Anda di halaman 1dari 18

Little_Razi

thelittlechemist, thelittle muslim


Minggu, 01 April 2012

Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

Kromatografi adalah istilah umum untuk bermacam-macam teknik pemisahan


(separasi) yang berdasar pada partisi sampel diantara fase gerak, yang bisa merupakan gas
atau cair dan fase diam (Johnson dan Stevenson, 1978). Kromatografi bertujuan untuk
memisahkan senyawa yang akan dianalisis dari matriks sampelnya.

Kromatografi Cair (Liquid Chromatography) adalah bagian dari teknik pemisahan


senyawa dengan menggunakan fase gerak cair. Salah satu bentuk aplikasi dari kromatografi
cair adalah Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi menurut polar
atau tidak polarnya fasa diam dibagi menjadi dua yaitu KCKT fase normal yaitu dengan
menggunakan fase diam polar dan fase gerak nonpolar dan KCKT fase terbalik yaitu
dengan menggunakan fase diam non polar dan fase gerak polar.

Kromatografi Cair Kinerja Tinggi sekarang banyak digunakan untuk menganalisis


berbagai macam senyawa. Menurut Johnson dan Stevenson, (1978) KCKT memiliki
keunggulan-keunggulan antara lain :

1. cepat.

2. sensitif.

3. kolom dapat di pakai kembali (dapat diapakai dengan jangka waktu lama).

4. detektor tidak merusak sampel.

5. daya pisahnya baik.

Instrumentasi KCKT

Pada dasarnya Kromatografi Cair Kinerja Tinggi terdiri dari sistem pompa, injektor,
kolom separasi, detektor, dan penampil data.
1. Tempat Pelarut (fasa gerak)
Pelarut yang akan digunakan sebagai fase gerak diletakkan pada tandon. Pada
sebagian besar sistem pompa aliran tetap, tandon pelarut berada pada sisi pompa
bertekanan rendah sehingga pelarut disedot dari tandon dan didorong keluar memasuki
kolom. Selang/pipa menghubungkan pelarut dengan sistem pompa biasanya diberi filter
untuk menyaring kotoran agar tidak masuk ke dalam kolom dan dilengkapi dengan
pembuang gas (degasser). Fase gerak dapat berupa air, pelarut organik, buffer atau
campurannya dengan perbandingan tertentu.
Pemilihan fase gerak merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi efektifitas
pemisahan. Fase gerak yang akan digunakan mempunyai syarat-syarat antara lain
(Johnson dan Stevenson, 1991) :

a. murni, tanpa cemaran

b. tidak bereaksi dengan cemaran

c. sesuai dengan detektor

d. dapat melarutkan cuplikan

e. mempunyai viskositas rendah

f. memungkinkan memperoleh kembali cuplikan dengan mudah, jika diperlukan.

1. Sistem Pompa
Pada kromatografi kolom, digunakan gaya gravitasi untuk mengalirkan fase gerak.
Namun pada KCKT untuk mengalirkan fase gerak digunakan pompa. Dengan menggunakan
alat ini, KCKT dapat bekerja lebih cepat dibandingkan dengan kromatografi cair yang lain.
Sistem pompa dapat mengatur secara otomatis perbandingan pencampuran pelarut
sehingga dihasilkan pencampuran yang baik. Sistem pompa juga mampu melakukan elusi
isokratik dan elusi gradien. Elusi isoktatik adalah elusi yang perbandingannya konstan
selama pengukuran berlangsung sedangkan elusi gradien adalah elusi yang komposisi fase
geraknya berubah.

Pompa didalam sistem KCKT harus menghantarkan aliran pelarut yang tetap dan
terulangkan ke dalam kolom. Pompa harus tahan terhadap semua jenis pelarut. Selain itu,
pompa harus memiliki volum tertahan yang minimum sehingga memungkinkan pergantian
pelarut dengan cepat dan elusi landaian yang efisien (Gritter, Bobbit dan Schwarting, 1991).

1. Injektor
Injektor memiliki 6 terminal yang berfungsi sebagai saklar. Pada saat posisi "LOAD"
pompa langsung terhubung pada kolom separasi dan sampel terisi kedalam stainless steel
tube (loop) , pada posisi "INJECT" pompa terhubung langsung dengan stainless steel
tube (loop) dan mengalir kedalam kolom separasi. Sistem ini memungkinkan untuk
membuang sisa kelebihan sampel yang akan diinjeksikan sehingga diharapkan volume
sampel yang masuk kedalam kolom lebih teliti.

1. Kolom Separasi
Kolom merupakan komponen yang vital pada analisis kromatografi. Keberhasilan
atau kegagalan bergantung pada pemilihan kolom dan kondisi kerja yang tepat. Misalnya,
oktadekil (C18) polimer paling baik untuk senyawa nonpolar, seperti alkena dan senyawa
aromatik berinti banyak dan oktadekil (C18) monomer baik untuk kolom fase balik serbaguna
(Johnson dan Stevenson, 1991).
Pada umumnya KCKT menggunakan butir berpori dengan garis tengah 3 -10µm.
Bahan tersebut menghasilkan daya pisah terbaik serta kapasitas tertinggi, tetapi mempunyai
kekurangan yaitu memerlukan tekanan yang tinggi untuk menjalankannya (Gritter, Bobbitt,
dan Schwarting, 1991). kolom KCKT tidak terlalu panjang seperti pada kolom Kromatografi
Gas karena keefisienan yang tinggi dan akan diperlukan tekanan lebih tinggi jika kolom
terlalu panjang. Kolom KCKT biasanya memiliki panjang 5-25 cm.

1. Detektor
Sebagian besar detektor KCKT adalah spektrofotometer alir-lewat yang merekam
pada panjang gelombang tertentu. Pada gelombang itu pelarut sedikit sekali atau sama
sekali tidak menyerap sinar, sedangkan cuplikan menyerap dengan kuat (Gritter, Bobbitt,
dan Schwarting, 1991). Detektor yang dipakai pada pengukuran menggunakan KCKT
adalah detektor UV, fluorosensi, serapan inframerah, indeks bias, ionisasi nyala dan
elektrokimia. Namun, pada penetapan Okratoksin A digunakan detektor fluorosensi.
Keuntungan utama detektor fluorosensi yaitu batas deteksi lebih baik untuk banyak
senyawa. Namun, tentu saja detektor ini hanya cocok untuk senyawa yang bisa
berfluorosensi. Pelarut yang cocok untuk detektor fluorosensi adalah pelarut yang biasa
dipakai untuk detektor UV namun tidak mengandung halogen. Pelarut seperti CH2Cl2 dan
CHCl3 cenderung meredam atau mengurangi fluorosensi.

Cahaya dari lampu sumber melewati sistem optik untuk memfokuskan berkas sinar dan
memilih panjang gelombang untuk mengeksitasi cuplikan. Berkas sinar difokuskan pada sel
cuplikan kuarsa. Jika ada molekul yang berfluorosensi, maka cahaya yang panjang
gelombangnya berbeda dengan panjang gelombang yang dipakai untuk mengeksitasi
molekul dipancarkan ke segala arah. Sistem optik emisi mengumpulkan dan menyaring
cahaya itu, yang kemudian difokuskan pada detektor (Johnson dan Stevenson, 1991).

6. Penampil Data

Sinyal yang dihasilkan dari detektor ditampilkan secara komputerisasi melalui pik-pik.
Sekarang penampil data juga telah dilengkapi dengan sistem pembacaan luas area dan
tinggi area dari pik yang dihasilkan sehingga mempermudah analis dalam menetapkan
suatu senyawa. Ada beberapa cara untuk menghitung atau mengukur luas puncak, antara
lain : metode planimetri, triangulasi, gunting timbang, integrasi cakram, dan komputerisasi.

Jenis Ketepatan

Planimetri 4%

Triangulasi 4%

Gunting Timbang 2%

Integrasi Cakram 1%

Komputer 0,5% dan lebih baik

Sumber : Johnson dan Stevenson, 1991

Metode seperti planimetri dan gunting timbang sangat tergantung pada


ketrampilan operatornya. Bahkan untuk metode gunting timbang, keseragaman
bobot kertas gaftar juga menjadi syarat penting. Fdapat dikatakan pengukuran luas
area menggunakan komputer sangat membantu dalam meningkatkan kemudahan,
ketepatan dan ketelitian.
The Darkness
Everybreathyoutakeis a step towardsdeath. AlīIbn Abu Tālib(RA)
HafiliaHaznawatiBuat Lencana Anda ▼

SATURDAY, 7 JANUARY 2012

FITOKIM (Fraksinasi)

FRAKSINASI
Landasan Teori

Fraksinasi adalah suatu proses pemisahan senyawa – senyawa berdasarkan tingkat kepolaran.
Jumlah dan senyawa yang dapat dipisahkan menjadi fraksi berbeda – beda tergantung pada jenis
tumbuhan. Pada prakteknya dalam melakukan fraksinasi digunakan dua metode yaitu dengan
menggunakan corong pisah dan kromatografi kolom.

Corong pemisah atau corong pisah adalah peralatan laboratorium yang digunakan dalam ekstraksi
cair-cair untuk memisahkan komponen-komponen dalam suatu campuran antara dua fase pelarut
dengan densitas berbeda yang takcampur.

Umumnya salah satu fase berupa larutan air dan yang lainnya berupa pelarut
organik lipofilik seperti eter, MTBE, diklorometana, kloroform, atau pun etil asetat. Kebanyakan
pelarut organik berada di atas fase air keculai pelarut yang memiliki atom dari unsur halogen.

Corong pemisah berbentuk kerucut yang ditutupi setengah bola. Ia mempunyai penyumbat di
atasnya dan keran di bawahnya. Corong pemisah yang digunakan dalam laboratorium terbuat
dari kaca borosilikat dan kerannya terbuat dari kaca ataupun Teflon. Ukuran corong pemisah
bervariasi antara 50 mL sampai 3 L. Dalam skala industri, corong pemisah bisa berukuran sangat
besar dan dipasang sentrifuge.

Untuk memakai corong ini, campuran dan dua fase pelarut dimasukkan ke dalam corong dari atas
dengan corong keran ditutup. Corong ini kemudian ditutup dan digoyang dengan kuat untuk
membuat dua fase larutan tercampur. Corong ini kemudian dibalik dan keran dibuka untuk
melepaskan tekanan uap yang berlebihan. Corong ini kemudian didiamkan agar pemisahan antara
dua fase berlangsung. Penyumbat dan keran corong kemudian dibuka dan dua fase larutan ini
dipisahkan dengan mengontrol keran corong.

Destilasi bertingkat atau fraksinasi adalah proses pemisahan destilasi ke dalam bagian-bagian
dengan titik didih makin lama makin tinggi yang selanjutnya pemisahan bagian-bagian ini
dimaksudkan untuk destilasi ulang. Destilasi bertingkat merupakan proses pemurnian zat/senyawa
cair dimana zat pencampurnya berupa senyawa cair yang titik didihnya rendah dan tidak berbeda
jauh dengan titik didih senyawa yang akan dimurnikan. Dengan perkataan lain, destilasi ini bertujuan
untuk memisahkan senyawa-senyawa dari suatu campuran yang komponen-komponennya memiliki
perbedaan titik didih relatif kecil. Destilasi ini digunakan untuk memisahkan campuran aseton-
metanol, karbon tetra klorida-toluen, dll. Pada proses destilasi bertingkat digunakan kolom fraksinasi
yang dipasang pada labu destilasi. Tujuan dari penggunaan kolom ini adalah untuk memisahkan uap
campuran senyawa cair yang titik didihnya hampir sama/tidak begitu berbeda. Sebab dengan adanya
penghalang dalam kolom fraksinasi menyebabkan uap yang titik didihnya sama akan sama-sama
menguap atau senyawa yang titik didihnya rendah akan naik terus hingga akhirnya mengembun dan
turun sebagai destilat, sedangkan senyawa yang titik didihnya lebih tinggi, jika belum mencapai
harga titik didihnya maka senyawa tersebut akan menetes kembali ke dalam labu destilasi, yang
akhirnya jika pemanasan dilanjutkan terus akan mencapai harga titik didihnya. Senyawa tersebut
akan menguap, mengembun dan turun/menetes sebagai destilat.

Macam – macam proses fraksinasi:

a) Proses Fraksinasi Kering(Winterization)

Fraksinasi kering adalah suatu proses fraksinasi yang didasarkan pada berat molekul dan
komposisi dari suatu material. Proses ini lebih murah dibandingkan dengan proses yang
lain, namun hasil kemurnian fraksinasinya rendah.

b) Proses Fraksinasi Basah (Wet Fractination)

Fraksinasi basah adalah suatu proses fraksinasi dengan menggunakan zat pembasah
(WettingAgent) atau disebut juga proses Hydrophilization ataudetergent proses. Hasil fraksi
dari proses ini sama dengan proses fraksinasi kering.

c) Proses Fraksinasi dengan menggunakan Solvent (pelarut)/ SolventFractionation

Ini adalah suatu proses fraksinasi dengan menggunakan pelarut. Dimana pelarut yang
digunakan adalah aseton. Proses fraksinasi ini lebih mahal dibandingkan dengan proses
fraksinasi lainnya karena menggunakan bahan pelarut.

d) Proses Fraksinasi dengan Pengembunan (FractionalCondentation)

Proses fraksinasi ini merupakan suatu proses fraksinasi yang didasarkan pada titik didih dari
suatu zat / bahan sehingga dihasilkan suatu produk dengan kemurnian yang tinggi.
Fraksinasi pengembunan ini membutuhkan biaya yang cukup tinggi namun proses produksi
lebih cepat dan kemurniannya lebih tinggi.
Pembahasan

Pada praktikum kali ini kami melakukan fraksinasi terhadap maserat. Fraksinasi sendiri adalah
merupakan suatu metode pemisahan senyawa – senyawa berdasarkan tingkat kepolarannya. Pada
praktikum kali ini kami melakukan fraksinasi menggunakan corong pisah. Corong pemisah atau
corong pisah adalah peralatan laboratorium yang digunakan dalam ekstraksi cair – cair untuk
memisahkan komponen – komponen dalam suatu campuran antara dua fase pelarut dengan
densitas berbeda yang tak campur.

Metodologi

Alat :

1) Corong pisah.

2) Gelas ukur.

3) Erlenmeyer.

4) Botol vial.

Bahan :

1) H2SO4 5 ml.

2) n - heksan 5 ml dan 15 ml.

3) Etil asetat 5 ml.

4) Kertas pH.

5) NH4OH untuk membasahi kertas pH secukupnya.

6) Metanol 5 ml.
Cara Pemakaian corong pisah:

1) Campuran dan dua fase pelarut dimasukkan ke dalam corong dari atas dengan corong keran ditutup.

2) Corong ini kemudian ditutup dan digoyang dengan kuat untuk membuat dua fase larutan tercampur.

3) Corong ini kemudian dibalik dan keran dibuka untuk melepaskan tekanan uap yang berlebihan.

4) Corong ini kemudian didiamkan agar pemisahan antara dua fase berlangsung.

5) Penyumbat dan keran corong kemudian dibuka dan dua fase larutan ini dipisahkan dengan
mengontrol keran corong.

Prosedur kerja dengan corong pisah:

 Cara kerja seperti biasa, dilihat dalam bagan.

 Semua proses dilakukan dalam corong pisah.

 Setelah didapat beberapa fraksi, fraksi – fraksi tersebut disimpan dalam botol vial.

 Simpan.

Daftar Pustaka

» http://www.wikipedia.com/corongpisah. Diakses pada tanggal 07 November 2011, pukul 21.55 WIB.

» http://hidupituind4h.blogspot.com/2011/01/destilasi.html. Diakses pada tanggal 07 November


2011, pukul 23.13 WIB.

Hafil at 21:43
Share

3 comments:
1.

yeni3 February 2012 at 12:49

thedarknightbangedsiz...
Reply

2.

Hafil25 February 2012 at 19:06


Sorryyeni doang komentar u baru kebacanih...
Reply

3.

Debu Gordyn Medan11 June 2013 at 09:35

Top markoTop....
lanjutkan..
Reply



Home

View web version

ABOUT ME

Hafil
Cah Njeporo, wong ujung pandan and a pharmacist
View mycompleteprofile
APR

29

KROMATOGRAFI PASANGAN ION


MAKALAH KROMATOGRAFI
KROMATOGRAFI PASANGAN ION

KROMATOGRAFI PASANGAN ION

A. Pendahuluan
Kromatografi didefinisikan sebagai suatu prosedur pemisahan zat terlarut oleh suatu proses
migrasi diferensial dinamis dalam system yang terdiri dari dua fase atau lebih, salah satunya
bergerak secara berkesinambungan dalam arah tertentu dan di dalamnya zat-zat itu
menunjukkan perbedaan mobilitas disebabkan adanya perbedaan dalam absorbsi, partisi,
kelarutan, tekanan uap, ukuran molekul, atau kerapatan muatan ion.
Pada prinsipnya semua cara pemisahan kromatografi mengalami proses yang sama yaitu
adanya distribusi komponen-komponen dalam fase diam dan fase gerak. Jika ada perbedaan
penahanan secara selektif, maka masing-masing komponen akan bergerak sepanjang kolom
dengan laju yang tergantung pada karakteristik masing-masing penyerapan, jika pemisahan
terjadi keluar dari kolom pada interval waktu yang berbeda, mengingat bahwa proses
keseluruhannya adalah fenomena migrasi yang dihasilkan oleh tenaga pendorong tidak selektif
berupa aliran fase gerak. Metode pemisahan dengan teknik kromatografi, relatif lebih sederhana
dibandingkan metode pemisahan lain.
Pada dasarnya komponen-komponen dari campuran akan terpisah oleh distribusinya diantara 2
fase, yaitu
a. Fase diam (stationaryphase) sebagai lapisan berpori atau lapisan film yang tidak bergerak.
b. Fase gerak (mobilephase) sebagai cairan atau gas yang nantinya bergerak melapisi fase diam
Kromatografi berdasarkan mekanisme pemisahannya dibedakan berdasarkan:
a. Kromatografi Adsorbsi e. Kromatografi eksklusi
b. Kromatografi Partisi f. Kromatografi afinitas
c. Kromatografi Pasangan Ion
d. Kromatografi Penukar Ion

B. Kromatografi Pasangan Ion


Kromatografi Pasangan Ion termasuk ke dalam keluarga besar kromatografi liquid dengan
sampel yang digunakan berfase cair. Teknik ini sering digunakan pada KCKT (kromatografi cair
kinerja tinggi) untuk memisahkan senyawa ionic. Kromatografi pasangan ion merupakan salah
satu dari kromatografi partisi dengan mengabungkan kemampuan kromatografi fase balik terikat
dan kromatografi pertukaran ion.
Metode fase terbalik dilakukan, sebagai fase diam memiliki sifat yang kurang polar dibandingkan
dengan fase geraknya. Sistem pelarut umumnya air dicampur dengan metil alkohol atau
asetonitril. Kolomnya kolom fase balik, seperti oktadekilsilan yang terikat pada silika. Agar
senyawa ini mempunyai sifat lipofil yang memadai sehingga dapat tertahan dalam kolom,
ditambahkan ion lawan ke eluen. Misalkan untuk pemisahan asam-asam, misalkan, basa organik
seperti tetrabutil amonium fosfat ditambahkan pada pengelusi seperti metanol, sedangkan pada
pemisahan basa-basa, maka asam sulfonat heptana-1 dapat digunakan.
Kromatografi ini digunakan untuk memberikan pereaksi terhadap senyawa tertentu yang bersifat
ionik diubah menjadi non ionik yang didasarkan pada pembentukan suatu pasangan ion antara
sampel dan fase gerak maupun fase diamnya.
Alasan pemakaian kromatografi ini didasarkan adanya pada pemisahan sampel-sampel yang
mudah terdisosiasi dalam larutan air. Adanya peristiwa ini mengakibatkan konsentrasi dari
sampel yang terpisah menjadi berkurang (dilihat dari profil puncak pada krotogram yang kurang
tajam). Maka dari itu dilakukan proses optimasi dengan menghalangi terjadinya disosiasi dan zat
terlarut dapat terelusi dengan baik untuk memperoleh profil puncak yang tajam. Proses optimasi
yang dilakukan dengan mengatur pH fase diam atau fase bergeraknya dan dengan
menambahkan ion-ion pengimbang (counterions) pada fase diam atau fase bergeraknya untuk
memperbesar pembentukan garam antara sampel dan fase diam atau bergerak.
Selama pemisahan tingkat disosiasi sampel dan ion penyeimbang dikendalikan dengan
memvariasi pH fase diam atau fase gerak. Tetapi disosiasi asam kuat tidak dapat diatasi dengan
penambahan ion penyeimbang. Penambahan ion penyeimbang akan menghasilkan
pembentukan pasangan ion dengan koefisien partisi yang berbeda. pH dapat diatur untuk
mempengaruhi disosiasi sempurna sampel dan ion penyeimbang. Biasanya yang digunakan
adalah asam kuat seperti HClO4 dan basa kuat seperti R4NCl. Pelaksanaan kromatografi
dengan fase terbalik lebih sederhana karena ion penyeimbang dapat digunakan sekaligus
sebagai pengelusi.
Sampel pada kromatografi pasangan ion sangat polar dan atau basa kuat, dapat terionisasi
bermacam - macam. Kemasan penukar ion memberikan pilihan yang terbatas dan kemampuan
kecil sampai selektivitas yang bervariasi dengan mengubah kemasan kolom.
Kromatografi pasangan ion didasarkan pada pembentukan suatu pasangan ion antara sampel
dan fase gerak maupun fase diamnya. Teknik ini sering digunakan pada KCKT (kromatografi cair
kemampuan tinggi) untuk memisahkan senyawa ionik. Biasanya silika gel digunakan sebagai
penunjang fase diam berair yang mengandung ion pengimbang atau buffer. Pelarut lain yang
tidak bercampur digunakan sebagai pengelusi (eluen).
Dasar penggunaan pasangan ion :

S = senyawa / sample
R = pereaksi sebagai pasangan ion
Senyawa yang baru terbentuk dipisahkan dengan kromatografi partisi dan fase diam merupakan
fase terbalik yang kemungkinan menjadi lebih non polar sehingga menaikkan kapasitas ( K ‘ )dan
selektivitas ( α ).

Sebagai contoh misalkan memiliki asam karboksilat (R-COOH), ia akan terdisosiasi sebagai
berikut :
R-COOH R-COO- + H+
Dengan menambahkan asam maka kesetimbangan akan bergeser ke kiri yaitu disosiasi
terintangi dan akan menghasilkan puncak yang tajam. Tetapi disosiasi asam kuat tidak dapat
diatasi dengan penambahan ion penyeimbang. Penambahan ion penyeimbang akan membentuk
pasangan ion dengan koefisien partisi berbeda. Misalkan,
R4NCl R4N+ + Cl-
R4N+ + RCOO- (RCOO-,NR4+) pasangan ion
Sebuah reagen pasangan ion ditambahkan dengan konsentrasi rendah biasanya 0,005 M pada
fase gerak. Reagen pasangan ion terionisasi dengan sendirinya. Salah satu ion dari reagen
ditahan oleh fase diam yang dihasilkan oleh yang netral. Muatan fase diam akan menahan dan
memisahkan ion pelarut organik yang muatannya berlawanan dengan membentuk pasangan ion
yang reversibel (ikatan coulomb terbentuk antara 2 ion ysngmemilki muatan listrik berlawanan).
Disimpulkan bahwa ion pelarut adalah anion karboksilat RCOO-, sedangkan ion lawannya
adalah ion amonium kuarterner R4N+ komponen yang terionisasi dapat diubah menjadi
komponen listrik netral yang akan terurai di antara fase gerak dan fase diam non polar.
Bersamaan dengan itu, fase diam tidak akan kehilangan kemampuannya untuk menahan dan
memisahkan substansi organik yang tidak terionkan.
Mekanisme kromatografi pasangan ion tidak dijelaskan secara detail. Ada 2 penjelasan
mendasar :
1. Ketika molekul solut membentuk pasangan ion pada fase gerak
Pasangan ion yang tidak bermuatan ini akan berpisah di dalam fase diam lipofil.
2. Pemisahan counter ion ke dalam fase diam atau diisikan ke dalam kemasan fase balik terikat
dengan kelompok terion yang terpuasat pada permukaan. Hal ini menunjukkan 2 kemungkinan
untuk material yang dikromatografi. Material ini dapat ditarik ke bagian hidrokarbon pada cara
fase balik yang biasa atau dapat berinteraksi pada cara penukar ion.
Hal-hal yang harus diperhatikan sebagai parameter KPI-FB :
1. Tipe ion pasangan : makin baik interaksinya, makin memperpanjang TR.
2. Ukuran ion pasangan : makin besar ukuran ion pasangan, maka akan menaikkan TR-nya.
3. Kadar ion pasangan : makin besar, maka akan memperbesar TR.
4. pH fase gerak mempengaruhi cepat tidaknya sample.
5. Senyawa organik : hidrofobiknya naik, maka TR naik.
6. Konsentrasi pengubah organik : konsentrasi meningkat, TR turun.
7. Suhu : suhunya naik, maka TR turun.
8. Fase diam : makin non polar, TR makin naik.

Faktor yang mempengaruhi waktu tambat pada KPI :


Untuk cuplikan yang mengandung komponen yang ditambat kuat dan yang ditambat lemah,
sering diperlukan elusi landaian. Untuk mencapai pemisahan dengan KPI fase balik, parameter
berikut dapat diubah :
1. Memperkecil ukuran ion lawan sejalan dengan berubahnya waktu akan memperkecil waktu
tambat.
2. Memperkecil konsentrasi sejalan dengan berubahnya waktu akan memperkecil waktu tambat.
3. Memperkecil derajat pengionan akan memperkecil waktu tambat, yaitu landaian pH.
4. Memperbesar konsentrasi pengubah organik akan memperkecil waktu tambat.

Pelarut, ion lawan, dan kolom untuk KPI-FB


1. Pelarut
Campuran pelarut yang paling umum dipakai ialah air/ metanol dan air/ asetonitril. Pembatas
utama ialah kelarutan pereaksi pasangan-ion. Hal yang penting adalah memastikan bahwa
kelarutan pereaksi pasangan-ion di dalam fase gerak yang akan dipakai memang baik.
Ion lawan sering kali berupa amina kuaterner atau garam asam sulfonat. Untuk ion lawan
tersebut kita perlu menyesuaikan pH sampai harga yang dikehendaki. Kita harus memeriksa
kelarutan dapar dalam efluen sebelum memompakannya melalui sistem.
2. Ion lawan
Jenis Pemakaian Utama
Amina kuaterner, mis. Ion ammonium
tetrametil, tetrabutil, palmitiltrimetil
Amina tersier, mis. Trioktil amina
Alkil dan aril sulfonat, mis. Metana,
heptana sulfonat, asam kamfersulfonat
Asam perklorat

Alkil sulfat ; lauril sulfat Untuk asam kuat+lemah. Zat warna


tersulfonasi, asam karboksilat.
Sulfonat.
Untuk basa kuat+lemah. Garam
benzalkonium, katekolamina.
Membentuk pasangan ion yang kuat
dengan berbagai linarut basa.
Serupa dengan asam sulfonat; sulfat
menghasilkan keselektifan yang
berbeda

3. Kolom
Kemasan fase balik dengan gugus alkil C2, C8 dan C18 semuanya pernah dipakai. Panjang
gugus alkil dapat merupakan parameter penting atau tidak penting karena mekanisme
pemisahan dapat berubah dengan berubahnya gugus alkil. Pembatas utama ialah rentang pH
yang dapat dipakai dan umur kolom. Kinerja dan umur optimum dicapai pada rentang pH 2-7,4.

Pengembangan Metode
Pengembanagan metode dalam kromatografi pasangan-ion sangat jelas dan langsung. Seperti
biasa, kita harus mulai dengan senyawa baku. Pengalaman menunjukkan bahwa yang paling
baik ialah jika kita pertama - tama mengoptimumkan daya pisah senyawa nonion, yaitu memakai
sistem pearut metanol-air yang mengandung pereaksi kromatografi pasangan-ion.
Tujuannya ialah untuk memperoleh daya pisah yang sangat baik antara semua senyawa nonion
sehingga tidak akan ada gangguan antara elusi senyawa ion dan nonion. Kemudian senyawa ion
ditambahkan ke dalam ke dalam campuran buatan tersebut untuk menentukan waktu elusi.
Ukuran ion lawan, seperti asam pentana sulfonat atau asam heptana sulfonat, dapat diubah -
ubah untuk mengendalikan waktu elusi dan daya pisah senyawa ion.
Misalnya, jika asam pentana sulfonat hanya memisahkan cuplikan sebagian saja, asam heptana
sulfonat mungkin dapat memisahkan lebih sempurna. Akan tetapi, perilaku penambatan jangan
dianggap fungsi sederhana dari panjang rantai. Perubahan urutan elusi dapat terjadi seperti
yang dijumpai pada beberapa amina kuarterner dengan asam amino. Urutan elusi ialah asam
aspartat, glisina, leusina, fenilalanina, jika kita memakai [CH3(CH2)3]4N+ sebagai ion lawan.
Urutan elusi berubah menjadi leusina, fenilalanina, asam aspartat, glisina, jika kita memakai ion
lawan (setil) (CH3)3N+. Konsentrasi ion lawan pun dapat diubah - ubah untuk mengubah elusi
komponen ion cuplikan. Ingat, jika kita meningkatkan jumlah ion lawan dalam eluen, biasanya
waktu tambat dan daya pisah senyawa ion meningkat pula. Sudah tentu, langkah berikutnya
ialah membuat kromatogramblankoutnuk memastikan bahwa sistem tidak mengandung apa -
apa yang dapat terelusi bersama - sama denagn puncak komponen cuplikan yang dianalisis.
Akhirnya, metode sudah siap untuk diuji dengan cuplikan otentik.
Daftar Pustaka
Johnson L Edward, Stevenson Robert, 1991, Dasar Kromatografi Cair, halaman 144-150,
Penerbit ITB, Bandung
Saptorahardjo, Khopkar A., 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik, halaman 108-123,156-158, UI
Press : Jakarta
Willard, Hobard H., 1998, Instrumental MethodsofAnalysis, halaman 636 – 637,
WadsworthPublishing Company : USA

Diposkan 29th April 2010 olehrafaeljosephhimawan

Tambahkan komentar

Tupai

terbang(HaGemaRu)

VINI VIDI VICI


Snapshot

4.

5.

6.
7.

8.

9.

10.

11.

12.

13. Beranda

Doa Rosario Pembebasan

DOA HARIAN ORANG KATOLIK

Kisah Sukses Ir. Ciputra

Kisah Sukses Bob Sadino, Memilih Miskin Sebelum Kaya

Memuat

Goingtheextramiles
yourfuturepharmacist (inshaallah)
Friday, September 14, 2012

Pendahuluan Kromatografi
Kromatografi merupakan salah satu dari teknik pemisahan, dari beberapa teknik
pemisahan yang ada kromatografi inilah yang paling sering digunakan.

Kromatografi
Ilmu tentang pemisahan suatu campuran.
Berdasarkan :
- Kepolaran
- Titik didih
- Ionicstrength
- Ukuran
Kromatografi berasal dari kata chromos (warna), adalah teknik pemisahan secara fisik
suatu campuran menjadi penyusunnya secara sendiri-sendiri.

Ilustrasi singkat
Daun (terdapat banyak senyawa), di buat ekstrak, dilakukan pemisahan (polar, nonpolar,
semipolar), kemudian di isolasi, barulah di dapat zat-zat penyusun yang di inginkan.

Kegunaan kromatografi
1. untuk analisa
2. untuk identifikasi
3. untuk pemurnian
4. untuk mengetahui kadar zat

Bidang Ilmu yang Memanfaatkan Kromatografi


- Farmasi
- Rumah Sakit
- Hukum
- Lingkungan
- Manufacturing Plant

Prinsip Dasar dalam Kromatografi


- Fase Diam/ StationaryPhase
berfungsi sebagai penyangga, biasanya polar
contoh : silika,sefadek

- Fase Gerak/ Mobile Phase


berfungsi sebagai pembawa/pelarut/peng-elusi

note :
- elusi merupakan proses pemisahan campuran menjadi penyusun-penyusunnya, hasil
pemisahan disebut eluat, dan fase gerak disebut eluen.
- pemilihan fase diam dan fase gerak berdasarkan distribusi sampel kedalam dua fase
tersebut.

Kromatografi berdasarkan Fase Diam dan Fase Gerak

Klasifikasi Kromatografi berdasarkan Fase Gerak


1. LiquidChromatography
2. GasesChromatography
Berdasarkan Fase Diam
1. Kromatografi Lapis Tipis
Fase diam dibentuk menjadi lapisan tipis diletakkan di atas plat tertentu.

2. Kromatografi Kertas
Fase diamnya adalah lapisan film yang terbuat dari cairan.

3. Kromatografi Kolom
Fase diam diletakkan dalam gelas.

Berdasarkan Kekuatan Pemisahan


1. Kromatografi Adsorbsi
2. Kromatografi Partisi ( berdasarkan perbedaan kelarutan)
3. Kromatografi Penukar Ion
4. Kromatografi Filtrasi Gel (berdasarkan ukuran molekul)
5. Kromatografi Affinitas (prinsip dasar seperti prinsip keyandlock pada enzim)

Semangat Apri!! Keepmoving forward

Aprililianti Sugiman at Friday, September 14, 2012


Share

1 comment:

1.

Diani Iska MirantiNovember 19, 2014 at 7:05 PM

great
Reply



Home

View web version

AboutMe
Aprililianti Sugiman
View mycompleteprofile

Poweredby Blogger.

Elusi adalah proses menyingkirkan analit dari adsorben dengan


mengalirkan suatu pelarut, disebut dengan "eluen", melewati kompleks
penjerap-analit.

DEAE-selulosa adalah resin anionik yang bersifat basalemah dan banyak dipergunakan sebagai
penyerap asam bebas dalam larutan, sehingga dalam.