Anda di halaman 1dari 7

Dewi Anggraeni (1706973911)

FG 2
1.2.1 Pengaruh Akidah atau Iman Dalam Kehidupan.

Iman dan amal shaleh saling berhubungan, iman berorientasi pada rukun
iman yang terdapat enam butir, dan amal shaleh berorientasi pada rukun islam yang
terdapat lima butir dimana terdapat tentang ibadah dan pengalamannya serta
muamalah dengan sesama manusia.

Rukun Iman:
1. Iman kepada Allah
2. Iman kepada Malaikat
3. Iman kepada Kitab
4. Iman kepada Rasul
5. Iman kepada hari akhir kiamat
6. Iman kepada Qada dan Qadar

Rukun Islam:
1. Mengucapkan kalimat syahadat
2. Menunaikan shalat
3. Menunaikan puasa
4. Menunaikan zakat
5. Menunaikan haji
Keislaman seseorang menjadi utuh jika amal dan perilaku sesorang muslim
diiringi dengan iman. Karena orang yang beriman pada Allah harus menunjukkan
keimanannya dalam amal.
Didalam Al-Quran terdapat sifat atau tanda-tanda beriman:
 QS. Al-Imran ayat 120

 QS. Al-Maidah ayat 12


 QS. Al-Anfal ayat 2

 QS. At-Taubah ayat 52

 QS. Al-Mukminun ayat 2-11


Jika seseorang beriman kepada Allah, maka seseorang akan taat menjalankan
ibadah, menyembah hanya kepada Allah semata, tidak mensekutukan-Nya,
bertawakkal dan berserah diri jika dihadapkan dengan kesulitan dan tantangan. Jika
seseorang beriman kepada malaikat, maka orang tersebut akan selalu menjalankan
kebaikan di dunia ini—karena ia percaya bahwa segala perbuatan yang dilakukan
diawasi oleh malaikat dan akan diminta pertanggung jawabannya di hari akhir nanti.
Impelemntasi iman kepada kitab suci, dapat diwujudkan denga memiliki
kepercayaan diri yang kuat akan kebenaran aturan Allah dalam kitab suci-Nya.
Contoh perilku yang mencerminkan iman kepada kitab suci, yaitu Iman kepada
Rasul dpat diwujudkan dengan meneladani perilaku para rasul dalam kehidupan,
seperti mneladani ibadahnya, tingkah laku maupun tutur katanya. Iman kepada Hari
Akhir akan berdampak pada perilaku sehari-hari karena keimann ini melahirkan
keyakinan bahwa tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini, semua akan dihitung dan
dicatat. Iman kepada Qadha dan Qadar menumbuhkan kesadaran bahwa segala yang
ada dan terjadi di alam semesta ini merupakan kehendak dan kuasa Allah.

1.2.2. Implementasi Akidah atau Iman Islam Dalam Kehidupan

Iman dan amal dalam Islam memiliki hubungan yang terintegrasi. Tanpa
integrasi amal, keimanan seseorang menjadi tidak utuh. Amal merupakan
perwujudan iman kepada Allah SWT. Orang yang menerapkan iman maka akan
muncul darinya amal dan ketinggian akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Ayat-ayat
yang menjelaskan tentang sifat orang yang beriman antara lain QS. Al-Imran : 120,
QS. Al-Maidah : 12, QS. Al-Anfal : 2, QS. At-Taubah : 52, QS. Al - Mukminun : 2-
11,dan lain-lain.
Seseorang yang beriman kepada Allah memiliki sifat
1. Taat beribadah
2. Menyembah hanya kepada Allah, dan bertwakkal.
Sifat orang yang beriman kepada malaikat-Nya antara lain :
1. Selalu menjalankan kebaikan
2. Berhati-hati dalam melakukan sesuatu
Iman kepada kitab suci dapat diwujudkan dengan :
1. Percaya diri akan kebenaran aturan Allah
2. Menata hidupnya sesuai rencana Allah
Implementasi iman kepada rasul meliputi :
1. Meneladani perilaku rasul dalam kehidupan
2. Brlaku jujur, bertanggung jawab, amanah, menyampaikan kebenaran,
cerdas, dan
bijaksana

Perilaku iman terhadap hari akhir antara lain :


1. Patuh beribadah
2. Menjauhi maksiat
3. Bersedekah dan membantu orang lain
4. Tidak silau pada dunia
5. Bersyukur
6. Jujur dan adil
7. Berusaha menjadi lebih baik
8. Rendah hati
9. Optimis
10. Lapang dada

Iman kepada Qadha dan Qadar meliputi :


1. Optimis
2. Tidak mudah putus asa

1.2.3. Proses Pembentukan Akidah atau Iman

Benih iman yang dibawa sejak dalam kandungan memerlukan pemupukan


yang berkesinambungan. Benih yang ungul apabila tidak disertai pemeliharaan yang
intensif, besar kemungkinan menjadi punah. Demikian halnya dengan benih iman.
Berbagai pengaruh terhadap sesorang akan mengarahkan iman/kepribadian
seseorang, baik dari lingkungan keluarga, masyarakat, pendidikan dll.
Pendidikan keluarga berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung
terhadap iman seseorang. Tingkah laku orang tua di dalam rumh tangga senantiasa
merupakan contoh dan teladan bagi anak-anak. Jangan diharapkan anak berperilaku
baik apabila orang tuanya selalu melakukan perbuatan yang tercela.
Pada dasarnya, proses pembentukan iman, diawali dengan proses perkenalan,
kemudian meningkat menjadi senang atau benci. Mengenal ajaran Allah adalah
langkah awal dalam mencapai iman kepada Allah. Jika seseorang tidak mengenal
ajaran Allah maka orang tersebut tidak mungkin beriman kepada Allah. Disamping
proses pengenalan, proses pembiasaan juga perlu diperhatikan, karena tanpa
pembiasan, seseorang bisa saja yang tadinya benci menjadi senang. Seorang anak
harus dibiasakan terhadap apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi larangan
Allah agar kelak terampil melaksanakan ajaran Allah. Terdapat lima prinsip dalam
proses penamaan iman, yaitu :
a. Prinsip pembinaan berkesinambungan
Proses pembentukan iman adalah suatu proses yang penting, terus menerus, dan
tidak berkesudahan. Belajar adalah suatu proses yang memungkinkan orang semakin
lama semakin mampu bersifat selektif. Implikasinya ialah diperlukan motivasi sejak
kecil dan berlangsung seumur hidup. Oleh karena itu penting mengarahkan proses
motivasi agar membuat tingkah laku lebih terarah dan selektif menghadapi nilai-nilai
hidup yang patut diterima atau yang seharusnya ditolak.

b. Prinsip internalisasi dan individuasi

Suatu nilai hidup antara lain iman dapat lebih mantap terjelma dalam bentuk
tingkah laku tertentu, apabila anak didik diberi kesempatan untuk menghayatinya
melalui suatu peristiwa internalisasi (yakni usaha menerima nilai sebagai bagian dari
sikap mentalnya) dan individuasi (yakni menempatkan nilai serasi dengan sifat
kepribadiannya).
c. Prinsip sosialisasi

Implikasi metodologinya ialah bahwa usaha pembentukan tingkah laku


mewujudkan nilai iman hendaknya tidak diukur keberhasilannya terbatas pada
tingkat individual (yaitu hanya dengan memperhatikan kemampuan seseorang dalam
kedudukannya sebagai individu), tetapi perlu mengutamakan penilaian dalam kaitan
kehidupan interaksi sosial (proses sosialisasi) orang tersebut. Proses sosialisasi
tingkah laku adalah kelanjutan dari proses individuasi, karena nila iman yang
diwujudkan ke dalam tingkah laku selalu mempunyai dimensi sosial.

d. Prinsip konsistensi dan koherensi

Nilai iman lebih mudah tumbuh terakselerasi, apabila sejak semula ditangani
secara konsisten, yaitu secara tetap dan konsekuen, serta secara koheren, yaitu tanpa
mengandung pertentangan antara nilai yang satu dengan nilai yang lainnya.
Implikasi metodologinya adalah bahwa usaha yang dikembangkan untuk
mempercepat tumbuhnya tingkah laku yang mewujudkan nilai iman hendaknya
selalu konsisten dan koheren.

e. Prinsip integrasi

Hakikat kehidupan sebagai totalitas, senantiasa menghadapkan setiap orang pada


problematika kehidupan yang menuntut pendekatan yang luas dan menyeluruh. Oleh
karena itu tingkah laku yang dihubungkan dengan nilai iman tidak dapat dibentuk
terpisah-pisah. Makin integral pendekatan seseorang terhadap kehidupan, makin
fungsional pula hubungan setiap bentuk tingkah laku yang berhubungan dengan nilai
iman yang dipelajari. Implikasi metodologinya ialah nilai iman hendaknya dapat
dipelajari seseorang tidak sebagai ilmu dan keterampilan tingkah laku yang terpisah-
pisah. Tetapi melalui pendekatan yang integratif, dalam kaitan problematik
kehidupan yang nyata.
Daftar Pustaka:
http://kakakpintar.com/pengertian-iman-kepada-allah-beserta-fungsi-dan-contoh-
perilakunya/ . diakses pada 9 Maret 2018. Pukul:22.54
http://www.yuksinau.id/iman-kepada-qada-dan-qadar/ . diakses pada 9 maret 2018.
Pukul: 22.55
http://www. tafsirq.com diakses pada 9 Maret 2018 pukul 14.38
Mujilan, dan Kawan-Kawan. 2018. Buku Ajar Mata Kuliah Pengembngan
Kepribadian Agama Islam. Depok : Midada Rahma Press.