Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA (BI-2105)

ISOLASI DNA GENOM DAN AMPLIFIKASI GEN SATT308


TANAMAN KEDELAI (Glycine max)

Tanggal praktikum: 27 Oktober 2017


Tanggal pengumpulan: 24 November 2017

Disusun oleh:
Rika Rahma Putri
10616015
Kelompok 4

Asisten:
Putri Azhari
10614060

PROGRAM STUDI BIOLOGI


SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Isolasi DNA pertama kali dilakukan oleh ilmuwan asal Swiss bernama
Friedrich Miescher pada tahun 1869. Ia memilih sel yang terdapat pada
nanah untuk dipelajari dan ia mendapatkan sel-sel tersebut dari bekas
pembalut luka yang diperolehnya dari ruang bedah. Sel-sel tersebut
dilarutkan dalam asam encer dan dengan cara ini diperolehnya inti sel
yang masih terikat pada sejumlah protein. Kemudian dengan
menambahkan enzim pemecah protein, ia dapat memperoleh inti sel saja.
Dengan cara ekstraksi terhadap inti sel tersebut, ia memperoleh suatu zat
yang larut dalam basa tetapi tidak larut dalam asam yang mengandung
nitrogen dan fosfat. Pada waktu itu ia belum menemukan rumus kimia dari
zat tersebut, sehingga ia menamakannya nuclein (Rian, 2013). Namun
pada tahun 1889 muridnya yaitu Richard Altmann menamainya asam
nukleat (Shmaefsky, 2006). Metode yang digunakan oleh Miescher adalah
alkalyne lysis untuk memecahkan sel dan mengisolasi DNA.
Molekul DNA dalam suatu sel dapat diekstraksi atau diisolasi untuk
berbagai macam keperluan seperti amplifikasi dan analisis DNA melalui
elektroforesis. Isolasi DNA dilakukan dengan tujuan untuk memisahkan
DNA dari bahan lain seperti protein, lemak, dan karbohidrat (Corkill dan
Rapley, 2008). Menurut Wilson dan Walker (2010), isolasi DNA sangat
penting untuk mendapatkan sampel DNA yang murni kandungannya agar
dapat dianalisa dan dimanipulasi. Amplifikasi dilakukan untuk
menghasilkan sejumlah gandaan untai DNA pada bagian tertentu.
Sedangkan elektroforesis dilakukan untuk memisahkan, mengidentifikasi
mengkarekterisasi dan purifikasi dari molekul DNA.
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum Isolasi Dna Genom dan Amplifikasi Gen
SATT308 Tanaman Kedelai (Glycine Max) adalah untuk:
1. Mengisolasi DNA tanaman kedelai (Glycine Max) dengan metode
CTAB.
2. Mengamplifikasi gen SATT308 dari DNA tanaman kedelai
(Glycine Max) dengan metode PCR.
3. Menentukan hasil elektroforesis genom sampel DNA yang
diisolasi dari hasil PCR Gen SATT308 dari tanaman keledai
(Glycine Max).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Metode Isolasi CTAB


Metode isolasi ini menggunakan detergen yaitu cetyl
trimethylammonium bromide (CTAB) juga sering dipakai untuk
melisiskan membran sel pada isolasi DNA tumbuhan (Bettelheim dan
Landesberg, 2007). Prinsip metode ini adalah menghasilkan pita DNA
yang berukuran tebal dan dapat memisahkan DNA dari polisakarida
karena adanya perbedaan karakteristik kelarutan (differensial of solubility).
Di samping diperoleh fragmen DNA, dengan metode CTAB juga akan
diperoleh RNA dengan pita tipis yang terletak jauh berada di bawah pita
DNA. Keberadaan pita RNA tergantung bahan yang diekstraksi (Rosana,
2014).
Selain menggunakan CTAB, pada proses lisis dengan menggunakan
detergen dapat juga menggunakan sodium dodecyl sulphate (SDS) sebagai
tahap pelisisan membran sel. Detergen tersebut selain berperan dalam
melisiskan membran sel juga dapat berperan dalam mengurangi aktivitas
enzim nuklease yang merupakan enzim pendegradasi DNA (Switzer,
1999).
Faktor kegalalan dalam isolasi DNA ada beberapa hal. Pertama,
Konsentrasi NaCl tidak di atas 1.0 M. Hal ini untuk mencegah
terbentuknya kompleks CTAB-DNA. Karena jumlah air dalam pelet sel
sulit diprediksi, maka penggunaan CTAB sebagai pemecah larutan harus
dengan NaCl dengan konsentrasi minimal 1.4 M. Kedua, ekstrak dan
larutan sel yang mengandung CTAB tidak disimpan pada suhu ruang
karena kompleks CTAB-DNA bersifat insoluble pada suhu di bawah
15°C. Ketiga, penggunaan CTAB dengan kemurnian yang kurang baik
akan menyebabkan kemurnian DNA yang didapatkan kurang baik pula
dan terdapat kontaminasi polisakarida (Surzycki, 2000).
2.2 Polymerase Chain Reaction (PCR)
Polymerase Chain Reaction (PCR) adalah suatu alat yang digunakan
untuk memperbanyak DNA dalam suatu kondisi in vitro. Tekniknya
adalah dengan memperbanyak suatu segmen spesifik dari DNA molekul
tertentu. Alat ini dibuat oleh Kary Mullis pada tahun 1985 yang meraih
penghargaan nobel pada tahun 1993 atas hasil penemuannya ini. Masalah
yang timbul sebagai awal penciptaan PCR ini adalah bagaimana cara
meneliti tentang suatu rantai DNA, namun sumber DNA yang tersedia
hanya sedikit. Maka diciptakanlah metode PCR yang bisa masih bisa
dimanfaatkan oleh para ahli di bidang genetika sampai sekarang (Lo,
2006).
Prinsip kerja PCR adalah proses penggandaan (amplifikasi) DNA
target tertentu dibantu oleh enzim DNA polymerase yang akan
memperbanyak bagian spesifik yang diinisiasi oleh primer dengan cara
menghubungkan dNTP-dNTP dalam suatu reaksi termal (Wolfe, 1993).
Siklus PCR dapat dilihat pada gambar 2.2 berikut ini,

Gambar 2.2 Siklus PCR


(Sambrook, 2001)

Keterangan : Dari profil di atas, terjadi


1. Denaturasi (1) pengulangan proses 2 – 3 – 4
sebanyak 30 kali (30 siklus)
2. Denaturasi (2,3,...,n)
3. Annealing
4. Elongasi (1,2,...,n-1)
5. Elongasi (n)
6. Cooldown
Dalam penggunaannya, PCR dapat mengalami kegagalan. Menurut
Sambrook et al., (2001), terdapat beberapa faktor kegagalan PCR yaitu
sebagai berikut:
1. Konsentrasi dan kualitas DNA
Konsentrasi DNA sebesar 0,01-0,1 µg setiap µl larutan template sudah
cukup baik untuk PCR. Namun yang paling penting adalah DNA harus
bebas dari pengotor seperti protein atau bahan-bahan yang tersisa saat
purifikasi seperti fenol atau alkohol. Purifikasi dapat dilakukan dengan
menggunakan GFX DNA Column. DNA yang digunakan sebagai cetakan
dapat berupa rantai tunggal maupun rantai ganda. Efisiensi amplifikasi
biasanya dapat lebih tinggi jika menggunakan molekul DNA yang sudah
dilinearkan dengan suatu enzim restriksi tertentu daripada menggunakan
DNA yang berbentuk sirkular.
2. Temperatur Annealing dari kedua primer
Ukuran dan komposisi primer sangat mempengaruhi temperatur
penempelan primer terhadap untaian DNA target. Umumnya primer
sebesar 17-30 basa nukleotida dengan komposisi GC lebih dari 50%.
3. Konsentrasi MgCl2
Konsentrasi MgCl2 sangat mempengaruhi spesifikasi produk PCR,
aktivitas serta kekhususan kerja enzim, penguatan primer mencapai suhu
optimumnya (primer annealing) dan penguatan fungsi primer dalam
sintesis pemanjangan rantai nukleotida. Konsentrasi optimumnya 1,5-4,0
mM. Namun, apabila preparasi DNA banyak menggunakan EDTA untuk
pengawetnya maka MgCl2 akan lebih tinggi dari keadaan normal.
4. Enzim Polimerase
Konsentrasi enzim yang digunakan sangat tergantung dari jenis enzim.
Pada umumnya konsentrasi optimum berkisar antara 1,0-2,5 unit enzim
setiap volume reaksi 50 µl. Sebaiknya pemakaian enzim tidak melebihi 2,5
unit karena malah justru akan menurunkan spesifitasnya.
5. Konsentrasi dan kualitas primer
Kualitas primer sangat tergantung pada kualitas oligoprimer dan OD
(optical density). Namun demikian, konsentrasi primer sekitar 20 pmol
sudah cukup memadai untuk amplifikasi PCR. Konsentrasi primer yang
lebih tinggi dari 1,0 µM dapat menyebabkan terakumulasinya hasil
polimerisasi yang nonspesifik.

2.1 Elektroforesis
Elektroforesis adalah suatu teknik pemisahan molekul selular
berdasarkan ukurannya, dengan menggunakan medan listrik yang dialirkan
pada suatu medium yang mengandung sampel yang dipisahkan. Teknik ini
dapat digunakan dengan memanfaatkan muatan listrik yang ada pada
makromolekul, misalnya DNA yang bermuatan negatif (Triwibowo,
2005).
Prinsip kerjanya adalah jika molekul yang bermuatan negatif (DNA)
dilewatkan melalui suatu medium, misalnya gel agarosa, kemudian dialiri
arus listrik dari satu kutub ke kutub yang berlawanan muatannya (positif),
maka molekul tersebut akan bergerak dari kutub negatif ke kutub positif
(elektroforesis) melalui membran matriks gel agarosa tersebut
(Triwibowo, 2005).
Menurut Wolfe (1993) dalam proses elektoforesis terdapat beberapa
faktor yang mempengaruhi laju pergerakan dari molekul DNA, yaitu:
1. Ukuran Molekul DNA
Molekul yang berukuran lebih kecil akan cepat bergerak melewati gel
karena hambatan yang akan dihadapi tidak lebih banyak dibandingkan
molekul berukuran besar.
2. Konsentrasi gel
Semakin tinggi konsentrasi agarosa, semakin kaku gel yang dibuat
sehingga sukar untuk dilewati molekul-molekul DNA. Konsentrasi
agarosa yang lebih tinggi memudahkan pemisahan DNA yang berukuran
kecil, konsentasi agarosa yang lebih rendah memudahkan pemisahan DNA
dengan ukuran yang lebih besar.
3. Bentuk molekul
Molekul yang memiliki bentuk elips atau fibril akan lebih cepat
bergerak dibandingkan dengan yang berbentuk bulat.
4. Densitas muatan
Densitas muatan yaitu muatan per unit volume molekul. Molekul
dengan densitas muatan tinggi akan bergerak lebih cepat dibandingkan
molekul dengan densitas muatan yang rendah.
5. Pori-pori gel
Semakin kecil pori-pori gel yang digunakan, semakin lambat
pergerakan molekul DNA.
6. Voltase
Semakin tinggi tegangan listrik yang diberikan, semakin cepat
pergerakan molekul DNA.
7. Larutan buffer elektroforesis
Buffer dengan kadar ion tinggi akan menaikkan konduktansi listrik
sehingga mempercepat migrasi DNA
BAB III
METODE KERJA

3.1 Alat dan Bahan


Alat dan bahan praktikum Isolasi Dna Genom dan Amplifikasi Gen
SATT308 Tanaman Kedelai (Glycine Max) terdapat dalam tabel 3.1.
Tabel 3.1 Alat dan bahan

Alat Bahan
Sentrifuga Jaringan tanaman kedelai (Glycine
Max) (DNA hasil isolasi = 1 𝜇𝐿)
Tabung eppendorf Etanol 75%
Vortex Isopropanol
Freezer 20°C Nitrogen cair
Pestel Fenol : Kloroform : isoamil alkohol
Mikropipet Potasium Asetat 5M
Mesin PCR SDS 20%
Alat Elektroforesis Buffer Tris EDTA : 10mM Tris-
HCl pH 8; 500 mM EDTA 500 mM
NaCl; 10 mM 2-mikrapetoetanol
Alat Pemanas Tips
Sumber Arus PCR Mix (Enzim Taq polymerase,
MgCl2, dNTPs mix) 12,5 𝜇𝐿
Primer 1 𝜇𝑀
Air deion steril
Agarosa 1 g
100 mL buffer TAE 1x; 1mL TAE
50x
Loading buffer 6x
Etidium Bromida
Cetakan gel
3.2 Cara Kerja
Metode kerja pada praktikum Isolasi Dna Genom dan Amplifikasi
Gen SATT308 Tanaman Kedelai (Glycine Max) adalah sebagai berikut:
3.2.1 Isolasi DNA Plasmid
Jaringan tanaman kedelai (daun) 0,1 gram digerus menjadi serbuk
halus dengan penambahan nitrogen cair pada mortar dan pestel. Kemudian
pada microtube kosong ditambahkan 500 μl CTAB 2%, 5 μl 0.2% β-
mercaptoethanol, dan PVP-40 (polyvinylpyrrolidone) 0.02gr. Campuran
tersebut kemudian divortex perlahan. Setelah tercampur, mikrotube berisi
campuran tersebut dipanaskan dalam 60˚C selama 30 menit. Kemudian,
microtube hasil vortex ditambahkan daun kedelai 0,04 g dan campuran ini
divortex perlahan. Microtube campuran dengan sampel diinkubasi pada
suhu 60ºC selama 30 menit, kemudian divortex perlahan. Setelah itu,
microtube didinginkan pada suhu 4ºC selama 10 menit dan dimasukkan ke
dalam icebox. Sebisa mungkin minimalkan keberadaan sampel di luar
icebox. Kemudian, microtube ditambahkan Chloroform:Isoamyl alcohol
(24:1) sebanyak 600 μl. Campuran tersebut kemudian divortex secara
perlahan. Microtube hasil vortex disentrifuga 12.000 rpm 4ºC selama 12
menit yang akan terbentuk 3 fasa. Aqueous phase/upper phase/supernatant
diambil sebanyak 400 μl/sehabisnya (jika kurang) ke dalam microtube
baru. Dilakukan secepat mungkin tanpa menimbulkan campuran fasa,
gunakan tips dengan ujung terlebar. ujung tips boleh digunting.
Selanjutnya, microtube baru berisi 400 μl aqueous ditambahkan
Chloroform:Isoamyl alcohol (24:1) sebanyak 500 μl, kemudian divortex
dan disentrifuga 12.000 rpm 4ºC selama 10 menit. Aqueous dipindahkan
ke microtube baru sebanyak 300 μl/sehabisnya (jika kurang). Dilakukan
secepat mungkin tanpa menimbulkan campuran fasa, gunakan tips dengan
ujung terlebar. Ujung tips boleh digunting. Setelah itu, microtube berisi
300 μl/sehabisnya aqueous ditambahkan 250 μl isopropanol dingin.
Microtube dibolak-balik, jika sempat mendiamkan, sebaiknya didiamkan
beberapa saat di icebox. Semakin lama didiamkan akan semakin banyak
yield DNA yang dihasilkan namun juga meningkatkan resiko kontaminan.
Kemudian, disentrifuga 15.000 rpm/maks selama 5.5 menit 4ºC. Tahap
selanjutnya adalah microtube hasil sentrifugasi dibuang supernatannya.
Jangan sampai kehilangan pelet. Pelet akan berbentuk endapan debris.
Lalu ditambahkan 500 μl etanol 70% -> 400 μl etanol 95% dingin
(tambahkan saja. Jangan diresuspensi), dan disentrifuga 15.000 rpm/maks,
selama 1.5 menit kemudian supernatan dibuang dan diulang dua kali.
Tahap terkahir adalah pellet pada microtube dikeringkan dari sisa etanol
dengan cara dibalik pada tissue selama 10 menit, kemudian ditambahkan
100 μl buffer TE (10 mM Tris-HCl, 1 mM EDTA, pH 7.4) 1x, sambil
diresuspensi. Mikrotube diketuk-ketuk hingga larutan menjadi homogen
(hingga etanol kering). Sampel DNA selesai didapatkan.

3.2.2 PCR
Pada tabung Eppendorf dimasukan air deion, DNA target, Primer dan
PCR mix. Tabung Eppendorf disentrifuga terlebih dahulu sebelum di PCR.
Kemudian alat PCR dinyalakan. Setelah itu tabung Eppendorf yang telah
berisi sampel dimasukan kedalam mesin PCR. Lalu mesin PCR di running
Reaksi yang pertama dimulai sesuai dengan siklus yang ada, yaitu
denaturasi awal (suhu 92˚C) selama 2 menit, kemudian diikuti 30 siklus
yakni denaturasi selama 15 detik pada suhu 95, penempelan primer selama
30 detik pada 55˚C, kemudian pemanjangan primer pada suhu 75˚C
selama 2 menit. Lalu siklus ini akan diikuti dengan pemanjangan primer
pada suhu 72˚C selama 7 menit.

3.2.3 Elektroforesis
Cetakan gel diletakan pada pencetak sumur, kemudian dicampurkan
Agarosa dan TAE 1x lalu di didihkan. Setelah itu ditambahkan 1 µl EtBr,
di campur dan dituangkan. Kemudian didiamkan hingga gel mengeras.
Setelah gel dalam cetakan mengeras, diletakan pada alat elektroforesis. Di
tuang buffer TAE 1x hingga mencapai tinggi 1 mm diatas gel. Dilepaskan
pencetak sumur dan dicampur dengan 10 µl DNA dengan 2 µl loading
buffer. Setelah itu dimasukan ke dalam sumur gel lalu dihubungkan
dengan alat elektroforesis dengan sumber arus pada 70 volt hingga
bromfenol sampai ke ujung gel. Setelah itu sumber arus dimatikan dan
dikeluarkan dari tangki gel. Jika jumlah DNA terlalu sedikit dengan
pewarnaan “methyl green”, maka dicelupkan gel dalam 0,2 – 0,5 µg/ml
EtBr dalam buffer TAE 1x selama 10 – 60 menit. Lalu EtBr dihilangkan
dari gel dengan dipindahkan dalam buffer TAE 1x selama 10 - 60 menit
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


4.1.1 Foto Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan praktikum kromatografi pigmen mata pada lalat
buah terdapat dalam tabel 4.1.
Tabel 4.1 Pengamatan Kromatografi
Foto Sebelum Foto Sesudah

Gambar 4.1 Kertas kromatografi Gambar 4.2 Pengamatan di bawah sinar UV


(Dokumentasi pribadi, 2017) (Dokumentasi pribadi, 2017)

4.1.2 Perhitungan Rf
Jarak eluen = 9 cm
Jarak pigmen =
Wild Type = 5,7 cm
White = 0 cm
Sephia = 5,5 cm
Claret = 5 cm
Perbandingan jarak pigmen (cm)
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑅𝑓 =
Perbandingan jarak eluen (cm)
5,7 cm
Nilai Rf Wild Type : = 0.63
9 cm
0 cm
Nilai Rf White : 9 cm = 0
5,5 cm
Nilai Rf Sephia : = 0.5625
9 cm
5 cm
Nilai Rf Claret : 9 cm = 0,739
4.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukam pengamatan terhadap kromatografi
pigmen mata Drosophila melanogaster wildtype dan beberapa mutan
(white, claret, dan sepia). Saat kertas kromatografi diberi sinar UV, terjadi
pemantulan warna atau berpendarnya warna yang tersembunyi karena
absorbsi cahaya dari lampu sinar UV. Hasil pemendaran ini teramati
pendaran yang berbeda pada setiap warna mata. Hal ini disebabkan oleh
sebuah peristiwa fluorosensi. Fluorosensi merupakan pemancaran sinar
oleh atom atau molekul setelah terlebih dahulu disinari. Zat warna yang
dapat berfluoresensi disebut fluorokrom. Menurut Heftmann (2014),
pendaran yang berbeda pada setiap kolom (wild type, claret, dan sephia)
mengartikan bahwa terdapat pigmen berbeda yang ada di mata lalat,
dimana komponen pigmen mata tersebut akan mengabsorbsi cahaya UV
dengan panjang gelombang tertentu dan memendarkan warna yang lebih
kontras sesuai dengan warna asli masing-masing senyawa tersebut.
Pada praktikum ini, mutan white tidak tampak hasil jarak noda pigmen
matanya karena tidak terdapat pigmen pada mutan tersebut. Mutan white
seolah-olah tidak memiliki pigmen, padahal memiliki pigmen mata berupa
pteridin dan ommokrom. Pigmen mata tersebut tidak terdistribusi dengan
baik sehingga tidak adanya pigmen drosopterin (pigmen warna merah)
yang diekspresikan pada jalur pteridin dan pigmen xanthommatin pada
jalur sintesis ommokrom (Hadorn, 1962).

Gambar 4.3 Epistasis dan Jalur Pigmentasi pada Lalat Buah Mutan White
(Myers, 2012)
Ternyata, mutasi white terdapat pada gen tunggal, namun bukan gen
yang secara langsung membuat pigmen. White adalah mutasi yang
membuat protein transporter menjadi rusak (defective). Mutan ini
menghalangi pengangkutan tryptophan prekursor dan guanin ke dalam sel,
sehingga tidak memiliki bahan baku untuk membuat pigmen (Myers,
2012).
Mutan sepia (se) tergolong dalam kelompok pigmen mata yang
memiliki sephiapterin. Mutan claret (ca) tergolong dalam kelompok
pigmen mata yang memiliki drosopterin namun mengalami mutasi tanpa
tersintesisnya pigmen ommokrom yang menyebabkan warna merah terang.
Dengan kata lain, mutasi akan menyebabkan terhambatnya ekspresi suatu
gen/enzim yang berperan dalam pewarnaan mata Drosophila melanogaster
(Judd, 2010).
Menurut Ignat dan Bara (2003), nilai Rf literatur pada pigmen mata
keempat jenis Drosophila melanogaster kemudian dibandingkan dengan
Rf hasil percobaan terdapat dalam tabel 4.2 berikut
Tabel 4.2 Perbandingan Nilai Rf Literatur dengan Hasil Percobaan

Jenis Rf Literatur Rf hasil percobaan


Wild type 0,0483 0,63
White 0 0
Sephia 0,385 0,61
Claret 0,229 0,56

Nilai Rf yang semakin besar dapat diartikan semakin non-polar,


karena semakin tinggi berarti zat tersebut semakin terbawa dengan eluen
yang bersifat non-polar. Sebaliknya jika nilai Rf semakin kecil dapat
diartikan semakin polar karena zat tersebut tertahan oleh kertas yang juga
bersifat polar. Pada literatur, mutan sephia memiliki Rf paling besar
sehingga paling non-polar, namun pada hasil percobaan Rf paling besar
adalah wildtype. Ketidaksesuaian dengan literatur mungkin diakibatkan
kesalahan ketika mengambil objek kepala lalat mutan. Sedangkan nilai Rf
mutan white literatur dan hasil percobaan menunjukan angka 0, yang
artinya tidak ada pigmen mata yang terekspresikan. Maka pigmen mutan
white yang paling polar (Warianto, 2011).
Fungsi larutan NBA adalah sebagai eluen karena memiliki
perbandingan n-butanol : asetat glacial : akuades = 20 : 3 : 7. Larutan NBA
merupakan campuran dari larutan yang memiliki tingkat kepolaran
berbeda yaitu polar, semi-polar, dan non-polar. Sehingga larutan NBA
dapat memisahkan pigmen-pigmen pada mata lalat buah yang memiliki
tingkat kepolaran hampir sama. Fungsi vaselin adalah agar udara yang
berada di dalam bejana tidak dapat keluar dan udara yang diluar tidak
dapat masuk melalui celah-celah antara bejana dengan penutup atau kedap
udara. Maka eluen yang merupakan larutan NBA tidak habis karena
menguap (Falk, 2009).
Pada praktikum ini digunakan sinar ultraviolet (UV) untuk membantu
pemendaran cahaya karena pigmen mata pada Drosophila melanogaster
tidak bisa terlihat apabila menggunakan cahaya putih (misalnya dengan
lampu neon). Ketika sinar UV menyinari kertas saring, komponen pigmen
mata akan mengabsorbsi cahaya UV dengan panjang gelombang tertentu
dan memendarkan warna yang lebih kontras sesuai dengan warna asli
senyawa tersebut sehingga hasil kromatografi tiap sampel dari mata mutan
memendarkan warna yang berbeda-beda (Hadorn, 1962).
BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum kromatografi pigmen mata pada lalat buah
adalah sebagai berikut:
1. Nilai Rf dari masing-masing pigmen mata lalat buah (D.
Melanogaster) adalah wildtype (w+) = 0,63; mutan white (w) = 0;
mutan sepia (se) = 0,61; dan mutan claret (ca) = 0,56.
2. Drosophila melanogaster wildtype (w+) tergolong dalam kelompok
pigmen mata drosopterin dan ommokrom. Mutan white (w)
tergolong dalam kelompok pigmen mata yang memiliki pteridin
dan ommokrom namun tidak terdistrihbusi dengan baik sehingga
pigmen mata tersebut tidak terekspresikan. Mutan sepia (se)
tergolong dalam kelompok pigmen mata yang memiliki
sephiapterin. Mutan claret (ca) tergolong dalam kelompok pigmen
mata yang memiliki drosopterin namun mengalami mutasi tanpa
tersintesisnya pigmen ommokrom yang menyebabkan warna merah
terang.

5.2 Saran
Dalam percobaan ini agar dapat mencapai tujuan secara maksimal
maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a) Saat pengambilan data seharusnya hindari zat pengotor karena
akan sangat mempengaruhi nilai Rf yang dihasilkan.
b) Saat melakukan praktikum hendaknya praktikan harus lebih sigap
dalam memotong kepala Drosophila melanogaster mutan yang
telah mati. Jika terlalu lama, fenotip mutan tersebut bisa hilang
atau tidak terekspresikan sehingga hasil kromatografi tidak akurat.
c) Disediakan alat pengering untuk mengeringkan kertas saring agar
lebih efisien waktu.
DAFTAR PUSTAKA

Bettelheim, F. A. & Landesberg, J. M. 2007. Laboratory Experiments for

General, Organic, and Biochemistry, 6th edition. Chaput, J.C. ISBN-13:

9780495015048.

Corkill, G., Rapley, R. 2008. The Manipulation of Nucleic Acids: Basic Tools and

Techiques in Molecular Biomethods Handbook Second Edition. Ed: Walker,

J.M., Rapley, R. Humana Press: USA.

Lo, Dennis. 2006. Clinical Applications of PCR : Second Edition. New Jersey :

Humana Press.

Rian. 2013. Struktur DNA. http://web.unair.ac.id/admin/file/f_35969_ PCR.pdf.

Diakses 22 November 2017 pukul 11.18 WIB.

Rosana, A. 2014. Penuntun Praktikum Genetika. Yogyakarta: Kanisius.

Sambrook, J., and Russell, R.W.2001. Molecular cloning: A laboratory manual,

3rd ed. Cold spring harbor laboratory press, cold spring harbor, N.Y.

Shmaefsky BR. 2006. Biotechnology 101. Westport : Greenwood.

Surzycki, S. 2000. Basic Techniques in Molecular Biology. Germany : Springer-

Verlag Berlin Heidelberg.

Switzer. 1999. Experimental Biochemistry. Oxford : Blackwell Scientific Pub.

Triwibowo, Yuwono. 2005. Biologi Molekuler. Yogyakarta: Penerbit Erlangga.

Wilson, Keith dan Walker, John. 2010. Principles and Techniques of

Biochemistry and Molecular Biology. Cambridge University Press : UK.

Wolfe, S.L. 1993. Molecular and Cellular Biology. Wadsworth Publishing

Company, Belmont.