Anda di halaman 1dari 5

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


IV.2 Pembahasan
Kosmetik menurut Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan RI
(2008) adalah setiap bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan
pada bagian luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ
genital bagian luar) atau gigi dan mukosa mulut terutama untuk
membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan diri atau memperbaiki
bau badan atau melindungi dan memelihara tubuh pada kondisi baik.
Merkuri atau hydrargyrum ( Latin : Hydrargyrum, air /cairan perak)
adalah unsur kimia atau unsur logam transisi berwarna keperakan dan
merupakan satu dari lima unsur (bersama cesium, gallium, fransium, dan
brom) yang berbentuk cair dalam suhu kamar, serta mudah menguap ,
merkuri akan memadat pada tekanan 7.460 Atm (Palar, 1994)
Pada praktikum kali ini kami melakukan percobaan identifikasi
kandungan Hg (merkuri) dalam sediaan kosmetik dengan tujuan untuk
mengetahui ada atau tidaknya mercury yang terkandung di dalam sediaan
kosmetik yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan tubuh. Pada
percobaan ini kami menggunakan sampel Deonard dan Dr. Pure. Dalam
melakukan identifikasi ini kami menggunakan 2 larutan uji yaitu dengan
larutan uji kalium iodida dan NaOH.
Langkah pertama yaitu menyiapkan alat dan bahan yang digunakan
kemudian dibersihkan alat dengan alkohol 70%. Digunakannya alkohol 70 %
sebab alkohol 70 % mempunyai aktivitas atau kegunaan selain sebagai
antiseptik juga mempunyai kegunaan sebagai desinfektan, seperti yang
diketahui desinfektan merupakan bahan kimia yang digunakan untuk
mencegah terjadinya infeksi dengan membunuh jasad renik (bakterisid),
terutama pada benda mati (Shaffer, 1965; Larson, 2013).
Selanjutnya dilakukan pembuatan larutan kalium iodida. Menurut
Mulyono (2006) Kalium iodida digunakan untuk mengidentifikasi kandungan
berbahaya yang ditandai dengan terjadinya perubahan warna.Langkah awal
diambil sebanyak 0,4 gram larutan KI kemudian ditambahkan auadest
sebanyak 5 ml serta dikocok hingga homogen. Alasan penambahan aquadest
adalah karena memiliki kemampuan yang baik sebagai pelarut dan bersifat
universal (Voight, 1995). Setelah pembuatan laritan KI dilanjutkan dengan
pembuatan NaOH. Pertama NaOH ditimbang sebanyak 0,4 gram kemudian
tambahkan aquadest sebanyak 5 mL kemudian diaduk hingga homogen.
Langkah selanjutnya adalah pembuatan aqua regia. HCl pekat diambil
sebanyak 12 ml, kemudian dimasukkan ke dalam gelas ukur. Tambahkan
dengan HNO3 pekat sebanyak 4 ml dalam perbandingan 3:1. Kemudian aduk
hingga homogen. Menurut Alfian (2006), tujuan pembuatan larutan aqua
regia adalah karena larutan tersebut dapat melarutkan raksa, timbal, emas, dan
platina serta logam – logam yang paling mulia menurut deret volta. Setelah
itu dibuat larutan standar Hg. Reaksi yang terjadi jika volume HCl pekat
dicampur dengan volume HNO3 pekat adalah : 3HCL(aq) + HNO3(aq) →
Cl2(g) + NOCl(g) + 2H2O(I). Gas klor (Cl2) dan gas nitrosil klorida (NOCl)
inilah yang mengubah logam menjadi senyawa logam klorida dan selanjutnya
diubah menjadi senyawa logam klorida dan selanjutnya diubah lagi menjadi
kompleks anion yang stabil yang selanjutnya bereaksi lebih lanjut dengan Cl -
(Susila, 2007).
Adapun reaksi yang terjadi pada aqua regia dengan adanya HNO3 akan
membentuk reaksi dengan Hg. Menurut Jamaluddin (2016) reaksi yang
terjadi antar logam merkuri dengan HNO3 pekat adalah : 6Hg + 8HNO3 →
3Hg22+ + 2NO → +6NO3+ + 4H2O.
Setelah semua larutan pereaksi dibuat, kemudian dibuat larutan uji.
Yang pertama dilakukan ditimbang sebanyak 2 gr sampel dari masing-masing
krim yang digunakan yaitu dr. pure dan deonard kemudian dimasukkan ke
dalam gelas kimia yang berbeda. Kemudian ditambahkan air sebanyak 25 ml
pada masing-masing sampel tersebut. Selanjutnya tambahkan 10 ml larutan
aqua regia, dan diuapkan hingga hampir kering. Aqua regia mempunyai
fungsi untuk melarutkan garam-garam yang sukar larut (Claudia, 2011).
Langkah selanjutnya dipanaskan air pada hot plate untuk menguapkan kedua
sampel yang ada. Dilakukan penguapan dengan tujuan untuk menguraikan
atom-atom yang ada pada sampel kedua krim yang akan di uji. Pada
penguapan tidak bisa terlalu sampai kering karena akan membuat kedua krim
yang akan di uji akan kehilangan senyawa-senyawa yang akan di uji oleh
berbagai reaksi (ATSDR, 1999).
Setelah itu, dilakukan pengujian sampel dengan reaksi warna. Yang
pertama dengan larutan KI. Diambil 5 ml larutan uji kemudian ditambahkan
1-2 tetes larutan kalium iodida secara perlahan melalui dinding tabung pada
masing-masing sampel krim deonard dan dr. pure. Kemudian dikocok tabung
reaksi tersebut untuk dilihat perubahan warna yang terjadi. Jika sampel yang
di uji positif mengandung merkuri maka akan terbetuk endapan merah atau
jingga pada tabung reaksi. Hasil yang kami dapati pada krim Deonard setelah
ditetesi dengan pereaksi arna kalium iodida tidak mengalami perubahan
warna yang menunjukkan jika krim deonard tidak mengandung merkuri.
Namun hasil yang berbeda didapatkan ketika krim Dr. Pure ditetesi dengan
kalium iodida yang menunjukkan bahwa krim tersebut positif/mengandung
merkuri dengan terbentuknya endapan merah (Svehla, 1990). Reaksi yang
terjadi ketika Kalium Iodida (KI) dengan Merkuri (Hg) adalah : Hg2+ (aq) +
2KI (aq) → HgI2 (s) + 2K(aq) (Oxtoby, 2001)
Uji pereaksi warna lainnya yakni dengan menggunakan larutan
NaOH. Diambil 5 ml larutan uji kemudian ditambahkan 1-2 tetes larutan
kalium NaOH secara perlahan melalui dinding tabung pada masing-masing
sampel krim deonard dan dr. pure. Kemudian dikocok tabung reaksi tersebut
untuk dilihat perubahan warna yang terjadi. Jika sampel yang di uji positif
mengandung merkuri maka akan terbetuk endapan kuning. Hasil yang
didapatkan pada krim Deonard dan krim Dr. Pure setelah ditetesi dengan
kalium iodida adalah tidak terjadi perubahan warna kuning, hal ini
menunjukkan bahwa krim Deonard dan krim Dr. Pure negatif / dinyatakan
tidak mengandung merkuri (Svehla, 1990). Reaksi yang terjadi ketika
Natrium Hidroksida (NaOH) dengan Merkuri (Hg) adalah : Hg (aq) +
NaOH (aq) → karena Hg ketika direaksikan dengan larutan NaOH maka akan
membentuk endapan merah karena Hg bersifat membentuk endapan ketika
direaksikan semenntara NaOH akan meghasilkan warna kuning jika sampel
tersebut menganduung merkuri (Oxtoby, 2001)

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. 2008. Informatorium Obat Nasional
Indonesia. Jakarta

Palar, Heryando. 1994. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Jakarta :


Rineka Cipta

Shaffer, J.G. (1965). The Role of Laboratory in Infection Control in the Hospital.
Arbor: University of Michigan, School of Pulbic health

Larson, E. (2013). Monitoring Hand Hygiene, American Journal of Infection

Control. 41(2): 43-45.

Mulyono.2006. Membuat Reagen Kimia di Laboratorium. Jakarta: Bumi Aksara

Svehla, G, 1990, Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro,
Edisi ke-5. PT Kalman Media Pustaka. Jakarta

Agency for Toxic Substances and Disease Registry. 1999. Toxycological Profile
for Mercury. U.S. Department of Health and Human Services

Voight. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta : Gadjah Mada


University Press
Alfian. 2006. Merkuri : Antara Manfaat dan Efek Penggunaannya Bagi Kesehatan
Manusia dan Lingkungan. Medan : USU E Repository
Claudia PP, Myriam dkk. 2011. Mercury Levels in Locally Manufactured
Mexican Skin Lightening Creams. International Journal of Enviromental
Research and Public Health Vol. 8
Oxtoby. 2001. Kimia Modern. Erlangga : Jakarta
Susla, Kristianigrum. 2007. Modifikasi Metode Analisis Spesiasi Merkuri dalam
Lingkungan Perairan. Kimia Fmipa UNTAN
Jamaludin. 2016. Analisis Kualitatif Merkuri. JOM FMIPA