Anda di halaman 1dari 16

PENGANTAR PPN

Rachmad Utomo
Widyaiswara Pusdiklat Pajak
Salam Kenal
Rachmad Utomo
lahir di Semarang 1 Mei 1973,

1. Program Diploma III Pajak tahun 1995.

2. Sarjana ekonomi akuntansi Universitas


Airlangga 2001

3. Pasca Sarjana UI 2006

4. Account Representative Kantor


Pelayanan Wajib Pajak Besar Empat

5. Telp: 08179920900
6. rachmad.utomo@gmail.com

2
Taksonomi Pajak Berbasis Konsumsi
Consumtion Based Taxation

Direct Indirect

Expenditure Tax Sales Tax Excise

Retail Sales Tax


Cash-flow Tax

Turnover Sales Tax


Two-tiered Cash-flow Tax

GST

Value Added Tax

3
Latar Belakang Pengantian PPn (UU
PPn 1951) menjadi PPN
1. berulang kali diubah sehingga sulit dipahami dan
dilaksanakan
2. menimbulkan pengenaan pajak berganda / tidak netral baik
dalam perdagangan didalam negeri maupun internasional
3. dualisme sistem pemungutan, yaitu bagi wajib pajak yang
mampu menyelanggarakan pembukuan menggunakan “self
assessments system” sedangkan bagi yang tidak mampu
menyelanggarakan pembukuan menggunakan “official
assesment system”
4. Variasi tarif yang cukup banyak, sampai 9 macam tarif,
menyulitkan tindakan pengawasan terhadap kepatuhan wajib
pajak. Sisi negatif PPn ini terutama pengenaan pajak berganda
mendiring wajib pajak untuk menghindar dari pengenaan PPn
bahkan kalau perlu mereka melakukan penggelapan pajak.
4
Legal Karakter PPN
Pajak Tidak
Langsung
Pajak
Pajak
Konsumsi
Objektif
DN

Legal
Tarif
Karakter Multi Stage
Tunggal
PPN Levy

Non Indirect
Kumulatif Subtraction

5
Ilustrasi Pajak Tidak Langsung
NEGARA

PPN

BKP/JKP
Penjual/ Pembeli/
Pengusaha Jasa Penerima Jasa
PPN

Penanggung Pemikul Beban


Jawab Pajak

6
Ilustrasi Multi Stage Levy
PPN PPN
Industri Industri Industri
Benang Benang Tekstil Tekstil Garmen

Garmen PPN

PPN PPN
Pedagang Pedagang Pedagang
Besar Garmen Besar Garmen Besar

7
Ilustrasi Metode Penghitungan
Subtraction Method Addition Method
 Harga jual = 1.700  Penyusutan = 50
 Harga Beli = 1.000  Bunga = 20
 DPP = 100  Sewa = 80
 PPN 10% = 70  Gaji/Upah = 300
 Manajemen = 150
Indirect Subtraction Method  Laba Usaha = 100
 Jumlah = 700
 Harga jual = 1.700  PPN 10% = 70
 PPN = 10% x 1.700 = 170
 Harga Beli = 1.000
 PPN = 10% x 1.000 = 100
 PPN terutang = 70

8
Ilustrasi Non Kumulatif
Nilai Harga Yang
Pengusaha Aktivitas Harga Jual PPN Setor
Tambah Dibayar
Industri
Menyerahkan benang 1.000 1.000 100 100 -
Benang
Industri Membeli benang - - - - 1000+100:1100
Tekstil Menyerahkan tekstil 400 1000+400 140 140-100:40 -
Industri Membeli tekstil - - - - 1400+140:1540
Garmen Menyerahkan garmen 350 1400+350:1750 175 175-140:35 -
Pedagang Membeli garmen - - - - 1750+175:1925
Besar Menyerahkan garmen 300 1750+300:2050 205 205-175:30 -
Pedagang Membeli garmen - - - - 2050+205:2255
Eceran Menyerahkan garmen 250 2050+250:2300 230 230-205:25 -
Konsumen Membeli garmen - - - - 2300+230:2530

9
Ilustrasi Pajak Konsumsi Dalam
Negeri
PPN bukan pajak atas PPN menganut
kegiatan bisnis destination Principle

Pemikul beban pajak Pajak dikenakan di tempat


adalah konsumen tujuan barang atau jasa
akan dikonsumsi

Dalam hal menyangkut arus lintas batas,


tempat konsumsi/pemanfaatan merupakan
faktor dominan menimbulkan utang pajak

10
Mekanisme PPN

Mekanisme PPN

Self Imposition
Direct Subtraction Method
Indirect Subtraction
Method
Method (PK PM) (Pasal 16 C dan
(pemungutan)
Pasal 16 D)

11
Kelebihan PPN
1. Mencegah pengenaan pajak berganda
2. Netral dalam perdagangan dalam dan luar negeri
3. Membantu likuiditas pengusaha. PPN atas perolehan
barang modal dapat diperoleh kembali pada bulan
perolehan, sesuai dengan consumption type VAT dan
indirect subtraction method
4. Dari sudut pandang negara mendapat predikat money
maker karena konsumen selaku pemikul beban pajak tidak
merasa dibebani oleh pajak tersebut sehingga
memudahkan fiskus memungutnya

12
Kelemahan PPN
1. Biaya administrasi tinggi bila dibandingkan dengan pajak tidak
langsung lainnya, baik dari administrasi fiskus maupun WP
2. Menimbulkan dampak regresif, yaitu semakin tinggi tingkat
kemampuan konsumen, semakin ringan beban pajakyang
dipikul, sebaliknya semakin rendah tingkat kemampuan
konsumen, semakin berat beban pajakyang dipikul. Dampak ini
timbul dari konsekuensi karakteristik PPN sebagai pajak objektif
3. PPN rawan penyelundupan. Akibat dari mekanisme
pengkreditan pajak masukan yg merupakan upaya memperoleh
kembali pajak yang sudah dibayar oleh pengusaha
4. Menuntut pengawasan yang lebih tinggi

13
Dasar Hukum PPN

UU No. 8 UU No. 11 UU No. 18 UU No. 42


Tahun Tahun Tahun Tahun
1983 1995 2000 2009

1 Januari 1 Januari 1 April


1 Juli 1984
1995 2001 2010

14
Sistematika UU PPN
Sembilan Bab, dua puluh tujuh Pasal,

BAB I IIA III IV V VA VI VII VIII

Jumlah 3 1 4 5 5 5 1 1 1
Pasal

+ Pasal II

15
TUGAS:
Buatlah bagan
sistematika UU PPN
pada ukuran kertas A4

Terimakasih

16