Anda di halaman 1dari 36

KONSEP KEPERAWATAN PROFESIONAL

BAGI PERAWAT KAMAR BEDAH

I. PENDAHULUAN
Hakikat keperawatan profesional sangat kompleks karena berhubungan erat
dengan pelayanan kemanusiaan, berhadapan dengan sistem klien yang berada
rentang sehat-sakit, sesuai dengan tumbuh kembang manusia.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) sebagai wadah nasional yang
memiliki kekuatan dalam komunitas keperawatan dan peduli terhadap pemberian
pelayanan atau asuhan keperawatan yang bermutu bagi kepentingan masyarakat.

II. ARTI DAN MAKNA KEPERAWATAN SEBAGAI SUATU PROFESI


Profesi adalah suatu pekerjaan yang ditujukan untuk kepentingan masyarakat dan
bukan untuk kepentingan golongan atau kelompok tertentu.
Profesional adalah sesuatu yang memiliki kompetensi dalam suatu pekerjaan
tertentu.
Ada enam elemen dari suatu profesi yaitu :
1. Memiliki teori yang sistemik
2. Memiliki otoritas
3. Memiliki wibawa
4. Memiliki kode etik
5. Mempunyai budaya profesional
6. Menjadi sumber daya dan penghasilan

III. DEFINISI PERAWAT PERIOPERATIF


Definisi perioperatif ada 7 langkah yaitu :
1. Perawat Perioperatif menggunakan proses keperawatan untuk
mengembangkan dan mengkoordinasikan serta memberikan asuhan kepada
pasien.
2. Perawat Perioperatif mengidentifikai kebutuhan pasien.
3. Perawat Perioperatif berorientasi pada pasien secara fisik, psikologi, spiritual
dan sosial budaya.
4. Perawat Perioperatif menggunakan standar pengetahuan dan keterampilan
dan keilmuan.
5. Perawat Perioperatif dalam meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan
sesuai kode etik dan tanggung jawab.
6. Perawat Perioperatif berdasarkan bukti sebagai fondasi praktek.
7. Perawat Perioperatif bertanggung jawab untuk belajar sepanjang hayat.

IV. PROFESIOALISME KEPERAWATAN PERIOPERATIF


Perawat profesional adalah seseorang yang mempunyai pengetahuan dan
keterampilan berkomunikassi efektif terhadap pekerjaan dan kepemimpinan dan
mempunyai ide baru, memiliki rasa humor, dapa berinteraksi dengan orang lain
secara harrmonis, berpenampilan baik dalam bekerja tidak membeda-bedakan
suku dan agama (Aorn 2006).

V. PERAN
Perawat perioperatif alam melakukan praktek keperawatan harus senantiasa
meningkatkan mutu pelayanan profesinya, dengan mengikuti perkembangan ilmu
dan teknologi melalui pendidikan dan pelatihan (Doheny 1982).

B. KOMPETENSI
Kompetensi perawat adalah kemampuan seseorang yang dilandasi atas
pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam melaksanakan pekerjaannya. (Aorn
2006).
Pengetahuan yang harus dimiliki perawat kamar bedah diantara lain :
a. pengetahuan tentang penyakit dan pengobatannya.
b. Pengetahuan tentang anatomi dan fisiologi tubuh.
c. Tidakan medik yang dilakukan
d. Peralatan yang digunakan
e. Pengetahuan tentang proses keperawatan perioperatif.
f. Pengetahuan tentang standar praktek keperawatan.
g. Mempuyai kode etik, aspek legal dan peka budaya.
C. Penerapan kode Etika Perawat
Pernyataan dan nilai-nilai universal yang terkandung dalam kode etik perawat
Indonesia dipertegas / dijelaskan dalam pelayanan asuhan keperawatan
diantaranya yaitu :
a. Menghormati martabat manusia (respect of human dignity)
b. Berkolaborasi (Collaboration)
c. Kerahasiaan (Confidentiality)
d. Pendelegasian kegiatan keperawatan (Delegation or nusring activity)
KONSEP DAN TEORI CARING

Menurut konsep dan teori Elisabeth McFarlame 2003, seseorang pakar


pendidikan keperawatan yang bermutu adalah pelayanan keperawatan yang
dijalankan dengan kompeten seperti itu tidak hanya mampu menanggapi tuntutan
situasi pelayanan kesehatan secara efisien dan efektif tetapi juga menanggapi
kebutuhan pasien secara statistik yang menyangkut aspek fisik, sosial, kultural, dan
spiritual dengan penuh caring.

A. ETIKA KEPERAWATAN DI KAMAR BEDAH

1. Latar Belakang
Kode etik profesi merupakan pernyataan yang komperhensif dari
bentuk tugas dan pelayanan dari profesi yang memberi tuntunan bagi anggota
dalam melaksanakan praktek bidang profesinya baik yang berhubungan klien,
keluarga, masyarakat dan teman sejawat, profesi, diri sendiri.

2. Pengertian Keperawatan
Adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian
integral dari pelayanan kesehatan didasarkan pada ilmu dan keperawatan
berbentuk pelayanan bio-psiko sosial spiritual yang komperhensif, ditujukan
individu kelompok keluarga dan masyarakat baik sehat maupun sakit.

3. Pengertian Praktek Perawatan


Praktek keperawatan adalah tindakan mandiri perawat melalui
kolaborasi dengan sistem klien dan tenaga kesehatan lain dalam memberikan
askep sesuai lingkup wewenang dan tanggung jawab bagai tatanan pelayanan,
termasuk individual dan kelompok.
4. Pengertian Askep
Adalah proses atau rangkaian kegiatan pada praktek keperawatan baik
langsung atau tidak langsung diberikan pada sistem klien di sarana dan tatanan
kesehatan lainnya, dengan pendekatan ilmiah berdasarkan kode etik dan standar
praktek keperawatan.

5. Value Nilai Keperawatan


Adalah beliefs tentang suatu ide yang berarti, sikap, objektif, perilaku
dan yang lainnya, yang menjadi standar dan mempengaruhi perilaku seseorang
dalam peran dan fungsi praktek keperawatan.

6 Pengertian Etika Keperawatan


Adalah pengetahuan tentang moral dan susila, sistem nilai kesepakatan
penilaian apa yang benar dan salah yang baik dan buruk, kebajikan atau kejahatan,
dikehendaki dan ditolak.

7 Prinsip Etik
 Resfek
 Otonomi
 Kemurahan hati
 Tidak menciderai
 Kerahasiaan
 Keadilan
 Kesetiaan

8. Nilai-nilai Etik
 Kesehatan dan kesejahteraan
 Martabat
 Pilihan
 Akuntabilitas
 Lingkungan keperawatan yang kondusif
9. Pemecahan di Tema Etik
 Identifikasi masalah etik
 Mengumpulkan fakta-fakta
 Evaluasi tindakan alternatif dari berbagai perspektif etik
 Buat keputusan uji cobaan
 Bertindaklah dan kemudian refleksikan pada keputusan tersebut

B. Askep Legal di Kamar Operasi


1. Pengertian Askep Legal di Kamar Operasi
Adalah ilmu pengetahuan yang mengenai hak dan tanggung jawab legal yang
terkait dengan praktek keperawatan di kamar bedah.
2. Tujuan
 Menyediakan kerangka kerja untuk menetapkan apakah tindakan askep
dapat diterima dari hukum.
 Memberi penjelasan tentang tanggung jawab perawat yang berbeda dan
tanggung jawab tenaga kesehatan lainnya.
 Membantu keperawatan menetapkan batas-batas tindakan keperawatan
yang mandiri.
 Membantu keperawatan dalam menjaga standar praktek yang dibuat oleh
kalangan keperawatan sendiri.
3. Dasar Hukum Keperawatan
Registrasi dan praktek keperawatan sesuai KEPMENKES No.12239
Tahun 2001, sesuai dengan UU No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan: Pasal 32
ayat 4: pelaksanaan pengobatan dan untuk perawatan berdasarkan ilmu
kedokteran dan ilmu keperawatan hanya dapat dilaksanakan oleh tenaga
kesehatan yang mempunyai kewenangan untuk itu.
4. Standar
Standar adalah nilai atau acuan yang menentukan level praktek terhadap
staf adalah sesuatu kondisi pada pasien atau sistem yang telah ditetapkan untuk
dapat diterima sampai pada wewenang tertentu.
5. Profile dan Kompetensi Ners
 Care provider
 Community leader
 Educator
 Manager
 Researcher
6. Kompetensi Sarjana Keperawatan dan Ners
Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas penuh tanggung jawab
yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat
dalam melaksanakan tugas di bidang pekerjaan tertentu.

C. Tanggung Jawab dan Tanggung Gugat


1. Tanggung Jawab
Adalah eksekusi terhadap tugas-tugas yang berhubungan dengan peran
tertentu dari perawat.
2. Tanggung Gugat
Adalah meempertanggung jawabkan perilaku dan hasil-hasilnya termasuk
dalam lingkup peran profesional seseorang sebagai laporan pendidikan secara
tertulis tentang perilaku tersebut.
3. Penerapan Tanggung Jawab
 Kontrak
 Tanggung jawab hukum perawat dalam praktek

D. Peri Operatif Care di Kamar Bedah


1. Pengertian Keperawatan Peri Operatif
Adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi
keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien.
Kata “peri operatif” adalah suatu istilah gabungan yang mencakup tiga fase
pembedahan yaitu:
a. Fase Preoperative
Dimulai ketika ada keputusan intervensi bedah dan diakhiri ketika
pasien dikirim ke meja operasi.
b. Fase Intra Operative
Dimulai ketika pasien masuk kamar bedah dan diakhiri saat pasien
dipindahkan ke ruang pemulihan atau ruang perawatan.
c. Fase Paska Operative
Dimulai dengan masuknya pasien ke ruang pemulihan atau ruang
intensif dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik
atau dirumah.

2. Preoperatif
Preoperatif merupakan tahapan awal dari keperawatan dan
kesuksesan tindakan pembedahan secara keseluruhan sangat tergantung
pada fase tersebut, pengkajian secara integrasi dan fungsi pasien meliputi
fungsi fisik biologis dan psikologis sangat diperlukan untuk keberhasilan dan
kesuksesan suatu operasi.
 Persiapan fisik klien
Persiapan fisik klien pre operasi yang dialami oleh pasien dan di unit
perawat dan persiapan di ruang operasi.
a. Status kesehatan fisik secara umum
b. Status nutrisi
c. Keseimbangan cairan dan elektrolit
d. Kebersihan lambung dan kolon
e. Pencukuran daerah operasi
f. Personal hygiene
g. Pengosongan kandung kemih
h. Latihan pra operasi
 Faktor resiko terhadap pembedahan
a. Usia
b. Nutrisi
c. Penyakit kronis
d. Ketidak sempurnaan respon neuro endokrin
e. Merokok
f. Alkohol dan obat-obatan
 Persiapan penunjang
Persiapan penunjang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan
dari tindakan pembedahan.
 Pemeriksaan status anestesi
Pemeriksaan status fisik untuk dilakukan pembiusan dilakukan untuk
keselamatan selama pembedahan.

Inform Consent
Inform consent dilindungi oleh aspek hukum baik pasien maupun keluarga
harus menyadari bahwa tindakan medis, operasi sekecil apapun mempunyai resiko
dan pasien wajib menanda tangani surat persetujuan operasi dan keluarga mengetahui
manfaat dan tujuan segala resiko dan konsekuensinya.

Persiapan Mental / Psikis


Merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses persiapan operasi
karena mental pasien yang tidak siap atau stabil dapat berpengaruh terhadap kondisi
fisiknya.

Aktifitas Keperawatan Secara Umum


Aktifitas keperawatan yang dilakukan selama tahapan intra operatif meliputi 4 hal
yaitu:
a. Safety management
b. Monitoring fisiologis
c. Dukungan psikologis
d. Pengaturan dan koordinasi nursing care

Komplikasi
Komplikasi selama operasi bisa muncul sewaktu-waktu selama tindakan pembedahan,
komplikasi yang paling sering muncul adalah hipertensi, hipotensi dan hipertermi
maligna.
a. Syok
b. Perdarahan
c. Trombosis vena profunda
d. Retensi urine
e. Infeksi luka operasi
f. Sepsis organ
g. Embolisme
h. Pulmonal
i. Komplikasi gastrolutastinal

2.4. Job Description Personal Kamar Bedah (ketenagaan)


1. Pendahuluan
Sehingga rumah sakit berkewajiban memberikan pelayanan kesehatan
yang aman, bermutu, anti diskriminasi dan efektif dengan mengutamakan
kepentingan sesuai standar pelayanan rumah sakit.
2. Tujuan
a. Tujuan Umum
Meningkatkan mutu layanan di kamar bedah
b. Tujuan Khusus
Sebagai acuan bagi perawat kamar bedah mengenai fungsi dan peran
serta kompetensinya.
3. Jenis Tenaga
a. Tim bedah, terdiri dari:
 Ahli bedah
 Asisten ahli bedah
 Perawat sirkuler (circulating nurse)
 Perawat instrumen (scrub nurse)
 Anestesi / perawat anestesi
b. Staf perawat kamar operasi
 Perawat kepala kamar operasi
 Perawat pelaksana
c. Tenaga lain terdiri dari:
 Pekerja kesehatan
 Tata usaha
 Penunjang medis
2.5. Konsep Dasar Kamar Bedah
1. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Selaras dengan perkembangan rumah sakit dihadapkan pada kecanggihan
teknologi berdampak meningkatkan resiko terhadap pasien dan petugas
di kamar bedah yang merupakan salah satu unit khusus.
B. Maksud dan Tujuan
Teknik rumah sakit dimaksudkan sebagai acuan teknis fasilitas fisik
bangunan agar rumah sakit menyediakan pelayanan kesehatan bagi
masyarakat.
C. Sasaran
Ruang operasi di rumah sakit agar menjadi acuan pengelola rumah sakit
khusus.
D. Bangunan Umum
 Bangunan gedung
 Bangunan instalasi rumah sakit
 Sarana
 Prasarana
 Ruang administrasi
 Ruang tunggu
 Ruang transfer
 Ruang tunggu
 Ruang persiapan operasi
 Ruang induksi
 Ruang persiapan alat
 Ruang operasi
 Ruang pemulihan
 Ruang resusitasi bayi
 Ruang ganti pakaian
 Ruang jaga
 Ruang cuci tangan
 Ruang utilitas (spoel hoek)
 Ruang linen
 Ruang penyimpanan alat bersih (janitor)
 Ruang pencucian
 Ruang sterilisasi
 Kantor
 Ruang rapat
 Ruang laboratorium
 Ruang radiologi
 Ruang farmasi
 Koridor
 Dapur
 Gudang

Pembagian alur di kamar bedah


A. Daerah bebas
1. Ruang tunggu
2. Ruang dapur
3. Ruang administrasi
4. Ruang ganti
B. Daerah peralihan
1. Alur di kamar bedah
a. Alur pasien
b. Alur petugas
c. Alur peralatan
2. Ruang tempat masuknya pasien ke ruangan bedah
Pasien yang akan menjalani pembedahan masuk ke ruangan bedah melalui
tempat ini, pakaian pasien dari tempat perawatan diganti disini dengan pakaian
dari kamar bedah.
C. Persyaratan Kamar Bedah
1. Lokasi
2. Bentuk
3. Ukuran
4. Pintu
5. Sistem ventilasi
6. Sistem penerangan
7. Ssistem gas medis
8. Sistem listrik
9. Sistem komunikasi
10. Peralatan
11. Pembersih kamar ac
12. Penanganan limbah

Spesifikasi kamar operasi dengan cara di bawah ini sudah tidak


direkomendasikan lagi.
a. Ultraviolet (UV)
b. Pemakaian desinfektan yang disemprotkan mesin foging

2.6. Teknik Aseptik dan Antiseptik di Kamar Operasi


Adalah tindakan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kontaminasi oleh
mikroorganisme pada jaringan atau bahan dengan menghancurkan tubuh
organisme dalam jaringan.
A. Prinsip Aseptik dan Antiseptik
Dalam upaya menerapkan teknik aseptik dan antiseptik di ok harus ditaati
yaitu:
 Daerah steril harus tegas batasnya
 Daerah operasi dijaga kesterilannya
 Semua kasus pembedahan harus dicegah terjadinya kontaminasi
 Lingkungan ok dalam keadaan bersih
 Tim bedah pasien yang ada di ok tidak menjadi sumber kontaminasi
Untuk mempertahankan sterilitas ok harus diperhatikan 3 (tiga) aspek
yang meliputi:
 Lingkungan
 Petugas
 Pasien
Aseptik – septik di kamar bedah
A. Sebelum operasi
Kita masuk pintu aseptis melalui pintu kebersihan karena kebersihan dasar
aseptis dan kotor adalah merupakan pintu untuk septis, kebersihan 60%,
desinfeksi 20%, dan sterilisasi 20%.
B. Setelah operasi
Baju linen jangan dilempar di lantai, harus disediakann di troley atau kantong
khusus, instrumen dihitung dan direndam dalam obat desinnfektan baru
kemudian daftar CSSD.

2.7. Prinsip pencegahan infeksi nosokomial di kamar bedah


A. Faktor resiko terjadinya infeksi
1. Jumlah bakteri yang memasuki luka
2. Tipe dan virulensi bakteri  faktor mikrologi:
a. Sekresi tokan
b. Hambatan pembersihan
3. Pertahanan tubuh host  faktor pasien
o Status nutrisi yang buruk
o Diabetes melitus
o Merokok
o Kegemukan
o Infeksi kulit dan saluran kemih
o Kolonisasi dengan mikroorganisme
o Perubahan reespon imun
o Lamanya perawatan sebelum operasi
4. Faktor eksternal: berada di rumah sakit beberapa hari sebelum pembedahan
dan operasi yang berlangsung lebih dari 4 jam.
Faktor pembedahan:
 Pencukuran sebelum operasi
 Persiapan kulit sebelum operasi
 Lamanya operasi
 Profilaksis anti mikroba
 Ventilasi ruang operasi
 Sterilisasi instrumen
 Material asing pada tempat pembedahan
 Driin
 Teknik pembedahan
 Hemostasis yang buruk
 Kegagalan untuk menutupi dead space
 Trauma jaringan
B. Pencegahan
a) Preoperative
o Persiapan pasien
o Standar precaution
o Penanganan personal bedah terinfeksi
o Profilaksis anti mikrobial
b) Intra operatif
o Ventilasi
o Membersihkan dan diinfeksi permukaan lingkungan
o Sterilisasi peralatan bedah
o Pakaian operasi
o Asepsis dan teknik operasi
o Perawatan insisi setelah operasi

2.8. Insisi area operasi


Insisi merupakan awal dari dimulainya satu proses operasi, penempatan, dan
cara yang salah akan mengakibatkan komplikasi dari luka itu sendiri.
Cara insisi memenuhi 3 syarat:
- Akses yang mudah dicapai
- Mudah diperlebar
- Aman
Tipe dari insisi : vertikel, transversal dan oblique, abdomino thoraks
Insisi yang sering digunakan:
- Insisi midlien epigastrik
- Insisi midline subum bilikal
- Insisi paramedian atas
- Insisi paramedian bawah
- Insisi paramedian lateral
- Insisi kocher subcostal
- Insisi mc burney
- Insisi planenstiel
- Insisi torako abdominal

II. Insisi dan penyiapan pasien di kamar bedah


A. Latar Belakang
 Kebutuhan pasien
 Ahli bedah / operator
 Anestesi
 Perawat kamar bedah
B. Insisi
 Irisan pada kulit merupakan awal dimulainya operasi
 Merupakan pintu masuk ke daerah operasi yang dituju
 Siap untuk diperlebar bila diperlukan
C. Tujuan
 Menyiapkan pasien di kamar operasi
 Menyiapkan posisi pasien
 Menyiapkan posisi operator, asisten, instrumen
 Mengenal beberapa insisi operasi disesuaikan dengan instrumen
D. Penyiapan pasien
 Psikis
 Posisi
 Daerah operasi
E. Insisi diusahakan
 Daerah yanng minimal trauma post operasinya
 Daerah yang tersembunyi
 Secara kosmetik tak mengganggu
 Jangan terlalu banyak insisi
 Jangan membuat scar/cacad
F. Pilihan insisi
 Tergantung jenis / macam operasi
 Kebiasaan operator
 Paling aman
 Operasi emergency / tidak
G. Penyembuhan luka
 Menit-menit awal – inflamasi sel ke daerah luka – Tanda-tanda radang
 Hari berikut – proses angio genesis dan fibro plasty – tanda radang
menurun
 2 minggu sudah cukup kuat
 Beberapa bulan – kekuatan normal

2.9. Pengiriman dan pemeriksaan jaringan


a. Pendahuluan
Pemeriksaan PA ialah pemeriksaan lab yang dilakukan terhadap sel jaringan
tubuh dan cairan yang berasal dari tubuh manusia serta menggunakan metode
tertentu untuk mendapatkan diagnosis daripada kelainan yang diderita
b. Jenis pemeriksaan PA
 Pemeriksaan histopatologi
 Pemeriksaan sitopatologi
 Pemeriksaan histokimia
 Pemeriksaan imunopatologi
c. Peranan pemeriksaan PA
 Pencegahan penyakit
 Diagnosis penyakit / kelainan tubuh
 Pengelolaan penderita
 Tindak lanjut
2.10. Instrumen Bedah
I. Pengertian
Instrumen bedah kelompok alat yang digunakan untuk melakukan tindakan
pembedahan
II. Kelompok Instrumen, Jenis dan Fungsi
A. Kelompok Tajam
1. Pisau Bedah
2. Gunting
a. Gunting bedah / gunting diseksi
b. Gunting benang
c. Gunting verband
B. Kelompok Penjepit / klem
1. Penjepit duk
2. Klem hemostatik
3. Klem babcock (babcock forceps)
4. Klem allis (allis forceps)
5. Klem hemoroid atau paru-paru (hemoroid or lung clamp)
C. Kelompok Pemegang (grasping/holding instrumen)
1. Tisue forceps (pinset)
a. Pinset anatomis (thumb forceps)
b. pinset hemostatik (anatomi dan chirurgie)
c. Pinset chirurgie
d. Pinset serpihan (splinter forceps)
2. Pemegang Kassa (sponge forceps)
3. Pemegang jarum (needle holder)
D. Kelompok Penarik (retraktor)
1. Retraktor manual
a) Pengait tajam
b) Pengait tumpul
c) Pengait langenbeck
d) Pengait midledorf
2. Retraktor sederhana
a) Malleable retraktor
b) Retraktor deaver
c) Retraktor mekanik (self-retaining retractor)
 Retraktor balfour
 Retraktor finochieto
E. Lain-lain
a. Alat penghisap
b. Jenis-jenis penduga
c. Jenis kerokan
d. Bougie
e. Kateter logam

2.11. Perawatan dan Pemeriksaan Instrumen Bedah


I. Pengertian
Suatu usaha/proses yang dilakukan untuk memelihara dan merawat
instrumen.
II. Tujuan
 Mempertahankan instrumen agar tahan lama
 Jenis dan kesulitan pembedahan membutuhkan banyak dan komplek
penggunaan instrumen bedah maka butuh penelitian dan pemahaman
petugas
 Perawatan dan pemeliharaan yang baik dan benar akan memperpanjang
usia instrumen mencapai usia lebih dari 10 tahun
III. Metode Pembersihan
1) Pembersihan manual
2) Pembersihan dengan alat ultrasonik
IV. Langkah pemeliharaan
1. Instrumen umum
a. Tahu nama dan fungsi tiap instrumen
b. Periksa kondisi instrumen
c. Penempatan secara benar
d. Pemisahan dan pembersihan
2. Instrumen mikro
a. Penyusunan
b. Kelunisan
c. Lindungi ujung-ujungnya
3. Instrumen lensa
a. Cara memegang
b. Hindari penanganan kasar
c. Hindari pelipatan pada fiber optic
d. Pastikan kondisi fiber optic dan lensa baik
4. Instrumen dengan tenaga udara
Ikuti petunjuk dari pabrik: perawatan, sterilisasi
5. Instrumen tenaga listrik
a. Pastikan switch dalam posisi off
b. Jauhkan alat dari obat anestesi
c. Jangan direndam
d. Ikuti petunjuk pabrik: penggunaan, pembersihan, sterilisasi
V. Proses pembersihan
a. Dekontaminasi
b. Pembersihan manual
c. Pembilasan
d. Pengeringan
e. Lubrikasi
f. Sterilisasi
g. Penyimpanan

2.12. Sterilisasi
A. Pengertian
1. Steril adalah kondisi bebas dari semua mikroorganisme termasuk spora.
2. Sterilisasi pengertian proses penghancuran semua mikroorganisme
termasuk spora melalui cara fisika/kimia.
3. Desinkeftan adalah bahan kimia yang digunakan untuk
mencegah/menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakit
lainnya.
4. Antiseptik adalah bahan kimia yang dapat menghambat atau membunuh
bakteri, jamur dan lain-lain pada jaringan hidup.
5. Bowie-dick test adalah uji efektifitas pompa vakumpda mesin sterilisasi uap
berpompa vakum.
6. Inkubator adalah alat yang digunakan untuk dapat menghasilkan suhu
tertentu secara kontinyu untuk menumbuhkan kultur bakteri.
7. Inkubator biologi adalah sediaan berisi sejumlah tertentu mikroorganisme
spesifik dalam bentuk spora yang paling resisten terhadap suatu proses
sterilisasi.
8. Indikator kimia adalah suatu alat berbentuk strip atau tape yang menandai
pemaparan dari proses sterilisasi yang ditandai dengan adanya perubahan
warna.
9. Indikator mekanik adalah penunjuk suhu, tekanan waktu, dan lain-lain
pada mesin sterilisasi.
10. Bioburden adalah jumlah mikroorganisme pada benda terkontaminasi.

B. Persyaratan ruang sterilisasi


1. Ruang dekontaminasi
2. Ruang pengemasan alat
3. Ruang produksi dan prosesing
4. Ruang sterilisasi
5. Ruang penyimpanan barang steril

2.13. Pakaian Dasar di Kamar Operasi, Topi dan Masker Bedah


I. Pakaian dasar di kamar bedah
Prinsip bedah yang utama adalah mencegah terjadinya infeksi luka
sepanjang yang dapat dilakukan manusia, sehingga masuknya bibit penyakit ke
dalam kamar bedah dapat ditekan sekecil mungkin. Pakaian operasi yang biasa
terbuat dari kain katun dengan lengan pendek, kemejanya dimasukan ke dalam
celana panjang, tidak membiarkan menggantung diluar, pakaian dalam yang
terbuat dari bahan katun. Sepatu konduktif tidak lagi diperlukan agar terhindar
dari bunga api karena gas yang mudah terbakar, bagaimanapun juga tutup
sepatu menjaga kebersihan ruang operasi. Tutup sepatu digunakan untuk
mencegah kontaminasi dari luar yang berasal dari sepatu jalanan. Syarat umum:
- Bahan terbuat dari katun 100%
- Warna bahan tidak mencolok
- Warna khusus (hijau tua, biru)
Teknik memakai dan melepas masker
Prinsipnya:
1. Pasang dulu masker sebelum memakai gaun dan sarung tangan juga
sebelum melakukan cuci tangan.
2. Masker hanya dipakai sekali saja untuk jangka waktu kemudian dibuang.

Teknik memakai masker


1. Cuci tangan dan ambil masker dari kontainer, tekuk bagian logam yang
akan mengenai hidung sesuai dengan bentuk hidung untuk mencegah
pengembangan kacamata.
2. Hindarkan memegang-megang masker sebelum dipasang di wajah.
3. Pasang masker hingga menutupi sebagian wajah dan hidung.
4. Ikatkan tali pada bagian atas dibelakang kepala dan pastikan bahwa tali
lewat diatas telinga.
5. Ikat tali bawah belakang kepala sejajar dengan yang atas leher/dagu.
6. Begitu masker lembab harus segera diganti.
7. Jangan mambuka masker dari hidung dan mulut atau membiarkannya
bergelantungan di leher.

Teknik melepas masker


1. Buka sarung tangan terlebih dahulu.
2. Lepaskan tali bawah kemudian atas, tangan dalam keadaan sebersih
mungkin bila menyentuh leher.
3. Lepaskan masker, gulung talinya mengelilingi masker dan buang ke tempat
yang disediakan.
4. Cuci tangan.
Cara memakai topi bedah
1. Topi dipasang bersamaan pada waktu mengganti pakaian dengan baju khusus
kamar bedah.
2. Topi harus menutupi seluruh rambut kepala.
3. Topi ikatkan cukup erat.

2.14 Jarum Benang Bedah Aspetik dan Simpul


1. Needle (jarum)
a. Jarum Bedah (Surgical Needle)
Jarum bedah diperlukan untuk untuk penempatan jahitan pada jaringan,
oleh karena itu digunakan untuk menjahit melalui jaringan dengan trauma
yang minimal.
Jarum tidak memainkan peran dalam penyembuhan luka :
1) Karakteristik dari sebuah jarum bedah yang ideal kekuatan stabilitas,
ketajaman, dakfilitas
2) Anatomi jarum
b. Perawat bedah tidak harus memiliki jarum (lebih mudah) persiapan
trauma yang minimal ke jaringan, baru dan tajam setiap saat, jika jarum
jatuh ke rongga perut dengan mudah ditemukan.
c. Mata / ujung jarum
Harus memiliki ketajaman yang sangat baik dilakukan pada saat
pembedahan.
2. Suture (Benang bedah)
a. Benang Bedah
Merupakan materi yang digunakan untuk melakukan ligis (ligate) pada
pembuluh darah.
b. Benang Bedah Ideal
 Steril
 Mudah untuk digunakan
 Reaksi / trauma jaringan yang minimal
 Memiliki kekuatan menahan jaringan luka yang memadai
 Simpul yang aman
 Diserap tubuh setelah tidak berfungsi
 Dapat digunakan untuk segala jenis operasi
c. Klasifikasi benang bedah
 Absorbable / Nonabsorbable (diserap dan tidak diserap)
 Natural / synthetic (Bahan alami dan sintetis)
 Braidea / monofilament (Multifilamen dan monofilamen)
d. Cara penyerapan Benang Bedah
 Natural / alami........................ ENZYMATIC PROCESS
 Sintetis .................................. HYDROLYSIS
 Simpul bedah
 The Reef Knot
 The Surgical Knot
 The granny Knot
 The Running Toop

2.15 Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan kerja


a. Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja
b. Tujuan penerapan SMK3:
Menerapkan tenaga kerja sesuai dengan hak dan martabatnya sebagai manusia.
c. Ruang lingkup program SMK3
d. Sasaran
e. Potensial bahaya kerja di OK
1. Health Risk (Resiko Kesehatan)
a) Bahaya Biologis
 Virus
 Bakteri
 Jamur
b) Bahaya Kimia
c) Bahaya Fisik
2. Safety Hazards (Resiko Keselamatan)
a) Bahay organik
b) Baha psikososial
f. Alasan penerapan SMK3
Karena SMK3 bukan hanya tuntutan pemerintah, masyarakat pasar atau dunia
internasional saja tetapi juga tanggung jawab perusahaan untuk menyediakan
tempat yang aman bagi pekerjanya.
g. Klausa dan elemen pada SMK3
 Komitmen dan kebijakan
 Perencanaan
 Penerapan
i. Jaminan kemampuan
ii. Kegiatan pendukung
iii. Identifikasi sumber bahaya
h. Kecelakaan kerja
Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan tak diharapkan.

2.16 Tehnik Cuci Tangan Prosedural


A. Pengertian
Membersihkan kulit secara mekanikal dari organisme
B. Tujuan
Mencegah terjadinya infeksi silang
C. Prosedur
1. Persiapan alat
a. Air mengalir
b. Sabun atau cairan anti septik
c. Lap bersih
d. Tap kotor tempat
e. Kalau perlu sikat tangan yang halus.
2. Langkah-langkah
a. Mengkaji keadaan kulit
b. Melepaskan cincin kalau ada di tangan
c. Berdiri d tempat cuci tangan
d. Meletakan sabun
e. Mencuci tangan dengan air mengalir selama 30-60 detik
D. Perhatian, cuci tangan prosedural
a. Sebelum dan sesudah dinas
b. Sebelum dan sesudah melakukan dinas
c. Sebelum memakai sarung tangan
d. Sesudah membuka sarung tangan

CUCI TANGAN PEMBEDAHAN


A. Pengertian
Adalah membersihkan tangan dengan menggunakan sikat halus dan sabun
antiseptik dibawah air yang mengalir untuk mengangkat debu, kotoran, minyak
atau lotion maupun microorganisme dari tangan dan tangan pada anggota tim
bedah yang akan melakukan prosedur pembedahan.
B. Tujuan
1. Menghilangkan kotoran, minyak, lotion, maupun microorganisme di tangan
2. Menurunkan jumlah microorganisme dengan menggunakan antiseptik.
3. Mempertahankan kondisi aseptik pada tangan selama proses operasi.
C. Persiapan
1. Persiapan personal
a. Rambut telah tertutup dengan (topi, masker, kaca mata, apron, sepatu
khusus operasi.
b. Kuku jari tangan pendek bersih dan bebas dari cat kuku.
c. Cincin dan jam tangan dilepaskan, gulung baju sampai 10 cm keatas.
d. Tidak ada luka dikulit dan tidak ada tanda-tanda infeksi di kulit.
e. Memilih larutan antiseptik yang tepat.
2. Persiapan alat
a. Tempat cuci tangan yang cukup dalam dan lebar untuk mencegah percikan
air.
b. Air harus mengalir.
c. Sikat halus memakai spon dan antiseptik
d. Pembersih kuku
e. Tempat sampah untuk membuang sikat bekas pakai.
3. Prosedur kerja
a. Buka sikat, spon, untuk membersih kuku dari tempatnya.
b. Buka kran air dengan tangan atau siku
c. Basahi tangan dan lengan sampai dengan 5 cm diatas siku
d. Membersih kuku dengan air yang mengalir
e. Ambil sikat dengan menggunakan Clorhexidin Gluchonat 4%
f. Peras sikat spon sampai keluar busa Clorhexidin Gluchonat 4%
g. Gosok dengan spon ke tangan kanan dan kiri dengan Clorhexidin Gluchonat
4% sampai 5 cm di atas siku
h. Gosok dengan spon ke tangan kanan dan kiri dengan Clorhexidin Gluchonat
4% sampai memutar kebagian tangan sampai berbusa
i. Sikat kuku jari tangan kanan dan kiri secara bergantian
j. Bilas tangan dengan air mengalir sampai ke 5 cm pada tangan
k. Peras spon dan lumuri tangan sampai ¾ dengan menggunakan Clorhexidin
Gluchonat 4%.
l. Gunakan spon untuk membersihkan tangan kanan, mulalah menggosok
telapak tangan selama 15 detik.
m. Gunakan spon untuk membersihkan tangan kiri, mulailah menggosok
telapak tangan selama 15 detik.
n. Buang spon, kemudian bilas tangan dengan air yang mengalir hingga 5 cm
di atas siku sampai bersih.
o. Ambil Clorhexidin Gluchonat 4% lalu lumuri sampai pergelangan tangan
gosok selama satu menit kedua tangan.
p. Biarkan air mengalir ke arah tangan sampai ke siku untuk mencegah
kontaminasi.
q. Pertahankan posisi tangan agar lebih tinggi dari siku.
r. Matikan kran dengan siku.
s. Pertahankan posisi tangan saat menuju kamar operasi.
t. Gunakan punggung anda untuk membuka kamar bedah jika tidak tersedia
pinu otomatis.
2.17 Teknik Memakai dan Melepas Jas Operasi
A. Pengertian
Prosedur memakai jas operasi steril dengan persiapan scrub nurse sebelum
tindakan pembedahan dan melepas jas operasi setelah tindakan pembedahan.
B. Tujuan
a. Memakai jas operasi
b. Menciptakan pembatas dan mempertahankan sterilitas lapangan operasi.
c. Melepas jas operasi.
Mencegah terjadinya infeksi nosokomial dari jas operasi terhadap lingkungan.
C. Bahan Jas Operasi
Jas operasi dapat digunakan dari bahan linen atau kertas, perbedaan antara jas
operasi linen dan kertas adalah sebagai berikut :
No Linen Kertas
1 Dapat digunakan kembali Hanya sekali pakai
2 Lebih berat linen ketebalan untuk Lebih ringan, tahan air, tidak
mengurangi perembesan lebih enak merembes
dipakai
3 Kurang abrasif Kaku, bisa robek dapat
menyebabkan gatal, reaksi alergi

2.18 Tehnik Memakai Sarung Tangan


A. Pengertian
Adalah prosedur memakai sarung tangan steril sebagai persiapan sebelum
tindakan pembedahan dengan melepas sarung tangan steril setelah tindakan
pembedahan.
B. Tujuan
1. Menutup permukaan tangan yang tidak steril dari para anggota tim bedah
sehingga melindungi pasien dari kontaminasi.
2. Melindungi tim bedah dari kontaminasi.
2.19 Pencukuran Daerah Operasi
A. Pengertian
Pencukuran daerah operasi adalah dilakukan untuk mempersiapkan daerah kulit
pasien, kulit diusahakan terhindar dari kontaminasi sebelum dilakukan insisi
bedah.
B. Tata cara pencukuran pada operasi perlu memperhatikan :
1. Waktu yang baik untuk mencukur pasien adalah segera sebelum OP dimulai.
2. Pasien harus menandatangani persetujuan OP.
3. Dokter yang menulis / menyampakan perintah untuk mencukur.
4. Daerah yang dicukur dibuat sekecil mungkin tetapi harus berupa daerah
persegi dengan batas luar kira-kira 2-3 inci dari daerah insisi yang
sebenarnya. Daerah ini juga merupakan terjadinya ruangan yang cukup
untuk memasukan pipa drainase melalui luka tusukan dan memudahkan kita
untuk melakukan penutupan luka pada tindakan.
5. Semua pencukuran dilakukan setelah kulit pasien dibasahi.
6. Gunakan betadine / wescondyne.
7. Rahasia pribadi pasien dijaga dengan membatasi dengan tirai dan hanya
daerah yang akan dicukur yang diperlihatkan.
8. Gunakan sarung tangan dan persiapkan spon / kasa yang basah dengan
sabun untuk membentuk busa.
9. Dengan pisau cukur steril cukurlah rambut pada kulit dengan gerakan yang
tegas ke arah tumbuhnya rambut.
10. Setelah pencukuran selesai, keringkan, angkat semua rambut yang lepas dan
tinggalkan pasien dalam keadaan menyenangkan.
11. Paraflah penintal pada status pasien setelah pencukuran.
12. Buang alat yang telah digunakan, bersihkan baki persiapan.

2.20 Posisi Pasien di Meja Operasi


A. Pengertian
Adalah praktek yang rasional dan logis sehingga pasien bebas dari cidera dapat
mendukung keamanan pasien selama pembedahan dan area OP dapat terekspos
adekuat.
B. Tujuan
- Menghasilkan area pembedahan yang optimal
- Meningkatkan keamanan
- Menurunkan resiko cidera
- Memudahkan akses dalam pemberian cairan intra vena, obat dan bahan
anestesi.
C. Macam-macam posisi
1) Posisi supine / dorsal
2) Posisi Teroid
3) Posisi Cholelitiqos
4) Posisi Utotomy
5) Posisi Lateral
6) Posisi Remove knee
7) Posisi Tren Delenburg
8) Posisi Prone
9) Posisi Matia Medien
10)Posisi Jack Knife
11)Posisi Siffing
12)Posisi Fowler

2.21 Tehnik Aseptik Area OP


Cara melakukan antiseptik daerah pembedahan :
a. Bukalah peralatan steril untuk antiseptik kulit diatas meja steril, yang terdri
dari :
- 2 mangkok (kom kecil) untuk cairan antiseptik
- 1 piala ginjal (kidney disposal / nierbeker)
- Forceps antiseptik.
- Deppers / kasa steril untuk antiseptik kulit.
b. Cairan anti septik tuangkan kedalam kom
c. Pencucian daerah pembedahan dimulai dari tengah menuju ke perifer dengan
cara memutar seperti obat nyamuk.
2.22 Draping
Bahan untuk draping
 Linen
 Non woven
 Plastik incisional drapes
Jenis draping
 Plain sheet
 Tube stokinatle
 Head drape
 Plastik drape
Jenis prosedur draping
 Laparomy drape
 Split sheet
 Tyroid sheet
 Perinean sheet
 Ear eye drafe
 Cranitomy sheet

2.23 Tehnik Penutupan Luka OP


Macam-macam tehnik membalut
 Balutan pada ankle
 Balutan pada Curis
 Balutan pada Radius Ulna
 Balutan pada Kepala
 Balutan pada Telapak tangan
 Balutan pada Humerus
 Balutan pada Thorik
(Sumber dibuku hal 311-313)
Faktor yang mempengaruhi Luka
1. Usia 6. Benda Asing
2. Nutrisi 7. Iskemia
3. Infeksi 8. Diabetes
4. Hematoma 9. Keadaan Luka
5. Sirkulasi / Oksigenasi 10.Obat

2.24 Prinsip tehnik steril hal 314-319


Petugas di ruang bedah sebaiknya juga memperhatikan petunjuk-petunjuk
berikut ini:
1. Harus dilakukan teliti dan hati-hati
2. Perawat instrumen (scrubnurse) harus memahami dengan tepat prosedur
drapping
3. Pertahankan jarak aman antara daerah steril dan tidak steril
4. Drape yang terpasang tidak boleh dipindah-pindah sampai operasi berakhir
dan harus dijaga sterilitasnya
5. Bila memakai kain untuk menutupi tubuh pasien, maka dock steril diletakan
pada lapangan operasi dan dibuka ke bawah atau menjauhi
6. Anggota tim bedah yang telah cuci tangan selalu membuka kain penutup di
daeerah yang steril ke daerah yang tidak steril, jangan sampai menyentuh
daerah yang tidak steril
7. Setiap dock steril yang berada dibawah batas pinggang sudah dianggap
terkontaminasi, termasuk juga penutup mayo
8. Lubang, robekan atau luka sekecil apapun merupakan pintu masuk kuman
jika kontak dengan daerah yang tidak steril, sehingga daerah steril menjadi
terkontaminasi
9. Untuk memasang dock steril dibutuhkan dua orang oleh karena itu
tunggulah asisten anda
10. Tepi dari lipatan dock steril diletakkan sangat dekat dengan daerah operasi
11. Pakailah dock klem / towel forceps pada setiap sudut daerah sayatan agar
alat tenun tidak mudah bergeser
12. Tim bedah yang memakai baju steril harus selalu menghadap daerah yang
sudah tertutup alat tenun steril
13. Perawat sirkuler harus berdiri menghadap scrub nurse untuk mengingatkan
jangan sampai drapping terkontaminasi
14. Bila alat tenun terkontaminasi, harus segera diganti

2.25 Pasien safety dikamar bedah


1. Pasien safety adalah suatu sistem yang membuat asuhan pasien di RS menjadi
lebih aman.
2. Tujuan terciptanya keselamatan pasien di RS
- Meningkatkan akuntabilitas RS terhadap pasien dan masyarakat
- Menurunkan kejadian yang tidak diharapkan di RS
- Terlaksananya program pencegahan shingga tidak terjadi pengulangan KTD.
3. Pasien safety d kamar bedah hal 325

2.26 Anestesiologi dasar


Perawat anestesi sebagai tenaga profesional dituntut untuk kompeten dalam
memberikan pelayanan kesehatan khususnya perawat perioperatif.
I. Evaluasi pra anestesi dan reanimasi
Adalah langkah awal dari rangkaian tindakan anestesi yang dilakukan terhadap
pasien yang direncanakan untuk menjalani tindakan operatif.
a. Anamnesis
b. Pemeriksaan fisik
c. Pemeriksaan laboratorium
d. Kebugaran untuk anestesia
e. Puasa
II. Persiapan pra anestesia dan reanimasi
Adalah langkah lanjut dari hasil evaluasi praoperatif, tujuannya untuk
mempersiapkan pasie bak fisik maupun psikologis agar siap menjalani prosedur
anestesia dan pembedahan.
III. Premadikasi
Adalah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi anestesia
IV. Pilih anestesia dan reanimasi
1. Umur
2. Jenis kelamin
3. Status fisik
4. Permintaan pasien
5. Jenis operasi

V. Jenis anestesia
1. Anestesia umum
2. Anestesia lokal
3. Anestesia regional

VI. Obat anestesia


1. 901 obat premedikasi : diazepam
2. 901 obat anestesia intravena : propofol, ketamin, morfin, pethidin, fenpinil dll
3. 901 obat anestesia intalasi : N2O, Enfluren, Iso Fluren, desfluren, sevofluren.
Untuk glongan obat anestesia lokal yang sering digunakan
1. Kokain
2. Prokain
3. Lidokan
4. Buvikain

VII. Terafi cairan dalam pembedahan


Adalah tindakan untuk memulihkan atau mengganti cairan yang keluar. Dengan
cairan kristaloid (elektrolit), koloid (plasma dan expander).
Pemasukan cairan dibutuhkan bila pasien puasa karena pembedahan kima,
pendarahan banyak, syok hipovolamik, mual muntah.
LAPORAN
KONSEP KEPERAWATAN PROFESIONAL
BAGI PERAWAT KAMAR BEDAH

Di Susun Oleh :
YUDI, Amd.Kep

RSU KUNINGAN MEDICAL CENTER


Jl. RE. Martadinata No.1 Kertawangunan
Sindang Agung – Kuningan
LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai