Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Limfoma merupakan golongan gangguan limfoproliferatif. Penyebabnya tidak
diketahui, tetapi dikaitkan dengan virus, khususnya virus Epstein Barr yang ditemukan pada
limfoma Burkitt. Adanya peningkatan insidens penderita limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin
pada kelompok penderita AIDS (acquired immunodeficiency syndrome) pengidap virus HIV,
tampaknya mendukung teori yang menganggap bahwa penyakit ini disebabkan oleh virus.
Awal pembentukan tumor pada gangguan ini adalah pada jaringan limfatik sekunder (seperti
kelenjar limfe dan limpa), dan selanjutnya dapat timbul penyebaran ke sumsumtulang dan
jaringan lain.

Limfoma malignant merupakan terminologi yang digunakan untuk tumor- tumor pada
sistem limfoid, khususnya untuk limfosit dan sel-sel prekursor, baik sel-B, sel-T atau sel Null.
Biasanya melibatkan kelenjar limfe tapi dapat juga mengenai jaringan limfoid ekstranodal
seperti tonsil, traktus gastrointestinal dan limpa. Limfoma maligna adalah tumor ganas
primer dari kelenjar limfe dan jaringan limfatik di organ lainnya. Penyakit ini dibagi dalam 2
golongan besar, yaitu penyakit Hodgkin dan limfoma non Hodgkin (LNH). Sel ganas pada
penyakit Hodgkin berasal dari sel retikulum. Limfosit yang merupakan bagian integral
proliferasi sel pada penyakit ini diduga merupakan manifestasi reaksi kekebalan seluler
terhadap sel ganas tersebut. Limfoma non Hodgkin pada dasarnya merupakan keganasan sel
limfosit.1,2
Dua kategori besar limfoma dilakukan atas dasar histopalogi mikroskopik dari kelenjar
limfe yang terlibat. Walaupun tanda dan gejala limfoma saling menutupi, pengobatan dan
prognosis berbagai limfoma tetap berlainan. Dengan demikian adalah suatu keharusan untuk
menegakkan diagnosis secara tepat. Untuk tujuan ini, diambil sebuah kelenjar limfe atau lebih
untuk diperiksa secara mikroskopik.
Limfoma dibedakan menurut jenis sel yang menyolok (limfosit melawan histiosit) yang
terapat dalam kelenjar limfe, serta penyebarannya. Sel-sel tersebut dapat tersebar dalam bentuk
nodular atau difus. Sel-sel ini merusak arsitektur normal kelenjar limfe. Umumnya, prognosis
yang lebih baik dihubungkan dengan distribusi nodular dimana terdapat limfosit yang

1
menonjol. Untuk mengenali asal sel neoplastik baik sebagai limfosit B atau pun sebagai
limfosit T, dilakukan pemeriksaan imunologi dan sitokimiawi.

Belakangan ini insiden limfoma meningkat relatif cepat. Sekitar 90% limfoma Hodgkin
timbul dari kelenjar limfe, hanya 10% timbul dari jaringan limfatik di luar kelenjar limfe.
Sedangkan limfoma non Hodgkin 60% timbul dari kelenjar limfe, 40% dari jaringan limfatik di
luar kelenjar. Jika diberikan terapi segera dan tepat, angka kesembuhan limfoma Hodgkin
dapat mencapai 80% lebih. Prognosis limfoma non Hodgkin lebih buruk, tapi sebagian dapat
disembuhkan. Dengan semakin mendalam riset atas limfoma maligna, kini dalam hal klasifikasi
jenis patologik, klasifikasi stadium, metode terapi, diagnosis dan penilaian atas lesi residif dan
berbagai aspek lain limfoma telah mengalami kemajuan pesat, hal ini sangat membantu dalam
meningkatkan ratio kesembuhan limfoma.3,4
1.2 Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut :

a. Apakah pengertian dari Limfoma Hodgkin dan Non Hodgkin?

b. Bagaimana anatomi dan fisiologi limpa?

c. Apa etiologi dari Limfoma Hodgkin dan Non-Hodgkin?

d. Bagaimana Diagnosis dan pengobatan limfoma Hodgkin dan Non Hodgkin?

1.3 Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah

1. Mengetahui tentang penyakit Limfoma dan klasifikasinya

2. Mengetahui etiologi dan fisiologi penyakit Limfoma

3. Mengetahui cara pengobatan dan terapi penyakit Limfoma

1.4 Manfaat

Manfaat dari makalah ini adalah untuk mengetahui dan menjelaskan apa
itu limpoma Hodgkin dan limpoma non Hodgkin dan cara penanganannya.

2
BAB II
LIMFOMA MALIGNA

2.1 Definisi
Limfoma Maligna adalah keganasan primer jaringan limfoid yang bersifat padat.
Penyakit ini dibagi dalam 2 golongan besar, yaitu penyakit Hodgkin dan limfoma non Hodgkin
(LNH).1

2.2 Etiologi
Limfoma merupakan golongan gangguan limfoproliferatif. Penyebabnya tidak diketahui,
tetapi sering dikaitkan dengan virus, khususnya virus Epstein Barr yang ditemukan pada
limfoma Burkitt. Terdapat kaitan jelas antara limfoma Hodgkin dan infeksi virus Epstein
Barr. Pada kelompok terinfeksi HIV, insiden limfoma Hodgkin agak meningkat dibanding
masyarakat umum, selain itu manifestasi klinis limfoma Hodgkin yang terkait HIV sangat
kompleks, sering kali terjadi pada stadium lanjut penyakit, mengenai regio yang jarang
ditemukan, seperti sumsum tulang, kulit, meningen, dll.5,6
Infeksi virus dan regulasi abnormal imunitas berkaitan dengan timbulnya
limfoma non Hodgkin, bahkan kedua mekanisme tersebut saling berinteraksi. Virus
RNA, HTLV-1 berkaitan dengan leukemia sel T dewasa, virus imunodefisiensi humanus (HIV)
yang menyebabkan AIDS, defek imunitas yang diakibatkan berkaitan dengan timbulnya
keganasan limfoma sel B yang tinggi, virus hepatitis C (HCV) berkaitan dengan timbulnya
limfoma sel B indolen. Gen dari virus DNA, virus Epstein Barr (EBV) telah ditemukan
terdapat di dalam genom sel limfoma Burkitt Afrika. Infeksi kronis Helicobacter pylori
berkaitan jelas dengan timbulnya limfoma lambung, terapi eliminasi H. Pylori dapat
menghasilkan remisi pada 1/3 lebih kasus limfoma lambung. Defek imunitas dan menurunnya
regulasi imunitas berkaitan dengan timbulnya limfoma non Hodgkin, termasuk AIDS, reseptor
cangkok organ, sindrom defek imunitas kronis, penyakit autoimun.5,6
Patogenesis morbus Hodgkin mungkin kompleks dan masih banyak hal yang kurang
jelas dalam bidang ini.

3
2.3 Sistem Limfatik
Sistem limfatik adalah bagian dari sistem imun. Sistem limfatik terdiri dari:3,4

1) Pembuluh limfe
Sistem limfatik memiliki jaringan terhadap pembuluh-pembuluh limfe. Pembuluh-
pembuluh limfe tersebut yang kemudian akan bercabang-cabang ke semua jaringan
tubuh.

2) Limfe
Pembuluh-pembuluh limfe membawa cairan jernih yang disebut limfe. Limfe terdiri
dari sel-sel darah putih, khususnya limfosit seperti sel B dan sel T.

3) Nodus Limfatikus
Pembuluh-pembuluh limfe terhubung ke sebuah massa kecil dan bundar dari jaringan
yang disebut nodus limfatikus. Kumpulan dari nodus limfatikus ditemukan di leher,
bawah ketiak, dada, perut, dan lipat paha. Nodus limfatikus dipenuhi sel-sel darah
putih. Nodus limfatikus menangkap dan membuang bakteri atau zat-zat berbahaya
lainnya yang berada di dalam limfe.

4) Bagian sistem limfe lainnya


Bagian sistem limfe lainnya terdiri dari tonsil, timus, dan limpa. Sistem limfatik juga
ditemukan di bagian lain dari tubuh yaitu pada lambung, kulit, dan usus halus.

2.4 Fisiologi dan peran sistim limfatik


Sistim limfatik adalah suatu bagian penting dari sistem kekebalan tubuh, membentengi
tubuh terhadap infeksi dan berbagai penyakit, termasuk kanker. Suatu cairan yang disebut
getah bening bersirkulasi melalui pembuluh limfatik, dan membawa limfosit (sel darah putih)
mengelilingi tubuh. Pembuluh limfatik melewati kelenjar getah bening. Kelenjar getah bening
berisi sejumlah besar limfosit dan bertindak seperti penyaring, menangkap organisme yang
menyebabkan infeksi seperti bakteri dan virus.
Kelenjar getah bening cenderung bergerombol dalam suatu kelompok seperti pada
sekelompok besar di ketiak, di leher dan lipat paha. Ketika suatu bagian tubuh terinfeksi atau
bengkak, kelenjar getah bening terdekat sering membesar dan nyeri. Hal berikut ini terjadi,
sebagai contoh, jika seseorang dengan sakit leher mengalami ‘pembengkakan kelenjar’ di

4
leher, cairan limfatik dari tenggorokan mengalir ke dalam kelenjar getah bening di leher,
dimana organisme penyebab infeksi dapat dihancurkan dan dicegah penyebarannya ke bagian
tubuh lainnya.3,4

2.4.1 Peran penting dari sel T dan sel B


Ada dua jenis utama sel limfosit:
 Sel T
 Sel B
Seperti jenis sel darah lainnya, limfosit dibentuk dalam sumsum tulang. Kehidupannya
dimulai dari sel imatur yang disebut sel induk. Pada awal masa kanak-kanak, sebagian limfosit
bermigrasi ke timus, suatu organ di puncak dada, dimana mereka menjadi matur menjadi sel T.
Sisanya tetap tinggal di sumsum tulang dan menjadi matur disana sebagai sel B. Sel T dan sel
B keduanya berperan penting dalam mengenali dan menghancurkan organisme penyebab
infeksi seperti bakteri dan virus. Dalam keadaan normal, kebanyakan limfosit yang bersirkulasi
dalam tubuh adalah sel T. Mereka berperan untuk mengenali dan menghancurkan sel tubuh
yang abnormal (sebagai contoh sel yang telah diinfeksi oleh virus).3,4
Sel B mengenali sel dan materi ‘asing’ (sebagai contoh, bakteri yang telah menginvasi
tubuh). Jika sel ini bertemu dengan protein asing (sebagai contoh, di permukaan bakteri),
mereka memproduksi antibodi, yang kemudian ‘melekat’ pada permukaan sel asing dan
menyebabkan perusakannya3,7
Limfoma adalah suatu penyakit limfosit. Ia seperti kanker, dimana limfosit yang
terserang berhenti beregulasi secara normal. Dengan kata lain, limfosit dapat membelah secara
abnormal atau terlalu cepat, dan atau tidak mati dengan cara sebagaimana biasanya. Limfosit
abnormal sering terkumpul di kelenjar getah bening, sebagai akibatnya kelenjar getah bening
ini akan membengkak.7
Karena limfosit bersirkulasi ke seluruh tubuh, limfoma (kumpulan limfosit abnormal)
juga dapat terbentuk di bagian tubuh lainnya selain di kelenjar getah bening. Limpa dan
sumsum tulang adalah tempat pembentukan limfoma di luar kelenjar getah bening yang sering,
tetapi pada beberapa orang limfoma terbentuk di perut, hati atau yang jarang sekali di otak.
Bahkan, suatu limfoma dapat terbentuk di mana saja. Seringkali lebih dari satu bagian tubuh
terserang oleh penyakit ini.

5
BAB III
LIMFOMA NON HODGKIN

3.1 Definisi

Limfoma malignum non Hodgkin atau limfoma non Hodgkin adalah suatu keganasan
primer jaringan limfoid yang bersifat padat. Limfoma non Hodgkin merupakan penyakit yang
heterogen, tergantung dari gambaran klinik, imunofenotiping dan respons terhadap terapi.
Gambaran penyakit yang progresif lebih sering didapatkan pada anak dibanding dewasa.
Demikian pula gambaran histopatologik difus sering didapatkan pada anak (90%) daripada
gambaran noduler atau fotikuler pada dewasa.1 Lebih dari 45.000 pasien didiagnosis sebagai
limfoma non Hodgkin (LNH) setiap tahun di Amerika Serikat. Limfoma non Hodgkin,
khususnya limfoma susunan saraf pusat biasa ditemukan pada pasien dengan keadaan
defisiensi imun dan yang mendapat obat-obat imunosupresif, seperti pada pasien dengan
transplantasi ginjal dan jantung.1,3,6

3.2 Epidemiologi

Limfoma merupakan penyakit keganasan yang sering ditemukan pada anak, hampir
sepertiga dari keganasan pada anak setelah leukemia dan keganasan susunan syaraf pusat.
Angka kejadian tertinggi pada umur 7-10 tahun dan jarang dijumpai pada usia di bawah 2
tahun. Laki-laki lebih sering bila dibandingkan dengan perempuan dengan perbandingan 2,5:1.
Angka kejadiannya setiap tahun diperkirakan meningkat dan di AS 16,4 persejuta anak di
bawah usia 14 tahun. Angka kejadian limfoma malignum di Indonesia sampai saat ini belum
diketahui dengan pasti.1

3.3 Gambaran Histologik


Anggapan pertama adalah bahwa status diferensiasi limfosit dapat dilihat dari ukuran
dan konfigurasi intinya, sel-sel limfoid yang kecil dan bulat dianggap sebagai sel-sel yang
berdiferensiasi baik, dan sel-sel limfoid kecil yang tidak beraturan bentuknya dianggap sebagai
limfosit yang berdiferensiasi buruk. Anggapan kedua adalah sel-sel limfoid besar dengan inti
vesikular dan mempunyai banyak sitoplasma yang biasanya berwarna pucat dianggap berasal
dari golongan monosit makrofag (histiosit). 1,3,6
Klasifikasi histopatologik sangat komplek dan tumpang tindih dengan klasifikasi yang
lain misalnya klasifikasi imunologik, sitogenetik maupun molekuler sehingga masih

6
membingungkan. Klasifikasi yang banyak dipergunakan adalah dari Rappaport (R), Kiel (K),
Lukes dan Collins, WHO, dan Working Formulation (WF) (tabel II.1).1

Tabel 3.3.1 Klasifikasi histopatologik LNH pada anak.1


Kiel Rappaport Working Formula
High grade High grade
Limfoma Burkitt’s dan Difuse undifferentiated Small non cleaved cell
bentuk lainnya (Burkitt’s & non burkitt’s)
Limfoblastik konvoluted Limfoblastik difus Limfoblastik
Limfoblastik non klasifikasi
Imunoblastik Histositik difus Imunoblastik sel besar
Sentroblastik Intermediate grade
Difus sel besar

Limfoma non Hodgkin pada anak seringkali mempunyai gambaran yang difus dan
dimasukkan dalam 3 kategori gambaran histologik sebagai berikut:
1) Limfoblastik Burkitt’s (K) atau small non cleaved (WF)
2) Limfoblastik (WF) non Burkitt’s (K)
3) Imunoblastik dan sentroblastik (K) atau “large cell” (WF)
Dua kelompok yang pertama paling banyak ditemukan yaitu mencapai 70-90% dari
kasus yang terdiagnosis.
3.3.1 Imunofenotiping1
Dengan pemeriksaan ini akan lebih jauh dapat mengetahui tentang Limfoma Non
Hodgkin, khususnya dengan ditemukannya antibodi monoklonal yang dapat diidentifikasi
adanya antigen permukaan baik pada sel B maupun sel T juga pada tingkat pematangan sel.
Antibodi tersebut digolongkan dalam cluster differentiation (CD).
Dengan pemeriksaan tersebut di atas limfoma non Hodgkin pada anak dapat
dikelompokkan ke dalam 3 kelompok:
1) Proliferasi sel B yang ditandai dengan adanya imunoglobulin monoklonal di
permukaan sel.
2) Proliferasi sel T
3) Proliferasi non T-non B
Pembagian ini nampaknya hampir sama pada LLA.

7
3.3.2 Sitogenetik dan Biologi Molekuler1
Pemeriksaan sitogenetik dan biologi molekuler saat ini sangat berarti dalam membantu
kita mengetahui proses limfoma non Hodgkin lebih mendalam tetapi belum dapat
dipergunakan untuk tindakan terapi. Pada limfoma Burkitt’s sel tumor ditandai oleh adanya
translokasi pada lengan panjang kromosom 8, regio q 23-q 24 t (8;14) (q24;q32), beberapa
versi lainnya t(2;8) (p12;p24) dan t(8;2) (q24;q11).

3.4 Etiologi dan Patogenesis


Penyebab pasti limfoma non Hodgkin tidak diketahui, namun LNH dapat disebabkan
oleh abnomalitas sitogenik, seperti translokasi kromosom dan infeksi virus. Translokasi
kromosom dan perubahan molekular sangat berperan penting dalam patogenesis limfoma, dan
berhubungan dengan histologi dan imunofenotiping. Translokasi t(14;18)(q32;q21) adalah
translokasi kromosomal abnormal yang paling sering dihubungkan dengan LNH. Beberapa
infeksi virus berperan dalam patogenesis LNH, seperti virus Epstein Barr yang merupakan
penyebab paling seringa pada limfoma Burkitt,limfoma pada pasien dengan
imunocompremised dan penyakit Hodgkin.3,6

3.5 Faktor resiko limfoma non Hodgkin


Terdapat beberapa faktor resiko yang diketahui berpengaruh pada LNH, walaupun
demikian, faktor-faktor resiko ini tidak diperhitungkan melebihi bagian kecil dari jumlah
seluruh kasus limfoma non Hodgkin. Pada kebanyakan pasien dengan limfoma non Hodgkin,
tidak ada penyebab penyakit yang dapat ditemukan. Lebih jauh lagi, banyak orang yang
terpapar pada salah satu faktor resiko yang diketahui tidak menderita limfoma non Hodgkin.3
Beberapa faktor resiko tersebut seperti infeksi, imunosupresi,dan faktor lingkungan.

3.5.1 Infeksi sebagai faktor risiko limfoma non Hodgkin


Beberapa infeksi virus telah memperlihatkan adanya hubungan dengan peningkatan
limfoma non Hodgkin. Hal ini mungkin berhubungan dengan kemampuan virus dalam
menginduksi stimulasi antigen kronik dan disregulasi sitokin yang menyebabkan stimulasi,
proliferasi, dan limfomagenesis yang tidak terkontrol dari sel B dan sel T.3Beberapa virus
tersebut antara lain:
 Human immunodeficiency virus (HIV/AIDS)
 Human T cell leukemia-lymphoma virus-1 (HTLV-1)
 Epstein-Barr virus (EBV)

8
Gambar 3.5.1.1 Ilustrasi Virus3

Orang dengan HIV positif lebih mungkin mengidap limfoma non Hodgkin dari pada orang
lainnya. Munculnya limfoma non Hodgkin pada orang dengan HIV positif mengindikasikan
bahwa full-blown AIDS telah terjadi. 3
Meningkatnya risiko kemungkinan terjadi karena penekanan sistim kekebalan yang
disebabkan oleh infeksi HIV. AIDS-yang berhubungan dengan limfoma non Hodgkin
memberikan gambaran tidak seperti umumnya atau timbul disisi yang tidak umum
dibandingkan dengan jenis limfoma non Hodgkin. 3
Virus Epstein-Barr adalah virus yang umum, menyerang kebanyakan orang pada suatu
waktu tertentu dalam masa hidupnya, dan mengakibatkan infeksi singkat atau demam
glandular. Akan tetapi, dalam sejumlah kecil kasus ekstrim, ia dikaitkan dengan Limfoma
Burkitt dan bentuk limfoma non Hodgkin yang berhubungan dengan imunosupresi. 2,3
Human T-cell leukaemia-lymphoma virus-1 (HTLV-1), aslinya berasal dari Jepang dan
Karibia, juga suatu penyebab yang sangat jarang dari limfoma non Hodgkin, terdapat suatu
jarak antara infeksi virus dan timbulnya penyakit. 2,3
Infeksi bakterial lebih jarang dikaitkan dengan limfoma non Hodgkin dibandingkan
dengan infeksi virus. Akan tetapi, infeksi dengan Helicobacter pylori, yang dapat menyebabkan
tukak lambung dan menyerang lambung, dihubungkan dengan bentuk limfoma yang jarang
yang dikenal sebagai limfoma MALT, yang biasanya timbul di lambung. Antibiotik untuk
mengeradikasi infeksi bakteri sering menyembuhkan kondisi ini, jika diberikan cukup dini. 2,3
Gambar 3.5.1.2 Ilustrasi Bakteri3

9
(Infeksi bakterial lebih jarang dikaitkan dengan limfoma non Hodgkin dibandingkan dengan
infeksi virus)5

3.5.2 Imunosupresi sebagai faktor risiko untuk limfoma non Hodgkin


Orang dengan imunosupresi, dimana sistim pertahanannya menurun, menghadapi
peningkatan risiko terserang limfoma non Hodgkin. Hal ini mungkin karena kontrol
multiplikasi sel B tergantung pada fungsi normal sel T. Jika fungsi sel T menjadi abnormal,
seperti pada kasus orang dengan imunosupresi, sel B dapat berlipat ganda melalui suatu cara
yang tidak terkontrol, meningkatkan peluang untuk terserang penyakit ini. 2,3
Salah satu sebab utama imunosupresi adalah obat yang diberikan untuk mencegah
penolakan dari organ yang ditransplantasikan atau transplantasi sumsum tulang. Pasien yang
mendapatkan transplantasi organ mempunyai peningkatan risiko menderita limfoma non
Hodgkin. 2,3

3.6 Perjalanan alamiah penyakit


Limfoma non Hodgkin indolen kadang-kadang dikenal sebagai limfoma non Hodgkin
tumbuh lambat atau level rendah. Sesuai dengan namanya, limfoma non Hodgkin indolen
tumbuh sangat lambat. Secara tipikal ia pada awalnya tidak menimbulkan gejala, dan mereka
sering tetap tidak terdeteksi untuk beberapa saat. Tentunya, mereka sering ditemukan secara
kebetulan, seperti ketika pasien mengunjungi dokter untuk sebab lainnya. Dalam hal ini, dokter
mungkin menemukan pembesaran kelenjar getah bening pada pemeriksaan fisik rutin.
Kadangkala, suatu pemeriksaan, seperti pemeriksaan darah, atau suatu sinar-X, dada, mungkin
menunjukkan sesuatu yang abnormal, kemudian diperiksa lebih lanjut dan ditemukan terjadi
akibat limfoma non Hodgkin. Akan tetapi, beberapa pasien limfoma non Hodgkin indolen
berobat ke dokter karena gejalanya.3
Gejala yang paling sering adalah pembesaran kelenjar getah bening, yang kelihatan
sebagai benjolan, biasanya di leher, ketiak dan lipat paha. Pada saat diagnosis pasien juga
mungkin mempunyai gejala lain dari limfoma non Hodgkin. Limfoma non Hodgkin indolen
tumbuh lambat dan sering tanpa menyebabkan stadium banyak diantaranya sudah dalam
stadium lanjut saat pertama terdiagnosis.3

3.7 Manifestasi Klinik


Limfoma non Hodgkin mempunyai gambaran klinis oleh massa abdominal dan
intrathorakal (massa mediastinum) yang sering kali disertai dengan adanya efusi pleura. Pada
anak yang lebih besar massa mediastinal ini seringkali (25-35%) ditemukan khususnya pada

10
limfoma limfoblastik sel T. Gejala yang menonjol adalah nyeri, disfagia, sesak napas,
pembengkakan daerah leher, muka, dan sekitar leher akibat adanya obstruksi vena cava
superior. Pembengkakan kelenjar limfe (limfadenopati) di sebelah atas diafragma meliputi
leher, supraklavikula atau aksiler, tetapi jarang sekali retroperitoneal. Adanya pembesaran
kelenjar limpa dan hati menunjukkan adanya keterlibatan sumsum tulang dan seringkali pasien
menunjukkan gejala-gejala leukemia limfoblastik akut, jarang sekali melibatkan gejala susunan
saraf pusat, kadang-kadang disertai pembesaran testis.1,2,3
Limfoma limfoblastik merupakan bentuk yang berkembang secara progresif, dengan
gejala yang timbul dalam waktu singkat kurang dari satu bulan. Gambaran laboratorium
biasanya masih dalam batas normal, dengan kadar LDH dan asam urat yang meningkat sebagai
akibat adanya tumor lisis maupun adanya nekrosis jaringan.1
Gejala awal yang dapat dikenali adalah pembesaran kelenjar getah bening di suatu tempat
(misalnya leher atau selangkangan) atau di seluruh tubuh. Kelenjar membesar secara perlahan
dan biasanya tidak menyebabkan nyeri. Kadang pembesaran kelenjar getah bening di tonsil
(amandel) menyebabkan gangguan menelan. Pembesaran kelenjar getah bening jauh di dalam
dada atau perut bisa menekan berbagai organ dan menyebabkan: 1,2,3
-gangguan pernapasan
- berkurangnya nafsu makan
- sembelit berat
- nyeri perut
- pembengkakan tungkai.
Jika limfoma menyebar ke dalam darah bisa terjadi leukemia. Limfoma dan leukemia
memiliki banyak kemiripan. Limfoma non-Hodgkin lebih mungkin menyebar ke sumsum tulang,
saluran pencernaan dan kulit. Pada anak-anak, gejala awalnya adalah masuknya sel-sel limfoma
ke dalam sumsum tulang, darah, kulit, usus, otak dan tulang belakang; bukan pembesaran
kelenjar getah bening. Masuknya sel limfoma ini menyebabkan anemia, ruam kulit dan gejala
neurologis (misalnya kelemahan dan sensasi yang abnormal). Biasanya yang membesar adalah
kelenjar getah bening di dalam, yang menyebabkan:
→ pengumpulan cairan di sekitar paru-paru sehingga timbul sesak napas
→ penekanan usus sehingga terjadi penurunan nafsu makan atau muntah
→ penyumbatan kelenjar getah bening sehingga terjadi penumpukan cairan.
Tabel 3.7.1 Rangkuman Berbagai Gejala1,2,3
Kemungkinan timbulnya
Gejala Penyebab
gejala

11
Gangguan pernapasan Pembesaran kelenjar getah bening
20-30%
Pembengkakan wajah di dada
Hilang nafsu makan
Sembelit berat Pembesaran kelenjar getah bening
30-40%
Nyeri perut atau perut di perut
kembung
Penyumbatan pembuluh getah
Pembengkakan tungkai 10%
bening di selangkangan atau perut
Penurunan berat badan
Diare Penyebaran limfoma ke usus halus 10%>
Malabsorbsi
Pengumpulan cairan di sekitar
Penyumbatan pembuluh getah
paru-paru 20-30%
bening di dalam dada
(efusi pleura)
Daerah kehitaman dan
menebal di kulit yang terasa Penyebaran limfoma ke kulit 10-20%
gatal
Penurunan berat badan
Penyebaran limfoma ke seluruh
Demam 50-60%
tubuh
Keringat di malam hari
Perdarahan ke dalam saluran
pencernaan
Penghancuran sel darah merah
oleh limpa yang membesar &
terlalu aktif
Penghancuran sel darah merah
Anemia
oleh antibodi abnormal (anemia 30%, pada akhirnya bisa
(berkurangnya jumlah sel
hemolitik) mencapai 100%
darah merah)
Penghancuran sumsum tulang
karena penyebaran limfoma
Ketidakmampuan sumsum tulang
untuk menghasilkan sejumlah sel
darah merah karena obat atau
terapi penyinaran
Penyebaran ke sumsum tulang dan
kelenjar getah bening,
Mudah terinfeksi oleh bakteri 20-30%
menyebabkan berkurangnya
pembentukan antibodi

3.8 Stadium Limfoma Non Hodgkin

12
Penentuan stadium sangat penting untuk diagnosis, adanya keterlibatan beberapa jaringan
limfoid serta implikasinya pada pengobatan. Penentuan stadium yang paling banyak digunakan
adalah dari St. Jude Childrens Research Hospital (Tabel II.2).1

Tabel 3.8.1 Skema Stadium LNH dari St.Jude Childrens Research Hospital.1
I Tumor tunggal ekstranodal atau tumor di daerah tunggal nodal, kecuali di
daerah mediastinum atau abdomen
II Tumor tunggal (ekstranodal) dengan keterlibatan kelenjar regional pada satu
sisi diafragma pada dua atau lebih area nodul
Dua tumor (ekstranodal) dengan atau tanpa keterlibatan kelenjar regional
Tumor lebih dari satu, tetapi masih satu sisi dengan diafragma
Tumor primer pada gastrointestinal (ileosaekal) dengan atau tanpa
keterlibatan kelenjar mesenterium
III Tumor lebih dari dua (ekstranodal) pada kedua sisi diafragma
Tumor dua atau lebih pada satu sisi diafragma
Tumor primer di daerah intrathorakal (mediastinal, pleura, timus)
Tumor meluas pada intraabdominal yang tidak dapat direseksi
Tumor pada paraspinal atau epidural
IV Tumor meluas dan penyebaran ke sumsum tulang atau susunan saraf pusat

3.9 Diagnosis
Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik sangat penting, diagnosis ditegakkan dengan
biopsi, pemeriksaan sitologis cairan efusi maupun aspirasi sumsum tulang, bila dimungkinkan
dengan pemeriksaan imunologik dan sitogenik untuk membedakan antara sel B atau sel T.
Kriteria untuk masing-masing kelompok tersebut adalah:1
a) Limfoblastik sel B ditandai oleh:
 Ditemukannya imunoglobulin monoklonal sel B pada permukaan sel dan pertanda
sel B lainnya misalnya: CD 19-24
 Translokasi (8;14), t(2;8), atau t(8;22)
 Gambaran histologis: Burkitt’s dan B limfoblastik (K) atau undifferentiated atau
small non cleaved (W)
 Gambaran L3 pada klasifikasi F AB
 Primernya ada di intra abdominal

13
b) Limfoblastik sel T ditandai oleh:
 Petanda sel T positif (misal CD 3, 5-8)
 Gambaran histologi: limfoblastik
 Gambaran L1 atau L2 pada klasifikasi FAB
 Reaksi positif dengan asam fosfat
 Primer pada kelenjar timus
Pemeriksaan lain yang diperlukan adalah pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan
fungsi hati dan funsi ginjal, cairan serebrospinal, asam urat, LDH, USG abdomen, bone scan.

3.10 Tata Laksana

Limfoma non Hodgkin khususnya limfoma limfoblastik sel T seringkali disertai dengan
berbagai komplikasi, untuk itu dibutuhkan pengelolaan secepatnya. Sebelum pengobatan
dengan kemoterapi harus diperhatikan terlebih dahulu problem jalan napas, pembuluh darah
dan gangguan metabolik yang ada.1
Pemberian alopurinol, hidrasi yang cukup, dan alkalinisasi urin perlu segera diberikan
pada pasien dengan tumor yang cukup luas untuk mencegah terjadinya nefropati akibat lisis
tumor yang seringkali terjadi pada limfoma limfoblastik sel T.1 Terapi yang dilakukan biasanya
melalui pendekatan multidisiplin.Terapi yang dapat dilakukan adalah:2,3
1. Derajat Keganasan Rendah (DKR)/indolen:
Pada prinsipnya simtomatik:
- Kemoterapi: obat tunggal atau ganda (per oral), jika dianggap perlu: COP
(Cyclophosphamide, Oncovin, dan Prednisone)
- Radioterapi: LNH sangat radiosensitif. Radioterapi ini dapat dilakukan untuk
lokal dan paliatif.
Radioterapi: Low Dose TOI + Involved Field Radiotherapy
2. Derajat Keganasan Menengah (DKM) / agresif limfoma:
-Stadium I: Kemoterapi (CHOP/CHVMP/BU) + radioterapi CHOP
(Cyclophosphamide, Hydroxydouhomycin,Oncovin, Prednisone)
- Stadium II - IV: kemoterapi parenteral kombinasi, radioterapi berperan untuk
tujuan paliasi.
3. Derajat Keganasan Tinggi (DKT)
DKT Limfoblastik (LNH-Limfoblastik)
- Selalu diberikan pengobatan seperti Leukemia Limfoblastik Akut (LLA)
- Re-evaluasi hasil pengobatan dilakukan pada:

14
a. Setelah siklus kemoterapi keempat
b. Setelah siklus pengobatan lengkap

Pasien dengan limfoma non Hodgkin agresif dapat didiagnosis pada stadium dini
(stadium I atau II). Ini disebabkan karena mereka umumnya menyadari pertumbuhan yang
cepat dari kelenjar getah bening yang terkena dan karenanya mengunjungi dokter dan cepat
dirujuk untuk pengobatan oleh dokter spesialis.5
Pengobatan yang biasa diberikan untuk pasien dengan limfoma non Hodgkin agresif
stadium dini adalah beberapa jadwal kemoterapi, kombinasi, dengan lebih dari satu obat
kemoterapi yang diberikan, biasanya bersama dengan steroid, seperti prednisolon (contohnya,
CHOP). Di kebanyakan negara, diberikan antibodi monoklonal rituximab dalam kombinasi
dengan kemoterapi CHOP sebagai terapi standar. Antibodi monoklonal meningkatkan
efektivitas pengobatan bermakna, tanpa meningkatkan efek samping.2,3,6
Radioterapi terkadang diberikan setelah kemoterapi. Jarang kedua pengobatan diberikan
pada saat yang sama. Radioterapi ditujukan secara spesifik terhadap kelenjar getah bening yang
terkena. Pengobatan stadium dini (stadium I dan II) limfoma non Hodgkin agresif dapat
mencapai kesembuhan atau remisi pada sekitar 80% pasien. Beberapa pasien tidak memberikan
respon terhadap terapi standar. Pada pasien-pasien ini, dan pada mereka yang mengalami
kekambuhan, diperlukan pengobatan lebih lanjut. 2,3,6
Pasien yang didiagnosis dengan limfoma non Hodgkin agresif pada stadium lanjut
(stadium III atau IV) diberi kemoterapi kombinasi dengan ataupun tanpa antibodi monoklonal.
Meski demikian, kemoterapi kadang-kadang diberikan lebih lama daripada pada penyakit
stadium awal dan mungkin juga diberikan radioterapi. Secara keseluruhan, antara 40% dan
70% pasien dengan limfoma non Hodgkin agresif dapat disembuhkan dengan pengobatan
pertama. 2,3,6

Kemoterapi adalah penggunaan obat antikanker yang dirancang untuk memperlambat


atau menghentikan pertumbuhan cepat membagi sel kanker dalam tubuh. Ini dapat digunakan:
• Sebagai pengobatan utama untuk menghancurkan sel-sel kanker
• Sebelum pengobatan lain untuk mengecilkan tumor
• Setelah pengobatan lain untuk menghancurkan sel-sel kanker yang tersisa
• Untuk meringankan gejala kanker stadium lanjut

15
3.10.1.Mengelola efek samping kemoterapi
Sementara kemoterapi menargetkan sel-sel kanker, juga dapat merusak sel-sel sehat dan
menyebabkan efek samping yang tidak menyenangkan, seperti mual, muntah, rambut rontok,
kelelahan dan luka mulut. Tim asuhan khusus Anda akan menyediakan berbagai layanan
onkologi integratif untuk membantu Anda mencegah atau mengelola efek samping seluruh
pengobatan kemoterapi Anda.
• Immunochemotherapy
• kemoterapi intratekal

Immunochemotherapy untuk limfoma non-Hodgkin


Immunochemotherapy (juga disebut chemoimmunotherapy) menggabungkan dua perlakuan
yang kuat: imunoterapi dan kemoterapi. Kanker imunoterapi adalah penggunaan agen tertentu
yang merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menyerang dan menghancurkan sel-sel kanker.
Kemoterapi adalah penggunaan obat-obatan yang dirancang untuk menghancurkan atau
memperlambat pertumbuhan sel kanker. Sebuah rejimen immunochemotherapy umum untuk
NHL adalah CHOP-R, yang merupakan kombinasi dari rezim kemoterapi CHOP dan rituximab
antibodi monoklonal.

Jenis-jenis imunoterapi meliputi:


• Antibodi monoklonal: Ini adalah versi buatan manusia protein sistem kekebalan tubuh.
Antibodi dapat berguna dalam mengobati kanker karena mereka dapat dirancang untuk
menyerang bagian yang sangat spesifik dari sel kanker.
• Vaksin Kanker: Vaksin adalah zat yang dirancang untuk memicu respon imun dalam tubuh
terhadap penyakit tertentu.
• Immunoterapi Non-spesifik: Pengobatan ini merangsang sistem kekebalan tubuh secara
umum untuk meningkatkan aktivitas melawan sel kanker. Beberapa contoh termasuk versi
buatan manusia sitokin, zat kimia dalam sel-sel kekebalan, seperti interleukin dan interferon.
Pengetahuan baru tentang bagaimana sistem kekebalan tubuh bekerja membantu panduan
bagaimana kita menggunakan imunoterapi untuk mengobati kanker.

Kemoterapi intratekal untuk limfoma non-Hodgkin


Kemoterapi intratekal adalah perawatan yang sangat bertarget diberikan langsung ke dalam
cairan cerebrospinal (cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang) untuk
mencapai sel-sel kanker pada sistem saraf pusat. Hal ini disampaikan melalui pungsi lumbal

16
(juga disebut spinal tap), atau perangkat khusus ditempatkan di bawah kulit kepala.
Dengan menyuntikkan obat langsung ke dalam cairan cerebrospinal, kemoterapi intratekal
membantu sel target limfoma yang sudah menyebar ke sistem saraf pusat.

Kemoterapi untuk limfoma non-Hodgkin


Kemoterapi dapat digunakan untuk melawan segala bentuk limfoma non-Hodgkin, termasuk
bentuk-bentuk agresif dan non-agresif, dan juga dapat digunakan untuk membantu mencegah
penyakit dari berulang. Kemoterapi untuk NHL sering terdiri dari pemberian beberapa obat
bersama dalam rejimen set. Bentuk yang umum digunakan khusus untuk mengobati menyebar
limfoma sel-B besar adalah kemoterapi CHOP, yang merupakan kombinasi dari empat obat
kemoterapi.
Tergantung pada rejimen, kemoterapi dapat diberikan dalam bentuk pil, sebagai suntikan, atau
intravena. Anda mungkin menerima kemoterapi saja, atau dalam kombinasi dengan perawatan
NHL lain, seperti immunotherapy dan terapi radiasi.

Potensi efek samping dari kemoterapi untuk NHL


Sementara kemoterapi menghancurkan cepat membagi sel-sel kanker, juga dapat
mempengaruhi tumbuh cepat sel-sel normal, seperti di rambut, mulut, saluran pencernaan dan
sumsum tulang. Kemoterapi untuk NHL juga sementara mengganggu kemampuan sumsum
tulang untuk memproduksi jumlah yang memadai sel darah, sehingga berbagai efek samping.
Tergantung pada jenis obat yang diberikan dan respon individu Anda, beberapa efek samping
yang umum dari kemoterapi untuk NHL meliputi:
• Kardiotoksisitas (kerusakan otot jantung)
• Anemia (darah merah jumlah sel)
• Neutropenia (jumlah sel darah putih rendah)
• Mual / muntah
• perubahan Taste
• Diare
• Kelelahan
• Neuropati (nyeri, mati rasa atau kesemutan di tangan dan kaki)
• luka Mulut
• Rambut rontok
• Disfungsi Seksual

17
Terapi antibodi monoklonal untuk limfoma non-Hodgkin
Untuk menemukan terapi antibodi monoklonal yang tepat untuk Anda, dokter Anda terlebih
dahulu akan mengambil sampel dari sel-sel tumor dan proses mereka untuk mendeteksi antigen
yang unik pada permukaan sel. CD20 adalah target yang biasa hadir pada sel-sel tumor pasien
dengan limfoma sel-B. Dalam hal ini, kita menggunakan antibodi anti-CD20 untuk
melampirkan antigen dan memprovokasi respon antibodi untuk menghancurkan kanker.
Antibodi monoklonal dapat digunakan sendiri untuk menghancurkan sel-sel limfoma, atau
mereka mungkin menempel pada obat kemoterapi untuk memberikan konsentrasi tinggi obat
langsung ke sel-sel tumor. Antibodi monoklonal juga dapat digunakan untuk membawa zat
radioaktif ke sel-sel kanker dalam tubuh untuk menentukan lokasi metastasis..

Radioimmunotherapy untuk limfoma non-Hodgkin


Sebuah terapi yang ditargetkan obat, radioimmunotherapy (RIT) menggabungkan terapi radiasi
dan imunoterapi. Ia bekerja dengan melampirkan molekul radioaktif, yang disebut radioisotop
(misalnya, yttrium-90), untuk monoclonal antibodi (misalnya, antibodi anti-CD20) untuk
menargetkan dan menghancurkan sel-sel kanker. Dengan memberikan radiasi langsung ke sel-
sel tumor, pengobatan NHL ini membantu efek toksik batas jaringan normal.

Radioimmunotherapy untuk limfoma non-Hodgkin


Radioimmunotherapy mungkin menjadi pilihan bagi pasien NHL dengan limfoma sel-B,
khususnya mereka dengan NHL kambuh (kembali penyakit setelah pengobatan) atau NHL
refraktori (penyakit tidak merespon terhadap pengobatan). Sebuah radioimmunotherapy umum
untuk pasien NHL adalah Zevalin® (ibritumomab tiuxetan), yang diberikan melalui suntikan
intravena.
Radioimmunotherapy menawarkan keuntungan sebagai berikut untuk pasien NHL:
• Sasaran antibodi radioterapi CD20-diarahkan, dan kemudian memberikan radiasi langsung
ke, sel-sel ganas.
• Dengan menargetkan radiasi langsung ke sel-sel kanker, radioimmunotherapy meminimalkan
efek samping yang berhubungan dengan sebagian besar rejimen kemoterapi dosis tinggi.
• Radioimmunotherapy biasanya disampaikan selama periode waktu yang lebih singkat (tujuh
sampai sembilan hari), dibandingkan dengan beberapa bulan dengan kemoterapi standar.
Membantu Anda mempertahankan kualitas hidup Anda
Efek samping dari radioimmunotherapy untuk limfoma non-Hodgkin tergantung pada beberapa

18
faktor, termasuk apakah Anda memiliki kemoterapi dan / atau terapi radiasi sebelum menerima
radioimmunotherapy.
Efek samping yang paling umum dari radioimmunotherapy adalah sementara penurunan
jumlah darah yang disebabkan oleh radiasi ke sumsum tulang. Penurunan jumlah sel darah
dapat menyebabkan neutropenia atau anemia. Efek terkait pengobatan lainnya samping dapat
termasuk kelelahan, mual, kelemahan, diare dan / atau ruam kulit.
Kami menyediakan berbagai layanan onkologi integratif untuk mengurangi efek samping ini
dan membuat Anda kuat sepanjang pengobatan NHL Anda. Terapi seperti terapi nutrisi,
pengobatan naturopati, manajemen nyeri, obat pikiran-tubuh dan rehabilitasi onkologi dapat
membantu menjaga Anda nutrisi yang diperkaya, meningkatkan energi dan meningkatkan
keseluruhan kesejahteraan saat ini.

Imunoterapi / terapi obat yang ditargetkan untuk limfoma non-Hodgkin


Sering kali, imunoterapi dan / atau terapi obat yang ditargetkan digunakan dalam kombinasi
dengan perawatan NHL lain, seperti kemoterapi. Kami akan bekerja dengan Anda untuk
mengembangkan rencana perawatan terpadu yang disesuaikan dengan kebutuhan unik Anda
dan preferensi pribadi. Salah satu contoh dari target terapi / imunoterapi untuk pasien NHL
adalah Zevalin®.
Membantu Anda mempertahankan kualitas hidup Anda
Kadang-kadang, imunoterapi dan / atau terapi obat yang ditargetkan untuk limfoma non-
Hodgkin menyebabkan efek samping yang dapat mengganggu kemampuan Anda untuk
berpartisipasi dalam aktivitas yang Anda nikmati. Sebagai contoh, Anda mungkin mengalami
penurunan jumlah sel darah, yang dapat menyebabkan kelelahan atau risiko infeksi. Potensi
efek samping lain dari imunoterapi mungkin termasuk: demam, menggigil, sakit kepala, ruam,
mual dan sesak napas.
Sepanjang pengobatan NHL Anda, kami akan memberikan layanan onkologi integratif,
termasuk terapi nutrisi, pengobatan naturopati, manajemen nyeri, rehabilitasi onkologi dan
dukungan spiritual. Terapi ini dapat membantu mengurangi efek samping terkait pengobatan
dan membuat Anda kuat dalam tubuh, pikiran dan jiwa.

Terapi radiasi untuk limfoma non-Hodgkin


Terapi radiasi menggunakan energi yang ditargetkan (misalnya, sinar-X, zat radioaktif) untuk
menghancurkan sel-sel kanker, mengecilkan tumor, dan / atau mengurangi gejala terkait kanker

19
tertentu. Ini dapat digunakan:
• Sebagai pengobatan utama untuk menghancurkan sel-sel kanker
• Dalam kombinasi dengan perawatan lain untuk menghentikan pertumbuhan sel kanker
• Sebelum pengobatan lain untuk mengecilkan tumor
• Setelah pengobatan lain untuk menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker yang tersisa
• Untuk meringankan gejala kanker stadium lanjut

Beberapa metode penyampaian terapi radiasi meliputi:


• Eksternal radiasi sinar terapi - radiasi diarahkan dari mesin di luar tubuh ke sel-sel kanker
dalam tubuh. (Contoh: 3D terapi radiasi konformal, IMRT, IGRT, TomoTherapy, radiosurgery
stereotactic)
• Terapi radiasi internal - bahan radioaktif ditempatkan (melalui kateter atau operator lain)
langsung ke dalam atau dekat tumor. (Contoh: dosis tinggi tingkat brachytherapy)
• terapi radiasi sistemik - zat radioaktif (yang ditelan atau disuntikkan) bergerak melalui darah
untuk mencari dan menghancurkan sel-sel kanker. (Contoh: terapi yodium radioaktif)

Transplantasi sel induk untuk limfoma non-Hodgkin


Transplantasi sel induk (juga disebut hematopoietik nenek moyang Sel Transplantasi)
menanamkan sel-sel induk pembentuk darah yang sehat ke dalam tubuh. Sel induk dapat
dikumpulkan dari sumsum tulang, beredar (perifer) darah, dan darah tali pusat.
Ada dua jenis utama dari transplantasi sel induk:
• transplantasi sel induk autologus: Dalam hal ini jenis transplantasi sel induk, sel induk
dikumpulkan dari pasien sendiri. Sel-sel induk dikeluarkan dari darah pasien, dipanen,
dibekukan dan disimpan sampai dibutuhkan, kemudian diberikan kembali ke pasien setelah ia /
dia telah menerima kemoterapi dosis tinggi dan / atau terapi radiasi untuk menghancurkan sel-
sel kanker.
• transplantasi sel induk Allogeneic: Dalam jenis transplantasi sel punca yang diambil dari
donor yang cocok. Donor mungkin termasuk anggota relatif / keluarga (misalnya, saudara),
individu yang tidak terkait, atau disimpan darah tali pusat. Untuk menentukan apakah sel induk
donor adalah orang yang tepat, pasien mengalami antigen leukosit manusia (HLA) tes. Dalam
tes HLA, kita membandingkan darah dan jaringan jenis pasien dengan sampel darah dari
donor.
Keuntungan dari transplantasi alogenik adalah bahwa sel-sel induk berasal dari donor yang
sehat tanpa sel-sel ganas. Namun, karena bisa sulit untuk menemukan donor yang cocok,
transplantasi autologus biasanya lebih umum.
Sebelum transplantasi sel induk untuk limfoma non-Hodgkin, Anda akan menjalani rejimen
pendingin, yang melibatkan perawatan intensif, seperti kemoterapi dosis tinggi, untuk
menghancurkan sel-sel kanker sebanyak mungkin. Setelah rezim preparatif ini, Anda akan
menerima sel-sel induk intravena (mirip dengan transfusi darah). Prosedur ini memakan waktu

20
sekitar satu jam. Setelah memasuki aliran darah, sel-sel induk perjalanan ke sumsum tulang
dan mulai menghasilkan sel-sel darah baru yang sehat dalam proses yang dikenal sebagai
engraftment.
Kadang-kadang, dosis tinggi kemoterapi atau radiasi yang Anda terima sebelum transplantasi
sel induk menyebabkan efek samping, seperti infeksi. Transplantasi sel induk alogenik
menimbulkan risiko graft-versus-host-penyakit (GVHD), suatu kondisi di mana sel-sel
disumbangkan menyerang jaringan pasien. Dokter mungkin meresepkan obat tertentu untuk
mengurangi risiko infeksi atau GVHD.

Tabel Kemoterapi Kobinasi untuk Limfoma Agresif (CHOP)*

Obat Dosis (mg/m2) Rute Hari

Siklofosfamid 750 IV 1

Doksorubisin 50 IV 1

Vinkristin 1,4 IV 1

Prednison 100 PO 1-5

*siklus bis diulang setiap 21 hari


*Rituximab 375 mg/m² pada hari pertama biasa ditambahkan ( R-CHOP)

3.11 Prognosis
Banyak pasien yang dapat mencapai respons sempurna, sebagian diantaranya dengan limfoma
sel besar difus, dapat berada dalam keadaan bebas gejala dalam periode waktu yang lama dan
dapat pula disembuhkan. Pemberian regimen kombinasi kemoterapi agresif berisi doksorubisin
mempunyai respons sempurna yang tinggi berkisar 40-80%.2,6

21
BAB IV
PENYAKIT HODGKIN

Sampai saat ini masih belum diketahui dengan jelas etiologi maupun patologi penyakit
Hodgkin, namun diakui bahwa banyak di antara anak dengan penyakit Hodgkin yang mampu
bertahan hidup dalam beberapa tahun. Masih banyak kontroversi tentang tumor yang seringkali
terjadi pada limfoma limfoblastik sel T.1

4.1 Definisi
Penyakit Hodgkin adalah kanker yang berawal dari sel-sel sistem imun. Penyakit Hodgkin
berawal saat sel limfosit yang biasanya adalah sel B (sel T sangat jarang) menjadi abnormal.
Sel limfosit yang abnormal tersebut dinamakan sel Reed Sternberg.7
Sel Reed Sternberg tersebut membelah untuk memperbanyak dirinya. Sel Reed Sternberg
yang terus membelah membentuk begitu banyak sel limfosit abnormal. Sel-sel abnormal ini
tidak mati saat waktunya tiba dan mereka juga tidak melindungi tubuh dari infeksi maupun
penyakit lainnya. Pembelahan sel abnormal yang terus menerus ini menyebabkan terbentuknya
massa dari jaringan yang disebut tumor. 7
Jaringan limfatik banyak terdapat dalam banyak bagian tubuh, sehingga penyakit
Hodgkin dapat berawal dari mana saja. Biasanya penyakit Hodgkin pertama kali ditemukan
pada nodus limfatikus di atas diafragma, pada otot tipis yang memisahkan rongga thoraks dan
rongga abdomen. Tetapi penyakit Hodgkin mungkin juga dapat ditemukan di kumpulan nodus
limfatikus.

4.2 Epidemiologi1
Angka kejadian penyakit Hodgkin mempunyai kurva bimodal yang khas baik pada laki-laki
maupun pada perempuan, dengan salah satu puncaknya pada usia 15-30 tahun yang diikuti
dengan puncak lainnya pada usia 45-55 tahun.
Di negara-negara industri umur puncak pertama dicapai pada umur 20 tahun dan puncak
kedua pada umur 50 tahun. Sementara di negara sedang berkembang seperti Indonesia, umur
puncak terjadi pada umur sebelum remaja.
Studi epidemiologi menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan bentuk dari penyakit
Hodgkin, karakteristik ini mungkin menunjukkan adanya perbedaan kausa yang mendasarinya:

1) Bentuk yang ditemukan pada masa kanak-kanak, banyak ditemukan pada usia 14
tahun atau lebih muda

22
2) Bentuk dewasa muda yang ditemukan pada umur 15 sampai 34 tahun
3) Bentuk dewasa yang ditemukan pada usia 55-74 tahun
Secara umum dikatakan bahwa laki-laki lebih banyak bila dibandingkan dengan perempuan.

4.3 Faktor Risiko


Beberapa penelitian menunjukkan faktor-faktor tertentu yang dapat meningkatkan
kemungkinan seseorang dapat mengidap penyakit Hodgkin’s: 7
1) Virus tertentu
Terinfeksi virus Epstein Barr (EBV) atau human immunodeficiency virus (HIV) dapat
meningkatkan risiko penyakit Hodgkin. Bagaimanapun juga, limfoma tidak menular,
sehingga tidak mungkin mendapatkan limfoma dari orang lain.
2) Sistem imun lemah
Risiko mengidap penyakit Hodgkin meningkat dengan sistem imun yang lemah
(seperti keadaan sedang mengkonsumsi obat-obatan penekan imun pasca transplantasi
organ).
3) Usia
Penyakit Hodgkin umumnya terdapat pada usia remaja dan dewasa muda berumur 15-
35 tahun, juga pada dewasa berumur ≥ 50 tahun.
4) Riwayat keluarga
Anggota keluarga khususnya kakak atau adik dari seseorang dengan penyakit Hodgkin
atau limfoma lainnya, dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengidap
penyakit Hodgkin.

4.4 Gambaran Patologik dan Klasifikasi


Ketepatan diagnosis hanya mungkin dilakukan dengan pemeriksaan patologi yang benar, bahan
pemeriksaan yang berasal dari biopsi jarum dan irisan beku segar pada jaringan kurang dapat
menggambarkan struktur dan stroma sel secara baik. Untuk itu dibutuhkan pemeriksaan
jaringan limfonodi secara mikroskopis dan ditemukan adanya sel Reed Sternberg yang spesifik.
Sel Reed Sternberg merupakan sel limfoid yang besar dengan banyak nukleus yang
mengelilingi nuklei sehingga memberikan gambaran seperti halo.1 Sel Reed Sternberg secara
konsisten menghasilkan antigen CD15 dan CD30. CD15 adalah marker dari sel granulosit,
monosit, dan sel T teraktifasi yang normalnya tidak dihasilkan oleh garis keturunan sel B.
CD30 adalah marker dari aktifasi limfosit yang dihasilkan oleh sel limfosit reaktif dan
malignan dan pada awalnya diidentifikasi sebagai antigen permukaan sel-sel Reed Sternberg.

23
Klasifikasi patologi yang diterima secara umum adalah klasifikasi dari Rye yang
membagi penyakit Hodgkin menjadi 4 subtipe:1
1) Limfositik predominan/LP
2) Sel campur/MC
3) Deplesi limfositik/LD
4) Nodul sklerosis/NS
Prognosis dari tiga yang pertama berhubungan dengan perbandingan antara sel limfosit
abnormal dengan sel normal.1

Penyakit Hodgkin merupakan suatu tumor ganas yang berhubungan erat dengan limfoma
malignum. Oleh karena itu untuk membahas mengenai patologi dari penyakit Hodgkin ada
baiknya kita mengetahui tentang klasifikasi dari penyakit-penyakit tersebut.
Klasifikasi patologis yang sering dipakai sekarang ini adalah menurut Lukas dan Butler
sesuai keputusan simposium penyakit Hodgkin dan Ann Arbor. Menurut klasifikasi ini
penyakit Hodgkin dibagi menjadi 4 tipe, yaitu: 7

1. Tipe Lymphocyte Predominant


Pada tipe ini gambaran patologis kelenjar getah bening terutama terdiri dari sel-sel
limfosit yang dewasa, beberapa sel Reed Sternberg. Biasanya didapatkan pada anak
muda. Prognosisnya baik.

2. Tipe Mixed Cellularity


Mempunyai gambaran patologis yang pleimorfik dengan sel plasma, eosinofil, neutrofil,
limfosit dan banyak didapatkan sel Reed Sternberg. Dan merupakan penyakit yang luas
dan mengenai organ ekstra nodul. Sering pula disertai gejala sistemik seperti demam,
berat badan menurun dan berkeringat. Prognosisnya lebih buruk.

3. Tipe Lymphocyte Depleted


Gambaran patologis mirip diffuse histiocytic lymphoma, sel Reed Sternberg banyak
sekali dan hanya ada sedikit sel jenis lain. Biasanya pada orang tua dan cenderung
merupakan proses yang luas (agresif) dengan gejala sistemik. Prognosis buruk.

4. Tipe Nodular Sclerosis


Kelenjar mengandung nodul-nodul yang dipisahkan oleh serat kolagen. Sering
dilaporkan sel Reed Sternberg yang atipik yang disebut sel Hodgkin. Sering didapatkan
pada wanita muda/remaja. Sering menyerang kelenjar mediastinum.

24
Namun ada bentuk-bentuk yang tumpang tindih (campuran), misalnya golongan
Nodular Sclerosis (NS) ada yang limfositnya banyak (Lymphocyte Predominant NS=LP-
NS), ada yang limfositnya sedikit (Lymphocyte-Depleted NS=LD-NS) dan sebagainya.
Demikian pula golongan Mixed Cellularity (MC), ada yang limfositnya banyak (LP-
MC), ada yang sedikit (LD-MC). Penyakit ini mula-mula terlokalisasi pada daerah
limfonodus perifer tunggal dan perkembangan selanjutnya dengan penjalaran di dalam
sistem limfatik. Mungkin bahwa sel Reed Sternberg yang khas dan sel lebih kecil,
abnormal, bersifat neoplastik dan mungkin bahwa sel radang yang terdapat bersamaan
menunjukkan respon hipersensitivitas untuk hospes. Setelah tersimpan dalam limfonodus
untuk jangka waktu yang bervariasi, perkembangan alamiah penyakit ini adalah
menyebar ke jaringan non limfatik.7
Berdasarkan klasifikasi dari WHO penyakit Hodgkin dibagi menjadi 5 tipe, 4 tipe
merupakan tipe-tipe seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, keempat tipe ini sering
disebut sebagai penyakit Hodgkin klasik, sedangkan tipe ke-5 adalah nodular lymphocyte
predominant Hodgkin’s disease (NLPHD).

5. Tipe Nodular lymphocyte predominant Hodgkin disease (NLPHD)


Nodular lymphocyte predominant Hodgkin disease (NLPHD) menyumbang 5% dari
kasus penyakit Hodgkin. Berbeda dengan subtipe histologis lain, sel Reed Sternberg yang
khas jarang atau bahkan tidak ada pada NLPHD. Sebaliknya yang paling banyak justru
adalah sel limfositik atau histiositik (L&H), atau yang sering disebut “sel popcorn”
karena inti mereka yang berbentuk menyerupai jagung meledak, yang terlihat sebagai
latar belakang sel-sel inflamasi, terutama sel limfosit yang jinak. Tidak seperti sel Reed
Sternberg, sel L&H positif untuk antigen sel B, seperti CD19 dan CD20, dan negatif
untuk CD15 dan CD30. 7

4.5 Manifestasi Klinik


Pembesaran kelenjar limfe daerah servikal dan supraklavikular yang hilang timbul dan tidak
menimbulkan rasa nyeri (asimtomatik). Pada 80% anak dengan penyakit Hodgkin pembesaran
kelenjar leher yang menonjol, 60% diantaranya juga disertai pembesaran massa di mediastinal
yang akan menimbulkan gejala kompresi pada trakea dan bronkus. Pembesaran kelenjar juga
ditemukan di daerah inguinal, aksiler, dan supra diafragma meskipun jarang. Gejala konstitusi
yang menyertai diantaranya adalah demam, keringat malam hari, dan penurunan berat badan
yang tidak dapat dijelaskan, ditemukan pada 40% pasien, sedangkan demam intermittent
diobservasi pada 35% kasus.1

25
Gambaran laboratorium pada umumnya tidak spesifik, diantaranya adalah leukositosis,
limfopenia, eosinofilia, dan monositosis. Gambaran laboratorium ini merupakan refleksi dari
aktifitas yang meningkat di sistem retikuloendotelial (misalnya meningkatnya laju endap darah,
kadar serum feritin, dan kadar serum tembaga) dipergunakan untuk mengevaluasi perjalanan
penyakit setelah terdiagnosis. Anemia yang timbul merupakan deplesi dari imobilisasi zat besi
yang terhambat ini menunjukkan adanya penyakit yang telah meluas. Anemia hemolitik pada
penyakit Hodgkin menggambarkan tes Coomb positif menunjukkan adanya retikulosis dan
normoblastik hiperplasia dari sumsum tulang.1

4.6 Stadium Penyakit Hodgkin


Pada penyakit ini dibedakan 2 macam staging:5
 Clinical staging
Staging dilakukan secara klinis saja tentang ada tidaknya kelainan organ tubuh.
 Pathological staging
Penentuan stadium juga didukung dengan adanya kelainan histopatologis pada jaringan
yang abnormal. Pathological staging ini dinyatakan pula pada hasil biopsi organ, yaitu:
hepar, paru, sumsum tulang, kelenjar, limpa, pleura, tulang, kulit.
Staging yang dianut saat ini adalah staging menurut Ann Arbor yang di modifikasi sesuai
konferensi Cotswald.

Tabel 4.6.1 Staging menurut system Ann Arbor modifikasi Costwald.1,5

Stage I : Penyakit menyerang satu regio kelenjar getah bening atau satu struktur

limfoid (misal: limpa, timus, cincin Waldeyer).

Stage II : Penyakit menyerang dua atau lebih regio kelenjar pada satu sisi

diafragma, jumlah regio yang diserang dinyatakan dengan subskrip

angka, misal: II2, II3, dsb.

Stage III : Penyakit menyerang regio atau struktur limfoid di atas dan di bawah

diafragma.

III1 : menyerang kelenjar splenikus hiler, seliakal, dan portal

III2 : menyerang kelenjar para-aortal, mesenterial dan iliakal.

26
Stage IV : Penyakit menyerang organ-organ ekstra nodul, kecuali yang

tergolong E (E: bila primer menyerang satu organ ekstra nodal).

Gambar 4.6.2 Penentuan stadium penyakit Hodgkin.5

Penentuan stadium ini menggunakan klasifikasi AnnArbor yang berdasarkan anatomis.1


Tabel II.4.Staging menurut Ann Arbor berdasarkan anatomis.1
I Pembesaran kelenjar limfe regional tunggal atau pembesaran organ ekstra limfatik
tunggal atau sesisi.
II Pembesaran kelenjar limfe regional dua atau lebih yang masih sesisi dengan
diafragma atau pembesaran organ ekstralimfatik satu sisi atau lebih yang masih
sesisi dengan diafragma
III Pembesaran kelenjar limfe pada kedua sisi diafragma disertai dengan pembesaran
limpa atau pembesaran organ ekstra limfatik sesisi atau kedua sisi
IV Pembesaran organ ekstra limfatik dengan atau tanpa pembesaran kelenjar limfe

4.7 Diagnosis
Untuk membuat diagnosis penyakit Hodgkin pada anak dibutuhkan beberapa tahap
pemeriksaan diantaranya adalah:1
a. Pemeriksaan fisik ditemukan adanya pembesaran kelenjar limfe dengan berbagai
ukuran.

27
b. Pemeriksaan darah lengkap dengan hitung jenis sel, laju endap darah, tes fungsi hati
dan ginjal, kelenjar alkali fosfatase.
c. Biopsi kelenjar limfe
d. Foto polos dada maupun scanning
e. Scanning abdomen dan pelvis atau MRI
f. Limfogram
g. Laparatomi
h. Aspirasi sumsum tulang
i. Scanning tulang
Tidak semua tahap pemeriksaan dikerjakan untuk membuat diagnosis penyakit Hodgkin
pada anak tergantung dari kasus serta fasilitas yang ada.

1. Klinis (anamnesis)
Keluhan penderita terbanyak adalah pembesaran kelenjar getah bening di leher, aksila ataupun
lipatan paha, berat badan semakin menurun dan kadang-kadang disertai demam, keringat dan
gatal. 6,7

2. Pemeriksaan Fisik
Palpasi pembesaran kelenjar getah bening yang tidak nyeri dapat ditemukan di leher terutama
supraklavikular (60-80%), aksiler (6-20%), dan yang paling jarang adalah di daerah inguinal
(6-20%) dengan konsistensi kenyal sepert karet. Mungkin lien dan hati teraba membesar.
Pemeriksaan THT perlu dilakukan untuk menentukan kemungkinan cincin Waldeyer ikut
terlibat. Sindrom vena cava superior mungkin didapatkan pada pasien dengan masif limfa
adenopati mediastinal. 6,7

3. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan darah rutin, uji fungsi hati dan uji fungsi ginjal merupakan bagian penting dalam
pemeriksaan medis, tetapi tidak memberi keterangan tentang luas penyakit, atau keterlibatan
organ spesifik. Pada pasien penyakit Hodgkin serta pada penyakit neoplastik atau kronik
lainnya mungkin ditemukan anemia normokromik normositik derajat sedang yang berkaitan
dengan penurunan kadar besi dan kapasitas ikat besi, tetapi dengan simpanan besi yang normal
atau meningkat di sumsum tulang sering terjadi reaksi leukomoid sedang sampai berat,
terutama pada pasien dengan gejala dan biasanya menghilang dengan pengobatan. 7
Eosinofilia absolut perifer ringan tidak jarang ditemukan, terutama pada pasien yang
menderita pruritus. Juga dijumpai monositosis absolut, limfositopenia absolut (<1000 sel per

28
millimeter kubik) biasanya terjadi pada pasien dengan penyakit stadium lanjut. Telah dilakukan
evaluasi terhadap banyak pemeriksaan sebagai indikator keparahan penyakit. 7
Sampai saat ini, laju endap darah masih merupakan pemantau terbaik, tetapi
pemeriksaan ini tidak spesifik dan dapat kembali ke normal walaupun masih terdapat penyakit
residual. Uji lain yang abnormal adalah peningkatan kadar tembaga, kalsium, asam laktat,
fosfatase alkali, lisozim, globulin, protein C-reaktif dan reaktan fase akut lain dalam serum. 7

4. Sitologi Biopsi Aspirasi


Biopsi Aspirasi Jarum Halus (BAJAH) sering digunakan pada diagnosis limfadenopati untuk
identifikasi penyebab kelainan tersebut seperti reaksi hiperplastik kelenjar getah bening,
metastasis karsinoma dan limfoma malignum.
Penyulit lain dalam diagnosis sitologi biopsi aspirasi LH ataupun LNH adalah adanya
negatif palsu, dianjurkan melakukan biopsi aspirasi multiple hole di beberapa tempat
permukaan tumor. Apabila ditemukan juga sitologi negatif dan tidak sesuai dengan gambaran
klinis, maka pilihan terbaik adalah biopsi insisi atau eksisi.6

5. Histopatologi
Biopsi tumor sangat penting, selain untuk diagnosis juga untuk identifikasi subtipe
histopatologi LH ataupun LNH. Biopsi dilakukan bukan sekedar mengambil jaringan, namun
harus diperhatikan apakah jaringan biopsi tersebut dapat memberi informasi yang adekuat.
Biopsi biasanya dipilih pada rantai KGB di leher. Kelenjar getah bening di inguinal, leher
bagian belakang dan submandibular tidak dipilih disebabkan proses radang, dianjurkan agar
biopsi dilakukan dibawah anestesi umum untuk mencegah pengaruh cairan obat suntik lokal
terhadap arsitektur jaringan yang dapat mengacaukan pemeriksaan jaringan. 6

6. Radiologi
Termasuk didalamnya: 6
 Foto toraks untuk menentukan keterlibatan KGB mediastinal
 Limfangiografi untuk menentukan keterlibatan KGB di daerah iliaka dan pasca aortal
 USG banyak digunakan melihat pembesaran KGB di paraaortal dan sekaligus menuntun
biopsi aspirasi jarum halus untuk konfirmasi sitologi
 CT-Scan sering dipergunakan untuk diagnosa dan evaluasi pertumbuhan LH

7. Laparatomi
Laparotomi abdomen sering dilakukan untuk melihat kondisi KGB pada iliaka, para aortal dan
mesenterium dengan tujuan menentukan stadium. Berkat kemajuan teknologi radiologi seperti

29
USG dan CT-Scan ditambah sitologi biopsi aspirasi jarum halus, tindakan laparotomi dapat
dihindari atau sekurang-kurangnya diminimalisasi.6

4.8 Diagnosis Banding


Diagnosis banding serupa dengan yang dijelaskan untuk limfoma non Hodgkin pada pasien
dengan limfadenopati di leher, infeksi misalnya faringitis bakteri atau virus, mononucleosis
infeksiosa dan toksoplasmosis harus disingkirkan. Keganasan lain, misalnya limfoma non
Hodgkin, kanker nasofaring dan kanker tiroid dapat menimbulkan adenopati leher local.
Adenopati ketiak harus dibedakan dengan limfoma non Hodgkin dan kanker payudara. 6
Adenopati mediastinum harus dibedakan dengan infeksi, sarkoid dan tumor lain. Pada
pasien tua, diagnosis banding mencakup tumor paru dan mediastinum, terutama karsinoma sel
kecil dan non sel kecil. Mediastinitis reaktif dan adenopati hilus akibat histoplasmosis dapat
mirip dengan limfoma, karena penyakit tersebut timbul pada pasien asimtomatik. Penyakit
abdomen primer dengan hepatomegali, splenomegali dan adenopati massif jarang ditemukan,
dan penyakit neoplastik lain, terutama limfoma non Hodgkin harus disingkirkan dalam keadaan
ini. Beberapa diagnosis banding lainnya sebagai berikut: 7

 Cytomegalovirus

 Infectious Mononucleosis
 Kanker paru

 Lymphoma, Non-Hodgkin
 Sarcoidosis

 Serum Sickness
 Syphilis

 Systemic Lupus Erythematosus


 Toxoplasmosis

 Tuberculosis

4.9 Tatalaksana
Untuk mendapatkan hasil pengobatan yang baik perlu adanya pendekatan multidisiplin segera
setelah didiagnosis. Faktor yang berpengaruh terhadap hasil pengobatan diantaranya adalah
umur pasien, psikologi, stadium penyakit dan gejala sisa pengobatan. Pengobatan yang
diberikan diharapkan mampu memberikan penyembuhan untuk jangka panjang, dengan disease
free survival (DFS) yang seimbang dengan risiko pengobatan yang paling rendah.

30
Setelah diagnosis patologis dan stage-nya ditentukan maka mulailah perlu dipikirkan
terapinya. Tentu saja pathological stage lebih tepat dari clinical stage.
Cara pengobatan yang dipakai adalah :
1. Radioterapi
2. Kemoterapi
3. Hematopoetic stem cell Transplantation (HSCT)

1. Radioterapi
Radioterapi diberikan dengan dosis 4000 cGy dengan cara
Extended-Field-Radiotherapy (Kaplan). Jadi yang diradiasi selain regio
kelenjar yang diserang, juga region kelenjar pada stadiun yang
berikutnya yang normal. Pada stadium II A dilakukan Total-Nodal-
Irradiation (TNI). Untuk stadium III B dan IV, terapi terutama adalah
kemoterapi sitostatik. Untuk stadium I-B dan II-B atau penderita-
penderita dengan tipe histologik jelek ( yaitu mixed cellularity dan
lymphocyte depleted) beberapa ahli menganjurkan pemberian TNI
dengan atau tanpa kemoterapi. Demikian perlu untuk penderita dengan
substage E (E= Ekstranodal) perlu diberi kemoterapi kombinasi sesudah
radioterapi.
2. Kemoterapi
Tabel. Rekomendasi penanganan Umum Untuk Hodgkin’s diseasea,b
#Penyakit Tahap Awal
Prognosis baik 2 siklus stanford V atau 4 siklus ABVD plus

(CS IA atau IIA tanpa faktor resiko) radiasi daerah yang terlibat

2-4 siklus ABVD +radiasi daerah yang


Prognosis buruk terkena.Atau 6 siklus ABVD

(CS IA atau IIA dengan faktor resiko)

#Penyakit tahap lanjutan

31
Prognosis baik (CS III atau IV) 2 siklus stanford V atau 4 siklus ABVD plus
radiasi daerah yang terlibat

Prognosis buruk (CS III atau IV)


dengan 4 atau lebih faktor pemburuk 2-4 siklus ABVD +radiasi daerah yang
prognosis m/ low serum albumin, low terkena.Atau 6 siklus ABVD
Hb, laki-laki, umur≥ 45 tahun, high
WBC, Limfositopenia.

#Penyakit Kambuh
Kambuh setelah radiasi 6-8 siklus kemoterapi dengan atau tanpa radiasi
(tangani seperti pada penyakit lanjut primer)

Kemoterapi salvage pada dosis konvensoinal atau


Relapse setelah kemoterapi primerc, d kemoterapi dosis tinggi dan transplantasi sel
pemula hematopoietik autolog/stem cell

OBAT DOSIS(mg/m²) RUTE HARI

MOPP

Mechlorethamine 6 IV 1,8

Vincristine(Oncovin) 1,4 IV 1,8

Procarbazine 100 Oral 1-14

Prednisone 40 Oral 1-14

Ulang setiap 21 hari

ABVD

Doxorubicin(Adriamycin) 25 IV 1,15

Bleomycin 10 IV 1,15

Vinblastine 6 IV 1,15

Dacarbazine 375 IV 1,15

Ulang setiap 28 hari

MOPP/ABV hybrid

32
Mechlorethamine 6 IV 1

Vincristine(Oncovin) 1,4 IV 1

Procarbazine 100 Oral 1-7

Prednisone 40 Oral 1-14

Doxorubicin(Adriamycin) 35 IV 8

Bleomycin 10 IV 8

Vinblastine 6 IV 8

Ulang setiap 28 hari

Stanford V

Doxorubicin 25 IV Mgg 1,3,5,7,9,11

Vinblastine 6 IV Mgg 1,3,5,7,9,11

Mechlorethamine 6 IV Mgg 1,5,9

Etoposide 60 IV Mgg 3,7,11

Vincristine 1,4 IV Mgg2,4,6,8,10,12

Bleomicyn 5 IV Mgg 2,4,6,8

Prednison 40 Oral 12 mgg,tappering


of mulai mgg 10

Satu siklus 12 mgg

Procarbazine 100 Oral 1-7

Diulang setiap 21 hari

BEACPP (Escalated dose)

Bleomicyn 10 IV 8

Etoposide 200 IV 1-3

Doxorubicin(Adriamycin) 35 IV 1

Cyclophosphamide 1,250 IV 1

Vincristine(Oncovin) 1-4 IV 8

33
Procarbazine 100 IV 1-7

Prednisone 40 Oral 1-14

Granulocyte colony Subcutan 8+


Stimulating factor

Diulang setiap 21 hari

3. HSCT
Transplantasi sel induk (juga disebut hematopoietik stem sel Transplantasi)
menanamkan sel-sel induk pembentuk darah yang sehat ke dalam tubuh. Sel induk dapat
dikumpulkan dari sumsum tulang, sirkulasi (perifer) darah, dan darah tali pusat.
Ada dua jenis utama dari transplantasi sel induk:
• transplantasi sel induk autologus: Dalam hal ini jenis transplantasi sel induk, sel induk
dikumpulkan dari pasien sendiri. Sel-sel induk dikeluarkan dari darah pasien, dipanen,
dibekukan dan disimpan sampai dibutuhkan, kemudian diberikan kembali ke pasien setelah ia /
dia telah menerima kemoterapi dosis tinggi dan / atau terapi radiasi untuk menghancurkan sel-
sel kanker.
• transplantasi sel induk Allogeneic: Dalam jenis transplantasi sel punca yang diambil dari
donor yang cocok. Donor mungkin termasuk anggota relatif / keluarga (misalnya, saudara),
individu yang tidak terkait, atau disimpan darah tali pusat. Untuk menentukan apakah sel induk
donor adalah orang yang tepat, pasien mengalami antigen leukosit manusia (HLA) tes. Dalam
tes HLA, kita membandingkan darah dan jaringan jenis pasien dengan sampel darah dari
donor.
Keuntungan dari transplantasi alogenik adalah bahwa sel-sel induk berasal dari donor yang
sehat tanpa sel-sel ganas. Namun, karena bisa sulit untuk menemukan donor yang cocok,
transplantasi autologus biasanya lebih umum.
Transplantasi sel induk untuk limfoma Hodgkin
Transplantasi sel induk sering menjadi pilihan bagi pasien limfoma Hodgkin dengan kanker
yang kambuh (kembali) atau refrakter (tidak responsif terhadap pengobatan primer).
Sebelum transplantasi sel induk untuk limfoma Hodgkin, Anda akan menjalani rejimen
pendingin, yang melibatkan perawatan intensif, seperti kemoterapi dosis tinggi, untuk
menghancurkan sel-sel kanker sebanyak mungkin. Setelah rejimen preparatif ini, Anda akan
menerima sel-sel induk intravena (mirip dengan transfusi darah). Prosedur ini memakan waktu
sekitar satu jam. Setelah memasuki aliran darah, sel-sel induk perjalanan ke sumsum tulang

34
dan mulai menghasilkan sel-sel darah baru yang sehat dalam proses yang dikenal sebagai
engraftment.
Protokol pengobatan pada anak saat ini hanya menggunakan kemoterapi saja kadang-kadang
dengan hanya memberikan dosis rendah radiasi pada daerah yang terbatas.1

4.10 Prognosis
Prognosis penyakit Hodgkin ini relatif baik. Penyakit ini dapat sembuh atau hidup lama
dengan pengobatan meskipun tidak 100%. Prognosis tergantung pada umur dan stadium.
Pasien lebih tua dari 65 tahun memiliki kesembuhan lebih rendah dari pasien yang lebih muda.
Pasien stadium I dan II memiliki angka kesembuhan 90-95%, sementara stadium III-IV
memiliki angka kesembuhan 60-80%.
Tetapi oleh karena dapat hidup lama, kemungkinan mendapatkan late complication makin
besar. Late complication itu antara lain:4

1. Timbulnya keganasan kedua atau sekunder


2. Disfungsi endokrin yang kebanyakan adalah tiroid dan gonadal
3. Penyakit CVS terutama mereka yang mendapat kombinasi radiasi dan pemberian
antrasiklin terutama yang dosisnya banyak (dose related)
4. Penyakit pada paru pada mereka yang mendapat radiasi dan bleomisin yang juga dose
related
5. Pada anak-anak dapat terjadi gangguan pertumbuhan

EVALUASI HASIL TERAPEUTIK

 hasilutama yang akandiidentifikasiadalahrespontumor, yang didasarkanpada


pemeriksaan fisik, buktiradiologis, PET/computedtomography(CT) scanning, dan
temuandasarlainnya. respon lengkapdiinginkankarena menghasilkansatu-satunya
kesempatanuntuk penyembuhan.
 pasien dievaluasi untuk respon pada akhir empat siklus atau, jika pengobatan yang lebih
pendek, pada pengobatan.
 hasil yang optimal untuk sebagian besar jenis limfoma mungkin memerlukan
pengiriman dosis penuh tepat waktu. faktor pertumbuhan hematopoietik dan langkah-
langkah perawatan suportif lainnya sering diperlukan untuk mencapai tujuan ini.
 Untuk mengoptimalkan administrasi kemoterapi, dokter harus mengidentifikasi,
memantau, mengobati, dan mencegah atau meminimalkan toksisitas terkait pengobatan.
laboratorium data yang bersangkutan prosedur lain harus ditinjau untuk menentukan
data dasar untuk keperluan monitoring.

35
DAFTAR PUSTAKA

1. Sudarmanto M, Sumantri AG. Limfoma Maligna. Dalam: Buku Ajar Hematologi


Onkologi. IDAI. Ed-3. Jakarta: 2012. h. 248-54.
2. Hudson MM. Limfoma Non Hodgkin. Dalam: Ilmu Kesehatan Anak Nelson. 15th ed.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2012.h. 1780-83.
3. Ballentine JR. Non Hodgkin Lymphoma. Jan 20, 2012 (Cited May 17th, 2012).
Available at http://emedicine.medscape.com/article/203399-overview
4. Alarcone P. Hodgkin Lymphoma.Oct 11,2011 (Cited May 17th,2012). Available at
http://emedicine.medscape.com/article/987101-overview#a0101
5. Hudson MM. Penyakit Hodgkin. Dalam: Ilmu Kesehatan Anak Nelson. 15th ed. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.2012.h. 1777-83.
6. Gillchrist G. Lymphoma. Dalam: Nelson Textbook of Pediatrics. 17th ed. Wisconsin:
Elsevier. 2007.h. 1701-6.
7. Stoppler MC. Hodgkin Lymphoma. May 1st2011 (Cited May 17th,2012) .Available at
(http://www.medicinenet.com/Hodgkin’s disease/article.htm)

36