Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah tentang Maraknya Penyakit Kwashiokor Akibat Kekurangan Protein ini
dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima
kasih pada Bapak Yana Cahyana ,S.TP., DEA., Ph.D., Ibu Elazmanawati
Lembong,STP., M.Si., dan Ibu Dian Kurniati selaku Dosen mata kuliah Kimia
Pangan Universitas Padjadjaran yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai penyakit kwashiokor. Kami juga
menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh
dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan
demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya dan dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata
yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun
demi perbaikan di masa depan.

Jatinangor, November 2016

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1

1.2 Tujuan ....................................................................................................... 2

1.3 Rumusan Masalah .................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 3

2.1 Protein ...................................................................................................... 3

2.2 Gizi Buruk ................................................................................................ 5

2.2.1 Penyebab Gizi Buruk ........................................................................ 6

BAB III PEMBAHASAN ....................................................................................... 8

3.1 Kwasiorkor ............................................................................................... 8

3.2 Pengobatan dan Terapi Kwashiorkor : ..................................................... 9

3.3 Marasmus ............................................................................................... 10

BAB IV PENUTUP .............................................................................................. 13

4.1 Kesimpulan ............................................................................................. 13

4.2 Saran ....................................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 14

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Protein merupakan salah satu makromolekul yang sangat penting dalam
kehidupanini terutama untuk pertumbuhan. Protein dalam tubuh akan mengalami
proses metabolisme sehingga dari proses metabolisme inilah protein dapat
dimanfaatkan dalam tubuh. Tubuh dapat memperoleh protein dari berbagai
sumber makanan seperti ikan,telur, kacang- kacangan, susu dan lain sebagainya.
Makan makanan bergizi termasuk protein sangat dianjurkan agar kebutuhan gizi
dalam tubuh terpenuhi.
Masalah gizi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di
Indonesia. Kekurangan gizi lebih (obesitas) dan gizi kurang mulai meningkat
khususnya pada kelompok sosial ekonomi menengah ke atas, sedangkan pada gizi
kurang pada sosial ekonomi menengah ke bawah. Saat ini Indonesia tengah
menghadapi masalah gizi ganda. Hal ini sangat merisaukan karena mengancam
kualitas sumber daya manusia yang sangat diperlukan dimasa mendatang.
Salah satu masalah gizi yang banyak terjadi di Indonesia adalah malnutrisi.
Malnutrisi adalah suatu keadaan di mana tubuh mengalami gangguandalam
penggunaan zat gizi untuk pertumbuhan, perkembangan dan aktivitas. Malnutrisi
dapat disebabkan oleh kurangnya asupan makanan maupun adanya gangguan
terhadap absorbsi, pencernaan, dan penggunaan zat gizi dalam tubuh. Selain itu,
malnutrisi dapat disebabkan apabila asupan kalori yang berlebih dari kebutuhan
harian, dan mengakibatkan penyimpangan energi dalam bentuk bertambahnya
jaringan adiposa.
Setidaknya ada 4 faktor yang melatarbelakangi malnutrisi di Indonesia,
yaitu: masalah sosial ekonomi, biologi, dan lingkungan. Kemiskinan, salah satu
determinan sosial ekonomi, merupakan akar dari ketiadaan pangan, tempat mukim
yang berjejalan, kumuh dan tidak sehat serta ketidakmampuan mengakses fasilitas
kesehatan. Ketidaktahuan, baik yang diri sendiri maupun yang berkaitan dengan
kemiskinan, menimbulkan salah faham tentang cara merawat bayi dan anak yang
benar, juga salah mengerti mengenai penggunaan bahan pangan tertentu dan cara

1
member makan anggota keluarga yang sedang sakit. Selain itu, hal lain yang
membuat malnutrisi semakin meningkat di kalangan bayi adalah penurunan minat
ibu untu memberi ASI kepada bayinya.
Masalah nutrisi yang terjadi pada anak antara lain malnutrisi kurang energi
protein (kwashiorkor). Banyaknya kasus mengenai masalah kwashiorkor di
Indonesia maka untuk lebih jelasnya dalam makalah ini akan membahas mengenai
masalah kwarshiorkor.

1.2 Tujuan
Tujuan dalam penjelasan makalah ini antara lain sebagai berikut:
 Mengetahui apa yang dimaksud dengan kwashiorkor
 Mengetahui apa penyebab kwashiorkor
 Mengetahui bagaimana gejala kwashiorkor
 Mengetahui bagaimana cara pencegahan dan pengobatan kwashiorkor

1.3 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang akan kami bahas dalam makalah ini adalah
sebagai berikut:
 Apa yang dimaksud dengan kwashiorkor ?
 Apa yang menyebabkan kwashiorkor?
 Bagaimana cara mendiagnosa kwashiorkor?
 Bagaimana cara menanggulangi kwashiorkor?

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Protein
Protein merupakan zat yang sangat penting dibutuhkan oleh manusia
karena protein bukan hanya sekedar bahan struktural seperti lemak dan
karbohidrat. Protein adalah senyawa organik komplek berbobot molekuk besar
yang terdiri dari asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan
peptida. Molekul protein mengandung N (15,30-18%), C (52,40%), H (6,90-
7,30%), O (21- 23,50%), S (0,8-2%), disamping C, H, O (seperti juga karbohidrat
dan lemak), dan S kadang-kadang P, Fe dan Cu (sebagai senyawa kompleks
dengan protein). Dengan demikian maka salah satu cara terpenting yang cukup
spesifik untuk menentukan jumlah protein secara kuantitatif adalah dengan
penentuan kandungan N yang ada dalam bahan makanan atau bahan lain
(Sudarmaji, S, dkk. 1989)
Asam amino yang diperlukan tubuh ada 20 macam, sepuluh diantaranya
sangat penting bagi pertumbuhan sel-sel tubuh manusia dan tidak dapat dibuat
dalam tubuh, sehingga harus didapatkan dari luar tubuh. Asam amino itu disebut
asam amino esensial.selain asam amino esensial terdapat juga asam emino non-
esensial. Asam amino non-esensial merupakan asam amino yang dapat dibuat
dalam tubuh manusia. Bahan bakunya berasal dari asam amino lainnya. Namun
ada juga yang mengatakan bahwa asam amino terbagi menjadi 3,ditambah dengan
asam amino semiesensial.Asam amino semiesensial adalah asam amino yang
dapat menghemat pemakaian beberapa asam amino esensial. Berdasarkan macam
asam amino yang menyusun polipeptid, Protein dapat digolongkan menjadi 3,
yaitu :
1. Protein Sempurna
Protein sempurna adalah protein yang mengandung asam-asam amino
lengkap,baik macam maupun jumlahnya.Contohnya kasein pada susu dan
albumin pada putih telur.Pada umumnya protein hewan adalah Protein
Sempurna.

3
2. Protein Kurang Sempurna
Protein kurang sempurna adalah protein yang mengandung asam amino
lengkap,tetapi beberapa diantaranya jumlahnya sedikit.Protein ini tidak dapat
mencukupi kebutuhan pertumbuhan,Namun hanya dapat mempertahankan
kebutuhan jaringan yang sudah ada. Contohnya Protein lagumin pada kacang-
kacangan dan Gliadin pada gandum.
3. Protein Tidak Sempurna
Protein tidak sempurna adalah protein yang tidak mengandung atau sangat
sedikit mengandung asam amino esensial. Protein ini tidak dapat mencukupi
untuk pertumbuhan dan mempertahankan kehidupan yang telah ada.
Contohnya Zein pada jagung dan beberapa protein yang berasal dari tumbuhan.
Protein dapat berasal dari hewan dan tumbuhan. Protein yang berasal dari
hewan di sebut dengan protein hewan, sedangkan protein yang berasal dari
tumbuhan di sebut dengan protein nabati. Sumber-sumber dari protein hewani
antara lain dari telur, susu, daging, ikan, dan kerang. Ada pun yang termasuk
protein nabati antara lain adalah kacang-kangan terutama kacang kedelai, jagung
dan sayuran.
Fungsi utama protein adalah untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan
tubuh. Fungsi protein lainya adalah sebagai berikut ini :
 Bahan dalam sintesis substansi penting, seperti hormon, enzim, zat
antibodi, dan organel sel lainya.
 perbaikan, pertumbuhan, dan pemeliharaan struktur sel jaringan dari organ
tumbuh
 sebagai sumber energi, setiap gramnya akan menghasilkan 4,1 kalori
 mengatur dan melaksanakan metabolisme tubuh, misalnya sebagai enzim,
protein mengaktifkan dan berpartisipasi pada reaksi kimia
 Menjaga keseimbangan asam basa dan keseimbangan cairan tubuh.
sebagai senyawa penahan/bufer, protein berperan besar dan menjaga
stabilitas pH cairan tubuh. sebagai zat larut dalam cairan tubuh. protein
membantu dalam pemeliharaan tekanan osmotik di dalam sekat-sekat
rongga tubuh.
 Membantu tubuh dalam menghancurkan ataupun menetralkan zat-zat

4
asing yang masuk kedalam tubuh.
Di beberapa negara berkembang kekurangan protein merupakan penyebab
utama penyakit dan kematian dini. Kekurangan protein dapat menyebabkan
keterbelakangan mental dan mengurangi IQ karena Pada dasarnya protein
menunjang keberadaan setiap sel tubuh termasuk fungsinya. Menurut sebuah
penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Food and Nutrition, di sebagian besar
belahan dunia manapun Kekurangan protein masih umum terjadi bahkan menjadi
masalah serius dibeberapa negara.
Kekurangan protein dapat menyebabkan:
 Sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah, yang mengarah pada kerentanan
terhadap infeksi dan penyakit
 Masalah pertumbuhan tubuh terganggu.
 Beresiko terjadinya keterbelakangan mental
 Kwasiorkor atau yang disebut dengan busung lapar.
 Kerontokan rambut akibat kurang protein keratin di rambut.
 Gangguan fungsi liver. Serta terjadi pembengkakan pada perut dan kaki.
 Selain itu kekurangan protein juga bisa menyebabkan anemia.
 Kekurangan protein secara terus menerus bisa menyebabkan marasmus dan
berkibat kematian. Itulah beberapa jenis penyakit yang bisa disebabkan oleh
kekurangan protein secara berkesinambungan.
Sementara itu, kelebihan protein dalam tubuh dapat menimbukan
kegemukan atau obesitas. Obesitas umumnya di sebabkan oleh faktor hormonal,
metabolisme dalam tubuh, dan faktor sosial. Obesitas sering kali di artikan
sebagai kelebihan berat badan sesorang, 20 % di atas ukuran berat badan ideal.

2.2 Gizi Buruk


Gizi buruk adalah kondisi tubuh terparah yang mengalami kekurangan gizi
dalam kurun waktu yang lama (menahun). Hal ini umumnya terjadi pada anak-
anak, gizi buruk pada anak seringkali disebabkan oleh kurangnya asupan makanan
bergizi seimbang, di samping itu bisa juga disebabkan oleh penyakit-penyakit
tertentu yang menyebabkan terganggunya proses pencernaan makanan ataupun
terganggunya penyerapan zat gizi penting yang diperlukan oleh tubuh.

5
Malnutrisi (gizi buruk) adalah suatu istilah umum yang merujuk pada
kondisi medis yang disebabkan oleh diet yang tak tepat atau tak cukup. Walaupun
seringkali disamakan dengan kurang gizi yang disebabkan oleh kurangnya
konsumsi, buruknya absorpsi, atau kehilangan besar nutrisi atau gizi, istilah ini
sebenarnya juga mencakup kelebihan gizi (overnutrition) yang disebabkan oleh
makan berlebihan atau masuknya nutrien spesifik secara berlebihan ke dalam
tubuh. Seorang akan mengalami malnutrisi jika tidak mengkonsumsi jumlah atau
kualitas nutrien yang mencukupi untuk diet sehat selama suatu jangka waktu yang
cukup lama. Malnutrisi yang berlangsung lama dapat mengakibatkan kelaparan,
penyakit, dan infeksi.
Defisiensi gizi dapat terjadi pada anak yang kurang mendapatkan masukan
makanan dalam waktu lama. Istilah dan klasifikasi gangguan kekurangan gizi
amat bervariasi dan masih merupakan masalah yang pelik. Walaupun demikian,
secara klinis digunakan istilah malnutrisi energi dan protein (MEP) sebagai nama
umum. Penentuan jenis MEP yang tepat harus dilakukan dengan pengukuran
antropometri yang lengkap (tinggi badan, berat badan, lingkar lengan atas dan
tebal lipatan kulit), dibantu dengan pemeriksaan laboratorium.

2.2.1 Penyebab Gizi Buruk


Penyakit infeksi
1. Penyebab tidak langsung
- Kemiskinan keluarga
- Tingkat pendidikan dan pengetahuan orang tua yang rendah
- Sanitasi lingkungan yang buruk
- Pelayanan kesehatan yang kurang memadai
Selain itu ada beberapa penyebab dari gizi buruk seperti :
- Balita tidak mendapat makanan pendanping ASI (MP-ASI) pada umur 6
bulan atau lebih
- Balita tidakmendapat ASI ekslusif (ASI saja) atau sudah mendapat
makanan selain ASI sebelum umur 6 bulan.
- Balita tidakmendapat makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada umur 6
bulan atau lebih.

6
- MP-ASI kurang dan tidak bergizi.
- Setelah umur 6 bulan balita jarang disusui.
- Balita menderita sakit dalam waktu lama,seperti diare,campak, TBC, batuk
dan pilek.
- Kebersihan diri kurang dan lingkungan kotor.

7
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Kwasiorkor
Kwashiorkor adalah gangguan gizi karena kekurangan protein biasa (KEP)
sering disebut busung lapar. Kalori sedikit atau malah tinggi, kebutuhan vitamin
dan mineralnya sedikit. Kwashiorkor yang murni dijumpai pada anak yang sudah
di sapih sedangkan makanan penggantinya tidak adekuat. Gejala yang timbul
diantaranya adalah tangan dan kaki bengkak, perut buncit, rambut rontok dan
patah, gangguan kulit. Terdapat juga gangguan perubahan mental yang sangat
mencolok. Pada umumnya penderita sering rewel dan banyak menangis. Pada
stadium lanjut anak tampak apatis atau kesadaran yang menurun.
Etiologi :
Anak yang sedang tumbuh, membutuhkan keseimbanganprotein yang
pasif, sedangkan pada orang dewasa hanya membutuhkan protein untuk
mempertahankan keseimbangan dalam tubuh saja. Protein dari makanan sering
kali mahal, bisa tidak di berikan pada anak-anak karena ketidak tahuan atau
karena kepercayaan setempat. Kekurangan protein yang cukupberat dan akan
menyebabkan kwasiorkor, sering kali berhubungan dengan defisiensi vitamin,
anemia infestasi parasit dalam usus, malaria dan infeksi lainya.
Perjalanan penyakit (menurut Vughelye) :
Sesudah defisiensi diet selama 1 minggu, lalu berat badan menurun. 3
minggu kemudian produksi enzyme pancreas menurun, yang pertama menurun
ialah lipase, kemudian trypsine, dan yang terakhir adalah amilase. Pembesaran
hepar, setelah 2 minggu kemudian terjadi gangguan pencernaan. Timbulnya
oedema, mula-mula pada kaki (Pre tibial) , kemudian ekstremitas alas. Bila berat
bisa terjadi oedema dimata.
Tanda – tanda Kwashiokor adalah edema umumnya di seluruh tubuh
terutama pada kaki ( dorsum pedis ).Wajah membulat dan sembab. Otot-otot
mengecil, lebih nyata apabila diperiksa pada posisi berdiri dan duduk, anak
berbaring terus menerus. Perubahan status mental : cengeng, rewel kadang apatis.
Anak sering menolak segala jenis makanan ( anoreksia ). Pembesaran hati. Sering

8
disertai infeksi, anemia dan diare / mencret. Rambut berwarna kusam dan mudah
dicabut. Gangguan kulit berupa bercak merah yang meluas dan berubah menjadi
hitam terkelupas ( crazy pavement dermatosis ). Pandangan mata anak nampak
sayu.

3.2 Pengobatan dan Terapi Kwashiorkor


Pengobatan penyakit kwashiokor dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut. Kurangi kehilangan panas badan, tetapi jangan diberi pemanas. Segera
perbaiki ketidakseimbangan cairan/elektrolit, dan berikan makanan dengan susu
pengencer ½ , beriakan semuanya, sampai mencapai 90 kkal/kg untuk 1-2 hari.
Seringkali dibutuhkan pemberian melalui pipa nasogastrik. Pada saat nafsu makan
sudah kembali, naikkan masukan volume dan energinya, berikan protein 2g/kg,
campuran mineral (termasuk Mg, K, Zn, Cu) dan multivitamin, termasuk asam
folat. Campuran yang dapat bermanfaat adalah susu bubuk skim, gula dan
minyak. Sesudah 7-10 hari, berikan susu beserta minyak makan, paling sedikit
150 kkal/kg. Pada saat itu masukan disesuaikan denag nafsu makan. Berikanlah
campuran makanan dari bahan setempat misalnya daging, sayuran, kacang-
kacangan. Obati infeksi penyertanya seperti malaria, parasitosis, avitaminosis,
anemia. Berikan pendidikan pada ibu agar jangan terjadi relaps.
Terapi penyakit Kwashiorkor :
1. Diet
Untuk terapi ini harus diperhatikan daya pencernaannya, di antaranya :
a. Cara Pemberian :
Harus diperhatikan apakah ada anorexia, muntah, diarrhoea.
Bila tidak ada : bisa diberikan makanan cair dan lunak.
Bila ada : diberikan makanan cair, dapat diberikan secara
sonde/infuse.
b. Bentuk diet
c. Jumlah diet tergantung dari BB rata-rata :
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑑𝑎𝑛 𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 + 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑑𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎
2
2. Vitamin dan mineral
3. Penyakit lain yang memberatkan

9
4. Transfusi darah

Pencegahan :
1. Pendidikan pada orang tua.
2. Pemberihan makanan sapihan yang sesuai dan memadai, disertai cukup
protein.
3. Pencegahan dan pemantauan terhadap penyakit infeksi dan infestasi parasit,
misalkan dengan imunisasi.
4. Deteksi dini oleh petugas kesehatan setempat, dan penatalaksanaan yang
sesuai bagi bayi yang kekurangan air susu ibu.

3.3 Marasmus
Marasmus adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat. Gejala
yang timbul diantaranya muka seperti orangtua (berkerut), tidak terlihat lemak
dan otot di bawah kulit (kelihatan tulang di bawah kulit), rambut mudah patah dan
kemerahan, gangguan kulit, gangguan pencernaan (sering diare), pembesaran hati
dan sebagainya. Anak tampak sering rewel dan banyak menangis meskipun
setelah makan, karena masih merasa lapar. Pada stadium lanjut yang lebih berat
anak tampak apatis atau kesadaran yang menurun.
Etiologi :
Dapat menyertai prematuritas atau merupakan penyakit pada neonatus,
dimana menyusuinya kurang baik karena daya isapnya belum baik. Juga terjadi
apabila terus-menerus hanya diberi susu ibu tanpa tambahan. Infeksi terutama
diare, seringkali merupakan penyakit penyerta.
Tanda – tanda:
o Anak tampak sangat kurus, tinggal tulang terbungkus kulit.
o Wajah seperti orangtua
o Cengeng, rewel
o Perut cekung
o Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada.
o Sering disertai diare kronik atau konstipasi / susah buang air, serta penyakit
kronik.
o Tekanan darah, detak jantung dan pernafasan berkurang.

10
Pada marasmus kalori yang dibutuhkan kurang sekali. Pada diet yang
sempurna, kalori didapat dari :
Hidrat arang : 50-55%
Lemak : 30-35%
Protein : 15%
Apabila hidrat arang kurang, maka depot glycogen yang akan digunakan.
Bila depot sudah habis, maka akan menggunakan subcutant fat akibatnya anak
akan menjadi kurus. Bila protein lemak sudah habis, maka akan menggunakan
protein jaringan, akibatnya otot-otot menjadi atrophy. Lemak yang terakhir
menghilang yaitu lemak dari pipi.
Pengobatan :
1. Kurangi kehilangan panas badan, tetapi jangan memberikan tambahan
pemanas.
2. Makanan dengan porsi kecil tapi sering,dengan tinggi protein dan kalori,
misalkan susu bubuk skim. Gula dan minyak makan dapat di tambahkan dari
bahan-bahan setempat. Mungkinmula-mula diperlukan pipa nasogastrik untuk
pemberian makanannya. Berikanlah volume makanan sesuai dengan baku
untuk berat badannya.
3. Obati penykit penyertanya, misalnya pemberian cairan pada enteritis, vitamin
A untuk seroftalmia, pengobatan antituberkulosa, antimalaria, obat anti cacing
dan besi, dll.
4. Berikan pendidikan agar tidak terjadi relaps.
Pencegahan :
1. Pendidikan pada orang tua.
2. Pemberihan makanan sapihan yang sesuai dan memadai, harus segera dimulai
pada umur 6 bulan
3. Deteksi dini oleh petugas kesehatan setempat, dan penatalaksanaan yang sesuai
bagi bayi yang kekurangan air susu ibu.
4. Pencegahan dan pemantauan terhadap penyakit infeksi.

11
Perbedaan Marasmus dan Kwasiorkor :
Marasmus Kwashiorkor
1. Kurus Kering. 1.Berat badan menurun, oedeme,
2. Old man face. subcutant fat (+)
3. Terdapat lipatan-lipatan kulit terutama pada 2. Moon face
gluteus. 3. Tidak ada lipatan-lipatan kulit
4. Kulit kering yang hiperkeratosis 4. Kulit hyperpigmentasi/crazy payment
5. Sering terlihat decubitus (luka-luka karena dermatosis.
pergeseran kulit dengan tulang), terutama di 5. -
daerah sacral. Decubitus ini berbahaya 6. Hb. Sangat rendah
karena bisa terjadi infeksi dan menimbulkan 7. Albumin sangat rendah
sepsis. 8. Sering dijumpai inteleransi yang berat
6. Hb. Menurun tapi anemi tidak begitu berat.
7. Albumin menurun
8. Inteleransi tidak begitu berat.

12
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Protein merupakan salah satu makromolekul yang sangat penting dalam
kehidupanini terutama untuk pertumbuhan. Tubuh dapat memperoleh protein dari
berbagai sumber makanan seperti ikan,telur, kacang- kacangan, susu dan lain
sebagainya. Makan makanan bergizi termasuk protein sangat dianjurkan agar
kebutuhan gizi dalam tubuh terpenuhi. Asam amino yang diperlukan tubuh ada 20
macam, sepuluh diantaranya sangat penting bagi pertumbuhan sel-sel tubuh
manusia dan tidak dapat dibuat dalam tubuh, sehingga harus didapatkan dari luar
tubuh.
Kekurangan zat gizi seperti protein akan menyebabkan penyakit gizi
buruk. Gizi buruk yang disebabkan oleh kekurangan protein ialah Kwashiokor.
Kwashiorkor adalah gangguan gizi karena kekurangan protein biasa (KEP) sering
disebut busung lapar. Kwashiorkor yang murni dijumpai pada anak yang sudah di
sapih sedangkan makanan penggantinya tidak adekuat. Gejala yang timbul
diantaranya adalah tangan dan kaki bengkak, perut buncit, rambut rontok dan
patah, gangguan kulit, dan gangguan perubahan mental yang sangat mencolok.
Pencegahan dan pengobatan kwashiokor perlu dilakukan agar tidak semakin
marak terjadi di kalangan masyarakat, khususnya di Indonesia.

4.2 Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut lagi untuk menemukan solusi
penanganan yang tepat untuk mengatasi penyakit kwashiokor. Pemerintah perlu
mengadakan sosialisasi lebih lanjut agar informasi tersebar ke seluruh daerah di
Indonesia.

13
DAFTAR PUSTAKA

Potter & Perry, 2006. Fundamental Keperawatan Volume 2. Jakarta: EGC.

Short,John Rendle.1994. Ikhtisar Penyakit Anak jilid 1. Jakarta: Binarupa Aksara

Williams . 2005. Basic Nutrition & Diet Therapy. St. Louis: Westline Industrial
Drive.

14
MAKALAH
Maraknya Penyakit Kwashiokor Akibat Kekurangan Protein

Kelompok 4

Maria Teresa Erika 240210150086


Hillary Karina 240210150087
Maria Kethy Kristivery 240210150088
Fajrin Kahlil Gibran 240210150089
Nadia Dewi Nur Annisa 240210150090
Samadyo Setyo 240210150092

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PANGAN
JATINANGOR
2016