Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA (BI-2105)

PENGGUNAAN MIKROPIPET

Tanggal praktikum: 20 Oktober 2017


Tanggal pengumpulan: 27 Oktober 2017

Disusun oleh:
Eprilia Monica Hasanah
10616004
Kelompok 15

Asisten:
M. Alvin Akbar
10614051

PROGRAM STUDI BIOLOGI


SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Dalam suatu penelitian biasanya digunakan pipet untuk membantu
memasukkan cairan dalam jumlah kecil ke dalam suatu media. Penggunaan pipet
biasanya hanya mampu memindahkan cairan dengan volume tidak lebih dari 1
mL. Sedangkan untuk memindahkan cairan dengan volume lebih dari 1mL para
peneliti akan menggunakan mikropipet. Pada awalnya pipet terbuat dari kaca dan
sebagian ada yang terbuat dari plastik. Seorang dokter asal jerman yang bernama
dr. Heinrich Schnitger mematenkan sebuah mikropipet pada tahun 1957 dan
mikropipet mulai diproduksi secara komersial pada tahun 1961. Mikropipet
merupakan pipet yang digunakan dalam pengukuran dan pemindahan suatu cairan
dalam skala volume mikro yang mempunyai tingkat akurasi dan presisi yang baik
(Klingenberg, 2005)
Pada penggunaan mikropipet kita dapat mengatur berapa jumlah volume
yang diperlukan selama masih dalam skala volume pipet tersebut. Berdasarkan
ukurannya terdapat 3 jenis dasar dari mikropipet yaitu Mikropipet P10 yang
digunakan untuk mengambil cairan pada volume berkisar 0,5-10 µl, mikropipet
P200 yang digunakan untuk mengambil cairan pada volume berkisar 10-200 µl
serta mikropipet P1000 yang digunakan untuk mengambil cairan pada volume
berkisar 200-1000 µl (Eppendorf, 2013)
Dalam dunia biologi sel molekular galat sekecil apapun akan sangat
berpengaruh pada penelitian. Keahlian dalam menggunakan mikropipet sangat
diperlukan untuk dapat menghindari kesalahan pengukuran. Dengan keahlian
penggunaan mikropipet akan mengurangi galat perhitungan dalam suatu
penelitian. Penggunaan mikropipet dalam biologi molekular salah satu contohnya
adalah saat pengambilan sampel DNA agar sampel yang diambil sesuai dengan
volume yang diinginkan sehingga tidak terlalu lebih ataupun kurang (Gilson,
2005)
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah:
1. Menentukan perbedaan cara menggunakan mikropipet untuk mengambil
larutan encer dan kental
2. Menentukan nilai akurasi dan presisi dari mikropipet
3. Menentukan kelayakan guna mikropipet berdasarkan analisis nilai akurasi,
presisi dan ada atau tidaknya kebocoran
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Prinsip Kerja Mikropipet


Mikropipet digunakan bersamaan dengan tips sebagai wadah bagi larutan
sampel yang akan diambil. Prinsip pengambilan larutan dengan mikropipet adalah
pergantian volume udara yang dikeluarkan oleh mikropipet dengan larutan. Piston
yang berada di dalam mikropipet akan berpindah posisi ketika volumenya sudah
diatur. Posisi pertama disebut “first stop” digunakan untuk mengisi tips, ketika
menekan tombol pengatur volume pada first stop, piston internal mengeluarkan
volume udara sama dengan volume yang ditampilkan pada indikator volume
sehingga larutan yang masuk sama dengan volume udara yang keluar. Posisi
kedua disebut “second stop” digunakan untuk mengeluarkan isi tips (Universitas
Buffalo, 2013). Berikut merupakan gambar dari stop pertama dan stop kedua:

Gambar 2.1 Stop Pertama dan Stop Kedua


(Boston College, 2013)

2.2 Jenis-Jenis Mikropipet dan Tipsnya


Menurut Universitas Queensland (2013), mikropipet terdiri dari berbagai
macam kapasitas volume pengambilan sampel. Kapasitas volume yang dapat
diambil oleh mikropipet pada umumnya sekitar 1μl-1.000 μl. Berdasarkan
kapasitas volume pengambilan sampel, terdapat 6 jenis mikropipet dan 3 jenis
tips dengan rincian pada tabel berikut:
Tabel 2.2 Jenis-jenis mikropipet dan tipsnya
Jenis Mikropipet Volume Warna Tips

P2 0,2 sampai 2 µl Putih

P10 0,5 sampai 10 µl Putih

P20 2 sampai 20 µl Kuning

P100 10 sampai 100 µl Kuning

P200 90 sampai 200 µl Biru

P1000 100 sampai 1000 µl Biru

Gambar 2.2 Jenis-jenis Tips Mikropipet


(Edvotek Inc., 2011)

2.3 Bagian-Bagian Mikropipet


Bagian-bagian pada mikrometer terdiri dari volume knob untuk menentukan
volume larutan yang akan diambil, tombol melepas tips untuk melepaskan tips
dari mikrometer, tombol stop digunakan untuk mengambil atau membuang
larutan, angka penunjuk volume, tempat menempatkan tips pada ujung pipet
(Gilson, 2005). Berikut merupakan gambar dan rincian bagian-bagian dari
mikropipet :
A = Tombol pengatur volume
(Stop pertama digunakan untuk volume
yang diharapkan. Stop kedua digunakan
untuk mengeluarkan sisa cairan dalam tip)
B = Tombol untuk melepaskan tips
C = Angka penunjuk volume
D = Cincin pengatur volume
E = Tempat menempatkan tips

Gambar 2.3 Mikropipet dan bagianya


(Boston Collage, 2013)

2.4 Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Penggunaan Mikropipet


Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan mikropipet
(Cantle, 1982) :
1) Jangan menggunakan mikropipet untuk memipet larutan dengan volume
yang diluar volume yang tercantum pada mikropipet. Hal ini bisa
menyebabkan ketidakakuratan pengukuran serta bisa merusak mikropipet.
2) Ada tiga macam tips yang digunakan pada mikropipet. Tips berwarna
putih untuk mikropipet dengan volume maksimal 20 μl, tips berwarna
kuning untuk mikropipet dengan volume maksimal 100 μl atau 200 μl, dan
tips berwarna biru untuk mikropipet dengan volume maksimal 1000 μl.
3) Jangan menjatuhkan mikropipet. Selalu berhati-hatilah dalam
menggunakan mikropipet karena harganya mahal.
4) Pipet dijaga agar selalu dalam posisi tegak. Mikropipet disimpan di rak
yang dipasang pada bangku jika tidak digunakan. jangan pernah
meletakkan pipet dalam keadaan tergeletak
5) Saat mengambil tips, jangan menekan terlalu keras dan berulang-ulang.
Juga jangan terlalu lemah, karena tips bisa jatuh.
6) Ketika menekan tombol pipet, jangan menekan melebihi penghentian
normalnya, karena akan menyebabkan larutan yang diambil berlebihan.
7) Ketika mengambil larutan, jangan melepas tombol penekan secara tiba-
tiba. Hal ini akan menyebabkan larutan masuk ke dalam pipet, dan
ketidakakuratan ukuran. Lepaslah tombol penekan secara perlahan dan
terkontrol.
8) Ketika mengambil larutan, jangan angkat pipet sebelum seluruh larutan
masuk ke dalam tips. Jika mengambil larutan yang banyak, pastikan ujung
tips masih terendam dalam larutan.
9) Jangan menggunakan pipet tanpa tips di ujungnya. Larutan tidak boleh
masuk ke dalam pipet, karena bisa menyebabkan kontaminasi.
10) Selama ada larutan dalam tips di ujung pipet, jangan taruh pipet
seenaknya. Karena larutan bisa masuk ke dalam pipet dan menyebabkan
kontaminasi
11) Jangan pernah memutar tombol pengatur volume dengan paksa. Jika
tombol pengatur sulit untuk ditala mungkin kita mengatur volume
melebihi batas maksimum pipet atau pipet tersebut rusak. Segera laporkan
masalah itu kepada instruktur.
12) Setiap kali pengambilan, “tips” harus diganti dengan yang baru untuk
menghindari kontaminasi, kecuali jika sampel yang digunakan jenisnya
sama, volume yang diambil sama dan bukan larutan yang mengandung
organisme. Namun perlu diperhatikan bahwa penggunaan tips yang telah
digunakan dan dicuci berulang-ulang akan mengurangi ketepatan
pengambilan sampel.

2.5 Akurasi dan Presisi Serta Rumusnya


Berdasarkan Eppendorf (2013), mikropipet yang layak pakai adalah
mikropipet yang akurat dan presisi. Mikropipet harus akurat yaitu memiliki nilai
pengukuran sesuai dengan yang diharapkan. Akurat atau tidaknya suatu
mikropipet diukur melalui besarnya persentase error. Semakin kecil nilai
persentase error, mikropipet semakin akurat. Berikut merupakan rumus
perhitungan nilai persentase error :
𝑉−𝑉0
E% = x 100%
𝑉𝑜

E% = Persentase Error
V= Volume rata-rata dari hasil pengukuran
V0= Volume standar sesuai spesifikasi alat

Mikropipet juga harus presisi yang mana setiap kali pengukuran selalu
memberi hasil pengukuran yang relatif sama. Presisi atau tidaknya suatu
mikropipet ditentukan melalui besarnya relatif standar deviasi. Semakin kecil nilai
relatif standar deviasi, mikropipet semakin presisi. Berikut merupakan rumus
perhitungan nilai relatif standar deviasi :

𝑆𝐷
RSD = x 100%
𝑉

(𝑉−𝑉1)2
SD = √ ∑𝑛𝑖=1
𝑁−1

RSD = Relatif Standard Deviation


SD = Standard Deviation
V1 = Volume masing-masing perhitungan
N = Jumlah perhitungan
BAB III
METODE KERJA

3.1 Alat dan bahan


Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum terdapat dalam tabel 3.1

Tabel 3.1 Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum

Alat Bahan
 Timbangan analitik  Akuades
 Mikropipet  Gliserol
 Tips
 Tabung eppendorf

3.2 Cara kerja

3.2.1 Uji Kebocoran Mikropipet


Mikropipet diaturvolumenya sampai maksimal. Kemudian diisi tips
dengan akuades. Didiamkan selama 20 detik. Diperiksa kebocoran dengan
mengecek adanya air yang menetes. Dicelupkan ujung tips kedalam air untuk
mikropipet dengan volume maksimal kurang 200 µl. Mikropipet selesai diuji
kebocarannya.

3.2.2 Uji Akurasi dan Presisi


Mikropipet diatur volume yang akan diambil (100µl, 200µl atau 500µl).
Dihitung berat air dan gliserol untuk volumenya. Ditimbang tabung
eppendorf dan dicatat beratnya. Ditentukan volume cairan dengan
menggunakan nilai faktor konversi. Ditimbang berat cairan beberapa kali dan
dihitung rata-rata beratnya. Dihitung perbandingan antara rata-rata berat
cairan hasil penimbangan dengan berat cairan yang diharapkan. Dihitung pula
persen penyimpangan berat cairan hasil penimbangan dan dibandingkan
dengan yang diharapkan. Mikropipet telah diuji akurasi dan presisi.
3.2.3 Pengambilan larutan encer
Diambil larutan yang akan diatur. Dipasang tips diujung dan ditekan
tombol sampai stop pertama. Dimasukkan ujung tips dalam larutan 1 kurang
lebih 3mm. Dilepaskan hingga larutan 1 masuk ke dalam tips. Diletakkan
ujung tips pada dinding tabung baru. Ditekan tombol sampai stop 1.
Dikeluarkan ujung tips sambil digeserkan pada dinding tabung. Dilepaskan
tombol mikropipet. Mikropipet selesi digunakan.

3.2.4 Pengambilan larutan kental


Mikropipet diatur volumenyas sesuai larutan yang akan diambil.
Dipasang tips diujung pipet. Dilepaskan tombol perlahan sampai larutan 1
masuk. Dikeluarkan tips dari larutan dan diusap ujungnya dengan tisu.
Diletakkan ujung tips pada dinding tabung. Ditekan tombol perlahan hingga
stop pertama. Dikeluarkan ujung tips dari tabung. Dikeluarkan sisa larutan 1
dari tips dengan menekan tombol sampai habis. Diletakkan ujung tips dalam
akuades kemudian tips dilepaskan. Mikropipet selesai digunakan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


4.1.1 Tabel Massa Mikrotub dan Sampel
Berdasarkan hasil pengamatan massa mikrotub sebelum dan sesudah diisi
beserta massa sampel akuades dan gliserol terdapat pada tabel 4.1.1

Tabel 4.1.1 Massa mikrotubedan larutan

Kelompok Tabung Mawal (g) Makhir (g) MLarutan (g) Mrata-rata (g)
Gliserol 1 0,9245 1,7841 0,8596
Gliserol 2 0,9244 1,1872 0,2628 0,5316
Kelompok 15 Gliserol 3 0,9263 1,3987 0,4724
(800 µL) Akuades 1 0,9199 1,7113 0,7914
Akuades 2 0,9294 1,4531 0,5237 0,6649
Akuades 3 0,9193 1,5989 0,6796
Gliserol 1 0,92039 0,93339 0,013
Gliserol 2 0,90509 0,93139 0,0263 0,0519
Kelompok 14 Gliserol 3 0,91749 0,93009 0,0126
(8 µL) Akuades 1 0,914 0,92659 0,01259
Akuades 2 0,9144 0,92289 0,00849 0,01056
Akuades 3 0,9219 0,9325 0,0106
Gliserol 1 0.926 0,954 0,028
Gliserol 2 0,928 0,958 0,03 0,04726
Kelompok 16 Gliserol 3 0,920 1,0038 0,0838
(80 µL) Akuades 1 0,927 1,0039 0,0809
Akuades 2 0,926 1,0059 0,077 0,07893
Akuades 3 0,927 1,0029 0,0789
4.1.2 Tabel Konversi Massa ke Volume
Massa jenis Gliserol = 1,261 gr/mL = 1,261 𝑚𝑔/𝜇𝐿
Massa jenis Aquades = 1 gr/mL = 1 𝑚𝑔/𝜇𝐿
𝑀𝑎𝑠𝑠𝑎 𝐺𝑙𝑖𝑠𝑒𝑟𝑜𝑙 (𝑔𝑟)
Volume Gliserol = 𝑀𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑗𝑒𝑛𝑖𝑠 𝐺𝑙𝑖𝑠𝑒𝑟𝑜𝑙(𝑔𝑟/µ𝐿)
𝑀𝑎𝑠𝑠𝑎 𝐴𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠 (𝑚𝑔)
Volume Aquades = 𝑀𝑎𝑠𝑠𝑎 𝐽𝑒𝑛𝑖𝑠 𝐴𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠 (𝑚𝑔/𝜇𝐿)

Tabel 4.1.2 Konversi massa ke volume


Kelompok Tabung VLarutan ( µL) Vrata-rata ( µL)
Aquades 1 791,4
Aquades 2 523,7 664,9
Kelompok 15 Aquades 3 679,6
(800 µL) Gliserol 1 681
Gliserol 2 208 421
Gliserol 3 374
Aquades 1 12,59
Aquades 2 8,49 10,5
Kelompok 14 Aquades 3 10,6
(8 µL) Gliserol 1 10,3
Gliserol 2 20,86 13,7
Gliserol 3 9,992
Aquades 1 80,9
Aquades 2 77 78,67
Kelompok 16 Aquades 3 78,9
(80 µL) Gliserol 1 22
Gliserol 2 23 37
Gliserol 3 66
4.1.3 Perhitungan E% dan RSD%
 Perhitungan akurasi dan presisi mikropipet pada pengambilan aquades

Kelompok 15
V = Volume rata-rata dari hasil pengukuran
Vo = Volume standar sesuai spesifikasi alat = 800 𝜇𝐿
𝑉−𝑉0 664,9−800
E% = x 100% = | | x 100% = 16,88%
𝑉𝑜 800

(𝑉−𝑉1)2 (664,9−791,4)2 + (664,9−523,7)2 + (664,9−679,6)2


SD = √ ∑𝑛𝑖=1 =√ = 134,45
𝑁−1 3−1

𝑆𝐷 134,45
RSD = x 100% = x 100% = 20,22%
𝑉 664,9

Kelompok 14
V = Volume rata-rata dari hasil pengukuran
Vo = Volume standar sesuai spesifikasi alat = 8 𝜇𝐿
𝑉−𝑉0 10,5−8
E% = x 100% = x 100% = 31,25%
𝑉𝑜 8

(𝑉−𝑉1)2 (10,5−12,59)2 + (10,5−8,49)2 + (10,5−10,6)2


SD = √ ∑𝑛𝑖=1 =√ = 2,05
𝑁−1 3−1

𝑆𝐷 2,05
RSD = x 100% = 10,5 x 100% = 19,92%
𝑉

Kelompok 16
V = Volume rata-rata dari hasil pengukuran
Vo = Volume standar sesuai spesifikasi alat = 80 𝜇𝐿
𝑉−𝑉0 78,67−80
E% = x 100% = x 100% = 1,67%
𝑉𝑜 80

(𝑉−𝑉1)2 (78,67−81)2 + (78,67−77)2 + (78,61−79)2


SD = √ ∑𝑛𝑖=1 =√ = 1,58
𝑁−1 3−1

𝑆𝐷 1,58
RSD = x 100% = 78,67 x 100% = 2%
𝑉
 Perhitungan akurasi dan presisi mikropipet pada pengambilan gliserol

Kelompok 15
V = Volume rata-rata dari hasil pengukuran
Vo = Volume standar sesuai spesifikasi alat = 800 𝜇𝐿
𝑉−𝑉0 421−800
E% = x 100% = | | x 100% = 47,375%
𝑉𝑜 800

(𝑉−𝑉1)2 (421−681)2 + (421−208)2 + (421−374)2


SD = √ ∑𝑛𝑖=1 =√ = 239,97
𝑁−1 3−1
𝑆𝐷 239,97
RSD = x 100% = x 100% = 57%
𝑉 421

Kelompok 14
V = Volume rata-rata dari hasil pengukuran
Vo = Volume standar sesuai spesifikasi alat = 8 𝜇𝐿
𝑉−𝑉0 13,7−8
E% = x 100% = x 100% = 71,25%
𝑉𝑜 8

(𝑉−𝑉1)2 (13,7−10,5)2 + (13,7−20,86)2 + (13,7−9,992)2


SD = √ ∑𝑛𝑖=1 =√ = 6,134
𝑁−1 3−1
𝑆𝐷 6,134
RSD = x 100% = x 100% = 44,78%
𝑉 13,7

Kelompok 16
V = Volume rata-rata dari hasil pengukuran
Vo = Volume standar sesuai spesifikasi alat = 80 𝜇𝐿
𝑉−𝑉0 37−80
E% = x 100% = x 100% = 53,75%
𝑉𝑜 80

(𝑉−𝑉1)2 (37−23)2 + (37−22)2 + (37−66)2


SD = √ ∑𝑛𝑖=1 =√ = 25,12
𝑁−1 3−1
𝑆𝐷 25,12
RSD = x 100% = x 100% = 67,89%
𝑉 37
4.2 Pembahasan
Berdasarkan perhitungan hasil pengamatan yang telah dilakukan, didapatkan
bahwa nilai presisi akuades sebesar 20,22 %dan presisi gliserol sebesar 57%,
sedangkan nilai akurasi akuades sebesar 16,88% dan akurasi gliserol sebesar
47,37. Limit error mikropipet menurut (Eppendorf, 2013) terdapat pada gambar
4.2.

Gambar 4.2 Limit Error Mikropipet


(Eppendorf, 2013)

Menurut literatur, akurasi mikropipet Eppendorf sebesar ±1,0% dan presisi


sebesar ±0,5%. Data ini sangat berbeda jauh dengan hasil pengamatan. Hal ini
mungkin disebabkan oleh perbedaan keahlian setiap anggota kelompok pada saat
menggunakan mikropipet.
Mikropipet dapat dikatakan layak pakai apabila tidak ada kebocoran pada
mikropipet tersebut dan juga memiliki nilai akurasi dan presisi sesuai dengan
batas wajar pada literatur. Ada banyak penyebab kebocoran mikropipet. Tip
holder pada mikropipet kemungkinan rusak, penggunaan tips yang bukan standar,
tekanan uap dari pelarut organik yang digunakan, dan juga adanya korosi pada
piston di dalam mikropipet. Dari uji kebocoran yang telah dilakukan, tidak
ditemukan adanya kebocoran pada mikropipet yang digunakan. Mikropipet masih
layak untuk digunakan (Gilson, 2005).
Saat proses pengambilan zat, mikropipet harus selalu dalam keadaan tegak
karena larutan yang telah diambil dapat masuk ke dalam pipet dan merusak
sensitifitas sensor dan piston yang terdapat dalam mikropipet. Jika piston atau alat
lain didalam mikropipet itu rusak, pengukuran volume akan menjadi tidak akurat.
Kondisi yang tegak lurus juga akan membantu cairan untuk turun ke bawah secara
tuntas (COSEE West, 2007).
Penekanan tombol sampai stop 1 hanya pada pengambilan larutan encer,
sedangkan penekanan tombol sampai stop 2 ada pengambilan larutan kental (Harr,
1994). Hal ini dikarenakan larutan yang bersifat encer memiliki viskositas rendah
menjadi mudah tertarik sedangkan viskositas larutan kental lebih tinggi dan tidak
mudah tertarik. Tombol stop 2 juga digunakan untuk mengeluarkan seluruh cairan
yang berada di alam tips (Skoog, et al., 1996).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum ini adalah:
1. Perbedaan cara penggunaan mikropipet untuk pengambilan larutan encer dan
larutan kental terjadi pada saat penekanan tombol stop. Penekanan sampai
stop 1 pada pengambilan larutan encer dan penekanan tombol plunger sampai
stop 2 ada pengambilan larutan kental.
2. Dari hasil praktikum, nilai presisi akuades sebesar 20,22 % dan presisi
gliserol sebesar 57%, sedangkan nilai akurasi akuades sebesar 16,88% dan
akurasi gliserol sebesar 47,37%
3. Dari hasil perhitungan akurasi, presisi dan kebocoran dapat disimpulkan
bahwa mikropipet masih layak untuk digunakan walaupun pada hasil
perhitungan tidak presisi dan tidak akurat

5.2 Saran
Pada saat dilakukan pengambilan larutan menggunakan mikropipet,
sebaiknya yang melakukan pengambilan hanya satu orang saja agar tidak terjadi
perbedaan kelihaian dalam penggunaan mikropipet.
DAFTAR PUSTAKA

Boston College. Diakses melalui “https://www2.bc.edu/clare-


oconnor/bcbc/courses/bi204_2014F/3-micropipettes_2013.pdf” diakses
pada 26 Oktober 2017 pukul 21.45
Cantle, John. 1982. Atomic Absorption Spectrometry, Vol. 5. Amsterdam:
Elsevier science publishing company Inc.
COSEE West, 2007. Skill Building Activity 1: Manipulating Small Volumes. San
Fransisco: s.n.
Edvotek Inc., 2011. Pipets & Liquid Handling. s.l.:Edvotek The Biotechnology
Education Company.
Eppendorf, 2013. Eppendorf Reference® (adjustable-volume).
http://www.eppendorf.com/int/index.php?sitemap=2.1&pb=266359458b3
diakses pada 26 Oktober 2017 pukul 20.18.
Gilson, 2005. Gilson Guide to Pipetting. 2nd ed. USA: Gilson Inc.
Klingenberg, M., 2005. When a common problem meets an ingenious mind.
EMBO reports, pp. 797-800.
Skoog, D. A., West, D. M. & Holler, F. J., 1996. Fundamental of analytical
chemistry. 7th ed. Fort Worth: Saunders College Publishing.
Universitas Buffalo. Diakses melalui
“http://faculty.buffalostate.edu/wadswogj/courses/BIO211%20Page/Resou
rces/micropipetting%20lab.pdf” diakses pada 26 Oktober 2017 Pukul
21.20.
Universitas Queensland, 2013. Universitas Queensland.
http://www.di.uq.edu.au/sparqmicropipette. diakses pada 26 Oktober 2017
Pukul 22.15.