Anda di halaman 1dari 45

BAB V

SITUASI UPAYA KESEHATAN

Upaya Kesehatan terdiri dari upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan
perorangan. Upaya kesehatan masyarakat adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh
pemerintah dan atau masyarakat serta swasta, untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan di
masyarakat. Sedangkan upaya kesehatan perorangan adalah setiap kegiatan yang
dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat serta swasta, untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menyembuhkan penyakit serta
memulihkan kesehatan perorangan.
Kualitas pelayanan kesehatan ditentukan juga oleh berbagai faktor antara lain
sarana fisik, tenaga kesehatan, alat penunjang pelayanan kesehatan, obat-obatan dan
standar pelayanan kesehatan.
Berdasarkan hasil Susenas tahun 2013, persentase penduduk yang memiliki
keluhan kesehatan pada sebulan terakhir sebesar 27.55%. Lama mengeluh sakit
sekitar 1- 3 hr sebesar 57,24% yang artinya 100 orang penduduk, diantaranya 57 orang
menderita sakit. Dari Penduduk yang mengalami keluhan kesehatan tahun 2013, dengan
cara berobat jalan pada perempuan (47,00%) lebih tinggi dibandingkan laki-laki (40,25%)
dan cara mengobati sendiri pada perempuan (72,26%) lebih rendah dibandingkan laki-
laki (79,58%).
Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan untuk meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat, antara lain melalui upaya kesehatan dasar, upaya kesehatan
rujukan serta perbaikan gizi masyarakat serta upaya kesehatan khusus.

A. PELAYANAN KESEHATAN DASAR

Upaya Pelayanan Dasar merupakan langkah penting dalam penyelenggaraan


pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dengan pelayanan kesehatan dasar
secara tepat dan cepat diharapkan sebagaiab besar masalah kesehatan masyarakat
dapat diatasi. Berbagai pelayanan kesehatan dasar yang dilaksaksanakan adalah
sebagai berikut ini.

1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak


a. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil
Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga
kesehatan profesional kepada ibu hamil selama masa kehamilan sesuai
pedoman pelayanan antenatal yang ada dengan titik berat pada promotif dan
preventif. Tujuan pelayanan antenatal adalah mengantar ibu hamil agar dapat

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 71


bersalin dengan sehat dan memperoleh bayi yang sehat, mendeteksi dan
mengantipasi dini kelainan kehamilan dan dan kelainan janin. Hasil pelayanan
antenatal dapat dilihat pada cakupan kunjungan ibu pertama kali ibu hamil (K1)
dan kunjungan ibu hamil empat kali (K4).
Indikator K1 untuk melihat sejauh mana akses pelayanan ibu hamil
memberikan gambaran besaran ibu hamil yang melakukan kunjungan pertama
ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal.
Dan Indikator K4 merupakan akses/kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan
dengan syarat minimal satu kali kontak pada triwulan I (umur kehamilan 0-3
bulan), minimal satu kali kontak pada triwulan II (umur kehamilan 4-6 bulan dan
minimal dua kali kontak pada triwulan III (umur kehamilan 7-9 bulan) dan
sebagai indikator untuk melihat jangkauan pelayanan antenatal dan
kemampuan program dalam menggerakkan masyarakat.
Berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat
tahun 2013, menunjukkan bahwa cakupan pelayanan K1 sebesar 97,40%
dengan kisaran per-kabupaten/kota antara 89% sampai dengan 101%.
Sedangkan cakupan K4 sebesar 90,7% dengan kisaran antara 99% dan 82%.
Gambar V. A. 1
Cakupan Pelayanan K1 dan K4
Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2008–2013
100.00
80.00
60.00
40.00
20.00
-
2008 2009 2010 2011 2012 2013
K1 90.44 93.79 91.03 98.82 100.10 97.40
K4 81.01 85.95 84.95 89.93 90.70 88.10
DO (%) 10.43 8.36 6.68 9.08 9.39 9.55

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2013

Gambar V.A.1 memperlihatkan perkembangan Cakupan Pelayanan K1


dan K4 dari tahun 2006 sampai 2012 di Provinsi Jawa Barat cenderung
meningkat. Dari gambar tersebut dapat dilihat adanya kesenjangan yang terjadi
antara cakupan K1 dan K4 pada tahun 2010 sekitar 6,68% dan pada tahun
2012 mengalami kenaikan menjadi 9,39%. Hal itu berarti semakin banyak ibu
hamil yang melakukan kunjungan pertama pelayanan antenatal diteruskan
hingga kunjungan keempat pada trimester 3 sehingga kehamilannya dapat
terus dipantau oleh petugas kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 72


Apabila dibandingkan antar Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat
Tahun 2013, terlihat bahwa persentase drop out (DO) yang berada diatas
angka Jawa Barat terdapat 10 Kabupaten/Kota dan yang tertinggi terdapat di
Kabupaten Bandung Barat (16,4%), sedangkan yang dibawah angka Jawa
Barat terdapat di 17 Kabupaten/Kota dengan paling kecil terdapat di Kabupaten
Ciamis (1,9%). Secara rinci dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Gambar V. A. 2
Drop Out (%) Cakupan Pelayanan K1-K4 Di Provinsi Jawa Barat
Menurut Kabupaten/KotaTahun 2013

Sumber : Profil Kab/kota dan Bidang Bina Yankes Dinas Provinsi Jawa Barat tahun 2013

Cakupan K1, dari 27 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat, hanya 9


Kabupaten/Kota yang belum mencapai target cakupan K1 (95%) antara lain
yaitu Kabupaten Kuningan (83,07%), KabupaKota Ciamis (90,91%), dan
Kabupaten Tasikmalaya (90,94%), secara rinci dapat dilihat pada lampiran
tabel 28.
Sedangkan Cakupan ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya
minimal 4 kali (K4) selama kehamilannya sampai tahun 2013 sebesar 88,12%,
hal ini belum mencapai target yang harus dicapai oleh Provinsi Jawa Barat
sebesar 95%. Apabila dilihat per-Kabupaten/Kota, cakupan K4 yang telah
mencapai target terdapat 1Kabupaten/Kota yaitu Kota Bogor (95,97),
sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Kuningan (77,69%). Untuk
selengkapnya cakupan per-Kabupaten/Kota dapat dilihat pada Gambar V.A.3.
dan pada lampiran tabel 28.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 73


Gambar V. A. 3
Cakupan Pelayanan Ibu Hamil K4 Di Provinsi Jawa Barat
Menurut Kabupaten/KotaTahun 2013

Sumber : Profil Kab/kota dan Bidang Bina Yankes Dinas Provinsi Jawa Barat tahun 2013

Untuk memantau kesehatan Ibu hamil maka KMS ibu hamil atau Buku
KIA digunakan untuk mencatat pelayanan yang sudah diterima oleh ibu selama
hamil, melahirkan, nifas serta untuk bayinya dilanjutkan dengan pertumbuhan
sampai umur bayinya lima tahun (Balita). Hasil Riskesdas tahun 2013
menunjukkan bahwa 74,3 % mempunyai Buku KIA, namun yang bisa
menunjukkan hanya 34,6 %. Variasi kepemilikan buku KIA dan bisa
menunjukkan menurut kabupaten/kota bervariasi yaitu di Kabupaten
Majalengka, Kabupaten Sumedang, dan kota Banjar berkisar > 60 persen.
Cakupan terendah di Kabupaten Bekasi berkisar dibawah 20%.
Selanjutnya pada buku KIA dilakukan observasi Lembar Amanat
Persalinan untuk melihat isian 5 komponen P4K. Hasil observasi buku KIA
menunjukkan untuk isian penolong persalinan sebesar 30,5 %, dana
persalinan sebesar 11,3 %, kendaraan/ambulans desa sebesar 9,8 %, metode
KB pasca salin sebesar 16 % dan 7,8 % untuk isian sumbangan darah.
Kelengkapan isian semua komponen sebesar 6,8 % dan 68,5 % tidak ada
isian.
Berdasarkan Riskesdas Tahun 2013, Tenaga kesehatan yang
memberi pelayanan pemeriksaan kesehatan yang dipilih ibu hamil memberikan
pelayanan kesehatan ibu hamil sebesar 90,5 %. Fasilitas kesehatan
disediakan untuk meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil dari
RS hingga posyandu yang merupakan salah satu upaya untuk mendekatkan
tenaga kesehatan yang memberi pelayanan kepada masyarakat. Gambar
V.A.5 memperlihatkan bahwa sebagian besar ibu hamil adalah praktek bidan

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 74


(60,3%), Puskesmas/pustu sebesar 8,9 persen dan pemanfaatan posyandu
sebesar 2,8 persen.

Gambar V. A. 4 Gambar V. A. 5
Proporsi Tenaga Kesehatan Yang Proporsi Fasilitas Kesehatan Untuk
Memberi Pelayanan ANC, Pelayanan ANC, Jawa Barat 2013
Jawa Barat 2013

Selain mengupayakan peningkatan cakupan pelayanan K4, harus


diupayakan pula peningkatan kualitas K4 yang sesuai standar. Salah satu
pelayanan yang diberikan saat pelayanan antenatal yang menjadi standar
kualitas adalah pemberian zat besi (Fe) 90 tablet dan imunisasi TT (Tetanus
Toksoid). Dengan demikian seharusnya ibu-ibu hamil yang tercatat sebagai
cakupan K4 juga tercatat dalam laporan pemberian Fe3 dan TT2.
Pada gambar dibawah ini terlihat bahwa Cakupan K4 pada tahun
2013 sebesar 88,10%, namun pemberian 90 tablet besi hanya sebesar
87,19%, dan terdapat kesenjangan sebesar 0,91 poin, kesenjangan tersebut
lebih baik dari pada tahun 2012 (4,89 poin).
Cakupan Kunjungan ibu hamil yang terdektesi sebagai ibu hamil
dengan resiko tinggi ke pelayanan kesehatan di Jawa Barat, berdasarkan Profil
Kabupaten/Kota tahun 2013 terdapat 78%. Dengan terdektesinya ibu hamil ini,
diharapkan persalinan dapat ditangani lebih dini atau kalaupun terjadi
komplikasi persalinan maka tidak mengakibatkan kematian. Apabila ibu hamil
mempunyai resiko yang tinggi dalam melahirkan dan keterbatasan
kemampuan dalam memberikan pelayanan di Puskesmas maupun bidan desa
maka perlu dirujuk ke unit pelayanan kesehatan yang memadai.Cakupan ibu
hamil yang mempunyai resiko tinggi belum mencapai target Provinsi Jawa
Barat sebesar 80%.
Apabila dilihat per-kabupaten/kota Cakupan Ibu Hamil Resiko Tinggi
yang Ditangani terdapat 12 Kabupaten/Kota yang sudah mencapai target
(80%), dan terdapat 14 Kabupaten/Kota dibawah angka Jawa Barat (78%).

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 75


Gambar V. A. 6
Cakupan Ibu Hamil Resiko Tinggi yang Ditangani
Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2013

b. Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin


Komplikasi dan kematian ibu maternal serta bayi baru lahir sebagian
besar terjadi pada masa di sekitar persalinan, hal ini antara lain disebabkan
pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai
kompetensi kebidanan. Cakupan persalinan adalah persalinan yang ditangani
oleh tenaga kesehatan, angka cakupan ini menggambarkan tingkat
penghargaan masyarakat terhadap tenaga penolong persalinan dan
manajemen persalinan KIA dalam memberikan pertolongan persalinan secara
profesional.
Dalam kurun waktu lima tahun cakupan pertolongan persalinan oleh
tenaga kesehatan cenderung meningkat berkisar antara 74,34% – 89,30%,
hal ini belum mencapai target (90%). Cakupan persalinan oleh tenaga
kesehatan di Jawa Barat tahun 2013 baru mencapai 88%, dan mengalami
kenaikan sebesar 6,06 poin, apabila dibandingkan dengan cakupan tahun
2010 sebesar 81,94%.
Gambar V. A. 7
Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan
Di Provinsi Jawa Barat tahun 2008 – 2013
100 87.20 89.30 88.00
81.94
74.34
75 80.47
50

25

0
2008 2009 2010 2011 2012 2013

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2013

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 76


Apabila dibandingkan antara Kabupaten/Kota tahun 2013, maka yang
mempunyai cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan yang telah mencapai
90% keatas ada 18 kabupaten/kota, yang tertinggi pada Kabupaten
Indramayu (94,8%), Kota Sukabumi (94,8%), sedangkan yang paling terendah
terdapat di Kota Banjar (80,25%) dan terdapat 18 Kabupaten/Kota yang
dibawah angka Jawa Barat (89,3%), untuk lebih rincinya dapat dilihat pada
gambar dibawah ini;

Gambar V. A. 8
Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan
Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2013

Persentase tempat ibu melahirkan menurut karakteristik tempat tinggal


dan status ekonomi, di pedesaan umumnya persalinan dilakukan di
rumah/lainnya, sedangkan di perkotaan melahirkan di fasilitas kesehatan lebih
banyak. Makin tinggi status ekonomi lebih memilih tempat persalinan di
fasilitas kesehatan, sebaliknya untuk makin rendah status ekonomi,
persentase persalinan di rumah makin besar.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 77


Tabel V. A. 1
Persentase Kelahiran Menurut Penolong Persalinan
Dan Kabupaten/Kota, Di Provinsi Jawa Barat 2013

Dr.Kebid & Dokter Keluarga Tidak ada


No Kabupaten/Kota Bidan Perawat Dukun
Kandungan Umum / lainnya penolong
1 Bogor 7.8 0,0 55.0 0,0 36.2 0,0 0.9
2 Sukabumi 4.7 0.6 70.8 0.6 22.1 0,0 1.2
3 Cianjur 4.3 0,0 49.5 0,0 44.4 0,0 1.9
4 Bandung 17.1 0.6 64.7 0.3 17.0 0,0 0.2
5 Garut 3.3 0,0 55.4 0.7 39.7 0.5 0.5
6 Tasikmalaya 2.2 0,0 60.9 0,0 35.6 1.3 0,0
7 Ciamis 11.2 0.4 82.8 1.3 4.3 0,0 0,0
8 Kuningan 22.2 0,0 77.8 0,0 0,0 0,0 0,0
9 Cirebon 7.8 0,0 89.0 0,0 2.4 0,0 0.7
10 Majalengka 17.5 1.0 64.1 0,0 16.4 0,0 1.0
11 Sumedang 15.6 0,0 78.9 0,0 5.5 0,0 0,0
12 Indramayu 13.6 0,0 81.6 0,0 4.8 0,0 0,0
13 Subang 21.3 0,0 70.7 0,0 7.9 0,0 0,0
14 Purwakarta 13.8 0.8 58.3 0,0 26.7 0,0 0.4
15 Karawang 11.2 0,0 86.9 0,0 2.0 0,0 0,0
16 Bekasi 22.6 0,0 71.9 0.4 5.0 0,0 0,0
17 Bandung Barat 13.7 0,0 56.6 0,0 28.3 0,0 1.4
18 Kota Bogor 13.1 0.9 69.2 1.1 14.2 1.1 0.4
19 Kota Sukabumi 19.8 0.7 70.3 0,0 9.1 0,0 0,0
20 Kota Bandung 24.8 0.8 69.0 0,0 4.6 0,0 0.7
21 Kota Cirebon 34.9 0,0 64.8 0,0 0.3 0,0 0,0
22 Kota Bekasi 22.0 0.7 72.8 0,0 3.5 0,0 1.0
23 Kota Depok 32.4 1.8 60.2 0,0 5.6 0,0 0,0
24 Kota Cimahi 23.5 0,0 69.0 0,0 5.6 0,0 1.9
25 Kota Tasikmalaya 9.1 0,0 79.3 0,0 11.6 0,0 0,0
26 Kota Banjar 11.5 1.5 84.3 0,0 2.7 0,0 0,0
Jawa Barat 14.3 0.4 67.0 0.2 17.5 0.1 0.6

Tabel diatas memperlihatkan distribusi kelahiran yang ditolong oleh


tenaga berkualifikasi tertinggi. Hasil Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa
persalinan oleh penolong linakes (persalinan dengan tenaga kesehatan)
kualifikasi tertinggi sebesar 81,6 %, dengan rincian 14,3 % oleh dokter
kebidanan dan kandungan, 0,4 % oleh dokter umum dan 67% oleh bidan.
Terdapat persalinan yang ditolong oleh perawat (0,2%), sedangkan penolong
persalinan oleh dukun sebesar 17,5 % dan 0,1 % penolong lainnya. Terlihat
bahwa secara umum bidan merupakan tenaga utama sebagai penolong
persalinan di Jawa Barat. Kabupaten Cirebon dan Kota Depok merupakan
kabupaten/kota dengan penolong persalinan kualifikasi tertinggi oleh dokter
spesialis mencapai 34,9 % dan 32,4 % merupakan proporsi paling tinggi
dibanding kabupaten/kota lainnya.
Tempat persalinan yang ideal adalah melahirkan di institusi
kesehatan. Secara umum, 66,4 % kelahiran yang terjadi di fasilitas kesehatan

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 78


dengan rincian, 16,5 % di rumah sakit (baik pemerintah maupun swasta) dan
43,9 % dilahirkan di rumah bersalin, klinik, praktek dokter/praktek bidan, 5,0 %
di puskesmas/ pustu, 1,1 % di poskesdes/polindes.Terdapat 33,6% masih
melahirkan di rumah/lainnya. Kabupaten/kota dengan cakupan persalinan di
rumah tinggi adalah Kabupaten Cianjur (72,2%), Kabupaten Garut (70,9%),
dan Kabupaten Tasikmalaya (62,3%). Sementara Kota Cirebon, Kota
Bandung, dan Kota Bekasi merupakan kabupaten/kota dengan cakupan
persalinan di rumah terendah, masing-masing secara berturut-turut (0,3%,
7,7%, dan 8,4%).
Tabel V. A. 2
Persentase Kelahiran Menurut Tempat Persalinan Dan Kabupaten/Kota,
Di Provinsi Jawa Barat 2013

RB/Klinik/ Puskesmas/ Polindes/ Rumah/


No Kabupaten/Kota RS
Praktek Nakes Pustu Poskesdes Lainnya
1 Bogor 12,7 35,8 2,6 0,0 48,9
2 Sukabumi 12,8 29,8 11,7 0,9 44,8
3 Cianjur 8,2 17,3 2,3 0,0 72,2
4 Bandung 16,0 52,9 4,7 0,2 26,2
5 Garut 4,7 19,1 5,2 0,1 70,9
6 Tasikmalaya 4,9 22,7 6,3 3,8 62,3
7 Ciamis 14,1 27,5 16,8 9,2 32,4
8 Kuningan 30,5 27,9 11,6 3,7 26,3
9 Cirebon 12,3 41,2 11,0 2,8 32,7
10 Majalengka 19,1 28,3 4,9 1,0 46,8
11 Sumedang 15,8 59,1 3,4 2,2 19,5
12 Indramayu 12,3 47,1 6,9 0,0 33,7
13 Subang 17,3 47,4 5,2 10,1 20,0
14 Purwakarta 13,9 37,5 0,3 0,0 48,3
15 Karawang 13,5 64,5 3,4 0,0 18,6
16 Bekasi 26,6 49,2 3,2 0,0 21,0
17 Bandung Barat 11,7 48,1 2,7 0,0 37,4
18 Kota Bogor 16,0 60,6 5,1 0,0 18,3
19 Kota Sukabumi 22,8 46,2 15,0 0,0 15,9
20 Kota Bandung 21,3 68,7 2,2 0,0 7,7
21 Kota Cirebon 48,8 47,6 3,3 0,0 0,3
22 Kota Bekasi 24,2 63,3 3,6 0,5 8,4
23 Kota Depok 33,1 56,6 1,0 0,0 9,4
24 Kota Cimahi 24,1 60,1 4,9 0,0 10,9
25 Kota Tasikmalaya 17,4 63,3 2,3 1,0 16,0
26 Kota Banjar 12,8 64,9 12,2 0,0 10,1
Jawa Barat 16,5 43,9 5,0 1,1 33,6

c. Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas


Setelah melahirkan, ibu masih perlu mendapat perhatian. Masa nifas
masih berisiko mengalami pendarahan atau infeksi yang dapat
mengakibatkan kematian ibu. Berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten/Kota

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 79


cakupan pelayanan ibu nifas (KF) pada tahun 2013 baru mencapai 87,66%,
secara umum cakupan KF lebih tinggi di perkotaan dibanding perdesaan.
Apabila dibandingkan antar Kabupaten/Kota terdapat 16 Kabupaten/Kota
yang telah mencapai target 85%. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar
berikut ini.

Gambar V. A. 9
Cakupan Pelayanan Ibu Nifas (KF)
Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2013

Gambar V. A. 10
Proporsi Kelahiran Hidup Menurut Pelayanan Pemeriksaan Masa Nifas,
Di Provinsi Jawa Barat 2013

Sumber : Riskesdas Tahun 2013

Gambar diatas dapat dilihat bahwa secara umum kontak pasca


persalinan paling tinggi adalah pada periode 6 jam sampai 3 hari setelah
melahirkan. Sedangkan kontak pasca persalinan yang lengkap rata-rata Jawa
Barat adalah 37,8 %.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 80


Pelayanan yang diberikan kepada ibu nifas antara lain pemberian
vitamin A, berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten/Kota, terdapat 69,20%
ibu nifas Provinsi Jawa Barat yang mendapatkan kapsul vitamin A, apabila
dibandingkan antar Kabupaten/Kota terdapat 12 Kabupaten/Kota diatas angka
Jawa Barat, tertinggi terdapat di Kabupaten Indramayu (108,7%) dan
terendah di Kabupaten Bandung Barat (74,5%). Dapat dilihat pada gambar
dibawah ini.
Gambar V. A. 11
Cakupan Ibu Nifas Mendapatkan Kapsul Vitamin A
Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2013

d. Pelayanan Kesehatan Neonatal


Cakupan kunjungan neonatal (KN) adalah persentase neonatal (bayi
kurang dari satu bulan) yang memperoleh pelayanan kesehatan minimal dua
kali dari tenaga kesehatan satu kali pada umur 0-7 hari dan satu kali pada
umur 8-28 hari. Angka ini menunjukan kualitas dan jangkauan pelayanan
kesehatan neonatal. Hal ini karena bayi hingga umur kurang dari 1 bulan
mempunyai resiko gangguan kesehatan yang paling tinggi.
Cakupan Kunjungan Neonatal di Jawa Barat pada tahun 2013 baru
mencapai 91,1% dengan kisaran per-kabupaten/kota antara 71,3% -106,26%
. Bila dibandingkan dengan selama lima tahunan pada periode 2008 – 2013,
ternyata cakupan Kunjungan Neonatal mengalami kenaikan 8,18% dari tahun
2010. Untuk lebih rinci dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 81


Gambar V. A. 12
Cakupan Kunjungan Neonatus (KN)
Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2008- 2013
93.3 91.1
100 82.02 86.45 82.92 87.65
80
60
40
20
0
2008 2009 2010 2011 2012 2013

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2013

Pencapaian persentase cakupan kunjungan neonatal per-kabupaten/


kota pada tahun 2013 dengan kabupaten/kota yang cakupannya diatas 90 %
terdapat 19 Kabupaten/Kota, dan terdapat 12 Kabupaten/Kota yang berada
dibawah angka Jawa Barat (91,09%) untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
gambar berikut ini.

Gambar V. A. 13
Cakupan Kunjungan Neonatus (KN Lengkap)
Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2013

Setiap bayi baru lahir sebaiknya mendapatkan semua kunjungan


neonatus sebanyak 3 kali dan dinyatakan kunjungan neonatus lengkap (KN1,
KN2, KN3), berdasarkan Riskesdas 2013, Persentase kunjungan Neonatus
pada umur 6-48 jam sebanyak 67,5%, umur 3-7 hari sebanyak 62,9% dan yang
umur 8-28 hari sebanyak 53,6%.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 82


Gambar V. A. 14
Persentase Kunjungan Neonatus, di Provinsi Jawa Barat
Tahun 2013

67.5 62.9
70 53.8
60 42.6
50
40 22.2
30
20
10
0
KN1 KN2 KN3 KN Tidak
(6 - 48 (3 - 7 Hari) (8 - 28 Lengkap Pernah KN
Jam) Hari)

Gambar V. A. 15
Persentase Kunjungan Neonatus (KN1, KN2, KN3 dan Tidak Pernah KN),
Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013

Sumber : Riskesdas tahun 2013

Seiring dengan bertambahnya umur anak, Persentase kunjungan


neonatus menurut jenis kelamin anak hampir tidak ada perbedaan, sedangkan
menurut tempat tinggal persentase kunjungan neonatus di perkotaan lebih
tinggi daripada di perdesaan. Semakin tinggi tingkat pendidikan dan kuintil
indeks kepemilikan kepala rumah tangga, semakin tinggi pula persentase
kunjungan neonatus pada bayi berumur 6-48 jam, 3-7 hari, dan 8-28 hari.
Menurut jenis pekerjaan kepala rumah tangga, persentase kunjungan neonatus
pada umur 6-48 jam, 3-7 hari, dan 8-28 hari tertinggi pada kelompok pekerjaan
pegawai, yaitu 76,6 % untuk KN1, 72,4 % untuk KN2, dan 63,0 % untuk KN3.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 83


e. Pelayanan Kesehatan Bayi
Pelayanan kesehatan pada kunjungan bayi sangat penting karena
berkaitan dengan Angka Kematian Bayi di Provinsi Jawa Barat masih tinggi.
Pelayanan kesehatan bayi adalah pelayanan kesehatan sesuai standar
yang diberikan oleh tenaga kesehatan kepada bayi minimal 4 kali kunjungan
selama periode 29 hari sampai dengan 11 bulan, yaitu satu kali umur 29 hari-3
bulan, satu kali pada umur 3-6 bulan, stu kali pada umur 6-9 bulan dan satu kali
pada umur 9-11 bulan.
Berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten/Kota, cakupan kunjungan
bayi tahun 2013 sebesar 96,4%, terdapat kenaikan sekitar 13,9 poin
dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 82,48%.
Gambar V. A.16
Cakupan Kunjungan Bayi Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013

90.0 93.3 96.4


100.0 77.3 82.5
75.3
80.0
60.0
40.0
20.0
-
2008 2009 2010 2011 2012 2013

Sumber: Profil Kesehatan kabupaten/Kotatahun 2013

Cakupan kunjungan bayi di Jawa Barat tahun 2013, apabila


dibandingkan antar Kabupaten/Kota, ternyata ada 4 Kabupaten/Kota yang
belum mencapai target (90%), dan cakupan yang tertinggi di Kabupaten Bekasi
(105,07%) dan cakupan yang terendah di Kota Bekasi (67,72%). Secara rinci
dapat dilihat pada gambar V.A.17 dan lampiran tabel 37.
Gambar V. A. 17
Cakupan Kunjungan Bayi Menurut Kabupaten/Kota
di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota tahun 2013

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 84


f. Pelayanan Kesehatan Anak Balita
Lima tahun pertama kehidupan, pertumbuhan mental dan intelektual
berkembang pesat. Masa ini merupakan masa terbentuknya dasar-dasar
kemampuan keindraan, berfikir, berbicara serta pertumbuhan mental intelektual
yang intensif dan awal pertumbuhan moral.
Pada tahun 2013 cakupan pelayanan kesehatan anak balita (1-4) tahun
sebesar 79,8%, sementara target yang harus dicapai 90%. Pencapaian
Cakupan Pelayanan Kesehatan Anak Balita tahun 2012, ternyata sebanyak 7
Kabupaten/Kota yang sudah mencapai target 90% dengan kisaran 99,5%-
91%, sedangkan Kabupaten/Kota dengan cakupan terendah adalah Kabupaten
Ciamis (44,4%). Cakupan pelayanan kesehatan anak balita per-
Kabupaten/Kota dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar V. A. 18
Cakupan Pelayanan Kesehatan Anak Balita (1-4 Tahun)
Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota tahun 2013

2. Pelayanan Keluarga Berencana

Keberhasilan program Keluarga Berencana dapat diketahui dari beberapa


indikator ditunjukan melalui pencapaian cakupan KB Aktif dan peserta KB Baru
terhadap pasangan umur subur (PUS) dan Persentasepeserta KB Aktif Metode
Kontrasepsi Efetif Terpilih (MKET).
Masa subur seorang wanita memiliki peran penting bagi terjadinya
kehamilan sehingga peluang wanita melahirkan menjadi cukup tinggi. Menurut
hasil penelitian, umur subur seorang wanita biasanya antara 15 – 49 tahun. Oleh
karena itu untuk mengatur jumlah kelahiran atau menjarangkan kelahiran,
wanita/pasangan ini lebih diprioritaskan untuk menggunakan alat/cara KB.
Berdasarkan hasil Susenas tahun 2013, jumlah penduduk perempuan
umur 10 tahun keatas yang pernah menikah terutama kurang dari 16 tahun di
Provinsi Jawa Barat sebanyak 15,72%. Sedangkan jumlah penduduk perempuan

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 85


umur 10-49 tahun dan berstatus menikah dengan status penggunaan KB hanya
73,71%. Selanjutnya untuk kelompok perempuan umur 10-49 tahun dan berstatus
kawin yang tidak pernah sama sekali menggunakan KB di Provinsi Jawa Barat
sebanyak 14,97%.
Pencapaian KB Aktif di Provinsi Jawa Barat mengalami penurunan
sebesar 3,8 poin dari tahun 2010 sebanyak 78,7% menjadi 74,90% pada tahun
2013, hal ini sudah mencapai target (70%). Jenis kontrasepsi yang tertinggi
menggunakan kontrasepsi suntik (51,90%).

Gambar V. A.19
Persentase Penggunaan Alat Kontrasepsi pada Akseptor KB Aktif
Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013

120.0 99.60
100.0 77.90 78.70
74.43 76.13 74.90
80.0
60.0
40.0
20.0
-

2008 2009 2010 2011 2012 2013

KON DOM
IUD
PIL 1.50%
11.90%
26.30%
MOP
0.90%

MOW
SUNTIK
2.50%
51.90%
IM PLAN
5.00%

Sumber : BKKBN Provinsi Jawa Barat

Apabila dilihat per-kabupaten/kotanya ternyata terdapat 12


Kabupaten/Kota yang angkanya diatas Jawa Barat (99,61, dan cakup%) dan
peserta KB Aktif yang tertinggi di Kota Banjar (102,63%) dan terendah di Kota
Bogor (97,68%). Secara rinci dapat dilihat pada gambar bawah ini.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 86


Gambar V. A.20
PersentaseCakupan Peserta KB Aktif terhadap Pasangan Umur Subur
Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013

Sumber: Profil Kesehatan kabupaten/Kotatahun 2013

Proporsi penggunaan alat/cara KB Modern di Provinsi Jawa Barat saat ini


dari hasil Riskesdas 2013 sebesar 64,4%, proporsi penggunaan KB terendah 56,3
% (Kota Tasikmalaya) dan tertinggi 75,4 % (Kabupaten Sumedang).
Gambar V. A.21
Persentase WUS Kawin yang Menggunaan Alat/Cara KB
Menurut Kabupaten/Kota, Di Provinsi Jawa Barat 2013

Sumber : Riskesdas Tahun 2013

Penggunaan menurut alat atau cara tersebut juga mencerminkan CPR KB


modern dan CPR KB tradisional. Indikator CPR modern merupakan salah indikator
MDGS ke lima dengan target peningkatan CPR modern sebesar 65 persen
(Kemenkes RI, 2011).
Pola penggunaan KB yang didominasi oleh alat/cara KB modern (64,2%)
dibanding cara tradisional (0,2%). Alat/cara KB modern terdiri dari kondom
Pria/wanita, sterilisasi pria, sterilisasi wanita, IUD/AKDR/spiral, pil, suntikan, dan

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 87


diafragma serta susuk/implant. Sedangkan alat/cara KB tradisional meliputi
metode menyusui alami, pantang berkala/kalender dan senggama terputus dan
lainnya. Kabupaten/kota dengan proporsi penggunaan KB modern tertinggi di
kabupaten Sumedang (75,4%) dan terendah kota Tasikmalaya (55,9%).
Sedangkan kabupaten/kota dengan penggunaan KB modern di bawah angka
provinsi adalah Kota Tasikmalaya, Kota Sukabumi, Kota Cirebon, Kota Bekasi,
Kabupaten Kuningan, Kabupaten Cianjur, Kota Bogor, Kabupaten Majalengka,
Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Ciamis, Kabupaten
Bogor, Kota Depok, Kabupaten Indramayu, dan Kabupaten Garut.
Gambar V. A.22
Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB Saat Ini Oleh WUS Kawin Dan
Kelompok Umur Di Provinsi Jawa Barat 2013

Sumber : Riskesdas Tahun 2013

Pengguna alat/cara KB menurut kelompok umur, terlihat bahwa proporsi


penggunaan KB saat ini yang terbanyak adalah kelompok umur 30-39 tahun yaitu
71,2%. Kelompok umur 45-49 tahun adalah kelompok umur yang paling sedikit
menggunakan alat/cara KB yaitu 37,9%.
Proporsi WUS berstatus kawin (15-49 tahun) berdasarkan tenaga dan
tempat pelayanan KB. Tenaga yang banyak memberi pelayanan KB adalah bidan
hingga 73%, sangat kontras dengan tenaga kesehatan lainnya hanya mencapai
11%. Tempat pelayanan KB yang paling diminati adalah praktek bidan (60%),
selanjutnya adalah di puskesmas (9%), apotek/lainnya (16%) dan rumah sakit
(6%) serta yang paling sedikit adalah di tim KB/medis keliling (1%).

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 88


Gambar V. A.23 Gambar V. A.24
Proporsi Penggunaan Fasilitas Kesehatan Proporsi Tenaga Kesehatan Yang Dipilih
Untuk Mendapat Pelayanan KB Yang Dipilih WUS Kawin Untuk Mendapat Pelayanan
WUS Kawin, Jawa Barat 2013 KB, Jawa Barat 2013

3. Pelayanan Immunisasi

Program immunisasi merupakan salah satu program prioritas yang dinilai


sangat efektif untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi akibat
penyakit-penyakit yang dapat dicegah oleh immunisasi.

a. Imunisasi Bayi
Program immunisasi merupakan salah satu program prioritas yang dinilai
sangat efektif untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi akibat
penyakit-penyakit yang dapat dicegah oleh immunisasi (PD3I), seperti Diptheri,
Pertusis, Tetanus Neonatorum, Polio dan Campak.
Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang
secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan
penyakit tersebut tidak akan menderita penyakit tersebut.
Hasil pelayanan imunisasi secara umum di Provinsi Jawa Barat selama 5
tahun terakhir menunjukan kecenderungan seluruh cakupan jenis vaksin
imunisasi dapat mencapai target yang ditetapkan. Cakupan yang tinggi ternyata
belum cukup untuk menjamin tidak adanya kejadian penyakit yang dapat dicegah
imunisasi pada bayi balita, seperti diptheri, tetanus neonatorum Campak dan
pertusis.
Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberian imunisasi
merangsang titer antibody. Dari mulai potensi vaksin sampai dengan respon
individu bayi, sampai aspek pengelolaan program pelayanan imunisasi di sarana
pelayanan kesehatan.
Berikut disajikan hasil capaian cakupan imunisasi dasar bayi di Provinsi
Jawa Barat tahun 2013, yaitu cakupan HB0, BCG, DPT/HB3, Polio4 dan Campak.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 89


Pemberian imunisasi HB0 (Haemophilus influenza type B) diberikan satu
kali kepada bayi usia baru lahir sampai < 1 bulan. Bertujuan memberikan
kekebalan tubuh bayi terhadap kemungkinan adanya infeksi virus Haemophilus
influenza type B, yang bisa menyebabkan meningitis, pneumonia, dan epiglotitis
(infeksi pada katup pita suara dan tabung suara).
Cakupan imunisasi HB0 selama lima tahun terakhir (2008 – 2012)
cenderung meningkat dengan kisaran capaian antara 62.7 % - 89.4%. Demikian
juga capaian imunisasi HB0 tahun 2013 cenderung meningkat dibanding tahun
2012, yaitu sebesar 98.2%.
Pemberian imunisasi BCG bertujuan untuk melindungi bayi dari
kemungkinan risiko penyakit tuberculosis. Diberikan satu kali, pada bayi berusia
satu bulan. Cakupan imunisasi BCG selama periode 2008 sampai 2012 relatif
sangat tinggi, dengan angka rata-rata cakupan diatas 90%, bahkan tahun 2010
mencapai 100%. Demikian juga dengan cakupan BCG tahun 2013 mencapai hasil
yang maksimal 100%?.
Pemberian imunisasi DPT/HB merupakan upaya menurunkan risiko bayi
terhadap kemungkinan infeksi penyakit Diptheri, Pertusis, Tetanus Neonatorum
dan Hepatitis B. Dosis pemberian imunisasi DPT/HB diberikan sebanyak 3 kali,
masing-masing ketika bayi berusia 1 bulan sampai 4 bulan.
Berbeda dengan cakupan imunisasi HB0 dan BCG, cakupan imunisasi
DPT/HB3 Provinsi Jawa Barat selama periode 5 tahun (2008-2012) mengalami
fluktuatif dengan range 94.1% - 97.7%. Cakupan DPT/HB3 2013 dibandingkan
dengan cakupan DPT/HB3 tahun 2012 mengalami penurunan. Yaitu dari 96.6%
tahun 2012 turun 3.9 % menjadi 92.7% pada tahun 2013.
Gambar V. A.25
Cakupan Immunisasi Dasar Bayi
Di Provinsi Jawa Barat, Tahun 2008 – 2013

Selisih antara cakupan imunisasi DPT/HB1 dengan cakupan


imunisasi DPT/HB3 dapat digunakan untuk mengetahui angka kelangsungan
proses layanan imunisasi. Selisih cakupan ini menunjukan banyaknya bayi
yang tidak tuntas diberikan pelayanan imunisasi (DO). Semakin besar selisih

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 90


cakupan tersebut menunjukan semakin besar angka drop out pelayanan
imunisasi tersebut.
Diketahui angka drop out tahun 2013 Provinsi Jawa Barat adalah
sebesar 8,9%. Angaka ini antara lain dapat menunjukan adanya permasalahan
dalam penetapan sasaran bayi, pelayanan imunisasi tidak seluruhnya dilakukan
berdasarkan konsep wilayah pelayanan serta pencatatan pelaporan pelayanan
imunisasi.
Pemberian imunisasi Polio diberikan kepada bayi dengan dosis
sebanyak 4 kali. Pemberian vaksin polio diberikan secara oral. Diberikan mulai
bayi 1 bulan sampai usia 4 bulan. Tujuan pemberian imunisasi Polio adalah
memberikan kekebalan kepada bayi terhadap infeksi virus polio liar penyebab
penyakit Polio (kelumpuhan). Pemberian imunisasi rutin polio, pemberian
imunisasi massal (PIN) dan Surveilans AFP merupakan strategi dalam upaya
pencapaian sertifikasi bebas polio (eradikasi polio).
Cakupan imunisasi Polio4 di Jawa Barat selama periode 5 tahun
selalu mencapai diatas 90 % dengan kisaran terendah 92.4% tahun 2009 dan
tertinggi tahun 2012 dengan cakupan 96.3%. Sedangkan cakupan imunisasi
Polio4 tahun 2013 meningkat 3.7% lebih bila dibandingkan dengan cakupan
imunisasi Polio4 tahun 2012, yaitu mencapai >100%?.
Pemberian imunisasi Campak diberikan kepada bayi dengan dosis
sebanyak satu kali. Pemberian vaksin Campak diberikan secara suntikan.
Diberikan ketika bayi berusia 1 bulan, merupakan vaksin terakhir yang diberikan
pada pemberian imunisasi dasar. Tujuan pemberian imunisasi Campak adalah
untuk memberikan kekebalan kepada bayi terhadap infeksi virus Campak
penyebab penyakit Campak. Pemberian imunisasi rutin Campak, pemberian
imunisasi massal (PIN) dan Surveilans Campak merupakan strategi dalam
upaya reduksi penyakit Campak.
Sama halnya dengan cakupan imunisasi Polio4, capaian cakupan
imunisasi Campak di Jawa Barat selama periode 5 tahun juga selalu mencapai
cakupan diatas 90% dengan kisaran terendah 93,58% tahun 2009 dan tertinggi
tahun 2013 dengan cakupan >100%?.
Selisih antara cakupan Polio1 dengan Campak dapat dijadikan acuan
adanya permasalahan akses dalam pelayanan imunisasi. Selisih antara
cakupan Polio1 dengan Campak tahun 2013 sebesar 4,6%.
Untuk mengukur kualitas pelayanan imunisasi dapat diketahui dari
selisih cakupan imunisasi DPT/HB1 dengan cakupan imunisasi Campak (DO).
Semakin besar selisih cakupan imunisasi tersebut menunjukan semakin besar
permasalahan program pelayanan imunisasi tersebut.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 91


Selisih antara cakupan imunisasi DPT/HB1 dengan cakupan
imunisasi Campak tahun 2013 adalah sebesar -17,7%. Nilai minus menunjukan
adanya permasalahan dalam penetapan sasaran bayi, pelayanan imunisasi
tidak seluruhnya dilakukan berdasarkan konsep wilayah pelayanan serta
pencatatan pelaporan imunisasi.

b. Imunisasi Ibu Hamil


Cakupan ibu hamil yang mendapatkan Imunisasi TT1 pada tahun 2013
sebesar 69,1% dari sasaran Ibu Hamil sebanyak 1.081.391 orang, sedangkan
cakupan TT2 sebesar 94,4%.
Gambar V. A. 26
Cakupan Immunisasi TT1, TT2 pada Ibu Hamil
Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2006-2013

Sumber: Profil Kesehatan kabupaten/Kota tahun 2013

Apabila dibandingkan per-Kabupaten/Kota, ternyata yang mempunyai


cakupan Immunisasi TT1 yang tertinggi di Kabupaten Indramayu yaitu sebesar
111,4% dan terendah di Kabupaten Bogor sebesar 57,4%. Immunisasi TT2
tertinggi di Kota Depok sebesar 106,6% dan terendah di Kota Bandung yaitu
sebesar 76,50%. Untuk Secara rinci dapat dilihat pada gambar V.A.21.
Gambar V.A.27
Cakupan Immunisasi TT2 menurut Kabupaten/Kota
Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013

Sumber: Profil Kesehatan kabupaten/Kota Tahun 2013

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 92


c. Cakupan UCI Desa/Kelurahan
Indikator program imunisasi salah satunya adalah
PersentaseDesa/Kelurahan yang mencapai “Universal Child Immunization”
(UCI). Desa yang mencapai UCI adalah desa/kelurahan yang cakupan
imunisasi dasar ≥ 80%.
Gambar V.A.28
Cakupan Desa/Kelurahan UCI
Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013

Sumber: Profil Kesehatan kabupaten/Kota dan Bidang Bina PLPP tahun 2013

Rata-rata cakupan desa/kelurahan UCI di Provinsi Jawa Barat sejak


tahun 2008 sampai dengan 2013 mengalami peningkatan diatas target (80%),
Cakupan UCI Jawa Barat tahun 2013 sebesar 95,4% dan secara rinci per-
Kabupaten/Kota dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar V.A.29
Cakupan Desa/Kelurahan UCI Menurut Kabupaten/Kota
Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013

Sumber: Profil Kesehatan kabupaten/Kota tahun 2013

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 93


B. PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN

Dengan meningkatnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang


pentingnya kesehatan serta meningkatnya kemampuan sosial ekonomi, maka
kemampuan masyarakat untuk memilih pelayanan kesehatan yang memuaskan akan
meningkat di masa mendatang. Upaya pelayanan kesehatan di rumah sakit harus
ditingkatkan mutunya. Upaya pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut meliputi
pelayanan rawat jalan, rawat inap, rujukan serta pelayanan kesehatan lainnya.
Untuk mengetahui kualitas upaya pelayanan kesehatan rumah sakit, telah
dilakukan pengembangan sistem rumah sakit. Sejak 1996 telah dilakukan akreditasi
terhadap rumah sakit, baik rumah sakit Pemerintah maupun Swasta. Rumah sakit
pemerintah terdiri dari rumah sakit pemerintah daerah provinsi/ kabupaten/ kota,
vertikal, TNI/Polri, BUMN dan pendidikan. Berikut hasil akreditasi rumah sakit tahun
2013.
Tabel V. B. 1
Akreditasi Rumah Sakit Menurut Kabupaten Kota
Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013

Dari 290 rumah sakit yang ada di Jawa Barat tahun 2013, sebanyak 113 (38,9
%) rumah sakit sudah mendapatkan penetapan status akreditasinya. Penetapan
akreditasi rumah sakit tahun 2013 meningkat dibandingkan jumlah penetapan
akreditasi rumah sakit 2012 yang hanya mencapai 79 rumah sakit.
Status akreditasi suatu rumah sakit tidak berlaku permanen, namun secara
periodik tiga tahun sekali harus dilakukan penilaian dan penetapan ulang, sehingga
memungkinkan jumlah rumah sakit yang sudah mempunyai status akreditasi rumah
sakit jumlahnya menurun (berubah).

Berdasarkan hasil akreditasi capaian rumah sakit tahun 2013, di Jawa Barat
saat ini terdapat 53 rumah sakit (18.3 %) dengan akreditasi 5 pelayanan, 34 rumah
sakit (11.7 %) dengan akreditasi 12 pelayanan dan 26 rumah sakit (9.0 %) dengan
akreditasi 16 pelayanan serta 177 rumah sakit (61.0 %) belum mendapatkan
penetapan akreditasinya. Belum dilaporkan adanya penetapan akreditasi berdasarkan
metode akreditasi rumah sakit versi 2012.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 94


1. Angka Kematian di Rumah Sakit

a. Kunjungan Rawat Jalan di Rumah Sakit

Kunjungan rawat jalan baik kasus baru maupun kasus lama di seluruh
Rumah Sakit di Jawa Barat tahun 2013 berjumlah 10.667.662 menurun
dibanding data kunjungan rawat jalan rumah sakit 2013 yang sebanyak
12.208.365. Fluktuasi jumlah kunjungan rawat jalan rumah sakit tahun 2011
sampai dengan 2013 sangat dipengaruhi oleh kelengkapan laporan rumah sakit.

Untuk mengetahui pola jumlah kunjungan rawat jalan di rumah sakit


dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Gambar V. B. 1
Kunjungan Pasien Rawat Jalan Di Rumah Sakit
Di Provinsi Jawa Barat, Tahun 2011-2013

Proporsi kunjungan rawat jalan 2013 mencapai 23.3 % jumlah


penduduk Provinsi Jawa Barat. Proporsi ini relatif sesuai dengan perkiraan angka
estimasi akses penduduk menggunakan saran pelayanan rumah sakit yang
berkisar 20 sd 25%.

b. Kunjungan Rawat Inap di Rumah Sakit

Berbeda dengan kunjungan rawat jalan rumah sakit yang fluktuatif,


maka jumlah kunjungan rawap inap rumah sakit sejak tahun mempunyai
kecenderungan meningkat. Kunjungan rawat inap tahun 2013 meningkat 100%
dibanding 2013, yaitu dari 1.283.651 tahun 2012 menjadi 2.239.506 tahun 2013,
seperti diperlihatkan oleh gambar dibawah ini.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 95


Gambar V. B. 2
Kunjungan Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit
Di Provinsi Jawa Barat, Tahun 2011-2013

Proporsi kunjungan rawat jalan 2013 mencapai sekitar 5 % jumlah


penduduk yang melakukan kunjungan rawat jalan. Artinya ada 5 % dari penduduk
yang berobat jalan ke rumah sakit harus diberikan pelayanan rawat inap. Hal ini
relatif sesuai juga dengan perkiraan angka estimasi jumlah penduduk yang harus
diberikan layanan rawat inap, sebesar 5 %.

2. Angka Kematian di Rumah Sakit


Jumlah kematian di rumah sakit adalah merupakan indikator dampak
dari proses pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit. Pada umumnya kematian
pasien di rumah sakit dikelompokan dalam Gross Death Rate (Angka Kematian
Kasar di Rumah Sakit) dan Net Death rate (Angka Kematian Bersih).
Untuk mengetahui mutu pelayanan rumah sakit di Jawa Barat selama
tahun 2012 dapat diketahui dari indikator GDR (Groos Death Rate) dan NDR (Net
Death Rate), seperti pada tabel dibawah ini.
Tabel V. B. 2
Angka Kematian Menurut Kepemilikan RS
di Provinsi Jawa Barat, Tahun 2013

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 96


Indikator mutu pelayanan rumah sakit GDR bisa memberikan
gambaran secara umum tentang kematian yang terjadi di rumah sakit, tanpa
mempertimbangkan kematian pasien yang baru tiba atau sampai di rumah sakit
(dibawah 48 jam). Indikator GDR juga menunjukkan mutu pelayanan rumah sakit.
. Angka GDR tahun 2013 di Provinsi Jawa Barat sebesar 26/1000
meningkat 2 point dibanding tahun 2012. Meskipun meningkat angka GDR 2013
(26/1000) namun angka GDR ini masih berada dibawah standar yaitu 45 per 1000
penderita keluar dalam kondisi meninggal.
Berdasarkan pelaporan yang diterima, indikator GDR tertinggi terjadi di
RS Pemerintah, dengan 50/1000. Hal ini wajar karena RS tersebut merupakan
rumah sakit rujukan tertinggi di Jawa Barat, yang banyak menerima pasien dengan
kondisi yang sudah kritis/ kompleks. Capaian indikator GDR RS Pemerintah ini
melebihi nilai standar indikator GDR, yakni 45/1000. Sedangkan yang terendah
pada RS Khusus Swasta dengan nilai 5/1000.
Ukuran indikator mutu pelayanan rumah sakit yang lebih sensitif bisa
dilihat dari indikator NDR. NDR hanya menghitung kematian yang sudah dalam
penanganan rumah sakit atau sudah ada di RS lebih dari 48 jam.
Dibandingkan NDR Jawa Barat 2012 sebesar 12/1000, NDR tahun
2013 mengalami peningkatan 1 point yaitu 13/1000. Meskipun meningkat NDR
2012 dan 2013 masih lebih dibanding standar NDR yang dipersyaratkan yakni
25/1000. Sama halnya dengan indikator GDR maka untuk NDR yang tertinggi
2013 terjadi juga di RS Pemerintah yaitu sebesar 40/1000. Sedangkan terendah
terjadi di RS Khusus Swasta dengan angka NDR sebesar 1/1000.

3. Tingkat Efesiensi Pelayanan Rumah Sakit


Penilaian tingkat keberhasilan pelayanan di rumah sakit biasanya
dilihat dari berbagai segi yaitu tingkat pemanfaatan sarana, mutu dan tingkat
efisiensi pelayanan. Beberapa indikator standar terkait dengan pelayanan
kesehatan di rumah sakit yang dipantau antara lain pemanfaatan tempat tidur (Bed
Occupancy Rate/BOR), rata-rata lama hari perawatan (Length of Stay/LOS), rata-
rata tempat tidur dipakai (Bed Turn Over/BTO), rata-rata selang waktu pemakaian
tempat tidur (Turn of Interval/TOI), Persentase pasien keluar yang meninggal
(Gross Death Rate/GDR) dan Persentase pasien keluar yang meninggal ≥ 48 jam
perawatan (Net Death Rate/NDR).
Indikator tersebut merupakan indikator luaran dan proses pada rumah
sakit. Indikator ini hanya memperlihatkan sejauh mana rumah sakit dimanfaatkan
oleh masyarakat pengguna dan sejauh mana tempat tidur rumah sakit dapat
dipergunakan se optimal mungkin. Kinerja Rumah Sakit di Provinsi Jawa Barat
tahun 2013 dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 97


Tabel V. B. 3
Indikator Pelayanan Rumah Sakit Menurut Kepemilikan
Di Provinsi Jawa Barat, Tahun 2013

Berdasarkan tabel indikator pelayanan rumah sakit 2013 diatas capain


BOR tertinggi dicapai oleh RSU Pemerintah Daerah sebesar 68.1%. Capaian BOR
terbesar 2013 ini masih berada dibawah standar BOR 75%-85%. Sedangkan yang
terendah terjadi pada RS TNI Polri yaitu sebesar 37.3%. Capaian BOR RSU
Pemerintah Daerah mengindikasikan adanya pemanfaatan sarana pelayanan yang
dimiliki daerah oleh masyarakatnya.
Meskipun secara kategori kelompok kepemilikan RS capaian BOR
masih dibawah standar, namun dianalisis per rumah sakit maka terdapat RS
dengan capaian BOR mencapai standar antara lain RSUP Hasan Sadikin Kota
Bandung 75.8%, RSUD Leuwiliang Kab. Bogor 84 %, RS Al-Islam Kota Bandung
sebesar 82.8%, RSUD Sekarwangi Kab. Sukabumi 77.5 %, RSUD Palabuhan
Ratu Kab. Sukabumi 79.9 %, RSUD Garut Kab. Garut 86 %, RSUD Waled Kab.
Cirebon 7.8 %, RSUD Majalengka 83 %, RS Tentara Tk.II Ciremai Kota Cirebon
sebesar 85.5%, RS Pelabuhan Kota Cirebon sebesar 77.8%, RS AMIRA Kab.
Purwakarta sebesar 91.1%, RS Mitra Plumbon Kab. Cirebon sebesar 77.3% .
Untuk indikator lama rawatan seorang pasien (LOS) tertinggi dicapai
oleh RSU Pemerintah yaitu sekitar 5 - 6 hari, dan angka tersebut sudah berada di
standar LOS yaitu 3-9 hari. Sedangkan capaian terendah dicapai RS TNI Polri
yaitu sebesar 2 - 3 hari.
Batasan ideal untuk TOI adalah 1 sd 3 hari. Itu berarti hanya RSU Pemda
dan BUMN yang TOI nya ideal, yaitu diantara 1 – 3 hari. TOI kelompok rumah
sakoit lainnya mencapai angka diatas 3 hari, dengan yang tertinggi kelompok RS
TNI Polri dengan TOI selama 5 hari.
Untuk indikator BTO semua kelompok rumah sakit sudah mencapai
standar ideal yakni frekwensi di atas 30 kali. BTO tertinggi dicapai oleh kelompok
RS BUMN dengan frekwensi 78 kali per tahun. BTO terendah dicapai oleh
kelompok RS Vertikal Kementerian dengan frekwensi sebanyak 40 kali.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 98


Selain indikator tersebut di atas, untuk menggambarkan tingkat
efisiensi pelayanan rumah sakit secara keseluruhan digunakan metode
pendekatan Barber Johnson. Metode Barber Johnson membuat komposit dari 4
indikator pelayanan rawat inap rumah sakit yang dipakai untuk mengetahui tingkat
pemanfaatan, mutu, dan efisiensi pelayanan rawat inap suatu rumah sakit, yakni.
BOR (Bed Occupancy Ratio), AVLOS (Average Length of Stay), TOI (Turn Over
Interval), BTO (Bed Turn Over).

Pada grafik Barber Johnson akan terdapat 4 garis, yaitu garis BOR,
LOS, TOI dan garis BTO. Perpotongan dari ke empat garis indikator tersebut akan
di visualisasikan oleh titik perpotongan. Perpotongan garis tersebut apakah berada
di dalam atau diluar daerah efisien.

Daerah Efisien ditentukan dengan nilai-nilai standar dari ke empat


indiaktor pelayanan. Nilai Standar ke empat indikator tersebut adalah : BOR : 75%,
AvLOS : 3-9 hari, TOI : 1-3 hari, BTO : 30 kali. Daerah efisien digunakan untuk
membantu pembaca untuk menentukan apakah dengan nilai nilai ke empat
indikator tersebut, pemakaian tempat tidur di sebuah rumah sakit sudah efisien
atau tidak. Apabila titik temu keempat garis tersebut berada pada daerah efisien,
maka pemanfaatan tempat tidur sudah efisien, begitu pula sebaliknya. Ke empat
indikator tersebut saling berkaitan sehingga memerlukan upaya menyeluruh bila
ingin meningkatkan efisiensi pengelolaan RS.

Secara empiris rendahnya BOR antara lain dipengaruhi oleh lama


rawat yang berkurang (LOS) dan interval bed terisi (TOI) yang cukup tinggi. TOI
tinggi antara lain berkaitan dengan pengorganisasian yang kurang baik dan
rendahnya perimintaan/ penggunaan tempat tidur. Upaya yang dapat dilakukan
untuk menurunkan angka TOI antara lain melalui promosi, peningkatan pelayanan
dan realokasi tempat tidur, serta perbaikan penatalaksanaan bagian penerimaan
pasien.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 99


Gambar V. B. 3
Tingkat Efisiensi Pelayanan Rumah Sakit
di Provinsi Jawa Barat, 2013

RSU Vertikal Kemkes RI RSU Pemda RSU Swasta

RS TNI POLRI RS BUMN RSK Pemerintah &


Swasta

Berdasarkan kelengkapan data laporan yang diterima baik dari rumah


sakit maupun dinas kesehatan kabupaten kota di Jawa Barat selama periode
2013, diketahui bahwa tingkat efisiensi pengelolaan rumah sakit di Provinsi Jawa
Barat belum mencapai tingkat efisiensi yang ideal. Hal ini bisa dilihat dari hasil
olahan Grafik Barber Johnson yang menunjukan bahwa titik perpotongan antara
empat indikator LOS, TOI BOR dan BTO berada diluar daerah efisien.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 100


Berdasarkan grafik Barber Johnson tersebut secara visualisasi bahwa
RSU Pemda, RSU BUMN dan RSU Vertikal Kementerian mempunyai titik
perpotongan garis indikator yang paling mendekati daerah efisien. Sedangkan
untuk gambaran Rumah Sakit Umum Swasta relatif hampir sama dengan Rumah
Sakit Khusus.

C. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT


Masalah gizi penduduk merupakan masalah yang tersembunyi, yang
berdampak pada tingginya angka kesakitan dan kematian. Kurang asupan dan
absorbsi gizi mikro dapat menimbulkan konsekuensi pada status kesehatan,
pertumbuhan, mental dan fungsi lain (kognitif, sistim imunitas, reproduksi, dan lain-
lain). Timbulnya masalah gizi dapat disebabkan karena kualitas dan kuantitas dari
intake makanan (terutama energi dan protein), dimana secara kronis bersama-sama
dengan faktor penyebab lainnya dapat mengakibatkan maramus atau kwashiorkor.
Sesungguhnya telah banyak upaya penanggulangan masalah gizi yang
dilakukan, akan tetapi, keberhasilan upaya tersebut masih dirasakan belum optimal.
Upaya perbaikan gizi masyarakat merupakan upaya untuk menangani permasalahan
gizi yang dihadapi masyarakat . Indikator gizi masyarakat antara lain status gizi,
anemia gizi besi, vitamin A dan gangguan akibat kekurangan yodium.

1. Status Gizi
Masalah gizi penduduk merupakan masalah yang tersembunyi, yang
berdampak pada tingginya angka kesakitan dan kematian. Kurang asupan dan
absorbsi gizi mikro dapat menimbulkan konsekuensi pada status kesehatan,
pertumbuhan, mental dan fungsi lain (kognitif, sistim imunitas, reproduksi, dan lain-
lain). Timbulnya masalah gizi dapat disebabkan karena kualitas dan kuantitas dari
intake makanan (terutama energi dan protein), dimana secara kronis bersama-sama
dengan faktor penyebab lainnya dapat mengakibatkan maramus atau kwashiorkor.
Sesungguhnya telah banyak upaya penanggulangan masalah gizi yang
dilakukan, akan tetapi, keberhasilan upaya tersebut masih dirasakan belum optimal.
Salah satunya upayanya dengan diberikannya Kartu Menuju Sehat dan Buku KIA
bagi Balita sebagai pemantauan untuk ibu dan petugas kesehatan, ternyata hasil
Riskesdas Persentase kepemilikan buku KIA pada anak umur 0-59 bulan baru
mencapai 47,9% sisanya hilang dan tidak memiliki buku KIA.

a. Status Gizi Balita


Berdasarkan Riskesdas Tahun 2013, di Jawa Barat Prevalensi gizi kurang
pada balita (BB/U<-2SD) secara nasional adalah 19,6%, sedangkan di Jawa

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 101


Barat lebih baik yaitu 15,7%. Prevalensi yang tertinggi adalah di Kabupaten
Bandung Barat (22,4%) sedangkan terendah di Kota Cimahi (10,2%).
Masalah stunting/pendek pada balita menunjukkan angka rerata Jawa
Barat 35,3 % yang juga lebih baik dari angka nasional (37,2%). Prevalensi yang
tertinggi di Kabupaten Bandung Barat (52,5%) dan terendah di Kota Depok
(25,7%).
Prevalensi kekurusan menurut kabupaten/kota.Salah satu indikator untuk
menentukan anak yang harus dirawat dalam manajemen gizi buruk adalah
keadaan sangat kurus yaitu anak dengan nilai Z-score < -3,0 SD. Prevalensi
sangat kurus di Provinsi Jawa Barat masih cukup tinggi yaitu 5,0 %. Demikian
pula halnya dengan prevalensi kurus sebesar 5,9 %. Terdapat di 14
Kabupaten/kota dimana prevalensi kurus diatas prevalensi Jawa Barat secara
umum, dengan urutan dari prevalensi tertinggi sampai terendah, adalah: (1) Kota
Bandung, (2) Kabupaten.Karawang, (3) Kabupaten Tasikmalaya, (4) Kabupaten
Cirebon, (5) Kabupaten Garut, (6) Kota Bekasi, (7) Kabupaten Subang, (8) Kota
Cirebon, (9) Kabupaten Bandung Barat, (10) Kabupaten Bekasi, (11) Kabupaten
Ciamis, (12) Kabupaten Sukabumi, (13) Kota Banjar dan (14) Kabupaten
Bandung.
Menurut WHO 2010 masalah kesehatan masyarakat sudah dianggap
serius bila prevalensi BB/TB Kurus antara 10,0 % - 14,0 %, dan dianggap kritis
bila ≥ 15,0 %. Pada tahun 2013, secara umum di Provinsi Jawa Barat prevalensi
BB/TB kurus pada balita masih 10,9 %. Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah
kekurusan di Jawa Barat merupakan masalah kesehatan yang serius. Diantara
26 Kabupaten/Kota, terdapat 14 Kabupaten/kota yang masuk kategori serius dan
6 Kabupaten/Kota termasuk kategori kekurusan kritis, yaitu Kota Bekasi,
Kabupaten Garut, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten
Karawang dan Kota Bandung. Kelompok umur yang terbanyak status gizi sangat
kurus terjadi pada umur 6-11 bulan (6,8%) dan pada umur 0-5 bulan sebesar
6,7%, dengan jenis kelamin laki-laki lebih besar daripada perempuan.
Pada tahun 2013 Prevalensi Kegemukan di Provinsi Jawa Barat sebesar
11,8%. Terdapat 10 Kabupaten/Kota yang memiliki masalah kegemukan di atas
angka umum Jawa Barat dengan urutan prevalensi tertinggi sampai terendah,
yaitu (1) Kabupaten Bandung Barat, (2) Kabupaten Cirebon, (3) Kabupaten
Bekasi, (4) Kota Depok, (5) Kota Bandung, (6) Kabupaten Karawang, (7)
Kabupaten Bandung, (8) Kabupaten Garut, (9) Kabupaten Indramayu dan (10)
Kabupaten Sukabumi.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 102


Gambar V. C. 1
Prevalensi Status Gizi BB/TB <-2 SD Menurut Kabupaten/Kota,
Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013

Sumber: Riskesdas 2013

Gizi buruk balita merupakan salah satu faktor risiko yang berdampak
pada lemahnya sumber daya manusia di masa mendatang (lost generation).
Tabel berikut mencantumkan status gizi balita di Provinsi Jawa Barat.

Tabel V. C. 1
Status Gizi Balita (BB/U) di Provinsi Jawa Barat
Tahun 2008 – 2013
Status Gizi Balita ( % )
Tahun
Lebih Baik Kurang Buruk
2008 1,73 86,67 10,58 1,02
2009 1,87 87,56 9,66 0,92
2010 1,71 89,40 7,98 0,91
2011 2,44 89,59 7,16 0,82
2012 2,26 89,91 7,01 0,83
2013 1,97 90,97 6,62 0,64
Sumber: Bulan Penimbangan Balita

Berdasarkan data bersumber bulan penimbangan balita (BPB) pada


tahun 2013, bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya terlihat
adanya peningkatan dimana sebagian besar balita di Jawa Barat 90,97%
berstatus gizi baik, balita dengan gizi kurang menurun menjadi 6,62 % dan
gizi buruk sebanyak 0,64 %.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 103


Gambar V. C. 2
Persentase Status Balita Gizi Buruk Hasil Bulan Penimbangan Balita
Menurut Kabupaten/Kota, Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013

b. Status Gizi Anak umur 5 – 12 tahun


Berdasarkan Riskesdas Tahun 2013, di Jawa Barat Prevalensi pendek
pada anak umur 5-12 tahun adalah 11,4% sangat pendek dan 18,2% pendek.
Apabila dibandingkan antar Kabupaten/Kota prevalensi sangat pendek terendah
di Kota Depok (1,8%) dan tertinggi di Kabupaten Garut (22,9%). Sebanyak 9
Kabupaten dengan prevalensi di atas prevalensi Jawa Barat yaitu Kabupaten
Sukabumi. Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten
Bandung, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Cirebon,
Kabupaten Subang, Kabupaten Ciamis. Secara rinci dapat dilihat pada gambar
dibawah ini.
Gambar V. C. 3
Prevalensi Anak Sangat Pendek Umur 5 – 12 Tahun Menurut
Kabupaten/Kota, Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013

Sedangkan prevalensi kurus (menurut IMT/U) di Jawa Barat pada


anak umur 5-12 tahun adalah 9,1 %, terdiri dari 3,1 % sangat kurus dan 6,0 %

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 104


kurus. Prevalensi kurus paling rendah di Kota Tasikmalaya (5,7%) dan paling
tinggi di Kabupaten Indramayu (14,0%) dan sebanyak 17 Kabupaten/kota
dengan prevalensi kurus diatas angka Jawa Barat yaitu Kabupaten Subang, Kota
Sukabumi, Kabupaten Karawang, Kota Banjar, Kabupaten Purwakarta,
Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Kota Cirebon, Kota Bandung, Kota Cimahi,
Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Cirebon, Kabupaten
Ciamis, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Garut dan Kabupaten Indramayu.

Gambar V. C. 4
Prevalensi Gemuk & Sangat Gemuk Anak Umur 5 – 12 Tahun
Menurut Kabupaten/Kota, Jawa Barat 2013

Secara umum masalah gemuk pada anak umur 5-12 tahun di Jawa
Barat masih tinggi yaitu 18,6 %, terdiri dari gemuk 10,7 % dan sangat gemuk
(obesitas) 7,9%. Prevalensi gemuk terendah di Kabupaten.Cianjur (10,6%) dan
tertinggi di Kabupaten Garut (27,3%) dan sebanyak 10 Kabupaten/kota dengan
prevalensi gemuk diatas angka Jawa Barat yaitu Kabupaten Karawang, Kota
Bandung, Kota Bekasi, Kabupaten Indramayu, Kota Depok, Kabupaten Subang,
Kabupaten Bekasi, Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon dan Kabupaten Garut.

c. Status Gizi Remaja


Prevalensi pendek pada remaja umur 13-15 tahun adalah 33,8 % terdiri
dari 12,6% sangat pendek dan 21,2% pendek. Prevalensi terendah di Kota
Bekasi (12,5%) dan tertinggi Kabupaten Sukabumi (53,5%). Sebanyak 12
kabupaten/kota memiliki prevalensi pendek di atas angka Jawa Barat yaitu
Kabupaten Ciamis, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Sumedang, Kabupaten
Bogor, Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Cianjur, Kabupaten
Tasikmalaya, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Garut
dan Kabupaten Sukabumi.
Prevalensi kurus pada remaja umur 13-15 tahun adalah 9,1 % terdiri dari
2, % sangat kurus dan 6,5 % kurus. Prevalensi kurus terlihat paling rendah Kota

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 105


Sukabumi (4,1%) dan paling tinggi di Kota Bekasi (13,9%).Sebanyak 12
kabupaten/kota dengan prevalensi anak kurus (IMT/U) diatas angka prevalensi
Jawa Barat yaitu Kabupaten Garut, Kota Bandung, Kabupaten Majalengka, Kota
Cirebon, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu,
Kabupaten Karawang, Kabupaten Subang, Kota Depok, Kota Bekasi dan
Kabupaten Bekasi.
Prevalensi gemuk pada remaja umur 13-15 tahun di Jawa Barat sebesar
9.7%, terdiri dari 7,5 % gemuk dan 2,5 % sangat gemuk (obesitas). Sebanyak 12
kabupaten/kota dengan prevalensi gemuk diatas prevalensi Jawa Barat, yaitu
Kabupaten Bekasi, Kabupaten Subang, Kota Cimahi, Kabupaten Sumedang,
Kabupaten Majalengka, Kota Bogor, Kabupaten Garut, Kabupaten Ciamis,
Kabupaten Tasikmalaya, Kota Depok, Kota Cirebon, dan Kota Bekasi,
sedangkan Kabupaten dengan prevalensi gemuk terendah adalah di Kabupaten
Indramayu (4,5%) dan prevalensi tertinggi di Kota Bekasi (20,2%).
Status gizi remaja umur 16–18 tahun. Secara umum prevalensi pendek
di Jawa Barat adalah 29,7% (7,1% sangat pendek dan 22,6% pendek).
Sebanyak 12 kabupaten/kota dengan prevalensi pendek diatas prevalensi Jawa
Barat, yaitu Kabupaten Sumedang, Kota Sukabumi, Kabupaten Ciamis,
Kabupaten Kuningan, Kota Banjar, Kabupaten Subang, Kabupaten Garut,
Kabupaten Bogor, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten
Sukabumi, dan Kabupaten Tasikmalaya. Kabupaten dengan prevalensi pendek
terendah adalah di Kabupaten Indramayu (17,6%) dan prevalensi tertinggi di
Kabupaten Tasikmalaya (48,7%).

Gambar V. C. 5
Prevalensi Kurus (IMT/U) Remaja Umur 16 – 18 Tahun
Menurut Kabupaten/Kota, Di Provinsi Jawa Barat 2013

Prevalensi kurus pada remaja umur 16-18 tahun secara umum


sebesar 9,1% (1,4% sangat kurus dan 7,7% kurus). Sebanyak 12
kabupaten/kota dengan prevalensi kurus diatas angka prevalensi Jawa Barat,
yaitu Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bogor, Kabupaten Subang,

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 106


Kabupaten Karawang, Kota Bekasi, Kabupaten Cirebon, Kabupaten
Kuningan, Kota Banjar, Kota Sukabumi, Kota Bogor, Kabupaten Indramayu
dan Kota Cirebon. Kabupaten dengan prevalensi kurus terendah adalah di
Kabupaten Tasikmalaya (3,3%) dan prevalensi tertinggi di Kota Cirebon
(18,7%).
Prevalensi gemuk pada remaja umur 16 – 18 tahun di Jawa Barat
sebanyak 7,6 % yang terdiri dari 6,2 %gemuk dan 1,4 %obesitas.
Kabupaten/kota dengan prevalensi gemuk tertinggi adalah Kota Depok
(20,8%) dan terendah Kabupaten Sukabumi (3,5%). Sebanyak 12
kabupaten/kota dengan prevalensi gemuk di atas angka prevalensi Jawa
Barat yaitu Kabupaten Subang, Kabupaten Majalengka, Kota Sukabumi, Kota
Cimahi, Kota Cirebon, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Kuningan, Kabupaten
Purwakarta, Kabupaten Cianjur, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, dan Kota
Depok.
Prevalensi kekurusan (sangat kurus) pada remaja umur 16-18 tahun
lebih banyak pada anak laki-laki (2,3%) daripada anak perempuan (0,5%).
Sedangkan untuk prevalensi kegemukan (obese) antara anak laki-laki (1,2%)
hampir sama dengan anak perempuan (1,5%).

d. Status Gizi Dewasa (>18 Tahun)


Prevalensi penduduk umur dewasa menurut status IMT di masing
masing kabupaten/kota. Secara provinsi dapat dilihat masalah gizi pada
penduduk dewasa di atas 18 tahun adalah 11% kurus, 62,1 % normal, 11,7 %
BB lebih dan 15,2 % obesitas. Permasalahan gizi pada orang dewasa
cenderung lebih dominan untuk kelebihan berat badan. Prevalensi tertinggi
untuk obesitas adalah Kota Bekasi (23,4%), Kota Depok (21%) dan Kota
Bogor (20,1%).
Prevalensi kurus, baik pada laki-laki maupun perempuan cenderung
lebih tinggi pada kelompok umur muda (19 tahun) dan kelompok umur tua (65
tahun keatas). Prevalensi obesitas cenderung mulai meningkat sampai umur
50 tahun, dan kemudian prevalensinya semakin rendah pada setiap kelompok
umur.
Prevalensi obesitas lebih tinggi di daerah perkotaan dibanding daerah
perdesaan, sebaliknya prevalensi kurus cenderung lebih tinggi di perdesaan
dibanding perkotaan. Masalah gizi pada wanita usiasubur (WUS)15-49 tahun
dan wanita hamil berdasarkan indikator Lingkar Lengan Atas (LiLA). Hasil
pengukuran LiLA disajikan menurut kabupaten/kota dan karakteristik. Untuk
menggambarkan adanya risiko kurang enegi kronis (KEK)dalam kaitannya

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 107


dengan kesehatan reproduksi pada WUS digunakan ambang batasnilai rerata
LiLA<23,5 cm.
Prevalensi risiko KEK wanita tidak hamil provinsi Jawa Barat lebih
rendah (19,9%) dibanding angka nasional (20,8%). Terdapat 11
kabupaten/kota dengan prevalensi risiko KEK pada wanita tidak hamil di atas
angka nasional dan angka provinsi yaitu kota Sukabumi, Kabupaten Subang,
Kota Bekasi, Kabupaten Bogor, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Cianjur,
Kabupaten Indramayu, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Kuningan, Kota
Bandung, Kabupaten Sukabumi.

2. Anemia Gizi
Upaya penanggulangan anemia gizi diprioritaskan kepada kelompok
rawan yaitu ibu hamil, balita, anak usia sekolah dan wanita usia subur termasuk
remaja putri dan pekerja wanita.
Terjadinya defisiensi besi pada wanita, antara lain disebabkan jumlah
zat besi yang di absorbsi sangat sedikit, tidak cukupnya zat besi yang masuk
karena rendahnya bioavailabilitas makanan yang mengandung besi atau
kenaikan kebutuhan besi selama hamil, periode pertumbuhan dan pada waktu
haid Penanganan defisiensi besi dengan pemberian suplementasi tablet besi
merupakan cara yang paling efektif untuk meningkatkan kadar Fe/besi dalam
jangka waktu yang pendek. Pemerintah melalui Departemen Kesehatan telah
melaksanakan penanggulangan anemia defisiensi besi pada ibu hamil dengan
memberikan tablet besi folat (Tablet Tambah Darah/TTD) yang mengandung 60
mg elemental besi dan 250 ug asam folat) setiap hari satu tablet selama 90 hari
berturut-turut selama masa kehamilan.
Selama ini upaya penangulangan anemia gizi difokuskan ke sasaran
ibu hamil dengan suplemen besi. Cakupan Pemberian tablet besi (Fe) pada ibu
hamil dengan mendapatkan 90 tablet Besi (Fe3) pada tahun 2013 sebesar
90,32%, apabila cakupan ini dibandingkan tahun 2010 (82,09%) mengalami
kenaikan sebesar 8,23 point, angka ini sudah mencapai target (90%).
Apabila dibandingkan per-Kabupaten/Kota tahun 2013 ternyata
terdapat 13 Kabupaten/Kota yang sudah mencapai target dan 13
Kabupaten/Kota yang dibawah angka Jawa Barat.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 108


Gambar V. C. 6
Persentase Cakupan Pemberian Tablet Besi (Fe3) Ibu Hamil
Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013

Sumber: Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2013

3. Kurang Vitamin A
Hasil analisis vitamin A dalam serum mengungkapkan bahwa 50% status
vitamin A anak balita masih rendah atau marjinal. Hal ini menggambarkan bahwa
untuk mencegah terjadinya kembali prevalensi xerophthalmia yang tinggi,
program penanggulangan kurang vitamin A perlu diteruskan dengan dukungan
konsumsi makanan sumber vitamin A bagi anak balita.Penanggulangan
defisiensi vitamin A pada anak balita dapat dilakukan dengan cara pemberian
kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 IU) setiap 6 bulan sekali, pendidikan gizi
ibu di posyandu, fortifikasi bahan makanan yang banyak dikonsumsi anak balita
dengan vitamin A (1.800 IU). Pemberian satu kapsul vitamin A pada ibu sehabis
melahirkan bertujuan untuk meningkatkan kadar vitamin A dalam ASI bagi ibu
dalam 1-2 minggu, disamping itu pula kepada ibu menyusui dapat diberikan
pendidikan gizi di posyandu tentang pentingnya konsumsi makanan sumber
vitamin A.
Buta senja adalah salah satu gejala kurang vitamin A (KVA). Kurang Vitamin
A tingkat berat dapat mengakibatkan keratomalasia dan kebutaan. Vitamin A
berperan pada integritas sel epitel,imunitas dan reproduksi. KVA pada anak
balita dapat mengakibatkan risiko kematian sampai 20-30%. Upaya
penanggulangan masalah kurang vitamin A masih bertumpu pada pemberian
kapsul vitamin A dosis tinggi pada anak Balita, Bayi dan ibu Nifas.
Kapsul vitamin A diberikan setahun dua kali pada bulan Februari dan
Agustus, sejak anak berumur enam bulan. Kapsul merah (dosis 100.000 IU)
diberikan untuk bayi umur 6-11 bulan dan kapsul biru (dosis 200.000 IU) untuk
anak umur 12-59 bulan.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 109


Berdasarkan Riskesdas Tahun 2013, cakupan anak umur 6-59 bulan yang
menerima kapsul vitamin A selama enam bulan terakhir tertinggi di Kota Banjar
(97,4%) dan terendah Kabupaten Cianjur dan Karawang (65,8%).

Gambar V. C. 7
Persentase Cakupan Anak Balita (6-59 Bulan) Mendapatkan Vitamin A
Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013

Sumber: Riskesdas Tahun 2013

4. Konsumsi Garam Beriodium


Berdasarkan hasil Riskesdas Tahun 2013, persentase rumah tangga yang
mengkonsumsi garam beriodium di kabupaten/kota Provinsi Jawa Barat dengan
kriteria konsumsi garam beriodium yaitu cukup, kurang dan tidak ada.
Persentase terbanyak adalah rumah tangga dengan konsumsi garam
beriodiumnya cukup (68,6%), kemudian rumah tangga dengan kosumsi garam
beriodiumnya kurang (20,5%) dan terendah adalah rumah tangga yang tidak ada
garam beriodium (10,9%).
Pada rumah tangga yang mengkonsumsi garam beriodiumnya cukup,
tertinggi di Kabupaten Bandung (91,3%), dan terendah Kabupaten Sukabumi
(38,3%). Untuk rumah tangga yang mengkonsumsi garam beriodiumnya kurang,
tertinggi di Kota Sukabumi (53,4%), dan terendah Kota Bogor (5,8%). Sedangkan
rumah tangga yang tidak ada garam beriodiumnya, tertinggi di Kabupaten Cianjur
(25,1%), dan terendah Kota Depok (1,1%). Untuk rumah tangga yang tidak ada
garam beriodium di Perkotaan lebih rendah (8,1%), dibandingkan perdesaan
(16%).

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 110


Gambar V. C. 8
Persentase Rumah Tangga Yang Mengkonsumsi Garam Beriodium
Menurut Type Daerah, Jawa Barat 2013

Gambar V. C. 9
Persentase Rumah Tangga Yang Mengkonsumsi Garam Beriodium Menurut
Kabupaten/Kota Hasil Tes Cepat, Jawa Barat 2013

Sumber: Riskesdas Tahun 2013

D. PELAYANAN KESEHATAN KHUSUS

1. Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut


Penduduk yang bermasalah gigi dan mulut seharusnya menerima
pengobatan atau perawatan yang tepat dari tenaga medis. Agar diketahui
keterjangkauan/ kemampuan untuk mendapatkan pelayanan dari tenaga medis
gigi, maka perlu dihitung Effective Medical Demand (EMD).
Berdasarkan Riskesdas 2013 ini menunjukkan sebesar 28,0 persen
penduduk Jawa Barat menyatakan mempunyai masalah gigi dan mulut dalam 12
bulan terakhir (potential demand). Diantara yang bermasalah gigi dan mulut,
terdapat 33,4persen yang menerima perawatan dan pengobatan dari tenaga
medis (perawat gigi, dokter gigi atau dokter gigi spesialis).
Secara keseluruhan keterjangkauan/kemampuan untuk mendapatkan
pelayanan dari tenaga medis gigi/EMD sebesar 9,4 persen.Kabupaten/Kota
dengan EMD tertinggi adalah Kota Sukabumi (16,2%), Kota Cimahi (14,2%) dan

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 111


Kabupaten Tasikmalaya (13,3%), dan angka EMD terendah di Kabupaten
Karawang(2,0%).
Persentase penduduk yang menyatakan dirinya bermasalah gigi dan
mulut/potential demand meningkat pada kelompok umur anak-anak dan pada
usia produktif.Pada usia anak-anak dan usia produktif 5-9 tahun dan 45-54
tahun, penduduk yang menyatakan bermasalah gigi dan mulut mencapai
persentase tertinggi, yaitu masing-masing 32,4 persen dan 33,9 persen.
Demikian pula persentase EMD meningkat pada kelompok umur anak-anak dan
kelompok umur yang lebih tinggi, dan persentase EMD tertinggi dijumpai pada
kelompok umur 5-9 tahun yaitu sebesar 11,7 persen dan pada kelompok umur
45-54 tahun sebesar 12,8 persen. Pada perempuan, EMD (10,7%) lebih tinggi
dibandingpada laki-laki (8,1%). Terdapat kecenderungan pada tingkat pendidikan
lebih tinggi, didapatkan EMD yang lebih tinggi. Kelompok pegawai memiliki EMD
terbesar (11,1%).
Setiap orang perlu menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan cara
menyikat gigi dengan benar untuk mencegah terjadinya karies gigi, sebagian
besar (97,0%) penduduk Jawa Barat umur 10 tahun keatas mempunyai
kebiasaan menyikat gigi setiap hari. Kabupaten/Kota dengan persentase tertinggi
adalah Kota Bandung (98,5%) dan Kota Cirebon (98,4%), sedangkan yang
terendah adalah Kabupaten Indramayu (94,4%)
Gambar V. D. 1
Persentase Penduduk ≥10 Tahun Yang Berperilaku Benar Menyikat Gigi
Menurut Kabupaten/Kota, Jawa Barat 2013

Pelayanan kesehatan gigi dan mulut di provinsi Jawa Barat


menunjukkan adanya peningkatan kasus penyakit gigi dan mulut pada
masyarakat dari tahun ke tahun. Indikator yang ditetapkan berupa ratio tumpatan
dengan pencabutan dengan target 1:1 belum terpenuhi. Menurut Profil
Kesehatan Kabupaten/Kota ratio tumpatan dengan pencabutan di Provinsi Jawa
Barat sebesar 0,9%, secara rinci dapat dilihat pada gambar berikut ini.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 112


Gambar V. D. 2
Rasio Tumpatan/ Pencabutan Menurut Kabupaten/Kota
Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013

2. Pelayanan Kesehatan Jiwa


Berdasarkan Riskesdas Tahun 2013 Prevalensi psikosis tertinggi
Kabupaten Majalengka (3,81 per mil), sedangkan yang terendah di Kota Bogor
(0,57 per mil). Prevalensi gangguan jiwa berat rerata provinsi sebesar 1,65 per
mil.
Angka prevalensi seumur hidup skizofrenia di dunia bervariasi berkisar
4 per mil sampai dengan 1,4% (Lewis et al.,2001). Beberapa kepustakaan
menyebutkan secara umum prevalensi skizofrenia sebesar 1 persen penduduk.
Gambar V. D. 3
Prevalensi Gangguan Mental Emosional Pada Penduduk Umur ≥15 Tahun
Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013

Prevalensi penduduk yang mengalami gangguan mental emosional


rerata Jawa Barat adalah 9,3% dari 77.701 subyek yang dianalisis. Kabupaten
dengan prevalensi gangguan mental emosional tertinggi adalah Kota Bogor
(28,1%), sedangkan yang terendah di Kabupaten Cirebon (1,4%).

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 113


Keterbatasan SRQ hanya dapat mengungkap gangguan mental
emosional atau distres emosional sesaat. Individu yang dengan alat ukur ini
dinyatakan mengalami gangguan mental emosional akan lebih baik dilanjutkan
dengan wawancara psikiatri dengan dokter spesialis jiwa untuk menentukan ada
tidaknya gangguan jiwa yang sesungguhnya serta jenis gangguan jiwa nya.

3. Pelayanan Kesehatan Indera Lainnya


Berdasarkan Riskesdas tahun 2013, Prevalensi kebutaan pada
responden 6 tahun keatas sebesar 0,3 % (Provinsi Jawa Barat), dan 0,4%
(nasional). Terdapat 4 kabupatn/kota yang prevalensi kebutaannya di atas angka
provinsi dan nasional yaitu Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Majalengka,
Kabupaten Indramayu dan Kota Banjar. Prevalensi kebutaan terendah terdapat
di 4 Kabupaten/Kota yaitu Kabupaten Bogor, Kota Sukabumi, Kota Bekasi dan
Kota Cimahi (0,1%) dan tertinggi di 3 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Sukabumi,
Kabupaten Majalengka dan KabupatenI ndramayu (0,6%). Prevalensi
ketersediaan koreksi refraksi, severe low vision dan kebutaan lebih tinggi (4,8%)
dibandingkan dengan severe low vision (0,8%) dan kebutaan (0,3%).
Gambar V. D. 4
Prevalensi Kebutaan Pada Responden ≥ 6 Tahun Tanpa/Dengan Koreksi
Optimal Menurut Kabupaten/Kota, Jawa Barat 2013

Prevalensi gangguan pendengaran menurut kelompok umur, semakin


meningkat seiring dengan meningkatnya umur responden. Bila dilihat dari jenis
kelamin perempuan lebih tinggi (2,7%) dari laki-laki (2,3%). Berdasarkan daerah
perdesaan lebih tinggi (2,9%) lebih tinggi dari perkotaan (2,3%).
Prevalensi ketulian menurut karakteristik berdasarkan umur tidak
menunjukkan pola yang jelas, ketulian paling banyak pada umur 65-74 tahun
(0,3%). Sedangkan berdasarkan jenis kelamin, tipe daerah dan tingkat
kesejahteraan tidak ada perbedaan (0,1%). Berdasarkan pendidikan semakin
tinggi pendidikan semakin tidak mengalami ketulian.
Prevalensi ketulian berdasarkan kabupaten/kota di provinsi jawa barat.
Prevalensi ketulian secara provinsi, angka prevalensinya lebih tinggi (0,1%)
dibandingkan dengan angka nasional (0,09%). Terdapat 2 kabupaten/kota yang

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 114


prevalensi ketuliannya di atas angka provinsi dan nasional, yaitu kab. Ciamis dan
kab. Kuningan. Prevalensi ketulian tertinggi di Kab. Ciamis dan Kab.Kuningan
(0,2%). Terendah terdapat 9 kabupaten/kota yaitu Kab. Sukabumi, Kab. Cianjur,
Kab. Subang, Kab. Karawang, Kab. Bandung Barat, Kota Bogor dan Kota Cimahi
(0%).
Gambar V. D. 5
Prevalensi Ketulian Responden Usia ≥ 5 Tahun
Menurut Kabupaten/Kota, Jawa Barat 2013

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 115