Anda di halaman 1dari 10

Satuan Acara Pembelajaran

Stres dan Koping pada Anak Remaja

A. Latar Belakang

Remaja dapat mencerminkan pemimpin masa depan suatu bangsa. Di


indonesia, angka remaja putus sekolah cukup tinggi. Menurut survei BKKBN
menunjukkan sebanyak 21,64% anak dengan rentang usia 7-15 tahun tidak sekolah.
Sedangkan di daerah Depok sebanyak 18,88% remaja tidak sekolah. Melihat hal
tersebut selain peran pemerintah untuk memikirkan pendidikan dimasyarakat, peran
swasta juga turut menawarkan pendidikan gratis yaitu sekolah Master.

Sekolah Master merupakan sekolah yang menawarkan anak usia sekolah yang
putus sekolah untuk tetap mengenyam pendidikan. Selain untuk anak jalanan, sekolah
Master juga merupakan jawaban untuk anak yang tidak memiliki kemampuan
finansial. Namun keanekaragaman dari latar belakang siswa yang bersekolah di
Master membuat meningkatnya angka kenakalan remaja. Angka kenakalan remaja ini
pun diakibatkan kurangnya kemampuan remaja dalam memanajemen stres dan
memilih koping yang adaptif.

Remaja membutuhkan edukasi yang akurat dan komprehensif mengenai


manajemen stres dan koping sesuai dengan masalah yang dihadapi. Dengan
menggunakan koping yang adaptif dapat menghindarkan remaja dari kenakalan
remaja. Oleh sebab itu kami sebagai tenaga kesehatan akan melakukan penyuluhan
mengenai manajemen stres dan koping adaptif yang ditujukan untuk siswa siswi SMP
Master guna menekan angka kenakalan remaja.

B. Diagnosa Keperawatan

Ketidakefektifan koping komunitas

C. Tujuan

 Tujuan umum :

Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, peserta memahami manajemen stres


dan koping yang efektif

 Tujuan khusus :

Setelah mengikuti pembelajaran kesehatan tentang stres dan koping, peserta


mampu:

a. Mengetahui perbedaan koping adaptif dan maladaptif


b. Mengetahui definisi dan macdefinisi stres

c. Memahami cara manajemen stres yang baik

d. Mampu mengambil keputusan dari kasus yang diberikan

D. Sasaran dan Target

Siswa kelas VIII SMP Master Depok

E. Materi

Terlampir

F. Waktu Pelaksanaan

Hari dan Tanggal : Kamis, 13 Oktober 2016

Waktu : pukul 10.00 s/d 10.45 WIB

Tempat : Ruang kelas 2 SMP Master Depok

G. Metode

FGD

H. Media

PPT

Poster

Video

Strategi Pelaksanaan

Tahap Kegiatan Respon Peserta Waktu

Orientasi 1. Moderator memberi salam 1. Menjawab salam 5 menit


(Pendahuluan) dan memperkenalkan diri dan
2. Memberitahukan tujuan memperhatikan
pembelajaran 2. Mendengarkan
3. Melakukan kontrak waktu 3. Menjawab dan
(selama 45 menit) memperhatikan
4. Memberikan pre-test 4. Membagi diri dan
5. Membagi peserta menjadi membuat
beberapa kelompok FGD lingkaran
dan membagi fasil untuk
masuk ke peserta FGD
Tahap Kerja 1. Fasil memberikan informasi 1. Menyapa dan 15 menit
pada FGD menjawab kabar
a. Menyapa dan 2. Menjawab
menanyakan kabar pertanyaan yang
peserta diberikan
b. Menanyakan konsep 3. Mendengar dan
yang dianut peserta memperhatikan
mengenai stres 4. Menanyakan hal
c. Membenarkan/ yang belum
menambahkan dimengerti
pengetahuan peserta
mengenai stres, gunakan
materi yang sudah di
buat.
d. Menanyakan konsep
peserta mengenai
koping
e. Menambahkan/
memberikan informasi
mengenai koping
adaptif dan maladaptif
f. Mengeksplorasi nilai
positif dan negatif
dalam diri peserta
g. Mendemostrasikan
kesalahan dan kebaikan
yang dilakukan dari
pagi ke phantom yang
dibawa.
h. Tanya jawab di FGD
2. Leader menyatukan peserta 2. Mengikuti arahan 15 menit
di tengah dan mengarahkan yang diberikan
peserta untuk games. 3. Ikut serta dalam
3. Memainkan games games yang
a. Games kekompakan : dilakukan
meminta peserta untuk 4. Minimal satu
memindahkan karet orang maju untuk
secara estafet. mempertunjukkan
b. Games kekompakan : nilai positif dalam
mengikat kaki peserta dirinya
dengan tali rapia dan 5. Menanyakan hal
meminta pesert berjalan yang belum jelas
4. Leader memposisikan
peserta kembali
5. Leader meminta peserta
untuk unjuk kebolehan /
aspek positif dari dirinya
6. Tanya jawab
Tahap 1. Menanyakan perasaan 1. Menjawab 10 menit
Terminasi setelah FGD dan bermain pertanyaan yang
games diberikan
2. Menanyakan makna games 2. Mengulang materi
yang sudah dilakukan yang sudah
3. Memberikan pertanyaan diberikan
mengenai materi yang 3. Menjawab salam\
sudah disampaikan 4. Mengikuti sesi
4. Memberikan post-test foto
kepada peserta
5. Menghimbau peserta untuk
menggunakan teknik dan
strategi koping yang efektif

6. Mengucapkan salam

7. Sesi foto bersama


I. Kriteria Evaluasi

1. Evaluasi struktur

a. Sudah terdapat SAP sebelum acara dilakukan

b. Materi dan media sudah disiapkan sebelum acara dilakukan

c. Pembagian tugas dibuat dengan baik

d. Sebelum dilakukan kegiatan, sudah dilakukan briefing

2. Evaluasi proses

a. Bahasa yang digunakan sederhana, jelas dan dapat di mengerti oleh remaja

b. Ruangan yang digunakan nyaman (suhu, pencahayaan dan kebisingan)

c. Memberikan reinforcement positif selama aktivitas dilakukan

3. Evaluasi hasil

a. Remaja mengikuti kegiatan hingga selesai


b. Remaja mampu mengulang materi yang telah diberikan
c. Remaja menunjukkan ketertarikan dan kepuasan dengan materi yang telah
diberikan
J. Struktur jobdesk
Pembimbing : Ns. Dwi Cahya Rahmadiyah, S. Kep., M.Kep., Sp.Kep.Kom.
Moderator / Leader : Siti Kholilah Alawiyah A.S
Fasilitator : Eka Tlaga Herawati
Hesti Munawaroh
Niken Ikawati
Novi Wida N
Ririn Nurmaliana
Siska Susdia
Zahra Umaiya Anggraeni
Zakiah Nailul I
Lampiran. Materi Penyuluhan

STRES

Menurut Rice (2002), stress adalah suatu kejadian atau stimulus lingkungan yang
menyebabkan individu merasa tegang. Sedangkan menurut McGrath dalam Weinberg dan
Gould (2003), stress adalah adanya ketidakseimbangan atau kegagalan individu dalam
memenuhi kebutuhannya baik yang bersifat jasmani maupun rohani. Namun, belum tentu
semua individu yang mengalami ketidakseimbangan antara harapan dan kenyataan tersebut
akan menjadikannya stress. Suatu stimulus yang sama akan direspons secara berlainan oleh
individu yang berbeda. Artinya, tidak semua stimulus akan direspons menjadi stress oleh
semua individu. Hal itu dikarenakan adanya perbedaan setiap individu dalam mensikapi
setiap situasi, kemampuan meredam stimulus, dan pengalaman hidupnya. Pada dasarnya
setiap individu memiliki ambang rangsang terhadap stress yang berbeda-beda dalam setiap
situasi. Suatu stimulus pada saat tertentu akan menimbulkan stress, tetapi pada situasi yang
berbeda tidak menimbulkan stress.

Penyebab stress dapat timbul yaitu, pertama oleh karakteristik bawaan yang
merupakan predisposisi keturunan dan keterbatasan pikologis individu. Kedua, dipengaruhi
oleh faktor lingkungan seperti kondisi dan situasi tempat tinggal serta pengalaman masa lalu
individu (Acevedo & Ekkekakis, 2006). Dengan demikian munculnya stress dapat
disebabkan oleh faktor dari dalam diri individu maupun faktor dari luar diri individu. Adanya
kesenjangan antara harapan dan kenyataan menimbulkan konflik dalam diri individu,
sehingga berdampak pada munculnya stress. Berikut ini beberapa hal yang dapat
menyebabkan muncul stress pada individu, antara lain: perasaan cemas mengenai hasil yang
dicapai, aktivitas yang tidak seimbang, tekanan dari diri sendiri, suatu kondisi ketidakpastian,
perasaan cemas, perasaan bersalah, jiwa yang dahaga secara emosional, dan kondisi sosial
ekonomi.

Menurut Kozier (2004) sesuai dengan tahap perkembangan remaja, sumber stress
pada remaja yaitu menerima perubahan fisik, mengembangkan hubungan yang melibatkan
ketertarikan seksual, mencapai kemandirian dan memilih karier. Indikator seseorang
mengalami stress dapat dibagi menjadi fisiologis, psikologis, dan kognitif. Respon stress pada
indikator psikologis yaitu ansietas, takut, marah, depresi, dan mekanisme pertahanan ego
yang tidak disadari. Sedangkan respon stress pada indikator kognitif mencakup:
1. Pemecahan masalah yaitu berpikir melalui situasi yang mengancam menggunakan
langkah spesifik untuk mencapai solusi

2. Penstrukturan yaitu perencanaan atau manipulasi situasi sehingga kejadian yang


mengancam tidak terjadi

3. Kontrol diri (disiplin diri) yaitu menunjukkan perilaku dan ekspresi wajah yang
menggambarkan rasa dapat mengontrol atau berwenang

4. Supresi yaitu menempatkan pikiran atau perasaan di luar ingatannya secara disadari
dan disengaja

5. Fantasia atau bermimpi sama dengan berkhayal, yaitu keinginan dan harapan yang
tidak terpenuhi dibayangkan terpenuhi, atau pengalaman yang mengancam dikerjakan
kembali atau dulang kembali sehingga akhirnya dapat berbeda dari kenyataan..

KOPING

Koping adalah mekanisme untuk mengatasi perubahan yang dihadapi atau beban yang
diterima tubuh dan beban tersebut menimbulkan respon tubuh yang sifatnya nonspesifik yaitu
stres. Apabila mekanisme koping ini berhasil, seseorang akan dapat beradaptasi terhadap
perubahan atau beban tersebut (Ahyar, 2010). Sedangkan koping adalah perubahan kognitif
dan perilaku secara konstan dalam upaya untuk mengatasi tuntutan internal dan atau eksternal
khusus yang melelahkan atau melebihi sumber individu. Berdasarkan definisi tersebut dapat
disimpulkan bahwa mekanisme koping merupakan cara yang digunakan oleh individu untuk
mengatasi perubahan dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan,
dan respon terhadap situasi yang mengancam yang dapat menimbulkan respon stres, baik
secara kognitif maupun perilaku.

Strategi koping :

1. Fokus pada emosi  bertujuan untuk membantu klien merasakan relaksasi dan dapat
mengurangi perasaan stresnya. Berikut merupakan cara-cara yang dapat dilakukan
perawat untuk membantu klien, meliputi: relaksasi, pernapasan dalam, memberikan
musik yang dapat membuat klien menjadi relaks, atau melakukan aktivitas yang
disukai klien. Contohnya yaitu, bila klien merasakan tegang, perawat dapat
memberikan teknik pernapasan dalam supaya klien dapat lebih rileks dari
sebelumnya.
Berikut adalah tindakan yang dilakukan individu dalam strategi koping fokus pada
emosi,yaitu:

a. Seeking social support for emotional reasons, pada tahap ini individu meminta
dukungan dari orang disekitarnya untuk memberikan dukungan oral, simpati,
atau pengertian dari orang lain.
b. Positive reinterpretation and growth, pada tahap ini individu menilai kembali
situasi yang menimbulkan stres secara lebih positif.
c. Denial, pada tahap ini individu menolak kehadiran sumber stres atau bertindak
seakan-akan sember stres tidak nyata.
d. Acceptance, pada tahap ini individu harus menerima atau menyesuaikan dirinya
dengan keadaan yang sebenarnya.
e. Turning to religion, pada tahap ini individu melakukan ibadah, karena agama
dapat memberikan ketenangan jiwa supaya individu berpikiran positif.
f. Focusing on and venting of emotion, pada tahap ini individu memusatkan diri
pada stres yang bersifat negatif, mengungkapkan perasaan dengan kekesalan,
dan memakai emosi.
g. Behavioral disengagement, pada tahap ini individu menyerah untuk mengatasi
sumber stres, karena cara-cara yang dilakukannya tidak sesuai dengan yang
diinginkan.
h. Mental disengagement, pada tahap ini individu melakukan kegiatan yang
membuat individu melupakan masalahnya, seperti tidur, berkhayal, menonton
televisi, atau mendengarkan lagu.
2. Fokus pada masalah  bertujuan untuk membantu klien agar dapat menyelesaikan
atau mengubah perilakunya dalam mengelola stressor. Teknik yang dapat dilakukan
perawat untuk membantu klien, seperti: membantu klien mempelajari metode
bagaimana menyelesaikan masalah, mengidentifikasi masalah, dan membantu klien
supaya klien tidak menyimpan masalahnya sendirian. Contohnya yaitu ada klien yang
tampak sedih karena dia mempunyai masalah yang berat untuk dirinya. Lalu perawat
harus membantu klien untuk mengidentifikasi masalahnya, lalu memberikan beberapa
metode untuk menyelesaikan masalah tersebut, seperti klien bisa menceritakan
masalahnya kepada orang yang dipercayai klien. Hal ini bertujuan agar klien tidak
menjadikan masalahnya menjadi beban dan klien bisa mendapatkan masukan atau
solusi dari orang terdekat klien.
Berikut adalah tindakan yang dilakukan individu dalam strategi koping focus pada
permasalahan, yaitu:

a. Active coping, pada tahapan ini individu memikirkan bagaimana cara untuk
menyelesaikan masalahnya, meminta masukan dari orang lain, dan mengevaluasi
strategi yang pernah dilakukan sebelumnya.
b. Planning, pada tahapan ini individu membuat strategi yang baik untuk
memecahkan masalah atau mengatasi stres.
c. Suppression of competing activities, pada tahapan ini individu mengesampingkan
tugas-tugas dan fokus pada permasalahannya atau sumber stres.
d. Restraint coping, pada tahapan ini individu berlatih untuk mengontrol dan
mengendalikan diri, sambil menunggu waktu yang tepat untuk melakukan
tindakan.
e. Seeking social support for instrumental reasons, pada tahap ini individu meminta
dukungan dari orang disekitarnya untuk memberikan nasehat, bantuan atau
informasi dari orang lain.
Berdasarkan penyesuaian diri terhadap lingkungan koping dibedakan menjadi dua,
yaitu:

1. Koping Adaptif
Koping adaptif merupakan metode koping yang mendukung fungsi integrasi pikiran,
pertumbuhan, proses belajar, dan pencapaian tujuan. Metode koping adaptif terdiri
dari berbicara dengan orang lain, memecahkan masalah secara efektif, teknik
relaksasi, latihan keseimbangan, dan aktivitas konstruktif yang melibatkan kerja otot.

2. Koping Maladaptif
Koping maladaptif merupakan metode koping yang dapat menghambat fungsi
integrasi pikiran, perlambatan pertumbuhan, menurunkan otonomi, dan cenderung
menguasai lingkungan. Metode koping maladaptif terdiri dari makan berlebihan atau
tidak makan sama sekali, bekerja secara berlebihan, dan menghindar dari kondisi
lingkungan yang dapat menimbulkan tekanan atau mengancam dirinya.
Referensi:

Acevedo, Edmund O; Ekkekakis, Panteleimon (ed.). (2006). Psychobiology of Physical


Activity.Champaign, Il.: Human Kinetics
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional RI. (2016). Pemutakhiran data
keluarga: jumlah usia anak sekolah yang sekolah dan tidak sekolah menurut jenis
kelamin berdasarkan tahapan. Retrieved from:
http://aplikasi.bkkbn.go.id/mdk/MDKReports/Kependudukan/Tabel57.aspx

Kozier, B., Erb, G., Berman, A.J., & Snyder. (2004). Fundamentals of Nursing: Concepts, Process,

and Practice. 7th Ed. New Jersey: Pearson Education, Inc..

Rice, F. P. (2002). “The adolescent:development, relationship, and culture”, (10th ed.), Allyn &

Bacon, A Pearson Education Company,MA

Weinberg, R.S., and Gould, D. (2003). Foundations of Sport and Exercise Psychology, 3rd
edition. Champaign, Il.: Human Kinetics.

Anda mungkin juga menyukai