Anda di halaman 1dari 7

No.

Dokumen FO-UGM-BI-07-13
BORANG
Berlaku Sejak 03 Maret 2008
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN Revisi 00
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN Halaman 2 dari 8

PENGARUH GRAVITASI TERHADAP PERTUMBUHAN AKAR KECAMBAH

Vigna sinensis

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tumbuhan melakukan berbagai macam pergerakan dalam pertumbuhannya,
pergerakannya hanya terjadi pada organ-organ tumbuhan saja yang dipengaruhi oleh
rangsangan dari luar, seperti cahaya, bahan kimia dan gaya gravitasi dari bumi. Salah
satunya adalah gerak geotropisme. Geotropisme adalah pengaruh gravitasi bumi
terhadap pertumbuhan organ tanaman. Bila organ tanaman yang tumbuh berlawanan
dengan gravitasi bumi, maka keadaan tersebut dinamakan geotropisme negatif.
Sedangkan geotropisme positif adalah organ-organ tanaman yang tumbuh ke arah
bawah sesuai dengan gravitasi bumi.

Dengan begitu dilakukan percobaan mengenai geotropisme pada kecambah Vigna


sinensis adalah untuk mempelajari dan memahami lebih lanjut mengenai pengaruh
geotropisme pada pegerakan tanaman.

B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dilakukan penelitian tentang bagaimana
pengaruh gravitasi terhadap arah pertumbuhan akar kecambah Vigna sinensis?

C. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh gravitasi terhadap
arah akar pertumbuhan kecambah Vigna sinensis

II. TINJAUAN PUSTAKA


Gerak merupakan salah satu ciri dari mahkluk hidup termasuk tumbuhan. Terdapat
beberapa macam gerak pada tumbuhan antara lain taksis, nasti, dan tropi. Taksis
merupakan gerak perpindahan seluruh bagian menuju tempat rangsang, sedangkan tropi
merupakan gerak bagian tubuh tumbuhan menuju rangsang. Gerakan pada tumbuhan
No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13
BORANG
Berlaku Sejak 03 Maret 2008
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN Revisi 00
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN Halaman 3 dari 8

merupakan suatu respon terhadap rangsangan(stimulus) yang bersifat dari dalam maupun
dari luar individu (Reece et al., 2014).

Tumbuhan bereaksi terhadap perubahan lingkungan dengan perwujudan yang


tampak antara lain pada pertumbuhannya. Respon terhadap perubahan lingkungan
yang diwujudkan sebagai pertumbuhan yang mengakibatkan bagian tertentu lebih cepat
tumbuh dibandingkan yang lainnya. Respon ini dapat menghasilkan gerak yang nyata
walaupun umumnya lebih lambat dari pada gerak nasti. Di antara gerak akibat tumbuh
yang dikenal adalah gerak tropisme (Salisbury dan Ross, 2015).

Gerak geotropisme merupakan gerak tropisme yang rangsangannya berupa gaya


gravitasi bumi, contohnya gerak tumbuh akar menuju pusat bumi (Hopkins &
Hunner,2009). Gerak akar diakibatkan oleh rangsangan gaya tarik bumi (gravitasi) dan
arah gerak menuju arah datangnya rangsangan, maka gerak tumbuh akar disebut
geotropisme positif. Sebaliknya gerak organ tumbuhan lain yang menjauhi pusat bumi
disebut geotropisme negatif (Noggle, 2009).

Batang tumbuhan yang ber-geotropik positif mengalami Geotropisme negatif, hal


dapat diterangkan dengan perpindahan auksin dari pengaruh gaya tarik bumi. Telah
diketahui bahwa jika tumbuhan diletakkan horizontal, ujung batang akan tetap tumbuh ke
atas dan ujung akar tetap tumbuh ke bawah. Respon ini terjadi walaupun di tempat gelap,
sehingga respon ini tergantung gaya tarik bumi dan bukan cahaya (Heddy, 2016).

Keadaan auksin dalam proses geotropisme, apabila suatu tanaman diletakan secara
horizontal, maka akumulasi auksin akan berada di bagian bawah. Hal ini menunjukkan
adanya transportasi auksin ke arah bawah sebagai akibat dari pengaruh geotropisme. Sel-
sel tanaman terdiri dari berbagai komponen bahan cair dan bahan padat. Dengan adanya
gravitasi maka letak bahan yang bersifat cair akan berada di atas. Sedangkan bahan yang
bersifat padat berada di bagian bawah. Bahan-bahan yang dipengaruhi gravitasi dinamakan
statolith (misalnya pati) dan sel yang terpengaruh oleh gravitasi dinamakan statocyste
(termasuk statolith) ( Lovelles, 2007).
No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13
BORANG
Berlaku Sejak 03 Maret 2008
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN Revisi 00
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN Halaman 4 dari 8

Sedangkan pada akar, Delvin (2005) mengungkapkan bahwa konsentrasi yang auksin yang
tinggi pada akar akan menghambat pertumbuhan akar. Sehingga saat tumbuhan berada
pada posisi horizontal, auksin tertumpuk di bagian bawah, sehingga akar tetap tumbuh
menuju bumi (geotropisme positif).

III. METODE
A. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan untuk percobaan ini antara lain tabung gelas, lempeng kaca,
pisau, dan karet gelang. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu kecambah Vigna
sinensis dan kertas tissue.

B. Cara Kerja
Disiapkan kecambah kacang tanah dan jagung umur 2 hari.

Dipilih 20 kecambah yang pertumbuhannya baik dengan panjang akar ± 2cm.

Perlakuan pertama, diletakkan kecambah pada lempeng kaca yang telah dibalut kertas
tissue menggunakan karet gelang dengan posisi vertikal (A) dan horizontal (B).

Perlakuan kedua, ujung akar kecambah ±2 mm dipotong secara hati-hati, kemudian
kecambah tersebut diletakkan pada kertas yang telah dibalut kertas tissue dengan
posisi vertikal (C) dan horizontal (D). Setiap perlakuan masing-masing 5 kecambah.

Kertas buram yang telah ditempeli kecambah diletakkan dalam tabung gelas yang
berisi sedikit air untuk menjaga kelembaban.

Tabung gelas tersebut diletakkan dalam ruang gelap.


No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13
BORANG
Berlaku Sejak 03 Maret 2008
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN Revisi 00
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN Halaman 5 dari 8

Setelah 48 jam, diamati dan digambarkan pola pertumbuhan bagian-bagian


kecambah.

Dibandingkan hasil pengamatan yang diperoleh dari perlakuan A, B, C, dan D.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Hasil yang diperoleh dari percobaan ini sebagai berikut.

Tabel 1. Penampakan arah pertumbuhan akar kecambah Vigna sinensis hari ke-0 dan
hari ke-2 pada masing-masing perlakuan.

No Perlakuan Hari Ke-0 Hari Ke-2


A1. Horizontal
tanpa
dipotong

A2. Horizontal
dengan
pemotongan
No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13
BORANG
Berlaku Sejak 03 Maret 2008
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN Revisi 00
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN Halaman 6 dari 8

B1. Vertikal
tanpa
pemotongan

B2. Vertikal
dengan
pemotongan

B. Pembahasan
Pada percobaan ini, dilakukan pengamatan pengaruh gravitasi terhadap arah
tumbuh kecambah Vigna sinensis. Penggunaan kecambah Vigna sinensis karena
pertumbuhan kecambahnya cepat, sehingga mempermudah pengamatan, selain itu
Vigna sinensis mudah didapat dan harganya murah. Kecambah yang digunakan
kecambah dengan umur dua hari. Untuk mengamati pengaruh gravitasi, dilakukan
empat perlakuan, yaitu posisi horizontal tanpa pemotongan ujung akar (A1), posisi
horizontal dengan pemotongan ujung akar (A2), posisi vertikal tanpa pemotongan
ujung akar (B1), dan posisi vertikal dengan pemotongan ujung akar (B2). Kecambah-
kecambah ini kemudian ditumbuhkan dengan cara ditempelkan pada kertas buram.
Penumbuhan pada kertas buram agar kecambah tetap pada posisi horizontal dan
vertikal dan penggunaan kertas buram karena kertas buram dapat menyerap air
sehingga air dari dasar wadah tempat penyimpan dapat terserap oleh kertas buram dan
terhantar ke kecambah.
No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13
BORANG
Berlaku Sejak 03 Maret 2008
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN Revisi 00
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN Halaman 7 dari 8

Setelah ditumbuhkan selama dua hari diperoleh hasil yang tertera dalam Tabel 1.
Pada perlakuan A1 diperoleh hasil, akar kecambah tetap tumbuh horizontal, begitupun
pada perlakuan A2 akar kecambah tumbuh horizontal. Pada perlakuan B1, akar
kecambah tumbuh vertikal yang kemudian bengkok ke arah horizontal, pada perlakuan
B2 akar kecambah tetap tumbuh vertikal.

Hasil yang diperoleh pada perlakuan A1, A2, dan B1, tidak sesuai dengan hipotesis
Statolit. Menurut Reece et al. (2014) tumbuhan dapat mendeteksi gravitasi dengan
mengumpulkan statolit ke bagian bawah sel. Statolit merupakan plastida-plastida
terspesialisasi yang mengandung butir-butir pati padat. Di akar statolit terletak di dalam
sel-sel tertentu pada tudung akar. Berdasarkan hipotesis statolit, kumpulan statolit pada
bagian bawah sel akan mendistribusikan kalsium yang menyebabkan transpor lateral
auksin di dalam akar, sehingga kalsium dan auksin terkonsentrasi di bagian bawah sel.
Pada konsentrasi yang tinggi, auksin menghambat pemanjangan sel, efek yang
memperlambat pertumbuhan pada sisi bagian bawah akar. Pemanjangan sel yang lebih
cepat pada bagian atas akar membuat akar tumbuh membengkok ke arah bawah.

Saat ini, para peneliti fisiologi tumbuhan mempertajam hipotesis ini dengan
percobaan-percobaan yang menghilangkan statolit pada tumbuhan tembakau. Dari
hasil percobaan-percobaan ini diperoleh hasil bahwa akar tumbuhan tembakau yang
tanpa statolit tetap tumbuh ke bawah, hanya responsnya lebih lambat dibandingkan
dengan tumbuhan tembakau dengan statolit (Reece et al., 2014).

V. KESIMPULAN
Gravitasi dapat mempengaruhi arah pertumbuhan akar karena adanya statolit pada
tudung akar yang pada posisi horizontal membuat auksin terkonsentrasi pada sisi bawah
akar. Hal ini membuat pertumbuhan pada sisi bawah akar terhambat sedangkan
pertumbuhan pada sisi atas tidak, sehingga akar bengkok ke arah bawah.
No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13
BORANG
Berlaku Sejak 03 Maret 2008
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN Revisi 00
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN Halaman 8 dari 8

VI. DAFTAR PUSTAKA


Devlin, Robert M. 2005. Plant Physiology. New York : D. Van Nostrand.

Heddy, Suwasono. 2006. Hormon tumbuhan. Jakarta: CV Rajawali; pp. 88, 89).

Hopkins, William G. 2006. The Green World: Plant Development. New York: Infobase
Publishing; pp: 23-25

Lovelles, A.R. 2007. Prinsip – prinsip Biologi Tumbuhan. Jakarta : PT. Gramedia; pp: 235

Noggle, Ray, R dan Fritzs, J. George. 2009. Introductor Plant Physiology. New Delhi :
Mall of India Private Ilmited; pp. 23

Reece, J. B., Urry, L. A., Cain, M. L. 1., Wasserman, S. A., Minorsky, P. V., Jackson, R.,
& Campbell, N. A. 2014. Campbell biology (Tenth edition.). Boston: Pearson. pp. 334-
336, 432

Salisbury, F. B. dan Cleon. W. Ross. 2015. Plant Physiology. California : Wadsworth


Publishing Company; pp. 77