Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Public relations berfungsi membantu organisasi untuk beradaptasi dengan lingkungan

sekitarnya, dikarenakan PR sendiri berada di tengah-tengah keduanya yang menjembatani

antara organisasi dengan lingkungan atau komunitas di sekitarnya serta menjadi salah satu

ujung tombak dari organisasi. Berinteraksi dengan publiknya adalah salah satu kewajiban

yang harus dilakukan oleh seorang PR. Untuk itu, PR harus mampu memperoleh opini

publik yang menguntungkan atau menciptakan kerja sama berdasarkan hubungan yang

harmonis dengan berbagai publik, baik ke arah internal maupun eksternal (Abdurrachman,

1993: 4). Hubungan yang harmonis dengan komunitas tersebut disebut dengan hubungan

komunitas.

Hubungan komunitas merupakan salah satu hal yang sangat penting karena

disebutkan bahwa komunitas adalah sekelompok orang yang hidup di tempat yang

sama, kepemerintahan sama, dan mempunyai kebudayaan dan sejarah yang

umumnya turun temurun. Orang-orang yang hidup dalam komunitas dan lembaga-

lembaganya membentuk mereka untuk saling bergantung antara satu dengan yang lainnya.

Mereka tidak dapat menikmati kehidupan yang baik tanpa lembaga-lembaga tersebut.

Begitu pula lembaga tidak dapat hidup tanpa ijin dan dukungan dari komunitas (Iriantara,

2004: 22).

Hubungan dengan komunitas dianggap penting oleh setiap organisasi karena

berdasarkan fenomena yang sering terjadi di lapangan, runtuhnya sebuah perusahaan

disebabkan oleh lemahnya jalinan hubungan dengan komunitas sekitarnya. Ketika suatu

organisasi tidak dapat menjalin hubungan yang baik dengan komunitasnya, maka pada
saat itu juga organisasi tersebut akan mengalami suatu permasalahan. Sebagai contohnya

yang dialami oleh PT. Freeport Indonesia (Aryani, 2011) yang tidak dapat menjalin

hubungan yang baik dengan komunitasnya. Dimana komunitas tepatnya masyarakat lokal

sekitar perusahaan tidak mendapatkan kesejahteraan dari PT. Freeport, dan justru malah

dieksploitasi oleh perusahaan. Karena kasus tersebut, hubungan antara perusahaan (PT.

Freeport Indonesia) dengan komunitasnya menjadi tidak baik, bahkan perusahaan tidak

dipercaya oleh komunitas lokalnya.

Berdasarkan pada fenomena yang terjadi tersebut, maka dapat dikatakan bahwa

hubungan komunitas merupakan hal yang sangat kompleks. Ketika suatu organisasi tidak

dapat menjalankannya dengan baik, maka organisasi tersebut akan terhambat dalam

menjalankan aktivitas-aktivitasnya, atau bahkan organisasi tersebut bisa collapse, dan

untuk dapat menjalankan hubungan tersebut, peran seorang PR sangat dibutuhkan dalam

setiap organisasi. Pada dasarnya, organisasi membutuhkan komunitas untuk

membantu melancarkan aktivitasnya, dan komunitas membutuhkan organisasi

untuk membantu meningkatkan perekonomian mereka.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa sebuah hubungan menjadi sangat penting

untuk kehidupan setiap organisasi. Maka dari itu, sebuah organisasi harus benar-benar

memperhatikan hubungan atau relasi yang mereka jalin dengan komunitas.

Memperhatikan dan menjalankan hubungan dengan komunitas saja belum cukup untuk

dapat menjalin hubungan yang baik, tetapi perlu juga untuk mengetahui kualitas suatu

hubungan antara organisasi dengan komunitas lokalnya. Untuk mengetahui kualitas

hubungan antara organisasi dengan publiknya berawal dari adanya konsep OPR

(Organization – Public Relationship), dimana menurut Broom, Casey, dan Ritchey (2000)

dan didukung oleh Coombs (2000) yang dimaksud dengan OPR adalah sebuah pola

interaksi, transaksi, dan pertukaran dalam hubungan antara organisasi dengan


publiknya yang dapat menimbulkan adanya saling ketergantungan. Didukung

dengan pendapat Huang (1998) yang mengatakan bahwa OPR adalah sebuah derajat

bahwa organisasi dengan publiknya memiliki kepercayaan satu dengan yang lainnya

untuk menyepakati siapa yang mempunyai kekuasaan untuk mempengaruhi, mengalami

kepuasan, dan berkomitmen satu sama lain. Dari penjelasan di atas, maka dapat

disimpulkan bahwa untuk mengetahui efektif atau tidaknya OPR dapat dilihat dari

outcomes yang ada.

Mengukur kualitas hubungan menjadi hal yang penting karena pada dasarnya,

sekarang ini organisasi hanya berlomba-lomba untuk megukur dan mengevaluasi

program, kegiatan, dan kampanye PR, tetapi untuk mengukur keberhasilan atau

kegagalan suatu hubungan jangka panjang dengan komunitasnya belum dilakukan

sampai saat ini. Organisasi hanya mengukur dari output yang dihasilkan.

Output biasanya berupa hasil langsung dari suatu program PR tertentu. Output

ini digunakan untuk mengukur seberapa baik suatu organisasi memberikan

sejumlah perhatian kepada komunitasnya. Sedangkan outcomes lebih mengarah

untuk mengukur hasil apakah kelompok sasaran benar-benar menerima pesan yang

diberikan organisasi. Selain itu, outcomes juga mengukur apakah materi komunikasi

dan pesan yang disampaikan membawa dampak pada perubahan sikap, dan atau

perilaku dari publik.

Mengukur output PR memang penting, tetapi lebih penting untuk mengukur kualitas

suatu hubungan. Hal ini karena bagi kebanyakan organisasi, mengukur output hanya dapat

memberikan informasi tentang efektivitas program PR tertentu. Sedangkan mengukur

kualitas hubungan, nantinya akan memberikan informasi mengenai seberapa loyal

komunitas dengan organisasi, serta mengetahui bagaimana mereka harus mengambil

tindakan untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan komunitasnya. Selain itu,
dengan adanya kualitas hubungan yang baik, maka sebuah organisasi juga secara otomatis

akan memiliki reputasi yang baik dari masyarakat.

Begitu pula dengan PT. CCAI Central Java Ungaran, dimana perusahaan ini

merupakan perusahaan yang bergerak di bidang minuman ringan terkemuka di Indonesia

yang memproduksi dan mendistribusikan produk-produk berlisensi dari The Coca-Cola

Company. PT. CCAI Central Java Ungaran bukan hanya sekedar perusahaan yang

berlandaskan pada profit oriented, dibuktikan dengan adanya upaya perusahaan dalam

memperhatikan komunitasnya. Tidak hanya itu saja, melainkan PT. CCAI Central Java

Ungaran menganggap bahwa hubungan komunitas merupakan hal yang sangat penting

dan wajib dilakukan.

PT. CCAI Central Java Ungaran memiliki cukup banyak aktivitas hubungan

komunitas sebagai upaya dalam memperhatikan komunitasnya. Adapun beberapa

aktivitas hubungan komunitas yang dilakukan oleh PT. CCAI Central Java Ungaran

yaitu mulai dari sponsorship, plant visit, coke farm, donor darah, buka puasa

bersama, bakti sosial, sosialisasi HIV AIDS, dan masih banyak lagi. Semua aktivitas

yang dijalankan tersebut bukan hanya semata-mata untuk menarik perhatian

komunitas, agar komunitas dapat menerima keberadaan PT. CCAI Central Java di

lingkungan mereka, tetapi karena perusahaan menyadari bahwa mereka ada di

tengah-tengah komunitas dan untuk menciptakan keseimbangan sosial antara

perusahaan dengan publik serta demi menjaga dan menjalin hubungan yang

harmonis antara pihak perusahaan dengan komunitasnya.

Hal yang menarik yaitu PT. CCAI Central Java Ungaran belum mengetahui

bagaimana kualitas hubungan mereka dengan komunitas lokal sekitarnya.


B. Rumusan Masalah

Bagaimana kualitas hubungan (relasi) antara PT. Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI)

Central Java Ungaran dengan komunitas lokal (masyarakat) perusahaan?

C. Landasan Teori

Untuk membahas dan mengetahui kualitas relasi antara perusahaan dengan komunitas

lokalnya, maka dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa teori yang

mendukung, seperti konsep mengenai OPR (Organization-Public Relationship). Konsep

ini penting untuk membahas kualitas relasi antara organisasi dengan komunitas karena

konsep OPR ini adalah dasar dari adanya sebuah relasi antara organisasi dengan

publiknya. Konsep lain yang digunakan yaitu konsep-konsep PR, lebih tepatnya yaitu PR

sebagai relationship management, karena pada dasarnya PR adalah salah satu pihak atau

penghubung yang membantu organisasi dalam melancarkan hubungannya dengan

komunitas. Tidak hanya itu saja, melainkan konsep tentang hubungan komunitas juga

sangat penting karena untuk mengetahui kualitas relasi dengan komunitas, diperlukan

pengetahuan-pengetahuan tentang bagaimana hubungan komunitas tersebut dilakukan,

dan seberapa penting hubungan komunitas tersebut. Setelah mengetahui dasar-dasar yang

dapat mengetahui kualitas relasi, maka selanjutnya adalah kualitas relasi yang didalamnya

akan dijelaskan mengenai tipe relasi, outcomes yang digunakan untuk mengukur kualitas

relsi, serta faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kualitas relasi. Semua hal tersebut

penting karena untuk mengetahui bagaimana relasi yang sebenarnya.

1. Organization-Public Relationship (OPR)

Bruning dan Ledingham (1999: 157) berargumen bahwa terdapat peningkatan

jumlah sarjana yang mengadopsi beberapa perspektif bahwa seorang PR dipandang

sebagai manajemen relasi yang berusaha membangun suatu relasi antara organisasi
dengan publiknya. Organization-public relationship dipandang sebagai suatu

paradigma bagi para sarjana dan praktisi PR. Tidak hanya itu saja, melainkan di sini

Broom, Casey, dan Ritchey (2000: 4) mendukung pernyataan yang diungkapkan oleh

Bruning & Ledingham dengan mangatakan bahwa ketika membahas mengenai PR,

maka yang muncul adalah dimana PR merupakan suatu upaya dalam membangun dan

memelihara hubungan antara organisasi dengan publiknya.

Sebelum membahas apa yang dimaksud dengan OPR, maka penting diketahui

apa yang dimaksud dengan public, organization, dan relationship.

1. Public

Public merupakan sekelompok orang yang menghadapi suatu permasalahan,

diantaranya mencari suatu solusi, mengatur, dan membahasnya. Masyarakat

bisa menjadi stakeholder dikarenakan hubungannya dengan organisasi.

2. Organization

Menurut Daft (2001), organisai merupakan suatu entitas sosial yang memiliki

sebuah tujuan dan dirancang sebagai suatu sistem yang terstruktur dan

terkoordinasi baik dengan lingkungan eksternalnya.

3. Relationship

O'Hair (1995: 10) mendefinisikan relationship sebagai suatu kegiatan saling

ketergantungan dari dua orang atau lebih. Melanjutkan definisi tersebut,

Coombs (2000) dengan menggunakan teori stakeholder dari perspektif

komunikasi interpersonal menambahkan bahwa manusia saling bergantung

satu sama lain ketika mereka membutuhkan orang lain untuk beberapa alasan,

yang mengakibatkan orang terlibat dalam suatu hubungan tersebut.

Berdasarkan pengertian dari public, organization, dan relationship, maka yang

dimaksud dengan OPR adalah suatu keadaaan antara organisasi dengan publiknya,
dimana suatu tindakan atau apapun yang dilakukan akan membawa dampak pada

perubahan situasi ekonomi, sosial, budaya, ataupun politik (Ledingham & Bruning.

1998: 62).

Sedangkan Thomlison (2000: 178) mendefinisikan OPR sebagai suatu hubungan,

dimana didalamnya terdapat serangkaian harapan dari organisasi dan publik yang

memiliki perilaku masing-masing yang didasarkan pada pola interaksi mereka.

Selain itu, Huang (1998: 12) mendefinisikan OPR sebagai derajat bahwa

antara organisasi dengan publiknya memiliki kepercayaan satu sama lain untuk

mempengaruhi, mengalami kepuasaan, dan berkomitmen satu sama lain. Berangkat

dari konsep OPR tersebut, maka untuk dapat menjalin hubungan yang baik antara

organisasi dengan komunitas, dibutuhkan seorang PR yang pada dasarnya bertindak

sebagai penghubung antara organisasi dengan publiknya.

Public Relations (PR)

Public relations merupakan komunikator sebuah organisasi, baik kepada

publik internal maupun publik eksternalnya. Bagi seluruh organisasi, PR berfungsi

membantu organisasi untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, dikarenakan

PR sendiri berada di tengah-tengah keduanya yang menjembatani antara organisasi

dengan komunitas lokal di sekitarnya. Selain itu, PR juga menjadi salah satu ujung

tombak dari organisasi. Berinteraksi dengan publiknya adalah salah satu kewajiban

yang harus dilakukan oleh seorang PR. Maka dari itu, PR di dalam sebuah organisasi

berfungsi sebagai relationship management.

Public Relations Sebagai Relationship Management

Public relations sebagai relationship management diutarakan oleh Cutlip,

Center, & Broom (1994: 6) lewat pengertian PR, dimana public relations

didefinisikan sebagai
“ the management function that establishes and maintains mutually beneficial
relationships between an organization and the publics on whom its success or
failure depends.”

Pengertian tersebut menjelaskan bahwa PR berperan sebagai relationship

management yang berguna untuk membantu dan menjaga hubungan yang saling

menguntungkan antara organisasi dengan publiknya yang nantinya dapat

mempengaruhi kesuksesan maupun kegagalan dari organisasi tersebut.

Hampir sejalan dengan pendapat Cutlip, Center, & Broom, di sini Baskin,

Aronoff dan Lattimore (1997:55) mendefinisikan public relations sebagai suatu

fungsi manajemen yang membantu untuk meraih tujuan organisasional,

mendefinisikan filosofi, dan mendefinisikan perubahan organisasional. Praktisi PR

berkomunikasi dengan seluruh internal dan eksternal publik untuk mengembangkan

suatu hubungan positif dan menciptakan suatu konsistensi di antara tujuan-tujuan

organisasional dan harapan publik. Praktisi PR mengembangkan, melaksanakan dan

mengevaluasi program-program.

Sedangkan David (Suhandang, 2004: 46) mengemukakan bahwa PR sebagai

kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan, perserikatan, jawatan pemerintah dan

organisasi untuk mencapai tujuan dalam menciptakan dan menjaga hubungan yang

baik dan bermanfaat dengan masyarakat tertentu (para pemegang saham dan pegawai)

dan masyarakat pada umumnya dengan melakukan penyesuaian diri pada keadaan

sekitarnya.

2. Community Relations

Suatu perusahaan tidak akan pernah terlepas dari peran dan keberadaan

komunitas karena pada dasarnya sebuah organisasi menjadi bagian dari komunitas,

menciptakan solusi saling menguntungkan (win-win solution) yang menghasilkan

garis dasar yang lebih sehat serta membawa keuntungan bagi stakeholder dan
masyarakat secara keseluruhan (Lattimore, Baskin, Heiman, & Toth, 2008: 255).

Hubungan dengan komunitas tergantung pada pengakuan badan khusus untuk terus

berinteraksi mencapai kepentingan dan kesepakatan bersama. Organisasi wajib

megembangkan suatu keseimbangan sosial ketika aktivitas organisasi telah

berdampak banyak pada komunitas lokal.

Hubungan komunitas berkaitan dengan komunikasi dua arah yang bertujuan

dalam pencapaian pemahaman publik akan isu lingkungan dan memperkuat masukan

yang diberikan oleh publik sehingga apa yang menjadi permasalahan dan harapan dari

masyarakat dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan ketika sebuah organisasi

harus mengambil kebijakan dan keputusan untuk menyikapi permasalahan yang ada.

Proses hubungan komunitas juga berhubungan dengan konsep penguatan dan kontrol

stakeholders. Proses hubungan komunitas ini menyediakan sebuah kerangka dalam

mediasi antara stakeholder dan organisasi yang bertanggung jawab untuk fasilitas

tempat atau proyek untuk mencapai pemecahan yang bisa diterima oleh semua pihak

(Forrest & Rence, 1997: 3).

Baskin (1997: 274) mendefinisikan community relations sebagai

“an institute's planned, active, and continuing participation with and within a
community to maintain and enchange its environment to the benefit of both the
institution and the community”.

Hubungan komunitas merupakan suatu fungsi yang dijalankan oleh PR, dimana

didalamnya terdapat perencanaan dari institusi, terdapat partisipasi yang aktif dan

berkelanjutan dengan dan di dalam komunitas dan lingkungan untuk mendapatkan

keuntungan di antara institusi dengan komunitasnya. Keuntungan yang didapatkan

dari hubungan komunitas diharuskan berasal dari kedua belah pihak, sehingga tidak

ada suatu bentuk ketimpangan atau ketidaksetaraan.

Sedangkan Iriantara (2004: 20) menambahkan bahwa salah satu prinsip yang
ingin dikembangkan dalam praktek community relations adalah mengembangkan

hubungan bertetangga yang baik. Mengacu pada konsep triple bottom line yang

dipopulerkan oleh John Elkington, ada tiga aspek yang harus diperhatikan organisasi

dalam menjalankan praktek usahanya. Ketiga aspek tersebut adalah profit

(keuntungan), people (masyarakat), dan planet (lingkungan) (Wibisono, 2007:33-37).

Sementara itu, Center & Jackson (1995: 82) mengatakan bahwa

“Community relations, as a public relations function, is an institution's planned,


active, and continuing participation within a community to maintain and
enchance its environment-to the benefit of the institution, its employees and
stakeholders, and the larger community.”

Praktek community relations dikembangkan untuk menciptakan relasi yang

setara antara organisasi dengan komunitasnya. Relasi yang setara tersebut diharapkan

berdampak pada rasa saling memiliki, memahami, menjaga, dan dengan begitu

keterlibatan masing-masing pihak dapat lebih maksimal.

Cutlip & Center (2006) mengatakan bahwa dalam rangka hubungan komunitas,

terdapat tiga hal penting yang perlu diperhatikan, yakni:

1. Apa yang didambakan komunitas bagi kesejahteraannya

2. Apa yang diharapkan dari organisasi sebagai kontribusi untuk kegiatan itu

3. Bagaimana cara menilai kontribusi tersebut

Kepentingan komunitas menurut Cutlip & Center (Effendy, 2002: 115) tercakup

dalam:

1. Kesejahteraan komersial

2. Dukungan agama

3. Lapangan kerja

4. Fasilitas pendidikan yang memadai

5. Hukum, ketertiban dan keamanan

6. Pertumbuhan penduduk
7. Perumahan beserta kebutuhannya yang sesuai

8. Kesempatan berekreasi dan berkebudayaan yang bervariasi

9. Peerhatian terhadap keselamatan umum

10. Penanganan kesehatan yang progresif

11. Pemerintahan ketataprajaan yang cakap

Hubungan dengan komunitas memiliki peranan yang sangat penting bagi sebuah

perusahaan. Melalui satu peranan ini, perusahaan dituntut agar dapat menjalin relasi

yang baik dengan komunitasnya.

Kegiatan hubungan komunitas penting dilakukan oleh seorang praktisi PR

dengan maksud (Iriantara, 2004: 29):

a) Untuk menginformasikan kepada komunitas mengenai organisasi dan produk

yang dihasilkan.

b) Memperbaiki pandangan komunitas yang keliru mengenai organisasi dan

memberikan respon untuk berkritik sambil memperoleh opini dan dukungan

yang menguntungkan.

c) Memperoleh dukungan dalam pembuatan undang-undang atau peraturan yang

menguntungkan bagi organisasi yang dapat mempengaruhi organisasi dalam

komunitas.

d) Mengetahui sikap atau perilaku, pengetahuan, dan harapan komunitas.

e) Mendukung kesehatan, pendidikan, rekreasi, dan aktivitas kebudayaan

komunitas.

f) Menjamin hubungan bak dengan pemerintah lokal.

g) Membantu dan mendukung ekonomi masyarakat setempat dengan

menggunakan barang-barang dan layanan lokal.


3. Kualitas Relasi

Relasi

Relasi merupakan suatu kesepakatan dan pengertian antara dua orang atau

lebih, dimana dua orang menyadari potensi dan batasan mereka sebagai mitra dalam

sebuah hubungan (West & Turner. 2008: 120). Untuk mendefinisikan hubungan,

Broom (2000) melihat definisi hubungan atau relasi melalui beberapa perspektif,

salah satunya adalah dari perspektif komunikasi interpersonal. Melalui perspektif

komunikasi interpersonal, Surra dan Ridley (1991: 37) mendefinisikan hubungan

sebagai interaksi dari sebuah peristiwa dan adanya saling ketergantungan.

Sebuah relasi menyiratkan sebuah masa depan. Relasi terbentuk ketika pihak

memiliki suatu persepsi dan harapan satu dengan yang lainnya, ketika salah satu atau

kedua belah pihak membutuhkan sumber daya dari yang lain, ketika salah satu atau

kedua belah pihak memandang ancaman dari lingkungan yang tidak pasti

(Ledingham & Bruning. 2000: 17).

Hon & Grunig (1999) berpendapat bahwa terdapat dua tipe relasi yang dapat

membantu menilai kualitas suatu hubungan antara organisasi dengan publiknya.

Adapun dua tipe relasi tersebut antara lain:

1. Exchange Relationship

Exchange relationship mengarah pada hubungan dimana salah satu

pihak (organisasi atau komunitas) memberikan keuntungan atau manfaat

untuk yang lainnya dengan anggapan bahwa mereka juga memberikan

keuntungan baik di masa lalu atau bahkan mereka menjalin hubungan dengan

harapan bisa mendapatkan keuntungan yang serupa di masa mendatang.

Hubungan ini biasanya terjadi antara organisasi dengan customers.


2. Communal Relationship

Sebuah hubungan dimana salah satu pihak memberikan keuntungan

atau manfaat untuk pihak yang lainnya karena mereka peduli dan

menganggap penting, bahkan meyakini bahwa mereka kemungkinan tidak

akan mendapatkan keuntungan yang sama dengan apa yang telah diberikan.

Kualitas Relasi

Sebuah organisasi memerlukan adanya jalinan hubungan dengan

komunitasnya karena antara organisasi dan komunitas memiliki hubungan yang

saling ketergantungan, maka dari itu, menjalin hubungan menjadi hal yang sangat

penting. Melihat pentingnya suatu hubungan bagi organisasi, maka perlu mengetahui

bagaimana kualitas hubungan yang terjalin antara organisasi dengan komunitasnya.

Semakin baik kualitas hubungan yang terjalin, maka semakin baik pula sebuah

organisasi mendapatkan image yang positif dari masyarakat.

Kualitas hubungan atau relasi dapat diukur dengan menggunakan

outcomes yang ada, dimana menurut Hon & Grunig (1999) serta Huang (2001),

untuk mengukur kualitas suatu hubungan organisasi dengan publiknya dapat

diukur dengan menggunakan outcomes yang terdiri dari empat elemen, yakni,

control mutuality, trust, satisfaction, dan commitment. Meskipun demikian, Yi-

Huang menambahkan bahwa terdapat satu elemen penting lainnya yang dapat

digunakan untuk mengukur kualitas hubungan, yaitu budaya. Berikut adalah

empat elemen yang telah disebutkan di atas menurut Hon & Grunig (1999):

1. Control mutuality

Control mutuality selalu dihubungkan dengan sejauh mana pihak

dalam suatu hubungan puas dengan kontrol yang mereka miliki atas

hubungan yang terjalin tersebut. Hubungan positif akan muncul ketika


organisasi dan publik memiliki beberapa tingkat kontrol antara satu dengan

yang lainnya. Ditunjukkan dengan adanya perhatian yang diberikan oleh

organisasi dan organisasi berusaha mendengarkan apa yang ingin dikatakan

oleh komunitas. Adapun indikator dari control mutuality, yaitu:

1. Organisasi dan publik saling memperhatikan keinginan satu sama lain.

2. Organisasi percaya akan pendapat dari masyarakat.

3. Ketika membuat suatu persetujuan, organisasi memiliki suatu tendensi.

4. organisasi benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan oleh

publiknya.

5. Manajemen dari organisasi memberikan ruang untuk publik dalam

mengutarakan pendapatnya pada proses pembuatan suatu keputusan

2. Trust

Trust merupakan suatu tingkat kepercayaan, dimana dalam menjalin

sebuah hubungan harus terdapat kesediaan untuk membuka diri satu

dengan yang lainnya. Kepercayaan bisa didapat dengan cara organisasi

dapat mempertanggungjawabkan setiap janji yang diungkapkan dan dalam

membuat suatu keputusan, organisasi selalu melibatkan dan memikirkan

komunitas lokalnya, sehingga komunitas nyaman dengan segala tingkah laku

organisasi. Trust dapat dinilai dengan beberapa indikator di bawah ini:

1. Organisasi memperlakukan publiknya dengan adil.

2. Ketika organisasi membuat suatu keputusan yang penting, publik

selalu mengetahuinya.

3. Organisasi dapat merealisasikan janjinya kepada publik.

4. Organisasi mempertimbangkan pendapat dari publik dalam membuat

suatu keputusan.
5. Publik merasa nyaman dengan kemampuan yang dimiliki oleh

organisasi.

6. Organisasi memiliki kemampuan untuk merealisasikan apa yang

dikatakan.

3. Satisfaction

Satisfaction merupakan suatu tolok ukur untuk melihat sejauh mana

kedua belah pihak (organisasi dan publik) merasa puas dengan

hubungan yang terjalin karena adanya harapan positif tentang

hubungan tersebut. Puasnya hubungan terjadi ketika masing-masing

pihak percaya dan ikut terlibat di dalam suatu hal untuk menjaga

hubungan mereka. Adapun indikator dari satisfaction ini antara lain:

1. Publik merasa senang dengan organisasi.

2. Organisasi dan publik mendapatkan keuntungan dari hubungan yang

mereka jalin.

3. Publik merasa senang terhadap interaksinya dengan organisasi.

4. Publik merasa senang berhubungan dengan organisasi.

5. Publik merasa nyaman dengan organisasi.

4. Commitment

Sejauh mana kedua belah pihak percaya dan merasa bahwa hubungan

yang bernilai tersebut digunakan untuk memelihara komitmen jangka

panjang dan menunjukkan bahwa organisasi ingin memelihara dan

mempertahankan hubungan dengan komunitas lokalnya. Suatu

komitment dapat dinilai dengan melihat beberapa indikator di bawah

ini:

1. Organisasi berusaha untuk menjaga komitmen jangka panjang


dengan publiknya.

2. Organisasi memiliki keinginan untuk memelihara hubungan

dengan publik.

3. Terdapat suatu ikatan jangka panjang antara organisasi dengan

publiknya.

4. Publik menghargai hubungannya dengan organisasi.

5. Publik merasa senang bekerjasama dengan organisasi.

Faktor Lain Yang Mempengaruhi Kualitas Relasi

Selain empat elemen yang sudah disebutkan di atas, terdapat faktor-faktor lain yang

dapat mempengaruhi kualitas relasi antara organisasi dengan komunitas lokalnya. Faktor-

faktor tersebut antara lain:

1. Jenis Kelamin

2. Demografis

Demography is concerned with measuring the size of populations and explaining


their rise or decline (Giddens, 2006: 421).

Demografi terkait dengan bagaimana mengukur ukuran dari populasi dan

menjelaskan pertumbuhan atau penurunannya. Faktor demografis dapat

mempengaruhi kualitas relasi dikarenakan semakin padat penduduk di suatu

wilayah, maka wilayah tersebut semakin berpotensi untuk menimbulkan suatu

permasalahan sosial yang nantinya juga akan berdampak pada kualitas relasi yang

telah terjalin.

3. Geografis

Geography is concerned with place. Understanding the nature and causes of aerial
differentiation on the global surface has been the geographer's task since people
first noticed differences between places. Through geography we seek to understand
these differences in patterns of human distribution, interrelationships between
human society and the physical environment, people's use the Earth in time and
space, and how these differences are related to people's cultures and economies.
These, and other related themes. Express major concerns of our time and reflect
the consequences of spatial decisions (Dr. Stuart Semple: 1).

Geografis mempunyai konsentrasi dengan tempat. Data ini untuk memahami

bagaimana alam dan sebab-sebab dari perbedaan-perbedaan dalam permukaan

global, dimana para geograf menilai perbedaan antara tempat yang satu dengan

tempat yang lain. Geografi juga memahami mengenai perbedaan pola mengenai

distribusi kepada manusia, keterhubungan antara masyarakat sosial dengan

lingkungannya. Dimana perbedaan waktu juga mempengaruhi pada sektor budaya

dan ekonomi.

Letak geografis memberikan pengetahuan mengenai bagaimana karakteristik

geografis komunitas setempat yang akan dihadapi. Berbicara mengenai lokasi

misalnya, sangat mempertimbangkan bagaimana “dampak” yang dimungkinkan

akibat adanya relasi antara organisasi dengan komunitas sekitarnya.

4. Sejarah antara komunitas dengan organisasi

Research in oral history means interviewing people about events they witnessed at
some point earlier in their lives. For historical research on an earlier period,
sociologists are dependent on the use of documents and written records, often
contained in the special collections of libraries or the National Archives (Giddens,
2006: 91).

Untuk mendapatkan data mengenai sejarah suatu masyarakat, maka perlu

dilakukan pengumpulan informasi dari sumber-sumber tertentu. Dalam hal ini

penelitian dapat dilakukan dengan oral history, yaitu merujuk pada wawancara

terhadap tokoh-tokoh tertentu mengenai kejadian-kejadian di masa lampau dimana

mereka menjadi saksi pada kejadian di masa tersebut. Selain itu, peneliti juga

dapat menggunakan dokumen-dokumen masa lalu yang dapat terkait dan

menunjukkan suatu peristiwa-peristiwa periode masa tertentu.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Berdirinya PT. Coca-Cola Amatil Indonesia Central Java Ungaran

Coca-Cola masuk di Indonesia sejak tahun 1927 dan dibotolkan secara lokal

sejak tahun 1932 di Jakarta. Produksi pertama sebanyak 10.000 cs dengan dibantu 3

truck dan 25 orang karyawan. Perusahaan dagang yang mengelola produk dari Coca-

Cola saat itu adalah De Netherlands Indische Mineral Water Fabric dibawah

manajemen Bernie Vonings dari Belanda.

Setelah proklamasi kemerdekaan RI, perusahaan ini diambil alih dan berubah

nama menjadi Indonesia Beverages Limited (IBL). Indonesia Beverages Limited

menjalin kerjasama dengan tiga perusahaan Jepang yaitu Mitsui Toatsu Chemical Inc,

Mitsui & Co. Ltd, dan Mikuni Coca-Cola Bottling Co membentuk PT. Djaya

Beverages Bottling Company (DBBC) pada tahun 1971. Pada tanggal 12 Oktober

1993, PT. Coca-Cola Amatil Limited (CCA) di Sydney, Australia mengambil alih

kepemilikan DBBC dan mengubah namanya menjadi PT. Coca-Cola Amatil

Indonesia di Jakarta.

Coca-Cola sistem di Indonesia yang terdiri dari PT. Coca-Cola Indonesia (CCI)

sebagai anak perusahaan dari The Coca-Cola Company dan seluruh pabrik

pembotolannya, salah satunya adalah PT. Coca-Cola Bottling Indonesia (CCBI).

CCBI memiliki 10 pabrik pembotolan di seluruh Indonesia, yaitu Medan, Padang,

Lampung, Bekasi, Bandung, Semarang, Surabaya, Balikpapan, Makassar, dan

Denpasar. Setiap pabrik pembotolan Coca-Cola di Indonesia memiliki kode yang

berbeda dan area distribusinya masing-masing. Pabrik Coca-Cola terbesar di

Indonesia didirikan di daerah Cibitung pada tahun 1997 dengan nama Cibitung

National Plant. Selain “Coca-Cola”, produk-produk lainnya yang diproduksi di


Indonesia adalah Coca-Cola Zero, Diet Coke, Sprite, Fanta, Frestea, Frestea Green,

Frestea Frutcy, Powerade Sports, Powerade Isotonik, ExtraJoss strike, A&W, dan

Schweppes.

Disebutkan di atas bahwa PT. Coca-Cola memiliki beberapa anak perusahaan,

salah satunya di Jawa Tengah. Perusahaan Coca-Cola di Jawa Tengah dirintis oleh

dua orang pengusaha, yaitu Bapak Partogius Hutabarat dan Bapak Mugijanto. Nama

yang dipilih adalah PT. Pan Java Bottling Company, resmi didirikan pada tanggal 1

November 1974 di atas lahan seluas 8,5 ha, dan mulai beroperasi pada tanggal 5

Desember 1976. Pada bulan April 1992, PT. Pan Java Bottling Company bergabung

dengan Coca-Cola Amatil Limited Australia, sehingga sejak itu berubah namanya

menjadi PT. Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI) Central Java.

1. Visi dan Misi PT. Coca-Cola Amatil Indonesia Central Java

Visi dari PT. CCAI Central Java adalah menjadi perusahaan produsen

minuman terbaik di Asia Tenggara. Sedangkan misi PT. CCAI Central Java adalah

memberikan yang terbaik bagi pemegang saham dengan menjadi minuman non

alkohol yang tumbuh terdepan dalam pasar minuman, menghargai karyawan yang

berdedikasi serta berdisiplin, serta mengembangkan kemitraan sejati dengan para

pelanggan untuk memuaskan lebih dari 200 juta konsumen yang dahaga dengan rasa

bangga dan semangat sepanjang hari, setiap hari.

2. Nilai-Nilai Perusahaan

Nilai-nilai yang diterapkan oleh PT. CCAI Central Java Ungaran adalah

sebagai berikut:

1. Sumber Daya Manusia (People)

mengembangkan sumber daya manusia, menghargai prestasi serta menikmati apa


yang kita lakukan.

2. Pelanggan (Customer)

menang untuk pelanggan dan untuk diri sendiri.

3. Semangat (Passion)

semangat untuk bertindak, bertanggung jawab, dan sukses

4. Inovasi (Innovation)

selalu mencari cara yang lebih baik

5. Keunggulan (Excellence)

senantiasa melakukan pekerjaan yang terbaik

6. Warga negara yang baik (Citizenship)

melakukan hal yang benar dari perusahaan, masyarakat, dan sesama.

Rupanya tidak hanya nilai-nilai perusahaan saja yang dijunjung tinggi oleh PT.

CCAI Central Java, melainkan aspek sosial juga dijunjung tinggi oleh perusahaan ini.

Aspek sosial perusahaan sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan terhadap

lingkungan diwujudkan melalui berbagai kegiatan sosial yang dilakukan bagi

masyarakat sekitar. Setiap tahun, Coca-Cola melaksanakan program bantuan

kemasyarakatan untuk masyarakat setempat dalam bidang pendidikan, kesehatan,

pembangunan prasarana, serta menyalurkan bantuan dalam bidang pendidikan,

kesehatan, pembangunan prasarana, masyarakat membutuhkan sesuai kemampuan

Coca-Cola. Bantuan tersebut antara lain berbentuk pembagian produk-produk Coca-

Cola kepada berbagai organisasi, pemberian beasiswa bagi anak-anak kurang mampu,

bantuan air bersih, donor darah, bantuan untuk yayasan sosial, program pendidikan

untuk praktek kerja, dan akses kepada masyarakat sekitar untuk menggunakan

poliklinik dan sarana ibadah di Coca-Cola.

Demi terciptanya kemajuan perusahaan, diprlukan adanya dukungan dari


seluruh anggota perusahaan. Adapun sifat-sifat positif yang dijunjung tinggi oleh

perusahaan yaitu:

a) Integritas

Integritas ditunjukkan dengan menghargai perbedaan individu, bersikap adil,

memperlakukan orang lain sebagaimana perusahaan harusnya memperlakukan.

b) Kejujuran

Sikap jujur merupakan dasar dalam membangun kepercayaan dan hubungan kerja

jangka panjang.

c) Kerjasama Kelompok

Kerjasama dilakukan untuk mencapai tujuan bersama, hal ini harus dilakukan

karena perusahaan sadar bahwa terdapat berbagai perbedaaan dari setiap individu

d) Fokus pada pelanggan

Fokus pada pelanggan dapat ditunjukkan dengan cara selalu mencoba untuk

memahami kebutuhan pelanggan, mencari win-win solution, serta meningkatkan

pelayanan pada konsumen dan pelanggan.

e) Belajar setiap hari

Dengan belajar setiap hari, maka perusahaan akan terus tumbuh dan mampu

menghadapi setiap tantangan yang ada.

f) Keunggulan dalam tindakan/pelaksanaan

Dengan memiliki disiplin diri, tekad penuh dan hasrat yang tinggi pada pekerjaan,

perusahaan dapat menerapkan pengetahuannya untuk mencapai perbaikan proses

dengan pengendalian mutu.

3. Produk Minuman Ringan

The Coca-Cola Company memperhatikan keinginan konsumen yang berbeda

di masing-masing negara di mana perusahaan beroperasi, dengan menciptakan dan


memperkenalkan produk-produk baru. Melengkapi Coca-Cola klasik-minuman

nomor satu di dunia, terdapat serangkaian produk dari The Coca-Cola Company yang

diluncurkan untuk memenuhi setiap selera. Adapun produk minuman ringan tersebut

antara lain:

3. Coca-Cola

4. Fanta

5. Sprite

6. Diet Coke

7. Frestea

8. Ades

9. Minute Maid Pulpy Orange

10. Powerade Isotonik

11. A&W

12. Schweppes

4. Penghargaan

Sebagai sebuah perusahaan yang telah terkenal dan melakukan bisnisnya

selama lebih dari 35 tahun, PT. CCAI Central Java telah menunjukkan eksistensinya

yaitu dengan berbagai penghargaan yang telah diterima, baik penghargaan di tingkat

lokal, nasional, maupun internasional. Adapun penghargaan yang telah diraih oleh PT.

CCAI Central Java, yaitu:

1. Tingkat Lokal

Penghargaan lokal yang pernah diraih adalah dalam bidang penghijauan dan

pertamanan pabrik propinsi Jawa Tengah, Kesehatan dan Keselamatan Kerja

(K3) Kabupaten Semarang dan Propinsi Jawa Tengah, Pengelolaan Satpam

Teladan dari POLDA Jateng, Partisipasi Pengetahuan Desa tertinggal Jateng,


serta Partisipasi dalam pembinaan kegiatan sepak bola Propinsi Jateng.

2. Tingkat Nasional

Penghargaan nasional yang telah diraih yaitu dalam bidag Kesehatan dan

Keselamatan Kerja (K3), Piala Presiden untuk kecelakaan nihil, Piagam

Menteri Lingkungan Hidup, serta Sertifikasi ISO 14001.

3. Tingkat Internasional

Terdapat dua penghargaan internasional yang pernah diraih oleh PT. CCAI

Central Java, yakini Penghargaan Mutu Diabtara Perusahaan Coca-Cola se-

Asia Timur Jauh pada tahun 1978 serta Penghargaan Mutu Diabtara

Perusahaan Coca-Cola se-Asia Pasifik pada tahun 2000, dan yang terakhir

yaitu PT. CCAI Central Java mendapatkan Certificate Phase 3.

Dari semua penghargaan yang pernah didapat oleh PT. CCAI Central Java,

terdapat beberapa penghargaan yang mengarah pada prestasi di bidang hubungan

komunitas. Beberapa penghargaan tersebut antara lain partisipasi pengentasan desa

tertinggal Jateng, penghargaan mengenai partisipasi dalam pembinaan kegiatan sepak

bola Propinsi Jateng, serta Piagam Menteri Lingkungan Hidup.

5. Struktur Organisasi

PT. CCAI Central Java, saat ini mempekerjakan 1000 tenaga kerja yang telah

memiliki Perjanjian Kerja Bersama dengan Serikat Pekerja RTMM dan Koperasi

Kendali Hatta sebagai penunjang hubungan industrial Pancasila yang harmonis.

Pengembangan tenaga-tenaga muda Indonesia merupakan prioritas utama. Melalui

program peningkatan keterampilan, seluruh karyawan diberikan kesempatan untuk

mengikuti program-program pelatihan, baik yang diselenggarakan oleh trainer-trainer

dari dalam maupun luar negeri.

Sukses atau tidaknya sebuah perusahaan tidak hanya ditentukan dari


keterampilan seluruh karyawannya, melainkan juga sangat tergantung pada struktur

organisasi yang ada di dalam sebuah perusahaan. Dipahami bahwa organisasi adalah

struktur peran atau posisi dengan sengaja diciptakan, sedangkan struktur organisasi

adalah mekanisme-mekanisme formal dimana organisasi dikelola. Struktur organisasi

tersebut menunjukkan kerangka dan susunan pola tetap hubungan-hubungan diantara

fungi-fungsi, bagian-bagian, posisi-posisi maupun orang yang menunjukkan

kedudukan, tugas, wewenanng serta tanggungjawab yang berebeda-beda dalam

organisasai tersebut. Adanya struktur organisasi bertujuan supaya organisasi atau

perusahaan dapat di-manage dengan baik, dan menjadi lebih efektif sesuai dengan

visi dan misi perusahaan sehingga dapat mencapai tujuan bersama.

Struktur organisasi yang ada di PT. CCAI Central Java selalu mengalami

perkembangan dari masa ke masa. jabatan tertinggi PT. CCAI Central Java dipegang

oleh General Manager yang bertugas untuk memimpin, mengendalikan serta

mengawasi kegiatan-kegiatan penyelenggaraan perusahaan. Tidak hanya itu saja,

melainkan seorang General Manager harus mampu menjalin hubungan baik dengan

instansi maupun lembaga atau pihak luar perusahaan demi kepentingan perusahaan

serta mengadakan kerjasama dengan perusahaan lain. General Manager PT. CCAI

Central Java membawahi lima departemen, antara lain Finance Manager, Human

Resources Manager, General Sales Manager, Technical Operation Manager, dan yang

terakhir adalah Business Service Manager.

Kedudukan PR Manager tidak berada sejajar dengan kelima departemen

penting yang telah disebutkan. Public Relations Manager justru berada sejajar dengan

anak dari kelima departemen tersebut, tetapi tidak berada di bawah departemen

apapun selain General Manager. Maka, PR Manager memiliki akses langsung dengan

pihak General Manager dalam menjalankan tugas-tugasnya. Di jabatan ini, PR


Manager menjalankan lima fungsi penting perusahaan, yaitu membantu menunjang

semua kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan perusahaan, membina hubungan

baik antara publik internal dengan publik eksternal perusahaan, menyalurkan opini

masyarakat kepada pihak manajemen perusahaan, melayani masyarakat dan

memberikan saran kepada pimpinan perusahaan demi kepentingan bersama, serta

menjalankan program-program CSR perusahaan, salah satunya yang berhubungan

dengan hubungan komunitas. Kelima fungsi tersebut dijalankan oleh PR Manager dan

tentunya dibantu oleh General Manager, terutama dalam pengambilan keputusan

untuk merencanakan sesuatu. Hal ini dikarenakan PR Manager memiliki akses

langsung dengan General Manager, seperti yang sudah diungkapkan di atas.

6. Hasil Penelitian

PT. Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI) Central Java memaknai hubungan

komunitas sebagai upaya untuk menjalin serta mempertahankan hubungan baik

dengan komunitas lokal sekitar perusahaan. Melalui Departement Public Relations,

perusahaan melakukan aktivitas hubungan komunitas karena menganggap bahwa

perusahaan merupakan bagian dari lingkungan masyarakat yang harus dapat

bersosialisasi dengan anggota masyarakat yang terdapat di dalamnya. Hal tersebut

sejalan dengan pendapat Broom, Casey, dan Ritchey (2000: 4) tentang konsep

organization-public relationship (OPR) yang mengatakan bahwa ketika membahas

mengenai PR, maka yang muncul adalah dimana PR merupakan suatu upaya dalam

membangun dan memelihara hubungan antara organisasi dengan publiknya. Sehingga

menjalin hubungan komunitas menjadi hal yang wajib untuk dilakukan.

Menurut Thomlison (2000: 178), OPR merupakan suatu hubungan, dimana

didalamnya terdapat serangkaian harapan dari organisasi dan publik yang memiliki

perilaku masing-masing yang didasarkan pada pola interaksi mereka. Pernyataan


tersebut dibuktikan dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dimana publik, dalam

hal ini komunitas lokal PT. CCAI Central Java Ungaran menaruh harapan dan

kepercayaan bahwa perusahaan dapat membantu meningkatkan perekonomian mereka,

serta dapat membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang sedang

mereka hadapi.

Sesuai dengan konsep OPR tersebut, PR PT. CCAI Central Java Ungaran

selalu berusaha membangun dan memelihara hubungan baik dengan komunitasnya.

Hal tersebut dibuktikan dengan PR PT. CCAI Central Java yang selalu berusaha

melibatkan komunitas ketika membuat suatu acara. Selain itu, PT. CCAI Central Java

juga membantu komunitas sekitar dalam hal sponsorship, dan lain sebagainya.

Aktivitas yang dilakukan tersebut menunjukkan bahwa PR bertindak sebagai

penghubung antara organisasi dengan publiknya yang terkait dengan upaya PR

sebagai relationship management. Kegiatan yang dilakukan oleh PR PT. CCAI

Central Java tersebut tercermin lewat pengertian PR yang diungkapkan oleh Cutlip,

Center, & Broom (1994: 6), dimana PR didefinisikan sebagai suatu fungsi manajemen

yang membantu dan menjaga hubungan yang saling menguntungkan antara organisasi

dengan publik, yang nantinya dapat mempengaruhi kesuksesan maupun kegagalan

dari organisasi tersebut.

Melalui konsep OPR tersebut, terlihat bahwa suatu relasi menjadi hal yang

sangat penting, karena sebuah relasi menyiratkan sebuah masa depan. Relasi yang

terjalin antara PT. CCAI Central Java Ungaran dengan komunitas lokalnya didasari

oleh adanya harapan dari komunitas untuk dapat meningkatkan perekonomian mereka.

Selain itu, perusahaan juga berharap dengan adanya hubungan yang terjalin tersebut,

dapat memudahkan segala aktivitas perusahaan dalam hal perijinan untuk

mengadakan suatu acara. Realita tersebut sejalan dengan pendapat Ledingham dan
Bruning (2000: 17) yang mengatakan bahwa relasi terbentuk ketika pihak memiliki

suatu persepsi dan harapan satu dengan yang lainnya, ketika salah satu atau kedua

belah pihak membutuhkan sumber daya dari yang lain, ketika salah satu atau kedua

belah pihak memandang ancaman dari lingkungan yang tidak pasti.

Melihat pentingnya suatu relasi bagi suatu organisasi, maka perlu mengetahui

bagaimana tingkat kualitas hubungan yang terjalin antara organisasi dengan

komunitasnya. Semakin tinggi tingkat kualitas hubungan yang terjalin, maka semakin

baik pula sebuah organisasi mendapatkan image yang positif dari masyarakat.

Ledingham & Bruning (2000), untuk mengukur tingkat kualitas suatu hubungan

organisasi dengan publiknya dapat diukur dengan menggunakan outcomes yang terdiri

dari empat dimensi, yakni trust, satisfaction, commitment, dan control mutuality.

Meskipun demikian, Hon & Grunig (1999) mengatakan bahwa terdapat dua

tipe relasi, yaitu exchange relationship yang menunjukkan bahwa salah satu pihak

memberikan keuntungan dengan anggapan bahwa mereka juga mendapatkan

keuntungan yang sama. Hubungan ini biasanya terjalin antara perusahaan dengan

customer serta perusahaan dengan karyawan. Relasi yang kedua adalah communal

relationship. Communal relationship ini mengarah pada hubungan yang dijalin

dikarenakan mereka menganggap penting dan tidak mengharapkan keuntungan. Hal ini

biasa terjadi pada hubungan komunitas yang dijalankan oleh perusahaan.

Berdasarkan fenomena yang terjadi, nampaknya PT. CCAI Central Java Ungaran

bertentangan dengan konsep tersebut. Dalam menjalankan aktivitas hubungan

komunitasnya, PT. CCAI justru lebih cenderung melakukan exchange

relationship dibandingkan communal relationship. Hal tersebut terjadi

dikarenakan, dalam menjalin hubungan, PT. CCAI Central Java masih

menginginkan keuntungan yang akan didapatkan, yaitu usaha yang dijalankan


dapat beroperasi dengan lancar, karena ada kemudahan dalam hal perijinan.

Melihat pentingnya suatu relasi bagi suatu organisasi, maka perlu mengetahui

kualitas relasi yang terjalin antara organisasi dengan komunitasnya. Melihat pentingnya

OPR bagi suatu organisasi, maka yang muncul adalah outcomes yang terbentuk dalam

sebuah aktivitas hubungan komunitas yang dijalankan oleh suatu organisasi, atau dapat

dikatakan bahwa outcomes tersebut berasal dari suatu relasi yang dijalin antara

organisasi dengan komunitasnya.

Dari outcomes yang ada, maka sebuah organisasi dapat mengukur kualitas

hubungannya dengan komunitas. Menurut Ledingham & Bruning (2000), outcomes

yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas relasi suatu hubungan antara organisasi

dengan publiknya terdiri dari empat dimensi, yakni trust, satisfaction, commitment, dan

control mutuality. Dari empat dimensi tersebut, maka skor total kualitas relasi pada

Ring I sebesar 6,2089. Skor tersebut menunjukkan bahwa Ring I memiliki kualitas

relasi yang bisa dikatakan cukup baik, dikarenakan nilai rata-rata 6 berada ditengah-

tengah dan mendekati skor untuk menuju arah yang baik. Sedangkan Ring II memiliki

skor kualitas relasi sebesar 5,7576. Skor tersebut menunjukkan bahwa kualitas relasi

yang terjalin antara PT. CCAI Central Java Ungaran dengan komunitas Ring II masih

perlu ditingkatkan lagi. Hal ini dikarenakan nilai rata-rata 5,7576 tersebut didapat dari

pemberian skor tengah-tengah yang diberikan oleh komunitas. Hal ini dikarenakan

komunitas merasa ragu akan empat dimensi yang merupakan hasil dari terjalinnya

relasi yang selama ini mereka bangun dengan organisasi.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa skor total

kualitas relasi antara Ring I dan Ring II memiliki perbedaan yang signifikan. Perbedaan

yang signifikan tersebut dikarenakan Ring I memiliki jarak yang lebih dekat dengan PT.

CCAI Central Java Ungaran, maka fokus PT. CCAI Central Java Ungaran tertuju pada
Ring I. Fokus relasi yang hanya tertuju pada salah satu ring menunjukkan bahwa

wilayah tersebut digunakan sebagai alat kapitalisasi perusahaan untuk mendapatkan

keuntungan. Ketika organisasi menjalin relasi dengan komunitasnya, maka idealnya

semua komunitas yang menjadi bagian dari organisasi diperlakukan sama, dalam hal ini

komunitas PT. CCAI Central Java Ungaran, baik Ring I maupun Ring II. Hal tersebut

dilakukan sebagai wujud perhatian yang diberikan oleh organisasi kepada

komunitasnya. Melihat skor total yang ada tersebut, maka dapat dikatakan bahwa Ring

I memiliki kualitas relasi yang cukup baik dengan organisasi, ditunjukkan dengan skor

nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Ring II. Sedangkan kualitas relasi

pada Ring II masih perlu diperhatikan lagi.

Meskipun Ring I dan Ring II memiliki perbedaan yang signifikan, skor tertinggi

yang diberikan oleh komunitas adalah pada dimensi commitment yang memiliki nilai

rata-rata tertinggi dibandingkan dengan dimensi yang lainnya, ditunjukkan dengan nilai

rata-rata sebesar 6,1783. Dari rata-rata tersebut memperlihatkan bahwa hubungan yang

selama ini terjalin antara komunitas dengan PT. CCAI Central Java Ungaran didasari

oleh adanya komitmen yang telah mereka bangun ketika memutuskan untuk menjalin

suatu hubungan. Rata-rata tersebut menunjukkan bahwa komunitas memberikan nilai

yang cukup tinggi kepada PT. CCAI Central Java Ungaran dikarenakan komunitas

menghargai segala sesuatu yang telah disepakati dengan organisasi ketika menjalin

suatu hubungan. Sesuai dengan pendapat Ledingham & Bruning di atas, maka perlu

diketahui kualitas relasi komunitas dengan organisasi dari masing-masing dimensi.

Hon & Grunig (1999) berpendapat bahwa yang dimaksud dengan trust adalah

suatu tingkat kepercayaan, dimana dalam menjalin sebuah hubungan harus terdapat

kesediaan untuk membuka diri satu dengan yang lainnya. Semakin tinggi tingkat

kepercayaan yang dimiliki oleh organisasi maupun komunitas lokal sekitarnya, maka
semakin tinggi kualitas hubungan yang mereka jalin. Untuk bisa mendapatkan

kepercayaan dari komunitasnya, maka sebuah organisasi harus dapat memperlakukan

publiknya dengan adil, ketika membuat suatu keputusan yang penting, publik selalu

mengetahuinya. Tidak hanya itu saja, melainkan organisasi juga harus dapat

merealisasikan janjinya sehingga publik merasa nyaman dengan hubungan yang dijalin.

Secara garis besar, berdasarkan penelitian yang telah dilakukan (sumber :

laporan kuliah kerja lapangan aktivitas hubungan komunitas PT. Coca-Cola Amatil

Indonesia (CCAI) central java, ungaran oleh Bhita Wulandari, Universitas Atmajaya

Yogyakarta ; 2012), lokasi penelitian dilakukan di Desa Samban, Desa Randugunting,

dan Desa Harjosari (Ring I), serta (Ring II) di Desa Jatijajar dan Desa Lemahireng.

Didapatkan hasil bahwa tingkat kepercayaan yang dimiliki masih terdapat beberapa

warga yang belum menaruh kepercayaan kepada PT. CCAI Central Java Ungaran

ketika menjalin suatu hubungan. Belum menaruh kepercayaan karena sebagian warga

merasa PT. CCAI Central Java Ungaran masih kurang dapat merealisasikan janjinya.

Maksud dari pernyataan tersebut adalah PT. CCAI Central Java Ungaran hanya

menyampaikan janji-janjinya di awal, tetapi seiring berjalannya waktu, perusahaan

melupakan janjinya. Contoh yang dapat diambil adalah ketika PT. CCAI Central Java

menjanjikan akan menerima dan mempekerjakan warga sekitar ke dalam perusahaan.

Tetapi kenyataannya sekarang ini, warga sekitar merasa kesulitan untuk bekerja di PT.

CCAI Central Java. Meskipun demikian, PT. CCAI Central Java cukup adil dalam

memperlakukan warga sekitarnya sehingga membuat komunitas merasa cukup

nyaman menjalin hubungan dengan PT. CCAI Centrral Java Ungaran. Tingkat

kepercayaan yang dimiliki oleh responden juga berasal dari harapan bahwa PT. CCAI

Central Java dapat membantu meningkatkan perekonomian mereka.

Pada dasarnya, ketika komunitas memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi


terhadap perusahaan, maka mereka akan memiliki kepuasan tersendiri. Kepuasan

dipahami oleh Hon & Grunig (1999) sebagai suatu tolok ukur untuk melihat sejauh

mana kedua belah pihak merasa puas dengan hubungan yang mereka jalin. Komunitas

akan mendapatkan kepuasan ketika mereka merasa senang dengan keberadaan

organisasi di lingkungan sekitar mereka, ketika mereka mendapatkan keuntungan dari

hubungan yang mereka jalin, dan merasa nyaman bekerjasama dengan organisasi.

Masih terdapatnya tingkat kepuasan yang rendah dikarenakan masyarakat

merasa tidak mendapatkan manfaat tertentu ketika menjalin hubungan dengan PT.

CCAI Central Java, dibuktikan dengan sulitnya mendapatkan bantuan dana dari PT.

CCAI Central Java, ketika warga sekitar membutuhkan dana untuk mengadakan suatu

event tertentu. Selain itu, PT. CCAI Central Java masih belum bisa menyamaratakan

dan melibatkan semua perwakilan dari masing-masing wilayah ketika mengadakan

suatu acara tertentu. Hal tersebut membuat sebagian warga sekitar merasa kurang

nyaman sehingga membuat mereka tidak puas dengan hubungan yang selama ini

mereka jalin dengan PT. CCAI Central Java Ungaran.

Tolok ukur ketiga yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kualitas

suatu hubungan adalah commitment. Menurut Hon & Grunig (1999), sebuah

komitmen menunjukkan bahwa organisasi ingin memelihara dan mempertahankan

hubungan dengan komunitas. Suatu hubungan akan dapat bertahan lama apabila

terdapat suatu komitmen jangka panjang yang terbentuk antara organisasi dengan

publiknya. Komitmen perusahaan masih termasuk dalam kategori sedang karena

masih terdapat beberapa warga yang belum menaruh komitmen yang baik dengan

perusahaan, dan hanya terdapat sedikit warga yang menaruh komitmen tinggi dengan

PT. CCAI Central Java Ungaran. Hal ini dikarenakan PT. CCAI Central Java masih

kurang bisa menjaga komitmen baik yang selama ini dibangun dengan warga sekitar.
Meskipun demikian, warga komunitas tetap menghargai hubungan yang selama

ini terjalin, dan memilih untuk menjalin kerjasama dengan PT. CCAI Central

Java karena dengan kerjasama yang mereka jalin, warga bisa mendapatkan

suatu keuntungan tertentu, meskipun hanya sedikit.

Dimensi terakhir yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kualitas

hubungan antara organisasi dengan komunitas adalah control mutuality. Menurut Hon

& Grunig (1999), control mutuality dihubungkan dengan sejauh mana pihak dalam

suatu hubungan puas dengan kontrol yang mereka miliki atas hubungan yang mereka

jalin dengan suatu perusahaan. Hubungan yang positif akan muncul ketika organisasi

dan publik memiliki beberapa tingkat kontrol antara satu dengan yang lainnya.

Tingkat kontrol mutualitas akan tinggi ketika dalam membuat suatu keputusan, warga

sekitar perusahaan dilibatkan dalam proses pembuatan keputusan tersebut dan ketika

organisasi memberikan kesempatan bagi warganya untuk mengungkapkan pendapat

yang membangun bagi keberlangsungan usahanya.

Tingkat kontrol mutualitas perusahaan masih rendah dikarenakan masih

terdapat warga yang belum mendapatkan haknya untuk memberikan kontrol akan

aktivitas perusahaan yang nantinya dapat berdampak pada warga sekitar perusahaan.

Selain itu, sebagian warga hanya merasakan sedikit haknya untuk memberikan kontrol

akan aktivitas perusahaan. Hal tersebut dibuktikan dengan tingkatan sedang yang

mereka berikan.

Setelah melakukan penelitian, ternyata respon dari warga yang berada di Ring

II , baik tingkat kepercayaan, kepuasan, komitmen perusahaan dan kontrol mutualitas

lebih rendah dibandingkan dengan warga yang berada di Ring I. itu berarti bahwa

upaya perusahaan untuk menjalin hubungan dengan komunitas di sekitar hanya bisa

terjangkau ke daerah Ring I ; Desa Samban, Desa Randugunting, dan Desa Harjosari,
sedangkan daerah yang berada di Ring II ; Desa Jatijajar dan Desa Lemahireng belum

optimal. Perusahaan hanya bisa menjangkau Ring I karena wilayah Ring I lebih dekat

dengan perusahaan dibandingkan dengan daerah Ring II yang wilayahnya lumayan

jauh dari perusahaan.

Oleh karenanya perusahaan ini yang merupakan perusahaan besar maka perusahaan

harus lebih memprioritaskan peranan PR untuk selalu berkomunikasi dengan kalangan

komunitas atau masyarakat umum di sekitar perusahaan dan kalau bisa komunikasi ini

berkelanjutan dan merata hingga ke daerah Ring II, sehingga tingkat kepercayaan,

kualitas hubungan, kepuasan serta control mutualistis meningkat lebih baik bahkan

tidak mendapatkan opini publik yang buruk.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

PT. CCAI Central Java Ungaran hingga saat ini sudah berusia 39 tahun, dan saat

dilakukan penelitian di tahun 2012, empat (4) poin yang menjadi bahan penelitian dengan

lokasi penelitian di Desa Samban, Desa Randugunting, dan Desa Harjosari (Ring I), serta

(Ring II) di Desa Jatijajar dan Desa Lemahireng menunjukkan bahawa masih terdapat

kekurangan yang dirasakan oleh sebagian warga dalam hubungannya dengan perusahaan,

terutama daerah yang berada di Ring II. Meskipun demikian pada dasarnya mereka sangat

memahami keberadaan perusahaan tersebut.

Sebuah organisasi/perusahaan memerlukan adanya jalinan hubungan dengan

komunitasnya karena antara organisasi dan komunitas memiliki hubungan yang saling

ketergantungan, maka dari itu, menjalin hubungan menjadi hal yang sangat penting. Melihat

pentingnya suatu hubungan bagi organisasi, maka perlu mengetahui bagaimana kualitas

hubungan yang terjalin antara organisasi dengan komunitasnya. Semakin baik kualitas

hubungan yang terjalin, maka semakin baik pula sebuah organisasi mendapatkan image yang

positif dari masyarakat.

Kualitas hubungan atau relasi dapat diukur dengan menggunakan outcomes yang ada,

dimana menurut Hon & Grunig (1999) serta Huang (2001), untuk mengukur kualitas suatu

hubungan organisasi dengan publiknya dapat diukur dengan menggunakan outcomes yang

terdiri dari empat elemen, yakni, control mutuality, trust, satisfaction, dan commitment.

Meskipun demikian, Yi-Huang menambahkan bahwa terdapat satu elemen penting lainnya

yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas hubungan, yaitu budaya.

Tingkat relasi antara PT. CCAI Central Java Ungaran dengan komunitas lokal
perusahaan dapat dikatakan memiliki tingkatan sedang, dikarenakan warga masih belum

merasa puas dengan PT. CCAI Central Java dalam menjalin suatu hubungan. Selain itu,

sebagian warga juga merasa kurangnya kesempatan yang diberikan kepada mereka untuk

memberikan kontrol terhadap aktivitas yang dilakukan oleh PT. CCAI Central Java Ungaran,

yang nantinya dapat berpengaruh terhadap warga sekitar perusahaan.

Suatu hubungan dikatakan memiliki kualitas yang sangat baik apabila memiliki

tingkat kepercayaan, kepuasan, komitmen, dan kontrol mutualitas yang tinggi terhadap suatu

hubungan yang telah terjalin.

Pada dasarnya, ketika tingkat kepercayaan tinggi, maka secara otomatis tingkat

kepuasan yang dimiliki juga tinggi. Suatu hubungan akan dapat bertahan lama ketika terdapat

suatu komitmen yang dibangun antara kedua belah pihak. Kontrol mutualitas yang dimiliki

oleh komunitas juga berperan penting di dalam menentukan kualitas relasi yang terjalin

antara organisasi dengan komunitas. Semakin tinggi tingkat kontrol mutualitas yang ada,

maka semakin baik kualitas relasi tersebut. untuk dapat menjalin hubungan yang baik antara

organisasi dengan komunitas, dibutuhkan seorang PR yang pada dasarnya bertindak sebagai

penghubung antara organisasi dengan publiknya.

B. SARAN

Masukan dan bahan pertimbangan untuk memperbaiki hubungan yang telah terjalin

dengan komunitas sebaiknya perlu mendapat perhatian dari perusahaan, sehingga hubungan

yang terjalin dengan komunitas dapat menjadi hubungan yang memiliki kualitas yang sangat

baik.

Perusahaan harus menyamaratakan tingkat komitmen, kontrol mutualitas, kepuasan,

dan hubungan di setiap lini warga sekitar.

DAFTAR PUSTAKA
Buku:

Abdurrachman, Oemi. (1993). Dasar-Dasar Public Relations. Bandung: PT. Citra Aditya
Bakti.

Baskin, Otis, Craig Aronoff, & Dan Lattimore (1997). Public Relations: The Profession and
The Practice. United States: Brown & Benchmark Publishers.

Broom, G. M, Casey, S., & Ritchey, J. (2000). Concepts and theory of organization-public
relationships. In J. A. Ledingham and S. D. Bruning (Eds.), Publicrelations as
relationship management: A relational approach to the study andpractice of public
relations. Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum Associates.

Center, Allen H & Jackson, Patrick. (1995). Public Relations Practices Managerial Case
Studies & Problems. New Jersey: Prentice Hall, Inc.

Coombs, W. T. (2000). Crisis management: Advantages of a relational perspective. In J. A.


Ledingham and S. D. Bruning (Eds.), Public relations as relationship management: A
relational approach to the study and practice of public relations. Mahwah, NJ: Lawrence
Erlbaum Associates.

Cutlip, Scott M., Allen. H. Center & Glen M. Broom (2006). Effective Public Relations, 9th
edition. New Jersey: Upper Saddle River.

Cutlip, S. M., Center, A. H., & Broom, G. M. (1994). Effective Public Relations (7th ed.).
Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall.

Daft, R. L. (2001). Essentials of Organization Theory & Design (2nd ed.). Cincinnati, OH:
South-Western College Publishing.

Effendy, Onong Uchjana. (2002). Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: PT. Citra
Aditya Bakti.

Forrest, Carol, J, Rence Hix Mays.(1997). The Practical Guide to Environmental Community
Relations. Canada: John Wiley & Sons, Inc.

Hon, Linda Childers & Grunig, James E. (1999). Guidelines For Measuring Relationships in
Public Relations. Institute For Public Realations.

Huang, Y. H. (1998). Public Relations Strategies and Organization-Public Relationships.


Paper presented at the annual conference of the Association for Education in Journalism
and Mass Communication, Baltimore

Huang, Y. H. (2001). OPRA: A Cross-Cultural, Multiple-Item Scale For


MeasuringOrganization-Public Relationships. Journal of Public Relations Research.

Iriantara, Yosal. (2004). Community Relations Konsep dan Aplikasinya. Bandung: Simbiosa
Rekatama Media.

Website:
Linda. C. Hon and James. E. Grunig,Qualitative Methods for Assessing Relationships
Between Organizations and Publics Gainesville, FL, The Institute for Public Relations,
Commission on Public Relations Measurement and Evaluation. The report isavailable
online at http://www.instituteforpr.com/measeval/rel_p1.htm.

Aryani, Dewi (2011) Kasus Freeport, Hilangnya Hati Nurani Pemerintah.


http://oase.kompas.com/read/2011/11/26/1856067/Kasus.Freeport.Hilangnya.Nuani.Pem
erintah (diakses 18 April 2013)
TUGAS
PUBLIC RELATION
(PENCITRAAN)
(CONTOH KASUS : AKTIVITAS HUBUNGAN KOMUNITAS
PT. COCA-COLA AMATIL INDONESIA (CCAI) CENTRAL JAVA, UNGARAN )

OLEH :

NAMA : YULIANUS H. HALOUVIN (415200147)

PROG. STUDI : MANAJEMEN BISNIS PERJALANAN

SEKOLAH TINGGI PARIWISATA AMPTA

2015