Anda di halaman 1dari 3

Jika berbicara mengenai big data dan implementasinya, maka hal yang menarik untuk ditinjau

adalah bidang Politik. Beberapa hal yang dilakukan sebagai impelementasi big data di segmen ini adalah

peramalan hasil pilkada dan pilpres, social media analysis dan micro targeting. Salah satu yang terlihat

secara gamblang adalah kasus pilkada Jakarta yang melibatkan Basuki Tjahja Purnama, dan kasus Pilpres

2014 dengan tokoh utama Jokowi dan Prabowo.

Pada Pilkada Jakarta, terjadi sebuah kasus yang unik dimana pasangan Ahok-Djarot yang

terkendala karena belum ada partai politik yang mendukung. Hal ini membuat para pendukung Ahok

(Teman Ahok) mengambil sebuah inisiatif untuk mengumpulkan 1 juta KTP, akan tetapi pada akhirnya

didukung oleh partai PDIP. Data berupa 1 juta KTP sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai sebuah

cluster bigdata oleh teman ahok yang nantinya dapat digunakan untuk promosi pasangan tersebut di

media social. Jika teman ahok ingin menggunakan cluster data tersebut untuk kegiatan promosi, maka

mereka dapat menerapkan metode micro targeting. Melalui metode ini, teman ahok dapat menyasar

kalangan tertentu atau kelompok dengan karakteristik demografis tertentu sebagai sasaran, dimana

micro targeting akan menyasar tiap individu dibanding kelompok besar sehingga lebih intim dan

terpersonalisasi untuk tiap orang. Menggunakan metode ini membuat informasi tersampaikan kepada

individu lebih efektif.

Lain halnya dengan Pilpres 2014 dimana Pasangan Jokowi-JK menggunakan media social sebagai

salah satu sarana kampanye. Tim sukses pasangan ini juga memanfaatkan Analisis media sosial dari

masing-masing akun twitter maupun youtube dan media social lainnya. Tim sukses juga menyalurkan

konten kampanye yang tepat sasaran di media social pasangan Jokowi-JK, hal ini terlihat dari analisis

media social selama masa pilpres, dimana pengguna media social lebih mendukung pasangan Jokowi-JK

dibandingkan dengan lawannya.


Di sisi lain, big data juga dapat diimplementasikan berupa quick count. Hal ini dapat dilakukan

melalui online survey, melalui riwayat pencarian user di internet beserta media social, demografis

pemilih, kebiasaan, kecenderungan politis, dan data lainnya. Data-data ini kemudian dikompilasi sebagai

sebuah bigdata dan dapat digunakan sebagai salah satu acuan dalam pelaksanaan quickcount.
https://tirto.id/big-data-kunci-pemenangan-pilkada-cBXY

https://socialmediaweek.org/jakarta/2017/04/17/big-data-dalam-politik-positif-atau-negatif/

https://infokomputer.grid.id/2014/07/fitur/meneropong-politik-dengan-social-media-analytics/

http://news.metrotvnews.com/read/2018/01/31/824426/bin-optimalkan-big-data-antisipasi-

hoaks

https://id.linkedin.com/pulse/cara-memenangkan-kampanye-politik-dengan-memanfaatkan-

hadiansyah