Anda di halaman 1dari 29

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji kita panjatkan kehadiran Allah SWT, yang telah memberikan
kenikmatan yakni kesehatan maupun kesempatan sehingga saya dapat menyelesaikan
makalah ini. Tanpa pertolongan-Nya mungkin saya tidak akan sanggup menyelesaikannya
dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita
yakni Nabi Muhammad SAW
Memiliki pengetahuan tentang khutbah merupakan hal yang penting bagi setiap
muslim. Karena pengetahuan akan ibadah kepada Allah merupakan ilmu yang agung lagi
mulia. Seorang hamba yang menyibukkan diri dalam memahami ilmu dan menyelami
kandungan yang terdapat di dalamnya,berarti telah menyibukkan diri dalam hal yang mulia di
sisi Allah.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Kritik dan Saran
dari Pembaca dibutuhkan untuk kesempurnaan makalah ini sehingga penulis dapat
menghindari kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
Wassalamu Alaikum Wr.Wb

Mataram, 16 Desember 2017

Iwan Setyawan

Daftar Isi

i
KATA PENGHANTAR ........................................................................................................i

DAFTAR ISI.......................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang...........................................................................................................iii

B. Rumusan Masalah .....................................................................................................iii

BAB II ISI

A. Pengertian Khutbah ....................................................................................................1

B. Dalil-dalil Tentang Khutbah .....................................................................................1

C. Persyaratan Khotib .....................................................................................................1

D. Fungsi Khutbah ..........................................................................................................2

E. Syarat Sahnya Khutbah .............................................................................................. 2

F. Rukun Khutbah ..........................................................................................................3

G. Sunnah-sunnah Khutbah ............................................................................................ 3

H. Hal-hal Yang Dimakhruhkan Dalam Khutbah .......................................................... 4

I. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Khotib ...................................................................4

J. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Ketika Khutbah .....................................................4

K. Beberapa Kejadian yang Mengecewakan Para Pendengar ........................................4

L. Contoh Khotbah .........................................................................................................7

BAB 3. PENUTUP

A. Kesimpulan ................................................................................................................25

B. Saran .......................................................................................................................... 25

BAB I
PENDAHULUAN

ii
A. Latar Belakang
Khutbah merupakan perkataan yang mengandung mau’izhah dan tuntunan ibadah
yang diucapkan oleh Khatib dengan syarat yang telah ditentukan syara’ dan menjadi
rukun untuk memberikan pengertian para hadlirin, menurut rukun dari shalat Jum’at.
Secara etimologis (harfiyah), Khuthbah artinya : pidato, nasihat, pesan
(taushiyah). Sedangkan menurut terminologi Islam (istilah syara’); khutbah (Jum’at) ialah
pidato yang disampaikan oleh seorang khatib di depan jama’ah sebelum shalat Jum’at
dilaksanakan dengan syarat-syarat dan rukun tertentu, baik berupa tadzkiroh (peringatan,
penyadaran), mau’idzoh (pembelajaran) maupun taushiyah (nasehat).
Berdasarkan pengertian di atas, maka khutbah adalah pidato normatif, karena
selain merupakan bagian dari shalat Jum’at juga memerlukan persiapan yang lebih
matang, penguasaan bahan dan metodologi yang mampu memikat perhatian. Selain
khutbah Jum’at, ada pula khutbah yang dilaksanakan sesudah sholat, yaitu: khutbah ‘Idul
Fitri, ‘Idul Adha, khutbah sholat Gerhana (Kusuf dan Khusuf). Sedangkan khutbah nikah
dilaksanakan sebelum akad nikah. Dalam makalah ini yang akan dikaji adalah khusus
tentang khutbah Jum’at.
Sedangkan khutbah nikah dilaksanakan sebelum akad nikah. Dalam makalah ini
yang akan dikaji adalah khusus tentang khutbah Jum’at.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian singkat dalam latar belakang, pemakalah mengajukan
permaslahan sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan Khutbah Jum’at, beserta dalil-dalil yang menerangkan
tentang Khutbah Jum’at?
2. Apa sajakan yang menjadi fungsi, dan Syarat sahnya Khutbah?
3. Apa sajakah Rukun dan Sunah Khutbah?
4. Apa sajakah hal yang makruh dilakukan ketika berkhutbah, dan hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam Khutbah?
5. Apa sajakah yang membuat pendengar kecewa usai mendengarkan Khutbah?

iii
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Khutbah
Secara etimologis (harfiyah), khuthbah artinya : pidato, nasihat, pesan (taushiyah).
Sedangkan menurut terminologi Islam (istilah syara’); khutbah (Jum’at) ialah pidato yang
disampaikan oleh seorang khatib di depan jama’ah sebelum shalat Jum’at dilaksanakan
dengan syarat-syarat dan rukun tertentu, baik berupa tadzkiroh (peringatan, penyadaran),
mau’idzoh (pembelajaran) maupun taushiyah (nasehat).
Berdasarkan pengertian di atas, maka khutbah adalah pidato normatif, karena
selain merupakan bagian dari shalat Jum’at juga memerlukan persiapan yang lebih
matang, penguasaan bahan dan metodologi yang mampu memikat perhatian.
Selain khutbah Jum’at, ada pula khutbah yang dilaksanakan sesudah sholat, yaitu:
khutbah ‘Idul Fitri, ‘Idul Adha, khutbah sholat Gerhana (Kusuf dan Khusuf). Sedangkan
khutbah nikah dilaksanakan sebelum akad nikah. Dalam makalah ini yang akan dikaji
adalah khusus tentang khutbah Jum’at.
B. Dalil-dalil Tentang Khutbah
1. Firman Allah SWT dalam surat Al-Jumu’ah ayat 9 :
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at
(shalat Jum’at), maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah urusan jual beli
(urusan duniawi). Yang demikian itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui”. (QS. Al-
Jumu’ah : 9)
2. Riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar r.a.:
“Adalah Nabi SAW. berkhutbah pada hari Jum’at dengan berdiri, kemudian beliau duduk
dan lalu berdiri lagi sebagaimana dijalankan oleh orang-orang sekarang”.
3. Riwayat Bukhari, Nasai dan Abu Daud dari Yazid bin Sa’id r.a.:
“Adalah seruan pada hari Jum’at itu awalnya (adzan) tatkala Imam duduk di atas mimbar,
hal demikian itu berlaku pada masa Rasulullah SAW. hingga masa khalifah Umar r.a.
Setelah tiba masa khalifah Usman r.a. dan orang semakin banyak, maka beliau menambah
adzan ketiga (karena adzan dan iqomah dipandang dua seruan) di atas Zaura (nama tempat
di pasar), yang mana pada masa Nabi SAW. hanya ada seorang muadzin”.
4. Riwayat Muslim dari Jabir r.a.:
“Pada suatu ketika Nabi SAW. sedang berkhutbah, tiba-tiba datang seorang laki-laki, lalu
Nabi bertanya kepadanya: Apakah Anda sudah shalat? Hai Fulan! Jawab orang itu : Belum
wahai Rasulullah! Sabda beliau: Berdirilah! Shalatlah lebih dahulu (dua raka’at) (HR.
Muslim).
C. Persyaratan Khotib
1. Ikhlas, terhindari dari pamrih, riya dan sum’ah (popularitas). Perhatikan firman Allah
SWT. dalam menceritakan keikhlasan Nabi Hud AS:
“Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini, ucapanku tidak lain
hanyalah dari Allah yang menciptakan aku. Tidakkah kamu memikirkannya?”. (QS. Hud:51).
2. ‘Amilun bi’ilmihi (mengamalkan ilmunya), Allah SWT. berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu
lakukan? Amat besar kemurkaan di sisi Allah terhadap orang yang mengatakan apa yang
tidak kamu kerjakan”. (QS. As-Shaf : 2-3)

1
3. Kasih sayang kepada jama’ah, Rasulullah SAW. bersabda:
“Bahwa sesungguhnya aku terhadap kamu semua laksana seorang ayah terhadap anaknya”.
(HR. Abu Dawud, An-Nasai, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah).
4. Wara’ (menghindari yang syubhat), perhatikan sabda Nabi SAW:
“Jadilah kamu sebagai seorang yang wara’, maka kamu adalah manusia yang paling tekun
beribadah”. (HR. Baihaqi dari Abi Hurairah)
5. ‘Izzatun Nafsi (tahu harga diri untuk menjadi khairunnas), Allah SWT. berfirman:
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk
dengan perintah Kami ketika mereka sabar (dalam menegakkan kebenaran), dan adalah
mereka meyakini ayat-ayat Kami”. (QS. As-Sajdah : 24)
D. Fungsi Khutbah
1. Tahdzir (peringatan, perhatian)
2. Taushiyah (pesan, nasehat)
3. Tadzkir/mau’idzoh (pembelajaran, penyadaran)
4. Tabsyir (kabar gembiran, harapan)
5. Bagian dari syarat sahnya sholat Jum’at
Berkenaan dengan fungsi khutbah tersebut di atas, maka khutbah disampaikan dengan
bahasa yang mudah difahami oleh jama’ah (boleh bahasa setempat), kecuali rukun-rukun
khutbah. Allah SWT. berfirman:
“Dan tidaklah Kami mengutus Rasul, melainkan dengan bahasa yang difahami oleh
kaumnya, agar ia dapat memberi penjelasan kepada mereka”. (QS. Ibrahim : 4).
E. Syarat Sahnya Khutbah
1. Dilaksanakan sebelum sholat Jum’at. Ini berdasarkan amaliyah Rasulullah SAW.
2. Telah masuk waktu Jum’at, berdasarkan hadits Nabi SAW. dari Anas bin Malik r.a. ia
berkata:
“Sesungguhnya Nabi SAW. melaksanakan shalat Jum’at setelah zawal (matahari
condong ke Barat)”. (HR. Bukhari). Tidak memalingkan pandangan
3. Rukun khutbah dengan bahasa Arab, ittiba’ kepada Rasulullah SAW.
4. Berturut-turut antara dua khutbah dan shalat
5. Khatib suci dari hadats dan najis, karena berkhutbah merupakan syarat sahnya shalat
Jum’at.
6. Khatib menutup ‘aurat, sama dengan persyaratan shalat Jum’at.
7. Dilaksanakan dengan berdiri kecuali darurat, berdasarkan hadits Nabi SAW. dari Ibnu
Umar r.a:
“Sesungguhnya Nabi SAW. apabila keluar pada hari Jum’at, beliau duduk yakni
di atas mimbar hingga muadzin diam, kemudian berdiri lalu berkhutbah”. (HR. Abu
Daud).
8. Duduk antara dua khutbah dengan tuma’ninah, berdasarkan hadits Nabi SAW. dari
Ibnu Umar r.a. ia berkata:
“Adalah Nabi SAW. berkhutbah sambil berdiri, kemudian duduk, dan berdiri lagi
sebagaimana kamu semua melakukannya sekarang ini”. (HR. Bukhari dan Muslim).
9. Terdengar oleh semua jama’ah
10. Khatib Jum’at adalah laki-laki
11. Khatib lebih utama sebagai Imam sholat

2
F. Rukun Khutbah
1. Hamdalah, yakni ucapan “Alhamdulillah” , berdasarkan hadits Nabi SAW. dari Jabir
r.a.:
“Sesungguhnya Nabi SAW. berkhutbah pada hari Jum’at, maka (beliau) memuji Allah
(dengan mengucap Alhamdulillah) dan menyanjung-Nya”. (HR. Imam Muslim).
Hamdalah Khutbah jumat itu wajib dimulai dengan hamdalah. Yaitu lafaz yang memuji Allah
SWT. Misalnya lafaz alhamdulillah, atau innalhamda lillah, atau ahmadullah. Pendeknya,
minimal ada kata alhamd dan lafaz Allah, baik di khutbah pertama atau khutbah kedua.

2. Syahadat (Tasyahud), yaitu membaca


“Asyhadu anla ilaaha illallah wahdahu laa syarikalahu wa Asyhadu anna Muhammadan
abduhu warasuluhu”, berdasarkan hadits Nabi SAW:“Tia-tiap khutbah yang tidak ada
syahadatnya adalah seperti tangan yang terpotong”. (HR. Ahmad dan Abu Dauwd).
3. Shalawat
4. Wasiyat Taqwa, antara lain ucapan “Ittaqullah haqqa tuqaatih”.
5. Membaca ayat Al-Qur’an, berdasarkan hadits Nabi SAW. dari Jabir bin Samurah r.a.:
“Adalah Rasulullah SAW. berkhutbah (dalam keadaan) berdiri dan duduk antara dua
khutbah, membaca ayat-ayat Al-Qur’an serta memberikan peringatan kepada manusia”.
(HR. Jama’ah, kecuali Bukhari dan Tirmidzi).
6. Berdo’a
Semua rukun khutbah diucapkan dalam bahasa Arab. Empat rukun yang pertama
(Hamdalah, Syahadat, Shalawat dan wasiyat) diucapkan pada khutbah yang pertama dan
kedua, sedangkan ayat Al-Qur’an boleh dibaca pada salah satu khutbah (pertama atau kedua)
dan do’a pada khutbah yang kedua.
G. Sunnah-sunnah Khutbah
1. Berdiri di tempat yang tinggi (mimbar)
2. Memberi salam, berdasarkan hadits Nabi SAW. dari Jabir ra.:
“Sesungguhnya Nabi SAW. apabila telah naik mimbar, (beliau) memberi salam”. (HR.
Ibnu Majah).
3. Menghadap Jama’ah, berdasarkan hadits Nabi SAW. dari Adi bin Tsabit dari ayahnya
dari kakeknya:
“Adalah Nabi SAW. apabila telah berdiri di atas mimbar, shahabat-shahabatnya
menghadapkan wajah mereka ke arahnya”. (HR. Ibnu Majah).
4. Suara jelas penuh semangat, berdasarkan hadits Nabi SAW. dari Jabir r.a: “Adalah
Rasulullah SAW. apabila berkhutbah kedua matanya menjadi merah, suaranya
lantang/tinggi, berapi-api bagaikan seorang panglima (yang memberi komando
kepada tentaranya) dengan kata-kata “Siap siagalah di waktu pagi dan petang”. (HR.
Muslim dan Ibnu Majah).
5. Singkat, padat, akurat dan memikat, Rasulullah SAW. bersabda :
“Adalah Rasulullah SAW. biasa memanjangkan shalat dan memendekkan
khutbahnya”. (HR. Nasai dari Abdullah bin Abi Auf).
6. Gerakan tangan tidak terlalu bebas, berdasarkan hadits Nabi SAW. dari Abdurrahman
bin’ Sa’ad bin ‘Ammar bin Sa’ad ia berkata: “Adalah Nabi SAW. apabila berkhutbah

3
dalam suatu peperangan beliau berkhutbah atas anak panah, dan bila berkhutbah di
hari Jum’at belaiu berpegangan pada tongkat”. (HR. Ibnu Majah dan Baihaqi).
7. Seusai khutbah kedua segera turun dari mimbar, berdasarkan hadits Nabi SAW.
“Adalah shahabat Bilal itu menyerukan adzan apabila Nabi SAW. telah duduk di atas
mimbar, dan ia iqomah apabila Nabi SAW. telah turun”. (HR. Imam Ahmad dan
Nasai).
8. Tertib dalam membacakan rukun-rukun khutbah, yaitu: Hamdalah, Syahadat,
Shalawat, wasiyat, Ayat Al-Qur’an dan Do’a.
H. Hal-hal Yang Dimakhruhkan Dalam Khutbah
1. Membelakangi Jama’ah.
2. Terlalu banyak bergerak.
3. Meludah.
I. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Khotib
1. Melakukan persiapan, mental, fisik dan naskah khutbah
2. Memilih materi yang tepat dan up to date
3. Melakukan latihan seperlunya
4. Menguasai materi khutbah
5. Menjiwai isi khutbah
6. Bahasa yang mudah difahami
7. Suara jelas, tegas dan lugas
8. Pakaian sopan, memadai dan Islami
9. Waktu maksimal 15 menit
10. Bersedia menjadi Imam shalat Jum’at

J. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Ketika Khutbah


1. Pakaian hendaklah sopan dan jangan menyalahi adat istiadat kebiasaan masyarakat itu.
2. Bahasanya hendaklah fasih, jelas dan tepat.
3. Ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits hendaklah diucapkan dengan lidah fasih dan jitu.
Hendaklah jangan melakukan kesalahan mengatakan ayat Al-Qur’an sebagai Hadits
dan Hadits dinyatakan sebagai Al-Qur’an.
4. Berkhutbah hendaknya tenang dan susunan bahasanya dapat dimengerti orang.
5. khutbah hendaklah telah siap ditulis, sehingga khatib dapat berbicara tepat tidak
bertele-tele.
6. Kuatkanlah keyakinan, bahwa tujuan khutbah adalah ibadat.
7. Seorang khatib hendaklah betul-betul menjadi teladan yang baik dan memberi
pimpinan yang baik kepada masyarakat.
8. Jangan membanggakan diri.
9. Isi khutbah jangan menyinggung kehormatan golongan lain dan pilihlah acara khutbah
yang sifatnya umum.
10. Dengan suarayang keras cukup didengar seluruh pengunjung Jum’at.

K. Beberapa Kejadian yang Mengecewakan Para Pendengar


Dalam melaksanakan khutbah sering terjadi peristiwa yang Menimbulkan
kekecewaan pra pendengar, yakni para pengunjung Jum’at misalnya :

4
1. Khutbah sangat panjang dan dalam khutbah bukan menganjurkan amal ibadat,
melainkan berkisar pada persoalan politik yang tidak dimengerti oleh sebagian para
pengunjung Jum’at.
2. Diwaktu berkhutbah kadang-kadang dipakai kata-kata bahasa asing yang tidak
dimengerti oleh sebagian besar para pengunjung Jum’at.
3. Khutbah Jum’at sering dipakai memberikan jawaban suatu masalah pertentangan
khilafiyah, yang akibatnya pada Jum’at berikutnya dilanjutkan lawannya untuk
membalas dan memberikan penjelasan yang tidak ada habis-habisnya. Atau setidak-
tidaknya membuat ketegangan dikalangan para pengunjung Jum’at setelah selesainya
shalat.
Peristiwa semacam ini hendaklah diperhatikan benar-benar oleh para khatib sebab
kejadian demikian itu dapat menggemparkan masyarakat, karena tindak-tanduk para khatib
yang kadang-kadang tidak sengaja.

L. Contoh Khotbah

5 Bencana Yang Akan Menimpa Umat Islam

ِ َّ ‫سفْ َنأ ِرْوُرُش ْنِم ِهلل ِاب ُذ ُوعَنَو ْهُرِفْ َغتْسَنَو ُ ُهنْي ِ َعتْسَنَو ُهُدَمْحَن ََِِّلِل َدْمَحْلا‬
‫نإ‬ ُ ِ ‫اَن‬
‫عأ ِت َا ِِّئيَس ْنِمَو‬ َ ْ ‫اَنِلاَم‬، ‫ضي ْنَمَو ُهَل َّلِضُم َالَف ُهللا ِدْهَي ْنَم‬ ُ ْ ‫هَل َي ِداَه َالَف ْلِل‬.ُ
‫شأ‬َ ْ ‫نأ ُدَه‬
َ َّ ‫شأَو ُهللا َّ ِالإ َهَ ِلإ َال‬
َ ْ ‫نأ ُدَه‬
َ َّ ‫ ُهلْوُسَرَو ُهُدْبَع اًدَّمَحُم‬.ُ ‫ْ ِّمِلَسَو ِِّلَص َّم ُ َّهل َلا‬
‫َنْيِعَم ْ َجأ ِ ِهبْحَصَو ِهِلآ ىَلَعَو ٍدِِّمَحُم َكِلْوُسَرَو َكِدْبَع ىَلَع‬. ‫؛ُدْعَب ا َّ َمأ‬
‫هللا َداَبِع اَيَف‬،ِ ‫َن ْ ُو َّقتُمْلا َن ْ ُونِمْؤُمْلا َزاَف ْدَقَف ِهللا ىَوْ َق ِتب َي َّايِإَو ْمُكْيِص ْ ُوأ‬، ‫ُثْيَح‬
‫ىَلاَ َعت َلاَق‬: ‫نتْو ُ َمت َالَو ِهِتاَ ُقت َّقَح َهللا ا ُو َّقتا ا ُونَماَء َنْي ِ َّذلا َ ا ُّه َيأ اَي‬ ُ َّ ‫َّ ِالإ‬
‫َنْوُمِلْسُّم ْ ُمت َنأَو‬.
Ma’asyiral muslimin, sidang Jum’at yang berbahagia.

Selanjutnya pada kesempatan khotbah Jum’at (siang hari ini) khotib berwasiat, hendaknya
kita bersama-sama sejenak bermu-hasabah untuk meningkatkan iman dan taqwa kita kepada
Allah Ta’ala, taqwa dalam arti yang sebenar-benarnya, yaitu dengan menumbuhkan rasa
takut kepada siksa dan adzab Allah, menjalan-kan semua perintahNya serta menjauhi semua
laranganNya.

Ma’asyirol Muslimin … arsyadakumullah

Ada banyak hal yang patut kita cermati dari berbagai ujian, bencana dan malapetaka yang
menimpa umat Islam dewasa ini. Dalam Al-Qur’an, sesungguhnya Allah Ta’ala telah
mengingat-kan kepada kita bahwa adzab dan siksa Allah tidak khusus hanya menimpa orang-
orang zhalim di antara kita. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

5
“Dan perihalah dirimu dari siksa yang tidak khusus menimpa orang-orang zhalim saja di
antara kamu dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaNya” (QS. An-Anfal: 25).

Imam Ahmad bin Hambal juga meriwayatkan hadits dari Ummu Salamah, ia berkata bahwa
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

‫ِهِدْنِع ْنِم ٍب َاذَ ِعب ُهللا ُمُهَّم َع ْيِت َّ ُمأ ْيِف ْيِصاَعَمْلا َرَهَظ َاذِإ‬، ‫ُتْلُقَف‬: ‫هللا َلْوُسَر اَي‬،ِ ‫ َلاَق ؟ َنْوُحِلا َص ٌساَ ُنأ ٍذِئَمْوَي ْمِهْيِف ا َ َمأ‬: ‫ىَلَب‬.
َ َ ‫ٍناَوْضِرَو ِهللا َنِم ٍةَرِفْغَم ىَلِإ َنْوُرْيِصَي َّ ُمث ُساَّنلا َبا‬.
‫ُتْ ُلق‬: ‫ َلاَق ؟َكِئـَ ُلأِب ُعَنْصَي َفْيَكَف‬: ‫صأ اَم ْم ُ ُهبْيِصُي‬

Artinya: “Jika timbul maksiat pada umatku, maka Allah akan menyebarkan adzab (siksa)
kepada mereka. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah tidak ada pada waktu itu orang-
orang shalih?” Beliau menjawab:”ada”. Aku bertanya lagi: “Apa yang akan Allah perbuat
kepada mereka?” Jawab beliau: “Allah akan menimpakan kepada mereka adzab
sebagaimana yang ditimpakan kepada orang-orang yang melakukan maksiat, kemudian
mereka akan mendapat ampunan dan keridhoan dari Robbnya.” (HR. Imam Ahmad, VI/304,
Al-Haitsami mengatakan bahwa hadits ini perawinya terpercaya).

Ma’asyirol muslimin … sidang Jum’at yang berbahagia.

Demikianlah bila suatu kaum sudah bermaksiat dan menen-tang perintah-perintah Allah serta
mengkufuri nikmat-nikmatNya, maka sungguh Allah akan menurunkan kehinaan dan
kebinasaan kepada mereka baik kehinaan di dunia maupun kehinaan di akhirat. Lalu
bagaimanakah dengan kita yang hidup di negeri ini, negeri yang banyak di jumpai di
dalamnya kemaksiatan, kemungkaran dan penyelewengan-penyelewengan moral. Adakah
kita sudah meng-ingatkan kepada mereka akan siksa Allah yang maha pedih, Allah berfirman
di dalam Al-Qur’an.

Yang artinya: ”Dan Allah telah membuat suatu perumpa-maan dengan sebuah negeri yang
dahulunya aman dan tentram, rizqinya datang kepadanya melimpah ruah dari segala tempat
akan tetapi penduduknya mengingkari akan nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada
mereka pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang mereka perbuat”. (QS. An-
Nahl: 112).

Ayat di atas menggambarkan dengan jelas betapa Allah akan membinasakan sebuah negeri
yang penduduknya berbuat zhalim dan mengingkari nikmat-nikmat Allah, sehingga Allah
menimpakan kepada mereka siksaNya berupa kelaparan dan ketakutan.
Bahkan dalam sebuah hadits shohih, Imam Ibnu Majah meriwayatkan bahwa akan ada lima
bencana yang akan menimpa umat ini. Dari Abdullah bin Umar bin Khaththab ia berkata:
“Aku adalah salah seorang dari sepuluh keluarga muhajirin yang berada di rumah kediaman
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , lalu beliau menghadapkan wajahnya kepada kami:
”Wahai kaum Muhajirin!! sesungguhnya ada lima perkara dan aku berlindung kepada Allah
agar kalian tidak menemuinya, beliau bersabda:
Yang artinya:

 Tidaklah muncul perbuatan keji (zina) pada suatu kaum hingga mereka melakukannya
secara terus terang kecuali Allah akan menimpakan kepada mereka wabah dan
berbagai penyakit (tho’un) yang belum pernah menimpa kepada orang-orang sebelum
mereka.

6
 Tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangannya niscaya mereka akan
ditimpa dengan tandusnya tanah, paceklik sepanjang tahun serta berkuasanya
penguasa-penguasa yang zhalim.
 Dan tidaklah suatu kaum enggan mengeluarkan zakat hartanya kecuali Allah akan
menimpakan kepada mereka bencana dengan tidak diturunkannya hujan dari atas
langit kepada mereka dan kalaulah bukan karena binatang ternak niscaya Allah akan
menahan turunnya hujan selama-lamanya.
 Dan tidaklah suatu kaum mengingkari janji antara mereka dengan Allah dan
RasulNya melainkan Allah akan mendatangkan musuh-musuh yang bukan dari
golongan mereka, lalu merampas sebagian harta yang ada di tangan mereka.
 Dan selama pemimpin-pemimpin mereka tidak berhukum dengan kitabullah dan tidak
memilih yang terbaik dari apa yang Allah turunkan kecuali Allah turunkan kepada
mereka kesengsaraan (perpe-cahan) di antara mereka.” (HR. Imam Ibnu Majah, 4019,
dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).

Ma’ashiral muslimin sidang Jum’at yang berbahagia.

Demikianlah dengan tegas Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengingatkan di hadapan


kaum muhajirin tentang lima bencana yang akan menimpa umat ini, yang pertama bahwa
bila kemaksiatan dan kemungkaran terjadi pada suatu kaum dengan terang-terangan,
perjudian yang semakin merajalela, pelacuran, prostitusi dan perzinaan serta kasus-kasus
perkosaan yang hampir setiap hari menghiasi halaman surat kabar, maka sungguh Allah akan
menimpakan kepada penduduk negeri tersebut bencana dengan wabah penyakit (tho’un) yang
tidak akan pernah ada obatnya dan tidak pernah dialami oleh umat-umat seblumnya. Penyakit
Aids yang ditemukan pada penghujung tahun 1980 adalah bukti siksa Allah atas
penyimpangan moral yang dilakukan manusia. Di dalam Konfrensi AIDS sedunia di
Amsterdam, Prof. Dr. J. Man mengatakan bahwa penyakit Aids dapat menularkan tiga
penderita dalam satu menit, dan pada dekade tahun 2000 kedepan diprediksikan penderita
Aids mencapai 110 juta jiwa, yang berarti satu di antara lima puluh penduduk dunia
dinyatakan positif mengidap menyakit tersebut, sedangkan 65% penderitanya adalah anak-
anak remaja (ABG). Adapun penu-larannya 90% adalah melalui hubungan badan di luar
nikah, pelacuran dan prostitusi, dan yang sejenisnya.

Selanjutnya yang kedua, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengingatkan bahwa bila
suatu kaum telah mengurangi takaran dan timbangannya, niscaya Allah akan menimpakan
kepada kaum tersebut dengan bencana berupa paceklik sepanjang tahun, serta berkuasanya
pemimpin-pemimpin yang bengis dan bejat moralnya (diktator), pemimpin-pemimpin yang
akan menindas bangsanya sendiri.

Selanjutnya yang ketiga: Tidaklah suatu kaum yang enggan mengeluarkan zakat malnya,
baik para petani, pedagang, pengusaha dan orang-orang berkewajiban mengeluarkan
zakatnya, kemudian mereka tidak mengeluarkannya, niscaya Allah akan menimpakan kepada
mereka siksa dan malapetaka dengan tidak diturunkannya hujan dari langit, dan bila karena
tidak ada binatang ternak, niscaya Allah tidak akan menurunkan hujan selama-lamanya,
maknanya bahwa Allah lebih mencintai binatang-binatang ternak dibandingkan orang-orang
berharta namun tidak mengeluarkan zakat hartanya.

Yang keempat: Tidaklah suatu kaum mengingkari janji antara dirinya dengan Allah dan
RasulNya, melainkan Allah akan mendatangkan kepada mereka musuh-musuh yang bukan
dari golongan mereka, lalu merampas sebagian harta yang ada pada mereka.

7
Selanjutnya yang kelima: Bahwa sungguh tidaklah suatu kaum, dimana pemimpin-pemimpin
mereka, imam-imam mereka sudah tidak tunduk dan berhukum dengan Kitabullah Al-
Qur’an, maka Allah akan mengadzab mereka dengan kesengsaraan dan perpecahan di antara
mereka. Dalam kaitannya berhukum dengan selain hukum Allah (Kitabullah), setelah
iqomatul hujjah sampai kepada mereka.Sahabat Ibnu Abbas berkata:

‫َرَف َك ْدَقَف ُهللا َلَزْ َنأ اَم َدَح َج ْنَم‬

“Siapa yang menolak apa yang diturunkan oleh Allah, maka telah kafir”. (Lihat Tafsir Al-
Thobari, VI/149).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

َ ‫اًرِفا َك ا ًّ َدتْرُم َنا َك ِهِلْوُسَرَو ِهللا ِمْكُحِل ِفِلاَخُمْلا ِمِكاَحْلا َمْكُح َعَ َّبتاَو ِهِلْوُسُر ِةَّنُسَو ِهللا ِب َاتِك ْنِم ُهَمِل َع اَم ُمِل َاعْلا َك َ َرت‬
‫ىتَمَو‬
‫آلاَو اَيْن ُّدلا يِف َةَب ْ ُو ُقعْلا ُّق ِ َحتْسَي‬
ْ ‫ِةَرِخ‬.

“Dan kapan saja seorang alim meninggalkan apa yang dia ketahui dari Kitabullah (Al-
Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya lalu mengikuti hukum penguasa (pemerintah) yang
bertentangan dengan hukum Allah dan RasulNya, maka ia telah murtad dan kafir serta
pantas baginya mendapatkan siksa di dunia dan di akhirat.” (Majmu’ Fatawa, 35/373).
Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah berkata:

َ َّ ‫هللا ُمْكُح ُهَّ َنأ ِ ِهنُّ َق َيت َعَم ِهْ ِيف ٌ َّريَخُم ُهَّ َنأَو ٍبِجاَو َرْيَغ ُهللا َلَزْ َنأ ا َ ِمب َمْكُحْلا‬،ِ ‫ ُ َرب ْ َكأ ٌرْفُك َاذَه‬.
ِ ِ ‫نأ َدَ َقت ْعا‬
‫نإ‬

Yang artinya: “Jika seseorang berkeyakinan bahwa berhukum dengan hukum Allah adalah
tidak wajib, dan meyakini bahwa boleh memilih (antara berhukum dengan hukum Allah
ataupun tidak) serta berkeyakinan bahwa yang demikian itu adalah hukum Allah juga, ini
adalah kufur akbar.” (Madarijus Salikin, I/337).

Ma’asyiral Muslimin … Sidang Jum’at yang berbahagia.

Bila kita mencermati lebih dalam sesungguhnya banyak ayat Al-Qur’an yang mengisahkan
tentang dibinasakannya umat-umat terdahulu sebagai ibroh (pelajaran) bagi umat yang datang
kemudian.

‫ِمْيِكَحْلا ِر ْ ِّك ِذلاَو ِتاَيآلاِب ْمُكاَّيِإَو يْنِعَفَنَو ِمْيِرَكْلا ِنآْرُقْلا يِف ُهللا َكَراَب‬، ‫ُمْيِلَع ْلا ُعيْمِسَّلا َوُه ُهَّنِإ‬، ‫َوُه ُهَّنِإ َمْيِظَعْلا َهللا اوُرِف ْ َغتْساَف‬
‫ُمْيِحَّرلا ُر ْ ُوفَغْلا‬.

Khutbah Kedua

َ ْ ‫سفْ َنأ ِرْوُرُش ْنِم ِهللاِب ُذ ُو َعنَو ْهُرِفْ َغت‬


‫سنَو ُ ُهنْي ِ َعتْسَنَو ُهُدَمْحَن ََِِّلِل َدْمَحْلا َّنِإ‬ ُ ِ ‫اَنِلاَم َْعأ ِت َائِِّيَس ْنِمَو اَن‬، ‫ْنَمَو ُهَل َّلِضُم َالَف ُهللا ِدْهَي ْنَم‬
‫ضي‬ُ ْ ‫هَل َي ِداَه َالَف ْلِل‬.ُ ‫شأ‬ َ ْ ‫نأ ُدَه‬ َ َّ ‫شأَو ُهللا َّ ِالإ َهَ ِلإ َال‬
َ ْ ‫نأ ُدَه‬
َ َّ ‫ ُهلْوُسَرَو ُهُدْب َع اًدَّمَحُم‬.ُ ‫ٍدِِّمَحُم َكِلْوُسَرَو َكِدْب َع ىَل َع ْمِِّلَسَو ِِّل َص َّمُهَّل َلا‬
‫ىلَعَو‬ َ ‫ِهِلآ‬ ‫ِهِبْح َصَو‬ ‫َنْيِعَم ْ َجأ‬. ‫ا َّ َمأ‬ ‫؛ُدْعَب‬
‫هللا َداَبِع اَيَف‬،ِ ‫ َنْوُ َّقتُمْلا َن ْ ُونِمْؤُمْلا َزاَف ْدَقَف ِهللا ىَوْ َقتِب َياَّيِإَو ْمُكْيِص ْ ُوأ‬، ‫ىَلاَ َعت َلاَق ُثْي َح‬: ‫َّق َح َهللا ا ُو َّقتا ا ُونَماَء َنْيِذَّلا َ اهُّ َيأ اَي‬
‫ َنْوُمِلْسُّم ْمُت َنأَو َّالِإ َّنُتْو ُ َمت َالَو ِهِتاَقُت‬.

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah …

8
‫‪Pada khotbah yang kedua ini, khotib mewasiatkan kepada para jama’ah sekalian untuk selalu‬‬
‫‪bermuhasabah terhadap segala amal ibadah yang telah kita lakukan selanjutnya untuk‬‬
‫‪menutup khutbah Jum’at pada siang hari ini, marilah kita berdoa kepada Allah agar dijauhkan‬‬
‫‪dari segala melapetaka yang akan menimpa kita sekalian.‬‬

‫علَى آ ِل ُم َح َّم ٍد َك َما‬ ‫علَى ُم َح َّم ٍد َو َ‬ ‫علَى آ ِل إِب َْرا ِه ْي َم‪َ .‬وبَ ِاركْ َ‬ ‫علَى إِب َْرا ِه ْي َم َو َ‬ ‫صلَّيْتَ َ‬ ‫علَى آ ِل ُم َح َّم ٍد َك َما َ‬ ‫علَى ُم َح َّم ٍد َو َ‬ ‫ص ِ ِّل َ‬ ‫اَللَّ ُه َّم َ‬
‫صلِحْ لَنَا‬ ‫َ‬ ‫َ‬
‫ص َمة أ ْم ِرنَا‪َ ،‬وأ ْ‬ ‫ُ‬ ‫ِي ه َُو ِع ْ‬ ‫ص ِل ْح لَنَا ِد ْينَنَا الَّذ ْ‬ ‫َ‬
‫ع َلى آ ِل إِب َْرا ِه ْي َم‪ ،‬إِنَّكَ ح َِم ْي ٌد َم ِج ْيدٌ‪ .‬اَللَّ ُه َّم أ ْ‬ ‫ع َلى إِب َْرا ِه ْي َم َو َ‬ ‫اركْتَ َ‬ ‫بَ َ‬
‫آخ َرتَنَا الَّ ِت ْي ِإلَ ْيهَا َم َعا ُدنَا‪َ ،‬واجْ َع ِل ا ْل َح َياةَ ِز َيا َدةً لَ َنا ِف ْي ُك ِ ِّل َخي ٍْر‪َ ،‬واجْ َع ِل ا ْل َم ْوتَ َراحَةً‬ ‫ِ‬ ‫ا‬ ‫َ‬ ‫ن‬‫َ‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ص‬ ‫َ‬ ‫أ‬ ‫و‬ ‫ا‪،‬‬ ‫َ‬ ‫ن‬
‫ِ ْ ِ ْ َ َ ُ َ ْ ِحْ‬‫ش‬ ‫ا‬‫ع‬ ‫م‬ ‫َا‬
‫ه‬ ‫ي‬ ‫ف‬ ‫ي‬ ‫ت‬ ‫َّ‬ ‫ل‬‫ا‬ ‫ا‬‫ن‬‫َ‬ ‫ا‬‫ُد ْن َ‬
‫ي‬
‫ف َّر ِح ْي ٌم‪.‬‬ ‫ُ‬
‫ان َوالَتَجْ عَ ْل فِ ْي قلُ ْوبِ َنا ِغالًّ ِِّللَّ ِذ ْينَ َءا َمنُ ْوا َربَّنَا إِنَّكَ َر ُء ْو ٌ‬ ‫ْ‬
‫لَنَا ِم ْن ُك ِ ِّل ش ٍ َِّر‪َ .‬ربَّ َنا اغ ِف ْر لَنَا َو ِإل ْخ َوانِنَا ا َّل ِذ ْينَ َ‬
‫س َبقُ ْو َنا ِبا ْ ِإل ْي َم ِ‬
‫صالَةَ‬ ‫ب ا ْل َعالَ ِم ْينَ ‪ .‬أ َ ِق ْي ُموا ال َّ‬ ‫ر‬ ‫َلِل‬ ‫د‬
‫ُ‬ ‫َم‬‫ح‬
‫ِ َ ْ ِ َّ ِ َ ِِّ‬ ‫ْ‬
‫ل‬ ‫ا‬ ‫و‬ ‫‪.‬‬ ‫ار‬ ‫َّ‬
‫ن‬ ‫ال‬ ‫اب‬‫َ‬ ‫َ‬ ‫ذ‬‫ع‬‫َ‬ ‫ا‬‫ن‬‫َ‬ ‫ق‬ ‫و‬ ‫ً‬ ‫ة‬ ‫َ‬
‫ِ َ ِ َ َ ِ‬ ‫ن‬‫س‬ ‫ح‬
‫َ‬ ‫ة‬ ‫ر‬ ‫اآلخ‬ ‫ي‬ ‫سنَةً َ ِ‬
‫ف‬ ‫و‬ ‫َر َّبنَا آ ِت َنا ِفي ال ُّد ْن َيا َح َ‬

‫‪Shalat Sebagai Kewajiban Orang Muslim‬‬

‫سفْ َنأ ِرْوُرُش ْنِم ِهلل ِاب ُذ ُوعَنَو ْهُرِف ْ َغتْسَنَو ُ ُهنْي ِ َعتْسَنَو ُهُدَمْحَن ََِِّلِل َدْمَحْلا َّ ِ‬
‫نإ‬ ‫ْنِمَو اَن ِ ُ‬ ‫ِت َا ِّئِيَس‬
‫عأ‬‫ضي ْنَمَو ُهَل َّلِضُم َالَف ُهللا ِهِدْهَي ْنَم ‪،‬اَنِلاَم ْ َ‬ ‫شأَو ُ‪.‬هَل َي ِداَه َالَف ُهْلِل ْ ُ‬
‫نأ ُدَه ْ َ‬
‫َهَ ِلإ َال ْ َ‬ ‫ُهللا َّ ِالإ‬
‫شأَو ُهَل َكْيِرَش َال ُه َد ْحَو‬ ‫َي َّا ِيإَو ْمُكْيِص ْ ُوأ ُس َّانلا ا َ ُّه َيأ اَي ُ‪ُ .‬هلْوُسَرَو ُهُدْبَع اًدَّمَحُم َّ َ‬
‫نأ ُدَه ْ َ‬
‫َالَو ِهِتاَ ُقت َّقَح َهللا ا ُو َّقتا ا ُونَماَء َنْي ِ َّذلا َ ا ُّه َيأ َاي ‪:‬ىَل َا َعت َلاَق ‪َ.‬ن ْ ُو َّقتُمْلا َزاَف ْدَ َقف ِهللا ىَوْ َق ِتب‬
‫ٍسْفَن ْن ِّ ِم ْمُكَقَلَخ ْي ِ َّذلا ُمُ َّكبَر ا ْ ُو َّقتا ُس َّانلا ا َ ُّه َيأ َاي ‪:‬ىَل َا َعت َلاَق ‪َ.‬نْوُمِلْسُّم ْ ُمت َنأَو َّ ِالإ َّ ُنتْو ُ َمت‬
‫قلَخَو ٍة َدِحاَو‬ ‫ست ْي ِ َّذلا َهللا ا ُو َّقتاَو ًءآَسِنَو اًرْيِثَك ًالاَجِر اَمُهْنِم َّثَبَو اَهَجْوَز اَهْنِم َ َ‬ ‫َن ْ ُولَءآَ َ‬
‫ًالْوَق ا ْ ُول ْ ُوقَو َهللا ا ُو َّقتا ا ُونَماَء َنْي ِ َّذلا اَهُّ َيأ اَي ‪ً .‬ابْيِقَر ْمُكْيَلَع َنا َك َهللا َّنِإ َماَح ْ َر ْألاَو ِ ِهب‬
‫صي ‪.‬اًدْيِدَس‬ ‫طي ْنَمَو ْمُكَب ْ ُو ُنذ ْمُكَل ْرِفْغَيَو ْمُكَلاَم ْ َ‬
‫عأ ْمُكَل ْحِل ْ ُ‬ ‫اًزْوَف َزاَف ْدَقَف ُهَلْوُسَرَو َهللا ِع ِ ُ‬
‫‪.‬اًمْيِظَع‬
‫صأ َّنِإَف ؛ُدْعَب ا َّ َمأ‬
‫ِثيِدَحْلا َقَد ْ َ‬ ‫ىلَص ٍدَّمَحُم ُيْدَه ِ يْدَهْلا َرْيَخَو َ‪،‬هللا ُب َاتِك‬ ‫َ َّملَسَو ِهْيَل َع هللا َّ‬
‫َّلُكَو ا َ ُهت َاث َدْحُم ِرو ُ ُمألا َرَّشَو‬ ‫‪ِ.‬راَّنلا يِف ٍةَ َلالَض َّلُكَو ٌةَ َلالَض ٍةَع ْ ِدب َّلُكَو ٌةَع ْ ِدب ٍ َةث َدْحُم‬
‫اَ ِّنِيِبَن ىَل َع ْ ِّمِلَسَو ِّ ِلَص َّم ُ َّهل َلا‬ ‫ِمْوَي ىَلِإ ٍناَسْحِإِب ْمُهَعِ َبت ْنَمَو ِهِبْحَصَو ِهِلآ ىَلَعَو ٍدَّمَحُم‬
‫‪ِ.‬ةَماَيِقْلا‬
‫‪Kaum Muslimin Rahimakumullah.‬‬
‫‪Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya mengajak kaum muslimin, khususnya diri saya‬‬
‫‪pribadi untuk menambah ketaqwaan kita kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala , yaitu dengan‬‬
‫‪memperbanyak amal ibadah kita sebagai bekal untuk menghadap Illahi Rabbul Jalil. Serta‬‬
‫‪melaksanakan segala perintah dan meninggalkan segala laranganNya.‬‬
‫‪Seperti firman Allah:‬‬
‫‪Artinya: “Dan berbekallah kalian, karena sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertaqwalah‬‬
‫”‪kepadaKu wahai orang-orang yang menggunakan akalnya.‬‬

‫‪9‬‬
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Kita hidup bukanlah semata-mata mementingkan urusan dunia, sebab urusan ukrawi adalah lebih
penting. Kehidupan dunia terbatas oleh usia dan waktu dan kelak pada saatnya kita akan kembali
ke alam yang tiada terbatas waktu. Semua amal perbuatan kita selama di dunia akan diminta
pertanggungjawabannya, karena amal
perbuatan tersebut merupakan tabungan akhirat.
Kebahagiaan dunia dapat diperoleh melalui keuletan berusaha dan dapat dinikmati hasilnya
selagi hidup, baik berwujud materi kebendaan maupun yang hanya dirasakan oleh perasaan batin.
Sebaliknya kebahagiaan akhirat tidak nampak sekarang, namun dapat dicapai dengan jalan
mengikhlaskan diri dalam Ibadat khusu’ dalam shalat serta menjauhi semua yang dibenci oleh
Allah Subhannahu wa Ta'ala .
Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia.
Bila suara adzan bergema, membahana membelah dunia untuk menyeru manusia memenuhi
panggilan Illahi.
Apabila suara adzan masuk ke dalam hati orang yang benar-benar beriman, spontan hatinya akan
gemetar dan takut, terbayang segala ke Maha Besaran dan ke Maha Kuasaan Allah Subhannahu
wa Ta'ala. Maka dengan hati yang penuh takut dan ikhlas, ia penuhi panggilan dari Allah, ia
tinggalkan semua urusan dunia untuk sujud menghadap Illahi.
Firman Allah dalam Al-Qur’an:

Artinya: “Dan tidaklah mereka disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan
mengikhlaskan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka
mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah yang lurus.” (Al-Bayyinah:
5).
Berbeda sekali dengan orang yang jauh dari hidayah dan taufik Allah Subhannahu wa Ta'ala .
Suara adzan dianggapnya sebagai suara yang biasa, gema adzan tak sedikitpun mengetuk hatinya
untuk memenuhi panggilan Allah. Ibarat kata, masuk telinga kiri keluar telinga kanan, tanpa
memberikan kesan dan bekas sedikitpun juga pada dirinya. Telinganya sudah tuli dengan
panggilan Allah, mata hatinya sudah buta dengan seruan adzan. Begitulah hati orang yang sudah
tertutup dari Inayah dan Hidayah Allah Subhannahu wa Ta'ala .
Firman Allah dalam Al-Qur’an:
Artinya: “Menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya maka kelak mereka akan
menemui kesesatan.” (Maryam: 59).
Orang yang sombong, bukan saja orang yang memamerkan kekayaan, bukan pula orang yang
membanggakan jabatan dan sebagainya. Tetapi juga orang yang tidak mengerjakan shalatpun
bisa dikatakan orang yang paling sombong. Mengapa tidak?
Bukankah Allah Subhannahu wa Ta'ala , yang telah menjadikan dirinya dari segumpal darah dan
daging hingga menjadi manusia.
Firman Allah Subhannahu wa Ta'ala :

‫ْيِرْكِذِل َ َةالَّصلا اوُمْيِ َقأ‬.

Artinya: “Dirikanlah shalat untuk mengingatku.”

10
Dari ayat di atas, kita diwajibkan oleh Allah untuk men-dirikan shalat dengan tujuan
mengingatNya. Karena dengan shalatlah kita coba mendekatkan diri dan selalu mengingat Allah,
dalam keseharian kita, dan inipun adalah kewajiban bagi kita sebagai seorang muslim.
Firman Allah dalam Al-Qur’an:

Artinya: “Tidakkah Aku jadikan Jin dan Manusia kecuali untuk menyembahKu” (Adz-Dzariyat:
7).

Berdasarkan ayat di atas, maka merupakan kewajiban kita untuk mengabdi dan menyembah
hanya kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala . Dengan menunaikan shalat lima waktu dalam sehari
semalam sebagai tanda pengabdian kita kepada Allah Al-Khalik.
Kaum muslimin rahimakumullah .
Terkadang orang yang tidak mengerjakan shalat itu bukan tidak tahu, bahwa shalat adalah tiang
agama.
Bahkan mungkin orang itupun tahu shalat itu bisa mencegah dari kejahatan dan kemungkaran.
Firman Allah Ta’ala:

Artinya: “Sungguh shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Sedangkan mengingat
Allah amat besar (manfaatnya) Allah tahu apa yang kamu perbuat.”
Firman Allah pula:
Artinya: “Yang mendirikan sembahyang, menunaikan zakat dan yakin terhadap adanya akhirat,
merekalah orang-orang yang berjalan di atas pimpinan Tuhan, merekalah orang yang jaya.”
(Luqman: 4-5).
Pada suatu hari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bertanya pada sahabat-sahabatnya:

‫نأ ْوَل ْ ُمتْ َيأ َ َرأ‬


َ َّ ‫ستْ َغي ْمُكِد َ َحأ ِب َا ِبب اًرْهَن‬
َ ِ ‫ىَقْ َبي ْلَه ٍتاَّرَم َسْمَخ ٍم ْ َوي َّلُك ُهْنِم ُل‬ ‫ِ ِهنَر َد ْنِم‬
‫ا ْ ُولاَق ؟ٌءْيَش‬: ‫ٌءْيَش ِ ِهنَر َد ْنِم ىَقْ َبي َال‬. ‫َلاَق‬: ‫ِسْمَخْلا ِتاَوَلَّصلا ُ َلثَم َكِ َلذَف‬، ‫ُهللا وُح ْ َمي‬
‫ َاياَطَخْلا َّن ِ ِهب‬. (‫)هيلع قفتم‬.

Artinya: “Apakah pendapat kamu, apabila di muka pintu salah satu rumah kamu ada satu sungai
yang kamu mandi padanya tiap hari lima kali. Adakah tinggal olehnya kotoran?” Serentak
sahabat menjawab: “Tidak ada, Ya Rasulallah”. Beliau bersabda: “Maka begitu juga
perumpamaan shalat lima waktu, dengan itu Allah menghapus kesalahan.” (Muttafaq ‘alaih).

Manusia memang sungguh pandai, mereka dapat men-jadikan baja yang tenggelam, menjadi
sebuah kapal yang sanggup membawa barang-barang yang berat.
Merekapun sanggup membikin baja yang berat menjadi sebuah pesawat yang dapat terbang
kesana-kemari. Tetapi sayang mereka tidak pandai bersyukur kepada Allah atas segala
rahmatNya, tidak meluangkan waktu bersujud menghadapNya.

11
‫ِمْيِظَعْلا ِنآ ْ ُرقْلا يِف ْمُكَلَو ْيِل ُهللا َكَر َاب‬، ‫آلا َنِم ِهْيِف ا َ ِمب ْمُك َّا ِيإَو ْيِنَعَفَنَو‬ ْ ‫ِر ْ ِّك ِذلاَو ِتاَي‬
‫ِمْيِكَحْلا‬. ‫سأَو َاذَه ْيِلْوَق ُل ْ ُو َقأ‬
َ ْ ‫ٍب ْ َنذ ِّ ِلُك ْنِم َنْيِمِلْسُمْلا ِرِئاَسِلَو ْمُكَلَو ْيِل َمْيِظَعْلا َهللا ُرِفْ َغت‬.
‫هْوُرِفْ َغتْساَف‬،ُ ‫ُمْيِحَّرلا ُر ْ ُوفَغْلا َوُه ُ َّه ِنإ‬.
Khutbah kedua:
‫نإ‬ َ ْ ‫سفْ َنأ ِرْوُرُش ْنِم ِهلل ِاب ُذ ُوعَنَو ْهُرِفْ َغتْسَنَو ُ ُهنْي ِ َعتْسَنَو ُهُدَم‬
ِ َّ ‫حن ََِِّلِل َدْمَحْلا‬ ُ ِ ‫ْنِمَو اَن‬ ‫ِت َا ِِّئيَس‬
َ ْ ‫اَنِلاَم‬، ‫ضي ْنَمَو ُهَل َّلِضُم َالَف ُهللا ِهِد ْ َهي ْنَم‬
‫عأ‬ ُ ْ ‫هَل َي ِداَه َالَف ْلِل‬.ُ ‫شأَو‬
َ ْ ‫نأ ُدَه‬َ ْ ‫َهَ ِلإ َال‬ ‫ُهللا َّ ِالإ‬
َ َّ ‫ ُهلْوُسَرَو ُهُدْبَع اًدَّمَحُم‬.ُ ‫ٍدَّمَحُم ىَلَع ُمَالَّسلاَو ُ َةالَّصلاَو‬
َ ْ ‫نأ ُدَه‬
‫شأَو ُهَل َكْيِرَش َال ُه َد ْحَو‬
‫ ِ ِهبْحَصَو ِهِلآ ىَلَعَو‬. ‫؛ُدْ َعب ا َّ َمأ‬
Kaum Muslimin Rahimakumullah.
Orang yang di luar Islam tidak akan berani menghancurkan Islam secara terang-terangan. Mereka
harus berfikir seribukali untuk menghancurkan mesjid-mesjid tempat ibadahnya kaum muslimin,
tetapi dengan akal mereka yang licik, mereka ciptakan kita lupa shalat, seperti PLAY STATION
dan sebagainya. Bukankah anak adalah amanat Allah, menyia-nyiakan amanat adalah perbuatan
dosa. Maka hendaklah kita jaga anak serta keluarga kita,seperti firman Allah Subhannahu wa
Ta'ala :

Artinya: “Peliharlah dirimu dan keluargamu dari api Neraka.”

Dari ayat-ayat di atas kita dapat mengambil pelajaran, hendaknya kita merasa khawatir kalau-
kalau kita kelak menjadi orang-orang yang menyia-nyiakan shalat.
Kitapun hendaknya selalu memohon kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala agar anak-cucu kita
menjadi orang-orang yang berbahagia di dunia dan di akhirat, tetap mendirikan shalat dan
janganlah kiranya mereka kelak menjadi orang-orang yang hanya menurutkan hawa nafsunya
belaka.
Sekali lagi marilah kita lebih meningkatkan ibadah shalat dengan mengajak anak cucu dengan
segenap keluarga agar kita termasuk orang yang memperoleh janji Allah yakni kebahagiaan di
dunia dan di akhirat, karena baik buruknya anak-cucu kita tergantung ikhtiar orang tua dalam
mendidik dan membinanya.
Mudah-mudahan kita kaum muslimin, selalu diberi Allah petunjuk untuk mengerjakan segala
perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.
Amin, Amin, Ya robbal alamin.

‫َنْيِحِلاَّصلا ِه ِداَبِع ْيِف م ْ ُك َّايِإَو اَنَلَخ ْ َدأَو َنْيِنِمآلاَو َنْيِزِئاَفْلا َنِم ْمُك َّايِإَو ُهللا اَنَلَعَج‬، ‫ِِّبَر ْ ُلقَو‬
‫َنْيِمِحاَّرلا ُرْيَخ َتْ َنأَو ْمَحْراَو ْرِفْغا‬.
‫ىل َع ِّ ِلَص َّم ُ َّهل َلا‬
َ ‫ىَلَعَو ٍدَّمَحُم‬ ‫َمْيِهاَرْ ِبإ ِلآ ىَلَعَو َمْيِهاَرْ ِبإ ىَلَع َتْ َّيلَص اَمَك ٍدَّمَحُم ِلآ‬، ‫ك ِنإ‬
َّ َ
‫ٌدْيِجَم ٌدْيِمَح‬. ‫ىَلَع ْكِراَبَو‬ ‫ِلآ ىَل َعَو َمْيِهاَرْبِإ ىَل َع َت ْكَراَب اَمَك ٍدَّمَحُم ِلآ ىَلَعَو ٍدَّمَحُم‬

12
‫َمْيِهاَرْبِإ‬، ‫ٌدْيِجَم ٌدْيِمَح َكَّ ِنإ‬. ‫ِتاَنِمْؤُمْلاَو َنْيِنِمْؤُمْلاَو ِتاَمِلْسُمْلاَو َنْيِمِلْسُمْلِل رفغا َّم ُ َّهل َلا‬
‫ ِتاَو ْ َم ْألاَو ْمُهْنِم ِءاَي َْح ْألا‬. ‫ك َلأْسَن اَّنِإ َّم ُ َّهل َلا‬
ُ َ ‫ْمَلْعَن ْمَل اَمَو ُهْنِم اَنْمِلَع اَم ِ ِّهِلُك ِرْيَخْلا َنِم‬.
َ ْ ‫سأ ْصِخ ْ َرأَو َنْيِمِلْسُمْلا َلاَو ْ َحأ ْحِل‬
‫صأ َم ُ َّهل َلا‬ َ ْ ‫ْمِهِناَط ْ َوأ ْيِف ْمُهْنِمآَو ْمُهَراَع‬. ‫يِف اَنِتآ اَ َّنبَر‬
‫ِراَّنلا َب َاذَع اَنِقَو ًةَنَسَح ِةَرِخآلا يِفَو ًةَنَسَح اَيْن ُّدلا‬.
‫ِهللا َداَبِع‬، ‫ِءآَشْحَفْلا ِنَع ىَهْنَيَو ىَب ْ ُرقْلا ي ِذ ِئ َآتيِإَو ِناَس ْح ِ ْإلاَو ِلْدَعْل ِاب ْمُكُر ُ ْمأَي َهللا َّنِإ‬
‫َنْوُرَّ َك َذت ْمُ َّكلَعَل ْمُكُظِعَي ِ يْغَبْلاَو ِرَكنُمْلاَو‬. ‫ِهِلْضَف ْنِم ُه ْ ُو َلأْساَو ْمُكْرُكْذَي َمْيِظَعْلا َهللا اوُرُكْذاَف‬
‫ُرَب ْ َكأ ِهللا ُرْكِذَلَو ْمُكِطْ ُعي‬.

Menuju Manusia Terbaik


،‫ و الحمد هلل المنزه عن أن يكون له نظراء وأشباه‬،‫ وما كنا لنهتدي لوال أن هدانا هللا‬,‫الحمد هلل الذي هدانا لهذا‬
،‫ واصطفاه‬- ‫ صلى هللا عليه وسلم‬- ‫ فأرسل به محمد‬،‫ الذي اختار اإلسالم دينا ً وارتضاه‬،‫المقدس فال تقرب الحوادث حماه‬
‫ فصلى‬،‫ وجعلهم كالنجوم بأيهم اقتدى اإلنسان اهتدى إلى الحق واقتفاه‬،‫وجعل له أصحابا ً فاختار كالً منهم لصحبته واجتباه‬
‫ ويجزل لنا‬،‫ أحمده على نعمه كلها حمدا ً يقتضي الزيادة من نعمه‬،‫هللا عليه وعلى آله وأصحابه صالة توجب لهم رضاه‬
‫ص ِل ْح لَ ُك ْم أ َ ْع َمالَ ُك ْم َويَ ْغ ِف ْر لَ ُك ْم ذُنُو َب ُك ْم َو َمن ي ُِط ْع‬ْ ُ‫( ي‬۷٠) ‫سدِيدًا‬ َّ ‫النصيب من قسمه }يَا أ َ ُّي َها الَّذِينَ آ َمنُوا اتَّقُوا‬
َ ً‫َّللاَ َوقُولُوا قَ ْوال‬
ُ‫سو ِل ِه يُؤْ تِ ُك ْم ِك ْفلَي ِْن ِمن َّرحْ َمتِ ِه َويَجْ عَل لَّك ْم‬ ُ
ُ ‫َّللاَ َو ِآمنوا بِ َر‬ َّ ‫سولَهُ فَقَدْ فَازَ فَ ْو ًزا َع ِظي ًما } { يَا أَيُّ َها الذِينَ آ َمنوا اتقوا‬
ُ َّ ُ َّ َّ
ُ ‫َّللاَ َو َر‬
َ‫َّللا‬ َّ َ
َّ ‫ور َّر ِحي ٌم} { يَا أيُّ َها الذِينَ آ َمنُوا اتَّقُوا‬ ٌ ُ‫َّللاُ َغف‬ َّ ‫شونَ ِب ِه َو َي ْغ ِف ْر لَ ُك ْم َو‬ ُ ‫ورا ت َ ْم‬
ً ُ‫ن‬
َ‫ير ِب َما تَ ْع َملُون‬ َ ‫ت ِلغَ ٍد َواتَّقُو‬
َّ ‫َّللاَّ ِإ َّن‬
ٌ ‫َّللاَ َخ ِب‬ ْ ‫س َّما قَدَّ َم‬ ٌ ‫ظ ْر نَ ْف‬ ُ ‫َو ْلت َن‬

Hadirin jama’ah jumat rakhimakumullah


Tiada kata yang paling pantas kita senandungkan pada hari yang berbahagia ini
melainkan kata-kata syukur kepada Allah SWT yang telah mencurahkan dan mencucurkan
berbagai kenikmatan kepada kita semua, sehingga kita semua dapat berkumpul dalam majelis
ini dalam keadaan sehat wal 'afiyat. Dan marilah kita merealisasikan rasa syukur kita dengan
menjalankan segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-larangan-Nya.
Sholawat seiring salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi
Muhammad SAW, keluarganya, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan insya Allah SWT
terlimpah pula kepada kita selaku umatnya yang senantiasa berusaha untuk meneladani
Beliau. Amin.
Hadirin jama’ah jumat rakhimakumullah
Sebelum khatib menyampaikan khutbahnya, sudah barang tentu menjadi kewajiban
seorang khatib untuk menyampaikan wasiat taqwa. Marilah senantiasa kita tingkatkan mutu
kualitas iman dan taqwa kita kepada Allah SWT, karena iman dan taqwa itulah satu-satunya
bekal bagi kita untuk menuju kehidupan yang kekal dan abadi yakni kehidupan akhirat.

‫ون يَا أ ُ ْو ِلي األ َ ْلبَاب‬ َّ ‫َوت َزَ َّود ُواْ فَإ ِ َّن َخي َْر‬
ِ ُ‫الزا ِد التَّ ْق َوى َواتَّق‬

"Berbekallah, dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah


kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal". (QS. Al-Baqoroh: 197)
Hadirin jama’ah jumat rahimakumullah.

13
Allah SWT. berfirman dalam surat At-tin ayat 3-4:
َ‫سافِلِين‬َ ‫س ِن تَ ْق ِو ٍيم ث ُ َّم َردَدْنَاهُ أ َ ْسفَ َل‬
َ ْ‫سانَ فِي أَح‬ َ ‫اإلن‬ ِ ‫لَقَدْ َخلَ ْقنَا‬
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)",
Dalam surat At-Tin di atas Allah SWT menggambarkan tentang dua keadaan
manusia, yang pertama yakni manusia Ahsani taqwim (manusia yang paling baik) kemudian
yang kedua yakni manusia Asfala safilin (manusia yang paling rendah).
Dalam tafsir Jalalain disebutkan bahwa Ahsani taqwim adalah manusia yang memilki
bentuk yang paling baik dibandingkan dengan makhluk yang lain, sedangkan Asfal safilin
adalah gambaran manusia pada saat usia tuanya yang tidak lagi mampu untuk mengerjakan
aktifitas sehari-hari sebagaimana yang dilakukan pada waktu mudanya. Kemudian tafsir ini
melanjutkan bahwa pahala dan dosa itu diberikan oleh Allah SWT pada saat seseorang itu
mulai aqil balig lebih-lebih pada waktu mudanya.
Kemudian dalam tafsir Muyassar disebutkan bahwa Ahsani taqwim adalah sama
pengertiannya dalam tafsir Jalalain yakni manusia memiliki bentuk paling baik dibandingkan
dengan makhluk yang lain, sedangkan pengertian Asfala safilin sendiri adalah manusia yang
tidak taat pada Allah SWT dan rasul-Nya, kelak akan dikembalikan pada tempat yang paling
buruk dari pada tempat yang lain yakni neraka jahannam yang panas lagi berkobar-kobar
apinya.
Dan sebaliknya manusia yang mentaati perintah Allah SWT dan rasul-Nya serta
menjauhi segala larangannya, akan ditempatkan pada tempat yang paling indah yakni surga
yang didalamnya penuh dengan kenikmatan-kenikmatan yang abadi.
Hadirin jama’ah jumat rahimakumullah.
Lalu bagaimana kita meraih kedudukan Ahsani taqwim dan menjauhi dengan sejauh-
jauhnya Asfala safilin?
Pertama, kita harus mensyukuri karunia Allah SWT yang berupa dua mata, dua
telinga, dua tangan, dan dua kaki yang masih sempurna ini dengan syukur yang sebenar-
benarnya.
َ‫ار َواأل َ ْفئِدَة َ قَ ِليالً َّما تَ ْش ُك ُرون‬َ ‫ص‬ َ ‫س ْم َع َواأل َ ْب‬
َّ ‫شأ َ ُك ْم َو َج َع َل لَ ُك ُم ال‬
َ ‫قُ ْل ه َُو الَّذِي أَن‬

"Katakanlah: "Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu


pendengaran, penglihatan dan hati". (tetapi) Amat sedikit kamu bersyukur." (QS. Al-Mulk:
23)

Dan Allah SWT juga berfirman:

َ َ‫شك َْرت ُ ْم أل َ ِزيدَ َّن ُك ْم َولَئِن َكفَ ْرت ُ ْم إِ َّن َعذَابِي ل‬


ٌ ‫شدِيد‬ َ ‫َوإِذْ تَأَذَّنَ َربُّ ُك ْم لَئِن‬
"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari
(nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim: 7)
Kedua, kita harus menggunakan karunia badan yang masih sempurna ini dengan
menggunakannya sesuai dengan fungsi dan kegunaannya, karena Allah SWT akan meminta
pertanggung jawabannya di akhirat kelak.
ً‫ص َر َو ْالفُ َؤادَ ُك ُّل أُولئِكَ َكانَ َع ْنهُ َمسْؤُوال‬ َ َ‫س ْم َع َو ْالب‬
َّ ‫ْس لَكَ ِب ِه ِع ْل ٌم ِإ َّن ال‬ ُ ‫َوالَ ت َ ْق‬
َ ‫ف َما لَي‬

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggung jawabannya". (QS. Al-Isra': 36)
Hadirin jama’ah jumat rahimakumullah.

14
Dari ayat di atas kita dapat mengambil hikmahnya, bahwa semua tindakan yang kita
lakukan baik itu dari mata, telinga, tangan, dan kaki semuanya akan di mintai pertanggung
jawabannya. Maka jangan sampai tangan yang seharusnya kita gunakan untuk membantu
serta memberikan sedekah kepada orang yang membutuhkan, malah kita gunakan untuk
menganiaya, menyiksa, bahkan membunuh orang lain hanya karena hal yang sepele. Dan
jangan sampai tangan yang kita miliki ini kita biarkan untuk mengurangi timbangan,
mengurangi yang seharusnya menjadi hak orang lain, lebih-lebih korupsi yang sangat-sangat
merugikan orang lain.
Begitu juga dengan mata, jangan sampai kita biarkan mata kita melihat hal-hal yang
di larang oleh agama bahkan hal-hal yang jelas-jelas di laknat oleh Allah SWT. Begitu juga
telinga mulut dan kaki, jangan sampai telinga dan mulut kita, kita gunakan untuk mendengar
dan mengucapkan hal-hal yang tidak sewajarnya, tetapi marilah kita gunakan mulut dan
telinga ini dengan memperbanyak membaca al-qur’an, berzikir kepada Allah SWT serta
membaca kalimat-kalimat Thoyyibah. Karena tangan, kaki, serta mulut kita ini akan menjadi
saksi di akhirat kelak.

‫ْال َي ْو َم ن َْخ ِت ُم َعلَى أ َ ْف َوا ِه ِه ْم َوتُك َِل ُمنَا أَ ْيدِي ِه ْم َوتَ ْش َهد ُ أ َ ْر ُجلُ ُه ْم ِب َما كَانُوا َي ْك ِسبُون‬

"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka
dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dulu mereka usahakan". (QS.
Yasin: 65)

Ketiga, dengan bertambah besarnya seseorang, dari mulai kecil hingga ia menginjak
masa muda inilah, yang seharusnya diperhatikan oleh semua orang. Ada pepatah mengatakan
‘muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga’, pepatah ini sangat salah dan keliru, tidak
mungkin seseorang yang tanpa berusaha payah ketika masa mudanya dengan banyak
menggali ilmu agama, begitu saja masuk surga.
Mustahil sungguh-sungguh mustahil, nabi Muhammad SAW saja orang yang kita
kenal sebagai orang yang nomor satu dalam agama, ketika hendak wafatnya beliau
merasakan sakaratul maut yang benar-benar menyakitkan. Oleh karena itu, mari kita gunakan
masa-masa emas ini yakni masa-masa muda ini dengan banyak menuntut ilmu agama dan
pastinya tidak begitu saja mengabaikan kehidupan dunia ini.
Hadirin jama’ah jumat rahimakumullah.
Keempat, mari kita gunakan hati dan fikiran ini sebagai anugrah terbesar yang di
berikan oleh Allah SWT kepada kita dengan sebaik-baiknya. Hati inilah yang menjadi motor
atau penggerak bagi seluruh anggota tubuh kita, hati ini pula yang menjadi raja bagi seluruh
anggota tubuh kita ini, sebagaimana termaktub dalam hadits Rasulullah SAW yang artinya
“Sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal darah, manakala ia baik maka baiklah
seluruhnya tapi manakala ia buruk maka buruklah seluruhnya, ia adalah hati” (HR. Muslim).
Allah SWT juga berfirman di dalam surat Al-Isra' ayat 36
ً‫ص َر َو ْالفُ َؤادَ ُك ُّل أُولئِكَ َكانَ َع ْنهُ َمسْؤُوال‬ َ َ‫س ْم َع َو ْالب‬
َّ ‫ْس لَكَ ِب ِه ِع ْل ٌم ِإ َّن ال‬َ ‫ف َما لَي‬ ُ ‫َوالَ ت َ ْق‬
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggung jawabannya.
Kelima, mari kita gunakan agama Islam ini, sebagai ruh utama bagi kita. Segala apa
yang kita kerjakan dan lakukan hendaklah sesuai dengan tuntunan dan ajaran agama Islam.
Karena agama Islam inilah satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah SWT. Allah SWT
berfirman di dalam surat Ali-Imran ayat 19. Yang berbunyi:
ِ َّ ‫ت‬
‫َّللا‬ ِ ‫َاب إِالَّ ِمن بَ ْع ِد َما َجا َء ُه ُم ْال ِع ْل ُم بَ ْغيًا بَ ْي َن ُه ْم َو َمن يَ ْكفُ ْر بِآيَا‬ َ ‫ف الَّذِينَ أ ُ ْوتُواْ ْال ِكت‬ َ َ‫اختَل‬
ْ ‫اإل ْسالَ ُم َو َما‬ َّ َ‫إِ َّن الدِينَ ِعند‬
ِ ِ‫َّللا‬
‫ب‬ ‫ا‬
ِ َ ‫س‬‫ح‬ِ ْ
‫ال‬ ‫ع‬ ‫ي‬
ُ َِ َ‫ر‬ ‫س‬ َّ
‫َّللا‬ َّ
‫ن‬ ِ ‫إ‬ َ ‫ف‬

15
"Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah SWT hanyalah Islam. tiada
berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada
mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap
ayat-ayat Allah SWT maka sesungguhnya Allah SWT sangat cepat hisab-Nya."
Hadirin jama’ah jumat rahimakumullah.
Yang keenam atau yang terakhir adalah dengan menyatukan semua unsur-unsur dan
komponen yang telah kami sebutkan di atas yakni antara anggota badan jasmani dan rohani
haruslah senantiasa di bingkai dengan nilai-nilai agama Islam.

َ‫َّللاَ َح َّق ت ُ َقاتِ ِه َوالَ ت َ ُموت ُ َّن إِالَّ َوأَنتُم ُّم ْس ِل ُمون‬
َّ ْ‫يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُواْ اتَّقُوا‬
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah SWT dengan sebenar-
benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan
beragama Islam. (QS. Ali-Imron: 102)

‫ت َو ال ِذ ْك ِر ال َح ِك ْي ِم َوتَقَبَّ َل ِمنِ ْي َو ِم ْن ُك ْم‬ ِ ‫اركَاهللُ ِل ْي َو َل ُك ْم فِ ْي القُ ْر‬


ِ ‫ َونَ َفعَنِ ْي َوإِيَا ُك ْم ِب َما فِ ْي ِه ِمنَ اآليَا‬,‫آن العَ ِظي ِْم‬ َ َ‫ب‬
‫الر ِح ْي ُم‬ ‫ر‬
َ ُ ْ ‫و‬ ُ ‫ف‬َ ‫غ‬‫ال‬ ‫ُو‬
َ ‫ه‬ ُ ‫ه‬ َّ ‫ن‬‫إ‬ ُ ‫ه‬َ ‫ت‬‫و‬ َ
‫ال‬
َ ِ ‫ت‬.

Bagian 2 Khutbah Jumat


َ‫ َم ْن يَ ْه ِد هللاُ فَال‬،‫ت أَ ْع َما ِلنَا‬ ِ ‫س ِيئ َا‬ َ ‫ش ُر ْو ِر أ َ ْنفُ ِسنَا َو ِم ْن‬ ُ ‫إِ َّن ْال َح ْمدَ هللِ نَحْ َمدُهُ َونَ ْست َ ِع ْينُهُ َونَ ْست َ ْغ ِف ُرهُ َو َنعُ ْوذ ُ بِاهللِ ِم ْن‬
ُ‫صلَّى هللا‬ َ ُ‫س ْولُه‬ ُ ‫ َوأ َ ْش َهد ُ أَ َّن ُم َح َّمدًا َع ْبدُهُ َو َر‬،ُ‫ِي لَهُ َوأ َ ْش َهد ُ أ َ ْن الَ ِإلَهَ ِإالَّ هللاُ َوحْ دَهُ الَ ش َِريْكَ لَه‬ َ ‫ض ِل ْل فَالَ هَاد‬ ْ ُّ‫ض َّل لَهُ َو َم ْن ي‬ ِ ‫ُم‬
‫ص ِل‬ َّ َ
َ ‫ ألل ُه َّم‬.‫س ِل ُم ْوا ت َ ْس ِل ْي ًما‬ َ
َ ‫صلوا َعل ْي ِه َو‬ ُّ ُ َّ َ
َ ‫على النِبْي ِ يَا أيُّ َها ال ِذيْنَ آ َمنوا‬ َّ َ َ َ‫صلون‬ َّ َ َّ
َ ُ‫ إِ َّن هللاَ َو َمالئِ َكتَهُ ي‬:ُ ‫ أ َّما بَ ْعد‬.‫سل َم ت َ ْس ِل ًما‬ َ ‫َعلَ ْي ِه َو‬
‫ار ْك َعلَى ُم َح َّم ٍد َو َعلَى آ ِل‬ ِ َ‫ َوب‬.ٌ ‫ ِإنَّكَ َح ِم ْيد ٌ َم ِج ْيد‬،‫ِيم‬ َ ‫ِيم َو َعلَى آ ِل ِإب َْراه‬ َ ‫صلَّيْتَ َعلَى ِإب َْراه‬ َ ‫َعلَى ُم َح َّم ٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح َّم ٍد َك َما‬
َّ َ
ٌ‫اركتَ َعلى إِب َْرا ِهي َْم َو َعلى آ ِل إِب َْرا ِهي َْم إِنكَ َح ِم ْيدٌ َم ِج ْيد‬ َ ْ َ
َ َ‫ ك َما ب‬،ٍ‫ ُم َح َّمد‬.

‫ت‬ ِ ‫ اَألَحْ َي‬،ِ‫اَل َّل ُه َّم ا ْغ ِف ْر ِل ْل ُم ْس ِل ِميْنَ َو ْال ُم ْس ِل َمات‬.


ِ ‫اء ِم ْن ُه ْم َواأل َ ْم َوا‬
‫ف َّر ِح ْي ٌم‬ ْ ‫ان َوالَ تَجْ عَ ْل فِي قُلُوبِنَا ِغالًّ ِللَّ ِذيْنَ آ َمنُواْ َربَّنَا إِنَّك َر‬
ُ ‫ؤُو‬ ِ ِ‫سبَقُ ْونَا ب‬
ِ ‫اإل ْي َم‬ َ َ‫ َربَّنَا ا ْغ ِف ْر لَنَا َو ِإل ْخ َوا ِننَا الَّ ِذيْن‬.
ً‫ط ِيبًا َو َع َمالً ُمت َ َق ِبال‬َ ‫ اَللَّ ُه َّم ِإنَّا نَ ْسأَلُكَ ِع ْل ًما نًا ِف ًعا َو ِر ْزقًا‬. َ‫ق َوأ َ ْنتَ َخي ُْر ْالفَا ِت ِحيْن‬ ِ ‫اَللَّ ُه َّم ا ْفت َ ْح َب ْينَنَا َو َبيْنَ قَ ْو ِمنَا ِب ْال َح‬.
‫ار‬ ِ َّ‫اب الن‬ َ َ‫سنَة َوقِنَا َعذ‬ ً َ ‫اآلخ َرةِ َح‬
ِ ‫سنَة َوفِى‬ ً َ ‫ َربَّنَا آتِنَا فِي الدُّ ْنيَا َح‬.
‫الدي ِْن‬ِ ‫ان ِإلَى ِي ْو ِم‬ ٍ َ ِ ِ ْ ُ َ ِ َ َ ِ َ ‫صلَّى هللاُ َعلَى نَ ِب ِينَا ُم َح َّم ٍد َو َعلَى آ ِل ِه َو‬
‫س‬ ْ‫ح‬ ‫إ‬ ‫ب‬ ‫م‬ ‫ه‬‫ع‬‫ب‬ َ ‫ت‬ ْ
‫ن‬ ‫م‬‫و‬ ‫ه‬
ِ ‫ب‬ ْ‫ح‬ ‫ص‬ َ ‫َو‬
Cinta Dunia Namun Takut Mati

‫السالم عليكم ورحمة هللا وبركاته‬


ْ َ‫ق َك َما ت َدَا َعى ْاأل َ َكلَةُ َعلَى ق‬
‫ص َعتِ َها‬ ٍ ُ‫سلَّ َم يُو ِشكُ أ َ ْن تَدَا َعى َعلَ ْي ُك ْم ْاأل ُ َم ُم ِم ْن ُك ِل أُف‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫قَا َل َر‬
َّ ‫سو ُل‬
‫ب‬ ُ ُ ْ َ
ِ ‫ع ال َم َهابَة ِمن قلو‬ ْ ْ
ُ ‫س ْي ِل َينت َِز‬ َ ُ َ ُ ُ ُ
ِ ‫ير َول ِكن تَكونونَ غثا ًء َكغث‬
َّ ‫اء ال‬ ْ َ ُ ْ َ َ َّ ْ َ
ٌ ‫َّللا أ ِمن قِل ٍة بِنَا يَ ْو َمئِ ٍذ قا َل أنت ْم يَ ْو َمئِ ٍذ َك ِث‬ ُ ‫قَا َل قُ ْلنَا يَا َر‬
ِ َّ ‫سو َل‬
‫ت‬ ْ ْ ْ ْ ْ
ِ ‫َعد ُِو ُك ْم َويَجْ َع ُل فِي قُلُو ِب ُك ْم ال َو ْهنَ قَا َل قُلنَا َو َما ال َوهْنُ قَا َل حُبُّ ال َحيَاةِ َوك ََرا ِهيَةُ ال َم ْو‬

Akan datang suatu zaman umat lain memperebutkan kamu sekalian seperti
memperebutkan makanan dalam hidangan. Sahabat bertanya “Apakah kami jumlahnya
sedikit pada saat itu”. Jawab Rasulullah; Bukan bahkan sesungguhnya jumlah kamu banyak
tetapi kualitas kamu ibarat buih yang terapung di atas air dan di dalam hatimu dijadikan
kelemahan jiwa. Sahabat bertanya “apa yang dimaksud kelemahan jiwa? Rasulullah
menjawab, yaitu cinta dunia dan membeci kematian”.
Sungguh tepat isyarat yang digambarkan oleh Rasulullah dalam sabdanya di atas
bahwa pada akhir zaman nanti umat Islam akan mengalami disintergrasi, penurunan kualitas
iman, ibadah-ibadah yang dilaksankan hanya melepaskan beban kewajiban dan kegiatan
rutinitas ritual tidak di sadari sebagai sebuah kebutuhan sehingga yang tercermin dalam
kehidupan sehari-hari tidak lebih dengan orang yang tidak beriman. Sehingga mereka mudah
diombang-ambingkan oleh kegemerlapan dunia yang serba menggiurkan. Ibarat buih yang
terapung di atas air akan terhempas kemana-mana.

16
Dunia ini sebenarnya jika kita telususri dari segi pengertian bahasanya yang terambil
dari kata danâ, yang artinya adalah dekat, sebentar. Dari makna ini bisa dipahami bahwa
dunia ini adalah suatu tempat yang dekat lagi sebentar. Hal ini dapat dirasakan ketika kita
memakan makanan, yang merasakan lezat dan pahitnya adalah hanya sampai pada
tenggorokan saat sampai diperut, tidak bisa dibedakan rasanya mana makanan yang lezat dan
makanan yang tidak lezat. Itulah gambaran kehidupan dunia.
Sidang Jum’at yang dimuliakan Allah.
Salah satu penyebab kehilapan manusia adalah karena kecintaan terhap dunia. Orang
yang sangat mencintai dunia segala pikiran dan pandangannya selalu diukur oleh perhitungan
dunia, bahkan kadang-kadang ada di antara umat Islam melaksanakan urusan akhirat bukan
sebenarnya tujuan akhirat akan tetapi hanya sebagai pengelabuan kepada orang lain untuk
mencapai cita-cita dunia.
Bangsa kita yang nota bene umat yang terbanyak adalah umat Islam, yang tentu saja
agama kita sangat mengharapkan prilaku umatnya berjalan sesuai dengan aturan agamanya.
tetapi sebuah pertanyaan, adalah mengapa persoalan bangsa kita belum terselesaikan atau
paling tidak ada titik terang menuju suatu perubahan prilaku. Bahkan tampaknya masih
memprihatinkan prilaku sebagian masyarakat kita, baik masyarakat maupun masyarakat
pemegang kekuasaan yang sangat diharapkan bisa menegakkan aturan tetapi justru seakan-
akan mengambil satu prinsip “mumpung”.
Inilah budaya yang menggerogoti kehidupan bangsa kita, mumpun ada kesempatan,
kapan lagi dimanfaatkan kedudukan itu kalau bukan sekarang. Pada hal jabatan itu
sebenarnya hanya sebagai sebuah amanat bukan sebuah tujuan dan nantinya diakhirat akan
dipertanyakan oleh Allah :
‫كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته‬
Mempertahankan kebenaran di negara kita adalah sesuatu yang sangat langkah lagi
mahal. Ada orang yang mau berjuang akan tetapi selalu diukur dengan materi, kalau tidak
menguntungkan bagi dirinya lebih baik bungkam atau diam daripada kedudukannya digeser.

Memang dunia ini manis rasanya dan enak dipandang, maka manusia tertarik
dengannya. Betapa banyak manusia yang hanya memburu dunia setiap saat tidak mengenal
waktu, siang dan malam, panas dan dingin. Bahkan terbawa dalam mimpi.
Pada hal apa yang diburunya itu belum tentu menjamin dirinya untuk dapat mendapat
ketenangan. Karena betapa banyak orang yang punya harta yang melimpah, punya segala
macam pasilitas dunia, punya mobil mewah, rumah mewah, apa saja yang dia mau makan
semua bisa dibelinya, tetapi justru hidupnya tidak tenang tidak bisa dinikmati.
Mobil mewahnya ada tapi tidak bisa dipakainya karena punya penyakit tidak bisa naik
kendaraan, makanannya apa saja yang diinginkan tetapi itu semua tidak bisa dimakannya
kecuali hanya sesendok nasi yang tak berlauk.
Sidang Jum’at yang berbahagia!

Agama Islam bukan berarti melarang kita untuk mencarinya, agama kita tetap
memberikan peluang seluas-luasanya bagi umat manusia untuk mendapatkan sebanyak-
banyaknya. Tidak melarang untuk kaya. Akan tetapi cara mendapatkannya dan
memanfaatkannya sesuai dengan ajaran agama Islam dan tidak menjadi segala-galanya.
Demikian pula jangan meninggalkan dunia karena hanya terpokus kepada ibadah kepada
Allah. Agama kita mensinyalir bahwa dunia adalah sarana untuk mendapatkan kehidupan
akhirat yang lebih baik.
Dunia ini dengan segala fasilitasnya kita yang seharusnya mengendalikan bukan dia
yang mengatur kita. Harta yang kita miliki janganlah ia yang mengatur dan memperbudak
kita, karena mobil kita yang bagus setiap hari dilap dan dicuci, sementara diri kita, hati kita

17
tidak pernah dibersihkan melalui dengan zikir-zikir atau beribadah kepada Allah, kalaupun
dilakukan hanya dengan sangat terpaksa atau merasa malu dengan sesamanya.
Padahal semestinya rasa malu itu jauh lebih didahulukan kepada Allah daripada
manusia. Karena seseorang yang malu kepada Allah pasti juga malu terhadap manusia tidak
sebaliknya. Jadi harta itu kita yang mengaturnya dan memanfaatkannya bukan kita yang
dimanfaatkan.
Jika umat Islam sudah menomorsatukan dunia di atas segala-galanya, enggan
menyuarakan kebenaran dan melarang kemungkaran maka Allah akan mencabut kebesaran
Islam dari permukaan bumi ini dan mencabut keberkahan wahyu.
Ketika umat Islam sangat mencintai dunia dengan sendirinya pasti muncul sifat
kedua yaitu takut akan mati. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa mereka takut mati?
Padahal semua yang namanya makhluk pasti akan mati sekalipun bersembunyi di balik batu
besar dan benteng yang tertutup rapat-rapat.
َ ‫أ َ ْينَ َما تَ ُكونُوا يُد ِْر ُك ُك ُم ْال َم ْوتُ َولَ ْو ُك ْنت ُ ْم فِي ب ُُروجٍ ُم‬
‫شيَّدَ ٍة‬

Orang takut mati mungkin karena takut meninggalkan hartanya atau mungkin belum
ada persiapan dalam menghadapi kematian.
Takut mati termasuk salah satu di antara penyakit umat manusia dalam
perjuangannya. Sebab dalam perjuangannya selalu diliputi oleh rasa kekhawatiran akan
terkena resiko. Akibatnya mau berjuang asal tidak ada resiko yang menimpa, asal dirinya
selamat, dan untuk menyelamatkan diri maka dalam memperjuangkan Islam kadang memutar
balikkan fakta. yang hak dinyatakan batil, yang batil dinyatakan hak.
Orang kecil bersalah ditetapkan hukuman yang berat, sementara yang besar yang
bersalah dinyatakan benar atau bebas dari jeratan hukum. Hukum ibarat pisau hanya sebelah
yang bisa mengiris benda. Padahal di dalam ajaran agama kita bahwa semua orang sama
didepan hukum.

Hal ini kita dapat menyaksikan di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara
di bumi Indonesia yang kita cintai, dimana keadilan yang merupakan suatu ajaran asasi dalam
agama Islam bahkan semua agama adalah sesuatu hal yang sangat mahal, nyaris barang yang
namanya keadilan hampir menghilang dipersada Indonesia.
Padahal kita harus sadari dan membuka mata lebar-lebar serta mengambil ibrah
beberapa peristiwa yang terjadi, baik peristiwa alam (tsunami yang terjadi di Aceh dan
sebagian daerah sumatera utara di susul lagi gempa bumi) maupun kejadian non-alam
(pengeboman, penyakit busng lapar, dsb) itu semua adalah peringatan bagi kita semua dari
Allah. Banyak lagi contoh lain yang terhampar di depan mata kita.
Oleh karenanya, marilah kita semua mengintrospeksi diri, khususnya bagi para
pemimpin bangsa ini, mulai dari tingkat yang paling atas sampai kepada tingkat serta semua
masyarakat Indonesia untuk bersama-sama menata kembali bangsa kita ini dengan baik. Para
pemimpin jalankanlah tugas kepemimpinannya yang berpihak kepada rakyat bukan berpihak
kepada kekuasaan, demikian pula rakyat mendengar dan mentaati aturan-aturan yang ada.
Kalau semua berjalan dengan baik maka janji Allah akan kita dapatinya, yaitu berupa
keberkahan dari bumi dan langit. sebagimana firman-Nya

‫ض َولَ ِك ْن َكذَّبُوا فَأ َ َخذْنَا ُه ْم ِب َما كَانُوا‬


ِ ‫اء َو ْاأل َ ْر‬
ِ ‫س َم‬ ٍ ‫َولَ ْو أ َ َّن أ َ ْه َل ْالقُ َرى َءا َمنُوا َواتَّقَ ْوا لَفَتَحْ نَا َعلَ ْي ِه ْم بَ َركَا‬
َّ ‫ت ِمنَ ال‬
َ‫ َي ْك ِسبُون‬.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-
ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

18
‫بارك هللا لى ولكم فى القرآن العظيم ونفعنى وإياكم بما فيه من أآلية والذكر الحكيم وتقبل منى ومنكم إنه هو‬
‫‪.‬السميع البصير‬
‫‪Contoh Teks Khutbah Jumat Kedua dengan Judul Cinta Dunia Takut Mati‬‬

‫‪Teks Khutbah Jumat Terbaru Cinta dunia dan takut mati‬‬

‫الحمد هلل الذى خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسن عمال‪ .‬أشهد أن ال إله هللا الواحد الصمد وأشهد أن سيدنا‬
‫محمدا عبده ورسوله سيد العالمين‪ ،‬اللهم صل وسلم على هذا النبى الكريم والمرسلين وعلى آله واصحابه أجمعين‪ ،‬أما بعد‪:‬‬
‫فيا عباد هللا أصيكم بنفسى بتقوى هللا وإياي فقد فاز فوزا عظيما‪ .‬إستمعوا بقول هللا تعالى فى كتابه العزيز‪ :‬أعوذ باهلل من‬
‫الشيطان الرجيم بسم هللا الرحمن الرحيم ‪ :‬ياأيها الذين آمنوا إتقوا هللا حق تقاته وال تموتن إال وأنتم مسلمون‪ .‬واعلموا ان هللا‬
‫أمركم أمرا بدأ فيه بنفسه وثنى بالمالئكة المسبحة بقدسه فقال تعالى مخبرا وآمرا إن هللا ومالئكته يصلون على النبى‬
‫ياأيهاالذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما‪ .‬اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله سيدنا محمد كما صليت وسلمت‬
‫‪.‬على إبراهيم وعلى آله إبراهيم فى العالمين إنك حميد مجيد‬
‫اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات األحياء منهم األموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات‬
‫‪.‬وقاضي الحجات برحمتك ياأرحم الرحمين‬
‫اللهم إنا نسألك الثبات فى األمر ونسألك العزيمة فى الرشد ونسألك شكرنعمتك وحسن عبادتك‪ .‬ونعوذبك من شر‬
‫ما تعل م ونسألك من خير ماتعلم ونستغفرك مما تعلم انك انت عالم العيوب‪ .‬اللهم انا نسألك حبك وحب من يحبك والعمل‬
‫الذى يبلغنا حبك‪ .‬اللهم اجعل حبك احب الينا من نفسنا واهلنا‪ .‬ربنا ال تزع قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك‬
‫‪.‬أنت الوهاب‪ .‬ربنا آتنا فى الدنيا حسنة وفى اآلخرة حسنة وقنا عذاب النار‬

‫عباد هللا إن هللا يأمركم بالعدل واإلحسان وإيتاء ذى القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغى يعظكم لعلكم‬
‫‪.‬تذكرون ولذكر هللا أكبر وهللا يعلم ما تصنعون‬

‫‪TIGA AMALAN BAIK‬‬

‫ش ُر ْو ِر ِم ْن بِاهللِ َو َنعُوذ ُ َو َن ْستَ ْغ ِف ُر ْه َونَ ْست َِع ْينُهُ نَحْ َمدُهُ ِ َّلِلِ ْال َح ْمدَ إِ َّن‬ ‫ت َو ِم ْن أ َ ْنفُ ِسنَا ُ‬ ‫سيِئَا ِ‬‫ض َّل فَالَ هللاُ يَ ْه ِد ِه َم ْن ‪،‬أَ ْع َما ِلنَا َ‬ ‫َو َم ْن لَهُ ُم ِ‬
‫ض ِل ْل‬‫ِي فَالَ يُ ْ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫َّ‬ ‫َ‬ ‫َ‬
‫س ْوله ُ َع ْبدُهُ ُم َح َّمدًا أ َّن َوأ ْش َهد ُ لَه ُ ش َِريْكَ الَ َوحْ دَهُ هللاُ إِال إِلَهَ الَ أ َّن َوأ ْش َهد ُ ‪.‬لَهُ هَاد َ‬ ‫ُ‬ ‫‪.‬و َر ُ‬‫صلى َ‬ ‫َّ‬ ‫سلَّ َم هللاُ َو َ‬ ‫َعلَ ْي ِه َو َ‬
‫صحْ بِ ِه آ ِل ِه َو َعلَى‬ ‫ان ُهدَاهُ تَبِ َع َو َم ْن َو َ‬ ‫س ٍ‬ ‫‪.‬الدي ِْن يَ ْو ِم إِلَى بِإِحْ َ‬ ‫َ‬ ‫َّ‬
‫َوالَ تُقَاتِ ِه َح َّق هللاَ اتَّقُوا َءا َمنُوا ال ِذيْنَ أيُّها َ يَا ‪:‬تَعَالَى هللاُ قَا َل ِ‬
‫َّ‬ ‫َ‬
‫اس أ ُّي َها يَا ‪ُّ .‬م ْس ِل ُم ْونَ َوأنت ُ ْم إِال تَ ُم ْوت ُ َّن‬ ‫َ‬ ‫ُ‬
‫ي َر َّب ُك ُم اتَّق ْوا النَّ ُ‬ ‫احدَةٍ نَ ْف ٍس ِم ْن َخلَقَ ُك ْم الَّ ِذ ْ‬ ‫ث زَ ْو َج َها ِم ْن َها َو َخلَقَ َو ِ‬ ‫ِر َجاالً ِم ْن ُه َما َوبَ َّ‬
‫سآ ًء َكثِي ًْرا‬ ‫ي هللاَ َواتَّقُوا َونِ َ‬ ‫سآ َءلُ ْونَ الَّ ِذ ْ‬ ‫ام بِ ِه تَ َ‬ ‫‪.‬رقِ ْيبًا َعلَ ْي ُك ْم َكانَ هللاَ إِ َّن َواْأل َ ْر َح َ‬
‫س ِد ْيدًا قَ ْوالً َوقُ ْولُ ْوا هللاَ اتَّقُوا َءا َمنُوا الَّ ِذيْنَ أ َ ُّي َها يَا َ‬ ‫‪َ .‬‬
‫صلِحْ‬ ‫ُ‬ ‫َ‬ ‫ُ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫ُ‬ ‫َ‬ ‫ُ‬ ‫ُ‬
‫س ْولهُ هللاَ ي ُِطعِ َو َم ْن ذنُ ْوبَك ْم لك ْم َويَ ْغ ِف ْر أ ْع َمالك ْم لك ْم يُ ْ‬ ‫َ‬ ‫صدَقَ إِ َّن ‪َ .‬ع ِظ ْي ًما فَ ْو ًزا فَازَ فَقَدْ َو َر ُ‬ ‫َ‬
‫ثأ ْ‬ ‫ْ‬
‫سنَ ‪،‬هللاَ ِكتَابُ ال َح ِدي ِ‬ ‫َوأَحْ َ‬
‫ي ال َهدْي ِ‬ ‫صلَّى ُم َح َّم ٍد َهدْ ُ‬ ‫سلَّ َم َعلَ ْي ِه هللا َ‬ ‫ش َر َو َ‬ ‫ور َو َّ‬ ‫عةٌ ُمحْ دَث َ ٍة َو ُك َّل ُمحْ دَثَات ُ َها األ ُ ُم ِ‬‫ع ٍة َو ُك َّل بِدْ َ‬‫ضالَلَة ٌ بِدْ َ‬ ‫ضالَلَ ٍة َو ُك َّل َ‬ ‫ار فِي َ‬ ‫أ َ َّما ‪.‬النَّ ِ‬
‫بَ ْعدُ؛‬

‫‪Jama’ah‬‬ ‫‪Jum’at‬‬ ‫‪Rohimakumullah‬‬


‫‪Puji Syukur senantiasa kita panjatkan kepada Allah SWT, karena beta besar karunia‬‬
‫‪Allah SWT yang diberikan kepada Kita. Kita terlahir dari keturunan Adam As sebagai‬‬
‫‪Khalifah fil Ardl adalah merupakan satu kepercayaan terbesar yang diberkan Allah Swt‬‬
‫‪kepada Manusia, sebagaimana dalam Al Qur’an surat Al Baqoroh: 30 Ingatlah ketika‬‬
‫‪Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang‬‬
‫‪khalifah di muka bumi ...” Bumi yang kita tempati adalah planet yang selalu berputar, ada‬‬
‫‪siang dan ada malam. Roda kehidupan dunia juga tidak pernah berhenti. Kadang naik kadang‬‬
‫‪turun. Ada suka ada duka. Ada senyum ada tangis. Kadangkala dipuji tapi pada suatu saat‬‬
‫‪kita‬‬ ‫‪dicaci.‬‬ ‫‪Jangan‬‬ ‫‪harapkan‬‬ ‫‪ada‬‬ ‫‪keabadian‬‬ ‫‪perjalanan‬‬ ‫‪hidup.‬‬
‫‪Oleh sebab itu, agar tidak terombang-ambing dan tetap tegar dalam menghadapi‬‬
‫‪segala kemungkinan tantangan hidup kita harus memiliki pegangan dan amalan dalam hidup.‬‬

‫‪19‬‬
Karena itu khotib akan memberi judul khotbah kali ini dengan judul “Tiga Amalan Baik”.
Tiga amalan baik tersebut adalah Istiqomah, Istikharah dan Istighfar yang kita singkat TIGA
IS.
1. Istiqomah. yaitu kokoh dalam aqidah dan konsisten dalam beribadah. Begitu pentingnya
istiqomah ini sampai Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam berpesan kepada
seseorang seperti dalam Al-Hadits yang artinya: “Dari Abi Sufyan bin Abdullah Radhiallaahu
anhu berkata: Aku telah berkata, “Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku pesan dalam Islam
sehingga aku tidak perlu bertanya kepada orang lain selain engkau. Nabi menjawab,
‘Katakanlah aku telah beriman kepada Allah kemudian beristiqamahlah’.” (HR. Muslim).
Orang yang istiqamah selalu kokoh dalam aqidah dan tidak goyang keimanan bersama dalam
tantangan hidup. Sekalipun dihadapkan pada persoalan hidup, ibadah tidak ikut redup,
kantong kering atau tebal, tetap memperhatikan haram halal, dicaci dipuji, sujud pantang
berhenti, sekalipun ia memiliki fasilitas kenikmatan, ia tidak tergoda melakukan kemaksiatan.
Orang seperti itulah yang dipuji Allah Subhannahu wa Ta'ala dalam Al-Qur-an surat
Fushshilat ayat 30: Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami
ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun
kepada mereka (dengan mengatahkan): “Janganlah kamu merasa takut, dan janganlah kamu
merasa sedih, dan bergembiralah dengan syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Qs.
Fushshilat: 30)
2. Istikharah, selalu mohon petunjuk Allah dalam setiap langkah dan penuh pertimbangan
dalam setiap keputusan.

Setiap orang mempunyai kebebasan untuk berbicara dan melakukan suatu perbuatan. Akan
tetapi menurut Islam, tidak ada kebebasan yang tanpa batas, dan batas-batas tersebut adalah
aturan-aturan agama. Maka seorang muslim yang benar, selalu berfikir berkali-kali sebelum
melakukan tindakan atau mengucapkan sebuah ucapan serta ia selalu mohon petunjuk kepada
Allah.
Nabi Shalallaahu alaihi wasalam pernah bersabda:

ِ‫ِباهلل‬ ‫َو ْال َي ْو ِم‬ ِ ْ‫ا‬


‫آلخ ِر‬ ‫فَ ْل َيقُ ْل‬ ‫َخي ًْرا‬ ‫أ َ ْو‬ ْ ‫ص ُم‬
‫ت‬ ْ ‫ ِل َي‬. (‫رواه‬ ‫البخاري‬ ‫َم ْن‬ َ‫َكان‬ ‫يُؤْ ِم ُن‬

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah”.
(HR. Al-Bukhari). Orang bijak berkata “Think today and speak tomorrow” (berfikirlah hari
ini dan bicaralah esok hari).
Kalau ucapan itu tidak baik apalagi sampai menyakitkan orang lain maka tahanlah, jangan
diucapkan, sekalipun menahan ucapan tersebut terasa sakit. Tapi ucapan itu benar dan baik
maka katakanlah jangan ditahan sebab lidah kita menjadi lemas untuk bisa meneriakkan
kebenaran dan keadilan serta menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Mengenai kebebasan
ini, malaikat Jibril pernah datang kepada Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam untuk
memberikan rambu-rambu kehidupan, beliau bersabda: Yang artinya: ”Jibril telah datang
kepadaku dan berkata: Hai Muhammad hiduplah sesukamu, tapi sesungguhnya engkau suatu
saat akan mati, cintailah apa yang engkau sukai tapi engkau suatu saat pasti berpisah juga dan
lakukanlah apa yang engkau inginkan sesungguhnya semua itu ada balasannya”. (HR.Baihaqi
dari Jabir) Sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ini semakin penting untuk diresapi ketika

20
akhir-akhir ini dengan dalih kebebasan, banyak orang berbicara tanpa logika dan data yang
benar dan bertindak sekehendakya tanpa mengindahkan etika agama.
Para pakar barangkali untuk saat-saat ini, lebih bijaksana untuk banyak mendengar daripada
berbicara yang kadang-kadang justru membingungkan masyarakat. Kita memasyarakatkan
istikharah dalam segala langkah kita, agar kita benar-benar bertindak secara benar dan tidak
menimbulkan kekecewaan di kemudian hari. Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam
bersabda: Artinya: “Tidak akan rugi orang yang beristikharah, tidak akan kecewa orang yang
bermusyawarah dan tidak akan miskin orang yang hidupnya hemat”. (HR. Thabrani dari
Anas)
3. Istighfar, yaitu selalu instropeksi diri dan mohon ampunan kepada Allah Rabbul Izati.
Setiap orang pernah melakukan kesalahan baik sebagai individu maupun kesalahan sebagai
sebuah bangsa. Setiap kesalahan dan dosa itu sebenarnya penyakit yang merusak kehidupan
kita. Oleh karena ia harus diobati. Tidak sedikit persoalan besar yang kita hadapi akhir-akhir
ini yang diakibatkan kesalahan kita sendiri. Saatnya kita instropeksi masa lalu, memohon
ampun kepada Allah, melakukan koreksi untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah
dengan penuh keridloanNya.
Dalam persoalan ekonomi, jika rizki Allah tidak sampai kepada kita disebabkan karena
kemalasan kita, maka yang diobati adalah sifat malas itu. Kita tidak boleh menjadi umat
pemalas. Malas adalah bagian dari musuh kita. Jika kesulitan ekonomi tersebut, karena kita
kurang bisa melakukan terobosan-terobosan yang produktif, maka kreatifitas dan etos kerja
umat yang harus kita tumbuhkan. Akan tetapi adakalanya kehidupan sosial ekonomi sebuah
bangsa mengalami kesulitan. Kesulitan itu disebabkan karena dosa-dosa masa lalu yang
menumpuk yang belum bertaubat darinya secara massal. Jika itu penyebabnya, maka obat
satu-satunya adalah beristighfar dan bertobat. Allah berfirman yang mengisahkan seruan
Nabi Hud AS., kepada kaumnya: Dan (Dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada
Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya dia menurunkan hujan yang sangat deras
atasmu, dan dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu
berpaling dengan berbuat dosa." (QS. Hud:52). Hadirin Jamaah Jjum’at yang InsyaAlllah di
Rahmati Allah. Sekali lagi, tiada kehidupan yang sepi dari tantangan dan godaan. Agar kita
tetap tegar dan selamat dalam berbagai gelombang kehidupan, tidak bisa tidak kita harus
memiliki dan melakukan TIGA IS di atas yaitu Istiqomah, Istikharah dan Istighfar. Mudah-
mudahan Allah memberi kekuatan kepada kita untuk menatap masa depan dengan keimanan
dan rahmatNya yang melimpah. Amin

‫ أشهد أن ال إله هللا الواحد الصمد وأشهد أن سيدنا‬.‫الحمد هلل الذى خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسن عمال‬
:‫ أما بعد‬،‫ اللهم صل وسلم على هذا النبى الكريم والمرسلين وعلى آله واصحابه أجمعين‬،‫محمدا عبده ورسوله سيد ال عالمين‬
‫ أعوذ باهلل من‬:‫ إستمعوا بقول هللا تعالى فى كتابه العزيز‬.‫فيا عباد هللا أصيكم بنفسى بتقوى هللا وإياي فقد فاز فوزا عظيما‬
‫ واعلموا ان هللا‬.‫ ياأيها الذين آمنوا إتقوا هللا حق تقاته وال تموتن إال وأنتم مسلمون‬: ‫الشيطان الرجيم بسم هللا الرحمن الرحيم‬
‫أمركم أمرا بدأ فيه بنفسه وثنى بالمالئكة المسبحة بقدسه فقال تعالى مخبرا وآمرا إن هللا ومالئكته يصلون على النبى‬
‫ اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله سيدنا محمد كما صليت وسلمت‬.‫ياأيهاالذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما‬
‫على إبراهيم وعلى آله إبراهيم فى العالمين إنك حميد مجيد‬.
‫اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات األحياء منهم األموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات‬
‫وقاضي الحجات برحمتك ياأرحم الرحمين‬.
‫ ونعوذبك من شر‬.‫اللهم إنا نسألك الثبات فى األمر ونسألك العزيمة فى الرشد ونسألك شكرنعمتك وحسن عبادتك‬
‫ اللهم انا نسألك حبك وحب من يحبك والعمل‬.‫ما تعلم ونسألك من خير ماتعلم ونستغفرك مما تعلم انك انت عالم العيوب‬

21
‫ ربنا ال تزع قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك‬.‫ اللهم اجعل حبك احب الينا من نفسنا واهلنا‬.‫الذى يبلغنا حبك‬
‫ ربنا آتنا فى الدنيا حسنة وفى اآلخرة حسنة وقنا عذاب النار‬.‫أنت الوهاب‬.

‫عباد هللا إن هللا يأمركم بالعدل واإلحسان وإيتاء ذى القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغى يعظكم لعلكم‬
‫تذكرون ولذكر هللا أكبر وهللا يعلم ما تصنعون‬.

Mencari Keberkahan Hidup

ْ ‫الزا ِد َخي َْر الت ْق َوى َجعَ َل الَّذ‬


ُ‫ِي ِلِلِ ال َح ْمد‬ َّ ‫اس‬ ِ ‫ساب ِل ْيوم بِ َها ت َزَ َّودَ أ َ ْن َوأ َ َم َرنَا َو‬
ِ َ‫اللب‬ ِ ُ ‫لَهُ َالش َِريْكَ َوحْ دَهُ هللاُ اِالَّ اِلَهَ الَ أ َ ْن ا َ ْش َهد‬
َ ‫الح‬
ُّ‫اس َرب‬ ِ َّ‫س ِيدَنَا أ َ َّن َوأَ ْش َهدُ الن‬
َ ‫س ْولُهُ َع ْبدُهُ َح َّمدًا‬
ُ ‫ف َو َر‬ُ ‫ص ْو‬ ُ ‫ت ِبأ َ ْك َم ِل ال َم ْو‬ ِ ‫صفَا‬ ِ ‫األ َ ْشخ‬. ‫ص ِل اَل َّل ُه َّم‬
ِ ‫َاص‬ َ َ‫س ِل ْم ف‬َ ‫س ِي ِدنَا َعلَى َو‬
َ
‫صادِقَ َكانَ ُم َح َّم ٍد‬ َ ‫س ْوالً َو َكانَ ْال َو ْع ِد‬ ُ ‫ َن ِبيًّا َر‬، ‫صحْ ِب ِه آ ِل ِه َو َع َلى‬
َ ‫سل ْم أجمعين َو‬ َ ‫يرا ت َسلي ًما و‬ ً ‫ َك ِث‬، ‫ َب ْعد ُ أ َ َّما‬،
ِ ‫هللاُ َر ِح َم ُك ُم ْال َح‬، ‫ص ْينِ ْي‬
‫اض ُر ْونَ أَيُّ َها فَيَا‬ ْ
ِ ‫هللاِ بِتَ ْق َوى َوإِيَّا ُك ْم نَ ْف ِس ْى ا ُ ْو‬، ْ‫ال ُمتَّقُ ْونَ فَازَ فَقَد‬.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah
Berkah ini sering kita jadikan tujuan hidup di samping mencari ridho Allah. Keberkahan
membuat hidup kita menjadi bahagia. Di pesantren, kita diajarkan yang penting mencari
berkah, bukan sekadar kepintarannya. Kalau sekadar pintar saja tetapi tidak berkah maka
ilmu tersebut bisa menjadi malapetaka.
Orang tua kita juga memberi pesan agar dalam hidup, yang kita cari adalah berkah. Dan
berkah ini tidak selalu berkorelasi dengan banyaknya harta yang kita miliki. Ada sebuah
hadits yang sering dijadikan doa, terutama kepada pengantin yang seringkali dijadikan sebuah
kutipan dalam undangan pernikahan.

َ ‫اركَ َلكَ هللاُ َب‬


َ‫ارك‬ َ ‫َب ْي َن ُك َما َو َج َم َع َعلَيْكَ َو َب‬

Artinya: “Semoga Allah memberi berkah untukmu, memberi bekas atasmu, dan menghimpun
yang terserak di antara kalian berdua.” (HR At-Turmudzi)

Dalam kajian ilmu Nahwu kalimat “laka”, itu digunakan untuk hal-hal yang sifatnya
menguntungkan atau menyenangkan. Kalau yang tidak enak, menggunakan kata “alaika”.
Ternyata, bahasa laka dan alaika digunakan oleh Rasulullah dalam hadits tersebut supaya
orang itu mendapat keberkahan baik dari hal yang enak maupun yang tidak enak. Semuanya
ada nilai keberkahannya. Bagi sementara orang, keberkahan itu sesuatu yang enak secara
fisik saja. Padahal bisa jadi, yang tidak enak itu lah yang sebenarnya menjadi berkah.

22
Misalnya, setelah menjadi seorang anggota DPR harus masuk penjara. Ini menunjukkan
sesuatu yang tampaknya enak, berupa jabatan tinggi yang dihormati banyak orang, ternyata
malah membawa bencana. Orang sakit juga bisa mendapat keberkahan karena dengan
beristirahat, maka ia memiliki kesempatan untuk mengevaluasi dirinya, momen yang tai a
peroleh lantaran kesibukan dirinya. Ini menunjukkan bahwa antara yang menguntungkan dan
tidak menguntungkan, sama-sama mendapat peluang mendapat keberkahan.

Bertambahnya sesuatu juga belum tentu membawa kebaikan jika tidak mendekatkan diri
kepada Allah. Orang yang tambah umurnya belum tentu lebih berkah, orang yang tampak
rezekinya juga belum tentu tambah berkah. Demikian pula, orang yang tambah ilmu juga
belum tentu mendapatkan berkah jika ilmu tersebut hanya menjadi kebanggaan diri, bukan
untuk diajarkan kepada orang lain atau untuk menambah keimanan kepada Allah.

ْ ‫ى يَ ْزدَدْ َولَ ْم ِعل ًما‬


‫ازدَادَ َم ِن‬ ً ‫بُ ْعدًا إِال هللاِ ِمنَ يَ ْزدَدْ لَ ْم هُد‬

Artinya, Barangsiapa bertambah ilmunya namun tidak bertambah petunjuk yang ia raih,
niscaya dia hanya menambah jauh jarak dari Allah

Jadi ilmu tambah bukan berarti semakin dekat dengan Allah. Ini adalah cerminan dari ilmu
yang tidak berkah.

Jama’ah Jum’ah yang dimuliakan Allah,

Berkah itu maknanya kebahagiaan. Orang berbahagia itu sering diukur hanya dari ukuran
fisiknya. Benarkah demikian? Dalam pandangan agama, tanda-tanda kebahagiaan tidak selalu
yang tampak secara dhahir. Karena tampilan lahiriah sejumlah orang bisa saja seolah bahagia,
tapi batin mereka menderita.

ِ ‫َو َرحْ َمةً َّم َودَّة ً َب ْينَ ُكم َو َجعَ َل إِلَ ْي َها ِلتَ ْس ُكنُوا أ َ ْز َوا ًجا أَنفُ ِس ُك ْم ِم ْن لَ ُكم َخلَقَ أَ ْن آيَاتِ ِه‬
‫وم ْن‬

23
"Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu
sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di
antaramu rasa kasih dan sayang. (QS: al-Rum 21)

Sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah adalah Ia menciptakan istri-istri yang dapat
menentramkan jiwa dan menciptakan kasih sayang antara keduanya. Kebahagian rumah
tangga bukan terletak pada kecantikan istri atau kekayaan suami. Misalnya, apa iya kalau
punya istri cantik terus berbahagia. Mungkin iya, tetapi mungkin saja tambah pusing. Belum
tentu mendapat kebahagiaan. Betapa banyak pasangan cantik rupawan yang justru berakhir
pada perceraian. Bahkan rata-rata penggugat dating dari perempuan. Ini bukti bahwa mereka
tidak bahagia. Karena itu, hal yang bersifat dhahir menarik tidak menjamin rasa bahagia.
Standar untuk menilai kebahagiaan keluarga tidak dilihat dari harta apa yang dimiliki, tetapi
apakah suami istri tersebut memiliki akhlak yang baik. Jika mereka memiliki akhlak yang
mulia, insyaallah mereka akan berbahagia.

Keberkahan bisa kita raih dengan senantiasa mendekatkan diri kita kepada Allah subhanahu
wata’ala seraya terus menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji, seperti syukur, qana’ah, gemar
bersedekah, berbakti kepada kedua orang tua, dan lain-lain.

Khotbah II

ُ ‫ب هللِ اَ ْل َح ْمد‬ ْ ‫الدي ِْن الدُّ ْنيَا أ ُ ُم ْو ِر َعلَى نَ ْست َ ِع ْينُ َو ِب ِه‬
ِ ‫ال َعالَ ِميْنَ َر‬، ِ ‫و‬. َ
ُ ‫لَهُ ش َِريْكَ الَ َوحْ دَهُ هللاُ ِإالَّ ِإلهَ الَ أ َ ْن أ َ ْش َهد‬، ُ ‫س ْولُهُ َع ْبدُهُ ُم َح َّمدًا أ َ َّن َوأ َ ْش َهد‬ُ ‫و َر‬.
َ
َ ‫س ِي ِدنَا َعلَى‬
‫ص ِل الل ُه َّم‬ َ ‫ص َحا ِب ِه أ ِل ِه َو َعلَى ُم َح َّم ٍد‬ْ َ ‫ان ت َ ِب َع ُه ْم َو َم ْن أَجْ َم ِعيْنَ َوأ‬
ٍ ‫س‬َ ْ‫الدي ِْن َي ْو ِم ِإ َلى ِبإِح‬.
ِ
ِ ‫ال ُمتَّقُ ْونَ فَازَ فَقَدْ هللاِ بِتَ ْق َوى َو َن ْف ِس ْي أ ُ ْو‬،
‫بَ ْعد ُ أَ َّما‬، ‫ص ْي ُك ْم هللاِ ِعبَادَ فَيَا‬ ْ ‫طا َعتِ ِه َعلَى َوأ َ ُحث ُّ ُك ْم‬َ ‫ت ُ ْر ًح ُم ْونَ لَعَلَّ ُك ْم‬.
‫آن فِ ْي تَعَالَى هللاُ قَا َل‬ ْ ‫اس يَاأَيُّ َها‬
ِ ‫الك َِري ِْم اْلقُ ْر‬: ُ َّ‫تَتَّقُونَ لَعَلَّ ُك ْم قَ ْب ِل ُك ْم ِم ْن َوالَّذِينَ َخلَقَ ُك ْم الَّذِي َربَّ ُك ُم ا ْعبُد ُوا الن‬، ‫س ْو ُل َوقا َ َل‬
ُ ‫صلَّى هللاِ َر‬
َ
ُ‫سلَّ َم َعلَ ْي ِه هللا‬
َ ‫و‬:
َ ‫ق‬ َ ‫ق ت َ ْم ُح َها ْال َح‬
َّ ‫سنَةَ السَّيِئَةَ َوأَتْبِ ْع ُك ْنتَ َح ْيث ُ َما‬
ِ َّ ‫َّللاِ ات‬ َ َّ‫ق الن‬
ِ ‫اس َو َخا ِل‬ ٍ ُ‫س ٍن بِ ُخل‬ َ ‫ َح‬. َ‫صدَق‬ َ ُ‫صدَقَ ْالعَ ِظ ْي ُم هللا‬
َ ‫َو‬
ُ‫س ْولُه‬
ُ ‫ي َر‬ ُّ ‫شا ِه ِديْنَ ِمنَ ذلِكَ َعلَى َونَحْ نُ ْالك َِر ْي ُم النَّ ِب‬ َّ ‫شا ِك ِريْنَ ال‬ َّ ‫ب هللِ َو ْال َح ْمد ُ َوال‬ ِ ‫ال َعا َل ِميْنَ َر‬. ْ
َّ ُ‫صلُّونَ َو َم َالئِ َكتَه‬
‫َّللاَ ِإ َّن‬ َ ُ‫صلُّوا َءا َمنُوا َّالذِينَ َياأَيُّ َها ال َّن ِبي ِ َعلَى ي‬ َ ‫س ِل ُموا َعلَ ْي ِه‬ َ ‫تَ ْس ِلي ًما َو‬. ‫ت ِل ْل ُم ْس ِل ِميْنَ ا ْغ ِف ْر اَلل ُه َّم‬
ِ ‫َو ْال ُم ْس ِل َما‬
َ‫ت َو ْال ُمؤْ ِمنِيْن‬
ِ ‫ت ِم ْن ُه ْم اْألَحْ يا َ ِء َو ْال ُمؤْ ِمنَا‬ ِ ‫س ِم ْي ٌع إِنَّكَ َواْأل َ ْم َوا‬
َ ٌ‫ت ُم ِجيْبُ قَ ِريْب‬ ِ ‫ي الدَّ َع َوا‬ َ ‫اض‬ ِ َ‫ت َوق‬ ِ ‫ال َحا َجا‬. ْ
ِ ‫طأْنَا أَ ْو نَسِينَا إِ ْن ت ُ َؤ‬
‫اخذْنَا َال َربَّنَا‬ ْ ِ‫طاقَةَ َال َما ت ُ َح ِم ْلنَا َو َال َربَّنَا قَ ْب ِلنَا ِم ْن الَّذِينَ َعلَى َح َم ْلتَهُ َك َما إ‬
َ ‫ص ًرا َعلَ ْينَا تَحْ ِم ْل َو َال َربَّنَا أ َ ْخ‬ َ
‫ْف بِ ِه لَنَا‬ُ ‫ار َح ْمنَا لَنَا َوا ْغ ِف ْر َعنَّا َواع‬ ْ ‫ص ْرنَا َم ْو َالنَا أ َ ْنتَ َو‬ُ ‫الكَافِ ِرينَ ْالقَ ْو ِم َعلَى فَا ْن‬.ْ ‫سنَةً الدُّ ْنيَا فِي آتِنَا َربَّنَا‬ َ ‫سنَةً ْاآل ِخ َرةِ َوفِي َح‬ َ ‫َح‬
َ َ‫النَّار َعذ‬.
‫اب َوقِنَا‬

24
َّ ‫ان ِب ْال َعدْ ِل َيأ ْ ُم ُر‬
َ‫َّللاَ ِإ َّن !هللاِ ِع َباد‬ ِ ‫س‬َ ْ‫اإلح‬ ِ ْ ‫َاء َع ِن َو َي ْن َهى ْالقُ ْر َبى ذِي َو ِإيت َِاء َو‬ ِ ‫ظ ُك ْم َو ْال َب ْغي ِ َو ْال ُم ْنك َِر ْالفَحْ ش‬
ُ ‫تَذَ َّك ُرونَ لَ َعلَّ ُك ْم َي ِع‬،
‫ض ِل ِه ِم ْن َوا ْسأَلُ ْوهُ َي ِزدْ ُك ْم ِن َع ِم ِه َعلَى َوا ْش ُك ُروهُ َي ْذ ُك ْر ُك ْم ْال َع ِظي َْم هللاَ فَا ْذ ُك ُروا‬
ْ َ‫أ َ ْك َب ُر هللاِ َولَ ِذ ْك ُر يُ ْع ِط ُك ْم ف‬.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Selain khutbah Jum’at, ada pula khutbah yang dilaksanakan sesudah sholat, yaitu:
khutbah ‘Idul Fitri, ‘Idul Adha, khutbah sholat Gerhana (Kusuf dan Khusuf). Sedangkan
khutbah nikah dilaksanakan sebelum akad nikah. Dalam makalah ini yang akan dikaji adalah
khusus tentang khutbah Jum’at.
Berkenaan dengan fungsi khutbah tersebut di atas, maka khutbah disampaikan dengan
bahasa yang mudah difahami oleh jama’ah (boleh bahasa setempat), kecuali rukun-rukun
khutbah. Allah SWT. berfirman:
“Dan tidaklah Kami mengutus Rasul, melainkan dengan bahasa yang difahami oleh
kaumnya, agar ia dapat memberi penjelasan kepada mereka”. (QS. Ibrahim : 4).
Selain khutbah jum’at ada juga khutbah-khutbah yang lain yang telah ditentukan
syara’. Selain Khutbah Jum’at, ialah Khutbah “Idul Adl-ha, ‘Idul Fitri, gerhana matahari,
gerhana bulan, dan Khutbah istitsqa/meminta hujan. Khutbah-khutbah ini dilakukan sesudah
shalat.

25
B. Saran
Dengan kerendahan hati, penulis merasa makalah ini sangat sederhana dan jauh dari
kesempuraan. Saran kritik yang konstuktif sangat diperlukan demi kesempurnaan makalah
sehingga akan lebih bernanfaat kontibusinya bagi hazanah keilmuan. Wallahu a’lam.

26