Anda di halaman 1dari 10

BUDIDAYA IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

Oleh :
Nama : Firamitha Suban
NIM : (15051102012)

BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2018

1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas segala
rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Makalah ini telah disusun
dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat
memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Untuk menyempurnakan makalah ini, saran dan kritik dari pembaca sangat kami
harapkan.
Akhir kata, kami berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca.

Manado, 24 April 2018

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 1


DAFTAR ISI.............................................................................................................................. 3
1. PENDAHULUAN ................................................................................................................. 4
1.1. Latar Belakang ................................................................................................................ 4
2. BIOFLOK .............................................................................................................................. 6
2.1. Pengertian Bioflok........................................................................................................... 6
2.2. Proses Terbentuknya Bioflok .......................................................................................... 6
2.3. Persiapan Wadah Bioflok ................................................................................................ 7
2.4. Persiapan Wadah Kultur Bioflok .................................................................................... 7
2.5. Manajemen Kualitas Air ................................................................................................. 8
3. PENUTUP.............................................................................................................................. 9
3.1. Kesimpulan...................................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 10

3
1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dalam konteks akuakultur, sistem intensif pada umumnya mengindikasikan praktek
akuakultur dengan memanfaatkan lahan atau area kultur sekecil mungkin, dengan kepadatan
organisme kultur yang tinggi, sehingga nilai produksi per satu satuan luas area kultur menjadi
berlipat ganda (Midlen and Redding dalam Frany 2016). Penerapan sistim intensif secara
signifikan meningkatkan produksi akuakultur, sehingga margin keuntungan pembudidaya
juga meningkat (Pillay, 1993). Input teknologi dilakukan pada semua aspek dalam
operasional akuakultur seperti, infrastruktur, kualitas benih, nutrisi dan pakan, kualitas air,
kesehatan dan lingkungan akuakultur (Pillay, 1992; Midlen and Redding, 1998). Di lain
pihak, intensifikasi membutuhkan biaya investasi dan operasional yang sangat besar, dan juga
memiliki dampak negatif yang tak terhindarkan (Avnimelech dalam Frandy 2016).
Pada sistem intensif, untuk memicu pertumbuhan ikan yang dikultur dengan
kepadatan tinggi, maka pakan dengan nilai nutrisi tinggi harus disuplai dalam jumlah yang
besar sesuai dengan total biomassa ikan kultur. Akan tetapi, berdasarkan data penelitian serta
observasi pada usaha-usaha kultur ikan dan krustasea, dari total jumlah pakan yang disuplai
ke wadah kultur, hanya sekitar 30- 40% yang dapat dimanfaatkan oleh organisme kultur
untuk pertumbuhan dan sumber energi untuk pergerakan (Beveridge dalam Frandy 2016).
Sebagian pakan tidak ditangkap oleh ikan dan jatuh ke dasar wadah, sementara dari yang
sudah dimakan oleh ikan, sebagiannya lagi akan terbuang dalam bentuk faeces. Pakan yang
tidak termakan, faeces dan produk sisa metabolisme ikan, merupakan materialmaterial
buangan yang akan terakumulasi dalam wadah kultur dengan konsentrasi yang sangat tinggi,
sesuai dengan jumlah pakan yang disuplai. Material-material buangan ini akan terurai dan
membentuk gas-gas serta substansi yang bersifat racun dan mengakibatkan beberapa
parameter kualitas air akan berfluktuasi dan berada pada level yang tidak layak, khususnya,
DO, NH3, NO2, NO3 (Ekasari, 2009). Kondisi ini pada awalnya menyebabkan organisme
kultur berada dalam keadaan cekaman (stress) yang dapat mengakibatkan ketahanan dan
kekebalan tubuh akan menurun. Ikan dalam kondisi seperti itu sangat mudah diserang oleh
mikroorganisme patogenik, yang pada umumnya sudah berkembang pesat dalam wadah
kultur dengan kondisi seperti itu. Jika kondisi ini dibiarkan berlarut dan tidak ditangani
segera, maka kematian ikan kultur akan mulai terjadi. Penanganan yang paling penting adalah
dengan mengontrol medium air kultur agar tidak terakumulasi dengan semua material-
material buangan serta produk dekomposisinya.

4
Pada sistem akuakultur dengan teknologi bioflok, air media kultur hanya sekali
dimasukkan dalam wadah, dan digunakkan sampai panen. Penambahan air hanya untuk
mengganti penguapan dan pengontrolan kepadatan bioflok. Dibanding sistem resirkulasi yang
sangat kompleks, sistem kultur dengan teknologi bioflok hanya menggunakan satu wadah,
yakni wadah kultur. Penguraian bahan organik oleh bakteri dan mikroorganisme pengurai,
sampai pada pemanfaatan hasilhasil penguraian oleh mikroalga dan mikroorganisme yang
tumbuh, terjadi dalam wadah secara seimbang dengan kepadatan organisme kultur yang
sangat tinggi. Pengontrolan kualitas air terjadi dalam wadah kultur itu sendiri, oleh sistem
bioflok yang sudah berjalan dalam wadah kultur. Sistem ini sangat murah, sederhana, ramah
lingkungan dan memiliki produktifitas yang sangat tinggi.
Teknologi bioflok merupakan teknologi yang tepat untuk kultur ikan nila secara
intensif dengan mempertimbangkan sifat ikan nila yang mampu hidup pada kepadatan tinggi
dan memiliki toleransi yang luas pada kondisi kualitas air.

1.2. Tujuan
Tujuan dari makalah ini yaitu untuk mengetahui fungsi dan manfaat dari sistem
budidaya menggunakan metode bioflok, serta mengetahui langkah-langkah pembuatan media
bioflok dalam budidaya ikan nila.

5
2. BIOFLOK

2.1. Pengertian Bioflok


Bioflok merupakan agregat diatom, makroalga, pelet sisa, eksoskeleton organisme
mati, bakteri, protista dan invertebrata juga mengandung bakteri, fungi, protozoa dan lain-lain
yang berdiameter 0,1-2 mm. Bahan-bahan organik itu merupakan pakan alami ikan dan
udang yang mengandung nutrisi baik, yang mampu disandingkan dengan pakan buatan,
sehingga pertumbuhan akan baik bahkan jumlah pakan yang diberikan bisa diturunkan.

Unsur Karbon (C), Nitrogen (N) dan Posfor (P) dalam tubuh ikan atau udang yang
merupakan cerminan dari pakan ikan atau udang, rata-rata 13%, 29% dan 16%, namun
jumlahnya sangat sedikit dalam tubuh, karena ternyata pakan yang dimakan oleh ikan hanya
20%-30%, artinya tersisa 70-80% dalam kolam atau sedimen dan itu jumlah yang sangat
besar. Sisa 70%-80% inilah yang biasa menjadi sumber penyakit muncul, Kualitas air
menurun dan berakibat dengan pertumbuhan ikan lele yang kurang maksimal. Artinya saat
kita mampu mengolah sisa 70% tersebut maka kita mampu memberikan lingkungan yang
terbaik untuk ikan.

2.2. Proses Terbentuknya Bioflok


Proses ini dimulai dari proses nitrifikasi yang reaksinya adalah amonia dan oksigen
menjadi ion nitrit dan akhirnya menjadi nitrat dan air, pada reaksi ini terdapat campur tangan
bakteri oksidasi amonia dan bakteri oksidasi nitrit, artinya semua proses ini memerlukan
oksigen yang cukup tinggi yaitu 4 ppm pada siang hari dan 6 ppm pada malam hari.
Mikroorganisme seperti bakteri dengan kemampuann lisis bahan organic memanfaatkan
detritus sebagai makanan. Sel bakteri mensekresi lendir metabolit , biopolymer (polisakarida ,
peptida, dan lipid) atau senyawa kombinasi dan terakumulasi di sekitar dinding sel serta
detritus. Kesalingtertarikan antar dinding sel bakteri menyebabkan munculnya flog bakteri.
Teknik Bioflok pada intinya mereduksi bahan-bahan organik dan senyawa beracun
yang terakumulasi dalam air pemeliharaan ikan. Dengan sistem self-purifikasi didapat hasil
akhir meningkatkan effisiensi pemanfaatan pakan dan peningkatan kualitas air. Hasilnya
adalah :
- Pakan ikan nila akan lebih effisien;
- Pertumbuhan ikan nila akan rampag artinya selama kegiatan budidaya tidak ada
kegiatan penyortiran;

6
- Kecepatan pertumbuhan ikan yang lebih optimal dengan masa waktu panen yang
lebih singkat;
- Padat tebar per meter3 yang lebih tinggi kisaran 500 benih-1000 benih/m3;
- Ikan sehat dan gesit serta mengurangi penyakit pada ikan.
2.3. Persiapan Wadah Bioflok
Wadah kultur bioflok ikan nila adalah dua unit loyang plastik masingmasing
berkapasitas 80 liter, dan diisi dengan air tawar sebanyak 60 liter per wadah. Setiap wadah
dilengkapi dengan 4 unit aerator, dan diffuser aerator (menggunakan batu aerasi) yang
ditempatkan 1 unit pada tiap wadah. 4 unit airlift-pump aerator pada setiap wadah diatur
searah sehingga air dalam wadah berputar secara terus menerus agar tidak terakumulasi
endapan solid material di dasar wadah. Pada bagian tengah wadah diletakkan diffuser aerator
untuk memungkinkan supaya air yang berputar tidak mengumpulkan solid organik material
di tengah wadah, dan mencegah terciptanya daerah mati pada dasar wadah. Dalam
kolam/wadah bioflok harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu :

- Membutuhkan probiotik pembentuk floc. Dengan menggunakan bakteri Bacillus sp


seperti Bacillus Substilis, Bacillus cereus;
- Membutuhkan oksigen yang tinggi didalam kolam kisaran 4 ppm-6 ppm;
- Penambahan bahan baku stater yang mengandung karbon seperti molase, tepung
tapioka, tepung terigu, bekatul atau gula;
- Kondisi lingkungan air kolam dibuat selalu mengaduk dengan bantuan semburan air
atau aerator.

2.4. Persiapan Wadah Kultur Bioflok


Pada setiap wadah kultur yang sudah berisi air tawar sebanyak 60 liter, ditambahkan
beberapa substansi yang akan membentuk bioflok dalam media kutur. Sebelum bahan-bahan
tersebut ditambahkan, sistim aerasi pada kedua wadah kultur sudah harus dalam keadaan
aktif. Pertama-tama diinokulasikan bakteri probiotik ke dalam medium kultur. Bakteri
probiotik yang dipakai adalah EM4 (Effective microorganisms-4) yang mengandung bakteri
Lactobacillus casei dan Saccharomyces cerevisiae, sebanyak 0,3 mL. Bakteri dilarutkan dulu
dalam 200 mL air, kemudian disebarkan secara merata ke medium kultur. Selanjutnya
mollase sebanyak 15 mL dilarutkan dalam 200 mL air tawar, kemudian diaduk sampai
merata. Hasil adukan tersebut kemudian secara bertahap disebarkan ke media kultur. Bahan
berikut yang ditambahkan ke media kultur adalah 0,50 gram ragi tempe yang dilarutkan
dalam 200 mL air tawar kemudian disebarkan ke media kultur. Bahan terakhir yang

7
ditambahkan adalah 12 gram dolomite yang dilarutkan dalam 200 mL air tawar, dan
dimasukkan ke dalam medium kultur.

Setelah medium kultur bioflok terbentuk, ikan uji dimasukkan ke dalam wadah kultur.
Pemberian pakan dilakukan pada pagi dan sore hari. Minggu pertama pemberian makanan
sebanyak 3% dari bobot tubuh ikan, setelah 1 minggu pembarian makanan diturunkan
menjadi 1% dari bobot tubuh ikan. Warna air pada suatu sistim bioflok dapat berubah
tergantung tahapan perkembangan awal bioflok, komposisi utama flok dan tingkat kepadatan
flok. Oleh karena itu warna air diobservasi selama kultur.

Menurut Satish dalam Frandy 2016, Klasifikasi perkembangan flok menjadi 5


tahapan: Tahap-1: Floc mulai muncul tetapi belum dapat diukur; Tahap-2 : Floc tidak padat,
< 1.0 mL/liter; Tahap-3: Floc mulai padat, 1.0 – 5.0 mL/liter; Tahap-4 : Floc kepadatan
tinggi, 5.1 – 10.0 ml/liter; Tahap-5: Floc kepadatan tinggi, > 10.1 mL/liter. Kepadatan flok
diukur menggunakan alat khusus yang disebut imhoff-cone.

2.5. Manajemen Kualitas Air


Kondisikan air berwarna cokelat, lakukan pergantian/sirkulasi air apabila terdapat
buih dan berlendir, apabila air mulai bau lakukan penambahan probiotik 5 ppm pada waktu
matahari terik (jam 8 pagi – jam 1 siang). Pengukuran suhu dilakukan pada pagi, siang dan
sore hari dengan menggunakan termometer Celcius. Lakukan pengukuran bahan-bahan
organik dalam air, yaitu : amoniak diukur menggunakan test-kit Ammonia Alert, Seachem
Laboratories Inc. Pengukuran nitrit dengan menggunakan Sera Nitrite (NO2) Test, produksi
Sera GmbH. Pengukuran nitrat dengan menggunakan Sera Nitrat (NO3) Test, produksi Sera
GmbH.

8
3. PENUTUP

3.1. Kesimpulan
- Bioflok merupakan agregat diatom, makroalga, pelet sisa, eksoskeleton organisme mati,
bakteri, protista dan invertebrata juga mengandung bakteri, fungi, protozoa dan lain-lain.

- Bahan-bahan organik itu merupakan pakan alami ikan dan udang yang mengandung nutrisi
baik, yang mampu disandingkan dengan pakan buatan.

- Proses ini dimulai dari proses nitrifikasi yang reaksinya adalah amonia dan oksigen menjadi
ion nitrit dan akhirnya menjadi nitrat dan air, pada reaksi ini terdapat campur tangan bakteri
oksidasi amonia dan bakteri oksidasi nitrit.

- Sel bakteri mensekresi lendir metabolit , biopolymer (polisakarida , peptida, dan lipid) atau
senyawa kombinasi dan terakumulasi di sekitar dinding sel serta detritus. Kesalingtertarikan
antar dinding sel bakteri menyebabkan munculnya flog bakteri.

- Membutuhkan probiotik pembentuk floc. Dengan menggunakan bakteri Bacillus sp,


Membutuhkan oksigen yang tinggi didalam kolam kisaran 4 ppm-6 ppm, membutuhkan
penambahan bahan baku stater yang mengandung karbon seperti molase, tepung tapioka,
tepung terigu, bekatul atau gula.

- Keuntungan menggunakan bioflok yaitu : pakan lebih efisien, pertumbuhan ikan lebih
seragam dan singkat sehingga masa panen lebih singkat.

9
DAFTAR PUSTAKA

Ombong, F., Salindeho, I. (2016). Aplikasi teknologi bioflok (BFT) pada kultur ikan nila, (Orechromis
niloticus). Jurnal Budidaya Perairan, 4, 16-25.

Bertani organik. (2017). [panduan lengkap] Cara Budidaya Lele Sistem Bioflok. http://www.bertani
organik .com/2017/08/21/panduan-lengkap-cara-budidaya-lele-sistem-bioflok-hasilnya-10-
kali-lipat-dari-budidaya-biasa/. Diakses : 24 April 2018.

Gema pertanian. (2016). Budidaya ikan nila dengan sistem bioflok. http://www.gemaperta.com
/2016/03/budidaya-ikan-nila-dengan-sistem-bioflok.html. Diakses : 24 April 2018.

Blog ternak. (2017). Budidaya ikan nila sistem bioflok. http://blogternak.com/budidaya-ikan-nila-


sistem-bioflok/. Diakses : 24 April 2018.

10