Anda di halaman 1dari 109

1

Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta


Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan merupakan hal yang penting dalam kehidupan setiap manusia,

karena kesehatan berhubungan dengan semua segi kehidupan manusia baik

fisik, mental maupun spiritual. Menurut World Health Organization, kesehatan

didefinisikan sebagai suatu keadaan sehat jasmani, rohani, dan sosial yang

merupakan aspek positif dan tidak hanya terbebas dari penyakit serta kecacatan

(aspek negatif). Kesehatan merupakan hak asasi manusia yang setiap orang

berhak untuk mendapatkannya, baik dalam kesehatan pribadi maupun keluarga

termasuk di dalamnya mendapatkan pelayanan kesehatan. Sebagaimana hal ini

juga tercantum dalam Undang–Undang No.36 tahun 2009 tentang kesehatan

dan penyelenggaraan upaya kesehatan yang memiliki tujuan untuk

mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat.

Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan

yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan untuk

memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk

pencegahan penyakit (preventif), peningkatan kesehatan (promotif), pengobatan

penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) oleh pemerintah

dan/atau masyarakat. Pemerintah bertanggung jawab merencanakan, mengatur,

menyelenggarakan, membina, dan mengawasi penyelenggaraan upaya

kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat melalui fasilitas

pelayanan kesehatan.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
2
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Fasilitas pelayanan kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang

digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan yang

dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat. Peran

pemerintah dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat

melalui penyediaan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan yaitu rumah

sakit, balai pengobatan, puskesmas, dan apotek yang dilengkapi sumber daya

yang berkompeten dibidangnya berdasarkan kode etik, ilmu pengetahuan dan

hukum sehingga dapat dicapai pelayanan kesehatan yang terbaik. Rumah sakit

merupakan institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan

kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat

inap, rawat jalan, dan gawat darurat (PMK RI NO.58 Tahun 2014 Tentang

Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit). Selain itu peran rumah sakit

sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1197/MenKes/SK/X/2004

bahwa rumah sakit adalah rujukan pelayanan kesehatan dengan fungsi utama

menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan dan pemulihan

bagi pasien. Rumah sakit juga merupakan sarana yang menyelenggarakan

kegiatan pelayanan kesehatan yang berfungsi sebagai tempat pendidikan tenaga

kesehatan dan penelitian. Agar peranan rumah sakit dapat tercapai dibutuhkan

mutu pelayanan dan tenaga kesehatan. Mutu yang baik dan tenaga kesehatan

yang handal merupakan modal utama rumah sakit untuk memberikan

pelayanan kesehatan yang optimal. Tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan

yang sangat diperhitungkan keberadaannya di rumah sakit salah satunya adalah

tenaga farmasis dan pelayanan kefarmasian.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
3
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI No.58 tahun 2014

tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit, mendefinisikan

bahwa pelayanan farmasi di rumah sakit merupakan bagian terpenting yang tak

terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang berorientasi

kepada pasien, sebagai penyedia obat yang bermutu, termasuk pelayanan

farmasi klinik yang menjangkau semua lapisan masyarakat. Terlebih lagi saat

ini, telah terjadi pergeseran paradigma terhadap orientasi mutu pelayanan

farmasi dari drug oriented (orientasi hanya pada produk) ke patient oriented

(orientasi kepada pasien) dengan berpatokan pada Pelayanan Kefarmasian

(Pharmaceutical Care) atau diterjemahkan sebagai ”Asuhan Kefarmasian”.

Bagian rumah sakit yang menjalankan Pelayanan Kefarmasian

(Pharmaceutical Care) adalah Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) dengan

Apoteker sebagai penanggung jawabnya. Salah satu Pelayanan Kefarmasian

(Pharmaceutical Care) yang dilakukan oleh apoteker di rumah sakit adalah

praktek pelayanan kefarmasian. Praktek pelayanan kefarmasian merupakan

kegiatan terpadu yang menurut Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009

menyatakan bahwa pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk

pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan,

dan pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat

atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan

obat, dan obat tradisional. Tujuan dari praktek pelayanan kefarmasian yaitu

untuk mengidentifikasi, mencegah dan menyelesaikan masalah obat dan

masalah yang beruhubungan dengan kesehatan pasien.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
4
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Apoteker bertanggung jawab terhadap pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat

Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai di Rumah Sakit yang menjamin

seluruh rangkaian kegiatan perbekalan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan

Bahan Medis Habis Pakai sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta

memastikan kualitas, manfaat, dan keamanannya. Apoteker melakukan

pengelolaan dan penggunaan obat secara rasional di rumah sakit melalui siklus

10 kegiatan yang meliputi : pemilihan, perencanaan, pengadaan, penyimpanan,

penyaluran obat, penggunaan obat, pemberian obat dan informasi, pemantauan

rasionalitas obat, pemantauan efektifitas obat dan pemantauan keamanan obat.

Berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai semua

komponen kesehatan, perkembangan konsep Pelayanan Kefarmasian, dan

implementasi perubahan paradigma patient oriented (orientasi kepada pasien)

maka tuntutan peran profesi apoteker menjadi semakin besar di bidang

pelayanan kesehatan terutama di rumah sakit. Untuk itu kompetensi apoteker

diharapkan mampu memenuhi tuntutan tersebut. Kompetensi seorang apoteker

tidak hanya terhadap penguasaan ilmu kefarmasiannya tetapi juga harus

mampu memahami fungsi dan perannya di rumah sakit, mampu berinteraksi,

berkomunikasi dan bekerja sama dengan baik dengan tenaga kesehatan lainnya,

serta menjaga profesionalisme dalam melaksanakan pengabdian

keprofesiannya.

Hal tersebut diatas dapat menjadi peluang sekaligus tantangan bagi

apoteker dalam meningkatkan kompetensinya sehingga dapat memberikan

Pelayanan Kefarmasian secara komprehensif dan simultan baik yang bersifat

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
5
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

manajerial maupun farmasi klinik. Oleh karena itu, pentingnya peran apoteker,

pengetahuan dan pengalaman tentang kondisi kerja nyata yang terjadi di rumah

sakit menjadi alasan bagi institusi pendidikan terutama program profesi

apoteker melaksanakan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Rumah

Sakit bagi calon apoteker sebagai bekal pendidikan dan pengalaman untuk

menciptakan tenaga apoteker yang handal dan mampu menjalankan

kefarmasian yang profesional yang berorientasi kepada kepentingan

masyarakat sebagai konsumen dan pasien yang membutuhkan informasi obat

yang tepat.

Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Rumah Sakit bagi calon

apoteker dilaksanakan tidak hanya di bidang manajerial tetapi juga di bidang

fungsional secara profesional. Calon apoteker dalam pelaksanakan PKPA

diharapkan dapat menerapkan teori yang pernah diperoleh selama pendidikan

formal untuk diimplementasikan di dalam dunia kerja dengan terlibat langsung

kedalam praktek kefarmasian di rumah sakit beserta para apotekernya. Setiap

calon Apoteker juga diharapkan benar-benar memahami ilmu yang

diaplikasikan sebagai salah satu tenaga kesehatan di Rumah Sakit.


Universitas Setia Budi Surakarta sebagai institusi pendidikan dalam hal

ini untuk menunjang program studi profesi apoteker tiap tahunnya

melaksanakan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) bagi mahasiswanya.

Mahasiswa calon apoteker Universitas Setia Budi Surakarta gelombang kedua

melaksanakan tugas keprofesiannya periode April - Mei 2016 di Rumah Sakit

Umum Kabupaten Tangerang dibawah bimbingan langsung apoteker yang

berpengalaman.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
6
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

B. Tujuan Praktek Kerja Profesi Apoteker

1. Tujuan Umum:
a. Mendapatkan pengetahuan dan keterampilan serta pengalaman dalam

memahami fungsi, peran dan tanggung jawab seorang apoteker di rumah

sakit baik manajerial ataupun fungsional.


b. Memberi kesempatan kepada calon apoteker untuk melihat dan

mempelajari strategi dan kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam

rangka pengembangan praktek Pharmaceutical Care dalam pelayanan

kepada pasien khususnya di rumah sakit.


c. Membandingkan antara teori yang diperoleh di perkuliahan dengan

praktek kefarmasian di rumah sakit tempat pelaksanaan PKPA.


d. Memberikan pengalaman kepada calon apoteker mengenai gambaran

kegiatan kefarmasian dan peran apoteker di rumah sakit.


e. Membekali calon apoteker untuk mempersiapkan diri dalam memasuki

dunia kerja sebagai tenaga farmasi yang profesional.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
7
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

2. Tujuan Khusus :
Menghasilkan apoteker yang profesional dibidang dan tempat

kerjanya masing-masing, berjiwa pancasila, berdedikasi, jujur, dapat

dipercaya, memegang teguh peraturan perundang-undangan yang berlaku

dan kode etik profesi, kreatif, inovatif, berwawasan penderita (patient

oriented), mampu sebagai sumber informasi mengenai obat dan mempunyai

tekad untuk selalu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi,

meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan kemandirian profesi serta citra

profesi apoteker.

C. Manfaat Praktek Kerja Profesi Apoteker

Manfaat kegiatan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) diharapkan

mahasiswa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan

kegiatan kefarmasian di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang yang

dilakukan secara utuh dan terpadu, memahami bagaimana peranan farmasi

yang sebenarnya di suatu Rumah Sakit serta meningkatkan keterampilan para

calon Apoteker dalam bidang managerial, teknis profesional (farmasi klinik

maupun sistem informasi) dan kemampuan berkomunikasi, baik dengan tenaga

kesehatan maupun dengan masyarakat.

BAB II

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
8
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Rumah Sakit


Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009

tentang rumah sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang

menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang

menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.

Rumah sakit juga merupakan tempat menyelenggarakan upaya kesehatan

yaitu setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta

bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat.

Upaya kesehatan dilakukan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan

kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit

(kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara serasi dan

terpadu serta berkesinambungan (Siregar 2004).

B. Tugas dan Fungsi Rumah Sakit


Rumah sakit dalam melaksanakan tugasnya mempunyai berbagai fungsi

diantaranya adalah menyediakan dan menyelenggarakan pelayanan medik,

pelayanan penunjang medik, pelayanan dan asuhan keperawatan, pelayanan

rujukan, pelayanan rehabilitatif serta pencegahan penyakit dan peningkatan

kesehatan. Selain itu Rumah sakit berfungsi sebagai tempat pelatihan,

pendidikan, penelitian, pengembangan lmu dan teknolgi di bidang kesehatan

dan administrasi umum dan keuangan (Siregar dan Amalia, 2004).

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
9
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

tentang Rumah Sakit, Rumah Sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan

kesehatan perorangan secara paripurna. Pelayanan kesehatan paripurna adalah

pelayanan kesehatan yang meliputi promotif, preventif, kuratif, dan

rehabilitatif. Untuk menjalankan tugas tersebut, maka Rumah Sakit mempunyai

fungsi:

1. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai

standar pelayanan rumah sakit;

2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan

kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis;

3. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam

rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan; dan

4. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi

bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan

memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.

Menurut WHO (World Health Organization), rumah sakit adalah bagian

integral dari suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan fungsi menyediakan

pelayanan paripurna (Komprehensif), penyembuhan penyakit (Kuratif) dan

pencegahan penyakit (Preventif) kepada masyarakat. Rumah sakit juga

merupakan pusat pelatihan bagi tenaga kesehatan dan pusat penelitian medik,

secara lebih ringkas fungsi rumah sakit yaitu ;


1. Pelayanan pasien
Pelayanan pasien di rumah sakit terdiri atas pelayanan medis,

pelayanan farmasi dan pelayanan keperawatan. Di samping itu untuk

mendukung pelayanan medis, rumah sakit juga mengadakan pelayanan

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
10
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

berbagai jenis laboratorium. Pelayanan pasien terbagi menjadi dua yaitu

pelayanan pasien rawat inap dan rawat jalan. Pelayanan pasien rawat jalan,

dewasa ini semakin penting sebagai fungsi dan tanggungjawab rumah sakit

kepada komunitas karena pelayanan ini bersifat pencegahan penyakit yang

lebih parah dan juga untuk peningkatan kesehatan. Pelayanan pasien

melibatkan pemeriksaan dan diagnosis, pengobatan kesakitan atau luka,

pengobatan pencegahan, rehabilitasi, perawatan, pemulihan, dan pelayanan

tertentu lainnya (Siregar dan Amalia, 2004).


2. Pendidikan dan Pelatihan
Pendidikan sebagai suatu fungsi rumah sakit terdiri atas dua bentuk

utama yaitu :
a. Pendidikan dan pelatihan profesi kesehatan
Program pendidikan Rumah sakit mencakup program formal

(kedokteran dan perawat); program “in-service training” untuk personal

profesional, seperti residen dan program “on the job training” untuk

personal non profesional. Program itu penting karena memberikan

pengalaman pembelajaran praktek yang perlu dalam penyelamatan hidup

manusia (Siregar dan Amalia, 2004).


b. Pendidikan dan pelatihan pasien.
Pendidikan dan pelatihan pasien merupakan suatu fungsi Rumah

sakit yang penting dalam suatu lingkup yang jarang disadari oleh

masyarakat. Pendidikan tentang obat sangat penting diberikan kepada

pasien, untuk meningkatkan kepatuhan, mencegah penyalahguanaan

obat, dan meningkatkan hasil terapi yang optimal dengan penggunaan

obat yang sesuai dan tepat (Siregar dan Amalia, 2004).


c. Penelitian

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
11
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Rumah sakit melakukan penelitian sebagai suatu fungsi vital untuk

dua maksud utama, yaitu memajukan pengetahuan medik tentang

penyakit dan peningkatan atau perbaikan pelayanan rumah sakit. Kedua

maksud tersebut ditujukan pada tujuan dasar dari pelayanan kesehatan

yang lebih baik bagi penderita. Contoh kegiatan penelitian dalam rumah

sakit mencakup merencanakan prosedur diagnosis yang baru, melakukan

percobaan laboratorium dan klinik, pengembangan dan menyempurnakan

prosedur pembedahan baru, mengevaluasi obat investigasi, dan penelitian

formulasi obat yang baru.


d. Kesehatan masyarakat

Tujuan utama dari fungsi rumah sakit yang keempat ialah

membantu komunitas dalam mengurangi timbulnya kesakitan (illness)

dan meningkatkan kesehatan umum penduduk. Contoh kegiatan

kesehatan masyarakat adalah hubungan kerja yang erat dari rumah sakit

yang mempunyai bagian kesehatan masyarakat untuk penyakit menular,

partisipasi dalam program deteksi penyakit, seperti TBC, diabetes,

hipertensi dan kanker, partisipasi dalam program inokulasi masyarakat

seperti terhadap influensa dan poliomielitis, serta partisipasi bagian

layanan ambulatori dalam pendidikan praktik kesehatan rutin yang lebih

baik, dan lain-lain. Apoteker rumah sakit mempunyai peluang

memberikan kontribusi pada fungsi ini dengan mengadakan brosur

informasi kesehatan, pelayanan pada penderita rawat jalan dan dengan

memberi konseling tentang penggunaan obat yang aman dan tindakan

pencegahan keracunan.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
12
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

e. Pelayanan Rujukan Upaya Kesehatan

Adalah suatu upaya penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang

melaksanakan pelimpahan tanggungjawab timbal balik atas kasus atau

masalah yang timbul, baik secara vertikal maupun horizontal kepada

pihak yang mempunyai fasilitas yang lebih lengkap dan mempunyai

kemampuan lebih tinggi (Siregar dan Amalia, 2004).

C. Akreditasi Rumah Sakit

Akreditasi rumah sakit adalah pengakuan terhadap rumah sakit yang

diberikan oleh lembaga independent penyelenggara akreditasi yang di tetapkan

oleh mentri, setelah dinilai bahwa rumah sakit itu memenuhi standar pelayanan

rumah sakit yang berlaku untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit

yang berkesinambungan. Akreditasi bertujuan untuk:

Meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit,

1. Meningkatkan keselamatan pasien di rumah sakit,

2. Meningkatkan perlindungan pasien, masyarakat, sumber daya manusia

rumah sakit, dan rumah sakit sebagai institusi, dan

3. Mendukung program pemerintah dibidah kesehatan

Akreditasi berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan 12 tahun 20012

dibedakan atas dua yaitu dari akreditasi nasional dan akreditasi internasional.

1. Akreditasi Nasional

Penyelenggara akreditasi nasonal meliputi persiapan akreditasi,

bimbingan akreditasi, pelaksanaan akreditasi dan kegiatan paska akreditasi.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
13
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

a. Persiapan akreditasi, meliputi pemenuhan standar dan penilaian

mandiri (Self Assesment).

b. Bimbingan akreditasi, merupakan proses pembinaan rumah sakit dalam

rangka meningkatkan kinerja dalam mempersiapkan survei akreditasi.

c. Pelaksanaan akreditasi, terdiri dari survei akreditasi dan penetapan status

akreditasi.

d. Kegiatan paska akreditasi dilakukan dalam bentuk survei verifikasi yang

hanya dapat dilakukan oleh lembaga independen pelaksanaan akreditasi.

Survei verifikasi bertujuan untuk mempertahankan dan atau

meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit sesuai dengan rekomendasi

dari supervisor.

2. Akreditasi Internasional

Rumah sakit yang telah mendapatkan status akreditasi internasional

wajib melaporkan status akreditasinya kepada menteri. Akreditasi

internasional hanya dapat dilakukan oleh lembaga independen

penyelenggara akreditasi yang sudah terakreditasi oleh International society

for quality in health care (ISQua).

D. Tenaga Kesehatan Rumah Sakit


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 56 tahun 2014, rumah

sakit dibagi atas :


1. Rumah Sakit Umum kelas A
Sumber daya manusia Rumah Sakit Umum kelas A terdiri atas:
a. Tenaga medis paling sedikit terdiri atas :
1) 18 (delapan belas) dokter umum untuk pelayanan medik dasar;
2) 4 (empat) dokter gigi umum untuk pelayanan medik gigi mulut;

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
14
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

3) 6 (enam) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis

dasar;
4) 3 (tiga) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis

penunjang;
5) 3 (tiga) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis

lain;
6) 2 (dua) dokter subspesialis untuk setiap jenis pelayanan medik

subspesialis; dan
7) 1 (satu) dokter gigi spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik

spesialis gigi mulut.


b. Tenaga kefarmasian paling sedikit terdiri atas:
1) 1 (satu) apoteker sebagai kepala instalasi farmasi Rumah Sakit;
2) 5 (lima) apoteker yang bertugas di rawat jalan yang dibantu oleh

paling sedikit 10 (sepuluh) tenaga teknis kefarmasian;


3) 5 (lima) apoteker di rawat inap yang dibantu oleh paling sedikit 10

(sepuluh) tenaga teknis kefarmasian;


4) 1 (satu) apoteker di instalasi gawat darurat yang dibantu oleh minimal

2 (dua) tenaga teknis kefarmasian;


5) 1 (satu) apoteker di ruang ICU yang dibantu oleh paling sedikit 2

(dua) tenaga teknis kefarmasian;


6) 1 (satu) apoteker sebagai koordinator penerimaan dan distribusi yang

dapat merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap

atau rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang

jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian

Rumah Sakit; dan


7) 1 (satu) apoteker sebagai koordinator produksi yang dapat merangkap

melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau rawat jalan dan

dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan

dengan beban kerja pelayanan kefarmasian Rumah Sakit.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
15
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

c. Jumlah kebutuhan tenaga keperawatan sama dengan jumlah tempat tidur

pada instalasi rawat inap. Kualifikasi dan kompetensi tenaga keperawatan

disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan Rumah Sakit.


d. Jumlah dan kualifikasi tenaga kesehatan lain dan tenaga nonkesehatan

disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan Rumah Sakit.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
16
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

2. Rumah Sakit Umum kelas B


Sumber daya manusia Rumah Sakit Umum kelas B terdiri atas:
a. Tenaga medis paling sedikit terdiri atas:
1) 12 (dua belas) dokter umum untuk pelayanan medik dasar;
2) 3 (tiga) dokter gigi umum untuk pelayanan medik gigi mulut;
3) 4 (empat) dokter gigi umum untuk pelayanan medik gigi mulut;
4) 3 (tiga) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis

dasar;
5) 2 (dua) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis

penunjang;
6) 1 (satu) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis

lain;
7) 1 (satu) dokter subspesialis untuk setiap jenis pelayanan medik

subspesialis; dan
8) 1 (satu) dokter gigi spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik

spesialis gigi mulut.


b. Tenaga kefarmasian paling sedikit terdiri atas:
1) 3 (tiga) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis

dasar;
2) 2 (dua) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis

penunjang;
3) 1 (satu) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis

lain;
4) 1 (satu) dokter subspesialis untuk setiap jenis pelayanan medik

subspesialis; dan
5) 1 (satu) dokter gigi spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik

spesialis gigi mulut.


c. Jumlah kebutuhan tenaga keperawatan sama dengan jumlah tempat tidur

pada instalasi rawat inap. Kualifikasi dan kompetensi tenaga keperawatan

disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan Rumah Sakit.


d. Jumlah dan kualifikasi tenaga kesehatan lain dan tenaga nonkesehatan

disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan Rumah Sakit.


3. Rumah Sakit Umum kelas C

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
17
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Sumber daya manusia Rumah Sakit Umum kelas C terdiri atas:


a. Tenaga medis paling sedikit terdiri atas:
1) 9 (sembilan) dokter umum untuk pelayanan medik dasar;
2) 2 (dua) dokter gigi umum untuk pelayanan medik gigi mulut;
3) 2 (dua) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis

dasar;
4) 1 (satu) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis

penunjang; dan
5) 1 (satu) dokter gigi spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik

spesialis gigi mulut.1 (satu) dokter subspesialis untuk setiap jenis

pelayanan medik subspesialis; dan


6) 1 (satu) dokter gigi spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik

spesialis gigi mulut.


b. Tenaga kefarmasian paling sedikit terdiri atas:
1) 1 (satu) orang apoteker sebagai kepala instalasi farmasi Rumah Sakit;
2) 2 (dua) apoteker yang bertugas di rawat inap yang dibantu oleh paling

sedikit 4 (empat) orang tenaga teknis kefarmasian;


3) 4 (empat) orang apoteker di rawat inap yang dibantu oleh paling

sedikit 8 (delapan) orang tenaga teknis kefarmasian;


4) 1 (satu) orang apoteker sebagai koordinator penerimaan, distribusidan

produksi yang dapat merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik

di rawat inap atau rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis

kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja

pelayanan kefarmasian Rumah Sakit.1 (satu) dokter subspesialis untuk

setiap jenis pelayanan medik subspesialis; dan


5) 1 (satu) dokter gigi spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik

spesialis gigi mulut.


c. Jumlah kebutuhan tenaga keperawatan sama dengan jumlah tempat tidur

pada instalasi rawat inap. Kualifikasi dan kompetensi tenaga keperawatan

disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan Rumah Sakit.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
18
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

d. Jumlah dan kualifikasi tenaga kesehatan lain dan tenaga nonkesehatan

disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan Rumah Sakit.


4. Rumah Sakit Umum kelas D
Sumber daya manusia Rumah Sakit Umum kelas D terdiri atas:
a. Tenaga medis paling sedikit terdiri atas:
1) 4 (empat) dokter umum untuk pelayanan medik dasar;
2) 1 (satu) dokter gigi umum untuk pelayanan medik gigi mulut;
3) 1 (satu) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis

dasar.
b. Tenaga kefarmasian paling sedikit terdiri atas:
1) 1 (satu) orang apoteker sebagai kepala instalasi farmasi Rumah Sakit;
2) 1 (satu) apoteker yang bertugas di rawat inap dan rawat jalan yang

dibantu oleh paling sedikit 2 (dua) orang tenaga teknis kefarmasian;


3) 1 (satu) orang apoteker sebagai koordinator penerimaan, distribusi dan

produksi yang dapat merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik

di rawat inap atau rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis

kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja

pelayanan kefarmasian Rumah Sakit.


c. Jumlah kebutuhan tenaga keperawatan dihitung dengan perbandingan 2

(dua) perawat untuk 3 (tiga) tempat tidur. Kualifikasi dan kompetensi

tenaga keperawatan disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan rumah

sakit.
d. Jumlah dan kualifikasi tenaga kesehatan lain dan tenaga nonkesehatan

disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan Rumah Sakit.

E. Sejarah Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang


Rumah Sakit Umum (RSU) Kabupaten Tangerang didirikan pada tahun

1928 dengan kapasitas 12 tempat tidur yang berlokasi di sebuah ruangan BUI

(penjara) yang bekas lahannya sekarang menjadi lokasi Masjid Agung Al-

Ittihad. Pada tahun 1932 RSU Kabupaten Tangerang pindah lokasi ke gedung

bekas bank di jalan Daan Mogot No.3 dengan kapasitas 40 tempat tidur. Tahun

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
19
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

1943 sampai 1946 dipimpin oleh dr. J.Leimana kemudian diganti oleh

dr.Gembiro dengan kapasitas 65 tempat tidur.


RSU Kabupaten Tangerang dipindahkan ke Balaraja pada tahun 1946

dan selanjutnya dipimpin oleh dr. Suparno, dr. Gembiro, dr. Satrio, dr. Purwo

Sudarmo, dr. Drajat Prawiranegara dan dr. Djaka Sutadiwirja. Tahun 1950,

setelah penyerahan kedaulatan RI, RSU Tangerang kembali ke jalan Daan

Mogot Tangerang dan bergabung dengan Rumah Sakit bekas NICA yang

dipimpin oleh dr. Gusti Hasan dan berfungsi sebagai Rumah Sakit Umum.

Tahun 1955 pengelolaan Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang

diserahkan kepada Pemerintah Swatantra Kabupaten Tangerang. Tahun 1959

mulai direncanakan membangun sebuah Rumah Sakit baru yang sekarang

berlokasi di jalan A. Yani No.9 Tangerang, bersebelahan dengan gedung

Sekolah Djuru Rawat (SDK) dan Kementrian Kesehatan.


Tahun 1963 di bangun gedung kantor yang sederhana. Pada awal tahun

1964 Menteri Kesehatan Prof. Dr. Satrio menyerahkan gedung SDK kepada

Pemda Tangerang. Pada tanggal 5 Mei 1964 RSU pindah dari Jl. Daan Mogot

ke Jl. A. Yani No. 9 menggunakan gedung bekas SDK sebagai tempat

perawatan dengan 60 tempat tidur dan penambahan gedung kantor untuk Tata

Usaha, Poliklinik Umum, Poliklinik Bedah, Apotik dan Laboratorium. Pada

tanggal 5 Mei 1964 ditetapkan sebagai hari jadi Rumah Sakit Umum

Tangerang Kabupaten Tangerang dan dipimpin oleh dr. Willy Ranti sebagai

direktur.
Tanggal 11 September 1969 menjalin kerjasama antara Pemerintah

Daerah Tangerang dengan RS Ciptomangunkusuma / Fakultas Kedokteran

Universitas Indonesia, untuk meningkatkan fasilitas pada RSU Kabupaten

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
20
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Tangerang. Sejak tahun anggaran 1969/1970 RSU Kabupaten Tangerang

mulai dikembangkan secara bertahap dengan biaya dari APBD TK.II, APBD

TK.1 dan APBD sehingga mempunyai kapasitas perawatan 341 tempat tidur.
Tahun 1976 RSU Kabupaten Tangerang dimanfaatkan untuk

pendidikan mahasiswa tingkat V dan VI FKUI dari bagian Penyakit Dalam,

Kesehatan Anak, Bedah dan Kebidanan /Kandungan. Sejak tahun 1977

dimanfaatkan untuk pendidikan dokter Spesialis Penyakit Dalam, Kesehatan

Anak, Bedah Umum, Kebidanan dan Penyakit Kandungan. Sejak tanggal 22

September 1986 telah dijalin pula kerjasama antara Pemda Tangerang dengan

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia dengan tujuan meningkatkan

pelayanan RSU Kabupaten Tangerang serta memanfaatkannya untuk

pendidikan.
Tanggal 22 April 1989, Direktur/Pimpinan RSU Kabupaten Tangerang

mengalami pergantian dari dr. Willy Ranti kepada dr. H. Syartil Arfan N.SpA.

Pada tanggal 15 Desember 1993 status RSU Kabupaten Tangerang

ditingkatkan dari kelas C menjadi kelas B non pendidikan dengan kapasitas

saat itu sebanyak 337 tempat tidur dan melayani 23 jenis keahlian/spesialis.

RSU Tangerang sebagai Unit Swadana Daerah dimulai dengan uji coba pada

bulan April 1994 selama Dua Tahun, diresmikan sebagai Unit Swadana pada

bulan April 1996.


RSU Kabupaten Tangerang memperoleh Sertifikat Akreditasi penuh

untuk bidangAdministrasi Manajemen,Perawatan,Gawat Darurat dan

Pelayanan pada tanggal 21 Januari 1997 sampai tahun 2000. Pada tanggal 5

Februari 2001 pelantikan dr. H. Budhi Setiawan, SpP, MARS oleh Bapak

Bupati sebagai Direktur RSU Kabupaten Tangerang menggantikan dr. H.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
21
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Syartil Arfan N.SpA. Tanggal 19 Februari 2001, Menteri Kesehatan RI, dr.

Ahmad Suyudi meresmikan Instalasi Pengolahan Limbah rumah sakit untuk

22 rumah sakit di 5 propinsi di RSU Kabupaten Tangerang.


Keluarnya PP No.23 Tahun 2005 tentang Pola Pengelolaan Keuangan

Badan Layanan Umum, maka RSU Kabupaten Tangerang berdasarkan

Keputusan Bupati Tangerang No.445/Kep.402-HUK/2005 tanggal 20

Desember 2005 terhitung mulai tahun 2006 menyelenggarakan Pola

Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah. Tanggal 21 Maret

2007, Pelantikan dr. H. MJN. Mamahit, Sp.OG, MARS oleh Bupati Tangerang

sebagai Direktur RSU Kabupaten Tangerang menggantikan dr. H. Budhi

Setiawan, SpP. MARS yang memasuki masa pensiun.


Berdasarkan keputusan Bupati Tangerang No.445/Kep.113-HUK/2008

RSU Kabupaten Tangerang ditetapkan sebagai penyelenggara Pola Pengelola

Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PKK-BLUD) Kabupaten

Tangerang dengan status BLUD penuh. Setelah dikembangkan secara bertahap

saat ini RSU Kabupaten Tangerang mempunyai bangunan dengan luas

keseluruhan 24.701 m2 diatas tanah 41.615 m2dan memiliki fasilitas perawatan

dengan 518 tempat tidur.


Pada Tanggal 12 Januari 2012 RSU Kabupaten Tangerang memperoleh

sertifikat akreditasi 16 Bidang Pelayanan yaitu Administrasi dan Manajemen,

Pelayanan Medis, Pelayanan Gawat Darurat, Pelayanan Keperawatan, Rekam

Medis, Pelayanan Farmasi K3, Pelayanan Radiologi, Pelayanan Laboratorium,

Pelayanan Kamar Operasi, Pelayanan Pengendalian Infeksi, Pelayanan

Perinatal Resiko Tinggi, Pelayanan Rehabillitasi Medik, Pelayanan Gizi,

Pelayanan Intensif dan Pelayanan Darah.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
22
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Pada Tahun 2010, 2011, 2012, berturut-turut Kementerian Lingkungan

Hidup menganugerahkan penghargaan kepada RSU Kabupaten Tangerang

“Peringkat BIRU” dengan tema “Program Penilaian Perangkat Kerja

Pemerintahan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup”.


Pada Tahun 2012 gedung kantor dibangun kembali menjadi gedung

lantai 3 yang dipergunakan untuk IGD, ICU dan Kamar Operasi dengan dan

APBN. Sedangkan gedung kantor dibangun bersamaan dengan Pembangunan

Gedung Logistik yang berlokasi bekas Rumah Dinas dengan dana APBN.

F. Profil Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang

Profil Rumah Sakit Umum Tangerang adalah sebagai berikut :

Nama Institusi : Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang


Tipe Rumah Sakit : B Pendidikan
Alamat : Jl. Jend. A. Yani No.9 Tangerang, Banten
Nomor telp. : (021) 5523507, 5512948, 5513709
Luas tanah : 41.615 m2
Luas bangunan utama : 24.701 m2
Email : rsudtangerang@yahoo.com
Website : www.rsu.tangerangkab.go.id
RSU Kabupaten Tangerang mempunyai fasilitas layanan berupa

fasilitas pelayanan baik pelayanan medis maupun pelayanan penunjang.


1. Fasilitas Pelayanan di RSU Kabupaten Tangerang meliputi:
a. Poliklinik atau rawat jalan
RSU Kabupaten Tangerang memberi pelayanan rawat jalan dengan 27

jenis pelayanan spesialisasi.


b. Instalasi Gawat Darurat (IGD)
IGD RSU Kabupaten Tangerang memberikan pelayanan pada pasien-

pasien yang gawat darurat selama 24 jam.Ditangani oleh dokter umum

dan spesialis yang berjaga secara bergantian, dilengkapi dengan

pelayanan penunjang seperti rontgen, laboratorium dan apotek yang

beroperasi selama 24 jam.


c. Rawat Inap

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
23
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

RSU Kabupaten Tangerang memilikiruang perawatan yang terdiri dari

Kelas I, Kelas II, Kelas III dan ruang perawatan intensif (ICU).Selain itu

terdapat pula Instalasi khusus dengan kapasitas21 tempat tidur, yaitu

Instalasi Khusus Wijaya Kusuma.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
24
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

d. Pelayanan Penunjang Medis


Berupa Hemodialisa,Laboratorium Klinik, Patologi Anatomi, Radiologi,

Instalasi Farmasi, Konsultasi Gizi, USG, EEG, EKG, Treadmill,

Spirometri, CT Scan dan CSSD.

G. Visi Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang


Visi merupakan tujuan atau sasaran yang ingin dicapai.Visi dari RSU

Kabupaten Tangerang adalah “Rumah Sakit Modern, Unggul dan Terpercaya”.

H. Misi Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang


Adapun misi dari Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang yaitu :
1. Meningkatkan kompetensi Sumber Daya Manusia pada semua lini

pelayanan RS dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan perorangan

yang profesional, santun dan mempunyai daya saing yang tinggi.


2. Menyediakan bangunan yang atraktif, fungsional dan nyaman yang

berwawasan lingkungan.
3. Mengembangkan manajemen modern berbasis Informasi Teknologi melalui

Sistem Informasi Manajemen RS.


4. Memberikan pelayanan unggulan yang didukung dengan peralatan canggih

untuk antisipasi tuntutan lingkungan dan perkembangan penyakit di

Kabupaten dan Kota Tangerang.


5. Menyelenggarakan pelayanan pendidikan kedokteran dan pendidikan

kesehatan lainnya secara profesional.


6. Menekan angka kematian ibu dan bayi di Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang dalam rangka peran aktif mendukung MDG’s sesuai dengan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RP JMD) Kabupaten

Tangerang.

I. Struktur Organisasi Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
25
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Struktur organisasi adalah struktur yang menggambarkan pembagian

tugas, koordinasi kewenangan, fungsi dan tanggung jawab Rumah Sakit.

Pengorganisasian Instalasi Farmasi Rumah Sakit harus mencakup

penyelenggaraan pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan

Medis Habis Pakai, pelayanan farmasi klinik dan manajemen mutu dan bersifat

dinamis dapat direvisi sesuai kebutuhan dengan tetap menjaga mutu. Ketentuan

terkait jabatan fungsional di Instalasi Farmasi Rumah Sakit diatur menurut

kebutuhan organisasi dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Hal ini

menjelaskan bahwa pengorganisasian Instalasi Farmasi Rumah Sakit minimal

terdiri dari kepala IFRS, pengelolaan sediaan farmasi, obat, alkes, dan BMHP,

pelayanan farmasi klinik dan manajemen mutu.

Struktur organisasi dapat dikembangkan menjadi 3 tingkat, yakni tingkat

puncak, tingkat menengah dan garis depan. Manajer tingkat puncak

bertanggung jawab untuk perencanaan, penerapan dan pemfungsian yang

efektif dari sistem mutu secara menyeluruh. Manajer tingkat menengah,

kebanyakan kepala bagian/unit fungsional bertanggung jawab untuk mendesain

dan menerapkan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan mutu dalam

daerah/bidang fungsional mereka, untuk mencapai mutu produk dan/atau

pelayanan yang diinginkan. Manajer garis depan terdiri atas personel pengawas

yang secara langsung memantau dan mengendalikan kegiatan yang berkaitan

dengan mutu selama berbagai tahap memproduksi produk dan/atau pelayanan

(Siregar, 2003).

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
26
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Instalasi Farmasi Rumah Sakit harus dikepalai oleh seorang Apoteker

yang merupakan Apoteker penanggung jawab seluruh Pelayanan Kefarmasian

di Rumah Sakit. Kepala Instalasi Farmasi Rumah Sakit diutamakan telah

memiliki pengalaman bekerja di Instalasi Farmasi Rumah Sakit minimal 3

(tiga) tahun.Selain Apoteker Instalasi Farmasi juga harus memiliki tenaga

teknis kefarmasian yang sesuai dengan beban kerja dan petugas penunjang lain

agar tercapai sasaran dan tujuan Instalasi Farmasi Rumah Sakit. Tenaga Teknis

Kefarmasian yang melakukan Pelayanan Kefarmasian harus di bawah supervisi

Apoteker

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
27
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Struktur Organisasi RSU Kabupaten Tangerang

Gambar 1. Struktur Organisasi RSU Kab. Tangerang

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
28
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode 04 April 2016 – 28 Mei 2016

J. Fasilitas Pelayanan
1. Poliklinik atau rawat jalan
Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang memberi pelayanan rawat jalan

dengan 31 jenis pelayanan spesialisasi


2. Gawat Darurat (IGD)

IGD Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang memberikan pelayanan

pada pasien-pasien yang gawat darurat selama 24 jam. Dengan kapasitas 20

tempat tidur dan ditangani dokter umum dan spesialis yang berjaga secara

bergantian, dilengkapi dengan pelayanan penunjang seperti rontgen,

laboratorium dan apotek yang beroperasi selama 24 jam.

3. Rawat Inap

Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang memiliki 20 ruang perawatan

yang terdiri dari Kelas VIP, Kelas I, Kelas II, Kelas III dan ruang perawatan

intensif (ICU), dengan kapasitas tempat tidur 421 tempat tidur. Selain itu

terdapat pula Instalasi khusus dengan kapasitas 41 tempat tidur, yaitu

Instalasi Khusus Wijaya Kusuma. Dilengkapi dengan 11 ruang operasi, 1

kamar bersalin, dengan 39 buah tempat tidur.

4. Pelayanan Penunjang Medis


Berupa Hemodialise, Laboratorium Klinik, Patologi Anatomi, Radiologi,

Instalasi Farmasi, Konsultasi Gizi, USG, EEG, EKG, Treadmill, Spirometri,

CT Scan, CSSD.
5. Pelayanan penunjang lainnya

Berupa disertai pelayanan penunjang lainnya berupa 6 unit mobil. Ambulan

dan 1 unit mobil jenazah.

K. Instalasi Farmasi Rumah Sakit


1. Definisi Instalasi Farmasi Rumah Sakit

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
29
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Instalasi farmasi rumah sakit adalah suatu departemen atau unit atau

bagian di suatu rumah sakit di bawah pimpinan seorang apoteker dan

dibantu oleh beberapa orang apoteker yang memenuhi persyaratan peraturan

perundang-undangan yang berlaku dan kompeten secara profesional, tempat

atau fasilitas penyelenggaraan yang bertanggung jawab atas seluruh

pekerjaan serta pelayanan kefarmasian yang terdiri dari pelayanan paripurna

(perencanaan, pengadaan, produksi, penyimpanan sediaan farmasi, obat,

alkes, dan BMHP atau sediaan farmasi, dispensing obat berdasarkan resep

bagi penderita rawat inap dan rawat jalan, pengendalian mutu dan

pengendalian distribusi serta penggunaan seluruh sediaan farmasi, obat,

alkes, dan BMHP di rumah sakit), pelayanan farmasi klinik umum dan

spesialis (pelayanan langsung pada penderita dan pelayanan klinik yang

merupakan program rumah sakit secara keseluruhan) (Permenkes No. 58

Tahun 2014).

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 58 tahun 2014

tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit, Pelayanan

Kefarmasian di Rumah Sakit merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari

sistem pelayanan kesehatan Rumah Sakit yang berorientasi kepada

pelayanan pasien, penyediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan

Medis Habis Pakai yang bermutu dan terjangkau bagi semua lapisan

masyarakat termasuk pelayanan farmasi klinik. Tuntutan pasien dan

masyarakat akan peningkatan mutu Pelayanan Kefarmasian, mengharuskan

adanya perluasan dari paradigma lama yang berorientasi kepada produk

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
30
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

(drug oriented) menjadi paradigma baru yang berorientasi pada pasien

(patient oriented) dengan filosofi pharmaceutical care.

Menurut undang-undang nomor 44 tahun 2009 pasal 7, rumah sakit

harus memenuhi persyaratan yang salah satunya adalah kefarmasian.

Sebuah rumah sakit harus memiliki ruang farmasi dan tenaga kefarmasian.

Pada pasal 15, pelayanan sediaan farmasi di rumah sakit dilaksanakan oleh

IFRS dengan mengikuti standar pelayanan kefarmasian, seperti pengelolaan

alat kesehatan, sediaan farmasi dan bahan habis pakai di rumah sakit harus

dilaksanakan dengan sistem satu pintu (Depkes, 2009).

2. Tugas dan Fungsi Instalasi Farmasi Rumah Sakit

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 58 Tahun 2014, tugas IFRS

antara lain:

a. Menyelenggarakan, mengkoordinasikan, mengatur dan mengawasi

seluruh kegiatan Pelayanan Kefarmasian yang optimal dan profesional

serta sesuai prosedur dan etik profesi;

b. Melaksanakan pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan Bahan

Medis Habis Pakai yang efektif, aman , bermutu dan efisien;

c. Melaksanakan pengkajian dan pemantauan penggunaan Sediaan Farmasi,

Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai guna memaksimalkan

risiko;

d. Melaksanakan Komunikasi, Edukasi dan Informasi (KIE) serta

memberikan rekomendasi kepada dokter, perawat dan pasien;

e. Berperan aktif dalam Tim Farmasi dan Terapi;

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
31
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

f. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan serta pengembangan Pelayanan

Kefarmasian;

g. Memfasilitasi dan mendorong tersusunnya standar pengobatan dan

formularium Rumah Sakit.

Fungsi IFRS sebagai pengelola sediaan farmasi, obat, alkes, dan

BMHP serta pelayanan farmasi klinik, meliputi :

a. Pemilihan sediaan farmasi, obat, alkes, dan BMHP sesuai kebutuhan

pelayanan rumah sakit;

b. Perencanaan kebutuhan sediaan farmasi, obat, alkes, dan BMHP secara

efektif, efisien dan optimal;

c. Pengadaan sediaan farmasi, obat, alkes, dan BMHP berpedoman pada

perencanaan yang telah dibuat sesuai ketentuan yang berlaku;

d. Memproduksi sediaan farmasi, obat, alkes, dan BMHP untuk memenuhi

kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit;

e. Menerima sediaan farmasi, obat, alkes, dan BMHP sesuai dengan

spesifikasi dan ketentuan yang berlaku;

f. Menyimpan sediaan farmasi, obat, alkes, dan BMHP sesuai dengan

spesifikasi dan persyaratan kefarmasian;

g. Mendistribusikan sediaan farmasi, obat, alkes, dan BMHP ke unit-unit

pelayanan di rumah sakit;

h. Melaksanakan pelayanan farmasi satu pintu, melaksanakan pelayanan

obat “unit dose”/dosis sehari;

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
32
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

i. Melaksanakan komputerisasi pengelolaan sediaan farmasi, obat, alkes,

dan BMHP (apabila sudah memungkinkan);

j. Mengidentifikasi, mencegah dan mengatasi masalah yang terkait dengan

sediaan farmasi, obat, alkes, dan BMHP;

k. Melakukan pemusnahan dan penarikan sediaan farmasi, obat, alkes, dan

BMHP yang sudah tidak dapat digunakan;

l. Mengendalikan sediaan farmasi, obat, alkes, dan BMHP dan melakukan

administrasi pengelolaan sediaan farmasi, obat, alkes, dan BMHP.

Sedangkan fungsi IFRS sebagai Pelayanan Farmasi Klinik meliputi:

a. Mengkaji dan melaksanakan pelayanan resep atau permintaan obat;

melaksanakan penelusuran riwayat penggunaan obat;

b. Melaksanakan rekonsiliasi obat; memberikan informasi dan edukasi

penggunaan obat baik berdasarkan resep maupun obat non resep kepada

pasien/keluarga pasien;

c. Mengidentifikasi, mencegah dan mengatasi masalah yang terkait dengan

sediaan farmasi, obat, alkes, dan BMHP;

d. Melaksanakan visite mandiri maupun bersama tenaga kesehatan lain;

memberikan konseling pada pasien dan/atau keluarganya;

e. Melaksanakan Pemantauan Terapi Obat (PTO) termasuk pemantauan

efek terapi obat, efek samping obat dan kadar obat dalam darah;

f. Melaksanakan Evaluasi Penggunaan Obat; melaksanakan dispensing

sediaan steril termasuk melakukan pencampuran obat suntik, menyiapkan

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
33
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

nutrisi parenteral, melaksanakan penanganan sediaan sitotoksik,

melaksanakan pengemasan ulang sediaan steril yang tidak stabil;

g. Melaksanakan pelayanan informasi obat (PIO) kepada tenaga kesehatan

lain, pasien/keluarga, masyarakat dan institusi di luar Rumah Sakit;

h. Melaksanakan penyuluhan kesehatan rumah sakit.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
34
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

BAB III
KEGIATAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER (PKPA) DI
RUMAH SAKIT UMUM KABUPATEN TANGERANG

Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) bagi mahasiswa Universitas Setia

Budi (USB) di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang dilaksanakan masing-

masing selama 1 bulan untuk kegiatan managemen dan 1 bulan untuk kegiatan

klinik. Kegiatan PKPA di Rumah Sakit Kabupaten Tangerang berlangsung dari

tanggal 04 April – 28 Mei 2016, kegiatan ini dilakukan setiap hari Senin-Jumat,

pukul 07.30 WIB – 15.30 WIB. Kegiatan PKPA yang dilaksanakan di Rumah

Sakit Umum Kabupaten Tangerang salah satunya adalah melakukan kegiatan

pelayanan kefarmasian. Pelayanan kefarmasian dilaksanakan di gudang farmasi,

depo farmasi rawat inap, depo farmasi rawat jalan, depo Farmasi Gawat Darurat

(IGD), depo farmasi instalasi khusus wijayakusuma (IKW), depo anyelir, depo

ruang operasi depan (OK Cito), CSSD (Central Sterilitation Suplay Departmen)

dan pengadaan.

A. Kegiatan di Gudang Farmasi

Gudang di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang melayani

persediaan obat dan alat-alat kesehatan untuk didistribusikan ke rawat jalan,

rawat inap, IGD, Instalasi bedah, kamar bersalin dan Instalasi Khusus

Wijayakusuma dan bangsal-bangsal lainnya. Data pengeluaran barang juga

dicatat pada kartu stok dan komputer dengan sistem Local Area Network

(LAN), sehingga dapat mengetahui sisa stok yang ada dalam gudang dan

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
35
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

mempermudah dalam pengawasan pemakaian obat. Data tersebut juga dapat

dijadikan patokan dalam perencanaan pembelian yang akan datang.

1. Penanggung jawab gudang mempunyai tugas dan fungsi sebagai berikut:

a. Memeriksa jumLah (stok) dan jenis barang yang masuk dari distributor

berdasarkan faktur pembelian, kemudian dicatat pada kartu stok barang

di gudang.

b. Menyimpan dan menjaga kualitas dan kuantitas barang di gudang.

c. Mendistribusikan obat, alat kesehatan ke bagian (depo) yang

membutuhkan, seperti depo-depo rawat jalan, dan rawat inap.

Sediaan farmasi yang sudah diperiksa oleh Panitia Penerima Hasil

Pekerjaan, selanjutnya diterima oleh petugas gudang untuk dilakukan

pemeriksaan untuk kemudian disimpan di gudang Instalasi Farmasi. Sediaan

farmasi di gudang Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang disimpan

berdasarkan jenis (obat dan alat kesehatan) dengan sistem alfabetis, FIFO

(First In First Out) dan FEFO (First Expired First Out), suhu dan kestabilan

obat, bentuk sediaan, sifat barang (slow/ fast moving), golongan obat

(narkotika/ psikotropika), sifat toksik obat (sitostatika), dan sifat mudah

tidaknya barang terbakar. Barang yang baru datang diletakkan di belakang

barang yang sudah lama berada di gudang. Untuk barang yang mendekati

tanggal kadaluarsa maka harus diletakkan paling depan supaya cepat

didistribusikan ke pasien. Untuk obat-obat slow moving, obat ditempatkan

tersendiri untuk dikembalikan kepada PBF sesuai perjanjian pembelian

dengan PBF. Sistem penyimpanan FIFO dan FEFO ini dapat menghindari

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
36
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

kerusakan barang akibat penyimpanan yang terlalu lama, selain itu juga

dapat menghindari menumpuknya stok barang yang sudah kadaluwarsa.


2. Penyimpanan barang di gudang farmasi Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang dilakukan dengan sistem penggolongan berdasarkan:


a. Jenis (obat dan alat kesehatan), bentuk sediaannya (padat, semi padat,

cair [sirup] dan injeksi), alphabetis, tanggal kadaluarsa, sifat barang (fast

moving/slow moving), sistem First In First Out (FIFO) dan First Expired

First Out (FEFO).

b. Suhu dan kestabilannya, meliputi barang yang disimpan pada ruangan

sejuk (<25oC) disimpan dalam ruangan ber-AC, penyimpanan dingin

disimpan dalam lemari pendingin (2-8oC), misalnya: suppositoria dan

injeksi tertentu ataupun vaksin.

c. Obat-obat narkotika dan obat psikotropik tertentu disimpan tersendiri di

dalam lemari yang seluruhnya terbuat dari kayu yang kuat dengan bagian

luar lemari dipagar dengan besi. Lemari dibagi dua masing- masing

dengan kunci yang berlainan, bagian pertama dipergunakan untuk

menyimpan morfin, petidin, dan garam-garamnya, serta persediaan

narkotika; bagian kedua dipergunakan untuk menyimpan narkotika

lainnya yang dipakai sehari-hari.

d. Obat-obat kemoterapi atau sitostatika disimpan dalam lemari khusus

yaitu dalam lemari pendingin atau suhu ruangan yang sesuai dengan

stabilitas dari masing-masing obat.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
37
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

e. Bahan atau obat yang mudah terbakar diletakkan dalam ruangan

tersendiri dan dilengkapi alat pemadam kebakaran serta dekat dengan

sumber air.

f. Bahan berbahaya dan beracun (B3), contohnya formaldehid, hidrogen

peroksida, etilen glikol, NaCl, H2O2, Formalin, Alkohol

Alur pelayanan obat di gudang Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum

Kabupaten Tangerang berawal dari setiap depo yang stok obat dan alat

kesehatannya habis atau hampir habis akan mengajukan amprahan ke

gudang instalasi farmasi. Amprahan disiapkan kemudian didistribusikan ke

depo-depo tersebut sesuai dengan permintaan masing-masing yang

dilakukan setiap hari.


3. Indikator mutu penyimpanan obat di gudang farmasi:

a. Persentase kemtidaksesuaian barang antara di gudang dengan pencatatan,

yaitu dengan mencocokkan jumLah barang yang ada di gudang dengan

yang tercantum di kartu stok, serta yang tertera dalam komputer,

pengamatan dilakukan dalam waktu yang sama.

b. Persentase stok akhir

c. Stok mati, menunjukkan persediaan barang di gudang yang tidak

mengalami transaksi dalam waktu minimal 3 bulan.

d. Persentase barang yang akan Expire Date (ED). Pemeriksaan obat yang

akan ED untuk mengetahui tingkat keamanan penggunaannya dan

kepastian jumLah fisik obat yang masa aman penggunaannya hampir

atau sudah berakhir didalam sistem penyimpanan yaitu gudang.

e. Persentase stok berlebih kesesuaian sistem distribusi obat FIFO, FEFO

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
38
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Pada prakteknya, indikator mutu penyimpanan obat di gudang farmasi

Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang sudah dilakukan walaupun

belum dilaksanakan secara maksimal. Hal ini dikarenakan keterbatasan

tenaga farmasi dan manajemen yang ada di Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang. Dalam prakteknya pihak Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang sudah melakukan pencocokan antara obat yang tersedia di

gudang dengan jumLah obat yang tercatat di kartu stok dan komputer yang

dilakukan setiap hari oleh staf gudang instalasi farmasi Rumah Sakit Umum

Kabupaten Tangerang. Untuk indikator persentase stok akhir, pihak Instalasi

Farmasi Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang sudah menerapkan stok

opname tiap akhir bulan yang akan menjadi bahan pertimbangan dalam

pengadaan sediaan farmasi. Untuk indikator stok mati atau sediaan farmasi

yang slow moving, pihak Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang yakni apoteker mengatasi masalah ini dengan melakukan

rekomendasi dan memberikan informasi mengenai obat tersebut ke dokter

yang terkait untuk meresepkan kembali obat tersebut. Untuk indikator

persentase barang yang akan mengalami ED, pihak Instalasi Farmasi Rumah

Sakit Umum Kabupaten Tangerang melakukan pemisahan barang-barang

(sediaan farmasi) yang sudah mendekati waktu ED untuk segera diretur

kembali ke PBF tersebut. Penyimpanan sediaan farmasi dilakukan secara

FIFO dan FEFO. Hal ini dilakukan untuk mengurangi pemborosan dana

dan mencegah terjadi penumpukan barang ED. Pihak Rumah Sakit Umum

Kabupaten Tangerang juga melakukan pengecekan terhadap sediaan

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
39
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

farmasi dengan mengamati bentuk fisik yang masih sesuai dengan standar

keamanan dan mutu sediaan farmasi tersebut, sedangkan untuk sediaan

farmasi yang sudah lewat waktu ED segera dipisahkan.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
40
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

4. Alur aktivitas yang dilakukan di gudang IFRS Rumah Sakit Umum

Kabupaten Tangerang:

Seleksi

Perencanaan dan pengadaan

Pemeriksaan barang datang

Penerimaan barang datang

Gambar
Sistem2.
kontrolAlur Aktivitas Gudang IFRS Rumah Sakit Umum
Penyimpanan

Kabupaten Tangerang
Distribusi
Gudang Instalasi Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Penggunaan

berpindah dari bagian belakang rumah sakit ke samping instalasi gizi sejak
Evaluasi

31 Januari 2010. Secara umum, walaupun perpindahan lokasi ini sudah

lebih baik dibanding sebelumnya, tata letak gudang di Instalasi Farmasi

Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang sekarang ini masih kurang

strategis karena masih jauh dari masing-masing depo obat, sehingga

menyulitkan distribusi terkait waktu dan tenaga yang dikeluarkan.


Berdasarkan hasil pengamatan, beberapa masalah yang perlu

mendapat perhatian khusus di gudang farmasi Rumah Sakit Umum

Kabupaten Tangerang antara lain:

a. Belum terdapat ruangan tersendiri (ruang transit) untuk meletakkan

kardus wadah obat yang belum disusun dalam rak sehingga mengganggu

jalannya aktivitas kerja petugas.

b. Bangunan gudang masih terlalu sempit yang belum mencukupi

dibandingkan dengan jumlah barang sehingga terjadi penumpukan.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
41
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Hal ini harus dimaklumi karena keterbatasan ruangan di Instalasi

Farmasi Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang. Namun telah ada

rencana, gedung Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang akan dibangun gedung yang baru, dengan ukuran gedung dan

gudang yang lebih luas, dengan letak posisi lebih dekat dari instalasi rawat

jalan, rawat inap dan depo-depo yang lain.

5. Alur Distribusi Obat di Gudang


Pelayanan distribusi obat di Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang dilakukan secara desentralisasi, dimana dilakukan distribusi obat

dari gudang ke depo di tempat perawatan penderita dan kemudian distribusi

obat dilanjutkan dari depo ke pasien. Depo-depo yang terdapat di Rumah

Sakit Umum Kabupaten Tangerang yaitu Depo rawat jalan, Depo Anyelir,

Depo Farmasi Rawat Inap, Depo IGD, Depo Instalasi Kusuma Wijaya,

Depo Farmasi Cathlab, Depo OK depan dan OK belakang. Alur distribusi

obat desentralisasi ini membawa pelayanan farmasi lebih dekat pada pasien

dan staf profesional. Sistem distribusi obat yang dilaksanakan di Rumah

Sakit Umum Kabupaten Tangerang, yaitu distribusi obat dari gudang ke

depo-depo.

Distribusi obat dan alat kesehatan di Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang dari gudang ke tiap depo, baik IGD, OK depan, OK belakang,

Anyelir, Instalasi Khusus Wijayakusuma, Rawat Jalan, Rawat Inap,

Poliklinik dan Bangsal dilakukan setiap hari.

Alur distribusi dari gudang ke depo-depo, untuk obat dan alat

kesehatan yang hampir habis atau sudah habis akan mengajukan permintaan

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
42
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

ke gudang dengan cara mengentri alat kesehatan dan obat yang diminta

melalui SIMRS. Setelah itu petugas gudang akan memberikan sesuai

dengan permintaan atau stok yang ada setelah itu petugas gudang farmasi

menyiapkan obat atau alat kesehatan akan disiapkan sambil mengecek ulang

apakah sudah sesuai dengan permintaan dan akan didistribusikan ke tiap

depo. Untuk bukti pengeluaran barang maka bagian gudang dan depo

mendapatkan faktur yang berisi alat kesehatan serta obat yang diminta.

Stock opname dilakukan 1 bulan sekali setiap akhir bulan oleh gudang dan

tiap-tiap depo obat yang bertujuan agar persediaan obat dan alat kesehatan

tetap terkendali.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
43
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

B. Kegiatan di Depo Farmasi Rawat Inap


1. Pelayanan resep di Depo Farmasi Rawat Inap
Pembentukan depo bertujuan untuk mempermudah pelayanan instalasi

farmasi dalam memenuhi kebutuhan sediaan farmasi pada setiap ruangan.

Pelayanan resep rawat inap Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang

yang dilaksanakan di depo farmasi rawat inap yang melayani pavilun

Mawar, kenanga, cempaka, dahlia, flamboyan, soka, kemuning dan seruni

dengan sistem distribusi obat secara ODD (One Daily Dose). Penyimpanan

obat di depo farmasi Rawat Inap dilakukan secara farmakologi dan alfabetis,

berdasarkan bentuk sediaaan obat dan jenis obat (paten dan generik).
Setiap hari sediaan farmasi yang ada di depo diperiksa jumLahnya dan

untuk barang yang stok persediaanya kurang di catat dalam buku barang

habis kemudian dilakukan pemesanan (pengamprahan) ke gudang melalui

sistem komputerisasi. Setelah barang pesanan datang dilakukan pengecekan

oleh petugas famasi di depo tersebut, yang meliputi kesesuaian jenis,

jumLah obat dan alat kesehatan, ED (Expired Date) dan kondisi fisik dari

barang yang diamprah.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
44
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Gambar 3. Alur Pelayanan Depo Farmasi Rawat Inap Pasien umum,

BPJS PBI dan non PBI


2. Distribusi obat dari depo ke pasien
Terdapat beberapa macam sistem distribusi obat yang diterapkan oleh

depo-depo di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang, yaitu:

a. Sistem Unit Dose Dispensing (UDD)

Sistem distribusi UDD di Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang diterapkan pada Instalasi Khusus Wijayakusuma (IKW).

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
45
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Alasan pemilihan tempat ini karena di Instalasi Khusus Wijayakusuma

(IKW) merupakan VIP yang memiliki jumLah ruangan lebih sedikit

dibandingkan dengan depo rawat inap yang lain, sehingga

penanganannya mudah dan tidak banyak membutuhkan tenaga farmasi.

Obat didistribusikan kepada pasien dalam bentuk dosis tunggal,

walaupun sistem pelayanan ini membutuhkan waktu yang lama dan

tenaga yang lebih banyak tetapi dapat meminimalkan medication error

dan interaksi antara farmasis, dokter dan perawat menjadi lebih intensif.

Selain itu pasien diberikan informasi yang lebih banyak tentang obat

yang dikonsumsi sehingga dengan sendirinya kondisi pasien akan

terkontrol.

Prosedur pelayanan UDD yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1) Dokter menulis obat untuk pasien pada CPO (Catatan Penggunaan

Obat) setelah melakukan visite bersama apoteker.

2) Apoteker mencatat kebutuhan obat sesuai instruksi dokter di lembar

KIO (Kartu Informasi Obat).

3) Apoteker menyiapkan obat, kemudian obat tersebut dikelompokkan

masing-masing dalam 1 kemasan dengan etiket yang sesuai dengan

jadwal minum obat (pagi-siang-sore- malam) yang tertera pada resep.

4) Apoteker melakukan bed konseling ke ruang perawatan untuk

memberikan informasi mengenai jadwal minum obat, dan informasi

lain yang dibutuhkan oleh pasien, serta memantau kepatuhan pasien.

Kelebihan dari sistem UDD, antara lain :

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
46
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

1) Dapat meminimalkan medication error karena adanya sistem

pemeriksaan ganda. Farmasis memeriksa resep dan menyiapkan obat,

kemudian perawat memeriksa kembali obat pada saat akan

diserahkan pada pasien.

2) Mengurangi kemungkinan terjadinya pencurian dan pemborosan obat.

3) Meningkatkan efisiensi pemanfaatan tenaga profesional dan non

profesional.

4) Penderita menerima pelayanan IFRS 24 jam sehari dan penderita

membayar hanya obat yang dikonsumsinya saja.

5) Meningkatkan pengendalian dan pemantauan penggunaan obat

menyeluruh.

6) Apoteker dapat datang ke ruang penderita untuk konsultasi obat

Kelemahannya sistem UDD, antara lain :

1) Memerlukan tenaga farmasis yang lebih banyak.

2) Administrasi menjadi lebih banyak dan lebih rumit.

3) Menambah biaya (kemasan obat).

Solusi untuk mengatasi kendala dari sistem ini antara lain:

1) Memerlukan tenaga farmasis yang lebih banyak.

2) Menyiapkan tambahan karyawan.

3) Menyederhanakan birokrasi dan administrasi penggunaan obat.

b. Sistem One Daily Dose (ODD)

Sistem distribusi ODD ini merupakan sistem distribusi obat kepada

pasien dalam dosis terbagi untuk penggunaan selama 24 jam. Sistem

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
47
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

ODD di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang diterapkan pada depo

Farmasi Rawat Inap meliputi Paviliun Kenanga, Seruni, ICCU, ICU,

Flamboyan, Soka, Mawar, Dahlia dan Kemuning. Prosedur pelayanan

ODD yang dilakukan adalah:

1) Dokter menulis obat untuk pasien pada CPO (Catatan Penggunaan

Obat) setelah melakukan visite bersama apoteker.

2) Apoteker mencatat kebutuhan obat sesuai instruksi dokter di lembar

KIO.

3) Apoteker menyiapkan obat, kemudian obat tersebut dikelompokkan

masing-masing dalam 1 kemasan dengan etiket yang sesuai dengan

jadwal minum obat (pagi-siang-sore- malam) yang tertera pada resep.

4) Apoteker melakukan bed konseling ke ruang perawatan untuk

memberikan informasi mengenai jadwal minum obat, dan informasi

lain yang dibutuhkan oleh pasien, serta memantau kepatuhan pasien.

5) Farmasis penanggung jawab lalu menyiapkan obat untuk penggunaan

sehari, kemudian di antar ke masing–masing paviliun dan obat

diserahkan ke perawat. Selanjutnya penggunaan obat tetap akan

dipantau oleh perawat.

Kelebihan dari sistem ODD:

1) Mengurangi beban biaya obat.

2) Tenaga kerja yang dibutuhkan lebih sedikit.

3) Administrasi tidak terlalu rumit.

Kelemahan sistem ODD:

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
48
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

1) Adanya pemborosan obat

2) Dapat menimbulkan medication error.

Solusi untuk mengatasi kendala dari sistem ini antara lain dengan

melakukan pengawasan dalam penggunaan obat oleh pasien. Pengawasan

ini dapat dilakukan pada saat distribusi obat.

Tujuan penggunaan sistem ODD antara lain:

1) Pasien membayar obat yang digunakan saja, obat yang tidak

digunakan dapat diretur/ditukar dengan uang, kecuali pada pasien

dengan BPJS, obat langsung menjadi hak instalasi farmasi tanpa

mengembalikan uang kepada pasien.

2) Semua obat yang hendak diberikan kepada seluruh pasien di unit

perawat telah disiapkan oleh farmasi sehingga perawat dapat lebih

fokus untuk melakukan asuhan keperawatan.

3) Adanya sistem pemeriksaan ganda dengan menginterpretasikan resep

dokter dan membuat profil pengobatan pasien oleh apoteker dan

perawat memeriksa obat yang disediakan oleh petugas farmasi

sebelum dikonsumsikan sehingga sistem ini mengurangi kesalahan

dalam penggunaan obat.

4) Menghindari penumpukan obat di ruangan sehingga dapat mengurangi

terjadinya kerusakan dan kehilangan obat di ruangan serta dapat

mengontrol waktu kadaluwarsa obat.

5) Pasien mendapat kemudahan dalam menggunakan obatnya sehingga

kepatuhan pasien dalam meminum obat dapat ditingkatkan.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
49
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

6) Memantau dan mengurangi terjadinya masalah yang timbul dalam

penggunaan obat, misalnya interaksi obat yang digunakan secara

bersamaan serta mengatur aturan pakainya.

7) Mensosialisasikan peran dan fungsi apoteker. Dengan adanya ODD

ini, komunitas lain dapat mengenal dan mengetahui seberapa jauh

peran dan fungsi apoteker dalam suatu rumah sakit. Pemahaman baru

ini dapat menciptakan suatu ruang komunikasi yang baik antar

komunitas dalam rumah sakit, misalnya antar perawat dengan

apoteker atau antar dokter dengan apoteker, sehingga pengobatan

yang rasional dapat secara optimal dicapai oleh rumah sakit.

8) Meningkatkan komunikasi antara apoteker, dokter dan perawat.

9) Meningkatkan kerasionalan pengobatan dengan memaksimalkan efek

terapi dan meminimalkan efek samping obat sehingga dapat

meningkatkan kualitas hidup pasien.

Peran apoteker dalam sistem ODD, antara lain:

1) Pemberian informasi obat kepada pasien, keluarga pasien dan tenaga

kesehatan lainnya.

2) Pemberian konseling kepada pasien, pengaturan cara pakai obat,

terutama untuk obat-obat yang memiliki potensial interaksi.

3) Memonitor efek samping obat pada pasien, sebagai mitra dokter

dalam upaya mengoptimalkan pengobatan yang rasional yang

berorientasi pada pasien.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
50
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

c. Sistem Individual Prescribing (IP)

Sistem peresepan individual (IP) adalah resep yang ditulis oleh

dokter untuk tiap pasien. Sistem individual prescribing merupakan sistem

distribusi obat dan alat kesehatan kepada pasien secara individual dengan

menggunakan resep yang diberikan oleh dokter setelah melakukan visite

ke pasien. Metode IP di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang

diterapkan pada depo Anyelir, depo rawat jalan, depo IGD dan depo

Bougenvil untuk pasien HIV/AIDS.

Alasan di terapkannya IP pada depo Anyelir dan depo IGD karena

obatnya bersifat CITO atau segera. Pada depo Rawat jalan obat diberikan

langsung kepada pasien untuk di bawa pulang. Dan pada depo

Bougenvil, untuk pasien HIV/AIDS dilayani dengan IP karena resep di

depo Bougenvil sedikit dan untuk menjaga kerahasiaan identitas pasien.

Pada prakteknya, mahasiswa PKPA hanya membantu dalam proses

pengecekan dan penyiapan obat untuk pasien. Untuk kegiatan

penyerahan dan KIE dilakukan oleh apoteker penanggung jawab ruangan

dan bisa dilakukan oleh mahasiswa PKPA jika sudah mendapat

persetujuan dari apoteker yang bersangkutan.

Kelebihan dari sistem individual prescribing:

1) Memungkinkan farmasis untuk memeriksa langsung semua pesanan

obat.

2) Memungkinkan farmasis untuk berinteraksi dengan pasien, dokter,

dan perawat.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
51
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

3) Memungkinkan pengawasan pengelolaan obat yang lebih teliti.

4) Memudahkan cara pembayaran obat oleh pasien.

Kelemahan dari sistem individual prescribing:

a) Kemungkinan adanya penundaan untuk mendapatkan obat.

b) JumLah kebutuhan personil di IFRS meningkat.

d. Sistem Persediaan Ruangan (Floor Stock)

Sistem ini digunakan untuk memudahkan pelayanan ruangan-

ruangan perawatan pada kondisi emergency yang memerlukan

penanganan cepat. Persediaannya berupa obat atau alat kesehatan dalam

jumLah dan jenis yang terbatas sesuai dengan kebutuhan setiap ruangan.

Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang, obat yang disediakan

dengan sistem persediaan ruangan adalah obat-obatan life saving dan

alat-alat kesehatan seperti kassa, alkohol, betadin, spuit injeksi,

blood/infuse set dan hypaphix. Obat-obatan ini dikemas dalam suatu

wadah yang diberi check list macam-macam obat yang ada beserta dosis

dan jumLahnya. Hal ini dilakukan untuk memantau penggunaan obat-

obatan tersebut.

Selain itu, juga terdapat catatan farmasis dan catatan perawat

tentang nama pasien dan penggunaan obat tersebut, sehingga dapat

diketahui dengan tepat untuk siapa dan berapa jumLah obat yang

digunakan. Apabila ada obat yang sudah digunakan, maka farmasis akan

melaporkan pada petugas gudang untuk mengganti obat yang sudah

dipakai, sehingga tidak terjadi kekosongan obat tersebut di ruangan.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
52
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Penggunaan obat-obatan dengan sistem persediaan ruangan juga

dikontrol oleh seorang petugas yang akan mendatangi setiap bangsal dan

mengecek secara langsung jenis dan jumLah obat yang ada. Hal ini

dilakukan untuk mencegah kebocoran penggunaan obat dengan sistem

persediaan ruangan.

Kelebihan dari sistem floor stock:

1) Selalu ada persediaan obat-obatan yang siap pakai untuk pasien,

terutama obat-obatan yang sifatnya life saving.

2) Dapat mengurangi kemungkinan adanya pengembalian obat yang

tidak habis terpakai ke instalasi farmasi.

3) Mengurangi jumLah transkrip pesanan obat.

4) Mengurangi jumLah personil farmasis yang dibutuhkan.

Kekurangan dari sistem floor stock:

1) Meningkatkan kemungkinan terjadinya kesalahan obat karena obat

tidak dikaji oleh farmasis.

2) Meningkatkan persediaan obat di pos perawatan sehingga besar

kemungkinan terjadi penumpukan stock obat di pos perawatan.

3) Meningkatkan kemungkinan terjadinya kerusakan obat karena cara

penyimpanan yang tidak benar.

4) Meningkatkan kebutuhan modal tambahan, untuk fasilitas

penyimpanan obat.

5) Mengakibatkan waktu dan beban kerja perawat meningkat karena

harus menangani obat-obatan selain merawat pasien.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
53
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Solusi untuk mengatasi kendala dari sistem ini antara lain:

1) Tempat penyimpanan obat yang satu dengan yang lain diberi pembatas

yang jelas, tulisan nama obat yang jelas dan mudah dibaca sehingga

kemungkinan terjadi kesalahan pengambilan obat dapat diperkecil.

2) Melakukan perencanaan pengadaan yang lebih teliti lagi dan

meningkatkan frekuensi pengecekan stock obat di pos perawatan

sehingga tidak sampai terjadi penumpukan stock obat.

3) Memberikan pelatihan pada perawat tentang cara penyimpanan obat

yang baik.

4) Menerapkan tata laksana pencatatan penggunaan obat.

5) Kontrol obat yang terjadwal di ruang perawatan oleh farmasis.

e. Tahap Use (Pemakaian)

Tahap ini memerlukan peran serta farmasis untuk menyampaikan

informasi obat, agar pasien benar-benar memahami dosis dan cara

penggunaan obat sehingga dapat diperoleh hasil terapi yang optimal. Di

Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang dalam penyerahan obatnya

kepada pasien, baik pasien rawat jalan ataupun rawat inap dilakukan oleh

seorang farmasis. Pada pasien rawat jalan, obat diberikan pada pasien

disertai konseling, informasi, dan edukasi (KIE), terutama pada pasien-

pasien yang memperoleh obat dengan cara pemberian khusus.

Saat ini di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang mulai

diterapkan praktik farmasi klinis dengan menempatkan farmasisnya di

setiap paviliun untuk melakukan visite ke pasien, beberapa bangsal yang

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
54
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

sudah mulai menerapkan farmasi klinik yaitu, Cempaka, Dahlia,

Kenanga, Seruni, Flamboyan, Kemuning, Soka dan Instalasi Khusus

Wijaya Kusuma. Tahapan pemakaian obat meliputi diagnosing dan

prescribing (keduanya dilakukan oleh dokter), dispensing (dilakukan

oleh farmasis). Peran farmasis dalam dispensing mencakup berbagai

kegiatan mulai dari penerimaan resep sampai dengan pemastian

penyerahan obat yang tepat bagi pasien.

C. Kegiatan di Depo Farmasi Rawat Jalan

Depo rawat jalan atau apotik rawat jalan merupakan bagian instalasi

farmasi rumah sakit yang memiliki tugas melayani resep pasien dari poliklinik-

poliklinik rawat jalan baik pasien umum maupun pasien jaminan (BPJS).

Pelayanan depo farmasi rawat jalan Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang ditangani oleh karyawan yang terdiri dari apoteker, asisten apoteker,

juru resep dan pelaksana administrasi. Waktu pelayanannya dimulai pada pukul

08.00-15.30 WIB. Sistem pelayanan resep di Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang menggunakan komputerisasi yang bertujuan untuk mempercepat

waktu pelayanan sehingga waktu tunggu pasien dalam pengambilan obat

menjadi lebih singkat. Sistem ini juga bermanfaat untuk mengumpulkan data

pengeluaran obat, data pasien yang menerima obat, jenis obat yang dilayani,

daftar harga obat untuk menyesuaikan obat dengan kemampuan keuangan

pasien dan mencatat pendapatan depo farmasi rawat jalan di poliklinik.


Penyimpanan obat di depo rawat jalan disusun berdasarkan bentuk

sediaan dan farmakologi secara alfabetis serta dipisahkan jenis obat (generik

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
55
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

dan paten), sesuai persyaratan kondisi penyimpanan dan keamanan yang dapat

menjamin mutu sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai.

Sarana dan prasarana yang digunakan dalam pengelolaan sediaan farmasi, alat

kesehatan dan bahan medis habis pakai adalah ruang pelayanan resep baik

yang racikan maupun non racikan termasuk di dalamnya peralatan racik,

perlengkapan administrasi keuangan dan kearsipan serta tempat penyimpanan

atau gudang. Tujuan penyimpanan tersebut adalah untuk menjamin kualitas

barang dan dipertahankan, barang terhindar dari kerusakan fisik, pencarian

barang mudah dan cepat, barang aman dari pencurian dan mempermudah

pengawasan stok.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
56
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Gambar 4. Alur Pelayanan Depo Obat Rawat Jalan, Pasien Umum, BPJS

PBI dan non PBI

D. Kegiatan di Depo Farmasi IGD


Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan ruang perawatan darurat

selama 24 jam yang terdapat depo untuk melayani pasien gawat darurat dan

pasien rawat inap. Depo IGD melayani pembelian obat-obatan, injeksi, infus

dan alat-alat kesehatan (alkes). Depo IGD merupakan satu-satunya Depo yang

melayani pasien selama 24 jam kerja di Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang yang jam kerja petugasnya dibagi dalam 3 shift. Shift 1: Pukul

07.30-14.00, Shift 2: 14.00-21.00, dan Shift 3: 21.00-08.00 WIB. Depo farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
57
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

IGD buka setiap hari selama 24 jam dan melayani pemberian obat selain untuk

pasien IGD tetapi jugar rawat inap meliputi pasien ruang ICU, dan Pasien

Kamar Bersalin serta IKW pada hari Sabtu.

E. Kegiatan di depo IKW

Instalasi Khusus Wijayakusuma (IKW) merupakan instalasi yang

melayani pasien umum dan pasien BPJS non PBI. Instalasi Kuhusus

Wijayakusuma merupakan instalasi VIP dari Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang. Instalasi ini terdapat Depo Farmasi yang melayani permintaan dan

kebutuhan obat pasien di ruang perawatan IKW dengan sistem penyimpanan

obat berdasarkan jenis sediaan, suhu penyimpanan, efek farmakologis dan

alfabetis. Depo Farmasi IKW di pegang oleh seorang Apoteker dan dibantu

oleh seorang asisten apoteker. Pelayanan yang jalani dalam instalasi khusus

wijayakusuma menggunakan sistem UDD (Unit Dose Dispensing) dan (IP)

Individual Prescribing. Keuntungan sistem UDD adalah mengurangi kesalahan

penggunaan obat, pembayaran obat lebih teliti meminimalkan kredit,

mengurangi persediaan obat di ruangan, dan penggunaan personil di ruangan

lebih efisien. Kerugian sistem UDD adalah beban kerja IFRS lebih besar,

diperlukan waktu pelayanan IFRS 24 jam, diperlukan biaya tambahan untuk

pembelian obat dalam kemasan Unit Dosage dan untuk pengemasan kembali

serta membutuhkan waktu yang lebih.

Alur pelayanan di IKW dimulai dari dokter melakukan visite bersama

dengan Apoteker dan perawat untuk melihat perkembangan terapi pasien lalu

dokter menuliskan resep. Apoteker akan mencatat resep pada masing-masing

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
58
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

CPO (Catatan Penggunaan Obat) tiap pasien lalu penggunaan obat tersebut

disampaikan kepada petugas Depo Farmasi di IKW, kemudian Apoteker dan

Asisten Apoteker akan menyiapkan obat sesuai dengan CPO dan memasukan

tagihan untuk pemakaian obat pada hari itu ke kasir. Obat yang telah disiapkan

akan di antarkan ke masing-masing pasien disertai dengan pemberian informasi

(KIE) oleh apoteker atau asisten apoteker. Untuk obat injeksi diserahkan

langsung kepada pasien yang selanjutnya pasien memberikan ke perawat dan

perawat menyuntikan obat tersebut kepada pasien.

F. Kegiatan di depo Anyelir

Instalasi Farmasi Anyelir merupakan instalasi yang melayani pasien pra

dan pasca persalinan serta anak-anak . Di instalasi ini terdapat Depo Farmasi

yang melayani permintaan dan kebutuhan obat pasien di ruang perawatan

Anyelir dengan sistem penyimpanan obat berdasarkan jenis sediaan, efek

farmakologi dan alfabetis. Pelayanan obat di Depo Farmasi anyelir dilakukan

untuk ruang bersalin dan juga rawat inap anak dengan sistem ODD (One Daily

Dose) dan Individual Prescribing (IP). Depo Farmasi anyelir memberikan

pelayanan obat mulai dari jam 07.30 – 15.30 WIB pada hari senin - kamis, dan

jumat 7.30 – 16.00 WIB. Depo Farmasi anyelir melayani pasien yang berada di

dalam gedung anyelir diantaranya adalah pasien pra dan pasca persalinan serta

anak-anak.

Alur pelayanan resep di Depo Anyelir dimulai dari visite dokter (di ruang

anyelir atas) bersama Apoteker dan perawat untuk melihat perkembangan

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
59
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

terapi pasien, lalu dokter menuliskan resep. Apoteker akan mencatat resep

sesuai dengan yang di tulis dokter di dalam karti instruksi obat, yang kemudian

akan digunakan sebagai acuan dalam penyiapan obat. Obat yang telah

disiapkan diberi etiket dan dikemas ke masing-masing plastik per pasien. Obat

akan di antarkan ke setiap ruangan oleh asisten apoteker, lalu diterima oleh

perawat untuk dilakukan operan obat. Pemberian obat terhadap pasien akan di

lakukan oleh perawat sesuai dengan etiket yang tertera pada obat.

G. Kegiatan di depo CSSD

Unit sterilisasi sentral atau CSSD (Central Sterilization Supply

Departement) merupakan suatu unit pelayanaan bahan dan alat steril bersifat

menunjang kepada unit-unit lain di rumah sakit yang melakukan tindakan

aseptis, pembedahaan, tindakan penyakit menular sebagai penyediaan barang

atau alat steril yang dimulai dari proses perencanaan, pengadaan, pencucian

atau dekontaminasi, pengemasan dan pemberian tanda, sterilisasi, penyimpaan

dan pendistribusian serta memberikan jaminaan mutu kualitas sterilitasnya.

Tujuan didirikan instalasi sterilisasi sentral dan laundry di Rumah Sakit

Umum Kabupaten Tangerang untuk membebaskan bahan-bahan dari kuman

dan sporanya, membunuh kuman-kuman atau mikroorganisme, mencegah

terjadinya infeksi nosokomial (INOS), serta mencegah timbulnya luka infeksi

operasi/tindakan medis lainnya.

Pada awalnya CSSD (Central Sterilization Supply Departement) Rumah

Sakit Umum Kabupaten Tangerang berada di bagian kamar operasi dengan

penggunaan sebatas sterilisasi alat-alat baik itu instrumen, linen, dan bahan

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
60
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

habis pakai lainnya menurut kebutuhan kamar operasi. CSSD (Central

Sterilization Supply Departement) dibentuk atas dasar Kebijakan Departemen

Kesehatan Republik Indonesia yang menyatakan bahwa CSSD sebagai salah

satu upaya dalam pengendaliaan infeksi di rumah sakit. Struktur organisasi

CSSD menurut Rumah Sakit Umum Kabupatan Tangerang:

Gambar 5. Struktur Organisasi CSSD Rumah Sakit Umum Kabupaten


Tangerang

Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Kabupaten Tangerang No.81 Tahun

2004 tentang Tugas Pokok dan Fungsi Rumah Sakit Umum, Instalasi Sterilisasi

Sentral berubah menjadi instalasi sterilisasi dan laundry.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
61
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Gambar 6. Alur dan Denah CSSD

Kegiatan yang dilakukan di CSSD (Central Sterilization Supply

Department)

1. Sterilisasi

Instalasi sterilisasi sentral menerima permintaan steril instrument,

linen dan bahan-bahan habis pakai setiap hari kerja kecuali untuk Instalasi

Bedah Central dan Cito. Metode yang digunakan oleh instalasi sterilisasi

sentral yaitu metode sterilisasi uap panas (Dry Stem) dengan menggunakan

2 buah autoklaf dengan suhu 1210 C dan 1350 C. Instrumentasi yang

disterilkan oleh CSSD yaitu linen OK, linen farmasi untuk kemoterapi,

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
62
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

bahan-bahan steril habis pakai, dan alat-alat untuk operasi. Tata cara proses

sterilisasi sebagai berikut:

a. Petugas pelaksana operasional dan pemeliharaa alat instalasi sterilisasi

sentral menerima :

1) Alat-alat operasi dari petugas administrasi instalasi sentralisasi sentral.

2) Bahan-bahan (kasa, sarung tangan, dan linen) dari petugas pelaksana

sterilisasi sentral yang akan disterilkan ke dalam autoklaf.

b. Petugas memisahkan/mengelompokkan :

1) Alat-alat operasi

2) Linen

3) Kasa dan sarung tangan

c. Petugas memasukkan:

1) Alat-alat operasi ke autoklaf dengan suhu 1350 C selama 1 jam.

2) Linen, kasa dan sarung tangan ke autoklaf dengan suhu 120 0 C selama

1 jam.

d. Selama proses sterilisasi, autoklaf dalam pengawasan petugas.


e. Setelah proses sterilisasi selesai, petugas mengeluarkan alat-alat operasi,

linen, kasa, sarung tangan dari autoklaf kemudian disimpan ke dalam

tempat yang telah disediakan.


f. Petugas pelaksana operasional dan pemeliharaan alat instalasi sterilisasi

sentral menyerahkan alat-alat dan bahan-bahan yang telah steril ke

petugas administrasi instalasi sterilisasi sentral.

Tata cara sterilisasi instrumen dan linen sebagai berikut:

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
63
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

a. Petugas ruangan menuliskan permintaan steril alat-alat operasi atau

linen di buku permintaan sterilisasi yang telah disediakan di masing-

masing ruangan.

b. Petugas ruangan membawa alat-alat operasi dan linen yang sudah

bersih ke instalasi sterilisasi sentral beserta buku permintaan sterilisasi.

c. Instalasi sterilisasi sentral melayani permintaan steril alat-alat

operasi dan linen dari setiap hari kerja.

d. Petugas sterilisasi sentral menerima, memeriksa, dan mencatat, di

buku ekspedisi instalasi sterilisasi sentral dan ditandatangani oleh kedua

belah pihak.

1. Petugas ruangan dapat mengambil instrumen yang sudah steril

dengan menandatangani buku ekspedisi instalasi sterilisasi sentral.

Tata cara sterilisasi bahan-bahan steril habis pakai di instalasi

sterilisasi sentral adalah sebagai berikut:

a. Petugas ruangan perawatan menuliskan permintaan bahan steril habis

pakai dengan menuliskan jenis bahan yang diminta dan jumLah di buku

permintaan sterilisasi (ekspedisi) yang telah disediakan dimasing- masing

ruangan.

b. Petugas ruangan perawatan membawa buku permintaan sterilisasi untuk

diserahkan ke bagian administrasi sterilisasi sentral.

c. Petugas administrasi sterilisasi sentral menerima buku tersebut dan

menandatangani serta menuliskan permintaan sterilisasi untuk diserahkan

ke bagian administrasi sterilisasi sentral.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
64
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

d. Petugas sterilisasi memberikan bahan steril sesuai dengan permintaan.

e. Petugas ruangan menerima bahan steril dan menandatangani di buku

ekspedisi instalasi sterilisasi sentral.

f.Bahan-bahan steril yang telah diberikan dapat bertahan steril dalam waktu

1 minggu, apabila kertas pembungkus tidak dibuka.

g. Jika dalam waktu 1 minggu bahan-bahan steril tidak digunakan maka

dikembalikan ke instalasi sterilisasi sentral untuk disterilkan ulang.

1. Untuk sarung tangan apabila telah dipergunakan dicuci sampai bersih dan

dikeringkan lalu diberikan ke instalasi sterilisasi sentral.

Bahan-bahan habis pakai yang disterilkan di instalasi sterilisasi

sentral antara lain:

a. Kasa yang sudah dibentuk menjadi big gaas (isi 1 buah), gaas (isi 15

buah), kasa (10 buah), kasa infuse (10 buah), dapper (5 buah), dapper

THT (10 buah), rol hass/rol tampon (1 buah), rol hass kecil (1 buah),

spalk.

b. Kapas yang sudah dibentuk menjadi kapas alkohol (10 buah), kapas

savlon (5 buah), kapas tampon (10 buah), bola tampon (1 buah).

c. Sarung tangan, isi kemasan 1 ukuran perpasang dengan ukuran sarung

tangan 6,5/7/7,5/8.

Indikator yang digunakan sebagai parameter kontrol kualitas autoklaf

adalah indikator internal (Autoklaf tip) dan indikator eksternal. Selain itu

juga digunakan Bowie Dick Test Sheet. Strip disisipkan didalam test pack

dimasukkan ke dalam alat sterilisasi pada suhu 134°C (P3) selama 3,5

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
65
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

menit. Uji ini dilakukan sebelum melakukan sterilisasi dengan tujuan

kalibrasi kevakuman alat autoklaf yang ditunjukkan oleh perubahan

intensitas warna pada strip menjadi hitam yang merupakan indikasi

penyebaran uap autoklaf.

Apabila intensitas warna yang ditunjukkan pada Bowie Dick Test

Sheet tidak merata maka dilakukan kalibrasi autoklaf. Untuk mengetahui

hasil sterilisasi dilakukan biological test setiap seminggu sekali di CSSD

bila hasilnya menunjukkan warna ungu berarti sterilisasi alatnya masih baik

dan tidak di tumbuhi oleh jamur, bila fungsi alatnya terganggu maka warna

ungu akan berubah menjadi kekuningan karena ditumbuhi jamur. Test ini

digunakan untuk mengetahui apakah alat sterilisasi ini masih baik atau tidak

untuk digunakan dan dilakukan setiap hari jumat.

2. Laundry

Laundry merupakan salah satu bagian dari instalasi sterilisasi sentral

Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang. Setiap pagi petugas ruangan

mengantar linen-linen kotor seperti laken, stik laken, perlak, gorden, seprei,

dan lain-lain dari seluruh ruang perawatan dan penunjang perawatan dengan

menggunakan kereta dorong ke bagian laundry. Petugas laundry melakukan

pemilahan antara linen infeksius dan non infeksius dan memasukkannya ke

dalam kantong plastik sesuai dengan jenisnya lalu diberi label yang

sebelumnya telah dihitung dan di catat dari ruangan mana linen kotor

tersebut berasal. Linen dipisahkan berdasarkan tingkat kekotorannya.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
66
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Petugas yang bekerja dalam pengelolaan laundry linen menggunakan

pakaian kerja khusus dan dilakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Bagian CSSD Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang belum

mampu melakukan laundry sendiri, sehingga pengelolaan dilakukan oleh

pihak ketiga, yaitu PT.SIMA. Linen bersih yang diterima ditempatkan

didalam lemari berdasarkan ruangan dan jenisnya dan pintu lemari selalu

ditutup. Distribusi dilakukan berdasarkan kartu tanda terima dari petugas

penerima kemudian petugas menyerahkan linen bersih kepada petugas

ruangan sesuai dengan kartu tanda terima.

H. Kegiatan di depo Pengadaan

Pengelolaan sediaan farmasi alat kesehatan dan bahan medis habis pakai

di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang ditangani oleh

Instalasi Farmasi yang meliputi kegiatan seleksi, perencanaan, pengadaan

(termasuk pembelian, produksi dan hibah), penyimpanan, distribusi hingga

penggunaan obat pada pasien. Pengelolaan sediaan farmasi alat kesehatan dan

bahan medis habis pakai ini diharapkan dapat mencapai tujuan yang sudah

direncanakan yaitu menyediakan sediaan farmasi alat kesehatan dan bahan

medis habis pakai yang berkualitas pada saat yang tepat dan sesuai dengan

jumLah yang diperlukan. Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang melayani permintaan sediaan farmasi alat kesehatan dan bahan

medis habis pakai dari sebagian besar bagian di rumah sakit, baik di

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
67
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

laboratorium, klinik maupun di ruang perawatan pasien, hemodialisa, instalasi

bedah, maupun pusat sterilisasi perlengkapan medis.

Pengelolaan obat yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang meliputi:

1. Seleksi (Selection)

Seleksi merupakan tahap awal dalam siklus manajemen obat. Seleksi

di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang dilakukan dengan metode

bottom up yaitu menerima usulan dari dokter penulis resep dengan mengacu

kepada pedoman terapi dan rasionalisasi obat melalui KSM (Komite Staf

Medik).

Tujuan dari seleksi obat yaitu :

a. Meningkatkan penggunaan terapi obat yang rasional,

b. Meningkatkan ketepatan suatu obat dalam pengobatan seorang

pasien,

c. Meningkatkan ketepatan dosis dan bentuk sediaan untuk pasien,

d. Ketersediaan terapi obat yang diseleksi,

e. Meminimalkan efek dan tindakan yang merugikan,

f. Menghindari interaksi dengan terapi lain, misal dengan makanan, uji

laboratorium dan faktor lingkungan.

Manfaat seleksi obat yaitu:

a. Memudahkan

apoteker untuk memantau pemakaian dan evaluasi obat,

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
68
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

b. Menghindari

tumpang tindih penggunaan anggaran,

c. Kesamaan persepsi

antara pemakai obat dan penyedia anggaran,

d. Estimasi kebutuhan

obat lebih tepat serta koordinasi antara penyedia anggaran dan pemakai

obat,

e. Mengoptimalkan

pemanfaatan dana pengadaan obat.

Selain itu juga mengacu pada formularium yang direvisi setiap 2 tahun

sekali. Peranan besar dalam proses seleksi ini yaitu Komite Farmasi dan

Terapi (KFT). Seleksi obat di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang

berdasarkan pada kebutuhan obat terkait prevalensi penggunaan obat

tertinggi di daerah Tangerang dan sekitarnya, dengan tetap

mempertimbangkan Efektif, Aman, Rasional, Murah, dan Bermutu, dan juga

berdasarkan pada daftar-daftar obat yang tersedia untuk pasien dengan

jaminan kesehatan yang dilayani di Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang.

2. Procurement

a. Perencanaan

Perencanaan adalah proses pemilihan jenis, jumLah, harga sediaan

farmasi sesuai kebutuhan dan anggaran untuk menghindari kekosongan

dengan menggunakan metode kombinasi. Tahap ini merupakan tahap

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
69
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

yang penting untuk menyesuaikan antara kebutuhan dan pengadaan

sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai serta dana

yang tersedia dalam menunjang pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Kekacauan dalam suatu siklus manajemen secara keseluruhan akan

terjadi, mulai dari pemborosan dalam penganggaran, membengkaknya

biaya pengadaan dan penyimpanan, tidak tersalurkannya obat sehingga

obat bisa rusak atau bahkan kadaluarsa apabila lemah dalam

perencanaan.

Indikator-indikator yang diperhatikan dalam kegiatan perencanaan

sediaan farmasi antara lain:

1) Persentase kesesuaian antara pembelian dengan perencanaan awal

tahunan.

2) Persentase dana pembelian dengan perencanaan anggaran.

3) Persentase kesesuaian perencanaan terhadap formularium.

Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang

melakukan perencanaan menggunakan metode konsumsi, yang

didasarkan pada data konsumsi dengan mengoreksi pola penyakit,

perubahan pola peresepan dan mengikuti perkembangan perubahan pola

penyakit pada tahun sebelumnya. Perencanaan di Rumah Sakit Umum

Kabupaten Tangerang dilakukan untuk periode 1 tahun (pada

pertengahan tahun) yang disebut Rencana Bisnis Anggaran (RBA).

Apoteker sebelumnya mengumpulkan data-data seperti jumLah sisa

stok seluruh sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
70
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

pada tahun tersebut, data konsumsi obat per bulan, standar pelayanan

medik (standar terapi) serta dana yang tersedia untuk pengadaan sediaan

farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai guna mencegah

penumpukan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis

pakai. Seluruh data yang dikumpulkan diolah kemudian hingga diperoleh

daftar kebutuhan obat selama 1 tahun yang kemudian dituangkan dalam

RBA.

Evaluasi perencanaan di Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang, tergantung dari anggaran yang tersedia dan dari data

penggunaan obat sebelumnya dikarenakan Rumah Sakit Umum

Kabupaten Tangerang bersifat Badan Layanan Unit Daerah (BLUD) yang

artinya keuangan di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang ini

dikelola sendiri oleh pihak rumah sakit.

b. Pengadaan

Pengadaan merupakan proses penyediaan obat yang dibutuhkan di

rumah sakit dan untuk unit pelayanan kesehatan lainnya yang diperoleh

dari pemasok eksternal melalui pembelian dari distributor atau pedagang

farmasi. Pengadaan sediaan farmasi alat kesehatan dan bahan medis

habis pakai termasuk dalam siklus pengelolaan obat, arti lain pengadaan

merupakan usaha dan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan operasional

yang telah ditetapkan dalam fungsi perencanaan, penentuan kebutuhan

maupun penganggaran.. Pengadaan barang di Rumah Sakit Umum

Kabupaten Tangerang mengacu pada PerPres No. 70 tahun 2012.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
71
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Organisasi ada 4 yaitu Pengguna anggaran (Direktur Rumah Sakit Umum

Kabupaten Tangerang), Pejabat Pembuat Komitmen/PPK, Pejabat

Pengadaan dan Panitia Penerimaan Hasil Pekerjaan (PPHP). Periode

pengadaan sediaan farmasi di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang

secara umum setiap 1-2 minggu tergantung obat yang dipilih dan bentuk

sediaan serta sumber daya keuangan yang tersedia. Pengadaan barang

(obat dan alat kesehatan) di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang

dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:

1) Pembelian

a) Pengadaan Langsung ke PBF

Pengadaan langsung ke satu PBF yang dilakukan untuk obat

dan alat kesehatan rutin, Pemilihan PBF yang kompeten dilakukan

oleh Pejabat Pengadaan yang bertugas memilih supplier dan

negosiasi harga. Peran farmasis di bagian pejabat pengadaan antara

lain melakukan seleksi terhadap distributor dan pemilihan obat

dalam rangka pemenuhan sediaan farmasi, alat kesehatan dan

bahan medis habis pakai serta melakukan pemesanan sediaan

farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai yang

dibutuhkan. Dalam memilih distributor, ada beberapa faktor yang

menjadi pertimbangan antara lain: banyaknya kebutuhan akan obat

yang dibeli dan sifat kebutuhan obat yang akan dibeli (cito atau

biasa). Pemilihan sumber pembelian juga dipertimbangkan harga

yang ditawarkan, kecepatan pengiriman, kualitas pengiriman

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
72
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

(untuk menjaga agar obat tetap dalam kualitas baik) dan kualitas

pelayanan. Seleksi ini dilakukan oleh pihak RS dengan mencari

data distributor yang legal, berbadan hukum dan memiliki Nomor

Pokok Wajib Pajak (NPWP). Distributor yang dipilih adalah yang

memberikan jaminan legalitas dan kualitas barang, baik secara fisik

maupun dokumentasi yang berupa sertifikat analisis atau Material

Safety Data Sheet (MSDS), memberikan jaminan kepastian

keamanan sediaan farmasi, pelayanan dan fasilitas harga terbaik

dengan harga kompetitif, ketersediaan barang lengkap dan pasti

(repeat stock).

Alur Pengadaan dan Distribusi Barang Rumah Sakit Umum

Kabupaten Tangerang dapat dilihat pada gambar:


Kepala instalasi farmasi Diajukan ke Kepala pelayanan Kepala bagian
membuat SPPB penunjang medik untuk keuangan
dibuatkan BPB

Direktur
PFT Menandatangani

PPK
User menganalisa
(dokter)
Pasien
Pejabat Pengadaan
PBF
(membuat SPPH)

Diperiksa oleh PBF


Panitia Penerima (penawaran harga)
Depo Hasil Pekerjaan
farmasi (PPHP) Pejabat Pengadaan
(Membuat Berita Acara Negosiasi)

PPPB →
Barang PPK
Gudang datang (membuat SPK)
(Gudang(

Pembuatan SP oleh PPK


untuk PBF

Gambar 7. Alur Pengadaan Barang Rumah Sakit Umum


Kabupaten Tangerang

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
73
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Keterangan :

SPPB : Surat Permohonan Pengadaan Barang

BPB : Bon Permohonan Biaya

PPK : Pejabat Pembuat Komitmen

PBF : Pedagang Besar Farmasi

SPPH : Surat Permohonan Penawaran Harga

SPK : Surat Perintah Kerja

SP : Surat Pesanan

PPHP : Panitia Penerima Hasil Pekerjaan

PFT : Panitia Farmasi dan Terapi

Alur pengadaan barang secara pangadaan langsung dilakukan

dengan cara kepala instalasi farmasi membuat Surat Permohonan

Permintaan Barang (SPPB) yang dibuat sesuai dengan kebutuhan

dan ditandangani oleh Kepala Instalasi Farmasi yang menjadi dasar

untuk membeli barang. SPPB tersebut berisi nama produk, stok

barang yang ada, jumLah yang diminta dan harga produk. SPPB

diberikan ke kepala bidang pelayanan penunjang medis untuk di

pilih dan di cek kesesuaian antara SPPB dengan Rencana Bisnis

Anggaran (RBA). Jika sudah sesuai, maka akan dibuatkan Bon

Permohonan Biaya (BPB). BPB berisi nama barang, jumLah

barang yang diminta, harga satuan dan harga total. Kemudian

ditandatangani oleh kepala bidang (sebagai pembuat BPB).

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
74
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Selanjutnya diberikan ke bagian keuangan (sebagai pemeriksa)

untuk mengecek ada tidaknya anggaran. Jika sudah sesuai maka

akan ditandatangani oleh kepala bagian keuangan, lalu

ditandatangani oleh direktur Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang (sebagai pengguna anggaran). Selanjutnya meminta

permohonan ke Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Setelah

disetujui maka diserahkan ke Pejabat Pengadaan.

Masing-masing anggota Pejabat Pengadaan akan memegang

BPB sesuai peran masing-masing yang selanjutnya akan dibuat

SPPH (Surat Permohonan Penawaran Harga) yang berisi nama

barang, spesifikasi, satuan, jumLah dan masa berlaku. SPPH

tersebut dikirim melalui fax atau dapat diberikan langsung ke PBF.

Selanjutnya PBF akan membuat penawaran harga yang berisi jenis

atau nama barang, spesifikasi, satuan, jumLah dan harga

penawaran. Kemudian akan dicek kesesuaian dengan BPB oleh

anggota Pejabat Pengadaan. Jika sudah sesuai, maka Pejabat

Pengadaan akan membuat berita acara negosiasi, yang

ditandatangani oleh Pejabat Pengadaan dan PBF.

Berita acara penawaran tersebut diserahkan kepada PPK yang

kemudian akan dibuat Surat Perintah Kerja (SPK) dan Surat

Pesanan (SP) ke PBF. Kemudian barang dikirim oleh PBF. Barang

yang datang langsung diantar ke gudang lalu dicek kesesuaian

antara faktur, fisik dan SPK baik jumLah dan nama barang oleh

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
75
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

bagian penerima dan pemeriksa barang. Jika sesuai, maka akan

ditandatangani oleh Panitia Penerima dan Pemeriksa Barang.

Kemudian PBF akan menukarkan faktur ke PPK dengan membawa

berkas-berkas seperti kwitansi, faktur pajak dan berita acara

penerimaan barang. Kemudian akan dicek kelengkapan berkas

tersebut oleh PPK. Jika sudah sesuai, maka akan diserahkan ke

bagian keuangan untuk dilakukan pembayaran ke PBF.

Sistem pengadaan dengan cara pengadaan langsung

memberikan manfaat bagi IFRS, antara lain:

1) Lebih mudah dan lebih sederhana.

2) Mengurangi risiko terjadinya penumpukan obat di gudang.

3) Menghindari kadaluarsa obat karena penyimpanan yang

lama.Obat dan sediaan farmasi alat kesehatan dan bahan medis

habis pakai yang dibutuhkan dapat diperoleh lebih cepat.

b) Pengadaan dengan E-PURCHASING

E-purchasing adalah cara pembelian barang yang sudah

dimuat dalam sistem catalog elektronik (E- catalog) sesuai dengan

perndang-undangan yang berlaku. Penerapan E-Procurement

bertujuan untuk :

1) Meningkatkan transparansi/ keterbukaan dalam proses

pengadaan barang
2) Meningkatkan persaingan yang sehat dalam rangka penyediaan

pelayanan publik dan penyelenggaraan pemerintahan yang baik

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
76
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

3) Meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam pengelolaan proses

pengadaan barang

c) Produksi

Pengadaan barang dengan cara produksi dilakukan oleh

Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang dengan tujuan untuk

membantu dan memperlancar permintaan barang. Produksi yang

dilakukan apabila tidak tersedia dipasaran, kemasan lebih kecil dan

dosis yang tersedia dipasaran tidak sesuai kebutuhan, seperti

produksi antiseptik tangan (Hands Rub) yang lebih murah dan

dibutuhkan dalam jumLah banyak, karena semua ruangan

diwajibkan menyediakan antiseptik tangan tanpa bilas untuk

mencegah infeksi. Kandungan Hands Rub dalam 100 mL antara

lain: alkohol 70% sebanyak 94,83 mL, H2O2 3% sebanyak 4,17 mL,

gliserin 1 mL dan pewangi secukupnya. Selain itu juga dilakukan

pengenceran dan pencampuran obat-obat sitotoksik untuk

kemoterapi dan pengenceran cairan KCl.

Bagian produksi bertanggung jawab atas persediaan obat-

obat yang diperlukan farmasi rawat inap, farmasi rawat jalan

maupun depo-depo farmasi lainnya yang membutuhkan, sehingga

mengurangi waktu tunggu pelayanan obat pasien terutama obat

racikan. Produksi yang dilakukan di Rumah Sakit Umum

Kabupaten Tangerang dilakukan sebagai stok persediaan obat untuk

meminimalisasi masalah-masalah yang mungkin terjadi terkait

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
77
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

ketersediaan obat. Produksi di Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang dilakukan sesuai permintaan dan kebutuhan Rumah

Sakit Umum Kabupaten Tangerang terhadap sediaan farmasi alat

kesehatan dan bahan medis habis pakai yang diproduksi, sehingga

tidak ada periode produksi yang tetap.

d) Dropping (sumbangan/ hibah)

Pengadaan barang di Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang juga ada yang berasal dari sumbangan Kementerian

Kesehatan (KEMENKES) berupa obat rutin HIV, alur permintaan

dengan cara membuat laporan penggunaan obat dan obat yang

tersisa kepada KEMENKES. Selain itu, ada sumbangan dari Dinas

Kesehatan Kabupaten Tangerang berupa obat vaksin, alur

permintaan dengan cara membuat surat permohonan meminta

vaksin ke Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang dengan

mencantumkan jumLah sisa vaksin dan jumlah yang diminta.

Sumbangan obat ini sangat dibutuhkan untuk peningkatan kualitas

pelayanan dan rasional dilihat dari sisi farmasi.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
78
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

BAB IV
PEMBAHASAN

A. Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang

Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang merupakan rumah sakit

pemerintah yang berpredikat sebagai rumah sakit tipe B pendidikan. Rumah

Sakit Umum Kabupaten Tangerang dikatakan sebagai rumah sakit pendidikan

berdasarkan Kepmenkes RI No: HK.02.03/I/0501 2013 tanggal 18 Maret 2013

tentang Penetapan Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang sebagai Rumah

Sakit Pendidikan Satelit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Serta

adanya hubungan kerja sama rumah sakit dengan beberapa universitas sebagai

tempat pendidikan dan pelatihan bagi tenaga medis dan paramedis untuk

pengembangan ilmu pengetahuan bagi calon dokter, dokter gigi, apoteker,

kebidanan, dan keperawatan.

Rumah sakit ini disebut sebagai rumah sakit pemerintah karena

dimiliki dan diselenggarakan oleh pemerintah daerah tingkat Kabupaten.

Dengan Keputusan Bupati Tangerang No.445/Kep.113-HUK/2008 RSU

Kabupaten Tangerang ditetapkan sebagai penyelenggara Pola Pengelola

Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD) Kabupaten Tangerang

dengan status BLUD penuh dan pada tahun 2011 memperoleh sertifikat

akreditasi 16 bidang pelayanan.

Rumah sakit ini dipimpin oleh seorang direktur dan wakil direktur

yang berasal dari tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi dalam

manajemen administrasi rumah sakit. Pelayanan kesehatan spesialis Rumah

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
79
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Sakit Umum Kabupaten Tangerang sebanyak 29 macam yakni bedah, penyakit

dalam, anak, obgyn, radiologi, anesthesi, patologi klinik, jiwa, mata, THT,

kulit dan kelamin, jantung, paru, saraf, bedah ortopedi, urologi, patologi

anatomi, rehabilitasi medik, bedah plastik, bedah saraf, gizi, akupuntur,

okupasi kerja, bedah mulut, ortodonti, prostodonti, konservasi gigi, periodonti,

penyakit mulut.

Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang telah membentuk Komite

Farmasi dan Terapi (KFT) yang bertujuan untuk mendapatkan penggunaan

obat yang rasional serta mengembangkan hubungan kerja sama antara sesama

bidang kesehatan, dimana masa kerja komite ini selama 3 tahun dan salah satu

tugas yang paling penting dari komite ini adalah menyusun formularium

rumah sakit untuk membantu pengelolaan dan penggunaan obat di instalasi

farmasi rumah sakit. Penyusunan formularium rumah sakit berdasarkan atas

kesepakatan dalam rapat dari masing-masing utusan tiap staf medik fungsional

(SMF) untuk digunakan sebagai acuan rumah sakit dalam menjamin

penggunaan obat yang aman dan rasional, sehingga obat yang digunakan

adalah obat yang tertera dalam formularium Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang dan formularium tersebut akan dievaluasi dan direvisi setiap dua

tahun sekali dengan memperhatikan usulan dari staf medik fungsional.

Formularium di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang terakhir

diterbitkan pada tahun 2015.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
80
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

B. Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang

Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang

merupakan suatu departemen atau unit pelayanan fungsional di bidang

penunjang medis yang dipimpin oleh seorang apoteker dan dibantu oleh

beberapa orang apoteker yang bertanggung jawab atas seluruh pelayanan

kefarmasian yang terdiri atas pelayanan paripurna mencakup perencanaan,

pengadaan, produksi, penyimpanan perbekalan kesehatan/sediaan farmasi,

dispensing obat berdasarkan resep bagi penderita rawat inap dan rawat jalan,

pengendalian mutu dan pengendalian distribusi dan penggunaan seluruh

perbekalan kesehatan di rumah sakit serta pelayanan farmasi klinik umum dan

spesialis mencakup pelayanan langsung pada pasien. yaitu dengan

menyelenggarakan sediaan farmasi, pengelolaan obat, pendistribusian obat,

pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat dan pelayanan

farmasi klinik dan non klinik yang berorientasi kepada pasien serta kegiatan

lain seperti pendidikan dan penelitian.


Depo Farmasi yang terdapat di Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang adalah Depo Farmasi Rawat Jalan, Depo Farmasi Rawat Inap,

Depo Farmasi IGD, Depo Farmasi Instalasi Khusus Wijaya Kusuma (IKW),

Depo Farmasi Anyelir, Depo Farmasi OK depan dan Depo Farmasi OK

belakang dan Depo Farmasi cathlab.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
81
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

1. Depo Farmasi Rawat Jalan


Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang

melayani pasien-pasien khususnya rawat jalan yang buka setiap hari Senin s/d

Kamis jam 07.30-15.30 WIB dan Jumat jam 07.30-16.00 WIB.


Depo Farmasi rawat jalan merupakan Depo Farmasi yang melakukan

pelayanan resep yang melayani resep dari pasien UMUM, pasien BPJS PBI

dan non PBI, serta pasien dari perusahaan-perusahaan yang bekerja sama

dengan Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang.


Kegiatan pelayanan di Depo Farmasi Rawat Jalan Rumah Sakit

Umum Kabupaten Tangerang dilakukan oleh apoteker dan asisten apoteker

yang bertugas terhadap kegiatan pelayanan yang meliputi penyiapan obat

untuk pasien, penyerahan obat yang sudah disiapkan, monitoring resep, serta

pemberian KIE.
Pelayanan di Depo Farmasi Rawat Jalan Rumah Sakit Umum

Kabupaten Tangerang telah menggunakan sistem komputerisasi, terutama

yang berkaitan dengan harga dan ketersediaan obat. Hal ini untuk

mempermudah dan mengefektifkan waktu serta mempercepat waktu

pelayanan bagi pasien dan bermanfaat untuk mengumpulkan data penerimaan

serta pengeluaran obat, data pasien yang menerima obat, jenis obat yang

dilayani, daftar harga obat dengan menyesuaikan daftar obat dengan

kemampuan keuangan pasien serta mencatat pendapatan tiap harinya.


Persediaan obat dan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis

habis pakai di Depo Farmasi Rawat Jalan didistribusikan dari Instalasi

Farmasi Rumah Sakit berdasarkan permintaan yang di input melalui SIMRS.

Untuk permintaan dilakukan setiap hari, namun terkadang ada penambahan

barang yang diminta diluar jadwal permintaan dikarenakan kurangnya stok

obat yang diluar perkiraan. Sistem distribusi yang digunakan pada Depo

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
82
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Farmasi Rawat Jalan yaitu individual prescribing (IP). Keuntungan

penggunaan sistem IP ini adalah memungkinkan resep dikaji oleh IFRS,

pengendalian obat oleh IFRS lebih mudah dan pencegahan terjadinya

interaksi obat. Sedangkan kerugiannya adalah membutuhkan Sumber Daya

Manusia lebih banyak untuk IFRS.


Sistem IP maksudnya adalah resep diserahkan langsung oleh dokter

ke pasien yang mendapatkan pengobatan rawat jalan dari dokter poliklinik di

Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang. Resep individual ini selanjutnya

akan dibawa oleh pasien ke Depo Farmasi Rawat Jalan, dimana setelah

menyerahkan resep ke petugas administrasi, pasien akan diberikan nomor

antrian, kemudian dilakukan skrining resep, konfirmasi harga obat atau alkes

hanya ditujukan kepada pasien umum. Setelah harga dikonfirmasikan kepada

pasien dan pasien setuju maka obat disiapkan, diberi etiket, lalu dilakukan

pengecekan ulang antara obat dan resep oleh apoteker, kemudian pasien

dipanggil dan diberi informasi yang diperlukan berkaitan dengan obat pasien

tersebut.
Penyimpanan obat dibedakan berdasarkan obat generik, paten, sifat

dan karakteristik serta bentuk sediaan dari masing-masing obat yang disusun

menurut abjad dan farmakologi. Untuk keluar masuknya obat dikontrol

dengan sistem komputerisasi, agar dapat diketahui selalu stok obat didalam

Depo Farmasi. Sistem kontrol ketersediaan barang yang dilakukan di Depo

Farmasi Rawat Jalan adalah dengan melakukan stok opname semua

persediaan sediaan farmasi alat kesehatan dan bahan medis habis pakai setiap

hari, dan dilaporkan ke IFRS untuk disesuai kan dengan data yang ada.
2. Depo Farmasi Rawat Inap

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
83
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Pelayanan resep Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang untuk

pasien rawat inap dilaksanakan di Depo Farmasi Rawat Inap yang

melayani Paviliun Cempaka, Dahlia, Flamboyan, Kemuning, Soka, Seruni,

Kenanga dan Mawar, Edelweis. Pola pelayanan resep menggunakan sistem

distribusi obat secara One Daily Dose (ODD) diberikan untuk pasien yang

masih dirawat inap, dimana pemberian obat untuk pemakaian sehari dan

resep individu untuk pasien rawat inap yang diperbolehkan pulang.

Keuntungan sistem ODD adalah mengurangi beban kerja IFRS,

meminimalkan jumlah obat, mengurangi kesalahan penggunaan obat.

Sedangkan kerugiannya adalah membutuhkan personil IFRS yang lebih

banyak, obat yang ada dalam ruangan persediaan obat dapat hilang.

Tugas dari apoteker ruangan yaitu membantu koordinator

pelayanan dalam menjalankan pelayanan sediaan farmasi alat kesehatan

dan bahan habis medis pakai dan pelayanan farmasi klinik dimana

apoteker melakukan visite bersama dokter dan perawat untuk mengecek

kelengkapan resep, mengecek ulang obat dan alat kesehatan yang sudah

disiapkan, menyerahkan obat dan alat kesehatan dengan disertai informasi

yang diperlukan, melakukan konseling pada pasien yang dianggap

memerlukan, dan menjaga hubungan dengan dokter, perawat dan tenaga

kesehatan lainnya.

Depo Farmasi Rawat Inap melayani permintaan obat dimulai jam

07.30 – 16.00 WIB. Pengadaan sediaan farmasi alat kesehatan dan bahan

medis habis pakai di Depo Farmasi Rawat Inap dilakukan setiap hari yaitu

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
84
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

dengan mencatat permintaan sediaan farmasi alat kesehatan dan bahan

medis habis pakai melalui SIMRS. Penyimpanan sediaan farmasi alat

kesehatan dan bahan medis habis pakai di Depo Farmasi Rawat Inap

berdasarkan alfhabetis, farmakoterapi, dan bentuk sediaan.


3. Depo Farmasi IGD (Instalasi Gawat Darurat)
Pelayanan Depo Farmasi IGD dilakukan pada pasien-pasien yang

gawat darurat selama 24 jam. Depo Farmasi IGD merupakan salah satu

Depo Farmasi yang melayani penyediaan obat dan alkes untuk pasien

umum, BPJS PBI dan Non-PBI serta PT. Depo Farmasi IGD dikelola oleh

seorang asisten apoteker (AA) dan Administrasi. Sistem distribusi obat ke

pasien menggunakan sistem kombinasi Individual Prescribing (IP) dan

ODD untuk pasien ICU. Depo Farmasi IGD buka 24 jam, untuk melayani

pembelian alkes dan obat-obatan. Depo Farmasi IGD terletak di dalam

instalasi gawat darurat dan dijaga oleh seorang apoteker, petugas

administrasi dan asisten apoteker (AA) untuk shift pagi. Sedangkan untuk

shift sore dan malam hanya dijaga oleh administrasi dan asisten apoteker.
Pelayanan Depo Farmasi IGD yaitu : Pasien dari IGD sendiri dan

ICU atas meliputi : Pavaliun Anyelir A, Anyelir B, Kamar Bersalin, Aster,

Perinatologi A, Perinatologi B, NICU, Mawar, Kenanga, Seruni,

Kemuning, Flamboyan, Dahlia dan Cempaka yang dilayani pada jam

15.30-07.00 WIB.
4. Depo Farmasi IKW (Instalasi Khusus Wijayakusuma)
Instalasi Khusus Wijayakusuma (IKW) merupakan instalasi yang

melayani pasien umum dan pasien BPJS non PBI. Instalasi ini merupakan

instalasi VIP dari Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang. Di instalasi

ini terdapat Depo Farmasi yang melayani permintaan dan kebutuhan obat

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
85
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

pasien di ruang perawatan IKW dengan sistem penyimpanan obat

berdasarkan jenis sediaan, suhu penyimpanan, efek farmakologi dan

alfabetis. Depo Farmasi IKW dipegang oleh seorang Apoteker dibantu

oleh asisten apoteker. Pelayanan pasien di IKW ini menggunakan sistem

UDD (Unit Dose Dispensing) dan Individual Prescribing (IP).

Keuntungan sistem UDD adalah mengurangi kesalahan penggunaan obat,

pembayaran obat lebih teliti dan meminimalkan kredit dan mengurangi

persediaan obat di ruangan. Sedangkan kerugian sistem UDD adalah

beban kerja IFRS lebih besar, diperlukan waktu pelayanan IFRS 24 jam,

diperlukan biaya tambahan untuk pembelian obat dalam kemasan Unit

Dosage dan untuk pengemasan kembali.


Alur pelayanan di IKW mulai dari dokter melakukan visite

bersama dengan perawat dan apoteker untuk melihat perkembangan terapi

pasien lalu dokter menuliskan resep. Apoteker akan mencatat resep di

masing-masing CPO (Catatan Penggunaan Obat) tiap pasien lalu catatan

penggunaan obat tersebut disampaikan kepada petugas Depo Farmasi di

IKW, kemudian apoteker dan asisten apoteker akan menyiapkan obat

sesuai CPO dan memasukkan tagihan untuk pemakaian obat pada hari itu

ke kasir. Obat akan diantarkan langsung ke pasien disertai pemberian

informasi (KIE) oleh apoteker atau asisten apoteker. Untuk obat injeksi

diserahkan langsung kepada pasien yang selanjutnya pasien akan

memberikannya ke perawat dan perawat akan menyuntikkan obat tersebut

kepada pasien.
5. Depo Farmasi Anyelir

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
86
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Pelayanan obat di Depo Farmasi anyelir dilakukan pada ruang

bersalin dan juga rawat inap anak dengan sistem Individual Prescribing

(IP). Depo Farmasi anyelir memberikan pelayanan obat mulai dari jam

07.30 – 15.30 WIB pada hari senin – kamis, dan jumat mulaidari jam

07.30-16.00. Depo Farmasi anyelir melayani pasien yang berada di dalam

gedung anyelir diantaranya adalah pasien pra dan pasca persalinan dan

anak – anak.

6. Depo Farmasi OK (Kamar Operasi)


Depo Farmasi OK terdiri dari OK Cito dan OK belakang. OK Cito

digunakan untuk operasi yang bersifat cito (segera) dan OK belakang (OK

Central) digunakan untuk operasi yang bersifat terencana.


Depo Farmasi OK menyediakan obat-obatan dan alat-alat

kesehatan. Sistem pendistribusiannya menggunakan sistem Individual

Prescribing (IP).
Depo Farmasi ini setiap harinya dilakukan pemantauan atau

pengecekan kelengkapan obat-obatan dan alat-alat kesehatan agar

persediaannya lengkap sehingga tidak mengganggu jalannya operasi yang

dilakukan oleh para dokter.


a. Depo Farmasi OK Depan
Depo Farmasi OK depan ini melayani pasien selama 24 jam.

Depo Farmasi OK cito melayani alat kesehatan dan injeksi yang akan

digunakan dalam operasi dan petugas yang bertanggung jawab di Depo

Farmasi OK cito terdiri dari seorang asisten apoteker.


b. Depo Farmasi OK Belakang
Depo Farmasi OK belakang/central menyediakan obat-obatan

dan alat-alat kesehatan untuk operasi yang bersifat terencana dan

terjadwal.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
87
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

C. Kegiatan Farmasi Klinik


Pelayanan farmasi klinik adalah pelayanan farmasi yang diberikan

sebagai bagian dari perawatan pasien melalui interaksi yang profesional

dengan pelayanan kesehatan lainnya yang secara langsung terkait dengan

perawatan pasien. Berikut ini adalah kegiatan farmasi klinik di Rumah Sakit

Umum Kabupaten Tangerang :

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
88
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

1. Visite
Visite merupakan suatu kegiatan yang dilakukan bersama dokter

dan perawat atau dapat juga dilakukan sendiri (visite mandiri) dengan

tujuan untuk mengecek kondisi/keadaan dari pasien yang dirawat.


Masih minimnya jumlah apoteker yang ada di Rumah Sakit Umum

Kabupaten Tangerang sehingga menyebabkan pelayanan yang diberikan

kepada pasien belum optimal sebab 1 (satu) orang apoteker masih

melayani melebihi 30 (tiga puluh) tempat tidur. Hal ini belum memenuhi

persyaratan seperti yang tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia No. 58/MENKES/SK/X/2014 tentang Standar

Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit yang menyatakan bahwa idealnya

visite dilakukan oleh 1 (satu) apoteker per 30 (tiga puluh) tempat tidur

menggantikan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.

1333/MENKES/SK/XII/1999.
Kegiatan visite dilakukan oleh dokter bersama apoteker dan

perawat ke ruang rawat inap telah dilakukan di Rumah Sakit Umum

Kabupaten Tangerang. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan informasi

penggunaan obat, memantau penggunaan obat agar obat yang diberikan

kepada pasien tepat waktu dan mengecek jumlah obat yang diberikan

kepada pasien untuk menghindari pemberian obat ganda.


2. Pelayanan Informasi Obat (PIO)
Pelayanan informasi obat di Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang ini telah berjalan cukup optimal, dimana pelayanan ini

dilakukan kepada pasien dan rekan profesi kesehatan (dokter maupun

perawat) yang dapat dilayani segera atau melalui telepon dalam waktu 24

jam. Pertanyaan yang diajukan dapat secara lisan maupun tulisan. Selain

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
89
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

menjawab pertanyaan mengenai obat, pelayanan informasi obat juga

menerbitkan/ leaflet dan brosur.


3. Konseling

Pelaksanaan konseling di rawat inap belum berjalan dengan

optimal karena masih terbatasnya apoteker yang ada di Rumah Sakit

Umum Kabupaten Tangerang. Berbeda dengan rawat jalan, di rawat jalan

konseling sudah berjalan namun belum sesuai dengan standar yaitu

konseling harus dilakukan di ruangan khusus, bersifat pribadi, dan

tertutup. Ruangan konseling ini ada tetapi karena masih dalam proses

perbaikan sehingga konseling masih belum berjalan secara maksimal. Pada

rawat inap selain konseling juga mulai dilakukan pemantauan terapi obat

(PTO) dan monitoring efek samping obat (MESO). Konseling ini

ditujukan pada pasien yang kurang mengerti tentang cara penggunaan obat

maupun kepada pasien yang baru pertama kali menggunakan obat tersebut

misalnya penggunaan insulin dan supposituria. Umumnya, konseling

ditujukan untuk pasien dengan penyakit menahun seperti pasien TBC dan

Diabetes.

4. Penanganan Obat Sitotoksik


Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang telah memiliki ruangan

khusus untuk menangani obat sitotoksik dan telah melaksanakan

penanganan obat sesuai dengan standar farmasi dan cara penanganan obat

yang baik.
Petugas yang menangani obat sitotoksik di Rumah Sakit Umum

Kabupaten Tangerang adalah apoteker dan asisten apoteker yang telah

mendapatkan pelatihan penanganan obat sitotoksik secara khusus di

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
90
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Rumah Sakit Darmais sebab Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang

memberikan kesempatan kepada tenaga farmasis yang terpilih mengikuti

pelatihan dan pendidikan tersebut.


Petugas yang terlibat langsung dalam pencampuran obat sitotoksik

harus melakukan medical check up seperti pemeriksaan darah lengkap,

fungsi hati maupun ginjal yang dilakukan setiap 6 bulan sekali pada awal

sebelum bertugas dan setelah bertugas untuk mengetahui apakah petugas

tersebut terpapar obat sitotoksik.


5. Pengkajian Resep
Pengkajian resep yang diterima dilakukan mulai dari persyaratan

administrasi, persyaratan farmasetik dan persyaratan klinis baik untuk

pasien rawat jalan maupun pasien rawat inap.


a. Persyaratan administrasi meliputi: nama, umur, jenis kelamin dan berat

badan pasien, nama, nomor izin, alamat dan paraf dokter, tanggal

resep, unit/ruangan asal pasien. Persyaratan farmasetik meliputi:

bentuk dan kekuatan sediaan, dosis dan jumlah obat, stabilitas dan

ketersediaan, aturan, cara dan teknik penggunaan.


b. Persyaratan klinis meliputi: ketepatan indikasi, dosis dan waktu

penggunaan obat, duplikasi pengobatan, alergi, interaksi, dan efek

samping obat, kontra indikasi, dan efek aditif.


6. IV Admixture yang merupakan proses pencampuran obat steril dalam

larutan. Kegiatan ini telah dilakukan di Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang dengan melakukan mengenceran KCL.


7. Rekonsiliasi Obat merupakan salah satu kegiatan yang telah dilakukan

Apoteker di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang yaitu dengan

mencatat obat yang sedang digunakan pasien meliputi nama Obat, dosis,

frekuensi, rute pemberian, Obat mulai diberikan, Obat dihentikan, Obat

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
91
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

diganti dan obat di lanjutkan, serta riwayat alergi pasien. Data riwayat

penggunaan obat didapatkan dari pasien, keluaraga pasien dan daftar obat

pasien, obat yang ada pada pasien, rekam medik. Semua obat yang

digunakan pasien baik resep maupun obat bebas termasuk obat herbal

harus dilakukan proses rekonsiliasi.

D. Pelayanan Farmasi Non Klinik

Pelayanan farmasi non klinik adalah pelayanan farmasi yang tidak

langsung berkaitan dengan perawatan penderita dan menjadi tanggung jawab

apoteker. Adapun pelayanan farmasi non klinik yang dilakukan di Rumah

Sakit Umum Kabupaten Tangerang adalah:

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
92
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

1. Pengelolaan sediaan farmasi alat kesehatan dan bahan medis habis pakai
Berdasarkan SK Menteri Kesehatan No.58/MENKES/SK/X/2014

tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit yang menyatakan bahwa instalasi

farmasi bertanggung jawab terhadap semua barang di rumah sakit. Rumah

Sakit Umum Kabupaten Tangerang telah melaksanakan standar pelayanan

tersebut karena proses pengadaan, pengendalian persediaan dan

penyimpanan perbekalan kesehatan berada dibawah pengawasan Instalasi

Farmasi. Tahapan pengelolaan sediaan farmasi alat kesehatan dan bahan

medis habis pakai yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang adalah:
a. Seleksi
Seleksi merupakan tahap awal dalam siklus manajemen obat.

Seleksi di RSU Kabupaten Tangerang dilakukan dengan metode

bottom up yaitu menerima usulan dari dokter penulis resep dengan

mengacu kepada pedoman terapi dan rasionalisasi obat melalui SMF

(Staf Medik Fungsional).


Tujuan dari seleksi obat yaitu:
1) Meningkatkan penggunaan terapi obat yang rasional,
2) Meningkatkan ketepatan suatu obat dalam pengobatan seorang

pasien,
3) Meningkatkan ketepatan dosis dan bentuk sediaan untuk pasien,
4) Ketersediaan terapi obat yang diseleksi,
5) Meminimalkan efek dan tindakan yang merugikan,
6) Menghindari interaksi dengan terapi lain, misal dengan makanan,

uji laboratorium dan faktor lingkungan.


Manfaat seleksi obat yaitu:
1) Memudahkan apoteker untuk memantau pemakaian dan evaluasi

obat,
2) Menghindari tumpang tindih penggunaan anggaran,
3) Kesamaan persepsi antara pemakai obat dan penyedia anggaran,

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
93
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

4) Estimasi kebutuhan obat lebih tepat, koordinasi antara penyedia

anggaran dan pemakai obat,


5) Pemanfaatan dana pengadaan obat dapat lebih optimal.
Selain itu juga mengacu pada formularium 2013. KFT (Komite

Farmasi dan Terapi) memiliki peranan besar dalam proses seleksi.

Seleksi obat di RSU Kabupaten Tangerang berdasarkan pada

kebutuhan obat terkait prevalensi penggunaan obat tertinggi di daerah

Tangerang dan sekitarnya, dengan tetap mempertimbangkan

(Efektifitas, Keamanan, Rasionalitas, Biaya, dan Kualitas) dan juga

berdasarkan pada daftar-daftar obat yang tersedia untuk pasien dengan

jaminan kesehatan yang dilayani di RSU Kabupaten Tangerang (BPJS

dan PT).
b. Perencanaan
Perencanaan adalah langkah berikutnya dalam siklus

manajemen obat. Perencanaan merupakan proses untuk menetapkan

kebutuhan barang, mencapai sasaran, mengatur target dan menetapkan

strategi, tanggung jawab dan sumber daya yang dibutuhkan untuk

mencapai target. Perencanaan merupakan kegiatan untuk menentukan

jumlah dan periode pengadaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan

Bahan Medis Habis Pakai sesuai dengan hasil kegiatan pemilihan

untuk menjamin terpenuhinya kriteria tepat jenis, tepat jumlah, tepat

waktu, dan efisien. Perencanaan yang telah di lakukan di Rumah Sakit

Umum Kabupaten Tangerang menggunakan metode dengan

menggunakan metode Konsumsi dan epidemiologi yang disesuaikan

dengan anggaran yang tersedia kemudian dituangkan dalam bentuk

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
94
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

RBA (Rencana Bisnis Anggaran) tahunan. RBA ini kemudian di break

down dalam bentuk SPPB sesuai kebutuhan. Metode konsumsi adalah

data pemakaian obat 6-12 bulan yang lalu, sedangkan data yang

digunakan dalam metode epidemiologi adalah data penyakit serta

pengobatan yang diberikan.


Tujuan dari perencanaan:
1) Mengidentifikasi secara jelas sasaran jangka panjang
2) Menetapkan kebutuhan dan masalah yang ada saat ini
3) Memastikan kebijakan yang digunakan pada sumber daya finansial

dan keberadaan personel


4) Memperoleh sumber daya tambahan
5) Menyediakan suatu basis untuk mengevaluasi efektivitas

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
95
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

c. Pengadaan
Pengadaan sediaan farmasi alat kesehatan dan bahan medis

habis pakai termasuk dalam siklus pengelolaan obat. Pengadaan

merupakan usaha dan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan

operasional yang telah ditetapkan dalam fungsi perencanaan,

penentuan kebutuhan maupun penganggaran. Pengadaan barang di

RSU Kabupaten Tangerang mengacu pada PerPres No. 70 tahun 2012.


Pengadaan barang di Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang sesuai dengan RBA (Rencana Bisnis Anggaran) yang telah

dibuat 1 tahun sekali. Hal ini disebabkan Rumah Sakit Umum

kabupaten Tangerang merupakan Rumah Sakit Pemerintah tipe B

pendidikan yang sudah bersifat BLUD (Badan Layanan Unit Daerah),

sehingga keuangannya dikelola sendiri. Metode pengadaan yang

dilakukan di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang antara lain :


1) Pembelian
a) Sistem Pengadaan Langsung
Pemilihan PBF yang kompeten dilakukan oleh pejabat

pengadaan yang bertugas memilih supplier dan negosiasi harga.

Peran farmasis di bagian pengadaan ini antara lain melakukan

seleksi terhadap distributor dan negosiasi harga. Dalam

memilih distributor, ada beberapa faktor yang menjadi

pertimbangan antara lain : banyaknya kebutuhan akan obat

yang dibeli dan sifat kebutuhan obat yang akan dibeli (cito atau

tidak), harga yang ditawarkan, kecepatan pengiriman, kualitas

pengiriman (untuk menjaga agar obat tetap dalam kualitas baik)

dan kualitas pelayanan. Seleksi ini dilakukan oleh pihak RS

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
96
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

dengan mencari data distributor yang legal, berbadan hukum

dan memiliki NPWP. Distributor yang dipilih adalah yang

memberikan jaminan legalitas dan kualitas barang, baik secara

fisik maupun dokumentasi yang berupa sertifikat analisis atau

Material Safety Data Sheet (MSDS), memberikan jaminan

kepastian keamanan sediaan farmasi alat kesehatan dan bahan

medis habis pakai, pelayanan dan fasilitas harga terbaik dengan

harga kompetitif, ketersediaan barang lengkap dan pasti (repeat

stock). Pabrik juga harus mempunyai Sertifikat Analisa dan

khusus untuk alat kesehatan/kedokteran harus mempunyai

certificate of origin.
Alur pengadaan barang secara pangadaan langsung

dilakukan dengan cara kepala instalasi farmasi membuat Surat

Permohonan Permintaan Barang (SPPB) yang dibuat sesuai

dengan kebutuhan dan ditandangani oleh Kepala instalasi

farmasi yang menjadi dasar untuk membeli barang. SPPB

tersebut berisi nama produk, stok barang yang ada, jumlah

yang diminta dan harga produk. SPPB kemudian diberikan ke

kepala bidang pelayanan penunjang medis untuk di pilih dan di

cek kesesuaian antara SPPB dengan Rencana Bisnis Anggaran

(RBA). Jika sudah sesuai, maka akan dibuatkan Bon

Permohonan Biaya (BPB). BPB berisi nama barang, jumlah

barang yang diminta, harga satuan dan harga total. Kemudian

ditandatangani oleh kepala bidang (sebagai pembuat BPB).

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
97
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Selanjutnya diberikan ke bagian keuangan (sebagai pemeriksa)

untuk mengecek ada tidaknya anggaran. Jika sudah sesuai

maka akan ditandatangani oleh kepala bagian keuangan, lalu

ditandatangani oleh direktur Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang (sebagai pengguna anggaran). Selanjutnya meminta

permohonan ke Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Setelah

disetujui maka diserahkan ke Pejabat Pengadaan.


Masing-masing anggota Pejabat Pengadaan akan

memegang BPB sesuai peran masing-masing yang selanjutnya

akan dibuat SPPH (Surat Permohonan Penawaran Harga) yang

berisi nama barang, spesifikasi, satuan, jumlah dan masa

berlaku. SPPH tersebut dikirim melalui fax atau dapat

diberikan langsung ke PBF. Selanjutnya PBF akan membuat

penawaran harga yang berisi jenis atau nama barang,

spesifikasi, satuan, jumlah dan harga penawaran. Kemudian

akan dicek kesesuaian dengan BPB oleh anggota Pejabat

Pengadaan. Jika sudah sesuai, maka Pejabat Pengadaan akan

membuat berita acara negosiasi, yang ditandatangani oleh

Pejabat Pengadaan dan PBF.


Berita acara penawaran tersebut diserahkan kepada PPK

yang kemudian akan dibuat Surat Perintah Kerja (SPK) dan

Surat Pesanan (SP) ke PBF. Kemudian barang dikirim oleh

PBF. Barang yang datang langsung diantar ke gudang lalu

dicek kesesuaian antara faktur, fisik dan SPK baik jumlah dan

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
98
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

nama barang oleh bagian penerima dan pemeriksa barang. Jika

sesuai, maka akan ditandatangani oleh Panitia Penerima Hasil

Pekerjaan (PPHP). Kemudian PBF akan menukarkan faktur ke

PPK dengan membawa berkas-berkas seperti kwitansi, faktur

pajak dan berita acara penerimaan barang. Kemudian akan

dicek kelengkapan berkas tersebut oleh PPK. Jika sudah sesuai,

maka akan diserahkan ke bagian keuangan untuk dilakukan

pembayaran ke PBF.
Sistem pengadaan dengan cara pengadaan langsung

memberikan manfaat bagi IFRS, antara lain:


(1) Lebih mudah dan lebih sederhana.
(2) Mengurangi risiko terjadinya penumpukan obat di gudang.
(3) Menghindari kadaluarsa obat karena penyimpanan yang

lama.
(4) Obat dan sediaan farmasi alat kesehatan dan bahan medis

habis pakai yang dibutuhkan dapat diperoleh lebih cepat.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
99
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

b) Sistem E-Purchasing

E-purchasing adalah cara pembelian barang yang sudah

dimuat dalam sistem catalog elektronik (E- catalog) sesuai

dengan perundang-undangan yang berlaku. Penerapan E-

Procurement bertujuan untuk :

(1) Meningkatkan transparansi/ keterbukaan dalam proses

pengadaan barang
(2) Meningkatkan persaingan yang sehat dalam rangka

penyediaan pelayanan publik dan penyelenggaraan

pemerintahan yang baik


(3) Meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam pengelolaan

proses pengadaan barang


Alur pengadaan barang secara E-catalog

Gambar 8. Alur pengadaan barang secara E-catalog

2) Sistem Dropping (sumbangan/ hibah)

Pengadaan barang di Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang juga ada yang berasal dari sumbangan Kementerian

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
100
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Kesehatan (KEMENKES) berupa obat rutin HIV, alur permintaan

dengan cara membuat laporan penggunaan obat dan obat yang

tersisa kepada KEMENKES. Selain itu, ada sumbangan dari Dinas

Kesehatan Kabupaten Tangerang berupa obat vaksin, alur

permintaan dengan cara membuat surat permohonan meminta

vaksin ke Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang dengan

mencantumkan jumlah sisa vaksin dan jumlah yang diminta.

Sumbangan obat ini sangat dibutuhkan untuk peningkatan kualitas

pelayanan dan rasional dilihat dari sisi farmasi.

3) Produksi

Pengadaan barang dengan cara produksi dilakukan oleh

Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang dengan tujuan untuk

membantu dan memperlancar permintaan barang. Produksi yang

dilakukan apabila tidak tersedia dipasaran, kemasan lebih kecil dan

dosis yang tersedia dipasaran tidak sesuai kebutuhan, seperti

produksi antiseptik tangan (Hands Rub) yang lebih murah dan

dibutuhkan dalam jumlah banyak, karena semua ruangan

diwajibkan menyediakan antiseptik tangan tanpa bilas untuk

mencegah dan mengendalikan infeksi. Kandungan Hands Rub

dalam 100 ml antara lain: alkohol 70% sebanyak 94,83 ml, H2O2

3% sebanyak 4,17 ml, gliserin 1 ml dan pewangi secukupnya.

Selain itu juga dilakukan pengenceran dan pencampuran obat-obat

sitotoksik untuk kemoterapi dan pengenceran cairan KCl.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
101
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Bagian produksi bertanggung jawab atas persediaan

obat-obat yang diperlukan farmasi rawat inap, farmasi rawat jalan

maupun depo-depo farmasi lainnya yang membutuhkan, sehingga

mengurangi waktu tunggu pelayanan obat pasien terutama obat

racikan. Produksi yang dilakukan di Rumah Sakit Umum

Kabupaten Tangerang dilakukan sebagai stok persediaan obat

untuk meminimalisasi masalah-masalah yang mungkin terjadi

terkait ketersediaan obat. Produksi di Rumah Sakit Umum

Kabupaten Tangerang dilakukan sesuai permintaan dan kebutuhan

Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang terhadap sediaan

farmasi alat kesehatan dan bahan medis habis pakai yang

diproduksi, sehingga tidak ada periode produksi yang tetap.

Kegiatan produksi di IFRS bertujuan untuk membantu dan

memperlancar permintaan barang (obat). Peran bagian produksi

adalah:

a) Membuat atau meracik sediaan non steril (formula khusus yang

sering dipakai), contohnya:


(1) Sediaan pulveres
(2) Sediaan kapsul: kapsul NaCl 500mg
(3) Larutan antiseptik cuci tangan: campuran alkohol, gliserol, H2O2

dan essens.
b) Mengubah bentuk (pengenceran). Contoh: Alkohol 70 %, H 2O2

dan iodin.
Pelaksanaan produksi dilakukan oleh petugas produksi

dengan menggunakan masker dan mencuci tangan selama kegiatan

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
102
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

produksi. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kontaminasi

terhadap produk yang dibuat.


Kekurangan yang terjadi di bagian produksi Rumah Sakit

Umum Kabupaten Tangerang antara lain:


a) Menurut KepMenKes No.1197 tahun 2004, lingkungan kerja

ruang produksi harus rapi, tertib, dan efisien. Untuk

meminimalkan terjadinya kontaminasi sediaan, harus dipisah

antara ruang produksi sediaan non steril dan steril. Instalasi

Farmasi Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang tidak

memproduksi sediaan steril, namun kemungkinan terjadinya

kontaminasi silang dapat terjadi karena tidak adanya batasan

antar ruangan serta tidak adanya pengontrolan mikroba.


b) Sebaiknya perlu penentuan ED produk obat racikan yang

berdasarkan sifat dan stabilitas obat sehingga mutu dan kualitas

obat lebih terjamin.


c) Pengujian produk akhir kurang dilakukan dengan baik sehingga

memungkinkan obat yang dibuat tidak sesuai standar CPOB.

Perlu adanya quality control sehingga menjamin obat yang

dibuat sesuai standar.


d. Penerimaan
Ketika barang datang maka Panitia Penerimaan barang harus

memeriksa semua barang yang datang kemudian diserahkan ke farmasi

untuk di periksa ulang, pada penerimaan barang tersebut harus

membawa SPK (surat perintah kerja). Jumlah barang yang datang

dimasukan kedalam data stok barang melalui sistem komputerisasi

SIMRS.
e. Distribusi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
103
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Sistem distribusi dirancang atas dasar kemudahan untuk

dijangkau oleh pasien dengan mempertimbangkan:


1) Efisiensi dan efektifitas sumber daya yang ada
2) Metode sentralisasi atau desentralisasi
3) Sistem floor stock, individual prescription, unit dispensing dose,

one daily dose atau combination.


Pelayanan distribusi obat di Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang dilakukan secara desentralisasi dimana dilakukan distribusi

obat dari gudang ke Depo Farmasi tempat perawatan penderita dan

kemudian distribusi obat dilanjutkan dari Depo Farmasi ke pasien.

Depo Farmasi yang terdapat di Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang yaitu Depo Farmasi Rawat Jalan, Depo Farmasi Anyelir,

Depo Farmasi Rawat Inap, Depo Farmasi IGD, Depo Farmasi Instalasi

Khusus Wijaya Kusuma, Depo Farmasi OK, Depo Farmasi

Bougenville dan Depo Farmasi Cathlab. Alur distribusi obat

desentralisasi ini membawa pelayanan farmasi lebih dekat pada

penderita dan staf profesional.

Sistem distribusi Floor stock diterapkan di semua ruangan

perawatan dan poliklinik. Persediaannya berupa obat atau alkes dalam

jumlah dan jenis yang terbatas sesuai dengan kebutuhan setiap ruangan

serta terdapat catatan farmasis dan perawat tentang penggunaan obat

atau alkes tersebut. Sistem persediaan ruangan dilakukan untuk

mencegah kekosongan obat dan alat kesehatan pada saat akan

digunakan (CITO). Persediaan di ruangan harus selalu ada dan

jumlahnya tetap (Fixed Stock).

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
104
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Keuntungan dari sistem ini adalah perbekalan kesehatan yang

dibutuhkan dapat langsung digunakan karena sudah tersedia, sehingga

memepercepat pengerjaan laporan pengeluaran barang di gudang

farmasi. Kerugian sistem ini adalah kemungkinan kehilangan dan

kerusakan persediaan obat dan alkes di ruangan lebih besar sehingga

diperlukan peningkatan pengawasan terhadap perbekalan farmasi.

Selain itu kurangnya informasi obat dari apoteker karena pelayanannya

dilakukan oleh perawat.

f. Penyimpanan

Penyimpanan di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang

dibawah pengawasan dan tanggung jawab apoteker. Barang yang

sudah diperiksa oleh tim penerima dan pemeriksa barang Rumah Sakit

Umum Kabupaten Tangerang diserahkan ke petugas dan disimpan di

Gudang IFRS Tangerang. Penyimpanan sediaan farmasi alat kesehatan

dan bahan medis habis pakai di gudang disimpan berdasarkan stabilitas

obat, selanjutnya berdasarkan bentuk sediaan dan alfabetis dengan

menggunakan sistem FIFO (First In First Out) dan FEFO (First

Expired First Out). Sistem FIFO yaitu barang yang baru datang keluar

terakhir dan sistem FEFO yaitu barang yang mendekati tanggal

kadaluarsa diletakkan paling depan agar terdistribusi lebih cepat

kepada pasien. Padatnya kegiatan di gudang menyebabkan sistem

FIFO dan FEFO belum terlaksana secara optimal.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
105
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

Penyimpanan yang dilakukan di Rumah Sakit Umum

Kabupaten Tangerang adalah dengan menggunakan metode FIFO

(First In First Out) yang merupkan barang yang lebih dahulu masuk

maka akan di keluarkan terlebih dahulu. Sistem ini yang diterapkan di

Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang baik digudang maupun di

setiap depo-depo farmasi dan telah sesuai dengan standar yang telah

berlaku.

E. Gudang Sediaan Farmasi alat kesehatan dan bahan medis habis pakai

Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang memiliki gudang farmasi

untuk menyimpan dan menyalurkan obat-obatan dan sediaan farmasi alat

kesehatan dan bahan medis habis pakai lainnya (seperti alkes habis pakai,

pembalut, bahan baku, antiseptik dan gas medis) yang telah dilakukan

pemeriksaan sebelumnya. Untuk perbekalan kesehatan yang digunakan secara

bersamaan oleh pasien di ruang perawatan didistribusikan langsung dari

gudang farmasi ke masing-masing depo farmasi.

Penyimpanan barang di gudang farmasi RSU Kabupaten Tangerang

dilakukan dengan sistem penggolongan berdasarkan : Jenis (obat dan alat

kesehatan), golongan obat (generik dan non generik), bentuk sediaannya

alfabetis, tanggal kadaluarsa, sifat barang (fast moving/slow moving), sistem

First In First Out (FIFO) dan First Expired First Out (FEFO). Menurut suhu

dan kestabilannya dan juga berdasarkan tahan tidaknya terhadap paparan

cahaya. Obat-obat narkotika disimpan tersendiri di dalam lemari yang

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
106
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

seluruhnya terbuat dari kayu yang kuat dengan bagian luar lemari dipagar

dengan besi. Obat-obat golongan psikotropik disimpan di etalase yang sudah

tidak berpintu. Obat-obat kemoterapi atau sitostatika disimpan dalam rak

khusus. Bahan atau obat yang mudah terbakar diletakkan dalam ruangan

tersendiri dan dilengkapi alat pemadam kebakaran serta dekat dengan sumber

air. Obat-obat High Alert disimpan di rak khusus dengan penandaan stiker

untuk obat High Alert. Obat-obat LASA disimpan dengan penandaan stiker

LASA dan stiker PERHATIKAN DOSIS.

F. Central Steilization Supply Departemen dan Laundry

Unit sterilisasi sentral atau CSSD (Central Sterilization Supply

Departement) merupakan suatu unit pelayanaan bahan dan alat steril bersifat

menunjang kepada unit-unit lain di rumah sakit yang melakukan tindakan

aseptis, pembedahaan, tindakan penyakit menular sebagai penyediaan barang

atau alat steril yang dimulai dari proses perencanaan, pengadaan, pencucian

atau dekontaminasi, pengemasan dan pemberian tanda, sterilisasi, penyimpaan

dan pendistribusian serta memberikan jaminaan mutu kualitas sterilitasnya.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

No.983/MENKES/SK/XI/1992 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit

Umum, CSSD merupakan salah satu pelayanan penunjang medis yang

dipimpin oleh seorang kepala jabatan fungsional, yang dalam menjalankan

tugas sehari-hari bertanggungjawab langsung kepada Wadir Penunjang Medis.

Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Kabupaten Tangerang No. 81 tahun 2004

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
107
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

tentang Tugas Pokok dan Fungsi Rumah Sakit Umum, maka Instalasi

Sterilisasi Sentral berubah menjadi Instalasi Sterilisasi dan Laundry.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
108
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Rumah Sakit Umum milik Pemerintah kabupaten Tangerang adalah rumah

sakit pendidikan yang saat ini berakreditasi B dan memiliki 437 tempat

tidur dan telah BLUD penuh dan serta memperoleh sertifikat akreditasi di

16 bidang pelayanan.

2. Kegiatan pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit Umum Kabupaten

Tangerang yaitu pelayanan farmasi klinik dan non klinik (manajemen).

3. Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang merupakan

suatu departemen atau unit pelayanan fungsional di bidang penunjang non

medis yang dipimpin oleh seorang apoteker dan dibantu oleh beberapa

orang apoteker yang bertanggung jawab atas seluruh pelayanan

kefarmasian.

4. Secara fungsional tugas utama apoteker di IFRS Umum Tangerang adalah

menyediakan kebutuhan obat untuk pasien rawat inap dan rawat jalan,

menyiapkan obat sesuai resep dokter, berkomunikasi bersama dokter dan

perawat serta memberikan informasi yang jelas tentang petunjuk

pemakaian obat kepada pasien dan/atau keluarga pasien, mencatat dan

menginformasikan stok obat perhari serta mempertanggung jawabkan

pemakaian psikotropika dan narkotika.

5. Secara struktural tugas utama apoteker di Instalasi Farmasi Rumah Sakit

Umum Kabupaten Tangerang adalah bertanggung jawab terhadap fungsi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX
109
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode April – Mei 2016

manajemen yang meliputi usulan perencanaan, penerimaan, penyimpanan,

dan distribusi sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis

apakai serta bertanggung jawab terhadap kegiatan farmasi klinik.

6. Masih kurangnya tenaga apoteker sehingga menyebabkan farmasi klinis

tidak berjalan secara optimal sebab masih didapatkan penggunaan obat

yang kurang tepat.

B. Saran

1. Pemberian informasi (KIE) agar lebih ditingkatkan sehingga dapat

meningkatkan ketepatan dan kerasionalan penggunaan obat kepada pasien.

2. Meningkatkan kerja sama secara terpadu antara farmasis dengan tenaga

kesehatan lainnya terkait penerapan Pharmaceutical care kepada pasien

sehingga didapatkan penanganan yang lebih optimal.

3. Penerapan phamaceutical care kedepannya lebih ditingkatkan lagi,

terutama dalam hal komunikasi dan konseling kepada pasien sehingga

paradigma patient oriented lebih baik dan lebih dikenal masyarakat.

4. Kedisiplinan SDM di CSSD lebih di tingkatkan lagi dalam kegiatan setiap

harinya.

5. Penambahan SDM di Depo Rawat Jalan dan Depo Rawat Inap sangat

dibutuhkan berkaitan dengan kebutuhan pelayanan pasien

6. Lokasi dan besarnya ruangan Depo Rawat Inap dan Depo Rawat Jalan

harus lebih strategis dan lebih luas agar pelayanan pasien lebih optimal

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXX