Anda di halaman 1dari 36

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

DENGAN GANGGUAN OKSIGENASI PADA TN. M DIRUANG SINDUR


RSUD SULTAN IMANUDDIN
PANGKALAN BUN

Disusun oleh:

1. Astina
2. Alia ulfah
3. Indah novianingrum
4. Titin sri rahayu
5. Siti yuliatun
6. Narni
7. Dina
8. Petrus
9. Kriswirtoni

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


BORNEO CENDEKIA MEDIKA
PANGKALAN BUN
TAHUN 2017

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas

limpahan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan tugas asuhan keperawatan pada

pasien dengan gangguan oksigenasi dengan tepat waktu, terimakasih atas

kerjasama nya yang luar biasa pada semua anggota kelompok yang selalu ikut

berpartisipasi dari awal pembuatan tugas sampai dengan tugas asuhan

keperawatan selesai. kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam

penyususnan asuhan keperawatan ini. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat

kami harapkan untuk lebih menyempurnakan askep gangguan oksigenasi ini.

Pangkalan Bun, 22 Januari 2017

Kelompok III

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................... 2

DAFTAR ISI ............................................................................................ 3

BAB I LAPORAN PENDAHULUAN OKSIGENASI.......................... 4

A. DEFENISI OKSIGENASI ......................................................... 4


B. ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM PERNAFASAN ....... 5
C. ETIOLOGI ................................................................................... 10
D. TANDA DAN GEJALA ...............................................................11
E. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI OKSIGENASI ............ 11
F. PATOPISIOLOGI ........................................................................13
G. PEMERIKSAAN FISIK ...............................................................14
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG .................................................15

BAB II ASUHAN KEPERAWATAN

A. ASUHAN KEPERAWATAN ......................................................17


B. PENGKAJIAN ..............................................................................23
C. DIAGNOSA INTERVENSI KEPERAWATAN .......................31
D. CATATAN KEPERAWATAN ....................................................33

BAB III KESIMPULAN ...........................................................................35

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................36

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Defenisi Oksigenasi

Oksigenasi adalah proses penambahan oksigen O2 ke dalam

sistem (kimia atau fisika). Oksigenasi merupakan gas tidak berwarna dan

tidak berbau yang sangat dibutuhkan dalam proses metabolisme sel.

Sebagai hasilnya, terbentuklah karbon dioksida, energi, dan air. Akan

tetapi penambahan CO2 yang melebihi batas normal pada tubuh akan

memberikan dampak yang cukup bermakna terhadap aktifitas sel. (Wahit

Iqbal Mubarak, 2007)

Oksigenasi adalah salah satu komponen gas dan unsur vital dalam

proses metabolisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh

sel-sel tubuh. Secara normal elemen ini diperoleh dengan cara menghirup

O2 setiap kali bernapas. Masuknya oksigen ke jaringan tubuh ditentukan

oleh sistem respirasi kardiovaskuler dan keadaan hematologi

(Wartonah,Tarwoto 2006).

Oksigenasi adalah pemenuhan akan kebutuhan oksigen (O²).

Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan dasar manusia yang digunakan

untuk kelengsungan metabolisme sel tubuh, untuk memepertahankan

hidupnya, dan untuk aktivitas berbagai organ atau sel. Apabila lebih dari 4

menit orang tidak mendapat oksigenasi maka akan berakibar pada

kerusakan otak yang tidak dapat diperbaiki dan biasa nya pasien akan

4
meninggal. Kebutuhan oksigen merupakan kebutuhan dasar manusia yang

di gunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh mempertahankan

hidup dan aktivitas berbagai organ atau sel. dalam keadaan biasa manusia

membutuhkan sekitar 300cc oksigen setiap hari (24 jam). atau sekitar0,5

cc tiap menit. Respirasi berperan dalam mempertahankan kelangsungan

metabolisme sel. sehingga diperlukan fungsi respirasi yang adekuat.

respirasi juga berarti gabungan aktivitas mekanisme yang berperan dalam

proses suplai O² ke seluruh tubuh dan membuang CO² ( hasil pembakaran

sel). Terapi oksigen merupakan salah satu terapi pernafasan dalam

mempertahankan oksigenasi. Tujuan dari terapi oksigen adalah untuk

memberikan transporoksigen yang adekuat dalam darah sambil

menurunkan upaya bernafas dan mengurangi stress pada miokardium.

B. Anatomi dan fisiologi sistem pernafasan

1. Anatomi Pernapasan

a. Hidung

Hidung terdiri dari hidung eksterna dan rongga hidung di

belakang hidung eksterna. Hidung eksterna terdiri dari tulang

kartilago sebelah bawah dan tulang hidung di sebelah atas

ditutupi bagian luarnya dengan kulit dan pada bagian dalamnya

dengan membran mukosa. Rongga hidung memanjang

memanjang dari nostril pada bagian depan ke apertura posterior

hidung, yang keluar ke nasofaring bagian belakang.Septum

5
nasalis memisahkan kedua rongga hidung. Septum nasalis

merupakan struktur tipis yang terdiri dari tulang kartigo, biasanya

membengkok ke satu sisi atau salah satu sisi yang lain, dan

keduanya dilapisi oleh membran mukosa. Dinding Lateral dari

rongga hidung sebagian dibentuk oleh maksila, palatum dan os

sphenoid.Konka superior, Inferior dan media (turbinasi hidung)

merupakan tiga buah tulang yang melengkung lembut melekat

pada dinding lateral dan menonjol ke dalam rongga hidung.

Ketiga tulang tersebut tertutup oleh membran mukosa. Sinus

paranasal merupakan ruang pada tulang kranial yang

berhubungan melalui ostium ke dalam rongga hidung. Sinus

tersebut ditutupi oleh membran mukosa yang berlanjut dengan

rongga hidung. Ostium ke dalam rongga hidung. Lubang hidung,

sinus sphenoid, diatas konkha superior.

b. Faring

Faring atau tenggorok merupakan struktur sperti tuba yang

menghubungkan hidung dan rongga mulut ke laring. Adenoid

atau tonsil faring terletk dalam langit-langit nasofaring . Fungsi

faring adalah untuk menyediakan saluran pada traktus respiration

dan digestif (Brunner & Suddarth. 2002)

6
c. Laring

Laring merupakan pangkal tenggorok merupakan jalinan tulang

rawan yamg dilengkapi dengan otot, membrane, jaringan ikat, dan

ligamentum . Sebelah atas pintu masuk laring membentuk tepi

epiglottis, lipatan dari epiglottis ariteroid dan piat intararitenoid,

dan sebelah tepi bawah kartilago krikoid. Fugsi laring sebagai

vokalalisasi yang menilabtaknsistem pernapasan yang meliputi

pusat khusus pengaturan bicara dalam kortek serebri, pusat

respirasi di dalam batang otak, artikulasi serta resonansi dari

mulut dan rongga hidung

d. Trakea

Trakea adalah tabung berbentuk pipa seperti huruf C yang

dibentuk oleh tulang-tulang rawan yang disempurnakan oleh

selaput, terletak di antara vertebrae servikalis VI sampai ke tepi

bawah ketilago krikoidea vertebra torakalis V. Panjangnya kira-

kira 13 cm dan diameter 2,5 cm dilapisi oleh otot polos,

mempunyai dinding fibroealitis yang tertanam dalam balok-balok

hialin yang mempertahankan trakea tetap terbuka.

7
e. Bronkus

Bronkus merupakan lanjutan dari trakea. Bronkus terdapat pada

ketinggian vertebra torakalis IV dan V. Bronkus mempunyai

struktur sama dengan trakea dan dilapisi oleh sejenis sel yang

sama dengan trakea dan berjalan ke bawah kearah tumpuk paru.

Bagian bawah trakea mempunyai cabang 2, kiri dan kanan yang

dibatasi oleh garis pembatas.

f. Pulmo (Paru-paru)

Pulmo atau paru merupakan salah satu organ pernapasan yang

berada didalam kantong yang dibentuk oleh pleura parietalis dan

pleura viseralis. Kedua paru sangat lunak, elastic, dan berada

dalam rongga torak. Sifatnya ringan dan terapung di dalam air.

Paru berwarna biru keabu-abuan dan berbintik-bintik karena

partikel-partikel debu yang masuk termakan oleh fagosit. Fungsi

utama paru-paru adalah untuk pertukaran gas antara udara

atmosfer dan darah. Dalam menjalankan fungsinya, paru-paru

ibarat sebuah pompa mekanik yang berfungsi ganda, yakni

menghisap udara atmosfer ke dalam paru (inspirasi) dan

mengeluarkan udara alveolus dari dalam tubuh (ekspirasi)(

Syafudin, 2011).

8
2. Fisiologi Pernafasan

Ada tiga langkah dalam proses oksigenasi, yakni : ventilasi, perfusi

dan difusi( Potter & Perry, 2006).

a. Ventilasi

Ventilasi merupakan proses untuk menggerakan gas kedalam dan

keluar paru-paru. Ventilasi membutuhkan koordinasi otot paru dan

throak yang elastic dan persarafan yang utuh. Otot pernapasan

yang utama adalah diagfragma(Potter & Perry, 2006). Ventilasi

adalah proses keluar masuknya udara dari dan ke paru-paru,

jumlahnya sekitar 500 ml. Udara yang masuk dan keluar terjadi

kare.na adanya perbedaan tekanan antara intrapleural lebih

negative (752 mmHg) daripada tekanan atmofer (760 mmHg)

sehingga udara akan masuk ke alveoli.

Kepatenan ventilasi tergantung pada factor :

1) Bersihan jalan nafas

2) Adekuatnya system saraf pusat dan pusat pernapasan

3) Adekuatnya pengembangan dan pengempisan paru-paru

4) Kemampuan otot-otot pernapasan seperti diafragma, eksternal

interkosta, eksternal interkosta, otot abdominal.

b. Perfusi

Perfusi paru adalah gerakan darah yang melewati sirkulasi paru

untuk dioksigenasi, di mana pada sirkulasi paru adalah darah

dioksigenasi yang mengalir dalam arteri pulmonaris dari ventrikel

9
kanan jantung. Darah ini memperfusi paru bagian respirasi dan ikut

serta dalam proses pertukaran oksigen dan karbon dioksida di

kapiler dan alveolus. Sirkulasi paru merupakan 8-9% dari curah

jantung. Sirkulasi paru bersifat fleksibel dan dapat mengakodasi

variasi volume darah yang besar sehingga dapat dipergunakan jika

sewaktu-waktu terjadi penurunan volume atau tekanan darah

sistemik.

c. Difusi

Difusi merupakan gerakan molekul dari suatu daerah dengan

konsentrasi yang lebih tinggi kedaerah degan konsentrasi yang

lebih rendah. Difusi gas pernafasan terjadi di membrane kapiler

alveolar dan kecepatan difusi dapat dipegaruhi oleh ketebalan

membrane(Potter & Perry, 2006).

C. Etiologi

Adapun faktor-faktor penyebab dari gangguan oksigenasi antara lain:

1. Gangguan jantung, meliputi : ketidakseimbangan jantung meliputi


ketidakseimbangan konduksi, kerusakan fungsi valvular, hipoksia
miokard, kondisi-kondisi kardiomiopati, dan hipoksia jaringan perifer.
2. Gangguan pernapasan meliputi hiperventilasi, hipoventilasi dan
hipoksia. Hiperventilasi merupakan Hiperventilasi (hyperventilation)
adalah keadaan napas yang berlebihan akibat kecemasan yang
mungkin disertai dengan histeria atu serangan panik. hiperventilasi
terjadi jika metabolisme tubuh terlampau tinggi sehingga mendesak
alveolus melakukan ventilasi secara berlebihan. Hipoventilasi
merupakan suatu penurunan frekuensi ventilasi yang berkaitan dengan
metabolism atau kecepatan metabolism yang sedang berlangsung.

10
(Ignatavicius dkk, 1991). Hipoksia merupakan keadaan dimana kadar
oksigen menurun dalam jaringan.
3. Kapasitas darah untuk membawa oksigen dipengaruhi oleh jumlah
oksigen yang larut dalam plasma, jumlah haemoglobin, dan
kecenderungan haemoglobin untuk berikatan dengan oksigen
(Ahrens,1990).

D. Tanda dan gejala

1. Dispnea parah dengan ekspirasi memanjang

2. Wheezing

3. Batuk produktif, kental dan sulit keluar

4. Penggunaan otot bantu napas

5. Sianosis, takikardia, gelisah dan pulsus paradoksus

6. Hiperkapnia

7. Anoreaksia

8. Diaporesis

E. Faktor- faktor yang mempengaruhi pemenuhan oksigenasi

1. Faktor fisiologis

Faktor fisiologis yang mempengaruhi oksigenasi meliputi :

a. Penurunan kapasitas membawa oksigen

b. Penurunan konsentrasi oksigen oksigen yang diinspirasi

2. Faktor perkembangan.

Tahap perkembangan anak dapat memengaruhi jumlah kebutuhan

oksigenasi, mengingat usia organ dalam tubuh seiring dengan usia

11
perkembangan anak. Hal ini dapat terlihat pada bayi usia prematur,

yaitu adanya kecenderungannya kurang pembentukan surfaktan. Pada

anak usia sekolah dan remaja risiko infeksi saluran pernapasan dan

merokok, sedangkan pada pada usia dewasa muda dan pertengahan

dipengaruhi diet yang tidak sehat , kurang aktivitas dan stress dapat

mengakibatkan penyakit jantung dan paru-paru. Pada dewasa tua

adanya proses penuaan yang mengakibatkan kemungkinan

arteriosklerosis, elastisitas menurun dan ekspansi paru menurun.

3. Perilaku atau gaya hidup

a. Nutrisi : misalnya pada obesitas mengakibatkan penurunan

ekspansi paru, gizi buruk menjadi anemia sehingga daya ikat

oksigen berkurang.

b. Exercise : meningkatkan kebutuhan oksigen

c. Merokok : nikotin dapat menyebabkan vasokontriksi pembuluh

darah perifer dan koroner.

d. Substance abuse : menyebabkan intake nutrisi / Fe menurun

menyebabkan penurunan haemoglobin, alcohol menyebabkan

depresi pusat pernapasan.

e. Kecemasan : menyebabkan metabolism meningkat.

12
4. Perubahan – perubahan fungsi jantung yang mempengaruhi kebutuhan

oksigenasi :

a. Gangguan konduksi : distritmia (takhikardi/bradikardi)

b. Perubahan cardiac output : menurunnya cardiac output seperti

pada pasien dekom menimbulkan hipoksia jaringan

c. Kerusakan fungsi katup seperti pada stenosis, obstruksi,

regurgitasi darahuang mengakibatkan ventrikel bekerja lebih

keras

d. Myocardial iskhemial infark mengakibatkan kekurangan pasokan

darah dari arteri koroner ke myocardium.

F. Patofisioligi

Proses pertukaran gas dipengaruhi oleh ventilasi, difusi dan

trasportasi. Proses ventilasi (proses penghantaran jumlah oksigen yang

masuk dan keluar dari dan ke paru-paru), apabila pada proses ini terdapat

obstruksi maka oksigen tidak dapat tersalur dengan baik dan sumbatan

tersebut akan direspon jalan nafas sebagai benda asing yang menimbulkan

pengeluaran mukus. Proses difusi (penyaluran oksigen dari alveoli ke

jaringan) yang terganggu akan menyebabkan ketidakefektifan pertukaran

gas. Selain kerusakan pada proses ventilasi, difusi, maka kerusakan pada

transportasi seperti perubahan volume sekuncup, afterload, preload, dan

kontraktilitas miokard juga dapat mempengaruhi pertukaran gas (Brunner

& Suddarth, 2002).

13
G. Pemeriksaan fisik

1. Mata

a. Konjungtiva pucat (karena anemia)

b. Konjungtiva sianosis (karena hipoksemia)

c. konjungtiva terdapat pethechia (karena emboli lemak atau

endokarditis)

2. Kulit

a. Sianosis perifer (vasokontriksi dan menurunnya aliran darah

perifer)

b. Penurunan turgor (dehidrasi)

c. Edema.

d. Edema periorbital.

3. Jari dan kuku

a. Sianosis

b. Clubbing finger.

4. Mulut dan bibir

a. membrane mukosa sianosis

b. bernapas dengan mengerutkan mulut.

5. Hidung

Pernapasan dengan cuping hidung.

6. Vena leher

Adanya distensi / bendungan.

14
7. Dada

a. retraksi otot Bantu pernapasan (karena peningkatan aktivitas

pernapasan, dispnea, obstruksi jalan pernapasan)

b. Pergerakan tidak simetris antara dada kiri dan dada kanan.

c. Tactil fremitus, thrills (getaran pada dada karena udara/suara

melewati saluran/rongga pernapasan

d. Suara napas normal (vesikuler, bronchovesikuler, bronchial)

e. Suara napas tidak normal (creklerlr/rales, ronkhi, wheezing,

friction rub/pleural friction)

f. Bunyi perkusi (resonan, hiperesonan, dullness)

8. Pola pernapasan

a. pernapasan normal (eupnea)

b. pernapasan cepat (tacypnea)

c. pernapasan lambat (bradypnea)

H. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan untuk mengetahui adanya

gangguan oksigenasi yaitu:

a. Pemeriksaan fungsi paru

Untuk mengetahui kemampuan paru dalam melakukan pertukaran gas

secara efisien.

15
b. Pemeriksaan gas darah arteri

Untuk memberikan informasi tentang difusi gas melalui membrane

kapiler alveolar dan keadekuatan oksigenasi.

c. Oksimetri

Untuk mengukur saturasi oksigen kapiler

d. Pemeriksaan sinar X dada

Untuk pemeriksaan adanya cairan, massa, fraktur, dan proses-proses

abnormal.

e. Bronkoskopi

Untuk memperoleh sampel biopsy dan cairan atau sampel

sputum/benda asing yang menghambat jalan nafas.

f. Endoskopi

Untuk melihat lokasi kerusakan dan adanya lesi.

g. Fluoroskopi

Untuk mengetahui mekanisme radiopulmonal, misal: kerja jantung

dan kontraksi paru.

h. CT-SCAN

Untuk mengintifikasi adanya massa abnormal

16
I. Diagnosa, kriteria hasil dan intervensi

1. Tidak efektifnya saluran napas

Definisi : kondisi dimana pasien tidak dapat membersihkan secret

sehingga menimbulkan obstruksi salauran pernapasan dalam rangka

mempertahankan saluran pernapasan.

Kemungkinan berhubungan dengan :

a. Menurunnya energy dan kelelahan

b. Infeksi tracheobronchial

c. Gangguan kognitif dan persepsi

d. Trauma

e. Bedah thorax

kriteria evaluasi:

a. Saluran napas pasien menjadi bersih.

b. Pasien dapat mengeluarkan secret.

c. Suara napas dan keadaan kulit menjadi normal.

intervensi keperawatan :

a. Sediakan alat suction dalam kondisi baik. Rasional : peralatan

dalam keadaan siap.

b. Monitor jumlah , bunyi napas, AGD, efek pengobatan brinkhial.

Rasional : indikasi dasar kepatenan/ gangguan saluran pernapasan.

c. Pertahankan intake cairan 3.000 ml/hari jika tidak ada kontra

indikasi. Rasional : membantu mengencerkan secret.

17
d. Terapi inhalasi dan latihan napas dalam serta batuk efektif.

Rasional : mengeluarkan secret.

e. Bantu oral hygine setiap 4 jam. Rasional : member rasa nyaman.

f. Mobilisasi pasien setiap 2 jam. Rasional : mempertahankan

sirkulasi.

g. berikan pendidikan kesehatan (efek merokok, alcohol, menghindari

alergan, latihan bernapas). Rasional : mencegah komplikasi paru-

paru.

2. Tidak efektifnya pola napas


Definisi : kondisi dimana pola inhalasi dan ekshalasi pasien tidak

mampu karena adanya gangguan fungsi paru.

Kemungkinan berhubungan dengan :

a) Obstruksi tracheal

b) Perdarahan aktif

c) Menurunnya ekspansi paru

d) Infeksi paru

e) Depresi pusat pernapasan

f) Kelemahan otot pernapasan

kriteria evaluasi :

a. Pasien dapat mendemonstrasikan pola pernapasan yang efektif.

b. Data objektif menunjukkan pola pernapasan yang efektif.

c. Pasien merasa lebih nyaman dalam bernapas (inspirasi dan

ekspirasi)

18
intervensi keperawatan :

a. Berikan oksigen sesuai program. Rasional : mempertahankan

oksigen arteri.

b. Monitor jumlah pernapasan, penggunaan otot bantu pernapasan,

batuk, bunyi paru, tanda vital, warna kulit, AGD. Rasional :

mengetahui status pernapasan.

c. Laksanakan program pengobatan. Rasional : meningkatkan

pernapasan.

d. Posisi pasien fowler. Rasional : meningkatkan pengembangan paru.

e. Bantu dala terapi inhalasi. Rasional : membantu pengeluaran secret.

f. Alat-alat emergency disiapkan dalam kondisi baik. Rasional :

kemungkinan terjadi kesulitan bernapas yang akut.

g. Pendidikan kesehatan mengenai perubahan gaya hidup,

menghindari allergen, teknik bernapas, teknik relaksasi. Rasional :

perlu adaptasi baru dengan kondisi yang sekarang.

3. Menurunnya perfusi jaringan tubuh

Definisi : kondisi dimana tidak adekuatnya pasokan oksigen akibat

menurunnya nutrisi dan oksigen pada tingkat seluler.

Kemungkinan berhubungan dengan :

a) Vaskontriksi

b) Hipovolemia

c) Thrombosis vena

d) Menurunnya aliran darah

19
e) Edema

f) Perdarahan

g) Immobilisasi

kriteria evaluasi :
a. Menurunnya insufisiensi jantung.

b. Suara pernapasan dalam keadaan normal.

intervensi keperawatan :
a. Monitor denyut jantung dan irama. Rasional : mengetahui

kelainan jantung.

b. Monitor tanda vital, bunyi jantung, CVP, edema, tingkat

kesadaran. Rasional : data dasar untuk mengetahui perkembangan

pasien.

c. Kolaborasi dengan dokter dalam pemeriksaan AGD, elektrolit,

darah lengkap. Rasional : mengetahui KU pasien.

d. Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan. Rasional :

mengurangi kecemasandan lebih kooperatif.

e. Berikan oksigen sesuai kebutuhan. Rasional : meningkatkan

perfusi.

f. Ukur intake dan outtake cairan. Rasional : untuk mengetahui

kelebihan atau kekurangan.

g. Lakukan perawatan kulit seperti memberikan lotion. Rasional :

menghindari gangguan integritas kulit.

20
h. Hindari terjadinya palsava maneuver seperti mengedan, menahan

napas dan batuk tidak efektif. Rasional : untuk mempertahankan

pasokan oksigen.

i. Batasi pengunjung. Rasional : mengurangi stress dan energy

bicara.

j. Berikan pendidikan kesehatan seperti proses terapi, perubahan

gaya hidup, teknik relaksasi, program latihan, diet dan efek obat.

Rasional : meningkatkan pengetahuan dan mencegah terjadinya

kambuh dan komplikasi.

4. Diagnosa : gangguan pertukaran gas.

Definisi : suatu kondisi dimana pasien mengalami penurunan

pengiriman oksigen dan karbon dioksida diantara alveoli paru dan

system vaskuler.

Kemungkinan berhubungan dengan :

a) Penumpukan cairan dalam paru

b) Gangguan pasokan oksigen

c) Obstruksi saluran pernapasan

d) Bronkhospasme

e) Atelaktasis

f) Edema paru

g) Pembedahan paru

kriteria hasil :

a. Dapat menurunkan tanda dan gejala gangguan pertukaran gas.

21
b. Pasien dapat menunjukkan peningkatan perubahan pertukaran gas

seperti tanda vital, nilai AGD, dan ekspresi wajah.

intervensi keperawatan :

a. Monitor adanya nyeri, kesulitan bernapas, hasil lab, retraksi sternal,


penggunaan otot bantu pernapasan, penggunaan oksigen, X-ray, tanda
vital. Rasional : data dasar untuk pengkajian lebih lanjut.
b. Jaga alat emergency dan pengobatan tetap tersedia seperti ambu bag,
ET tube, suction, oksigen. Rasional : persiapan emergency terjadinya
masalah akut pernapasan.
c. Suction jika ada indikasi. Rasional : meningkatkan pertukaran gas.
d. Monitor intake dan outtake cairan. Rasional : menjaga keseimbangan
cairan.
e. Berikan terapi inhalasi. Rasional: melonggarkan saluran pernapasan.
f. Berikan posisi fowler atau semi fowler. Rasional : mengurangi
kesulitan bernapas.
g. Batasi pengunjung. Rasional : mengurangi tingkat kecemasan.
h. Berikan nutrisi tinggi protein, rendah lemak. Rasional : menurunkan
kebutuhan energy pencernaan.
i. Pendidikan kesehatan tentang napas dalam, latihan bernapas,
mobilisasi, kebutuhan istirahat, efek merokok dan alcohol. Rasional :
meningkatkan pengetahuan pasien.
j. Jelaskan teknik suction pada keluarga pasien. Rasional : dapat
mengerjakan sendiri dirumah apabila memungkinkan.

22
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
Identitas klien
1. Tanggal Pengkajian : 14 Januari 2017
2. Jam : 20.00 WIB
3. Identitas Pasien
a. Nama : Tn. M
b. Jenis Kelamin : Laki - laki
c. Umur : 31 tahun
d. Agama : Islam
e. Status perkawinan : Kawin
f. Pendidikan : SMA
g. Suku Bangsa : Indonesia
h. Alamat : Lapas Pangkalanbun
i. Tanggal masuk : 13 Januari 2017
j. Diagnosa Medis : Asma Bronciale
k. Terapi :
- Ivfd Nacl 0,9% ( 10 tpm )
- inj Cefotaxim1 gr/12 jam
- inf Levofloxacime 750mg/ 24jam
- inj Methylprednisolone 125 gr/ 8 jam
- inj Bisolvon 1 A/8 jam
- P.o Salbutamol 3 x 2mg
- Nebulizer combivent / 6 jam

23
B. Riwayat Kesehatan
1. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pasien datang ke rumah sakit pada tanggal, 13 januari 2017 pukul
18 : 20 dengan keluhan sesak napas, batuk berdahak.
Keluhan Utama :
Pasien mengatakan batuk berdahak, sesak napas
2. Riwayat Kesehatan Lalu
Pasien mengatakan sudah pernah dirawat dirumah sakit
sebelumnya dengan keluhan sesak napas sekitar 2 bulan yang lalu. ibu
pasien juga memiliki penyakit asma, pasien tidak memiliki riwayat
alergi obat.

C. Pola Kebiasaan Pasien


1. Pola Nutrisi
a. Sebelum Sakit
Sebelum sakit frekuensi makan pasien tiga kali sehari dengan
makanan pokok nasi. Pasien mengkonsumsi buah (seperti pisang,
jeruk dan pepaya) dan sayur (seperti sayur bening, sop dan oseng
kangkung). Porsi makan pasien satu piring penuh habis. Pasien
gemar minum air putih dan teh. Pasien mengatakan tidak
memiliki pantangan makan maupun minum.
b. Selama Sakit
Selama sakit frekuensi makan pasien tiga kali sehari dengan
makanan bubur. Porsi makan pasien hanya seperempat piring.
2. Pola Eliminasi
a. Sebelum Sakit
BAK pasien lancar, frekuensinya lima sampai tujuh kali
Warna kuning jernih. BAB satu sampai dua kali sehari,
konsistensinya lembek dan berwarna kuning .

24
b. Selama Sakit
Selama di rawat di rumah sakit pasien mengatakan belum
BAB sejak tadi pagi. Pasien mengatakan tidak ada masalah dalam
pola BAK. BAK dengan frekuensi 5 sampai 6 kali sehari .
3. Pola Aktivitas Istirahat dan Tidur
Sebelum sakit pasien dalam satu hari tidur selama ± 6-8 jam
sedangkan selama di rawat di rumah sakit pasien tidur kurang dari 6 jam..
Sebelum sakit, pasien melakukan aktivitas secara mandiri, tidak dibantu
orang lain. selama sakit aktivitas pasien dibantu keluarga. Tidak ada
riwayat alergi terhadap debu
4. Pola Kebersihan Diri
a. Sebelum Sakit
Pasien mandi 2 kali sehari tanpa bantuan keluarga, menggunakan
sabun. Keramas satu minggu 3 kali menggunakan shampoo. Ganti
baju 2 kali sehari dan gosok gigi 2 kali sehari.
Kemampuan Perawatan diri 0 1 2 3 4
Makan dan minum 
Mandi 
Toileting 
Berpakaian 
Mobilitas di tempat tidur 
ROM 

Ket :

0 : Mandiri 3 : Dibantu orang lain dan alat


1 : Alat bantu 4 : Tergantung total
2 : Dibantu orang lain

25
b. Selama Sakit
Pasien hanya diseka setiap pagi dan sore hari. Gosok gigi tidak
menentu, ganti baju 1 kali dalam sehari, belum keramas sampai
dilakukan pengkajian, untuk toileting pasien menggunakan pispot dan
belum BAB sampai pengkajian dilakukan.

Kemampuan Perawatan diri 0 1 2 3 4


Makan dan minum 
Mandi 
Toileting 
Berpakaian 
Mobilitas di tempat tidur 
ROM 

Keterangan :
0 : Mandiri 3 : Dibantu orang lain dan alat
1 : Alat bantu 4 : Tergantung total
2 : Dibantu orang lain

5. Aspek Mental, Intelektual, Sosial dan Spiritual


a. Konsep Diri
Pasien merupakan anggota keluarga. Pasien tinggal dilapas
pangkalan bun.
b. Intelektual
Pasien mengetahui tentang penyakit asma yang diderita nya dan
apa saja yang memperberat sakit nya.
c. Hubungan Interpersonal
Pasien memiliki hubungan baik dengan keluarga dan rekan di
lapas.

26
d. Mekanisme Koping
Pasien mengatakan akan mengikuti semua saran dari dokter dan
perawat.
e. Support Sistem
Keluarga pasien mengatakan bahwa akan selalu mendukung dan
memberi semangat dalam masa penyembuhan pasien. Pasien
mengatakan akan menjalani pengobatan hingga tuntas.
f. Aspek Mental Emosional
Ekspresi wajah pasien saat diwawancarai tenang dan
memperlihatkan rasa ingin tahu.
g. Aspek Intelegensi
Pasien tidak tahu apa penyebab dan akibat dari penyakitnya.
h. Hubungan Sosial
Tidak ada gangguan komunikasi secara verbal dan non verbal.
6. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum
a. Kesadaran : Compos mentis
b. Status gizi
BB : 63 kg
TB : 167 cm
c. Tanda tanda Vital
TD : 120/80mmHg
N : 125 x/menit
RR : 28x/menit
T : 36,3 0C
Spo2 :90 %

Pemeriksaan secara sistemik

a. Kepala
Bentuk Kepala normal, tidak ada luka, tidak ada ketombe, Rambut
hitam. Selama sakit pasien belum pernah keramas.

27
b. Mata
Konjungtiva merah muda, tidak memakai kaca mata, tidak ada
sekret dimata. Mata normal.
c. Telinga
Bentuk telinga simetris kanan dan kiri. Pasien tidak memakai alat
pendengaran, telinga bersih.
d. Hidung
Tidak terdapat sekret. Tidak ada nyeri sinus. Bibir kering.
Terpasang nasal kanul 3L/menit.
e. Mulut dan Tenggorokan
Bicara jelas, tidak ada sariawan dan radang tenggorokan. Mulut
kering tidak lembab.
f. Leher
Tidak ada pembesaran tiroid, tidak punya riwayat penyakit
amandel atau tonsillitis.
g. Dada
Bentuk dada simetris, tidak ada lesi, tidak ada nyeri tekan, pasien
menggunakan jenis pernafasan dada, terdapat kesulitan dalam
respirasi. Terdengar suara ronchi dan pernafasan tidak teratur. Pasien
terpasang oksigen nasal 3 L/menit. Suara jantung tidak terdapat suara
tambahan.
h. Abdomen
Abdomen berbentuk datar dan simetris. Tidak terdapat nyeri tekan
pada keseluruhan abdomen. Suara abdomen bagian kanan atas redup,
tidak ada pembesaran hati/ hepatomegali. Suara abdomen bagian kiri
atas, bawah kanan dan bawah kiri timpani.
i. Ekstremitas atas dan bawah
Anggota gerak lengkap,warna kulit coklat, turgor kulit elastis,
tidak ada kelainan jari, akral hangat, tidak ada nyeri sendi, tidak ada
nyeri tekan. Anggota ekstremitas atas bagian kanan saat dikaji pada
tanggal 14 Januari terdapat infus nacl 0,9% 10 tpm.

28
7. Hasil pemeriksaan laboratorium dan penunjang
Pemeriksaan hematologi
Nama : Tn. M
No Lab : 1350
Tanggal : 13 Januari 2017

Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan


Patologi
Haemoglobin 19,0 13.00 – 18.00 g/dL
Hematoktrit 52,0 40.00 – 50.00 %
Leukosit 11,700 5 – 10 10^3/uL
Trombosit 276.000 150 – 450 10^3/uL
Eritrosit 3.90 – 5.50 10^6/uL
MPV 6.5 – 12.00 fL
PDW 9.0 – 17.0
PCT 0.108 – 0.282 %
INDEX
MCV 81,3 80.0 – 97.0 fL
MCH 29,7 27.0 – 32.0 pg
MCHC 36,5 32.0 – 38.0 g/Dl
Hitung Jenis
Neutrofil % 50.0 – 70.0 %
Limfosit % 25.0 – 40.0 %
Monosit % 3.0 – 9.0 %
Eosinofil % 6.0 0.5 – 5.0 %
Basofil % 0.0 – 1.0 %
Neutrofil  2.00 – 7.00 10^3/uL
Limfosit  41 1.25 – 4.0 10^3/uL

Monosit  5 0.30 – 1.00 10^3/uL

Eosinofil  0.00 0.02 – 0.50 10^3/uL


0.0 – 10.0 10^3/uL
Basofil 

29
Golongan Darah
KIMIA
GDS 87 < 200 Mg/dL
HATI
SGOT 0-40 Mg/dL

Elektrolit
Natrium 135 – 146 mmol/l
Kalium 1.5 – 5.4 mmol/l
Chlorida 95 – 100 mmol/l
UNO-
SERULOGI Negative Negative
Hbs Ag

B. ANALISA DATA
NAMA : Tn. M
UMUR : 31 tahun
NOMOR RM : 197919
DX MEDIS : Asma Bronchial
NO Hari, DATA MASALAH PENYEBAB
tanggal
1. Sabtu, 14 DS : Gangguan pertukaran Kurangnya suplai
Januari Pasien mengeluh sesak nafas gas oksigen
2017 DO :
TD : 120/80mmHg
N : 125 x/menit
RR : 28x/menit
T : 36,3 0C
Spo2 :90 %
Terlihat nafas cuping hidung,
O2 nasal terpasang

30
2. DS: Ketidakefektifan Peningkatan
Pasien mengeluh batuk bersihan jalan nafas produksi sekret
2. berdahak
DO :
TD : 120/80mmHg
N : 125 x/menit
RR : 28x/menit
T : 36,3 0C
Spo2 :90 %
a. pasien terlihat batuk
b. Pasien terpasang nasal
kanul 3L/ menit
c. Terdapat suara ronkhi
pada pernafasannya
d. batuk mengeluarkan
dahak

C. DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN

Dx Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional


Gangguan NOC : 1. Monitor TD, nadi, 1. Mengetahui kondisi
pertukaran gas Setelah dilakukan suhu, dan RR pasien secara umum
berhubungan tindakan 2. Monitor frekuensi , 2. Mengetahui
dengan keperawatan suara nafas dan keefektifan pola nafas
kurangnya suplai selama 3 x 24 jam irama nafas pasien
oksigen gangguan 3. Mengetahui terdapat
3. Posisikan pasien
pertukaran gas suara nafas tambahan
semifowler
teratasi dengan atau tidak
kriteria hasil : 4. Berikan oksigen 4. Memaksimalkan
1. menunjukan sesuai kebutuhan ventilasi pernafasan
perbaikan 5. Bantu aktivitas dan mempertahankan
ventilasi dan pasien selama di posisi pasien
oksigen rumah sakit 5. Membatu pemenuhan
jaringan oksigenasi pasien
6. Lakukan fisioterapi
adekuat 6. Mengurangi aktivitas
dada
2. tidak ada pasien selama sesak
pernafasan 7. Ciptakan 7. Membantu
cuping hidung lingkungan aman mengefektifkan
dan nyaman bagi

31
3. pasien tidak pasien pernafasn pasien
terpasang 8. Membantu pasien
oksigen untuk mendapatkan
4. RR 12-18x/ tidur secara optimal
menit

Ketidakefektifan NOC : NIC : 1. Mengetahui kondisi


bersihan jalan Setelah dilakukan 1. Monitor TD, nadi, pasien secara umum
nafas tindakan suhu, dan RR 2. Mengetahui
berhubungan keperawatan keefektifan pola
dengan selama 3 x 24 jam 2. Monitor frekuensi nafas pasien
peningkatan bersihan jalan nafas dan irama nafas 3. Mengetahui terdapat
produksi sekret efektif dengan 3. Monitor suara suara nafas tambahan
kriteria hasil : nafas atau tidak
1. Pasien tidak 4. untuk mengeluarkan
batuk 4. Ajarkan pasien sekret
2. Pasien tidak cara batuk efektif 5. Membantu
terpasang
oksigen 5. Anjurkan minum mengencerkan sekret
3. Tk ada suara 6. Membantu
air hangat
ronchi mengefektifkan
4. Irama dan 6. Lakukan
suara nafas pernafasn pasien
normal fisioterapi dada

D. CATATAN KEPERAWATAN

NO HARI,
DX TANGG
IMPLEMENTASI EVALUASI PARAF
. AL
JAM
1. Sabtu, 14 1. Mengukur tanda-
Januari tanda vital pasien S
2017 2. Mengkaji pola dan - Pasien mengatakan sesak nafas

32
14.00 frekuensi nafas - Pasien mengatakan apabila tidur
pasien terlentang semakin sesak nafas
- Setelah diposisikan semi fowler
21.15 3. Memberikan posisi pasien mengatakan nafasnya lebih
semi fowler ringan
O:
TD : 120/80mmHg
N : 125 x/menit
22.20 4. Menganjur kan RR : 28x/menit
minum air hangat T : 36,3 0C
Spo2 :90 %
- Pasien terpasang nasal kanul 3L/
menit
- Sebelum diposisikan semi fowler
pasien nampak tersengal-sengal
- Setelah diposisikan semi fowler
pasien terlihat lebih tenang
- Terdengar suara nafas tambahan
A : tujuan tindakan tercapai sebagian
P:
- Ajarkan pasien untuk nafas dalam
- Berikan fisioterapi dada

2. Minggu,
15 Januari 1. Mengukur tanda-tanda S :
2017 vital pasien - Keluarga mengatakan saat tidur
pasien ngorok
- Pasien mengatakan sudah tidak
10.00 2. Melakukan fisioterapi terlalu sesak nafas
dada pada pasien - Pasien mengatakan nyaman saat
dilakukan fisioterapi dada
- Pasien mengatakan dahak nya sdh
mulai keluar.
10.05 3. Mengajarkan cara O :
- TD : 110/70 mmHg
batuk efektif
N : 80 x/menit
S : 36,80 C

33
18.10 4. motivasi minum air RR : 28 x/menit
hangat - Keluarga pasien terlihat antusias saat
diberi penjelasan
- Saat dilakukan fisoterapi dada pasien
mengeluarkan dahak
- Setelah dilakukan fisioterapi dada
pasien mengatakan nafasnya lebih
lega
A :tujuan tindakan tercapai
P:
- Ajarkan pasien untuk nafas dalam
- Ajarkan batuk efektif
- Anjurkan minum air hangat

34
BAB III KESEMPULAN

Oksigenasi adalah proses penambahan oksigen O2 ke dalam sistem (kimia


atau fisika).

Oksigenasi merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang sangat
dibutuhkan dalam proses metabolisme sel. Sebagai hasilnya, terbentuklah karbon
dioksida, energi, dan air. Akan tetapi penambahan O2 yang melebihi batas normal
pada tubuh akan memberikan dampak yang cukup berbahaya terhadap aktifitas sel
(Wahid Iqbal Mubarak, 2007).

Oksigen adalah salah satu komponen gas dan unsur vital dari proses
metabolisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel-sel tubuh.
Secara normal elemen ini diperoleh dengan cara menghirup O2 setiap kali
bernapas (Wartonah Tarwanto, 2006).

Dalam asuhan keperawatan pada Tn. M dengan Gangguan Pemenuhan


Kebutuhan Oksigenasi yang di lakukan pada tanggal 14-17 Januari 2015 di
bangsal Bougenvile RSUD Wates memunculkan diagnosa keperawatan antara lain
:
1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kurangnya suplai oksigen
2. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan
produksi sekret

35
DAFTAR PUSTAKA

http://sintadewayu.blogspot.co.id/2014/10/lp-oksigenasi.html diakses tanggal 18


Januari 2017

http://askephima.blogspot.com/2013/02/makalah-asuhan-keperawatan-asma-
bronkial.html diakses tanggal 18 januari 2017

http;//askepandri.blogspot.com//2015/01/askep.gangguan-
pemenuhan=oksigenasi.html diakses tnaggal 19 januari 2017

36

Anda mungkin juga menyukai