Anda di halaman 1dari 11

KASUS MONOPOLI PLN

Magister Akuntansi

Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta

Oleh :Arif Dwisantoso(W100170022),Wahyu Tri Wibowo (W100170026)

A. Sejarah PLN

Proses peralihan kekuasaan kembali terjadi di akhir Perang Dunia II pada Agustus 1945, saat
Jepang menyerah kepada Sekutu. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh para pemuda dan buruh
listrik melalui delegasi Buruh/Pegawai Listrik dan Gas yang bersama-sama dengan Pimpinan
KNI Pusat berinisiatif menghadap Presiden Soekarno untuk menyerahkan perusahaan-
perusahaan tersebut kepada Pemerintah Republik Indonesia. Pada 27 Oktober 1945, Presiden
Soekarno membentuk Jawatan Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan
Tenaga dengan kapasitas pembangkit tenaga listrik sebesar 157,5 MW.

Pada tanggal 1 Januari 1961, Jawatan Listrik dan Gas diubah menjadi BPU-PLN (Badan
Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara) yang bergerak di bidang listrik, gas dan kokas
yang dibubarkan pada tanggal 1 Januari 1965. Pada saat yang sama, 2 (dua) perusahaan
negara yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai pengelola tenaga listrik milik negara
dan Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai pengelola gas diresmikan.

Pada tahun 1972, sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.17, status Perusahaan Listrik
Negara (PLN) ditetapkan sebagai Perusahaan Umum Listrik Negara dan sebagai Pemegang
Kuasa Usaha Ketenagalistrikan (PKUK) dengan tugas menyediakan tenaga listrik bagi
kepentingan umum.

Seiring dengan kebijakan Pemerintah yang memberikan kesempatan kepada sektor swasta
untuk bergerak dalam bisnis penyediaan listrik, maka sejak tahun 1994 status PLN beralih
dari Perusahaan Umum menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) dan juga sebagai PKUK
dalam menyediakan listrik bagi kepentingan umum hingga sekarang.

B. LATAR BELAKANG MASALAH


PT. Perusahaan Listrik Negara Persero (PT. PLN) merupakan Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) yang diberikan mandat untuk menyediakan kebutuhan listrik di Indonesia.
Seharusnya sudah menjadi kewajiban bagi PT. PLN untuk memenuhi itu semua, namun pada
kenyataannya masih banyak kasus dimana mereka merugikan masyarakat. Kasus ini menjadi
menarik karena disatu sisi kegiatan monopoli mereka dimaksudkan untuk kepentingan
mayoritas masyarakat dan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sesuai UUD 1945 Pasal 33,
namun disisi lain tindakan PT. PLN justru belum atau bahkan tidak menunjukkan kinerja
yang baik dalam pemenuhan kebutuhan listrik masyarakat.

Hingga saat ini, PT. PLN masih merupakan satu-satunya perusahaan listrik sekaligus
pendistribusinya. Dalam hal ini PT. PLN sudah seharusnya dapat memenuhi kebutuhan listrik
bagi masyarakat, dan mendistribusikannya secara merata.

Usaha PT. PLN termasuk kedalam jenis monopoli murni. Hal ini ditunjukkan karena PT.
PLN merupakan penjual atau produsen tunggal, produk yang unik dan tanpa barang
pengganti yang dekat, serta kemampuannya untuk menerapkan harga berapapun yang mereka
kehendaki.

Pasal 33 UUD 1945 menyebutkan bahwa sumber daya alam dikuasai negara dan
dipergunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Sehingga. Dapat disimpulkan
bahwa monopoli pengaturan, penyelengaraan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan
sumber daya alam serta pengaturan hubungan hukumnya ada pada negara.

Pasal 33 mengamanatkan bahwa perekonomian Indonesia akan ditopang oleh 3 pemain


utama yaitu koperasi, BUMN/D (Badan Usaha Milik Negara/Daerah), dan swasta yang akan
mewujudkan demokrasi ekonomi yang bercirikan mekanisme pasar, serta intervensi
pemerintah, serta pengakuan terhadap hak milik perseorangan. Penafsiran dari kalimat
“dikuasai oleh negara” dalam ayat (2) dan (3) tidak selalu dalam bentuk kepemilikan tetapi
utamanya dalam bentuk kemampuan untuk melakukan kontrol dan pengaturan serta
memberikan pengaruh agar perusahaan tetap berpegang pada azas kepentingan mayoritas
masyarakat dan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Kasus monopoli yangdilakukan oleh PT.PLN adalah:


1. Fungsi PT. PLN sebagai : pembangkit, distribusi, dan transmisi listrik mulai dipecah.
Swasta diizinkan berpartisipasi dalam upaya pembangkitan tenaga listrik. Sementara untuk
distribusi dan transmisi tetap ditangani PT. PLN. Saat ini telah ada 27 Independent Power
Producer di Indonesia. Mereka termasuk General Electric, Californian Energy, Edison
Mission Energy, Mitsui & Co, Black & Veath Internasional, Duke Energy, Hoppwell
Holding, dan masih banyak lagi. Tetapi dalam menentukan harga listrik yang harus dibayar
masyarakat tetap ditentukan oleh PT. PLN sendiri.

2. Krisis listrik memuncak saat PT. Perusahaan Listrik Negara (PT. PLN) memberlakukan
pemadaman listrik secara bergiliran di berbagai wilayah Jawa Barat. Semua industri di Jawa-
Bali wajib menaati, dan sanksi bakal dikenakan bagi industri yang membandel. Dengan
alasan klasik, PLN berdalih pemadaman dilakukan akibat defisit daya listrik yang semakin
parah karena adanya gangguan pasokan batubara pembangkit utama di sistem kelistrikan
Jawa-Bali, yaitu di pembangkit Tanjung Jati, Paiton Unit 1 dan 2, serta Cilacap.

Namun, di saat yang bersamaan terjadi juga permasalahan serupa untuk pembangkit
berbahan bakar minyak (BBM) PLTGU Muara Tawar dan PLTGU Muara
Karang.Dikarenakan PT. PLN memonopoli kelistrikan nasional, kebutuhan listrik masyarakat
sangat bergantung pada PT. PLN, tetapi mereka sendiri tidak mampu secara merata dan adil
memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya daerah-
daerah yang kebutuhan listriknya belum terpenuhi dan juga sering terjadi pemadaman listrik
secara sepihak. Kejadian ini menyebabkan kerugian yang tidak sedikit bagi masyarakat, dan
investor menjadi enggan untuk berinvestasi.

Krisis listrik di Indonesia bisa dikatakan sudah berada dalam tahap yang mengkhawatirkan.
Di beberapa wilayah, tiada hari tanpa pemadaman bergilir. Sistem Jawa-Bali yang paling
maju dan terinterkoneksi juga masih sering mengalami masalah.Krisis listrik memuncak saat
PT. Perusahaan Listrik Negara (PT. PLN) memberlakukan pemadaman listrik secara
bergiliran di berbagai wilayah termasuk Jakarta dan sekitarnya, selama periode 11-25 Juli
2015.

Produksi PLN yang sudah ada juga tidak optimal dan mahal karena sebagian besar
pembangkit sudah tua, boros bahan bakar, kekurangan pasokan energi primer, dan sering
mengalami kerusakan. PLN juga dikenal tidak efisien, seperti susut daya listrik yang besar,
mahalnya harga pembelian listrik swasta, tingginya kasus pencurian listrih hingga korupsi.
Stagnasi ini juga dipicu oleh pembangunan listrik yang tidak bervisi ke depan akibat subsidi
BBM regresif membuat sebagian besar pembangkit PLN adalah pembangkit termal yang kini
kian mahal. Selain mahal, konversi energi bahan bakar fosil menjadi listrik juga sangat tidak
efisien (hanya sekitar 30%) dan tidak ramah lingkungan.

Akibat dari PT. PLN yang memonopoli kelistrikan nasional, kebutuhan listrik masyarakat
sangat bergantung pada PT. PLN, tetapi mereka sendiri tidak mampu secara merata dan adil
memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Banyak daerah-daerah yang kebutuhan listriknya
belum terpenuhi dan juga sering terjadi pemadaman listrik secara sepihak. Kejadian ini
menyebabkan kerugian yang tidak sedikit bagi masyarakat, dan investor menjadi enggan
untuk berinvestasi.

C. Pembahasan

Islam mengatur secara jelas apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan dalam
kehidupan atau dunia bisnis. Al Quran menyebutkan yang hak dan yang batil, jika masih ada
yang diragukan mengenai hak dan batil dianjutkan untuk ditinggalkan.

- Muhammad (2006) yang dikutip dari Yusuf Qardhawi menjelaskan beberapa prinsip
Islam mengenai penentuan halal dan haram berikut:
a. Prinsipnya semua kegiatan muamalah diperbolehkan
b. Hanya Allah yang berhak melarang sesuatu itu boleh atau tidak
c. Melarang yang halal dan memperbolehkan yang haram adalah syirik
d. Larangan atas sesuatu didasarkan atas najis atau merusak
e. Apa yang halal diperbolehkan, apa yang haram dilarang
f. Menganggap yang haram adalah halal dilarang
g. Yang mendorong menjadi haram adalah haram
h. Niat yang baik tidak membuat yang haram menjadi halal
i. Niat yang meragukan dianjurkan untuk dihindari
j. Yang haram terlarang bagi siapapun
k. Suatu keharusan menuntut perlunya kekecualian
- Dalam Al Quran juga disebutkan beberapa larangan dalam bisnis
a. Jangan mengambil hak orang lain secara batil
b. Jangan melakukan riba
c. Tidak melakukan jual beli ketika khatib naik mimbar
d. Tidak melakukan bisnis secara gharar dan masyir
e. Tidak melakukan kegiatan perjudian
f. Tidak melakukan bisnis yang dilarang agama
g. Tidak melakukan kecurangan dalam berbagai bentuk, curang dalam mutu, timbangan,
dll
h. Tidak melakukan pemborosan
- Praktek bisnis yang diharamkan:
a. Melaksanakan system ekonomi ribawi
b. Mengambil hak dan harta orang secara batil
c. Kecurangan mengurangi timbangan/ takaran
d. Menipu atau mengurangi kualitas
e. Memproduksi tau menjual barang haram yang merusak jiwa, badan, dan perilaku
masyarakat
f. Melaksanakan dan membantu pelaksanaan yang dilarang, seperti judi
g. Berbisnis dalam ketidak pastian, misalnya ijon
h. Melakukan berbagai bentuk penipuan
i. Pennimbunan barang untuk mengmbil keuntungan
j. Melakukan transaksi jual beli barang sebelum masuk pasar atau sebelum penjual
menguasai pasar
k. Melakukan berbagai kegiatan monopoli, oligopoly, kartel dn monopsoni
l. Melaksananakan persaingan tidak sehat
m. Melakukan kegiatan korupi, kolusi, nepotisme
n. Melkukan berbagai kegiatab pemborosan dan tidak efisien
o. Hedonism yang menimbulkan lupa mengingat Tuhan
p. Melakukan berbagai kegiatan spekulasi

Secara hukum masih terdapat berbagai perdebatan, apakah usaha yang dilakukan oleh PLN
adalah tindakan monopoli yang diperbolehkan atau tidak. Namun melihat dari kerugian yang
diterima oleh masyarakat, seharusnya tindakan monopoli ini tidak boleh dilakukan. Kerugian
ini diduga karena kurang optimalnya kinerja PLN dalam penyedia listrik masyarakat.
Sedangkan dari segi persaingan usaha, monopoli yang dilakukan PLN merupakan persaingan
usaha yang tidak sehat karena PLN hanya satu – satunya perusahaan penyedia listrik di
Indonesia. Karena merupakan satu - satunya perusahaan penyedia listrik di Indonesia, maka
berbagai penilaian pun muncul mulai dari dugaan kinerja PLN yang tidak terukur (karena
tidak ada pembandingnya), adanya kesewenang – wenangan menaikkan harga (meskipun
dalam pengendalian Menteri BUMN), dugaan adanya pemborosan dalam pengelolaan sumber
daya – setelah PLN mengalami defisit daya listrik.

Dilihat dari perspektif Islam, aktifitas monopoli memang sesuatu yang diharamkan. Monopoli
sendiri dalam perspektif Islam merupakan aktifitas menahan atau menimbun barang dengan
sengaja, terutama pada saat kelangkaan, dengan tujuan menaikkan harga di kemudian hari,
agar mendapat keuntungan yang lebih besar. Dalam hal ini PLN yang merupakan perusahaan
listrik satu – satunya juga berpotensi bermain harga untuk kepentingan peribadinya, sehingga
membuat masyarakat terbebani. Sedangkan aktifitas yang menyebabkan orang banyak
terbebani/ kesulitan dengan tujuan tertentu adalah hal yang tidak diperbolehkan dalam Islam

D. Analisa Etika Bisnis dalam Perspektif Islam

Beberapa penulis memberikan pendapat tentang filsafat etika dalam Islam. Menurut Beuken
(1997:21), Islam memiliki 6 aksioma dari filsafat etika Islam, yaitu:

1. Tauhid, unity (kesatuan, keutuhan)

Konsep ini berarti semua aspek hidup dan mati adalah satu baik aspek politik, ekonomi,
social, maupun agama adalah berasal dari satu sistem nilai yang paling terintegrasi, terkait
dan konsisten. Tauhid hanya cukup dianggap keyakinan Tuhan hanya satu. Tauhid adalah
sistem yang harus dijalankan dalam mengelola kehidupan ini.

Dari konsepsi ini, maka Islam menawarkan keterpaduan agama, ekonomi, dan sosial demi
membentuk kesatuan. Atas dasar pandangan ini maka pengusaha muslim dalam melakukan
aktivitas maupun entitas bisnisnya tidak akan melakukan paling tidak tiga hal (Beekun, 1997
: 20-23):

Pertama, diskriminasi terhadap pekerja, penjual, pembeli, mitra kerja atas dasar pertimbangan
ras, warna kulit, jenis kelamin atau agama (QS. Al Hujurat ayat 13). Kedua, Allah lah
semestinya yang paling ditakuti dan dicintai. Oleh karena itu, sikap ini akan terefleksikan
dalam seluruh sikap hidup dalam berbagai dimensinya termasuk aktivitas bisnis (QS. Al
An’aam ayat 163). Ketiga, menimbun kekayaan atau serakah, karena hakikatnya kekayaan
merupakan amanah Allah (QS. Al Kahfi ayat 46).
Pada konsepsi ini PLN dinilai tidak melanggar, karena PLN yang merupakan perusahaan
negara sudah melakukan dengan benar dengan tidak melakukan 3 hal sebagaimana
disebutkan diatas

2. Adil, equilibrium (keseimbangan, harmoni)

Semua aspek kehidupan harus seimbang agar menghasilkan keteraturan dan keamanan sosial
sehingga kehidupan manusia di dunia dan di akhirat nanti melahirkan harmoni dan
keseimbangan. Keadilan dan keseimbangan disini juga diartikan bahwa semua orang dapat
memperoleh hak yang sama, tidak ada yang dirugikan

Dalam konsepsi ini,PLN dinilai belum bersifat adil/ belum bisa memperlakukan masyarakat
selaku konsumennya secara seimbang, dimana masyarakat di berbagai wilayah masih ada
yang belum mendapat aliran listrik, di beberapa daerah juga masih mengalami pemadaman
listrik bergilir

3. Free will (kebebasan)

Manusia diangkat segai khalifah Allah atau pengganti Allah di bumi untuk
memakmurkannya. Manusia dipersilakan dan mampu berbuat sesuka hatinya tanpa paksaan,
tuhan memberikan koridor yang boleh dan tidak boleh. Berdasarkan aksioma ini, dalam
bisnis manusia (perusahaan) mempunyai kebebasan untuk membuat suatu perjanjian atau
tidak, melaksanakan bentuk aktivitas bisnis tertentu, berkreasi mengembangkan potensi
bisnis yang ada (Beekun,1997 : 24).

Dilihat dari konsepsi ini PLN dinilai rentan melanggar dengan indikasi menyalahgunakan
wewenang dalam mengatur harga. Kenaikan harga TDL seakan semaunya PLN sendiri,
masyarakat pun kurang mendapat informasi yang jelas perihal relative seringnya kenaikan
harga ini. Meskipun dugaan beberapa kalangan perihal PLN bermain harga ini tidak
sepenuhnya benar, karena bagaimanapun PLN yang merupakan perusahaan BUMN tetap
berada dibawah pengawasan kementrian BUMN

4. Responsibility (tanggung jawab)


Karena kebebasan yang diberikan diatas, maka manusia harus memberikan
pertanggungjawabannya annti dihadapan Allah atas segala keputusan dan tindakan yang
dilakukannya. Kebebasan yang dimiliki manusia dalam menggunakan potensi sumber daya
mesti memiliki batas-batas tertentu, dan tidak digunakan sebebas-bebasnya, melainkan
dibatasi oleh koridor hukum, norma dan etika yang tertuang dalam al-Qur’an dan Sunnah
rasul yang harus dipatuhi dan dijadikan referensi atau acuan dan landasan dalam
menggunakan potensi sumber daya yang dikuasai.

Tidak kemudian digunakan untuk melakukan kegiatan bisnis yang terlarang atau yang
diharamkan, seperti judi, kegiatan produksi yang terlarang atau yang diharamkan, melakukan
kegiatan riba dan lain sebagainya. Apabila digunakan untuk melakukan kegiatan bisnis yang
jelas-jelas halal, maka cara pengelolaan yang dilakukan harus juga dilakukan dengan cara-
cara yang benar, adil dan mendatangkan manfaat optimal bagi semua komponen masyarakat
yang secara kontributif ikut mendukung dan terlibat dalam kegiatan bisnis yang dilakukan
(Muslich, 2010 : 43).

Sampai sekarang PLN masih memonopoli jasa penyaluran listrik ke masyarakat, belum mau
memberikan akses ke pihak swasta untuk membantu mengelola penyaluran tersebut,
akibatnya PLN pun sering mengalami kesulitan dalam melakukan jasa penyaluran ke seluruh
area di Indonesia, karena keterbatasan jumlah tenaga dan waktunya. Ini menunjukkan bahwa
PLN belum bisa bertanggungjawab penuh atas keputusan yang diambilnya.

5. Ihsan, benevolence (kemanfaatan)

Semua keputusan dan tindakan harus menguntungkan manusia baik didunia maupun
diakhirat, selain hal itu seharusnya tidak dilakukan. Secara keseluruhan dari konsepsi ini,
perusahaan sangat memberi manfaat kepada masyarakat banyak dengan telah dialirinya arus
listrik di sebagian besar wilayah di Indonesia, hanya saja pelayanan yang harus terus
ditingkatkan. Panduan Nabi Muhammad Dalam Bisnis Rasululah Saw, sangat banyak
memberikan petunjuk mengenai etika bisnis, di antaranya ialah : Tidak monopoli. Salah satu
keburukan sistem ekonomi kapitalis ialah melegitimasi monopoli dan oligopoli. Contoh yang
sederhana adalah eksploitasi (penguasaan) individu tertentu atas hak milik sosial, seperti air,
udara dan tanah dan kandungan isinya seperti barang tambang dan minera. Individu tersebut
mengeruk keuntungan secara pribadi, tanpa memberi kesempatan kepada orang lain. Ini
dilarang dalam Islam.
E. KESIMPULAN

Dari analisa diatas, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Keberadaan PLN di masyarakat memang sangat diperlukan, oleh karena nya


perusahaan diharapkan dapat terus meningkatkan kualitas pelayanannya sesuai
ekspektasi masyarakat Indonesia
2. Tindakan monopoli yang dilakukan PLN jika terus menerus terjadi maka akan
merugikan mayarakat, karena PLN merupakan satu – satunya perusahaan pengelola
listrik, dimana jika kondisi di suatu Negara hanya mempunyai 1 perusahaan dengan
produk yang sangat dibutuhkan masyarakat dan di suatu hari perusahaan tersebut
mengalami krisis, sehingga tidak dapat memasok dengan baik, maka masyarakatlah
yang paling dirugikan
3. Dalam kondisi menjadi perusahaan tunggal, sebenarnya PLN juga mengalami
kesulitan dalam memasok dan menyalurkan daya listrik ke seluruh wilayah di
Indonesia
4. Dari perspektif Islam, kasus monopoli PLN diatas termask bisnis yang diharamkan,
karena berpeluang besar bermain harga untuk tujuan pribadi perusahaan dengan
membebani masyarakat banyak

F. SARAN

Dari anaslisa kasus diatas,beberapa saran yang diberikan adalah:

1. PLN harus terus berbenah demi pelayanan terbaik masyarakat, misal harga TDL naik
juga harus diimbangi dengan kualitas pelayanan yang baik
2. Jika memang PLN belum bisa sepenuhnya memberikan jasa penyaluran arus listrik ke
seluruh wilayah Indonesia, maka bisa men subcont kan kepada perusahaan swasta,
seperti yang sudah dilakukan oleh PT. Angkasapura, PELINDO dan beberapa
perusahaan BUMN lainnya). Semua semata – mata demi teraliri llistriknya seluruh
daerah di wilayah NKRI
3. Pemerintah melalui kementrian BUMN atau kementrian terkait perlu melakukan
evaluasi mengenai keberadaan PLN yang menjadi satu – satunya perusahaan penyedia
listrik beserta penyalurannya di Indonesia
DAFTAR PUSTAKA

Afzalurrahman. 1997. Muhammad Sebagai Seorang Pedagang, Jakarta : Yayasan


Swarna Bhumy.
Alma, Buchari dan Donni Juni Priansa. 2009. Manajemen Bisnis Syariah, Bandung :
Alfabeta

Badroen, Faisal, dkk. 2006. Etika Bisnis dalam Islam, Jakarta : Kencana.

Beekun, Rafiq Issa. 1997. Islamic Business Ethict, Virginia:


International Institute of Islamic Thought

Bertens, K. 2000. Pengantar Etika Bisnis, Yogyakarta : Kanisius.

Bukhari, Imam. 1992. Shahih Bukhari Jilid II, trj. H. Zainuddin Hamidy, dkk,Cet. 13,
Jakarta : Widjaya

Chapra, M. Umer. 1999. Islam dan Tantangan Ekonomi, Surabaya: RisalahGusti

D. George, R. 2002. Business Ethics, Upper Saddle River, N.J. : Prentice-Hall, 5th
Ed.