Anda di halaman 1dari 4

TERAPI PENGOBATAN

Sasaran pengobatan pada penderita depresi adalah mengembalikan atau melakukan perubahan pada
mood pasien. Karena mood seseorang dipengaruhi oleh kadar serotonin dan norepinefrin di otak, maka
terapinya dilakukan dengan memodulasi serotonin dan norepinefrin di otak dengan agen – agen yang
sesuai (Depkes, 2007).

a. Tujuan terapi
Menurunkan gejala depresi dan memfasilitasi pasien untuk kembali ke keadaan normal.

b. Terapi non farmakologi


 Terapi interpersonal  berfokus pada konteks sosial depresi dan hub pasien dengan orang lain
 Terapi kognitif-behavioral  berfokus pada mengoreksi pikiran negatif, perasaan bersalah yang
tidak rasional dan rasa pesimis pasien
 ELECTRO CONVULSIVE THERAPY (ECT)
Yaitu terapi dengan melewatkan arus listrik ke otak. Terapi semacam ini sering digunakan pada
kasus depresif berat atau mempunyai risiko bunuh diri yang besar dan respon terapi dengan
obat antidepresan kurang baik. Namun, ECT dikontraindikasikan pada penderita yang menderita
epilepsi, TBC milier, tekanan tinggi intra kracial dan kelainan infark jantung.
c. Terapi farmakologi
Saat merencanakan intervensi pengobatan, penting untuk menekankan kepada penderita bahwa
ada beberapa fase pengobatan sesuai dengan perjalanan gangguan depresif :
 Fase akut bertujuan untuk meredakan gejala
 Fase kelanjutan untuk mencegah relaps
 Fase pemeliharaan/rumatan untuk mencegah rekuren

Antidepresan baru terlihat efeknya dalam 4 sampai 12 minggu, sebelum ia mengurangi atau
menghapus gejala-gejala gangguan depresif meski hasilnya dirasakan sudah membuat perbaikan
dalam 2 sampai 3 minggu. Selama masa ini efek samping akan terasa. Banyak efek samping
bersifat sementara dan akan menghilang ketika obat diteruskan, dan beberapa efek samping
menetap seperti mulut kering, konstipasi dan efek seksual.
1) SSRI (Selective Serotonin Re-uptake Inhibitor)
Mekanisme kerja : menghambat secara selektif resorpsi serotonin.
Contoh obat : fluoksetin, paroksetin, setralin, dan fluvoksamin.
2) Antidepresan trisiklik
Mekanisme kerja : menghambat re-uptake 5-HT/NE secara tidak selektif.
Contoh obat : amitriptilin, imipramine, desipramin, nortriptilin, dan klomipiramin.
3) Antidepresan tetrasiklik
Mekanisme kerja : meningkatkan aktifitas noradrenergik dan serotonergik sentral melalui efek
antagonis terhadap autoreseptor dan heteroreseptor adrenergik α2 presenaptik sentral.
Contoh obat : mirtazapine
4) MAOI (Monoamine Oxidase Inhibitor)
Mekanisme kerja : Menghambat enzim mono amine oksidase A dan B yang bertanggung jawab
untuk metabolisme interneuron dari NE dan serotonin dan meningkatkan ketersediaan untuk
neuron postsinaptik, mengurangi konsentrasi NE di otak, agonis serotonin.
Contoh obat : Fenelzin, selegilin, tranilsipromin
5) ANtagonis 5-HT atau mixed re-uptake inhibitor
Mekanisme kerja : Antagonis pada reseptor 5-HT2 dan menghambat reuptake 5-HT
Contoh obat : Trazodon, nefazodon, mirtazapin, bupropion, maprotilin, venlafaksin
(Depkes, 2007)

PERAN APOTEKER
 Memberikan edukasi kepada pasien, terkait :
1. Gangguan depresif bukan cacat kepribadian atau kelemahan karakter. Gangguan depresif
dikaitkan dengan suatu ketidakseimbangan kimiawi dalam sistem saraf yang dengan mudah
diobati dengan antidepresan dan pemberian konseling.
2. Memberitahukan bahwa efek perbaikan akan tampak biasanya 2-3 minggu.Target pengobatan
adalah menjadi sehat kembali (100%) dan mempertahankan tetap sehat.
3. Memberitahukan bahwa penggunaan obat antidepresan akan menimbulkan efek samping
seperti mulut kering, konstipasi, mual, dan muntah. Namun umumnya efek samping yang timbul
itu tidak berbahaya dan biasanya akan menghilang dalam waktu 7-10 hari.
4. Konsumsi Antidepresan sebaiknya diminum pada waktu yang sama setiap hari.
5. Memberitahu bahwa Antidepresan harus diminum sekurang-kurangnya 6 - 9 bulan.
6. Mengkonsumsi vitamin B kompleks terutama vitamin B6, vitamin E, kalsium, magnesium juga
omega-6 (asam linolenat gamma GLA).
7. Praktekkan management of anger.
8. Banyak konsumsi makanan yang mengandung protein (susu, telur, daging), karbohidrat,
9. Senantiasa berolahraga
 Memberikan edukasi kepada keluarga pasien dan pasien mengenai gejala – gejala depresi
 Memberikan perhatian kepada pasien
 Senantiasa mengungkapkan kepedulian kepada pasien
(Depkes, 2007)
RESEP

RSUD PASAR MINGGU


Jl. Tb. Simatupang No 1, Jakarta Selatan
Telepon : 021-29059999, Fax : 021-29048700
Email : marketing@rsudpasarminggu.com

RESEP
Jakarta, 6 /3 2018
R/ Fluoxetin tab 20 mg no XL
S 1 dd tab, po, pagi
R/ Clobazam tab 10 mg no L
S 2 dd tab 1/2

Pro : Tn. Dede Y


Tanggal lahir : 3/01/1975

Penambahan benzodiazepine dengan SSRI dapat memberikan perbaikan yang lebih cepat dalam depresi
dan stabilisasi lebih cepat dari gejala panik atau fobia sosial dibandingkan terapi dengan SSRI saja atau
monoterapi (Dunlop dan Davis, 2008; Furukawa et al, 2009).

DRP

Hasil pengkajian resep menunjukkan adanya DRP terhadap dosis clobazam (Underdose).

Clobazam R/ sehari adalah 2 x ½ tab = 2 x 5 mg = 10 mg/hari < (DL 20 – 30 mg/hari)

MENGATASI DRP

 Merekomendasikan kepada dokter terkait peningkatan dosis clobazam menjadi 20 mg/hari


DAFTAR PUSTAKA

Depkes, 2007, Pharmaceutical Care Untuk Penderita Gangguan Depresif, Direktorat Bina Farmasi
Komunitas Dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan, Departemen Kesehatan,
Jakarta.

Dunlop, B.W. dan Davis, P.G., 2008, Combination Treatment With Benzodiazepines and SSRIs for
Comorbid Anxiety and Depression: A Review, Prim Care Companion J Clin Psychiatry 2008, 10(3)
: 222 – 228.

Furukawa, T.A, Streiner, D., Young, L.T., dan Kinoshita, Y., 2009, Antidepressants plus benzodiazepines
for major depression (Review), The Cochrane Collaboration. Published by JohnWiley & Sons, Ltd.