Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN SOSIALISASI PANGAN LOKAL

“CENIL” DARI UBI JALAR SEBAGAI SUMBER KARBOHIDRAT


BERBASIS PANGAN LOKAL

Disusun oleh :
Kelompok 1 – THP B

Ilma Septi F 161710101014


Lia Yuni L 161710101023
Ariny Wafa I P 161710101041
Alfian Rizky Hakim 161710101065
Riva Adzaningrum R 161710101092

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JEMBER
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
2018
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang memiliki tanah yang subur. Hasil alam
yang melimpah, terutama dibidang pertanian. Berbagai jenis hasil pertanian tumbuh
di Indonesia, keragaman hasil pertanian ini dipengaruhi oleh tanah, dan cuaca setiap
wilayah di Indonesia. Sayur-sayuran, buah-buahan, maupun umbi-umbian pun
merupakan bahan pangan potensial yang dapat mencukupi kebutuhan pangan
masyarakat Indonesia. Bahkan kelebihannya dapat diekspor untuk memperluas
pasar bagi produk Indonesia, dan dapat menambah devisa negara. Keragaman
olahan pangan sudah banyak dilakukan oleh masyarakat untuk meningkatkan dan
mempertahankan status gizi. Usaha penganekaragaman dilakukan dengan cara
mengolah bahan baku pangan baru atau bahan baku pangan yang sudah ada dan
dikembangkan menjadi berbagai olahan pangan. Umbi-umbian merupakan salah
satu hasil pertanian yang sering dijumpai dan banyak dibudidayakan.

Pada umumnya umbi-umbian merupakan sumber karbohidrat alternatif selain


padi. Umbi berdasarkan asalnya dibedakan menjadi 3 yaitu umbi lapis, umbi
batang, dan umbi akar. Ubi jalar salah satu dari jenis umbi akar, kita mengenal ada
beberapa jenis ubi jalar. Jenis yang paling umum adalah ubi jalar putih, merah,
ungu, kuning atau orange. Ubi jalar dapat diolah menjadi berbagai olahan jenis
pangan seperti keripik, tepung ubi jalar, mie, atau sekedar dikukus, dan makanan
lokal lainnya. Sehingga produksi ubi jalar memiliki potensi di bidang pertanian.
Ubi jalar sebenarnya memiliki rasa manis yang khas. Adapun rasa manis tersebut
akan muncul dan tersa setelah dipanen dan disimpan beberapa hari sebelum
kemudian diolah. Hal itu, disebabkan karena selama penyimpanan akan terjadi
perubahan karbohidrat menjadi glukosa. Berdasarkan jenis ubi jalarnya, perubahan
tersebut ada yang terjadi sebesar 10% dari total karbohidrat yang terkandung di
dalamnya, namun ada pula yang mencapai 25% (Suprapti, 2003).

Ubi jalar mempunyai keunggulan dalam hal kandungan gizi terletak pada
kandungan provitamin A (betakarotin) yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan
bahan pangan lain seperti singkong. Kandungan yang tinggi ini, sangat baik untuk
mengatasi dan mencegah penyakit akibat kekurangan vitamin A. Dibandingkan
dengan tanaman lain, ubi jalar juga memiliki kelebihan antara lain dapat bertahan
hidup dalam iklim yang kurang baik, tidak memerlukan jenis atau tipe tanah
tertentu, dan mempunyai ekonomi tinggi sepanjang tahun (Rukmana, 2001).

Oleh karena itu, pengembangan dan pengenalan pangan lokal kepada siswa-
siswi sekolah menengah pertama diharapkan mampu menumbuhkan rasa peduli
terhadap pangan lokal.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dilakukan sosialisasi pangan lokal kepada masyarakat


terutama siswa-siswi sekolah menengah pertama :

1. Memberikan pengetahuan tentang pangan lokal terutama ubi jalar serta


manfaatnya.
2. Menumbuhkan rasa cinta pada produk pangan lokal.
3. Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konsumsi pangan lokal.
1.3 Manfaat

Adapun manfaat yang diharapkan dari sosialisai ini sebagai berikut :

1. Mengetahui pentingnya pangan lokal berbahan baku ubi jalar yang memiliki
nilai gizi dan berkhasiat.
2. Mempertahankan makanan tradisional khas daerah.
3. Mampu mengembangkan keaneragaman pangan lokal berbahan baku ubi
jalar.
BAB 2. REVIEW LITERATUR

2.1 Pangan Lokal


2.1.1 Definisi Pangan
Menurut Peraturan Pemerintah RI nomor 28 tahun 2004, pangan adalah
segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun
yang tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi
konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan dan
bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan atau
pembuatan makanan atau minuman. Pangan dibedakan atas :
a. Pangan Segar
Pangan segar adalah pangan yang belum mengalami pengolahan, yang dapat
dikonsumsi langsung atau dijadikan bahan baku pengolahan pangan. Misalnya
beras, gandum, segala macam buah, ikan, air segar.
b. Pangan Olahan
Makanan/ pangan olahan tertentu adalah pangan olahan yang diperuntukkan
bagi kelomjpok tertentu dalam upaya memelihara dan meningkatkan kualitas
kesehatan kelompok tersebut.
c. Pangan Siap Saji
Pangan siap saji adalah makanan atau minuman yang sudah diolah dan bisa
langsung disajikan di tempat usaha atau di luar tempat usaha atas dasar pesanan.
Pangan yang dikonsumsi secara teratur setiap hari tidak hanya sekedar memenuhi
ukuran kuantitas saja namun juga harus memenuhi unsur kualitas. Unsur kuantitas
sering dikaitkan dengan jumlah makanan yang harus dikonsumsi. Bagi mereka,
ukuran cukup mungkin adalah kenyang, atau yang penting sudah makan.
Sedangkan ukuran kualitas adalah terkait dengan nilai-nilai intrinsik dalam
makanan tersebut seperti keamanannya, gizi dan penampilan makanan tersebut.
2.1.2 Definisi Pangan Lokal
Pangan lokal merupakan produk pangan yang telah diproduksi dan biasanya
berkaitan erat dengan budaya masyarakat setempat. Pangan lokal yang beraneka
ragam dalam jumlah yang banyak dapat berpotensi pada kemandirian
nasional. Kurangnya inovasi teknologi menyebabkan belum berkembangnya
produk pangan lokal yang penggunaannya masih banyak dengan tepung terigu dan
beras. Padahal penggunaan tepung terigu di negara ini sudah terlalu banyak.
Kemenperin menyatakan bahwa konsumsi tepung terigu nasional pada tahun 2012
mencapai 1,22 juta ton setahun. Pemenuhan kebutuhan energi, protein, lemak, dan
karbohidrat dapat dilakukan dengan menambahkan snack untuk selingan makan
setiap hari. Namun, Snack yang dikonsumsi harus aman, sehat dan dapat memenuhi
kebutuhan zat gizi yang dapat meningkatkan kesehatan bagi konsumen. (Didik,
Haryadi., 2010).

2.2 Kemandirian Pangan


Menurut Undang-undang No. 41 tahun 2009 menyebutkan bahwa
kemandirian pangan adalah kemampuan produksi pangan yang beraneka ragam dari
dalam negeri yang dapat menjamin pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup
sampai di tingkat individu baik jumlah, mutu, keamanan maupun harga yang
terjangkau sesuai dengan potensi dan kearifan lokal. Kemandirian pangan yang
pada dasarnya sama dengan swasembada pangan atau food-self sufficiency, telah
dicita-citakan oleh pemimpin bangsa sejak awal kemerdekaan. Namun pencapaian
swasembada pangan nasional tersebut ternyata tidak mudah. Bahkan Indonesia
akan sulit mencapai swasembada pangan hingga tahun 2050. Di seluruh dunia,
negara-negara yang mampu mencukupi kebutuhan pangan pokok hanya negara-
negara Amerika Utara, Amerika Selatan, Australia, New Zealand. Bahkan negara-
negara tersebut mampu mencapai surplus produksi pangan.
Dari negara-negara surplus bahan pangan lainnya yang kelebihan produksi
pangan yang dulunya diekspor sebagai bahan pakan dan pangan, kini sebagian besar
produksi tersebut diproses menjadi bioenergi, sehingga terjadi persaingan ketat
antara tiga jenis penggunaan sebagai pangan, pakan dan energi, yang tendensi
penggunaannya untuk energi terus meningkat. Penggunaan biji-bijian yang semula
sebagai bahan pangan dan pakan, menjadi bahan bioenergi akan semakin meningkat
tajam, oleh semakin mahal dan semakin langkanya energi berasal dari fosil. Lima
komponen dalam mewujudkan kemandirian pangan yaitu ketersediaan yang cukup,
stabilitas ketersediaan, keterjangkauan, mutu atau keamanan pangan yang baik, dan
tidak ada ketergantungan pada pihak luar. Berdasarkan lima komponen tersebut,
kemandirian pangan menciptakan daya tahan yang tinggi terhadap perkembangan
dan gejolak ekonomi dunia (Soekartawi, 2003).

2.3 Difersifikasi Pangan


Diversifikasi atau penganekaragaman adalah suatu cara untuk mengadakan
lebih dari satu jenis barang/komoditi yang dikonsumsi. Dalam bidang pangan,
diversifikasi memiliki dua makna, yaitu diversifikasi tanaman pangan dan
diversifikasi konsumsi pangan. Kedua bentuk diversifikasi tersebut masih berkaitan
dengan upaya untuk mencapai ketahanan pangan. Apabila diversifikasi tanaman
pangan berkaitan dengan teknis pengaturan pola bercocok tanam, maka
diversifikasi konsumsi pangan akan mengatur atau mengelola pola konsumsi
masyarakat dalam rangka mencukupi kebutuhan pangan.
Menurut Riyadi (2003), diversifikasi pangan merupakan suatu proses
pemilihan pangan yang tidak hanya tergantung pada satu jenis pangan, akan tetapi
memiliki beragam pilihan (alternatif) terhadap berbagai bahan pangan.
Pertimbangan rumah tangga untuk memilih bahan makanan pokok keluarga di
dasarkan pada aspek produksi, aspek pengolahan, dan aspek konsumsi pangan.
Penganekaragaman pangan ditujukan tidak hanya untuk mengurangi
ketergantungan akan jenis pangan tertentu, akan tetapi dimaksudkan pula untuk
mencapai keberagaman komposisi gizi sehingga mampu menjamin peningkatan
kualitas gizi masyarakat.
Pakpahan dan Suhartini (1989) menyebutkan bahwa pada dasarnya
diversifikasi pangan mencakup tiga lingkup pengertian yang saling berkaitan, yaitu
diversifikasi konsumsi pangan, diversifikasi ketersediaan pangan, dan diversifikasi
produksi pangan. Kedua penulis tersebut menterjemahkan konsep diversifikasi
dalam arti luas, tidak hanya aspek konsumsi pangan tetapi juga aspek produksi
pangan.

2.4 Ubi Jalar (Ipomoea Batatas L)


Tanaman ubi jalar (Ipomoea batatas L) diduga berasal dari benua Amerika,
tetapi para ahli botani dan pertanian memperkirakan daerah asal tanaman ubi jalar
adalah Selandia Baru, Polinesia dan Amerika bagian tengah. Ubi jalar mulai
menyebar ke seluruh dunia, terutama ke negara-negara beriklim tropis pada abad
ke16. Orang-orang Spanyol menyebarkan ubi jalar ke kawasan Asia, terutama
Filipina, Jepang dan Indonesia. Cina merupakan penghasil ubi jalar terbesar
mencapai 90% (rata-rata 114,7 juta ton) dari yang dihasilkan dunia.
Umbi tanaman ubi jalar terjadi karena adanya proses diferensiasi akar
sebagai akibat terjadinya penimbunan asimilat dari daun yang membentuk umbi.
Umbi tanaman ubi jalar memiliki ukuran, bentuk, warna kulit, dan warna daging
bermacam-macam, tergantung pada varietasnya. Ukuran umbi tanaman ubi jalar
bervariasi, ada yang besar dan ada pula yang kecil. Bentuk umbi tanaman ubi jalar
ada yang bulat, bulat lonjong (oval), dan bulat panjang. Kulit umbi ada yang
berwarna putih, kuning, ungu, jingga, dan merah. Demikian pula, daging umbi
tanaman ubi jalar ada yang berwarna putih, kuning, jingga, dan ungu muda. Struktur
kulit umbi tanaman ubi jalar juga bervariasi antara tipis samapi tebal dan bergetah.
Bentuk dan ukuran umbi merupakan salah satu kriteria unutk menentukan harga
jual di pasaran. Bentuk umbi yang rata (bulat dan bulat lonjong) dan tidak banyak
lekukan termasuk umbi yang berkualitas baik (Samsyir, 2009). Ubi jalar dapat
dijadikan berbagai produk-produk komersial juga sebagai pewarna alami pangan
contohnya pada pengolahan mie, jus, roti, selai dan minuman fermentasi (Truong
et al., 2010). Nutrisi yang terkandung di dalam ubi jalar adalah vitamin A, C, serat
pangan, zat besi, potasium dan protein.

2.5 Cenil
Cenil merupakan salah satu makanan yang beredar di masyarakat dan juga
juga banyak disukai oleh semua kalangan. Cenil termasuk makanan atau jajanan
tradisonal yang telah ada sejak dulu. Makanan ini berbentk lonjong dan dalam
penyajiannya biasanya ditambahkan taburan parutan kelapa dan gula merah cair.
Cenil memiliki bermacam-macam warna yaitu merah, hijau, merah muda, putih,
dan memiliki rasa yang manis serta tekstur yang kenyal. Cenil biasanya terbuat dari
tepung kanji atau tepung tapioka, gula, pewarna, dan kelapa parut sebagai
pelengkap. Namun, terdapat juga cenil yang berbahan baku tepung sagu dengan
penambahan ubi jalar sebagai bahan dasar serta pewarna alami, cenil ubi jalar ini
merupakan inovasi dan memiliki nilai gizi yang lebih tinggi.
BAB 3. METODOLOGI SOSIALISASI

3.1 Waktu dan Tempat


Sosialisasi pangan lokal akan dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 7 April
2018 bertempat di SMP Negeri 7 Jember yang beralamat di Jalan Cendrawasih No.
22 Desa Slawu, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Sasaran dari
sosialisasi pangan lokal “Cenil dari Ubi Jalar Sebagai Sumber Karbohidrat Berbasis
Pangan Lokal” ini yaitu siswa-siswi kelas VIII di SMP Negeri 7 Jember.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
Adapun alat-alat yang digunakan saat sosialisasi yaitu viewer, meja, kursi,
laptop, microvon, poster, kamera, nampan, baskom, presensi dan booklet.
3.2.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam sosialisasi ini adalah kotak kue, cenil ubi
jalar, AMDK, mamiri.

3.3 Metode Sosialisasi


Metode yang digunakan pada sosialisasi “Cenil dari Ubi Jalar Sebagai
Sumber Karbohidrat Berbasis Pangan Lokal” yaitu dengan cara penyampaian
materi mengenai Cenil Ubi Jalar, memperlihatkan contoh produk, tanya jawab
(diskusi), dan pengisian kuisioner.
3.3.1 Penyampaian Materi
Materi sosialisasi pangan lokal kepada siswa-siswi kelas VIII di SMP Negeri
7 Jember yaitu “Cenil dari Ubi Jalar Sebagai Sumber Karbohidrat Berbasis Pangan
Lokal”. Penyampaian materi meliputi pemberian materi mengenai pangan lokal,
potensi pangan lokal di Indonesia, ragam pangan lokal di Indonesia terutama Cenil,
dan manfaat serta potensi Cenil sebagai pangan lokal di Indonesia. Penyampaian
materi dilakukan dengan metode presentasi di depan peserta sosialisasi
menggunakan sarana viewer.
3.3.2 Pengenalan Produk
Contoh produk yang akan diperlihatkan kepada para siswa yaitu produk Cenil
Ubi Jalar. Produk dibagikan langsung kepada siswa dan dipersilahkan untuk
mencoba produk. Hal ini bertujuan agar para audience mengetahui secara langsung
bentuk nyata dari produk Cenil Ubi Jalar.
3.3.3 Tanya Jawab (Diskusi)
Forum tanya jawab pada sosialisasi ini yaitu dengan memberikan kesempatan
kepada para siswa untuk bertanya kepada para penyaji terkait pangan lokal
Indonesia terutama cenil dan ubi jalar sehingga siswa-siswi yang masih kurang jelas
terkait materi yang telah disampaikan dapat ditanggapi dengan baik.
3.3.4 Game Edukasi
Game edukasi ini dilakukan agar selama proses sosialisasi siswa tidak
menjadi jenuh. Selain itu, melalui game ini diharapkan siswa menjadi lebih
memahari materi pangan lokal yang diberikan serta dapat mengikuti kegiatan
sosialisasi dengan cara yang juga menyenangkan.
3.3.6 Kuisioner
Kuisioner adalah suatu teknik pengumpulan informasi yang memungkinkan
untuk mengetahui sejauh mana pemahaman materi oleh peserta. Kuisioner
sosialisasi diberikan kepada peserta sosialisasi dengan menjawab pertanyaan
seputar sosialisasi yang dilakukan. Pemberian kuisioner diharapkan dapat menilai
seberapa besar materi yang dapat diterima oleh peserta serta kritik dan saran yang
membangun dalam sosialisasi pangan lokal tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Rukmana. 2001. Budidaya Ubi Jalar dan Analisis Usaha Tani. Jakarta : PT.
Penebar

Swadaya.

Suprapti, L. 2003. Tepung Ubi Jalar, Pembuatan, dan Pemanfaatannya.


Yogyakarta.

Kanisius.
RUNDOWN ACARA

Waktu Durasi Kegiatan Keterangan Perlengakapan PJ


Meja, kursi,
- Mempersiapkan ruangan laptop,
microvone,
- Membersihkan dan proyektor,
06.00- 50 Persiapan Semua
menata ruangan presensi,
06.50 menit panitia panitia
snack,
- Mempersiapkan AMDK,
peralatan poster,
kamera
- Peserta mengisi presensi
yang telah disediakan
Presensi, alat
- Peserta diberikan Snack, tulis, Snack,
06.50- 10 Cek in Semua
AMDK, dan poster AMDK,
07.00 menit peserta panitia
poster,
- Peserta diarahkan untuk kamera
mamasuki ruangan yang
tersedia

07.00- 5 Pembuka - Pembukaan Scrib MC,


07.05 menit an - Perkenalan panitia kamera

Penyamp Penyaji menyampaikan


07.05- 15 Laptop dan
aian materi ppt tentang Pangan
07.20 menit PPT, kamera
materi Lokal di Indonesia
- MC memimpin untuk
sesi diskusi
- Dibuka 1 termin
sebanyak 3 penanya
07.25- 10 Tanya - Masing-masing Alat tulis, Semua
07.35 menit jawab pertanyaan ditampung kamera panitia
terlebih dahulu
- Penyaji dipersilahkan
untuk menjawab
pertanyaan
- Panitia membagikan
07.35- 15 m Penyamp produk kepada siswa Laptop dan
07.50 en aian - Penyaji menyampaikan PPT, kamera
it materi materi ppt tentang Cenil
Ubi Jalar
- MC memimpin untuk
sesi diskusi
- Dibuka 1 termin
sebanyak 3 penanya
- Masing-masing
Permaina
pertanyaan ditampung Semua
07.50- 20 n dan Alat tulis,
08.10 menit tanya terlebih dahulu kamera panitia
jawab - Penyaji dipersilahkan
untuk menjawab
pertanyaan
- Permainan
..........................................
..........
- Panitia membagikan
kuisioner kepada audience
- MC mengarahkan
08.10- 10 audience untuk mengisi Kuisioner, alat
Kuisioner
08.20 menit kuisioner yang telah tulis, kamera
diberikan
- Panitia mengambil
kuisioner yang telah diisi
- Pemberian cindera mata
(vandel)
08.20- 15
Penutup - Pembacaan do,a dan
08.35 menit
terimakasih oleh MC
- Foto bersama