Anda di halaman 1dari 23

Shafira Aulia Rahmah

240210150067

IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


Kemasan adalah suatu wadah atau tempat yang digunakan untuk
mengemas suatu produk yang dilengkapi dengan label atau keterangan-keterangan
termasuk beberapa manfaat dari isi kemasan. Pengemasan merupakan salah satu
cara untuk melindungi atau mengawetkan produk pangan maupun non-pangan
(Rahmawati, 2013). Menurut Herudiyanto (2008) pengemasan merupakan suatu
usaha yang bertujuan untuk melindungi bahan pangan dari penyebab-penyebab
kerusakan baik fisik, kimia, biologis maupun mekanis sehingga dapat sampai ke
tangan konsumen dalam keadaan baik dan menarik.
Praktikum yang dilakukan kali ini adalah identifikasi berbagai jenis
kemasan plastik dan kemasan kertas. Plastik adalah material polimer atau bahan
pengemas yang dapat dicetak menjadi bentuk yang diinginkan dan mengeras
setelah didinginkan atau pelarutnya diuapkan (Agustina, 2014). Bahan pertama
pembuat plastik adalah resin, baik alami maupun sintetik (Herudiyanto, 2008).
Kemasan kertas merupakan kemasan fleksibel yang pertama sebelum
ditemukannya plastik dan aluminium foil. Bahan kertas untuk mengemas
makanan seringkali diberi coating atau laminasi untuk memperbaiki sifat-sifatnya.

4.1 Kemasan Kertas


Terdapat dua jenis kertas utama yang digunakan, yaitu kertas kasar dan
kertas lunak. Kertas yang digunakan sebagai kemasan adalah jenis kertas kasar,
sedangkan kertas halus digunakan untuk kertas tulis yaitu untuk buku dan kertas
sampul. Kertas kemasan yang paling kuat adalah kertas kraft dengan warna alami,
yang dibuat dari kayu lunak dengan proses sulfat.
Bahan baku pembuatan kertas adalah selulosa kayu atau merang padi.
Pembuatan kertas secara umum pertama bahan dasar dilakukan pengecilan ukuran
dan pembuburan. Metode pembuatan pulp diantaranya, yaitu pembuatan pulp
kayu dasar, secara kimiawi (sulfat, sulfit, atau soda). Setelah itu dicampur dengan
bahan tambahan (seperti resin, pati dan tawas untuk meningkatkan daya tahan
air), pulp yang mengandung air 96% dan bahan padat 4% dimasukkan ke dalam
alat pengaduk, sehingga terjadi pemisahan antara serat dan fibril yang disebut
proses fibrilisasi, yaitu proses pecahnya lapisan kambium yang mengelilingi serat
karena serat-serat membesar dan fibril membuka. Pembuburan biasanya dilakukan
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

pada tekanan 5 kg/cm2 pada suhu 140oC. Proses selanjutnya adalah pencetakan,
pengeringan dan calendering (pemucatan warna kertas yang dihasilkan)
(Lumbanbatu, 2008).
Praktikum pengemasan bahan pangan kali ini akan membahas tentang
pengenalan berbagai jenis kemasan (deskripsi), pengukuran ketebalan berbagai
jenis kemasan, dan pengukuran berat jenis timbangan.

4.1.1 Pengenalan Berbagai Jenis Kemasan Kertas


Pengenalan berbagai kemasan kertas dilakukan untuk mengetahui berbagai
jenis kertas baik maupun untuk produk pangan maupun nonpangan. Pengamatan
dilakukan secara langsung dengan menguraikan deskripsinya. Berdasarkan
pengamatan yang telah dilakukan, didapat hasil sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil Pengamatan Jenis Kemasan Kertas
Jenis Deskripsi
No. Kemasan
Warna Kehalusan Kelenturan
Kerta
1. Kertas Karton Coklat muda Kasar + Kaku
1
2. Kertas Karton Coklat tua Kasar Kaku +
2
3. Kertas Coklat Halus Lentur ++
Sampul
4. Kertas krep Merah Kasar ++ Lentur +++
5. Kertas Putih gading Halus + Lentur
sertifikat
6. Kertas roti Putih gading Halus +++ Lentur +++
7. Kertas Putih gading Halus +++ Lentur ++
perkamen
8. Kertas glasin Kuning Halus +++ Lentur ++++
9. Kertas tisu Putih Halus +++++ Lentur +++++
10. Kertas nasi Coklat Halus ++ Lentur +
11. Alumunium Abu-abu Halus+++ Lentur++
foil
12. Kertas Lapis Coklat Halus+++++ Lentur++++
kekuningan++
13. Kertas serap Kuning Kasar Lentur+++
14. Kertas emas Buram dan Terdapat 2 bagian Lentur
emas (kasar dan halus)
15. Kertas kardus Coklat Kasar Lentur+
laminar
16. Kertas kardus Coklat Kasar Kaku+
bergelombang
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

17. Kertas kraft Kuning coklat Kasar + Lentur ++


extensible ++
18. Kertas kraft Kuning Halus++ Lentur+++
kecoklatan
cerah+++
19. Kertas kraft Kuning Halus+ Lentur+++
reguler kecoklatan+
20. Kertas kraft Abu krem Kasar Lentur++++
medium pucat
(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018)
Berdasarkan hasil pengamatan, masing-masing jenis kertas memiliki
karakteristik yang berbeda-beda dari segi warna, tingkat kekerasan, kekakuan, dan
kekuatan masing-masing jenis kertas. Kekerasan dan kekakuan ini berhubungan
dengan tebal kertas, makin tebal kertasnya maka akan semakin kaku dan keras
kemasan tersebut. Biasanya kertas yang kaku dan keras digunakan untuk
distribusi. Sifat-sifat kemasan kertas sangat tergantung pada proses pembuatan
dan perlakuan tambahan pada proses pembuatannya. Kemasan kertas dapat berupa
kemasan fleksibel atau kemasan kaku (Herudiyanto, 2008).
Perlakuan komposisi dan metode pembuatan juga berpengaruh terhadap
daya serap air yang berbanding lurus terhadap daya tahan terhadap sobekan.
Indeks sobek tertinggi dihasilkan oleh kelompok massa jenis terendah. Indeks
sobek makin menurun dengan meningkatnya massa jenis. Nilai indeks sobek juga
diduga dipengaruhi oleh perbedaan kandungan kimia terutama selulosa,
hemiselulosa, dan lignin. Pada umumnya kertas yang kilap memiliki ketahanan
minyak dan air yang lebih baik dimana kertas yang memiliki tingkat kekilapan
yang lebih tinggi biasanya memiliki tingkat kehalusan yang lebih tinggi juga
(Casey, 1981).
Kertas karton berkarakterisitk tebal, kasar, kaku, sulit disobek, dan
berserat. Terdapat dua jenis karton pada pengamatan kali ini, yaitu karton 1
dengan warna coklat muda dan karton 2 dengan warna coklat tua. Karton 1 lebih
kasar dibanding karton 2, namun dari segi ke kakuan karton 2 lebih kaku. Hal ini
sesuai dengan literature yang menyatakan bahwa karton adalah kertas tebal yang
disebut sebagai paperboard, pembuatannya sama dengan pembuatan kertas.
Perbedaan kertas dengan karton umumnya pada ketebalan, dimana ketebalan
karton 10 kali lebih tebal dari ketebalan kertas dan gramatur karton di atas 224
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

gr/m2 menurut International Organisation for Standardisation (Robertson,


gordon L., 1993). Karton dapat di bentuk menjadi satu lapis atau berlapis. Karton
yang dibuat menjadi karton lipat dan kaku disebut dengan boxboard. Karton
umumnya dibuat menjadi karton gelombang (corrugated board) yang mudah
dipotong, dibentuk, ringan dan kuat yang sering di buat menjadi kemasan (Patmar
supply, 2004).
Kertas sampul memiliki karakteristik tipis, halus licin, lentur, mudah
sobek, berwarna coklat, dan berserat. Karena sifatnya yang lentur dan tipis
sehingga membuat kertas ini mudah untuk dibentuk dan cocok untuk digunakan
sebagai pembungkus atau sampul suatu barang seperti buku.
Selanjutnya adalah kertas krep berdasarkan pengamatan ini diketahui
memiliki ciri khusus seperti berwarna merah, kasar dan sangat lentur. Hal ini
sesuai dengan literature yang meyatakan bahwa kertas krep adalah kertas yang
permukaannya berkerut-kerut, mempunyai daya renggang dan daya serap yang
tinggi. Kertas ini digunakan untuk membungkus dan mengemas serta dapat juga
digunakan untuk dekorasi. Selain itu, kertas krep pada umumnya memiliki
berbagai jenis warna.
Kertas sertifikat yang memiliki karakteristik putih gading, licin, sedikit
halus, kaku, tebal, dan sulit disobek. Sesuai dengan namanya, kertas ini digunakan
sebagai kertas untuk pembuatan sertifikat. Selanjutnya adalah kertas roti yang
memiliki karakteristik putih gading, kasar, tipis, lentur, mudah disobek, dan
sedikit transparan. Kertas roti mempunyai sifat tidak mudah lengket pada bahan
pangan, maka kertas jenis ini sering digunakan sebagai alas ataupun sebagai
pembungkus. Sesuai dengan namanya kertas roti ini biasanya digunakan untuk
membungkus roti dan juga dapat sebagai alas untuk mencetak kue agar tidak
lengket.
Kertas perkamen memiliki karakteristik putih kekuningan buram, kasar,
cukup tebal, mudah sobek, lentur, dan sedikit transparan. Hai ini sesuai dengan
literature yang menyatakan bahwa sifat-sifat kertas perkamen yaitu mempunyai
ketahanan lemak yang baik, mempunyai kekuatan basah (wet strength) yang baik
walaupun dalam air mendidih, permukaan bebas serat, tidak berbau, tidak terasa
dan transparan sehingga sering disebut kertas glasin (Herudiyanto,M.S. 2008).
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

Kertas perkamen digunakan untuk mengemas bahan pangan seperti : mentega,


biscuit yang berkadar lemak tinggi, keju, ikan (basah, kering atau digoreng),
daging (segar, kering, diasap atau dimasak).
Jenis kertas selanjutnya adalah kertas glasin yang memiliki karakteristik
kuning cerah, tekstur halus, licin, tipis, lentur, agak sulit disobek, dan sedikit
transparan. Kemasan tersebut termasuk jenis kertas glasin karena kertas ini
mempunyai permukaan seperti gelas dan licin, mempunyai daya tahan yang tinggi
terhadap lemak, oli dan minyak, tidak tahan terhadap air walaupun permukaan
dilapisi dengan bahan tahan air seperti lilin (Herudiyanto,M.S. 2008).
Kertas tisu memiliki karakteristik tipis, halus, lentur sangat mudah
disobek, berwarna putih dan sedikit transparan. Kertas tissue dibuat dari serat
katun dan pulp kayu. Namun ada jenis kertas tisu yang terbuat dari polyester yang
enjadikannya licin dan lembut. Kertas ini mempunyai sifat tahan minyak dan
lemak, tidak tahan lembab, dan digunakan untuk mengemas mentega, keju, dll.
Kertas tisu mempunyai sifat yang sangat ringan dan mengalami pengelantangan
atau setengah dikelantang dan bersifat sangat porus.
Selanjutnya adalah kertas nasi yang berwarna coklat, mengkilap,
bertekstur licin pada satu sisi, dan kasar pada sisi lainnya, selain itu kertas nasi
berukuran cukup tebal, namun lentur dan mudah disobek. Kertas pembungkus
nasi merupakan kertas kraft yang dilaminasi oleh plastik. Bersifat tidak termbus
air dan minyak. Umumnya plastik yang digunakan merupakan plastik dengan titik
leleh tinggi, sehingga aman untuk digunakan membungkus makanan yang panas.
Kertas nasi ini sesuai dengan namanya, biasa digunakan sebagai pembungkus nasi
atau pembungkus makanan jenis lainnya yang tidak mengandung banyak air.
Alumunium foil yang memiliki karakteristik abu-abi, mengkilap, kasar,
mudah sobek, lentur, dan tipis. Hasil pengamatan ini sesuai dengan pernyataan
menurut Julianti (2007) yaitu sifat-sifat dari alumunium foil adalah hermetis,
fleksibel, tidak tembus cahaya sehingga dapat digunakan untuk mengemas bahan-
bahan yang berlemak dan bahan-bahan yang peka terhadap cahaya seperti
margarin dan yoghurt. Apabila secra ritmis kontak dengan air, biasanya tidak akan
terpengaruh atau bila berpengaruh sangat kecil. Sifat-sifat mekanis alumunium
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

foil yang sangat penting adalah “tensile strength“, elastisitas dan daya tahannya
terhadap sobekan dan lipatan (Suyitno, 1990).
Jenis kertas selanjutnya adalah kertas lapis yang memiliki warna coklat,
tipis, sifatnya mudah disobek, dan mudah dibentuk. Jenis kertas ini biasanya
digunakan sebagai pelapis. Selain itu ada kertas serap yang berwarna kuning
berserat, tebal dan mudah dibentuk. Kertas ini biasa digunakan untuk menyerap
suatu cairan seperti minyak. Selain itu terdapat kertas emas yang berwarna emas
mengkilap di satu bagian, dan berwarna abu muda di bagian lainnya. Kertas ini
mudah dibentuk, tipis, dan licin. Biasanya kertas jenis in digunakan untuk
kepentingan seni seperti untuk kerajinan tangan.
Jenis kertas selanjutnya adalah kertas kraft yang berdasarkan pengamatan
ini diketahui memiliki ciri khusus seperti berwarna coklat, dan tebal. Pada
praktikum kali ini terdapat beberapa jenis kerats kraft yang diamati, di antaranya
adalah kertas kraft regular, kertas kraft extensible, kertas kraft, dan kertas kraft
medium. Kertas kraft regular memiliki ciri tebal, agak halus, agak lentur, sulit
sobek, berwarna coklat dan berserat. Sementara itu, kertas kraft extensible
bertekstur kasar, dan lebih disobek dibandingkan dengan kertas kraft regular.
Kertas kraft biasa hamper memiliki karakteritik yang sama dengan kertas kraft
regular, hanya saja teksturnya tidak berserat, halus, licin dan berwarna coklat
sedikit kekuningan. Dan kertas kraft medium lebih tebal dari semua jenis kraft,
dan lebih kasar dan kaku, lebih berserat, bergelombang, namun mudah disobek.
Menurut Herudiyanto (2008) kertas kraft mempunyai sifat kaku,
pembuatannya denga proses sulfat dan dilakukan bleaching atau pemucatan,
sehingga menghasilkan warna kecoklatan. Kertas kraft memiliki sifat fisik seperti
ketahanan sobek yang beragam, elastisitas yang baik. Pada umumnya digunakan
untuk mengemas bahan-bahan yang berat jenisnya besar. Ketebalan kertas kraft
ini 10-180g/m2, bervariasi sesuai dengan kebutuhan. Kertas kraft jarang dibuat
tanpa calendering, sehingga ketika dijadikan tas, permukaan kasar akan mencegah
atau melindunginya dari kerusakan mekanis dalam tumpukkan. Terdapat kertas
kraft yang halus karena diberi penghalusan diakhir dalam calender stack pada
mesin kertas, suatu mesin pelapis akhir dapat mengkilapkan kertas (Syarief,
Santausa, dan Isyana, 1989).
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

4.1.2 Ketebalan Jenis Kemasan Kertas


Pengukuran ketebalan berbagai kemasan kertas dilakukan untuk
mengetahui kemasan seperti apa yang cocok untuk mengemas bahan dengan berat
tertentu. Pengukuran dilakukan dengan bantuan alat mikrometer sekrup dengan
ketelitian 0,01 mm yang lebih teliti daripada jangka sorong sehingga dapat
digunakan untuk mengukur ketebalan kertas. Pengukuran dilakukan di 5 titik
berbeda disetiap sudut kertas karena diduga ketebalan pada masing-masing titik
memiliki rasio yang berbeda. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan,
didapat hasil sebagai berikut:
Tabel 2. Hasil Pengukuran Ketebalan Berbagai Jenis Kemasan Kertas
Karton (cm) Nasi (cm) Minyak (cm) Sak (cm) Roti (cm)
MS JS MS JS MS JS MS JS MS JS
1 1,03 1,05 0,11 0,1 0,03 0,01 0,06 0,07 0,04 0,03
2 1,03 1,05 0,11 0,1 0,03 0,02 0,06 0,08 0,04 0,02
3 1,045 1,10 0,13 0,1 0,09 0,02 0,06 0,08 0,04 0,02
4 1,035 1,05 0,11 0,1 0,03 0,01 0,06 0,08 0,04 0,03
5 1,2 1,35 0,11 0,1 0,01 0,01 0,06 0,08 0,04 0,02
Max 1,03 1,35 0,13 0,1 0,09 0,02 0,06 0,07 0,04 0,03
Min 1,045 1,05 0,11 0,1 0,01 0,01 0,06 0,08 0,04 0,02
Rata-rata 1,068 1,12 0,114 0,1 0,03 0,1 0,06 0,08 0,04 0,024
(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2018)
Tabel di atas merupakan data hasil pengamatan ketebalan kertas lima
sampel kemasan kertas yaitu kertas karton, kertas nasi, kertas minyak, kertas sak,
dan kertas roti. Pengukuran ketebalan menggunakan dua alat yaitu jangka sorong
dan mikrometer sekrup. Berdasarkan data di atas, didapatkan bahwa kertas yang
memiliki ketebalan paling besar adalah kertas karton dengan ketebalan rata-rata
1,068 cm pada penggunaan mikrometer sekrup dan 1,12 cm dengan jangka
sorong. Sementara itu, jenis kertas yang memiliki ketebalan terendah adalah
kertas minyak dengan ketebalan 0,03 dengan mikrometer sekrup dan 0,1 jangka
sorong.
Ketebalan pada bahan pengemas mempengaruhi kemampuan melindungi
dari kemasan. Semakin tebal suatu kemasan, maka kemampuan akan
melindunginya semakin tinggi. Faktor yang ikut mempengaruhi ketebalan dan
ketipisan kertas adalah tingkat kekerasan, kekakuan, dan kekuatan sampel.
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

Kekerasan dan kekakuan ini berhubungan dengan tebal kertas, makin tebal
kertasnya maka akan semakin kaku dan keras kemasan tersebut.
Karton memiliki ketebalan paling tinggi dibanding dengan kertas lainnya.
Perbedaan kertas dengan karton umumnya pada ketebalan, dimana ketebalan
karton 10 kali lebih tebal dari ketebalan kertas dan gramatur karton di atas 224
gr/m2 menurut International Organisation for Standardisation. Ketebalan kertas
ini dipengaruhi oleh tekanan yang diberikan pada kertas saat pembuatan kertas
tersebut dan juga dipengaruhi oleh komposisi dan metode pembuatan kertas
tersebut. Ketebalan sangat berpengaruh pada penggunaannya untuk mengemas.
Seperti misalnya untuk membungkus nasi tidak mungkin menggunakan karton,
lebih memungkinkan adalah kertas nasi karena dari segi fisik dan sifatnya lebih
cocok. Karton lebih cocok digunakan untuk mengemas bahan-bahan berat yang
mudah hancur karena karton dapat melindungi dari benturan dan tentu saja
sebagai kemasan sekunder.

4.1.3 Pengukuran Berat Berbagai Jenis Kemasan Kertas


Pengukuran berat dari tiap kemasan digunakan untuk menentukan
gramatur dan densitas dari tiap jenis kemasan yang diamati. Gramatur adalah nilai
yang menunjukkan bobot bahan per satuan luas bahan (g/m2), sedangkan densitas
atau bobot jenis adalah nilai yang menunjukkan bobot bahan per satuan volume
(g/m3). Gramatur (g/m2) = bobot contoh (g) x 10000 cm2.
Menurut Miltz (1992), karakteristik kertas dapat didasarkan pada berat
atau ketebalannya. Berdasarkan berat maka kertas dapat dinyatakan dalam berat
(lb)/3000 ft2 atau yang disebut dengan rim. Di USA banyaknya rim standard
untuk kertas kemasan adalah 500 lembar dengan ukuran 24 x 36 inchi (61 x 91.5
cm). berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan diperoleh data sebagai
berikut:
Tabel 3. Hasil Berat Berbagai Jenis Kemasan Kertas
Karton (g) Nasi (g) Minyak (g) Sak (g) Roti (g)
1 2,6077 0,1820 0,0712 0,1913 0,1071
2 2,4012 0,1900 0,0666 0,1945 0,1070
3 2,4245 0,1902 0,0703 0,1938 0,1039
4 2,4831 0,2132 0,0696 0,8165 0,1052
5 2,2887 0,2016 0,0686 0,1928 0,1079
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

Rata-rata 2,4791 0,1939 0,0694 0,3490 0,1058


g/cm2 0,0992 0,0078 0,0028 0,0140 0,0042
-5
Kg/cm 2 9,9x10 7,8x10-6 2,8x10-6 1,4x10-5 4,2x10-6
-5
lb/ft2 2,03x10 1,59x10-6 5,73x10-7 2,86x10-6 8,60x10-7
Vol (cm3) 26,70 2,85 0,75 1,5 1,00
Densitas 0,0929 0,0680 0,0926 0,2327 0,1058
(g/cm3)
(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2018)
Pengukuran berat kemasan kertas dilakukan dengan mengukur massa dari
lima sampel kertas yaitu kertas karton, kertas nasi, kertas minyak, kertas sak, dan
kertas roti. Berdasrakan data di atas, didapatkan bahwa berat tertinggi dimiliki
oleh kertas karton yaitu sebesar 0,0992 g/cm2. Sedangkan berat terendah dimiliki
oleh kertas minyak yaitu sebesar 0,0028 g/cm2. Akan tetapi berat yang besar tidak
mengartikan bahwa densitasnya tinggi. Hal ini terjadi karena densitas tidak hanya
bergantung pada berat benda, namun juga bergantung dengan volumenya.
Densitas tertinggi dimiliki oleh kertas roti yaitu sebesar 0,1058 g/cm3, sementara
densitas terendah dimiliki oleh kertas sak yaitu sebesar 0,0225 g/cm3.
Adanya keragaman dalam gramatur mengindikasikan pada fluktuasi
pemakaian bahan baku kertas per satuan luas. Semakin kecil gramatur maka
penggunaan bahan baku semakin sedikit, konsumsi energi untuk pengolahan
kertas lebih rendah, mengurangi polusi pabrik, biaya penanganan bahan dan
produk rendah, efisiensi ruang penyimpanan, memperkecil gulungan atau
potongan yang nantinya akan meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses
pembuatan kertas (karton) secara keseluruhan (Joedodibroto,1982).
Densitas kertas diperoleh dengan membagi gramatur contoh bahan dengan
tebal bahan. Nilai densitas kertas dipengaruhi oleh nilai gramatur dan tebal
kertas. Pengukuran densitas termasuk gramatur dan ketebalan penting dilakukan
karena densitas erat kaitannya dengan gramatur dan ketebalan sehingga densitas
memiliki pengaruh yang besar terhadap sifat lembaran kertas yang akan
digunakan.
Melalui densitas dan gramatur, dapat diketahui nilai permeabilitas dari
suatu suatu kemasan. Permeabilitas uap air dari suatu film kemasan didefinisikan
sebagai laju kecepatan atau transmisi uap air melalui suatu unit luasan bahan yang
permukaannya rata dengan ketebalan tertentu, sebagai akibat dari suatu perbedaan
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

unit tekanan uap antara dua permukaan pada kondisi suhu dan kelembaban
tertentu (Buckle et al.,1987). Sedangkan permeabilitas film kemasan terhadap gas-
gas, penting diketahui terutama gas oksigen karena berhubungan dengan
sifat bahan dikemas yang masih melakukan respirasi. Kertas dengan
permeabilitas yang paling kecil berarti paling baik digunakan untuk mengemas
produk yang peka dengan oksigen dan uap air.
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

4.2 Kemasan Plastik


Penggunaan plastik sebagai bahan pengemas mempunyai keunggulan
dibanding bahan pengemas lain karena sifatnya yang ringan, transparan, kuat,
termoplatis dan selektif dalam permeabilitasnya terhadap uap air, O2, CO2. Sifat
permeabilitas plastik terhadap uap air dan udara menyebabkan plastik mampu
berperan memodifikasi ruang kemas selama penyimpanan (Winarno, 1982). Ryall
dan Lipton (1972) menambahkan bahwa plastik juga merupakan jenis kemasan
yang dapat menarik selera konsumen.
Praktikum yang dilakukan kali ini adalah mengamati berbagai jenis plastik
yang terdiri dari beberapa parameter yaitu pengenalan berbagai jenis kemasan
plastik, uji nyala, dan pengukuran kemasan plastik. Jenis plastik yang akan
diidentifikasi adalah PE (Polietilen), PP (Polipropilen), PS, PVC
(polivinilklorida), dan LDPE.

4.2.1 Pengenalan Berbagai Jenis Kemasan Plastik


Tujuan pengenalan berbagai kemasan plastik adalah untuk mengetahui
berbagai jenis plastik dengan karakteristiknya sehingga sesuai penggunaannya
untuk mengemas bahan pangan. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan,
diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4. Hasil Pengamatan Pengenalan Berbagai Jenis Kertas
Jenis Deskripsi
KODE Kemasan
Warna Kehalusan Kelenturan
Plastik
Transparan
A PP Halus ++ Lentur ++
+
Transparan
B LDPE Halus +++ Lentur +++
++
Tidak
C PS Halus Lentur
transparan
D PVC Transparan Halus + Lentur +
Transparan Halus Lentur
E PE
+++ ++++ ++++
(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018)
Berdasarkan hasil pengamatan, plastik PP (polipropilena) memiliki tekstur
yang licin, transparan, tipis, berlekuk-lekuk dan lentur. Polipropilena merupakan
plastik yang dibuat dari polimerisasi propilen. Jenis ini mempunyai sifat tegar,
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

lebih kuat, dan lebih ringan dari polietilen. Film ini mempunyai permeabilitas
tehadap uap air yang rendah, tahan terhadap lemak, tahan terhadap suhu tinggi,
tahan terhadap bahan kimia, mempunyai “impact strength” baik, dan mempunyai
permukaan yang mengkilat. Contoh penggunaan polipropilen dalam bahan pangan
adalah sebagai pengemas roti, kripik, minyak, kacang (Herudiyanto, 2008).
Jenis plastik LDPE bersifat transparan, halus, dan sangat lentur. LDPE atau
Low Density Polyethylene biasa dipakai untuk tempat makanan, plastik kemasan,
dan botol-botol yang lembek. Jenis plastik ini dapat di daur ulang dan baik untuk
barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat.
Jenis plastik PS atau Polisterina bersifat transparan, agak kaku, tidak terlalu
lentur. Hal ini sesuai dengan Herudiyanto (2008) yang mengatakan, polisterina
merupakan polimer stiren yang mempunyai sifat-sifat antara lain fleksibel, elastis
diatas 176 0F dan tahan terhadap perubahan radiasi, kaku, dan agak rapuh, mudah
ditembus has dan uap air. Penggunaan polistrerina ini untuk pembuatan botol,
nampan, dan plastic lensa.
Yuyun dan Gunarsa (2011) mengatakan, penggunaan PS dalam bentuk
styrofoam untuk mengemas makanan, terutama makanan panas sangat dihindari
karena styrene yang terkandung pada PS dapat ikut masuk ke dalam makanan dan
berbahaya untuk otak serta sistem syaraf manusia. Jika bermigrasi ke dalam
pangan, bahan ini akan terakumulasi dalam jaringan lemak. Studi menunjukkan
adanya peningkatan kanker limfatik dan hematopoietik bagi pekerja yang terpapar
bahan ini.
Jenis plastik PVC atau polivinilklorida bersifat transparan, agak kaku,
tidak terlalu lentur. Plastik jenis ini bersifat tahan terhadap lemak dan minyak ,
tidak larut dalam pelarut minyak bumi, cukup liat dan elastis. Untuk memperbaiki
sifat tersebut sering ditambahkan antioksida serta penstabil. Film plastik ini cukup
kuat dan di lain pihak mudah ditembus gas yang intensitasnya dapat diukur sesuai
dengan tebal tipisnya film. Plastik ini dapat digunakan untuk mengemas produk
segar, seperti daging ayam, sapi dan lain-lain (Herudiyanto, 2008).
Jenis plastik PE atau polietilena lebih tipis dari A, licin, transparan, dan
sangat lentur. Hal ini sesuai dengan Herudiyanto (2008) yang mengatakan, plastik
PE merupakan bahan kemasan yang paling banyak digunakan dalam industri
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

pengemasan golongan fleksibel (lentur), tidak saja dipakai untuk pembungkus


bahan pangan tapi juga untuk kantung-kantung pembungkus berlemak. Polietilen
adalah polimer etilen yang diperoleh melalui 2 proses berbeda dan menghasilkan
polietilen yang mempunyai berat jenis rendah dan tinggi.
Menurut Herudiyanto (2008), polietilena mempunyai sifat halus dan
lentur, baik untuk pembungkus roti, tahan akan dampak yang baik, tahan terhadap
pelarut organic, tahan terhadap asam dan alkali, dapat melalukan gas, sehingga
baik untuk mengemas sayuran dan buah-buahan segar, tidak berasa dan berbau,
dan tidak terlalu transparan/agak buram. Contoh penggunaan PE ini sebagai
pengemas aneka produk olahan seperti sayuran, buah-buahan, mentega, dan
margarin (Herudiyanto, 2008).
Berdasarkan deskripsi diatas dapat diketahui bahwa tidak semua jenis
plastik yang diamati dapat digunakan untuk kemasan bahan pangan. kemasan
yang biasa dan boleh digunakan untuk bahan pangan adalah PE, PP, LDPE, dan
PET. Saat ini banyak makanan cepat saji yang menggunakan kemasan styrofoam,
padahal seharusnya kemasan styrofoam tidak digunakan untuk bahan pangan
apalagi makanan cepat saji yang masih dalam kondisi panas. Kemasan PET
berdasarkan kodenya yaitu 1 adalah jenis kemasan yang hanya bisa digunakan
satu kali pakai, kemasan HDPE memiliki kode 2 yang juga disarankan hanya
untuk satu kali pakai, dan kemasan PP memiliki kode 5, dimana kemasan jenis ini
aman dan kemasan plastik yang baik dan disarankan untuk mengemas bahan
pangan. Kemasan PS (styrofoam) tidak disarankan untuk mengemas bahan
pangan karena mudah rusak, tidak tahan terhadap kondisi bahan pangan tertentu,
seperti bahan yang panas dan berminyak dan kemungkinan bahan penyusunnya
yang dapat membahayakan. Sedangkan kemasan PVC tidak disarankan untuk
bahan pangan karena bahan penyusunnya yang kemungkinan akan
membahayakan jika terjadi migrasi dari kemasan ke dalam bahan pangan.
Tabel 5. Hasil Skoring Pengenalan Berbagai Jenis Plastik
(A) (B) (C) (D) (E)
Indikator
PP LDPE PS PVC PE
Kehalusan 3 4 1 2 5
Transparan 3 4 1 2 5
Kelenturan 3 4 1 2 5
Ketebalan 3 4 1 2 5
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018)


Berdasarkan data di atas, pada parameter kehalusan, transparan,
kelenturan, dan ketebalan nilai yang terbesar adalah PE dan yang terendah adalah
PS. Masing-masing jenis plastik mempunyai karakteristik yang berbeda
tergantung dari bahan kimia penyusunnya dan bahan tambahan yang digunakan
pada proses pembuatan. Bahan pembuat plastik dari minyak dan gas sebagai
sumber alami, dalam perkembangannya digantikan oleh bahan-bahan sintetis
sehingga dapat diperoleh sifat sifat plastik yang diinginkan dengan cara
kopolimerisasi, laminasi, dan ekstruksi. Komponen utama plastik sebelum
membentuk polimer adalah monomer, yakni rantai yang paling pendek. Polimer
merupakan gabungan dari beberapa monomer yang akan membentuk rantai yang
sangat panjang. Bila rantai tersebut dikelompokkan bersama-sama dalam suatu
pola acak, menyerupai tumpukan erami maka disebut amorp, jika teratur hampir
sejajar disebut kristalin dengan sifat yang lebih keras dan tegar (Syarief dkk,
1989).

4.2.2 Mengukur Ketebalan Berbagai Jenis Kemasan Plastik


Ketebalan diukur dengan mikrometer sekrup dan jangka sorong pada
sampel yang telah dipotong sebesar 5x5cm. Pengukuran ketebalan dilakukan pada
5 titik pada kertas tersebut karena diduga ketebalan pada masing-masing titik
memiliki rasio yang berbeda. Hasil pengukuran praktikan terhadap ketebalan
sampel dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 6. Hasil Pengkuran Ketebalan Plastik
PP LDPE PS PVC PE
MS JS MS JS MS JS MS JS MS JS
1 0,05 0,05 0,03 0,02 3,000 3,140 0,05 0,00 0,01
2 0,05 0,05 0,03 0,02 3,000 3,440 0,05 0,00 0,01
3 0,05 0,05 0,02 0,02 3,022 3,320 0,05 0,00 0,01
4 0,05 0,05 0,02 0,01 3,017 3,440 0,05 0,00 0,01
5 0,05 0,05 0,03 0,01 3,037 3,420 0,05 0,05 0,01
Max 0,05 0,05 0,03 0,02 3,037 3,440 0,05 0,00 0,01
Min 0,05 0,05 0,02 0,01 3,000 3,140 0,05 0,05 0,01
Rata-
0,05 0,05 0,026 0,016 3,015 3,352 0,05 0,01 0,01
rata
(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018)
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

Berdasarkan data di atas, jenis plastik yang paling tebal adalah PS,
sementara yang paling tipis adalah PE. Pengukuran tebal kemasan plastik secara
kualitatif dan kuantitatif memberikan hasil yang berbeda, maka dapat disimpulkan
apabila memilih kemasan plastik berdasarkan rabaan atau kualitatif mungkin
sekali terjadi kesalahan.
Ketebalan masing-masing sampel kemasan plastik juga dapat menentukan
tingkat permeabilitas plastik tersebut. Semakin tebal suatu kemasan plastik, maka
permeabilitasnya semakin rendah, begitu pula sebaliknya. Berdasarkan sifat
permeabilitasnya yang rendah serta sifat-sifat mekaniknya yang baik, polietilen
banyak digunakan sebagai pengemas makanan, karena sifatnya yang
thermoplastik, polietilen mudah dibuat kantung dengan derajat kerapatan yang
baik (Sacharow dan Griffin, 1970).

4.2.3 Pengukuran Berat Berbagai Jenis Kemasan Plastik


Pengukuran nilai densitas pada plastik sangat penting, karena densitas dapat
menunjukkan struktur plastik secara umum. Aplikasi dari hal tersebut yaitu dapat
dilihat kemampuan plastik dalam melindungi produk dari beberapa zat seperti air,
O2 dan CO2. Bierley, et al. (1988) mengemukakan bahwa plastik dengan
densitas yang rendah menandakan bahwa plastik tersebut memiliki struktur yang
terbuka, artinya mudah atau dapat ditembusi fluida seperti air, oksigen atau CO2.
Jadi tidak seperti pada kertas, nilai densitas plastik sangat penting dalam
menentukan sifat-sifat plastik yang berhubungan dengan pemakaiannya. Dalam
perdagangan mungkin digunakan satuan gramatur, karena satuan ini cukup
mewakili pihak produsen (berat plastik) dan konsumen (luas plastik).
Penggunaan plastik sebagai bahan pengemas mempunyai keunggulan dibanding
bahan kemasan lain karena sifatnya yang ringan, transparan, kuat, termoplastis
dan selektif dalam permeabilitasnya terhadap uap air, O2, dan CO2. Sifat
permeabilitas plastik terhadap uap air dan udara menyebabkan plastik mampu
berperan memodifikasi ruang kemas selama penyimpanan (Winarno, 1987).
Berikut adalah hasil pengamatan pada pengukuran berat jenis plastik:
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

Tabel 7. Hasil Pengukuran Berat Jenis Plastik


Kel PP (g) LDPE (g) PS (g) PVC (g) PE (g)
6 0.1527 0.0575 0.2102 0.2630 0.0304
7 0.2532 0.1479 0.2849 0.2848 0.0660
8 0.1339 0.0555 0.2525 0.2466 0.0294
9 0.1575 0.0737 0.2443 0.2236 0.0327
10 0.1541 0.0576 0.2154 0.2937 0.0315
Rata-rata 0.1703 0.0784 0.2415 0.2623 0.0380
g/cm2 0.0068 0.0031 0.0097 0.0105 0.0015
-6 -6
kg/cm2 6.8x10 3.1x10 9.7x10-6 1.0x10-5 1.5x10-6
lb/ft2 1.4x10-6 6.4x10-7 2.0x10-6 2.1x10-6 3.1x10-7
V (cm3) 0.1250 0.0225 5.9300 0.1175 0.0100
Densitas (g/cm3) 1.3622 3.4862 0.0407 2.2327 3.8000
(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018)
Berdasarkan pengukuran berat kemasan plastik yang dijadikan sampel,
dapat disimpulkan bahwa urutan sampel plastik yang paling berat hingga paling
ringan adalah PVC, PS, PP, LDPE dan PE. Pada pengamatan ketebalan, PS
merupakan sampel yang memiliki ketebalan yang paling besar, namun PS
mempunyai berat yang lebih ringan jika dibandingkan dengan PET dan PVC
karena jika diamati Styrofoam memiliki tekstur yang berongga. Konversi berat
dilakukan dengan membagi berat sampel dengan luas sampel. Setalah menghitung
berat dibagi luas sampel, didapatkan densitas sampel pelastik.
Berdasarkan perhitungan, jenis plastik yang memiliki densitas paling besar
hingga paling kecil adalah PE, LDPE, PVC, PP, dan PS. Hasil konversi berat ini
berbeda dengan hasil pengukuran berat sampel. PE memiliki densitas yang paling
tinggi. Berdasarkan sifat permeabilitasnya yang rendah serta sifat-sifat
mekaniknya yang baik, polietilen banyak digunakan sebagai pengemas makanan,
karena sifatnya yang thermoplastik, polietilen mudah dibuat kantung dengan
derajat kerapatan yang baik (Sacharow dan Griffin, 1970). Menurut Buckle et al.
(1987) permeabilitas gas PVC (seperti CO2, O2, N2) lebih rendah dibandingkan
dengan HDPE, LDPE, PP, sehingga PVC cocok untuk mengemas produk yang
banyak mengandung senyawa volatil (senyawa yang mudah menguap).
LDPE memiliki densitas yang tidak terlalu rendah dimana sifat plastik ini
dapat melalukan uap air, tidak mudah sobek, tidak berbau, tahan terhadap pelarut
alkali, tahan asam kecuali asam sitrat pekat, tahan asam organik dan detergen,
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

namun kemasan ini tidak cocok digunakan untuk mengemas bahan yang beraroma
dan agak sulit dilaminasi.

4.2.4 Identifikasi Jenis Plastik Dengan Uji Nyala


Pengamatan selanjutnya yaitu dilakukan uji bakar plastik yang merupakan
suatu bentuk pengujian yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi jenis
polimer dari suatu plastik dengan pembakaran plastik pada nyala api. Bahan
plastik dibakar dalam api, kemudian diamati nyala apinya, kemampuan untuk
padam dengan sendirinya, bau, warna nyala, dan perilaku bahan (hilang,
mengkerut, leleh, dan lainlain). Bandingkan dan identifikasi polimer plastik.
Tabel 8. Hasil Pengamatan Uji Nyala (Burn Test)
A B C D E
Indikator
(PP) (LDPE) (PS) (PVC) (PE)
Kemudahan + +++ - ++++ ++
Menyala
Kemampuan + ++ +++ + ++
Padam
Bau + + Bau ++++ ++++++ Gosong +
Warna Api Orange Orange Orange Orange Orange
Perilaku Meleleh Meleleh Meleleh Meleleh Menghilang
Bahan
(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018)

Berdasarkan hasil pengamatan, sampel plastic PP, sedikit mudah menyala,


mudah padam dengan sendirinya, sedikit berbau, warna apinya orange, dan plastik
meleleh. Berdasarkan (BPI, 2007), ketika plastik PP dibakar akan menghasilkan
warna api berwarna biru dan memiliki aroma manis, namun pengamatan
pada praktikum berbeda dengan literature.
Plastik PE cukup mudah menyala, dapat padam dengan sendirinya, berbau
gosong, warna api adalah orange, perilaku bahan yang terjadi adalah menghilang.
Berdasarkan (BPI, 2007), jika plastik PE dibakar maka akan menghasilkan warna
api biru atau kuning dan menghasilkan bau paraffin, namun hasil praktikum dan
literature tidak menunjukkan hasil yang sama.
Sampel LDPE mudah menyala, dapat padam dengan sendirinya, berbau
asap, warna apinya orange, plastik tersebut meleleh. Sedangkan sampel PS sulit
menyala, namun dapat padam dengan sendirinya, bau asapnya menyengat, warna
apinya orange, meleleh namun tidak menetes, dan plastik mengkerut.
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

Sampel PVC sangat mudah menyala, namun sedikit susah untuk padam
dengan sendirinya, berbau asam dan gosong, warnanya orange, meleleh namun
tidak menetes dan plastik menjadi menggulung. Berdasarkan (BPI, 2007), jika
plastik PVC dibakar maka akan menghasilkan aroma buah-buahan dan api
berwarna biru, hasil praktikum dan literature menujukkan hasil yang berbeda.
Saat uji nyala, karakteristik yang dihasilkan dari pengujian tersebut
berkaitan dengan bahan penyusun jenis kemasan plastik itu sendiri. Bau yang
dihasilkan saat pembakaran kemungkinan disebabkan oleh bahan penyusunnya
plastik tersebut seperti plastik PVC yang berbau tidak sedap yang kemungkinan di
sebabkan oleh senyama antimony trioksida. PVC menimbulkan bau asam yang
menyengat karena adanya unsur klorida sebagai salah satu bahan penyusunnya.
HDPE kemungkinan menghasilkan bau asam seperti asam amoniak dan plastik PE
akan menimbulkan bau asam (etilen). Beberapa bahan penyusun plastik tersebut
akan membahayakan tubuh jika bahan tersebut bermigrasi ke dalam bahan pangan
yang dikemas dan ikut masuk ke dalam tubuh.
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

V. KESIMPULAN

1. Kertas yang dapat dijadikan sebagai kemasan bahan pangan adalah kertas
kraft, kertas perkamen, kertas glasin, kertas roti, dan kertas nasi,
sedangkan kertas-kertas lainnya yang diamati dalam praktikum kali ini
tidak dapat dijadikan sebagai kemasan bahan pangan karena sifatnya yang
tidak sesuai dengan bahan pangan.
2. Urutan ketebalan dari kertas yang paling tebal sampai yang paling tipis
adalah kertas karton, kertas nasi, kertas sak, kertas minyak, dan terakhir
adalah kertas roti.
3. Susunan gramatur dari terbesar ke yang rendah adalah kertas karton >
kertas sak > kertas nasi > kertas roti > kertas minyak.
4. Nilai rata-rata densitas berdasarkan hasil praktikum dari yang terbesar
sampai terkecil adalah kertas roti, kertas karton, kertas minyak, kertas nasi,
dan kertas sak.
5. Kemasan plastik yang boleh digunakan untuk bahan pangan adalah PE,
PP, dan LDPE.
6. Urutan ketebalan, transparan, kelenturan, dan kehalusan plastik dari tinggi
ke rendah adalah Styrofoam, PVC, PP, HDPE, dan PE.
7. Jenis plastik yang paling tebal adalah PS dan yang paling tipis adalah PE.
8. Urutan plastik dari yang paling berat sampai yang laing rendah adalah
PVC > PS (styrofoam) > PP > LDPE > PE.
9. Urutan nilai densitas plastik dari yang terbesar ke terkecil adalah PE,
LDPE, PVC, PP, dan PS (styrofoam).
10. Urutan plastik dari yang paling mudah terbakar sampai yang paling sulit
terbakar adalah PVC > LDPE > PE > PP > PS.
11. Plastik yang menghasilkan bau dari yang paling menyengat adalah PE dan
yang tidak terlalu menyengat adalah PP, dan warna api yang dihasilkan
saat pengujian menghasilkan warna orange pada semua sampel plastik.
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

DAFTAR PUSTAKA

Agustina, Putri Serly. 2014. Teknik Kimia: Pembuatan Plastik Biodegradable


Menggunakan Pati Dari Umbi Gadung. Politeknik Negeri Sriwijaya:
Palembang.
Bierley, A.W., R.J. Heat and M.J. Scott, 1988, Plastik Materials Properties and
Aplications. cations. Chapman and Hall Publishing, New York.
BPI. 2007. Burn Test : Plastic Identification. Available at : www. Boedeker.com
(Diakses tanggal 04 April 2018)
Buckle, K. A., Edwards, R. A., Fleet, G. H., and Wotton, M. 1987. Ilmu Pangan.
Penerjemah Hari Purnomo dan Adiono. Universitas Indonesia Press.
Jakarta
Casey, J.P. 1961. Pulp and Paper, vol.II Second Ed. International Publisher
Inc.NewYork
Herudiyanto, M.S. 2008. Teknologi Pengemasan Pangan. Widya Padjadjaran,
Bandung.
Joedodibroto, H. 1982. Plan Plantation Residues as an Alternative Sourece of
Cellulosaic
Julianti, E. dan M. Nurminah, 2006. Buku Ajar Teknologi Pengemasan.
Departemen Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas
Sumatera Utara, Medan
Lumbanbatu, Kasdim. 2008. “Pembuatan dan Karakteristik Kertas Eceng
Gondok”.Skripsi. Medan : Universitas Sumatra Utara.
Patmar Supply. 2004. What is Paperboad. Available at : http ://www.patmar.com
(Diakses 04 April 2018)
Rahmawati, F. 2013. Pengemasan dan Pelabelan. Fakultas Tekni, Universitas
Negeri Yogya karta, Yogyakarta. Available at :
staffnew.uny.ac.id/pengemasan-dan-pelabelan. Pdf (Diakses tanggal 04
April 2018)
Robertson, Gordon L. 1993. Food Packaging Principles and Practice. Marcel
Dekker, Inc. New York.
Ryall, A. L. dan Lipton W. J. 1972. Handling, Transportation and Storage of
Fruits And Vegetables. The AVI Publishing Co., Westport.
Sacharow. S. and R.C. Griffin. 1980. Principles of Food Packaging. The AVI
Publishing. Co. Inc. Westport. Connecticut.
Suyitno. 1990. Bahan-bahan Pengemas. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

Syarief,R.,Santausa,S.,Insyana, St.B. 1989. Teknologi Pengemasan


Pangan.Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Winarno, F. G. dan Jennie. 1982. Kerusakan Bahan Pangan dan Cara
Pencegahannya. Ghalia Indonesia, Jakarta.
Yuyun dan D. Gunarsa. 2011. Cerdas Mengemas Produk Makanan dan Minuman.
Agro Media Pustaka, Jakarta.
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

JAWABAN PERTANYAAN

KERTAS
1. Jelaskan kelebihan dan kelemahan penggunaan jenis kemasan kertas untuk
mengemas produk pangan!
Jawab:
Kelebihan :
 Warna dari kemasan sudah merata pada seluruh kemasan
 Berbagai sifat kekuatan kertas termasuk proses pembuatan dan jenis
serat sudah terdapat pada kemasan kertas
 Dapat lebih mudah untuk dilaminasi, dicetak, maupun dihias
 Lebih murah dan mudah ditemukan.
Kekurangan :
Sensitive terhadap air, Mudah robek, Mudah dipengaruhi oleh kelembaban
udara lingkungan

2. Faktor apakah yang mempengaruhi pemilihan jenis kertas untuk mengemas


produk pangan?
Jawab:
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan jenis kertas untuk mengemas
produk pangan :
 Kemasan kertas relative lebih murah dan mudah ditemukan
 Kemudahannya untuk diberi label atau untuk dihias.
 Kemudahan pemakaian
 Sifat bahan yang akan di kemas
 Tujuan dan keperluan kemasan

3. Sebutkan dan jelaskan karakteristik 2 jenis kertas lain selain 40 kertas di
bagian A!
Jawab :
 Tyvek
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

Kertas tyvek adalah kertas yang terikat dengan HDPE (high density
polyethylene). Dibuat pertama sekali oleh Du Pont dengan nama dagang
Tyvek. Kertas tyvek mempunyai permukaan yang licin dengan derajat
keputihan yang baik dan kuat, dan sering digunakan untuk kertas foto.
Kertas ini bersifat :
- no grain yaitu tidak menyusut atau mengembang bila terjadi perubahan
kelembaban
- tahan terhadap kotoran, bahan kimia
- bebas dari kontaminasi kapang
- mempunyai kemampuan untuk menghambat bakteri ke dalam kemasan.
 Kertas Soluble
Kertas soluble adalah kertas yang dapat larut dalam air. Digunakan
untuk tulisan dan oleh FDA (Food and Drug Administration) tidak boleh
digunakan untuk pangan. Sifat-sifat kertas soluble adalah kuat, tidak
terpengaruh kelembaban tetapi cepat larut di dalam air.