Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA (BI-2105)

KROMATOGRAFI PIGMEN MATA PADA LALAT BUAH


(Drosophila melanogaster)

Tanggal praktikum: 29 September 2017


Tanggal pengumpulan: 06 Oktober 2017

Disusun oleh:
Eprilia Monica Hasanah
10616004
Kelompok 15

Asisten:
Darma Ng Rimbawan
10615065

PROGRAM STUDI BIOLOGI


SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Pada tahun 1941, George Beadle dan Edward Tatum mengadakan percobaan
dengan jamur roti merah. Mereka mengarahkan sinar X ke jamur tersebut yang
menyebabkan jamur tersebut mengalami mutasi. Jamur tersebut kehilangan
kemampuan memproduksi senyawa organik tertentu agar dapat bertahan hidup.
Kemudian mereka menambahkan senyawa yang berbeda namun serupa yang
mengakibatkan jamur tersebut bereaksi dan dapat mensintesis bahan kimia yang
diperlukan. Beadle menyimpulkan bahwa karakteristik fungi gen adalah
mengendalikan sintesis enzim tertentu. Dari percobaan tersebut, Beadle dan
Tatum menarik hipotesis bahwa gen mengkode enzim dan menyimpulkan satu
gen mensintesis satu enzim (one gene-one enzyme). Setelah berpuluh tahun
ditemukan bahwa gen mengkode protein yang tidak hanya berfungsi sebagai
enzim saja dan beberapa portein tersusun dari dua atau lebih polipeptida. Dengan
adanya penemuan baru tersebut Beadle dan Tatum memodifikasi teori mereka
menjadi satu gen satu polipeptida (one gene-one polipeptide). Manfaat dari
percobaan tersebut adalah semakin berkembangnya ilmu genetika dengan adanya
pembuktian bahwa enzim diatur oleh gen dalam kromosom dan ditemukan juga
gen pengendali sisntesis protein (Judd, 2010).

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah:
1. Menentukan nilai Rf dari hasil kromatografi pigmen mata pada lalat buah
(Drosophila melanogaster)
2. Menetukan kelompok pigmen mata pada mutan berdasarkan hasil
pemberian sinar UV
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hubungan Gen, DNA, Protein dan Enzim


Gen adalah unit pewarisan sifat yang mempunyai ciri-ciri tersendiri yang
mempengaruh karakter fenotipe. Gen merupakan daerah urutan nukleotida
spesifik di sepanjang molekul DNA. Gen bertugas untuk mengkode rantai
polipeptida tertentu. Dalam mempelajari gen maka akan kita kenal istilah
sentradogma biologi yang menyatakan didalam gen terdapat DNA yang akan di
trankripsi menjadi RNA kemudian akan ditranslasi menjadi protein (Campbell et,
al. 2002)
DNA (asam deoksiribonukleat) adalah materi genetik dari sebagian besar
organisme. Tiap kromosom merupakan suatu molekul DNA yang panjang.
Molekul kimia penyusun DNA disebut nukleotida. Satu nukleotidda terdiri dari
satu molekul gula, dan satu molekul fosfat yang terikat pada satu basa DNA yaitu
timin, adenin, guanin dan sitosin (Brookes, 1999)
Protein adalah polimer panjang yang tersusun atas asam amino. Secara umum
ada 20 macam asam amino berbeda pada tiap protein. Semuaasam amino itu
teresonansi secara biologis dengan sempurna. Protein berfungsi sebagai
pensinyalan sel, respons imun untuk antibodi, faktor penggumpalan darah,
struktur kromatin, pergerakan hingga unsur sitoskeletal (Elrod & Stansfield,
2002).
Enzim adalah suatu kelompok protein yang menjalankan dan mengatur
perubahan kimia dalam sistem biologi. Enzim terdapat banyak didalam organ
organisme hidup berupa koloidal. Enzim terdapat dibagian dalam sel, mitokondria
dan ribosom. Enzim dihasilkan oleh organ hewan dan tanaman yang secara katalik
menjalankan berbagai reaksi seperti pemecahan hidrolisis, oksidasi, reduksi,
isomerasu, adisi, dan pemutusan rantai karbon (Sumardjo, 2006)
Informasi genetika suartu organisme terdapat dalam kromosom. Dna
merupakan polimer dari empat macam nukleotida. Gen merupakan bagian dari
suatu molekul DNA yang mengkode suatu rantai RNA dan polipeptida. Gen dapat
ditranskripsi dan ditranlasi menjadi suatu protein. Protein terbagi dua, ada yang
bisa sebagai protein sturktural untuk membentuk sel dan ada yang sebagai enzim
untuk mengkatalis reaksi yang terjadi dalam sel (Strickberger, 1962)

2.2 Hubungan Kerja Protein dengan Pigmen Mata


Protein pigmen mata pada Drosophila melanoaster dipengaruhi oleh aktivitas
produk gen. Protein dapat berfungsi sebagai protein struktural yang membentuk
sel atu juga dapat mengkatalis reaksi yang terjadi dalam sel. Fenotip mata lalat
buah dapat terlihat dari aktivitas protein tersebut. Apabila suatu gen termutasi
maka akan menyebabkan urutan nukleotida dari gen tersebut berubah dan
mengakibatkan perubahan fenotipe. Jika lalat merupakan lalat resesif maka
disalah satu pigmen tersebut akan mengalami mutasi yang menyebabkan pigmen
tidak aktif (Strickberger, 1962)
Pada pigmen mata Drosophila melanoaster terdapat pteridin yang
menyebabkan warna mata lalat buah merah. Pteridin pada lalat buah terbagi dua
yaitu Ommokrom yang menyebabkan warna cokelat pada mata dan Drosopterin
yang menyebabkan warna merah pada mata. Jika ada lalat mutasi pada matanya
berarti hanya ada satu pigmen yang aktif atau bahkan kedua pigmen tersebut tidak
aktif. Jika terjadi mutasi warna mata menjadi cokelat berarti drosopterin tidak
terbentuk dan apabila mata termutasi jadi warna merah terang berarti ommokrom
tidak terbentuk (Falk, 2009)

2.3 Alur Sintesis Pigmen Mata Drosopterin dan Ommokrom


Gambar 2.3 Biosintesis pigmen mata Drosophila melanogaster
(dokumentasi pribadi, 2017)
2.4 Prinsip Dasar Kromatografi dan Rf
Kromatografi adalah pemisahan zat berdasarkan fasa stationer dan fasa
bergerak. Fasa stationer disini dapat berupa kertas saring dan gel sedangkan fasa
bergerak dapat berupa eluen yang terdiri dari campuran pelarut. Pada
kromatografi kertas memanfaatkan kerja kapiler dari larutan. Kertas berguna
sebagai media perantara untuk memisahkan pigmen warna pada mata lalat. Bahan
yang akan dipisahkan diletakkan pada kertas saring kemudian kertas dicelupkan
ke dalam eluen. Eluen pada kertas saring itu akan bergerak keatas secara kapiler.
Bahan akan mengalami kesetimbangan antara pelarut yang stationer dengan
pelarut yang bergerak. Jika suatu senyawa lebih larut dalam pelarut stationer maka
pergerakannya lebih lambat dibandingkan dengan bahan yang lebih terlarut dalam
pelarut bergerak (Sisunandar, 2014)
Kromatografi bertujuan untuk memisahkan zat berdasarkan kepolarannya.
Pada sifat kepolaran, larutan yang bersifat non-polar akan mudah tertarik dengan
sesama sifat non-polar, begitu juga sebaliknya dengan sifat polar yang akan lebih
mudah menarik yang sesama polar. Nilai Rf yang semakin besar dapat diartikan
semakin non-polar, karena semakin tinggi berarti zat tersebut semakin terbawa
dengan eluen yang bersifat non-polar. Jika nilai Rf semakin kecil, itu dapat
diartikan semakin polar karena zat tersebut tertahan oleh kertas yang bersifat non-
polar (Bruner, 1985).
Harga Rf mengukur kecepatan bergeraknya zona relatif terhadap garis depan
pengembang. Kromatogram yang dihasilkan diuraikan dan zona-zona dicirikan
oleh nilai Rf.
𝑎
𝑅𝑓 =
𝑏

Keterangan: a = jarak tempuh senyawa (cm), b = jarak tempuh larutan (cm)

Pengukuran dilakukan dengan mengukur jarak dari pusat awal ke garis depan.
Nilai Rfakan menunjukan identitas suatu zat yang dicari (Bruner, 1985)
BAB III
METODE KERJA
3.1 Alat dan bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum terdapat dalam tabel 3.1

Tabel 3.1 Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum


Alat Bahan
 Lalat buah normal  Gunting
 Muatan White  Penggaris
 Mutan warna mata gelap (Sepia)  Pensil
 Mutan warna mata terang (Claret)  Jarum pentul
 Kertas saring whatman no.1  Alat penjepret
 Larutan NBA (M-Butanol : asam  Bejana kromatograf dengan tutup
asetat : akuades = 20 : 3 : 7 kaca
 Vaselin  Pengering rambut/oven
 Sinar ultra violet

3.2 Cara kerja

3.2.1 Pengguntingan Kertas Kromatografi


Sebelum melakukan kromatografi dilakukan persiapan pada kertas
saring terlebih dahulu. Kertas saring digunting dengan ukuran 10 x 14 cm.
Dibuat dua garis sejajar disisi yang 10 cm dengan pensil, yang pertama 1.5
cm dari sisi dan yang kedua 10 cm dari garis pertama. Diberi tanda O pada
garis pertama dengan jarak masing-masing 1.5 cm. Ditulis nama kelompok
disebelah atas kertas.

3.2.2 Kromatografi
Bejana diisi dengan larutan NBA sampai 1 cm. Dipilih 4 jenis lalat
buah dengan fenotipe berbeda. Setiap fenotipe yang sama diambil 3 ekor lalat
dan dipotong kepalanya dengan jarum pentul. Diletakkan setiap 3 kepala lalat
buah dengan fenotipe sama di atas tanda O dan ditekan kepalanya. Setiap
kertas saring harus ada kepala lalat nomal, white, mutan mata terang dan
mutan mata gelap. Kertas saring digulung hingga sisi kanan dan kirinya
bertemu lalu dijepret dibagian atas dan bawahnya. Kertas saring dimasukkan
ke dalam bejana. Bejana ditutup dan dioleskan vaselin hingga tertutup rapat.
Kertas saring didiamkan beberapa jam sampai larutan bergerak melewati
kedua garis. Kertas saring diambil dan ditandai batas pergerakan eluen
dengan pensil. Kertas dikeringkan dan diamati dibawah sinar UV. Bercak
yang terlihat dibawah sinar diberi tanda dengan pensil dan dicatat setiap
warnanya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

4.1.1 Foto Hasil Pengamatan


Hasil pengamatan pada praktikum terdapat dalam tabel 4.1.1

Tabel 4.1.1 Hasil pengamatan praktikum


Sebelum diamati dengan Setelah diamati dengan
sinar UV sinar UV

Gambar 4.1.2 Sesudah Sinar UV


(Dokumentasi pribadi, 2017)

Gambar 4.1.1 Sebelum Sinar UV


(Dokumentasi pribadi, 2017)

4.1.2 Perhitungan Rf
Berdasarkan hasil pengamatan, perhitungan nilai Rf pada praktikum
terdapat dalam tabel 4.1.2 dan dapat dicari dengan rumus:

𝑎
𝑅𝑓 =
𝑏

Keterangan: a = jarak tempuh senyawa (cm), b = jarak tempuh larutan (cm)


Tabel 4.1.2 Hasil pengamatan praktikum
Mutan Nilai a (cm) Nilai b (cm) Nilai Rf
Wildtype 3,2 7,2 0, 5139
White 0 7,2 0
Sepia 4,7 7,2 0,6528
Claret 3,8 7,2 0,5278

4.2 Pembahasan
4.2.1 Hasil Sinar UV
Dari hasil percobaan yang didapatkan, pada lalat buah normal setelah
hasil kromatografi dilihat pada sinar UV menghasilkan dua warna menyala
yaitu orange dan biru. Hal ini berarti bahwa lalat buah normal memilki dua
kelompok pigmen mata yaitu drosopterin dan ommokrom. Pada tipe White,
setelah hasil kromatografi di beri sinar UV tidak menghasilkan warna apapun.
Hal ini berarti mutan White tidak memiliki pigmen mata drosopterin ataupun
ommokrom pada matanya. Pada mutan Sepia menghasilkan warna hijau
kebiruan yang berarti lalat mutan ini memiliki pigmen mata kelompok
sepiapterin (Dahmann, 2008).
Pada lalat tipe Claret, hasil kromatografi yang dilhat pada UV
menghasilkan dua warna yaitu orange dan biru. Sementara berdasarkan
literatur, Claret yang memiliki warna mata merah terang seharusnya hanya
memiliki pigmen mata kelompok drosopterin saja. Maka dalam praktikum ini
telah terjadi kesalahan data. Kesalahan tersebut bisa terjadi karena beberapa
faktor , yang mungkin disebabkan oleh bejana tempat merendam kertas saring
tidak terlalu rapat, saat memotong dan mengambil kepala lalat Claret untuk
ditekan terkontaminasi dengan jarum pentul yang telah digunakan
sebelumnya untuk lalat normal dan juga mungkin karena saat menekan kepala
lalat untuk dikeluarkan pigmen matanya, kepala tidak sepenuhnya hancur.
(Dahmann, 2008).
4.2.2 Hasil Rf dan Perbandingannya dengan Literatur
Kromatografi adalah pemisahan zat berdasarkan fasa stationer dan fasa
bergerak. Kromatografi bertujuan untuk memisahkan zat berdasarkan
kepolarannya. Pada sifat kepolaran, larutan yang bersifat non-polar akan
mudah tertarik dengan sesama sifat non-polar begitu juga sebaliknya dengan
sifat polar yang akan lebih mudah menarik yang sesama polar (Bruner, 1985).
Berdasarkan percobaan, nilai Rf yang semakin besar dapat diartikan
semakin non-polar, karena semakin tinggi berarti zat tersebut semakin
terbawa dengan eluen yang bersifat non-polar. Jika nilai Rf semakin kecil, itu
dapat diartikan semakin polar karena zat tersebut tertahan oleh kertas yang
bersifat non-polar. Pada percobaan diketahui bahwa pigmen mata lalat buah
yang bersifat paling polar adalah drosopterin dan yang paling bersifat non-
polar adalah sepiapterin. Dapat disimpulkan bahwa semakin besar Rf nya
maka pigmen mata semakin bersifat non-polar karena tidak mempunyai
afinitas dengan selulosa (Bruner, 1985)

4.2.3 Fungsi Larutan NBA dan Vaseline


Pada praktikum kali ini digunakan larutan NBA sebagai eluen yang
terdiri dari N-Butanol, asam asetat glasial dan aquades dengan perbandingan
20:3:7. Larutan NBA mempunya sifat kepolaran yang berbeda-beda yang
digunakan untuk melihat gradasi warna yang terjadi di kertas saring pada
proses kromatografi (Falk, 2009).
Vaselin digunakan pada saat bejana ditutup. Vaseline digunakan dengan
cara dioleskan di sekat permukaan tutup bejana dengan dinding benjana
dengan tujuan agar bejana tersebut tertutup rapat sehingga tidak ada udara
yang dapat masuk melalui celah antara mulut bejana dengan penutup. Hal ini
bertujuan untuk mencegah eluen menguap (Nasir, 1992)
4.2.4 Fungsi Penggunaan Sinar UV
Fluoresensi adalah karakteristik suatu molekul yang ditunjukan oleh
kemampuan untuk mengabsobsi suatu cahaya yang kemudian memancarkan
cahaya lagi namun cahaya yang dipancarkan kembali memiliki warna berbeda
dengan warna cahaya awalnya. Fluoresensi terjadi apabila sebuah molekul
meyerep suatu cahaya yang memiliki energi tinggi sehingga elektron dari
molekul itu tereksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi dibanding ground
state.
Pada praktikum ini prinsip fluoresensi digunakan pada lampu sinar UV.
Peristiwa fluoresensi biasanya terjadi pada senyawa tertentu yang mempunyai
kemampuan untuk memendarkan cahaya. Penggunaan sinar UV pada
praktikum ini karena pigmen mata lalat buah (Drosophila melanogaster)
tidak dapat dilihat menggunakan cahaya putih ataupun lampu neon. Pigmen
mata lalat memiliki sifat dapat memendarkan cahaya sehingga setelah
diterangkan dengan sinar UV akan terlihat semua perubahan warnanya pada
kertas saring (Dahmann, 2008)
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum ini adalah:
1. Nilai Rf lalat Wildtype = 0,5139
Nilai Rf mutan lalat Sepia = 0,6528
Nilai Rf mutan lalat White = 0
Nilai Rf mutan lalat Claret = 0,5278
2. Pigmen mata pada lalat buah normal yaitu drosopterin dan ommokrom
karena saat kromatografi menghasilkan warna orange dan biru. Pada Sepia
pigmen matanya berupa sepiapterin karena saat kromatografi
menghasilkan warna hijau. Pada claret saat kromatografi menghasilkan
warna orange dan biru yang menunjukan memiliki pigmen mata
drosopterin dan ommokrom, padahal seharusnya hanya pigmen
drosopterin yang muncul. Sedangkan pada White tidak memiliki pigmen
mata sehingga tidak muncul warna apapun saat kromatografi.

5.2 Saran
Mungkin bisa disajikan lebih banyak media sinar UV agar dalam
pengerjaannya tidak terlalu memakan waktu diantrean seperti saat praktikum
kemarin.
DAFTAR PUSTAKA

Brookes, Martin. 1999. Bengkel Ilmu GENETIKA. Jakarta: Penerbit Erlangga. hh.
12-13
Bruner, F. 1985. The Science Of Chromatography. United States: Elsevier
Publishing Company
Campbell, Neil A, et.al. 2002. BIOLOGY, Fifth Edition. Jakarta: Penerbit
Erlangga. hh. 335
Dahmann, Christian. 2008. Drosophila: Methods and Protocol. United States:
Humana
Elrod, Susan L. and Stansfield, William D. 2002. Schaum’s Outlines of Theory
and Problems of GENETICS, fourth edition. Jakarta: Penerbit Erlangga.
hh. 56
Judd, Sandra. 2010. Genetic disorders source book. United States: Omnigraphics,
Inc.
Nasir, Mochammad, dkk. 1993. Penuntun Praktikum Biologi Umum. Jakarta:
Depdikbud
Sisunandar, Ph.D. 2014. Penuntun Praktikum Genetika. Purwokerto: UMP
Strickberger, M.W. 1962. Experiments in Genetics with Drosophila. John Wiley
and Sons. Inc., New York
Sumardjo, Damin. 2006. PENGANTAR KIMIA:BUKU PANDUAN KULIAH
MAHASISWA KEDOKTERAN DAN PROGRAM STRATA I FAKULTAS
BIOEKSAKTA. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. hh.389