Anda di halaman 1dari 49

PERBEDAAN EKSPRESI HER-2/neu PADA

TUMOR OVARIUM EPITELIAL


TIPE JINAK, BORDERLINE DAN GANAS

Prof. DR. dr. Ketut Suwiyoga, SpOG(K)

BAGIAN /SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

FK UNUD/RSUP SANGLAH DENPASAR

2013
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Kanker ovarium merupakan keganasan pada indung telur wanita dan salah

satu penyebab kematian ginekologi utama di dunia selain kanker serviks. Dari

semua kanker di bidang ginekologi, keganasan pada ovarium merupakan

tantangan klinis terbesar. Namun sampai sekarang patogenesis ataupun penyebab

kanker ovarium belum jelas, tindakan pencegahan yang dapat dilakukan dan

penanganan kanker ovarium belum memuaskan. Sering penderita datang dengan

stadium kanker yang sudah lanjut sehingga penanganan operatif ataupun

kemoterapi tidak banyak memberikan harapan hidup kepada penderitanya.

Setiap tahun di seluruh dunia, 204.000 wanita terdiagnosa kanker ovarium

dan 125.000 wanita meninggal oleh karena penyakit ini (Berek JS, Natarajan S,

2007). Di Amerika, 12,56% wanita akan terkena tumor ovarium (Koonings PP et

al, 1989) dan 1 dari 78 wanita (1,3%) akan terkena kanker ovarium selama

hidupnya, dimana tahun 2007 didapatkan 22.430 kasus baru kanker ovarium dan

menyebabkan 15.280 kematian, sehingga kanker ovarium merupakan kanker

terbanyak ke-8 pada wanita dan menduduki peringkat ke-5 sebagai penyebab

kematian yang berhubungan dengan kanker (Schorge JO, 2008). Sedangkan angka

kejadian kanker ovarium di Indonesia berdasarkan data Badan Registrasi Kanker

pada tahun 2006 mencapai 5,99% (Badan Registrasi Kanker, 2006). Di Rumah

Sakit Sanglah sendiri angka kejadian kanker ovarium sebanyak 35% dari seluruh

1
1
kanker ginekologi dengan angka harapan hidup selama 5 tahun hanya 15%

(Karyana, 2004).

Penyebab utama dari kanker ovarium sampai saat ini masih menjadi bahan

perdebatan namun terdapat beberapa faktor resiko yang telah banyak diteliti dan

diduga menjadi pemicu terjadinya kanker ovarium ini diantaranya adalah faktor

genetik, umur, paritas, ras, dan riwayat keluarga dengan kanker payudara dan

kanker ovarium (Ozols RF et al, 2005; Schorge JO, 2008; Fauzan R, 2009). Pada

tingkat biomolekuler terjadi mutasi genetik, dimana salah satunya terjadi

amplifikasi dari onkogen yang berakibat terjadinya overekspresi beberapa protein.

Onkogen Human Epidermal Growth Factor Receptor 2 (HER2), yang juga

dikenal sebagai HER2/neu, ErbB2 atau c-erbB2, diduga memegang peranan

penting dalam proses karsinogenesis. HER2/neu merupakan suatu reseptor pada

permukaan sel yang memiliki struktur yang sama dengan Epidermal Growth

Factor Receptor (EGFR), terletak pada kromosom 17q21 yang mengkode

glikoprotein transmembran melalui aktivitas tirosin kinase. Ikatan HER2/neu

dengan ligan akan memicu terjadinya proses phosphorilation dan dimerization

sehingga sinyal transduksi dapat disampaikan melalui mekanisme pengaktifan

Phosphoinositide 3-kinase (PI3K) dan mitogen activated protein kinase (MAPK)

untuk memicu proliferasi sel kanker dan pembentukan pembuluh darah

(angiogenesis) (Mayr et al, 2006). Pada tumor payudara, overekspresi HER2/neu

berkisar 25% dari semua kasus kanker payudara. HER2/neu telah terbukti

berperan pada karsinogenesis dan prognosis karsinoma payudara dan telah

dikembangkan pula suatu metode terapi dengan target HER-2/neu. Pada tumor

ovarium, overekspresi HER2/neu bervariasi antara 9% sampai 32%. Namun

2
peranan HER2/neu pada kanker ovarium belum banyak diteliti. Peranan HER-

2/neu dalam karsinogenesis dan prognosis kanker ovarium masih kontroversi (Tai

W et all, 2010).

Dengan mengetahui ekspresi HER2/neu pada tumor ovarium diharapkan

mungkin dapat mengungkapkan peran HER2/neu pada tumor ovarium dalam

karsinogenesis, prognosis dan target terapi dikemudian hari. Penelitian mengenai

“Perbedaan ekspresi HER2/neu pada tumor ovarium epitelial tipe jinak,

borderline dan ganas” ini diharapkan dapat dipakai oleh klinisi untuk

mengetahui ekspresi HER2/neu pada tumor ovarium.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka didapatkan suatu

rumusan masalah sebagai berikut :

Apakah terdapat perbedaan ekspresi HER2/neu pada tumor ovarium

epitelial tipe jinak, borderline dan ganas?

1.3 Tujuan penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui ekspresi HER2/neu pada tumor ovarium epitelial.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui ekspresi HER2/neu pada tumor ovarium epitelial jinak.

2. Untuk mengetahui ekspresi HER2/neu pada tumor ovarium epitelial

borderline.

3
3. Untuk mengetahui ekspresi HER2/neu pada tumor ovarium epitelial ganas.

4. Untuk mengetahui adanya perbedaan terhadap ekspresi HER2/neu pada

tumor ovarium epitelial jinak, borderline dan ganas.

1.4 Manfaat penelitian

1.4.1 Manfaat keilmuan

Untuk memberikan sumbangan pengetahuan tentang HER2/neu terhadap

tumor ovarium epitelial.

1.4.2 Manfaat praktis

Diharapkan HER2/neu dapat digunakan sebagai faktor prognosis dan

karsinogenesis pada tumor ovarium sehingga penanganannya menjadi lebih baik.

4
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Patogenesis Kanker

Kanker merupakan penyakit yang disebabkan oleh adanya gangguan pada

proses pengendalian pertumbuhan, lokalisasi dan kematian sel normal. Hilangnya

mekanisme pengendalian normal ini ditimbulkan karena adanya mutasi pada tiga

kelompok gen (Tan M.I., 2010):

1. Proto-onkogen merupakan gen yang mengkode protein-protein yang

berperan dalam mengatur proliferasi sel. Mutasi pada proto-onkogen dapat

menyebabkan ketidakteraturan proliferasi sel. Kelompok gen proto-

onkogen yang mengalami mutasi disebut onkogen.

2. Gen Tumor suppressor merupakan kelompok gen yang berperan dalam

pembatasan proliferasi sel. Pada kanker, mutasi pada gen tumor suppressor

menyebabkan disregulasi pengendalian siklus sel.

3. Gen apoptosis merupakan gen yang berperan dalam kematian sel.

Perubahan gen apoptosis dapat menyebabkan proliferasi sel tidak

terkendali.

Mutasi pada ketiga kelompok gen ini dapat menyebabkan perubahan pada

berbagai ekspresi gen antara lain protein membran, sekresi protein dan motilitas

sel.

5
5
Tabel 2.1 Kelompok Gen dan Ekspresi Protein Abnormal pada Kanker Ovarium

Kelompok Lokasi/Kategori Gen Keterangan


Onkogen TGF-α TGFA Overekspresi
EGF receptor HER-2/neu Overekspresi
FMS- like tyrosine FLT3 Amplifikasi
Kinase 3
GTP-binding KRAS/HRAS Point mutation
RAS signal BRAF Point mutation
transduction
Transcriptional MYC Amplifikasi
activator
Cyclin dependent CDK1 Amplifikasi
kinase
Inaktivasi gen Inti sel P53 Penghentian siklus
supresor tumor sel dan induksi
apoptosis (-)
Inti sel BRCA1 Perbaikan DNA (-)
BRCA2
Perubahan Inti sel BCL2 Inhibisi apoptosis
gen apoptosis meningkat
(Kumar dkk., 2010)

2.2 Onkogen

Onkogen merupakan gen mutan yang menyebabkan proliferasi sel menjadi

abnormal. Onkogen akan menghasilkan protein-protein yang mempunyai

kemampuan untuk memacu transformasi sel normal menjadi sel kanker melalui

beberapa mekanisme (Gambar 2.1). Jenis-jenis onkogen seluler dapat

dikelompokkan menjadi delapan kelompok (Tan M.I., 2010) :

1. Faktor tumbuh, contoh HSTF1/HST-1, INT-2, PDGFB/SIS, WNT1,

WNT2, WNT3

2. Protein Tirosine Kinase

a. Receptor-like tyrosine kinases (RTKs), contoh EGFR/ERBB,

CSF1R/FMS, KIT, MET, HER2/neu, RET, TRK

b. Non- receptor tyrosine kinases, contoh ABL1, FPS/FES

6
c. Membrane associated non-reseptor tyrosine kinases, contoh SRC

dan SRC-related kinases

3. Protein Serine Kinase sitoplasmik, contoh BCR, MOS, RAF/MIL.

4. Protein G terikat membran, contoh HRAS, KRAS, NRAS

5. Protein Serine-, Threonin- (dan Tyrosine) Kinase, contoh AKT1, AKT2

6. Regulator siklus sel, contoh Cyclin D1, CDC25A, CDC25B

7. Faktor transkripsi, contoh E2F1, ERBA, ETS, FOS, JUN, MYB, MYC,

REL, TAL1, SKI

8. Faktor Intracellular membrane, contoh BCL2

ekspresi
meningkat protein berubah protein berubah

ekspresi
meningkat

mutasi
titik
amplifikasi insersi

proto-onkogen
translokasi delesi

protein normal

protein berubah
protein ekspresi
berubah meningkat

Gambar 2.1. Mekanisme Aktivasi Onkogen (Sumber : Tan M.I, 2010)

7
2.3 HER2/neu

HER2/neu, yang juga dikenal dengan sebutan c-erb-B2, merupakan bagian

dari kelompok reseptor faktor tumbuh dimana yang termasuk di dalamnya adalah

epidermal growth factor (EGRF, HER-1/c-erb-B1), HER-3 (c-erb-B3) dan HER-4

(c-erb-B4). Gen HER2/neu terdapat pada kromosom 17q21 dan men-encode

sebuah protein trans membran (p185) dengan aktifitas tirosine kinase. Fungsi

HER2/neu dipercaya sebagai reseptor faktor tumbuh dan berperan dalam

deferensiasi dan proliferasi sel (Wu Y et all, 2004).

2.3.1. Struktur HER2/neu

Seperti reseptor HER yang lain, HER2/neu merupakan glikoprotein

transmembran tipe 1 yang terdiri dari tiga bagian : sebuah N-terminal

extracelluler domain (ECD), sebuah single α-helix transmembrane domain (TM)

dan sebuah intracelluler tyrosine kinase domain.

Gambar 2.2. Reseptor HER mempunyai struktur yang terdiri dari extracellular
ligand-binding domain, transmembran domain, intracellular cytoplasmic domain
yang terdiri dari carboxyl-terminal dan tyrosine kinase domain (EMBO journal, 2005).

8
N-terminal ECD, sebagai bagian terbesar dari HER, mengandung

setidaknya 600 residu (90-110 kDa) yang terbagi menjadi empat subdomain,

subdomain I sampai dengan IV (Gambar 2.3). Subdomain I dan III merupakan

tempat terikatnya faktor tumbuh. Sedangkan subdomain II dan IV terlibat dalam

proses homodimerisasi dan heterodimerisasi. Subdomain II, yang mengandung

tangan dimerisasi, dipercaya sebagai kontributor utama terjadinya dimerisasi.

Tangan dimerisasi pada subdomain II akan bergandengan dengan tangan

dimerisasi dari pasangan dimerisasi.

Gambar 2.3. N-terminal ECD dari HER (Tai W et al, 2010)

Terdapat dua konformasi dari ECD, yaitu konfigurasi tertutup (inaktif) dan

konfigurasi terbuka (aktif). Pada saat konfigurasi tertutup, terjadi interaksi antara

domain II dan IV yang menghambat tangan dimerisasi untuk bergandengan

dengan tangan dimerisasi dari reseptor HER yang lain. Saat faktor tumbuh terikat

9
pada domain I dan III, maka terjadi konfigurasi terbuka yang mengakibatkan

tangan dimerisasi dapat terikat dengan tangan dimerisasi dari reseptor HER yang

lain. Sebagian besar reseptor HER2/neu selalu berada dalam konfigurasi terbuka

yang selalu siap melakukan dimerisasi dengan reseptor HER yang lain.

TM domain dari HER2/neu merupakan single α-helix yang terdiri dari 23

asam amino. Pada rangkaian sejajar pada kelompok HER menunjukkan bahwa

terdapat dua motif dimerisasi pada 5 residu urutan TM domain (Gambar 3). Motif

Sternberg-Gullick terdapat dapat semua anggota HER. Mutasi pada motif

Sternberg-Gullick pada tikus diketahui menginduksi terjadinya transformasi

oncogenik. Motif G***G ditemukan pada TM domain dari HER-1, HER-2 dan

HER-4, tidak ditemukan pada HER-3. Dua motif dimerisasi pada TM domain ini

merupakan kekuatan utama terjadinya dimerisasi reseptor.

Gambar 2.4. Rangkaian dan Struktur TM domain dari reseptor HER (Tai W et al, 2010)
A) Rangkaian TM domain reseptor HER (~23 residu), motif dimerisasi adalah yang diwarnai.
Motif Sternberg–Gullick berwarna merah dan G***G motif berwarna kuning.
B) Permukaan TM domain HER homodimer. Dimerisasi dipicu oleh ikatan kuat antara motif-
motif Sternberg–Gullick (merah) dan motif-motif G***G (kuning).

10
Pada intracelluler domain terdapat 500 residu dan terdiri dari sebuah

penghubung cytoplasmic juxtamembrane (JM), sebuah tyrosine kinase (TyK)

domain dan sebuah carboxyl-terminal tail. Penghubung JM merupakan

penghubung pendek antara TM domain dan TyK domain. Sebagai bagian yang

paling sulit dari reseptor HER2/neu, TyK mengandung beberapa lengkung penting

yang membentuk tempat enzim aktif. Carboxyl-terminal tail memiliki 6 residu

tirosine yang penting dalam proses transfosforilasi dan berperan sebagai tempat

molekul pemberi signal Src homology 2 (SH2) atau phosphotyrosine binding

(PTB) domain.

2.3.2. Jalur signal HER2/neu

Setelah dimerisasi, HER2/neu dapat memberikan signal melalui tiga jalur

yang berbeda, yaitu jalur Phosphoinositide 3-kinase (PI3K), mitogen activated

protein kinase (MAPK) dan phospholipase C-γ (PLCγ). Pola dimerisasi sangat

mempengaruhi jalur signal. Kombinasi dimerisasi yang berbeda dipercaya

menghasilkan signal intraseluler yang berbeda. Sebagai contoh, HER2/HER3

heterodimer menginduksi aktivasi PI3K lipid kinase, dimana tyrosine-

phosphorylated HER3 berpasangan langsung dengan PI3K. Berbeda dengan jalur

PI3K, semua HER2/neu yang terlibat dalam dimerisasi (HER1/HER2,

HER2/HER3, HER2/HER4) dapat mengaktifkan jalur MAPK. Jalur PI3K dan

MAPK merupakan kunci utama jalur signal untuk mencetuskan proliferasi sel dan

menghambat apoptosis (Gambar 2.5)

11
Gambar 2.5. Jalur signal HER2/neu (Tai W et al, 2010)

2.3.3. Mutasi gen HER2/neu

Pada sel-sel normal, HER2/neu memegang peranan penting pada semua

tingkatan perkembangan sel. Namun mutasi atau overekspresi HER2/neu dapat

menyebabkan tumorigenesis dan juga metastase. HER2/neu awalnya ditemukan

sebagai onkogen pada tikus dengan neuroglioblastoma yang diinduksi secara

kimiawi, dimana sebuah titik mutasi pada molekul transmembran domain memicu

aktivasi onkogen.

Namun pada manusia, HER2/neu proto-onkogen diaktifkan menjadi

onkogen bukan melalui sebuah titik mutasi, tetapi melalui mekanisme amplifikasi

gen sehingga menimbulkan overekspresi. (Ling KS et al, 2005). Amplifikasi gen

adalah terjadinya peningkatan jumlah copy urutan DNA spesifik (Gambar 2.1),

sehingga amplifikasi gen HER2/neu akan meningkatkan protein pembentuk

12
reseptor HER2/neu yang selanjutnya akan meningkatkan reseptor HER2/neu pada

membran sel.

2.4 Kanker Ovarium

Dari semua kanker di bidang ginekologi, keganasan pada ovarium

merupakan tantangan klinis terbesar. Setiap tahun di seluruh dunia, 204.000

wanita terdiagnosa kanker ovarium dan 125.000 wanita meninggal oleh karena

penyakit ini (Berek JS, Natarajan S, 2007). Di Amerika, 12,56% wanita akan

terkena tumor ovarium (Koonings PP et al, 1989) dan 1 dari 78 wanita (1,3%)

akan terkena kanker ovarium selama hidupnya, dimana tahun 2007 didapatkan

22.430 kasus baru kanker ovarium dan menyebabkan 15.280 kematian, sehingga

kanker ovarium merupakan kanker terbanyak ke-8 pada wanita dan menduduki

peringkat ke-5 sebagai penyebab kematian yang berhubungan dengan kanker

(Schorge JO, 2008). Sedangkan angka kejadian kanker ovarium di Indonesia

berdasarkan data Badan Registrasi Kanker pada tahun 2006 mencapai 5,99%

(Badan Registrasi Kanker, 2006). Di Rumah Sakit Sanglah sendiri angka kejadian

kanker ovarium sebanyak 35% dari seluruh kanker ginekologi dengan angka

harapan hidup selama 5 tahun hanya 15% (Karyana, 2004).

Kanker ovarium biasanya menunjukan gejala yang tidak spesifik dan

minimal sehingga sering kali ditemukan pada stadium yang lanjut dengan angka

5-years survival rate yang buruk sehingga kanker ovarium sering disebut sebagai

penyakit yang paling berbahaya diantara seluruh kanker ginekologi (Ian J, 2007).

13
2.4.1 Faktor resiko

Penyebab utama dari kanker ovarium sampai saat ini masih menjadi bahan

perdebatan namun terdapat beberapa faktor resiko yang telah banyak diteliti dan

diduga menjadi pemicu terjadinya kanker ovarium ini diantaranya adalah faktor

genetik, umur, paritas, ras, dan riwayat keluarga dengan kanker payudara dan

kanker ovarium (Ozols RF et al, 2005; Schorge JO, 2008; Fauzan R, 2009).

2.4.2 Klasifikasi Kanker Ovarium

Berdasarkan pembagian menurut WHO maka tumor ovarium ini dibagi

berdasarkan jaringan asalnya (Tabel 2.2). Dimana saat ini dipercaya bahwa tumor

ovarium berkembang dari tiga komponen ovarium: (1) Derivate epitel permukaan

yang berasal dari coelomik epithelium; (2) Germ sel, yang bermigrasi ke ovarium

dari yolk sac dan bersifat pluripoten dan (3)Stroma ovarium, termasuk sex cord,

yang merupakan pertanda dari endokrin apparatus ovarium postnatal. Terdapat

juga kelompok tumor diluar pembagian tersebut diatas yang merupakan metastase

tumor ke ovarium. (Kumar V et al, 2010). Tipe epitelial merupakan tipe histologi

yang paling banyak dijumpai (Tabel 2.3).

Gambar 2.6 Pembagian tumor ovarium berdasarkan sel asalnya (Kumar V et al, 2010)

14
Tabel 2.2. Klasifikasi Tumor Ovarium Epitelial menurut WHO (Kumar V et al,
2010).
SURFACE EPITHELIAL-STROMAL TUMORS
Serous tumors
Benign (cystadenoma)
Borderline tumors (serous borderline tumor)
Malignant (serous adenocarcinoma)
Mucinous tumors, endocervical-like and intestinal type
Benign (cystadenoma)
Borderline tumors (mucinous borderline tumor)
Malignant (mucinous adenocarcinoma)
Endometrioid tumors
Benign (cystadenoma)
Borderline tumors (endometrioid borderline tumor)
Malignant (endometrioid adenocarcinoma)
Clear cell tumors
Benign
Borderline tumors
Malignant (clear cell adenocarcinoma)
Transitional cell tumors
Brenner tumor
Brenner tumor of borderline malignancy
Malignant Brenner tumor
Transitional cell carcinoma (non-Brenner type)
Epithelial-stromal
Adenosarcoma
Malignant mixed müllerian tumor
SEX CORD–STROMAL TUMORS
Granulosa tumors
Fibromas
Fibrothecomas
Thecomas
Sertoli cell tumors
Leydig cell tumors
Sex cord tumor with annular tubules
Gynandroblastoma
Steroid (lipid) cell tumors
GERM CELL TUMORS
Teratoma
Immature
Mature
Solid
Cystic (dermoid cyst)
Monodermal (e.g., struma ovarii, carcinoid)
Dysgerminoma
Yolk sac tumor (endodermal sinus tumor)
Mixed germ cell tumors

15
Tabel 2.3 Pembagian Tumor Ovarium Berdasarkan Sel Asalnya (Kumar V et al, 2010).
Sel asal Sel epitel permukaan Germ sel Sex cord - stroma Metastase ke
ovarium

Frekuensi 65-70% 15-20% 5-10% 5%


keseluruhan
Proporsi tumor 90% 3-5% 2-3% 5%
ovarium ganas
Onset 20+tahun 0-25+ tahun Semua usia Bervariasi
 Serus  Teratoma  Fibroma
Tipe
 Musinus  Disgerminoma  Tumor Sel
 Endometrioid  Endodermal Granulose -teka
 Clear cell sinus tumor  Tumor sel
 Tumor Brenner  Koriokarsinoma sertoli – leydig
 Cystadenofibroma

2.4.3 Patofisiologi Kanker Ovarium

Penelitian yang dilakukan pada 20 tahun terakhir telah membawa kita pada

penemuan kanker terbaru, dimana proses seluler dasar terganggu selama

perkembangan kanker. Banyak penelitian yang dilakukan untuk dapat mencari

penyebab dari kanker ini termasuk penemuan terhadap abnormalitas kromosom

somatik, virus, faktor lingkungan, bahan kimia yang bersifat karsinogenesis dan

faktor kongenital. Kanker merupakan akumulasi dari proses mutasi pada gen yang

menentukan fenotip dari tumor tersebut. (Kumar V et al, 2010).

Pendekatan yang bersifat langsung dan efektif terhadap pecegahan,

deteksi, diagnosis dan penanganan kanker adalah dengan mengidentifikasi gen

yang terlibat pada tumorigenesis. Walaupun jumlah dari gen yang mengalami

mutasi dalam perkembangan kanker sangat banyak bahkan sampai ratusan.

(Kumar V et al, 2010).

16
2.5 Overekspresi HER2/neu pada Kanker Ovarium

Overekspresi HER2/neu pada kanker ovarium berbeda dengan kanker

payudara. Overekspresi HER2/neu pada kanker payudara telah terbukti

merupakan suatu faktor prognostik tersendiri, dimana overekspresi ini

menunjukkan prognosis yang buruk, ekspresi reseptor estrogen dan progesteron

yang kurang serta tidak responsif terhadap terapi hormonal. Peningkatan level

HER2/neu sirkulasi pada pasien kanker payudara dengan metastase berkorelasi

dengan berkurangnya efikasi terhadap kemoterapi (Colomer et al, 2000).

Pemeriksaan imunohistokimia (IHK) HER2/neu pada kasus kanker payudara

merupakan suatu prosedur standar.

Pada kasus kanker ovarium, korelasi antara overekspresi HER2/neu

dengan prognostik masih menjadi kontroversi (Elena et al, 2005). HER2/neu pada

kanker ovarium menarik untuk diteliti oleh karena memiliki potensi peranannya

pada patofisiologi, faktor prognosis dan target farmakoterapi (Serrano-Olvera A et

al, 2006). Overekspresi HER2/neu pada kanker ovarium epitelial bervariasi antara

9% sampai 32% dari semua kasus. Namun peranan HER2/neu terhadap kanker

ovarium masih belum banyak diteliti dan tidak sejelas peranannya terhadap

kanker payudara. Overekspresi HER2/neu pada sel kanker ovarium cenderung

akan menyebabkan pertumbuhan sel yang lebih cepat, kemampuan memperbaiki

DNA meningkat dan pembentuk koloni bertambah (Tai W et al, 2010). Pada

kanker ovarium tipe non-epitelial, merupakan tipe histologi yang jarang (Tabel

2.3), maka penelitian ekspresi HER2/neu pada kanker ovarium non-epitelial

sangatlah langka. Sebuah penelitian terhadap 20 kasus kanker ovarium tipe non-

17
epitelial didapatkan bahwa semua status HER2/neu negatif (Menczer J et al,

2007).

Pada kemajuan teknologi kedokteran saat ini, penanganan kanker yang

menjadikan HER2/neu sebagai target terapi terus dikembangkan. Adanya

perkembangan recombinant humanized anti-HER2/neu monoclonal antibodi,

Transtuzumab (Herceptin), suatu antibodi yang secara spesifik berikatan dengan

bagian ekstraseluler dari HER2, telah menjadi suatu pilihan terapi yang penting

pada setiap penderita kanker payudara dengan overekspresi HER2/neu (Fujimura

M dkk, 2002). Namun penggunaannya pada kanker ovarium masih dalam tahap II

uji klinik (Clifford, 2007).

18
BAB III

KERANGKA PIKIR, KERANGKA KONSEP

DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1 Kerangka Pikir

Tumor merupakan suatu penyakit dimana terjadi disregulasi siklus sel

normal, demikian pula pada tumor ovarium. Siklus sel diatur oleh berbagai

macam gen dan protein dalam peristiwa yang saling berhubungan. Terjadinya

mutasi dari gen tersebut akan memicu terjadinya disregulasi siklus sel sehingga

timbul tumor. Terdapat tiga kelompok gen yang mengatur siklus sel yaitu

protoonkogen, gen supressor tumor dan gen yang mengatur apoptosis.

Protoonkogen merupakan gen yang berfungsi dalam proliferasi sel.

Apabila protoonkogen mengalami mutasi maka disebut sebagai onkogen. Salah

satu onkogen yang banyak mendapat sorotan adalah HER2/neu. HER2/neu

diperiksa dengan melakukan pemeriksaan imunohistokimia. Overekspresi dari

HER2/neu akan memicu peningkatan proliferasi sel yang berlebihan, sehingga

dapat memicu terjadinya tumor. HER2/neu pada tumor ovarium menarik untuk

diteliti oleh karena memiliki potensi peranannya pada karsinogenesis, sebagai

faktor prognosis dan sasaran terapi. Selain faktor genetik, terdapat beberapa faktor

resiko yang telah banyak diteliti dan diduga menjadi pemicu terjadinya kanker

ovarium ini diantaranya adalah umur, paritas, ras dan riwayat keluarga menderita

kanker payudara dan kanker ovarium.

Tumor ovarium dapat dibagi menurut asal selnya menjadi tumor ovarium

epitelial dan non-epitelial, dimana tumor ovarium epitelial paling sering

19 1
ditemukan. Secara histologis tumor ovarium epitelial dapat dibagi menjadi tipe

jinak, borderline dan ganas. Dengan mencari perbedaan ekspresi HER2/neu antara

tumor ovarium epitelial tipe jinak, borderline dan ganas, diharapkan dapat

memberi masukan untuk mengetahui kemungkinan peranan HER2/neu pada

tumor ovarium.

3.2 Kerangka Konsep

Mutasi Genetik

Onkogen Inaktivasi gen Perubahan


supresor tumor gen apoptosis

BRCA1
HER2/neu BRCA2 P53 BCL2

 Umur
↑Aktivasi (-) DNA (-) cycle cell
repair
Inhibisi
 Paritas
pertumbuhan arrest (P21) apoptosis↑
(GADD45)  Ras
 Riwayat
keluarga dengan
Proliferasi sel Penurunan kanker payudara
tidak terkontrol apoptosis dan kanker
ovarium
Tumor Ovarium
Epitelial

Jinak Borderline Ganas

Gambar 3.1 . Kerangka Konsep Penelitian

20
3.3 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka konsep di atas maka dibuatlah hipotesis penelitian

sebagai berikut : terdapat perbedaan ekspresi HER2/neu pada tumor ovarium

epitelial tipe jinak, borderline dan ganas.

21
BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian adalah cross-sectional analitik, Secara sistematik

rancangan penelitian dapat digambarkan sebagai berikut:

Overekspresi HER2/neu (+)


Jinak
Overekspresi HER2/neu (-)

Overekspresi HER2/neu (+)


Tumor
ovarium Borderline
Overekspresi HER2/neu (-)
epitelial

Overekspresi HER2/neu (+)

Ganas Overekspresi HER2/neu (-)

Gambar 4.1. Rancangan Penelitian

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi dan waktu penelitian adalah di bagian Obstetri dan Ginekologi

Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RS Sanglah Denpasar dan bagian

Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RS Sanglah

Denpasar dimulai dari Januari 2012 sampai Desember 2012.

22
4.3 Populasi, Sampel, dan Besar Sampel

4.3.1 Populasi

Populasi target dari penelitian ini adalah pasien tumor ovarium epitelial.

Populasi terjangkau adalah pasien tumor ovarium epitelial di RS Sanglah dari

bulan Januari 2011 sampai dengan bulan April 2012. Jumlah populasi terjangkau

yang didapatkan adalah 63 pasien.

4.3.2 Sampel

Sampel pada penelitian ini adalah pasien tumor ovarium epitelial di RS

Sanglah dari bulan Januari 2011 sampai dengan bulan April 2012, serta memenuhi

kriteria inklusi. Adapun kriteria inklusi penelitian adalah sebagai berikut:

a. Menjalani operasi laparotomi di RS Sanglah

b. Melakukan pemeriksaan histopatologi di Laboratorium Patologi

Anatomi RS Sanglah.

c. Rekam medis pasien ada di Instalasi Rekam Medis RS Sanglah.

d. Blok parafin pasien masih ada dan dalam kondisi baik untuk dilakukan

pemeriksaan imunohistokimia HER2/neu.

Pada penelitian ini dari 63 pasien populasi terjangkau, didapatkan 9 pasien

yang tidak memenuhi kriteria inklusi, sehingga hanya 54 pasien yang memenuhi

kriteria inklusi.

4.3.3 Besar sampel

Besar sampel pada penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus

sebagai berikut (Araoye, 2003):

23
Zα 2 (pq)
n=
d2

Keterangan:

n = besar sampel

Zα = 1,96 (α = 0,05)

p = 12,56% (prevalensi tumor ovarium di populasi)

q = 87,44% (1-p)

d = 10% (penyimpangan absolut penelitian)

Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rumus di atas, diperoleh

besar sampel penelitian adalah 42,19 buah. Untuk menghindari adanya sampel

yang drop out (hasil pemeriksaan oleh ahli patologi anatomi tersebut didapatkan

ekspresi HER2/neu sampel tidak dapat ditentukan) maka ditambahkan 15%,

sehingga jumlah sampel dalam penelitian ini diambil sebanyak 49 buah.

Pada penelitian ini dari 54 pasien yang memenuhi kriteria inklusi,

didapatkan sampel drop out sebanyak 5 pasien. Sehingga pada akhirnya jumlah

pasien yang menjalani penelitian sampai akhir adalah 49 pasien tumor ovarium

epitelial.

4.4 Teknik penentuan sampel

Teknik penentuan sampel menggunakan consecutive sampling dengan

mengambil sampel sampai jumlah sampel terpenuhi, kemudian dikelompokkan

berdasarkan tipe jinak, borderline dan ganas.

24
4.5 Identifikasi Variabel, Hubungan Antar Variabel, dan Definisi

Operasional Variabel

4.5.1 Identifikasi variabel

Identifikasi variabel penelitian adalah sebagai berikut.

4.4.1.1 Variabel bebas : Ekspresi HER2/neu

4.4.1.2 Varibel tergantung : tumor ovarium epitelial tipe jinak, borderline dan

ganas

4.4.1.3 Variabel terkontrol : umur, paritas, riwayat keluarga menderita kanker

payudara dan ovarium

4.5.2 Definisi operasional variabel

a. Ekspresi HER2/neu adalah : penilaian protein HER2/neu secara

imunohistokimia menggunakan antibodi monoclonal HER2/neu Labvision,

secara semikuantitatif, diantara 200 sel epitel, diamati dengan mikroskop

cahaya binokuler merek Olympus dengan pembesaran 400 kali. Penghitungan

dilakukan pada 10 lapangan pandang dimulai dari bagian tumor dengan

ekspresi HER2/neu terkuat ke bagian yang lebih lemah. Pemeriksaan

imunohistokimia HER2/neu dikerjakan di laboratorium imunihistokimia

bagian Patologi Anatomi FK UNUD/RSUP Sanglah. Interpetasi ekspresi

HER2/neu dilakukan tanpa mengetahui data klinikopatologik pasien. Sel yang

mengekspresikan HER2/neu akan tampak berwarna coklat pada membran sel.

Penilaian ekspresi HER2/neu dibuat berdasarkan analisis presentase sel tumor

yang positif dan intensitas pewarnaan. HER2/neu diberi skor 0, 1+, 2+,dan 3+

(Tabel 4.1). Pada pengecatan IHC maka 0 dan 1+ dikategorikan sebagai

25
ekspresi HER2/neu negatif, 2+ dan 3+ dikategorikan sebagai overekspresi

HER2/neu (Van de Vijver et al,2006).

b. Tumor ovarium epitelial tipe jinak adalah tumor ovarium dimana hasil

pemeriksaan histopatologi berasal dari sel epitelial dan termasuk dalam tumor

jinak berdasarkan klasifikasi tumor ovarium menurut WHO (Tabel 2.2).

c. Tumor ovarium epitelial tipe borderline adalah tumor ovarium dimana hasil

pemeriksaan histopatologi berasal dari sel epitelial dan termasuk dalam tumor

berderline berdasarkan klasifikasi tumor ovarium menurut WHO (Tabel 2.2).

d. Tumor ovarium epitelial tipe ganas adalah tumor ovarium dimana hasil

pemeriksaan histopatologi berasal dari sel epitelial dan termasuk dalam tumor

ganas berdasarkan klasifikasi tumor ovarium menurut WHO (Tabel 2.2).

e. Umur adalah usia pasien dalam tahun yang didapatkan dalam rekam medis

penderita.

f. Paritas adalah jumlah janin viabel yang dilahirkan yang didapatkan dari rekam

medis penderita.

g. Riwayat keluarga kanker payudara dan ovarium adalah adanya riwayat

keluarga yang pernah atau sedang menderita kanker payudara dan ovarium

yang didapatkan dari rekam medis penderita.

4.6 Alur penelitian

Sampel penelitian menggunakan pasien tumor ovarium epitelial di RS

Sanglah yang harus memenuhi kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Untuk

menentukan sampel digunakan teknik consecutive sampling. Dari sampel yang

sudah terkumpul akan dikelompokkan berdasarkan tipe jinak, borderline dan

26
ganas, kemudian dilakukan pulasan imunohistokimia HER2/neu. Hasil pulasan

imunohistokimia tersebut kemudian diperiksa oleh dokter ahli patologi anatomi

laboratorium Patologi Anatomi RS Sanglah untuk menentukan ekspresi

HER2/neu. Setelah ditentukan ekspresi HER2/neu sampel kemudian dilakukan

analisa statistik terhadap sampel tersebut. Apabila dari hasil pemeriksaan oleh ahli

patologi anatomi tersebut didapatkan ekspresi HER2/neu sampel tidak dapat

ditentukan maka sampel tersebut drop out. Secara sistematis alur penelitian

ditunjukkan pada skema.

pasien tumor ovarium di RS Sanglah


dari bulan Januari 2011

Kriteria inklusi

consecutive sampling

Sampel penelitian

Jinak Borderline Ganas


Pre-
eklampsia Pre- Pre-
(+) Imunohistokimia HER2/neu
eklampsia (+) eklampsia (+)

Pemeriksaan Ahli
Patologi Anatomi

drop out

Analisis statistik

Gambar 4.2. Alur penelitian

27
1.1 4.7 Instrumen Penelitian dan Alat, Bahan dan Teknik Pemeriksaan

4.7.1 Instrumen penelitian

Instrumen penelitian yaitu: formulir penelitian, komputer, kertas dan alat

tulis serta perlengkapan lainnya.

4.7.2 Alat, Bahan dan Teknik Pemeriksaan

Teknik pemeriksaan yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan

menggunakan pemeriksaan imunohistokimia (IHK). Adapun langkah pemeriksaan

sebagai berikut :

1. Preparat hasil pulasan Hematoksilin dan Eosin sampel dikumpulkan dan

dievaluasi ulang. Yang dinilai adalah semua parameter patologik yang akan

dianalisis.

2. Memilih preparat yang akan dipulas HER2/neu. Preparat yang dipilih untuk

pemeriksaan IHK HER2/neu adalah preparat yang paling banyak mengandung

bagian tumor dengan area nekrosis yang sedikit atau tidak ada.

3. Preparat yang terpilih kemudian dicari blok parafin-nya

4. Alat dan Bahan yang diperlukan untuk pemeriksaan imunohistokimia

HER2/neu adalah :

a. Mikrotom

b. Gelas objek yang telah dilapisi Poly-L-lysine.

c. Cover glass

d. Oven microwave

e. mikroskop cahaya binokuler merek Olympus

f. Larutan xylene

g. Larutan Alkohol

28
h. Larutan Phosphat Buffer Salin (PBS)

i. Larutan buffer sitrat pH 6,0

j. Aquades

k. Larutan H2O2 0,3%

l. blocking solution

m. antibodi monoklonal HER2/neu Labvision

n. SBC

o. Reagen diamino benzydine (DAB)

p. Larutan Hematoksilin

5. Pulasan IHK HER2/neu dengan langkah – langkah sebagi berikut :

a. Potong jaringan 4 mikrometer dengan mikrotom, ditempelkan pada gelas

objek yang telah dilapisi Poly-L-lysine.

b. Inkubasi dalam oven microwave suhu 37▫C selama 1 malam.

c. Deparafinisasi dengan xylene.

d. Dehidrasi dengan alkohol.

e. Cuci dengan PBS 2x5menit.

f. Rendam dengan buffer sitrat pH 6,0. Kemudian panaskan didalam oven

microwave selama 10 menit, mula-mula dengan pemanasan tinggi selama

5 menit kemudian pemanasan sedang selama 5 menit.

g. Dinginkan pada suhu kamar.

h. Cuci dengan PBS 2x5 menit.

i. Tetesi dengan H2O2 0,3% selama 30 menit.

j. Cuci dengan aquades 1x5 menit.

k. Cuci dengan PBS 2x5 menit.

29
l. Tetesi 100 μl blocking solution (normal serum dengan pengenceran 100x)

selama 20 menit.

m. Tetesi 100 μl antibodi primer menggunakan antibodi monoklonal

HER2/neu Labvision yang telah diencerkan (pengenceran 1:50) diinkubasi

selama 1 malam pada suhu 4 ▫C.

n. Cuci dengan PBS 2 x 5 menit.

o. Tetesi 100 μl antibodi sekunder (pengenceran 100x) selama 30 menit.

p. Cuci dengan PBS 2 x 5 menit.

q. Tetesi 100 μl SBC selama 30 menit.

r. Cuci dengan PBS 2x5 menit.

s. Tetesi reagen DAB 10 menit.

t. Cuci dengan air.

u. Counterstain dengan Hematoksilin selama 1 menit.

v. Dehidrasi dengan alkohol.

w. Tutup dengan cover glass.

6. Interpretasi sediaan yang telah dipulas HER2/neu :

a. Sebagai kontrol positif adalah kasus kanker payudara dengan ekspresi

HER2/neu yang kuat.

b. Interpretasi HER2/neu dilakukan tanpa mengetahui data klinis dan

patologik dari setiap kasus.

c. Dilakukan penghitungan ekspresi HER2/neu secara semi kuantitatif.

Pertama, dihitung persentase sel epitel yang tercat positif diantara 200

epitel ganas, menggunakan mikroskop cahaya binokuler merek Olympus,

dengan pembesaran 400 kali.

30
d. Hanya pewarnaan dievaluasi coklat pada membran sel yang dinilai positif.

Intensitas pewarnaan dievaluasi secara subyektif yaitu lemah, sedang dan

kuat.

e. Skor diperoleh berdasarkan gabungan antara presentase sel yang terpulas

dan intensitas pewarnaannya, dengan rentang skor 0, 1+, 2+, 3+ (Tabel

4.1).

Tabel 4.1 Interpretasi pulasan IHC HER2/neu (Rosai, 2004)

Pola Pulasan Skor


Tidak ada sel yang terpulas atau terpulas pada kurang dari 10% sel 0
Terpulas pada lebih dari 10% sel dengan intensitas pulasan lemah, 1+
membran sel yang terpulas hanya sebagian
Terpulas pada lebih dari 10% sel dengan intensitas lemah sampai sedang, 2+
membran sel terpulas komplit
Terpulas pada lebih dari 10% sel dengan intensitas kuat dan komplit. 3+
2

4.8 Pengumpulan dan Analisis Data

4.8.1 Pengumpulan data

Data hasil penelitian yang diperoleh dari Bagian Obstetri dan Ginekologi,

Patologi Anatomi, dan Rekam Medis RSUP Sanglah dikumpulkan dan

dimasukkan ke dalam formulir penelitian (terlampir)

4.8.2 Analisis data

Data pada formulir penelitian tumor ovarium diolah dengan menggunakan

SPSS 17,0 for windows. Kemudian dilakukan beberapa tes atau uji, antara lain

adalah sebagai berikut:

31
1. Karakteristik sampel disajikan secara deskriptif, dengan menggunakan tabel.

2. Uji beda karakteristik sampel antar kelompok dengan uji One Way Anova.

3. Uji beda ekspresi HER2/neu antar kelompok dengan uji Chi-Square

menggunakan tabulasi silang.

32
BAB V

HASIL PENELITIAN

Pada penelitian ini didapatkan populasi terjangkau sebesar 63 pasien tumor

ovarium epitelial, dimana 9 pasien tidak memenuhi kriteria inklusi dan 5 pasien

drop out. Sehingga didapatkan jumlah pasien yang menjalani penelitian sampai

akhir adalah 49 pasien tumor ovarium epitelial.

Selama periode penelitian, telah dikumpulkan 49 sampel blok parafin dan

data sekunder dari bagian Patologi Anatomi dan bagian Obstetri dan Ginekologi

Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RS Sanglah Denpasar. Sampel-sampel

tersebut terdiri atas 12 kasus dengan tumor ovarium epitelial tipe jinak, 9 kasus

dengan tumor ovarium epitelial tipe borderline dan 28 kasus dengan tumor

ovarium epitelial tipe ganas.

5.1 Karakteristik Sampel

Pada studi cross sectional ini dilakukan uji beda rerata dengan

menggunakan uji Anova untuk variabel umur pasien dan paritas. Data

karakteristik antar kelompok tumor ovarium epitelial tipe jinak, borderline dan

ganas disajikan pada Tabel 5.1.

33
3
3
Tabel 5.1
Distribusi Rerata Umur dan Paritas Tumor Ovarium Epitelial
pada Kelompok Jinak, Borderline dan Ganas

Variabel Tumor Ovarium Epitelial


p
Kelompok Kelompok Kelompok
jinak borderline ganas
Umur 39,67 + 12,22 48,11 + 12,90 46,46 + 10,43 0,685
Paritas 1,92 + 1,31 2,56 + 1,74 1,79 + 1,16 0,302

Pada Tabel 5.1 ditunjukkan bahwa antar kelompok tumor ovarium epitelial

tipe jinak, borderline dan ganas tidak berbeda pada variabel umur, dengan p =

0,685 (p > 0,05), demikian pula pada variabel paritas dengan p = 0,302 (p > 0,05).

5.2 Perbedaan Ekspresi HER2/neu

Untuk mengetahui perbedaan ekspresi HER2/neu pada kelompok tumor

ovarium epitelial tipe jinak, borderline dan ganas digunakan uji Chi-Square. Hasil

analisis kemaknaan disajikan pada Tabel 5.2.

Tabel 5.2.
Perbedaan Ekspresi HER2/neu Pada Tumor Ovarium Epitelial Tipe Jinak,
Borderline dan Ganas.

Overekspresi
HER2/neu X2 P
(+) (-)
Kelompok
13 15
Ganas
Tumor Kelompok
Ovarium 2 7 6,089 0,048
Borderline
Epitelial
Kelompok
1 11
Jinak

34
Pada Tabel 5.2 ditunjukkan bahwa overekspresi HER2/neu pada tumor

ovarium epitelial tipe ganas adalah sebanyak 13 kasus (46,43%), tipe borderline

yang hanya sebanyak 2 kasus (22,22%) dan tipe jinak yang hanya sebanyak 1

kasus (9,09%). Dengan nilai p = 0,048 (p < 0,05) maka terdapat perbedaan

ekspresi HER2/neu pada tumor ovarium epitelial tipe jinak, borderline dan ganas.

35
BAB VI

PEMBAHASAN

Penyebab dari kanker ovarium sampai saat ini masih menjadi bahan

perdebatan namun terdapat beberapa faktor resiko yang telah banyak diteliti dan

diduga menjadi pemicu terjadinya kanker ovarium ini diantaranya adalah faktor

genetik, umur, paritas, ras, dan riwayat keluarga dengan kanker payudara dan

kanker ovarium (Ozols RF et al, 2005; Schorge JO, 2008; Fauzan R, 2009). Pada

tingkat biomolekuler diduga kanker timbul oleh karena terjadi mutasi genetik

pada komponen pengendalian pertumbuhan sel normal, dimana salah satunya

adalah proto-onkogen yang mengalami mutasi menjadi onkogen.

Onkogen HER2/neu diduga memegang peranan penting dalam proses

karsinogenesis. Overekspresi dari HER2/neu pada membran sel akan

mengirimkan signal ke dalam inti sel untuk menlakukan proliferasi sel yang lebih

banyak lagi, akibatnya akan terjadi proliferasi sel yang tidak terkendali dan

akhirnya menimbulkan terjadinya kanker. Kanker ovarium juga salah satu kanker

yang patogenesisnya diduga melibatkan overekspresi dari HER2/neu.

Untuk mengetahui perbedaan ekspresi HER2/neu antara tumor ovarium

epitelial tipe jinak, borderline dan ganas, maka dilakukan penelitian dengan

rancangan cross-sectional, yang dilaksanakan di bagian Obstetri dan Ginekologi

dan bagian Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RS

Sanglah Denpasar dimulai dari Januari 2012 sampai Desember 2012, dengan

sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 49 orang.

36
3
6
6.1 Karakteristik Subjek

Rerata umur pada kelompok tumor ovarium epitelial tipe jinak adalah

39,67 + 12,22 tahun, tipe borderline adalah 48,11 + 12,90 tahun dan tipe ganas

adalah 46,46 + 10,43 tahun, dimana secara statistik tidak bermakna, p = 0,685 (p

> 0,05). Demikian pula pada rerata paritas pada kelompok tumor ovarium epitelial

tipe jinak adalah 1,92 + 1,31 orang, tipe borderline adalah 2,56 + 1,74 orang dan

tipe ganas adalah 1,79 + 1,16 orang, dimana secara statistik juga tidak bermakna,

p = 0,302 (p > 0,05). Hal ini sesuai dengan penelitian multisenter di Perancis

terhadap 320 pasien, dimana status HER2/neu tidak memiliki dampak signifikan

terhadap umur ataupun paritas pasien (Tuefferd M et al, 2007).

6.2 Ekspresi HER2/neu

Pada penelitian ini, kami melakukan pemeriksaan terhadap 49 sampel

yang terdiri dari 12 kasus dengan tumor ovarium epitelial tipe jinak, 9 kasus

dengan tumor ovarium epitelial tipe borderline dan 28 kasus dengan tumor

ovarium epitelial tipe ganas. Setelah dilakukan pemeriksaan imunohistokimia

terhadap HER2/neu maka didapatkan hasil bahwa overekspresi HER2/neu pada

tumor ovarium epitelial tipe ganas pada penelitian ini adalah sebesar 46,43% (13

dari 28 kasus), pada tumor ovarium epitelial tipe borderline yang hanya sebesar

28,57% (2 dari 9 kasus), dan pada tumor epitelial tipe jinak hanya sebesar 9,09%

(1 dari 12 kasus).

Sebuah penelitian klinis terhadap prevalensi dan hubungan prognosis

overekspresi HER2/neu pada kasus kanker ovarium epitelial, didapatkan hasil

overekspresi HER2/neu sebesar 13,9% (27 dari 194 kasus) dari kanker ovarium

37
epitelial. Disimpulkan pada penelitian ini bahwa overekspresi HER2/neu

berhubungan peningkatan progresifitas dan kematian kanker ovarium (Verri E et

al, 2005).

Sebuah artikel tinjauan terhadap penelitian-penelitian sebelumnya mulai

tahun 1989 menunjukan bahwa overekspresi HER2/neu pada tumor ovarium

epitelial tipe ganas berkisar antara 1,8 sampai dengan 76%. Pada artikel itu pula

didapatkan bahwa overekspresi HER2/neu pada tumor ovarium epitelial tipe

borderline berkisar antara 10% sampai 66%. Rentang persentase overekspresi

HER2/neu yang sangat lebar ini dikaitkan dengan banyak faktor, antara lain

jumlah sampel, tipe antibodi monoklonal yang digunakan, intensitas pewarnaan,

jaringan yang akan diperiksa dan definisi dari overekspresi HER2/neu (Serrano-

Olvera A et al, 2006).

Sebuah penelitian untuk mengetahui overekspresi dan nilai prognosis dari

HER2/neu pada 44 kasus tumor jinak ovarium dan 124 kasus kanker ovarium

epitelial, didapatkan hasil bahwa tidak ada overekspresi pada tumor jinak ovarium

dan overekspresi HER2/neu pada kanker ovarium epitelial sebesar 24,2%. Hal ini

berhubungan dengan kanker ovarium stadium lanjut, tipe clear cell dan

undifferentiated dan pembedahan suboptimal. Secara simultan overekspresi

HER2/neu berkaitan prognosis penderita kanker ovarium yang lebih buruk

(Martin C et al, 2007).

Sebuah penelitian multisenter di Perancis yang melibatkan 320 pasien

untuk meneliti status HER2/neu pada karsinoma ovarium mendapatkan hasil

overekspresi HER2/neu dengan imunohistokimia sebesar 12,8% (41 kasus).

Mereka juga melakukan melakukan tinjauan pada penelitian-penelitian pilihan

38
sebelumnya sejak tahun 1994, didapati angka overekspresi HER2/neu berkisar

antara 8% sampai 66%. Beberapa penjelasan yang dapat menjelaskan variasi yang

lebar tersebut antara lain : perbedaan metode deteksi (imunohistokimia, FISH

(fluoresence in-situ hybridization) dan chromogenic in-situ hybridization),

perbedaan material dan variasi teknik IHK (CB-11, HercepTest atau antibodi non

komersial). Penelitian ini merupakan penelitian multisenter dalam skala besar

pertama yang pernah dilakukan (Tuefferd M et al, 2007).

Sedangkan penelitian terhadap overekspresi HER2/neu pada tumor

epitelial serous tipe jinak (Marinas MC et al, 2012) didapatkan bahwa

overekspresi HER2/neu sebesar 12,5% (2 kasus dari 15 sampel). Namun pada

penelitian-penelitian terdahulu pada tumor ovarium epiteilal tipe jinak, tidak

didapatkan overekspresi HER2/neu (Ito K et al, 1992; Harlozinska A et al, 1998)

Sebagai hasil utama pada penelitian ini adalah terdapat perbedaan ekspresi

HER2/neu pada tumor ovarium epitelial tipe jinak, borderline dan ganas, dengan

p = 0,048 (p < 0,05). Meskipun HER2/neu pada kanker ovarium menarik untuk

diteliti oleh karena memiliki potensi peranannya pada patofisiologi, faktor

prognosis dan target farmakoterapi (Serrano-Olvera A et al, 2006). Namun hasil

penelitian ini masih belum dapat ditetapkan overekspresi HER2/neu sebagai

penyebab terjadinya kanker ovarium oleh karena inkonsistensi overekspresi

HER2/neu pada penelitian-penelitian sebelumnya. Demikian pula penggunaan

Transtuzumab sebagai pilihan terapi pada penderita kanker ovarium dengan

overekspresi HER2/neu masih belum dapat diberikan, karena masih diperlukan

penelitian-penelitian uji klinis untuk memberikan bukti yang adekuat. Sedangkan

peran overekspresi HER2/neu sebagai faktor prognosis masih memerlukan

39
penelitian-penelitian yang membandingkan antara overekspresi HER2/neu dengan

faktor-faktor prognosis pada kanker ovarium, seperti stadium, tipe histologi atau

diferensiasi sel kanker ovarium.

6.3 Kelemahan Penelitian

Kelemahan penelitian ini adalah menggunakan metode cross sectional

analitik sehingga hanya dapat mengetahui ada tidaknya perbedaan antara

kelompok dan tidak dapat mengetahui kuat lemahnya perbedaan tersebut ataupun

hubungan antara variabel-variabel penelitian. Kemudian penelitian ini

menggunakan data sekunder dimana kelengkapan data menjadi kendala, terutama

pada saat mencari data riwayat keluarga dengan kanker payudara dan kanker

ovarium. Sehingga riwayat keluarga dengan kanker payudara dan kanker ovarium

sebagai faktor resiko terjadinya kanker ovarium tidak dapat dilakukan analisa.

40
BAB VII

SIMPULAN DAN SARAN

7.1 Simpulan

Overekspresi HER2/neu pada tumor ovarium epitelial tipe ganas adalah

sebesar 46,43% dibandingkan dengan overekspresi HER2/neu pada tumor

ovarium epitelial tipe borderline yang hanya sebesar 22,22% dan tipe jinak yang

hanya sebesar 9,09%. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat

perbedaan ekspresi HER2/neu pada tumor ovarium epitelial jinak, borderline dan

ganas, dengan p = 0,048 (p < 0,05).

7.2 Saran

Penelitian lanjutan masih diperlukan dengan memanfaatkan hasil

penelitian ini oleh karena overekspresi HER2/neu pada kanker ovarium menarik

untuk diteliti terkait dengan potensi peranannya pada patofisiologi, faktor

prognosis dan target farmakoterapi kanker ovarium.

41
DAFTAR PUSTAKA

Araoye, M.O. 2003. Sample Size in: Research Methodology with Statistic for
Health and Social Sciences. Ilorin: Nathadex Publishers. P. 115-122.

Badan Registrasi Kanker. 2006. Kanker di Indonesia Tahun 2006 Data


Histopatologik. Jakarta: Yayasan Kanker Indonesia.

Chobanian.N.,Dietrich.C.S. 2008. Ovarian cancer, Surgical Clinics of North


America, PP. 285-299.

Clifford, A.H. 2007. Transtuzumab – Mechanism of action an Use in Clinical


practice. N England Medical Journal, 357:39 – 51.

Elatabbakh GH, Belinson JL, Kennedy AW, Biscotti CV, Casey G, Tubbs RR.
1997. p53 and HER2/neu overexpression in ovarian borderline tumors.
Gynecol Oncol; 65(2):218-24

Fauzan, R. 2009. “Gambaran faktor penggunaan kontrasepsi terhadap angka


kejadian kanker ovarium di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta
berdasarkan pemeriksaan histopatologik tahun 2003-2007” (tesis). Jakarta:
Universitas Indonesia.

Fujimura M, Katsumata N, Tsuda H et al. 2002. HER2 is frequently over-


expressed in ovarian clear cell adenocarcinoma : Possible novel treatment
modality using rerombinant monoclonal antibody againt HER2,
Trastuzumab. Jpn. J. Cancer. Res.;93:1250-1257

Harlozinska A, Bar JK, Goluda M. 1997. p53, c-erbB2, and P21-ras expression in
tumor effusion cells in patient with histopatological different ovarian
neoplasms. Anticancer Res; 17:3545-52

Harlozinska A, Bar JK, Sobanska E, Goluda M. 1998. Epidermal growth factor


receptor and c-erbB-2 oncoproteins in tissue and tumor effusion cells of
histopatological different ovarian neoplasms. Tumour Biol; 19(5): 364-
73.

Ian J, Menon U. 2007. Progress and Challenges in Screening for Early Detection
of Ovarian Cancer. The American Society for Biochemistry and
Molecular Biology. Molecular & Cellular Proteomics 3.4; 355 – 366.

Ito K, Sasano H, Ozawa N, Sato S, Silverberg SG, Yajima A. 1992.


Immunolocalization of epidermal growth factor receptor and c-erbB-2
oncogene product in human ovarian carcinoma. Int J Gynecol
Pathol;11(4):253-7.

42
Karyana K. 2004. Profil Kanker Ovarium Di Rumah Sakit Sanglah Denpasar
Periode Januari 2002 – Desember 2003. PPDS I obstetric dan ginekologi
FK UNUD/RSUP Sanglah Denpasar; 13-16.

Koonings PP, Campbell K, Mishell DR, Grimes DA. 1989. Relative frequency of
primary ovarian neoplasms: A 10-year review. Obstet Gynecol.;74: 921-
926.

Kumar V, Abbas A, Fausto N, Aster J. 2010. Robbins and Cotran Pathologic


Basis of Disease. 8th ed, Saunders Elsevier, Philadelphia.

Lee KR, Tavassoli FA, Prat J, et al. 2003. Tumours of Ovary and Peritoneum -
Surface epithelial-stromal tumours. In: Tavassoli FA, Devilee P. World
Health Organization Classification of Tumours. Pathology and Genetics
of Tumour of the Breast and Female Genital Organs. IARC Press, Lyon;
113-145.

Ling KS, Chen GD, Tsai HJ et al. 2005. Genetic Changes in Ovarian Cancer.
Taiwanese J Obstet Gynecol Vol 44. No 3: 218-230

Marinas MC, Mogos G, Ciurea R, Mogos DG. 2012. EGFR, HER2/neu and Ki67
immunoexpression in serous ovarian tumors. Rom J Morphol Embryol,
53(3): 563–567

Martin C, Laiz F, Santos G, Mena R, Aragon V. 2007. Overexpression and


Prognostic Value of p53 and HER2/neu proteins in benign ovarian tissue
and in ovarian cancer. Med Clin (Barc), 128(1): 1-6

Mayr D, Kanitz V, Ammann G,Engel J,Burges ALohrs U, Diebold. 2006.


HER2/neu gene amplification in ovarian tumors: a comprehensive
immunohistochemical and FISH analysis on tissue microarrays”,
Histopathology, 48: 149 – 156.

Menczer J, Schreiber L, Czernobilsky, Berger E, Golan A, Levy T. 2007. Is Her-


2/neu expressed in nonepitelial ovarian malignancies? Am J Obstet
Gynecol. 196: 76e1-76e4.

Ochiari K. 2005. Prognostic Factors of Ovarian Cancer. Tokyo Jikeikai Medical


Journal, Vol 120; 143-151.

Ozols RF, Rubin SC, Thomas GM, Robboy SJ. 2005. Epitelial Ovarian Cancer.
In: Hoskins WJ, Perez CA, Young RC. Principles and Practice of
Gynecologic Oncology, 4th Edition Lippincott Williams & Wilkins.
P.896-987.

Rosai J. 2004. Breast. In: Rosai and Ackerman’s Surgical Pathology. 9ed
Edinburg: Mosby. P.1763-1876.

43
Schorge JO. 2008. Epitelial Ovarian Cancer. In: Schorge JO, Schaffer JI,
Halvorson LM et al. William Gynecology. The McGraw Hill Companies.

Seidman JD, Cho KR, Ronnet BM, Kurman RJ. 2011. Surface Epithelial Tumor
of the Ovary. In: Kurman RJ, Ellenson LH, Ronnet BM. Blaustein’s
Pathology of Female Genital Tract 6th ed. Springer Science Business
Media. New York; 679-784

Serrano-Olvera A, Duenas-Gonzales A, Gallardo-Rincon D, Candelaria M, Garza-


Salazar J. 2006. Prognostic, predictive and therapeutic implications of
HER2 in invasive epithelial ovarian cancer. Cancer Treatment Review.
32: 180-190.

Tai W, Mahato R, Cheng K. 2010. The role of HER2 in cancer therapy and
targeted drug delivery. Journal of Controlled Released, vol 146:264-275

Tan M.I. 2010. Onkogen. In : Basic Science of Oncology 1st edition. Jakarta:
Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 33-56

Tuefferd M, Couturier J, Penault-Liorca F, Vincent-Salomon A, Broet P, et al.


2007. HER2 Status in Ovarian Carcinoma: A Multicenter GINECO
Study of 320 patients. PloS ONE 2(11): e1138. doi:
10.1371/journal.pone.0001138

Tzahar et al.1997. Bivalence of EGF like ligand drives the ErbB signaling
network EMBO J, 4938-4950.

Van de Vijver M, Bilous M, Hanna W, Hofmann M, Kristel P, Liorca F,


Ruschoff J. 2006. Chromogenic in Situ Hybridisation for The
Assessment of HER2 status in Breast Cancer: an International Validation
Ring Study, Breast Cancer Research, 9(5):1- 9.

Verri E, Guglielmini P, Puntoni M, Perdelli L, Papadia A, Lorenzi P, Rubagotti A,


Ragni N, Boccardo F. 2005. HER2/neu Oncoprotein Overexpression in
Epithelial Ovarian Camcer: Evaluation of its Prevalence and Prognostic
Significance Clinical Study. Oncology;68:154-161

Wu Y, Soslow RA, Marshall DS, et al. 2004. Her2/neu expression and


amplification in early stage ovarian surface epitelial neoplasma.
Gynecology Oncology Vol 95; 570-575.

44
DATA PENELITIAN

Kelompok Tumor Ovarium Epitelial tipe Ganas


No. Nama Umur Paritas Menopause Perut membesar Konsistensi Tumor Ca 125 HER2/neu
1 Sua 50 2 ya < 6 bulan campuran 239,69 0
2 Suri 34 2 tidak < 6 bulan campuran 302,84 1
3 Maw 48 0 ya < 6 bulan campuran 468 0
4 Gan 59 3 ya < 6 bulan campuran (-) 3
5 Nur 49 3 ya < 6 bulan campuran > 600 2
6 Ren 46 2 tidak < 6 bulan padat > 600 1
7 Yul 30 1 tidak < 6 bulan campuran (-) 1
8 Rus 40 0 tidak > 6 bulan kistik 33,85 3
9 Sab 64 3 ya < 6 bulan campuran > 600 0
10 Sri 44 2 tidak < 6 bulan campuran (-) 3
11 Wit 60 3 ya < 6 bulan campuran (-) 1
12 Sar 48 2 tidak < 6 bulan kistik 169 0
13 Nur 45 2 ya < 6 bulan campuran 379 0
14 Sit 28 2 tidak < 6 bulan campuran 12,91 3
15 Suk 44 0 tidak < 6 bulan padat 221,73 0
16 Wid 43 2 tidak < 6 bulan campuran (-) 3
17 Nar 36 2 tidak < 6 bulan campuran 1357 3
18 Mer 50 2 ya < 6 bulan kistik > 600 3
19 Lat 47 2 ya < 6 bulan campuran (-) drop out
20 Sud 37 3 tidak < 6 bulan campuran (-) 2
21 Suci 47 2 tidak < 6 bulan padat (-) drop out
22 Tal 63 3 ya < 6 bulan kistik (-) 0
23 Sar 48 2 ya < 6 bulan campuran (-) 0
24 Suw 38 1 ya < 6 bulan campuran > 600 1
25 Tin 52 4 ya < 6 bulan padat (-) 2
26 Sur 55 0 ya < 6 bulan campuran (-) 2
27 Ali 39 0 tidak < 6 bulan kistik 31,47 2
28 Nye 67 0 ya > 6 bulan campuran 84,3 1
29 Win 35 2 tidak < 6 bulan campuran 26 1
30 Son 56 3 ya < 6 bulan kistik (-) 0

Kelompok Tumor Ovarium Epitelial tipe Borderline


No. Nama Umur Paritas Menopause Perut membesar Konsistensi Tumor Ca 125 HER2/neu
1 The 39 3 ya < 6 bulan kistik 44,37 drop out
2 Sun 38 3 tidak < 6 bulan campuran 26,1 drop out
3 Suc 19 0 tidak > 6 bulan kistik (-) 1
4 Sua 57 4 ya < 6 bulan campuran 49,39 3
5 Gat 56 5 ya < 6 bulan kistik 111,08 1
6 Lat 55 3 ya > 6 bulan campuran (-) 0
7 Sud 50 2 ya > 6 bulan kistik 19,57 1
8 Rus 35 2 tidak < 6 bulan kistik 224,5 0
9 Mur 48 3 tidak < 6 bulan campuran 8,81 2
10 Ter 56 2 ya < 6 bulan kistik 61,7 0
11 Ria 25 1 tidak > 6 bulan kistik 21,87 1

Kelompok Tumor Ovarium Epitelial tipe Jinak

45
No. Nama Umur Paritas Menopause Perut membesar Konsistensi Tumor Ca 125 HER2/neu
1 Dar 22 1 tidak tidak kistik (-) 1
2 Uly 28 0 tidak < 6 bulan kistik 63,6 0
3 Ari 43 1 tidak > 6 bulan kistik (-) 0
4 Bud 31 1 tidak tidak kistik (-) 0
5 Sud 42 0 tidak > 6 bulan kistik (-) 3
6 Jat 33 3 tidak > 6 bulan kistik 16,8 1
7 Mur 38 2 tidak tidak kistik (-) 0
8 Ula 50 3 ya > 6 bulan kistik (-) 0
9 Ali 48 2 tidak tidak kistik 15 drop out
10 Mir 56 5 ya > 6 bulan kistik 21,83 0
11 Ver 30 1 tidak > 6 bulan kistik (-) 0
12 Wir 42 0 tidak > 6 bulan kistik 112 1
13 Tir 19 0 tidak < 6 bulan kistik 28,03 1

46
HASIL PENELITIAN

Descriptives
95% Confidence
Interval for Mean
Std. Std. Lower Upper
N Mean Deviation Error Bound Bound Minimum Maximum
Umur Ganas 28 46.46 10.433 1.972 42.42 50.51 28 67
Borderline 9 48.11 12.908 4.303 38.19 58.03 19 57
Jinak 12 39.67 12.228 3.530 31.90 47.44 19 56
Total 49 45.10 11.551 1.650 41.78 48.42 19 67
Paritas Ganas 28 1.79 1.166 .220 1.33 2.24 0 4
Borderline 9 2.56 1.740 .580 1.22 3.89 0 5
Jinak 12 1.92 1.311 .379 1.08 2.75 0 5
Total 49 1.96 1.322 .189 1.58 2.34 0 5

Test of Homogeneity of Variances

Levene Statistic df1 df2 Sig.


Umur .382 2 46 .685
Paritas 1.229 2 46 .302

ANOVA

Sum of Squares df Mean Square F Sig.


Umur Between Groups 487.970 2 243.985 1.897 .162
Within Groups 5916.520 46 128.620
Total 6404.490 48
Paritas Between Groups 4.065 2 2.033 1.171 .319
Within Groups 79.853 46 1.736
Total 83.918 48

Histologi * Overekspresi Her2/neu

47
Overekspresi Her

Postif Negatif Total


Histologi Ganas 13 15 28
Borderline 2 7 9
Jinak 1 11 12
Total 16 33 49

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)


Pearson Chi-Square 6.089a 2 .048
Likelihood Ratio 6.814 2 .033
Linear-by-Linear Association 5.880 1 .015
N of Valid Cases 49
a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2.94.

48