Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS JURNAL

(MK: ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN DAN BAYI BARU


LAHIR FISIOLOGIS)

OLEH

Ida Ayu Putri Sunu Windusara

NIM. P07124215011

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

JURUSAN KEBIDANAN

2017
USING INTRAUMBILICAL VEIN INJECTION OF OXYTOCIN IN ROUTINE
PRACTICE WITH ACTIVE MANAGEMENT OF THE THIRD STAGE OF
LABOR

A. JUDUL PENELITIAN
Using Intraumbilical Vein Injection of Oxytocin in Routine Practice With
Active Management of the Third Stage of Labor (Penerapan Rutin Injeksi
Oksitosin Secara Intraumbilikal bersamaan dengan Manajemen Aktif Kala III)

B. LATAR BELAKANG
Pada jam-jam prttama setelah persalinan (kala III dan kala IV persalinan)
komplikasi adaah hal yang sering terjadi dan dapat mengancam kehidupan ibu.
Komplikasi yang paling banyak terjadi adalah perdarahan post partum. Pada
negara maju angka kematian yang di sebabkan oleh perdarahan post partum
adalah 3-5%, sedangkan pada negara berkembang angka kejadian dapat
bertambah hingga 50x lipat.
Selain perdarahan post partum, retensio plasenta juga merupakan salah
satu komplikasi yang terjadi pada kala III persalinan, serta setiap kejadiannya
dapat menaikkan angka resiko perdarahan post partum 0,1-2%. Penanganan
kejadian dapat dilakukan dengan cara manual plasenta atau tindakan yang
membutuhkan operasi yang biasanya tidak dapat di jangkau untuk wanita-
wanita yag kurang mampu.
Panjang kala tiga dan kemungkinan terjadinya komplikasi bergantung
pada kemampuan uterus berkontraksi dan lamanya plasenta terlepas. Prinsip
manajemen aktif kala III dapat membantu membuat plasenta cepat terlepas
sehingga mengurangi dampak yang ditumbulkan dari kehilangan darah dan
mengurangi kemungkinan terjadinya retensio plasenta. Menajemen aktif kala
III sendiri terdiri dari injeksi 10 IU oksitosin yang diinjeksikan dalam waktu 2
menit, penjepitan tali pusat dengan umbilical cord lebih awal, dan mengontrol
kontraksi (Menurut WHO)
Injeksi oksitosin secara intraumbilikal sendiri merupakan penanganan
langsung ke tempat plasenta melekat dan dinding uterus, yang mengakibatkan
kontraksi uterus datang lebih cepat dan mempercepat plasenta terlepas.
Meskipun begitu, masih sedikit literatur yang membahas mengenai efek
samping dari injeksi oksitosin secara intra umbilikal sebagai salah satu tata
laksana manajemen aktif kala III. Sehingga, tujuan diadakan penelitian ini
adalah untuk mengetahu efek samping dari injeksi oksitosin melalui intra
umbilikal dalam mengurangi jumlah kehilangan pada kala III dan IV, durasi
kala III persalinan, dan kejadian manual plasenta.

C. METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah metode A Randomized
Controlled Trial. kriteria pengambilan sample antara lain, tidak ada resiko
terjadinya perdarahan post partum, usia kehamilan antara 37-42 minggu,
kehamilan dengan janin tunggal hidup, presentasi kepala, berat janin antara
2.500-4.500 gr, paritas I-V, umur ibu kurang dari 35 tahun, dan persalinan
pervaginam. Kriteria pengecualian antara lain, tekanan darah 140/90 mmHg
atau lebih tinggi, placenta previa, obstrubsi plasenta, riwayat perdarahan saat
kehamilan, riwayat kuretase, riwayat LMR, kehamilan hydramnion, gejala
infeksi maternal, anomali uterus, riwayat penggunaan obat saat persalinan,
posisi plasenta abnormal, kelainan koagulasi, Hb kurang dari 8, perpanjangan
kala satu hingga 15 jam, persalinan dengan bantuan alat, riwayat penggunaan
obat antikoagulan.
Sample akan dibagi menjadi dua grup yaitu kelompok A (Oxytocin group)
dan kelompok B (Placebo group). Kelompok A (Oxytocin group) adalah
kelompok yang menerima 20 IU oksitosin dan 26 ml saline yang akan di
injeksikan secara intra umbilikal, sedangkan kelompok B (Placebo group)
adalah kelompok yang menerima 30 ml saline yang akan diinjeksikan secara
intra umbilkcal. Injeksi sendiri akan di berikan dengan jarum ukuran 18 yang
disuntikan 1-2cm dari introitus vagina segera setelah meng klem tali pusat.
Dalam penelitian ini manajemen yang dilakukan saat kala III adalah
memberikan injeksi oksitosin secara IM pada lengan anterior, dilanjutkan
dengan pengekleman awal tali pusat dengan umbilical cord. Plasenta akan
ditarik secara terkendali setelah ada tanda-tanda plasenta terlepas. Jika
plasenta tidak spontan terlepas, maka panjang kala III akan dihitung dari bayi
lahir hingga plasenta secara manual terlepas. Plasenta akan di lepas secara
manual jika dalam 30 menit tidak terlepas setelah bayi dilahirkan. Setelah
plasenta terlepas tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, nafas) dan kontraksi
uterus ibu akan dikontrol setiap 15 menit selama 2 jam.
Hal yang akan diletiti adalah banyaknya kehilangan darah saat kala III
dan IV persalinan, durasi kala III, banyaknya kejadian plasenta yang tidak
lahir kurang dari 15 menit, insiden perdaraharan yang lebih besar dari 500ml,
insiden perdarahan yang lebih besar dari 1000ml, perubahan Hb, kejadian
retensio plasenta, kejadian yang membutuhkan manual plasenta, kejadian
kuretase, kejadian yang membutuhkan uterotronika, dan efek samping
penyuntikan (reaksi anaphitalic, hipertensi, dan arithmia).
Volume darah yang keluar akan di ukur melalui berat lembaran spesial
yang menyerap darah dari kelahiran hingga 2 jam post partum yang nantinya
ditimbang menggunakan timbangan untuk semua material, darah yang keluar
(ml) = berat lembar setelah digunakan-berat lembara sebelum digunakan/10.5.
Hb dihitung 24 jam setelah kelahiran. Panjang kala III akan dihitung
menggunakan digital stop clock, jam akan dinyalakan segera serelah badan
bayi lahir dan segera di hentikan segera setelah plasenta terlepas.
Dari 1009 orang yang dianggap memenuhi syarat penelitian hanya 449
orang yang bias dieliti karena 319 orang menolak untuk ikut, 225 orang tidak
menemenuhi syarat dan 16 dengan orang alasan lain. 449 orang yang menjadi
sample, di bagi menjadi dua kelompok. Kelompok A (Oxytocin group)
berjumlah 225 orang dan kelompok B (Placebo group) berjumlah 224 orang.
Setelah semua diinjeksi hanya ada 207 orang dari kelompok A (Oxytocin
group) yang bisa di analisa dan 205 orang dari kelompok B (Placebo grup)
yang bisa di analisa.

D. HASIL PENELITIAN
Hasil analisa pasien setiap grup ditemukan persamaan karakteristik dari
setiap kelompok yang akan diteliti. Sedangkan hasil peneltian dapat dilihat
pada tabel dibawah.

Kelompok A Kelompok B P Relative


(Oxytocin (Placebo
Risk (95%
group) Group)
CI)
Kehilangan darah (ml) 195.3±81.0 288.3±134.1 <.001
Kehilangan darah lebih 1 (0.5) 8 (3.9) .02 1.81 (1.41-
dari 500 ml 2.33)
Kehilangan darah lebih 0 2 (1) .24
dari 1000 ml
Lama kala III 4.5±1.6 7.9±3.4 <.001
Plasenta tidak terlepas 0 9 (4.4) .002
lebih dari 15 menit 1.78 (1.34-
Retensio plasenta 0 1 (0.5) .49 2.36)
Manual plasenta 0 1 (0.5) .49
Penggunaan 1 (0.5) 7 (3.4) .03
uterotronika
Jumlah kadar 31.8±2.3 30.9±1.4 <.001
hematrokrit setelah
tindakan
Jumlah kadar 10.0±1.4 9.6±1.2 .001
haemoglobin setelah
tindakan
Transfuse darah 0 1 (0.5) .49
Efek sampingg saat 0 0
dilakukan injeksi

E. HAL-HAL MENARIK DARI HASIL PENELITIAN


Hal menarik yang di dapat dari hasil penelitian adalah hasil penelitian ini
menunjukan pada jumlah kehilangan darah pada kelompok A (Oxytocin
Group) lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok B (Placebo Group),
begitu pula pada jumlah wanita yang mengalami perdarahan dengan jumlah
lebih dari 500ml angka kejadian ditemukan lebih sedikit dibandingkan
kelompok B, bahkan wanita yang mengalami perdarahan lebih dari 1000ml
tidak ada dibandingkan kelompok B yang mengalami 2 kejadian. Hasil ini
berdampak pada jumlah haemoglobin dan hematrokrit pada kelompok A lebih
tinggi dibandingkan kelompok B. Di kelompok B bahkan ada 1 kejadian yang
membutuhkan transfusi darah sedangkan pada kelompok A tidak ada wanita
yang membutuhkan transfusi darah. Hal serupa juga bisa dilihat pada durasi
kala III yang lebih singkat pada kelompok A, penggunaan uterotronika pada
kelompok A juga lebih sedikit dibandingkan kelompok B. Lebih menariknya
lagi, angka plasenta yang tidak terlepas dalam 15 menit, angka terjadinya
retensio plasenta, dan angka manual plasenta yang dilakukan di kelompok A
mencapai angka 0 kejadian atau tidak ada kejadian yang terjadi.
Hasil tersebut sebabkan karena oksitosin yang disuntikan secara intra
umbilikal memiliki mekanisme kerja dimana oksitosin dengan konsentrasi
tinggi akan bekerja langsung pada tempat dimana plasenta melekat. Hal
tersebut langsung merangsang uterus, dan segera mengurangi area perlekatan
plasenta. Sehingga, plasenta dapat segera terlepas dan ekspulsi yang berakibat
pada berkurangnya durasi kala III dan darah hilang juga lebih sedikit.
Selain hal menarik diatas, didapat pula pada penelitian ini bahwa tidak ada
satupun ibu yang mengalami efek samping saat mendapat tambahann suntikan
intra umbilikal dengan oksitosin ataupun dengan plasebo.

F. APLIKASI HASIL PENELITIAN DI INDONESIA


Setelah saya mencari ke beberapa sumber mengenai penerapan injeksi
oksitosin secara intra umbilikal di Indonesia, didapatkan bahwa belum ada
yang menerapkan metode ini di Indonesia. Hal ini mungkin disebabkan karena
masih sedikitnya literatur-literatur yang membahas lebih detail mengenai
suntikan oksitosin secara intra umbilikal, sehingga WHO pun belum bisa
menentukan apakah hal tindakan ini dapat di masukkan sebagai salah satu hal
yang harus di laksanakan bersamaan dengan penatalaksanaan manajemen aktif
kala III.
Meskipun begitu, setelah saya membaca isi jurnal ini dan hasil penelitian
yang didapatkan oleh jurnal ini, penerapan injeksi oksitosin secara intra
umbilikal sebagai salah satu penatalaksanaan manajemen aktif kala III dapat
menjadi alternatif lain untuk mengurangi angka kematian ibu yang disebabkan
oleh perdarahan post partum ataupun dapat membantu ibu anemia yang ingin
melahirkan secara normal.
Namun, jika injeksi oksitosin intra umbilikal dimasukan menjadi salah
satu penatalaksanaan manajemen aktif kala III mungkin akan dibutuhkan
pelatihan-pelatihan lebih lanjut untuk tenaga-tenaga kesehatan sehingga
kegiatan ini dapat dilakukan dengan baik dan mendapatkan hasil yang
maksimal.

Sumber Jurnal : https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20733444