang anak (Delay Developmental).
Delay Development yaitu suatu ketertinggalan secara signifikan pada
fisik, kemampuan kognitif, perilaku, emosi, atau perkembangan sosial
seorang anak apabila dibandingkan dengan anak normal seusianya. Anak
delay development akan tertunda dalam mencapai satu atau lebih
perkembangan kemampuannya (Wahyono, 2008 dalam Khasanah, 2017).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya keterlambatan
perkembangan pasien yaitu faktor internal meliputi faktor keturunan dan
faktor kondisi pasien dan faktor eksternal meliputi kelahiran, gizi dan
psikologis (Mahendra, 2015)
Dalam sebuah penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa
jumlah anak-anak yang mengalami gangguan sebanyak 12-16% dari total
populasi anak, 20-30 % di antaranya terjadi pada usia pra sekolah.3
Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar. Menurut Kemenkes
RI tahun 2010, jumlah balita di Indonesia sebanyak 10% dari total jumlah
penduduk. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa 20-30 % anak balita di
Indonesia dideteksi mengalami gangguan perkembangan, sebagian besar
balita mengalami keterlambatan pada aspek motorik kasar dan bahasa
(Atiqoh, 2016).
Keterlambatan tumbuh kembang anak biasanya terlambatnya
perkembangan motorik. Perkembangan motorik adalah proses tumbuh

1
kembang kemampuan gerak seorang anak. Pada dasarnya, perkembangan ini
berkembang sejalan dengan kematangan syaraf dan otot anak. Sehingga,
setiap gerakan sesederhana apapun merupakan hasil pola interaksi yang
kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh
otak (Izza, 2010 dalam Krisdiyanti, 2015).
Fisioterapi berperan dalam meningkatkan kemampuan fungsional agar
anak mampu merangkak sehingga dapat meningkatkan kemampuan
fungsionalnya (Waspada, 2010 dalam Sodiq, 2015). Salah satu pendekatan
yang telah di kembangkan untuk menangani kondisi tersebut adalah dengan
tehnik Neuro Developmental Treatment (NDT) yang di temukan oleh
Bobath pada tahun 1966. Tehnik tersebut adalah sebagai suatu tehnik terapi
mulai dari penanganan langsung mengoptimalkan fungsi pada setiap
individu dengan gangguan neurologis yang ada di dalam lingkungannya
(Sodiq, 2015).

1.2 RUMUSAN MASALAH


a. Apa itu Delay Development ?
b. Apa saja penyebab Delay Development ?
c. Bagaimana pengaruh terapi Infra Red Radiating, Neurostructure dan
Neuro Development Treatment terhadap Delay Development ?

1.3 TUJUAN PENULISAN


a. Menjelaskan pengertian Delay Development
b. Menjelaskan penyebab Delay Development
c. Menjelaskan pengaruh terapi Infra Red Radiating, Neurostructure dan
Neuro Developmental Treatment terhadap Delay Development

1.4 MANFAAT PENULISAN


Dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai Delay Development
dan proses penatalaksanaan tindakan Fisioterapi pada kasus Delay
Development dengan modalitas Infra Red Radiating, Neurostructure dan
Neuro Developmental Treatment.

2
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 DEFINISI KASUS
Pertumbuhan (growth) itu sendiri mempunyai pengertian yaitu berkaitan
dengan masalah perubahan ukuran, besar, jumlah, atau dimensi pada tingkat
sel, organ maupun individu. Perkembangan (development) adalah
pertambahan kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks.
Perkembangan menyangkut adanya proses deferensiasi sel-sel, jaringan organ,
dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing
dapat memenuhi fungsinya (Tanuwijaya, 2003 dalam Krisdiyanti, 2015).
Keterlambatan perkembangan (development delayed) adalah
ketertinggalan secara signifikan pada fisik, meliputi aktifitas merangkak,
duduk, berdiri dan berjalan pada pasien bila dibandingkan dengan pasien
normal seusianya. Seorang pasien dengan development delayed adalah pasien
yang tertunda dalam mencapai sebagian besar hingga semua tahapan
perkembangan pada usianya (Mahendra, 2015)
Menurut Wahyono (2008) dalam Sodiq (2015) Delay Development
merupakan keterlambatan tumbuh kembang anak berupa ketertinggalan secara
signifikan pada fisik, kemampuan kognitif, perilaku, emosi, atau
perkembangan sosial seorang anak bila dibandingkan dengan anak normal
seusianya.

2.2 ANATOMI SISTEM SYARAF PUSAT


a. Otak
Otak terbagi menjadi 3 bagian yaitu:
1) Otak besar(Cerebrum)
2) Otak kecil(Cerebellum)
3) Otak tengah(Mesencephalon)

3
4.1 Otak besar (Serebrum)
Berfungsi untuk pengaturan semua aktivitas mental yaitu berkaitan dengan
kepandaian (intelegensi), ingatan(memori), kesadaran, dan pertimbangan. Otak
besar terletak dibagian depan otak. Terdiri atas:
- Bagian depan (frontal)
- Bagian belakang (oksipital) sebagai pusat penglihatan
- Bagian samping (temporal) sebagai pusat pendengaran
- Bagian tengah (parietal) sebagai pusat pengatur kulit dan otot terhadap
panas, dingin, sentuhan, tekanan.
- Antara bagian tengah dan belakang sebagai pusat perkembangan
kecerdasan, ingatan, kemauan, dan sikap.
4.2 Otak kecil (Cerebellum)
Berfungsi untuk mengendalikan dan mengkoordinasikan gerakan-gerakan otot
tubuh serta menyeimbangkan tubuh. Letak otak kecil terdapat tepat diatas batang
otak.
4.3 Otak Tengah (Mesensefalon)
Terletak didepan otak kecil dan jembatan varol (menghubungkan otak kecil
bagian kiri dan kanan, juga menghubungkan otak besar dan sumsum tulang
belakang).
Di depan otak tengah (diencephalon) :
- Talamus (Pusat pengatur sensoris)
- Hipotalamus (Pusat pengatur suhu, Mengatur selera makan,
Keseimbangan cairan tubuh). Bagian atas ada lobus optikus (pusat refleks
mata).

4
2.3 ETIOLOGI DELAY DEVELOPMENT
Etiologi atau penyebab terjadinya Delay Development dikelompokkan
menjadi dua faktor, yaitu: Faktor Internal dan eksternal. Faktor internal terdiri
dari faktor dalam atau faktor keturunan yang diturunkan kepada sang anak
atau faktor genetik. Faktor eksternal seperti kehamilan, kelahiran, gizi,
psikologis, pola asuh kedua orang tua dan stimulasi (Wahyono, 2008 dalam
Sodiq, 2015).
Masalah tumbuh kembang akan lebih banyak ditemukan pada bayi-bayi yang
memiliki resiko tinggi saat persalinan. Bayi-bayi tersebut mengalami gangguan
tumbuh kembang seperti neonatus kurang bulan atau prematur, perdarahan
intraventrikular dan lain-lain .

2.4 TANDA DAN GEJALA


Seorang anak Delay Development pada umumya akan mengalami tanda
dan gejala diantaranya: Keterlambatan perkembangan sesuai tahap
perkembangan pada usianya misalnya anak terlambat untuk bisa duduk,
berdiri, dan berjalan, keterlambatan kemampuan motorik halus/kasar,
rendahnya kemampuan sosial, Perilaku agresif (Waspada, 2010 dalam Sodiq,
2015).
Sedangkan menurut Krisdiyanti (2015) sebagian besar pemeriksaan pada
anak dengan delay developmental difokuskan pada keterlambatan
perkembangan kemampuan kognitif, motorik, atau bahasa. Gejala yang
terdapat biasanya:
a. Keterlambatan perkembangan sesuai tahap perkembangan pada usianya:
anak terlambat untuk bisa duduk, berdiri, berjalan.
b. Keterlambatan kemampuan motorik halus/kasar
c. Rendahnya kemampuan sosial
d. Perilaku agresif
e. Masalah dalam berkomunikasi.

5
2.5 PATOFISIOLOGI
Keterlambatan perkembangan dapat terjadi pada otak anak saat otak
terbentuk pada masa gestasi. Penyebab yang mungkin antara lain: lahir
premature, kelainan genetik dan herediter, infeksi. Pada bayi yang lahir
prematur, terjadinya keterlambatan perkembangan disebabkan karena pada
masa gestasi otak anak belum terbentuk sempurna.
Keterlambatan perkembangan motorik anak diartikan sebagai
keterlambatan perkembangan dari unsur kematangan dan pengendalian gerak
tubuh, dan perkembangan tersebut erat kaitannya dengan perkembangan pusat
motorik anak. Perkembangan pengendalian gerakan tubuh meliputi kegiatan
yang terkoordinir antara susunan saraf, otot, otak, dan spinal cord.
Keterlambatan perkembangan gerakan motorik anak dapat dibagi menjadi dua
yaitu motorik kasar dan motorik halus (Khan & Underhill, 2006 dalam Sodiq,
2015).

2.6 INTERVENSI FISIOTERAPI


1. Infra Red Radiating
Infra Red Radiating (IRR) adalah pemanasan superfisial dengan pancaran
gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang 7.700 – 4 juta Å.
Efek IRR yaitu :
a. Efek Fisiologis
1) Meningkatkan metabolisme
2) Vaodilatasi pembuluh darah
3) Pigmentasi
4) Sedatif
5) Meningkatkan temperatur tubuh
6) Meningkatkan kelenjar keringat
b. Efek Terapeutik
1) Menghilangkan rasa sakit
2) Relaksasi otot
3) Meningkatkan supply darah
4) Menghilangkan sisa-sisa metabolisme tubuh.

6
2. Neurostructure
Neurostructure (NS) adalah untuk mendorong perkembangan motorik
dan personal anak (Nawang, 2010 dalam Krisdiyanti, 2015).
Neurostructure (NS) mempunyai tujuan sebagai berikut :
a. Meringankan dan menghilangkan stress dan kompensasi disfungsional
yang non-produktif di dalam struktur tubuh.
b. Mengaktifkan motor program yang alami dan genetik dan seluruh
mekanisme perkembangan gerak.
c. Mengaktifkan ”brain-body” integration mechanisms, yang
mempengaruhi perkembangan gerak.
d. Mengoptimalkan motor- dan sensory-motor integration.
e. Menghilangkan stres pada saat belajar.
f. Mendukung ketrampilan motorik dan kognitive yang alami dan
khusus.
g. Mengungkap kemampuan untuk membuat perubahan-perubahan
positif dalam struktur, postur dan gerak tubuh, dan sistem-sistem
koordinasi yang beragam.
h. Membantu anak-anak dan orang dewasa untuk menggunakan motor
skills dalam pembelajaran.
i. Membuat exercise terpadu yang bersifat individual untuk anak-anak
dan orang dewasa yang memiliki permasalahan dalam perkembangan
gerak, emosi, motivasi, dan pembelajaran.

3. Neurodevelopmental Treatment (NDT/ Bobath Exercise)

NDT atau Bobath yaitu suatu teknik yang dikembangkan oleh


Karel dan Bertha Bobath pada tahun 1997. Metode ini khususnya
ditujukan untuk menangani gangguan system saraf pusat pada bayi dan
anak-anak. Untuk lebih efektif, penanganan harus dimulai secepatnya,
sebaiknya sebelum anak berusia 6 bulan. untuk anak pada usia yang lebih
tua (diatas 6 bulan) penanganan masih efektif, namun ketidaknormalan
akan semakin tampak seiring dengan bertambahnya usia anak dan
biasanya membawa terapi pada kehidupan sehari-hari sangat sulit dicapai.

7
Tujuan konsep NDT adalah :
1. Memperbaiki, mencegah postur dan pola gerakan abnormal
2. Mengajarkan postur dan pola gerak yang normal.
Teknik Metode NDT:
1. Inhibisi
2. Stimulasi
3. Fasilitasi

8
BAB III
PEMBAHASAN

3.1.TINDAKAN TERAPI
a. Identitas Pasien
Nama : An.V
Umur : 1 tahun 4 hari
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Sokaraja
b. Diagnosa Medik : Delay Development
c. Medika Mentosa : Anak tidak mengkonsumsi obat
d. Anamnesa :
- Keluhan Utama : Anak belum mampu merangkak, duduk, berdiri dan
berjalan secara mandiri
- Riwayat Penyakit Sekarang :
An. V adalah anak pertama dari kelahiran ke-2 Ibu E. lahir pada usia
kandungan 8 bulan 1 minggu melalui persalinan caessar karena bayi
sungsang. Saat hamil, ibu tidak pernah jatuh namun pernah
mengkonsumsi obat demam dari dokter. Saat ini anak hanya mampu tidur
terlentang dan tengkurap, belum mampu mengangkat panggulnya untuk
merangkak, belum mampu duduk, berdiri dan berjalan sendiri. Anak rutin
menjalani terapi di Poli Fisioterapi RSUD Banyumas sejak februari 2018
sampai sekarang.
- Riwayat Penyakit Dahulu :
Anak tidak pernah jatuh, tidak memiliki riwayat kejang, pernah demam
saat umur 1 tahun.
- Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak Ada
- Riwayat Pribadi : pasien adalah anak pertama dari kelahiran kedua. Saat
ini anak menjalani rawat jalan di Poli Fisioterapi RSUD Banyumas
e. Anamnesis Sistem
1) Kepala dan Leher : Tidak ada keluhan

9
2) Sistem Kardiovaskular : Tidak ada keluhan
3) Sistem Respirasi : Tidak ada keluhan
4) Sistem Gastrointestinal : BAB anak lancar
5) Sistem Urogenital : BAK anak lancar
6) Sistem Muskuloskeletal : Adanya kelemahan otot trunk dan pelvic
7) Sistem Nervorum : Tidak ada keluhan
f. Pemeriksaan Tanda Vital
- Frekuensi Pernafasan : 22 kali/menit
- Denyut Nadi : 76 kali/menit
- Suhu : 36º C
- Tinggi Badan : 75 cm
- Berat Badan : 6,5 kg
g. Pemeriksaan Fisik :
- Inspeksi :  Statis :
- Wajah pasien tidak pucat
- Tidak terlihat adanya oedem
 Dinamis :
- Pasien mampu menggerakkan AGA dan
AGB secara aktif
- Pasien mampu tengkurap secara mandiri
- Palpasi :  Tidak ada spastisitas
 Tidak ada spasme otot
 Suhu tubuh anak normal
 Tidak ada oedem
- Perkusi : Tidak dilakukan
- Auskultasi : Tidak dilakukan
h. Pemeriksaan Fungsi Gerak Dasar
- Aktif :  Pasien mampu menggerakkan anggota gerak
atas dan anggota gerak bawah secara aktif
 Saat tengkurap pasien kesulitan untuk
mengangkat panggulnya / pelvicnya
 Kontrol kepala (+)

10
- Pasif : Ekstremitas mampu digerakkan secara pasif
dan tidak ada spastisitas
- Isometrik Melawan : Pasien mampu melawan tahanan yang
Tahanan diberikan oleh terapis
i. Kognitif, Intrapersonal dan Interpersonal
- Kognitif : Pasien belum mampu mengetahui orientasi
ruang dan waktu dengan baik
- Intrapersonal : Pasien belum mampu menerima respon
- Interpersonal : Pasien belum bisa bersikap kooperatif dengan
baik
j. Kemampuan Fungsional dan Lingkungan Aktifitas
- Kemampuan Fungsional : Pasien belum mampu merangkak, mampu
duduk dan berdiri dengan bantuan , belum
mampu secara mandiri
- Lingkungan Aktifitas : Keluarga dan lingkungan aktifitas pasien
mendukung dalam meningkatkan tumbuh
kembang pasien
k.Pemeriksaan Spesifik :
a) Pemeriksaan Kekuatan Otot
X O T R
AGA dekstra √ - - -
sinistra √ - - -
Trunk - - √ -
AGB dekstra √ - - -
sinistra √ - - -
Keterangan :
X = mampu menggerakkan
O = tidak ada kontraksi otot
T = adanya kontraksi, tetapi tidak ada gerakan
R = adanya reflek

11
b) Pemeriksaan Reflek
Babynski (-)
Chaddock (-)
ATNR (-)
STNR (-)
Grasp (+)
Tonic Labirin Supine (+)
Tonic Labirin Prone (+)
Amphibian (-)

c) Spesifik Test
1) Pemeriksaan tumbuh kembang dan Aktifitas Fungsional dengan
Denver Development Screening Test (terlampir)
2) Motorik Kasar dengan GMFM (terlampir)
l. Diagnosa Fisioterapi
1) Impairment : - Adanya kelemahan otot trunk dan pelvic
- Adanya penurunan aktifitas fungsional
- Adanya penurunan fungsi motorik
2) Disability : Pasien belum mampu bermain dan
melakukan aktifitas seperti anak seusianya
3) Functional Limitation : Pasien belum mampu merangkak, duduk,
berdiri secara mandiri
m. Perencanaan Tindakan Terapi
- Tujuan Terapi
 Tujuan Terapi Jangka Pendek :
1) Meningkatkan kekuatan otot trunk dan pelvic
2) Meningkatkan kemampuan merangkak, duduk, berdiri
 Tujuan Terapi Jangka Panjang :
Meningkatkan aktifitas fungsional pasien
n. Modalitas Fisioterapi :
a) Teknologi yang dilaksanakan
- Infra Red Radiating
- Neurostructure
- Neurodevelopmental Treatment (NDT/ Bobath Exercise)

12
b) Teknologi alternatif
Baby massage
c) Edukasi
Orangtua anak diberikan edukasi agar memperhatikan latihan seperti
yang dilakukan terapis dirumah
o. Rencana Evaluasi :
1) Kekuatan otot dengan CMH (Children Memorial Hospital)
2) Kemampuan fungsional dengan DDST
3) Kemampuan motorik dengan GMFM (Gross Motor Function
Measurement)
p. Pelaksanaan Terapi
1) Infra Red Radiating
- Persiapan alat : cek kabel, pastikan alat menyala
- Persiapan pasien : posisikan pasien secara nyaman
- Penyinaran tegak lurus dengan jarak 45 cm , waktu penyinaran 10
menit , area terapi seluruh ekstremitas. Catatan : hindari
penyinaran pada mata
2) Neurostructure
- Posisikan pasien tidur terlentang secara nyaman
- Lakukan gerakan usapan lembut dari kepala, wajah, leher, bahu,
hingga tangan, lalu badan anak dari dada sampai pelvic, lanjut dari
paha sampai ujung kaki (dilakukan 3x pengulangan)
- Lakukan gerakan usapan , usapan bergelombang dan usapan angka
delapan pada dada dan perut anak (3x pengulangan)
- Lakukan gerakan stretching pada perut anak
- Pada posisi miring, lakukan gerakan usapan dari bahu sampai
ujung kaki, lalu gerakan memijat dengan lembut pada ruas tulang
rusuk
- Pada posisi tengkurap, lakukan usapan lembut dari kepala, leher,
bahu, hingga tangan lalu badan anak dari punggung sampai pelvic
lanjut dari paha sampai ujung kaki (3x pengulangan)
- Lakukan gerakan usapan, usapan bergelombang dan usapan angka

13
delapan pada punggung anak (3 kali pengulangan)
- Lakukan pijatan lembut pada ruas-ruas tulang belakang anak
3) Neurodevelopmental Treatment (NDT/ Bobath Exercise)
- Lakukan gerakan dari posisi terlentang ke tengkurap , dengan cara
menekuk salah satu lutut lalu menggerakannya ke arah samping
hingga pelvic dan bahu miring lalu anak membalik (tengkurap)
- Apabila kontrol kepala anak masih buruk (kepala tidak tegak)
lakukan stimulasi di daerah leher / cervical anak sehingga anak
mampu menegakkan kepalanya
- Melatih pasien untuk mengangkat trunk dan pelvicnya , dengan
cara terapis mengangkat sedikit pelvicnya, respon anak akan
menekukkan lututnya , tangan anak menumpu di depan badan
- Melatih pasien untuk merangkak, key point of control pada pelvic
anak
- Setelah merangkak anak dilatih untuk duduk, posisikan badan anak
tegak, kaki anak lurus ke depan, fiksasi pada kedua tangan anak
dan anak dilatih keseimbangan duduk
- Melatih untuk jongkok, setelah latihan duduk anak dilatih untuk
posisi jongkok yaitu pasien duduk dengan kedua lutut menekuk di
depan badan, kemudian latih anak untuk menumpu pada kedua
kakinya
- Setelah latihan jongkok, anak dilatih untuk berdiri dengan cara
mencondongkan badan anak kedepan dan berikan bantuan agar
anak mampu bangkit untuk berdiri tegak, setelah itu latih
keseimbangan berdiri anak
- Setelah latihan berdiri, anak dilatih untuk berjalan dengan gait
yang benar
q. Prognosis
Quo ad sanam : Baik
Quo ad vitam : Baik
Quo ad cosmeticam : Baik
Quo ad fungsionam : Sedang

14
3.2.EVALUASI
Hasil setelah menjalani terapi :
a) Kekuatan otot dengan CMH (Children Memorial Hospital)
Regio Terapi 1 Terapi 2 Terapi 3
dex sin dex sin dex sin
Shoulder x x x x x x
Elbow x x x x x x
Wrist x x x x x x
Hip x x x x x x
Knee x x x x x x
Ankle x x x x x x
Trunk T T T
Keterangan :
X = mampu menggerakkan
O = tidak ada kontraksi otot
T = adanya kontraksi, tetapi tidak ada gerakan
R = adanya reflek
Setelah dilakukan terapi sebanyak 3 kali, belum ada peningkatan
kekuatan otot trunk anak.

b) Tumbuh kembang dan aktifitas fungsional anak dengan DDST


(terlampir)
Setelah dilakukan terapi sebanyak 3 kali, didapatkan hasil :
Aspek Terapi 1 Terapi 2 Terapi 3
Personal Sosial Sesuai dengan anak Sesuai dengan anak Sesuai dengan anak
seusianya seusianya seusianya
Motorik Halus Sesuai dengan anak Sesuai dengan anak Sesuai dengan anak
seusianya seusianya seusianya
Bahasa Sesuai dengan anak Sesuai dengan anak Sesuai dengan anak
seusianya seusianya seusianya
Motorik Kasar Keterlamatan, Keterlamatan, Keterlamatan,
sesuai dengan anak sesuai dengan anak sesuai dengan anak
usia 6 bulan usia 6 bulan usia 7 bulan

15
- Adanya keterlambatan aktifitas fungsional pada aspek motorik kasar,
pada terapi ke-1 dan terapi ke-2 keterlambatan aktifitas fungsional
anak sesuai dengan aktifitas anak usia 6 bulan, lalu pada terapi ke-3
terjadinya peningkatan aktifitas fungsional sesuai dengan anak usia 7
bulan.
- Tidak ada keterlambatan pada aspek personal sosial, bahasa dan
motorik halus.

c) Kemampuan motorik anak dengan GMFM (terlampir)


Setelah dilakukan terapi sebanyak 3 kali, didapatkan hasil :
Terapi 1 Terapi 2 Terapi 3
24,3 % 24,3 % 26,2 %
Dari hasil evaluasi diatas, terjadi peningkatan fungsi motorik 24,3 %
ke 26,2 % dari 100%, namun anak masih mengalami keterlambatan
dalam aspek merangkak, berdiri dengan lutut, berdiri, berjalan, berlari
dan melompat.

16
BAB IV

SIMPULAN DAN SARAN

4.1 SIMPULAN
Seorang pasien yang bernama An. V berusia 1 tahun 17 hari
dengan kondisi Delay Development memiliki masalah adanya kelemahan
otot trunk, gangguan aktifitas fungsional dan gangguan motorik kasar.
Setelah mendapatkan penanganan Fisioterapis dengan menggunakan
modalitas Infra red, Neurostructure dan Neurodevelopmental Treatment
(Bobath Exercise) sebanyak 3 kali terapi hasilnya adanya perubahan
seperti peningkatan kemampuan fungsional, dan kemampuan motorik
kasar.

4.2 SARAN
Mengenai permasalahan pada pasien Delay Development sangat
diperlukan kerja sama dari berbagai pihak (tim medis, keluarga pasien,
serta pasien itu sendiri) agar dapat tercapai hasil yang optimal dalam
proses penyembuhan.
1. Bagi pasien
Dalam hal ini pasien disarankan untuk tetap semangat melakukan
latihan rutin seperti yang diajarkan terapis. Kepada keluarga pasien
disarankan untuk tetap memberikan dukungan dan motivasi kepada
pasien.
2. Bagi Masyarakat
Diharapkan dalam hal ini masyarakat mengetahui apa itu Delay
Development atau Gangguan Tumbuh Kembang pada anak dan
memahami upaya penanganannya.

17

Anda mungkin juga menyukai