Anda di halaman 1dari 39

MAKALAH BUDIDAYA TANAMAN OBAT

(HERBA)

DISUSUN OLEH :
ASRAH (G 701 15 118)
AGRIANTY RANTELINO (G 701 15 058)
WIDIYASTUTI DARWIS (G 701 15 234)
JESICA RUNDUBELO (G 701 15 089)
ZUL FAHMI (G 701 15 074)
AMIRAH ABDULLAH (G 701 15 069)
BRYAN A.R (G 701 15 224)
AHMAD ANGGARA SADEWA (G 701 15 004)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2018
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Penggunaan tanaman obat sebagai bahan baku obat dalam dunia kesehatan
semakin berkembang, hal ini didukung oleh perubahan cara pikir masyarakat
yang cenderung back to nature. Dewasa ini berbagai produk obat-obatan untuk
berbagai jenis penyakit telah diciptakan dan dikembangkan dengan
menggunakan tumbuhan obat sekitar. Beberapa produk tumbuhan obat yang
beredar dan menjadi primadona dipasaran yaitu tumbuhan obat dalam bentuk
simplisia dan jamu. Simplisia merupakan bentuk kering dari tumbuhan obat,
dimana bentuk, aroma, rasa masih tampak seperti aslinya, karena simplisia
merupakan usaha pengawetan tumbuhan obat dengan cara menurunkan kadar
airnya sehingga komponen kimia yang dikandung tanaman obat tersebut tidak
berubah selama waktu penyimpanan sebelum obat tersebut dikonsumsi.
Sedangkan tumbuhan obat dalam bentuk jamu biasanaya sediaan obat dalam
bentuk serbuk, dimana bentuk, aroma, rasa pada tumbuhan obat sulit dikenali
karena selain bentuknya yang seperti serbuk biasanya sediaan obat dalam
bentuk jamu terdiri dari beberapa jenis tumbuhan obat yang diracik dengan
tujuan penggunaan untuk beberapa jenis penyakit

Dibanding obat-obat sintetis, obat alami tersebut memiliki kelebihan yaitu, tidak
memiliki efek samping negatif pada tubuh kita .Namun, teknik pengkonsumsian
oabat alami tersebut kurang praktis. Berbagai penelitian tentang tanaman obat
kerap dilakukan sebagai usaha pengembangan dalam menambah nilai tanaman
obat baik dari segi sosial maupun ekonomi. Salah satu hasil penelitian tersebut
yaitu pembuatan obat alami dalam bentuk kapsul yaitu sengan cara mengekstrak
senyawa kimia aktif tanaman obat, hal ini meningkatkan minat masyarakat
untuk mengkonsumsi obat alami secara praktis, selain itu hal ini dapat
meningkatkan nilai ekonomi tumbuhan obat, ini terbukti dengan
berkembangnya usaha budidaya tumbuhan obat sebagai bahan baku obat alami.

I.2 Rumusan Masalah


1. Apakah yang dimaksud dengan simplisia ?
2. Jelaskan deskripsi tanaman herba dari temulawak, jahe, dan kunyit ?
3. Bagaimana budidaya tanaman herba ?

I.3 Tujuan Masalah


Mengetahui pengertian dari simplisia, deskripsi tanaman herba seperti kunyit,
temulawak, dan jahe, serca cara budidaya tanaman herba.

I.4 Manfaat

Agar dapat mengetahuai pengertian dari simplisia, deskripsi tanaman herba


seperti kunyit, jahe, temulawak, serta cara budidya tanaman herba.
BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Simplisia

Simplisia adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang belum
mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain, simplisia
merupakan bahan yang dikeringkan. Simplisia dapat berupa simplisia nabati,
simplisia hewani dan simplisia pelikan atau mineral.

Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman
atau eksudat tanaman. Yang dimaksud dengan eksudat tanaman adalah isi sel
yang secara spontan keluar dari tanaman atau dengan cara tertentu dikeluarkan
dari selnya, atau zat-zat nabati lainnya yang dengan cara tertentu di pisahkan
dari tanamannya.

Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan utuh , bagian hewan atau
zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni.

Simplisia mineral atau pelikan adalah simplisia yang berupa bahan pelikan atau
mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum
berupa zat kimia murni.
Untuk menjamin keseragaman senyawa aktif, keamanan maupun kegunaannya,
maka simplisia harus memenuhi persyaratan minimal. Dan untuk memenuhi
persyarata minimal tersebut, ada beberapa faktor yang berpengaruh, antara lain :
a. Bahan baku simplisia.
b. Proses pembuatan simplisia termasuk cara penyiapan bahan baku simplisia.
c. Cara pengepakan dan penyimpanan simplisia.
Agar simplisia memenuhi persyaratan minimal yang ditetapkan, maka ketiga
faktor tersebut harus memenuhi persyaratan minimal yang telah ditetapkan.

Adapun macam-macam simplisia nabati dapat berasal dari bagian tumbuhan,


antara lain:
a. Rimpang (rhizome)
Rimpang merupakan batanf dan daun yang terdapat di dalam tanah,
bercabang-cabang, dan tumbuh tunas yang muncul ke atas tanah dan
menjadi tumbuhan baru. Kunyit dan Jahe merupakan salah satu contoh jenis
rimpang yang biasa dijadikan simplisia.

b. akar (radix)
Akar merupakan bagian tumbuhan yang biasanya terdapat dalam tanah.
Tugas akar selain memperkuat tegaknya tumbuhan, menyerap air dan zat
makanan dari dalam tanah, kadang-kadang juga sebagai tempat menimbun
makanan. Menurut bentuknya, dibedakan 2 macam akar yaitu akar tunggang
dan akar serabut. Akar tunggang hanya terdapat pada tumbuhan yang
ditanam dari biji. Akar untuk simplisia bisa dari tanaman rumput, perdu,
atau tanaman berkayu keras. simplisia akar dikumpulkan ketika proses
pertumbuhannya terhenti. Contoh akar yang kerap dijadikan simplisia
adalah Ginseng.

c. Kayu (Lugnum)
Kayu yang biasa digunakan sebagai simplisia merupakan kayu tanpa kulit.
Pemotongan kayu biasanya dilakukan miring sehinggak permukaan menjadi
lebar. Kadangkala berupa serutan kayu.
d. Kulit Kayu (Cortex)
Kulit kayu merupakan bagian terluar dari batang pada tanaman. Contoh
kulit kayu yang dijadikan simplisia adalah kayu manis dan kayu secang.

e. Biji (Semen)
Biji biasanya dikumpulkan dari buah yang masak. Contoh bagian biji yang
digunakan sebagai simplisia adalah biji mahoni dan biji kemangi atau sering
disebut selasih.

f. Buah (fructus)
Buah untuk simplisia biasanya dikumpulkan setelah masak. Contoh buah
yang biasa dijadikan simplisia adalah buah mengkudu.

g. Bunga (flos)
Bunga yang digunakan sebagai simplisia dapat berupa bunga tunggal atau
majemuk. Contoh bunga yang dijadikan simplisia adalah bunga melati dan
bunga cengkeh.

h. Daun (folium)
Bisa dikatakan, daun adalah jenis simplisia yang paling sering digunakan
dalam pembuatan herbal. simplisia tersebut bisa derupa daun segar atau
kering dan dapat berupa pucuk daun seperti teh atau daun tua seperti daun
salam.
i. Herba (herba)
Herba merupakan seluruh bagian dari tanaman obat mulai dari akar, batang,
daun, bunga, dan buah yang berasal dari tanaman jenis terna yangbersifat
herbaceus. Contohnya , Pegagan
II.2 Tanaman Herba

II.2.1 Temulawak

A. Klasifikasi

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Curcuma
Species : Curcuma xanthorrhiza ROXB

B. Nama Daerah

Sumatra : Temu lawak


(Melayu): Jawa : Koneng gede
(Sunda) : Temulawa(Jawa) : Temo labak ( Madura )
Indonesia : Temulawak Species lain dari kerabat dekat temu lawak
adalah tanaman temu ireng (C. aeruginosa ROXB), temu putih (C.
zeodaria ROSC.), dan temu kunyit (C. domestica VAL.). Temulawak
mempunyai beberapa nama daerah, di antaranya adalah koneng gede
(Sunda), temo lobak (Madura), dan Temu lawak (Indonesia).

C. Deskripsi Tanaman

Daun tanaman temulawak bentuknya panjang dan agak lebar.


Lamina daun dan seluruh ibu tulang daun bergaris hitam. Panjang
daun sekitar 50 – 55 cm, lebarnya + 18 cm, dan tiap helai daun
melekat pada tangkai daun yang posisinya saling menutupi secara
teratur. Daun berbentuk lanset memanjang berwana hijau tua dengan
garis – garis coklat. Habitus tanaman dapat mencapai lebar 30 – 90
cm, dengan jumlah anakan perumpun antara 3 – 9 anak.

D. Budidaya Tanaman

Pemeliharaan Tanaman
a. Penyulaman : Tanaman yang rusak/mati diganti oleh bibit yang
sehat yang merupakan bibit cadangan.

b. Penyiangan : Penyiangan rumput liar dilakukan pagi/sore hari


yang tumbuh di atas bedengan atau petak bertujuan untuk
menghindari persaingan makanan dan air. Peyiangan pertama
dan kedua dilakukan pada dua dan empat bulan setelah tanam
(bersamaan dengan pemupukan). Selanjutnya penyiangan dapat
dilakukan segera setelah rumput liar tumbuh. Untuk mencegah
kerusakan akar, rumput liar disiangi dengan bantuan
kored/cangkul dengan hati-hati.

c. Pembubunan : Kegiatan pembubunan perlu dilakukan pada


pertanaman rimpang-rimpangan untuk memberikan media
tumbuh rimpang yang cukup baik. Pembubunan dilakukan
dengan menimbun kembali area perakaran dengan tanah yang
jatuh terbawa air. Pembubunan dilakukan secara rutin setelah
dilakukan penyiangan.

d. Pemupukan :
1. Pemupukan Organik : Pada pertanian organic yang tidak
menggunakan bahan kimia termasuk pupuk buatan dan obat-
obatan, maka pemupukan secara organic yaitu dengan
menggunakan pupuk kompos organic atau pupuk kandang
dilakukan lebih sering disbanding kalau kita menggunakan
pupuk buatan. Adapun pemberian pupuk kompos organic ini
dilakukan pada awal pertanaman pada saat pembuatan
guludan sebagai pupuk dasar sebanyak 60 – 80 ton per hektar
yang ditebar dan dicampur tanah olahan. Untuk menghemat
pemakaian pupuk kompos dapat juga dilakukan dengan jalan
mengisi tiap-tiap lobang tanam di awal pertanaman sebanyak
0.5 – 1kg per tanaman. Pupuk sisipan selanjutnya dilakukan
pada umur 2 – 3 bulan, 4 – 6 bulan, dan 8 – 10 bulan.
Adapun dosis pupuk sisipan sebanyak 2 – 3 kg per tanaman.
Pemberian pupuk kompos ini biasanya dilakukan setelah
kegiatan penyiangan dan bersamaan dengan kegiatan
pembubunan.

2. Pemupukan Konvensional :
 Pemupukan Awal.Pupuk dasar yang diberikan saat
tanam adalah SP-36 sebanyak 100 kg/ha yang disebar di
dalam larikan sedalam 5 cm di antara barisan tanaman
atau dimasukkan ke dalam lubang sedalam 5 cm pada
jarak 10 cm dari bibit yang baru ditanam. Larikan atau
lubang pupuk kemudian ditutup dengan tanah. Sesaat
setelah pemupukan tanaman langsung disiram untuk
mencegah kekeringan tunas.
 Pemupukan Susulan : Pada waktu berumur dua bulan,
tanaman dipupuk dengan pupuk kandang sebanyak 0,5
kg/tanaman (10-12,5 ton/ha), 95 kg/ha urea dan 85 kg/ha
KCl. Pupuk diberikan kembali pada waktu umur
tanaman mencapai empat bulan berupa urea dan KCl
dengan dosis masing-masing 40 kg/ha. Pupuk diberikan
dengan cara disebarkan merata di dalam larikan pada
jarak 20 cm dari pangkal batang tanaman lalu ditutup
dengan tanah.

e. Pengairan dan Penyiraman : Pengairan dilakukan secara rutin


pada pagi/sore hari ketika tanaman masih berada pada masa
pertumbuhan awal. Pengairan selanjutnya ditentukan oleh
kondisi tanah dan iklim. Biasanya penyiraman akan lebih banyak
dilakukan pada musim kemarau. Untuk menjaga pertumbuhan
tetap baik, tanah tidak boleh berada dalam keadaan kering.
a. Waktu Penyemprotan Pestisida : Penyemprotan pestisida
dilakukan jika telah timbul gejala serangan hama penyakit.
b. Pemulsaan : Sedapat mungkin pemulsaan dengan jerami
dilakukan diawal tanam untuk menghindari kekeringan
tanah, kerusakan struktur tanah (menjadi tidak gembur/padat)
dan mencegah tumbuhnya gulma secara berlebihan. Jerami
dihamparkan merata menutupi permukaan tanah di antara
lubang tanaman.

E. Panen Temulawak
1. Ciri dan Umur Panen : Rimpang dipanen dari tanaman yang
telah berumur 9-10 bulan. Tanaman yang siap panen
memiliki daun-daun dan bagian tanaman yang telah
menguning dan mengering, memiliki rimpang besar dan
berwarna kuning kecoklatan.
2. Cara Panen.: Tanah disekitar rumpun digali dan rumpun
diangkat bersama akar dan rimpangnya.
3. Periode Panen : Panen dilakukan pada akhir masa
pertumbuhan tanaman yaitu pada musim kemarau. Saat
panen biasanya ditandai dengan mengeringnya bagian atas
tanah. Namun demikian apabila tidak sempat dipanen pada
musim kemarau tahun pertama ini sebaiknya dilakukan pada
musim kemarau tahun berikutnya. Pemanenan pada musim
hujan menyebabkan rusaknya rimpang dan menurunkan
kualitas rimpang sehubungan dengan rendahnya bahan aktif
karena lebih banyak kadar airnya.
4. Perkiraan Hasil Panen : Tanaman yang sehat dan terpelihara
menghasilkan rimpang segar sebanyak 10-20 ton/hektar.

F. Pasca Panen
 Penyortiran Basah dan Pencucian : Sortasi pada bahan segar
dilakukan untuk memisahkan rimpang dari kotoran berupa tanah,
sisa tanaman, dan gulma. Setelah selesai, timbang jumlah bahan
hasil penyortiran dan tempatkan dalam wadah plastik untuk
pencucian. Pencucian dilakukan dengan air bersih, jika perlu
disemprot dengan air bertekanan tinggi. Amati air bilasannya dan
jika masih terlihat kotor lakukan pembilasan sekali atau dua kali
lagi. Hindari pencucian yang terlalu lama agar kualitas dan
senyawa aktif yang terkandung didalam tidak larut dalam air.
Pemakaian air sungai harus dihindari karena dikhawatirkan telah
tercemar kotoran dan banyak mengandung bakteri/penyakit.
Setelah pencucian selesai, tiriskan dalam tray/wadah yang
belubang-lubang agar sisa air cucian yang tertinggal dapat
dipisahkan, setelah itu tempatkan dalam wadahplastik/ember.
 Perajangan : Jika perlu proses perajangan, lakukan dengan pisau
stainless steel dan alasi bahan yang akan dirajang dengan
talenan. Perajangan rimpang dilakukan melintang dengan
ketebalan kira-kira 5 mm – 7 mm. Setelah perajangan, timbang
hasilnya dan taruh dalam wadah plastik/ember. Perajangan dapat
dilakukan secara manual atau dengan mesin pemotong.
 Pengeringan : Pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu
dengan sinar matahari atau alat pemanas/oven. pengeringan
rimpang dilakukan selama 3 - 5 hari, atau setelah kadar airnya
dibawah 8%. pengeringan dengan sinar matahari.dilakukan
diatas tikar atau rangka pengering, pastikan rimpang tidak saling
menumpuk. Selama pengeringan harus dibolak-balik kira-kira
setiap 4 jam sekali agar pengeringan merata. Lindungi rimpang
tersebut dari air, udara yang lembab dan dari bahan-bahan
disekitarnya yang bisa mengkontaminasi. Pengeringan di dalam
oven dilakukan pada suhu 50 o C - 60 o C. Rimpang yang akan
dikeringkan ditaruh di atas tray oven dan pastikan bahwa
rimpang tidak saling menumpuk. Setelah pengeringan, timbang
jumlah rimpang yang dihasilkan
 Penyortiran Kering. : Selanjutnya lakukan sortasi kering pada
bahan yang telah dikeringkan dengan cara memisahkan bahan-
bahan dari benda-benda asing seperti kerikil, tanah atau kotoran-
kotoran lain. Timbang jumlah rimpang hasil penyortiran ini
(untuk menghitung rendemennya).
 Pengemasan : Setelah bersih, rimpang yang kering dikumpulkan
dalam wadah kantong plastik atau karung yang bersih dan kedap
udara (belum pernah dipakai sebelumnya). Berikan label yang
jelas pada wadah tersebut, yang menjelaskan nama bahan, bagian
dari tanaman bahan itu, nomor/kode produksi, nama/alamat
penghasil, berat bersih dan metode penyimpanannya.
 Penyimpanan : Kondisi gudang harus dijaga agar tidak lembab
dan suhu tidak melebihi 30 o C dan gudang harus memiliki
ventilasi baik dan lancar, tidak bocor, terhindar dari kontaminasi
bahan lain yang menurunkan kualitas bahan yang bersangkutan,
memiliki penerangan yang cukup (hindari dari sinar matahari
langsung), serta bersih dan terbebas dari hama gudang.

G. Kandungan Kimia
Rimpang temulawak mengandung kurkuminoid , mineral minyak
atsiri serta minyak lemak. Tepung merupakan kandungan utama,
jumlahnya bervariasi antara 48 – 54 % tergantung dari ketinggian
tempat tumbuhnya, makin tinggi tempat tumbuhnya makin rendah
kadar tepungnya. Selain tepung , temulawak juga mengandung zat
gizi antara lain karbohidrat, protein dan lemak serta serat kasar
mineral seperti kalium ( K ), natrium ( Na), magnesium (Mg ), zat
besi (Fe), mangan (Mn ) dan Kadmium ( Cd). Komponen utama
kandungan zat yang terdapat dalam rimpang temulawak adalah zat
kuning yang disebut ” kurkumin” dan juga protein ,pati, serta zat –
zat minyak atsiri.Minyak atsiri temulawak mengandung phelandren,
kamfer, borneol, xanthorrizol, tumerol dan sineal. Kandungan
kurkumin berkisar antara 1,6% – 2,22% dihitung berdasarkan berat
kering. Berkat kandungan dan zat – zat minyak atsiri tadi, diduga
penyebab berkhasiatnya temulawak.

H. Efek Farmakologi
 Ekstrak air temulawak dapat menurunkan kadar kolesterol total
dan trigliserida darah kelinci dalam keadaan hiperlipidemia,
tetapi tidak berpengaruh pada HDL Kolesterol. (Abdul Naser,
Jurusan Farmasi FMIPA, UNPAD, 1987)
 Kurkuminoid temulawak dapat menurunkan kadar kolesterol
total dan trigliserida darah eklinci dalam keadaan
hiperlipidemia. Peningkatan kadar HDL Kolesterol hanya
berpengaruh pada pemberian 20mg kurkuminoid (Pramadhia
Budhijaya, Jurusan Farmasi FMIPA, UNPAD, 1988).

 Pemberian kurkuminoid temulawak pada kelinci berbobot 1,5-


2,5 kg, dengan dosis 5, 10, 15, 20, 25 mg/ekor, peroral, setiap
hari selama 42 hari. Pada smeua dosis, kurkuminoid dapat
menurunkan kadar kolesterol total serta menaikkan kadar asam
empedu darah kelinci.(Robert Edward Aritonang, Jurusan
Farmasi FMIPA, UNPAD, 1988).

 Infus rimpang temulawak 5, 10, dan 20% dapat meningkatkan


daya regenerasi sel hatis ecara nyata dibanding kontrol pada
tikus putih jantan yang dirusak sel hatinya dengan 1,25 ml
karbon tetraklorida/kg bb, peroral (Setiawan Angtoni, Fakultas
Farmasi, UBAYA, 1991).

 Ekstrak air temulawak 10% b/ dengan dosis 6,8 dan 10 ml/hari


dapat menurunkan kadar SGOT dan SGPT darah kelinci yang
terinfeksi virus hepatitis B, tetapi tdiak berpengaruh terhadap
virus hepatitis B. (Sumiyati Yuningsih, Jurusan Farmasi
FMIPA, UNPAD, 1987).

 Kurkuminoid temulawak dengan dosis 10, 15, dan 20 mg/hari


dapat menurunkan kadar SGOT dan SGPT, serta menaikkan
kadar ChE darah kelinci keadaan hepatoksik. (Tavip Budiawan,
Jurusan Farmasi, FMIPA, UNPAD, 1988).
 Minyak asiri temulawak jenuh dalam daftar “KREBS”, akan
menghambat penyerapan glukosa dalam usus halus tikus dan
bersifat reservibel. (Endah Primawati, Jurusan Farmasi, FMIPA,
UNPAD, 1987).

 Kurkuminoid temulawak dapat meningkatkan penyerapan


glukosa diusus halus tikus. Penyerapan ini juga bersifat
reservibel. (Karta, Jurusan Farmasi, FMIPA, UNPAD, 1987).

 Campuran kurkuminoid dan minyak asiri menghambat


penyerapan glukosa pada mencit. Ikatan keduanya juga bersifat
reservibel. (Eli Halimah, Jurusan Farmasi, FMIPA, UNPAD,
1987).

 Infus rimpang temulawak 20% dan 40% dapat menambah


produksi air susu mencit secara nyata dibandingkan dengan
kontrol. Terdapat perbedaan yang nyata antara pemberian infus
20% dan 40%. Infus diberikan pada mencit dan produksi susu
diukur dengan cara meniali perbedaan berat anak mencit
sebelum dan sesudah menyusui. (Clara Maria Limono, FF,
UBAYA, 1990).

I. Cara Pemakaian
Untuk obat yang diminum, gunakan 2 jari rimpang segar, lalu rebus.
Cara lain, seduh rimpang yang telah dikeringkan dengan air panas.
Untuk pemakaian luar, cuci rimpang sampai bersih, lalu parut. Hasil
parutannya dapat digunakan sebagai masker untuk mengobati
jerawat dan flek hitam dimuka.
J. Khasiat
 Memelihara Fungsi Hati.
 Mengurangi Radang Sendi.
 Melawan Penyakit Kanker.
 Menurunkan Lemak Darah.
 Mengatasi Masalah Pencernaan.
 Melancarkan ASI.
 Gangguan lambung.
 Risiko gangguan empedu.

II.2.2 Jahe

A. Klasifikasi
Divisi : Spermatophyta.
Sub-divisi : Angiospermae.
Kelas : Monocotyledoneae.
Ordo : Zingiberales.
Famili : Zingiberaceae.
Genus : Zingiber.
Species : Zingiber officinale

B. Nama Daerah
beeuing (Gayo), jahe (Sunda), bahing (Batak Karo), halia (Aceh),
jahi (Lampung), sipodeh Minangkabau), jhai (Madura), lain jae
(Jawa dan Bali), melito (Gorontalo), dsb.

C. Deskripsi Tanaman
erna berbatang semu, tinggi 30 cm sampai 1 m, rimpang bila
dipotong berwarna kuning atau jingga. Daun sempit, panjang 15 –
23 mm, lebar 8 – 15 mm ; tangkai daun berbulu, panjang 2 – 4 mm ;
bentuk lidah daun memanjang, panjang 7,5 – 10 mm, & tidak
berbulu; seludang agak berbulu. Perbungaan berupa malai tersembul
dipermukaan tanah, berbentuk tongkat atau bundar telur yg sempit,
2,75 – 3 kali lebarnya, sangat tajam ; panjang malai 3,5 – 5 cm, lebar
1,5 – 1,75 cm ; gagang bunga hampir tidak berbulu, panjang 25 cm,
rahis berbulu jarang ; sisik pada gagang terdapat 5 – 7 buah,
berbentuk lanset, letaknya berdekatan atau rapat, hampir tidak
berbulu, panjang sisik 3 – 5 cm; daun pelindung berbentuk bundar
telur terbalik, bundar pada ujungnya, tidak berbulu, berwarna hijau
cerah, panjang 2,5 cm, lebar 1 – 1,75 cm ; mahkota bunga berbentuk
tabung 2 – 2,5 cm, helainya agak sempit, berbentuk tajam, berwarna
kuning kehijauan, panjang 1,5 – 2,5 mm, lebar 3 – 3,5 mm, bibir
berwarna ungu, gelap, berbintik-bintik berwarna putih kekuningan,
panjang 12 – 15 mm ; kepala sari berwarna ungu, panjang 9 mm ;
tangkai putik 2.

D. Syarat Tumbuh Jahe


1. Iklim
 Tanaman jahe membutuhkan curah hujan relatif tinggi,
yaitu antara 2.500-4.000 mm/tahun.
 Pada umur 2,5 sampai 7 bulan atau lebih tanaman jahe
memerlukan sinar matahari. Dengan kata lain penanaman
jahe dilakukan di tempat yg terbuka sehingga mendapat sinar
matahari sepanjang hari. Suhu udara optimum utk budidaya
tanaman jahe antara 20-35°C.

2. Media Tanam
 Tanaman jahe paling cocok ditanam pada tanah yg subur,
gembur & banyak mengandung humus.
 Tekstur tanah yg baik adalah lempung berpasir, liat berpasir
& tanah laterik.
 Tanaman jahe dapat tumbuh pada keasaman tanah (pH)
sekitar 4,3-7,4. Tetapi keasaman tanah (pH) optimum utk
jahe gajah adalah 6,8-7,0

3. Ketinggian Tempat
 Jahe tumbuh baik di daerah tropis & subtropis dengan
ketinggian 0-2.000 m dpl..
 Di Indonesia pada umumnya ditanam pada ketinggian 200 -
600 m dpl.

E. Budidaya Tanaman
a. Pembibitan Jahe
 Persyaratan Bibit Jahe : Bibit berkualitas adalah bibit yg
memenuhi syarat mutu genetik, mutu fisiologik (persentase
tumbuh yg tinggi), & mutu fisik. yg dimaksud dengan mutu
fisik adalah bibit yg bebas hama & penyakit. Oleh karena itu
kriteria yg harus dipenuhi antara lain:
1. Bahan bibit diambil langsung dari kebun (bukan dari
pasar).
2. Dipilih bahan bibit dari tanaman yg sudah tua (berumur
9-10 bulan).
3. Dipilih pula dari tanaman yg sehat & kulit rimpang tidak
terluka atau lecet.
 Teknik Penyemaian Bibit : utk pertumbuhan tanaman yg
serentak atau seragam, bibit jangan langsung ditanam
sebaiknya terlebih dahulu dikecambahkan. Penyemaian bibit
dapat dilakukan dengan peti kayu atau dengan bedengan.
 Penyemaian pada peti kayu : Rimpang jahe yg baru dipanen
dijemur sementara (tidak sampai kering), kemudian disimpan
sekitar 1-1,5 bulan. Patahkan rimpang tersebut dengan tangan
dimana setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas & dijemur
ulang 1/2-1 hari. Selanjutnya potongan bakal bibit tersebut
dikemas ke dalam karung beranyaman jarang, lalu
dicelupkan dalam larutan fungisida & zat pengatur tumbuh
sekitar 1 menit kemudian keringkan. Setelah itu dimasukkan
kedalam peti kayu. Lakukan cara penyemaian dengan peti
kayu sebagai berikut: pada bagian dasar peti kayu diletakkan
bakal bibit selapis, kemudian di atasnya diberi abu gosok
atau sekam padi, demikian seterusnya sehingga yg paling
atas adalah abu gosok atau sekam padi tersebut. Setelah 2-4
minggu lagi, bibit jahe tersebut sudah disemai.
 Penyemaian pada bedengan : Buat rumah penyemaian
sederhana ukuran 10 x 8 m utk menanam bibit 1 ton
(kebutuhan jahe gajah seluas 1 ha). Di dalam rumah
penyemaian tersebut dibuat bedengan dari tumpukan jerami
setebal 10 cm. Rimpang bakal bibit disusun pada bedengan
jerami lalu ditutup jerami, & di atasnya diberi rimpang lalu
diberi jerami pula, demikian seterusnya, sehingga didapatkan
4 susunan lapis rimpang dengan bagian atas berupa jerami.
Perawatan bibit pada bedengan dapat dilakukan dengan
penyiraman setiap hari & sesekali disemprot dengan
fungisida. Setelah 2 minggu, biasanya rimpang sudah
bertunas. Bila bibit bertunas dipilih agar tidak terbawa bibit
berkualitas rendah..Bibit hasil seleksi itu dipatah-patahkan
dengan tangan & setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas &
beratnya 40-60 gram.
 Penyiapan Bibit Jahe : Sebelum ditanam, bibit harus
dibebaskan dari ancaman penyakit dengan cara bibit tersebut
dimasukkan ke dalam karung & dicelupkan ke dalam larutan
fungisida sekitar 8 jam. Kemudian bibit dijemur 2-4 jam,
barulah ditanam.

b. Pengolahan Media Tanam


 Persiapan Lahan : utk mendapatkan hasil panen yg optimal
harus diperhatikan syarat-syarat tumbuh yg dibutuhkan
tanaman jahe. Bila keasaman tanah yg ada tidak sesuai
dengan keasaman tanah yg dibutuhkan tanaman jahe, maka
harus ditambah atau dikurangi keasaman dengan kapur.
 Pembukaan Lahan : Pengolahan tanah diawali dengan
dibajak sedalam kurang lebih dari 30 cm dengan tujuan utk
mendapatkan kondisi tanah yg gembur atau remah &
membersihkan tanaman pengganggu. Setelah itu tanah
dibiarkan 2-4 minggu agar gas-gas beracun menguap serta
bibit penyakit & hama akan mati terkena sinar matahari.
Apabila pada pengolahan tanah pertama dirasakan belum
juga gembur, maka dapat dilakukan pengolahan tanah yg
kedua sekitar 2-3 minggu sebelum tanam & sekaligus
diberikan pupuk kandang dengan dosis 1.500-2.500 kg.
 Pembentukan Bedengan : Pada daerah-daerah yg kondisi air
tanahnya jelek & sekaligus utk encegah terjadinya genangan
air, sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan
engan ukuran tinggi 20-30 cm, lebar 80-100 cm, sedangkan
anjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan.
 Pengapuran : Pada tanah dengan pH rendah, sebagian besar
unsur-unsur hara didalamnya, Terutama fosfor (p) & calcium
(Ca) dalam keadaan tidak tersedia atau sulit diserap. Kondisi
tanah yg masam ini dapat menjadi media perkembangan
beberapa cendawan penyebab penyakit fusarium sp &
pythium sp. Pengapuran juga berfungsi menambah unsur
kalium yg sangat diperlukan tanaman utk mengeraskan
bagian tanaman yg berkayu, merangsang pembentukan bulu-
bulu akar, mempertebal dinding sel buah & merangsang
pembentukan biji.

Derajat keasaman < 4 (paling asam): kebutuhan dolomit > 10


ton/ha.

Derajat keasaman 5 (asam): kebutuhan dolomit 5.5 ton/ha.

Derajat keasaman 6 (agak asam): kebutuhan dolomit 0.8


ton/ha.

c. Teknik Penanaman Jahe.


 Penentuan Pola Tanaman : Pembudidayaan jahe secara
monokultur pada suatu daerah tertentu memang dinilai cukup
rasional, karena mampu memberikan produksi & produksi
tinggi. Namun di daerah, pembudidayaan tanaman jahe
secara monokultur kurang dapat diterima karena selalu
menimbulkan kerugian. Penanaman jahe secara tumpangsari
dengan tanaman lain mempunyai keuntungan-keuntungan
sebagai berikut:
1. Mengurangi kerugian yg disebabkan naik turunnya harga.
2. Menekan biaya kerja, seperti: tenaga kerja pemeliharaan
tanaman.
3. Meningkatkan produktivitas lahan.
4. Memperbaiki sifat fisik & mengawetkan tanah akibat
rendahnya pertumbuhan gulma (tanaman pengganggu).
Praktek di lapangan, ada jahe yg ditumpangsarikan
dengan sayur-sayuran, seperti ketimun, bawang merah,
cabe rawit, buncis & lain-lain. Ada juga yg
ditumpangsarikan dengan palawija, seperti jagung,
kacang tanah & beberapa kacang-kacangan lainnya.
 Pembutan Lubang Tanam : utk menghindari pertumbuhan
jahe yg jelek, karena kondisi air tanah yg buruk, maka
sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan.
Selanjutnya buat lubang-lubang kecil atau alur sedalam 3-7,5
cm utk menanam bibit.
 Cara Penanaman : Cara penanaman dilakukan dengan cara
melekatkan bibit rimpang secara rebah ke dalam lubang
tanam atau alur yg sudah disiapkan.
 Perioda Tanam : Penanaman jahe sebaiknya dilakukan pada
awal musim hujan sekitar bulan September & Oktober. Hal
ini dimungkinkan karena tanaman muda akan membutuhkan
air cukup banyak utk pertumbuhannya.

d. Pemeliharaan Tanaman
 Penyulaman : Sekitar 2-3 minggu setelah tanam, hendaknya
diadakan utk melihat rimpang yg mati. Bila demikian harus
segera dilaksanakan penyulaman agar pertumbuhan bibit
sulaman itu tidak jauh tertinggal dengan tanaman lain, maka
sebaiknya dipilih bibit rimpang yg baik serta pemeliharaan
yg benar.
 Penyiangan : Penyiangan pertama dilakukan ketika tanaman
jahe berumur 2-4 minggu kemudian dilanjutkan 3-6 minggu
sekali. Tergantung pada kondisi tanaman pengganggu yg
tumbuh. Namun setelah jahe berumur 6-7 bulan, sebaiknya
tidak perlu dilakukan penyiangan lagi, sebab pada umur
tersebut rimpangnya mulai besar..
 Pembubunan : Tanaman jahe memerlukan tanah yg
peredaran udara & air dapat berjalan dengan baik, maka
tanah harus digemburkan. Disamping itu tujuan pembubunan
utk menimbun rimpang jahe yg kadang-kadang muncul ke
atas permukaan tanah. Apabila tanaman jahe masih muda,
cukup tanah dicangkul tipis di sekeliling rumpun dengan
jarak kurang lebih 30 cm. Pada bulan berikutnya dapat
diperdalam & diperlebar setiap kali pembubunan akan
berbentuk gubidan & sekaligus terbentuk sistem pengairan
yg berfungsi utk menyalurkan kelebihan air. Pertama kali
dilakukan pembumbunan pada waktu tanaman jahe
berbentuk rumpun yg terdiri atas 3-4 batang semu, umumnya
pembubunan dilakukan 2-3 kali selama umur tanaman jahe.
Namun tergantung kepada kondisi tanah & banyaknya hujan.
 Pemupukan :
a. Pemupukan Organik : Pada pertanian organik yg tidak
menggunakan bahan kimia termasuk pupuk buatan &
obat-obatan, maka pemupukan secara organik yaitu
dengan menggunakan pupuk kompos organik atau pupuk
kandang dilakukan lebih sering disbanding kalau kita
menggunakan pupuk buatan. Adapun pemberian pupuk
kompos organik ini dilakukan pada awal pertanaman
pada saat pembuatan guludan sebagai pupuk dasar
sebanyak 60 – 80 ton per hektar yg ditebar & dicampur
tanah olahan. utk menghemat pemakaian pupuk kompos
dapat juga dilakukan dengan jalan mengisi tiap-tiap
lobang tanam di awal pertanaman sebanyak 0.5 – 1kg per
tanaman. Pupuk sisipan selanjutnya dilakukan pada umur
2 – 3 bulan, 4 – 6 bulan, & 8 – 10 bulan. Adapun dosis
pupuk sisipan sebanyak 2 – 3 kg per tanaman. Pemberian
pupuk kompos ini biasanya dilakukan setelah kegiatan
penyiangan & bersamaan dengan kegiatan pembubunan.
b. Pemupukan Konvensional : Selain pupuk dasar (pada
awal penanaman), tanaman jahe perlu diberi pupuk
susulan kedua (pada saat tanaman berumur 2-4 bulan).
Pupuk dasar yg digunakan adalah pupuk organik 15-20
ton/ha. Pemupukan tahap kedua digunakan pupuk
kandang & pupuk buatan (urea 20 gram/pohon; TSP 10
gram/pohon; & ZK 10 gram/pohon), serta K2O (112
kg/ha) pada tanaman yg berumur 4 bulan. Pemupukan
juga dilakukan dengan pupuk nitrogen (60 kg/ha), P2O5
(50 kg/ha), & K2O (75 kg/ha). Pupuk P diberikan pada
awal tanam, pupuk N & K diberikan pada awal tanam
(1/3 dosis) & sisanya (2/3 dosis) diberikan pada saat
tanaman berumur 2 bulan & 4 bulan. Pupuk diberikan
dengan ditebarkan secara merata di sekitar tanaman atau
dalam bentuk alur & ditanam di sela-sela tanaman.
 Pengairan & Penyiraman : Tanaman Jahe tidak memerlukan
air yg terlalu banyak utk pertumbuhannya, akan tetapi pada
awal masa tanam diusahakan penanaman pada awal musim
hujan sekitar bulan September;
 Waktu Penyemprotan Pestisida : Penyemprotan pestisida
sebaiknya dilakukan mulai dari saat penyimpanan bibit yg
utk disemai & pada saat pemeliharaan. Penyemprotan
pestisida pada fase pemeliharaan biasanya dicampur dengan
pupuk organik cair atau vitamin-vitamin yg mendorong
pertumbuhan jahe.

F. Panen Dan Pasca Panen

1. Panen

 Pemanenan jahe tergantung pada produk akhir yang


diinginkan walaupun umumnya jahe dipanen setelah umur 8-
12 bulan. Untuk konsumsi segar sebagai bumbu, maka jahe
dipanen pada umut 8 bulan. Sedangkan untuk keperluan
bibit,maka jahe dipanen umur 10 bulan atau lebih. Sementara
untuk keperluan asinan jahe, dipanen muda, yaitu umur 3-4
bulan
.
Mutu jahe yang baik hanya akan diperoleh bila pemanenan
dilakukan pada tingkat kematangan yang cukup. Pemanenan
dilakukan pada pagi hari dan produk harus diletakkan
ditempat yang teduh.

Panen jahe dilakukan dengan cara membongkar seluruh


tanaman menggunakan cangkul atau pupuk. Agar rimpang
hasil panen tidak lecet dan tidak terpotong, maka perlu
kehati-hatian waktu panen karena akan mengurangi mutu
jahe. Rimpang dibersihkan dari kotoran dan tanah yang
menempel.

 Pengumpulan
Pengangkutan jahe dari kebun ke tempat pengumpulan yang
kuranng baik mengakibatkan kerusakan fisik pada jahe
tersebut. Lokasi dan kondisi tempat pengumpulan jahe perlu
diperhatikan agar dapat memperkirakan penanganan jahe
yang harus dilakukan.

Prose pengumpulan harus memperhatikan hal-hal sebagai


berikut :
1. Lokasi pengumpulan atau penampungan harus dekat
dengan tempat penanaman agar tidak terjadi penyusutan
atau penurunan kualitas akibat pengangkutan dari dan ke
tempat penampungan.
2. Wadah sebagai tempat penempungan antara lain berupa
keranjang,peti atau karung goni yang digunakan untuk
mengangkut hasil panen ke tempat penampungan
sementara atau gudang penyimpanan. Hindarkan dari
kontak langsung dengan sinar matahari.
3. Perlakuan /tindakan penanganan dan spesifikasi wadah
yang digunakan harus disesuaikan dengan sifat dan
karakteristiknya.

 Pencucian
Pencucian dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan
kotoran (tanah) serta residu pestisida. Pembersihan kotoran
berupa debu, tanah, serpihan dedaunan dapat disemprot
dengan air. Pada saat pencucian jahe tidak boleh di gosok
agar tidak lecet. Cara pencucian hendaknya mengikuti cara
yang baik, yaitu :
1. Menggunakan standar bahanmutu air (standar air minum)
untuk mencuci, guna menghindari kontaminasi terhadap
produk dari organisme serta bahan pencemar lainnya.
2. Menurunkan panas lapang atau berfungsi sebagai pre
cooling.
3. Pengeringan dapat dilakukan dengan menggunakan alat
penirisan (spiner) atau hembusan angin ke arah
komoditas yang telah dicuci.

 Grading
Grading bertujuan untuk memisahkan produk berdasar mutu,
berat dan ukuran. Pemisahan ini dapat didasarkan pada
pencirian fisik produk yang erat hubungannya dengan faktor
mutu serta tingkat harga jual produk tersebut di pasar. Pada
umumnya pemilahan ini masih dilakukan secara visual dan
manual baik di rumah pengemasan atau di kebun.

 Berdasarkan standar perdagangan, mutu rimpang jahe segar


dikategorikan sebagai beriku :
1. Kategori Persyaratan
2. Mutu I Bobot 250 g/rimpang, kulit tidak terkelupas, tidak
mengandung benda asing dan kapang
3. Mutu II Bobot 150-249 g/rimpang, kulitnya tidak
terkelupas, tidak mengandung benda asing dan kapang
4. Mutu III Bobot sesuai analisis, kulit yang terkelupas
maksimum 10%, benda asing maksimum 3% dan kapang
maksimum 10%

2. Pasca Panen
Untuk di jual segar, jahe dapat langsung dikemas dengan
menggunakan peti kayu berongga agar sirkulasi udara lancar.
Tetapi bila diinginkan dalam bentuk kering atau simplisia,
dilakukan penirisan rimpang setebal 1-4mm. Untuk mendapatkan
simplisia dengan tekstur menarik, sebelum diiris rimpang di
rebus beberapa menit sampai terjadi proses gelatinisasi. Rimpang
yang sudah diiris, selanjutnya dikeringkan dengan panas
matahari atau dengan pengeringan buatan/oven pada suhu 36-
460C. Bila kadar air telah mencapai 8-10%, yaitu rimpang sudah
bisa dipatahkan, maka pengeringan sudah dianggap cukup.

Selain itu, dikenal pula jahe gelondongan (jahe putih kecil dan
jahe merah) yang diproses dengan cara rimpang jahe utuh
ditusuk-tusuk agar air keluar sebagian, kemudian di jemur panas
matahari atau di oven sampai kering atau kadar airnya mencapai
8-10%. Rimpang kering dapat dikemas dalam peti, karung atau
plastik yang kedap udara dan dapat disimpan dengan aman
apabila kadar air sudah rendah.

Untuk proses pengangkutan harus memperhatikan hal-hal berikut


:
1. Dalam pengangkutan jahe mulai dari lapangan (tempat
pengumpulan hasil panen) sampai ke konsumen perlu di
perhatikan sifat/karakteristik jenis produk tersebut yang
diangkut, lamanya perjalanan, serta alat/sarana pengangkutan
yang digunakan.
2. Jahe yang diangkut sebaiknya terhindar dari sinar matahari
secara langsung selama pengangkutan.
3. Selama pengangkutan, jahe yang diangkut dijaga dari
kemungkinan terjadinya benturan, gesekan dan tekanan yang
terlalu berat sehingga dapat menimbulkan kerusakan atau
menurunnya mutu produk jahe.

G. Kandungan Kimia
Minyak atsiri zingiberena (zingirona), zingiberol, bisabolena,
kurkumen, gingerol, filandrena, dan resin pahit.

H. Efek Farmakologi
menurunkan kadar kolesterol total dan trigliserida darah kelinci
dalam keadaan hiperlipidemia, tetapi tidak berpengaruh pada HDL
Kolesterol

menurunkan kadar kolesterol total dan trigliserida darah eklinci


dalam keadaan hiperlipidemia. Peningkatan kadar HDL Kolesterol
hanya berpengaruh pada pemberian 20mg kurkuminoid

I. Khasiat Dan Mekanisme Kerja

Menurunkan tekanan darah (hipertensi). Hal ini karena jahe


merangsang pelepasan hormon adrenalin dan memperlebar
pembuluh darah, akibatnya darah mengalir lebih cepat dan lancar
dan memperingan kerja jantung memompa darah.

Membantu pencernaan, karena jahe mengandung enzim pencernaan


yaitu protease dan lipase, yang masing-masing mencerna protein dan
lemak.

Mencegah tersumbatnya pembuluh darah. Gingerol pada jahe


bersifat antikoagulan, yaitu mencegah penggumpalan darah. Jadi
mencegah tersumbatnya pembuluh darah, penyebab utama stroke,
dan serangan jantung.

Mencegah mual, karena jahe mampu memblok serotonin, yaitu


senyawa kimia yang dapat menyebabkan perut berkontraksi,
sehingga timbul rasa mual. Termasuk mual akibat mabuk perjalanan.

Membuat lambung menjadi nyaman, meringankan kram perut dan


membantu mengeluarkan angin.

Menetralkan radikal bebas. Jahe juga mengandung antioksidan yang


membantu menetralkan efek merusak yang disebabkan oleh radikal
bebas di dalam tubuh.

Pereda rasa sakit yang alami dan dapat meredakan nyeri rematik,
sakit kepala, dan migren. Caranya, minum wedang jahe 3 kali sehari.
Bisa juga minum wedang ronde, mengulum permen jahe, atau
menambahkan jahe saat pada soto, semur, atau rendang.

Daun jahe juga berkhasiat, sebagai obat kompres pada sakit kepala
dan dapat dipercikan ke wajah orang yang sedang menggigil.
Caranya dengan ditumbuk dan diberi sedikit air dapat dipergunakan
sebagai obat kompres pada sakit kepala dan dapat dipercikan ke
wajah orang yang sedang menggigil.

Memperkuat pencernaan makanan dan mengusir gas di dalamnya,


mengobati hati yang membengkak, batuk dan demam. Caranya
dengan menumbuk rimpang lalu direbus dalam air mendidih selama
lebih kurang ½ jam, kemudian diminum airnya.
Mengobati rematik. Siapkan 1 atau 2 rimpang jahe. Panaskan
rimpang tersebut di atas api atau bara dan kemudian ditumbuk.
Tempel tumbukan jahe pada bagian tubuh yang sakit rematik. Cara
lain adalah dengam menumbuk bersama cengkeh, dan ditempelkan
pada bagian tubuh yang rematik.

Mengobati luka karena lecet, ditikam benda tajam, terkena duri,


jatuh, serta gigitan ular. Caranya rimpang jahe merah ditumbuk dan
ditambahkan sedikit garam. Letakkan pada bagian tubuh yang
terluka.

Mengobati gatal karena sengatan serangga. Caranya dengan


menumbuk rimpang lalu digunakan sebagai obat gosok.

Mengobati luka bekas gigitan ular beracun. Caranya dengan


menumbuk rimpang dan diberi sedikit garam, kemudian ditempelkan
pada luka bekas gigitan ular beracun (hanya sebagai pertolongan
pertama sebelum penderita dibawa ke dokter).

II.2.3 Kunyit

A. Klasifikasi

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Monocotyledonae

Bangsa : Zingiberales

Suku : Zingiberaceae

Marga : Curcuma

Spesies : Curcuma longa Linn.

(Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991)


B. Nama Daerah

Kunyit (C. longa) di berbagai daerah di Indonesia dikenal dengan

nama kunir (Jawa), Hunik (Batak), kunyir (Lampung), temu kuning,

kunir (Jawa), koneng (Sunda), konyet atau temu koneng (Madura),

kunidi (Sulawesi Utara), kuminu (Ambon), rame (Irian) (Pangkalan

Ide, 2011).

C. Deskripsi Tanaman

 Habitus: Semak, tinggi ± 70 cm.

 Batang: Semu, tegak, bulat, membentuk rimpang, hijau

kekuningan.

 Daun: Tunggal, lanset memanjang, helai daun 3-8, ujung dan

pangkal runcing, tepi rata, panjang 20-40 cm, lebar 8-12,5 cm,

pertulangan menyirip, hijau pucat.

 Bunga: Majemuk, berambut, bersisik, tangkai panjang 16-40 cm,

mahkota panjang ± 3 cm, lebar ± 1,5 cm, kuning, kelopak

silindris, bercangap tiga, tipis, ungu, pangkal daun pelindung

pulih, ungu.

 Akar: Serabut, coklat muda

(Depkes RI, 2002).


D. Syarat Tumbuhan

1. Iklim untuk budidaya kunyit


Tanaman kunyit dapat tumbuh baik pada daerah yang memiliki
intensitas cahaya penuh atau sedang, sehingga tanaman ini
sangat baik hidup pada tempat-tempat terbuka atau sedikit
naungan. Pertumbuhan terbaik dicapai pada daerah yang
memiliki curah hujan 1000-4000 mm/tahun. Bila ditanam di
daerah curah hujan < 1000 mm/tahun, maka system pengairan
harus diusahakan cukup & tertata baik. Budidaya Kunyit dpt
dibudidayakan sepanjang tahun. Pertumbuhan yang paling baik
adalah pada penanaman awal musim hujan. Suhu udara yang
optimum bagi tanaman ini antara 19-30°C.

2. Media Tanam
Kunyit tumbuh subur pada tanah gembur, pada tanah yang
dicangkul dgn baik akan menghasilkan umbi yang berlimpah.
Jenis tanah yang diinginkan adalah tanah ringan dgn bahan
organik tinggi, tanah lempung berpasir yang terbebas dari
genangan air/sedikit basa.

3. Ketinggian Tempat
Kunyit tumbuh baik di dataran rendah (mulai < 240 m dpl)
sampai dataran tinggi (> 2000 m dpl). Produksi optimal + 12
ton/ha dicapai pada ketinggian 45 m dpl.

E. Budidaya Tanaman
Cara Budidaya Tanaman Kunyit

a. Pembibitan

Pembibitan yang baik dan berkualitas harus melewati


persyaratan sebagai berikut :
- Persyaratan bibit
Bibit yang baik berasal dari indukan yang baik, subur, sehat,
berdaun banyak dan hiau, terhindar dari hama dan penyakit ,
berumur 7-12 bulan dan memiliki kadar air yang cukup.
- Penyiapan bibit
Bibit yang akan di tanam harus di lakukan pemotongan
dibagian rimpang, lalu bekas potongan tersebut di tutp
dengan abu gosok dan merendamnya di larutan fungisida
untuk mengihin dari jamur pada tanaman.
- Penyemainan bibit
Penyemaian ini di lakukan dengan mengagin-anginkan
rimpang di tempat teduh atau lembap sela 1-2 buan, dan
lakukan penyiraman 2 kali dalam sehari. Kemudian lakukan
penyimpanan bibit di dalam suhu kamar 25 – 28 C0 dan
merendamnya ke dalam larutan ZPT ( zat pengatur suhu )
selama 3 jam.
- Pemindahan bibit
Bibit yang sudah disemai dan juga sudah sekitar 1-2 bulan
lakukan pemindahan tanaman kelahan yang sudah di
sediakan.

b. Pengelolahan Media tanam


sebelum menanam tanaman sebaiknya melakukan pengelolahan
lahan dengan cara persiapan lahan, pembukaan lahan,
pembentukan bedengan dan juga pemupukan yang tepat. Dalam
persiapan lahan harus memperhatikan lahan yang harus di
bersihkan dahulu sebelum penanaman. Pembukaan lahan di
lakukan pembersihan tanaman yang menganggu atau gulma di
sekitar tanaman. Pembentukan bedengan tanam di lakukan
dengan kelebaran 60-100 cm, tinggi 24-45 cm dan jarak antara
bedengan 30-50 cm. Sedangkan pemupukan di lakukan dengan
menggunakan pupuk kandang dengan tiap lubang 1-2 kg
sebelum 1 minggu penanaman di lakukan.

c. Penanaman Tanaman
Penanaman tanaman kunyit di lakukan pada pagi dan sore hari
dengan kedalam tanam 60 cm, jarak tanam 60 x 60 cm dan juga
ukuran lubang tanam 30 x 30 cm. Hal ini di lakukan dengan
langsung memasukan bibit yang sudah disiapkan dengan mata
tunas dengan arah ke atas. Lalu kemudian menaburkan tanah dan
juga pupuk dasar. Dan siram hingga tanah basah.

d. Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman kunyit dapat di lakukan dengan cara
penyulaman, penyiangan,pembubunan pemupukan, penyiraman
dan pemulsaan. Penyulaman di lakukan dengan mengantikan
tanaman yang tidak tumbuh dengan yang baru. Penyiangan di
lakukan dengan membersihkan tanaman liar yang menganggu
tanaman kunyit. Pembubunan di lakukan dengan menambahkan
tanah lagi di bagian tanaman kunyit.

e. Pemupukan di lakukan dengan menggunakan pupuk kandang


atau kompos dan kimia berupa Urea, TSP dan Zat A sesuai
dengan dosis. Penyiraman tanaman ini di lakukan 2 kali dalam
satu hari dan jangan sampai kekeringan atau kelebihan dalam
penyiraman. Sedangkan pemulsaan di lakukan dengan
menggunakan jerami untuk menghindari kekeringan pada
tanaman atau tanah.

F. Panen Dan Pasca Panen

Tanaman kunyit dapat di panen ketika sudah berumur 8-18 bulan,


tetapi untuk hasil yang maksimal lakukan pemanen pada usia 11-12
bulan yaitu saat gugurnya daun kedua. Pemanen tanaman ini dapat di
lakukan degan cara mencabut atau membongkar rimpang dengan
bantuan cangkul atau garbu. Lalu memisahkannya dengan tanah dan
lakukan penyimpanan di tempat yang baik untuk kunyit.

G. Kandungan Kimia
Kunyit indonesia mengandung senyawa yang berkhasiat obat, yang
disebut kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin , desmetoksikumin
sebanyak 10% dan bisdesmetoksikurkumin sebanyak 1-5% dan zat-
zat bermanfaat lainnya seperti minyak atsiri yang terdiri dari Keton
sesquiterpen, turmeron, tumeon 60%, Zingiberen 25%, felandren ,
sabinen , borneol dan sineil. Kunyit juga mengandung Lemak
sebanyak 1 -3%, Karbohidrat sebanyak 3%, Protein 30%, Pati 8%,
Vitamin C 45-55%, dan garam-garam mineral, yaitu zat besi, fosfor,
dan kalsium.

H. Efek Farmakologi
Aktivitas antikanker Curcumin telah banyak diteliti menggunakan
berbagai pendekatan pada berbagai jenis kanker baik secara in vitro
maupun in vivo. Curcumin dapat dikembangkan sebagai obat
antikanker yang poten. Aktivitas antikanker Curcumin dikaitkan
dengan kemampuannya sebagai penghambat COX maupun pada
jalur signaling sel, baik melalui pemacuan apoptosis maupun cell
cycle arrest dengan mempengaruhi produk gen penekan tumor
maupun onkogen (Meiyanto, 1999). Selain itu, dikaitkan juga
dengan kemampuannya sebagai antioksidan, penghambatan
karsinogenesis, penghambatan proliferasi sel, antiestrogen, dan
antiangiogenesis.

I. Khasiat
- Anti Inflamasi (peradangan)
- Rheumatoid Arthritis (peradangan sendi kronis).
- Pencegahan Kanker.
- Meningkatkan Antioksidan.
- Meningkatkan Fungsi Hati.
- Mengurangi Resiko Leukimia.
- Perlindungan kardiovaskular (Penyakit yang berhubungan
dengan pembuluh darah).
- Mencegah Alzaimer.
BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan
Simplisia merupakan bentuk kering dari tumbuhan obat, dimana bentuk, aroma,
rasa masih tampak seperti aslinya, karena simplisia merupakan usaha
pengawetan tumbuhan obat dengan cara menurunkan kadar airnya sehingga
komponen kimia yang dikandung tanaman obat tersebut tidak berubah selama
waktu penyimpanan sebelum obat tersebut dikonsumsi. Sedangkan tumbuhan
obat dalam bentuk jamu biasanaya sediaan obat dalam bentuk serbuk, dimana
bentuk, aroma, rasa pada tumbuhan obat sulit dikenali karena selain bentuknya
yang seperti serbuk biasanya sediaan obat dalam bentuk jamu terdiri dari
beberapa jenis tumbuhan obat yang diracik dengan tujuan penggunaan untuk
beberapa jenis penyakit

III.2 Saran
Penyusun menyarankan pada para pembaca sekalian untuk semakin
menggalakkan penggunaan tanaman obat karena melihat bahwa tanaman obat
memiliki fungsi dan khasiat yang lebih ampuh dibandingkan dengan obat-
obatan kimia. Selain itu juga tanaman obat lebih mudah didapat dan diolah
dengan teknologi yang lebih sederhana serta pembudidayaannya juga tidak
membutuhkan banyak biaya.
DAFTAR PUSTAKA

Adfa, M., 2006, 6-Metoksi, 7-Hidroksi Kumarin dari Daun Pacar Air (Impatiens
balsamina L.) Berwarna Merah, (online),
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17037/6/Abstract.pdf, diakses
20 Mei 2010).
Anonim, !995, Farmakope Indonesia edisi IV, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.
Anonim, 1985, Cara Pembuatan Simplisia, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.
Anonim, 2007, Karakterisasi Simplisia dan Isolasi Senyawa Antosianin dari Bunga
TanamanPacar Air (Impatiens balsamina Linn.), (online),
(http://gradienfmipaunib.files.wordpress.com/2008/07/morina2.pdf, diakses 20
Mei 2010).
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1987, Analisis Obat Tradisional, Jakarta,
Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan.
Harborne, J.B., 1987, Metode Fitokimia, Penuntun cara modern menganalisa
tumbuhan, Bandung ITB.
Mukherjee, P.K., 2002, Quality Control of Herbal Drugs, an approach to evaluation
ouf botanicals. New Delhi, Business Horizons.
Santoso, Hieronimus Budi .1998. Tanaman Obat Keluarga.Yogyakarta:Teknologi
Tepat Guna