Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kewirausahaan (entrepreneurship) merupakan persoalan penting di dalam perekonomian
suatu bangsa yang sedang membangun. Kemajuan atau kemunduran ekonomi suatu bangsa
sangat ditentukan oleh keberadaan dan peranan dari kelompok wirausahawan ini (Rachbini,
2002:xiv).
Menurut pendapat lain kewirausahaan merupakan salah satu isu penting saat ini
karena relevansinya terhadap perekonomian dan kontribusinya terhadap peningkatan
kesejahteraan (Mason, 2011). Oleh karena itu, isu -isu tentang kewirausahaan dan
dampaknya terhadap lingkungan dan perekonomian masyarakat sangat menarik. Terkait ini,
dalam tulisan ini akan membahas: pengertian kewirausahaan, arti penting kewirausahaan,
jenis-jenis kewirausahaan, pergeseran paradigm dari job seekers ke job creators, dan proses
terciptanya wirausaha.

B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Kewirausahaan ?
2. Apa Arti Penting Kewirausahaan ?
3. Apa Saja Jenis-jenis Wirausaha ?
4. Bagaimana Pergeseran Paradigma dari job seekers ke job creators ?
5. Bagaimana Proses Terciptanya Wirausaha ?

C. Manfaat Penulisan
1. Untuk Mengatahui Pengertian Kewirausahaan.
2. Untuk Mengetahui Arti Penting Kewirausahaan.
3. Untuk Mengetahui Jenis-jenis Wirausaha.
4. Untuk Mengetahui Bagaimana Pergeseran Paradigma dari job seekers ke job creator.
5. Untuk Mengetahui Bagaimana Proses Terciptanya Wirausaha.
2

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Kewirausahaan

Menurut pendapat para ahli kewirausahaan adalah kegiatan kewirausahaan mencakup


indentfikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi (Penrose, 1963). Sedangkan
menurut Harvey Leibenstein (1968, 1979) kewirausahaan mencakup kegiatan yang
dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar
belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi
produksinya belum diketahui sepenuhnya. Dan menurut Peter Drucker, kewirausahaan
adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Orang yang
melakukan kegiatan kewirausahaan disebut wirausahawan.

Dalam buku Entrepreneurial Finance oleh J.Leach Ronald Melicher bahwa


kewirausahaan adalah sebuah proses dalam merubah ide menjadi kesempatan komersil dan
menciptakan nilai (harga) "Process of changing ideas into commercial opportunities and
creating value".

Adapun pengertian kewirausahaan dari berbagai pakar yang lain yaitu; Pengertian
kewirausahaan menurut Ahmad Sanusi (1994) kewirausahaan adalah suatu nilai yang
diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat,
kiat, proses, dan hasil bisnis . Pengertian kewirausahaan menurut bapak Soeharto Prawiro
(1997) adalah suatu nilai yang dibutuhkan untuk memulai usaha dan mengembangkan
usaha. Pengertian kewirausahaan menurut Zimmerer (1996) adalah suatu proses penerapan
kreativitas dan keinovasian dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk
memperbaiki kehidupan usaha. Pengertian kewirausahaan menurut Siswanto Sudomo
(1989) Kewirausahaan atau entrepreneurship adalah segala sesuatu yang penting mengenai
seorang wirausaha, yakni orang yang memiliki sifat bekerja keras dan berkorban,
memusatkan segala daya dan berani mengambil risiko untuk mewujudkan gagasannya.
3

Jadi dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan adalah proses mengidentifikasi,


mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide
inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses
tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau
ketidakpastian.

B. Arti Penting Kewirausahaan

Di dalam keragaman definisi mengenai kewirausahaan, pada hakikatnya terkandung


suatu gagasan yang sama dan cenderung semakin diakui oleh berbagai pihak, terutama
yang berkenaan dengan: penciptaan (creating), kebaruan (newness), dan pengambilan
risiko (risk taking). Sehubungan dengan hal itu, kewirausahaan nampak semakin diakui
sebagai suatu penggerak pertumbuhan ekonomi, inovasi, peningkatan produktivitas, dan
lapangan pekerjaan, serta telah diterima secara luas sebagai aspek penting dalam dinamika
perekonomian, yang mencakup: lahir dan matinya suatu perusahaan, serta pertumbuhan
dan perampingannya (downsizing). Dengan adanya perusahaan yang masuk dan keluar
industri, hal ini menunjukkan bahwa para pendatang baru (new entrants) akan lebih efisien
dibanding perusahaan yang digantikannya (exit).
Perusahaan yang tidak tergeser ke luar arena industri, akan dituntut untuk berinovasi
dan lebih produktif agar mampu bersaing dan bahkan bertahan hidup. Banyak penelitian
telah memberikan d ukungan empiris pada proses “creative destruction” ini, yaitu konsep
yang pertamakali dikemukakan oleh Schumpeter. Dengan terdapatnya perusahaan yang
mampu bertahan dalam industrinya, karena mampu berinovasi dan lebih produktif,
ditambah dengan masuknya be berapa perusahaan baru ke dalam industri dengan kapasitas
yang lebih besar, maka telah mampu menciptakan tingkat produktivitas yang jauh lebih
tinggi, dan secara langsung atau tidak, telah mampu memberikan kontribusi yang
signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Gagasan bahwa kewirausahaan dan pertumbuhan ekonomi sangat berkaitan erat secara
signifikan tidak diragukan lagi telah berhasil sejak awal penelitian yang dilakukan oleh
Schumpeter (Aghion and Howitt’s, 1998). Suatu peningkatan dalam jumlah wirausaha
umumnya mengarah pada suatu peningkatan dalam pertumbuhan ekonomi. Pengaruh ini
sebagai uatu hasil nyata dari peningkatan keterampilan mereka, dan lebih tepatnya lagi,
4

kecenderungan mereka untuk berinovasi (propensity to innovate). Schumpeter (1963) telah


menggambarkan aktivitas inovatif ini, yaitu melaksanakan berbagai kombinasi baru
dengan membedakan lima hal. Pertama, memperkenalkan suatu produk baru, yaitu produk
yang belum dikenal konsumen, atau suatu produkdengan kualitas baru. Kedua,
memperkenalkan suatu metode operasi baru, yaitu metode yang belum teruji secara
empiris. Ketiga, membuka pasar baru, yaitu pasar yang belum dimasuki perusahan atau
cabang suatu perusahaan tersebut. Keempat, merebut sumber pasokan baru berupa bahan
baku atau barang setengah jadi, terlepas apakah pasokan baru ini sudah ada atau harus
dibuat terlebih dahulu. Kelima, melahirkan perusahaan baru dalam suatu industri, seperti
menciptakan suatu posisi atau penghentian posisi monopoli melalui trustification
(Schumpeter, 1963). Melalui aktivitas inovatifnya, para wirausaha versi Schumpeterian
berupaya menciptakan peluang baru untuk memperoleh keuntungan. Peluang-peluang
baru ini dapat dihasilkan melalui peningkatan produktivitas, sehingga kaitan antara
produktivitas dengan pertumbuhan ekonomi akan nampak dengan jelas.
Pertumbuhan ekonomi, pada umumnya akan lebih mudah dicapai dengan masih
adanya perusahaan – perusahaan lama yang mampu bertahan dalam industri karena mereka
terus mampu berinovasi, lebih produktif dan ditambah lagi dengan masuknya perusahaan
baru ke dalam industri yang memiliki kapasitas baru. Secara sederhana nampak disini
bahwa pertumbuhan ekonomi dapat dicapai dikarenakan para wirausaha mampu
menciptakan perusahaan baru, yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan
tingkat persaingan, dan produktivitas melalui perubahan teknologi. Dengan demikian,
pengukuran kewirausahaan melalui cara ini secara langsung dapat menggambarkan tingkat
pertumbuhan ekonomi yang tinggi meskipun secara kenyataannya tidak mudah (Varga dan
Zoltan Acs, 2006). Global Entrepreneurship Monitor (GEM), mengungkapkan bahwa
terdapat perbedaan yang nyata diantara necessity entrepreneurship dan opportunity
entrepreneurship dalam memberikan dampak pada kemajuan dan/ atau pertumbuhan
ekonomi di suatu wilayah atau negara.
Necessity entrepreneurship adalah suatu proses yang dilalui seseorang untuk menjadi
wirausaha karena tidak memiliki pilihan lain. Sedangkan opportunity entrepreneurship
adalah suatu pilihan untuk memulai suatu usaha dengan dilandasi oleh suatu persepsi
tentang adanya peluang usaha yang belum atau kurang tergali. Pengkajian data yang
5

dikumpulkan oleh GEM di 11 negara terungkap suatu informasi bahwa dampak dari
keberadaan kedua jenis kewirausahaan tersebut sangat berbeda terhadap pertumbuhan
ekonomi di negara - negara tersebut. Mereka menyimpulkan bahwa necessity
entrepreneurship tidak memiliki dampak pada pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya,
opportunity entrepreneurship memiliki dampak yang positif dan siginifikan terhadap
pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian, dalam mengukur kontribusi kewirausahaan
terhadap pertumbuhan ekonomi suatu wilayah atau negara tidak dapat dilihat secara
agregat tanpa memperhatikan terlebih dahulu kedua jenis kewirausahaan yang ditelaah.
Pengamat lain berpendapat bahwa di dalam mengukur kontribusi kewirausahaan
terhadap pertumbuhan ekonomi suatu wilayah atau negara, perlu terlebih dahulu menelaah
dan mengkaji secara seksama mengenai definisi kewirausahaan yang dipergunakan. Dalam
hubungan ini, Carree dan Thurik (2002) berpendapat bahwa kewirausahaan adalah suatu
hal yang berkenaan dengan aktivitas perorangan, dan tidak halnya konsep pertumbuhan
ekonomi yang secara relevan melihat pada tingkat perusahaan, wilayah, industri dan
bangsa. Dengan demikian, mengkaitkan kewirausahaan dengan pertumbuhan ekonomi
berarti mengkaitkan tingkat perorangan dengan tingkat agregat. Sehubungan dengan
keterkaitan antara kewirausahaan dan ekonomi, Audretsch (2002) berpendapat bahwa
peran kewirausahaan di dalam suatu masyarakat berubah secara signifikan sejak setengah
abad yang lalu. Selama era pasca Perang Dunia ke-2, pentingnya peran kewirausahaan dan
ekonomi khususnya bisnis nampak menjadi kabur. Walaupun tanda – tanda sudah terlihat
pada saat itu, bahwa UKM perlu dipertahankan dan bahkan dilindungi untuk alasan sosial
maupun politis, namun hanya sedikit yang Rangkaian Kolom Kluster II, 2012 berlandaskan
pada efisiensi ekonomi. Pandangan ini secara signifikan berbalik pada tahun - tahun
terakhir ini dimana kewirausahaan telah menjadi motor pembangunan ekonomi dan sosial
di seantero dunia, dan hal ini berlaku baik pada sistem ekonomi tradisional maupun
modern.
Dari uraian di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan, bahwa kontribusi kewirausahaan
terhadap pertumbuhan ekonomi dalam suatu negara atau wilayah pada dasarnya tidaklah
mudah diukur. Karena secara statistik kurang didukung oleh adanya data yang akurat.
Kewirausahaan cenderung bersifat perorangan, padahal pengukuran pertumbuhan ekonomi
bersifat agregat. Demikian pula, pengukuranperan kewirausahaan pada perusahaan
6

berskala besar tidaklah mudah, karena konsep kewirausahaan telah Rangkaian Kolom
Kluster II, 2012 terakomodasi dalam kegiatan penelitian dan pengembangan (Research &
Development) sehingga sulit untuk ditelusuri perilaku kreatif, inovatif, dan risk taking
secara orang perorangan.

C. Jenis-jenis Wirausaha
Berikut ini adalah jenis-jenis wirausaha:
1. Pertanian, Pertanian merupakan salah satu basis ekonomi kerakyatan yang dapat
mendukung perekonomian suatu bangsa. Pertanian pula yang menjadi penentu
ketahanan, bahkan kedaulatan pangan. Pertanian termasuk usaha yang sangat
menguntungkan dan memiliki prospek cerah di masa mendatang karena produk
pertanian selalu dibutuhkan banyak orang.Wirausaha jenis ini meliputi usaha
pertanian, kehutanan, perikanan, dan agrobisnis.
2. Pertambangan, Pertambangan pada dasarnya adalah usaha pemanfaatan sumber daya
alam berupa barang-barang galian yang terkandung di dalam dan dipermukaan
bumi.Wirausaha jenis ini meliputi usaha seperti galian pasir, tanah, batu, dan batu
bata.
3. Pabrikasi, Pabrikasi adalah pembuatan barang dengan standar tertentu secara besar-
besaran (dalam pabrik). Wirausaha jenis meliputi usaha industri perakitan dan
sintesis.
4. Konstruksi, Konstruksi merupakan suatu kegiatan membangun sarana maupun
prasarana. Dalam sebuah bidang arsitektur atau teknik sipil, sebuah konstruksi juga
dikenal sebagai bangunan atau satuan infrastruktur pada sebuah area atau pada
beberapa area. Secara ringkas konstruksi didefinisikan sebagai objek keseluruhan
bangun(an) yang terdiri dari bagian-bagian struktur. Wirausaha jenis ini meliputi
usaha konstruksi bangunan, jembatan, pengairan, dan jalan raya.
5. Perdagangan, Perdagangan atau perniagaan adalah kegiatan tukar menukar barang
atau jasa atau keduanya yang berdasarkan kesepakatan bersama bukan pemaksaan.
Pada masa awal sebelum uang ditemukan, tukar menukar barang dinamakan barter
yaitu menukar barang dengan barang. Pada masa modern perdagangan dilakukan
dengan penukaran uang. Setiap barang dinilai dengan sejumlah uang. Pembeli akan
7

menukar barang atau jasa dengan sejumlah uang yang diinginkan penjual. Dalam
perdagangan ada orang yang membuat yang disebut produsen. Kegiatannya bernama
produksi. Jadi, produksi adalah kegiatan membuat suatu barang. Ada juga yang
disebut distribusi. Distribusi adalah kegiatan mengantar barang dari produsen ke
konsumen. Konsumen adalah orang yang membeli barang. Konsumsi adalah kegiatan
menggunakan barang dari hasil produksi. Wirausaha jenis ini meliputi usaha
perdagangan kecil (ritel), grosir, agen, membuka usaha restoran, dan perdagangan
lainnya.
6. Industri, Industri adalah bidang yang menggunakan ketrampilan, dan ketekunan kerja
(bahasa Inggris: industrious) dan penggunaan alat-alat di bidang pengolahan hasil-
hasil bumi, dan distribusinya sebagai dasarnya. Maka industri umumnya dikenal
sebagai mata rantai selanjutnya dari usaha-usaha mencukupi kebutuhan (ekonomi)
yang berhubungan dengan bumi, yaitu sesudah pertanian, perkebunan, dan
pertambangan yang berhubungan erat dengan tanah. Kedudukan industri semakin
jauh dari tanah, yang merupakan basis ekonomi, budaya, dan politik. Wirausaha jenis
ini meliputi industri tekstil, industri makanan, industri otomotif, industri kerajinan,
industri pengolahan limbah, dan lain sebagainya.
7. Jasa Keuangan, Jasa keuangan adalah suatu istilah yang digunakan untuk merujuk jasa
yang disediakan oleh industri keuangan. Jasa keuangan juga digunakan untuk merujuk
pada organisasi yang menangani pengelolaan dana. Wirausaha jenis ini meliputi usaha
perbankan, asuransi, dan koperasi.
8. Jasa Perorangan, Jasa Perorangan merupakan sesuatu yang bersifat cenderung tidak
berwujud dan biasanya dengan modal yang terbatas. Wirausaha jenis ini meliputi
usaha pangkas rambut, salon, penatu, percetakan, fotokopi, dan sablon.
9. Jasa pendidikan, Jasa Pendidikan merupakan sesuatu yang bersifat cenderung tidak
berwujud dari pada berwujud ( more intangible than tangible), produksi dan konsumsi
bersamaan waktu (simultananeous production and consumption), dan kurang
memiliki standar dan keseragaman (less standardized and uniform), akan tetapi dapat
memenuhi kebutuhan konsumen yang diproses dengan menggunakan atau tidak
menggunakan bantuan produk fisik dimana proses yang terjadi merupakan interaksi
antara penyedia jasa dengan pengguna jasa yang mempunyai sifat tidak
8

mengakibatkan peralihan hak atau kepemilikan. Wirausaha jenis ini meliputi


membuka lembaga pelatihan atau kursus-kursus, sekolah Taman Kanak-kanak (TK),
Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas
(SMA), atau Perguruan Tinggi (PT).
10. Jasa transportasi, Jasa Transportasi adalah teknologi yang mengantarkan manusia
pada kemudahan dan efisiensi, khususnya waktu dan tenaga, sehingga dalam konteks
jasa transportasi, teknologi ini sangat memengaruhi pola pelayanan yang ada.
Wirausaha jenis ini meliputi pengangkutan, pergudangan, dan distribusi barang.
11. Jasa pariwisata, Jasa Pariwisata adalah kegiatan yang bertujuan menyelenggarakan
dan memberikan service atau pelayanan terhadap wisatawan dan mengambil daya
tarik wisata, usaha sarana pariwisata dan usaha lain yang terkait dengan bidang
tersebut meliputi jasa biro perjalanan, pramuwisata, pengusaha objek wisata dan daya
tarik wisata, usaha sarana pendukung wisata (seperti angkutan, makanan), dan
sebagainya.

Menurut pendapat lain, adapun jenis-jenis wirausaha adalah sebagai berikut:

1. Wiraushaa Bisnis Wirausaha bisnis adalah mereka yang tekun menganalisis


kebutuhan-kebutuhan selera masyarakat terhadap barang-barang dan jasa.
2. Wirausaha uang Wirausaha uang adalah mereka yang menjalankan kegiatan
menyalurkan dan mengumpulkan dana yang bergerak dalam pasar uang dan modal.
3. Wirausaha vak Wirausaha vak adalah mereka yang memiliki keahlian khusus dalam
bidang produksi tertentu. Wirausaha ini dalam membaktikan prestasinya adalah dalam
bidang teknik, melakukan penemuan-penemuan baru, peniruan dan perbaikan kualitas
atas hasil barang produksinya.
4. Wirausaha manajer Wirausaha manajer adalah mereka yang dapat melakukan
usahanya dengan menggunakan pengetahuan bisnis modern dan memperhitungkanya
dengan cara efisien.
5. Wirausaha Social Engineer Wirausaha social engineer adalah mereka yang berusaha
mengikat para pekerja melalui karya sosialitas dan pertimbangan atas moral dan
kebenaran.
9

D. Pergeseran Paradigma dari Job Seekers ke Job Creators


Job seeker adalah pencari pekeriaan atau biasa disebut dengan pengangguran.
Tidak ada seorang pun yang ingin menjadi pengangguran, karena penangguran
dianggap sebagai orang yang tidak memiliki kemampuan untuk mencukupi hidupnya.
Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi pengangguran yaitu :
1. Terbatasnya Lapangan Pekerjaan
Jumlah lapangan pekerjaan di Indonesia yang sangat terbatas merupakan factor utama
penyebab pengangguran, hal tersebut disebabkan karena semakin bertambahnya penduduk
Indonesia namun tidak diimbangi dengan perluasan lapangan pekerjaan.

2. Kurangnya keahlian
Kealian yang dimiliki seseorang berbeda-beda, bagi seseorang yang memiliki keahlian
yang lebih menonjol dibandingkan orang lain maka akan mudah untuk mendapatkan
pekerjaan yang diinginkan, namun sebaliknya bagi mereka yang tidak memiliki keahlian
maka akan sulit untuk mencari pekerjaan.

3. Buta informasi
Seseorang menjadi penangguran juga dapat disebabkan karena kurangmya informasi
akan adanya suatu lowongan pekerjaan, biasanya hal tersebut dapat terjadi karena orang
tersebut malas mencari informasi. Padahal, informasi akan suatu lowongan pekerjaan dapat
ia peroleh melalui media cetak maupun elektronik.

4. Meningkatnya urbanisasi
Urbanisasi merupakan perpindahan penduduk dari desa ke kota. Banyak orang desa
yang menganggap bahwa merantau ke kota dapat memperbaiki kehidupannya menjadi
lebih baik tanpa memperhatikan keterampilan yang ia miliki, sehingga mereka hanya
berbekal nekat untuk hidup di kota-kota besar dan pada akhirnya akan menjadi seorang
pengangguran yang dapat membebani keluarga maupun masyarakat. Maka dari itu jika
orang desa ingin pindah ke kota harus memiliki keterampilan sebagai modal mencari kerja.

5. Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat


Pertumbuhan penduduk Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun hal tersebut
disebabkan karena masih banyak penduduk Indonesia yang mempercayai mitos bahwa
“banyak anak banyak rejeki” padahal hal tersebut sangat tidak benar justru semakin banyak
anak maka semakin banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk membiayai hidupnya.

6. Rendahnya pendidikan formal


Masih banyak masyarakat Indonesia yang meremehkan pendidikan bagi anak-
anaknya, padahal pendidikan formal adalah salah satu modal utama untuk mencari
pekerjaan. Namun rendahnya pendidikan seseorang juga dapat disebabkan karena
kurangnya kemampuan dari segi ekonomi untuk membiayai sekolah anaknya ke jenjang
yang lebih tinggi.
10

7. Terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja


Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dapat terjadi karena perusahaan yang menutup
atau mengurangi bidang usahanya akibat krisis ekonomi atau keamanan yang kurang
kondusif, peraturan yang menghambat investasi, hambatan dalam proses ekspor-impor,
dan sebagainya. Sehingga PHK ini dapat mencetuskan lebih banyak pengangguran.

Pengangguran intelektual di Indonesia cenderung terus meningkat dan semakin


mendekati titik yang mengkhawatirkan. Pengangguran intelektual ini tidak terlepas dari
persoalan dunia pendidikan yang tidak mampu menghasilkan tenaga kerja berkualitas
sesuai tuntutan pasar kerja sehingga seringkali tenaga kerja terdidik kita kalah bersaing
dengan tenaga kerja asing. Fenomena inilah yang sedang dihadapi oleh bangsa kita di mana
para tenaga kerja yang terdidik banyak yang menganggur walaupun mereka sebenarnya
menyandang gelar. Sebagian besar lulusan Perguruan Tinggi adalah lebih sebagai pencari
kerja (job seeker) daripada pencipta lapangan pekerjaan (job creator) merupakan salah satu
penyebab tingginya angka pengangguran berpendidikan tinggi. Hal ini dimungkinkan
karena sistem pembelajaran yang diterapkan di perguruan tinggi saat ini lebih terfokus pada
bagaimana menyiapkan para mahasiswa yang cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan,
bukan sebagai lulusan yang siap bekerja dengan menciptakan pekerjaan. Selain itu secara
umum aktivitas kewirausahaan (Entrepreneurial Activity) mahasiswa relatif masih rendah.
Entrepreneurial Activity diterjemahkan sebagai individu aktif dalam memulai bisnis baru
dan dinyatakan dalam persen total penduduk aktif bekerja.

Mengapa di Perguruan Tinggi perlu melakukan pengembangan jiwa kewirausahaan


kepada para mahasiswa? Hal itu terkait dengan Keengganan lulusan perguruan tinggi
memilih menjadi wirausahawan. Salah satu factor penyebabnya adalah karena terjebak
dalam mitos yang terbentuk dan berkembang dalam masyarakat kita bahwa diperlukan
modal yang besar untuk memulai suatu usaha, padahal tidak demikian adanya. Memang
benar bahwa semua usaha membutuhkan modal untuk bisa berjalan; juga benar bahwa
banyak bisnis jatuh karena tidak didukung keuangan yang memadai. Namun
ketidakmampuan manajemen, lemahnya pemahaman terhadap persoalan keuangan;
investasi yang buruk dan perencanaan yang jelek adalah sejumlah variabel yang
menentukan jatuh bangunnya sebuah usaha. Banyak wirausahawan sukses berhasil
mengatasi persoalan kekurangan uang dalam menjalankan usahanya dengan cara yang
elegan. Bahkan ada wirausahawan yang sanggup memulai usaha dengan kemungkinan
berhasil 98% (Tung Desem Waringin, 2005).

Pengembangan jiwa kewirausahaan bagi mahasiswa Perguruan Tinggi dimaksudkan


untuk memberikan bekal kepada mahasiswa agar mahasiswa/alumni memiliki pola pikir,
pola sikap dan pola tindak yang mengutamakan inovasi, kreativitas dan kemandirian.

Tujuan pembelajaran kewirausahaan di perguruan tinggi adalah bagaimana


mentransformasikan jiwa, sikap dan perilaku wirausaha dari kelompok business
entrepreneur yang dapat menjadi bahan dasar guna merambah lingkungan entrepreneur
lainnya, yakni academic, govenrment dan social entrepreneur.
11

Kesimpulan yang dapat kita tarik, seperti yang telah kita ketahui Indonesua masih
sangat minim akan orang - orang yang hendak mencari pendapatan atau menggeluti bidang
kewirausahaan ( job creator ) atau bisnis. Padahal bidang ini sangat menjanjikan keutungan
besar apabila kita mendalami dengan sungguh - sungguh.

Menjadi job creator seperti yang kita tahu harus menciptakan sesuatu yang kreatif dan
inovatif dan harus mampu menghadapi segala resiko atau peluang yang ada disekitar, selalu
berusaha untuk berprestasi, berorientasi pada laba, memiliki ketekunan dan ketabahan,
memiliki tekad yang kuat, suka bekerja keras, energik dan memiliki inisiatif.
Kewirausahaan sangat membantu pemerintah dalam mengatasi masalah pengangguran
serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. membangun semangat kewirausahaan yang
tangguh ditengah tengah masyarakat kita yang masih mengantungkan harapan yang tinggi
pada pilihan menjadi karyawan seringkali mengalami benturan. Jika kita menginginkan
system perekonomian yang kuat maka mau tidak mau kita harus berubah, dengan
mengambil pilihan sebagai seorang wirausaha(job creator).

E. Proses Terciptanya Wirausaha


Munculnya para entrepreneur baik dalam masa krisis maupun dalam masa kondisi
ekonomi sedanga membaik, telah banyak menarik perhatian para pakar untuk melakukan
berbagai penelitian. Para pakar ini tidak saja dari disiplin ilmu ekonomi, namun juga dari
disiplin ilmu psikologi, sosiologi, manajemen dan lainnya. Dalam teori ekonomi, studi
kewirausahaan ditekankan kepada identifikasi [eluang yang terdapat pada pasar serta
membahas fungsi inovasi dari entrepreneur dalam menciptakan kombinasi sumberdaya
ekonomis untuk menghasilkan suatu produk. Dalam bidang ilmu psikologi mislnya, studi
kewirausahaan lebih menekankan pada penelitian karakteristik kepribadian wirausaha,
sedangkan dalam ilmu sosiologi penelitian ditekankan pada pengaruh lingkungan sosial
budaya dalam pembentukan masyarakat wirausaha.

Beberapa teori yang berusaha menerangkan proses terbentuknya wirausaha diantaranya:

1. Teori Life Path Change yaitu tidak semua entrepreneur lahir dan berkembang
mengikuti jalur yang sistematis dan terencana dengan baik. Banyak entrepreneur lahir
tidak mengikuti proses yang direncanakan. Hal ini karena disebabkan beberapa hal:
12

a. Negative displacement

Seseorang bisa saja menjadi entrepreneur karena dia berada pada tempat yang tidak
kondusif. Misalnya saja karena tertekan, merasa terhina, mengalami kebosanan
selama bekerja, dipaksa ataupun terpaksa pindah dari daerah asal. Kondisi inilah
yang membuat seseorang terpaksa harus keluar dari kebiasaan rutin yang dia sendiri
tidak merasa nyaman dengan kondisi itu. Sementara di sisi lain upaya untuk
menjaga kelangsungan hidup diri dan keluarga harus dipertahankan. Oleh
karenanya menjadi entrepreneur dalam situasi seperti ini adalah pilihan terbaik bagi
dirinya.

b. Being between things

Ada orang yang merasa berada pada dua dunia yang berbeda (being between
things). Orang-orang yang baru keluar dari ketentaraan, orang yang baru keluar dari
penjara, sering kali mereka merasa berada pada dua dunia yang berbeda. Apapun
perasaannya, yang pasti mereka tetap harus berjuang menjaga kelangsungan
hidupnya. Dan biasanya beranjak darisinilah pilihan harus dibuat. Pilihan menjadi
entrepreneur muncul karena menjadi entrepreneur mereka dapat bekerja dengan
mengandalkan diri mereka sendiri.

c. Having positif pull

Seseorang dapat menjadi entrepreneur karena mendapat dukungan positif dari mitra
kerja, investor, pelanggan, maupun relasi lain. Dukungan positif ini akan
memudahkan mereka mengantisipasi peluang usaha. Slain itu dukungan positif
juga akan menciptakan rasa aman dari berbagai resiko yang akan dihadapi
dikemudian hari.

2. Teori Goal Direct Behavior yaitu teori ini menggambarkan bahwa seseorang menjadi
entrepreneur untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuannya tidak lain adalah memperbaiki
kelangsungan hidup dirinya dan keluarganya. Untuk mencapai tujuan tersebut, seseorang
termotivasi dan mengarahkan tingkah lakunya secara persisten untuk mencapai tujuan.
13

Diawali dengan adanya dorongan need, kemudian goal direct behavior, hingga tercapainya
tujuan. Dorongan need (kebutuhan) muncul dari berbagai macam mulai dari kebutuhan
dasar sampai kepada kebutuhan untuk berprestasi. Bisa juga dorongan need ini muncul dari
adanya defisit dan ketidakseimbangan tertentu pada diri individu yang bersangkutan
(entrepreneur).

3. Teori Pengambilan Keputusan yaitu sebelum mengambil keputusan terjun ke dalam


dunia wirausaha, seseorang terlebih dahulu melakukan pertimbangan-pertimbangan.
Pengambilan keputusan tersebut tidaklah selalu mudah, bahkan dapat menimbulkan
konflik dengan dirinya sendiri bahkan dengan orang lain.

Pengambilan keputusan adalah suatu proses berfikir dan bertindak yang bermuara pada
pemilihan perilaku tertentu sesuai dengan keputusan yang diambil. Jika seseorang
mengambil keputusan menjadi wirausaha maka dia akan menyelaraskan tindakan dengan
hasil keputusannya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan:

a. Faktor yang berasal dari situasi lingkungan keputusan itu sendiri (decision
environment). Jika seseorang cukup mengenal keadaan sekarang (initial state), tujuan-
tujuan yang akan datang yang akan dicapai (desire state) dan transformasi yang
dibutuhkan untuk mencapai keadaan yang diinginkan, maka seseorang tersebut
dihadapkan kepada lingkungan keputusan yang berstruktur baik (well structured).
Tetapi jika seseorang tidak mempunyai pemahaman konprehensif, maka dia
dihadapkan kepada lingkungan keputusan berstruktur buruk (ill structured).
b. Faktor yang berasal dari dalam diri pengambil keputusan. Ada empat atribut
psiokologis yang mempengaruhi strategi-strategi keputusan:

1. Kemampuan perceptual
2. Kemampuan informasi
3. Kecenderungan untuk mengambil resiko
4. Tingkat aspirasi.
14

5. Teori Outcome Expectacy adalah Outcome expectacy bukan suatu perilaku tetapi
keyakinan tentang konsekuensi yang diterima setelah seseorang melakukan suatu
tindakan tertentu. Dari pengertian di atas Outcome expectacy dapat diartikan
sebagai keyakinan seseorang mengenai hasil yang akan diperoleh jika ia
melaksanakan suatu perilaku tertentu, yaitu perilaku yang menunjukkan
keberhasilan. Jenis Outcome Expectacy :

a. Insentif Primer merupakan imbalan yang berhubungan dengan kebutuhan


fisiologis seperti makan, minum, dan kontak fisik lainnya.
b. Insentif Sensoris beberapa kegiatan manusia ditujukan untuk memperolah
umpan balik sensoris yang terdapat di lingkungannya.
c. Insentif Sosial manusia melakukan sesuatu untuk mendapatkan penghargaan
dan penerimaan dari lingkungan sosialnya. Penerimaan atau penolakan dari
sebuah lingkungan sosial akan lebih berfungsi secara efektif sebagai imbalan
atau hukuman dari pada reaksi yang berasal dari satu individu.
d. Insentif yang berupa token ekonomi token ekonomi adalah imbalan yang
berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi seperti upah, kenaikan
pangkat, penambahan tunjangan dan lainnya.
e. Insentif status dan pengaruh pada sebagian besar masyarakat, kedudukan
individu seringkali dikaitkan dengan status kekuasaan. Kekuasaan yang
dimiliki individu dalam lingkungan sosialnya memberikan kesmpatan
kepadanya untuk mengontrol perilaku orang lain baik melalui simbol atau
secara nyata.
f. Insentif standar internal insentif ini berasal dari tingkat kepuasan diri yang
diperoleh individu dari pekerjaannya. Insentif bukan berasal dari luar diri, tetapi
berasal dari dalam diri seseorang. Reaksi diri yang berupa rasa puas dan senang
merupakan salah satu bentuk imbalan internal yang ingin diperoleh seseorang
dari pekerjaannya
15

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
16

a. kewirausahaan adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi


ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih
baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan
usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian.
b. Arti penting kewirausahaan bagi suatu negara yaitu dapat membantu mensejahterakan
kehidupan ekonomi masyarakat, karena dengan kewirausahaan suatu Negara mampu
menciptakan lapangan pekerjaan bagi kaum pengangguran pada umumnya.
c. Jenis-jenis wirausaha adalah sebagai berikut:

1. Pertanian, Wirausaha jenis ini meliputi usaha pertanian, kehutanan, perikanan, dan
agrobisnis.
2. Pertambangan. Wirausaha jenis ini meliputi usaha seperti galian pasir, tanah, batu,
dan batu bata.
3. Pabrikasi, Wirausaha jenis meliputi usaha industri perakitan dan sintesis.
4. Konstruksi, Wirausaha jenis ini meliputi usaha konstruksi bangunan, jembatan,
pengairan, dan jalan raya.
5. Perdagangan, Wirausaha jenis ini meliputi usaha perdagangan kecil (ritel), grosir,
agen, membuka usaha restoran, dan perdagangan lainnya.
6. Industri, Wirausaha jenis ini meliputi industri tekstil, industri makanan, industri
otomotif, industri kerajinan, industri pengolahan limbah, dan lain sebagainya.
7. Jasa Keuangan, Wirausaha jenis ini meliputi usaha perbankan, asuransi, dan
koperasi.
8. Jasa Perorangan,Wirausaha jenis ini meliputi usaha pangkas rambut, salon, penatu,
percetakan, fotokopi, dan sablon.
9. Jasa pendidikan, Wirausaha jenis ini meliputi membuka lembaga pelatihan atau
kursus-kursus, sekolah Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah
Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), atau Perguruan
Tinggi (PT).
10. Jasa transportasi, Wirausaha jenis ini meliputi pengangkutan, pergudangan, dan
distribusi barang.
11. Jasa pariwisata
17

12. Menurut pendapat lain, adapun jenis-jenis wirausaha adalah sebagai berikut