Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Radioktivitas mula-mula ditemukan oleh Becquerel pada tahun 1896. Pada tahun 1898
Pierre Curie dan Marie Curie telah menemukan bahwa Polonium dan Radium juga
memancarkan radiasi-radiasi yang radioaktif.
Radiasi-radiasi radioaktif yang dipancarkan oleh elemen-elemen itu mengandung
partikel-partikel sebagai berikut:
1. Sinar-sinar  atau partikel-partikel 
2. Sinar-sinar  atau partikel-partikel 
3. Sinar-sinar  atau partikel-partikel 
Radioaktivitas adalah kemampuan inti atom yang tak-stabil untuk memancarkan radiasi
menjadi inti yang stabil. Materi yang mengandung inti tak-stabil yang memancarkan radiasi,
disebut zat radioaktif. Besarnya radioaktivitas suatu unsur radioaktif (radionuklida)
ditentukan oleh konstanta peluruhan, yang menyatakan laju peluruhan tiap detik, dan waktu

paro  t 2  . Kedua besaran tersebut bersifat khas untuk setiap radionuklida. Ialah perubahan
1

 
inti atom yang tak-stabil menjadi inti atom yang lain, atau berubahnya suatu unsur radioaktif
menjadi unsur yang lain. Sebuah inti radioaktif dapat melakukan sejumlah reaksi peluruhan
yang berbeda, seperti peluruhan Alfa, Beta dan Gamma.

B. Rumusan Masalah
Rumusan yang akan kami bahas dalam makalah ini yaitu:
1. Apa pengertian dari radioaktivitas?
2. Apa pengertian inti atom stabil dan inti atom tidak stabil?
3. Apa pengertian peluruhan?
4. Apakah jenis-jenis nuklida ?
5. Apa saja faktor-faktor kestabilan?
6. Bagaimana menjelaskan pita kestabilan?
7. Bagaimana menentukan dua unsur yang stabil dan yang tidak stabil?
8. Bagaimana menuliskan persamaan rekasi berantai berdasarkan grafik deret radioaktif
alamiah?
9. Apakah itu Hukum Peluruhan Radioaktif dan bagaimana persamaannya?
10. Apakah itu Kesetimbangan Radioaktif?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini yaitu:
1. Mengetahui pengertian dari radioaktivitas.
2. Mengetahui pengertian inti atom stabil dan inti aton tidak stabil.
3. Mengetahui pengertian peluruhan.

Radioaktivitas | 1
4. Mengetahui tentang nuklida dan jenis-jenisnya.
5. Mengetahui faktor-faktor kestabilan.
6. Mengetahui tentang pita kestabilan.
7. Dapat menentukan dua unsur yang stabil dan yang tidak stabil.
8. Dapat menuliskan persamaan rekasi berantai berdasarkan grafik deret radioaktif
alamiah.
9. Mengetahui Hukum Peluruhan Radioaktif dan bagaimana persamaannya.
10. Mengetahui Kesetimbangan Radioaktif.

Radioaktivitas | 2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Radioaktivitas
Reaksi nuklir ada yang terjadi secara spontan ataupun buatan. Reaksi nuklir spontan
terjadi pada inti-inti atom yang tidak stabil. Zat yang mengandung inti tidak stabil ini disebut
zat radioaktif. Adapun reaksi nuklir tidak spontan dapat terjadi pada inti yang stabil
maupun,inti yang tidak stabil. Reaksi nuklir disertai perubahan energi berupa radiasi dan
kalor. Berbagai jenis reaksi nuklir disertai pembebasan kalor yang sangat dasyat, lebih besar
dan reaksi kimia biasa.

Gambar 1. (a) Henri Becquerel (b) Marie Curie dan Pierre Currie
Pada tahun 1895, W.C. Rontgen menemukan bahwa tabung sinar katode mengahasilkan
suatu radiasi berdaya tembus tinggi yang dapat menghitamkan film potret, walupun film
tersebut terbungkus kertas hitam. Karena belum mengenal hakekatnya, sinar ini dinamai sinar
X. Ternyata sinar X adalah suatu radiasi elektromagnetik yang timbul karena benturan
berkecepatan tinggi (yaitu sinar katode dengan suatu materi (anode). Sekarang sinar X
disebut juga sinar rontgen dan digunakan untuk rongent yaitu untuk mengetahui keadaan
organ tubuh bagian dalam.
Penemuan sinar X membuat Henry Becguerel tertarik untuk meneliti zat yang bersifat
fluorensensi, yaitu zat yang dapat bercahaya setelah terlebih dahulu mendapat radiasi
(disinari), Becquerel menduga bahwa sinar yang dipancarkan oleh zat seperti itu seperti sinar
X. Secara kebetulan, Becquerel meneliti batuan uranium. Ternyata dugaan itu benar bahwa
sinar yang dipancarkan uranium dapat menghitamkan film potret yang masih terbungkus
kertas hitam. Akan tetapi, Becqueret menemukan bahwa batuan uranium memancarkan sinar
berdaya tembus tinggi dengan sendirinya tanpa harus disinari terlebih dahulu. Penemuan ini
terjadi pada awal bulan Maret 1986. Gejala semacam itu, yaitu pemancaran radiasi secara
spontan, disebut keradioaktifan, dan zat yang bersifat radioaktif disebut zat radioaktif.

Radioaktivitas | 3
Zat radioaktif yang pertama ditemukan adalah uranium. Pada tahun 1898, Marie Curie
bersama-sama dengan suaminya Pierre Curie menemukan dua unsur lain dari batuan uranium
yang jauh lebih aktif dari uranium. Kedua unsur itu mereka namakan masing-masing
polonium (berdasarkan nama Polonia, negara asal dari Marie Curie), dan radium (berasal dari
kata Latin radiare yang berarti bersinar).
Ternyata, banyak unsur yang secara alami bersifat radioaktif. Semua isotop yang
bernomor atom diatas 83 bersifat radioaktif. Unsur yang bernomor atom 83 atau kurang
mempunyai isotop yang stabil kecuali teknesium dan promesium. Isotop yang bersifat
radioaktif disebut isotop radioaktif atau radioi isotop, sedangkan isotop yang tidak radiaktif
disebut isotop stabil. Dewasa ini, radioisotop dapat juga dibuat dari isotop stabil. Jadi
disamping radioisotop alami juga ada radioisotop buatan.
Pada tahun 1903, Ernest Rutherford mengemukakan bahwa radiasi yang dipancarkan
zat radioaktif dapat dibedakan atas dua jenis berdasarkan muatannya. Radiasi yang
berrnuatan positif dinamai sinar alfa, dan yang bermuatan negatif diberi nama sinar beta.
Selanjutnya Paul U.Viillard menemukan jenis sinar yang ketiga yang tidak bermuatan dan
diberi nama sinar gamma.

B. Pembahasan Soal
1. Jelaskan pengertian dari beberapa istilah berikut:
a. Radioaktivitas

Radioaktivitas | 4
Radioaktivitas adalah pemancaran sinar tembus (sinar radioaktif) secara spontan oleh
inti-inti tidak stabil (misalnya inti uranium). Bahan yang memancarkan radiasi
tersebut disebut unsur radioaktif, dan radiasi yang dipancarkan disebut sinar
radioaktif.
b. Inti atom stabil
Inti atom dikatakan stabil bila komposisi jumlah proton dan neutronnya sudah
”seimbang” serta tingkat energinya sudah berada pada keadaan dasar. Jumlah proton
dan neutron maupun tingkat energi dari inti-inti yang stabil tidak akan mengalami
perubahan selama tidak ada gangguan dari luar. Perlu dicatat bahwa komposisi proton
dan neutron yang “seimbang” di atas tidak berarti mempunyai jumlah yang sama.
Setiap inti atom mempunyai “kesetimbangan” yang berbeda.
 Untuk atom ringan ( Z < 20 ), inti stabil jika N = Z atau N/Z = 1
 Untuk atom berat ( 20 < Z < 83 ) , inti stabil jika N/Z = 1,6
 Tidak ada inti stabil untuk Z > 83
c. Inti atom tak-stabil
Inti atom dikatakan tidak stabil bila komposisi jumlah proton dan neutronnya “tidak
seimbang” atau tingkat energinya tidak berada pada keadaan dasar. Inti-inti tidak
stabil ini secara spontan akan melakukan peluruhan untuk menuju daerah kestabilan
inti dengan memancarkan partikel radioaktif.
d. Peluruhan
Proses perubahan atau transformasi inti atom yang tidak stabil menjadi atom yang
lebih stabil tersebut dinamakan peluruhan radioaktif. Inti-inti atom yang tidak stabil,
baik karena komposisi jumlah proton dan neutronnya yang tidak seimbang ataupun
karena tingkat energinya yang tidak berada pada keadaan dasarnya, cenderung untuk
berubah menjadi stabil. Bila ketidakstabilan inti disebabkan karena komposisi jumlah
proton dan neutronnya yang tidak seimbang, maka inti tersebut akan berubah dengan
memancarkan radiasi alpha atau radiasi beta (β). Kalau ketidakstabilannya disebabkan
karena tingkat energinya yang berada pada keadaan tereksitasi maka akan berubah
dengan memancarkan radiasi gamma.
Jadi, inti dari suatu atom memancarkan sebuah partikel alfa, partikel beta, sebuah
sinar gamma atau partikel lainnya atau bila menangkap sebuah electron dari kulit
terluar sebuah atom, prosesnya disebut peluruhan radioaktif.
2. Jelaskanlah pengertian dari jenis-jenis nuklida
a. Nuklida Stabil
Nuklida Stabil adalah nuklida dengan perbandingan neutron terhadap proton lebih
besar atau sama dengan satu (N/Z ≥ 1) dan gaya inti lebih besar dibandingkan gaya
elektrostatis. Untuk nuklida ringan (Z ≤ 20), perbandingan N/Z  1. Berikut adalah
contoh nuklida stabil.

Radioaktivitas | 5
b. Radionuklida Alam Primer ( panjang)

Radionuklida Alam Primer adalah nuklida yang terbentuk secara alamiah dan bersifat
radioaktif, sampai sekarang masih ditemukan karena memiliki waktu paruh yang
panjang (dalam orde 109 tahun).
Contoh :

92 , nya 4,5 x 109 tahun

c. Radionuklida Alam Sekunder ( pendek)

Radionuklida Alam Sekunder adalah nuklida radioaktif yang secara alamiah


diturunkan (merupakan hasil peluruhan) dari radionuklida alam primer.
Contoh :

, nya 24 hari

Dibentuk dari 92 + 2 90

d. Radionuklida Alam Terinduksi


Radionuklida alam terinduksi terbentuk secara kontinu, bukanlah sisa pembentukan
bumi, tetapi karena antar aksi dengan kosmik dan nuklida dari hasil antar aksi sinar
kosmik di atmosfir.
Contoh :

7 0 6 1

e. Radionuklida buatan
Hasil reaksi trans mutasi inti yang dilakukan di laboratorium.
3. Kestabilan inti tidak dapat ditentukan dengan satu faktor, namun ada beberapa faktor.
Faktor-faktor tersebut antara lain :

Radioaktivitas | 6
a. Angka banding jumlah neutron terhadap jumlah proton
Perbandingan proton-neutron (n/p) adalah sama atau hampir sama dengan satu untuk
nuklida ringan. Perbandingan n/p adalah satu untuk semua nuklida yang terletak pada
garis putus-putus.
b. Hukum genap ganjil
Hukum genap ganjil, yaitu inti yang mempunyai jumlah proton genap dan jumlah
neutron genap lebih stabil daripada inti yang mempunyai jumlah proton dan neutron
ganjil.

Jumlah inti stabil paling banyak dimiliki oleh inti yang jumlah proton dan neutronnya
genap, dan yang paling sedikit adalah untuk proton dan netutron ganjil. Hal ini berarti
bahwa inti genap-genap adalah paling stabil dan inti ganjil-ganjil adalah yang paling
sedikit stabilnya
c. Energi ikat pernukleon
Massa suatu inti selalu lebih kecil dari jumlah massa proton dan neutron. Berdasarkan
hukum kesetaraan massa dan energi, selisih massa tersebut adalah merupakan energi
pengikat nukleon dalam inti. Semakin besar energi pengikat inti per nukleon, semakin
stabil nuklidanya
d. Magic number (Bilangan Ajaib)
Dalam kestabilan inti, terdapat suatu istilah “Bilangan Ajaib”. Bilangan ajaib
adalah nuklida dengan jumlah proton atau neutron sebanyak
Bilangan berikut :
 Untuk neutron : 2, 8, 20, 28, 50, 82, dan 126
 Untuk proton : 2, 8, 20, 28, 50, dan 82
Jadi, unsur-unsur bilangan ajaib pasti selalu stabil alias tidak radioaktif. Fenomena
bilangan magis mendukung tingkat-tingkat energi dalam inti atom.
Contoh:
1. 2He4 = proton 2 dan neutron 2 = termasuk bilangan ajaib
2. 8O16 = proton 8 dan neutron 8 = termasuk bilangan ajaib
3. 20Ca40 = proton 20 dan neutron 20 = termasuk bilangan ajaib
4. 82Pb208 = proton 82 dan neutron 126 = termasuk bilangan ajaib karena 126
merupakan bilangan ajaib milik neutron satu-satunya
4. Berikut adalah grafik tentang pita kestabilan

Dalam pita kestabilan, ditemukan bahwa kestabilan suatu inti atom dapat ditentukan
oleh perbandingan jumlah neutron dan proton (salah satunya). Plot jumlah neutron

Radioaktivitas | 7
terhadap jumlah proton dari semua isotop yang sudah dikenal, baik isotop stabil maupun
isotop radioaktif disebut peta isotop. Sementara, pita kestabilan adalah Isotop-isotop
stabil yang terletak dalam suatu daerah berbentuk pita.

Suatu nuklida bisa memiliki proton > neutron, begitu juga sebaliknya. Nah, karena
adanya grafik pita kestabilan, maka nuklida yang tidak stabil terbagi atas 3 jenis:
 Nuklida-nuklida di atas pita kestabilan
Syaratnya: nuklida-nuklidanya punya jumlah neutron (n) > proton (p). Karena
jumlah neutron lebih besar, maka untuk mencapai kestabilan harus mengurangi
jumlah neutronnya melalui:
a) Memancarkan sinar beta
Akibat memancarkan sinar beta, maka neutronnya berkurang dan protonnya
bertambah.
Contohnya:
1 1 0
0n —> 1p + -1e
14 14
6C —> 7N + -1e0 (Unsur C memiliki proton 6 dan neutron (14-6) 8, maka neutron > proton)
b) Melepaskan neutron

Radioaktivitas | 8
Contohnya:
He5—> 2He4 + 0n1
2
 Nuklida-nuklida di bawah pita kestabilan
Syaratnya: nuklida-nuklidanya punya jumlah neutron (n) < proton (proton).
Karena jumlah proton lebih banyak maka harus dikurangi dengan cara:
a) Melepaskan positron
Contohnya:
p1 —> 0n1 + +1e0
1
10 10 0
6C –> 5B + +1e [Unsur C punya proton 6 dan neutron 4, maka proton > neutron]
b) Menangkap elektron
Dalam hal ini, elektron orbital, yaitu dari kulit K, diserap oleh inti. Elektron
tersebut bergabung dengan proton membentuk neutron. Kekurangan elektron
pada kulit K kemudian diisi oleh elektron dari kulit luar. Nah, perpindahan
elektron dari kulit luar ke kulit K disertai pemancaran enetrgi berupa sinar X.
Contohnya:
p1 + -1e0 —> 0n1 + 0X0
1
81 0 81 0
37Rb + -1e —> 36Kr + 0X
7 0 7 0
4Be + -1e —> 3Li + 0X
 Nuklida-nuklida di tepi atas kanan pita kestabilan (Z > 83)
Nuklida-nuklida ini menstabilkan unsurnya sendiri dengan memancarkan sinar
alfa atau inti helium.
Contohnya:
92 U235 —> 90Th231 + 2He4 [Terlihat bahwa unsur uranium memiliki nomor atom 90, berarti Z > 83]
Nuklida di luar pita kestabilan umumnya bersifat radioaktif atau nuklida tidak stabil.
Nuklida yang terletak di atas pita kestabilan adalah nuklida yang memiliki neutron
berlebih. Nuklida yang terletak di atas pita kestabilan dengan nomor atom (jumlah proton)
lebih dari 83 adalah nuklida yang memiliki neutron dan proton melimpah.

5. Bandingkan dua nuklida berikut, mana yang lebih stabil ? jelaskan alasannya

206 208
82 A dengan 82 A
Jawab :
Lebih stabil 82A208.
Jika dilihat dari beberapa aturan kestabilan inti, diantaranya :
a. Hukum genap ganjil
Jika dilihat dari hukum ini, neutron dan proton dari nuklida 82A206 dan 82A208 dapat
dikatakan sama-sama genap.
b. Angka banding jumlah neutron terhadap jumlah proton
Jika dihitung dari angka perbandingan (n/p) untuk kedua nuklida

Radioaktivitas | 9
82A206 = 1,51 sedangkan 82A208 = 1,53
Perbandingan keduanya sama-sama mendekati
c. Energi ikat pernukleon
d. Magic Number
Angka dari Magic Number adalah sebagai berikut :
 Untuk neutron : 2, 8, 20, 28, 50, 82, dan 126
 Untuk proton : 2, 8, 20, 28, 50, dan 82
Dilihat dari Magic Number diatas nilai proton untuk kedua nuklida adalah sama.
Dengan nilai neutron dari A206 adalah 124, sedangkan nilai neutron dari
82 82A208
adalah 126.
Nilai neutron 126 merupakan magic number, maka 82A208 lebih stabil dibandingkan 82A206
Contoh Soal Lain :
206
82A dengan 82A207

Jika dilihat dari beberapa aturan kestabilan inti, diantaranya :


a. Hukum genap ganjil
Jika dilihat dari hukum ini, neutron dan proton dari nuklida 82A206 memiliki nilai
proton dan neutron genap sedangkan 82A207 memilki nilai proton genap dan neutron
ganjil.
Dari 2 hal ini, berdasarkan Hukum Genap Ganjil, nuklida yang paling stabil ialah
nuklida dengan proton dan neutron adalah genap.
b. Angka banding jumlah neutron terhadap jumlah proton
Jika dihitung dari angka perbandingan (n/p) untuk kedua nuklida
82A206 = 1,51 sedangkan 82A207 = 1,52
Perbandingan keduanya sama-sama mendekati
c. Magic Number
Angka dari Magic Number adalah sebagai berikut :
 Untuk neutron : 2, 8, 20, 28, 50, 82, dan 126
 Untuk proton : 2, 8, 20, 28, 50, dan 82
Dilihat dari Magic Number diatas nilai proton untuk kedua nuklida adalah sama.
Dengan nilai neutron dari 82A206 adalah 124, sedangkan nilai neutron dari 82A208 adalah
125. Dimana kedua nilai neutron nuklida tersebut tidak termasuk kedalam Magic
Number
Jadi, yang memenuhi syarat kestabilan suatu nuklida pada 82A206 dengan 82A207 ialah 82A206
yang paling stabil.
6. Tuliskanlah persamaan reaksi berantai satu dari 4 deret radioaktif alamiah, berdasarkan
grafik berikut

Radioaktivitas | 10
Merupakan Deret 4n,
sebab deret nomor
massanya selalu
kelipatan 4
Berasal dari inti induk
Thorium
Dan berakhir pada Pb.

88 Ra  2 
Th 228 84 Po  2 
Rn 216 84 Po  1 
Bi  212
232 4 220 4 212 0
90 86 83 ;
216
84 Po 216
85 At  
0
1 ;
89 Ac  1 
Ra 228 81Ti  2 
Bi  208
228 0 212 4
88 83

90 Th  1 
Ac  228 82 Pb  2 
Po 212 82 Pb  2 
Po 208
228 0 216 4 212 4
89 84 84

88 Ra  2 
Th 224 83 Bi  2 
At  212
228 4 216 4
90 85

86 Rn  2 
Ra  220 83 Bi  1 
Pb 212
224 4 212 0
82 Pb  1 
Ti  208
208 0
88 82
81

Deret aktinium dimulai dari


induk dan berakhir pada

Deret ini juga disebut deret


(4n+3) karena nomor massanya
selali dinyatakan dalam bentuk
4n+3

1 s = 10-6s, 1 ms = 10-3s,1 My =
106y, 1 Gy = 109y

Radioaktivitas | 11
Deret Uranium

Deret ini dimuldalam


bentuk lai dari inti induk
dan berakhir pada

Deret ini disebut juga


deret (4n+2) karena nomor
massanya selallu dapat
dinyatakan dalam bentuk
4n+2

Deret Neptunium

Deret ini dimulai dari induk


dan berakhir pada
inti

Deret ini juga disebut deret


(4n+1) karena nomor
massanya selalu dapat
dinyatakan dalam bentuk
4n+1

7. Deret Radioaktif ada 4 macam

Usia Paroh Hasil Akhir


Nomor Massa Nama Deret Induk
(Tahun) Stabil

4n Thorium 90 Th232 1,39 x 1010 Pb208


82

4n+1 Neptunium 93Np237 2,25 x 106 83 Bi209

4n+2 Uranium 92 U238 4,51 x 109 Pb206


82

4n+3 Aktinium 92 U235 7,07 x 108 Pb207


82

Radioaktivitas | 12
8. Hukum Peluruhan dan Kesetimbangan Radioaktif

a. Jelaskan lah tentang Hukum Peluruhan Radioaktif. Lengkapi dengan langkah matematis
untuk mendapatkan persamaannya (persamaan-persamaan pada sub bab 3.2 pd buku
sumber)
Jawab :
Peluruhan radioaktif merupakan sifat inti yang bergantung waktu (dinamik), sifat
dinamik lainnya dari suatu inti radioaktif adalah reaksi inti.
Laju peluruhan inti radioaktif disebut aktivitas. Semakin besar aktivitasnya, semakin
banyak inti atom yang meluruh per detik. Aktivitas A hanya bergantung pada jumlah
inti radioaktif N dalam cuplikan dan juga pada probabilitas peluruhan λ.

(1)

Ketika cuplikan meluruh, jumlah intinya berkurang sebanyak N buah lebih sedikit
jumlah inti atom yang tertinggal. Jadi jumlah peluruhan per detik makin lama makin
berkurang. Semakin besar α, semakin banyak inti atom yang meluruh tiap detiknya.
Secara matematis dapat dituliskan:

(2)

Dari persamaan (1) dan (2)

atau

(3)

Radioaktivitas | 13
di integrasikan :

(4)

Dimana N(t) adalah jumlah atom radioaktif yang ada pada waktu t.
Probabilitas , yang digunakan pada persamaan di atas disebut dengan konstanta
disintegrasi atau konstanta peluruhan. Aktivitas dari suatu sampel radioaktif
didefinisikan sebagai jumlah peluruhan per detik. Dari Persamaan 4 diperoleh aktivitas
R sebagai
dN
R  N 0 e  t  N (5)
dt
Dengan demikian aktifitas sutau sampel tergantung pada jumlah inti yang ada, dan
konstanta peluruhan .

(1) Usia Paroh


Selang waktu dimana aktivitas atau inti yang belum meluruh berkurang sampai

setengah harga awal disebut usia paroh, t 1


2 . Hubungan t 1
2 dengan tetapan
peluruhan adalah

N0  t 1
 N0e 2
N

Atau

, Jika dan t = t1/2

Radioaktivitas | 14
ln 2 0,693
t 1
  (6)
2
 

Setiap radioisotop memiliki umur paroh karakteristik, mulai dari sepersejuta detik
sampai bilyun tahun.
(2) Usia Hidup Rata-Rata
Bentuk eksponensial dari peluruhan menyatakan bahwa peluruhan yang lengkap
sampai semua inti meluruh, berlangsung sampai waktu tak berhingga. Karena inti
meluruh secara acak, maka waktu hidup sebuah inti berharga mulai dari nol sampai
tak berhingga. Untuk keperluan statistic perlu dirumuskan waktu hidup rata-rata
sebuah inti  yang diperoleh dari perhitungan jumlah usia dari semua inti dibagi
dengan jumlah inti

t1dN1  t 2 dN 2  t 3 dN 3  ....
  (7)
dN1  dN 2  dN 3  ...

Kita dapat menulis Persamaan 7 dalam bentuk integral

N0 N0

 tdN  tdN
 0
N0
 0
(8)
N0
 dN
0

dimana N 0  dN1  dN 2  dN 3  ..

Radioaktivitas | 15
Subsitusi dN dari Persamaan 4 ke Persamaan 8 dan kemudian diintegrasi diperoleh

0
  tN 0 e t dt 
1 (9)
   te
t

 dt 
N0 0

sehingga

1
 

b. Jelaskan lah tentang Hukum Peluruhan Radioaktif berurutan. Lengkapi dengan langkah
matematis untuk mendapatkan persamaannya (persamaan-persamaan pada sub bab 3.3
pd buku sumber)
Jawab :
Baik dalam kasus radioaktivitas alamiah maupun buatan, peluruhan dapat terjadi secara
berturutan. Suatu inti induk meluruh menjadi inti anak. Jika inti anak ini juga suatu
unsur radioaktif, tentu juga akan menghasilkan inti cucu dan seterusnya. Dalam banyak
kasus yang terjadi adalah inti induk meluruh menjadi inti anak, inti anak meluruh
menjadi inti yang stabil. Suatu pertanyaan yang menarik adalah, jika kita mulai
dengan sejumlah isotop induk radioaktif, berapa jumlah masing-masing inti untuk
setiap peluruhan pada waktu tertetu.
Misalkan pada waktu t, jumlah inti induk N1, meluruh dengan tetapan peluruhan 1,
menjadi inti anak. Misalkan N2 adalah jumlah inti anak yang meluruh dengan tetapan
peluruhan 2 menjadi inti yang stabil dengan jumlah N3. Misalkan pada t = 0, N1 = N10,
N2 = N20 = 0, dan N3 = N30 = 0. Aktivitas setiap unsur adalah
dN 1
 1 N 1 (10)
dt
dN 2
 1 N 1   2 N 2 (11)
dt
dN 2 (12)
 2 N 2
dt

Integrasi dari persamaan pertama menghasilkan


dN 1
 1 N 1
dt

N 1  N 1 0 e 1t (13)

Radioaktivitas | 16
Jika disubsitusikan ke persamaan berikutnya akan menghasilkan
dN 2
 1 N 1   2 N 2 1
dt , Substitusi nilai N

dN 2 t
 1 N10 e  1  2 N 2
dt
dN 2 t
 2 N 2  1 N10 e  1 (14)
dt

Kalikan kedua ruas suku dengan menghasilkan

dN 2 1t
e 2 t   2 N 2 e 2t  1 N 1 0 e  e 2t
dt
atau
d
dt
 
N 2 e 2t  1 N 1 0 e ( 2  1 ) t (15)

Integrasi dari persamaan di atas menghasilkan

 d (N 2 e 2t )   1 N 10 e ( 2t  1t ) dt

1
N 2 e 2t  N1 e ( 2 1 ) t  C (16)
2  1 0

Dimana C adalah tetapan integrasi yang dapat diperoleh dengan mengambil nilai pada t =
0
sehingga
1
C N1
 2  1 0
Dengan memasukkan nilai C diperoleh
1
N2  N 1 0  e  1t  e  2 t  (17)
 2  1
Secara sama juga diperoleh
 1 2 
N 3  N 1 0 1  e  2 t  e  1t  (18)
  2  1  2  1 
Kedua persamaan di atas menyatakan jumlah setiap inti pada waktu t.
Persamaan ini diturunkan untuk keadaan khusus dimana N 1 = N10, dan N20 = N30 = 0
pada t = 0.
Jika pada N20 dan N30 tidak nol pada t = 0 maka persamaan nntuk N1,N2 dan N3 adalah

Radioaktivitas | 17
N1  N1 0 e  1t (19a)

1
N2  N 1 0  e  1t e  2t   N 20 e  2t (19b)
 2  1

 1 2 
 
N 3  N 30  N 20 1  e  2t  N 1 0 1  e  2t  e 1t  (19c)
  2  1  2  1 

Persamaan umum untuk peluruhan berturutan adalah


dN 1
 1 N 1
dt
dN 2
 1 N 1   2 N 2 (20)
dt
dN 3
  2 N 2  3 N 3
dt
dN n
  n 1 N n 1   n N n
dt

c. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Kesetimbangan Radioaktif


Jawab :
Aplikasi dari Hukum Peluruhan Radioaktif Berturutan berikut ini membahas dua kasus
yang penting : (1) 12 dan (2) 1<<2. Untuk kasus (1) menghasilkan kesetimbangan
sementara dan kasus (2) menghasilkan kesetimbangan permanen

1. Kesetimbangan Sementara (Transient)


Misalkan inti induk meluruh dengan tetapan peluruhan 1 dan inti anak meluruh dengan
tetapan peluruhan 2. Usia hidup rata-rata 12 ,karena itu 12. Kita akan melihat
bahwa jumlah atom inti anak mencapai suatu harga maksimum dan mulai berkurang
dengan laju peluruhan pada usia hidup yang lebih lama.

Dari persamaan

1
N2  N 1  e  1t  e  2 t  (21)
 2  1 0

Dapat diperoleh waktu tm yaitu waktu mencapai nilai maksimum. Diferensiasi


persamaan di atas terhadap waktu dengan memberikan nilai nol menghasilkan

Radioaktivitas | 18
1
dN 2
dt
0
2  1

N10  1e 1t  2 e 2t 

atau

1 
tm  ln 2 (22)
2  1 1

Sesudah waktu tm laju peluruhan inti anak, dN2/dt akan ditentukan oleh 1 atau 2 yang
mana yang lebih kecil.
(i) Jika 1<2, ini berarti usia hidup inti induk lebih lama dari inti anak. Implikasinya
adalah suku e-2t lebih cepat mencapai nol dari pada suku e -1t, karena itu dapat diabaikan.
Jadi

1
N2 
 2  1
 N 10 e 1t 

1
N2   N1  (23)
 2  1

Atau

N2 1
 (24)
N 1  2  1

Persamaan di atas menunjukkan bahwa inti anak meluruh dengan tetapan peluruhan inti
induk dan ratio N2/N1 konstan. Dalam kasus ini dikatakan bahwa inti induk dan inti anak
berada dalam keadaan kesetimbangan sementara.
Sementara ratio aktivitas inti anak terhadap inti induk adalah

dN 2 / dt  2 N 2 2
  (25)
dN1 / dt 1 N1  2  1

(ii) Jika 2<1 dapat diperlihatkan bahwa

1
N2 
 2  1
 N 1 0 e  2t  (26)

Radioaktivitas | 19
Yang menunjukkan sesudah mencapai waktu tertentu inti anak akan meluruh dengan
tetapan peluruhannya sendiri dan inti induk akan habis.

2. Kesetimbangan Permanen (Secular)


Jika usia hidup dari inti induk amat panjang dibandikan dengan inti anak atau
1<<2, Untuk kasus ini


N 2   1 /   2  1   N 10 e  1t  e   2t  (27)

Direduksi menjadi

1
N2  N 10 1  e  2 t  (28)
2

Sebab 2-1 = 2 dan e-1t  1.

Jika t sangat besar dibandingkan dengan usia hidup inti anak , t >> 1/2, dan e-2t dapat
diabaikan terhadap 1, maka persamaan dapat direduksi menjadi

1
N2  N 10 (29)
2

Ini menujukkan jumlah inti anak N2 konstan. Dikatakan inti anak berada dalam
kesetimbangan permanen terhadap inti induk. Karena usia paroh inti induk sangat besar
jumlahnya hamper konstan, N10 = N1, dan karena itu

1
N2  N1
2

Dengan demikian syarat untuk kesetimbangan permanen adalah

1 N 1  2 N 2 (30)

Atau

N 1 / N 2   2 / 1   1 /  2 (31)

Atau jumlah dari kedua elemen pada suatu waktu berbanding terbalik dengan tetapan
peluruhan atau berbanding langsung dengan usia hidup rata-rata.
Untuk kasus banyak peluruhan berturutan dimana inti induk memiliki waktu paroh
lebih besar dari inti hasil, memiliki syarat

Radioaktivitas | 20
1 N 1   2 N 2  3 N 3  .....   n N n (32)

Atau

N 1 /  1  N 2 /  2  N 3 /  3  .....  N n /  n (33)

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik pertanyaan-pertanyaan pada pembahasan adalah :
1. Radioaktif merupakan peristiwa perubahan inti atom suatu nuklida (tidak stabil)
menjadi inti atom nuklida yang lain (stabil) yang berlangsung secara spontan
disertai dengan pemancaran sinar radioaktif. Ada 3 jenis Radioaktif diantarnya
sinar alpha, sinar beta dan sinar gamma
2. Peluruhan adalah proses perubahan atau transformasi inti atom tidak stabil
menjadi lebih stabil.
3. Kestabilan inti dapat dilihat dari beberapa faktor, yakninya :
 Angka banding jumlah neutron terhadap jumlah proton (n/p)
 Hukum genap ganjil
 Energi ikat pernukleon
 Magic Number
4. Deret Radioaktif Alamiah diturunkan dari fakta bahwa peluruhan alpha mereduksi
nomor massa sebuah inti dengan 4. Jadi nuklida yang nomor massanya memnuhi
A= 4n. Sehinga menghasilkan nama deretan diantaranya Thorium dengan nomor
massa 4n dan nomor induk 90Th232, Neptunium dengan nomor massa 4n+1 nomor
induk 93Np237, Uranium dengan nomor massa 4n+2 nomor induk 92U238, Aktinium
dengan nomor massa 4n+3 nomor induk 92U235
5. Dalam radioaktif dikenal dengan adanya Hukum Peluruhan Radioaktif dan
Hukum Peluruhan Berurutan. Dengan Hukum Peluruhan Radioaktif akan dapat
menentukan usia paroh dan usia hidup rata-rata. Sedangkan Hukum Peluruhan

Radioaktivitas | 21
Berurutan merupakan peluruhan suatu inti induk menjadi inti anak, dan inti anak
menjadi inti cucu dst.
6. Kesetimbangan Radioaktif terbagi atas 2 yaitu kesetimbangan sementara
(Transient) dan Kesetimbangan Permanen (Secular).
B. Saran
Diharapkan dari makalah ini dapat menambah pengetahuan pembaca tentang
“Radioaktivitas” dan dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan
untuk itu dimohonkan saran serta tambahan guna perbaikan untuk kedepannya

DAFTAR PUSTAKA

Dwijananti, Pratiwi.2012.Diktat Mata Kuliah Fisika Inti.Semarang :UNNES.


Fachruddin, Imam. Mengenal Fisika Nuklir.Departemen Fisika, Universitas Indonesia
(http: // staff.fisika.ui.ac.id/imamf/) diakses pada tangal 22 februari 2018
Hidayati, Mahrizal.Pendahuluan Fisika Inti. Padang : UNP Press.
Sulistyani. Energi kestabilan Inti (pdf). (sulistyani@uny.ac.id). Diakses pada tanggal 22
februari 2018
https://amaldoft.wordpress.com/2015/10/24/kestabilan-inti-radioaktif/ Diakses pada
tangal 25 februari

Radioaktivitas | 22