Anda di halaman 1dari 18

TENTANG BENTUKLAHAN

ASAL DENUDASIONAL

Oleh :
Sabar Setyawan
416020010

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNEVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM
2018
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Segalap Puji bagi Allah SWT Yang telah memberikan rahmat serta
hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “ Tentang
Bentuklahan Asal Denudasional” dan Aplikasinya, pada mata kuliah perbankan
syariah denga tepat waktu.

Shalawat serta salam atas junjungan alam Nabi Muhammad SAW, yang telah
membawa perubahan besar di permukaan bumi yang saat ini kita rasakan.

Ucapan terimakasi penulis kepada Bapak/Ibu Dosen pembimbing mata kuliah


Geologi Lingkungan yang telah memberikan kesmpetan kepada penulis untuk
menyelesaikan makalah ini dan trimakasi kepada segala pihak yang telah membantu
dalam proses penyelesaian makalah ini semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
segala pihak serta dapat menjadi tolak ukur dalam penilaian mata kuliah Geologi
Lingkungan.

Wasalamualikum.

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTA .......................................................................................


DAFTAR ISI ...................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ...........................................................................................


B. Rumusan Masalah ......................................................................................
C. Tujuan Pembahasan ...................................................................................

BAB II PEMBAHASAN

A. Dasar Teori .................................................................................................


B. Ciri – ciri Bentuklahan Asal Denudasional ...............................................
C. Proses Terbentuknya Bentuklahan Asal Denudasional..............................
D. Satuan Bentuklahan Denudasional .............................................................

BAB III Kesimpulan

A. Kesimpulan ................................................................................................
B. Saran ...........................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Klasifikasikan bentuklahan berdasarkan genesisnya menjadi 10 (sepuluh)


macam bentuklahan asal proses, yaitu bentuklahan asal proses volkanik, bentuklahan
proses structural, bentuklahan asal fluvial, bentuklahan asal proses solusional ,
bentuklahan asal proses denudasional, bentuklahan asal proses eolin, bentuklahan asal
proses marine , bentuklahan asal glasial , bentuklahan asal organik , bentuklahan asal
antropogenik.
Proses denudasional dimaksudkan adalah besarnya material permukaan bumi
yang telepas dan terangkut oleh berbagai tenaga geomorfologi persatuan luas dalam
waktu tertentu. Proses-proses tersebut dapat berupa erosi dan gerakan massa batuan.
Berdasarkan daerah yang ditinggalkan oleh material tersebut maupun daerah deposisi
material akibat gravitasi dikenal sebagai fenomena permukaan bumi yang terdenudasi
serta bentukanlahannya dikelomlompokan dalam bentukan asal denudasional.

B. Rumusan Masalah
a. Teori Bentuklahan Asal Proses Denudasional
b. Bagaimana Ciri – ciri Bentuklahan Asal Proses Denudasional
c. Proses Terbentuknya Bentuklahan Asal Proses Denudasional
d. Satuan Bentuklahan Asal Proses Denudasional
C. Tujuan Pembahasan
a. Menjelaskan Teori Bentuklahan Asal Proses Denudasional
b. Menjelaskan Ciri-ciri Proses Asal Denudasional
c. Menjelaskan Proses Terbentuknya Asal Proses Denudasional
d. Menjelaskan Satuan Bentuklahan Asal Proses Denudasional

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Dasar Teori
Denudasi berasal dari kata dasar nude yang berarti telanjang, sehingga
denudasi berarti proses penelanjangan permukaan bumi. Bentuk lahan asal
denudasional dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk lahan yang terjadi akibat
proses-proses pelapukan, erosi, gerak masa batuan (mass wating) dan proses
pengendapan yang terjadi karena agradasi atau degradasi.
Denudasi meliputi dua proses utama yaitu pelapukan dan perpindahan
material dari bagian lereng atas ke lereng bawah oleh proses erosi dan gerak
massa batuan (mass wasting). Pelapukan adalah proses berubahnya sifat fisik dan
kimia batuan di permukaan dan atau dekat permukaan bumi tanpa di sertai
perpindahan material. Pelapukan dapat dibagi manjadi pelapukan fisik, dan
pelapukan biotic. Pelapukan fisik merupakan proses pecahnya batuan menjadi
ukuran yang lebih kecil tanpa diikuti oleh perubahan komposisi kimia batuan.
Perubahan kimia merupakan proses berubahnya komposisi kimia batuan sehingga
menghasilkan mineral sekunder.
Faktor pengontrol pelapukan adalah batuan induk, aktivitas organism,
topografi, dan iklim. Didalam evolusi bentanglahan yang menghasilkan
bentuklahan denudasional, adanya faktor yang mempengaruhi perkembangan
bentuklahan struktur geologi, proses geomorfologi dan waktu. Dengan adanya
faktor tersebut maka dalam evolusinya, bentuklahan melewati beberapa stadium ;
stadium muda, stadium dewasa, stadium tua.
Proses denudasional sangat dipengaruhi oleh tipe material (mudah lapuk),
kemiringan lereng, curah hujan dan suhu udara serta sinar matahari, dan aliran-
aliran yang relatif tidak kontinyu. Umumnya bentuk lahan ini terdapat pada

2
daerah dengan topografi perbukitan atau gunung dengan batuan yang lunak
(akibat proses pelapukan) dan beriklim basah, sehingga bentuk strukturnya tidak
nampak lagi karena adanya gerakan massa batuan.

B. Ciri-Ciri Bentuk Lahan Asal Denudasional


Bentuklahan yang terbentuk akibat proses denudasional memiliki ciri-ciri
tersendiri, yaitu :
1. Relief sangat jelas seperti adanya lembah, lereng, pola aliran sungai, dll.
2. Tidak ada gejala structural, batuan massif, dip/strike tertutup.
3. Dapat dibedakan dengan jelas terhadap bentuk lahan lain.
4. Relief local pola aliran dan kerapatan aliran menjadi dasar utama untuk
merinci satuan bentuk lahan.
5. Litologi menjadi dasar pembeda kedua untuk merinci satuan bentuk lahan.
Litologi terasosiasi dengan bukit, kerapatan aliran dan tipe proses.
C. Proses Terbentuknya Bentuk Lahan Asal Denudasional
1. Pelapukan
Pelapukan diartikan sebagai proses hancurnya massa batuan oleh
tenaga eksogen. Pelapukan adalah proses penyesuaian kimia, mineral dan sifat
fisik batuan terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya. Faktor-faktor yang
mempengaruhi pelapukan diantaranya :
a. Jenis batuan (kandungan mineral, retakan, bidang perlapisan, patahan dan
retakan). Contoh : Limestone yang resisten pada iklim kering tetapi tidak
resisten pada iklim basah.
b. Iklim, temperature dan curah hujan sangat mempengaruhi pelapukan.
c. Vegetasi. Secara mekanis akar-akar tumbuhan menembus batuan,
bertambah panjang dan membesar membuat batuan pecah. Secara
kimiawi, melalui akarnya tumbuhan mengeluarkan zat kimiawi yang
mempercepat pelapukan.

3
d. Topografi. Topografi yang kemiringannya besar dan menghadap arah
datangnya sinar matahari atau arah hujan, maka akan mempercepat proses
pelapukan.
2. Gerakan Massa Batuan (Mass Wasting)
Mass Wasting adalah perpindahan massa batuan yang ada di lereng
oleh pengaruh gravitasii atau kejenuhan massa air. Pada batuan yang
mengandung air, gerakan massa batuan lebih lancar daripada batuan yang
kering. Yang membedakan mass wasting dan erosi yaitu, pada mass wasting
air hanya berjumlah sedikit dan fungsinya bukan sebagai pengangkut,
melainkan hanya sekedar membantu memperlancar gerakan saja sedangkan
dalam erosi diperlukan adanya tenaga pengangkut dan air merupakan salah
satu agen pengangkut dalam erosi.
Faktor-faktor yang mengontrol mass wasting yaitu sebagai berikut:
a. Kemiringan lereng, makin besar sudut kemiringan lereng semakin besar
pula peluang terjadinya mass wasting.
b. Relief local, terutama yang memiliki kemiringan lereng cukup besar,
misalnya kubah, mempunyai peluang yang besar untuk terjadinya mass
wasting.
c. Ketebalan hancuran batuan (debris) diatas batuan dasar.
d. Orientasi bidang lemah dalam batuan .
e. Iklim.
f. Vegetasi.
g. Gempa Bumi.
h. Tambahan material pada bagian atas lereng.
3. Erosi
Erosi merupakan proses geomorfologi berupa pelepasan dan
terangkutnya material bumi oleh tenaga geomorfologis baik kekuatan air,
angin, gletser atau gravitasi. Factor yang mempengaruhi erosi tanah antara
lain sifat hujan, kemiringan lereng, dari jaringan aliran air, tanaman penutup

4
tanah dan kemampuan tanah untuk menahan dispersi dan unutk mengjisap
kemudian merembeskan air ke lapisan yang lebih dalam.
Faktor-faktor lain yang mempengaruhi erosi tanah yaitu :
a. Iklim. Factor iklim yang berpengaruh adalah curah hujan, angin,
temperature, angin, kelembapan dan penyinaran matahari.
b. Topografi, berupa kemiringan lereng, konfigurasi, keseragaman, dan arah
lereng mempengaruhi erosi.
c. Vegetasi, berperan untuk mengurangi kecepatan erosi yang berkaitan
dengan jenis tumbuhan dan aliran permukaan.
d. Tanah, kecepatan tanah terhadap erosi tergantung pada sifat-sifat tanah
yang mempengaruhi laju infitrasi, permeabilitas, kapasiatas menahan air
dan struktur tanah.
4. Sedimentasi atau Pengendapan
Sedimentasi adalah proses penimbunan tempat-tempat yang lekuk
dengan bahan –bahan hasil erosi yang terbawa oleh aliran air, angin, maupun
gletser. Sedimentasi tidak hanya terjadi dari pengendapan material hasil erosi
saja, tetapi juga dari proses mass wasting.
Denudasi berasal dari kata dasar nude yang berarti telanjang, sehingga
denudasi berarti proses penelanjangan permukaan bumi. Bentuk lahan asal
denudasional dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk lahan yang terjadi
akibat proses – proses pelapukan, erosi, gerak masa batuan (mass wasting)
dan proses pengendapan yang terjadi karena agradasi atau degradasi.
Bentuklahan asal denudasional memiliki 9 satuan bentuk, yaitu sebagai
berikut.

5
D. Satuan Bentuklahan Denudasional

1. Pegunungan Terkikis (D1)

Gambar 2.1 Pegunungan terkikis di Canyonland Nasional Park

Gambar 2.2 Gunung Roraimayang ditemukan di Venezuela, Brazil, dan


Guyana

Karakteristik umum unit mempunyai topografi bergunung dengan lereng


sangat curam (55>140%), perbedaan tinggi antara tempat terendah dan tertinggi
(relief) > 500 m.Mempunyai lembah yang dalam, berdinding terjal berbentuk V
karena proses yng dominan adalah proses pendalaman lembah (valley deepening).

6
Contoh pegunungan terkikis berada di Canyonland nasional park, Utah, Amerika
Serikat dan Gunung Roraima (gunung meja besar) yang ditemukan di Venezuela,
Brazil, dan Guyana.

2. Perbukitan Terkikis (D2)

Gambar 2.3 Perbukitanterkikis di daerah

Gambar 2.4 Perbukitanterkikis didaerah Oe’sapa, Kupang, NTT

7
Mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan lereng berkisar
antara 15 > 55%, perbedaan tinggi (relief lokal) antara 50 -> 500 m. Terkikis
sedang hingga kecil tergantung pada kondisi litologi, iklim, vegetasi penutup baik
alami maupun tata guna lahan. Contoh adalah pulau Berhala, hamper 72,54
persen pulau tersebut merupakan perbukitan dengan luas 38,19 ha. Perbukitan
yang berada di pulau tersebut adalah perbukitan denudasional terkikis sedang
yang disebabkan oleh gelombang air laut serta erosi sehingga terbentuk lereng-
lereng yang sangat curam. Contoh lain yaitu perbukitan terkikis di daerah Jawa,
Perbukitan terkikis di daerah Oe’sapa, Kupang, NTT dan perbukitan terkikis di
Soreang, Bandung.
3. Bukit Sisa (inselberg) (D3)

Gambar 2.5 Inselberg didaerah Israel

Gambar 2.6 Inselberg didaerah Nivali, Mozambique

8
Apabila bagian depan (dinding) pegunungan/perbukitan mundur akibat
proses denudasi dan lereng kaki bertambah lebar secara terus menerus akan
meninggalkan bentuk sisa dengan lereng dinding yang curam. Bukit sisa terpisah
atau inselberg tersebut berbatu tanpa penutup lahan (barerock) dan banyak
singkapan batuan (outcrop). Kenampakan ini dapat terjadi pada
pegunungan/perbukitan terpisah maupun pada sekelompok
pegunungan/perbukitan, dan mempunyai bentuk membulat. Apabila bentuknya
relative memanjang dengan dinding curam tersebut monadnock. Contoh bukit sisa
yaitu berada pada daerah Israel, daerah Nivali, Mozambique, daerah Ikere Ekiti
(biasanya juga disebut Ikere atau Ikerre town), Barat daya Nigeria.

4. Perbukitan Terisolir (D4)

Gambar 2.7 Puncak Bukit Jati Bungkus

Daerah Karangsambung berada di Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa


Tengah, Indonesia. Bukit berukuran 350 x 150 meter ini tampak terisolir di antara
dataran di sisi utara dan selatannya. Di lokasi ini terdapat batugamping dengan
fosil berupa Foraminifera besar, ganggang merah, ganggang hijau,
serta Milliodidae. Selain itu, ditemukan juga pecahan-pecahan kuarsa, rijang, dan

9
batuan metamorf, yang mengindikasikan bahwa batuan ini diendapkan dekat
dengan sumbernya.

5. Dataran Nyaris (Peneplain) (D5)


Akibat proses denudasional yang bekerja pada pegunungan secara terus
menerus, maka permukaan lahan pada daerah tersebut menurun ketinggiannya
dan membentuk permukaan yang hamper datar yang disebut dataran nyaris
(peneplain). Dataran nyaris dikontrol oleh batuan penyusunan yang mempunyai
struktur berlapis (layer). Apabila batuan penyusun tersebut masih dan mempunyai
permukaan yang datar akibat erosi, maka disebut permukaan planasi.

Gambar. 2.8 Dataran nyaris yang terjadi akibat proses denudasional yang
bekerja pada pegunungan atau perbukitan

Gambar. Dataran Nyaris Terjadi karena letusan gunung Merbabu pada


tahun 1968 yang menyebabkan erosi sehingga membentuk dataran tinggi yang
lebar dan terpisah pada puncak-puncaknya yang kemudian membentuk kaldera-
kaldera yang telah mati seperti Kawah Condrodimuko, Kawah Kombang, Kawah
Kendang dan Kawah Sambernyowo.

10
Gambar. 2.9 Dataran nyaris yang terjadi akibat proses denudasional
yang bekerja pada pegunungan atau perbukitan

6. Kaki Lereng (Foot Slope) (D6)


Mempunyai daerah memanjang dan relatif sermpit terletak di suatu
pegunungan atau perbukitan dengan topografi landai hingga sedikit terkikis.
Lereng kaki terjadi pada kaki pegunungan dan lembah atau dasar cekungan (basin).
Permukaan lereng kaki langsung berada pada batuan induk (bed rock). Dipermukaan
lereng kaki terdapat fragmen batuan hasil pelapukan daerah di atasnya yang diangkut
oleh tenaga air ke daerah yang lebih rendah.

Gambar 2.10 FOOT SLOPE Lac aux Américains, Gaspésie, Québec, Canada

11
7. Kipas Rombakan Lereng (D7)
Mempunyai topografi berbentuk kerucut/kipas dengan lereng curam (350).
Secaraindividu fragmen batuan bervariasi dari ukuran pasir hingga blok, tergantung
padabesarnya cliff dan batuan yang hancur. Fragmen berukuran kecil
terendapkanpada bagian atas kerucut (apex ) sedangkan fragmen yang kasar meluncur
kebawah dan terendapkan di bagian bawah kerucut talus.

Gambar7.11 Rombakan Lereng Odle-Mountains, Dolomites, Italy

8. Gawir (D8)
Gawir yaitu dinding terjal (kerap kali disebabkan oleh pergeseran)

Gambar 2.12 Gawir Pegunungan Wamena Papua

12
9. Lahan Rusak (BAD LAND) (D9)
Merupakan daerah yang mempunyai topografi dengan lereng curam hingga
sangat curam dan terkikis sangat kuat sehingga mempunyai bentuk lembah-lembah
yang dalam dan berdinding curam serta berigir tajam (knife-like) dan membulat.
Proses erosi parit (gully erosion) sangat aktif sehingga banyak singkapan batuan
muncul ke permukaan (rock outcrops).

Gambar.2.13 Badland di Bahia Brazil

13
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Bentuk lahan asal denudasional terbentuk akibat akibat proses-proses geologi


seperti pelapukan, pergerakan massa (mass wasting) dan sedimentasi.
 Faktor dominan yang mendorong terbentuknya bentuklahan asal denudasional
adalah iklim, jenis batuan induk, topografi, aktivitas organism dan vegetasi.
 Perbedaan antara mass wasting dan erosi adalah pada mass wasting air berfungsi
membantu menperlancar gerakan saja, sedangkan pada erosi air berfungsi sebagai
salah satu agen pengangkut material sedimen.

14
DAFTAR PUSTAKA

Pamela, 2012, Laboratorium Geologi Citra Penginderaan Jauh,


https://www.scribd.com/doc/96945465/Bentuk-Asal-Denudasional akses tanggal
15/04/2018

15