Anda di halaman 1dari 7

Jenis-Jenis Alat Tangkap Ikan di Indonesia

1. Jaring Insang (Gill Nets and Entangling Nets)


Menurut Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), jaring insang (gill net)
merupakan jaring berbentuk persegi panjang dengan ukuran mata yang sama di
sepanjang jaringnya. Sedangkan menurut Martasuganda (2002), jaring insang (gillnet)
adalah salah satu jenis alat tangkap ikan berupa jaring yang mempunyai bentuk 4
(empat) persegi panjang dengan ukuran semua mata jaring sama, dimana jumlah mata
jaring horizontal (mesh length / ML) jauh lebih banyak dari jumlah mata jaring vertikal
(mesh depth / MD).
Jaring insang adalah jaring berbentuk 4 (empat) persegi panjang, mata jaring
berukuran sama dilengkapi dengan pelampung pada bagian atas dan pemberat pada
bagian bawah jaring, diilustrasikan pada Gambar 1. Dioperasikan dengan tujuan
menghadang ruaya gerombolan ikan oleh nelayan secara pasif dengan ukuran mesh
size. Alat penangkap ini terdiri dari tingting (piece) dengan ukuran mata jaring, panjang
dan lebih yang bervariasi.

Gambar 1. Jaring Insang


Dalam operasi biasanya terdiri dari beberapa tinting jaring yang digabung menjadi
satu unit jaring yang panjang, dioperasikan dengan dihayutkan, dipasang secara
menetap pada suatu perairan dengan cara dilingkarkan atau menyapu dasar perairan.
Contohnya jaring insang hanyut (drift gillnet), jaring insang tetap (set gillnet), jaring
insang lingkar (encircing gillnet), jaring insang kritik (shrimp gillnet), dan trammel net.
Gill nets atau jaring insang ini digunakan untuk menangkap ikan pelagis maupun
demarsel, dimana demarsel adalah jenis ikan yang hidup di dasar perairan, seperti
kurau, kakap, kerapu, layur, manyung, cucut, pari, dan sebagainya.

2. Jaring Angkat (Lift Nets)


Jaring angkat adalah suatu alat penangkapan yang cara pengoperasiannya
dilakukan dengan menurunkan dan mengangkatnya secara vertikal. Alat ni terbuat dari
nilon yang menyerupai kelambu, ukuran mata jaringnya relatif kecil yaitu 0,5 cm.
Ilustrasi jaring angkat ini seperti pada Gambar 2, mempunyai bentuk menyerupai kotak
yang dalam pengoperasiannya dapat menggunakan lampu atau umpan sebagai daya
tarik ikan. Jaring ini dioperasikan dari perahu, rakit, bangunan atas atau dengan tangan
manusia.

Gambar 2. Jaring angkat


Alat tangkap ini memiliki ukuran mesh size yang sangat kecil dan efektif untuk
menangkap jenis ikan pelagis keci. Kecenderungan jaring angkat ini bersifat destruktif
dan tidak selektif. Contoh jaring angkat adalah bagan perahu atau rakit (boat/raft lift
net), bagan tancap (bamboo paltform lift net), dan serok (scoop net).
Dalam menggunakan jaring jenis ini biasanya nelayan menggunakan rumpon untuk
menarik perhatian ikan agar masuk ke dalam jaring. Jenis ikan yang bisa ditangkap
dengan jaring angkat ini, seperti ikan jenis pelagis dan cumi-cumi.

3. Pukat Cincin (Purse Seine)


Pukat cincin (purse seine) adalah jaring yang berbentuk 4 (empat) persegi panjang,
dilengkapi tali kerut yang bercincin yang diikatkan pada bagian bawah jaring sehingga
membentuk kerut dan seperti masuk. Pada Gambar 3 diilustrasikan bentuk pukat cincin
yang umumnya digunakan. Alat tangkap ini ditunjukan untuk menangkap gerombolan
ikan permukaan (palagic fish). Alat tangkap ini tergolong efektif terhadap target
spesies dan kecenderungan tidak destruktif.

Gambar 3. Pukat cicin

Jenis alat tangkap ini menjadi favorit bagi nelayan dengan pengoperasiaan yang
cukup mudah dengan menghadang arah jalan ikan. Purse seine ini bisa menangkap ikan
yang hidup di permukaan dengan kedalaman kurang dari 200 meter, seperti tongkol,
layang, bentang, kembung, cakalang, lemuru, slengseng, cumi-cumi dan ikan yang
biasa dijadikan bahan pindang.

4. Pukat Kantong (Seine Nets)


Pukat kantong (seine nets) adalah alat tangkap ikan yang berbentuk kantong yang
tersusun dari jaring dan 2 (dua) sayap, badan dan kantong jaring. Bagian sayap pukat
kantong ini lebih panjang dari pada bagian sayap pukat tarik (trawl). Jenis pukat
kantong ini terdiri dari payang, dogol, dan pukat pantai. Sistem kerja dari pukat
diilustrasikan pada Gambar 4 berikut.

Gambar 4. Pukat kantong


Hasil tangkapan yang dapat diperoleh dengan alat tangkap pukat kantong ini untuk
jenis payang dan dogol adalah ikan-ikan yang berkelompoj (skulling), seperti tuna,
cakalang, tongkol, dan lain-lain. Sedangkan untuk jenis pukat pantai sendiri adalah ikan
dasar atau demersal, seperti pari (rays), cucut (shark), teri (stolepharus spp), bulu ayam
(setipinna spp), beloso (saurida spp), kapas-kapan (gerres spp) dan lain-lain, serta jenis
udang-udangan (shrimp).

5. Pukat Udang
Pukat udang atau yang biasa disebut pukat harimau adalah jenis alat tangkap seperti
jaring yang berbentuk kantong dengan ditarik oleh satu atau dua kapal, bisa melalui
samping atau belakang. Alat ini merupakan alat yang efektif namun tidak selektif
sehingga dapat merusakn semua biota laut yang dilewatinya. Oleh sebab itu alat
tangkap jenis ini termasuk alat tangkap yang destruktif. Pada pengoperasiaan alat pun
mudah, tetapi sering kali ditemukan penyalahgunaan dalam pemakainnya yang dapat
merugikan semua pihak. Pada Gambar 5 berikut diilustrasikan penggunaan pukat jenis
udang ini. Pukat udang ini digunakan untuk menangkap udang dan jenis ikan dasar atau
demersal.
Gambar 5. Pukat udang

6. Pancing (Hook and Lines)


Pancing adalah salah satu alat tangkap yang terdiri dari 2 (dua) komponen utama,
yaitu tali (line) dan mata pancing (hook). Jumlah mata pancing yang dimiliki pun
berbeda-beda, yaitu mata pancing tunggal, mata pancing ganda, bahkan hingga ribuan
seperti yang terapat pada Gambar 6 dibawah ini dan Gambar 7. Prinsip alat tangkap ini
merangsang ikan dengan umpan alam maupun buatan yang dikaitkan pada mata
pancingnya. Alat tangkap ikan yang termasuk dalam pancing, antara lain rawai (long
line) dan pancing.

Gambar 6. Pancing

Gambar 7. Rawai (long line)


Alat tangkap yang terdiri dari tali dan mata pancing ini, dapat dilengkapi pula
dengan komponen lain seperto tangkai (pole), pemberat (sinker), pelampung (float),
dan kili-kili (swivel). Cara pengoperasian pancing ini bisa dipasang menetap pada suatu
perairan, ditarik dari belakang perahu/kapal yang berjalan, dihanyutkan, maupun
langsung diulur dengan tangan. Alat ini bersifat tidak destruktif dan sangat selektif,
sehingga sangat aman digunakan.

7. Pukat Ikan Karang (Muroami)


Pukat ikan karang (muroami) adalah alat tangkap yang dibuat dari jaring, yang
terdiri dari sayap dan kantong. Pengoperasian pukat jenis ini dilakukan dengan
menggiring ikan-ikan yang akan ditangkap agar masuk ke bagian kantong yang telah
dipasang terlebih sebelumnya. Alat ini cenderung tidak destruktif dan tidak merusak
ekosistem, karena metode pengoperasiannya yang tidak sampai merusak karang
disekitarnya yang terlihat pada Gambar 8 dibawah ini.

Gambar 8. Pukat Ikan Karang


Penggunaan alat ini dilakukan oleh beberapa nelayan dengan berenang, mengejutkan
ikan-ikan karang sambil membawa alat penggiring. Sesuai dengan sebutannya sebagai
pukat ikan karang, karena alat tangkap ini ditargetkan untuk menangkap jenis-jenis
ikan karang.

8. Perangkap
Perangkap adalah salah satu alat tangkap yang bersifat tetap atau statis, umumnya
berbentuk kurungan, berupa jebakan dimana ikan akan mudan masuk tanpa adanya
paksaan dan sulit keluar karena dihalangi dengan sis-sisi dari kurangan. Bahan yang
digunakan pun tidak merusak sekitar, seperti bambu, rotan, kawat, jaring, tanah liat,
palstik, dan sebagainya. Tampak pada Gambar 9 adalah contoh alat tangkap perangkap.
Gambar 9. Perangkap
Pengoperasian alat tangkap ini cukup mudah dan dapat dilakukan di dasar perairan,
di permukaan perairan, di sungai daerah arus kuat, dan di daerah pasang surut. Alat ini
cenderung selektif karena hanya ikan yang bisa terperangkap di dalamnya. Contoh alat
tangkap perangkap adalah sero (guiding barrier), jermal (stow net), bubu (portable
trap), dan perangkap lain.

9. Pengumpul Kerang dan Rumput Laut


Sesuai dengan sebutannya, alat tangkap jenis ini lebih kepada penangkapan kerang
dan rumput laut. Pada umumnya di desain dengan pengoperasian yang sederhana dan
biasa untuk usaha skala kecil. Alat ini selektif dan tidak merusak atau destruktif karena
ditujukan untuk menangkap target seperti kerang-kerangan. Contoh alat pengumpul
kerang ini antara lain garuk (rake), cengkeraman, dan ladung kimia, sedangkan untuk
pengumpul rumput laut lebih sederhana berupa galah yang ujungnya bercabang. Akan
tetapi, alat ini dapat merusakk habitat lingkungan perairan kalau tidak dilakukan sesuai
prosedur. Pada Gambar 10 dibawah ini merupakan salah satu jenis alat pengumpul
kerang dan rumput laut.

Gambar 10. Rake

10. Alat Penangkap Lainnya


Sebelumnya telah diuraikan berbagai macam alat tangkap yang ada, namun masih
banyak jenis alat tangkap hasil laut lainnya yang tergolong sendiri dan perlu diketahui,
antara lain:
 Jala adalah alat tangkap yang berbentuk seperti kerucut dan terdiri dari badan
jaring/kantong, pemberat yang dipasang mengeliling mulut dan tali yang
diikatkan pada bagian ujung jaring agar tidak terlepas pada waktu dioperasikan.
Tujuan utamanya adalah untuk mengurung ikan dan udang dari atas dengan
cara menebarkan jala tersebut.
 Tombak adalah alat tangkap yang terdiri dari batang kayu/bambu dengan
ujungnya berkait balik (mata ombak) dan tali penarik yang diikatkan pada mata
tombak. Tali penariknya dipegang oleh nelayan kemudian tombak akan
mengenai sasaran tali tersebut lalu ditarik untuk mengambil hasil tangkapan.
 Senapan adalah alat penangkap yang terdiri dari anak panah dan tangkai
senapan. Penangkapan dengan alat ini umumnya dilakukan dengan cara
melakukan penyelaman pada perairan karang. Untuk penangkapan dengan
panah biasa, umumnya dilakukan dekat pantai atau perairan dangkal.
 Harpun tangan adalah alat tangkap yang terdiri dari tombak dan tali panjang
yang diikatkan pada mata tombak. Harpun tangan ini ditujukan untuk
menangkap paus, dimana tombak langsung dilemparkan dengan tangan ke arah
sasaran (paus) dari atas perahu.
Dari 4 (empat) jenis alat tangkap diatas, mereka relatif sederhana dan tidak merusak
atau destruktif dan sangat selektif karena setiap alat ditujukan untuk menangkap 1
(satu) spesies saja. Walaupun begitu, alat-alat tangkap ini pun dapat merusak habitat
bila disalahgunakan.