Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tumor mammae adalah adanya ketidakseimbangan yang dapat terjadi pada suatu sel /
jaringan di dalam mammae dimanba ia tumbuh secara liar dan tidak bisa dikontrol
( Dr.Iskandar,2007 ).
Tumor payudara mempunyai andil terbesar dalam wanita di Nederland karena tumor-
tumor maligna. Insidensi karinoma payudara di kebanyakan negara meningkat 1-2 % tiap
tahun, sehingga mulai tahun 2000 kira-kira 1 juta wanita tiap tahun mendapatkan
penyakit ini.
Untuk Nederland ini berarti kira-kira 10.000 penderita baru tiap tahun. Setiap wanita
belanda, selama hidupnya sejak lahir mempunyai 10% kemungkinan untuk selama
hidupnya mendapat kanker payudara. Kematian karena karsinoma payudara berkat
perbaikan diagnotik dan terapi, meskipun insidennya meningkat, tetap tidak berubah.
Tetapi untuk wanita pada umur antara 30-50 tahun kanker payudara merupakan penyebab
kematian terpenting. Terobosan terakhir dalam penelitian molekular genetik
memungkinkan sekarang wanita dengan risiko genetik yang meningkat dapat
didefinisikan dengan pasti.
Diagnotik dini dengan skrining mamorgrafik membantu pengenalan penyakit ini pada
stadium dini. Perkembangan dalam kemotrapi dan radioterapi, kebnyakan dalam
kombinasi dengan pembedahan, merupakan kemungkinan terapi baru dengan
memungkinkan terapi baru dengan memungkinkan penyembuhan yang lebih besar.

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

2. Tujuan Khusus
BAB II

KONSEP DASAR

A. Definisi Tumor Mamae


Tumor mamae adalah adalah karsinoma yang berasal dari parenkim, stroma, areola dan
papilla mamma. (Lab. UPF Bedah RSDS, 2010).
Tumor mammae adalah pertumbuhan sel – sel yang abnormal yang menggangu
pertumbuhan jaringan tub uh terutama pada sel epitel di mammae ( Sylvia,2008 )
Tumor mammae adalah adanya ketidakseimbangan yang dapat terjadi pada suatu sel /
jaringan di dalam mammae dimanba ia tumbuh secara liar dan tidak bisa dikontrol
( Dr.Iskandar,2007 )

B. Patofisiologi

Tumor/neoplasma merupakan kelompok sel yang berubah dengan cirri-ciri: proliferasi


sel yang berlebihan dan tidak berguna yang tidak mengikuti pengaruh struktur jaringan
sekitarnya.

Neoplasma yang maligna terdiri dari sel-sel kanker yang menunjukkan proliferasi yang
tidak terkendali yang mengganggu fungsi jaringan normal dengan menginfiltrasi dan
memasukinya dengan cara menyebarkan anak sebar ke organ-organ yang jauh. Di dalam
sel tersebut terjadi perubahan secara biokimia terutama dalam intinya. Hampir semua
tumor ganas tumbuh dari suatu sel di mana telah terjadi transformasi maligna dan berubah
menjadi sekelompok sel-sel ganas di antar sel-sel normal.

Proses jangka panjang terjadinya kanker ada 4 fase:

1. Fase induksi: 15-30 tahun

Sampai saat ini belum dipastikan sebab terjadinya kanker, tapi factor lingkungan
mungkin memegang peranan besar dalam terjadinya kanker pada manusia.

Kontak dengan karsinogen membutuhkan waktu bertahun-tahun samapi bisa


merubah jaringan displasi menjadi tumor ganas. Hal ini tergantung dari sifat, jumlah,
dan konsentrasi zat karsinogen tersebut, tempat yang dikenai karsinogen, lamanya
terkena, adanya zat-zat karsinogen atau ko-karsinogen lain, kerentanan jaringan dan
individu.
2. Fase in situ: 1-5 tahun

pada fase ini perubahan jaringan muncul menjadi suatu lesi pre-cancerous yang bisa
ditemukan di serviks uteri, rongga mulut, paru-paru, saluran cerna, kandung kemih,
kulit dan akhirnya ditemukan di payudara.

3. Fase invasi

Sel-sel menjadi ganas, berkembang biak dan menginfiltrasi meleui membrane sel ke
jaringan sekitarnya ke pembuluh darah serta limfe.

Waktu antara fase ke 3 dan ke 4 berlangsung antara beberpa minggu sampai beberapa
tahun.

4. fase diseminasi: 1-5 tahun

Bila tumor makin membesar maka kemungkinan penyebaran ke tempat-tempat lain


bertambah.

C. Tanda dan Gejala

Penemuan tanda-tanda dan gejala sebagai indikasi kanker payudara masih sulit ditemukan
secara dini. Kebanyakan dari kanker ditemukan jika sudah teraba, biasanya oleh wanita itu
sendiri.

1. Terdapat massa utuh (kenyal)

Biasanya pada kuadran atas dan bagian dalam, di bawah lengan, bentuknya tidak
beraturan dan terfiksasi (tidak dapat digerakkan)

2. Nyeri pada daerah massa

3. Adanya lekukan ke dalam/dimping, tarikan dan retraksi pada area mammae. Dimpling
terjadi karena fiksasi tumor pada kulit atau akibat distorsi ligamentum cooper.

Cara pemeriksaan : kulit area mammae dipegang antara ibu jari dan jari telunjuk tangan
pemeriksa lalu didekatkan untuk menimbulkan dimpling.

4. Edema dengan Peaut d’oramge skin (kulit di atas tumor berkeriput seperti kulit jeruk)

5. Pengelupasan papilla mammae


6. Adanya kerusakan dan retraksi pada area putting susu serta keluarnya cairan secara
spontan kadang disertai darah.

7. Ditemukan lesi atau massa pada pemeriksaan mamografi.

D. Pemeriksaan Penunjang

1. Laboratorium meliputi:

a. Morfologi sel darah

b. Laju endap darah

c. Tes faal hati

d. Tes tumor marker (carsino Embrionyk Antigen/CEA) dalam serum atau plasma

e. Pemeriksaan sitologik

2. Tes diagnosis lain

a. Non invasive

1. Mamografi

Yaitu radiogram jaringan lunak sebagai pemeriksaan tambahan yang penting.


Mamografi dapat mendeteksi massa yang terlalu kecil untuk dapat diraba. Dalam
beberapa keadaan dapat memberikan dugaan ada tidaknya sifat keganasan dari
massa yang teraba. Mamografi dapat digunakan sebagai pemeriksaan penyaring
pada wanita-wanita yang asimptomatis dan memberikan keterangan untuk
menuntun diagnosis suatu kelainan.

2. Radiologi (foto roentgen thorak)

3. USG

Teknik pemeriksaan ini banyak digunakan untuk membedakan antara massa yang
solit dengan massa yang kistik. Disamping itu dapat menginterpretasikan hasil
mammografi terhadap lokasi massa pada jaringan patudar yang tebal/padat.

4. Magnetic Resonance Imaging (MRI)


Pemeriksaan ini menggunakan bahan kontras/radiopaque melaui intra vena,
bahan ini akan diabsorbsi oleh massa kanker dari massa tumor. Kerugian
pemeriksaan ini biayanya sangat mahal.

5. Positive Emission Tomografi (PET)

Pemeriksaan ini untuk mendeteksi ca mamae terutama untuk mengetahui


metastase ke sisi lain. Menggunakan bahan radioaktif mengandung molekul
glukosa, pemeriksaan ini mahal dan jarang digunakan.

b. Invasif

1. Biopsi

Pemeriksaan ini dengan mengangkat jaringan dari massa payudara untuk


pemeriksaan histology untuk memastikan keganasannya. Ada 4 tipe biopsy, 2
tindakan menggunakan jarum dan 2 tindakan menggunakan insisi pemmbedahan.

a) Aspirasi biopsy

Dengan aspirasi jarum halus sifat massa dapat dibedakan antara kistik atau
padat, kista akan mengempis jika semua cairan dibuang. Jika hasil
mammogram normal dan tidak terjadi kekambuhan pembentukan massa
srlama 2-3 minggu, maka tidak diperlukan tindakan lebih lanjut. Jika massa
menetap/terbentuk kembali atau jika cairan spinal mengandung darah,maka ini
merupakan indikasi untuk dilakukan biopsy pembedahan.

b) Tru-Cut atau Core biopsy

Biopsi dilakukan dengan menggunakan perlengkapan stereotactic biopsy


mammografi dan computer untuk memndu jarum pada massa/lesi tersebut.
Pemeriksaan ini lebih baik oleh ahli bedah ataupun pasien karena lebih cepat,
tidak menimbulkan nyeri yang berlebihan dan biaya tidak mahal.

c) Insisi biopsy

Sebagian massa dibuang

d) Eksisi biopsy

Seluruh massa diangkat


Hasil biopsy dapat digunakan selama 36 jam untuk dilakukan pemeriksaan
histologik secara frozen section.

E. Komplikasi

Komplikasi utama dari tumor payudara adalah metastase jaringan sekitarnya dan juga
melalui saluran limfe dan pembuluh darah ke organ-organ lain. Tempat yang sering untuk
metastase jauh adalah paru-paru, pleura, tulang dan hati. Metastase ke tulang
kemungkinan mengakibatkan fraktur patologis, nyeri kronik dan hipercalsemia. Metastase
ke paru-paru akan mengalami gangguan ventilasi pada paru-paru dan metastase ke otak
mengalami gangguan persepsi sensori.

F. Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri berhubungan dengan jaringan; reflek spasme otot terhadap fraktur, luka operasi.
Tujuan : Nyeri menurun/terkontrol.

Intervensi :

1. Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik dan beratnya (skala 1-10)


R : Berguna dalam keefektifan obat, kemajuan penyembuhan.

2. Pertahankan istirahat dengan posisi sesuai kondisi.


R : Menghilangkan tegangan yang bertambah dengan posisi yang nyaman.

3. Dorong ambulasi dini.


R : Meningkatkan normalisasi fungsi organ yang sehat/tidak ada trauma.

4. Berikan aktivitas hiburan.


R : Meningkatkan relaksasi dan meningkatkan kemampuan koping.

5. Berikan kompres pada daerah nyeri.


R : Menghilangkan dan mengurangi nyeri melalui penghilangan rasa ujung syaraf.

6. Berikan dualgesik sesuai indikasi.


R : Menghilangkan nyeri.

2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri; kerusakan integritas tulang.


Tujuan : Mampu meminta bantuan untuk mobilisasi sesuai kebutuhan.
Mampu memaksimalkan fungsi ekstrimitas yang sehat.

Intervensi :

1. Ajarkan untuk melakukan latihan tentang gerak aktif pada anggota gerak yang sehat
sedikitnya 4x sehari.
R : Mengoptimalkan anggota gerak yang sehat, mencegah penurunan perfusi jaringan
anggota gerak yang sehat.

2. Posisikan tubuh untuk mencegah komplikasi, ubah posisi tiap 2-4 jam.
R : Mencegah komplikasi.

3. Ajarkan penggunaan alat bantu yang sesuai.


R : Membantu mobilisasi secara mandiri.

4. Ajarkan individu melakukan tindakan kewaspadaan keamanan.


R : Mencegah injuri karena kerusakan mobilitas fisik.

5. Kolaborasi untuk fisioterapi.


R : Meningkatkan kemampuan mobilitas secara bertahap.

3. Resiko perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan/interupsi aliran darah.


Tujuan : Mempertahankan perfusi jaringan dibuktikan oleh teraba nadi, kulit
hangat/kering, sensori normal, tanda vital stabil, haluaran urin haluaran urin
adekuat.

Intervensi :

1. Kaji aliran hapiur, warna kulit dan kehangatan distal pada fraktur.
R : Kembalinya warna harus cepat (3-5 detik), warna kulit menunjukkan gangguan
anterial. Sianosis diduga ada gangguan vena.

2. Kaji neoromuskuler. Perhatikan perubahan fungsi motor/sensori. Minta pasien untuk


melokalisasi nyeri/ketidaknyamanan.
R : Gangguan perasaan kebas, kesemutan, peningkatan/penyebaran nyeri terjadi bila
sirkulasi pada saraf tidak adekuat/saraf rusak.

3. Kaji keseluruhan panjang ekstrimitas yang cedera untuk pembengkakan/ pembentukan


edema. Perhatikan adanya hematoma. Bandingkan ekstrimitas yang cedera dan yang
sehat.
R : Peningkatan tingkat ekstrimitas yang cedera dapat diduga adanya pembengkakan
jaringan/edema umum tetapi dapat menunjukkan perdarahan.

4. Selidiki tanda iskemin ekstrimitas tiba (penurunan suhu kulit, peningkatan nyeri).
R : Dislokasi fraktur sendi dapat menyebabkan kerusakan arteri yang berdekatan
sehingga aliran darah ke distal hilang/turun.

5. Ambulasi sesegera mungkin.


R : Meningkatkan sirkulasi dan menurunkan pengumpulan darah khususnya
ekstrimitas bawah.

6. Awasi tanda vital


R : Ketidakadekuatan volume sirkulasi akan mempengaruhi sistem perfusi jaringan.

7. Awasi Hb/Ht, pemeriksaan koagulasi (kadar protombin).


R : Membantu dalam kalkulasi kehilangan darah dan keefektifan terapi pengganti.

8. Siapkan intervensi bedah sesuai indikasi.


DAFTAR PUSTAKA