Anda di halaman 1dari 26

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya, tidak lupa pula sholawat serta salam kita panjatkan kepada Nabi
Besar kita Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari zaman kegelapan menuju
zaman yang terang benderang seperti saat ini.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Pengantar Ekonomi
Syari’ah, Siti Nur Azizah M.E.I., dan teman-teman semua, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “Perilaku Produksi dalam Perspektif Ekonomi
Syari’ah” ini. Kami menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam makalah ini,
sehingga kami senantiasa terbuka menerima saran dan kritik pembaca demi penyempurnaan
makalah berikutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Wassalammu’alaikum Wr. Wb.

Yogyakarta, 1 Maret 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................ i


DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii
A. LATAR BELAKANG .................................................................................................... 1
B. RUMUSAN MASALAH ................................................................................................ 3
C. METODE PENELITIAN................................................................................................ 3
D. KAJIAN PUSTAKA ....................................................................................................... 3
1. PENELITIAN SEBELUMNYA ..................................................................................... 3
2. LANDASAN TEORI ...................................................................................................... 5
E. PEMBAHASAN ............................................................................................................. 7
F. KESIMPULAN ............................................................................................................ 21
G. DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 23

ii
A. LATAR BELAKANG

Industri pengolahan kegiatan produksi pada usaha memproduksi barang atau


jasa yang dilakukan dalam mengubah suatu barang dasar (mentah), menggunakan
teknologi atau secara homemade sehingga menjadi barang jadi/setengah jadi, dan atau
barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya, serta sifatnya
lebih dekat kepada pemakai akhir dan lebih berdaya guna.

Indonesia sendiri terus menggodok mayarakatnya agar berperilaku adil dalam


mengkonsumsi barang, dimana pemerintah terus mendukung kegiatan produksi
barang lokal dan mendukung dengan program kerja “mencintai 100% produk
indonesia”, semakin banyaknya produsen dalam negeri tentu akan semakin
meningkatkan pendapatan negara dan memperlancar peredaran barang, daya beli, dan
kesejahterahan serta dapat mengurangi tingkat pengangguran dan kriminalitas.

Menurut data staristik Pertumbuhan Produksi Industri Mikro Kecil (IMK) D.I.
Yogyakarta triwulan III tahun 2017 terhadap triwulan II tahun 2017 mengalami
pertumbuhan positif, yaitu sebesar 2,93%, kemudian kenaikan pertumbuhan
produksi di D.I. Yogyakarta lebih tinggi jika dibandingkan dengan angka
pertumbuhan di tingkat nasional, yang tumbuh sebesar 5,34%. Hal ini dipengaruhi
oleh beberapa faktor baik faktor lingkungan dan faktor sosial, dapat dilihat secara
jelas bahwa Yogyakarta ialah kota pelajar dan metropolitan, sehingga daya konsumsi
masyarakatnya khususnya mahasiswa itu sendiri cukup tinggi sehingga hal ini
memotivasi para produsen untuk memproduksi kebutuhan kebutuham masyarakat
Yogyakarta untuk baik dibidang barang atau jasa.

Sebagi contoh data dari Dinas Perindustrian DIY tahun 2011, jumlah unit
usaha kecil mencapai 80.047 unit, dan jumlah usaha unit besar mencapai 406 unit,
sungguh data yang luar biasa, karena dari banyak nya unit usaha maka akan banyak
menyerap tenaga kerja, menurut data perindustrian DIY, terdapat 292.625 jumlah
tenaga kerja yang terserap pada umkm kecil dan 70.551 tenaga kerja terserap pada
unit usaha besar. Dari tingginya tenaga kerja dan usaha maka akan meningkatkat
peredaran uang, jumlah investasi dari unit usaha UMKM 2013 mencapai Rp
1.064.180.288 dan usaha produksi sebesar Rp 3.294.485.488 (susanto 2012).

1
Industri Kecil adalah perusahaan industri yang tenaga kerjanya antara 5-19
orang. Sedangkan, Industri Mikro adalah perusahaan industri yang tenaga kerjanya
antara 1-4 orang. Hal ini disebabkan oleh teknologi, mesin dan lain lain. Yang pada
umumnya penggunaan sumber daya manusia dpat dikurangi dan tergantikan oleh
mesin demi mencapai target dan efesiensi waktu.

Penggolongan perusahaan industri pengolahan ini semata-mata hanya


didasarkan kepada banyaknya tenaga kerja yang bekerja, tanpa memperhatikan
apakah perusahaan itu menggunakan mesin tenaga atau tidak, serta tanpa
memperhatikan besarnya modal perusahaan itu.

Biasanya produsen dalam memproduksi barang apabila terdapat 2 output,


maka dilihat output mana yang lebih menguntungkan akan diproduksi lebih namun di
buat secara bervariasi agar tidak menimbulkan kejenuhan dalam mengkonsumsi,
produsen zaman sekarang melihat trend dalam memproduksi biasanya produsen
memproduksi food and baverage yang lebih interaktif, tekstil dan pakaian yang
menarik, property rumah tangga yang lebih modern dan lain lain. Selain
menghasilkan barang produsen juga membuat output dalam bidang jasa seperti
membuat majalah, jasa transportasi, jasa pengiriman barang yang termodivikasi oleh
teknologi digital dan lain lain.

Kegiatan memproduksi output tersebut semata-mata untuk mencapai


keuntungan profit yang ditargetkan, tentu tidak jarang produsen seringkali
mengabaikan kemaslahatan lingkungan sekitar, seperti contoh penebangan liar demi
usaha bidang properti, membuat pakaian yang tidak sesuai syari, dan tidak jarang
ditemukan kandungan zat berbahahaya atau zat yang dilarang islam yang terkandung
dalam makanan atau minuman yang di konsumsi oleh konsumen

Islam sebagai agama rahmatulilalamin meberikan bingkai syariat manusia


dalam bermuamalah, khususnya produsen, dimana dalam memproduksi output
produsen harus mematuhi rambu rambu dan syariat agama, keuntungan bukanlah hal
yang dipandang sebelah mata oleh agama, keuntungan ialah termasuk rezeki dari
allah SWT, namun konsep maslahat dalam memproduksi harus diutamakan, dimana
barang yang dibuat mengandung nilai manfaat dan tidak mengandung nilai mudharat,
kemudian seorang produsen juga harus dapat memerhatikan kuantitas suatu barang
agar tidak bernilai mubazir.

2
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja ruang lingkup dalam produksi?
2. Apa saja fungsi dari produksi?
3. Bagaimana memaksimalisasi produksi dan meminimumkan biaya?
4. Bagaimana mengefisiensikan produksi?
5. Apa keuntungan produsen secara umum dan dalam perspektif ekonomi islam?
6. Zakat barang produksi?
7. Bagaimana dampak produksi bagi seorang muslim?
8. Apa saja hal-hal yang dilarang dalam produksi menurut islam?

C. METODE PENELITIAN
Metode penelitian yaitu seperangkat metode yang bersifat sistematis dan
terorganisasi untuk meneliti sebuah topik atau judul penelitian (Susanto Leo, 2013:
95)
Adapun metode penilitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
pustaka (library research) yakni penelitian yang sumber data nya berasal dari pustaka,
kitab, buku, jurnal, majalah, internet, dan lain-lain (Mulyani Widianingsih, 2016: 15).

D. KAJIAN PUSTAKA
1. PENELITIAN SEBELUMNYA
Untuk mempermudah dalam penyusunan makalah ini maka penulis mengkaji
penelitian sebelumnya, berikut beberapa penelitian yang telah dilakukan
sebelumnya sesuai dengan topik pembahasan ini:
Dalam karya Achmad Irfanurrochim (2016: 40) dinyatakan bahwa produksi
merupakan usaha dalam mengeksploitasi sumber daya agar dapat menghasilkan
manfaat ekonomi. Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam
proses produksi, antara lain ialah dilarang memproduksi dan memperdagangkan
komoditas yang tercela, dilarang melakukan kegiatan produksi yang mengarah
pada kezaliman, dilarang melakukan segala bentuk penimbunan serta mampu
memelihara lingkungan dengan baik.
Penelitian yang dilakukan oleh Auni Afifah (2017) disebutkan bahwa dalam
proses produksi, saat mengkombinasikan factor-faktor produksi maka akan
tercipta suatu output. Dengan penambahan modal, output akan meningkat bila
diikuti dengan factor produksi lain, keadaan ketika penggunaan input yang

3
meningkat, sementara input lainnya tetap, maka akan menghasilkan tambahan
output yang akhirnya menurun. Dalam karya ini disebutkan pula bahwa efisiensi
menjadi salah satu factor penentu tingkat produktifitas. Lalu untuk meningkatkan
efisiensi hendaknya produsen dapat mengkombinasikan input faktor produksi
secara tepat atau proposional.
Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Robet Asnawi (133) dinyatakan
bahwa fungsi produksi merupakan perkaitan antara factor-faktor produksi dan
tingkat produksi yang diciptakan. Dalam karya ini disebutkan pula bahwa Sukirno
(2000) dan Adiningsih (1999) menjelaskan bahwa tingkat produksi suatu barang
tergantung pada jumlah modal, jumlah tenaga kerja, jumlah kekayaan alam, dan
tingkat teknologi yang digunakan.

Dalam jurnal Nur Rianto (2001: 162) disebutkan bahwa perilaku produksi
dikenal ada 5 jenis kegunaan:

1. Guna bentuk ialah kegiatan mengubah benda menjadi bernilai ekonomis


2. Guna jasa ialah kegiatan memberikan pelayanan jasa.
3. Guna tempat ialah kegiatan memilih lokasi dimana barang tersebut dapat
bernilai ekonomis
4. Guna waktu ialah kegiatan memilih waktu tertentu
5. Guna milik ialah kegiatan memanfaatkan modal untuk dikelola orang lain
untuk mendapat keuntungan.
Dalam karya Achmad Irfanurrochim (2016: 40) dinyatakan bahwa
produksi merupakan usaha dalam mengeksploitasi sumber daya agar dapat
menghasilkan manfaat ekonomi. Terdapat beberapa prinsip yang perlu
diperhatikan dalam proses produksi. Prinsip tersebut antara lain yakni dilarang
memproduksi dan memperdagangkan komoditas yang tercela, dilarang
melakukan kegiatan produksi yang mengarah pada kezaliman, dilarang
melakukan segala bentuk penimbunan serta memelihara lingkungan. Tujuan
produksi dibagi dalam dua tujuan utama yaitu kebutuhan primer tiap individu dan
kebutuhan primer bagi seluruh masyarakat.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Wahyu Mijil Sampurno (2016),


memiliki tujuan menganalisis penggunaan etika bisnis islam dan pengaruhnya
terhadap perpustakaan. Penelitian ini memiliki objek kajian yaitu industri rumah

4
tangga penghasil Bandeng di kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Adapun dasar-
dasar etika bisnis islam yang mengacu pada lima ukuran kemajuan suatu
perusahaan yaitu, tauhid, keseimbangan, kehendak bebas, ihsan, dan tanggung
jawab. Analisis dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif
kualitatif. Dan hasilnya menunjukkan secara umum perusahaan telah
melaksanakan etika bisnis islam sesuai dengan lima parameter tadi. Hal ini
berdampak pada enam aspek kemajuan bisnis suatu perusahaan.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sri Laksmi Perdanawati, produksi
adalah produksi mata rantai dimana produsen memproduksi barang dan jasa yang
dibutuhkan oleh konsumen atau pun produsen sebagai konsumen, dan produksi
ini tidak hanya untuk mencapai keutungan saja tetapi juga agar mendapatkan nilai
berkah atau pun maslahah.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Muhamad, salah datu faktor utama
dalam kegiatan bisnis adalah laba. Laba menjadi faktor pendorong pengusaha
melakukan usaha. Pendangan mengenai laba dapat dibedakan menjadi 2, yaitu
secara konvensional dan juga islam, secara konvensional biasanya menggunakan
pendekan impersonal, pendekatan ini berdasarkan kondisi pasar, yang telah diatur
dengan kompetisi yang adil. Sementara itu menurut pandangan islam
pemaksimalan laba di dikondisikan menurut 3 faktor yaitu, pandangan islam
dalam bisnis, perlindungan konsumen, dan bagi hasil diantara faktor yang
mendukung produksi.

2. LANDASAN TEORI
a) Produksi
Produksi merupakan kegiatan yang mengkombinasi berbagai input untuk
mengasilkan output.M.Fathorrazi (2013:hlm 87)
Menurut Saleh (2000) produksi merupakan proses yang dilakukan
perusahaan berupa kegiatan mengkombinasikan input (sumber daya) untuk
menghasilkan output (Auni Afifah, 2017: 14). Jadi produsen perlu untuk
meminimumkan penggunaan input untuk menghasilkan output tertentu dan
dengan nilai tambah yang maksimal (Soeratno, 2003: 60).
Produksi adalah suatu kegiatan untuk meningkatkan manfaat dengan
mengkombinasikan factor-faktor produksi capital, tenaga kerja, teknologi,
managerial skill. (Soeharno, 2009 : 67)

5
b) Perilaku Produksi
Perilaku produksi menurut Heri Sudarsono (2004 : 190) perilaku produksi
adalah mencari keuntungan maksimum dengan jalan mengatur
penggunaan factor-faktor produksi seefisien mungkin, sehingga usaha
memaksimumkan keuntungan dapat dicapai dengan cara yang paling
efisien.
Perilaku produsen ialah kegiatan pengaturan produksi untuk menambah
kegunaan atau nilai guna barang atau jaza (M. Zuniroh:2016)

c) Fungsi Produksi
Salvatore (1994: 147) menyatakan bahwa hubungan teknis antara input
dan output tersebut dalam bentuk persamaan, table atau grafik merupakan
fungsi produksi.
Lalu menurut Auni Afifah (2017: 16) fungsi produksi merupakan
hubungan fisik antara variable output dengan variable input, dimana yang
dimaksud output adalah variable yang dijelaskan, sedangkan variable input
adalah variable yang menjelaskan. Jadi fungsi produksi adalah suatu
persamaan yang menunjukkan jumlah
maksimum output yang dihasilkan dengan kombinasi input tertentu
(Ferguson dan Gould, 1975: 140).
Menurut Nasrudin (2010:2,3) fungsi produksi merupakan suatu
hubungan teknis antara input yang digunakan dalam proses produksi
dengan output yang dihasilkan. (Auni Afifah (2017: 18)).
d) Produksi dalam Perspektif Islam
Tokoh Ekonomi Islam Imam Al-Ghazali menguraikan bahwa faktor-
faktor produksi dan fungsi produksi dalam kehidupan manusia, yang
berfokus pada usaha fisik yang dikerahkan manusia dan upaya manusia
untuk mengelola dan mengubah sumber-sumber daya yang tersedia agar
memiliki nilai manfaat. Menurutnya produksi barang-barang kebutuhan
dasar dipandang sebagai kewajiban sosial (Adiwarman A. Karim, 2007:10)

6
E. PEMBAHASAN
1. Ruang lingkup produksi.

Dalam keseharian manusia, istilah produksi dikenal sebagai proses pembentukan


atau penciptaan sesuatu yang nyata atau konkret demi kebutuhan masyarakat. Dalam
teori ekonomi mikro, yang dimaksud dengan produksi adalah tidak hanya meliputi
penciptaan sesuatu yang konkret demi kebutuhan masyarakat saja namun juga
meliputi penciptaan sesuatu yang abstrak. Sesuatu yang abstrak disini ialah seperti,
pendidikan, kesehatan, hiburan, informasi, dan sejenisnya.A Sudarman (2011) Jadi
dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup produksi terdiri dari:

1. Produksi sesuatu yang konkret


Konkret merupakan sesuatu yang nyata, bisa dilihat, disentuh, bahkan
dirasakan manfaatnya. Jadi produksi sesuatu yang konkret yakni menciptakan
suatu barang, seperti baju, rumah, mobil, atau sepatu serta sejenisnya.
2. Produksi sesuatu yang abstrak
Abstrak yaitu sesuatu yang tidak bisa dilihat secara langsung dengan mata
atau bisa disentuh layaknya barang konkret namun manusia tetap bisa
merasakan manfaatnya. Bentuk hasil dari produksi sesuatu yang abstrak yakni
seperti kesehatan, pendidikan, hiburan televisi, dan lain sebagainya.

Pada prinsipnya Islam lebih menekankan berproduksi demi memenuhi


kebutuhan orang banyak, bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan segelintir orang
yang memiliki uang, sehingga memiliki daya beli yang lebih baik. Oleh karena itu,
dalam islam produksi yang surplus dan berkembang baik secara kuantitatif maupun
kualitatif tidak dengan sendirinya mengindikasikan kesejahteraan bagi masyarakat
(Nurul Huda: 2007). Kegiatan produksi dalam perspektif Islam sendiri pada akhirnya
mengerucut pada manusia dan eksistensinya, yaitu mengutamakan harkat kemuliaan
manusia.

Kegiatan produksi dan konsumsi merupakan sebuah ikatan yang saling


berkaitan satu dengan yang lainnya. Kegiatan produksi itu sendiri harus sejalan
dengan kegiatan konsumsi. Tujuan kegiatan produksi yakni menyediakan barang dan
jasa yang memberikan maslahah maksimum bagi konsumen atau masyarakat, yang
diwujudkan dalam pemenuhan kebutuhan manusia.

7
2. Fungsi produksi.

Produksi mempunyai hubungan yang erat dengan produk yang dihasilkan, hal
ini sangat tergantung dari faktor input. Hubungan antara faktor produksi dan produk
dalam proses produksi dapat digambaran sebagai berikut

input Proses produksi output

Untuk memproduksi barang atau jasa perusahaan memerlukan sumber-sumber


produksi, yaitu input-input yang dibutuhakn untuk menciptakan ouput produk. Secara
matematika dapat ditulis sebagai berikut:

Q=f (k,l,t,n)

Keterangan:

Q= output

K= modal/katital

L= tenaga kerja atau labour

T= teknologi

N= sumber daya alam atau nature

a. Prinsip kegiatan produksi yang dilakukan oleh produsen dibagi menjadi 3


bagian:
1) Jangka pendek (short run) bila:
a) Waktu cukup pendek sehingga input tetap.
b) Cukup endek sehingga teknologi tidak berubah.
c) Cukup panjang sehingga satu siklus produksi dapat diselesaikan.
2) Jangka panjang (long run)
a) Bila hanya input variable saja atau tidak ada input tetap.
b) Teknologi konstan.
3) Jangka sangat panjang (very long run)
a) Bila teknologi berubah.
b) Tidak hanya memproduksi satu fungsi produksi saja.
b. Jenis –jenis fungsi produksi:

8
1) konstan return
yaitu jumlah hasil produksi meningkat sama dengan tiap tambahan input
2) inceasing return
yaitu tambahan input menghasilkan tambahan hasil produksi yang lebih
besar dari kesatuan sebelumnya yaitu output
3) deceasing return
yaitu kesatuan tambahan input menghasilkan produksi yang lebih kecil
kesatuan sebelumnya.
c. Konsep suatu fungsi produksi

Yaitu hubungan matematis yang menggambarkan cara dimana jmlah dari hasil
produksi tertentu tergantung dari jumlah input tertentu yang digunakan atau
seuatu model matematis yang menunjukan hubungan fakor prodksi 9input) yang
digunakan dalam jumla barang atau jasa (out put) yang dihasilkan.

Seara matemasts dapat ditulis sebagai berikut:

1) fungsi produksi total


TP-Q=f(l,k)
2) produksi rata-rata
APL=TP/L atau APK=TP/K
3) produksi maarginal
MPL=∆TP/∆L atau MPK=∆TP/∆K

Fungsi produksi pada umunya ditulis sebagai Y=f(X) dimana Y menunjukan hasil
produksi, f sebagai fungsi dari atau tergantung dan X menunjukan input. Apabila
input lebih dari satu secara matematis ditulis; Y=f(X1,X2,Xn). Asumsi-asumsi
dari fungsi produksi tersebut adalah

1) fungsi produksi bersifat continue.


2) fungsi produksi berilai tunggal dari tiap variabel.
3) derefasi satu dan dua fungsi tetap couninue.
4) fungsi produksi bernilai positif baik dalam bentuk input atau output.
5) penggunaan teknologi secara maksimal

Fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan suatu fungsi yang terdiri dari dua atau
lebih variable, dimana variable satu disebut dengan dependen (Y) dan variable

9
yang lain disebut dengan variable independen (X). adapun penyelesaian dari
hubungan antara X dan Y adalah dengan cara regresi yaitu dimana variable X
akan mempengaruhi variable Y. (Amri, 2013 : 20). (Auni Afifah, 2017 : 19).

3. Memaksimalisasi produksi dan meminimumkan biaya.


a. Memaksimumkan produksi.
Keuntungan maksimum dapat dicapai apabila perbedaan hasil penjualan
dengan biaya produksi mencapai tingkat yang paling besar, atau hasil penjualan
melebihi hasil produksi.
Dalam analisis usaha ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu biaya
produksi yang dikeluarkan dan penjualan barang. Dalam jangka pendek,
pemaksimuman keuntungan dilakukan dengan dua cara, yakni membandingan
penjualan total dengan biaya total dan menunjukan hasil penjuaan marginal
sama dengan biaya marginal.
Imam Alghazali ia memberikan penekanan pada etika bisnis bahwa
keuntungan yang hakiki adalah keuntungan di akhirat, yaitu dengan peraturan-
peraturan syariat. Seperti nilai keadilan yang menghindari kozoliman, Imam
Algazali juga mengatakan usaha mengurangi margin keuntungan dengan
menjual harga yang lebih murah akan meningkatkan volume penjualan
kemudian hal ini dapat meningkatkan keuntungan. Al Ghazali (hlm 80)
Pemaksimuman harta perspektif Islam ialah aturan yang diharapkan
mampu mendorong harta agar tidak dipihak tertentu saja maksudnya harta
digunakan untuk kegiatan sosial seperti sedekah, hibah, zakat, dan nafkah.

b. Meminimumkan biaya
Konsep ini muncul karena adanya kenyataan jika sumber-sumber langka
atau terbatas jumlahnya, dan mereka mempunyai penggunaan alternatif. Jadi,
biaya ekonomis adalah barang alternatif yang hilang dan tak bisa diproduksi
karena sumber-sumber digunakan untuk memproduksi barang-barang lain. Biaya
ekonomis disebut juga sebagai pembayaran yang dilakukan oleh suatu perusahaan
kepada para pemilik sumber produksi agar perusahaan dapat memakainya dengan
menariknya dari penggunaan untuk diproduksi barang-barang alternatif tersebut.
Pembayaran ini meliputi tenaga kerja, bahan-bahan mentah, bahan bakar, jasa
transportasi, sewa mesin dan sewa gedung, beban listrik dan lain-lain yang

10
biasanya disebut sebagai biaya eksplisit. Sedangkan sumber-sumber produksi
yang dimiliki oleh perusahaan disebut sebagai biaya implisit.
Dalam hal ini perusahaan harus memperhatkan biaya yang dikeluarkan
dalam memproduksi sesuatu agar mencapai keuntungan yang maksimal. Sepeti
keuntungan finansial yang dihitung oleh akuntan yang merupakan pendapatan
dikurangi biaya eksplisit. Tetapi menurut ahli ekonomi, keuntungan ekonomis
adalah pendapatan dikurangi biaya eksplisit dan implisit termasuk keuntungan
normal.

4. Efisiensi produksi.
Menurut Farrel 1957 (Auni Afifah, 2017 ia mengungkapkan ada 3 jenis
efesiensi diantaranya:
a. Efisiensi Teknis
Ialah kemampuan perusahaan agar menghasilkan output maksimal dari
penggunaan set(bundle) input minimum pada tingkat teknonogi tertentu.
Soekartiwi (2003: 47) meyatakan penggunaan faktor produksi dikatakan
efisien secara teknis bila faktor produksi yang dapat dipakai dapat
menghasilkan produksi maksimum. Penjelasan matematis dapat dilihat
dibawah ini:

ET = Yi/ϔi
Keterangan
ET = tingkat efisiensi teknis
Yi = besarnya produksi output ke i
ϔi = besarnya produksi yang di duga pada pengamatan ke i yang diperoleh
dari rumus frontier cobb doughless.

Dari hasil nya bila efisiensi teknis = 1 maka hasil output efisien, bila < 1 maka
hasil tidak efisien.

b. Efisiensi alokatif
Ialah kemapuan perusahaan menggunakan input pada proposi optimal pada
harga dan teknologi produksi, output dari input yang minimal. Soekartiwi (2003 :
47) yang dimaksud efisiensi harga ialah hubungan antara biaya dengan output,

11
efisiensi harga dicapai saat Nilai Produk Marginal (NPM) untuk faktor produksi
sama dengan harga faktor produksi bersangkutan, secara matematis dapat ditulis :
𝑏.𝑦.𝑃𝑦
=1
𝑋.𝑃𝑥

Keterangan
b = elastisitas produk
y = produksi
X= jumlah faktor produksi X
Py = harga produksi
Px = harga faktor produksi x
Kemudian soekartiwi menyatakan dalam prakteknya efisiensi harga terkadang
menemukan perbedaan sehingga, secara matematis di tulis sebagai berikut:

𝑏𝑃𝑦
1) = 1 artinya bahwa pengguna fajtor produksi X.
𝑝𝑥
𝑏𝑃𝑦
2) > 1 artinya bahwa penggunaan faktor produksi X belum efisien, maka
𝑃𝑥

input X perlu ditambah.


𝑏𝑃𝑦
3) < 1 artinya bahwa penggunaan faktor produksi X tidak efisien, maka
𝑃𝑥

input X perlu dikurangi.

c. Menurut Soekartawi (1994) dalam penelitian Ambri (2013 : 48)


Menjelaskan efisiensi ekonomi akan tercapai bila efisiensi teknik dan efisiensi
alokatif tercapai. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut:
EE=ETXEH
Keterangan
EE adalah efisiensi ekonomi
ET adalah efisiensi teknik.
EH adalah efisiensi harga atau alokatif.
Menurut samsubar saleh (2000) ada 3 kegunaan dlam kegiatan mengukur
efisiensi yaitu:
1) Tolak ukur untuk membandingkan unit ekonomi 1 dengan lainya.
2) Menjawab dari variasi unit ekonomi dalam perbedaan tingkat efesiensi
3) Menentukan kebijakan yang tepat.

12
Dalam karya Tati Suhartati (2012: 126) dinyatakan bahawa, dalam suatu
penelitian, nilai TC (Total Cost) minimum sangat penting artinya, sebeb dengan
diketahuinya nilai TC minimum maka dapat dibandingkan nilai tersebut dengan
nilai TC realita dari objek penelitian menunjukkan degree cost efficiency.

5. Keuntungan produsen secara umum dan dalam perspektif ekonomi Islam.


a. Konsep keuntungan produsen dalam perfektif islam
Dalam konsep ekonomi islam, tujuan konsumen dalam
mengkonsumsi barang dan jasa adaah untuk maslahah, maka produsen dalam
memproduksi barang dan jasa bertujuan memberikan maslahah. Jadi kedua
pihak sama-sama untuk mencapai kemaslahatan yang optimum. Menurut M.
Nejatullah Siddiqi 1992, mendefinisikan kegiatan produksi sebagai
penyediaan barang dan jasa yang memperhatikan nilai keadilan dan
kemanfaatan (kemaslahatan bagi masyarakat). Dalam pandangannya,
sepanjang produsen telah bertindak adil dan membawa kebajikan bagi
masyarakat maka ia telah bertindak islami. Lalu menurut DR. Abdurrahman
Yusro dalam bukunya yang berjudul “Muqoddimah fi ‘Ilmi Al Iqtishad Al
islamy” menjelaskan bahwa dalam melakukan proses produki ukuran
utamanya adalah nilai manfaat (utility) yang diambil dari hasil produksi
tersebut dan masih dalam bingkai nilai halal serta tidak membahayakan
seseorang atau kelompok masyarakat. Dari pernyataan di atas, dapat
disimpulkan bahwa produsen dalam pandang ekonomi islam adalah maslahah
maximizer, mencari keuntungn melelui produksi dan kegiatan bisnis yang
terbingakai dalam hukum islam, namun keuntungan yang dicari bukan
eksploitatif sebesar-besarnya namun kegiatan produsen dapat memberikan
kemaslahatan bagi lingkungan termasuk konsumen.

Imam Alghazali memberikan penekanan pada etika bisnis bahwa


keuntungan yang hakiki adalah keuntungan di akhirat, yaitu dengan peraturan-
peraturan syariat. Seperti nilai keadila yang menghindari kozoliman, Imam
Algazali juga mengatakan usaha mengurangi margin keuntungan dengan
menjual harga yang lebih murah akan meningkatkan volume penjualan
kemudian hal ini dapat meningkatkan keuntungan.Al Ghazali(hlm 80) Motif
keuntungan produsen tidak dipandang salah oleh islam, hal ini merupakan

13
konsekuensi yang logis dari aktivitas produksi karena keuntungnmerupakan
rizki dari Allah .

b. Keuntungan produsen dalam perspektif konvensional


Dalam pandangan ekonomi sekuler maksimalisasi laba atau
keuntungan adalah seautu kondisi yang rasional yang tidak berhubungan
dengan kesejahteraan individu-individu, dalam hal ini para produsen selalu
bersaing untuk memperoleh laba pribadi salam suatu industri yang terbuka,
atau biasa disebut dengan pasar persaingan sempurna dimana konsumen
secara individu tidak memiliki kekuatan untuk menetapkan harga. Konsep ini
mengizinkan para produsen mengambil tingkat keuntungan dari modalnya
yang tidak lebih dari pendapatan absolutnya.

6. Zakat barang produksi.

Adapun jika zakat dikelola secara benar, maka akan dapat membangun
pertumbuhan ekonomi dan keseimbangan distributif pendapatan. Pengelolaan
zakat yang efektif dan efisien, sangat berperan penting dalam hal ini. Zakat sendiri
yakni, mengeluarkan bagian tertentu dari harta tertentu yang telah sampai
nisabnya untuk orang-orang yang berhak menerimanya. (Wahbah Al Zuhaili:
1989) Pada definisi lain, zakat juga berarti pemindahan pemilikan harta tertentu
untuk orang yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat tertentu.
(Abdurrahman Al Juzairi:1990)

Selain suatu kewajiban bagi umat muslim, Al Quran juga menjadikan zakat
sebagai tanggung jawab bagi umat muslim untuk saling tolong menolong antar
sesama. Dalam kewajiban zakat terkandung unsur moral, sosial, dan ekonomi.
Dalam bidang moral, zakat mengikis habis ketamakan dan keserakahan orang
kaya, menghindarkan dari sifat kikir, juga menyucikan harta miliknya. Walaupun
terlihat jelas bahwa harta seorang muzakki, akan berkurang. Namun, pada
hakikatnya harta tersebut berkembang dan akan bertambah keberkahannya.

Dalam ajaran zakat juga terkandung pendidikan terhadap sesama untuk


mempunyai rasa ingin memberi, menyerahkan sebagian hartanya sebagai bukti
kasih sayang terhadap sesama. Islam tidak membiarkan umatnya lemah, dan tidak
membiarkan mereka terhimpit oleh kemiskinan. Allah telah menentukan hak

14
orang miskin dalam harta orang-orang kaya secara tegas. Zakat yang diambil dari
harta orang kaya itulah yang nantinya akan diberikan kepada orang miskin untuk
memenuhi kebutuhan materinya, seperti makan, kebutuhan batin, menuntut ilmu
dankebutuhan lainnya.

Adapun dalam bidang ekonomi, zakat mencegah terjadinya penumpukan


kekayaan pada segelintir orang saja dan mewajibkan bagi orang kaya untuk
mendistribusikan harta kekayaannya pada fakir dan miskin. Zakat sendiri menjadi
sumber dana paling potensial guna mengentaskan kemiskinan. Zakat dapat
berfungsi sebagai modal kerja bagi orang miskin, atau dapat juga sebagai
tambahan modal bagi yang kekurangan modal sehingga usahanya berjalan lancar,
penghasilannya bertambah, dan kebutuhannya tercukupi. Dengan demikian, beban
negara dalam masalah pengangguran dan kemiskinan melalui zakat bisa
terkurangi. Di samping itu Di samping itu, secara ekonomi moneter, zakat dapat
pula mengekang laju inflasi yang disebabkan peredaran uang yang tidak
seimbang, yaitu distribusi kekayaan yang tidak merata di tengah masyarakat. Oleh
karena itu, dengan pengelolaan zakat yang tepat dan produktif secara bertahap
dapat menciptakan stabilitas ekonomi.

Islam menjadikan instrumen zakat bukan karena alasan yang sederhana,


yakni untuk memastikan keseimbangan perndapatan di masyarakat. Hal ini
mengingat tidak semua orang mampu beradu kompetisi dalam kacah ekonomi.
Dengan kata lain, sudah menjadi sunatullah jika di dunia ini ada yang kaya dan
ada pula yang miskin. Pengeluaran dari zakat adalah pengeluaran minimal untuk
membuat distribusi pendapatan menjadi lebih merata. (Rozalina: 2015).

Zakat Barang Produktif

Adapun saat kita masuk ke dalam zakat barang produksi, setidaknya ada dua
jenis nilai hasil dari barang-barang yang bersifat produktif. Pertama, ketika suatu
barang memiliki manfaat untuk orang lain, lalu barang itu disewakan untuk
diambil manfaatnya, dan untuk itu ada pemasukan secara ekonomis ke
pemiliknya. Kebanyakan kita menyebutnya penyewaan barang. Kedua, ketika
suatu barang mampu memproduksi barang baru, lalu barang baru itu punya nilai
ekonomis, dengan cara dijual dan memberikan pemasukan ekonomis bagi
pemiliknya. Mudahnya kita sebut saja produksi barang. Jenis yang kedua dari

15
zakat atas hasil dari barang produktif adalah barang-barang atau alat-alat yang
mampu berproduksi menghasilkan suatu produk baru. Lalu produk produk baru
yang dihasilkan itu bernilai ekonomis dan bisa dijual, sehingga memberikan
pemasukan ekonomis. Maka dari pemasukan dari menjual hasil produksi itulah,
ditetapkan kewajiban zakat. Dalam hal ini, ada dua jenis cara berproduksi dalam
menghasilkan produk baru, yaitu secara alami dan secara mekanis.

1) Produksi Secara Alami

Menurut para ulama yang mendukung zakat ini, di antara contoh benda atau
barang yang bisa berproduksi secara alami adalah hewan dan tumbuhan yang
dipelihara oleh peternak dan petani, di luar zakat pertanian dan peternakan
yang sudah dikenal dalam zakat klasik. Dari jenis hewan misalnya hewan-
hewan yang mampu menghasilkan benda-benda yang bernilai ekonomis,
seperti sapi yang bisa menghasilkan susu, ayam yang bisa menghasilkan telur,
lebah yang bisa menghasilkan madu, biri-biri yang bisa menghasilkan wol,
sampai semua jenis ternak yang bisa menghasilkan daging. Dan dari jenis
tumbuhan misalnya perkebunan yang yang punya nilai jual dari hasil dengan
cukup tinggi, seperti perkebunan kelapa sawit, tembakau, cengkeh, kayu jati,
serta berbagai macam kebun buah-buahan. Seperti mangga, durian, jeruk, apel,
dan masih banyak lagi.

2) Produksi secara mekanis

Sedangkan hasil dari barang hasil produksi manual antara lain dari hasil
produksi pabrik dan manufactur. Pabrik yang mengolah benda, mengawasi
pemrosesan mesin dari suatu produk menjadi produk lain, sehingga
mendapatkan nilai tambah. Adapun manufactur yang mengaplikasikan
peralatan dan suatu medium proses untuk tranformasi bahan mentah menjadi
barang jadi untuk dijual.

Jika melihat secara umum dalam proses dan sistemnya, maka zakat barang
produksi memiliki satu konsep yang sama dengan zakat profesi dan wirausaha
dimana dalam konteks ini penghasilan juga menjadi tolak ukurnya. Adapun
nishab zakat tersebut sebagai berikut:

1) Senilai 85 gram emas

16
2) Telah genap setahun kepemilikan
Zakatnya sebanyak 2,5% dari seluruh penghasilan yang masih ada pada
akhir tahun atau haulnya. (Ismail Nawawi : 2010)

7. Dampak produksi bagi seorang muslim


Muslim dalam melakukan suatu usaha harus memerhatikan nilai antara
hubungan manusia dengan allah(habluminallah) dan hubungan manusia dengan
manusia(habluminannnas) serta hubungn manuisia dengan alam(habluminal
alam). Jadi bagi serorang muslim dalam melakukan kegiatan produksi harus
mampu melihat dampak kegiatan memproduksi suatu barang, apakah barang
tersebut bernilai maslahat, apakah output yang teripta sudah sesuai dengansyariat
islam, dan lain sebagainya.
Tentu saja hal ini sudah diatur dalam syariat islam agar kedua pihak baik
produsen dan konsumen dapat menerima hasil yang memuaskan dan tidak ada
yang dirugikan sama sekali. Namun dalam kegiatan produksi sering dijumpai
dampak dampak kegiatan memproduksi suatu output, baik dampak positif atau
dampak negatif, diantaranya:

Positif Negatif
Mendapatkan keuntungan Pencemaran lingkungan
SUsaha tetap berlangsung Memungkinkan rusaknya habitat flora
fauna, rusaknya rantai makanan
Memenuhi permintaan konsumen Kepunahan
Mengurangi jmlah pengangguran,
Miningkakan pendapatan
masyarrakat, membantu pemerintah
membangun negara

Sejauh ini dampak keiatan produksi output antara konvensional dan syariah
ialah sama, kedua hal tersebut memiliki dapak positif dan negatif yang sama,
namun yang menjadi pembeda antara kedua hal tersebut ialah produksi syariah
lebih mengutamakan nilai religius terhadap rezeki yang diberikan oleh allah swt,
produsen sudut pandang islami memanadang bahwa kekayaan yng haqiqi ialah

17
milik allah swt dan milik masyarakat lain, sehingga Produsen juga memiliki
kepentingan untuk memajukan dan mensejahterahkan masyarakat sekitar, alasan
nya ialah nilai kemanusiaan sehingga perlu adanya sharing atau kegiatan
shodaqoh bagi lingkungan sekitar, kemudian adanya dikenakan zakat produksi
suatu barang sehingga dapat menseahterahkan masyarakat sekitar pabrik atau unit
kegiatan prodduksi.
Kemudian ada nya timbal balik dari kegiatan produsen berbuat baik pada
lingkungnnya, sehingga masyarakat sekitar dapat bekerja optimal daan semakin
bersemangat dalam bekerja.
8. Hal-hal yang dilarang dalam produksi menurut islam.
Allah SWT. sebagai pencipta alam semsesta telah menganugerahkan semua
sumber-sumber ekonomi yang ada di bumi untuk diambil manfaatnya oleh
manusia sebatas kemampuannya serrta demi keuntungannya. Hal ini sesuai
dengan firman Allah SWT. “Tidakkah kamu perhatikan bahwa sungguh Allah
SWT. telah menundukkan untuk kepentinganmu apa yang di langit dan apa yang
di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmatnya lahir dan batin. (QS. Luqman
31:20)”
Karena pentingnya produksi dan demi kelangsungan hidup manusia, Allah
SWT. mengizinkan manusia dalam mencari kehidupan dengan cara berdagang,
bahkan itupun selama melaksanakan ibadah haji sesuai dengan firman Allah
SWT. “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan)
dari tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berzikirlah kepada
Allah SWT. di Masy’arilharam. Dan berzikirlah dengan menyebut Allah SWT.
sebagaimana yang ditunjukkannya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum
itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat (QS. Al-Baqarah: 198).”
Hal-hal tersebut di dukung dengan hadits-hadits dari nabi Muhammad SAW.
yang memotivasi manusia dalam usaha mencari kehidupan, diantaranya:
a. “Mencari rezeki yang halal adalah kewajiban sesudah kewajiban utama(yaitu
shalat)”
b. “Ada dosa-dosa tertentu yang hanya dapat dihapus dengan upaya ekonomi
yang terus menerus;”

Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah di atas, semua cara guna mencari nafkah
dibolehkan asal jujur, adil, dan bermoral serta tidak secara tegas dilarang. Jadi

18
sistem ekonomi Islam tidak memperbolehkan kebebasan yang tak terbatas, seperti
kapitalisme, mencari harta dengan menghalalkan segala cara, serta anti-sosial dan
egois.

Secara spesifik hal-hal yang dilarang dalam produksi menurut Islam antara lain:

a. Riba(bunga)
Dalam QS. Ali-Imran ayat 130 yang artinya “hai orang-orang yang beriman
janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu
kepada allah supaya kamu mendapa keberuntungan” ini menunjukkan bahwa
Allah melarang keras pengambilan riba hanya untuk mencari keuntungan semata.
Hal ini juga ditengkan dalam surah Al-Baqarah 275-276 dan Al-Baqarah 278-279.
Lalu Rasulullah juga bersabda yang disampaikan oleh Abu Sa’id Al Khudri
bahwa “emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, bur
dengan bur, kurma dengan kurma, aram dengan garam, sama setimbang dan tunai
yang memberi atau menerima lebih, maka baik penerima maupun penerima itu
sama dalam hal mengambil riba” H.R Muslim Muhammad syarif Chaudhary(2012
hlm 7)
b. Suap
Suap merupakan dosa besar dan kejahatan kriminal di dalam suatu negara
Islam karena melenyapkan keadilan dan melahirkan bencana sosial-ekonomi.
Sesuai dengan QS. Al-Maidah 156 yang artinya “hai orang-orang yang beriman,
apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat,
maka hendklah wasiat itu disaksikan oleh dua orang yang adil diantara kamu
atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu jika kamu dalam perjalanna
dimuka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian.kamu tahan kedua saksiitu
sesudah sembahyang untuk bersumpah lalu mereka keduanya bersumpah dengan
nama Allah, jika kmu ragu-ragu,:”demi Allah kami tidak akan membeli dengan
sumpah ini dengan harga yang sedikit /(untuk kepentingan seseorang), walaupun
dia karib kerabat dan tidak pula kami menyembunykan persaksian allah,
sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang –orang yang
berdosa”
c. Memperdagangkan minuman keras dan narkotika
Dalam hadis yang diriwayatkan Tirmidzi dan Ibnu Majah, Anas bin Malik
melaporkan bahwa Nabi SAW. mengutuk sepuluh pihak karena minuman keras:

19
pemerasnya, orang yang membatu memerasnya, peminumnya=pembawanya,
penerimanya, pemberi minum dengan nya, penjualnya, pemakan harganya,
pembelinya, serta orang, tempat ia membelinya” hadis tersebut didukung oleh QS.
Al-Baqarah 219 yang artinya “mereka bertanya padamu tentang khamar dan judi.
Katakanlah:”pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi
manusia tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya….”
d. Menimbun barang penting
Seperti kebutuhan pokok atau yang bisa disebut dengan monopoli, dengan
tujuan menjual harga ketika sedang tinggi hal ini sangat ditentang oleh islam.
Seperti hadis yang diriwayatkan razin yaitu ibnu umar melaporkan bhwa
rasulullah SAW. bersaba “:barang siapa menimbun barang makanan selama 40
hari dengan maksud menaikan harga, maka ia melepaskan diri dari allah, dan allah
pun berlepas diri dari nya.” Hadis lain yang menerangkan larangang tersebut yaitu
hadis yang diriwayatkan oleh muslim, M’ar melaporkan bahwa rasulullah SAW
bersabda:”tidak memonopoli melainkan pendosa”
e. Memalsukan ukuran, timbangan, dan takaran.

QS. Asy-Syu’araa’ 181-183 “sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu


termasuk orang-orang yang merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang
lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah
kamu merajalelala di muka bumi dengan membuat kerusakan.”

20
F. KESIMPULAN
Produksi secara umum dikenal sebagai suatu proses dalam menciptakan
sesuatu yang nyata untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun ruang lingkup
produksi sendiri menurut ekonomi mikro dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu
produksi konkrit (nyata) dan juga produksi abstrak. Dalam memproduksi sesuatu,
perodusen memerlukan faktor-fakror produksi yaitu, tanah, sewa, tenaga kerja, dan
bahan baku, kemudian diolah sehingga menghasilkan output produksi. Fungsi
produksi ini sendiri dapat dituliskan dengan rumus Q=f (k,l,t,n). Fungsi produksi ini
dapat dibedakan dalam 3 jenis yaitu fungsi konstan return, increasing return, dan
deceasing return. Dalam melakukan kegiatan produksi tentu seorang produsen ingin
menghasilkan laba yang optimal dengan menggunakan seminimum mungkin biaya
yang dikeluarkan. Hal ini dapat terjadi jika selisih hasil penjualan dengan biaya
produksi mencapai tingkat yang paling besar, atau hasil penjualan melebihi hasil
produksi. Meminimumkan biaya bisa dilakukan produsen dengan mencari bahan baku
alternatif yang lebih efisien baik dari segi biaya maupun waktu. Dalam upaya
memproduksi ini produsen akan menemukan biaya eksplisit dan implisit.
Efisiensi produksi merupakan salah satu cara produsen untuk mendapatkan
keuntungan yang optimal, efisiensi sendiri dibagi menjadi 3 yaitu, teknis, alokatif, dan
gabungan dari keduanya. Dalam hal memandang segi keuntungan dapat kita bedakan
menjadi 2 yaitu menurut islam dan juga konvensional, secara islam keuntung berba
laba juga merupakan salah satu hal yang di prioritaskan, namun secara umum tujuan
nya adalah untuk menghasilkan suatu barang yang dapat bermanfaat untuk
kemashlahatan umat, sehingga tidak berfokus pada laba yang didapatkan saja,
sedangkan secara konvensional keuntung dalam bentuk laba adalah hal yang rasional
karen kegiatan ekonomi selain untuk memenuhi kebutuhan tentu juga untuk mencari
keuntungan, namun tingkat laba pun dibatasi yakni tidak lebih dari pendapatan
absolut.
Kegiatan produksi ini tentu mengahasilkan dampak positif dan juga negatif,
hal ini terganung bagaiman seorang muslim melakukannya, namun jika telah sesuai
dengan ketentuan Allah, maka insyallah akan membawa kemaslahatan bagi umat
islam. Dalam islam harta kekayaan yang dimiliki maunisa tidak lah menjai miliknya
sepenuhnya, namun disebagian harta yang ia miliki itu terdapat harta sebgaian kaum
muslimin, dan juga allah sebagai pemilik segalanya. Oleh sebab itu zakat adalah salah
satu hal yang diwajibkan dalam islam, dalam hal ini adalah barang-barang yang

21
digunakan untuk melakukan produksi atau yang digunakan dalam produksi. Perlu
dizakatkan dalam kegiatan produksi ini juga islam melarang melakukan tindakan
kecurangan atau hal-hal yang dilarang dalam al-quran, seperti memproduksi minuman
keras, riba, suap, menimbun barang penting dan juga mengurangi takaran atau
timbangan.

22
G. DAFTAR PUSTAKA

Buku

Chaudhry, Muhammad Sharif. 2012. Sistem ekonomi islam:prinsip dasar. Jakarta.


Kencana.

Joesron, Tati Suhartati, m.fathorrazi. 2012. Teori ekonomi mikro:dilengkapi beberapa


bentuk fungsi produksi. Yogyakarta. Graha ilmu.

Dr. Rozalinda M.Ag, Ekonomi Islam (Teori dan Aplikasinya pada Aktivitas Ekonomi),
(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada),

Sudarsono, Heri. 2004. Konsep Ekonomi Islam: suatu pengantar. Yogyakarta. Ekonisia.

Abdul-Karim, Adiwarman. 2007. Ekonomi Mikro islami. Jakarta. Raja Grafindo Persada.

Pindyck, Robert S. 2008. Mikroekonomi. Jakarta. Indeks.

Jurnal

Muhammad Khafid Abdillah Bil Haq dan Royyan Ramdhani Djayusman, Islamic
Economic Journal vol. 1. No.2. Desember 2015, (Ponorogo: University Of
Darussalam Gontor), Hal. 172.

Ari Sudarman. Modul Teori Ekonomi Mikro: Kegiatan Belajar 3. Repository UT.

Muhammad. Maksimalisasi Laba Usaha: Perspektif Konvensional dna Islam. Sekolah


Tinggi Ekonomi Islam Yogyakarta.

Robet Asnawi. Analisis Fungsi Produksi Usaha Tani Ubi Kayu dan industry Tepung
Tapioka Rakyat di Provinsi lampung. Unila Bandar Lampung.

M. Zuniroh. 2016. Tinjauan Umum Tentang Perilaku Produksi dalam Perspektif Islam-
Jurnal. UIN Walisongo.

Skripsi

Afifah, Aini. 2017. Analisis efisiensi penggunaan factor-faktor produksi pada usaha tani
kentang di Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta.

23
Irfanurrochim, Achmad. 2016. Analisis pengaruh jumlah tenaga kerja, jumlah investasi
dan jumlah hasil produksi industry pengolahan terhadap pertumbuhan ekonomi di
Kota Bontang tahun 2004-2014. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Widianingsih, Mulyani. 2016. Tinjauan Etika Bisnis Islam Terhadap Pengelolaan


Keuangan Badan Layanan Umum (BLU) pada Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Yogyakarta. UIN Sunan Kalijaga.

24