Anda di halaman 1dari 9

Identifikasi masalah

a. Bayi umur 8 jam dgn keluhan merintih 4 jam setelah lahir.


b. Skor Apgar 5 pada menit pertama dan 9 pada menit kelima, BBL 3,5 kg.
c. Kehamilan aterm dan Ibunya mengalami ketuban pecah sebelum waktunya 2 hari
yg lalu dan berbau tidak sedap
d. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan bahwa bayi tsb hipoaktif, takipnoe, tidak ada
refleks menghisap, dan ada retraksi dada.

Hipotesis
Bayi lahir cukup bulan dan SMK (sesuai masa kehamilan) mengalami
respiratory distress karena suspect bronkopneumonia yang mengarah ke sepsis
neonatorum.

Sintesis
a. Perubahan Fisiologis Pernafasan pada Bayi Baru Lahir:
Menurut Pusdiknakes (2003) perubahan fisiologis pada bayi baru lahir adalah :
Selama dalam uterus, janin mendapatkan oksigen dari pertukaran gas melalui
plasenta. Setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru – paru.
- Perkembangan paru-paru
1. Paru-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari pharynx yang bercabnga dan
kemudian bercabang kembali membentuk struktur percabangan bronkus proses ini
terus berlanjit sampai sekitar usia 8 tahun, sampai jumlah bronkus dan alveolusn
akan sepenuhnya berkembang, walaupun janin memperlihatkan adanya gerakan
napas sepanjang trimester II dan III. Paru-paru yang tidak matang akan mengurangi
kelangsungan hidup BBL sebelum usia 24 minggu. Hal ini disebabkan karena
keterbatasan permukaan alveolus, ketidakmatangan sistem kapiler paru-paru dan
tidak tercukupinya jumlah surfaktan.
- Awal adanya napas
Faktor-faktor yang berperan pada rangsangan nafas pertama bayi adalah :
1. Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim yang
merangsang pusat pernafasan di otak.
2. Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru - paru selama
persalinan, yang merangsang masuknya udara ke dalam paru - paru secara
mekanis.
Interaksi antara system pernapasan, kardiovaskuler dan susunan saraf pusat
menimbulkan pernapasan yang teratur dan berkesinambungan serta denyut yang
diperlukan untuk kehidupan.
3. Penimbunan karbondioksida (CO2)
Setelah bayi lahir, kadar CO2 meningkat dalam darah dan akan merangsang
pernafasan. Berurangnya O2 akan mengurangi gerakan pernafasan janin, tetapi
sebaliknya kenaikan CO2 akan menambah frekuensi dan tingkat gerakan
pernapasan janin.
4. Perubahan suhu
Keadaan dingin akan merangsang pernapasan.
- Surfaktan dan upaya respirasi untuk bernapas
Upaya pernafasan pertama seorang bayi berfungsi untuk :
1. Mengeluarkan cairan dalam paru-paru
2. Mengembangkan jaringan alveolus paru-paru untuk pertama kali.
Agar alveolus dapat berfungsi, harus terdapat survaktan (lemak lesitin /sfingomielin)
yang cukup dan aliran darah ke paru – paru. Produksi surfaktan dimulai pada 20
minggu kehamilan, dan jumlahnya meningkat sampai paru-paru matang (sekitar 30-
34 minggu kehamilan). Fungsi surfaktan adalah untuk mengurangi tekanan
permukaan paru dan membantu untuk menstabilkandinding alveolus sehingga tidak
kolaps pada akhir pernapasan.
Tidak adanya surfaktan menyebabkan alveoli kolaps setiap saat akhir pernapasan,
yang menyebabkan sulit bernafas. Peningkatan kebutuhan ini memerlukan
penggunaan lebih banyak oksigen dan glukosa. Berbagai peningkatan ini
menyebabkan stres pada bayi yang sebelumnya sudah terganggu.
- Dari cairan menuju udara
Bayi cukup bulan mempunyai cairan di paru-parunya. Pada saat bayi melewati jalan
lahir selama persalinan, sekitar sepertiga cairan ini diperas keluar dari paru-paru.
Seorang bayi yang dilahirkan secar sectio sesaria kehilangan keuntungan dari
kompresi rongga dada dan dapat menderita paru-paru basah dalam jangka waktu
lebih lama. Dengan beberapa kali tarikan napas yang pertama udara memenuhi
ruangan trakea dan bronkus BBL. Sisa cairan di paru-paru dikeluarkan dari paru-
paru dan diserap oleh pembuluh limfe dan darah.
- Fungsi sistem pernapasan dan kaitannya dengan fungsi kardiovaskuler
Oksigenasi yang memadai merupakan faktor yang sangat penting dalam
mempertahankan kecukupan pertukaran udara.Jika terdapat hipoksia, pembuluh
darah paru-paru akan mengalami vasokontriksi. Jika hal ini terjadi, berarti tidak ada
pembuluh darah yang terbuka guna menerima oksigen yang berada dalam alveoli,
sehingga menyebabkan penurunan oksigen jaringan, yang akan memperburuk
hipoksia.
Peningkatan aliran darah paru-paru akan memperlancar pertukaran gas dalam
alveolus dan akan membantu menghilangkan cairan paru-paru dan merangsang
perubahan sirkulasi janin menjadi sirkulasi luar rahim.

b. Grunting

- Grunting tanda dari respiratory distress pada bayi baru lahir berupa suara
merintih - saat ekspirasi.
- Adanya infiltrat dan konsolidasi paru sirkulasi alveolus tidak lancar adanya
udara dgn tekanan tinggi dalam paru yang tidak dapat dikeluarkan grunting.
- Infeksi di paru-paru jaringan parenkim sebukan sel radangmengganggu
ventilasi dan difusi memerlukan waktu yang lebih lama utk melakukan pertukaran
oksigen dan CO2 kompensasi dengan menahan udara yang sudah masuk glotis
tidak terbuka sempurna grunting.

c. Riwayat Persalinan Bayi

- Lahir cukup bulan secara spontan 3 jam yang lalu dgn BB lahir 3000 gram
 BB lahir normal sesuai masa kehamilan 38 minggu (Lubchenco chart)
 Kemungkinan terjadinya distress pernafasan lebih kecil pada persalinan pervaginam/
spontan karena ada penekanan jalan lahir yang menyebabkan kompresi cairan
sehingga cairan di alveolus dapat dialihkan ke interstitial (?)

Tanda 0 1 2

Laju jantung - <100 >100

Usaha - Lambat Menangis kuat


bernafas
Tonus otot Lemah Ekstremitas fleksi Gerakan aktif
sedikit
Reflex Tidak bereaksi Gerakan sedikit Reaksi melawan

Warna kulit Seluruh tubuh Tubuh kemerahan, Seluruh tubuh


biru/ pucat ekstremitas biru kemerahan
d. Skor Apgar
 8-10 (normal)
 5-7 (ringan)
 3-4 (sedang)
 0-2 (berat)
- Skor Apgar menit 1 = 5  asfiksia ringan
- Skor apgar menit 5 = 9  normal/ baik
 Pada saat bayi baru lahir mengalami asfiksia ringan, kemudian kemungkinan pada
bayi dilakukan tindakan resusitasi sehingga keadaannya membaik (skor Apgar
menjadi normal).

e. KPSW (2 hari yang lalu) + Bau Busuk


- KPSW Pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan (bila pembukaan pada
primigravida < 3 cm dan pada multipara < 5 cm)
- KPSW pada 2 hari yang lalu 18 jam termasuk KPSW yang memanjang.
- Etiologi pada kasus : infeksi intrauterin.
- Berbau busuk:
KPSW infeksi ascenden (kemungkinan akibat bakteri streptococcus grup B atau E.
Coli) memperbesar kemungkinan terjadi chorioamnionitis sehingga cairan ketuban
menjadi keruh dan berbau

f. Dampak KPSW

- Persalinan prematur
- Infeksi
 Pada ibu: chorioamnionitis
 Pada janin: pneumonia, sepsis, omfalitis.
- Hipoksia dan asfiksia
- Sindroma deformitas janin

g. Hasil Pemeriksaan Fisik

- Hipoaktif abnormal
 Hal ini disebabkan oleh kurangnya supplai O2 ke jaringan otot. Dapat juga tanda
terjadinya sepsis.
- Tacipnoe abnormal (> 60 x/m)
 Kompensasi dari kekurangan O2 dalam tubuh karena obstruksi jalan nafas akibat
terisinya lumen alveolus oleh debris jaringan karena pneumonia dan onset awal dari
sepsis.
- Refleks menghisap (-)  abnormal
 Akibat suplai O2 ke pusat refleks menghisap pada otak berkurang.
- Retraksi interkostal abnormal
 Pergerakan otot antar tulang rusuk ke dalam sebagai hasil dari penurunan tekanan di
dalam cavitis thoraxis merupakan tanda kesulitan bernafas akibat obstruksi jalan
nafas karena pneumonia dan sepsis onset dini.

h. Diagnosis Banding

Signs & Bronkopneumonia, TTN MAS


simptoms sepsis
neonatorum
Grunting + + +
Cyanosis -/+ + +
Skor apgar Sedang-ringan Berat-sedang Berat
Refleks menghisap - + -
Retraksi din2g + - +
dada
Faktor resiko PROM, infeksi ibu aterm Post term
Xray Tidak spesifik, Cairan dalam paru, Infiltrat kasar,
bercak2 difus radioopak sekitar hiperinfiltrat.
infiltrate, ada hilus, diafragma
daerah konsolidasi tumpul

Penegakan Diagnosis
- Anamnesis
 Riwayat kehamilan ibu (komplikasi selama kehamilan)?
 Riwayat penyakit ibu, pernah servisitis atau vaginitis?
 Riwayat KPD sebelumnya?
 Riwayat trauma?
 Sanitasi dan higienitas?
 Riwayat gizi dan nutrisi ibu?
 Ketuban pecah (jernih, mekonium, kering)?

- Pemeriksaan Fisik
 Tanda vital bayi: denyut jantung lambat, suhu tubuh turun-naik
 Inspeksi: simetris atau tidak, pernafasan cuping hidung (+), sianosis sekitar mata dan
mulut, Retraksi sela iga
 Auskultasi: suara pernafassan mengeras (vesikuler mengeras) disertai ronki basah
gelembung halus sampai sedang.
 Down’s score
 Transluminasi

- Pemeriksaan Tambahan
 Rontgen dada
 CBC (Hb, leukosit, DC, trombosit, CRP, LED)
 Arterial blood gas
 Kadar gula darah
 Kadar bilirubin darah
 Kultur darah
 Pungsi lumbal (apabila kultur+ untuk membuktikan sepsis)

i. Diagnosis Kerja

RD e.c suspect bronkopneumonia yang mengarah ke sepsis neonatorum


- RD
 Ditandai oleh nasal flaring, chest restriction (suprasternal, subcostal, intercostal),
tachypnea, grunting.
 Etiologi:
1. Transient tachypnea of the newborn (TTN)
2. Hyaline membrane disease (HMD)
3. Meconium aspiration syndromme (MAS)
4. Air leak syndromme
5. Pneumonia
6. Congenital heart disease

- Bronkopneumonia
 Definisi: infeksi pada parenkim paru yang terlokalisir yang biasanya mengenai
alveolus disekitarnya.
 Ditandai dgn adanya bercak-bercak (patchy infiltrate) dan dpt mengakibatkan RD.
 Epidemiologi: insiden di negara berkembang 30% pada anak <5 tahun. Di Amerika
angka kejadian pneumonia 13% dari seluruh penyakit infeksi pada anak < umur 2
tahun.
 Etiologi: pada bayi baru lahir (neonatus – 2bln)
1. Organisme saluran genital ibu : streptokokus group B, Eschericia coli.
2. Kuman gram negatif lain: Listeria monocytogenes, Klebsiella pneumoniae, dan
Chlamydia trachomatis.
 FR:
1. Riwayat persalinan
R Persalinan lama
R Persalinan dgn tindakan
R KPD (PROM)
R Air ketuban bau dan kental
2. Riwayat kehamilan
R Infeksi TORCH
R Ibu menderita eklampsia
R Ibu mempunyai penyakit bawaan
 Manifestasi klinis
1. Takipnea
2. Merintih
3. Retraksi
4. Hipoksemia
5. Demam. Suhu dapat naik secara mendadak sampai 39-400C dan mungkin disertai
kejang karena demam yg tinggi.
6. Sianosis di sekitar hidung dan mulut
7. Gelisah
8. Dispnoe
9. Pernafasan cepat dan dangkal
10. Pernafasan cuping hidung

- Sepsis Neonatorum
 Definisi: suatu sindroma respon inflamasi janin (FIRS) disertai gejala klinis infeksi
yang disebabkan adanya kuman di dalam darah neonatus.
 Epidemiologi: sepsis terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi merupakan
penyebab 30% dari kematian pada bayi baru lahir.
 Kriteria klinis suspect infeksi bakteri berat (FIRS) oleh WHO:
1. RR > 60 x/mnt
2. Retraksi dinding dada
3. Nasal flare
4. Merintih
5. Fontanella menonjol
6. Kejang
7. Pus mengalir dari telinga
8. Kemerahan di sekitar umbilicus
9. T > 37,70C atau < 35,50C
10. Letargi atau tidak sadar
11. Penurunan aktivitas
12. Tidak ada refleks menghisap
13. Tidak mau diberi makanan (ASI)

Terduga/ suspect sepsis:


adanya satu / lebih kriteria FIRS disertai gejala klinis infeksi

Terbukti/ proven sepsis:


adanya satu/ lebih kriteria FIRS disertai bakteremia/ kultur darah (+)

Laboratorium
leukositosis (>34.000 x 109/L)
leukopenia (<4000 x 109/L)
netrofil muda >10%
perbandingan neutrofil immatur (stab) dibanding total (stab+semen) atau I/T ratio >
0,2
trombositopenia (<100.000 x 109/L)
CRP > 10 mg/dl atau 2 SD dari normal.

 FR:
1. Lima kali lebih sering terjadi pada bayi baru lahir yang beratnya kurang dari 2,75 kg
2. Dua kali lebih sering menyerang bayi laki-laki
3. Ketuban pecah lama> 18 jam
4. Demam intrapartum ibu > 37,50C
5. Leukositosis ibu >18.000
6. Air ketuban keruh dan atau berbau busuk
7. Partus kasep

j. Penatalaksanaan
- Pertahankan suhu tubuh  inkubator
- Beri vit K 1 mg IM
- Pemberian cairan
 Parenteral feeding dgn IV
 IVFD Dextrose 10% 500cc dalam NaCl 15% 6 cc dgn jumlah sesuai kebutuhan bayi.
 Berikan O2 intranasal 1-2liter/menit jk ad tnda2 sianosis
 Berikan antibiotik spektrum luas:
1. Ampisilin 100mg/kgBB/ hari dalam 3-4 dosis atau
2. Gentamisin 2,5 mg/kgBB/18 jam. Lama pemberian antara 7-10 hari
3. Bila tidak ada perbaikan ganti dgn antibiotik ceftazidime dosis 50 mg/kgBB/hari
dibagi 2 dosis
Lakukan kultur darah sesuaikan AB nya.
 Monitoring: RR, BP, T, total intake dan output cairan tiap 24 jam, kenaikan BB.

k. Komplikasi
- Meningitis yang bisa menjadi hidrocefalus
- Dehidrasi
- HIE.

l. Prognosis
- Dubia ad bonam (tergantung tatalaksana)
- Pada kasus sepsis, 25% bayi meninggal meskipun telah diberikan AB dan
perawatan intensif.

m. Pencegahan
- Menjaga hiegiene saat hamil
- Diet bergizi + vitamin
- Melakukan antenatal care secara rutin
- Menghindari merokok

n. KDU
- Bronkopneumonia 3B
- Sepsis neonatorum  3B
- Tindakan yang harus dilakukan yaitu pertahankan suhu tubuh bayi agar tetap
normal dan AB Intra vena.

Multifaktorial infeksi menyebar ke organ reproduksi bagian atas


(ascenden) mengenai selaput ketubanpelepasan mediator2
peradangan perubahan kolagen jaringan (depolimerasi)ketuban jadi tipis &
lemahmudah pecah spontan KPSW