Anda di halaman 1dari 20

KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada saat ini, banyak masyarakat yang secara aktif mengkonsumsi
obat tradisional untuk menyembuhkan penyakitnya. Hal ini dikarenakan
karena banyaknya senyawa yang terdapat pada tumbuhan yang dapat
dimanfaatkan. Penggunaan obat tradisional ini banyak digemari oleh
masyarakat. Hal ini karena efek samping yang dihasilkan jauh lebih sedikit
dibandingkan dengan obat yang dibuat dengan senyawa kimia. Salah satu
cara untuk menarik senyawa kimia yang terkandung dalam tanaman
adalah dengan cara ekstraksi. Terlebih, Indonesia memiliki banyak
tumbuhan yang berkhasiat. Salah satunya adalah pulai (Alstonia scholaris
L.).
Bagian dari tumbuhan pulai yang paling sering dan mudah untuk
dikonsumsi adalah daun. Secara empiris, diketahui bahwa manfaat pulai
untuk kesehatan antara lain adalah mengatasi demam, menyembuhkan
penyakit malaria, menyembuhkan diare, menyembuhkan penyakit beri-
beri, mengatasi sakit badan dan dada, memperkuat lambung, mengobati
kencing manis dan menyembuhkan penyakit malaria.
Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan molekul berdasarkan
perbedaan pola pergerakan antara fase gerak dan fase diam untuk
memisahkan komponen (berupa molekul) yang berada pada larutan. Atau
kromatografi adalah proses melewatkan sampel melalui suatu kolom,
perbedaan kemampuan absorpsi terhadap zat-zat yang sangat mirip
mempengaruhi resolusi zat terlarut dan menghasilkan apa yang di sebut
kromatogram. Pada dasarnya, semua kromatografi menggunakan dua
fase yaitu satu fase tetap (stationary) dan yang lain fase bergerak
(mobile).

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN MUHAMMAD YUNUS SAREDDA


15020150250
KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah adalah berapakah jumlah fraksi yang
diperoleh dari ekstrak daun pulai (Alstonia scholaris L.) menggunankan
kromatografi kolom konvensional?
C. Maksud Praktikum
Adapun maksud praktikum adalah untuk mengetahui cara melakukan
kromatografi kolom konvensional pada tumbuhan pulai (Alstonia scholaris
L.)?
D. Tujuan Praktikum
1. Tujuan Umum Praktikum
Mampu mengetahui metode kromatografi kolom konvensional
pada tumbuhan pulai (Alstonia scholaris L.).
2. Tujuan Khusus Praktikum
Mampu menetukan metode kromatografi kolom konvensional
pada tumbuhan pulai (Alstonia scholaris L.).
E. Manfaat Praktikum
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, hasil praktikum ini dapat mengetahui mengenai
kromatografi kolom konvensional daun pulai (Alstonia scholaris L.).
2. Manfaat Praktis
Dapat memberikan informasi mengenai kromatografi kolom
konvensional pada tumbuhan pulai (Alstonia scholaris L.).

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN MUHAMMAD YUNUS SAREDDA


15020150250
KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Uraian Tanaman
a. Klasifikasi Tanaman (Integrated Taxonomic Information System)
Regnum : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Gentianales
Family : Apocynaceae
Genus : Alstonia R. Br.
Species : Alstonia scholaris (L.) R. Br.
b. Morfologi Tanaman

Tanaman berbentuk pohon, tinggi 20 - 25 m. Batang lurus,


diameternya mencapai 60 cm, berkayu, percabangan menggarpu.
Kulit batang rapuh, rasanya sangat pahit, bergetah putih. Daun
tunggal, tersusun melingkar 4 - 9 helai, bertangkai yang panjangnya
7,5 - 15 mm, bentuknya lonjong sampai lanset atau lonjong sampai
bulat telur sungsang, permukaan atas licin, permukaan bawah buram,
tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 10 - 23 cm, lebar 3 - 7,5 cm,
warna hijau. Perbungaan majemuk tersusun dalam malai yang
bergagang panjang, keluar dari ujung tangkai. Bunga wangi berwarna
hijau terang sampai putih kekuningan, berambut halus yang rapat.
Buah berupa buah bumbung berbentuk pita yang panjangnya 20 - 50
cm, menggantung. Biji kecil, panjang 1,5 - 2 cm, berambut pada
bagian tepinya dan berjambul pada ujungnya. Perbanyakan dengan
biji atau setek batang dan cabang (Sulina, 2010).

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN MUHAMMAD YUNUS SAREDDA


15020150250
KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL

c. Nama Lain
Kayu gabus, pulai (Sumatera); lame (Sunda); polay (Madura)
(Agromedia, 2008).
d. Kandungan Kimia
Alkaloid ditain, ekitamin (ditamin), ekitenin, ekitamidin, alstonin,
ekiserin, ekitin, ekitein, porfirin, triterpen pikrinin, dan asam ursolat
(Agromedia, 2008).
e. Khasiat Tanaman
Berkhasiat mengatasi demam, malaria, limfa membesar, batuk
berdahak, diare, disentri, kurang nafsu makan, perut kembung, sakit
perut, kolik, anemia, kencing manis, wasir, gangguan haid, bisul,
hipertensi, rematik akut, beri-beri (Agromedia, 2008).
B. Metode
Kromatografi kolom merupakan metode kromatografi klasik yang
masih banyak digunakan. Kromatografi kolom digunakan untuk
memisahkan senyawa-senyawa dalam jumlah yang banyak berdasarkan
adsorpsi dan partisi. Kemasan adsorben yang sering digunakan adalah
silika gel G-60, kieselgur, Al2O3, dan Diaion (Handayani, 2008).
Kromatografi kolom merupakan pilihan yang baik jika ingin
memisahkan campuran senyawa yang masih dalam bentuk ekstrak.
Alasannya adalah lebih murah dan tidak memakan waktu yang lama. Hasil
dari pemisahan menggunakan kolom kromatografi ini bisa berupa fraksi-
fraksi yang masih berupa campuran, dan bisa juga menghasilkan
senyawa yang telah murni. Kadang kala hanya dengan menggunakan
kolom kromatografi, target pemisahan campuran telah berhasil dilakukan
tapi akan mengalami kesulitan jika campuran yang akan dipisahkan itu
jumlahnya sedikit, karena ada kecenderungan campuran tersebut akan
tertinggal pada fase diam (Tobo, 2001).

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN MUHAMMAD YUNUS SAREDDA


15020150250
KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL

Kromatografi kolom adalah suatu metode pemisahan yang di


dasarkan pada pemisahan daya adsorbsi suatu adsorben terhadap suatu
senyawa, baik pengotornya maupun hasil isolasinya. Sebelumnya
dilakukan percobaan tarhadap kromatografi lapis tipis sebagai pencari
kondisi eluen. Misalnya apsolsi yang cocok dengan pelarut yang baik
sehingga antara pengotor dan hasil isolasinya terpisah secara sempurna
(Kasiman, 2006).
Pemisahan kromatografi kolom didasarkan pada adsorbsi komponen
campuran dengan afinitas berbeda-beda terhadap permukaan fase diam.
Kromatografi kolom teradsorbsi termasuk pada saat pemisahan cair
padat, substrak padat bertindak sebagai fase diam yang sifatnya tidak
larut pada fase cair, fase geraknya adalah cairan atau pelarut yang
mengalir membawa komponen campuran sepanjang kolom, pemisahan
bergantung pada kesetimbangan yang terbentuk pada bidang antar muka
di antara butiran-butiran adsorben dan fase geraknya serta kelarutan
relatif komponen pada fase geraknya, antara molekul dan pelarut terjadi
kompetisi untuk teradsorbsi pada permukaan adsorben dan masuk
kembali pada fase gerak (Yazid, 2005).
Prinsip kerja kromatografi kolom adalah dengan adanya perbedaan
daya serap dari masing-masing komponen, campuran yang akan diuji,
dilarutkan dalam sedikit pelarut lalu di masukan lewat puncak kolom dan
dibiarkan mengalir kedalam zat menyerap. Senyawa yang lebih polar akan
terserap lebih kuat sehingga turun lebih lambat dari senyawa non
polar terserap lebih lemah dan turun lebih cepat. Zat yang di serap dari
larutan secara sempurna oleh bahan penyerap berupa pita sempit pada
kolom (Handayani, 2008).
Cara pembuatannya ada dua macam (Santoso, 2010):
1. Cara kering yaitu silika gel dimasukkan ke dalam kolom yang telah
diberi kapas kemudian ditambahkan cairan pengelusi.

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN MUHAMMAD YUNUS SAREDDA


15020150250
KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL

2. Cara basah yaitu silika gel terlebih dahulu disuspensikan dengan cairan
pengelusi yang akan digunakan kemudian dimasukkan ke dalam kolom
melalui dinding kolom secara kontinyu sedikit demi sedikit hingga
masuk semua, sambil kran kolom dibuka. Eluen dialirkan hingga silika
gel mapat, setelah silika gel mapat eluen dibiarkan mengalir sampai
batas adsorben kemudian kran ditutup dan sampel dimasukkan yang
terlebih dahulu dilarutkan dalam eluen.
Adapun Kelebihan kromatografi kolom yaitu dapat digunakan untuk
analisis dan aplikasi preparative digunakan untuk menentukan jumlah
komponen campuran digunakan untuk memisahkan dan purifikasi
substansi. Dan Kekurangan kromatografi kolom yaitu untuk
mempersiapkan kolom dibutuhkan kemampuan teknik dan manual.
metode ini sangat membutuhkan waktu yang lama (time consuming)
(Santoso, 2010).

(Gambar. Alat Kromotografi Kolom Konvensional)

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN MUHAMMAD YUNUS SAREDDA


15020150250
KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL

Cara pengisian kolom terbagi dua, yaitu (Santoso, 2010):


1. Cara basah
a. Isi dasar kolom dengan kapas
b. Masukkan eluen
c. Campurkan dengan rata sebagai adsorben dan eluen
d. Jangan tersentuh atau diguncangkan ± 6 jam
e. Setelah stabil, masukkan eluen dan zat, lalu keluarkan eluen
2. Cara kering
a. Isi tabung dengan kapas
b. Masukkan eluen
c. Masukkan adsorben kering sedikit demi sedikit
d. Lalu di aduk

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN MUHAMMAD YUNUS SAREDDA


15020150250
KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL

BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan


1. Alat
Adapun alat yang digunakan yaitu batang pengaduk, botol
coklat, cawan porselin, corong kaca, gelas kimia, klem, kolom kaca,
pipet tetes, sendok tanduk besi, statif, timbangan analitik dan vial.
2. Bahan
Adapun bahan yang digunakan yaitu aluminium foil, fraksi daun
daun pulai (Alstonia scholaris L.), n-heksana, etil asetat, kapas, kertas
saring, label, silika gel dan tissue.
B. Prosedur Kerja (Malik, A & Najib, A, 2018)
a. Pengemasan Alat Isolasi
Kolom dipasang tegak lurus pada statif, kemudian dibebas
lemakkan dengan cara dibilas menggunakan metanol. Selain itu
bagian dasar kolom dilapisi kapas dan siap untuk digunakan.
b. Pengemasan Fase Diam

Silika gel ditimbang berdasarkan perbandingan 1 gram fraksi :


30 gram silika gel (tergantung ketersediaan fraksi dan kapasitas
kolom). Pengemasan fase diam menggunakan metode kering dengan
eluen n-heksan:etil asetat. Kemudian dimasukkan ke dalam kolom lalu
dimampatkan dan diketuk-ketuk sampai tidak terbentuk gelembung
udara.
c. Proses Pemisahan/Isolasi
Fraksi ditimbang berdasarkan perbandingan 1 gram fraksi : 30
gram silika gel dan dikemas menggunakan metode kering yaitu
dengan menggunakan eluen n-heksan : etil asetat dengan
perbandingan mulai 10:0 selapis di atas permukaan kertas saring,
DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN MUHAMMAD YUNUS SAREDDA
15020150250
KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL

selanjutnya dielusi sampai menghasilkan fraksi-fraksi dan ditampung


ke dalam vial. Eluen sebelumnya yang telah habis diganti dengan
eluen 9:1 kemudian secara berturut-turut dilanjutkan dengan eluen
perbandingan 8:2, 7:3, 6:4, 5:5, 4:6, 3:7, 2:8, 1:9 dan 0:10. Hasil
kromatografi kolom berupa fraksi. Fraksi-fraksi digabung dan dianggap
satu fraksi berdasarkan warna.

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN MUHAMMAD YUNUS SAREDDA


15020150250
KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Eluen No. Vial Warna No. Vial Jumlah


10:0 1-10 Bening 1-24 24
9:1 11-19 Bening kekuningan 25-36, 33-36 6
8:2 20-29 Bening kehijauan 31-32, 37 3
7:3 30-39 Hijau 51-57 7
6:4 40-47 Coklat kehijauan 46-49 4
5:5 48-56 Hijau kekuningan 43-44, 50, 58 5
4:6 57-66 Hijau bening 38-42 5
3:7 67-76 Kuning bening 27-30, 91- 19
99, 100-105
2:8 77-86 Kuning kehijauan 43-44, 50, 5
58, 75-78, 84
1:9 87-94 Kuning pekat 65-66, 79 2
0:10 95-105 Kuning oranye 59-74, 79- 25
83, 85-90

Kromatografi kolom konvensional adalah metode kromatografi klasik


yang sampai saat ini masih banyak digunakan. Kolom kromatografi
digunakan untuk memisahkan senyawa-senyawa dalam jumlah banyak.
Prinsip dari kromatografi kolom jenis ini adalah kecenderungan komponen
kimia untuk terdistribusi ke dalam fase diam atau fase gerak dengan
proses elusi berdasarkan gaya gravitasi.
Keuntungan dari kromatografi kolom konvensional adalah dapat
memisahkan kandungan-kandungan kimia dalam jumlah banyak dan
pemisahan senyawanya yang baik. Kerugian dari kromatografi kolom
konvensional adalah proses pemisahnnya membutuhkan waktu yang

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN MUHAMMAD YUNUS SAREDDA


15020150250
KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL

lama. Kekurangan kromatografi kolom konvensional bahwa dalam


pengerjaan dengan kromatografi kolom konvensional apabila ukuran
kolom yang digunakan cukup besar maka memerlukan bahan kimia yang
cukup banyak sebagai fasa diam dan fasa bergerak, memerlukan waktu
yang cukup lama hanya untuk memisahkan satu campuran, dan juga
terkadang hasil yang didapatkan kurang akurat dikarenakan pita
komponen yang satu bertumpang tindih dengan komponen lainnya.
Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk memisahkan
campuran senyawa dalam fraksi daun pulai (Alstonia scholaris L.) dengan
metode kromatografi kolom. Dilakukan isolasi pada kromatografi kolom
konvensional yaitu untuk memisahkan fraksi dari perbandingan eluen 10:0
sampai eluen 0:10 sehingga dihasilkan beberapa warna dan tingkat
kepolaran.
Dalam praktikum, proses pengemasan silika dibuat dengan cara
kering agar aliran eluen yang melewati silica (fase diam) tidak terlalu cepat
sehingga pada saat fraksi melewati fase diam pemisahannya lebih baik.
Alasan lain penggunaan metode kering karena metode ini termasuk
metode yang mudah dilakukan dan tidak memerlukan waktu yang lama
untuk mempersiapkan pengemasannya. Penyiapan kolom dilakukan
dengan menyusun kapas, silica gel kasar 30 gram, kertas saring
kemudian dibasahi dengan pelarut n-heksan secukupnya untuk
mempermudah terjadinya fraksinasi dan membuatnya mampat, setelah itu
dimasukkan 1 gram fraksi pulai (Alstonia scholaris L.) lalu dimasukkan
eluen mulai dari perbandingan 10:0 sampai 0:10. Penggunaan eluen
dengan tingkat kepolaran yang rendah terlebih dahulu dimasukkan supaya
fraksi dapat ditarik oleh senyawa non polar lalu kemudian di tarik oleh
senyawa polar, karena jika yang dimasukkan terlebih dahulu adalah
pelarut polar maka ditakutkan senyawa non polar pada fraksi akan tertarik

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN MUHAMMAD YUNUS SAREDDA


15020150250
KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL

juga sehingga proses pemisahan senyawa polar dan non polar tidak
efektif.
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan berdasarkan tingkat
kepolaran dihasilkan fraksi yang berwarna bening pada vial nomor 1
sampai 24. Fraksi bening kekuningan pada vial nomor 25-26, 33-36.
Fraksi yang bening kehijauan pada vial nomor 31-32, 37. Fraksi yang
berwarna hijau pada vial nomor 51-57. Fraksi yang berwarna coklat
kehijauan pada vial nomor 46-49. Fraksi yang berwarna hijau kekuningan
pada vial nomor 43-44, 50, 58. Fraksi yang berwarna hijau bening pada
vial nomor 38-42. Fraksi yang berwarna kuning bening pada vial nomor
27-30, 91-99, 100-105. Fraksi yang berwarna kuning kehijauan pada vial
nomor 43-44, 50, 58, 75-78, 84. Fraksi yang berwarna kuning pekat pada
vial nomor 65-66, 79. Fraksi yang kuning oranye pada vial nomor 59-74,
79-83, 85-90.
Dari hasil praktikum, dihasilkan 24 fraksi yang berwarna bening, 6
fraksi bening kekuningan, 3 fraksi yang bening kehijauan, 7 fraksi yang
berwarna hijau, 4 fraksi yang berwarna coklat kehijauan, 5 fraksi yang
berwarna hijau kekuningan, 5 fraksi yang berwarna hijau bening, 19 fraksi
yang berwarna kuning bening, 5 fraksi yang berwarna kuning kehijauan, 2
fraksi yang berwarna kuning pekat, 25 fraksi yang kuning oranye. Adanya
perbedaan warna pada masing-masing fraksi disebabkan oleh adanya
perbedaan kepolaran dari masing-masing senyawa yang terkandung
dalam fraksi daun pulai (Alstonia scholaris L.) dan tingkat kepekatan
warna disebabkan banyaknya senyawa yang ditarik.

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN MUHAMMAD YUNUS SAREDDA


15020150250
KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL

BAB V

KSIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
metode kromatografi kolom konvensional pada daun pulai (Alstonia
scholaris L.) berdasarkan tingkat kepolarannya diperoleh 105 fraksi.
B. Saran
Sebaiknya praktikan teliti dan cermat dalam menjalani praktikum
sehingga hasil yang diperoleh dapat akurat.

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN MUHAMMAD YUNUS SAREDDA


15020150250
KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL

DAFTAR PUSTAKA

Agromedia. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. Redaksi Agromedia :


Jakarta.

Badan BPOM. 2008. Direktorat Obat Asli Indonesia. Depkes RI :


Jakarta.

Handayani, W & Haribowo S., 2008, Asuhan Keperawatan Pada Klien


Dengan Gangguan Sistem Hematologi, Salemba Medika, Jakarta.

Integrated Taxonomic Information System.


https://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&
search_value=184803#null. Diakses tanggal 26 Maret 2018.

Malik, A & Najib, A. 2018. Penuntun Pratikum Fitokimia II. Universitas


Muslim Indonesia.

Peranginangin, Kasiman. 2006. Aplikasi WEB dengan PHP dan MySQL,


Yogyakarta: Andi.

Santoso, L., 2010, Kajian Toksiksitas Dan Bioakumulasi Surfaktan


Detergen Linear Alkilbenzen Sulfonate (LAS) Pada Udang Galah
Macrobrachium rosenbergi, IPB, Bogor.

Sulina. 2010. Tanaman Obat Indonesia.


http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=154.

Tobo, Fachruddin, 2001. Buku Pegangan Laboratorium Fitokimia I,


Laboratorium Fitokimia Jurusan Farmasi Unhas, Makassar.

Yazid, estien. 2005. Kimia Fisik untuk Paramedis. Yogyakarta: Andi

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN MUHAMMAD YUNUS SAREDDA


15020150250
KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL

Lampiran 2. Gambar

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN MUHAMMAD YUNUS SAREDDA


15020150250
KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN MUHAMMAD YUNUS SAREDDA


15020150250
KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL

LAMPIRAN

Lampiran 1. Skema Kerja

a. Pengemasan Alat Isolasi

Kolom

- dipasang tegak lurus pada statif


- dibebaslemakkan dengan metanol
- bagian dasar dilapisi kapas

Kolom siap digunakan

b. Pengemasan Fase Diam

Silika gel

- ditimbang 30 gram
- dimasukkan ke dalam kolom
Silika di dalam kolom
- silika dimampatkan sampai tidak
terbentuk gelembung udara
Silika selesai dikemas

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN MUHAMMAD YUNUS SAREDDA


15020150250
KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL

c. Proses Pemisahan/Isolasi

Fraksi

- ditimbang 1 gram
- dimasukkan kedalam kolom

Eluen

- ditambahkan mulai dari


perbandingan 10:0 selapis diatas
permukaan kertas saring
- dielusi

Fraksi-fraksi

- ditampung ke dalam vial


- eluen yang telah habis diganti
\dengan eluen perbandingan 9:1
sampai 0:10
- fraksi digabung berdasarkan
warna

Satu fraksi

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN MUHAMMAD YUNUS SAREDDA


15020150250
KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL

Lampiran 3. Perhitungan
1. 9:1
n-Heksan
9
10
x 50 ml = 45 ml

Etil asetat
1
x 50 ml = 5 ml
10

2. 8:2
n-Heksan
8
10
x 50 ml = 40 ml

Etil asetat
2
10
x 50 ml = 10 ml

3. 7:3
n-Heksan
7
x 50 ml = 35 ml
10

Etil asetat
3
x 50 ml = 15 ml
10

4. 6:4
n-Heksan
6
10
x 50 ml = 30 ml

Etil asetat
4
x 50 ml = 20 ml
10

5. 5:5
n-Heksan
5
10
x 50 ml = 25 ml

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN MUHAMMAD YUNUS SAREDDA


15020150250
KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL

Etil asetat
5
10
x 50 ml = 25 ml

6. 4:6
n-Heksan
4
10
x 50 ml = 20 ml

Etil asetat
6
10
x 50 ml = 30 ml

7. 3:7
n-Heksan
3
10
x 50 ml = 15 ml

Etil asetat
7
10
x 50 ml = 35 ml

8. 2:8
n-Heksan
2
10
x 50 ml = 10 ml

Etil asetat
8
10
x 50 ml = 40 ml

9. 1:9
n-Heksan
1
10
x 50 ml = 5 ml

Etil asetat
9
10
x 50 ml = 45 ml

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN MUHAMMAD YUNUS SAREDDA


15020150250