Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan Negara yang strategis yang memiliki beragam
kekayaan sumber daya alam,ini di sebabkan karena Indonesia di apit oleh
beberapa lempeng besar yang mengakibatkan Indonesia memiliki beragam
kondisi geologi dan memunginkan untuk memiliki sumber daya energy.Salah
satu sumber daya energy yang potensial di inonesia adalah energy panas bumi.
Panas bumi merupakan energy yang terbarukan dan earth friendly.
Penentuan daerah sumber panas bumi biasanya dapat dilihat dari kenampakan
panas bumi di permukaan yaitu dengan adanya lumpur panas, tanah panas,
tanah beruap, kolam air panas dan kolam lumpur panas. Adanya aktivitas
gunung api banyak memberikan manfaat bagi manusia dimana salah satu
manfaat tersebut adalah adanya potensi geothermal.
Wilayah yang memiliki indikasi sumber panas bumi adalah kelurahan
Paniki, Kecamatan Mapanget, Kabupaten Minahasa Utara, Propinsi Sulawesi
Utara. Sumber panas bumi di wilayah ini dapat dilihat dari adanya sumber
mata air panas yang ditemui disekitar kelurahan Paniki Bawah. Identifikasi
panas bumi di wilayah ini sangat penting dilakukan untuk mengidentifikasi
sumber air panas di kelurahan Paniki dan sekitarnya yang belum
terpublikasikan dalam artian hanya masyarakat sekitar yang mengetahui akan
adanya sumber air panas tersebut.Salah satu metode geofisika yang dipakai
dalam pengukuran ini adalah metode geolistrik Tahanan Jenis Konfigurasi
Pole- Pole dan Konfigurasi Dipole-Dipole.
Metode geolistrik merupakan salah satu metode eksplorasi geofisika yang
dapat memberikan gambaran kondisi dan kedalaman batuan dengan mengukur
sifat kelistrikan batuan. Penelitian untuk mengetahu. Identifikasi sumber air

1
panas kelurahan Paniki, Kecamatan Mapanget, Kabupaten Minahasa Utara,
Provinsi Sulawesi Utara.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan Masalah , sebagai berikut :
1. Bagaimana proses pembentukan panas bumi?
2. Apa yang dimaksud dengan Metode Geolistrik Konfigurasi Dipole-
Dipole?
3. Bagaimana Hasil interpertasi pengukuran menggunakan Metode
Geolistrik Konfigurasi Dipole-Dipole di daerah penelitian?

1.3 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui proses pembentukan panas bumi.
2. Untuk mengetahui Metode Geolistrik Konfigurasi Dipole-Dipole.
4. Untuk mengetahui hasil interpertasi dari pengukuran menggunakan
Metode Geolistrik Konfigurasi Dipole-Dipole di daerah penelitian.

1.4 Manfaat
Manfaat penulisan makalah ini,sebagai berikut :
1. Dapat mengenal proses pembentukan panas bumi.
2. Dapat mengenal Metode Geolistrik Konfigurasi Dipole-Dipole.
3. Dapat mengetahui hasil interpertasi dari pengukuran menggunakan
Metode Geolistrik Konfigurasi Dipole-Dipole di daerah penelitian.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Panas Bumi

Pembentukan sumber panas bumi berasal dari dapur magma yang berada
di bawah permukaan bumi. Panas yang berasal dari magma ini akan mengalir ke
batuan di sekitarnya melalui proses konduksi maupun konveksi dengan bantuan
air. Ketika air sampai ke sumber panas (heat source) maka temperatur yang di
terima oleh air tinggi. Jika Temperature terus meningkat maka akan
mengakibatkan bertambahnya volume dan juga tekanan. Ketika tekanan di
permukaan lebih rendah dari pada tekanan di bawah permukaan maka fluida akan
bergerak ke atas. Ketika terdapat celah untuk sebagian fluida ke permukaan, maka
fluida tersebut akan keluar sebagai manifestasi di permukaan. Adanya manifestasi
permukaan ini dapat menjadi petunjuk adanya panas bumi di bawah permukaan di
sekitar lokasi tersebut.

Komponen sistem panasbumi yang lengkap terdiri dari tiga komponen utama,
yaitu adanya batua reservoar yang permeable, adanya air yang membawa panas,
dan sumber panas itu sendiri. Komponen-komponen tersebut saling berkaitan dan
membentuk sistem yang mampu mengantarkan energi panas dari bawah
permukaan hingga ke permukaan bumi. Sistem ini bekerja dengan mekanisme
konduksi dan konveksi (Hochstein & Brown, 2000).

 Sumber panas

Sumber panas dari suatu sistem hidrotermal umumnya berupa


tubuh intrusi magma. Namun ada juga sumber panas hidrotermal yang
bukan berasal dari batuan beku. Panas dapat dihasilkan dari peristiwa
uplift basement rock yang masih panas, atau bisa juga berasal dari
sirkulasi air tanah dalam yang mengalami pemanasan akibat adanya
perlipatan atau patahan. Perbedaan sumber panas ini akan berimplikasi

3
pada perbedaan suhu reservoar panasbumi secara umum, juga akan
berimplikasi padaperbedaan sistem panasbumi

 Batuan reservoir

Batuan reservoar adalah batuan yang dapat menyimpan dan


meloloskan air dalam jumlah yang signifikan karena memiliki porositas
dan permeabilitas yang cukup baik. Keduanya sangat berpengaruh
terhadap kecepatan sirkulasi fluida.Batuan reservoar juga sangat
berpengaruh terhadap komposisi kimia dari fluida hidrotermal. Sebab
fluida hidrotermal akan mengalami reaksi dengan batuan reservoir yang
akan mengubah kimiawi dari fluida tersebut. Nicholson (1993)
menjelaskan bahwa batuan vulkanik, sedimen klastik, dan batuan karbonat
umumnya akan menghasilkan fluida hidrotermal dengan karakter kimia
yang dapat dibedakan satu dengan yang lainnya.

 Fluida
Nicholson (1993) menyebutkan ada 4 (empat) macam asal fluida
fluida panasbumi, yaitu: (1) air meteorik atau air permukaan, yaitu air
yang berasal dari presipitasi atmosferik atau hujan, yang mengalami
sirkulasi dalam hingga beberapa kilometer. (2) Air formasi atau connate
water yang merupakan air meteorik yang terperangkap dalam formasi
batuan sedimen dalam kurun waktu yang lama. Air connate mengalami
interaksi yang intensif dengan batuan yang menyebabkan air ini menjadi
lebih saline. (3) Air metamorfik yang berasal dari modifikasi khusus dari
air connate yang berasal dari rekristalisasi mineral hydrous menjadi
mineral yang kurang hydrous selama proses metamorfisme batuan. (4) Air
magmatik, Ellis & Mahon (1977)membagi fluida magmatik menjadi dua
jenis, yaitu air magmatik yang berasal dari magma namun pernah menjadi
bagian dari air meteorik dan air juvenile yang belum pernah menjadi
bagian dari meteorik.

4
Gambar 2.1 Model Konsepsual Sistem Panas Bumi

(Anonim,2012)

2.2 Metode Geolistrik

Geolistrik adalah suatu metode geofisika yang mempelajari sifat aliran


listrik dalam bumi dan bagaimana mendeteksinya dipermukaan bumi. Dalam hal
in meliputi pengukuran potensial, arus, dan medan elektromagnetik yang terjadi,
baik secara alamiah maupun akibat injeksi arus kedalam bumi. Oleh karena itu
metode geolistrik mempunyai banyak macam, termasuk didalamnya potensial
diri, induksi polarisasi, dan resistivitas (tahanan jenis).

Metode-metode tersebut memiliki kegunaaan dan penerapan yang


berbeda-beda. Metode resistivitas dapat digunakan untuk mengetahui nilai
tahanan jenis dibawah permukaan sehingga metode ini cukup banyak digunakan
dalam dunia eksplorasi khususnya eksplorasi air tanah dan batubara. Untuk
metoda induksi polarisasi (IP) sering digunakan dalam melakukan eksplorasi

5
logam, sedangkanmetode potensial diri (SP) umumnya digunakan untuk
mengetahui penyebaran zona mineralisasi secara lateral.

Tujuan dari survei Geolistrik adalah untuk menentukan distribusi


resistivitas bawah permukaan dengan melakukan pengukuran di permukaan tanah.
Dari pengukuran tersebut, resistivitas sebenarnya di bawah permukaan bumi dapat
diperkirakan. Resistivitas tanah berkaitan dengan berbagai parameter geologi
seperti mineral dan konten fluida, porositas dan derajat kejenuhan air di batuan.
Survei resistivitas listrik telah digunakan selama beberapa dekade di
hidrogeological, pertambangan, dan investigasi geothecnical. Baru-baru ini, telah
digunakan untuk survey lingkungan.

Secara garis besar metode geolistrik dibagi menjadi dua macam, yaitu :

1. Geolistrik yang bersifat pasif


Geolistrik dimana energi yang dibutuhkan telah ada terlebih dahulu
secara alamiah sehingga tidak diperlukan adanya injeksi/pemasukan
arus terlebih dahulu. Geolistrik jenis ini disebut Self Potential (SP).
Pengukuran SP dilakukan pada lintasan tertentu dengan tujuan untuk
mengukur beda potensial antara dua titik yang berbeda sebagai V1 dan
V2. Cara pengukurannya dengan menggunakan dua buah porouspot
dimana tahanannya selalu diusahakan sekecil mungkin. Kesalahan
dalam pengukuran SP biasanya terjadi karena adanya aliran fluida
dibawah permukaan yang mengakibatkan lompatan-lompatan tiba-tiba
terhadap terhadap nilai beda potensial. Oleh karena itu metode ini
sangat baik untuk eksplorasi geothermal.
2. Geolistrik yang bersifat aktif
Geolistrik dimana energi yang dibutuhkan ada, akibat
penginjeksian arus ke dalam bumi terlebih dahulu oleh elektroda arus.
Geolistrik jenis ini ada dua metode,yaitu metode Resistivitas
(Resistivity) dan Polarisasi Terimbas (Induce Polarization).Yang akan

6
dibahas lebih lanjut adalah geolistrik yang bersifat aktif. Metode yang
diuraikan ini dikenal dengan nama geolistrik tahanan jenis atau disebut
dengan metode Resistivitas (Resistivity). Tiap-tiap media mempunyai
respon sifat yang berbeda terhadap aliran listrik yang melaluinya, hal
ini tergantung pada tahanan jenis yang dimiliki oleh masingmasing
media. Pada metode ini, arus listrik diinjeksikan ke dalam bumi
melalui dua buah elektroda arus dan beda potensial yang terjadi diukur
melalui dua buah elektroda potensial. Dari hasil pengukuran arus dan
beda potensial untuk setiap jarak elektroda berbeda kemudian dapat
diturunkan variasi harga hambatan jenis masingmasing lapisan bawah
permukaan bumi, dibawah titik ukur (Sounding Point).

Metode ini lebih efektif bila dipakai untuk eksplorasi yang sifatnya
relative dangkal. Metode ini jarang memberikan informasi lapisan
kedalaman yang lebih dari 1000 atau 1500 feet. Oleh karena itu
metode ini jarang digunakan untuk eksplorasi hidrokarbon, tetapi lebih
banyak digunakan untuk bidang engineering geology seperti penentuan
kedalaman batuan dasar, pencarian reservoar air, eksplorasi
geothermal, dan juga untuk geofisika lingkungan.

Jadi metode resistivitas ini mempelajari tentang perbedaan


resistivitas batuan dengan cara menentukan perubahan resistivitas
terhadap kedalaman. Setiap medium pada dasarnya memiliki sifat
kelistrikan yang dipengaruhi oleh batuan penyusun/komposisi mineral,
homogenitas batuan, kandungan mineral, kandungan air,
permeabilitas, tekstur, suhu, dan umur geologi. Beberapa sifat
kelistrikan ini adalah potensial listrik dan resistivitas listrik.

Berdasarkan tujuan penyelidikannya, metode geolistrik tahanan jenis dapat


dibagi menjadi:

7
1. Metode resistivity sounding adalah metode resistivitas yang bertujuan
untuk mengetahui variasi resistivitas lapisan bawah permukaan secara
verttikal

2. Metode resistivity mapping adalah metode resistivitas yang bertujuan


untuk mengetahui variasi resistivias

2.3 Sifat Kelistrikan Batuan dan Mineral

Sifat Kelistrikan Batuan dan Mineral Aliran arus listrik di dalam


batuan dan mineral dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu
konduksi secara elektronik, konduksi secara elektrolitik, dan konduksi
secara dielektrik (Telford and Sheriff.,1982).

Konduksi Secara Elektronik


Konduksi ini adalah tipe normal dari aliran arus listrik dalam batuan
atau mineral. Konduksi elektronik merupakan aliran elektron bebas
yang terdapat pada batuan atau mineral. Karena pada batuan atau
mineral ini terdapat banyak elektron bebas di dalamnya. Sehingga,
arus listrik dialirkan dalam batuan atau mineral oleh elektron bebas.

Konduksi Secara Elektrolitik


Konduksi jenis ini banyak terjadi pada batuan atau mineral yang
bersifat porus dan pada pori-pori tersebut terisi oleh larutan elektrolit.
Dalam hal ini arus listrik mengalir akibat dibawa oleh ion-ion larutan
elektrolit. Konduksi dengan cara ini lebih lambat dari pada konduksi
elektronik. Konduktivitas danresistivitas batuan porus bergantung pada
volum dan susunan pori-porinya. Konduktivitas akan semakin besar
jika kandungan air dalam batuan bertambah banyak dan sebaliknya

8
resistivitas akan semakin besar jika kandungan air dalam batuan
berkurang.

Konduksi Secara Dielektrik


Konduksi ini terjadi pada batuan yang bersifat dielektrik artinya batuan
tersebut mempunyai elektron sedikit bahkan tidak ada sama sekali.
Tetapi karena adanya pengaruh medan listrik dari luar, maka elektron-
elektron dalam atom batuan dipaksa berpindah dan berkumpul terpisah
dengan intinya, sehingga terjadi polarisasi.

(Marcela Koyong,2017)

2.4 Teori Dasar Metode Geolistrik


Hukum yang mendasari metode geolistrik adalah Hukum OHM dimana:
 Untuk arus listrik sederhana (sejajar) Arus listrik I yang melalui suatu
bahan berbentuk silinder (gambar 2.2 akan berbanding langsung dengan
luas penampang A, berbanding langsung dengan beda potensial antara
ujung-ujungnya  V, dan berbanding terbalik dengan panjangnya L.

Gambar 2.2 Arus listrik merata dan sejajar dalam sebuah silinder oleh
beda potensial antara kedua ujungnya

 AV
I (2.1)
L
V  V1  V 2 (2.2)

9
Dengan demikian dapat ditulis relasi, I   AV dengan 
L
adalah daya hantar jenis bahan yang bersangkutan. Kalau yang
dipergunakan bukan daya hantar jenis, tetapi tahanan jenis bahan  ,
maka rumus diatas menjadi :
I  AV  L (2.3)

 1  (2.4)

 Untuk arus listrik menyebar (simetri bola)


Arus listrik yang menembus permukaan bola berongga yang luasnya A,
tebalnya dr dan beda potensial dV antara bagian luar dan dalam adalah:
A dV
I  (2.5)
 dr

Karena luas permukaan bola A  4 r , maka relasi itu menjadi:


2

4 r 2 dV
I  (2.6)
 dr
Tanda negatif menunjukkan bahwa arus mengalir dari tempat berpotensial
tinggi ke rendah.

 Potensial oleh elektroda arus tunggal di permukaan medium setengah


tak berhingga.

Gambar 2.3 Pola arus listrik yang dipancarkan oleh elektroda arus tunggal
di permukaan medium setengah tak berhingga

10
Karena luas setengah bola A  4 r , maka arus I menjadi:
2

2 dV  Idr
I  r2 atau dV  (2.7)
 dr 2 r 2
Sehingga
r
I I
V   dV    d  (2.8)
0
2 2
2 r

 Potensial oleh elektroda arus ganda di permukaan medium setengah tak


berhingga.

Gambar 2.4 Arus listrik dilewatkan pada elektroda arus A dan B.


Elektroda M dan N adalah elektroda potensial (beda potensialnya akan
diukur/ditentukan)

Karena potensial adalah besaran skalar, maka potensial disebarang


titik oleh elektroda arus ganda akan merupakan jumlahan potensial oleh 2
elektroda arus tunggal.Oleh karena itu, dengan menggunakan persamaan
(2.8), potensial di titik M oleh arus yang melewati elektroda A dan B
(Gambar 2.4) adalah:

I  1 1 
VM    
2  r1 r2 
(2.9)
Tanda negatif pada persamaan (2.9) disebabkan oleh arus yang
harus berlawanan pada elektroda arus ganda. Potensial di titik N adalah:

I  1 1 
VN     (2.10)
2  r3 r4 
Dengan demikian beda potensial antara titik M dan N adalah:

11
I 
 1 1   1 1   
V  VM  VN          (2.11)
2 
 r1 r2   r3 r4  

Untuk konfigurasi Wenner, r1 = r4 = a dan r2 = r3 = 2a, maka persamaan
(2.11) menjadi:
I   1 1   1 1   I 
V  VM  VN           (2.12)
2  a 2a   2a a   2 a
sehingga:
 V 
  2 a  
 I 
(2.13)

Untuk konfigurasi Schlumberger, r1= s-b,r2=s+b, r3 = s+b, dan r4 = s-


b,persamaan (2.11) menjadi:

I   1 1   1 1   I  4b
V  VM  VN       
2  s  b s  b   s  b s  b   2 s 2  b 2
(2.14)

Bila b << a (eksentrisitasnya kecil), maka persamaan (2.14) dapat


dituliskan sebagai:

2I  b
V  (2.15)
 s2

Sehingga

 s 2  V 
   (2.16)
2b  I 

Persamaan (2.13) dan (2.14) memberikan hubungan antara 

dengan ( V I ). Faktor yang menghubungkan antara keduanya


mempunyai harga yang hanya tergantung dari konfigurasi atau geometri
dari elektroda-elektroda arus dan tegangan. Oleh karena itu faktor tersebut
disebut faktor geometri.

12
2.5 Konfigurasi Elektroda dan Faktor Geometri
Konfigurasi elektroda yang banyak dipakai dapat dilihat pada gambar 2.5 .

Gambar 2.5 Konfigurasi Elektroda dalam Geolistrik

13
Faktor geometri masing masing konfigurasi,Sebagai berikut:
a. Konfigurasi Wenner : K =2  a
  s 2  b2 
b. Konfigurasi Schlumberger : K  , Atau
2b
 s2
K (bila s << b)
2b
c. Konfigurasi dipole-dipole : K  n(n  1)(n  2) a
d. Konfigurasi pole-dipole : K  2n(n  1) a
e. Konfigurasi pole-pole : K =2  a
(Rubaiyn,2010)

14
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Metode Geolistrik Konfigurasi Dipole-Dipole


Wilayah yang memiliki indikasi sumber panas bumi adalah kelurahan
Paniki, Kecamatan Mapanget, Kabupaten Minahasa Utara, Propinsi Sulawesi
Utara. Sumber panas bumi di wilayah ini dapat dilihat dari adanya sumber
mata air panas yang ditemui disekitar kelurahan Paniki Bawah. Identifikasi
panas bumi di wilayah ini sangat penting dilakukan untuk mengidentifikasi
sumber air panas di kelurahan Paniki dan sekitarnya yang belum
terpublikasikan dalam artian hanya masyarakat sekitar yang mengetahui akan
adanya sumber air panas tersebut. Data yang akan didapat akan diolah
menggunakan software surfer 8.0, dan software RES2DIVN, software ini
sangat membantu untuk mengintrepetasikan keberadan sumber panas bumi
pada setiap titik sounding. Salah satu metode geofisika yang dipakai dalam
pengukuran ini adalah metode geolistrik Tahanan Jenis Konfigurasi Pole- Pole
dan Konfigurasi Dipole-Dipole.

3.2 Alat dan Metode Penelitian


Penelitian telah dilaksanakan dengan proses pengamatan dan pengukuran
secara langsung di Daerah Paniki Bawah, Minahasa Utara. Pengambilan data
dilakukan pada tanggal 8-10 April 2017.

15
Gambar 3.1 Gambar Daerah Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Alat geolistrik


resistivitymeter: Multi-Channel and Multi-Electrode Resistivity and IP Meter
MAE X612-EM, Global Postioning System: Garmin, Laptop, Software
RES2DINV, Software Notepad, Refractometer dan bahan yang digunakan adalah
peta Google Earth.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode geolistrik
resistivitas konfigurasi Dipole-Dipole dan Pole-Pole yang dilakukan di Kelurahan
Paniki Bawah Kecamatan Mapanget. Jalur lintasan pada lokasi penelitian setelah
di lakukan pembentangan kabel dilapangan dapat dilihat seperti pada Gambar 1.1.
pada titik koordinat 124 o 55’07.40-124o55’04.97 BU dan 1o32’12.48-
1o32’06.81 LU. Bentangan kabel untuk lintasan 1,2 dan 3 adalah 480 meter,
dengan jarak untuk lintasan 1 antar elektroda adalah sebesar 10 meter sedangkan
untuk lintasan 2 dan 3 jarak antar elektroda adalah sebesar 5 meter, sehingga total
keseluruhan elektroda adalah 48 buah untuk satu lintasan. Pengambilan data
dilakukan dengan membentangkan kabel sepanjang 480 meter (untuk lintasan 1-3)
dimana proses pembentangan kabel dimulai dari titik dimana alat geolistrik

16
diletakkan. Alat yang digunakan adalah seperangkat Multichannel and
multielectrode resistivity Ip meter MAE X612-EM dengan menggunakan
konfigurasi Dipole-Dipole.

3.3 Hasil Penelitian

1. Lintasan 1

Gambar 3.2 Analisis Data Lintasan 1

Lintasan 1 menunjukkan hasil inversi Konfigurasi Dipole-Dipole


pada lintasan 1 memperoleh data sebanyak 609 data, terlihat nilai elevasi
sampai 100 meter. lintasan ini juga menunjukkan nilai resistivitas antara
0.2 sampai 3.60 Ωm yang di tandai dengan warna biru muda hingga biru
tua yang di duga sebagai sebaran air panas pada penampang 2D karena
memiliki harga tahanan jenis yang kecil.

17
2. Lintasan 2

Gambar 3.3 Analisis Data Lintasan 2

Pengukuran resistivitas pada lintasan ini dengan menggunakan


konfigurasi dipole-dipole di peroleh data sebanyak 609 data, panjang
lintasan 240 meter dengan spasi elektroda 5 meter. Hasil pengolahan
resistivitas menggunakan perangkat lunak Res2dinv pada lintasan 2
diperlihatkan pada Gambar 4.14. hasil pencitraan resistivitas dengan nilai
elevasi 80 meter, lintasan ini memperlihatkan adanya perubahan kontur
warna lapisan yang berbeda dari batuan penyusun lapisan yang ada pada
lintasan 1, pada lintasan 2 terlihat adanya harga tahanan jenis yang kecil
diduga sebagai lapisan sebaran air panas yang di tandai dengan warna biru
dan biru tua pada titik elektroda 5 dan 6 dengan nilai elevassi dari 70
sampai 75 meter, pada titik elektroda 7 sampai 17 dengan elevasi 55-70
meter, titik eletroda 17-24 m dengan elevasi 35 – 70 meter, titik elektroda
35, 37 sampai 38 , dan titik elektroda 43 dengan elevasi yang sama yaitu
antara 65-70 meter.
lintasan ini juga terlihat adanya nilai resistivitas yang tinggi
ditandai dengan warna kuning, merah sampai warna keunguan
diindikasikan sebagai batuan penghantar panas. lintasan pengukuran antara
titik elektroda 45 dan elektroda 46 terdapat sumur air panas yang di pakai

18
warga setempat untuk kebutuhan sehari-hari dan sumur air panas ini
terdapat di permukaan tanah dengan suhu air panas 35 C

3. Lintasan 3

Gambar 3.4 Analisis Data Lintasan 3

Lintasan 3 Menunjukkan hasil inversi pada konfigurasi Dipole-Dipole


menunjukkan ciri-ciri adanya lapisan air panas, hal ini di tandai oleh zona-
zona lemah yang memiliki harga resistivitas yang relatif kecil di tunjukkan
dengan warna biru muda dan biru tua. Potensi air yang banyak terdapat
pada titik elektroda 22 sampai elektroda 29 dengan nilai elevasi antara 40-
75 meter. Lintasan ini juga menunjukkan ciri-ciri lapisan batuan yang
keras dengan nilai resistivitas yang besar ditandai dengan warna kuning
hingga merah keunguan yang nilai elevasinya antara 45-75 meter.

19
BAB IV
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Identifikasi sumber air panas di Paniki Bawah Kecamatan


Mapanget dengan menggunakan konfigurasi Dipole-Dipole dan Pole-Pole
di sekitar Perumahan Gritma menunjukkan nilai resistivitas yang rendah
atau <10 Ωm di perkirakan sebagai lapisan pembawa air panas pada
masing-masing lintasan(lintasan 1,2,3,4 dan 5), adapun zona-zona yang
kuat pada setiap lintasan yang harga resistivitasnya tinggi atau >100 Ωm
yang diperkirakan sebagai batuan penghantar panas. akan tetapi hal ini
masih berupa dugaan karena penelitian ini merupakan penelitian awal
untuk itu perlu penelitian lanjutan.

3.2 Saran

Saran kami agar makalah ini dapat diberikan saran yang membangun
untuk lebih menyempurnakan makalah ini dan menambah informasi
mengenai geologi tempat penelitiannya karena pada jurnal hanya terdapat
metode tanpa ada tinjauan geologisnya.

20