Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH TYPOID

Di susun oleh :

 ASIH SUPRIYANTI
 EVI SRI H
 NENENG SULASTRI

S1 KEPERAWATAN PROGRAM ALIH JENJANG


TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjakan kehadiran Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayahnya kepada kami sehingga kami dapa menyelesaikan makalah ini denga tepat
waktu.
Makalah ini berisi tentang Asuhan Keperawatan Dengan typoid. Dalam makalah
ini diterangkan tentang pengertian typoid,penyebab typoid, tanda dan gejala typoid.
Selain itu makalah ini juga menjelaskan tentang salah satu asuhan keperawatan
pasien dengan typoid mulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi serta
evaluasi.
Di akhir makalah ini sengaja kami sertakan rangkuman agar mempermudah dalam
proses pembelajaran.
Demikian makalah ini kami buat semoga bisa membantu dalam proses belajar dan
mengajar. Saran dan kritikan yang membangun tetap kami nantikan demi
kesempurnaannya makalah ini.

Bekasi, Februari 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar............................................................................................... i
Daftarisi .......................................................................................................... ii
Bab I Pendahuluan ......................................................................................... 1
1.1.Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2.RumusanMasalah ..................................................................................... 1
1.3.Tujuan ...................................................................................................... 2
1.4. Manfaat.................................................................................................... 3
1.5. Metode Penulisan .................................................................................... 3
Bab II Tinjauan Teori ...................................................................................... 4
2.1. Definis...................................................................................................... 4
2.2. Anatomi dan fisiologi saluran pencernaan ............................................... 4
2.3. Etiologi ..................................................................................................... 8
2.4. Fatofisiologi ............................................................................................. 9
2.5. Manifestasi klinik ................................................................................... 10
2.6. Komplikasi ............................................................................................. 10
2.7. Pemeriksaan Diagnostik ........................................................................ 13
2.8. Penatalaksanaan ................................................................................... 13
2.9. Therapi Terkini demam typoid ............................................................... 14
2.10. Therapi Modalitas ................................................................................ 15
2.11. Faktor-faktor yang mempengaruhi ....................................................... 16
Bab III Asuhan Keperawatan ........................................................................ 18
3.1. Pengkajian ............................................................................................. 18
3.2. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan .................................................. 20
3.3. Implementasi ......................................................................................... 24
3.4. Evaluasi ................................................................................................. 25
Bab III Penutup ............................................................................................. 26
3.1 Kesimpulandan Saran ............................................................................ 26
DaftarPustaka ............................................................................................... 27

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara tropis dan sering sekali terjadi bencana seperti
banjir sehingga mudah sekali kuman berkembangbiak, juga kesadaran
masyarakat yang sangat rendah untuk menjaga kebersihan sehingga
penyebaran penyakit sangat mudah.
Demam thypoid merupakan salah satu penyakit infeksi yang sering diderita oleh
anak-anak maupun orang dewasa. Demam tifoid pada masyarakat dengan
standar hidup dan kebersihan rendah,cenderung meningkat dan terjadi secara
endemis. Biasanya angka kejadian tinggi pada daerah tropik dibandingkan
daerah berhawa dingin. Penyakit typhus abdominallis sangat cepat penularanya
yaitu melalui kontak dengan seseorang yang menderita penyakit typhus,
kurangnya kebersihan pada minuman dan makanan, susu dan tempat susu yang
kurang kebersihannya menjadi tempat untuk pembiakan bakteri salmonella,
pembuangan kotoran yang tak memenuhi syarat dan kondisi saniter yang tidak
sehat menjadi faktor terbesar dalam penyebaran penyakit typhus.
Dalam masyarakat, penyakit ini dikenal dengan nama thypus, tetapi didalam
dunia kedokteran disebut dengan Tyfoid fever atau thypus abdominalis, karena
pada umumnya kuman menyerang usus, maka usus bisa jadi luka dan
menyebabkan pendarahan serta bisa mengakibatkan kebocoran usus.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang diangkat pada makalah ini adalah bagaimana
pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem
gastrointestinal khususnya pada pasien demam tifoid, pembahasan tentang:
1. Apakah pengertian Demam Tifoid?
2. Apakah penyebab Demam Tifoid?
3. Bagaimana patofisiologi Demam Tifoid?
4. Bagaimana gejala klinis pada Demam Tifoid?
5. Apa saja pemeriksaan diagnostik pada Demam Tifoid?
1
6. Bagaimana penatalaksanaan pada Demam Tifoid?
7. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada Demam Tifoid
8. Terapi terkini demam typoid dan factor – factor yang mempengaruhi
peningkatan penyembuhan pada penyakit typoid.

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu mempelajari dan memahami konsep materi mengenai
sistem gastrointestinal dan gangguannya, khusunya mengenai demam
tifoid.
2. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu menyebutkan dan memahami definisi demam tifoid.
2. Mahasiswa mampu menyebutkan dan memahami etiologi demam tifoid.
3. Mahasiswa mampu menyebutkan dan memahami fatofisiologi demam
tifoid.
4. Mahasiswa mampu menyebutkan dan memahami manifestasi klinis
demam tifoid.
5. Mahasiswa mampu menyebutkan dan memahami komploikasi demam
tifoid.
6. Mahasiswa mampu menyebutkan dan memahami penatalaksaan
demam tifoid.
7. Mahasiswa mampu mengidentifikasi masalah keperawatan yang
muncul pada klien yang menderita demam tifoid.
8. Mahasiswa mampu membuat rencana tindakan keperawatan kepada
pasien yang menderita demam tifoid.
9. Mampu menyebutkan dan memahami anatomi serta fisiologi sistem
gastrointestinal.

2
D. Manfaat
1. Keilmuan / Teori
Menambah ilmu pengetahuan terutama dalam keperawatan keluarga yang
berhubungan dengan penyakit demam tifoid.
2. Bagi Perawat / Mahasiswa
Sebagai bahan bacaan dan menambah wawasan bagi mahasiswa
kesehatan khususnya mahasiswa ilmu keperawatan mnegenai demam
tifoid.
3. Bagi Masyarakat / Keluarga
Bagi masyarakat dapat memberikan gambaran tanda-tanda dan gejala serta
penyebab penyakit demam tifoid di masyarakat sehingga dapat melakukan
pencegahan terhadap penyakit tersebut.

E. Metode penulisan
Metode yang kelompok gunakan dalam pembuatan makalah ini adalah metode
deskriptif. Kajian pustaka dilakukan dengan mencari literature di internet dan
buku-buku panduan.

3
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Demam Tifoid (entric fever) adalah infeksi sistemik yang disebabkan oleh
Salmonella Enterica, khususnya turunannya yaitu Salmonella Thypii, parathypii
A, B, C pada saluran pencernaan. (Suratum, 2010)
Penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran cerna, dengan gejala
demam kurang lebih dari 1 minggu, gangguan pada pencernaan, dan gangguan
kesadaran. Penyakit infeksi dari Salmonella (Salmonellosis) ialah segolongan
penyakit infeksi yang disebabkan oleh sejumlah besar spesies yang tergolong
dalam genus Salmonella, biasanya mengenai saluran pencernaan (Hasan dan
Atlas, 1991). Pertimbangkan demam tifoid pada anak yang demam dengan dan
memiliki salah satu tanda seperti diare (konstipasi), muntah, nyeri perut, dan
sakit kepala (batuk). Hal ini terutama bila demam telah berlangsung selama 7
hari atau lebih dan penyakit lain sudah disisihkan (WHO,2005).

B. Anatomi dan Fisiologi Saluran Pencernaan


Saluran pencernaan merupakan saluran yang menerima makanan dari luar dan
mempersiapkan untuk diserap oleh tubuh melalui proses pencernaan
(pengunyahan, penelanan dan pencampuran) dengan enzim dan zat cair yang
terbentang mulai dari mulut sampai anus (Syafuddin, 2006 : 167). Alat-alat
pencernaan terdiri dari saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Saluran
pencernaan memanjang mulai dari mulut hingga anus yang meliputi.
(Gambar 2.1) :

4
Gambar 2.1 Anatomi Sistem Pencernaan.

1) Mulut
Didalamnya terdapat gigi, lidah dan kelenjar air liur. Mulut merupakan jalan
masuk untuk sistem pencernaan. Bagian dalam dari mulut dilapisi oleh selaput
lendir. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di permukaan
lidah. Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis, asam, asin dan pahit
2) Tekak atau Faring
Penghubung rongga mulut dengan kerongkongan, pada bagian ini terdapat
persimpangan antara saluran pencernaan dan saluran pernapasan.
3) Kerongkongan atau Esofagus
Saluran memanjang yang menghubungkan tekak dengan lambung atau
ventrikel.
4) Lambung atau gaster/ventrikel

5
Pembesaran saluran pencernaan yang membentuk kantong. Lambung
merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kacang
kedelai, terdiri dari 3 bagian yaitu kardia, fundus dan antrum. Makanan masuk
ke dalam lambung dari kerongkonan melalui otot berbentuk cincin (sfinter),
yang bisa membuka dan menutup. Dalam keadaan normal, sfinter menghalangi
masuknya kembali isi lambung ke dalam kerongkongan.
5) Usus halus
Usus halus adalah saluran yang memiliki panjang 12 kaki (± 6 m). Usus halus
memanjang dari pyloric sphincter lambung sampai sphincter ileocaecal, tempat
bersambung dengan usus besar (gambar 2.1). Usus ini mengisi bagian tengah
dan bawah rongga abdomen. Ujung proksimalnya bergaris tengah sekitar 3,8
cm tetapi semakin kebawah lambat laun garis tengahnya berkurang sampai
menjadi sekitar 2,5 cm. Usus halus terdiri atas tiga bagian, yaitu: duodenum,
jejunum, ileum.
Duodenum, bagian terpendek (25 cm), yang dimulai dari pyloric sphincter di
perut sampai jejunum. Berbentuk sepatu kuda melengkung ke kiri, pada
lengkungan ini terdapat pancreas dan duodenal papilla, tempat bermuaranya
pancreas dan kantung empedu.
Jejunum memiliki panjang antara 1,5 m – 1,75 m. Di dalam usus ini, makanan
mengalami pencernaan secara kimiawi oleh enzim yang dihasilkan dinding
usus. Getah usus yang dihasilkan mengandung lendir dan berbagai macam
enzim yang dapat memecah makanan menjadi lebih sederhana. Di dalam
jejunum, makanan menjadi bubur yang lumat dan encer.
Usus penyerapan (ileum), panjangnya antara 0,75 m – 3,5 m terjadi
penyerapan sari–sari makanan. Permukaan dinding ileum dipenuhi oleh jonjot-
jonjot usus/vili. Adanya jonjot usus mengakibatkan permukaan ileum menjadi
semakin luas sehingga penyerapan makanan dapat berjalan dengan baik.
Dinding lapisan luar (tunika serosa) adalah membran serosa yaitu peritoneum
yang membalut usus dengan erat dan membran mukosa ini membatasi dinding
abdomen dan rongga pelvis.
Lapisan otot polos terdiri atas 2 lapisan serabut, lapisan luar yang memanjang
(longitudinal) dan lapisan dalam yang melingkar (serabut sirkuler). Kontraksi
otot polos dan bentuk peristaltic usus yang turut serta dalam proses

6
pencernaan mekanis, pencampuran makanan dengan enzim-enzim
pencernaan dan pergerakkan makanan sepanjang saluran pencernaan.
Submukosa terdiri dari jaringan ikat yang mengandung syaraf otonom, yaitu
plexus of meissner yang mengatur kontraksi muskularis mukosa dan sekresi
dari mukosa saluran pencernaan.
Mukosa dalam terdiri dari epitel selapis kolumner goblet yang mensekresi getah
usus halus (intestinal juice). Intestinal juice merupakan kombinasi cairan yang
disekresikan oleh kelenjar-kelenjar usus (glandula intestinalis) dari duodenum,
jejunum, dan ileum.
6) Usus besar
Terdiri atas usus tebal atau kolon dan poros usus atau rectum. Usus besar
terdiri dari : Kolon asendens (kanan), Kolon transversum, Kolon desendens
(kiri), Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum).
7) Rektum dan Anus
Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah
kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Biasanya rektum ini kosong karena tinja
disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Anus
merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar
dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian
lannya dari usus.
Fungsi usus halus menurut Syaifuddin, 2006 : 174 meliputi :
1. Menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui
kapiler-kapiler darah dan saluran-saluran limfe
2. Menyerap protein dalam bentuk asam amino
3. Karbohidrat diserap dalam bentuk monosakarida.
4. Di dalam usus halus terdapat kelenjar yang berfungsi sebagai enzim
pencernaan, yaitu :

No Enzim Substrat Hasil

7
1 Aminopeptisidase Polipeptida Polipeptida yang lebih kecil

2 Dipeptidase Dipeptide asam amino

3 Maltase Maltosa Glukosa

4 Laktase Laktosa Glukosa dan Galaktosa

5 Sukrase Sukrosa Glukosa dan Frukrosa

6 Lipase usus Lemak Gliserida asam lemak

7 Nukleotidase Nukleotida Nukleotida, Asam fosfat

C. Etiologi
Bakteri Salmonella Typhi
Wujud dari bakteri tersebut adalah berupa basil gram negatif, bergerak dengan
rambut getar, tidak berspora, dan mempunyai tiga macam antigen yaitu antigen
O (somatik yang terdiri atas zat kompleks lipopolisakarida), antigen H (flegella),
dan antigen VI. Dalam serum penderita, terdapat zat (aglutinin) terhadap ketiga
macam antigen tersebut. Kuman tumbuh pada suasana aerob dan fakultatif
anaerob pada suhu 15-41°C (optimum 37°C) dan pH pertumbuhan 6-8.
Ketiga jenis antigen tersebut di dalam tubuh manusia akan menimbulkan
pembentukan tiga macam antibodi yang lazim disebut Aglutinin. Ada 3 tipe
spesis utama pada salmonela yaitu : salmonella typosa(satu serotip), salmonella
choleraesius (satu serotipe) dan salmonella enteretidis (lebih dari 1500 serotipe)
(Rampengan, 2008 : 47).
Kuman penyebab penyakit ini adalah kuman salmonella thyposa, yang dapat
menular dengan mudah melalui 5 F yaitu : food ( makanan ), fingers (jari
tangan/kuku ), fomitus ( muntah ), fly ( lalat ), dan melalui feses.
D. Patofisiologi

8
1. Kuman masuk ke dalam mulut melalui makanan atau minuman yang
tercemar oleh Salmonella (biasanya >10.000 basil kuman). Sebagian kuman
dapat dimusnahkan oleh asam HCL lambung dan sebagian lagi masuk ke
usus halus. Jika respon imunitas humoral mukosa (IgA) usus kurang baik,
maka basil Salmonella akan menembus sel-sel epitel (sel M) dan selanjutnya
menuju lamina propia dan berkembang biak di jaringan limfoid plak peyeri di
ileum distal dan kelejar getah bening mesenterika.
2. Jaringan limfoid plak peyeri dan kelenjar getah bening mesenterika
mengalami hiperplasia. Basil tersebut masuk ke aliran darah (bakterimia)
melalui ductus thoracicus dan menyebar ke seluruh organ retikuloendotalial
tubuh, terutama hati, sumsum tulang, dan limfa melalui sirkulasi portar dari
usus.
3. Hati membesar (hepatomegali) dengan infiltrasi limfosit, zat plasma, dan sel
mononuclear. Terdapat juga nekrosis fokal dan pembesaran limfa
(splenomegali). Di organ ini, kuman S. Thypi berkembang biak dan masuk
sirkulasi darah lagi, sehingga mengakibatkan bakterimia kedua yang disertai
tanda dan gejala infeksi sistemik (demam, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit
perut, instabilitas vaskuler, dan gangguan mental koagulasi).
4. Pendarahan saluran cerna terjadi akibat erosi pembuluh darah di sekitar plak
peyeri yang sedang mengalami nekrosis dan hiperplasia. Proses patologis ini
dapat berlangsung hinga ke lapisan otot, serosa usus, dan mengakibatkan
perforasi usus. Endotoksin basil menempel di reseptor sel endotel kapiler dan
dapat mengakibatkan komplikasi, seperti gangguan neuropsikiatrik
kardiovaskuler, pernapasan, dan gangguan organ lainnya. Pada minggu
pertama timbulnya penyakit, terjadi jyperplasia (pembesaran sel-sel) plak
peyeri. Disusul kemudian, terjadi nekrosis pada minggu kedua dan ulserasi
plak peyeri pada minggu ketiga. Selanjutnya, dalam minggu ke empat akan
terjadi proses penyembuhan ulkus dengan meninggalkan sikatriks (jaringan
parut).

9
Gambar Siklus Patofisiologi

10
E. Manifestasi Klinik
Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibandingkan
dengan penderita dewasa. Masa tunas rata-rata 10-20 hari. Masa tunas
tersingkat adalah empat hari, jika infeksi terjadi melalui makanan. Sedangkan,
masa tunas terlama berlangsung 30 hari, jika infeksi melalui minuman. Selama
masa inkubasi, mungkin ditemukan gejala prodomal, yaitu perasaan tidak enak
badan, nyeri kepala, lesu, pusing, dan tidak bersemangat.
Walaupun gejala penyakit Typhus Abdominalisi, secara garis besar gejala-gejala
yang timbul dapat dikelompokan :
1. Demam berlangsung 3 minggu, selama minggu pertama suhu tubuh
berangsur-angsur naik (38,8OC-40OC), biasanya menurun pada pagi hari dan
meningkat lagi pada sore dan malam hari. Minggu kedua masih berada dalam
keadaan demam dan pada minggu ketiga suhu berangsur-angsur turun dan
normal kembali pada akhir minggu ketiga.
2. Gangguan saluran pencernaan, pada mulut terdapat napas berbau tidak
sedap, bibir kering dan pecah-pecah. Lidah tertutup selaput putih, kotor, ujung
dan tepinya kemerahan, jarang disertai tremor. Pada abdomen ditemukan
keadaan perut kembung. Hati dan limfa membesar disertai nyeri pada
perabaan. Biasanya sering terjadi konstipasi tetapi juga dapat diare atau
normal.
3. Gangguan kesadaran, umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak
dalam yaitu apatis sampai somnolen, jarang sopor, koma atau gelisah. Pada
punggung dan anggota gerak dapat ditemukan roseola yaitu bintik-bintik
kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit yang dapat ditemukan
pada minggu pertama demam. Kadang-kadang ditemukan bradikardia dan
epistaksis pada anak besar. (Ngastiyah, 2005 : 237).

11
F. Komplikasi Typhus Abdominalis
 Sistem Pencernaan
Bakteri masuk kemulut melalui makanan yang mengakibatkan terjadinya
peradangan pada usus, selain itu juga bakteri masuk melalui aliran darah
sistemik lalu masuk organ hati yang pada akhirnya menyebabkan
peradangan pada hati dan limpa. Pada sistem pencernaan akan didapatkan
pada mulut terdapat nafas berbau tak sedap, bibir kering dan pecah-pecah
(ragaden). Lidah tertutup selaput putih kotor (coated tongue), ujung tepinya
kemerahan jarang disertai tremor. Pada abdomen dapat ditemukan keadaan
perut kembung (meteorismus). Hati dan limpa membesar disertai nyeri
daerah perut, konstipasi, diare atau bisa juga normal disamping itu disertai
mual, muntah, dan anoreksia. Pada klien dengan typhus abdominalis akan
terjadi keluhan mual, muntah, anorexia dan perasaan tidak enak di perut
Komplikasi pada usus halus umumnya jarang terjadi tetapi bila terjadi sering
fatal.
1) Perdarahan usus
Bila sedikit hanya ditemukan jika dilakukan pemeriksaan tinja dengan
benzidin. Jika perdarahan banyak terjadi melena, dapat disertai nyeri
perut dengan tanda-tanda renjatan.
2) Perforasi usus
Timbul biasanya pada minggu ketiga atau setelahnya dan terjadi pada
bagian distal ileum. Perforasi yang tidak disertai peritonitis hanya dapat
ditemukan bila terdapat udara di rongga peritoneum, yaitu pekak hati
menghilang dan terdapat udara diantara hati dan diafragma pada foto
Rontgen abdomen yang dibuat dalam keadaan tegak.
3) Peritonitis
Biasanya disertai perforasi tetapi dapat terjadi tanpa perforasi usus.
Ditemukan gejala abdomen akut, yaitu nyeri perut yang hebat, dinding
abdomen tegang.
(Ngastiyah, 2005 : 237).

Dampak Terhadap Sistem Tubuh Lain


12
 Sistem Persyarafan
Klien dengan penyakit typhus abdominalis ini dapat mengakibatkan
terjadinya peradangan oleh bakteri yang mengenai seluruh organ tubuh
melalui pembuluh limfa diantaranya, saraf pusat atau otak. Dan hal ini dapat
menyebabkan menurunnya kesadaran klien dari apatis, somnolen hingga
sopor apabila penyakit tersebut terlambat dalam penanganannya
(Ngastiyah, 2005 : 237).
 Sistem Kardiovaskuler
Kuman salmonella masuk kedalam usus halus dan berkembang biak. Bila
respon imunitas humoral mukosa (Ig A) usus kurang baik maka kuman
menembus sel epitel (terutama sel M) dan selanjutnya kelamina propia.
Dilamina propia kuman di fagosit oleh sel-sel fagosit terutama makrophage.
Makrophage pada penderita akan menghasilkan substansi aktif yang disebut
monokines, selanjutnya monokines ini dapat menyebabkan instabilitas
vaskuler dan mengakibatkan adanya gangguan sirkulasi yaitu perubahan
tanda-tanda vital seperti bradikardi pada perabaan nadi (Rampengan 2008 :
63).
 Sistem Pernafasan
Jika klien dalam keadaan demam biasanya frekuensi dan kedalaman nafas
meningkat. Peningkatan tersebut dapat juga terjadi akibat nyeri karena
peradangan usus halus. Hal ini merangsang sinyal dari sumsum tulang
belakang dihantarkan melalui dua jalur yaitu spinal thalamus traktus (STT)
ke spinal respiratori traktus (SRT), dari spinal respiratori traktus dihantarkan
ke medulla oblongata hingga mengakibatkan neural inspiratory yang akan
meningkatkan frekuensi nafas (Mansyur, 2002 : 42).
 Sistem Muskuloskeletal
Pada typhus abdominalis kemungkinan akan terjadi keluhan yang
berhubungan dengan sistem musculoskeletal berupa nyeri otot, kelemahan
fisik akibat produksi makrophage yang menghasilkan monokises yang
mengakibatkan nekrosis seluler. Biasanya klien mengalami osteomielitis
yang disebabkan oleh bakteri yang masuk pada jaringan tulang melalui
pembuluh darah (Rampengan : 2008 : 56)

 Sistem Perkemihan
13
Pada penderita typhus abdominalis ini biasanya terjadi peningkatan suhu
tubuh sehingga akan mengakibatkan terjadinya diaforesis yang berlebih
lewat keringat akibatnya penderita biasanya lebih banyak minum dan ini
akan meningkatkan kerja ginjal, sehingga klin akan sering mengalami BAK
(Ngastiyah, 2005 : 237 ).
 Sistem Integumen
Klien dengan penyakit typhus abdominalis ini dapat terjadi kerusakan
integritas kulit seperti lesi. Hal ini disebabkan karena klien mengalami
bedrest. Selain itu emboli basil dalam kapiler kulit terutama pada daerah
punggung dan anggota gerak dapat ditemukan adanya roseola yaitu berupa
bintik-bintik kemerahan yang dapat ditemukan pada minggu pertama demam
(Ngastiyah, 2005 : 237).

G. Pathway Demam Typoid


14
H. Pemeriksaan Diagnostik
15
1. Tubex TF, spesifik mendeteksi Ig M antibody S thypiii 09 LPS antigen Sthypii
dan salmonella sero group D bakteri
2. Uji Widal : untuk mendeteksi adanya bakteri Salmonella Thypi
3. Pemeriksaan darah tepi : untuk melihat tingkat leukosit dalam darah, adanya
leukopenia, dll.
4. Pemeriksaan urin : untuk melihat adanya bakteri Salmonella Thypi dan
leukosit
5. Pemeriksaan feses : untuk melihat adanya lendir dan darah yang dicurigai
akan bahaya perdarahan usus dan perforasi
6. Pemeriksaan sumsum tulang : untuk mendeteksi adanya makrofag
7. Serologis : untuk mengevaluasi reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi
(aglutinin)
8. Radiologi : untuk mengetahui adanya komplikasi dari Demam Thypoid
9. Pemeriksaan SGOT dan SGPT
10. SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi
dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid.

I. Penatalaksanan
1. Perawatan
a. Bedrest kurang lebih 14 hari : mencegah komplikasi perdarahan usus
b. Mobilisasi sesuai dengan kondisi
c. Posisi tubuh harus diubah setiap 2 jam sekali untuk mencegah decubitus
2. Diet
Dimasa lampau, penderita diberi makan diet yang terdiri dari bubur saring,
kemudian bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat kesembuhan
penderita. Beberapa peneliti menganjurkan makanan padat dini yang wajar
sesuai dengan keadaan penderita. Makanan disesuaikan baik kebutuhan
kalori, protein, elektrolit, vitamin maupun mineralnya serta diusahakan makan
yang rendah/bebas selulose, menghindari makanan yang iritatif. Pada
penderita gangguan kesadaran maka pemasukan makanan harus lebih di
perhatikan

3. Obat-obatan
16
Obat pilihan adalah kloramfenikol, hati-hati karena mendepresi sum-sum
tulang, dosis 50-100 mg/kgBB dibagi 4 dosis, efek sampingnya adalah
Anaplastik anemia
Obat lain : - Kotrimoksazol ( TMP 8-10 mg/kgBB dibagi 2 dosis)
a) Ampisilin
b) Amoxicillin

I. Terapi terkini demam typoid


Pengobatan terkini untuk demam tifoid Kloramfenikol telah lama digunakan
untuk demam tifoid. Tetapi saat ini muncul masalah resistensi terhadap
antibiotika ini. Di samping itu, angka kekambuhan tinggi, gambaran klinis tidak
jelas dan risiko komplikasi. Resistensi muncul akibat penggunaan antibiotik yang
salah, penggunaan berlebihan (overuse), salah penggunaan (misuse), dan
underuse. Quinolone, seperti levofl oxacin, merupakan pilihan lain untuk demam
tifoid.
Penelitian Prof. RHH Nelwan tahun 2009 yang membandingkan levofloxacin
dengan ciprofloxacin, memperlihatkan bahwa demam menghilang di hari ke
tujuh pada semua pasien yang menggunakan levofloxacin. Sedangkan pada
kelompok ciprofloxacin masih ada 12 pasien mengalami demam. Dari hasil
pemeriksaan mikrobiologi, di kelompok levofloxacin 100% pasien klirens S. typhi
berdasarkan pemeriksaan darah dan feses.
Efek samping yang umum terjadi bersifat ringan, berupa mual muntah, nyeri
epigastrik, insomnia dan sefalgia. Efek samping levofloxacin lebih sedikit
dibanding ciprofl oxacin. Dari hasil pemeriksaan hati, 2 pasien pada kelompok
levofl oxacin menunjukkan gangguan fungsi hati, sementara pada pengguna
ciprofl oxacin, 6 orang mengalami kelainan fungsi hati. “Konsensus PETRI
menganjurkan pemberian levofloxacin oral 500 mg/hari 1 kali sehari”. Pada
kasus ringan maupun kasus berat Levofl oxacine diberikan selama 7 hari. Levofl
oxacine tidak dianjurkan diberikan pada remaja kurang dari 18 tahun. Untuk
pasien carrier, levofl oxacine dianjurkan diberikan 750 mg dua kali sehari selama
28 hari. (Dr. Muchlis Achsan Udji Sofro, Sp.PD-KPTI, dari RSUP dr. Kariadi,
Semarang,epatuhan penggobatan pada Kalbe Academia. CDK-217/ vol. 41 no.
6, th. 2014)

17
J. Therapi modalitas
Bahan alami untuk mengobati typoid dengan cara tradisional
1. Cacing kalung : cacing kalung merupakan jenis cacing tanah dengan ukuran
yang tergolong besar, pemanfaatan cacing kalung sebagai obat typoid
sudah terbukti manjur sejak nenek moyang kita ternyata. Cara tradisional
membuat ramuan cacing ini yaitu dengan merebus cacing kalung yang
sudah dibersihkan, agar rasa dan bau amisnya tidak terlalu menyengat,
sekarang ini sudah banyak cara membuat ramuan ini sepeeti dibuat syrop,
teh, dengan rasa bervariasi sesuai keinginan yang memesan. Dengan
kemajuan teknologi seorang dokter membuat kapsul yang berisikan serbuk
cacing yang dikeringkan terlebih dahulu, jika sudah masuk ke daftar medis
obat typoid berbentuk kapsul ini bisa dijual dengan harga yang lebih mahal.
2. Sambiloto : hasiat dari sambiloto sudah terbukti keampuhannya, sehingga
sambiloto menjadi pilihan untuk mengobati berbagai macam penyakit, salah
satunya adalah sakit typoid/typus. Caranya pun sangat mudah yaitu dengan
cara meminum air rebusan sambiloto secara rutin 2 kali setiap hari sampai
demam turundan sampai typus sembuh.
3. Cengkeh : Hasiatnya yang bersifat menghangatkan, menjadikan cengkeh ini
sebagai pilihan untuk mengobati sakit typus. Caranya yaitu dengan merebus
cengkeh dengan 2 gelas air, didihkan dan dinginkan kemudian minum sedikit
demi sedikit setiap hari.
4. Kunyit : Kunyit merupakan tanaman rimpang yang memiliki banyak khasiat
dan manfaat dalam mengobati berbagai macam penyakit. Penyakit typus
pun dapat diatasi dengan kunyit ini. Caranya rebus kunyit dengan air 3 gelas,
didihkan sapai air tersisa segelas saja saring dan dinginkan kemudian
minum dalam keadaan hangat, 2 kali se hari sampai typus atau demam
terasa sembuh.

5. Bawang putih : Ternyata bawang putih bisa meningkatkan sistem imun atau
kekebalan tubuh. Bawang putih juga dipercaya dapat melawan dan
membunuh bakteri penyebab penyakit, salah satunya adalah bakteri
18
penyebab penyakit typoid/typus, caranya yaitu tumbuk atau blender 1 siung
bawang putih sampai halus kemudian tambahkan sedikit air hangat lalu
peras, minum air rebusan bawang putih setiap hari sampai sakit dirasa
sembuh.

K. Faktor- factor yang mempengaruhi peningkatan kesembuhan pasien


demam tyopoid dalam perawatan dan pengobatan
1. Kepatuhan pasien dalam pengobatan
Menurut Armelia Hayati (2011) Kepatuhan terhadap pengobatan
membutuhkan partisipasi aktif pasien dalam manajemen perawatan diri dan
kerja sama antara pasien dan petugas kesehatan. Untuk mencapai
keberhasilan pengobatan bukan semata-mata menjadi tanggung jawab
pasien. Namun patuhnya pasien terhadap pengobatan dan aturan petugas
kesehatan akan memberikan dampak yang positif terhadap kesembuhan
pasien. Berhasilnya suatu terapi tidak hanya ditentukan oleh diagnosis atau
pemilihan obat yang tepat tetapi juga oleh kepatuhan pasien untuk mengikuti
terapi yang telah ditentukan.
2. Status gizi pada pasien demam tifoid
Menurut Rochman S (2012) menyatakan bahwa di masa lampau, pasien
demam tifoid diberi bubur saring untuk menjaga gizinya, kemudian bubur
kasar dan akhirnya diberi nasi. Beberapa peneliti menganjurkan makanan
padat dini yang wajar sesuai dengan keadaan penderita dengan
memperhatikan segi kualitas maupun kuantitas ternyata dapat diberikan
dengan aman. Ternyata pemberian makanan padat dini banyak memberikan
keuntungan seperti dapat menekan turunnya berat badan selama
perawatan, masa di rumah sakit diperpendek, dapat menekan penurunan
kadar albumin dalam serum, dapat mengurangi kemungkinan kejadian
infeksi lain selama perawatan dan juga status gizi pasien tetap terjaga.
semakin baik status gizi penderita demam tifoid, maka lama perawatan di
rumah sakit akan semakin cepat. Untuk menjaga status gizi gizi pasien
demam tifoid, pola makan juga harus tetap terjaga.
3. Dukungan keluarga dalam perawatan dan pengobatan pasien typoid
Menurut Syamsiah (2012) menyatakan bahwa dukungan emosional
keluarga sebagai tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan
19
pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi. Aspek-aspek dari
dukungan emosional meliputi dukungan yang diwujudkan dalam bentuk
afeksi, adanya kepercayaan, perhatian, mendengarkan dan didengarkan.
Dukungan keluarga yang optimal dipercaya dapat membantu seseorang
melewati situasi yang sulit. Menurut Soetjiningsih (2011) keluarga adalah
bagian dari masyarakat yang peranannya sangat penting untuk membangun
kebudayaan yang sehat. Sehingga keluarga dijadikan sebagai unit
pelayanan karena masalah kesehatan keluarga saling berkaitan dan saling
mempengaruhi antara sesama anggota keluarga dan akan mempengaruhi
pula keluarga-keluarga lain atau bahkan masyarakat yang ada di sekitarnya.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

20
A. Pengkajian
1. Identitas
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, no. registrasi, status
perkawinan, agama, pekerjaan, TB, BB, dan tanggal masuk RS.
2. Riwayat Keperawatan
a. Keluhan utama
Demam lebih dari 1 minggu, gangguan kesadaran : apatis sampai
somnolen, dan gangguan saluran cerna seperti perut kembung atau
tegang dan nyeri pada perabaan, mulut bau, konstipasi atau diare, tinja
berdarah dengan atau tanpa lendir, anoreksia dan muntah.
b. Riwayat penyakit sekarang.
Ingesti makanan yang tidak dimasak misalnya daging, telur, atau
terkontaminasi dengan minuman.
c. Riwayat penyakit dahulu.
Pernah menderita penyakit infeksi yang menyebabkan sistem imun
menurun.
d. Riwayat kesehatan keluarga.
Tifoid kongenital didapatkan dari seorang ibu hamil yang menderita
demam tifoid dan menularkan kepada janin melalui darah. Umumnya
bersifat fatal.
e. Riwayat kesehatan lingkungan.
Demam tifoid saat ini terutama ditemukan di negara sedang berkembang
dengan kepadatan penduduk tinggi serta kesehatan lingkungan yang
tidak memenuhi syarat kesehatan. Pengaruh cuaca terutama pada musim
hujan sedangkan dari kepustakaan barat dilaporkan terutama pada
musim panas.

3. Pola-pola Fungsi Keperawatan


a. Pola pesepsi dan tatalaksana kesehatan
Perubahan penatalaksanaan kesehatan yang dapat menimbulkan
masalah dalam kesehatannya.
21
b. Pola nutrisi dan metabolism
Adanya mual dan muntah, penurunan nafsu makan selama sakit, lidah
kotor, dan rasa pahit waktu makan sehingga dapat mempengaruhi status
nutrisi berubah.
c. Pola aktifitas dan latihan
Pasien akan terganggu aktifitasnya akibat adanya kelemahan fisik serta
pasien akan mengalami keterbatasan gerak akibat penyakitnya.
d. Pola eliminasi
Kebiasaan dalam buang BAK akan terjadi refensi bila dehidrasi karena
panas yang meninggi, konsumsi cairan yang tidak sesuai dengan
kebutuhan.
e. Pola reproduksi dan sexual
Pada pola reproduksi dan sexual pada pasien yang telah atau sudah
menikah akan terjadi perubahan.
f. Pola persepsi dan pengetahuan
Perubahan kondisi kesehatan dan gaya hidup akan mempengaruhi
pengetahuan dan kemampuan dalam merawat diri.
g. Pola persepsi dan konsep diri
Didalam perubahan apabila pasien tidak efektif dalam mengatasi masalah
penyakitnya.
4. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum
Biasanya pada pasien typhoid mengalami badan lemah, panas, puccat,
mual, perut tidak enak, anorexia.
b. Kepala dan leher
Kepala tidak ada bernjolan, rambut normal, kelopak mata normal,
konjungtiva anemia, mata cowong, muka tidak odema, pucat/bibir kering,
lidah kotor, ditepi dan ditengah merah, fungsi pendengran normal leher
simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.

c. Dada dan abdomen


Dada normal, bentuk simetris, pola nafas teratur, didaerah abdomen
ditemukan nyeri tekan.
d. Sistem respirasi
22
Apa ada pernafasan normal, tidak ada suara tambahan, dan tidak terdapat
cuping hidung.
e. Sistem kardiovaskuler
Biasanya pada pasien dengan typoid yang ditemukan tekanan darah yang
meningkat akan tetapi bisa didapatkan tachiardi saat pasien mengalami
peningkatan suhu tubuh.
f. Sistem integument
Kulit bersih, turgor kulit menurun, pucat, berkeringat banyak, akral hangat.
g. Sistem eliminasi
Pada pasien typoid kadang-kadang diare atau konstipasi, produk kemih
pasien bisa mengalami penurunan (kurang dari normal). N ½ -1 cc/kg
BB/jam.
h. Sistem muskuloskolesal
Apakah ada gangguan pada extrimitas atas dan bawah atau tidak ada
gangguan.
i. Sistem endokrin
Apakah di dalam penderita thyphoid ada pembesaran kelenjar toroid dan
tonsil.
j. Sistem persyarafan
Apakah kesadarn itu penuh atau apatis, somnolen dan koma, dalam
penderita penyakit thypoid.

B. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi


1. Hipertermi sehubungan dengan infeksi Salmonella Typhii
Tujuan : suhu tubuh normal/terkontrol.
Kriteria hasil : tanda-tanda vital dalam batas normal, turgor kulit
kembali membaik.
23
Intervensi :
a. Observasi suhu tubuh
b. Berikan pakaian yang tipis
c. Anjurkan klien untuk istirahat mutlak sampai suhu tubuhnya menurun.
d. Atur ruangan agar cukup ventilasi.
e. Berikan kompres dingin.
f. Anjurkan pasien untuk banyak minum (sirup, teh manis, atau apa yang
disukai anak).
g. Anjurkan klien untuk istirahat mutlak sampai suhu tubuhnya menurun.
h. Kolaborasi dengan team medis untuk pemberian obat secara
mencukupi.

2. Perubahan nutrisi atau cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh
sehubungan dengan mual muntah.
Tujuan : Pasien mampu mempertahankan kebutuhan nutrisi
yang adekuat.
Kriteria hasil : Nafsu makan meningkat, Pasien mampu menghabiskan
makanan sesuai dengan porsi yang diberikan
Intervensi :
a. Observasi intake output.
b. Berikan makanan yang mengandung cukup cairan, rendah serat, tinggi
protein, dan tidak menimbulkan gas.
c. Jika kesadaran klien masih membaik Berikan makanan lunak dengan
lauk pauk yang dicincang (hati dan daging), dan sayuran labu
siam/wortel yang dimasak lunak sekali. Boleh juga diberikan tahu, telur
setengah matang atau matang yang direbus. Susu diberikan 2 x 1
gelas/lebih, jika makanan tidak habis berikan susu extra.
d. Jika kesadaran klien menurun, berikan makanan cair per sonde dan
berikan kalori sesuai dengan kebutuhannya. Pemberiannya diatur
setiap 3 jam termasuk makanan ekstra seperti sari buah atau bubur
kacang hijau yang dihaluskan. Jika kesadaran membaik, makanan
dialihkan secara bertahap dari cair ke lunak.

24
e. Pasang infus dengan cairan glukosa dan NaCl jika kondisi pasien
payah (memburuk), seperti menderita delirium. Jika keadaan sudah
tenang berikan makanan per sonde, disamping infus masih diteruskan.
Makanan per sonde biasanya merupakan setengah dari jumlah kalori,
sementara setengahnya lagi masih perinfus. Secara bertahap dengan
melihat kemajuan pasien, bentuk makanan beralih ke makanan biasa.
f. Konsul dengan ahli diet untuk menentukan kalori/kebutuhan nutrisi .

3. Intoleransi Aktivitas sehubungan dengan tirah baring.


Hasil yang diharapkan :
a. Menyatakan pemahaman situasi/faktor resiko dan program pengobatan
individu.
b. Penghematan energi: Tingkat pengelolaan energi aktif.
Intervensi :
a. Kaji respon emosi, sosial, dan spiritual terhadap aktivitas.
b. Pantau/dokumentasikan pola istirahat pasien dan lamanya.
c. Bantu pasien dalam melakukan aktivitas fisik , kognitif, social dan
spiritual yang spesifik.
d. Ubah posisi dengan sering. Berikan perawatan kulit yang baik.
e. Lakukan tindakan dengan cepat dan sesuai toleransi.
f. Berikan aktivitas hiburan yang tepat contoh menonton tv, radio dan
membaca.
g. Ajarkan keluarga atau orang terdekat pasien tentang tehnik perawatan
diri.
h. Dapatkan bantuan dari keluarga dalam usaha mendukung dan
mendorong pasien dalam menyelesaikan aktivitas.
i. Kolaborasi dengan ahli gizi berdasar program diet yang dicanangkan.
j. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi.

4. Kurangnya pengetahuan orang tua tentang penyakitnya sehubungan


dengan kurang informasi.
Tujuan : pengetahuan klien dan orang tua klien bertambah
dengan adanya informasi.
Kriteria hasil : klien akan menyatakan pemahaman proses penyakit,
25
pengobatan, mengidentifikasi situasi stres dan tindakan
khusus untuk menerimanya dan berpartisipasi dalam
program pengobatan serta melakukan perubahan pola
hidup tertentu.

Intervensi :
a. Tentukan tingkat pengetahuan dan kesiapan untuk belajar.
b. Dorong penggunaan tehnik relaksasi dan manajemen stress lain, mis.
Visualisasi, bimbingan imajinasi, umpan balik biologi.
c. Berikan penyuluhan kepada orang tua tentang hah-hal sebagai berikut :
pasien tidak boleh tidur dengan anak-anak lain, pasien harus istirahat
mutlak, pemberian obat dan pengukuran suhu dilakukan seperti dirumah
sakit, feses dan urin harus dibuang kedalam lubang WC dan di siram air
sebanyak-banyaknya.
5. Nyeri sehubungan dengan proses peradangan
Kriteria hasil : - Melaporkan nyeri hilang/terkontrol.
- Tampak rileks dan mampu tidur dan istirahat dengan
tepat.
Intervensi :
a. Berikan posisi yang nyaman sesuai keinginan klien.
R/: Posisi yang nyaman akan membuat klien lebih rileks sehingga
merelaksasikan otot-otot.
b. Ajarkan tehnik nafas dalam
R/: Tehnik nafas dalam dapat merelaksasi otot-otot sehingga
mengurangi nyeri
c. Ajarkan kepada orang tua untuk menggunakan tehnik relaksasi
misalnya visualisasi, aktivitas hiburan yang tepat
R/: Meningkatkan relaksasi dan pengalihan perhatian

d. Kolaborasi obat-obatan analgetik


R/: Dengan obat analgetik akan menekan atau mengurangi rasa nyeri

6. Resti infeksi sekunder sehubungan dengan tindakan invasive


Tujuan : Infeksi tidak terjadi
26
Kriteria hasil : Bebas dari eritema, bengkak, tanda-tanda infeksi dan
bebas dari sekresi purulen/drainase serta febris.
Intervensi :
a. Observasi tanda-tanda vital (S, N, RR dan RR). Observasi kelancaran
tetesan infus, monitor tanda-tanda infeksi dan antiseptik sesuai dengan
kondisi balutan infuse.
b. Awasi batas pengunjung sesuai indikasi.
c. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti biotik sesuai
indikasi.
d. Bantu irigasi dan drainase bila diindikasikan.

C. Implementasi
Pelaksanaan tindakan atau implementasi adalah pemberian tindakan
keperawatan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan rencana tindakan yang
telah disusun setiap tindakan keperawatan yang dilakukan dan dicatat dalam
pencatatan keperawatan agar tindakan keperawatan terhadap klien berlanjut.
Prinsip dalam melaksanakan tindakan keperawatan yaitu cara pendekatan
kepada klien efektif, teknik komunikasi terapi serta penjelasan untuk setiap
tindakan yang diberikan kepada klien.
Dalam melakukan tindakan keperawatan menggunakan tiga tahap yaitu
independen, dependen, interdependen. Tindakan keperawatan secara
independen adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh perawat tanpa petunjuk
dan perintah dokter atau tenaga kesehatan lainnya, dependen adalah tindakan
yang sehubungan dengan tindakan pelaksanaan rencana tindakan medis dan
interdependen adalah tindakan keperwatan yang menjelaskan suatu kegiatan

yang memerlukan suatu kerjasama dengan tenaga kesehatan lainnya, misalnya


tenaga sosial, ahli gizi dan dokter, keterampilan yang harus perawat punya
dalam melaksanakan tindakan keperawatan yaitu kongnitif dan sifat psikomotor.

D. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang
menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan
27
pelaksanaannya sudah berhasil dicapai kemungkinan terjadi pada tahap
evaluasi adalah masalah dapat diatasi, masalah teratasi sebagian, masalah
belum teratasi atau timbul masalah yang baru. Evaluasi dilakukan yaitu evaluasi
proses dan evaluasi hasil.
Evaluasi proses adalah yang dilaksanakan untuk membantu keefektifan
terhadap tindakan. Sedangkan, evaluasi hasil adalah evaluasi yang dilakukan
pada akhir tindakan keperawatan secara keseluruhan sesuai dengan waktu yang
ada pada tujuan.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Demam thypoid merupakan salah satu penyakit infeksi yang sering diderita oleh
anak-anak maupun orang dewasa. Demam tifoid pada masyarakat dengan
28
standar hidup dan kebersihan rendah,cenderung meningkat dan terjadi secara
endemis. Biasanya angka kejadian tinggi pada daerah tropik dibandingkan
daerah berhawa dingin. Penyebabnya adalah kuman sallmonela thypi atau
sallmonela paratypi A, B, dan C.
Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibandingkan
dengan penderita dewasa. Masa tunas rata-rata 10-20 hari. Masa tunas
tersingkat adalah empat hari, jika infeksi terjadi melalui makanan. Sedangkan,
masa tunas terlama berlangsung 30 hari, jika infeksi melalui minuman. Selama
masa inkubasi, mungkin ditemukan gejala prodomal, yaitu perasaan tidak enak
badan, nyeri kepala, lesu, pusing, dan tidak bersemangat.

B. Saran
Dalam melakukan perawatan pada pasien dengan typoid, seorang perawat
harus mampu mengajak keluarga untuk aktif berpartisipasi dalam setiap
kegiatan keperawatan. Hal ini bertujuan untuk memberikan pendidikan kepada
keluarga karena setelah keluar dri Rumah Sakit maka keluargalah yang dituntut
untuk bisa melakukan perawatan dirumah.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, (2007), Defenisi Typhoid Abdominalis, (online)


(http://www.laboratorium klinik prodia.com, diakses 07 Agustus 2011

Anonim, (2007), Epidemiologi Typhoid Abdominalis, (online)


(http://www.pontianak post.com, diakses 07 Agustus 2011
29
Hidayat AA, (2006), Pengantar Ilmu Keperawatan Anak, (Edisi 2), Jakarta,
Salemba Medika.

Hidayat AA, (2006), Pengantar Ilmu Keperawatan Anak, (Edisi 1), Jakarta,
Salemba Medika.

Ngastiyah, (2005), Perawatan Anak Sakit. Edisi 2, Jakarta, EGC.

Nursalam dkk, (2005), Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak, Jakarta,


Salemba Medika.

Pearce C, (2004), Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis, Jakarta, PT.


Gramedia.

Saifuddin, (2006), Anatomi Fisilogi Untuk Mahasiswa Keperawatan, Edisi


3, Jakarta : EGC.

Jurnal ilmiah kesehatan Diagnosis Volume 5 Nomor 5 Tahun 2014


JurnalKalbe Academia CDK-217/ vol. 41 no. 6, th. 2014

30