Anda di halaman 1dari 23

“Critical Book Report Pengindraan Jauh”

Judul buku:

1. Dasar-Dasar Fotogrametri:Interpretasi Foto Udara Lightbown, Patsy


2. Dasar-Dasar Fotogrametri :Banmbang Syaiful Hadi,M.Si

Disusun oleh :

Mufdi Al-Husri

3161131025

PENDIDIKAN GEOGRAFI

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
saya panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayahnya kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan Critical Book
review.

Critical Book ini telah saya susun dengan maksimal dan mendapat bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan Critical Book ini. Untuk itu
saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam pembuatan Critical Book ini.

Terlepas dari itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka
saya menerima segala saran dan kritik yang membangun dari pembaca agar saya dapat
memperbaiki Critical Book yang selanjutnya akan saya susun.

Akhir kata saya berharap semoga Critical Book dengan judul buku Dasar-Dasar
Fotogrametri : Interpretasi Foto Udara oleh Lightbown, Patsy M. Dan Dasar-dasar
Fotogrametri oleh Banmbang Syaiful Hadi,M.Si ini dapat memberikan manfaat maupun
menambah pengetahuan dan wawasan pembaca mengenai Critical Book dengan judul
buku Dasar-Dasar Fotogrametri : Interpretasi Foto Udara.

Medan, April 2018

Mufdi Al Husri

2
Daftar Isi

Kata Pengantar ....................................................................................... 2

Daftar Isi ................................................................................................ 3

Bab I Pendahuluan ................................................................................. 4

A. Informasi Biblografi ..................................................................... 4


1. Buku Pertama .......................................................................... 4
2. Buku Kedua ............................................................................ 4

Bab. II. Pembahasan Critical Book Report. .......................................... 5

A. Latar Belakang Masalah Yang Dikaji ............................................ 5


B. Permasalahan yang dikaji .............................................................. 6
C. Kajian Teori/Konsep Yang Digunakan .......................................... 6
D. Metode.......................................................................................... 9

Bab. III. Pembahasan Review Jurnal .................................................... 10

A. Sinopsis buku ................................................................................ 10


B. Penilaian buku .............................................................................. 19
C. Analisis critical book report .......................................................... 20

Bab. IV. Penutup .................................................................................... 21

A. Kesimpulan ................................................................................... 21
B. Saran............................................................................................. 21

Daftar Pustaka ........................................................................................ 22

Lamppiran .............................................................................................. 23

3
BABI I. Pendahuluan

A. Informasi Bibliografi

A.1.Buku Pertama.

a) Judul buku : Dasar-Dasar Fotogrametri : Interpretasi Foto Udara


b) Team peneliti/penulis : Lightbown, Patsy M.
c) Tahun terbit : 1987
d) Penerbit : UI-Press.
e) Tebal buku : 81 Halaman
f) ISBN : 979 8034 72 4
g) Bahasa teks : Basaha Indonesia
A.2.Buku Kedua.
a) Judul Buku : Dasar-dasar Fotogrametri
b) No : ISBN 9789792942248
c) Pengarang : Banmbang Syaiful Hadi,M.Si
d) Penerbit : Pers Universitas Negeri Yogyakarta
e) Tahun Terbit : 2007
f) Tebal Buku : 163
g) Buku Teks : Bahasa Indonesia

4
BAB. II. Pembahasan Critical Book Report.

A. Latar Belakang Masalah Yang Dikaji.

Pada era pembangunan ini, diberbagai bidang perencanaan dan pengembangan wilayah
perlu disiapkan tenaga teknisi, analisis dan pengelola di bidang pengolahan data dan
informasi kebumian, yang mampu menangani data informasi (numeric dan spasial),
menganalisis, melakukan control aktivitas manusia, dan mampu membuat perencanaan
kegiatan. Tuntutan terhadap spesifikasi berbagai keahlian ini menimbulkan aktivitas yang
disebut pengembangan sumber daya manusia. (Dulbahri, 1995 dalam Hartono, 2004).

Pada era informasi seperti sekarang ini, perkembangan teknologi PJ dan SIG semakin
pesat. Perkembangan tersebut ditandai oleh perkembangan sensor (kamera, scanner, hingga
hyperspectral). Pengelolaan dan penanganan data, maupun keragaman aplikasinya. (Hartono,
2004). Salah satu aplikasi dari penginderaan jauh dalah pada bigang ilmu fotogrametri.
Fotogrametri ialah ilmu, seni dan teknologi untuk memperoleh ukuran terpercaya dari foto
udara. (Kiefer, 1993).

Dari pengertian tersebut obyek yang dikaji adalah kenampakan dari foto udara dengan
menginterpretasinya menggunakan sistem penginderaan jauh. Akan tetapi analisis
fotogrametri dapat berkisar dari pengukuran jarak, luas dan elevansi dengan alat atau teknik,
sampai menghasilkan berupa peta topografik. (Kiefer, 1993).

Aplikasi fotogrametri yang paling utama ialah untuk survey dan kompilasi peta
topografik berdasarkan pengukuran dan informasi yang diperoleh dari foto udara atau citra
satelit. Meskipun fotogrametri merupakan sebagian dari kegiatan pemetaan, tetapi ia
merupakan jantung kegiatan tersebut karena fotogrametri merupakan cara deliniasi yang
aktual atas detil peta.

Kegiatan fotogrametri berupa pengukuran dan pembuatan peta berdasarkan foto udara.
Karena yang diukur berupa obyek-obyek yang tergambar pada foto udara. Perlu pula
pengenalan atas obyek-obyek tersebut. Oleh karena itu dalam fotogrametri juga dipelajari
pengenalan obyek yang lazimnya termasuk interpretasifoto udara. Alat pengukuran dan
pengenalan obyek, pengukuranlah yang menjadi tujuan utama. (Sutanto, 1983).

5
B.Permasalahan Yang Di Kaji.

Adapun permasalahan yang dikaji dalam buku ini adalah.bagaimana kajian


fotogrametri,kajian pengukuran luas obyek. Kajian penginderaan jauh, kajian penggunaan
lahan.

C.Kajian Teori/Konsep Yang Digunakan.

C.1.Kajian Fotogrametri

Fotogrametri berasal dari kata Yunani yakni dari kata “photos” yang berarti sinar,
“gramma” yang berarti sesuatu yang tergambar atau ditulis, dan “metron” yang berarti
mengukur. Oleh karena itu “fotogrametri” berarti pengukuran scara grafik dengan
menggunakan sinar. (Thompson, 1980 dalam Sutanto, 1983). Dalam manual fotografi edisi
lama, fotogrametri didefinisikan sebagi ilmu atau seni untuk memperoleh ukuran terpercaya
dengan mengguanakan foto.

Di dalam manual edisi ketiga, definisi fotogrametri dilengkapi dengan menambahkan


interpretasi foto udara kedalamnya dengan fungsi yang hampir sama kedudukannya dengan
penyadapan ukuran dari foto. Setelah edisi ketiga pada tahun 1996, definisi fotogrametri
diperluas lagi hingga meliputi penginderaan jauh. (Sutanto, 1983).
Dalam kajian fotogrametri dimaksud di sini adalah fotogrametri dalam arti terbatas yaitu :
fotogrametri sebagai dasar untuk interpretasi foto udara vertical karena foto udara vertical
merupakan foto yang terbanyak digunakan dalam interpretasi foto udara.
Foto udara vertical dibuat dengan sumbu kamera tegak lurus terhadap bidang referensi yaitu
bidang datar yang merupakan ketinggian rata-rata daerah yang dipotret, atau daerah yang
sempit dengan arah grafitasi.

C.2. Kajian Pengukuran Luas Obyek.

Luas suatu obyek dapat diukur langsung pada ortofoto, akan tetapi tidak diukur pada foto
udara bila dikehendaki ketelitian yang tinggi. Bila tidak ada ortofoto pengukuran luas
seyogyanya dilakukan pada peta planimetrik hasil interpretasi foto udara. Semakin kecil
skala citra, maka ketelitian pengukuran luasnya semakin menurun.

6
Pengukuran luas dapat dilakukan dengan cara sederhana, cara mekanik, dan cara computer.
Cara sederhana ini meliputi antara lain cara bujur sangkar (square method), cara strip (strip
method), cara transek (transec Method), dan cara grid titik
(dot grid method). Cara mekanik dilakukan dengan planimeter, dan cara mutakhir dilakukan
dengan computer.

C.3. Kajian Penginderaan Jauh

Penginderaan jauh adalah suatu ilmu dan teknik untuk memperoleh data dan informasi
tentang obyek dan gejala menggunakan alat tanpa kontak langsung denga obyek yang dikaji.
(Hartono, 2004). Dalam penginderaan jauh terdapat interpretasi data baik itu berupa citra
atau foto udara. Interpretasi citra merupakan perbuatan mengkaji foto udara dan atau citra
dengan maksud untuk mengidentifikasi obyek dan menilai arti pentingnya obyek tersebut.

Data pengindaran jauh berupa data digital dan data visual (manual). Dalam Interpretasi
citra dilakukan melalui 6 tahap yaitu :

1. Deteksi adalah penyadapan data secara selektif atas objek dan elemen dari citra.
2. Indentifikasi adalah proses penemukenali objek yang akan dikaji.
3. Proses analisis atau pemisahan dengan penarikan garis batas kelompok objek atau
elemen yang memiliki kesamaan wujud.
4. Deduksi yaitu proses yang sangat rumit yang dilakukan berdasarkan asas
Konvergensi Bukti yaitu penggunaan bukti-bukti yang masing-masing saling
mengarah ke satu titik simpul
5. Klasifikasi yaitu dilakukan untuk menyusun objek dan elemen ke dalam sistem yang
teratur
6. Idealisasi yaitu : penggambaran hasil interpretasi tersebut Analisis Citra terdiri dari :
 Memisahakn dan mendeteksi melalui rona dan warna setelah itu mendelesiasi.
 Mengklasifikasi melalui kelompok rona dan warna.
 Interpretasi Citra terdiri dari kegiatan
 Mengenali hubungan Spasial melalui :Ukuran, Bentuk, Tekstur, dan Pola.
 Menemukan Pola melalui : BentukLahan, Kultural, Aliran, Penggunaan Lahan,
Penutup lahan.

7
 Dalam interpretasi citra harus memahami 9 unsur/ kunci interprtasi diantaranya:Rona
Atau Warna
 Rona adalah tingkat kegelapan atau kecerahan obyek pada citra atau tingkatan dari
hitam ke putih, sedangkan
 Warna adalah ujud yang tampak oleh mata dengan menggunakan kombinasi band.

 Bentuk:Variabel kualitatif yang memberikan konfigurasi atau kerangka suatu


obyek,misal : bersegi, membulat, memanjang,dll
 Ukuran: Atribut obyek yang antara lain berupa jarak,luas,tinggi,lereng dan volume.
Ukuran tergantung pada skala/resolusi, contoh bangunan industri dibanding rumah
 Tekstur:Tekstur adalah frekuensi perubahan rona pada citra.Tekstur sering dinyatakan
dengan kasar dan halus.
 Pola: Pola terkait dengan susunan keruangan suatu obyek merupakan ciri yang
menandai bagi banyak bentukan manusia dan bagi beberapa obyek alamiah
 Situs/ lokasi:Situs adalah letak suatu obyek terhadap obyek lain disekitarnya atau
letak obyek terhadap bentang darat.

• Mangrove 􀃆 dekat pantai/tepi sungai berair payau,

• Hutan 􀃆 dataran tinggi,

• Sawah 􀃆 dataran rendah.

 Bayangan:Bayangan terkait dengan obyek yang tidak tampak atau sanar-samar saat
pemotretan, karena pengaruh sinar matahari, hal ini berguna untuk identivikasi kapan saat
pemotretan dan arah orientasi foto.
 Asosiasi:Keterkaitan obyek satu dengan obyek lainnya

C.4. Kajian Penggunaan Lahan

Menurut Malingreau dalam Ejasta (1998) mendefinisikan penggunaan lahan sebagai


berikut, bahwa penggunaan lahan adalah segala macam campur tangan manusia baik secara
permanen maupun secara siklus terhadap suatu kumpulan sumber daya alam dan sumber

8
daya buatan yang scara keseluruhan disebut lahan dengan tujuan untuk mencapai kebutuhan
hidupnya, baik material, spiritual maupun keduanya.

Menurut Sutanto dalam Ejasta (1998), mengemukakan definisi penggunaan lahan yaitu
penggunaan lahan merupakan kegiatan manusia terhadap lahan untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Ini berarti penggunaan dari gabungan unsur-unsur yang meliputi aspek fisik,
ekonomi, etnik, dan sosial.Selain itu bahwa pengertian penggunaan lahan merupakan
bagaimana pengaplikasian metode tertentu dalam pengelolaan lahan dengan penyesuaian
kemampuan lahan tersebut. (Ejasta, 1998).

D.Metode.

Adapun metode yang digunakan dalam Buku Ini ini yaitu :

• Metode Observasi

Metode observasi adalah suatu metode dengan melakukan observasi langsung ke


lapangan. Adapun yang diobservasi adalah fenomena-fenomena yang tampak pada foto
udara.

• Metode Kepustakaan

Metode kepustakaan yaitu metode yang penulisannya bersumber dari berbagai sumber
pustaka, diantaranya berupa buku-buku, peta, maupun literatur yang terkait dengan masalah
ini. Selain itu juga metode ini mempunyai fungsi ganda yaitu memudahkan dan memperluas
wawasan tentang masalah yang akan dikaji, kemudian merupakan sumber terlengkap dari
perbandingan data di lapangan.

9
Bab. III. Pembahasan Secara Umum Buku.

A. Sinopsis Buku.

A.1. Kajian Teori Buku Pertama.

1.Definisi Fotogrametri
Berdasarkan Perkumpulan Fotogrametriawan Amerika (American Society of
Photogrammetry/ ASP), Fotogrametri didefinisikan sebagai seni, ilmu dan teknologi untuk
memperoleh informasi terpercaya tentang obyek fisik dan lingkungannya melalui prosese
perekaman, pengukuran dan interpretasi gambaran fotografik dan pola radiasi tenaga
elektromagnetik yang terekam. Foto yang dimaksud disini adalah foto udara, yaitu rekaman
dari sebagian permukaan bumi yang dibuat dengan menggunakan kamera yang dipasang
pada wahana antara lain pesawat terbang.
Perkembangan fotogrametri selanjutnya telah mengantarkan kepada pengertian
fotogrametri yang dapat diberi makna lebih luas yakni merupakan ilmu pengetahuan dan
tehnologi pengolahan foto udara untuk memperoleh data dan informasi yang tepat untuk
tujuan pemetaan dan rekayasa. Mendasarkan pada dua pengertian diatas dapat disarikan
bahwa pada intinya fotogrametri adalah suatu ilmu dan tehnologi untuk mendapatkan ukuran
yang terpercaya dari foto udara. Hal ini telah memberikan arti bahwa semua ukuran obyek
fisik yang dihasilkan secara fotogrametris harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,
sehingga menghasilkan data dan informasi yang dapat dimanfaatkan oleh pengguna. Dengan
memperhatikan perkembangan teknologi pemetaan fotogrametri atau pemetaan-fotogrametri,
maka definisi Fotogrametri (Fotogrametri) dapat dirangkum menjadi lebih jelas, serta terarah
pola aplikasinya, sebagai berikut : “Fotogrametri adalah ilmu, teknologi, dan rekayasa yang
bersumber dari cara pengolahan data hasil rekaman dan informasi, baik dari citra fotografik
maupun dari non fotografik; untuk tujuan pemetaan rupa bumi serta pembentukan basis data
bagi keperluan rekayasa tertentu”Sebagai input data dalam lingkup tugas fotogrametri dapat
berupa rekaman, misalnya segala bentuk hasil pemotretan udara (dengan berbagai macam
kamera dan wahana yang sesuai), serta data penunjang terkait peningkatan kualitas hasil
seperti pengukuran data ikatan (termasuk pengukuran Titik Dasar Teknik (TDT).
Dengan tersedianya input data non fotografik (tidak melalui pemotretan udara) misalnya
mempergunakan berbagai citra satelit ( satellite imagery ) dapat mempercepat proses

10
pemetaan dewasa ini ( citra satelit dengan resolusi yang memenuhi kebutuhan pemetaan).
Tujuan fotogrametri selain untuk pemetaan rupa bumi (lazim disebut pemetaan topografi,
baik skala kecil sampai peta skala besar) dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan
informasi lahan yang dalam kelompok fotogrametri sebagai hasil GIS atau Geographic
Information System (SIG = Sistem Informasi Geografis); maka lingkup fotogrametri dapat
dipisahkan atas dua kelompok besar yaitu : 1. Fotogrametri metrik = Penentuan geometri dan
posisi obyek melalui pengukuran/ pengamatan, baik jarak, sudut, luas, dan volume dari hasil
proses fotogrametris 2. Fotogrametri interpretative = Pengolahan citra fotografik amupun non
fotografik ( radar, satellite imagery, dan lain-lain) guna pembentukan basis data bagi
keperluan rekayasa tertentu.

2. Perkembangan Teknologi Fotogrametri


Perkembangan fotogrametri dimulai dari Perancis. Fotogrametri berkembang dengan
setelah ditemukannya pemotretan udara.. Hal tersebut diawali oleh seorang ahli geodesi
bernama Arago yang memperagakan pemanfaatan foto udara untuk survei topografi.
Pemotretan udara pada awalnya dilakukan dengan memanfaatkan layang-layang dan balon
udara. Kegiatan pemetaan topografi pertama kali dikembangkan oleh Kolonel Aime
Laussedat dari Korps Ahli Tehnik Angkatan Darat Perancis pada tahun 1859 dan pekerjaan
ini dapat berhasil dengan baik, sehingga Aime Laussedat dianggap sebagai Bapak
Fotogrametri.
Negara Amerika memulai pekerjaan pemetaan secara fotogrametris pada tahun 1886,
kegiatan ini dipelopori oleh seorang pimpinan surveyor Kanada yaitu Kapten Deville yang
memandang bahwa Lussedat dengan asas pemetaannyaberhasil memetakan daerah yang
bertopografi kasar di Pegunungan Kanada Barat. Kemudian pada tahun 1894 Dinas Survei
Pandai dan Geodesi Amerika Serikat memetakan daerah perbatasan Kanada dan Alaska
dengan memanfaatkan fotogrametri.
Perkembangan pemanfaatan fotogrametri lebih lanjut akibat adanya pemetaan yang
dilakukan secara besar-besaran selama perang dunia pertama dan kedua, adalah semakin
berkembang pula peralatan dan tehnik didalam fotogrametri. Kegiatan pemetaan dengan
fotogrametri yang selama perang secara keseluruhan digunakan untuk kepentingan
pengintaian medan lawan, kemudian terjadi peningkatan pekerjaan intarpretasi foto udara

11
digunakan untuk kepentingan yang lebih luas. Kegiatan pemetaan secara fotogrametris yaitu
menggunakan foto udara yang dilakukan selama puluhan tahun menyebabkan semakin
berkembang pula peralatan dan tehnik dalam pemetaan, diikuti dengan perkembangan
fotogrametri yang akurat dan efisien, serta sangat menguntungkan didalam bidang pemetaan.
Fotogrametri dapat dimanfaatkan untuk kegitan pemetan yang memerlukan ketelitian tinggi,
sehingga perkembangan selanjutnya sebagian besar pemetaan topografi dan juga pemetaan
persil dilakukan dengan menggunakan fotogrametri. Pada prinsipnya pemetaan cara
fotogrametri sangat cocok untuk luasan yang besar (bila dibandingkan dengan cara terestris
atau langsung pengukuran di lapangan); namun teknologi pemotretan udara dapat bervariasi
dari luasan kecil/ terbatas sampai luasan sangat besar (bila memakai data citra satelit). Pada
kawasan yang sangat rawan ( remote areas ) dapat dilakukan pengambilan data topografi
secara pemotretan udara dengan panduan navigasi (pemakaian alat GPS). Perkembangan
pemotretan udara dewasa ini telah pesat dengan pemakaian sarana navigasi GPS (global
Positioning System) atau lebih dikenal pemotretan udara cara kinematika (GPS dipadukan
dengan kamera udara dalam satu misi pemotretan).

3. Interpretasi, Klasifikasi, dan Geometri Foto Udara


Dalam ilmu fotogrametri ada dua jenis foto yaitu foto udara dan foto terrestrial. Foto
udara diambil dengan kamera udara yang dipasang pada pesawat udara sedangkan foto
terrestrial diambil dengan kamera yang berada dipermukaan bumi. Beberapa klasifikasi foto
udara lebih mencerminkan kegunaan dan tujuan foto udara tersebut untuksuatu keperluan
walaupun kadang bisaterjadi karena kesalahan padasaat pemrotetan sepertisumbu kamera
yang tidak tegak. Secara geometric penting untuk diperhatikan bahwa pada foto senget
dengan kemiringan sumbu kamera < 3o melalui proses tertentu masih dapat dikoreksi
sehingga mendekati foto udara tegak sempurna.
Berdasarkan metode penentuan skala tersebut di atas cara yang paling mudah adalah
denganmembandingkanpanjang fokuskamera dengan tinggiterbang pesawat. Akan tetapi
kalau dilihat dari ketelitian yang dihasilkan maka penentuan skala dengan membandingkan
jarak dipermukaan bumi dengan dibidang foto mempunyai ketelitian yang paling baik.
Metode trilaterasi dalam penghitungan koordinat mempunyai ketelitian yang lebih baik
dalam penentuan posisi karena pengukuran didasarkan langsung dari titik fidusial (referensi).

12
4. Pengamatan Pralaks Stereoskopik
Pandangan stereoskopik dalam bidang fotogrametri mutlak diperlukan karena melalui
pandangan ini akan di dapatkan model tiga dimensi/stereoskopik yang merupakan gambaran
model sebagaimana model dipermukaan bumi. Melalui model ini dapat dilakukan berbagai
pengukuran koordinat,tinggi dan plotting dari media foto udara yang bersangkutan.
Paralaks stereoskopik terjadi karena adanya perubahan posisi suatu gambar pada suatu
foto satu ke foto berikutnya karena perubahan posisi pesawat terbang. Komponen paralaks
terdiri atas py, pz dan px. Komponen paralaks tersebut yang berpengaruh pada hitungan
hanya paralaks px. Dengan data paralaks dapat dihitung ketinggian suatu titik dilapangan.

5. Pengolahan Foto Tungal dan Foto Stereo


Pengolahan foto tunggal penting dilakukan karena untuk mendapatkan fotoudara yang
benar-benar vertikal tidak mudah didapatkan.Prosesini mendasari agar fotoudara dapat
dimanfaatkan untuk proses dan aplikasi lebih lanjut. Pada pengolahan foto stereo lebih
komplek untuk dilakukan disini perlu dilakukan orientasi dalam dan selanjutnya orientasi
luar. Melalui proses ini akandidapatkan model yang mempunyai skala dan ketinggian yang
benar karena orientasi didasarkan pada titik kontrol di permukaan bumi.

6. Pemetaan Fotogrametri
Dalam pemetaan secara fotogrametris pengadaan data awal `sangat menentukan kualitas
dan ragam hasil nantinya, maka persoalan utama adalah perencanaan yang seksama serta
melalui dasar kecermatan pemikiran yang terpadu. Sementara ragam pilihan cara dan pola
pengadaan data awal (data akuisisi dalam fotogrametri) sangat terpancang kepada masalah
keamanan (security). Pengaruh kemajuan teknologi baik wahana dan perangkat pengolah
data telahmenjadikanpemetaan foptogrametri lebih mudahdan efisien untuk pengambilan
data, pengolahan dan penyajian data ukuran berupa peta.

7. Aplikasi Fotogrametri Bidang Kadastral


Pemetaan fotogrametris merupakan salah satu metode yang direkomendasikan untuk
pengukuran bidang-bidang tanah di bidang kadastral. Hasil pemetaan ini selain berupa

13
berbagai peta seperti peta dasar pendaftaran baik berupa peta foto maupun peta garis, blowup
foto dan foto udara secara tidak langsung juga dihasilkan titik kontrol dilapangan yang
berguna untuk pengikatan bidang dan mendapatkan koordinat lapangan dari foto udara itu
sendiri.
Dalam praktek pengukuran bidang-bidang tanah di lapangan, penggunaan Peta Foto
mempunyai ketelitian yang paling baik dibandingkan dengan penggunaan Blow-up foto
maupun peta garis digital fotogrametri. Aplikasi ini sangat sesuai untuk daerah terbuka
sebagaimana daerah pertanian dikarenakan proses identifikasi batas-batas bidang tanah
menjadi mudah dan akurat.

A.2. Kajian Teori Buku Kedua.

1.Defenisi Fotogrametri

Sebagaimana disiplin ilmu lain, untuk keperluan menunjukkan jati diri sebagai suatu
disiplin ilmu yang berbeda dari yang lain dan cakupan aspek yang dipelajarinya maka para
ilmuwan fotogrametri mengajukan beberapa definisi fotogrametri. Definisi fotogrametri yang
dikemukakan oleh beberapa ahli, diantaranya adalah :

 Fotogrametri adalah seni atau ilmu untuk memperoleh keterangan kuantitatif yang dapat
dipercaya dari foto udara (ASP dalam Paine, 1987).
 Fotogrametri adalah ilmu, seni, dan teknologi untuk memperoleh ukuran terpercaya dan
peta dari foto (Lillesand and Kiefer, 1994).
 Fotogrametri adalah seni, ilmu, dan teknologi untuk memperoleh informasi terpercaya
tentang objek fisik dan lingkungan melalui proses perekaman, pengukuran, dan
interpretasi gambaran fotografik dan pola radiasi energi elektromagnetik yang terekam
(Wolf, 1989).
 Fotogrametri adalah suatu kegiatan dimana aspek-aspek geometrik dari foto udara,
seperti sudut, jarak, koordinat, dan sebagainya merupakan faktor utama (Ligterink, 1991).
 Fotogrametri didefinisikan sebagai proses pemerolehan informasi metric mengenai suatu
objek melalui pengukuran pada foto (Tao, 2002).

14
Dari beberapa pengertian tersebut, terdapat dua aspek penting, yakni ukuran objek
(kuantitatif) dan jenis objek (kualtitatif). Kedua aspek tersebut yang kemudian berkembang
menjadi cabang fotogramteri, yakni fotogrametri metrik dan fotogrametri interpretatif.
1. Fotogrametri Metrik
Fotogrametri Metrik mempelajari pengukuran cermat berdasarkan foto dan sumber
informasi lain yang pada umumnya digunakan untuk menentukan lokasi relatif titik-titik
(sehingga dapat diperoleh ukuran jarak, sudut, luas, volume, elevasi, ukuran, dan bentuk
objek).
2. Fotogrametri Interpretatif
Fotogrametri interpretatif terutama mempelajari pengenalan dan identifikasi objek serta
menilai arti pentingnya objek tersebut melalui suatu analisa sistematik dan cermat.
Fotogrametri interpretatif meliputi cabang ilmu interpretasi foto udara dan penginderaan
jauh.
Tujuan mendasar dari fotogrametri adalah membangun secara sunguh-sungguh hubungan
geometrik antara suatu objek dan sebuah citra dan menurunkan informasi tentang objek
secara teliti dari citra. Untuk dapat melakukan pekerjaan perlu pemahaman terhadap azas
fotogrametri. Azas fotogrametri merupakan hal penting bagi penafsir foto, karena ia
merupakan dasar untuk penghitungan kenampakan medan hasil interpretasi dalam kaitannya
dengan lokasi dan bentangannya.
2. Kegiatan-kegiatan Fotogrametrik
Menurut Lillesand and Kiefer (1994), aspek yang paling mendasar di dalam fotogrametri
adalah meliputi langkah atau kegiatan sebagai berikut :
1. Menentukan jarak medan mendatar dan besarnya sudut berdasarkan
pengukuran yang dilakukan pada foto udara tegak:Foto udara merupakan hasil
perekaman dengan menggunakan kamera yang proyeksinya center, sehingga di daerah yang
mempunyai kondisi relief yang relatif kasar (bevariasi ketinggiannya) terjadi pergeseran letak
elief (relief displacement).
2. Menentukan tinggi objek dari pengukuran pergeseran letak oleh relief:Dalam
perspektif foto udara yang menggunakan proyeksi center, titik yang tidak mengalami
penyimpangan adalah objek yang terletak persis di atas titik pusat foto. Semakin jauh letak
objek dari titik pusat foto, semakin banyak mengalami penyimpangan atau pergeseran letak

15
secara radial, objek yang tinggi (misalnya menara, gedung-gedung bertingkat, cerobong dan
lain-lain) akan tampak condong.
3. Menentukan tinggi objek dan ketinggian medan dengan pengukuran paralaks
citra:Pengukuraan tinggi objek pada foto udara disamping dapat dilakukan secara
monoskopik (satu foto) dapat pula dilakukan secara stereoskopik atau pasangan foto udara.
4. Penggunaan titik kontrol medan:Titik kontrol medan adalah titik di medan yang dapat
diletakkan secara tepat pada foto udara, dimana informasi koordinat medan dan/atau
ketinggiannya diketahui.
5. Membuat peta di dalam plotter stereo: Plotter stereo atau biasa disingkat plotter saja
adalah sebuah alat yang dirancang untuk menghasilkan peta topografi yang bersumber dari
foto udara stereo, alat ini dapat memindah informasi peta tanpa distorsi dari foto stereo.
6. Membuat ortofoto:Ortofoto pada dasarnya merupakan peta foto yang dihasilkan dari foto
konvensional melalui proses raktifikasi diferensial, sehingga diperoleh ukuran yang benar.
Ortofoto ini bila ditumpangsusunkan dengan peta administrasi akan menjadi peta foto yang
informatif.
7. Menyiapkan rencana penerbangan untuk memperoleh foto udara:Rencana
penerbangan diperlukan agar citra yang diinginkan terpenuhi (isi dan ukuran geometrik). Hal
yang perlu diperhatikan antara lain, skala citra, lensa kamera, panjang fokus kamera, format
foto, dan tampalan yang diinginkan.
3 Sejarah Fotogrametri
Ilmu Fotogrametri telah dikenal sejak lama pada tahun 350 Sebelum Masehi, jauh
sebelum ditemukannya fotografi. Tokoh yang pertama memperkenalkan adalah Aristoteles,
menurutnya fotogrametri merupakan proses untuk memproyeksikan gambaran objek secara
optik. Pada awal abad 18 Dr. Brook Taylor mengemukakan pendapat tentang perspektif
linier. Setelah itu J.H. Lambert menyatakan bahwa asas perspektif dapat dimanfaatkan untuk
membuat peta. Proses fotografi mulai berkembang sejak tahun 1839, yaitu pada saat Louis
Daguerre menemukan proses fotografi udara dengan plat logam yang dibuat peka
terhadap sinar. Pada tahun 1840 Arago memperagakan penggunaan fotogrametri untuk
pemetaan topografi.
Kemudian colonel Aime Laussedat (Korps Ahli Teknik Angkatan Darat Perancis) pada
tahun 1849 membuat peta topografi dengan fotogrametri. Dari pengalaman tersebut pada

16
tahun 1859 Laussedat berhasil menggunakan fotogrametri untuk pemetaan. Fotogrametri
semakin pesat perkembangannya terbukti dengan dikembangkannya proses fotografi dengan
menggunakan tiga warna pada tahun 1861 yang disempurnakan pada tahun 1891.
Pada tahun 1886 Kapten Deville (pimpinan surveyor Kanada) menggunakan fotogrametri
untuk membuat peta topografi di Amerika Utara (Kanada). Ia menyatakan asas Laussedat
baik untuk pemetaan daerah pegunungan Kanada barat yang bertopografi kasar. Dinas Survai
Pantai dan Geodesi US menggunakan fotogrametri pada tahun 1894 untuk memetakan
daerah perbatasan. Tahun 1902 semua pekerjaan fotogrametri lebih terpusat pada terrestrial
foto. Kemudian tahun 1909, Dr. Carl Pulfrich dari Jerman melakukan percobaan
dengan foto stereo. Hasilnya menjadi landasan teknik pemetaan. Pertama digunakan pesawat
udara pada tahun 1913. Pada saat perang dunia I foto udara digunakan secara luas. Perang
dunia II, fotogrametri digunakan untuk pemetaan medan lawan. Sekarang fotogrametri telah
mapan (akurat, efisien, dan menguntungkan) sehingga sebagian besar pekerjaan pemetaan
menggunakan fotogrametri.
Dukungan ketersediaan teknologi pencitraan secara digital telah mendorong
fotogrametri semakin banuyak digunakan, karena kebutuhan peralatan fotogrametri yang
mahal dapat dikurangi dengan perangkat lunak dan perangkat keras yang murah.
Pemanfaatan fotogrametri telah berkembang luas dalam berbagai bidang, dari desain
keteknikan, inventarisasi sumberdaya alam dan lingkungan pemetaan arkeologi dan survey
hidrografi. Menurut Tao (2002) sebagian besar peta-peta topografi yang ada saat ini dibuat
dengan menggunakan fotogrametri,
4 Klasifikasi Foto Udara
Ada dua jenis foto yang digunakan dalam kegiatan fotogrametri, yakni foto terrestrial dan
foto udara. Foto terrestrial diperoleh dengan cara memotret di permukaan daratan dimana
informasi mengenai posisi dan orientasi, pada umumnya pengukuran dilakukan secara
langsung. Foto udara merupakan bahan pokok dalam kajian Fotogrametri, oleh karena itu
agar pemahaman seorang pembelajar tidak keliru dalam menginterpretasi dan mengukur
suatu objek perlu dikenali lebih dahulu karakteristik foto udara. Pada umumnya foto udara
dibedakan atas foto udara vertical dan foto udara condong/sendeng. Secara lebih detail foto
udara dapat dibedakan atas beberapa dasar:

17
1. Spektrum elektromagnetik yang digunakan:
a. foto udara ultraviolet ( UV dekat – 0,29 μm)
b. foto udara ortokromatik (biru – sebagian hijau/0,4 – 0,56 μm)
c. foto udara pankromatik (menggunakan seluruh gelombang visible)
d. foto udara inframerah true (0,9 – 1,2 μm)
e. foto udara inframerah modifikasi (IM dekat dan sebagian merah dan hijau).
2. Jenis kamera
a. foto udara tunggal
b. foto udara jamak (multispektral, dual kamera, kombinasi vertical condong)
3.Warna yang digunakan
a. black white (BW)
b. berwarna semu (false color)
c. berwarna asli (true color)
4. Sistem wahana
a) foto udara dari pesawat udara/balon
b) foto udara satelit/foto orbital
5. Sudut liputan
a. vertical (0 sampai 3o)
b. condong (lebih dari 3o )
c. condong tinggi
6. Sumbu kamera
a. foto udara vertical, sumbu kamera tegak lurus permukaan bumi
b. foto condong/sendeng (oblique/tilted)
c. Agak condong, tampak cakrawala
d. Sangat condong, tidak tampak cakrawala
7. Bentuk data
a. Foto udara analog
b. foto udara digital (citra digital dapat berupa murni data digital dapat pula
diperoleh dari penyiaman data analog sehingga menjadi data digital).

18
B. Penilaian Buku.

B.1.Buku Pertama.
B.1.1. Kekurangan Buku
 Terdapat penggunaan kata yang kurang tepat, seperti “diskriminasi citra”, “nilai pixel
yang bertetangga” dan banyak pengguna bahasa asing sehinga sulit untuk dipahami
maknanya.
 Kurangnya pengguaan contoh Foto Udara yang dapat memberikan gambaran dari materi
yang dipaparkan penulis dalam buku ini.
B.1.2 Kelebihan Buku
 Penjelasan pokok pembahasan dibahas secara luas mengenai Fotogrametri, mulai dari
awal perkembangan hingga sampai pada pengaplikasiannya.
 Buku ini memuat banyak konsep tenatang fotogtametri dan dipaparkan secara sistematis
atau terstruktur sehingga pembaca akan mudah memahami materi yang dosampaikan
penulis.
 Buku ini dilengkapi dengan catatan kaki yang memuat sumber kutipan bacaan, sehingga
sumber kutipan, baik teori maupun konsep yang dijelaskan memiliki sumber yang
konkrit.

B.2.Buku Kedua.
B.1.Kelemahan Buku
 Pengulangan informasi sering kali terjadi pada bab-bab berikutnya.
 Isi buku memiliki banyak pengertian dari para-para pendapat sehingga membuat
pembacanya bingung tentang konsep yg harus dikuasai dalam buku ini.
 Pengertian dari setiap kata banyak yang dibuat berulang-ulang, dan pengertiannya itu
banyak menggunakan kata-kata pemborosan.

B.2.2.Kelebihan Buku .

 Setiap bab penulis membuat satu kesimpulannya yang dapat dimengerti.


 Ringkasan buku lebih banyak membahas tentang materi-materi yang cukup bagus apalagi
untuk anak geografi,dan konsentrasi Teknik Geografi

19
 Menggunakan kata-kata yang sederhana untuk dimengerti di kalangan pelajar maupun
dikalangan mahasiswa.
 sumber atau referensi buku ini sangat lengkap artinya buku ini telah terangkum dari
beberapa ilmu yang Teori dan Praktek citra foto udara.
 Memiliki rumus-rumus terhadap sub judul yang dibahas,sehingga pembaca tak bingung
mengenai penyelesaian masalah yang ada pada buku tersebut.
 Memiliki gambar yang lengkap pada beberapa sub judul,sehingga hal itu juga
memberikan pemahaman pada pembaca bagaimana hasil citra yg dilakukan .

C.Analisi Critical Book.


 Setelah saya membaca buku ini yang berjudul dasar-dasar foto udara,dapat sayang saya
simpulkan bahwa tujuan dari buku ini bagi mahasiswa khususnya jurusan pendidikan
geografi adalah Agar mahasiswa mampu memahami dan dapat mengaplikasikan
Fotogrametri,.Agar mahasiswa mampu menginterpretasi obyek-obyek yang tampak pada
foto udara/citra.,Agar mahasiswa mampu mengukur luas pada masing-masing obyek
yang tampak pada foto udara dan mahasiswa dapat membuat peta tematik penggunaan
lahan dari interpretasi foto udara.Dari kualitas bukunya Penjelasan pokok pembahasan
dibahas secara luas mengenai Fotogrametri, mulai dari awal perkembangan hingga
sampai pada pengaplikasiannya.Buku ini memuat banyak konsep tenatang fotogtametri
dan dipaparkan secara sistematis atau terstruktur sehingga pembaca akan mudah
memahami materi yang dosampaikan penulis.Buku ini dilengkapi dengan catatan kaki
yang memuat sumber kutipan bacaan, sehingga sumber kutipan, baik teori maupun
konsep yang dijelaskan memiliki sumber yang konkrit.

20
BAB. IV. PENUTUP

A. Kesimpulan
Fotogrametri didefinisikan sebagai seni, ilmu dan teknologi untuk memperoleh informasi
terpercaya tentang obyek fisik dan lingkungannya melalui prosese perekaman, pengukuran
dan interpretasi gambaran fotografik dan pola radiasi tenaga elektromagnetik yang terekam.
Penjelasan mengenai Fotogrametri telah dipaparkan pada buku ini mulai dari perkembangan
fotogrametri sampai pada pengaplikasian fotogrametri. Adapun kekurangan dan kelebihan
buku ini yaitu :
1. Kekurangan : Terdapat penggunaan kata yang kurang tepat, seperti “diskriminasi citra”,
“nilai pixel yang bertetangga” dan banyak pengguna bahasa asing sehinga sulit untuk
dipahami maknanya. Kurangnya Pengguaan contoh Foto Udara yang dapat memberikan
gambaran dari materi yang dipaparkan penulis dalam buku ini.
2. Kelebihan : Penjelasan pokok pembahasan dibahas secara luas mengenai Fotogrametri,
mulai dari awal perkembangan hingga sampai pada pengaplikasiannya. Buku ini memuat
banyak konsep tenatang fotogtametri dan dipaparkan secara sistematis atau terstruktur
sehingga pembaca akan mudah memahami materi yang dosampaikan penulis. Buku ini
dilengkapi dengan catatan kaki yang memuat sumber kutipan bacaan, sehingga sumber
kutipan, baik teori maupun konsep yang dijelaskan memiliki sumber yang konkrit.

B. Saran
Buku ini telah mememaparkan banyak hal mengenai fotogrametri, akan tetapi tidak di
lengkapi dengan contoh foto udara yang dapat memberikan gambaran kepeda pembacaan
dalam memahami tentang fotogrametri ini. Oleh sebab itu saya menyarankan agar buku ini
delengkapi dengan contoh hasil foto udara dengan skala yang fariatif.

21
Daftar Pustaka
Lightbown, Patsy M, 1987. Dasar-Dasar Fotogrametri : Interpretasi Foto Udara. UI-Press.
Banmbang Syaiful Hadi,M.Si, 2007. Dasar-dasar Fotogrametri. Pers Universitas Negeri
Yogyakarta

22
Daftar Lampiran

23