Anda di halaman 1dari 6

Kabar Rakyat

Kontradiksi Dalam UU Mineral dan Batubara

Kamis, 12 Januari 2012 | 20:08 WIB 0 Komentar | 263 Views

Banyaknya konflik yang terjadi antara pelaku industri tambang (umumnya dibekingi oleh aparat

negara) dengan rakyat diberbagai daerah telah menyadarkan sebagian pihak mengenai adanya

‘salah urus’ dalam industri pertambangan nasional. Kesadaran yang sesungguhnya telah muncul

sejak lama, namun tetap saja diabaikan oleh pemegang otoritas kekuasaan di negeri ini. Lalu

dimanakah letak ‘salah urus’ nya?

Definisi Pertambangan dalam UU Minerba

Pada masa kini, industri pertambangan di Indonesia diatur oleh Undang-undang No. 4 tahun 2009

tentang Mineral dan Batubara (UU Minerba). Dalam UU ini, tepatnya dalam Pasal I mengenai

Ketentuan Umum, dijelaskan definisi dari pertambangan sebagai berIkut :

“Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian,

pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum,
eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian,

pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pasca tambang.”

Berdasarkan definisi tersebut, aktivitas pertambangan itu terdiri dari delapan tahapan. Selain

menjelaskan definisi pertambangan, UU Minerba juga menguraikan definisi pertambangan mineral

dan batubara secara lebih spesifik.

Definisi pertambangan mineral menurut Pasal I UU tersebut adalah:

“Pertambangan adalah kumpulan mineral yang berupa bijih atau batuan, diluar panas bumi,

minyak dan gas bumi, serta air tanah.”

Emas, nikel, logam, tembaga serta bijih besi merupakan berbagai resources yang dapat

dikategorikan sebagai mineral.

Sementara definisi pertambangan batubara dalam Pasal I UU Minerba adalah:

“Pertambangan endapan karbon yang terdapat di dalam bumi, termasuk bitumen padat , gambut

dan batuan aspal.”

Faktanya, konflik antara pemodal dan rakyat terjadi dalam aktivitas kedua jenis pertambangan

tersebut. Kasus Freeport (Papua), Newmont (Sumbawa dan Sulawesi) serta PT SMN

(Bima) merupakan konflik yang melibatkan korporasi tambang mineral. Sedangkan kasus

pencemaran lingkungan dan perampasan tanah ulayat suku Dayak oleh Adaro dan Kideco Jaya

Agung di Kalimantan adalah konflik yang terjadi dalam industri pertambangan batubara.

Di hampir semua konflik, posisi rakyat selalu berada pada pihak yang terkalahkan. Salah satu

sebabnya adalah keberpihakan aparat negara, baik pemerintah pusat, daerah, kepolisian maupun

militer kepada korporasi. Hal ini disebabkan juga oleh rancunya UU Minerba yang berlaku saat ini.

Kerancuan itu dapat kita pahami, bila kita meninjau latar belakang kelahiran UU ini secara

seksama.

Dibalik Lahirnya UU Minerba


Tujuan dari dirumuskannya UU Minerba oleh pemerintah dan parlemen (DPR) adalah untuk

menggantikan UU No.11 tahun 1967 tentang Ketentuan –Ketentuan Pokok Pertambangan yang

dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman ditingkat nasional maupun global.

Problem terbesar dari UU No.11/1967 adalah sistem perjanjian atau kontrak tambang. Dalam

pertambangan mineral, dikenal istilah Kontrak Karya (KK). Sementara dalam industri tambang

batubara ada istilah Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) dan Kuasa

Pertambangan (KP).

Sistem kontrak ini memposisikan negara dan korporasi tambang secara sejajar. Dalam rezim

kontrak, negara dipandang sebagai mitra bisnis perusahaan tambang yang tidak memiliki sifat

superior. Hal inilah yang membuat negara selalu ‘impotent’ ketika berhadapan dengan korporasi

dalam perumusan pembaruan kontrak, penarikan royalty dan pajak, juga di saat kasus-kasus

lingkungan dan sosial bermunculan.

Posisi negara yang lemah dalam UU No.11/1967 inilah yang berusaha untuk dirubah oleh

pemerintah dan DPR melalui UU No.4/2009 tentang Minerba tersebut. Maka, dalam UU Minerba

terjadi perubahan rezim dalam tata kelola industri tambang nasional. Perubahan itu terjadi dari

rezim kontrak/perjanjian kepada rezim perizinan. Sehingga istilah-istilah seperti KK, PKP2B dan

KP diganti menjadi Izin Usaha Pertambangan (IUP). Pada pasal 36 UU Minerba, disebutkan bila

IUP terdiri atas dua tahap, yakni IUP Eksplorasi (penyelidikan umum, eksplorasi dan studi

kelayakan) dan IUP Operasi Produksi (konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian,

serta pengangkutan dan penjualan).

Dalam rezim perizinan atau IUP ini, negara berada dalam posisi yang superior dibandingkan

dengan perusahaan tambang. Negara berwenang menerapkan sanksi administratif mulai dari

penghentian sementara kegiatan tambang hingga pencabutan IUP (Pasal 151 ayat 2).

Tranformasi dari rezim kontrak ke rezim perizinan dalam UU Minerba 2009 ini tidaklah

mulus. Majalah Tempo edisi Desember 2008-Januari 2009 mendeskripsikan alotnya

pembahasan UU Minerba diantara fraksi-fraksi DPR yang ketika itu masih dalam bentuk draft

Rancangan Undang-undang (RUU) diakhir tahun 2008. Perdebatan paling ‘seru’ terjadi ketika
pembahasan mulai menyentuh dua hal penting, yakni sistem pengelolaan industri tambang dan

waktu tunggu pengelolaan wilayah pencadangan nasional (WPN). WPN merupakan bagian

dari wilayah pertambangan yang diposisikan sebagai cadangan untuk kepentingan

strategis nasional dan tidak boleh dieksploitasi dalam jangka waktu tertentu.

Terkait sistem pengelolaan, secara garis besar fraksi-fraksi di DPR terpecah kedalam dua kubu,

yakni kubu yang ingin mempertahankan sistem kontrak seperti yang termaktub dalam UU

No.11/1967 dan kubu yang pro sistem perizinan. Fraksi-fraksi yang tergolong dalam kubu pro

sistem kontrak adalah Fraksi Partai Golkar dan Partai Demokrat. Sementara golongan yang

termasuk dalam kelompok pro sistem perizinan adalah PDI Perjuangan, PKB, PAN dan PKS.

Polarisasi terkait perdebatan soal waktu tunggu pengelolaan WPN juga tidak berbeda. Kubu

Demokrat dan Golkar menginginkan WPN dapat dieksploitasi setelah lima tahun atau secepatnya.

Sementara kubu PDI Perjuangan dan kawan-kawan ingin waktu tunggu bagi WPN adalah 20

tahun.

Dari konstelasi tersebut terlihat bahwa Partai Demokrat dan Golkar adalah kelompok yang pro

status quo dan bernafsu untuk mengeksplotasi sumber daya mineral dan batubara secara masif.

Banyak pihak menduga sikap politik kedua partai ini merefleksikan kepentingan para ‘juragan’

tambang nasional maupun asing yang menjadi ‘sponsor’ kedua partai tersebut. Dan bukan

rahasia pula apabila banyak para pegusaha tambang batubara yang memegang posisi strategis

dalam struktur kedua partai itu.

‘Pertarungan’ itu selesai setelah tercapainya kompromi antara kedua kubu. Kompromi tersebut

adalah ditetapkannya rezim perizinan (IUP) sebagai sistem pengelolaan industri tambang

Indonesia. Tetapi, harap dicatat, UU Minerba ini ternyata ‘ditempeli’ azas non-retroaktif atau tidak

berlaku surut. Jadi, meskipun ada perubahan tata kelola industri tambang, namun perubahan itu

tidak akan menyentuh berbagai kontrak tambang yang muncul sebelum disahkannya UU

No.4/2009.
Azas non-retroaktif itu terlihat dalam Ketentuan Peralihan Pasal 169 UU No.4/2009 yang

menyatakan bahwa KK dan PKP2B yang telah ada sebelum berlakunya UU ini tetap diberlakukan

sampai jangka waktu berakhirnya kontrak/perjanjian. Disni tampak jelas buah dari kompromi

partai-partai di DPR yang akhirnya menjadikan UU Minerba layaknya ‘banci’. Padahal banyak

kontrak tambang produk UU No.11/1967 yang merugikan negara dan digugat oleh banyak pihak,

seperti kontrak karya Freeport di Papua dan tunggakan royalti beberapa perusahaan tambang

batubara pemegang hak PKP2B.

Hasil kompromi itu juga terlihat dalam aturan tentang waktu tunggu WPN. Kompromi itu akhirnya

‘menelorkan’ aturan mengenai Wilayah Usaha Pertambangan Khusus (WUPK) yang

dapat dieksploitasi sebagian wilayahnya dengan persetujuan DPR. Waktu tunggu bagi WUPK

juga ditentukan DPR.

UU Minerba Bagian dari Problem

Azas non-retroaktif, yang menutup peluang perubahan atau renegosiasi kontrak tambang yang

banyak merugikan negara, menjadikan UU ini bagian dari problem akut industri pertambangan

nasional. Problem itu adalah tergadainya kedaulatan bangsa dan rakyat ke tangan korporasi

tambang nasional maupun asing. Dengan masih berlakunya berbagai KK dan PKP2B, subordinasi

negara dibawah ‘ketiak’ korporasi tambang akan berlanjut. Bahkan, tradisi aparat negara untuk

menjadi ‘centeng’ perusahaan tambang juga dipastikan tidak berubah.

Sementara, sistem IUP juga tidak menjamin terjaganya kedaulatan bangsa dihadapan perusahaan

tambang. Tragedi Bima menunjukkan secara gamblang bahwasanya sistem pengelolaan dibawah

rezim perizinan pun tak mampu menhentikan kebiasaan aparatur negara menjadi ‘centeng’

perusahaan tambang asing.

Disamping itu, kewenangan negara (Pemerintah Pusat dan Daerah) dalam memberikan perizinan

kegiatan tambang sangat rentan diintervensi pihak pemilik modal. Hal itu sangat lumrah dalam

sistem demokrasi liberal yang berlaku de facto di Indonesia kini, ketika lembaga-lembaga negara

berada dibawah kendali ‘penguasa’ ekonomi.


Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa ‘salah urus’ pengelolaan industri pertambangan

nasional lebih bersifat sistemik dan ideologis. Artinya, lemahnya peran negara dalam pengelolaan

tambang disebabkan oleh tunduknya otoritas negara pada sistem dan ideologi kapitalisme-

liberalisme. Ketertundukkan ini telah terjadi sejak Orde Baru berkuasa tahun 1967, lalu semakin

masif pasca reformasi 1998. Lahirnya UU No.4/2009 tentang Minerba adalah bukti dari

ketertundukan itu.

Maka problem ideologis tentu harus dituntaskan pula dengan tawaran ideologi. Berbagai

gerakan yang muncul belakangan ini, seperti ‘Gerakan Revolusioner Kembali ke UUD 1945

yang Asli (Gervok Kandang) yang digelorakan GMNI, Gerakan Nasional Pasal 33 UUD 1945 yang

digagas PRD, maupun Aliansi Perubahan harus bertransformasi menjadi gerakan ideologis-

praktis yang tidak hanya menghentikan salah urus industri tambang, tetapi juga salah urus negara

ini.

Penulis adalah kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sumedang dan

saat ini sedang bekerja di media tambang dan energi, Petromindo.com*)

*) Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis

Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/kabar-rakyat/20120112/kontradiksi-dalam-uu-

mineral-dan-batubara.html#ixzz38JpfFyKT

Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook