Anda di halaman 1dari 340

Abdul Latief Sulam

TEKNIK PEMBUATAN
BENANG DAN
PEMBUATAN KAIN
JILID 1

SMK

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan


Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang

TEKNIK PEMBUATAN
BENANG DAN
PEMBUATAN KAIN
JILID 1
Untuk SMK
Penulis Utama : Abdul Latief Sulam
Perancang Kulit : Tim

Ukuran Buku : 17,6 x 25 cm

SLM SULAM, Abdul Latief


t Teknik Pembuatan Benang dan Pembuatan Kain Jilid 1
untuk SMK /oleh Abdul Latief Sulam ---- Jakarta : Direktorat
Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal
Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen
Pendidikan Nasional, 2008.
xxix. 287 hlm
Daftar Pustaka : B1-B2
ISBN : 978-979-060-108-6
978-979-060-109-3

Diterbitkan oleh
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
KATA SAMBUTAN

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat


dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat
Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal
Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen
Pendidikan Nasional, telah melaksanakan kegiatan penulisan
buku kejuruan sebagai bentuk dari kegiatan pembelian hak cipta
buku teks pelajaran kejuruan bagi siswa SMK. Karena buku-buku
pelajaran kejuruan sangat sulit di dapatkan di pasaran.

Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan
Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk
SMK dan telah dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untuk
digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 45 Tahun 2008 tanggal 15 Agustus
2008.

Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya


kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak
cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk
digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK.
Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada
Departemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (download),
digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh
masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial
harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan
oleh Pemerintah. Dengan ditayangkan soft copy ini diharapkan
akan lebih memudahkan bagi masyarakat khsusnya para
pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia maupun
sekolah Indonesia yang berada di luar negeri untuk mengakses
dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar.

Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini.


Kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan
semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami
menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya.
Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan.

Jakarta, 17 Agustus 2008


Direktur Pembinaan SMK
PENGANTAR PENULIS

Dengan terlebih dahulu memanjatkan puji syukur kepada


Allah SWT bahwa penulis telah dapat menyelesaikan penulisan
buku ini tanpa ada halangan yang berarti.

Buku merupakan bagian integral dari suatu sistem pendidikan


bahkan merupakan salah satu kunci untuk melepaskan diri dari
ketinggalan pengetahuan dan teknologi yang terus tumbuh dan
berkembang.

Penyediaan buku ini untuk Sekolah Menengah Kejuruan


dengan tujuan untuk menunjang pelaksanaan proses belajar di
sekolah, baik digunakan oleh siswa maupun sebagai pedoman bagi
guru dalam mengajar, khususnya pada Program Keahlian
Teknologi Pembuatan Benang dan Teknologi Pembuatan Kain
Tenun.

Kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan


buku ini kami sampaikan banyak terima kasih dan kepada para
pembaca, segala saran yang bersifat konstruktif kami
menyampaikan penghargaan dan terima kasih.

Penulis

ii
DAFTAR ISI
Halaman

KATA SAMBUTAN .................................................................. i


PENGANTAR PENULIS .......................................................... ii
DAFTAR ISI ............................................................................ iii
DAFTAR ISTILAH/GLOSARI .................................................. xv
SINOPSIS ............................................................................... xvi
DESKRIPSI KONSEP PENULISAN........................................ xvii
PETA KOMPETENSI .............................................................. xviii
JILID 1
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Ruang Lingkup Teknologi Tekstile .......................... 1
1.1.1 Pengertian Tekstil..................................................... 1
1.1.2 Pengertian Berdasarkan Etimologi ........................... 1
1.1.3 Pengertian Berdasarkan Substansi Bahan............... 1
1.1.4 Pengertian Berdasarkan Modifikasi Bahan dan
Fungsi....................................................................... 1
1.1.5 Pengertian Berdasarkan Teknologi Proses .............. 1
1.2 Prinsip Pembuatan Benang ..................................... 2
1.3 Prinsip Pembuatan Kain Tenun ............................... 3

BAB II BAHAN BAKU


2.1. Pengertian Serat ...................................................... 4
2.2. Sejarah Perkembangan Serat .................................. 4
2.2.1 Produksi Serat.......................................................... 4
2.3. Jenis Kapas ............................................................. 6
2.4. Penerimaan Bal Kapas............................................. 6
2.5. Penyimpanan Bal Kapas .......................................... 6
2.6. Pengambilan Bal Kapas ........................................... 6
2.7. Persyaratan Serat untuk dipintal ............................. 6
2.7.1 Panjang Serat........................................................... 6
2.7.1.1 Penentuan Panjang Serat dengan Tangan .............. 7
2.7.1.2 Penentuan Panjang Serat dengan Alat ................... 7
2.7.2 Kekuatan Serat......................................................... 8
2.7.2.1 Kekuatan Serat per Helai ......................................... 8
2.7.2.2 Kekuatan Serat per Bundel (Berkas)........................ 8
2.7.3 Kehalusan Serat ....................................................... 9
2.7.4 Gesekan Permukaan Serat ...................................... 11
2.7.5 Kekenyalan Serat (Elastisitas).................................. 11

BAB III BENANG


3.1 Benang menurut Panjang Seratnya ......................... 13

iii
3.2 Benang menurut Konstruksinya ............................... 13
3.3 Benang menurut Pemakaiannya .............................. 13
3.4 Persyaratan Benang................................................. 17
3.4.1 Kekuatan Benang ..................................................... 17
3.4.2 Mulur Benang ........................................................... 18
3.4.3 Kerataan Benang ..................................................... 18
3.5 Penomoran Benang ................................................. 19
3.5.1 Satuan-satuan yang dipergunakan .......................... 19
3.5.2 Penomoran Benang secara tidak langsung ............. 19
3.5.2.1 Penomoran Cara Kapas (Ne1) ................................. 20
3.5.2.2 Penomoran Cara Worsted (Ne3) ............................. 21
3.5.2.3 Penomoran Cara Wol Ne2 atau Nc ........................ 21
3.5.2.4 Penomoran Cara Metrik (Nm) ................................. 22
3.5.2.5 Penomoran Cara Perancis (Nf) ............................... 22
3.5.2.6 Penomoran Cara Wol Garu (Ne4) ........................... 23
3.5.3 Penomoran Benang Secara Langsung .................... 23
3.5.3.1 Penomoran Cara Denier (D atau Td) ....................... 24
3.5.3.2 Penomoran Cara Tex (Tex)...................................... 24
3.5.3.3 Penomoran Cara Jute (Ts) ....................................... 25

BAB IV PENCAMPURAN SERAT


4.1 Pembukaan Bungkus Bal Kapas .............................. 27
4.2 Penyimpanan Bal Kapas di Ruang Mixing ............... 28
4.3 Blending ................................................................... 29
4.4 Mixing ....................................................................... 31

BAB V PROSES PEMBUATAN BENANG


5.1 Sistem Pintal dengan Flyer....................................... 33
5.2 Sistem Pintal Mule.................................................... 34
5.3 Sistem Pintal Cap ..................................................... 34
5.4 Sistem Pintal Ring ................................................... 35
5.5 Sistem Pintal Open End ........................................... 36
5.6 Pembuatan Benang Kapas....................................... 37
5.6.1 Cara Memintal dengan regangan biasa (ordinary
draft spinning system) .............................................. 37
5.6.2 Cara memintal dengan regangan tinggi (High draft
spinning system)....................................................... 37
5.6.3 Cara memintal dengan regangan yang sangat
tinggi (Super high draft spinning system) ................. 38
5.6.4 Pembuatan Benang Sisir (Combed Yarn) ................ 39
5.7 Pembuatan Benang Wol........................................... 42
5.7.1 Sistem Pembuatan Benang Wol Garu (Woolen
Spinning) .................................................................. 42
5.7.2 Pembuatan Benang Wol Sisir................................... 44
5.8 Pembuatan Benang Rami ........................................ 48

iv
5.8.1 Bahan Baku .............................................................. 48
5.8.2 Proses Pengolahan Bahan Baku menjadi Benang... 48
5.8.3 Sifat Rami dibanding dengan serat Kapas .............. 49
5.8.4 Kegunaan Serat Rami .............................................. 50
5.8.5 Pencampuran dengan serat-serat lain ..................... 50
5.8.6 Skema Proses Pemintalan Rami.............................. 50
5.9 Pengolahan Benang Sutera ..................................... 53
5.9.1 Bahan Baku .............................................................. 53
5.9.2 Pengolahan Kokon ................................................... 53
5.9.3 Proses Pemilihan Kokon ......................................... 53
5.9.4 Pembuatan Benang dengan Mesin Reeling ............. 54
5.9.5 Limbah Sutera .......................................................... 56
5.10 Pembuatan Benang Sintetik ..................................... 56
5.10.1 Pengolahan Serat Buatan ........................................ 56
5.10.2 Pembuatan Benang dari Serat Buatan..................... 57
5.10.3 Benang Pintal (Spun Yarn) ...................................... 59
5.11 Pembuatan Benang Campuran ................................ 60
5.12 Proses di Mesin Blowing .......................................... 62
5.12.1 Mesin Loftex Charger ............................................... 63
5.12.1.1 Proses di mesin Loftex Charger ............................... 63
5.12.2 Mesin Hopper Feeder .............................................. 64
5.12.2.1 Proses di mesin Hopper Feeder Cleaner ................. 64
5.12.2.2 Mesin Hopper Feeder Cleaner ................................ 64
5.12.2.3 Proses di mesin Hopper Feeder Cleaner ................ 64
5.12.2.4 Gerakan antara permukaan berpaku........................ 65
5.12.2.5 Proses di mesin Pre Opener ................................... 67
5.12.2.6 Pemisahan Kotoran di mesin Pre Opener Cleaner .. 68
5.12.2.7 Gerakan Pemukul..................................................... 68
5.12.3. Mesin Condensor at Cleaner.................................... 69
5.12.3.1 Proses di Mesin Condensor at Cleaner.................... 69
5.12.3.2 Pemisahan Kotoran di Mesin Condensor at Cleaner 69
5.12.4 Mesin Opener Cleaner ............................................. 70
5.12.4.1 Proses di mesin opener Cleane ............................... 70
5.12.4.2 Pemisahan kotoran di mesin opener cleaner .......... 71
5.12.5 Mesin Condensor at Picker ..................................... 71
5.12.5.1 Proses di Mesin Condensor at Picker ...................... 71
5.12.5.2 Pemisahan kotoran di Mesin Condensor at Picker... 71
5.12.6. Mesin Micro Even Feeder......................................... 72
5.12.6.1 Proses di Mesin Micro Even Feeder......................... 73
5.12.7 Mesin Scutcher......................................................... 73
5.12.7.1 Proses di Mesin Scutcher......................................... 74
5.12.7.2 Gerakan Pengaturan Penyuapan ............................. 74
5.12.8.3 Proses Pembukaan dan Pemukulan serat di Mesin
Scutcher ................................................................... 78
5.12.8.4 Pemisahan Kotoran di Mesin Scutcher .................... 80
5.12.8.5 Tekanan Rol Penggilas…… ..................................... 82

v
5.12.8.6 Tekanan Batang Penggulung Lap............................ 84
5.12.9 Pengujian Mutu Hasil................................................ 87
5.12.9.1 Penimbangan Berat Lap........................................... 87
5.12.9.2 Pengujian Nomor Lap............................................... 87
5.12.9.3 Pengujian Kerataan Lap ........................................... 87
5.12.9.4 Pengujian persen limbah .......................................... 88
5.12.10 Perhitungan Regangan............................................. 88
5.12.10.1 Susunan Roda Gigi Mesin Scutcher......................... 88
5.12.10.2 Sistim Hidroulik pada Mesin Blowing ...................... 91
5.12.10.3 Perhitungan Regangan............................................. 91
5.12.11 Perhitungan Produksi ............................................... 96
5.12.11.1 Produksi Teoritis....................................................... 96
5.12.11.2 Produksi Nyata ......................................................... 96
5.12.11.3 Efisiensi .................................................................... 97
5.12.11.4 Pemeliharaan Mesin Blowing .................................. 97
5.13 Proses di Mesin Carding ......................................... 98
5.13.1 Bagian Penyuapan ................................................... 101
5.13.1.1 Pelat Penyuap .......................................................... 102
5.13.1.2 Rol Penyuap (Feeder Roller).................................... 102
5.13.1.3 Rol Pengambil (Taker-in/Licher-in)........................... 103
5.13.1.4 Pisau Pembersih (mote knife) dan saringan bawah (under
grid) .......................................................................... 104
5.13.1.5 Tekanan pada Rol Penyuap ..................................... 106
5.13.1.6 Mekanisme pemisahan kotoran dari serat pada
Taker-in ................................................................... 107
5.13.2 Bagian Penguraian ................................................... 109
5.13.2.1 Silinder Utama .......................................................... 109
5.13.2.2 Pelat Depan dan Pelat Belakang.............................. 111
5.13.2.3 Top Flat .................................................................... 111
5.13.2.4 Saringan Silinder (Cylinder Screen) ........................ 112
5.13.2.5 Gerakan Pengelupasan (Stripping Action) ............... 113
5.13.2.6 Gerakan Penguraian (Carding Action) .................... 113
5.13.2.7 Pemisahan Serat Pendek dan serat Panjang........... 114
5.13.3 Bagian Pembentukan dan Penampungan Sliver...... 114
5.13.3.1 Doffer........................................................................ 115
5.13.3.2 Sisir Doffer (Doffer Comb) ........................................ 117
5.13.3.3 Rol Penggilas ........................................................... 119
5.13.3.4 Coiler ........................................................................ 120
5.13.4 Pengujian Mutu Hasil................................................ 123
5.13.4.1 Pengujian Nomor Sliver Carding .............................. 123
5.13.4.2 Pengujian Kerataan Sliver Carding .......................... 123
5.13.4.3 Pengujian Persentase waste .................................... 124
5.13.5 Setting pada Mesin Carding ..................................... 124
5.13.6 Pemeliharaan Mesin Carding .................................. 126
5.13.7 Perhitungan Regangan............................................. 126
5.13.7.1 Putaran Lap Roll....................................................... 126

vi
5.13.7.2 Putaran Rol Penggilas pada Coiler .......................... 129
5.13.7.3 Tetapan Regangan (TR) atau Draft Constant (DC).. 130
5.13.7.4 Regangan Mekanik (RM).......................................... 131
5.13.7.5 Regangan Nyata (RN) .............................................. 131
5.13.8 Perhitungan Produksi ............................................... 132
5.13.8.1 Produksi Teoritis....................................................... 132
5.13.8.2 Produksi Nyata ......................................................... 133
5.13.8.3 Efisiensi .................................................................... 133
5.13.9 Pergantian Roda Gigi ............................................... 134
5.13.9.1 Roda gigi pengganti regangan ................................ 134
5.13.9.2 Roda gigi pengganti produksi ................................... 134
5.14 Proses di Mesin Drawing.......................................... 135
5.14.1 Bagian Penyuapan ................................................... 138
5.14.1.1 Can Penyuapan........................................................ 138
5.14.1.2 Pengantar Sliver ....................................................... 138
5.14.1.3 Rol Penyuap ............................................................. 138
5.14.1.4 Traverse Guide......................................................... 138
5.14.2 Bagian Peregangan.................................................. 139
5.14.2.1 Pasangan rol-rol penarik .......................................... 139
5.14.2.2 Rol Bawah ................................................................ 139
5.14.2.3 Rol Atas .................................................................... 140
5.14.2.4 Pembebanan pada Rol Atas..................................... 141
5.14.2.4.1 Pembebanan Sendiri (Self Weighting) ..................... 141
5.14.2.4.2 Pembebanan Mati/Bandul (Dead Weighting) ........... 142
5.14.2.4.3 Pembebanan Pelana (Saddle Weighting) ................ 142
5.14.2.4.4 Pembebanan dengan Tuas (Lever Weighting)......... 142
5.14.2.4.5 Pembebanan dengan Per (Spring Weighting).......... 142
5.14.2.5 Peralatan Pembersih ................................................ 143
5.14.2.6 Proses Peregangan.................................................. 144
5.14.2.7 Penyetelan Jarak Antar Pasangan Rol Peregang ... 147
5.14.2.8 Faktor-faktor yang mempengaruhi penyetelan jarak
antar Rol Peregang .................................................. 149
5.14.3 Bagian Penampungan .............................................. 151
5.14.3.1 Pelat Panampung ..................................................... 151
5.14.3.2 Terompet ................................................................. 151
5.14.3.3 Rol Penggilas ........................................................... 152
5.14.3.4 Coiler ....................................................................... 152
5.14.3.5 Can Penampung Sliver............................................. 152
5.14.3.6 Pemeliharaan Mesin Drawing................................... 153
5.14.4 Pengujian Mutu Hasil................................................ 153
5.14.4.1 Pengujian Nomor Sliver Drawing.............................. 153
5.14.4.2 Pengujian Kerataan Sliver Drawing.......................... 153
5.14.5 Perhitungan Regangan............................................. 154
5.14.5.1 Putaran Rol Penyuap ............................................... 154
5.14.5.2 Putaran Rol-rol Peregang......................................... 156
5.14.5.3 Putaran Rol Penggilas.............................................. 157

vii
5.14.5.4 Tetapan Regangan................................................... 157
5.14.5.5 Regangan Mekanik................................................... 157
5.14.5.6 Regangan Nyata....................................................... 159
5.14.6 Perhitungan Produksi .............................................. 159
5.14.6.1. Produksi Teoritis....................................................... 159
5.14.6.2 Produksi Nyata ........................................................ 160
5.14.6.3 Efisiensi ................................................................... 160
5.14.7 Penggantian Roda Gigi ............................................ 160
5.14.7.1 Roda Gigi Pengganti Regangan............................... 161
5.14.7.2 Roda Gigi Pengganti Produksi (RPR) ...................... 161
5.15 Persiapan Combing .................................................. 161
5.15.1 Proses di Mesin Pre Drawing ................................... 165
5.15.1.1 Bagian Penyuapan ................................................... 166
5.15.1.2 Bagian Peregangan.................................................. 166
5.15.1.3 Bagian Penampungan .............................................. 166
5.15.1.4 Prinsip Bekerjanya mesin Pre Drawing .................... 167
5.15.1.5 Pemeliharaan Mesin Pre Drawing ........................... 167
5.16 Proses di Mesin Lap Former .................................... 167
5.16.1 Bagian Penyuap ....................................................... 168
5.16.2 Bagian Peregangan.................................................. 169
5.16.3 Bagian Penggulungan .............................................. 169
5.16.4 Prinsip Bekerjanya Mesin Lap Former (Super Lap) . 169
5.16.5 Pemeliharaan Mesin Lap Former (Super Lap) ........ 169
5.16.6 Perhitungan Produksi Mesin Lap Former (Super
Lap) .......................................................................... 170
5.17 Proses di Mesin Combing......................................... 174
5.17.1 Bagian Penyuapan ................................................... 176
5.17.2 Bagian Penyisiran..................................................... 178
5.17.3 Bagian Penampungan Serat Panjang (Web) ........... 184
5.17.4 Bagian Perangkapan, Peregangan dan
Penampungan Sliver ................................................ 186
5.17.5 Penyetelan Jarak dan Pengaturan Waktu ............... 189
5.17.6 Pemeliharaan Mesin Combing ................................. 193
5.17.7 Menentukan Doffing ................................................. 193
5.17.8 Pengendalian Mutu................................................... 193
5.17.9 Perhitungan Penyisiran ........................................... 195
5.17.10 Perhitungan Penyuapan ........................................... 195
5.17.11 Perhitungan Produksi ............................................... 195
5.18 Proses di Mesin Flyer ............................................... 196
5.18.1 Bagian Penyuapan ................................................... 201
5.18.1.1 Can ........................................................................... 201
5.18.1.2 Rol Pengantar........................................................... 201
5.18.1.3 Terompet Pengantar Sliver....................................... 202
5.18.1.4 Penyekat................................................................... 202
5.18.2 Bagian Peregangan.................................................. 202
5.18.2.1 Rol Peregang............................................................ 203

viii
5.18.2.2 Penampung (Colektor) ............................................. 203
5.18.2.3 Pembersih ................................................................ 203
5.18.2.4 Cradle ....................................................................... 203
5.18.2.5 Penyetelan Jarak antara titik jepit rol........................ 204
5.18.2.6 Pemeliharaan Mesin Flyer ....................................... 204
5.18.2.6 Pembebanan pada Rol Atas..................................... 204
5.18.3 Bagian Penggulungan .............................................. 205
5.18.3.1 Flyer.......................................................................... 206
5.18.3.2 Bobin ........................................................................ 206
5.18.3.3 Penggulungan Roving pada Bobin ........................... 206
5.18.3.4 Trick Box................................................................... 209
5.18.3.5 Kesalahan bentuk gulungan Roving......................... 212
5.18.3.6 Mendoffing................................................................ 213
5.18.4 Pengendalian Mutu................................................... 214
5.18.5 Perhitungan Peregangan.......................................... 215
5.18.6 Perhitungan Antihan (Twist) ..................................... 222
5.18.7 Perhitungan Produksi ............................................... 226
5.19 Proses Mesin Ring Spinning. ................................... 228
5.19.1 Bagian Penyuapan ................................................... 232
5.19.1.1 Rak ........................................................................... 234
5.19.1.2 Penggantung Bobin .................................................. 234
5.19.1.3 Pengantar ................................................................. 234
5.19.1.4 Terompet Pengantar................................................. 234
5.19.2 Bagian Peregangan.................................................. 234
5.19.2.1 Rol Peregang............................................................ 235
5.19.2.2 Cradle ....................................................................... 236
5.19.2.3 Penghisap (Pneumafil) ............................................. 236
5.19.2.4 Penyetelan Jarak antara Rol Peregang.................... 236
5.19.2.5 Pembebanan pada Rol Atas..................................... 238
5.19.3 Bagian penggulungan............................................... 239
5.19.3.1 Ekor Babi (Lappet).................................................... 240
5.19.3.2 Traveller.................................................................... 240
5.19.3.3 Ring .......................................................................... 241
5.19.3.4 Spindel ..................................................................... 241
5.19.3.5 Pengontrol Baloning (Antinode Ring) ....................... 241
5.19.3.6 Penyekat (Separator) ............................................... 241
5.19.3.7 Tin Roll ..................................................................... 242
5.19.3.8 Proses Pengantihan (Twisting)................................. 242
5.19.3.9 Peroses Penggulungan Benang pada Bobin............ 244
5.19.3.10 Bentuk Gulungan Benang pada Bobin ..................... 250
5.19.3.11 Proses Doffing .......................................................... 251
5.19.4 Pengendalian Mutu................................................... 251
5.19.4.1 Nomor Benang ......................................................... 251
5.19.4.2 Kekuatan Benang ..................................................... 251
5.19.4.3 Twist Per Inch (TPI)… .............................................. 252
5.19.4.4 Ketidakrataan Benang .............................................. 252

ix
5.19.4.5 Putus Benang ........................................................... 252
5.19.4.6 Grade Benang .......................................................... 252
5.19.5 Susunan Roda Gigi Mesin Ring Spinning ................ 253
5.19.6 Pemeliharaan Mesin Ring Spinning ......................... 255
5.19.7 Perhitungan Regangan............................................. 255
5.19.8 Perhitungan Antihan (Twist) ..................................... 258
5.19.9 Perhitungan Produksi ............................................... 261
5.20 Proses di Mesin Ring Twister ................................... 265
5.20.1 Bagian Penyuapan ................................................... 270
5.20.1.1 Rak Kelos (Creel) ..................................................... 271
5.20.1.2 Pengantar Benang.................................................... 271
5.20.1.3 Rol Penarik ............................................................... 271
5.20.2 Bagian Penggulungan .............................................. 272
5.20.2.1 Ekor Babi (Lappet).................................................... 272
5.20.2.2 Pengontrol Baloning (Antinode Ring) ....................... 270
5.20.2.3 Penyekat (separator) ................................................ 273
5.20.2.4 Spindel ..................................................................... 273
5.20.2.5 Ring .......................................................................... 273
5.20.2.6 Traveller.................................................................... 273
5.20.2.7 Tin Roll ..................................................................... 273
5.20.2.8 Proses Pengantihan (Twisting)................................. 274
5.20.2.9 Proses Penggulungan Benang pada Bobin.............. 276
5.20.2.10 Proses Doffing .......................................................... 281
5.20.2.11 Proses Steaming ..................................................... 282
5.20.2.12 Pemeliharaan Mesin Ring Twister ........................... 282
5.20.2.13 Bentuk Gulungan Benang pada Bobin ..................... 283
5.20.3 Pengendalian Mutu................................................... 284
5.20.4 Perhitungan Antihan (Twist) ..................................... 285
5.20.5. Perhitungan Produksi ............................................... 286
JILID 2
BAB VI DESAIN ANYAMAN
6.1. Pengertian Desain Anyaman.................................... 288
6.2. Cara Menggambar Desain Anyaman ....................... 288
6.3. Desain dan Motif Kain. ............................................. 292
6.4. Cara Pembuatan Desain Anyaman .......................... 294
6.5. Anyaman Dasar........................................................ 294
6.5.1. Anyaman Polos (Plain, Platt, Taffeta)....................... 294
6.5.2. Anyaman Keper (Twill, Drill) ..................................... 294
6.5.3. Anyaman Satin ......................................................... 295
6.6. Anyaman Turunan .................................................... 295
6.6.1. Turunan Anyaman Polos Langsung ......................... 295
6.6.2. Turunan Anyaman Polos Tidak Langsung ............... 292
6.6.3. Turunan Anyaman Keper ......................................... 292
6.6.4. Turunan Anyaman Satin........................................... 301
6.7. Anyaman Campuran................................................. 302
6.8. Anyaman untuk tenunan rangkap............................. 303

x
6.9. Anyaman Kain Khusus ............................................. 304
6.9.1. Anyaman Dua Muka ................................................. 304
6.9.2. Anyaman Leno ......................................................... 304

BAB VII PROSES PERSIAPAN PERTENUNAN


7.1. Tujuan Proses Persiapan Pertenunan...................... 306
7.1.1 Standar Konstruksi Kain Tenun................................ 306
7.1.1.1 Pengaruh Konstruksi Kain terhadap Proses
Persiapan Pertenunan.............................................. 306
7.1.1.2 Urutan Proses Persiapan Pertenuan........................ 307
7.1.1.2.1 Macam-macam Proses Persiapan ........................... 307
7.1.1.2.2 Macam-macam Proses Pertenunan ......................... 307
7.2. Proses Pengelosan .................................................. 310
7.2.1 Tujuan Proses Pengelosan. ..................................... 310
7.2.2 Bentuk Bobin Kelos .................................................. 310
7.2.3 Mekanisme Gerakan Mesin Kelos............................ 311
7.2.4 Pemeliharaan Mesin Winding .................................. 325
7.2.5 Perhitungan Produksi ............................................... 326
7.3. Proses Pemaletan .................................................... 327
7.3.1 Tujuan Proses Pemaletan ........................................ 328
7.3.2 Bentuk Bobin Palet ................................................... 328
7.3.3 Mesin Palet (Print Winder)........................................ 332
7.3.3.1 Mesin Palet Otomatis ............................................... 331
7.3.3.2 Pemeliharaan Mesin Palet ....................................... 346
7.4. Proses Penghanian .................................................. 346
7.4.1 Tujuan Proses Penghanian ...................................... 346
7.4.2 Cara Penghanian...................................................... 346
7.4.3 Pemilihan Gulungan Benang pada Bobin................. 347
7.4.4 Cara Penarikan Benang ........................................... 348
7.4.4.1 Penarikan Benang Tegak Lurus dengan Poros
Bobin ........................................................................ 348
7.4.4.2 Penarikan Benang Sejajar (segaris) dengan poros
Bobbin ...................................................................... 349
7.4.5 Mesin Hani Seksi Silinder (Cylinder Sectional
Warping Machine) .................................................... 349
7.4.5.1 Bagian-bagian peralatan Mesin Hani Seksi Silinder. 349
7.4.5.2 Proses Penghanian .................................................. 350
7.4.6 Mesin Hani Seksi Kerucut (Cone Sectional Warping
345Machine)............................................................. 350
7.4.6.1 Bagian-bagian Mesin Hani Seksi Kerucut ................ 351
7.4.6.2 Proses Penghanian .................................................. 363
7.4.6.3 Pemeliharaan Mesin Hani ........................................ 388
7.5. Proses Penganjian Benang lusi................................ 389
7.5.1 Faktor-faktor Teknis yang mempengaruhi Benang
Lusi pada Proses Pertenunan .................................. 389
7.5.2 Tujuan Proses Penganjian Benang .......................... 389

xi
7.5.3 Kriteria Proses Penganjian yang Baik ...................... 390
7.5.4 Bahan Kanji .............................................................. 391
7.5.5 Resep Penganjian Benang....................................... 394
7.5.6 Cara Penganjian....................................................... 395
7.6 Pencucukan (Drawing in, Reaching in) .................... 418
7.6.1 Mencucuk dengan Tangan ....................................... 419
7.6.2 Mencucuk dengan Mesin.......................................... 420
7.6.2.1 Bagian Peralatan Mesin Cucuk ................................ 421
7.6.2.2 Alat Perlengkapan Proses Pencucukan ................... 422
7.6.2.3 Persiapan Sebelum Proses pencucukan.................. 427
7.6.2.4 Proses Pencucukan.................................................. 429

BAB VIII PROSES PEMBUATAN KAIN TENUN


8.1 Perkembangan Alat Tenun....................................... 431
8.1.1 Alat Tenun Tangan ................................................... 431
8.1.2 Mesin Tenun............................................................. 432
8.1.3 Mesin Tenun Teropong Otomatis ............................. 433
8.1.4 Mesin Tenun Tanpa Teropong ................................. 433
8.1.5 Mesin Tenun Multifase ............................................. 433
8.1.6 Kombinasi Tenun dan Rajut ..................................... 434
8.1.7 Peralatan Pembentuk Corak .................................... 434
8.2. Pemilihan Mesin Tenun ............................................ 434
8.2.1 Berdasarkan Jenis Barang ....................................... 434
8.2.2 Berdasarkan Corak Anyaman .................................. 435
8.2.3 Berdasarkan Tingkat Efisiensi yang diinginkan ........ 435
8.2.4 Berdasarkan Corak Warna Pakan............................ 437
8.3. Pembentukan Kain Tenun ........................................ 437
8.3.1 Gerakan Pakan Mesin Tenun................................... 438
8.3.2 Diagram Engkol ........................................................ 440
8.4. Mesin Tenun............................................................. 442
8.4.1 Klasifikasi Mesin Tenun............................................ 442
8.4.2 Fungsi Bagian-bagian Mesin .................................... 444
8.4.3 Rangka Mesin........................................................... 445
8.5 Gerakan Kopling dan Pengereman .......................... 446
8.5.1 Tipe-tipe Penggerak ................................................. 446
8.5.1.1 Penggerak Langsung ............................................... 446
8.5.1.2 Penggerak dengan Kopling ...................................... 447
8.5.2 Kopling...................................................................... 447
8.5.3 Rem .......................................................................... 448
8.5.4 Pengontrol Penggerakan.......................................... 450
8.5.5 Rancangan Penggerak Kopling Pelat Tunggal
Sulzer ....................................................................... 451
8.5.6 Gerakan putaran balik .............................................. 453
8.6. Penggulungan Lusi................................................... 454
8.6.1 Rem Beam Lusi ........................................................ 454
8.6.2 Penguluran Lusi dengan Gandar Belakang.............. 455

xii
8.6.2.1 Penguluran Lusi dengan kendali Pengungkit ........... 456
8.6.3 Penguluran Dua Beam ............................................. 458
8.7 Beam Lusi................................................................. 459
8.8 Gandar Belakang...................................................... 459
8.8.1 Macam-macam Gandar Belakang............................ 459
8.8.2 Penyetelan Gandar Belakang................................... 461
8.9 Penyetekan Tegangan Benang Lusi ........................ 461
8.10 Penggulung kain....................................................... 463
8.10.1 Pengontrol kain dan Benang Lusi............................. 463
8.10.1.1 Batang Silangan (Lease Rod) .................................. 464
8.10.1.2 Pengontrol Lusi Putus .............................................. 465
8.10.1.3 Temple...................................................................... 466
8.10.2 Gerakan Penggulung Kain ....................................... 468
8.10.2.1 Penggulungan Pasif ................................................. 468
8.11 Pembukaan Mulut Lusi dengan Cam ....................... 471
8.11.1 Macam-macam cam ................................................. 471
8.11.2 Gerakan Pembalik .................................................... 472
8.11.3 Positif Cam ............................................................... 473
8.11.4 SIstem Cam dan Kontra Cam................................... 473
8.12 Pembentukan Mulut Lusi dengan Dobby.................. 473
8.12.1 Macam-macam Dobby ............................................. 474
8.12.2 Mekanisme Dobby.................................................... 474
8.13 Mesin Jacquard ........................................................ 475
8.13.1 Mekanisme Mesin Jacquard..................................... 475
8.13.2 Klasifikasi Mesin Jacquard ....................................... 481
8.14 Mekanisme Pengetekan ........................................... 492
8.14.1 Mekanisme Mata Rantai (link) .................................. 492
8.14.2 Mekanisme Cam....................................................... 494
8.14.3 Mekanisme Roda Gigi .............................................. 495
8.14.4 Mekanisme Khusus .................................................. 496
8.15 Penyisipan Pakan..................................................... 496
8.15.1 Penyisipan Pakan dengan Teropong ....................... 496
8.15.1.1 Teropong (Shuttle).................................................... 498
8.15.1.2 Mekanisme Penyisipan Pakan dengan Cam............ 498
8.15.2 Penyisipan Pakan pada Mesin Tenun Tanpa
Teropong .................................................................. 499
8.15.2.1 Penyisipan Pakan Sistem Jet ................................... 500
8.15.2.2 Penyisipan Benang Pakan dengan Rapier............... 501
8.16 Pemeliharaan Mesin Tenun ..................................... 502
8.16.1 Pemeliharaan Mesin Tenun Teropong dengan
Menggunakan Cam/Exentrik .................................... 502
8.16.2 Pemeliharaan Mesin Tenun Teropong dengan
Menggunakan Dobby ............................................... 502
8.16.3 Pemeliharaan Mesin Tenun Teropong dengan
Menggunakan Jacquard ........................................... 503

xiii
8.16.4 Pemeliharaan Mesin Tenun Rapier dengan
Menggunakan Cam/Exentrik ................................... 503
8.16.5 Pemeliharaan Mesin Tenun Projektil dengan
Menggunakan Cam/Exentrik ................................... 503
8.16.6 Pemeliharaan Mesin Tenun Jet dengan
Menggunakan Cam/Exentrik ................................... 504
8.17 Proses Pemeriksaan Kain Tenun.............................. 504

PENUTUP ................................................................................ A1
DAFTAR PUSTAKA.................................................................. B1
DAFTAR GAMBAR ................................................................. C1
DAFTAR TABEL ....................................................................... C14

xiv
DAFTAR ISTILAH / GLOSARI
1. Serat : adalah benda yang perbandingan
panjang dan diameternya sangat besar.
2. Stapel : adalah serat yang mempunyai panjang
terbatas.
3. Filament : adalah serat yang panjangnya berlanjut.
4. Benang : Susunan serat-serat yang teratur ke
arah memanjang dengan diberi antihan.
5. Peregangan : adalah proses penarikan / penggeseran
kedudukan serat-serat dalam sliver
maupun roving
6. Antihan : adalah pilinan atau twist yang diberikan
pada serat atau benang dengan tujuan
untuk memberikan kekuatan.
7. Cam/eksektrik/tapet : adalah peralatan yang dapat merubah
gerak berputar menjadi gerak lurus.
8. Beam : adalah tempat menggulung benang lusi
dengan posisi benang lusi sejajar antara
satu dengan yang lainnya.
9. Shuttle/teropong : adalah alat yang bergerak bolak balik ke
arah lebar kain untuk membawa benang
pakan.
10. Coupling/Cluth : adalah peralatan yang bisa meneruskan
atau memutus gerak putar.
11. Shedding : adalah pembukaan mulut lusi.
12. Taking up : adalah penggulungan kain.
13. Beating Up : adalah gerakan pengetekan.
14. Letting Off : adalah gerakan penguluran lusi.
15. Inserting/Tiking Up : adalah gerakan peluncuran benang
pakan / teropong.

xv
SINOPSIS

Pembuatan benang menggunakan bahan baku yang berasal


dari serat-serat alam atau serat-serat buatan baik yang berupa
stapel atau filamen.

Pembuatan benang ada bermacam-macam cara, tergantung


pada bahan baku yang diolah, namun pada prinsipnya sama, yaitu
membuat untaian serat-serat yang kontinyu dengan diameter dan
antihan tertentu. Pembuatan benang melalui tahapan : pembukaan
gumpalan serat, penarikan serat-serat, pemberian antihan dan
penggulungan.

Kain tenun dibentuk dengan cara menganyamkan atau


menyilangkan dua kelompok benang yang saling tegak lurus
sehingga membentuk kain tenun dengan konstruksi tertentu.

Prinsip pembentukan kain tenun melalui gerakan : pembukaan


mulut lusi, penyisipan/pakan, pengetekan, penggulungan kain dan
penguluran lusi.

xvi
DESKRIPSI KONSEP PENULISAN
 Buku ini dikerjakan sebagai sumber informasi untuk siswa SMK
Bidang Keahlian Teknologi Pembuatan Benang dan Pembuatan
Kain Tenun, yang diharapkan memiliki pengetahuan yang lebih
dalam dan lebih luas sehingga mampu menggambarkan bahan
ajar yang sesuai standar kurikulum.
 Dengan buku ini diharapkan guru bisa atau mampu
mengembangkan bahan ajar dalam bentuk modul yang siap
dipakai oleh guru dan siswa di kelas dan di bengkel-bengkel.
 Tidak semua teknologi yang ada dituangkan dalam buku ini
mengingat luasnya ruang lingkup teknologi dan teknologi yang
sudah diterapkan di industri Pembuatan Benang dan
Pembuatan Kain Tenun di Indonesia.
 Penyajian buku ini belum bisa mencapai tingkat kesempurnaan
yang memadai mengingat keterbatasan sumber informasi dan
waktu penulisan yang sangat terbatas, walaupun demikian
penulis mengharapkan kesempatan untuk bisa
menyempurnakan sehingga dapat mencapai kriteria standar.

xvii
PETA KOMPETENSI
Level
Kompetensi Sub Kompetensi
Kualifikasi
Operator Yunior Mengidentifikasi x Menyiapkan
serat tekstil proses
identifikasi serat
x Identifikasi serat
berdasarkan
bentuk fisiknya
x Identifikasi serat
dengan uji bakar
x Identifikasi jenis
serat dengan uji
pelarutan
x Membuat
laporan kerja
x Melaksanakan
aturan
kesehatan dan
keselamatan
kerja
Mengidentifikasi x Menyiapkan
benang tekstil proses
identifikasi
benang
x Identifikasi
benang
berdasarkan
bentuk fisiknya
x Menguji nomor
benang
x Menguji antihan
(twist benang)
x Membuat
laporan kerja
x Melaksanakan
aturan
kesehatan dan
keselamatan
kerja

xviii
Level
Kompetensi Sub Kompetensi
Kualifikasi
Membaca dan x Membaca dan
memahami gambar memahami
teknik gambar teknik
Membuka bal serat x Menyiapkan
kapas pembukaan bal
serat
x Membuka bal
serat
x Melaksanakan
aturan dan
keselamatan
kerja
x Membuat
laporan
Melakukan x Menyiapkan
pencampuran serat pencampuran
kapas serat kapas
x Mengambil
gumpalan serat
x Melaksanakan
aturan dan
keselamatan
kerja
x Membuat
laporan
Melakukan x Memeriksa
penyuapan serat kesiapan bahan
secara manual di baku
mesin feeding pada x Mengoperasikan
unit mesin blowing unit blowing
x Melakukan
penyuapan
x Mengendalikan
proses
x Melaksanakan
aturan dan
kesehatan kerja
x Membuat
laporan

xix
Level Kompetensi Sub Kompetensi
Kualifikasi
Melakukan x Memeriksa kesiapan
penyuapan serat proses
dengan alat x Mengoperasikan unit
otomatis di mesin blowing
feeding unit x Melakukan
blowing penyuapan
x Mengendalikan
proses
x Melaksanakan aturan
dan kesehatan kerja
x Membuat laporan
Mengoperasikan x Memeriksa kesiapan
mesin scutcher mesin scutcher
x Mengoperasikan unit
blowing
x Melakukan doffing lap
x Mengendaliakan
proses
x Melaksanakan
keselamatan dan
kesehatan kerja
x Membuat laporan
Mengoperasikan x Memeriksa kesiapan
mesin flat card mesin flat carding
x Mengoperasikan unit
flat carding
x Melakukan doffing
sliver
x Mengendalikan
proses
x Melaksanakan
keselamatan dan
kesehatan kerja
x Membuat laporan

xx
Level Kompetensi Sub Kompetensi
Kualifikasi
Mengoperasikan x Memeriksa kesiapan
mesin roller card mesin roller carding
x Mengoperasikan unit
roller carding
x Melakukan doffing
sliver
x Mengendalikan
proses
x Melaksanakan
keselamatan dan
kesehatan kerja
x Membuat laporan
Mengoperasikan x Memeriksa kesiapan
mesin drawing mesin drawing
x Mengoperasikan unit
drawing
x Melakukan doffing
sliver
x Mengendalikan
proses
x Melaksanakan
keselamatan dan
kesehatan kerja
x Membuat laporan
Mengoperasikan x Memeriksa kesiapan
mesin lap former mesin lap former
x Mengoperasikan unit
lap former
x Melakukan doffing
x Mengendalikan
proses
x Melaksanakan
keselamatan dan
kesehatan kerja
x Membuat laporan

xxi
Level Kompetensi Sub Kompetensi
Kualifikasi
Mengoperasikan x Memeriksa kesiapan
mesin ribbon lap mesin ribbon lap
x Mengoperasikan unit
ribbon lap
x Melakukan doffing
x Mengendalikan
proses
x Melaksanakan
keselamatan dan
kesehatan kerja
x Membuat laporan
Mengoperasikan x Memeriksa kesiapan
mesin super lap mesin super lap
x Mengoperasikan unit
super lap
x Melakukan doffing
x Mengendalikan
proses
x Melaksanakan
keselamatan dan
kesehatan kerja
x Membuat laporan
Mengoperasikan x Memeriksa kesiapan
mesin combing mesin combing
x Mengoperasikan unit
combing
x Melakukan doffing
x Mengendalikan
proses
x Melaksanakan
keselamatan dan
kesehatan kerja
x Membuat laporan

xxii
Level Kompetensi Sub Kompetensi
Kualifikasi
Mengoperasikan x Memeriksa kesiapan
mesin simplex mesin simplex
x Mengoperasikan unit
simplex
x Melakukan doffing
x Mengendalikan
proses
x Melaksanakan
keselamatan dan
kesehatan kerja
x Membuat laporan
Mengoperasikan x Memeriksa kesiapan
mesin ring mesin ring spinning
spinning x Mengoperasikan unit
ring spinning
x Melakukan doffing
x Mengendalikan
proses
x Melaksanakan
keselamatan dan
kesehatan kerja
x Membuat laporan
Operator Mengelos Benang 1. Menyiapkan proses
pengelosan (winding).
2. Mengoperasikan
mesin kelos (mesin
winding)
3. Mengendalikan
proses
4. Melakukan perawatan
sederhana
5. Menangani gulungan
benang hasil kelosan
6. Melaksanakan aturan
kesehatan dan
keselamatan kerja
7. Membuat laporan
pekerjaan

xxiii
Level Kompetensi Sub Kompetensi
Kualifikasi
Memberi antihan 1. Menyiapkan proses
pada benang twisting
(proses twisting) 2. Mengoperasikan
dengan mesin mesin twisting (mesin
throwing throwing)
3. Mengendalikan
proses
4. Melakukan perawatan
sederhana
5. Menangani gulungan
benang hasil twisting
6. Melaksanakan aturan
kesehatan dan
keselamatan kerja
7. Membuat laporan
pekerjaan
Menggulung 1. Menyiapkan proses
benang dalam pemaletan
bentuk paletan 2. Mengoperasikan
mesin palet
3. Mengendalikan
proses
4. Melakukan
perawatan sederhana
5. Menangani
gangguan benang
hasil paletan
6. Melaksanakan
aturan kesehatan dan
keselamatan kerja
7. Membuat laporan
pekerjaan

xxiv
Level Kompetensi Sub Kompetensi
Kualifikasi
Melaksankan 1. Menyiapkan proses
proses warping
penghaniang 2. Mengoperasikan
(Warping) mesin warping
3. Mengendalikan
proses
4. Melakukan
perawatan sederhana
5. Memotong ujung
benang pada beam
6. Menangani gulungan
benang hasil warping
7. Melaksanakan
aturan kesehatan dan
keselamatan kerja
8. Membuat laporan
pekerjaan
Proses menganji 1. Menyiapkan proses
benang lusi penganjian (Sizing)
2. Mengiperasikan
mesin kanji (mesin
Sizing)
3. Mengendalikan
proses
4. Melakukanperawatan
sederhana
5. Menangani beam
tenun
6. Melaksanakan
aturan kesehatan dan
keselamatan kerja
7. Membuat laporan
pekerjaan

xxv
Level Kompetensi Sub Kompetensi
Kualifikasi
Mencucuk benang 1. Menyiapkan
lusi dari beam lusi peralatan
ke Dropper Gun pencucukan
(Heald) dan sisir (reaching)
2. Melakukan persiapan
pencucukan
3. Melakukan
pencucukan benang
lusi
4. Menangani hasil
pencucukan
5. Melakukan
perawatan
sederhana
6. Melaksanakan aturan
kesehatan dan
keselamatan kerja
7. Membuat laporan
kerja
Memasang beam 1. Menyiapkan beam
lusi yang telah lusi yang sudah
dicucuk, dropper dicucuk
rod, kamran dan 2. Memasang beam
sisir pada mesin lusi, kamran, sisir
tenun dan dropper
3. Melakukan
perawatan
sederhana
4. Melaksanakan aturan
kesehatan dan
keselamatn kerja
5. Membuat laporan
kerja

xxvi
Level Kompetensi Sub Kompetensi
Kualifikasi
Merawat mekanis 1. Merawat mesin tenun
mesin tenun teropong dengan
teropong yang tapet
menggunakan 2. Perbaikan kerusakan
tappet mekanis mesin tenun
(cam/eksentrik) teropong dengan
dobby
3. Pengoperasian
mesin tenun
teropong dengan
tapet
4. Melaksanakan aturan
kesehatan dan
keselamatan kerja
5. Membuat laporan
kerja
Merawat mekanis 1. Merawat mesin tenun
mesin tenun teropong dengan
teropong yang Dobby
menggunakan 2. Perbaikan kerusakan
Dobby mekanis mesin tenun
teropong dengan
dobby
3. Pengoperasian mesin
tenun teropong
dengan dobby
4. Melaksanakan aturan
dan keselamatan
kerja
5. Membuat laporan
kerja

xxvii
Level Kompetensi Sub Kompetensi
Kualifikasi
Merawat mekanis 1. Merawat mesin tenun
mesin tenun teropong dengan
teropong yang Jacquard
menggunakan 2. Perbaikan kerusakan
Jacquard mekanis mesin tenun
teropong dengan
Jacquard
3. Pengoperasian mesin
tenun teropong
dengan Jacquard
4. Melaksanakan aturan
dan keselamatan
kerja
5. Membuat laporan
kerja
Merawat mekanis 1. Merawat mesin tenun
mesin tenun rapier dengan tapet
Rapler yang 2. Perbaikan kerusakan
menggunakan mekanis mesin tenun
tapet rapier dengan tapet
(Cam/Eksentrik) 3. Pengoperasian mesin
tenun rapier dengan
tapet
4. Melaksanakan aturan
dan keselamatan
kerja
5. Membuat laporan
kerja

xxviii
Level Kompetensi Sub Kompetensi
Kualifikasi
Merawat mekanis 1. Merawat mesin tenun
mesin tenun projectile dengan
Projectile yang tapet
menggunakan 2. Perbaikan kerusakan
tapet mekanis mesin tenun
(Cam/Eksentrik) projectile dengan
tapet
3. Pengoperasian mesin
tenun projectile
dengan tapet
4. Melaksanakan aturan
dan keselamatan
kerja
5. Membuat laporan
kerja
Merawat mekanis 1. Merawat mesin tenun
mesin tenun Jet Jet dengan tapet
yang 2. Perbaikan kerusakan
menggunakan mekanis mesin tenun
tapet Jet dengan tapet
(Cam/Eksentrik) 3. Pengoperasian mesin
tenun Jet dengan
tapet
4. Melaksanakan aturan
dan keselamatan
kerja
5. Membuat laporan
kerja

xxix
1

BAB I 1.1.4 Pengertian Berdasarkan


Modifikasi Bahan dan
PENDAHULUAN Fungsi
1.1 Ruang Lingkup Tekno Berdasarkan modifikasi dan
logi Tekstil fungsinya, kata “tekstil” berarti
semua bahan yang berunsur
1.1.1 Pengertian Tekstil serat, filamen, benang atau kain
yang memiliki fungsi tertentu.
1.1.2 Pengertian Berdasarkan
Etimologi Contoh :
- benang tenun
Kata “tekstil” berasal dari - benang jahit
bahasa latin (bahasa Yunani - benang hias
Kuno), yaitu kata “texere” yang - tali
berarti “menenun” yaitu - tambang
membuat kain dengan cara - benang kabel
penyilangan atau penganyaman - kain rajut
dua kelompok benang yang - kain tenun
saling tegak lurus sehingga - kain furniture
membentuk anyaman benang- - kain rumah tangga
benang yang disebut “kain - kain berlapis
tenun”. - kain tiga dimensi
Selanjutnya kata “kain tenun “ - kain karpet
itu sendiri berubah menjadi - kain jaring (net)
“tekstil” atau “bahan tekstil” - kain sulam
yang identik dengan pengertian - kain tanpa anyaman
“bahan pakaian” karena pada - kain penutup lantai
umumnya kain tenun digunakan berbahan serat
untuk bahan pakaian. - kain industri
- kain bumi (geotekstil)
1.1.3 Pengertian Berdasarkan - kain kesehatan
Substansi Bahan - sarung tangan
- pakaian
Pada tahap perkembangan - produk-produk tekstil (tas,
selanjutnya pengertian “tekstil” sepatu, ikat pinggang, topi)
diperluas lagi berdasarkan sifat
dan bentuk bahan. Berdasarkan 1.1.5 Pengertian Berdasarkan
hal tersebut diatas kata “tekstil” Teknologi Proses
diartikan sebagai “bahan
mentah dan produknya yang Berdasarkan teknologi
mencakup serat, benang dan prosesnya, “tekstil” berarti
kain”. proses-proses utama yang
mencakup :
2
- Teknologi Pembuatan Serat
- Teknologi Pembuatan - kekuatan tarik
Benang - jumlah antihan per satuan
- Teknologi Pembuatan Kain panjang
Tenun - kehalusan (diameter)
- Teknologi Pembuatan Kain benang
Rajut Untuk mendapatkan sifat-sifat
- Teknologi Pembuatan Kain diatas digunakan antara lain :
Tanpa Anyaman - Bermacam-bermacam alat,
- Teknologi Pencelupan mulai dari yang sederhana
- Teknologi Pencapan sampai dengan yang
- Teknologi Produk Pakaian moderen.
Jadi - Bermacam-macam metode
- Teknologi Industri Produk pengolahan, sehingga
Tekstil hasilnya lebih optimal sesuai
dengan tujuan penggunaan.
Mengingat luasnya cakupan - Bermacam-macam jenis
Teknologi Tekstil dan serat, stapel atau campuran
kedalaman setiap bagian serat stapel sehingga
teknologi tekstil, dalam buku ini tujuan-tujuan ekonomis
hanya akan dibahas tentang dapat dicapai secara
“Teknologi Pembuatan Benang” optimal.
dan “Teknologi Pembuatan Kain Produk akhir proses pembuatan
Tenun”. benang dapat berupa :
• Benang tunggal, benang
1.2 Prinsip Pembuatan gintir atau benang rangkap,
Benang sedangkan ditinjau dari
penggunaan selanjutnya,
Yang dimaksud dengan produk akhir dapat berupa :
pembuatan benang adalah • Benang tenun (benang lusi
pengolahan serat stapel baik dan benang pakan)
serat alam, serat buatan atau • Benang rajut (untuk
serat semi buatan (semi sintetis) membuat kain rajut)
menjadi benang yang memiliki • Benang jahit
sifat-sifat fisik tertentu. Proses • Benang crepe (untuk
pengolahan itu meliputi : memberi daya elastis pada
- proses pembukaan kain)
- proses penarikan, dan • Benang hias (untuk memberi
- proses pemberian antihan efek hiasan pada kain
atau sifat-sifat fisik tertentu tenun)
yang diharapkan membe
rikan :
3
1.3 Prinsip Pembuatan tentang spesifikasi kain yang
Kain Tenun mencakup :
- kehalusan benang lusi dan
Seperti dijelaskan pada butir benang pakan
1.1.1, kain tenun dibentuk - kerapatan benang lusi dan
dengan cara menganyamkan benang pakan per satuan
atau menyilangkan dua panjang
kelompok benang yang saling - lebar kain
tegak lurus posisinya sehingga - jenis anyaman
membentuk kain tenun dengan - jenis bahan untuk benang
kontruksi tertentu. lusi atau benang pakan
Dua kelompok benang yang
dimaksud adalah kelompok Kontruksi kain inilah yang akan
benang yang membentuk dijadikan dasar penentuan :
“panjang kain” atau biasa - spesifikasi benang yang
disebut “benang lusi”, dan akan digunakan
kelompok benang yang - peralatan / mesin yang
membentuk “lebar kain” atau digunakan
biasa disebut “benang pakan”. - proses-proses yang harus
Kontruksi kain yang dihasilkan dilaksanakan
merupakan ketentuan-ketentuan - metode-metode kerja yang
optimal
biaya produksi minimal
4

BAB II flax, wol, sutera dan kapas


melayani kebutuhan manusia
BAHAN BAKU paling banyak.
Pada awal abad ke 20 mulai
2.1 Pengertian Serat diperkenalkan serat buatan
hingga sekarang bermacam-
Serat adalah suatu benda yang macam jenis serat buatan
berbanding panjang diproduksi.
diameternya sangat besar
sekali. 2.2.1 Produksi Serat
Serat merupakan bahan baku
yang digunakan dalam Produksi serat alam dari tahun
pembuatan benang dan kain. ke tahun boleh dikatakan tetap,
Sebagai bahan baku dalam tetapi persentase terhadap
pembuatan benang dan seluruh produksi serat tekstil
pembuatan kain, serat makin lama makin menurun
memegang peranan penting, mengingat kenaikan produksi
sebab : serat-serat buatan yang makin
- Sifat-sifat serat akan tinggi.
mempengaruhi sifat-sifat Hal ini disebabkan karena :
benang atau kain yang - Tersedianya serat alam
dihasilkan. sangat terbatas pada lahan
- Sifat-sifat serat akan yang ada dan iklim.
mempengaruhi cara - Pada umumnya sifat-sifat
pengolahan benang atau serat buatan lebih baik
kain baik pengolahan secara daripada serat alam.
mekanik maupun - Produksi serat buatan dapat
pengolahan secara kimia. diatur baik jumlah, sifat,
bentuk dan ukurannya.
2.2 Sejarah Perkemba
gnan Serat

Serat dikenal orang sejak ribuan


tahun sebelum Masehi seperti
pada tahun 2.640 SM negara
Cina sudah menghasilkan serat
sutera dan tahun 1.540 SM
telah berdiri industri kapas di
India, serat flax pertama
digunakan di Swiss pada tahun
10.000 SM dan serat wol mulai
digunakan orang di
Mesopotamia pada tahun 3000
SM. Selama ribuan tahun serat
5

SERAT

Serat Alam Serat Buatan

Serat Serat Serat Organik Anorganik


Tumbuh- Binatang Mineral
tumbuhan
Gelas
Logam
Biji Stapel Filamen Asbes Polimer Alam Polimer buatan
Wol Silikat
Kapas Sutera Crysotile Alginat Polimer kondensasi
Kapok Biri-biri Selulosa
Crocidolite Poliamida (Nylon)
Batang Pohon Rambut Ester Selulosa
Rayon Poliester
Flax Alpaca Poliuretan
Jute Unta
Kupramonium Polimer adisi
Rosella Kashmir
Viskosa
Henep Lama Polihidrokarbon
Rami Mohair Polihidrokarbon yang
Alginat
disubtitusi halogen
Urena Kelinci Selulosa
Polihidrokarbon yang
Kenaf Vikuna disubstitusi hidroksil
Sunn Polihidrokarbon yang
Daun disubstitusi nitril

Albaka
Sisal
Henequen
Buah

Sabut Kelapa
Gambar 2.1
Klasifikasi Serat Berdasarkan Asal Bahan
6
2.3 Jenis Kapas
2.6 Pengambilan Bal Kapas
Dilihat dari panjang seratnya.
Jenis serat kapas dapat Pengambilan bal-bal kapas dari
dikelompokkan menjadi : gudang dilakukan dengan :
- Serat kapas panjang, - Bal kapas yang lebih dahulu
termasuk pada golongan ini disimpan diambil lebih
adalah serat dari Mesir. dahulu.
- Serat kapas medium, - Jumlah dan mutu
termasuk pada golongan ini disesuaikan dengan
adalah serat dari Amerika. permintaan.
- Serat kapas pendek,
termasuk pada golongan ini 2.7 Persyaratan Serat
adalah serat dari India. untuk dipintal

2.4 Penerimaan Bal Kapas Agar serat dapat dipintal maka


serat harus memenuhi
Bal kapas masuk pada gudang persyaratan : panjang,
kapas harus dicatat merek dan kehalusan, gesekan permukaan
beratnya pada formulir yang dan kekenyalan serat.
telah disediakan untuk
pencocokan dengan invoice dari 2.7.1 Panjang Serat
importir.
Selanjutnya bal-bal kapas Serat yang panjang dengan
diangkut dan disusun sesuai sendirinya mempunyai
dengan merek masing-masing. permukaan yang lebih luas,
sehingga gesekan diantara
2.5 Penyimpanan Bal Kapas serat-seratnya juga lebih besar.
Oleh karena itu serat-serat tidak
Penyimpanan bal kapas dalam mudah tergelincir dan
gudang harus disusun dengan benangnya menjadi lebih kuat.
mengingat : Dengan demikian serat-serat
- Hemat dalam pemakaian dengan panjang tertentu
ruangan. mempunyai kemampuan untuk
- Susunan harus rapi dan dapat dipintal dengan tertentu
tidak mudah roboh. pula. Dengan perkataan lain
- Mudah dalam pengambilan mempunyai daya pintal yang
- Pengelompokkan tertentu pula. Daya pintal ini
didasarkan atas merek. yang menentukan sampai
- Harus ada standar jumlah nomor benang berapa serat
tumpukan. tersebut dapat dipintal. Jadi,
- Ada ruang yang cukup lebar penggunaan serat harus
untuk gerakan forklif. disesuaikan dengan daya
7
pintalnya. Untuk memudahkan halus paling cepat dengan
pengolahan pada mesin, menggunakan alat Fibrografik.
panjang serat paling sedikit
10 mm.

2.7.1.1 Penentuan Panjang


Serat dengan Tangan

Penentuan dengan cara ini


banyak dilakukan untuk
menentukan panjang stapel
serat kapas dalam perdagangan
mengingat cara ini dapat Gambar 2.3
dilakukan dengan cepat. Cara Bear Sorter
ini biasa disebut dengan Hand
Stapling dan panjang serat yang Keterangan :
dihasilkan disebut Staple 1. Sisir atas
Length. 2. Sisir bawah

Gambar 2.4
Pinset Pencabut Serat

Gambar 2.2
Hand Stapling

2.7.1.2 Penentuan Panjang


Serat dengan Alat

Penentuan dengan cara ini Gambar 2.5


banyak dilakukan untuk Garpu Penekan Serat
pengontrolan panjang serat
dalam proses atau sesudah
proses dan pengontrolan serat-
serat lainnya selain kapas. Alat
yang digunakan adalah Bear
Sorter, akan tetapi dengan
menggunakan alat ini waktu
pengujiannya lama sedang yang Gambar 2.6
8
Fraksi Serat Kapas di atas
Beludru
2.7.2 Kekuatan Serat

Serat-serat yang mempunyai


kekuatan lebih tinggi, akan
menghasilkan benang dengan
kekuatan yang lebih tinggi.
Sebaliknya serat-serat dengan
kekuatan rendah, akan
menghasilkan benang yang
berkekuatan rendah. Dengan
demikian, kekuatan serat
mempunyai pengaruh langsung
terhadap kekuatan benang.
Kekuatan serat kapas
diasosiasikan dengan tingginya
derajat kristalinitas dan oleh
sebab itu serat yang kuat akan
lebih kaku daripada serat yang
sedang atau kurang
kekuatannya. Gambar 2.7
Skema Single Fiber Strength
2.7.2.1 Kekuatan Serat per Tester
Helai
Keterangan :
Penentuan dengan cara ini 1. Jepit atas
dimaksudkan untuk mengetahui 2. Jepit bawah
variasi kekuatan serat, 3. Skala kekuatan
mengetahui hubungan stress 4. Skala mulur
dan strain yang selanjutnya 5. Pemberat
dapat diketahui sifat lain yang 6. Handel untuk menjalankan
ada hubungannya dengan dan memberhentikan mesin
stress dan strain tersebut.
Tetapi penentuan kekuatan 2.7.2.2 Kekuatan Serat per
serat per helai memakan waktu Bundel (Berkas)
yang lama. Alat yang digunakan
Single Fiber Strength Tester Pengujian ini dimaksudkan
yang dilengkapi dengan klem untuk menentukan tenacity atau
dan tempat mengencangkan Tensile Strength.
klem. Cara ini sangat menguntungkan
karena menghemat waktu dan
tenaga disamping itu pengujian
per berkas ini untuk kapas telah
9
berkembang karena disamping yang dilengkapi dengan Klem
efisien juga hasil-hasil dan tempat mengencangkan
pengujiannya lebih teliti. Alat Klem.
yang digunakan Pressley Tester

Gambar 2.8
Skema Pressley Cotton Fibre Strength Tester

Keterangan :
1. Skala Kekuatan Presley
2. Gerobak
3. Tempat memasukkan
klem serat

Gambar 2.10
Klem Serat dan Kunci Pas

Keterangan :
1. Klem serat
2. Kunci pas

2.7.3 Kehalusan Serat


Gambar 2.9
Vise Kehalusan serat dinyatakan
(tempat mengencangkan klem) dengan perbandingan antara
panjang serat dengan lebarnya.
Perbandingan ini harus lebih
besar dari seribu. Pada suatu
10

penampang yang tertentu, Kehalusan dari serat juga ada


jumlah serat-serat yang halus batasnya, karena pada serat
akan lebih banyak dibandingkan yang berasal dari kapas yang
jumlah serat-serat yang lebih muda akan memberikan
kasar. Dengan demikian ketidakrataan benang. Benang
permukaan gesekan untuk yang kurang baik karena kapas
serat-serat yang halus lebih yang muda, akan menimbulkan
besar, sehingga kemungkinan nep. Alat yang digunakan untuk
terjadinya penggelinciran juga mengukur kehalusan serat
berkurang, sehingga benang adalah Micronaire atau
makin kuat. Arealometer.

Gambar 2.11
Micronaire

Keterangan : 14. Manometer


1. Udara masuk
2. Pedal Tabel 2.1 :
3. Aliran udara Penilaian Serat Kapas terhadap
4. Knop pengatur tekanan Kehalusan
5. Knop pengatur penunjuk
6. Knop penera Microgram Kehalusan
7. Kran pemasukkan udara per inch
8. Master plug Dibawah 3 Sangat Halus
9. Ruangan kompresi serat 3,0 – 3,9 Halus
10. Manometer 4,0 – 4,9 Cukup
11. Penunjuk 5,0 – 5,9 Kasar
12. Plunger kompresi 6,0 ke atas Sangat Kasar
13. Penyaring udara
11
2.7.4 Gesekan Permukaan panjang yang lebih banyak dan
Serat relatif lebih panjang sehingga
gesekan permukaan seratnya
Gesekan permukaan serat juga lebih baik.
mempunyai pengaruh yang
besar terhadap kekuatan 2.7.5 Kekenyalan Serat
benang. Makin bertambah baik (Elastisitas)
gesekan permukaannya,
kemungkinan tergelincirnya Serat yang baik harus memiliki
serat yang satu dengan yang kekenyalan sehingga pada
lain makin berkurang, sehingga waktu serat mengalami
benangnya akan lebih kua tegangan tidak mudah putus.
Serat yang halus biasanya
mempunyai antihan per satuan
12
BAB III
BENANG

Benang adalah susunan serat-


serat yang teratur kearah
memanjang dengan garis
tengah dan jumlah antihan
tertentu yang diperoleh dari
suatu pengolahan yang disebut
pemintalan.
Serat-serat yang dipergunakan
untuk membuat benang, ada
yang berasal dari alam dan ada
yang dari buatan. Serat-serat
tersebut ada yang mempunyai Gambar 3.1
panjang terbatas (disebut Pemintalan Secara Mekanik
stapel) dan ada yang
mempunyai panjang tidak Keterangan :
terbatas (disebut filamen). 1. Injakan
Benang-benang yang dibuat 2. Kincir
dari serat-serat stapel dipintal 3. Spindle
secara mekanik, sedangkan 4. Gulungan Benang
benang-benang filamen dipintal
secara kimia.
Benang-benang tersebut, baik
yang dibuat dari serat-serat
alam maupun dari serat-serat
buatan, terdiri dari banyak serat
stapel atau filamen. Hal ini
dimaksudkan untuk
memperoleh benang yang
fleksibel. Untuk benang-benang
dengan garis tengah yang
sama, dapat dikatakan bahwa
benang yang terdiri dari
sejumlah serat yang halus lebih Gambar 3.2
fleksibel daripada benang yang Pemintalan Secara Kimia
terdiri dari serat-serat yang
kasar. Keterangan :
1. Spinnerette
2. Cairan koagulasi
3. Gulungan benang
13
3.1 Benang Menurut Panjang Benang stapel ialah benang
Seratnya yang dibuat dari serat-serat
stapel. Serat stapel ada yang
Menurut panjang seratnya berasal dari serat alam yang
benang dapat dibagi menjadi : panjangnya terbatas dan ada
• Benang Stapel yang berasal dari serat buatan
Ada beberapa macam benang yang dipotong-potong dengan
stapel antara lain : panjang tertentu.
- Benang stapel pendek
- Benang stapel sedang
- Benang stapel panjang

• Benang Filamen
Ada beberapa macam benang
filamen antara lain :
- Benang monofilamen
- Benang multifilamen
- Tow Gambar 3.3
- Benang stretch Benang Stapel
- Benang bulk
- Benang logam Benang stapel pendek ialah
benang yang dibuat dari serat-
3.2 Benang Menurut serat stapel yang pendek.
Konstruksinya Contohnya ialah benang kapas,
benang rayon dan lain-lain.
Menurut kontruksinya benang
dapat dibagi menjadi : Benang stapel sedang ialah
- Benang tunggal benang yang dibuat dari serat-
- Benang rangkap serat stapel yang panjang
- Benang gintir seratnya sedang. Contohnya
- Benang tali ialah benang wol, benang serat
buatan.
3.3 Benang Menurut
Pemakaiannya Benang stapel panjang ialah
benang yang dibuat dari serat-
Menurut pemakaiannya benang serat stapel yang panjang.
dibagi menjadi : Contohnya ialah benang rosella,
- Benang lusi benang serat nenas dan lain-
- Benang pakan lain.
- Benang rajut
- Benang sisir Benang filamen ialah benang
- Benang hias yang dibuat dari serat filamen.
- Benang jahit Pada umumnya benang filamen
- Benang sulam berasal dari serat-serat buatan,
14
tetapi ada juga yang berasal Benang multifilamen ialah
dari serat alam. Contoh benang benang yang terdiri dari serat-
filamen yang berasal dari serat serat filamen. Sebagian besar
alam ialah benang sutera. benang filamen dibuat dalam
Benang filamen yang berasal bentuk multifilamen.
dari serat-serat buatan
misalnya :
- Benang rayon yaitu benang
filamen yang dibuat dari
bahan dasar selulosa.
- Benang nylon yaitu benang
filamen yang dibuat dari
bahan dasar poliamida yang
berasal dari petrokimia.
- Benang poliakrilik yaitu
benang yang dibuat dari Gambar 3.5
bahan dasar poliakrilonitril Benang Multifilamen
yang berasal dari
petrokimia. Tow ialah kumpulan dari beribu-
ribu serat filamen yang berasal
Selain dari benang filamen, dari ratusan spinnerette menjadi
serat-serat buatan tersebut satu.
dapat juga dibuat menjadi
benang stapel.

Benang monofilamen ialah


benang yang terdiri dari satu
helai filamen saja. Benang ini
terutama dibuat untuk keperluan
khusus, misalnya tali pancing,
senar raket, sikat, jala dan
sebagainya. Gambar 3.6
Filamen Tow

Benang stretch ialah benang


filamen yang termoplastik dan
mempunyai sifat mulur yang
besar serta mudah kembali ke
panjang semula.

Gambar 3.4 Benang bulk ialah benang yang


Benang Monofilamen mempunyai sifat-sifat
mengembang yang besar.
15
Benang logam. Benang filamen tunggal atau lebih yang
umumnya dibuat dari serat dirangkap menjadi satu.
buatan, namun disamping itu
ada juga yang dibuat dari
logam. Benang ini telah
dipergunakan beribu-ribu tahun
yang lalu. Benang yang tertua
dibuat dari logam mulia dan
benangnya disebut lame.
Keburukan dari benang ini ialah Gambar 3.9 Benang Rangkap
: berat, mudah rusak dan
warnanya mudah kusam. Benang gintir ialah benang yang
dibuat dengan menggintir dua
helai benang atau lebih
bersama-sama. Biasanya arah
gintiran benang gintir
berlawanan dengan arah
antihan benang tunggalnya.
Benang yang digintir lebih kuat
daripada benang tunggalnya.

Gambar 3.7
Benang Logam

Benang tunggal ialah benang


yang terdiri dari satu helai
benang saja. Benang ini terdiri
dari susunan serat-serat yang
diberi antihan yang sama. Gambar 3.10 Benang Gintir

Benang tali ialah benang yang


dibuat dengan menggintir dua
helai benang gintir atau lebih
bersama-sama.

Gambar 3.8 Benang Tunggal

Benang rangkap ialah benang


yang terdiri dari dua benang Gambar 3.11 Benang Tali
16
Benang lusi ialah benang untuk kerataan yang relatif lebih baik
lusi, yang pada kain tenun daripada benang biasa.
terletak memanjang kearah
panjang kain. Benang hias ialah benang-
Dalam proses pembuatan kain, benang yang mempunyai corak-
benang ini banyak mengalami corak atau konstruksi tertentu
tegangan dan gesekan. Oleh yang dimaksudkan sebagai
karena itu, benang lusi harus hiasan. Benang ini dibuat pada
dibuat sedemikian rupa, mesin pemintalan dengan suatu
sehingga mampu untuk peralatan khusus.
menahan tegangan dan
gesekan tersebut. Untuk
memperkuat benang lusi, maka
jumlah antihannya harus lebih
banyak atau benangnya
dirangkap dan digintir. Apabila
berupa benang tunggal, maka
sebelum dipakai harus diperkuat
terlebih dahulu melalui proses
penganjian.

Benang pakan ialah benang


untuk pakan, yang pada kain
tenun terletak melintang kearah
lebar kain. Benang ini
mempunyai kekuatan yang
relatif lebih rendah daripada Gambar 3.12
benang lusi. Benang Hias

Benang rajut ialah benang untuk Keterangan :


bahan kain rajut. Benang ini 1. Benang dasar
mempunyai antihan / gintiran 2. Benang pengikat
yang relatif lebih rendah 3. Benang hias
daripada benang lusi atau
benang pakan. Benang jahit ialah benang yang
dimaksudkan untuk menjahit
Benang sisir ialah benang yang pakaian. Untuk pakaian tekstil
dalam proses pembuatannya, benang jahit ini terdiri dari
melalui mesin sisir (Combing benang-benang yang digintir
machine). Nomor benang ini dan telah diputihkan atau
umumnya berukuran sedang dicelup dan disempurnakan
atau tinggi (Ne 1 40 keatas) dan secara khusus.
mempunyai kekuatan dan
17
diperlukan selama proses
pembuatan kain. Hal-hal yang
dapat mempengaruhi kekuatan
ini ialah :
• Sifat-sifat bahan baku antara
lain dipengaruhi oleh :
- Panjang serat
Makin panjang serat yang
dipergunakan untuk bahan
baku pembuatan benang,
makin kuat benang yang
dihasilkan.
Gambar 3.13
Benang Jahit - Kerataan panjang serat
Makin rata serat yang
Benang sulam ialah benang- dipergunakan, artinya makin
benang yang dimaksudkan kecil selisih panjang antara
untuk hiasan pada kain dengan masing-masing serat, makin
cara penyulaman. Benang- kuat dan rata benang yang
benang ini umumnya telah dihasilkan.
diberi warna, sifatnya lemas dan
mempunyai efek-efek yang - Kekuatan serat
menarik. Makin kuat serat yang
dipergunakan, makin kuat
3.4 Persyaratan Benang benang yang dihasilkan.

Benang dipergunakan sebagai - Kehalusan serat


bahan baku untuk membuat Makin halus serat yang
bermacam-macam jenis kain dipergunakan, makin kuat
termasuk bahan pakaian, tali benang yang dihasilkan.
dan sebagainya. Supaya Kehalusan serat ada
penggunaan pada proses batasnya, sebab pada serat
selanjutnya tidak mengalami yang terlalu halus akan
kesulitan, maka benang harus mudah terbentuk neps yang
mempunyai persyaratan- selanjutnya akan
persyaratan tertentu antara lain mempengaruhi kerataan
ialah : kekuatan, kemuluran dan benang serta kelancaran
kerataan. prosesnya.

3.4.1 Kekuatan Benang • Konstruksi benang antara


lain dipengaruhi oleh :
Kekuatan benang diperlukan - Jumlah antihan
bukan saja untuk kekuatan kain Jumlah antihan pada
yang dihasilkan, tetapi juga benang menentukan
18
kekuatan benang, baik untuk Sebaliknya benang yang terlalu
benang tunggal maupun banyak mulur akan menyulitkan
benang gintir. dalam proses selanjutnya.
Untuk setiap pembuatan Kalau panjang benang sebelum
benang tunggal, selalu ditarik = a (cm) dan panjang
diberikan antihan seoptimal benang pada waktu ditarik
mungkin, sehingga dapat hingga putus = b (cm), maka
menghasilkan benang mulur benang tersebut =
dengan kekuatan yang b−a
maksimum. x 100 % .
a
Kalau jumlah antihan kurang
Mulur pada benang dipengaruhi
atau lebih dari jumlah
antara lain oleh :
antihan yang telah
a. Kemampuan mulur dari
ditentukan, maka kekuatan
serat yang dipakai.
benang akan menurun.
b. Konstruksi dari benang.
- Nomor benang
3.4.3 Kerataan Benang
Jika benang-benang dibuat
dari serat-serat yang
Kerataan Benang stapel sangat
mempunyai panjang,
dipengaruhi antara lain oleh :
kekuatan dan sifat-sifat serat
• Kerataan panjang serat
yang sama, maka benang
Makin halus dan makin
yang mempunyai nomor
panjang seratnya, makin
lebih rendah, benangnya
tinggi pula kerataannya.
lebih kasar dan akan
mempunyai kekuatan yang
lebih besar daripada benang • Halus kasarnya benang
Tergantung dari kehalusan
yang mempunyai nomor
lebih besar. serat yang dipergunakan,
makin halus benangnya
makin baik kerataannya.
3.4.2 Mulur Benang

Mulur ialah perubahan panjang • Kesalahan dalam


benang akibat tarikan atau pengolahan
biasanya dinyatakan dalam Makin tidak rata panjang
persentasi terhadap panjang serat yang dipergunakan,
benang. Mulur benang selain makin sulit penyetelannya
menentukan kelancaran dalam pada mesin.
pengolahan benang Kesulitan pada penyetelan
selanjutnya, juga menentukan ini akan mengakibatkan
mutu kain yang akan dihasilkan. benang yang dihasilkan
Benang yang mulurnya sedikit tidak rata.
akan sering putus pada
pengolahan selanjutnya.
19
• Kerataan antihan Satuan panjang
Antihan yang tidak rata akan 1 inch (1”) = 2,54 cm
menyebabkan benang yang 12 inches = 1 foot (1’)
tidak rata pula. = 30,48 cm
36 inches = 3 feet = 1 yard
• Banyaknya nep = 91.44 cm
Makin banyak nep pada 120 yards = 1 lea = 109,73 m
benang yaitu kelompok- 7 lea’s = 1 hank = 840 yards
kelompok kecil serat yang = 768 m
kusut yang disebabkan oleh
pengaruh pengerjaan Satuan berat
mekanik, makin tidak rata 1 grain = 64,799 miligram
benang yang dihasilkan. 1 pound (1 lb) = 16 ounces
Serat yang lebih muda = 7000 grains = 453,6 gram
dengan sendirinya akan 1 ounce (1 oz) = 437,5 grains
lebih mudah kusut
dibandingkan dengan serat- Ada beberapa cara yang dipakai
serat yang dewasa. untuk memberikan nomor pada
benang. Beberapa negara dan
3.5 Penomoran Benang beberapa cabang industri tekstil
yang besar, biasanya
Untuk menyatakan kehalusan mempunyai cara-cara tersendiri
suatu benang tidak dapat untuk menetapkan penomoran
dengan mengukur garis pada benang. Tetapi banyak
tengahnya, sebab negara yang menggunakan
pengukurannya diameter sangat cara-cara penomoran yang
sulit. Biasanya untuk sama. Pada waktu ini, ada
menyatakan kehalusan suatu bermacam-macam cara
benang dinyatakan dengan penomoran benang yang
perbandingan antara panjang dikenal, tetapi pada dasarnya
dengan beratnya. Perbandingan dapat dibagi menjadi dua cara
tersebut dinamakan nomor yaitu :
benang. - Penomoran benang secara
tidak langsung dan
3.5.1 Satuan-satuan yang - Penomoran benang secara
dipergunakan langsung.

Untuk mempermudah dalam 3.5.2 Penomoran Benang


perhitungan, terlebih dahulu Secara Tidak Langsung
harus dipelajari satuan-satuan
yang biasa dipergunakan dalam Pada cara ini ditentukan bahwa
penomoran benang. Adapun makin besar (kasar) benangnya
satuan-satuan tersebut adalah makin kecil nomornya, atau
sebagai berikut : makin kecil (halus) benangnya
20
makin tinggi nomornya.
Penomeran cara Tidak Soal 3 : Benang kapas
Langsung dinyatakan sebagai panjang 8400 yards,
berikut : berat 0,5 lb. Berapa
Ne 1 nya ?
Panjang ( P) Jawab : Panjang 1 lb benang
nomor =
Berat ( B) = 2 x 8400 yards =
16.800 yards =
3.5.2.1 Penomoran Cara 16.800
hank = 20
Kapas (Ne 1 ) 840
hanks. Maka nomor
Penomoran ini merupakan benang tersebut
penomoran benang menurut ialah Ne 1 20.
cara Inggris. Cara ini biasanya
digunakan untuk penomoran Soal 4 : Benang panjang 120
benang kapas, macam-macam yards, berat 25
benang stapel rayon dan grains. Berapa Ne 1
benang stapel sutera. Satuan nya ?
panjang yang diguanakan ialah Jawab : Panjang 1 lb benang
hank, sedang satuan beratnya
7000
ialah pound. Ne 1 menunjukkan = x 120 yards
25
berapa hanks panjang benang
untuk setiap berat 1 pound. 120
= 280 x hanks
Penomeran cara Kapas 840
dinyatakan sebagai berikut: 280
= = 40 hanks.
Panjang ( P) dalam hank 7
Ne 1 =
Berat ( B) dalam pound Jadi nomor benang
tersebut Ne 1 40.
Contoh Soal :
Soal 5 : 1 yards lap beratnya
Soal 1 : Apa artinya Ne 1 1? 14 oz. Berapa nomor
Jawab : Untuk setiap berat lap tersebut ?
benang 1 lb, Jawab : Panjang 1 lb lap =
panjangnya 1 hank, 16 16
x 1 yard =
atau 1 x 840 yards. 14 14
yards =
Soal 2 : Apa artinya Ne 1 20 ? 16
hank =
Jawab : Untuk setiap berat 14 x 840
benang 1 lb, 0,00136.
panjangnya 20 hanks
atau 20 x 840 yards.
21
Jadi nomor lap Jawab : Panjang 1 lb benang
tersebut Ne 1 = 4 x 1680 yards =
0,00136. 6.720 yards = 12 x
560 yards. Jadi
3.5.2.2 Penomoran Cara nomor benang
Worsted (Ne 3 ) tersebut Ne 3 12

Penomoran dengan cara ini 3.5.2.3 Penomoran Cara Wol


dipakai untuk benang-benang (Ne 2 atau Nc)
wol sisir, mohair, alpaca, unta
dan cashmere. Satuan panjang Penomoran dengan cara ini
yang digunakan ialah 360 yards, digunakan untuk penomoran
sedang satuan beratnya ialah jute dan rami. Nc untuk : wol.
pound. Satuan panjang yang digunakan
Ne 3 menunjukkan berapa kali ialah 300 yards, sedangkan
560 yards panjang benang satuan beratnya ialah pound.
setiap berat 1 pound. Ne 2 atau Nc menunjukkan
Penomeran cara Worsted berapa kali 300 yards panjang
dinyatakan sebagai berikut: benang untuk setiap berat 1
pound.
P ( pjg ) dlm 560 yards Penomeran cara Wol dinya
Ne 3 = takan sebagai berikut:
B ( Brt ) dlm pound
P ( pjg ) dlm 300 yards
Contoh Soal : Ne 2 =
B ( Brt ) dlm pound
Soal 1 : Apa artinya Ne 3 1 ?
Contoh Soal :
Jawab : Untuk setiap berat 1
lb, panjangnya 1 kali
560 yards. Soal 1 : Apa artinya Ne 2 1 ?
Jawab : Untuk setiap berat 1
Soal 2 : Apa artinya Ne 3 26 ? lb, panjangnya 1 kali
300 yards.
Jawab : Untuk setiap berat 1
lb, panjangnya 26 Soal 2 : Apa artinya Nc 25 ?
kali 560 yards. Jawab : Untuk setiap berat 1
lb, panjangnya 25
Soal 3 : Benang wol sisir kali 300 yards.
panjang 1680
yards, beratnya ¼ Soal 3 : Benang rami panjang
pound. Berapa Ne 3 3600 yards, berat 1/5
nya ?
22
pound. Berapa Contoh Soal :
Ne 2 nya ?
Jawab : Panjang 1 lb = 5 x Soal 1 : Apa artinya Nm 1 ?
3600 yards = 18.000 Jawab : Untuk setiap berat 1
yards = 60 x 300 gram panjangnya 1
yards. Jadi nomor m.
benang tersebut Ne 2
Soal 2 : Apa artinya Nm 30 ?
60. Jawab : Untuk setiap berat 1
gram panjangnya 30
Soal 4 : Benang wol panjang meter.
4200 yards, berat
90,72 gram. Berapa Soal 3 : Benang kapas
Nc nya ? panjang 60 meter,
Jawab : Berat benang = beratnya 2 gram.
90,72 Berapa Nm nya ?
x 1 lb = 1/5 lb.
453,6 Jawab : Panjang 1 gram
Panjang 1 lb benang benang = ½ x 60 =
= 5 x 4200 yards = 30 meter. Jadi nomor
21.000 yards = 70 x benang tersebut Nm
300 yards. Jadi 30.
nomor benang
tersebut Nc 70. Soal 4 : nomor suatu benang
kapas Nm 10.
3.5.2.4 Penomoran Cara Berapa Ne 1 nya ?
Metrik (Nm) Jawab : Panjang 1 gram
benang = 10 m.
Penomoran dengan cara ini Panjang 1 lb =
digunakan untuk penomoran 453,6
segala macam benang. Satuan x 10 m = 4563
1
panjang yang digunakan ialah
meter, sedang satuan beratnya 4536
m = hanks =
ialah gram. Nm menunjukkan 768
berapa meter panjang benang 5,9 hanks
untuk setiap berat 1 gram. Jadi nomor benang
Penomeran cara Metrik tersebut Ne 1 5,9.
dinyatakan sebagai berikut:
3.5.2.5 Penomoran Benang
Cara Perancis (Nf)

P ( panjang ) dlm meter Penomoran dengan cara ini


Nm =
B ( Berat ) dlm gram digunakan untuk penomoran
benang kapas. Satuan panjang
23
yang digunakan ialah meter, pound. Ne 4 menunjukkan
sedang satuan beratnya ialah berapa kali 256 yards panjang
gram. Nf menunjukkan berapa benang, untuk setiap berat 1
meter panjang benang untuk pound.
setiap berat ½ gram. Penomeran cara Wol Garu
Penomeran cara Perancis dinyatakan sebagai berikut:
dinyatakan sebagai berikut:
P (dalam 256 yards )
Ne 4 =
P ( panjang ) dalam meter B (dalam pound )
Nf = Contoh Soal :
B ( Berat ) dalam 12 gram
Soal 1 : Apa artinya Ne 4 1 ?
Contoh Soal :
Jawab : Setiap berat 1
Soal 1 : Apa artinya Nf 1 ? pound, panjangnya
Jawab : Untuk setiap berat 256 yards.
benang ½ gram,
panjangnya 1 meter. Soal 2 : Apa artinya Ne 4 30
?
Soal 2 : Apa artinya Nf 20 ? Jawab : Setiap berat 1 pound
Jawab : Untuk setiap berat ½ panjangnya 30 x 256
gram panjangnya 20 yards = 7680 yards.
meter.
Soal 3 : Benang wol garu
Soal 3 : Benang kapas panjang 2560 yards,
panjangnya 40 m, beratnya ¼ pound.
beratnya 1 gram. Berapa Ne 4 nya ?
Berapa Nf nya ? Jawab : Panjang benang
Jawab : Panjang benang untuk setiap 1 pound
untuk setiap berat ½ = 1/¼ pound x 2560
gram = ½ gram x 40 yards = 10.240 yards
meter = 20. Jadi = 40 x 256 yards.
nomornya Nf 20. Jadi nomor benang
adalah Ne 4 40.
3.5.2.6 Penomoran Benang
Cara Wol Garu (Ne 4 )
3.5.3 Penomoran Benang
Secara Langsung
Penomoran dengan cara ini
digunakan untuk penomoran Cara penomoran ini kebalikan
benang wol garu dan dari cara penomoran benang
semacamnya. Satuan panjang secara tidak langsung. Pada
yang digunakan ialah 256 yards, cara ini makin kecil (halus)
sedang satuan beratnya ialah
24
benangnya makin rendah Soal 3 : Benang sutera
nomornya, sedangkan makin panjangnya 2000
kasar benangnya makin tinggi meter, beratnya 30
nomornya. gram. Berapa D nya
Penomeran cara Langsung ?
dinyatakan sebagai berikut Jawab : Berat 9000 meter
Berat ( B ) benang
Nomor = 9000
Panjang ( P ) = x 30 gram
2000
= 85 gram.
3.5.3.1 Penomoran Cara Jadi nomor benang
Denier (D atau Td) tersebut D 85.
Soal 4 : Nomor benang rayon
Penomoran dengan cara ini Td 30. Berapa Nm
digunakan untuk penomoran nya ?
benang-benang sutera, benang Jawab : Berat setiap 9000 m
filamen rayon dan benang = 30 gram.
filamen buatan lainnya. Satuan Panjang 1 gram =
berat yang digunakan ialah 1/30 x 9000 m
gram, sedang satuan = 300 meter.
panjangnya ialah 9000 meter. D Jadi nomor benang
atau Td menunjukkan berapa tersebut Nm 300.
gram berat benang untuk setiap
panjang 9000 meter. 3.5.3.2 Penomoran Cara Tex
Penomeran cara Denier (Tex)
dinyatakan sebagai berikut:
Penomoran dengan cara ini
digunakan untuk penomoran
B (brt ) dlm gram
D= segala macam benang. Satuan
P ( pjg ) dlm 9000 meter berat yang digunakan ialah
gram, sedangkan satuan
Contoh Soal : panjangnya ialah 1000 meter.
Tex menunjukkan berapa gram
Soal 1 : Apa artinya D 1 ? berat benang untuk setiap
Jawab : Untuk setiap panjang panjang 1000 meter.
9000 m, beratnya 1 Penomeran cara Tex
gram. dinyatakan sebagai berikut:

Soal 2 : Apa artinya Td 20 ?


Jawab : Untuk setiap panjang B (brt ) dlm gram
9000 meter, beratnya Tex =
P ( pjg ) dlm 1000 meter
20 gram.
25
Contoh Soal :
Penomoran dengan cara ini
Soal 1 : Apa artinya Tex 1 ? digunakan untuk penomoran
Jawab : Untuk setiap panjang benang jute. Satuan berat yang
1000 meter, beratnya digunakan ialah pound, sedang
1 gram. satuan panjangnya ialah 14.400
yard.
Soal 2 : Apa artinya Tex 30 ? Ts menunjukkan berapa pound
Jawab : Untuk panjang 1000 berat benang untuk setiap
meter, beratnya 30 panjang 14.400 yards.
gram. Penomeran cara Jute
dinyatakan sebagai berikut:
Soal 3 : Benang kapas
panjang 2000
meter, beratnya 10 B (dalam pound )
gram. Berapa Tex Ts =
P (dalam 14.400 yards )
nya ?
Jawab : Berat 1000 m
1000 Contoh Soal :
benang = x 10
2000 Soal 1 : Apa artinya Ts 1 ?
gr = 5 gram. Jawab : Untuk setiap panjang
Jadi nomor benang 14.400 yards
tersebut Tex 5. beratnya 1 pound.
Soal 4 : nomor suatu benang Soal 2 : Apa artinya Ts 20 ?
rayon Tex 60. Jawab : Untuk setiap panjang
Berapa Td nya ? 14.400 yards,
Jawab : Berat 1000 m beratnya 20 pound.
benang = 60 gram.
Berat 9000 m Soal 3 : Benang jute panjang
9000 28.800 yards berat 6
benang = x 60
1000 pounds. Berapa Ts
gr = 540 gram. nya ?
Jadi nomor benang Jawab : Berat benang untuk
tersebut Td 540. setiap panjang
14.400 yards =
3.5.3.3 Penomoran Cara Jute
(Ts)
14.400 Jadi nomor benang
x 6 pounds adalah Ts 3.
28.800
= 3 pounds.
Benang-benang tunggal
seringkali digintir untuk
26
memperoleh efek-efek lainnya. Panjang setiap berat 1 gr =
Komposisi dari benang-benang 1 gram
gintir dapat terjadi sebagai x 30 m = 12 m
2 12 gram
berikut :
a. Nomor dan bahan sama
b. Nomor tidak sama, bahan Jadi Ne 1 R = 12
sama
c. Bahan tidak sama tapi cara Soal 3 : Sehelai benang Td
penomorannya sama 20 digintir dengan
d. Bahan tidak sama dan sehelai benang Td
penomorannya tidak sama 30. Berapa Td R
Contoh Soal : nya?

Soal 1 : 2 helai benang Ne 1 Jawab :


Td 20 panjang 9000 m, berat 20 gram atau
40 digintir. Berapa Td 30 panjang 9000 m, berat 30 gram
Ne 1 benang
gintirnya? (Ne 1 R) Panjang 9000 m benang gintir,
beratnya 50 gram.
Jawab :
Ne1 40, panjang 40 hanks, berat 1 lb. Jadi Td R = 50.
Ne1 40, panjang 40 hanks, berat 1 lb.

Panjang 40 hanks benang gintir,


beratnya 2 lbs.

Jadi Ne 1 R = 40/2 atau 20.

Soal 2 : Sehelai benang Nm


20 digintir dengan
sehelai benang Nm
30. Berapa Nm R
nya ?

Jawab :
Nm 20, panjang 20 m, berat 1
gram atau

panjang 30 m berat 1 ½ gram.


panjang 30 m berat 1 gram.

Panjang 30 m benang gintir,


beratnya 2½ gr.
Panjang setiap berat 1 gr = 1
27

BAB IV Landasan kapas dibuat dari


PENCAMPURAN SERAT kayu yang tebal dan kuat serta
mempunyai kaki empat buah.
Dalam proses pencampuran
serat, ada dua macam istilah
yang sering diartikan sama
tetapi sebenarnya masing-
masing mempunyai pengertian
yang berbeda. Perbedaan
pengertian istilah tersebut
berdasarkan jenis atau macam
serat yang akan dicampur. Dua
istilah dalam pencampuran
tersebut adalah :
1. Blending Gambar 4.2
2. Mixing Bal Kapas dengan Jumlah
Pelat Besi 6
4.1 Pembukaan Bungkus Bal
Kapas

Setiap bal kapas yang datang


dari gudang, tidak langsung
dicampur melainkan diletakkan
diatas landasan kapas yang
khusus disediakan di ruangan
mixing untuk tempat
pembukaan pelat pembalut bal
kapas. Gambar 4.3
Besi Pelepas Pelat
Pembalut Kapas

Gambar 4.1
Landasan Bal Kapas Gambar 4.4
Gunting Pemotong Pelat
Pembalut Bal Kapas
28
yang kotor dipisahkan pada
Besi pelepas atau gunting tempat yang telah ditentukan.
pemotong pelat pembalut kapas Pembalut dari masing-masing
bal kapas terdiri dari dua potong bal kapas dikumpulkan menjadi
besi yang dipergunakan untuk satu dan ditimbang untuk
membuka sambungan pelat mengetahui beratnya. Dengan
besi pembalut dan kemudian mengurangi jumlah berat
pelat-pelat pembalut ini ditarik pembalut dan bungkus ini dari
keluar dari bal-bal kapas, jumlah berat yang dicatat oleh
sehingga bagian atas dari bal- petugas gudang, maka kita
bal telah bebas dari pelat dapat mengetahui berat kapas
pembalutnya. Sesudah itu yang diolah di ruangan blowing.
keatas sebuah landasan kapas
lainnya yang telah dirapatkan 4.2 Penyimpanan Bal Kapas di
letaknya dengan landasan Ruangan Mixing
kapas yang pertama,
digulingkan dengan hati-hati bal Bal-bal kapas yang telah dibuka
kapas tadi sambil menahan itu, tidak segera diolah
pembalutnya pada landasan diblowing, tetapi disimpan lebih
kapas yang pertama. Kemudian dulu di ruangan mixing selama
kotoran-kotoran yang melekat satu malam. Maksud dari
pada bal kapas itu dibersihkan. penyimpanan ini dapat
Apabila ini sudah selesai, maka dijelaskan sebagai berikut :
dengan sebuah gerobak tarik Kelancaran proses pembukaan
yang khusus dibuat untuk dan pembersihan di mesin-
mengangkat landasan kapas, mesin blowing sangat
maka kapas tersebut dibawa ke dipengaruhi oleh kondisi atau
tempat penyimpanan yang telah sifat-sifat seratnya antara lain
ditentukan. Setelah sampai ialah kepadatan dan kandungan
ditempatnya lalu ditulis merek air.
dari kapas tersebut pada salah Kapas yang baru saja dibuka
satu kayu pinggiran dari masih dalam kondisi yang padat
landasan kapas. sekali sehingga sukar untuk
Pemasangan merek ini adalah dibuka dan dibersihkan apabila
perlu sekali untuk memudahkan kapas tersebut langsung
penyusunan bal-bal kapas di disuapkan ke mesin blowing.
ruangan blowing. Selanjutnya Disamping itu kandungan airnya
pembalut yang telah dilepas tadi mungkin tidak sesuai dengan
dibawa ke ruangan tempat standar yang ditentukan.
limbah dan kapas-kapas yang Untuk mengatasi kesulitan-
melekat pada pembalut tersebut kesulitan tersebut diatas, maka
dilepaskan dan dikumpulkan. setelah bal kapas dibuka,
Kapas yang baik dan bersih pembalut dan pembungkusnya
dibawa ke ruangan blowing dan kemudian disimpan dan
29
dibiarkan mengembang dengan Misalnya kita akan membuat
sendirinya selama satu malam. benang campuran antara serat
Serat kapas yang kering akan polyester dan serat kapas
kehilangan sebagian dari dengan perbandingan 65 %
kekuatannya, sehingga kalau Polyester dan 35 % kapas,
diolah dalam keadaan demikian, maka sebelum proses
serat-serat yang panjang akan dikerjakan kita sudah dapat
mudah putus didalam mesin. meramalkan benang campuran
Hal ini tidak akan kelihatan yang akan dihasilkan
dengan mata, tetapi akan diharapkan akan mempunyai
terbukti dari hasil pengujian, sifat-sifat antara lain :
bahwa Persentase serat pendek - lebih kuat
bertambah tinggi, sehingga - lebih rata
kekuatan benang menjadi - tahan kusut dan lain-lain
berkurang. Sebaliknya jika Syarat-syarat yang perlu
penyimpanan ini terlalu lama, diperhatikan dalam blending ini
yang akan mengakibatkan antara lain adalah :
kurang baik, karena seringkali - panjang serat
terjadi bagian atas dari bal-bal - kehalusan serat
kapas itu menjadi terlalu - kekuatan dan mulur serat
lembab. - Persentase perbandingan
Kalau lantai ruangan mixing
juga tidak kering, maka bagian Jadi yang diartikan dengan
bawah juga akan menjadi terlalu blending dalam pemintalan ialah
lembab. Kapas yang terlalu pencampuran dua macam serat
lembab dapat menimbulkan atau lebih dengan
kesukaran-kesukaran dalam memperhatikan persyaratan
pengolahannya di mesin-mesin. diatas untuk diolah menjadi
Oleh karena itu ruangan mixing benang dengan hasil yang
harus mempunyai kondisi dapat diramalkan sebelumnya
tertentu dan pergantian udara dan kalau dikemudian hari akan
harus dapat berlangsung membuat benang semacam itu
dengan bebas. dapat dengan mudah
dilaksanakan. Blending yang
4.3 Blending dilakukan di pabrik pemintalan
di Indonesia biasanya antara :
Blending ialah pencampuran - Serat Polyester dengan
antara dua jenis serat atau lebih serat kapas
yang sifat-sifat dan atau - Serat Polyester dengan
harganya berbeda, dengan serat rayon
tujuan untuk mendapatkan hasil - Serat kapas dengan serat
benang dengan mutu dan harga buatan lainnya.
yang diinginkan.
30
Dalam pelaksanaannya terhadap sifat-sifat fisik dan
blending dapat dilakukan antara mekanis lainnya perlu
lain pada mesin-mesin blowing, diperhatikan.
carding dan drawing. Dari Dari uraian tersebut diatas,
beberapa cara tersebut yang dapat disimpulkan bahwa
banyak dipakai ialah blending dengan adanya berbagai
yang dilakukan pada mesin macam perbedaan sifat-sifat
drawing dan dalam beberapa serat, maka sukar sekali untuk
hal juga dilakukan di mesin menentukan kondisi pengolahan
blowing. yang sesuai, misalnya besarnya
Blending yang dilakukan di setting dan pukulan, kekuatan
mesin Blowing mempunyai hisapan udara, kelembaban dan
kelemahan-kelemahan antara sebagainya. Dengan demikian
lain disebabkan karena adanya blending pada mesin blowing
perbedaan panjang serat, biasanya hanya dilakukan
jumlah kotoran, berat jenis, apabila terdapat beberapa
sifat-sifat fisik dan mekanis persamaan sifat dari serat-serat
lainnya antara serat polyester yang dicampurkan, misalnya
dan serat kapas. Panjang serat, serat polyester dan serat rayon.
jumlah kotoran yang berbeda Blending pada mesin drawing
seharusnya memerlukan setting biasanya dilakukan dengan cara
dan tingkat pembukaan yang mengatur perbandingan
berbeda-beda. Serat-serat yang rangkapan dan susunan sliver
berat jenisnya lebih kecil yang disuapkan pada mesin
kemungkinan besar akan drawing passage pertama.
terhisap lebih dahulu Dengan cara tersebut, maka
dibandingkan dengan serat- Persentase campuran yang
serat yang berat jenisnya lebih diinginkan dapat dicapai.
besar, sehingga blending yang Perbandingan Persentase
diharapkan mungkin tidak dapat campuran yang lazim digunakan
tercapai. Demikian pula adalah sebagai berikut :

Tabel 4.1 :
Macam-Macam Perbandingan Persentase Campuran

Perbandingan Persentase
No. Macam campuran serat
campuran
1. Polyester / kapas 65 % / 35 %
2. Polyester / rayon 65 % / 35 %
3. Kapas / rayon 80 % / 20 %
4. Polyacrilic / kapas 55 % / 45 %
5. Polyester / wol 55 % / 45 %
6. Kapas / kapas Tidak tertentu
31
4.4 Mixing Bale Breaker). Kemudian dari
setiap bal kapas diambil
Tujuan dari mixing di pemintalan segumpal demi segumpal
ialah untuk mengurangi dengan tangan dan ditaruh
ketidakrataan hasil benangnya. diatas feed lattice, selanjutnya
Mixing biasanya dilakukan terus masuk kedalam mesin
terhadap serat-serat yang Hoppe Bale Breaker.
sejenis. Biasanya kapas yang Walaupun antar blending dan
datang, walaupun spesifikasi mixing pada hakekatnya
telah ditetapkan dalam mengandung pengertian yang
pemintalan, namun dalam berbeda, dalam pengertian
kenyataannya sukar dipenuhi, sehari-hari sering dicampur
mungkin disebabkan jumlah adukkan. Blending sering diberi
persediaan sangat terbatas. pengertian apabila percampuran
Adakalanya walaupun grade dilakukan terhadap jenis serat
dan panjang staple sama dalam yang berbeda, sedang
spesifikasinya, namun karena percampuran beberapa macam
berasal dari berbagai daerah serat kapas untuk tujuan-tujuan
yang kondisinya tidak sama, tertentu dipatal-patal di
maka dimungkinkan adanya Indonesia seringkali digunakan
perbedaan sifat antar kapas. istilah mixing.
Agar supaya hasil produksi Berikut ini diberikan contoh
benang yang berasal dari blending yang pernah
kapas-kapas tersebut dapat dilaksanakan dan mungkin
dijamin kesamaannya, maka dapat dipergunakan sebagai
perlu dilakukan mixing. pedoman.
Mixing dapat dilakukan dengan Blending/mixing benang 20 s
berbagai macam cara, antara - Kapas M 15/16” = 50 %
lain : Kapas SM 15/16” = 50 %
- Pencampuran di lantai (floor - Kapas M 15/16” = 70 %
mixing). Kapas SM 15/16” = 30 %
- Pencampuran dalam - Kapas M 15/16” = 50 %
ruangan (bin mixing). Kapas SM 15/16” = 20 %
- Pencampuran selama Kapas M 1” = 15 %
penyuapan. Kapas SMI 1” = 15 %
- Kapas M 15/16” = 80 %
Dari berbagai macam cara Kapas SM 15/16” = 20 %
tersebut diatas, yang banyak
digunakan ialah pencampuran Percampuran-percampuran
selama penyuapan. tersebut diatas didasarkan atas
Pada cara ini, biasanya pertimbangan-pertimbangan
disediakan ± 24 bal kapas yang teknis, dengan tujuan untuk
disusun sekeliling feed lattice memperlancar jalannya
dari mesin pembuka (Hopper
32
produksi dan mengurangi putus
benang di mesin Ring Spinning
sehingga produksi dapat
meningkat dan mutu benang
yang dihasilkan masih
memenuhi standar. Disamping
pertimbangan teknis,
pertimbangan ekonomis juga
perlu mendapat perhatian.
33

BAB V Alat ini terdiri dari suatu spindel


yang dapat diputar melalui roda
PROSES PEMBUATAN pemutar spindel (1). Pada ujung
BENANG spindel tersebut diterapkan flyer
(2), sehingga bila spindel ber
Pada penjelasan terdahulu, putar, maka flyer juga turut ber
telah diuraikan mengenai prinsip putar. Bobin (3) dimana poros
pembuatan benang yang spindel dimasukkan, dapat ber
umumnya digunakan sejak putar bebas dan dapat diputar
jaman dahulu sampai sekarang tersendiri melalui roda pemutar
yaitu terdiri dari proses-proses bobin (4). Waktu proses berlang
peregangan serat, pemberian sung, kelompok serat melalui
antihan dan penggulungan yang puncak flyer, keluar melalui lu
keseluruhannya disebut proses bang saluran benang (6) secara
pemintalan. radial, lalu dibelitkan melalui kait
Selain itu telah dijelaskan pula pengantar benang (5) dari sa
bahwa proses pemintalan yang yap flyer ke bobin (3) untuk
sesungguhnya, baru dilakukan digulung. Bobin dan flyer ber pu
setelah serat-serat mengalami tar sama arah nya tetapi bobin
proses-proses pendahuluan lebih cepat, sehingga terjadi
misalnya pembersihan, penggulungan. Sedangkan pu
penguraian serat dari taran flyer dipakai untuk mem
gumpalan-gumpalan dan lain- berikan antihan pada benang.
lain.
Dahulu, pembersihan dan
penguraian serat hanya
dilakukan menggunakan
tangan, akan tetapi sekarang
sudah menggunakan mesin-
mesin yang macamnya
tergantung dari pada jenis serat
yang digunakan.
Untuk mempelajari macam-
macam mesin yang digunakan,
perlu diketahui sistem yang
digunakan pada proses pintal. Gambar 5.1
Sistem-sistem itu antara lain Sistem Pintal Flyer
ialah :
1. Roda Pemutar Spindel
5.1 Sistem Pintal Flyer 2. Flyer
3. Bobin
Prinsip cara ini seperti terlihat 4. Roda Pemutar Bobin
pada gambar 5.1. 5. Kait Pengantar Benang
6. Lubang Saluran Benang
34
Sistem ini digunakan untuk
memintal serat-serat panjang
seperti flax, henep, wol yang
panjang dan sebagainya.
Dalam pembuatan benang
kapas, biasanya mesin roving
sebelum mesin pintal benang
yang sesungguhnya.

5.2 Sistem Pintal Mule

Sistem pintal mule ini


menggunakan prinsip seperti
pembuatan benang dengan
kincir. Kalau pada pembuatan
benang dengan kincir Gambar 5.2
peregangan serat-serat dan Sistem Pintal Cap
penggulungan benang
dilakukan dengan menjauhkan Keterangan :
tangan yang memegang 1. Cap atau topi
gumpalan serat dan 2. Spindel
mendekatkan pada spindel 3. Leher Spindel
pada waktu penggulungan 4. Roda Pemutar Benang
benang, tetapi pada proses 5. Bobin
dengan sistem mule, spindelnya
yang digerakkan dan Cap atau topi yang berbentuk
mendekatkan pada waktu seperti bel (1) yang dapat
penggulungan. Sistem ini diletakkan pada ujung spindel
banyak digunakan untuk (2). Karena poros bobin
membuat benang dari wol yang menyelubungi spindel, maka
kasar sampai yang halus. bobin dapat diputar walaupun
spindelnya diam.
5.3 Sistem Pintal Cap Pada spindel diterapkan leher 3
yang dilekatkan pada roda 4
Untuk mempelajari prinsip ini dimana terdapat bobin 5,
dapat diikuti pada gambar 5.2 : sehingga roda 4, leher 3 dan
Alat ini terdiri dari : bobin dapat berputar bersama-
sama. Benang yang berasal dari
rol depan melalui pengantar
digulungkan pada bobin 5
dengan bergeser pada bobin
Cap 1. Karena terjadi gesekan
antara benang dan bibir Cap,
35
maka dengan berputarnya selanjutnya digulung ke bobin
bobin, benang dapat tergulung. yang lebih dahulu melalui
Bibir Cap berfungsi sebagai traveller (5). Karena bobin
pengantar benang. Putaran berputar maka traveller turut
benang mengelilingi bibir Cap, berputar mengelilingi bibir ring.
menghasilkan putaran atau Oleh sebab traveller mengalami
antihan pada benang. Sistem in gesekan, maka putaran bobin
banyak digunakan pada lebih cepat dari pada traveller,
pembuatan benang dari wol. sehingga terjadilah
penggulungan benang pada
5.4 Sistem Pintal Ring bobin dan bersamaan dengan
itu putaran traveller memberikan
Sistem ini yang paling banyak antihan pada benang.
digunakan untuk pembuatan
benang.
Di Indonesia hampir semua
pabrik penghasil benang
menggunakan sistem ini.
Dipakai terutama untuk serat-
serat yang relatif pendek,
terutama serat kapas.
Prinsipnya dapat diikuti pada
gambar 5.3.
Spindel (1) diputar melalui pita.
Bobin (4) yang berlubang dapat
dimasukkan ke spindel
sedemikian, sehingga kalau
spindel berputar bobin turut pula Gambar 5.3
berputar. Melingkari bobin Sistem Pintal Ring
tersebut terdapat ring (3) yang
terletak pada landasan ring (2) Keterangan :
yang dapat naik turun. Pada 1. Spindel
bibir ring dimasukkan semacam 2. Landasan Ring
cincin kecil berbentuk “C” yang 3. Ring
disebut traveller (5) dan 4. Bobin
berfungsi sebagai pengantar 5. Traveller
benang selama penggulungan. 6. Pengantar benang
Agar benang tidak mengenai 7. Pemisah
ujung spindel selama dipintal,
maka diatas spindel dipasang Dasar-dasar perhitungan
pengantar benang (6) yang mengenai jumlah antihan, arah
berbentuk seperti ekor babi. antihan dan hal-hal yang
Benang dari rol depan melalui berhubungan dengan
pengantar benang (6)
36
pemintalan ini akan diuraikan 6. Saluran
pada bab tersendiri. 7. Rol pelepas
8. Rol penggulung
5.5 Sistem Pintal Open-end
Bahan berupa sliver masuk
Sistem pintal Open-end adalah melalui corong (1), diambil oleh
cara pembuatan benang dimana rol penyuap (2), dimasukkan ke
bahan baku setelah mengalami daerah penggarukan.
peregangan seolah-olah Oleh rol pengurai (3) serat-serat
terputus (terurai kembali) diuraikan.
sebelum menjadi benang. Selanjutnya melalui pipa (4)
Berbeda dengan sistem yang disalurkan ke rotor (5).
diuraikan terdahulu, maka pada Oleh rotor (5), serat
sistem ini pemberian antihan dikumpulkan sepanjang sudut
tidak menggunakan putaran bagian dalam rotor, kemudian
spindel tetapi dengan cara lain serat-serat masuk ke saluran (6)
yaitu dengan menggunakan dimana susunan serat-serat
gaya aerodinamik yang tersebut sudah menjadi benang
dihasilkan oleh putaran rotor. yang antihannya ditentukan oleh
Salah satu prinsip pemintalan rotor tersebut.
Open-end dapat dilihat pada Oleh perbedaan putaran rotor
gambar 5.4 : dengan kecepatan tarikan rol
pelepas (7), maka terjadilah
antihan dan penggulungan.
Dari rol pelepas (7) benang
digulung pada bobin di atas rol
penggulung (8).
Dengan sistem ini produksinya
jauh lebih tinggi dari pada
sistem-sistem lain.
Bahan baku dalam proses
pembuatan benang adalah serat
dan melalui proses pembukaan,
pembersihan, peregangan dan
Gambar 5.4 pemberian antihan terbentuklah
Sistem Pintal Open-end benang.
Ditinjau dari panjang serat yang
Keterangan : digunakan maka cara
1. Corong pembuatan benang digolongkan
2. Rol penyuap menjadi tiga sistem, yaitu :
3. Rol pengurai - Pembuatan Benang Sistem
4. Pipa Serat Pendek
5. Rotor - Pembuatan Benang Sistem
Serat Sedang
37
- Pembuatan Benang Sistem - Cara memintal dengan
Serat Panjang regangan tinggi.
- Cara memintal dengan
regangan sangat tinggi.
5.6 Pembuatan Benang 5.6.1 Cara memintal dengan
Kapas regangan biasa (ordinary
draft spinning system)
Ditinjau dari segi besarnya
regangan atau urutan proses Biasanya digunakan untuk
maka cara pembuatan benang membuat benang yang halus
kapas ada beberapa macam, yaitu benang Ne 1 30 sampai
yaitu : dengan Ne 1 150.
- Cara memintal dengan
Urutan proses dapat
regangan biasa.
digambarkan sebagai berikut :

Bal Kapas Blowing & Picking Carding

Drawing III Drawing II Drawing I

Slubbing Intermediate Roving

Winding Spinning Jack

Gambar 5.5
Urutan Proses Ordinary Draft System

Pada urutan proses diatas, benang yang akan dihasilkan


terdapat tiga tahap pengerjaan mempunyai kerataan yang baik.
di mesin drawing, hal ini Karena kurang efisien
bertujuan untuk mendapatkan penggunaan sistem ini sekarang
persentase campuran yang jarang dijumpai lagi.
lebih baik.
Sedangkan proses yang dimulai 5.6.2 Cara Memintal dengan
dari mesin Slubbing, Regangan Tinggi (High
Intermediate, Roving dan Jack Draft Spinning System)
bertujuan untuk memberikan
regangan pada sliver / roving Cara ini banyak dijumpai di
secara bertahap, sehingga pabrik pemintalan kapas di
38

Indonesia. Urutan proses dapat


digambarkan sebagai berikut :

Bal Kapas Blowing & Picking Carding

Roving Drawing II Drawing I

Spinning Winding

Gambar 5.6
Urutan Proses High Draft System

Perbedaannya adalah terdapat 5.6.3 Cara Memintal dengan


dua tahap proses di mesin Regangan yang
Drawing dan satu tahap proses Sangat Tinggi (Super
di mesin flyer atau yang biasa High Draft Spinning
disebut simplex. Walaupun System)
jumlah mesinnya lebih sedikit
namun dapat menghasilkan Cara ini juga banyak dijumpai di
benang yang nomornya sama Indonesia, dengan urutan
dan tingkat kerataan benang proses sebagai berikut :
yang baik, karena konstruksi
mesin yang sudah lebih baik.

Bal Kapas Blowing & Picking Carding

Spinning Drawing II Drawing I

Winding

Gambar 5.7
Urutan Proses Super High Draft System
39

Urutan proses system super peralatan dan mempertinggi


hight draft ini sangat berbeda kecepatan dan penggunaan
dengan urutan proses yang lain. tenaga kerja sedikit mungkin.
Pada saat ini telah dibuat
Perkembangan selanjutnya System Hock, yaitu kapas yang
merupakan bagaimana usaha telah selesai diproses di mesin
untuk memperbesar produksi Blowing tidak digulung menjadi
dengan biaya yang sekecil- lap, melainkan langsung ke
kecilnya. mesin Carding sampai dilayani
Dengan memperbaiki oleh pekerja lagi. Dengan
konstruksi, menambah urutan proses sebagai berikut :

Bal Kapas Blowing & Picking Carding

Roving Drawing II Drawing I

Spinning Winding

Gambar 5.8
Urutan Proses Hock System

Disamping cara tersebut diatas Pada proses pembuatan


dewasa ini telah dikenal juga benang garu, kapas setelah
sistem baru yaitu Continous melaui proses di mesin Carding
Automatic Spinning System. terus dikerjakan di mesin
Pada cara ini mesin Blowing, drawing seperti urutan proses
Carding dan Drawing yang telah diuraikan diatas,
dirangkaikan menjadi satu sedangkan pada proses
sehingga dengan demikian pembuatan benang sisir, kapas
dapat mengurangi penggunaan setelah melalui proses di mesin
tenaga kerja. Carding harus melalui proses di
mesin Drawing.
5.6.4 Pembuatan Benang Sisir Pada mesin Combing terjadi
(Combed Yarn) proses penyisipan untuk
memisahkan serat-serat pendek
Dipasaran dikenal dua macam yang biasanya berkisar antara
benang kapas yaitu : benang 12 % sampai dengan 18 %
garu (Carded Yarn) dan benang (sesuai kebutuhan) untuk
sisir (Combed Yarn). dibuang sebagai comber noil..
Benang Combing biasanya
40

untuk keperluan kain rajut, Urutan proses pembutan


benang jahit atau kain yang benang sisir dapat digambarkan
bermutu tinggi. sebagai berikut :

Bal Kapas Blowing & Picking Carding

Combing Super Lap Pre Carding

Drawing Drawing II Roving

Winding Spinning

Gambar 5.9
Urutan Proses Combed Yarn
41

Bal Kapas

Blowing & Picking

Carding

Drawing I & II

Winding

Doubling Doubling

Twisting Twisting

Winding Winding

Hank Reeling Hank Reeling

Bundling Bundling

Baling Baling

Packing Packing

A B C

Gambar 5.10
Urutan Proses Pembuatan Benang Tunggal dan Benang Gintir
42

Keterangan : mempunyai ciri-ciri yang khusus


A. Benang gintir dalam bentuk pula, antara lain :
untaian yang di bal - Benangnya kasar dan
B. Benang tunggal dan benang empuk
gintir dalam bentuk - Letak untaian serat-serat
gulungan cones yang membentuk benang
C. Benang tunggal dalam tidak teratur
bentuk untaian yang di bal - Mengkeret besar dan
elastisitas rendah
5.7 Pembuatan Benang Wol - Bahan baku serat wol
rendah berasal dari macam-
5.7.1 Sistem Pembuatan macam limbah serat, limbah
Benang Wol Garu benang atau limbah kain,
(Woolen Spinning) yang kemudian digaru dan
kadang dicampur dengan
Sistem pemintalan Woolen serat-serat kain (misalnya
berbeda bengan sistem serat sintetis).
pemintalan lainnya dan Urutan proses pemintalan
benang wol garu :

Bahan Baku Serat Wol

Penyortiran

Pembukaan & Pembersihan (Opening & Cleaning)

Pencucian (Washing)

Pengeringan (Drying)

Karbonisasi (Carbonization)

Penggarukan / Penguraian (Tearing into Fiber)

Pencampuran & Peminyakan (Mixing & Oiling)

Ring Spinning

Gambar 5.11
Urutan Proses Pemintalan Benang Wol Garu
43

Keterangan : hanya dilakukan pada bahan


x Sortir benang wol garu.
Bertujuan untuk memisah
kan setiap jenis bahan x Carbonization
menurut klasifikasi tertentu Bertujuan untuk :
agar mendapatkan kwalitas - Memisahkan hasil tembahan
bahan yang sama. noil, limbah benang dan
serat-serat lain yang
x Opening dan Cleaning mungkin tercampur, seperti
Bertujuan untuk : serat kapas, serat sintetis.
- pembukaan setelah pence - Memisahkan kotoran-kotor
lupan an yang menempel pada
- pembukaan persiapan sebe serat wol antara lain kulit,
lum pencampuran biji, ranting yang berasal dari
- pembukaan bahan sebelum senyawa selulosa.
pencucian Proses karbonisasi dapat
- pembersihan carbon setelah menggunakan larutan asam
proses carbonization sulfat (wol carbonization).
- pembersihan kotoran-kotor
an x Tearing into Fiber
Bertujuan untuk
x Washing menguraikan serat-serat
Bertujuan untuk menjadi bentuk yang dapat
membersihkan kotoran- dipintal yang berasal dari
kotoran serta minyak-minyak bahan baku yang berupa
yang menempel pada serat limbah benang maupun
wol dan dikerjakan pada limbah kain. Agar tidak
larutan sabun atau soda terlalu banyak serat yang
pada suhu 40q selama r 6 putus-putus, biasanya terle
jam. bih dahulu diadakan pemi
nyakan terhadap bahan
x Drying baku yang akan disiapkan.
Proses yang dilakukan Jenis mesin yang digunakan
pada : adalah :
- pengeringan yang dilakukan - Rag Machine
terhadap bahan yang telah Dalam proses ini bahan
mengalami proses pencuci yang berasal dari limbah
an dan karbonisasi sehingga kain diuraikan dalam bentuk
kadar airnya tinggal r 20 %. serat-serat tanpa banyak
mengalami kerusakan serat
- Pengeringan persiapan yang cukup berarti sehingga
karbonisasi. Pengeringan ini memudahkan dalam proses
berikutnya.
44

- Garnett Machine yang pertama adaalh Mule


Proses ini bertujuan agar spinning, sedangkan yang
limbah benang atau bahan kedua adalah Ring Spinning.
yang berasal dari mesin Rag
dapat dibuka dan diuraikan. 5.7.2 Pembuatan Benang Wol
- Opening Card Sisir
Bagian bahan yang belum
sempurna terbuka dan Prinsip dasar pemintalan sistem
terurai pada proses mesin ini sama dengan sistem
garnett atau bahan sebelum pemintalan kapas dan sutera.
pencelupan dapat lebih Bahan baku serat wol
terbuka dan terurai dengan mengalami pengaliran untuk
dikerjakan pada mesin menghilangkan kotoran-kotoran,
Carding. pensejajaran dan pelurusan
serta pemintalan serat pendek
x Mixing dan Oiling sehingga diperoleh benang
Bertujuan untuk : yang berkilau dan rata
- mendapatkan campuran permukaannya. Umumnya
yang homogen dan setiap diperlukan serat yang panjang
jenis kwalitas bahan baku serta kehalusan sama.
yang akan diolah. Perbedaan utama terhadap
- mendapatkan jumlah sistem pemintalan kapas adalah
kandungan minyak yang urutan prosesnya. Dalam hal ini
merata dalam bahan. serat wol terlebih dahulu
- mendapatkan harga pokok mengalami proses pengerjaan
bahan baku yang rendah. secara kimiawi dengan jalan
pemasakan untuk
x Carding menghilangkan bekas-bekas
Bertujuan untuk : keringat dan kotoran lain.
- menguraikan gumpalan- Selain dari pada itu jumlah
gumpalan serat menjadi susunan dan jenis urutan mesin
serat-serat individu. lebih banyak sistem pemintalan
- mencampur setiap jenis worsted, menurut sifat bahan
bahan dengan baik. bakunya dapat dibagi dalam
- mendapatkan sliver yang dua cara, yaitu :
rata. - Cara pemintalan Worsted
Inggris (Bradford)
x Ring Spinning - Cara pemintalan Worsted
Wolen Spinning dikenal Perancis (Continental)
dengan dua cara, yaitu : Umumnya untuk serat wol
- Intermitten Spinning panjang digunakan cara Inggris
Machine dan untuk serat wol pendek
- Continous Spinning Machine digunakan cara Perancis.
45

Gambar 5.12 Gambar 5.13


Pengelompokan Serat Wol Pengelompokan Serat Wol
Berdasarkan 3 Kelas Berdasarkan 4 Kelas

Keterangan : Keterangan :
A. untuk 64’s A. untuk 50’s
B. untuk 60’s B. untuk 56’s
C. untuk pieces C. untuk 46’s
D. untuk pieces

Urutan proses pemintalan


benang wol sisir : x Washing
x Sortir Bertujuan untuk
Pemisahan atau menghilangkan kotoran-
pengelompokkan yang kotoran serta lemak-lemak
bertujuan untuk yang melekat pada serat
mendapatkan kwalitas hasil wol. Pencucian dilakukan
benang yang sesuai dengan menggunakan alkoli
tujuannya. dan sabun.
Pengelompokkan ini
didasarkan atas kehalusan, x Drying
panjang, kekuatan, keriting Serat wol yang telah
(crimp), warna serat dsb. mengalami pencucian
Dan setiap lembaran yang kemudian dikeringkan agar
berasal sari seekor biri-biri satu sama lain saling
dikelompokkan menjadi 3 – membuka.
4 kelas (lihat gambar diatas)
x Oiling
46

Bertujuan agar serat-serat - memperbaiki kerataan pan


yang telah mengalami jang serat.
pengeringan tidak mudah - Memisahkan serat-serat pen
patah/rusak (getas) pada dek dan kotoran yang masih
serat proses caring dan juga melekat dengan jalan penyi
menghidari listrik statik dan siran.
serat-serat lebih lentur dan - Mensejajarkan serta melu
mempunyai sifat lenting ruskan serat-serat.
yang baik. Persentase
peminyakan biasanya Sliver yang dihasilkan dari
berkisar antara 2 – 3 % dari proses pada mesin Combing ini
berat kering. lebih rata dan biasanya disebut
“TOP”. Proses Combing ini
x Carding dapat dilakukan dengan dua
Bertujuan untuk : cara, yaitu :
- menguraikan gumpalan Cara Inggris dan Cara Perancis
serat-serat wol yang telah Cara Perancis biasanya
megalami pencucian dan digunakan untuk proses serat
pengeringan menjadi serat- wol merino, sedangkan cara
serat individu. Inggris adalah untuk serat wol
- memisahkan serat-serat Inggris.
pendek dan yang panjang Sebelum proses dilanjutkan, top
serta menghilangkan yang dihasilkan dari proses
kotoran-kotoran. Combing terlebih dahulu
- meluruskan serta mengalami proses pencucian
mensejajarkan serat. pada mesin Back Washing.
- Membuat sliver atau lap. Tujuan pencucian ini adalah
sebagai berikut :
Jenis mesin Carding yang - menghilangkan kotoran-ko
digunakan adalah Roller Card toran serat minyak
berbeda dengan mesin Carding yang melekat agar dida
yang digunakan untuk proses patkan hasil celupan yang
kapas. baik.
Hasil akhir mesin Carding yang - menjaga kemungkinan terja
berupa sliver langsung dinya perubahan warna,
ditampung dalam can, digulung karena adanya reaksi kimia
dalam bentuk ball atau dari sisa kotoran minyak bila
gulungan (ball). Hasil terjadi penyimpanan yang
perangkapan web dari 8 – 10 lama.
buah mesin Carding. - Top sebagai bahan sete
ngah jadi yang juga
x Combing diperjualbelikan maka sedikit
Bertujuan untuk : banyaknya harus lebih baik
47

kwalitasnya maupun Tujuan susunan mesin drawing


kenampakkannya. serta besar nilai regangan dan
jumlah rangkapan tergantung
x Drawing pada cara yang digunakan serta
Bertujuan untuk : sifat serat wol yang diolah.
- meluruskan serta lebih Hal ini biasa digunakan pada
mensejajarkan letak serat- cara Inggris dan Perancis untuk
serat kearah sumbu sliver. bahan serat wol yang halus dan
- mengurangi ketidakrataan putih yang terdiri dari 9
sliver dengan jalan susunan. Untuk serat-serat wol
perangkapan. medium terdiri dari 7 susunan,
Untuk melakukan proses sedangkan untuk serat-serat
drawing tersebut, biasanya wol panjang, mohair dan lain
dilakukan pada mesin Gil Box. sebagainya terdiri dari 6
Sesuai dengan sifat bahan baku susunan mesin drawing. Hasil
dan hasil benang yang akhir dari mesin drawing ini
diinginkan proses drawing ini merupakan Roving.
dapat dilakukan dalam Sebelum dilakukan proses
beberapa cara, yaitu : drawing pertama-tama diadakan
- Fench drawing pemilihan top. Pemilihan itu
- English drawing (disebut didasarkan pada kwalitas dan
juga Brag Ford System) harga top serta kwalitas benang
- Anglo-Continental drawing yang akan dihasilkan.
- American drawing
- New English System atau x Ring Spinning
Raper System drawing Sama halnya dalam proses
pembuatan benang kapas,
French drawing digunakan pada proses di mesin Ring
untuk memproses dry top yang Spinning ini bertujuan untuk
berasal dari serat wol merino melaksanakan peregangan
yang halus dan pendek. (drafting), penggintiran
English drawing digunakan (twisting) dan penggulungan
untuk memproses oil Top. (winding) terhadap roving
Anglo-Continental drawing untuk mendapatkan benang
dapat digunakan untuk yang rata.
memproses dry top maupun oil Karena roving dalam sistem
top. worsted spinning ada yang
American drawing susunannya berasal dari cara drawing
sangat sederhana. Inggris (yang mempunyai
New English System antihan) dan cara drawing
menggunakan auto leveller Perancis (yang tidak
sehingga menghasikan sliver mempunyai antihan), maka
yang rata dan merupakan suatu mesin Ring spinning pun
system yang terbaru. disesuaikan dengan jenis
48

roving yang diolah. Jenis - Penanaman : Diperlukan


mesin Ring spinning terdiri tanah yang lekat dan
dari : tercampur pasir, karena bila
- Mesin Spinning Flyer (Flyer terlalu lembab, akar-akarnya
Spinning Frame) mudah menjadi rusak. Cara
- Mesin Spinning Cap (Cap penanaman dengan stekan-
Spinning Frame) stekan rhizjoma berbaris
- Mesin Ring Spinning (Ring sejarak kira-kira 15 cm satu
Spinning Frame) dengan lainnya, sedangkan
- Mesin Mule Spinning (Mule jarak antar barisnya kira-kira
Spinning Frame) 60 cm.
Mesin Spinning Flyer, mesin
spinning Cap dan mesin 5.8.2 Proses Pengolahan
Ring Spinnng digunakan Bahan Baku menjadi
untuk mengolah roving yang Benang
berasal dari cara drawing
Inggris dan menghasikan Proses pengolahan bahan baku
benang yang berkilau. menjadi benang diuraikan
Mesin Ring Spinning dan sebagai berikut :
mesin Mule Spinning - Pertama dilakukan 2 – 4 kali
digunakan untuk mengolah pemotongan per tahun :
roving yang berasal dari panjang hasil pemotongan
cara drawing Perancis yang pertama dan kedua kira-kira
tidak mempunyai antihan 2 meter, ketiga kira-kira 1½
dan menghasilkan benang meter.
yang empuk. - Pengambilan serat dari
batangnya : pengelupasan
5.8 Pembuatan Benang ini dilakukan dengan mesin
Rami decorticator.
- Penjemuran : pada sinar
5.8.1 Bahan Baku matahari.
- Jenis tanaman : Boehmeria - Penyikatan : dipakai
Nivea termasuk tropis/sub Brushing machine.
tropis. - Penyortiran : disortir sesuai
Dikenal dua macam rami , dengan kwalitasnya.
yaitu : rami kuning dan rami - Grade istimewa :
hijau. panjangnya 90 cm, bersih
Rami kuning lebih baik dari tanpa cacat, berwarna putih.
jenis yang hijau, karena - Grade pertama : panjang 90
menghasilkan serat yang cm, tidak bersih sempurna.
lebih lemas. - Grade kedua : panjangnya
75 – 90 cm.
- Sisa : lebih pendek dari
60 cm.
49

- Degumming : - Picking : Penyortiran serat-


menghilangkan getah serat menjadi lempengan-
dengan cara pemasakan lempengan (setelah dibuang
dengan memakai kaustik kotoran-kotoran yang
soda. Biasanya, sebelum mungkin masih melekat
dimasak dilakukan padanya).
pelunakan terlebih dahulu. - Spreading machine : Disini
- Crushing : yaitu dilakukan peregangan dan
menumbuhkan agar serat- pelurusan serat dengan
seratnya terurai dan terlepas menggunakan semacam
satu sama lainnya serta mesin Gill Box.
menghilangkan kotoran - Setting frame : Berfungsi
yang melekat padanya hampir sama dengan
sambil terus menerus spreading machine yaitu
disemprot dengan air. untuk lebih mensejajarkan
Bahan tadi setelah itu diberi letak serat-serat serta
minyak (lemak hewan) untuk menentukan ukuran
memudahkan dalam proses slivernya.
Pemintalan. - Drawing frame : Fungsinya
- Pengeringan : Pengeringan sama dengan setting frame,
pada pesemaian di udara hanya disini dilakukan
terbuka. perangkapan untuk
- Pelemasan : Penghalusan mengurangi ketidakrataan.
sambil pencabikan - Roving frame : Disini roving
(unravelling) agar serat- mulai diberi antihan
serat lebih terbuka. terhadap hasil mesin
Kemudian dilakukan sebelumnya serta sedikit
peminyakan untuk kedua regangan sebagai persiapan
kalinya dan baru diletakkan menjadi benang dengan
dalam ruang kondisi nomor tertentu.
(conditioning room). - Ring Spinning : Disini terjadi
- Filling machine : Disini serat proses peregangan, antihan
diletakkan pada permukaan dan penggulungan pada
silinder, kemudian bobin, hasilnya berupa
pemotongan serat-serat benang.
yang terlalu panjang
sehingga merupakan 5.8.3 Sifat Rami dibandingkan
rumbai-rumbai. dengan Serat Kapas
- Dressing machine : Disini
dilakukan penyisiran dan Beberapa sifat rami
perapihan sehingga didapat dibandingkan dengan serat
pemisahan serat-serat kapas ialah :
panjang dan pendek. - Kekuatan rami lebih besar
dari pada kekuatan kapas.
50

- Persentase mulur rami - Dalam pembuatan benang-


hampir sama dengan kapas. benang campuran (Blended
- Rami lebih baik dari kapas. Yarn) biasa dicampur
- Persentase penambahan dengan Tetoron (Poliester)
kekuatan rami dalam atau kapas.
keadaan basah lebih besar - Nomor benang yang bisa
dari kapas. dibuat adalah Ne 1 30’S -
- Rami lebih cepat menyerap
Ne 1 40’S, bahkan kadang-
dari pada kapas.
- Serat rami lebih kasar dari kadang untuk bahan yang
serat kapas (sekitar 5 – 8 berkwalitas tinggi sampai
denier). Ne 1 60’S.
- Persentase campuran,
5.8.4 Kegunaan Serat Rami biasanya :
(a) Poliester 65 % dan rami
Rami digunakan untuk bahan- 35 %
bahan : topi wanita, kemeja, (b) Kapas 80 % dan rami 20
saputangan, serbet, taplak meja %
dan lain-lain. Komposisi / persentase
campuran dapat diatur sesuai
5.8.5 Pencampuran dengan dengan kegunaan barang
Serat-serat lain jadinya.

5.8.6 Skema Proses Pemintalan Rami

Skema proses pemintalan rami ialah sebagai berikut :


Bahan rami

Pembukaan bal
(Ball opening)

Penyortiran
(Separating)

Pelunakan
(Softening)

Pemasakan
(Boiling)
51

Penumbukan
(Crushing)

Pencucian
(Washing)

Pemerasan
(Centrifugation)

Peminyakan
(Oil emulsion)

Pengeringan
(Drying)

Pelemasan
(Softenning)

Pensejajaran
(Unravelling)

Pengondisian
(Conditioning)

Large Filling Small Filling

1 st dressing 2 nd dressing

Picking Serat rami pendek


Serat rami sedang
52

Spreading Peminyakan Carding

Setting Cutting
Opening

Drawing 2 x H. B. B.
Mixing

Roving 2 x Crighter opener


Carding

Ring Spinning Combing Hopper Feeder

Inter setting gill Crighton opener

Roving Exhaust opener

Spinning Carding

Combing

Drawing 2 x

Roving 2 x

Spinning

Gambar 5.14
Skema Proses Pemintalan Rami
53

5.9 Pengolahan Benang Proses pengolahan kokon


Sutera menjadi benang sutera
dilaksanakan sebagai berikut :
5.9.1 Bahan baku x Proses persiapan. Kokon
yang tidak akan menjadi
Sutera adalah salah satu serat bibit, dikumpulkan untuk
alam, yang berasal dari hewan, dimatikan kepompongnya
yaitu ulat sutera. Serat dibuat agar tidak menjadi kupu-
pada saat ulat sutera akan kupu yang akan menerobos
berubah menjadi kepompong kokon. Bila kokon diterobos,
dan kemudian ngengat. maka filamen akan rusak.
Lapisan-lapisan serat-serat - Penjemuran dibawah sinar
sutera pada saat proses matahari selama beberapa
pembuatan kokon. jam.
Serat sutera merupakan satu- - Menggunakan aliran uap air
satunya serat alam yang pada ruangan yang berisi
berbentuk filamen. kokon. Suhu didalam
Filamen adalah serat yang ruangan kokon harus dijaga
kontinyu. tetap, berada antara 65°C -
Pengambilan serat dilakukan 75°C. Pengerjaan dilakukan
dengan jalan menguraikan selama 15 – 25 menit.
kokon dengan alat yang biasa Setelah dimatikan
disebut mesin Reeling. kepompongnya, kemudian
Jenis serat sutera ada dua kokon dikeringkan dalam
macam, yaitu : ruangan pengering.
- Menggunakan aliran udara
x Cultivated silk, adalah serat panas.
sutera yang dihasilkan dari Cara ini dilakukan dalam
ulat sutera yang dipelihara suatu alat atau ruang
dengan saksama. Pemeliha pengeringan. Suhu ruang
raan dilakukan dari mulai pengering diatur mulai 50°
telur ulat menetas sampai berangsur-angsur naik
dengan masa pembuatan sampai dengan ± 95ºC.
kokon. Pengerjaan dilakukan
x Wild silk, adalah serat sutera selama 20 – 30 menit.
yang dihasilkan dari ulat - Menggunakan obat-obatan.
sutera yang tidak dipelihara,
yaitu yang memakan daun 5.9.3 Proses Pemilihan Kokon
pohon oak.
Kokon yang telah dimatikan
5.9.2 Pengolahan Kokon kepompongnya sebelum
mengalami proses, sebelumnya
perlu dipilih yang dilakukan
54

pada bagian penyortiran yang melalui pengantar, kemudian


meliputi pekerjaan : digulung pada kincir atau
- Pembersihan dan haspel.
pengupasan serat-serat Filamen dapat diberi sedikit
bagian luar kokon. antihan agar dapat saling
- Pemisahan kokon yang berpegangan satu sama
besar dan kecil lainnya.
- Pemisahan kokon cacat dan
kotor. Setiap pekerja dapat
memegang mesin Reeling
5.9.4 Pembuatan Benang sampai 20 mata pintal.
dengan Mesin Reeling Biasanya setiap mata pintal
terdiri dari 5 – 8 buah kokon.
Sebelum kokon dapat diuraikan
menjadi benang pada mesin Pada mesin Reeling otomatis
reeling, terlebih dahulu harus yang dilengkapi dengan alat
dimasak dengan air panas yang pencari dan penyuap filamen
bersuhu ± 95ºC selama 1 – 2 secara mekanis, seorang
menit. Pemasakan ini dilakukan pekerja dapat memegang 400 –
agar ujung-ujung serat-serat 600 mata pintal, dengan
filamen sutera mudah dicari dan kemampuan produksi 3 – 4 kali
diuraikan pada saat reeling. mesin Reeling konvensional.
Penguraian dan pencarian Serat yang dihasilkan digulung
ujung filamen dilakukan dengan dalam bentuk streng, kemudian
peralatan sikat yang berputar- dibundel dengan ukuran berat
putar pada mesin Reeling. ± 6 pound, yang disebut
Air yang digunakan harus “books”. Selanjutnya books-
memenuhi syarat-syarat : books ini dipak dalam bentuk
- Harus bersih, jernih dan bal, yang dapat langsung
bebas dari macam-macam dikapalkan.
kotoran. Benang sutera tersebut setelah
- Sedapat mungkin netral atau sampai di pabrik Pertenunan
sedikit alkalis dengan pH atau Perajutan, sebelum
6,8 – 8,5. digunakan biasanya dilakukan
- Kesadahan diantara pengerjaan-pengerjaan
8º – 10º, kesadahan persiapan, sebagai berikut :
Jerman. - Penggulungan kembali pada
- Sisa penguapan 0,15 – spool
0,2 gr/1. - Penggintiran dengan mesin
gintir
Pada mesin reeling - Untuk memantapkan antihan
konvensional sejumlah ujung terlebih dahulu dimasukkan
filamen dari beberapa buah kedalam kamar uap selama
kokon, disatukan dan ditarik ± 30 menit
55

- Penghilangan serisin x Cara Perancis atau cara


Pemintalan dengan mesin Chambron dimana dua
Reeling dapat dilakukan dalam kelompok filamen kokon
dua cara, yaitu : dililitkan satu sama yang
x Cara Itali atau cara tavelle, lain. Kemudian lilitan
dimana sekelompok filamen tersebut dipisahkan kembali
kokon dipersatukan dan untuk digulung pada dua
dililitkan satu sama lain kincir yang terpisah.
(untuk mendapatkan benang
yang rata dan daya lekat Untuk jelasnya dibawah ini
yang tinggi antar filamen- digambarkan salah satu contoh
filamennya). Cara ini banyak mesin Reeling Sutera.
digunakan di Indonesia.

Gambar 5.15
Skema Reeling Sutera

Keterangan : 3. Kokon yang siap untuk


1. Pemanas disuapkan
2. Filamen kokon 4. Kokon yang serat-seratnya
belum terurai
56

5. Larutan kimiawai sebagai teknik fermentasi pada


pelunak mana ± 20% dari serisinnya
6. Pengantar porselin masih terkandung dalam
7. Persilangan filmen bahan sutera tersebut.
8. Mata pengantar traverse Bahan sutera yang telah
9. Kincir atau haspel mengalami pemasakan
10. Tangan kincir angin dapat selanjutnya dikerjakan
ditekuk dengan mesin-mesin yang
11. Drum sama seperti, pada proses
12. Ujung batang peluncur pengerjaan wol dan serat-
serat staple lainnya.
5.9.5 Limbah Sutera Serat-serat mengalami
pengerjaan pembukaan,
Limbah sutera terdiri dari : penguraian dan peregangan
x Limbah yang terjadi pada serta penyisiran. Kemudian
saat pengerjaan pada mesin disuapkan pada mesin
reeling. Roving dan mesin Ring
x Bagian dalam kokon yang Spinning serta Twisting.
tidak berguna. Hasil benangnya disebut
x Limbah kokon cacat yang Spun Silk.
filamennya terputus.
x Limbah yang terjadi pada 5.10 Pembuatan Benang
saat pengerjaan Sintetik
penggintiran pada mesin
gintir. Serat buatan mula-mula dibuat
dengan jalan percobaan (di
Limbah sutera tersebut diatas Eropa pada tahun 1857).
kemudian dipak dan dikirimkan Produksi secara komersil
ke Pabrik Pemintalan dalam dimulai pada tahun 1910 (di
bentuk bal. Sebelum dikerjakan, Amerika). Jenis serat buatan
limbah ini terlebih dahulu diantaranya : rayon, asetat,
dibersihkan dan dimasak poliester, acrilat dan lain-lain.
(degumming) yang dapat
dilakukan dengan dua 5.10.1 Pengolahan Serat
cara/proses, seperti : Buatan
x Proses Inggris, yaitu dengan
memasak atau merebusnya Proses pemintalan serat buatan
dalam larutan sabun. atau serat sintetis dikenal dalam
Larutan ini melarutkan tiga cara, yaitu :
serisin dan menghasilkan x Pemintalan basah (wet
filamen halus. spinning).
x Proses kontinental, yaitu
dengan menggunakan
57

x Pemintalan kering atau yang terdapat pada benang.


larutan (dry or solvent Setiap serat yang keluar dari
spinning). lubang spinneret setelah
x Pemintalan leleh (melt dipadatkan segera disatukan
spinning). dengan memberi antihan
Ketiga cara tersebut diatas pada dalam membentuk sehelai
dasarnya adalah sama, karena benang filamen yang
prosesnya berdasarkan atas kontinyu.
tiga tingkat, yaitu : x Filamen tow adalah serat
x Penghancuran dan pela yang dihasilkan dari
rutan atau pelelehan bahan pemintalan filamen spinneret
baku untuk membuat yang mempunyai lubang
larutan. maksimum 3000 buah. Hasil
x Penyemprotan larutan yang produksi dari 100 buah
dihasilkan melalui spinneret spinneret atau lebih,
untuk membentuk serat. dikumpulkan menjadi satu
x Pemadatan serat dengan yang merupakan seutas tali
jalan pembekuan, penguap yang besar, disebut filamen
an atau pendinginan. tow.
x Filamen tow yang dihasilkan
Spinneret adalah bagian tersebut kemudian dibuat
peralatan yang sangat penting. keriting dan dijadikan stapel
Bentuk mulut pipa yang dengan jalan pemotongan
berlubang-lubang kecil sekali dalam ukuran panjang
dan lebih kecil dari diameter tertentu. Panjang stapel
rambut manusia. Spinneret biasanya disesuaikan
tersebut dibuat dari pelatina dengan panjang serat kapas
atau logam sejenis yang tahan atau wol. Selanjutnya stapel
terhadap larutan asam dan ini di pak menjadi bentuk bal
tahan retak oleh larutan pada dan kemudian dibawa ke
saat mengalir. pabrik pemintalan untuk
Bentuk serat yang dihasilkan dijadikan benang (spun
ada tiga macam, yaitu : yarn). Sistem pemintalannya
Filamen, filamen tow dan stapel sama dengan sistem
x Serat filamen adalah serat pemintalan kapas
yang dihasilkan dari (conventional spinning
spinneret yang mempunyai system).
lubang ± 350 buah atau
kurang, sesuai dengan 5.10.2 Pembuatan Benang
diameter benang yang dari Serat Buatan
dihasilkan.
Jumlah lubang spinneret Benang dalam arti yang umum
menunjukkan jumlah filamen adalah untaian serat yang tidak
terputus-putus.
58

Saling berkaitan dengan antihan x Benang ruwah/bulk. Untuk


dan diameter tertentu. mendapatkan benang
Benang diklasifikasikan menjadi dengan pegangan yang
: empuk (soft), maka dibuat
x Benang filamen (continuous benang yang tidak padat,
filamen yarn), yaitu benang yang disebut benang bulk.
yang berasal dari serat Benang bulk ini dapat
filamen. dihasilkan dengan
x Benang pintal (spun yarn), memberikan sedikit atau
yaitu benang yang terbuat tanpa antihan sama sekali
dari serat stapel baik serat terhadap benang filamen.
alam maupun buatan. Agar kelihatan sifat-sifat
x Benang filamen. Semua ruwahnya, maka serat
benang filamen kecuali filamen tersebut dibuat
sutera, dihasilkan dengan keriting atau berbentuk
cara pemintalan kimiawi seperti per dengan proses
(chemical spinning). thermoplastis. Hasilnya,
Pemintalan kimiawi meliputi adalah benang yang
proses mulai dari mengembang dan tidak
penyemprotan serat dari padat, karena masing-
lubang-lubang spinneret masing serat menempati
sampai pada penggulungan volume yang besar. Benang
benang dalam bentuk cone ruwah ini sangat cocok
atau cheese. Dari untuk kain rajut, seperti
penggulungan ini dapat jumper, kain Hi-Sofi dan
digunakan dalam proses sebagainya.
selanjutnya, seperti x Benang stretch (stretch
pertenunan atau perajutan. yarn). Pembuatan benang
Benang filamen ada yang stretch ini pada hakekatnya
diberi antihan dan ada yang sama saja prinsipnya
tidak. Untuk dapat lebih dengan benang ruwah.
menyempurnakan sifat- Hanya saja struktur masing-
sifatnya, (sesuai dengan masing filamen dibuat
kegunaannya) dilakukan sedemikian rupa sehingga
suatu proses sehingga letak dapat berfungsi seperti per,
setiap individu filamen tidak misalnya dengan dibuat
lagi dalam keadaan teratur, keriting atau dibentuk seperti
melainkan tidak beraturan helix. Dengan demikian,
dan hasilnya disebut apabila ditarik akan mudah
texturized filament yarns. mulur dan apabila tarikan
Texturized yarns dikenal dua dilepaskan akan kembali ke
macam : panjang semula. Ada
beberapa cara yang dapat
dipakai untuk pembuatan
59

benang stretch. Salah satu - Proses dari tow menjadi top


diantaranya ialah apa yang (two to top system)
kita kenal dengan twist- Pada proses ini pengerjaan tow
untwist methode, yaitu menjadi benang stapel
dengan menggunakan dilakukan dengan
mesin false-twister. Prinsip menggunakan mesin turbo
cara ini ialah benang filamen Stapler atau mesin Pasific
diberi antihan yang tinggi, Conventer. Pada mesin ini
kemudian dimantapkan serat-serat filamen dari tow
antihannya dengan dipotong-potong menurut
pemanasan. Karena sifat panjang yang diinginkan,
thermoplastis dari serat dengan menggunakan pisau
sintetis, maka setelah yang sangat tajam. Selanjutnya
pemanasan masing-masing ditampung, dikumpulkan
serat akan tetap mempunyai menjadi bentuk sliver yang telah
struktur seperti helix, sedikit mengalami peregangan
meskipun antihannya telah yang disebut top. Untuk
dibuka. Akibatnya benang membuat benang, top ini
akan mengembang dan selanjutnya di proses pada
mempunyai kemampuan mesin drawing, roving dan
mulur yang besar. spinning.
Benang strecth ini lazim - Proses dari tow langsung
digunakan untuk kaos kaki menjadi benang (tow to
atau kain-kain rajut lain yang yarn system).
kemampuan mulur adalah Dalam proses ini pengerjaan
yang diutamakan. Biasanya benang filamen dari tow
dipakai serat nylon langsung menjadi benang stapel
poliakrilat dan sebagainya. dapat dilakukan dengan
menggunakan mesin Purlock.
Pada mesin ini serat-serat
filamen dari tow dilewatkan
pada suatu sistem peregangan
sehingga serat-serat filamen
Gambar 5.16 putus menjadi serat stapel dan
Filamen Keriting kemudian dipintal menjadi
benang.

5.10.3 Benang Pintal (Spun


Yarn)

Gambar 5.17 Benang pintal dapat dihasilkan


Filamen Helix dengan menggunakan sistem
pemintalan konventional atau
sistem pemintalan langsung.
60

dari berat bahan baku. Hal ini


x Sistem konventional, dimaksudkan agar benang yang
umumnya dikenal sebagai dihasilkan akan mempunyai
berikut : sifat-sifat yang lebih baik, antara
lain ialah benang akan
Blowing – Carding – Combing – mempunyai kekuatan yang
tinggi tanpa mengurangi sifat
– Drawing – Roving – Spinning– daya serap air yang baik.
Proses pembuatan benang
– Winding campuran pada prinsipnya
adalah sama dengan proses
x Sistem pemintalan langsung pembuatan benang kapas.
Sistem ini dilaksanakan Sebagai contoh, diambill
dengan langsung campuran antara serat poliester
memotong-motong serat dengan serat kapas. Dalam
filamen sebelum dipintal pelaksanaannya, blending dapat
menjadi benang. dilakukan antara lain pada
mesin-mesin Blowing, Carding
5.11 Pembuatan Benang dan Drawing.
Campuran Dari beberapa cara tersebut
yang banyak digunakan ialah
Dalam pembuatan benang yang pencampuran yang dilakukan
menggunakan bahan baku serat pada mesin Drawing, tetapi
stapel, dapat dibuat benang dalam beberapa hal,
dengan satu macam jenis serat pencampuran dapat dilakukan
ataupun campuran dari juga pada mesin-mesin Blowing.
beberapa macam jenis serat. Pencampuran yang dilakukan
Pencampuran serat-serat yang pada mesin Blowing mempunyai
tidak sejenis (blending) dapat kelemahan-kelemahan antara
terdiri dari 2 jenis serat atau lain karena adanya perbedaan
lebih. Pada umumnya, panjang serat, jumlah kotoran,
pencampuran yang banyak serat jenis, sifat-sifat fisik dan
dilakukan adalah pencampuran mekanik antara serat poliester
dari 2 jenis serat misalnya dan serat kapas. Untuk panjang
kapas dengan poliester, serat dan kotoran yang
poliester dengan rayon dan berbeda, diperlukan penyetelan
sebagainya. Perbandingan dan tingkat pembukaan yang
campuran serat, tergantung dari berbeda-beda.
sifat benang yang diinginkan, Serat-serat yang berat jenisnya
misalnya pada pencampuran lebih kecil, kemungkinan besar
poliester dengan kapas, pada proses akan terhisap lebih
mempunyai perbandingan 65% dahulu dibandingkan dengan
berbanding 35% diperhitungkan serat-serat yang berat jenisnya
lebih besar, sehingga blending
61

yang diharapkan kemungkinan susunan sliver yang disuapkan


tidak dapat tercapai. Demikian pada mesin Drawing. Dengan
pula terhadap sifat-sifat fisik dan cara tersebut, maka persentase
mekanik lainnya harus campuran yang diinginkan
diperhatikan pula. dapat dicapai.
Pencampuran pada mesin Perbandingan persentase
Drawing biasanya dilakukan campuran yang lazim digunakan
dengan cara mengatur adalah sebagai berikut :
perbandingan rangkapan dan

Tabel 5.1
Macam-macam Perbandingan Persentase Campuran

Perbandingan (%)
No. Macam campuran serat
persentase campuran
1. Poliester/kapas 65/35

2. Poliester/rayon 65/35

3. Kapas/rayon 80/20

4. Poliakrilak/kapas 55/45

5. Poliester/wol 55/45

6. Kapas/kapas Tidak tertentu

Agar diperoleh hasil yang baik, perlu pula diperhatikan faktor


penyetelan mesin dan kondisi ruangan (RH).
62

5.12 Proses di Mesin Blowing

Gambar 5.18
Unit Mesin-mesin Blowing
63

Serat yang sudah didiamkan x Membuat lap yang rata


selama ± 24 jam diangkut ke sebagai hasil akhir
ruang Blowing dan disusun pengerjaan serat pada unit
disekeliling mesin Loftex mesin-mesin Blowing.
Changer. Agar tujuan tersebut dapat
Kemudian dari masing-masing tercapai, perlu diadakan
bal diambil segumpal demi penyetelan-penyetelan yang
segumpal dengan tangan dan teliti pada mesin-mesin Blowing,
disuapkan diatas lattice sesuai mutu serat yang
penyuap. diproses.
Pengambilan kapas diatur
sedemikian rupa sehingga Dibawah ini mesin-mesin
dapat habis dalam waktu yang Blowing model baru, antara lain
bersamaan. Adapun maksud :
dan tujuan pembukaan ini
adalah : 5.12.1 Mesin Loftex Charger
- Membantu pembukaan
kapas
- Menghindari kemungkinan
adanya potongan-potongan
besi, mur atau baut terbawa
serat masuk ke mesin.
- Melakukan pencampuran
serat dari beberapa bal yang
tersedia.
Gumpalan serat terus masuk
kedalam mesin-mesin Blowing
dan keluar berupa lap sebagai
hasil akhir mesin scutcher. Gambar 5.19
Tujuan proses di mesin Blowing Skema Mesin Loftex Charger
adalah :
x Membuka gumpalan-gumpa Keterangan :
lan serat hingga menjadi 1. lembaran kapas
gumpalan yang lebih kecil 2. lattice
(terurai). 3. pawl penyuap (feed pawl) &
x Membersihkan kotoran-koto Rachet
ran yang terdapat pada se 4. eksentrik / modulator /
rat sewaktu serat mengalami regulator
proses pembukaan.
x Mencampur serat yang 5.12.1.1 Proses di Mesin
berasal dari beberapa serat Loftex Charger
yang disuapkan.
Mesin ini merupakan peralatan
penyuap lembaran-lembaran
64

serat kapas (1), yang akan 5.12.2.1 Proses di Mesin


diteruskan ke mesin Hopper. Hopper Feeder
Pada peralatan ini terdapat tiga
sekatan, sehingga dapat Gumpalan serat yang berasal
digunakan untuk menempatkan dari mesin Loftex Charger jatuh
empat lembaran serat kapas pada lattice (3) dan diteruskan
bersama-sama. Biasanya ke depan. Mesin ini sama
sekatan ini diisi dengan dengan Loftex Charger yang
lembaran-lembaran serat kapas merupakan peralatan
yang berasal dari empat bal penyuapan ke mesin berikutnya.
serat.
Lattice (2) pada mesin ini 5.12.2.2 Mesin Hopper Feeder
digerakkan oleh peralatan Cleaner
penggerak yang sederhana
dengan kecepatan yang dapat
diubah-ubah, sehingga dapat
memeriksa dengan teliti jumlah
kapas yang terdapat pada
mesin Hopper. Dengan
demikian diperoleh penyuapan
yang rata.

5.12.2 Mesin Hopper Feeder

Gambar 5.21
Skema Mesin Hopper Feeder
Cleaner

Keterangan :
1. Sisir kapas
2. Apron berpaku (spike lattice)
3. Rol pengambil

5.12.2.3 Proses di Mesin


Hopper Feeder
Gambar 5.20 Cleaner
Skema Mesin Hopper Feeder
Mesin ini masih sama dengan
Keterangan : mesin Loftex Charger, yaitu
1. Gumpalan kapas merupakan peralatan
2. Pelat penahan penyuapan ke mesin berikutnya.
3. Apron/lattice Kapas dibawa ke atas oleh
apron berpaku (2) dan diratakan
65

oleh sisir perata (1). Jarak Dengan demikian tingkat


antara sisir perata (1) dengan pembukaan kapas dapat diatur
apron berpaku (2) diatur oleh pengaturan jarak tersebut.
sedemikian rupa sehingga Makin dekat penyetelan
hanya gumpalan kapas yang jaraknya, makin terbuka
masih besar, akan jatuh ke kapasnya, tetapi produksi per
bawah oleh pukulan sisir satuan waktu makin rendah. Hal
perata (1). ini disebabkan karena sebagian
Gumpalan-gumpalan kapas besar kapas akan dipukul dan
yang jatuh tersebut akan kembali jatuh. Akibat
mengalami proses seperti di dikembalikannya sebagian dari
atas berulang kali sampai gumpalan kapas tersebut, maka
gumpalan menjadi kecil, terjadi proses pencampuran
sehingga dapat lewat melalui yang lebih baik.
jarak antara sisir perata (1) Untuk mendapatkan tingkat
dengan apron berpaku (2). pembukaan yang baik tanpa
Kemudian kapas dipukul oleh mengurangi jumlah produksi,
rol pengambil (3) dan jatuh pada dapat ditempuh dengan cara
mesin Pre Opener Cleaner. Rol mempercepat putaran lattice.
pengambil (3) berbentuk silinder Mengenai kecepatan lattice ini
dan dapat digunakan untuk tidak ada pedoman tertentu,
mengolah serat kapas atau yang pokok adalah jarak antara
serat buatan. lattice dan Rol peratanya.

5.12.2.4 Gerakan antara


Permukaan Berpaku

Gerakan-gerakan ini dijumpai


pada mesin-mesin pencabik bal
kapas (Hopper Bale Breaker),
pembuka bal kapas (Hopper
Bale Opener) dan mesin
penyuap (Hopper Feeder).
Prinsip bekerjanya mesin-mesin
tersebut pada hakekatnya
sama, hanya berbeda dalam hal
ukuran paku-paku pada lattice
dan Rol perata.
Apabila jarak Rol perata
terhadap lattice makin dekat,
maka gumpalan-gumpalan Gambar 5.22
kapas yang lewat diantaranya Alur Gerakan antara Permukaan
makin kecil. Berpaku
66

Pada dasarnya harus dijaga 20


supaya settingnya diusahakan menjadi x 11,25 cm = 18
12,5
sedekat mungkin, hanya saja
perlu diperhatikan bahwa makin cm. Apabila kecepatan ujung-
dekat settingnya kemungkinan ujung paku antara titik Q dan S
timbul bahaya kebakaran makin dibagi dengan jumlah paku rol
besar. Apabila kecepatan perata perata yang lewat di titik R
dan pemukul tidak sebanding (jumlah pukulan paku per menit)
peningkatannya, maka akan didapat hasil :
gumpalan-gumpalan kapas 9.000
= 9 cm/paku Rol perata
besar yang relatif belum terbuka 1.000
dapat lewat diantaranya Ini berarti bahwa untuk setiap
meskipun settingnya sudah kali paku rol perata melewati
dekat. Hal ini dapat dijalankan titik R, maka ujung-ujung paku
sebagai berikut : pada lattice antara titik Q dan S
Pada gambar 5.22 diatas bergerak sejauh 9 cm. Jadi
misalkan kecepatan permukaan setiap paku pada lattice akan
lattice berpaku dari suatu 18
pembuka kapas 6.000 cm/menit mengalami = 2 kali pukulan
9
dan kecepatan putaran rol
oleh paku Rol perata.
perata 250 rpm, sedangkan
Tempat kedudukan pukulan
jumlah paku pada rol perata ada
tersebut tidak tepat pada titik R,
4, maka setiap menit akan ada
dimana setting antar ujung-
paku sebanyak 4 x 250 = 1.000
ujung paku pada posisi paling
buah lewat titik R. Kecepatan
dekat, sehingga terjadi dua kali
permukaan lattice antara titik P
pemukulan. Apabila kecepatan
dan Q ialah 6.000 cm/menit,
lattice ditingkatkan dua kali
tetapi antara titik Q dan S
tanpa mempercepat kecepatan
kecepatan ujung-ujung pakunya
rol perata, gumpalan-gumpalan
± 9.000 cm/menit karena
yang besar kapas akan
adanya perubahan arah paku
diteruskan melewatinya, sebab
yang menyebabkan jarak antar
perata hanya mempunyai
ujung-ujung paku bertambah
kesempatan memukul sekali
besar. Kalau semula jarak antar
saja.
ujung paku antara titik P dan Q
Usaha-usaha untuk
sama dengan 1,25 cm, maka
memperbaiki pembukaan tanpa
antara titik Q dan S menurut
mempengaruhi jumlah produksi
perhitungan, jarak tersebut
tidak dapat dicapai hanya
dengan mempercepat lattice.
67

Mesin Pre Opener Cleaner

Gambar 5.23
Skema Mesin Pre Opener Cleaner

Keterangan : Ketiga silinder tersebut


1. Penggerak (driver) meneruskan kapas melalui pelat
2. Penahan (baffles) pembersih (4) dan batang
3. Silinder pemukul berpaku saringan (5). Jarak batang
4. Pelat pembersih saringan dapat diatur
5. Batang saringan (gridbars) sedemikian rupa sesuai dengan
6. Peghisap (breather) kapas yang diolah.
7. Saluran pneumatic Udara dikeluarkan dari celah
(pneumatic line) sehingga dengan demikian
8. Pelat penahan hisapan sebagian besar debu, serat-
(air gap dis) serat yang beterbangan,
dihisap, sedangkan pecahan-
5.12.2.5 Proses di Pre Opener pecahan biji dan kotoran serta
Cleaner limbah dapat ditampung di
bawah gridbars. Kemudian
Kapas yang berasal dari mesin kapas dikeluarkan melalui
Blending Feeder jatuh pada silinder saluran pneumatis (7)
permukaan silinder pemukul dan diteruskan ke mesin
yang berpaku (3) pada bagian berikutnya.
yang pertama dari susunan tiga Mesin ini dapat juga digunakan
silinder. Kemudian kapas untuk mengolah serat buatan
diteruskan pada mesin Pre yang biasanya dalam keadaan
Opener Cleaner pada ketiga yang sangat padat, tanpa
silinder pemukul berpaku (3).
68

mengakibatkan kerusakan pada celah batang jaringan (3) dan


seratnya. bertumpuk di under cassing.

5.12.2.6 Pemisahan Kotoran


di Mesin Pre Opener
Cleaner

Gumpalan serat yang jatuh ke


rol pemukul (1) akan langsung
mendapat pukulan sehingga
terjadi proses pembukaan serat
menjadi lebih terurai karena
berat jenis kotoran (biji, batang, Gambar 5.24
daun, pasir/logam) lebih berat Skema Rol Pemukul dan
dari pada berat jenis serat, Batang Saringan
maka cenderung akan jatuh ke
bawah membentur dinding- Keterangan :
dinding batang saringan (2) 1. Rol Pemukul (Pined beater)
untuk masuk melalui celah- 2. Batang Sarigan (Gridbars)
3. Celah Batang Saringan

5.12.2.7 Gerakan Pemukul

Gambar 5.25
Skema Rol Pemukul Mesin Pre Opener Cleaner
69

Keterangan : Keterangan :
1. Pelat pemisah 1. Silinder penampung
2. Rol pemukul (condensor)
3. Batang saringan 2. Rol pemukul / pengambil

Gumpalan serat yang jatuh ke 5.12.3.1 Proses di Mesin


permukaan rol pemukul (2) A Condensor at
langsung dipukul dan terlempar Cleaner
ke rol pemukul (2) B karena ada
pelat pemisah maka gumpalan Gumpalan serat yang jatuh ke
serat kembali jatuh pada permukaan condensor (1) akan
permukaan antara rol pemukul terhisap oleh fan sehingga
(2) A dan rol pemukul (2) B. kotoran dan serat pendek akan
Dengan gambar diatas maka terhisap oleh fan akan masuk
ada 2 kali proses pembukaan di melalui celah-celah condensor
daerah x dan y. untuk ditampung pada air filter
Agar gumpalan serat dapat condensor at cleaner.
lebih terbuka ada yang Serat-serat panjang yang
menggunakan 5 buah rol menempel pada permukaan
pemukul, karena akan terjadi 4 condensor akan tergaruk oleh
kali proses pembukaan. rol pemukul/pengambil (karena
permukaan rol pemukul/
5.12.3 Mesin Condensor at pengambil terbuat dari kulit)
Cleaner untuk diteruskan ke mesin
opener cleaner.

5.12.3.2 Pemisahan Kotoran


di Mesin Condensor
at Cleaner

Gambar 5.26 Gambar 5.27


Skema Mesin Condensor at Skema Pemisah Kotoran Mesin
Cleaner Condensor at Cleaner
70

Keterangan : bawah gumpalan serat dan


1. Batang saringan serat-serat pendek karena
(Condensor) hisapan fan juga cenderung
2. Saluran fan penghisap berada pada lapisan gumpalan
3. Fan penghisap serat di atas permukaan
condensor.
Proses di mesin Condensor at Karena gerakan rol pengambil
Cleaner. Gumpalan serat akan akan membantu kotoran-
menempel pada permukaan kotoran dan serat pendek
Condensor karena hisapan fan. terhisap oleh fan melalui celah-
Kotoran-kotoran berupa biji, celah condensor dan saluran
batang daun, pasir atau logam fan untuk ditampung pada air
cenderung berada di bagian filter for Condensor at Cleaner.

5.12.4 Mesin Opener Cleaner

Gambar 5.28
Skema Mesin Opener Cleaner

Keterangan : 5.12.4.1 Proses di Mesin


1. Gumpalan kapas Opener Cleaner
2. Penggerak
3. Penahan (baffles) Karena putaran pemukul maka
4. Pemukul (beater) gumpalan kapas akan masuk ke
5. Batang saringan (gridbars) depan secara bertahap.
6. Pintu pembersih Kotoran-kotoran akan
7. Penghisap (fan) berjatuhan melalui celah-celah
8. Saluran pneumatis batang saringan. Kapas yang
keluar dari mesin ini, kemudian
71

diteruskan ke mesin Keterangan :


Picker/Scutcher. 1. Saluran in let
2. Saluran out let
5.12.4.2 Pemisahan Kotoran 3. Condensor
di Mesin Opener 4. Rol pemukul
Cleaner
5.12.5.1 Proses di Mesin
Condensor at Picker

Gumpalan kapas masuk melalui


saluran in let (1) karena hisapan
fan jatuh ke permukaan
condensor (3). Kotoran-kotoran
(batang, biji, daun, pasir, logam)
akan masuk ke lubang
condensor untuk ditampung
pada air filter for Condensor at
Picker melalui saluran out let
Gambar 5.29 (2).
Skema Rol Pemukul dan Sedang gumpalan kapas yang
Batang Saringan masih menempel pada
permukaan Condensor akan
Keterangan : digaruk/diambil oleh rol pemukul
1. Rol Pemukul (Pined beater) untuk disuapkan ke mesin
2. Batang Saringan (Gridbars) berikutnya.
3. Celah Batang Saringan
5.12.5.2 Pemisahan Kotoran
5.12.5 Mesin Condensor at di Mesin Condensor
Picker at Picker

Gambar 5.30
Skema Mesin Condensor at Gambar 5.31
Picker Skema Pemisah Kotoran Mesin
Condensor at Picker
72

Keterangan : bawah gumpalan serat dan


1. Batang saringan serat-serat pendek karena
(Condensor) hisapan fan juga cenderung
2. Saluran fan penghisap berada pada lapisan gumpalan
3. Fan penghisap serat di atas permukaan
condensor.
Proses di mesin Condensor at Karena gerakan rol pengambil
Cleaner. Gumpalan serat akan akan membantu kotoran-
menempel pada permukaan kotoran dan serat pendek
Condensor karena hisapan fan. terhisap oleh fan melalui celah-
Kotoran-kotoran berupa biji, celah condensor dan saluran
batang daun, pasir atau logam fan untuk ditampung pada air
cenderung berada di bagian filter for Condensor at Cleaner.

5.12.6 Mesin Micro Even Feeder

Gambar 5.32
Skema Mesin Micro Even Feeder

Keterangan : 5. Pintu pengontrol isi


1. Condensor 6. Apron berpaku
2. Rol pemukul 7. Rol pengontrol
3. Gumpalan kapas 8. Kick rol
4. Rol pemukul
73

5.12.6.1 Proses di Mesin berpaku (6) dan akan diambil


Micro Even Feeder oleh rol pengambil (7) untuk
diteruskan ke mesin berikutnya.
Gumpalan serat (3) yang Sedangkan volume kapas
diambil rol pemukul (2) dari dikendalikan oleh kick rol (8)
Condensor (1) akan jatuh ke dan pintu berayun (5) yang akan
pasangan rol pemukul (4) untuk menghentikan mesin bila penuh
mendapatkan pukulan (proses dan menjalankan mesin kembali
pembukaan) yang selanjutnya secara otomatis.
akan dibawa ke atas oleh apron

5.12.7 Mesin Scutcher

Gambar 5.33
Skema Mesin Scutcher

Keterangan : 10. Rol pembersih (stripping


1. Silinder penampung rolls)
(condensor) 11. Rol penggilas (calender
2. Saluran penyuap rolls)
3. Pemukul (beater) 12. Gulungan lap
4. Pelat penaha (buffle rack) 13. Batang penggulung (lap
5. Apron berpaku (spike lattice) arbor)
6. Pembersih (stripper)
7. Saluran penyuap
8. Pemukul (beater)
9. Penghisap (fan)
74

5.12.7.1 Proses di Mesin gulungan lap seperti mesin


Scutcher Scutcher model lama.

Dibandingkan dengan mesin 5.12.7.2 Gerakan Pengaturan


Scutcher model lama, maka Penyuapan
mesin Scutcher model baru ini
konstruksinya lebih kuat. Mesin Penyuapan mesin scutcher ini
ini dapat digunakan untuk biasanya dilakukan oleh mesin
mengolah kapas atau serat- penyuap yang ditempatkan
serat buatan dengan produksi sebelumnya.
yang tinggi.
Bahan yang akan diolah ditarik
mesin Scutcher oleh silinder
penampung (1). Penghisapnya
terpisah dan motornya dapat
digunakan untuk melayani dua
atau lebih silinder penampung,
apabila digunakan mesin
Scutcher yang lebih dari satu
untuk pembukaan dan
pembersihan. Penyuapannya Gambar 5.34
diatur secara otomatis. Pengatur Penyuapan
Silinder penampung bertugas
menampung kapas untuk Keterangan :
penyuapan dengan 1. Kapas
menggunakan pelat penahan 2. Lattice penyuap
yang bekerja pengatur 3. Rol penekan
penyuapan kepada pre opener 4. Pedal penekan
beater. 5. Rol penyuap
Pre opener beater menyuapkan 6. Daerah pemukulan
kapas yang sudah benar-benar
terbuka pada suatu daerah Bagian-bagian yang mengatur
penyuapan yang dilengkapi penyuapan pada scutcher
dengan pelat penahan yang seperti terlihat pada gambar
bekerja dengan baik. 5.34 dan biasanya terdiri dari
Kapas dinaikkan ke atas lattice penyuap (2), rol penekan
dengan perantaraan apron (3) yang gunanya untuk
berpaku (5) untuk memperoleh memadatkan kapas, pedal
hasil pencampuran yang baik. penyuap (4) yang dapat
Serat-serat yang sudah rata bergerak sesuai dengan tebal
sekali kemudian disuapkan ke tipisnya kapas yang disuapkan
daerah pemukul yang terakhir. dan rol penyuap (5) yang
Selanjutnya akan dihasilkan menyuapkan dan menjepit
kapas yang disuapkan.
75

Prinsip bekerjanya peralatan tebal kapas yang terjepit oleh rol


tersebut dapat diikuti pada penyuap dan pedal juga
uraian dan gambar. tertentu.
Bila kapas yang masuk antara
x Cara Bekerjanya Alat rol penyuap dan pedal
Pengatur Penyuapan mempunyai tebal yang
berlainan dengan tebal kapas
Apabila keadaan lap yang pada waktu kedudukan belt ada
dihasilkan itu normal maka belt ditengah-tengah, maka pedal
yang menghubungkan kedua yang dapat bergerak seperti
Cone drum kedudukannya timbangan itu akan bergerak
harus ada ditengah-tengah dan keatas atau kebawah.

Gambar 5.35
Pengatur Penyuapan (Feed Regulator)

Gerakan ini diteruskan melalui menekan ujung pedal (a)


b, c 1 , c 2 , c 3 , d, o dan f kebawah sehingga ujung pedal
sehingga menyebabkan yang lain (b) bergerak keatas
terjadinya penggeseran belt dan gerakan ini akan menarik
pada cone drum sehingga rol keatas berturut-turut c 1 , c 2 , c 3 ,
penyuap akan berputar lebih d dan dengan perantaraan
lambat atau lebih cepat. poros (e), batang (f) akan
Kalau penyuapan kapas terlalu menggeserkan belt ke kiri
tebal, maka kapas akan sehingga cone drum (g 2 )
76

berputar lebih lambat. terjadi sebaliknya apabila kapas


Perputaran dari cone drum atas yang disuapkan terlalu tipis.
akan diteruskan ke rol penyuap
(h) melalui roda-roda gigi S, T 1 , x Pergerakan Pedal dan
T 2 , dan T 3 , sehingga putaran Perpindahan Belt
dari rol penyuap juga menjadi Perpisahan kedudukan atau
lambat. letak belt terjadi langsung dan
Dengan demikian maka sebanding dengan terbukanya
penyuapan kapas oleh rol atau tertutupnya gerakan pedal.
penyuap juga menjadi lebih
lambat. Demikian pula akan

Gambar 5.36
Pergerakan Pedal dan Perpindahan Belt

Keterangan : Sebagai contoh misalkan


1. Kapas perbandingan tebal tipisnya
2. Lattice penyuap kapas yang masuk diantara rol
3. Pedal penyuap dan pedal sama
4. Roda gigi dengan t = 1, maka untuk
5. Rol penyuap lapisan kapas yang lebih tebal
6. Roda gigi dari pada lapisan kapas yang
7. Daerah pemukulan dikehendaki, harga t lebih besar
8. Cone drum atas (pasif) dari 1 dan untuk lapisan kapas
9. Belt yang lebih tipis, harga t harus
10. Cone drum bawah (aktif) kurang dari 1 (gambar). Kalau
untuk lapisan kapas yang paling
tipis harga t = 0,5 dan untuk
77

lapisan kapas yang paling tebal D


harga t = 1,5 dan panjang cone Untuk harga t = 1, maka .t=
d
drum masing-masing = 25 cm,
maka untuk lapisan kapas yang
20
. 1 = 0,8 dan harga ini tetap
dikehendaki = 1, kedudukan belt 25
pada cone drum kira-kira dan berlaku untuk harga-harga
ditengah dan berada pada yang lainnya dari t = 0,5 sampai
diameter cone drum bawah t = 1,5.
D = 20 cm dan pada diameter D + d = 20 + 25 = 45 cm
cone drum atau d = 25 cm. D D 0,8
Untuk setiap kedudukan belt x t = 0,8 atau =
d d t
pada cone drum agar belt selalu
d xD
tegang maka (D + d) harus D+d= +d
selalu tetap. Dan setiap d
perubahan putaran cone drum D
=d( + 1) = 45 cm
D d
atas ( ) akan berubah-ubah
d 45 45
berbanding terbalik dengan d = =
D 0,8
tebal tipisnya lapisan kapas t, 1 1
d t
D
sehingga . t = tetap. Jadi 45 t
d = cm
kalau harga t kecil maka harga t  0,8
D D = 45 – d
besar dan kalau harga t
d Dari uraian diatas, maka dapat
D dicari hubungan antara tebal
besar maka harga kecil.
d kapas dengan putaran cone
drum seperti tercantum pada
tabel 5.2.
78

Tabel 5.2
Hubungan Antara Tebal Kapas dengan Putaran Cone Drum

45 t Ppm cone drum atas


t d= D = 45 – d apabila putaran cone
t  0,8 drum bawah = 1000 ppm
0,5 17,3 cm 27,7 cm 1.600 ppm
0,6 16,3 cm 25,7 cm 1.330 ppm
0,7 21,0 cm 24,0 cm 1.142 ppm
0,8 22,5 cm 22,5 cm 1.000 ppm
0,9 23,8 cm 21,2 cm 893 ppm
1,0 25,0 cm *) 20,0 cm 800 ppm
1,1 25,2 cm 18,8 cm 720 ppm
1,2 27,0 cm 18,0 cm 667 ppm
1,3 27,9 cm 17,1 cm 613 ppm
1,4 28,6 cm 16,4 cm 573 ppm
1,5 29,3 cm 15,7 cm 537 ppm

*) = Kedudukan belt ada ditengah-tengah cone drum

5.12.8.3 Proses Pembukaan


dan Pemukulan Serat Jadi harus ada optimasi antara
di Mesin Scutcher jumlah pukulan dan kerusakan
serat.
Untuk mendapatkan hasil Pukulan terhadap serat dapat
pembukaan dan pemisahan dihitung berdasarkan pukulan
kotoran yang terdapat pada untuk panjang gumpalan serat
kapas, maka jumlah pukulan yang disuapkan, misalnya
oleh pemukul (beater) terhadap panjang 1 inch.
serat sangat menentukan. Dalam penentuan jumlah
pukulan beater per inch serat,
Makin banyak pukulan batang faktor-faktor yang harus
pemukul terhadap serat, makin diketahui adalah :
baik pula pembukaan dan - kecepatan putaran dari
pemisahan serat. pemukul
Jumlah pukulan terhadap serat, - jumlah lengan pemukul
dapat mempengaruhi kerusakan - kecepatan penyuapan
serat serta limbah yang terjadi.
79

Kecepatan putaran dari penyuap dengan ujung pemukul


pemukul dapat dihitung melalui = a.
susunan roda gigi Scutcher, bila Serat yang dipukul oleh lengan
diketahui RPM motornya. pemukul tidaklah seluruhnya,
Jumlah lengan pemukul tetapi hanya bagian (f – a),
bergantung dari jenis pemukul karena setelah ujung serat yang
(beater) yang digunakan. terjepit oleh rol penyuap lepas,
Umumnya mesin Scutcher maka serat akan segera
menggunakan pemukul yang terlemparkan akibat dari
mempunyai tiga lengan pukulan dari lengan pemukul.
pemukul. Bila jumlah pukulan per inch =
Kecepatan penyuapan dapat z·n
dihitung melalui susunan roda , maka untuk bagian serat
1
gigi dimulai dari RPM motor,
sepanjang (f – a) inch, akan
akan didapat RPM dari rol
mendapat pukulan sebanyak
penyuap. Sedangkan kecepatan
penyuapan adalah sama z·n
(f – a) .
dengan kecepatan permukaan 1
dari rol penyuapan. Bila jumlah pukulan per serat
dinyatakan dengan P, maka :
Misalkan putaran dari pemukul z·n
per menit setelah dihitung P = (f – a) ·
melalui susunan roda gigi
1
adalah = n. P = jumlah pukulan per serat
Jumlah lengan pemukul yang f = panjang serat dalam
digunakan = z. inch
Kecepatan penyuapan per a = jarak antara titik jepit rol
menit = 1 inch. penyuap dengan ujung
Maka jumlah pukulan per inch pemukul dalam inch
z = jumlah lengan pemukul
z·n n = putaran pemukul per
=
1 menit
1 = kecepatan penyuapan
Untuk menentukan jumlah per menit dalam inch
pukulan per serat, selain faktor-
faktor pada pukulan per inch,
harus diketahui pula panjang
serat dan jarak antara titik jepit
rol penyuap dengan ujung
pemukul.
Pada gambar 5.37 terlihat
bahwa panjang serat = f dan
jarak antara titik jepit rol
80

Kapas yang diolah di mesin


Scutcher mempunyai panjang
staple (f) = 1 3 8 inch. Jarak
antara titik jepit rol penyuap
dengan ujung pemukul (a) = 0,6
inch.
Kecepatan penyuapan oleh rol
penyuap per menit (1) = 60 inch.
Putaran pemukul per menit (n)
Gambar 5.37 = 900.
Bagian Penyuapan Mesin Jumlah lengan pemukul (z) = 3.
Scutcher Maka jumlah pukulan per serat
(P) dapat dihitung sebagai
Keterangan : berikut :
1. Apron penyuapan z·n
2. Gumpalan kapas P = (f – a) ·
3. Pedal 1
4. Rol penyuap 3 · 900
24 = (1,375 – a) ·
5. Pemukul (Beater) 60
6. Batang saringan (Grid Bars) 24 = (1,375 – a) · 45
7. Silinder penampung
(45 x 1,375)  24
(screen) a =
45
Contoh : = 1,37 inch

5.12.8.4 Pemisahan Kotoran di Mesin Scutcher

Gambar 5.38
Terpisahnya Kotoran dari Serat
81

Keterangan : K kp = gaya centrifugal yang


1. Lattice
diderita kapas
2. Pedal pengantar kerataan
3. Rol penyuap K kt = gaya centrifugal yang
4. Batang saringan diderita kotoran
5. Pemukul BD = berat jenis
6. Silinder penampung BD kp = berat jenis kapas

Seperti telah diterangkan BD kt = berat jenis kotoran


dimuka bahwa kapas yang
keluar dari rol penyuap terus Pada waktu pemukul berputar,
mengalami pukulan pemukul maka akan timbul gaya
sehingga kapas menjadi centrifugal pada pemukul
terbuka dan kotoran terlepas besarnya.
dari kapas kemudian keluar
melalui celah-celah batang M xV 2
saringan dan kapasnya K =
r
terlemparkan oleh pemukul dan
oleh adanya hisapan angin dari
Gaya centrifugal yang diderita
kipas yang ada dibawah silinder
kapas :
saringan, maka kapas akan
tertampung menempel pada
permukaan silinder saringan. M kp x V 2
K kp =
Mekanisme terjadinya r
pemisahan kotoran dari kapas
kemudian jatuh melalui celah- Gaya centrifugal yang diderita
celah batang saringan dapat kotoran :
dijelaskan sebagai berikut :
Misalkan :
M kt x V 2
K = gaya centrifugal K kt =
r = jari-jari pemukul r
M = massa, massa =
volume x berat jenis Oleh karena BD kt > BD kp ,
V = kecepatan keliling
maka K kt > K kp
pemukul
n = putaran per menit dari
pemukul Agar supaya kotoran dapat
Z = jumlah lengan pemukul jatuh melalui celah-celah batang
d = diameter pemukul saringan dan kapasnya tidak
M kp = massa kapal turut terbawa, maka K kt > K angin
M kt = massa kotoran > K kp .
Dengan demikian besarnya
aliran angin harus diatur lebih
82

kecil dari gaya centrifugal a a


kotoran, tetapi lebih besar dari Q1 = . B atau P 1 = .B
b b
gaya centrifugal kapas.
Apabila berat batang (x) dan
5.12.8.5 Tekanan Rol
batang penghubung (y)
Penggilas
diperhitungkan dan beratnya = g
dan letak titik beratnya ada
Tekanan rol penggilas pada
pada jarak c dari titik putar F
kapas terjadi oleh adanya
dan tegangan pada batang
pemberat V, batang (x), batang
penghubung y dan berat dari penghubung sekarang Q 2 =
rol-rol penggilas itu sendiri tekanan P 2 , maka dalam
seperti terlihat pada gambar. keadaan seimbang, jumlah
Besarnya tekanan rol penggilas momen pada titik F juga sama
pada kapas dapat dihitung dengan nol.
sebagai berikut : Apabila berat g . c = Q2 . b
batang (x), berat batang
penghubung (y) dan berat rol-rol g . c = Q2 . b
penggilas diabaikan, berat c c
Q2 = . g atau P 2 = .g
pemberat = B, jarak antara titik b b
putar F dengan pemberat B Tegangan-tegangan yang
adalah a, jarak antara titik putar terdapat pada batang-batang
e dengan titik purar F adalah b penghubung ini sama dengan
dan tegangan pada batang tekanan yang diberikan pada rol
penghubung Q 1 = tekanan P 1 , penggilas I.
maka dalam keadaan
seimbang, jumlah momen yang Q1 + Q 2 = P1 + P 2
terdapat pada titik putar F = 0. a c
Q=P= .B+ .g
B . a - Q1 . b = 0 b b
a.B  c. g
B . a = Q1 . b P=
b
83

Gambar 5.39
Tekanan Rol Penggilas pada Kapas

Kalau jumlah tegangan pada Jadi tekanan pada calender rol I


batang-batang penghubung adalah :
besarnya Q = Q 1 + Q 2 dan
tekanan pada rol penggilas a.B  c. g
2P=2.
besarnya P = P 1 + P 2 , maka : b
a c
P= .B+ .g atau Kita ingat bahwa rol penggilas
b d itu mempunyai berat juga,
a.B  c. g misalkan :
P=
b - berat rol penggilas I = W 1
- berat rol penggilas II = W 2
Sistem pemberat ini diberikan
disebelah kiri kanan mesin, - berat rol penggilas III = W 3
sehingga tekanan P terdapat
disebelah kiri kanan rol W1 + W 2 + W 3 = W
penggilas I.
84

Maka jumlah tekanan yang roda-roda gigi, batang


diberikan pada kapas yang pengulung lap dan penahan lap.
melalui antara rol penggilas III Besarnya tekanan batang
dan rol penggilas IV adalah penggulung pada kapas dapat
sebesar. diperhitungkan sebagai berikut :
T = 2P+W Apabila berat pemberat = B,
a.B  c. g berat batang m diabaikan, jarak
T = W+2. antara titik putar T ke pemberat
b
= X, diameter puli S 1 , jumlah
5.12.8.6 Tekanan Batang gigi-gigi perantara adalah b, a
Penggulung Lap dan S 2 , Coefisien gesekan
antara penahan m dan puli S 1 =
Tekanan pada kapas disini
u, maka jumlah momen pada
dilakukan oleh pemberat B,
titik putar T adalah sama
batang 1, penahan m, puli S 1 , dengan nol.

Gambar 5.40
Tekanan Batang Penggulung Lap
85

B.X=Q.Y = L, maka dengan demikian


X jumlah tekanan batang
Q = .B penggulung lap pada kapas (F)
Y
= 2 (P + R) + L.
Tekanan pada kapas seberat F
Kalau G adalah tenaga yang
ini dilakukan sepanjang batang
timbul karena adanya
penggulung lap, sehingga
perputaran puli S 1 dan penahan tekanan kapas/cm = F/panjang
m, K 1 adalah usaha yang timbul batang penggulung lap dalam
karena adanya gaya Q dan K 2 cm.
adalah usaha yang disebabkan
Contoh :
gaya P pada S 2 maka :
Bila diketahui berat batang
G=u.Q penggulung = 20 kg.
G . S1 = K1 . b Berat sebuah penahan lap
G . S1 = 15 kg.
K1 = atau Berat pemberat B = 15 kg.
b Coefisien gesekan u = 0,25.
u . Q . S1 Roda gigi a = 120 gigi dan
K1 =
b b = 40 gigi.
K1 . a = K 2 . S 2 diameter brake pulley S1
a = 45 cm dan
K 2 = K1 atau diameter S 2 = 9 cm
S2
Jarak titik putar T ke pemberat
a S1 B = 54 cm
K2 = u . . .Q
b S2 Jarak titik putar T ke titik
gesekan Q = 6 cm
a S1
Atau P = u . . .B Maka :
b S2 a x S1
P=u. . . .B
b y S2
Kalau berat penahan lap = R,
maka tekanan pada salah satu 120 54 45
= 0,25 . . . . 15
ujung dari batang penggulung = 40 6 9
P + R. Karena tekanan pada = 506,25 kg
batang penggulung terdapat
pada kedua belah ujungnya, F = 2(P + R) + L
maka jumlah tekanannya = 2 . (506,25 + 15) + 20
menjadi 2(P + R). Kalau berat = 1062,5 kg
batang penggulung lap itu
sendiri juga perlu Bila panjang batang penggulung
diperhitungkan dan misalnya = 90 cm, maka tekanan batang
86

penggulung per cm kapas tekanan per inch kapas


1062,5 = 10,7 . 2,54 = 27,2 kg.
= = 11,8 kg atau Tekanan batang penggulung lap
90
pada rol penggulung lap.
tekanan per inch kapas = 11,8 x
Semenjak lap itu digulung pada
2,54 = 29,97 kg. Gesekan-
batang penggulung dan ditahan
gesekan yang terdapat antara
oleh dua penahan lap, maka
roda-roda gigi dan sebagainya
tekanan besi penggulung F
adalah merupakan tenaga
akan terbagi dua, dengan
penahan, yang berarti
tekanan yang sama besar pada
menambah tekanan P. Misalkan
tiap-tiap rol penggulung lap.
efisiensi kerja dari hubungan
Apabila tekanan batang
roda-roda gigi dan puli ini
penggulung F tetap, maka
= 90%, maka besarnya
tekanan pada rol penggulung
90 akan berubah-ubah sebanding
F = 2 . 506,25 +15) + 20
100 dengan membesarnya gulungan
= 961,25 kg. lap.
Tekanan per cm kapas Pada gambar 5.41a
961,25 menunjukkan gulungan lap
= = 10,7 kg atau masih kecil dan pada gambar
90
5.41b menunjukkan gulungan
lapnya yang sudah besar.

Gambar 5.41
Tekanan Batang Penggulung Pada Rol Penggulung Lap

F = tekanan dari batang F 1 ; F 2 = tekanan pada rol


penggulung penggulung lap pada
f1 ; f 2 = tekanan pada rol waktu gulungan lap
penggulung lap pada besar
waktu gulungan lap
kecil
87

F untuk kedua-duanya adalah 5.12.9.1 Penimbangan Berat


sama. Gulungan lap makin Lap
besar berarti bahwa sudut E
makin kecil atau sudut D makin Pengetesan berat tiap gulung
besar. lap, dilakukan dengan
Pada gambar 5.41a, tekanan F menimbang lap-lap yang
juga terbagi dua sama besar dihasilkan dan bila ternyata
menyimpang dari standard, lap
yaitu f 1 dan f 2 , dan pada
dikembalikan kepada Feeder.
gambar 5.30b tekanan F juga Tes ini dilakukan pada setiap
terbagi dua sama besar yaitu hasil doffing ditimbang dan
F1 ; F 2 . dicatat dalam tabel.
1 F Biasanya setiap gulungna lap
Sin D = : f1 diberi toleransi ± 150 gram
2 2
untuk batas atas dan batas
F bawah.
f1 =
1
2 . sin D
2 5.12.9.2 Pengujian Nomor Lap

Dari gambar 5.41 terlihat bahwa Pengetesan ini dilakukan pada


makin besar gulungan lap, setiap gulungan untuk dicari
sudut D makin besar pula. Nomornya dari hasil
Kalau D makin besar, berarti perbandingan panjang
1 pemberat.
harga sin D makin besar Biasanya panjang gulungan lap
2 untuk setiap kali doffing telah
pula sehingga harga f 1 makin ditetapkan panjangnya.
kecil. Dengan demikian dapat
ditarik kesimpulan, bahwa 5.12.9.3 Pengujian Kerataan
makin besar gulungan lap makin Lap
kecil tekanan pada rol
penggulung lapnya, begitu juga Pengetesan ini dilakukan untuk
keadaan sebaliknya. mengetahui kerataan lap
caranya dengan memotong-
5.12.9 Pengujian Mutu Hasil motong 1 gulung lap menjadi
potongan-potongan 1 yard dan
Gulungan lap hasil mesin menimbangnya. Dari angka-
Blowing perlu diuji mutunya angka berat per yard dapat
yang terdiri dari uji : Nomor, diketahui rata atau tidaknya lap
Kerataan dan % Limbah. yang dihasilkan.
Tes ini dilakukan 1 lap setiap
hari.
88

5.12.9.4 Pengujian Persen roda gigi ke bagian-bagian


Limbah mesin yang lain.
Pergerakan-pergerakan yang
Pengetesan ini untuk ada hubungannya dengan
mengontrol besarnya limbah perhitungan-perhitungan pada
yang terjadi pada mesin mesin Scutcher antara lain
Blowing. adalah :
Tes ini dilakukan pada setiap - Pergerakan rol penyuap
ada pergantian bahan-bahan. - Pergerakan rol penggulung
lap (lap-roll)
5.12.10 Perhitungan - Pergerakan rol penggilas
Regangan (calender-roll)

5.12.10.1 Susunan Roda Gigi Mesin Scutcher tidak semuanya


Mesin Scutcher mempunyai satu sumber
gerakan yang menggerakkan
Pada susunan mesin Blowing, ketiga pergerakan diatas.
perhitungan-perhitungan yang Ada pula yang mempunyai dua
dilakukan terutama pada mesin sumber gerakan.
Scutcher karena mesin ini Sumber gerakan yang pertama
menghasilkan lap yang menggerakkan rol-rol penggilas
merupakan akhir dari susunan dan rol-rol lap, sedang sumber
mesin Blowing. gerakan yang kedua
menggerakkan rol penyuap
x Gerakan-gerakan yang berikut lattice penyuapnya.
terdapat pada Mesin
Scutcher x Pergerakan Rol Renyuap

Sebagai contoh diambil mesin Gerakan dimulai dari motor


Scutcher type Sacco Lowell yang mempunyai puli sebagai
seperti terlihat pada gambar sumber gerakan.
5.42. Susunan Roda Gigi Puli A dihubungan dengan puli
(Gambar 5.42) gerakannya B dengan perantaraan belt.
berasal dari motor listrik yang Satu poros dengan puli B
mempunyai kekuatan ± 7 PK terdapat puli C yang
dengan putaran antara menggerakkan puli D dengan
1200 – 1400 putaran per menit. perantaraan V – blet. Pada
Gerakan ini diteruskan dengan poros D terdapat cone-drum C B
perantaraan puli-puli dan roda- sebagai pemutar dan cone-
drum ini.
89

Gambar 5.42
Susunan Roda Gigi Mesin Scutcher dengan Satu Sumber Gerakan
90

Keterangan : Secara singkat gerakan rol


puli A = Ø 5 inch penyuap terjadi sebagai
puli B = Ø 15 inch berikut :
puli C = Ø 6 inch
puli D = Ø 8 inch Puli A (motor); Puli B; Puli C;
puli E = Ø 10 inch Puli D; Cone-drum C B . Cone-
puli F = Ø 24 inch
drum C A . Roda gigi cacing R C ;
Roda gigi R 1 = 78 inch
Roda gigi cacing R 1 ; Roda gigi
Roda gigi R 2 = 20 inch
R 2 ; Roda gigi R 3 ; dan akhirnya
Roda gigi R 3 = 55 inch
rol penyuap berputar.
Roda gigi R 4 = 14 inch
Roda gigi R 5 = 88 inch x Pergerakan Rol
Penggulung Lap (Lap Roll)
Roda gigi R 6 = 33 inch
Roda gigi R 7 = 31 inch Puli motor A menggerakkan
Roda gigi R 8 = 47 inch puli B.
Poros puli B merupakan poros
Roda gigi R 9 = 19 inch beater dari mesin Scutcher.
Roda gigi R 10 = 20 inch Pada bagian lain dari poros ini
terdapat puli E yang
Roda gigi R 11 = 91 inch berhubungan dengan puli F
Roda gigi R 12 = 16 inch dengan perantaraan belt.
Roda gigi R 13 = 14 inch Puli F terdiri dari kopling yang
dapat memisahkan gerakan
Roda gigi R 14 = 29 inch antara keduanya.
Roda gigi R 15 = 9 inch Apabila kopling tidak bekerja
maka puli F berputar tanpa
Roda gigi R 16 = 68 inch
memutarkan porosnya.
Roda gigi R 17 = 180 inch Sebaliknya, bila kopling bekerja,
maka poros puli ikut berputar.
dihubungkan dengan cone-drum Pada poros F terdapat roda gigi
C A yang diputarkan dengan R 4 yang berhubungan dengan
perantaraan cone belt. Cone roda gigi R5. Satu poros
belt ini dapat bergeser. dengan R 5 , terdapat roda gigi
Satu poros dengan cone-drum
C A terdapat roda gigi R 2 yang R 6 yang berhubungan dengan
berhubungan dengan roda gigi roda gigi R8 dengan
R 3 . Pada roda gigi R 3 dipasang perantaraan roda gigi perantara
pula rol penyuap. R7 .
91

Seporos degan R 8 terdapat rol dengan roda gigi R 14 dengan


penggulung lap. perantaraan roda gigi R 13 .
Seporos dengan roda gigi R 14
Secara singkat, pergerakan rol
penggulung lap terjadi sebagai terdapat roda gigi R 16 yang
berikut : berhubungan dengan roda gigi
R 17 . Satu poros dengan R 17
Puli A (motor); Puli B; Puli E;
terdapat screen (silinder
Puli F; Roda gigi R 4 ; Roda gigi saringan) yang berhubungan
R 5 ; Roda gigi R 6 ; Roda gigi dengan screen yang lain
R 7 ; Roda gigi R 8 ; dan akhirnya dengan perantaraan roda gigi.
Secara singkat pergerakan rol-
lap roll. rol penggilas dapat diikuti
sebagai berikut :
x Pergerakan Rol Penggilas
(Calender-Roll) Puli motor A. Puli B; Puli E; Puli
F; Roda gigi R 4 ; Roda gigi R 5 ;
Puli motor A berhubungan
dengan puli B. Roda gigi R 10 ; Roda gigi R 11 ;
Seporos dengan puli B terdapat Rol penggilas; Roda gigi R 12 ;
puli E yang berhubungan
dengan puli F yang dilengkapi Roda gigi R 13 ; Roda gigi R 14 ;
kopling pada porosnya. Roda gigi R 16 ; Roda gigi R 17 ;
Pada poros puli F terdapat roda dan akhirnya silinder saringan
gigi R 4 yang berhubungan (screen).
dengan roda gigi R 5 . Satu
5.12.10.2 Sistem Hidrolik pada
poros dengan R 5 terdapat roda mesin Blowing
gigi R 10 yang berhubungan Sistem hidrolik pada mesin
dengan roda gigi R 11 . Blowing digunakan pada unit
mesin Scutcher, yaitu pada
Pada poros R 11 terdapat rol pengaturan tekanan terhadap
penggilas yang saling lap oleh calender roll maupun
berhubungan dengan rol pengaturan tekanan terhadap
penggilas lainnya dengan lap arbour untuk mengatur
perantaraan roda-roda gigi. kekerasan gulungan lap. Kerja
Dari rol penggilas, dapat pula kopling pada mesin ini juga
diikuti pergerakan screen diatur dengan menggunakan
(silinder saringan). tekanan udara.
Salah satu poros rol penggilas
pada bagian lain terdapat roda
gigi R 12 yang berhubungan
92

5.12.10.3 Perhitungan Atau berdasarkan nomor bahan


Regangan yang keluar dan nomor bahan
yang masuk.
Regangan dapat dihitung Regangan dengan cara ini
berdasarkan gambar susunan disebut Regangan Nyata (RN)
roda gigi mesin Scutcher. atau Actual Draft (AD).
Dengan membandingkan antara
kecepatan keliling rol
pengeluaran dan kecepatan x Tetapan Regangan (TR)
keliling rol pemasukan, didapat atau Draft Constant (DC)
suatu angka yang disebut
Regangan Mekanik. (RM) atau Susunan roda-roda gigi pada
Mechanical Draft (MD). mesin Scutcher, umumnya tidak
Pada mesin Scutcher, yang berubah, baik letak maupun
dimaksud dengan rol jumlah giginya. Hanya beberapa
pengeluaran disini adalah rol roda gigi yang dapat diganti-
penggulung lap (lap-roll), ganti. Untuk regangan, ada satu
sedang yang dimaksud dengan roda gigi pengganti, sehingga
rol pemasukan ialah rol dapat mengubah besarnya
penyuap (feed-roll). Regangan Regangan Mekanik.
dapat pula dihitung berdasarkan Apabila roda gigi pengganti
perbandingan berat bahan yang Regangan ini dimisalkan sama
masuk per satuan panjang dengan satu, maka akan
tertentu dengan berat bahan didapatkan suatu angka yang
yang keluar per satuan waktu disebut Tetapan Regangan (TR)
yang sama. atau Draft Constant (DC).
Dalam hal ini satuan berat Menurut susunan roda gigi
maupun satuan panjang bahan (gambar 5.31) maka Regangan
yang keluar dan bahan yang Mekanik dapat dihitung sebagai
masuk harus sama. berikut :

kecepatan permukaan rol penggulung lap


RM =
kecepatan permukaan rol penyuap

Kecepatan permukaan rol Dimisalkan bahwa rol penyuap


penggulung lap = RPM lap-roll x berputar satu kali, maka
S x diameter rol penggulung kecepatan permukaan rol
lap. penyuap = 1 x S x diameter rol
Kecepatan permukaan rol penyuap.
penyuap = RPM rol penyuap x Melalui gambar susunan roda
S x diameter rol penyuap. gigi di atas dapat dihitung
putaran rol penggulung lap, bila
93

rol penyuap berputar satu putaran yaitu :

R3 R C D E R R R
1x x 1 x a x x x 4 x 6 x 7
R2 RC Cb C F R5 R7 R8
Maka :
R3 R1 C a D E R4 R6
1x x x x x x x x S diameter rol
R2 RC C b C F R5 R8
penggulung lap

RM =
1 x S x diameter rol penyuap

Dengan memasukkan harga pada gambar 5.42 didapat :

55 78 1 8 10 14 33
x x x x x x xS x9
266,22
RM = RPR 3 1 6 24 88 47 =
1xS x 3 RPR

Bila dimisalkan besarnya RPR = sehingga angkanya disebut


1, maka : Tetapan Regangan (TR).
266,22 Jadi TR = 266,22.
RM = = 266,22 Angka
1
RM dengan RPR = 1 tersebut,

Regangan Mekanik (RM) atau Mechanical Draft (MD)

kecepatan permukaan rol penggulung lap


RM =
kecepatan permukaan rol penyuap

Kalau rol penggulung lap berputar satu kali, maka rol penyuap akan
berputar :

47 88 24 6 1 3 R2
=1· · · · · · · · Putaran
33 14 10 8 1 78 55

Dengan demikian maka :


94

RM =
1 . S . diameter rol penggulung lap
47 88 24 6 1 3 R 2
1˜ ˜ ˜ ˜ ˜ ˜ ˜ ˜ S ˜ diameter rol penyuap
33 14 10 8 1 78 55

1 ˜ 33 ˜ 14 ˜ 10 ˜ 8 ˜ 1 ˜ 78 ˜ 55 ˜ S ˜ 9
RM =
1 ˜ 47 ˜ 88 ˜ 24 ˜ 6 ˜ 1 ˜ 3 ˜ R 2 ˜ S ˜ 3

Kalau besarnya Regangan Pengganti Regangan (RPR)


Mekanik (RM) akan diubah atau Draft Change Wheel
karena ada perubahan nomor (DCW).
benang yang akan dibuat,
biasanya roda gigi yang diubah Jadi kalau Roda Gigi R 2 diganti
adalah roda gigi R 2 yaitu yang dengan RPR, maka :
biasanya disebut Roda Gigi

1 ˜ 33 ˜ 14 ˜ 10 ˜ 8 ˜ 1 ˜ 78 ˜ 55 ˜ S ˜ 9
RM =
1 ˜ 47 ˜ 88 ˜ 24 ˜ 6 ˜ 1 ˜ 3 ˜ RPR ˜ S ˜ 3
1 ˜ 33 ˜ 14 ˜ 10 ˜ 8 ˜ 1 ˜ 78 ˜ 55 ˜ S ˜ 9
=
RPR ˜ 47 ˜ 88 ˜ 24 ˜ 6 ˜ 1 ˜ 3 ˜ ˜S ˜3
1
= . 266,22
RPR
266,22
= · Angka 266,22 merupakan Tetapan Regangan (TR)
RPR

TR DC
RM = atau MD = TR 266,22
RPR DCW RM = = = 13,331
RPR 20
Persamaan di atas dapat pula
ditulis sebagai berikut : Kalau RPR = 25, maka
besarnya :
TR DC TR 266,22
RPR = atau DCW = RM = = = 10,50
RM MD RPR 25

Kalau RPR = 20, maka Berdasarkan uraian di atas,


besarnya : terlihat bahwa RPR sebagai
95

penyebut sehingga kalau RPR yang diolah dan besarnya


diperkecil, maka Regangan berkisar antara 2 – 5%.
Mekanik menjadi besar dan Dengan adanya limbah
sebaliknya bila RPR diperbesar, tersebut, maka berat lap yang
maka Regangan Mekanik akan dihasilkan akan lebih kecil dari
menjadi kecil. pada berat lap yang didapat dari
perhitungan berdasarkan
susunan roda gigi.

Misalkan limbah yang terjadi


selama proses pembentukan
x Regangan Nyata (RN) atau lap adalah sebesar 4%, maka :
Actual Draft (AD)
Regangan Nyata (RN)
Seperti telah diketahui bahwa 100
tujuan pengerjaan kapas pada = · RM
(100  4)
mesin Scutcher tidak hanya
untuk membuat lap saja, tetapi
juga pembersihan yaitu Regangan Nyata dapat pula
pemisahan kotoran-kotoran dari dihitung berdasarkan
kapas. perbandingan antara berat
Pada pemisahan kotoran, bahan yang disuapkan dengan
terdapat pula kapas-kapas yang berat bahan yang dihasilkan
terbuang dan merupakan limbah dalam satuan panjang yang
(waste). sama.
Banyaknya limbah yang terjadi Jadi Regangan Nyata dapat
bergantung dari grade kapas dihitung sebagai berikut :

Berat bahan masuk per satuan panjang


RN =
Berat bahan keluar per satuan panjang

Satuan berat dan panjang untuk


bahan masuk maupun bahan Bila limbah yang terjadi selama
keluar harus sama. proses pada mesin-mesin
Kalau berat kapas yang Blowing adalah sebesar 4%,
disuapkan pada mesin Scutcher maka :
= 97,50 Oz/yard sedangkan (100  4)
berat lap yang dihasilkan adalah RM = x RN
100
14 Oz/yard, maka :
96
= x 6,96
97,50 Oz / yard 100
RN = = 6,96
14 = 6,68
96

Kalau Efisiensi mesin = 85%,


5.12.11 Perhitungan maka produksi mesin per jam :
Produksi 9
= 0,85 · 12,4 · 3,14 · · 60
36
Produksi lap pada mesin
yds
Scutcher, umumnya dinyatakan
dalam satuan berat per satuan
9
= 0,85 · 12,4 · 3,14 · · 60 ·
waktu. 36
14 oz
9
5.12.11.1 Produksi Teoritis = 0,85 · 12,4 · 3,14 · · 60 ·
36
14
Produksi teoritis dapat dihitung lbs
berdasarkan susunan roda gigi 16
mesin Scutcher. = 434,4 lbs
Bila mesin Scutcher mempunyai = 434,4 x 0,4536 kg
susunan roda gigi seperti = 197,04 kg
terlihat pada gambar 5.31, di
mana : 5.12.11.2 Produksi Nyata
- RPM Motor = 800
- Berat lap = 14 Oz/yard Hasil produksi mesin Scutcher
adalah berupa lap.
Maka untuk menghitung Biasanya tiap gulungan lap
produksi teoritis mesin Scutcher mempunyai panjang tertentu.
dapat dilakukan sebagai Setelah gulungan lap mencapai
berikut : panjang tertentu, kemudian lap
tersebut diambil dengan cara
RPM rol penggulung lap = tertentu (doffing).
A E R4 R6 Umumnya setiap kali
RPM Motor · · · · menyelesaikan satu gulung lap
B F R5 R 7 memerlukan waktu ± 5 menit,
5 10 14 33 tergantung dari standar dari lap
= 800 · · · · yang digunakan.
15 24 88 47
= 12,4
Untuk menghitung produksi
Produksi mesin per menit : nyata rata-rata per jam dari
= RPM lap rol · S · diameter mesin Scutcher, diambil data
hasil produksi nyata selama
rol penggulung lap
periode waktu tertentu, misalnya
= 12,4 · 3,14 · 9 inch
dalam satu minggu. Kemudian
1 dihitung jumlah jam jalan efektif
= 12,4 · 3,14 · 9 · yds
36 dari mesin tersebut.
Jumlah jam jalan efektif dapat
Produksi mesin per jam : diperoleh dari jumlah jam kerja
97

per minggu dikurangi jumlah Menurut pengamatan bahwa


jam berhenti dari mesin itu. mesin berhenti untuk keperluan-
Jumlah jam berhenti didapat keperluan seperti tersebut di
dari jam yang diperlukan antara atas = 48 jam.
lain untuk revisi mesin, Menurut data hasil pencatatan
perawatan, gangguan- jumlah dan penimbangan lap
gangguan serta waktu yang ternyata dalam satu minggu
diperlukan untuk pembentukan tercatat = 18.090 kg.
gulungan lap yang baru. Perhitungan produksi nyata
Misalkan dalam satu minggu, dapat dilakukan sebagai
menurut jadwal kerja, mesin berikut :
berjalan dalam waktu 156 jam.

Menurut jadwal waktu,jumlah jam kerja selama seminggu = 156 jam

Jumlah jam mesin berhenti = 48 jam


Jumlah jam mesin jalan efektif = 108 jam

Produksi nyata yang dicapai = 197,04 kg. Sedangkan


selama satu minggu produksi nyata rata-rata per jam
= 18.090 kg = 167,5 kg.
Produksi nyata rata-rata per jam
18.090 Maka efisiensi mesin Blowing
= = 167,5 kg 167,5
108 = x 100% = 85%
197,04
5.12.11.3 Efisiensi
5.12.11.4 Pemeliharaan mesin
Perhitungan efisiensi mesin Blowing
Blowing dapat dilakukan dengan Pemeliharaan pada mesin
membandingkan produksi nyata Blowing, meliputi :
dan produksi teoritis yang 1. Pembersihan dan peluma-
dinyatakan dalam persen. Pada san feed roll setiap 1 bulan
perhitungan produksi teoritis, 2. Pembersihan dan peluma-
mesin dianggap berjalan terus, san calender roll setiap 6
sedangkan dalam kenyataannya bulan.
mesin seringkali mendapat 3. Pelumasan bearing cone
gangguan-gangguan dan drum dan silinder setiap 6
sebagainya. Sehingga akan ada bulan.
perbedaan antara produksi 4. Pelumasan piano regulator
nyata dan produksi teoritis setiap 1 bulan.
menurut perhitungan. 5. Pembersihan dan
Berdasarkan uraian-uraian di pelumasan conveyor setiap
atas, produksi teoritis per jam 3 bulan.
98

6. Pembersihan dan dibersihkan lebih lanjut pada


pelumasan bearing setiap 3 mesin Carding. Dengan
bulan. demikian tujuan penggunaan
7. Pelumasan pada gear end mesin Carding antara lain :
setiap 1 tahun - Membuka gumpalan-
8. Pembersihan ruang fan dan gumpalan kapas lebih lanjut
retrum duct setiap 1 hari. sehingga serat-seratnya
9. Setting gride bars dan terurai satu sama dengan
silinder setiap 3 bulan. lainnya.
10. Setting botom latice dan - Membersihkan kotoran-
spike setiap 6 bulan. kotoran yang masih terdapat
didalam gumpalan kapas
5.13 Proses di Mesin Carding sebersih mungkin.
- Memisahkan serat-serat
Mesin Carding adalah mesin yang sangat pendek dari
yang mengubah bentuk lap serat-serat panjang.
menjadi sliver. Mesin Carding - Membentuk serat-serat
yang biasa digunakan untuk menjadi bentuk sliver
mengolah kapas disebut dengan arah serat ke sumbu
Revolving Flatt Carding. sliver.
Lap hasil mesin Blowing masih Untuk mencapai tujuan tersebut
berupa gumpalan-gumpalan di atas, maka gumpalan-
kapas yang masih mengandung gumpalan kapas yang berupa
serat-serat pendek dan kotoran. lap harus dikerjakan pada mesin
Gumpalan-gumpalan kapas Carding.
tersebut masih perlu dibuka dan
99

Gambar 5.43
Mesin Carding
100

Keterangan : terdapat di bawah rol


1. Gulungan lap pengambil. Kapas yang terbawa
2. Lap rol oleh rol pengambil, kemudian
3. Pelat penyuap dibawa ke depan sampai
4. Rol penyuap bertemu dengan permukaan
5. Rol pengambil (Taker-in / silinder yang bergerak lebih
Licker-in) cepat. Karena arah jarum-jarum
6. Pelat belakang pada permukaan silinder searah
7. Silinder dengan jarum-jarum dari rol
8. Flat pengambil yang bergerak lebih
9. Sisir flat lambat, maka serat-serat yang
10. Pelat depan berada di permukaan rol
11. Doffer pengambil akan dipindahkan ke
12. Sisir Doffer permukaan silinder dan terus
13. Terompet dibawa ke atas. Kecepatan
14. Rol penggilas silinder jauh lebih besar
15. Sliver daripada kecepatan flat dan
16. Terompet kedudukannya saling
17. Rol penggilas berhadapan. Hal ini
18. Coiler mengakibatkan lapisan kapas
19. Can yang terdapat di antara kedua
20. Landasan berputar permukaan tersebut akan
21. Tutup bawah tergaruk dan terurai. Serat-serat
22. Saringan kotoran pendek beserta kotoran-
23. Pisau pembersih kotorannya akan menempel
pada jarum-jarum flat. Oleh sisir
x Proses Bekerjanya Mesin flat, lapisan kapas digaruk
hingga lepas dari jarum-jarum
Gulungan lap diletakkan di atas flat. Serat kapas yang
lap rol. Melalui pelat penyuap, menempel pada jarum-jarum
lap tersebut disuapkan ke rol pada permukaan silinder terus
penyuap. Karena perputaran rol dibawa ke bawah sampai titik
penyuap, maka lapisan kapas singgung dengan permukaan
bergerak ke depan. Lapisan doffer. Karena kecepatan doffer
kapas yang terjepit oleh rol lebih kecil dari kecepatan
penyuap, dipukul oleh rol silinder, maka lapisan kapas
pengambil. akan menumpuk pada
Karena pukulan ini, maka permukaan doffer, sehingga
gumpalan-gumpalan kapas merupakan lapisan kapas yang
menjadi terbuka dan kotoran- cukup tebal. Lapisan ini oleh
kotorannya terpisah oleh doffer kemudian dibawa ke arah
adanya dua pisau pembersih. sisir doffer yang mempunyai
Kotoran-kotoran ini akan melalui gerakan berayun ke atas dan ke
sela-sela batang saringan yang bawah.
101

Sisir doffer mengelupas lapisan Agar putaran gulungan lap


serat kapas yang sangat tipis dapat diatur dan tidak miring
yang disebut web. Web yang atau slip, maka di kanan kiri lap
menggantung bebas kemudian rol dipasang tiang (lap stand)
dengan tangan dimasukkan ke yang memiliki celah-celah
terompet. Dari terompet masuk dimana lap roll ditempatkan.
ke rol penggilas dan keluar Bagian atas dari tiang ini
dengan bentuk yang disebut mempunyai lekukan yang
sliver. Sliver tersebut dengan dipakai untuk meletakkan
tangan dimasukkan ke cadangan gulungan lap.
terompet, kemudian masuk ke
rol penggilas, ke coiler dan
ditumpuk di dalam can.
Selain coiler yang berputar, can
juga berputar di atas landasan
can yang berputar pula,
sehingga sliver yang masuk ke
dalam can dapat tersusun dan
tertumpuk dengan rapih.

5.13.1 Bagian Penyuapan Gambar 5.44


Gulungan Lap
Bagian penyuapan bertujuan
untuk :
- Membuka gulungan lap
- Menyuapkan lap
- Melakukan pembukaan
pendahuluan terhadap Gambar 5.45
lapisan kapas Lap Roll
- Menipiskan lapisan kapas
supaya mudah diuraikan
- Memisahkan kotoran dari
serat
- Memindahkan kapas secara
merata ke permukaan
silinder

Bagian penyuapan lapisan


kapas ini terdiri dari sebuah lap
rol yang permukaannya beralur,
dengan diameter kurang lebih 6
inch dan panjangnya selebar Gambar 5.46
mesin carding. Lap Stand
102

5.13.1.2 Rol Penyuap (Feed


Roller)

Rol penyuap dibuat dari besi


dengan diameter antara 2¼ - 3
inch, serta mempunyai
permukaan yang teratur.
Panjang rol penyuap ini sama
dengan lebar dari pelat
penyuapnya dan dimaksudkan
untuk memegang sementara
Gambar 5.47 serat yang disuapkannya.
Lap Cadangan Bentuk alur pada
permukaannya relatif lebih
5.13.1.1 Pelat Penyuap dalam dan lebih tajam daripada
rol penyuap lapisan kapas,
Pelat penyuap ini berfungsi sehingga dapat menjepit /
sebagai penghubung antara lap memegang serat dengan
rol dengan rol penyuap yang kencang. Rol penyuap ini
ada didepan. terletak diatas ujung depan dari
Pelat ini mempunyai permukaan pelat penyuap yang
atas yang rata serta licin dan melengkung keatas, dengan
dibuat dari besi tuang yang jarak antaranya yang makin
ujung depannya melengkung merapat dibagian depannya.
sedikit keatas sesuai dengan Dengan adanya pembebanan
ukuran dari rol penyuapnya, yang cukup, maka serat yang
serta mempunyai hidung yang melaluinya seakan-akan
disesuaikan dengan rol dipegang / dijepit oleh rol dan
pengambilnya. pelat penyuapnya. Sistem
Bentuk hidung pelat penyuap ini pembebanannya dapat
macam-macam tergantung menggunakan per atau bandul,
kepada serat yang akan namun sistem bandul lebih
dikerjakannya, namun pada lazim digunakan, sebab tidak
umumnya mempunyai bentuk akan berubah-ubah tekanannya,
seperti pada gambar 5.48. tidak seperti yang
menggunakan per, dimana daya
pegas dari per lama kelamaan
makin kurang.
Fungsi dari pelat dan rol
penyuap ini ialah untuk
menyuapkan lapisan kapas
kedepan dengan kecepatan
Gambar 5.48 tetap serta menjepitkannya
Pelat Penyuap
103

selagi rol pengambil (taker-in) digeser mendekati atau


menjalankan pembukaan. menjauhi silinder, sehingga
Kecepatan dari rol penyuap ini jarak antara rol pengambil dan
dapat diubah-ubah dengan silinder dapat diatur.
mengganti roda gigi pengganti, Bagian yang tajam dari gigi
sesuai dengan regangan (draft) gergaji yang dipakai untuk
yang dikehendakinya. membuka serat, kurang lebih
membuat sudut sebesar 80°
5.13.1.3 Rol Pengambil dengan alasnya. Sedang arah
(Taker-in / Licker-in) kawat parut pada permukaan
silinder mempunyai sudut
Rol pengambil ini adalah suatu sebesar 75° sehingga dengan
silinder yang mempunyai demikian dapat menyapu
diameter kurang lebih 9 inch bagian punggung dari gigi
dengan panjang selebar mesin gergaji tersebut pada jarak yang
cardingnya (40 – 45 inch). dekat dan memungkinkan untuk
Permukaan silinder ini ditutup mengelupas dan membawa
dengan gigi yang tajam seperti serat yang ada di rol pengambil.
halnya gigi gergaji yang Seperti terlihat pada gambar
berbentuk segi tiga dan dikenal 5.39 arah putarannya
dengan nama Garnet Wire. sedemikian, sehingga gigi-gigi
Bentuk dan banyaknya gigi gergaji yang tajam mengarah
gergaji ini disesuaikan dengan kebawah pada waktu memukul
jenis dan sifat-sifat dari serat dan membuka serat yang
yang diolahnya. disiapkan oleh rol penyuap yang
Bentuk dari gigi gergaji yang relatif sangat lambat (kurang
tajam pada rol pengambil dapat dari 1 rpm), maka serat yang
dilihat pada gambar dibawah ini. disuapkan tersebut mengalami
pukulan-pukulan beberapa kali,
sehingga sekaligus dapat
dibuka. Namun karena jarak
antara titik jepit rol penyuap dan
gigi gergaji tersebut sering lebih
panjang dari panjang seratnya
Gambar 5.49 sendiri, maka pencabutan serat
Bentuk dari Gigi-gigi pada dalam bentuk gumpalan-
Taker-in gumpalan kecil kadang-kadang
tidak dapat dihindari. Untuk
Pada umumnya untuk serat menghindari hal ini maka bentuk
kapas banyaknya gigi per feet hidung dari pelat penyuap perlu
adalah antara 4000 – 5000 gigi disesuaikan dengan panjang
atau kurang lebih 5 gigi/cm². dari seratnya.
Poros rol pengambil mempunyai Bagian atas dari rol pengambil
landasan (bearing) yang dapat ditutup dengan pelat yang
104

melengkung untuk menahan serat yang ada dipermukaan rol


kemungkinan terlepasnya serat- pengambil.

Gambar 5.50
Rol Pengambil dan Silinder

5.13.1.4 Pisau Pembersih sehingga untuk membersihkan


(Mote Knife) dan secara cermat diperlukan
Saringan Bawah tingkat pembukaan dan
(Under Grid) pembersihan yang lebih teliti
lagi daripada yang dikerjakan di
Untuk membersihkan serat mesin pembuka (blowing).
(kapas) dari patahan batang Pisau pembersih ini biasanya
daun yang kering, debu dan dua buah, dengan mata yang
kotoran-kotoran lain yang masih tajam menghadap ke
terbawa dalam kapas, permukaan taker-in.
dipasanglah dua buah pisau Panjang pisau-pisau ini sama
pembersih dibawah taker-in. dengan panjang taker-in yaitu ;
Jumlah kotoran-kotoran yang 3"
masih terbawa dalam lap 40 – 45” dan lebar 2 , dengan
diperkirakan antara seperempat 8
dan setengahnya yang ada di jarak antara keduanya
kapas mentahnya dan berada sedemikian sehingga kotoran
ditengah-tengah gumpalan- yang dibersihkan dapat jatuh
gumpalan yang kecil dari serat melewati celah diantaranya.
kapas yang ada dalam lap,
105

Bagian yang tajam ini dapat kebawah. Saringan bawah ini


disetel mendekati atau menjauhi biasanya terdiri dari beberapa
permukaan taker-in, demikian batang yang dipasang dibawah
pula sudut ataupun miringnya taker-in dengan celah-celah
pisau-pisau tadi terhadap diantaranya, serta lembaran
permukaan taker-in. Pisau-pisau mental yang berlubang-lubang
ini letaknya hampir vertikal atau yang diletakkan dibelakangnya
membuat sudut sebesar 30º dan menutupi permukaan
dengan garis vertikal. bawah dari taker-in. Dengan
Pada waktu kapas disuapkan adanya saringan ini, maka
oelh rol penyuap dengan serat-serat panjang yang
kecepatan 1 ft/menit dan terbawa oleh taker-in tetap
mendapatkan pukulan / cabitan tertahan, namun kotoran-
dari gigi-gigi yang tajam dari kotoran serta serat-serat yang
taker-in, dengan kecepatan pendek dapat jatuh kebawah.
permukaannya kurang lebih Jarak antara saringan dengan
1000 ft/menit, maka pembukaan permukaan taker-in ini dapat
yang sempurna diharapkan pula diatur sesuai dengan
telah terjadi, sehingga kotoran- tingkat kebersihan dari
kotoran yang ada dalam kapas kapasnya dan biasanya dekat
telah terbuka. Dengan adanya pisau pembersih agak longgar
pisau pembersih yang letaknya dan makin rapat kebelakang.
dekat dengan permukaan taker- Dibawah taker-in terdapat
in, maka kotoran-kotoran sekatan, sehingga limbah yang
tersebut akan tertahan dan berasal dari pisau pembersih
terlepas dari serat kapasnya. yang biasanya terdiri dari
Untuk membantu agar serat- kotoran-kotoran, pecahan-
serat kapas yang panjang pecahan batang dan daun
jangan turut terpisahkan oleh kapas jatuh kebawah
pisau-pisau pembersih dan dibelakang sekatan, sedang
jatuh kebawah taker-in, maka limbah yang berasal dari
dibelakang pisau pembersih dan saringan yang lebih banyak
dibawah permukaan taker-in mengandung serat-serat kapas
dipasang semacam saringan akan jatuh kebawah didepan
untuk menjaga jangan sampai sekatan.
terlalu banyak serat yang jatuh
106

Gambar 5.51
Rol Pengambil, Pisau Pembersih dan Saringan

5.13.1.5 Tekanan Pada Rol dipegang / dijepit antara rol


Penyuap penyuap dan pelat penyuap.
Jepitan ini diperoleh dengan
Agar serat yang disuapkan ke memberikan tekanan atau
rol pengambil tidak mudah beban rol penyuap. Sistem
dicabut pada waktu kena pembebasan yang sederhana
pukulan / pembukaan dari rol pada rol penyuap ini dapat
pengambil, maka serat yang mempergunakan bandul seperti
disuapkan tersebut harus terlihat pada gambar 5.52.

Gambar 5.52
Sistem Pembebanan dengan Bandul pada Rol Penyuap
107

Seperti terlihat pada gambar pembebanan atau tekanan pada


5.52, karena adanya beban dari rol penyuap tersebut sebesar
bandul W dan ujung lengan 2 x P.
sebelah kanan tertahan oleh Kalau berat rol penyuap sendiri
penahan, penekan akan = N maka jumlah tekanan yang
memberikan tekanan pada rol dikenakan kepada serat yang
penyuap di A. Besar tekanan ini dijepitnya menjadi 2 P + N cos
dapat diatur dengan mengubah- D.
ubah letak bandul dan dapat Dalam praktiknya besar D
dihitung sebagai berikut : antara 35º dan 45º dan L
Kalau misalkan besarnya panjang rol penyuap antara 40 –
tekanan akibat bandul W 45 inch, sehingga jepitan yang
tersebut pada rol penyuap dikenakan kepada setiap lebar 1
sebesar P, jarak gaya tekan P inch dari lapisan serat adalah :
terhadap penahan dititik B sama 2 P  N cos D
dengan b sedangkan jarak Jepitan / inch =
bandul terhadap titik B sama L
dengan a, berat rol penyuap 5.13.1.6 Mekanisme
sama dengan N dan sudut Pemisahan Kotoran
antara N dan P = D , maka dari Serat pada
kalau kita ambil momen Taker-in
terhadap titik B, akan didapat :
Sebagaimana yang telah
a
W.a – p b = atau P = W. dikemukakan terdahulu, taker-in
b mempunyai putaran yang cukup
Jadi kalau W = 20 lbs tinggi dan karena adanya
a = 10,75 inch saringan dan tutup diantaranya
b = 1,25 inch maka terjadilah semacam aliran
10,75 udara pada permukaannya.
maka P = x 20 Karena jarak saringan bawah
1,25
yang makin merapat
= 172 lbs
kebelakang, maka dapat
dimengerti kalau tekanan udara
Karena beban tersebut
didepan lebih besar daripada
dikenakan pada kedua ujung
dibelakang (daerah rol penyuap)
dari rol penyuap maka besar
108

Gambar 5.53
Bagian dari Rol Pengambil

Terjadinya pemisahan kotoran R = jarak dari titik pusat


dari serat pada taker-in dapat taker-in
diterangkan sebagai berikut : G = gaya tarikan bumi
Kalau pada jarak yang sama (D)
dari pusat taker-in, terdapat Karena berat jenis kotoran pada
kotoran dan kapas, maka gaya umumnya lebih besar dari berat
centrifugal yang bekerja jenis kapas, maka bt > bk
padanya, masing-masing ialah : sehingga Kt > Kp.
Agar kotoran dapat jatuh
V
2 kebawah dan serat tetap
K=M terbawa oleh taker-in, maka
R diatur sedemikian agar
bt 2 bk
Kt = Z R Kp = Z2 R
g g Kt > T > Kp dimana T = Ti – To
Dimana :
Kt = gaya centrifugal pada Dengan demikian, kalau kedua
kotoran gaya yang bekerja pada kotoran
Kp = gaya centrifugal pada dan kapas kita jumlahkan, maka
kapas resultantenya masing-masing
bt = berat kotoran seperti pada gambar 5.54.
bk = berat kapas
m = massa
V = kecepatan permukaan
Z = kecepatan sudut
109

menjadi serat-serat yang


terpisah satu sama lainnya.
Bagian ini terdiri dari :
- silinder utama
- pelat depan dan pelat
belakang
- flat
- saringan silinder (silinder
screen)

Gambar 5.54 5.13.2.1 Silinder Utama


Gaya-gaya yang Bekerja pada
Kotoran dan Kapas Silinder utama dari mesin
Carding merupakan jantung dari
Keterangan : semua kegiatan pada mesin
o = kotoran Carding, sedang semua bagian-
a = kapas bagian lainnya dipasang
R = Ti – To = aliran udara disekelilingnya dan secara
M = pisau pembersih langsung atau tidak langsung
Rp = resultante pada kapas disesuaikan dengannya.
Rt = resultante gaya pada Silinder ini dibuat dari besi
kotoran tuang yang berbentuk seperti
Dimana Rt > Rp drum dengan garis tengah
kurang lebih 50 inch serta lebar
Karena Kt > R > Kp, maka Rt > 40 atau 45 inch. Permukaan
Rp dan arah Rt lebih cenderung dalam dari silinder ini diperkuat
kebawah, sehingga kotoran dengan besi.
terlempar kearah bawah. Pada kedua penampang sisi kiri
Karena terlemparnya kotoran kanannya dipasang kerangka,
kebawah ini serta posisi dari seperti halnya jari-jari pada roda
pisau pembersih, maka kotoran dan ditengahnya dipasang
akan tertahan dan jatuh poros.
kebawah dan karena Rp Diantara jari-jari pada
nampak searah dengan R, penampang tersebut ditutup
maka akan terus terbawa oleh dengan pelat besi, untuk
putaran taker-in. menghindari kemungkinan-
kemungkinan timbulnya aliran
5.13.2 Bagian Penguraian udara yang tidak dikehendaki.
Poros tersebut merupakan
Bagian ini merupakan bagian sumbu putar dari permukaan
utama dari mesin Carding, silinder dan diletakkan diatas
dimana terjadi penguraian suatu kerangka dengan
gumpalan-gumpalan serat menggunakan landasan
(bearing) pada kedua ujungnya.
110

Kerangka dimana poros Ujung-ujung kawat yang tajam


tersebut diletakkan terdiri dari pada permukaan silinder
dua pasang kerangka panjang tersebut menghadap kearah
yang dihubungkan dibagian putaran silindernya dan berputar
depan dan belakang dengan dengan kecepatan 2200
kerangka penguat. Untuk ft/menit. Kecepatan putaran
mencegah terjadinya getaran- silinder pada mesin card
getaran yang tidak dikehendaki, biasanya berkisar antara 155
silinder tersebut dibuat sampai 170 putaran per menit,
seimbang (dynamically tergantung kepada serat yang
balanced) serta permukaannya diolahnya. Pada umumnya
dibuat konsentrik terhadap titik makin panjang seratnya, makin
pusatnya. rendah putarannya.
Untuk keperluan memasang Kalau kita perhatikan hubungan
flexible-wire clothing, pada antara taker-in dengan silinder,
permukaannya dibuat lubang- seperti yang terlihat pada
lubang kearah melintang dari gambar 5.54, maka arah gigi-
putarannya sebanyak empat gigi yang tajam pada taker-in
sampai enam baris dan lubang juga menghadap kearah
tersebut kemudian ditutup rapat putaran taker-in dan keduanya
dengan kayu sehingga rata (taker-in dan silinder) bergerak
dengan permukaannya. kearah pada titik singgungnya,
Dalam hal menggunakan namun karena kecepatan
metalic-wire, lubang tersebut permukaan taker-in kurang lebih
tidak perlu dibuat. hanya setengah kecepatan
Permukaan dari silinder tersebut permukaan silinder, maka
kemudian ditutup dengan card ujung-ujung yang tajam dari
clothing, sehingga menyerupai bawah atau gigi-gigi pada
permukaan parut. Pemasangan permukaan silinder akan
card clothing ini harus dilakukan menyapu punggung gigi gergaji
secara khusus supaya pada taker-in dititik singgung
permukaannya dapat rata, antara keduanya. Karena jarak
terutama pada awal dan akhir antara kedua permukaan
dari pemasangannya. tersebut sangat dekat (0,007
Pada umumnya card clothing inch), maka serat-serat yang
yang dipakai mempunyai ujung ada dipermukaan taker-in akan
yang tajam seperti kawat parut, terkelupas dan terbawa ke
sebanyak 400 sampai 650 buah permukaan silinder ialah seperti
setiap inch persegi (90 s/d 130 dipindahkan ke permukaan
counts) atau kurang lebih silinder.
sebanyak : 3.000.000 buah
pada permukaan silindernya Pada kedua sisi silinder tersebut
yang mempunyai garis tengah terdapat kerangka dengan
50 inch serta lebar 40 inch. enam penyangga untuk
111

menempatkan card flat dan Pada permukaan yang datar ini


peralatannya. ditutup dengan Card clothing,
Penyangga ini dapat disetel naik sehingga permukaannya
atau turun dengan memutar menyerupai parut. Bentuk
skrupnya, sehingga jarak antara penampang yang seperti huruf
permukaan-permukaan flat dan T tersebut dimaksudkan untuk
silinder dapat diatur sesuai memperkuat permukaan flat,
dengan keperluannya. Pada sehingga tidak mudah
kedua sisi kerangka tersebut melengkung pada waktu
juga ditempatkan pelat-pelat penggarukan.
yang melengkung dan
konsentris dengan silindernya,
untuk menahan serat-serat yang
mungkin beterbangan pada
waktu penguraian atau
penggarukan.

5.13.2.2 Pelat Depan dan


Pelat Belakang
Gambar 5.55
Bagian depan silinder antara flat Penampang Melintang dan
dan doffer ditutup dengan pelat- Memanjang dari Flat Carding
pelat yang melengkung seperti
permukaan silindernya, Pada umumnya jumlah flat
demikian pula bagian belakang untuk sebuah mesin Carding
silinder antara flat dan taker-in. kurang lebih 110 buah dan
Penutupan permukaan silinder masing-masing dipasang pada
pada bagian-bagian tersebut mata rantai, sehingga
dimaksudkan agar serat-serat membentuk semacam
yang ada di permukaan silinder conveyor. Dari 110 flat tersebut
tidak beterbangan kemana- hanya sebanyak 45 buah saja
mana, meskipun terjadi aliran yang menghadap kebawah
udara selama proses. kearah permukaan silinder dan
berjalan kedepan dalam posisi
5.13.2.3 Top Flat kerjanya (working position),
sedang flat-flat yang lain berada
Top flat pada mesin carding diatasnya dan bergerak
dibuat dari batang besi yang kebelakang dalam keadaan
mempunyai penampang seperti tidak bekerja. Dalam posisi
huruf T. Panjang top flat ini bekerja, ujung dari flat yang
selebar mesin cardingnya dan tidak tertutup dengan Card
permukaan atas yang datar dari clothing, diletakkan dan
flat tersebut lebarnya kurang menyelusur kedepan diatas
lebih 1 3/8 inch (± 35 mm). flexible benda yang ada disisi
112

silinder. Letak flat-flat pada


rantainya adalah sedemikian,
sehingga pada waktu flat
tersebut menyelusur kedepan
diatas flexible bend dalam posisi
kerjanya, menutup rapat
permukaan silinder.
Selama flat tersebut bergerak
kebelakang dalam posisi tidak Gambar 5.56 Saringan Silinder
bekerja, flat tersebut dilalukan (Cylinder Screen)
melalui piringan-piringan,
sedang bergeraknya flat Pemasangan saringan silinder
tersebut disebabkan karena di bagian depan disetel 0,18
perputaran roda gigi sprocket inch dari permukaan silinder.
yang terpasang di bagian Bagian tengah tepat dibawah
depan. poros silinder disetel 0,058 inch.
Bagian belakang yang dekat
5.13.2.4 Saringan Silinder dengan taker-in disetel 0,029
(Cylinder Screen) inch.
Perlu diperhatikan bahwa
Saringan silinder ini merupakan penyetelan tersebut mula-mula
penutup atau saringan dari renggang pada waktu kapas
bagian bawah silinder. mulai masuk di bagian bawah
Fungsinya adalah sebagai dan makin lama makin rapat.
berikut : Dengan cara demikian, kapas
- menahan kapas yang ada yang tidak terambil oleh doffer
dipermukaan silinder supaya akan terbawa ke bawah oleh
tidak jatuh kebawah. putaran silinder. Dan oleh
- membiarkan kotoran- perputaran silinder tersebut
kotoran, debu dan serat- kapas akan terlempar keluar
serat pendek jatuh melalui oleh adanya gaya centrifugal,
celah-celah saringan. tetapi kapas tersebut tertahan
Saringan tersebut dapat dilihat oleh pelat saringan bagian
pada gambar dan terdiri dari : depan. Karena jarak antara
- pelat logam sepanjang 13 saringan dengan permukaan
inch di bagian belakang. silinder disetel makin
- batang-batang saringan kebelakang makin rapat, maka
sejumlah 52 buah yang kapas dipaksa merapat ke
merentang sepanjang 36 permukaan silinder lagi. Prinsip
inch. penyetelan yang demikian
- pelat logam sepanjang 11 berlaku pula untuk saringan
inch di bagian depan. taker-in hanya bedanya disini
makin kedepan makin rapat.
113

Saringan silinder tidak banyak


memerlukan pemeliharaan,
hanya pada waktu-waktu
tertentu harus dibersihkan,
diperiksa serta diluruskan dan
disetel kembali. Limbah yang
ada dibawah saringan ini Gambar 5.57
seharusnya terdiri dari serat- Stripping Action
serat pendek saja yang
bercampur dengan kotoran / 5.13.2.6 Gerakan Penguraian
debu. Warnanya harus kecoklat- (Carding Action)
coklatan atau abu-abu. Apabila
warnanya keputih-putihan, Carding action adalah suatu
menandakan bahwa banyak kegiatan yang digunakan untuk
serat-serat panjang yang membuka dan menguraikan
terbuang. Untuk serat yang masih berupa
membetulkannya, penyetelan gumpalan-gumpalan. Carding
perlu dirapatkan. action terjadi apabila arah
bagian jarum yang tajam pada
5.13.2.5 Gerakan kedua permukaan yang
Pengelupasan bergerak berlawanan arah.
(Stripping Action) Kecepatan kedua permukaan
tersebut adalah sedemikian
Stripping action adalah suatu rupa sehingga bagian yang
kegiatan yang diperlukan untuk tajam dari jarum pada
mengelupas / memindahkan permukaan yang bergerak lebih
serat yang sudah berupa cepat, seakan-akan beradu
lapisan. Stripping action terjadi dengan bagian yang tajam dari
apabila arah bagian jarum yang jarum pada permukaan yang
tajam pada kedua permukaan dilaluinya.
sama. Kecepatan kedua
permukaan adalah sedemikian
rupa sehingga bagian yang
tajam dari jarum pada
permukaan yang bergerak
cepat, seakan-akan menyapu
bagian yang tumpul dari jarum
pada permukaan yang
dilaluinya.
Gambar 5.58
Carding Action
5.13.2.7 Pemisahan Serat
Pendek dari Serat
Panjang
114

sebagian dari serat ternyata


Proses ini terjadi pada saat pindah dari permukaan yang
lapisan kapas yang berada bergerak lebih cepat (silinder)
antara permukaan silinder dan ke permukaan yang bergerak
permukaan top flat (yang aktif) lebih lambat (flat). Makin cepat
tergaruk dan terurai. Serat bergeraknya flat tersebut, makin
pendek yang mempunyai ikatan banyaklah serat yang
dengan jarum silinder relatif dipindahkannya.
lebih kecil dibanding serat Prinsip pemindahan ini dipakai
panjang akan terlepas ikatannya untuk memindahkan serat-serat
dengan jarum-jarum silinder dan yang ada dipermukaan silinder
menempel pada jarum-jarum dengan menggunakan silinder
top flat. Berpindahnya serat yang lebih kecil yang
pendek dari permukaan silinder ditempatkan di depan silinder,
ke permukaan top flat juga silinder yang lebih kecil ini
dibantu oleh adanya gaya disebut Doffer dan
centrifugal yang ditimbulkan permukaannya ditutup dengan
akibat dari putaran silinder itu card clothing yang arah jarum-
sendiri. jarum yang tajam berlawanan
Serat pendek yang menempel dengan yang ada di silinder,
pada jarum-jarum top flat sehingga terjadi gerakan
selanjutnya dibawa top flat Carding.
untuk dikupas dan dibuang. Pada titik singgungnya, silinder
dan doffer bergerak dengan
5.13.3 Bagian Pembentukan arah yang sama, kebawah dan
dan Penampungan karena kecepatan permukaan
Sliver doffer relatif lebih lambat dari
kecepatan permukaan silinder
Bagian ini merupakan bagian (kurang lebih seperdua
yang terakhir dari mesin puluhnya), maka serat-serat
Carding dan dimaksudkan untuk yang ada di permukaan silinder
membentuk serat-serat yang akan pindah ke permukaan
telah diurai dan dibersihkan doffer dan dibawa ke depan.
sebelum menjadi sliver dan Lapisan tipis dari serat-serat
kemudian ditampung kedalam yang ada di permukaan doffer
can. ini disebut web dan jumlahnya
Bagian ini terdiri dari : cukup untuk dibuat menjadi
- Doffer sliver.
- Sisir doffer (doffer comb) Bagaimana terjadinya
- Rol penggilas (calender roll) pemindahan yang hampir
- Coiler secara keseluruhan dari silinder
Pada gerakan penguraian ke doffer ini, sampai sekarang
(Carding action), selain serat- masih belum di mengerti benar-
serat terurai satu sama lainnya, benar walaupun diperkirakan
115

adanya beberapa faktor yang sisir doffer (doffer comb) dan


membantu sebagai berikut : berbentuk lapisan tipis dari serat
- Permukaan doffer yang yang disebut web, sehingga
bersinggungan dengan permukaan yang bersinggungan
silinder selalu bersih dari dengan silinder selalu bersih
serat. dan siap untuk menampung
- Card clothing yang dipakai serat-serat dari permukaan
pada doffer selalu lebih silinder lagi. Berat web ini telah
halus dari yang dipakai pada disesuaikan dengan berat sliver
silinder. Karena nomornya yang diinginkan, sehingga untuk
biasanya 10 nomor lebih mengubah web menjadi sliver,
halus, berarti jumlah jarum web tersebut cukup
persatuan luas lebih banyak, dikumpulkan menjadi satu dan
demikian pula daya dilakukan melalui suatu
sangkutnya. terompet. Serat-serat tersebut
- Karena keduanya berbentuk menggabung menjadi satu dan
lingkaran, silinder dan doffer kemudian digilas antara
bertemu pada suatu titik sepasang rol penggilas untuk
singgungnya saja dan lebih merapatkan serat-serat
segera berpisah setelah dalam sliver tersebut. Sliver
serat berpindah dari silinder tersebut kemudian ditampung
ke doffer sehingga dalam suatu can dan cara
kesempatan untuk meletakkannya diatur
berpindah lagi ke silinder sedemikian, sehingga susunan
hampir tidak ada. sliver dalam can tersebut
- Adanya gaya centrifugal berbentuk seperti kumparan
yang berasal dari putaran (coil).
silinder yang cepat,
cenderung membantu serat- 5.13.3.1 Doffer
serat yang ada di
permukaannya dilemparkan Pada prinsipnya bentuk dan
ke doffer dan karena konstruksi dari doffer tidak
putaran doffer jauh lebih banyak berbeda dengan
lambat, perpindahan dari silinder. Perbedaan antara
doffer ke silinder tidak keduanya terletak antara lain
terjadi. dalam hal-hal sebagai berikut :
- Adanya aliran udara antara - Kalau diameter silinder
kedua permukaan tersebut biasanya kurang lebih 50
diduga membantu inch, diameter doffer ini
pemindahan serat-serat. biasanya hanya sekitar 27
inch.
Serat-serat yang ada di - Card clothing yang dipakai
permukaan doffer ini setelah untuk menutup permukaan
dibawa ke depan dikelupas oleh doffer, biasanya 10 nomor
116

lebih halus daripada yang ditinjau dari gerakannya


dipakai untuk menutup adalah gerakan carding dan
silinder. Jadi kalau mengenai terjadinya
silindernya menggunakan perpindahan serat tersebut
card clothing nomor 110 telah diterangkan dimuka.
maka doffernya Jadi fungsi dari doffer ini
menggunakan card clothing antara lain untuk
nomor 120. mengumpulkan serat-serat
- Bearing (landasan) pada dari permukaan silinder dan
silinder tetap pada memindahkannya menjadi
kerangkanya, sedang lapisan serat yang tipis dan
bearing atau landasan untuk rata ke permukaannya dan
doffer ini prinsipnya dapat kemudian membawanya ke
diatur, sehingga jarak antara depan dalam bentuk lapisan
permukaan silinder dan tipis secara kontinyu,
doffer dapat diatur sesuai sehingga dapat mudah
dengan keperluannya. Jarak dikelupas oleh sisir doffer
ini biasanya sekitar : 0,007 dan dibentuk menjadi sliver.
inch dan sangat penting Karena silinder yang di
artinya kalau kita depannya mempunyai fungsi
menginginkan hasil yang tiada lain ialah untuk doffing
baik. (mengambil atau
- Kalau arah dari jarum yang memindahkan), maka
tajam pada silinder dititik dinamakan doffer.
singgung antara silinder dan Kalau kita perhatikan,
doffer menghadap kebawah, bahwa kecepatan
pada doffer mengarah permukaan silinder 20 – 30
keatas dan keduanya kali kecepatan permukaan
bergerak kearah yang sama doffer, maka dapat kita
ialah kebawah. Tetapi harapkan bahwa setiap inch
karena kecepatan dari permukaan doffer
permukaan silinder jauh sebenarnya menampung
lebih besar dari daripada serat-serat dari permukaan
kecepatan permukaan doffer silinder sepanjang 20 – 30
(20 – 30 kalinya), maka inch. Kalau kita pernah
terjadi carding action. melihat web dari doffer,
Gerakan antara silinder dan maka kita dapat
doffer ini sering dikelirukan membayangkan, betapa
dengan gerakan stripping, tipisnya lapisan serat yang
berhubung kenyataannya ada dipermukaan silinder.
serat-serat yang ada di Sehingga untuk
permukaan silinder mengelupasnya menjadi
dipindahkan ke permukaan web yang kontinyu, lapisan
doffer. Meskipun demikian yang sangat tipis di
117

permukaan silinder tersebut demikian memungkinkan web


perlu dikumpulkan terlebih yang dihasilkan dapat
dahulu, sehingga serat- mempunyai kekuatan. Kalau
seratnya mempunyai cukup keadaan serat-seratnya lurus
geseran satu sama lainnya dan searah, web yang tipis
dan mudah untuk tersebut sangat sulit untuk
dipindahkan dan dibentuk dilepas dan dibentuk menjadi
menjadi sliver. sliver secara kontinyu.
Untuk sekedar memberikan
gambaran mengenai 5.13.3.2 Sisir Doffer (Doffer
penyebaran serat di permukaan Comb)
card clothing kiranya ada
manfaatnya kalau diketahui Serat-serat yang telah berada di
bahwa untuk ukuran sliver 60 permukaan doffer tersebut
grains per yard yang dihasilkan kemudian dibawa berputar
dan kehalusan card clothing bersama-sama putaran doffer,
nomor 120 dan kecepatan mula-mula kebawah dan
produksi yang wajar, maka kemudian keatas. Selama
setiap inch persegi dari dibawa kebawah oleh doffer
permukaan doffer akan terdapat tersebut serat-serat tidak diapa-
kurang lebih 700 serat. Karena apakan, sehingga perlu dijaga
untuk nomor 120 terdapat 600 agar tidak terjadi kerusakan
jarum per inch 2 maka rata- pada webnya. Karena adanya
ratanya 1,2 serat per jarum aliran udara, dapat
(pembuktian ini dapat dicoba menimbulkan perubahan pada
sendiri oleh pembaca sebagai susunan serat di webnya, maka
latihan perhitungan di carding). bagian bawah dan samping dari
Kalau kita perhatikan betul-betul doffer tersebut juga tertutup.
posisi dan kondisi serat-serat Sekeluarnya dari bagian bawah
yang ada di web dari doffer, doffer yang tertutup tersebut,
maka akan kelihatan bahwa serat-serat yang ada di
keadaan serat-serat tersebut permukaan doffer dibawa
tidaklah lurus dan posisinya keatas ke bagian depan dari
juga tidak searah, tetapi banyak mesin Carding. Di bagian depan
mempunyai lekukan serta ini, web pada doffer kemudian
letaknya banyak yang dikelupas oleh sisir doffer tanpa
bersilangan. mengalami kerusakan atau
Karena keadaan tersebut, maka perubahan-perubahan. Sisir
tujuan dari carding tidak doffer tersebut dibuat dari pelat
mencakup pelurusan serat dan baja yang lurus dengan lebar
kalau terjadi pelurusan sifatnya kurang lebih 1 inch dan di
hanya sementara saja. bagian bawahnya bergigi dan
Disamping itu keadaan yang biasanya 16 gigi per inchnya.
Sisir tersebut dipasang pada
118

poros sisir doffer (diameter ± 1,5 kecepatan permukaan doffer


inch) dengan perantaraan 4 – 6 ialah :
jari penguat, sedemikian
sehingga posisinya horisontal 22
terhadap poros sisir doffer. 10 x S x d = 10 x x 27
7
Pemasangan sisir doffer
= 900 inch
tersebut harus dilakukan
dengan teliti, agar sisirnya tetap
Sedang kalau jarak goyangan 1
lurus dan berjarak sama ke
inch, maka panjang permukaan
permukaan doffernya (0,010 –
yang disapunya selama satu
0,20 inch) salah satu ujung dari
menit oleh sisir doffer ialah1200
poros sisir doffer tersebut
inch.
digoyangkan oleh eksentrik
Hal ini berarti jarak 900 inch
(Reciprocated) pada sumbunya,
disapu oleh sapuan sepanjang
sedemikian sehingga sisirnya
1200 inch atau dengan kata lain
bergerak bolak-balik keatas-
kebawah kurang lebih pada
900
hanya x 100% = 75% saja
jarak 1 - 1¼ inch dengan tepat. 1200
Kecepatan goyangan ini yang dimanfaatkan. Kalau
berkisar antara 1200 – 1600 doffernya berputar lebih lambat,
goyangan per menit. Karena makin kecil pula
arah jarum pada permukaan pemanfaatannya. Dengan
doffer dibagian depan tersebut demikian maka perlu adanya
kebawah, maka pada waktu penyesuaian antara kecepatan
sisir bergerak kebawah akan doffer dan sisir doffernya, makin
menyapu punggung dari jarum- besar putaran doffernya, harus
jarumnya yang bergerak keatas. makin besar pula kecepatan
Dengan demikian gerakan sisirnya.
antara doffer dan sisir doffer Gerakan sisir doffer ini, pada
tersebut adalah gerakan prinsipnya berasal dari putaran
stripping, sehingga web yang silinder utama yang
ada di permukaan doffer dihubungkan ke suatu gerakan
terkelupas. eksentrik, dimana poros dari
Gerakan keatas dari sisir doffer sisir tersebut ditempatkan.
tersebut tidak menghasilkan Dengan demikian setiap putaran
apa-apa, demikian pula dari eksentrik akan
sebagian dari gerakan mengakibatkan sisir doffer
kebawahnya. Hal ini dapat bergerak bolak-balik keatas-
dijelaskan sebagai berikut : kebawah satu kali.
Kalau putaran doffernya 10 rpm Untuk putaran silinder 165 rpm
dan kecepatan goyangnya dari dengan pulley sebesar 18”
sisirnya 1200 goyangan per maka kalau goyangan sisir
menit, maka setiap menitnya doffer 1200 goyangan per
menit, besar pulley diporos
119

eksentrik kira-kira harus 2 inch. menarik dan melakukan lewat


Karena ukuran ini terlalu kecil suatu terompet dan kemudian
dalam prakteknya maka digilas oleh rol penggilas. Rol
hubungan dari silinder ke penggilas ini dibuat dari besi
eksentrik tidak langsung, tetapi tuang dengan diameter antara
melalui pulley perantara yang 3 – 4 inch dan panjang 6 inch.
ditempatkan antara silinder dan Permukaannya dipolis sehingga
doffer. Jadi dari silinder licin, agar serat yang melaluinya
dihubungkan ke pulley tidak tersangkut. Letak rol
perantara yang diametenya penggilas ini di kerangka bagian
antara 6 – 9 inch dahulu, depan dan berada ditengah-
kemudian dari pulley yang tengah kerangka, sedikit lebih
diameternya 9 – 14 inch yang rendah dari sisiri doffer. Poros
seporos dengan pulley rol penggilas yang bawah
perantara tersebut, baru ke dihubungkan ke doffer. Sedang
pulley eksentrik yang ujung poros yang lain
berdiameter 3 – 4 inch. Dengan dihubungkan ke rol atas dan
demikian kecepatan goyangan coiler dengan perantaraan roda-
eksentrik akan sebesar roda gigi. Dengan demikian
8 12 maka kecepatan putaran rol
165 x x = 1260 ppm. penggilas selalu mengikuti
6 5
kecepatan putaran doffernya
dan putaran rol penggilas
bawah adalah positif.
Berhubung web dari doffer
tersebut sangat tipis dan lemah,
maka untuk memudahkan
penampungannya perlu diubah
dahulu menjadi bentuk yang
lebih padat dan kuat, yang
dinamakan sliver. Untuk ini,
maka web tersebut dikumpulkan
dahulu dengan melakukan lewat
pengantar web yang mengubah
lapisan tipis web menjadi bentuk
yang penampangnya bulat dan
Gambar 5.59 Doffer Comb
kemudian memadatkannya
melalui suatu terompet dengan
5.13.3.3 Rol Penggilas
lubang yang berdiameter sekitar
¼ inch.
Web yang telah dikelupas dari
Agar rol penggilas dapat
doffer tersebut, kemudian
menarik dan memadatkan sliver
dikumpulkan dan dipadatkan
tersebut lebih lanjut, perlu
menjadi sliver dengan jalan
adanya tekanan antara
120

pasangan rol penggilas. juga karena adanya tekanan


Tekanan ini diperoleh selain antara rol atas dan bawah
karena beratnya rol atas sendiri dengan perantaraan penekan.
dan biasanya sekitar 20 lbs,

Gambar 5.60
Rol Penggilas (Calender Roll)

Karena permukaan rol tekanan pada rol penggilas


penggilas tersebut licin, maka harus cukup dan lubang
kalau tekanannya tidak sesuai terompetnya harus sesuai
dan pada web ada bagian yang dengan ukuran dari slivernya.
sedikit lebih tebal dari
semestinya, sehingga 5.13.3.4 Coiler
mengalami sedikit kelambatan
dalam terompet, maka dapat Sekeluarnya sliver dari rol
terjadi slip. Hal ini dapat penggilas, sliver tersebut terus
mengakibatkan web yang ada dibawa keatas coiler, sebelum
diantara doffer dan rol penggilas ditampung kecalam can.
mengendor dan menumpuk di Adapun fungsi dari coiler ialah
depan doffer dan menjadi untuk menempatkan dan
limbah. mengatur sliver kedalam can
Untuk menghindari kejadian sedemikian, sehingga letak dan
yang demikian, maka besarnya bentuk didalam can tersebut
121

seperti kumparan-kumparan Terompet ini bentuknya sama


dengan diameter sedikit lebih saja dengan terompet yang ada
kecil dari jari-jari can dan di belakang rol penggilas, hanya
masing-masing lingkaran dari ukurannya sedikit lebih kecil dan
kumparan sliver tersebut berada disesuaikan dengan ukuran dari
disekeliling sumbu can. Dengan sliver yang dihasilkan.
penempatan sliver yang Suatu rumus yang sering
demikian tersebut sliver digunakan untuk menentukan
kemudian dapat ditarik keluar ukuran lubang dari terompet
dari can tanpa mengalami mesin carding adalah sebagai
keruwetan. berikut :
Diameter lubang = multiplier
berat sliver ( grain) / yard (inch)

Biasanya multiplier untuk


carding kapas = 0,022.
Sebagai contoh, ukuran lubang
untuk sliver yang beratnya 56
Gambar 5.61 grains per yard, maka diameter
Letak Sliver didalam Can terompet yang sesuai : 0,022 x
56 = 0,165 inch.
Adapun coiler terdiri dari : Dibawah ini diberikan pedoman
- Terompet untuk menentukan besarnya
- Sepasang rol penarik lubang untuk bermacam-macam
- Pengantar sliver (tube ukuran dari sliver yang
wheel) dikeluarkan oleh salah satu
- Alas can yang berputar (turn pembuat mesin.
table)
- Can
Tabel 5.3 :
Diameter Terompet yang sesuai untuk Ukuran Sliver

Berat sliver dalam Diameter terompet dalam inch


grains per yard Menurut pabrik Menurut rumus
40 0,140 0,139
45 0,150 0,148
50 0,160 0,156
55 0,167 0,163
60 0,175 0,171
65 0,182 0,177
70 0,190 0,184
122
Dari terompet, sliver tersebut bentuk lingkaran-lingkaran kecil,
ditarik oleh sepasang rol yang berada antara tepi can
penggilas yang konstruksinya sampai titik pusat can dan
menyerupai rol penggilas setiap lingkaran sliver
sebelumnya, hanya ukurannya berikutnya selalu berada diatas
lebih kecil (diameter = 2 inch). lingkaran yang dibentuk
Kemudian sliver dimasukkan sebelumnya dengan titik pusat
kedalam coiler tube dan melalui yang tidak sama. Dengan
perantaraan roda gigi, maka demikian kalau sliver ditarik
coiler tube akan berputar. keluar untuk disuapkan ke
proses berikutnya, tidak akan
mengalami kerusakan-
kerusakan dan geseran-geseran
yang berarti, meskipun sliver
tersebut sebenarnya tidak
mempunyai twist, kecuali sedikit
twist yang diakibatkan karena
putaran coiler.
Can yang dipakai untuk
menampung sliver, didalamnya
mempunyai alas yang ditahan
dengan per yang gunanya
Gambar 5.62 untuk :
Penampungan Sliver dalam Can 1. Menekan sliver yang ada
didalam can ke permukaan
Karena coiler ini letaknya pelat coiler sehingga
serong, maka sliver yang keluar menjadi agak padat
dari coiler tube berputar dengan tumpukannya.
titik pusat roda gigi coiler. 2. Kalau sliver disuapkan ke
Disekeliling roda gigi coiler ada proses berikutnya dan
pelat coiler yang tidak berputar, jumlahnya tinggal sedikit,
yang gunanya untuk menekan maka sliver yang ada
sliver yang ada didalam can. didalam can dengan
Sliver yang keluar dari coiler sendirinya akan terangkat
tube kemudian ditampung keatas, sehingga dapat
kedalam suatu can, yang mengurangi jarak antara titik
diletakkan diatas suatu alas can tarik dan alas sliver. Kalau
yang berputar dengan titik putar jarak ini terlalu jauh dapat
yang tidak sama dengan titik mengakibatkan terjadinya
putar coiler tubenya. regangan.
Karena alas can berputar lebih
lambat dari putaran coiler
tubenya, maka coiler tube akan
meletakkan slivernya dalam
123
5.13.4 Pengujian Mutu Hasil

Untuk menghasilkan benang


dengan mutu yang baik, perlu
dilakukan pengawasan terhadap
mutu bahan sebelum menjadi
benang.
Terhadap hasil produksi mesin
Carding perlu dilakukan
pengawasan-pengawasan yang
meliputi :
- pengujian nomor sliver
Carding Gambar 5.63
- pengujian kerataan sliver Warp Block
Carding
- pengujian Persentase waste

Pengujian dilaksanakan pada


atmosfir yang standar dengan
suhu 70º F dan kelembaban
relatif 65%.

5.13.4.1 Pengujian Nomor


Sliver Carding

Pengujian nomor dilakukan


dengan cara :
- menyiapkan alat pengukur
panjang sliver yang disebut Gambar 5.64
Wrap Block Neraca Analitik
- menyiapkan alat pengukur
berat yang disebut Neraca 5.13.4.2 Pengujian Kerataan
Analitik Sliver Carding
- mengukur sliver sepanjang 6
yard atau 6 meter sebanyak Pengujian kerataan dilakukan
4 kali atau bisa lebih dengan cara :
- menimbang sliver yang telah - menyiapkan alat pengukur
diukur panjangnya kerataan sliver yang disebut
- menghitung nomor sliver Uster evenes tester, lengkap
dengan cara penomoran dengan condensator
tertentu. pengukur ketidakrataan
yang dilengkapi dengan 8
slot
124
- recorder, alat untuk - membersihkan semua waste
mencatat grafik yang ada di mesin
ketidakrataan bahan (sliver - menutup cerobong fan
carding) penghisap dan blower
- integrator, alat yang - menurunkan lap yang telah
mencatat langsung harga disiapkan ke lap roll
ketidakrataan u% dan cv% - menjalankan mesin untuk
- spectograph dan memproses lap hingga habis
recordernya, alat yang - menghentikan mesin setelah
mencatat periodisity dari proses berakhir
bahan yang diuji (sliver - mengambil semua waste
Carding) yang ada di mesin
- menyiapkan sliver sebanyak - menimbang sliver yang
kurang lebih ditengah can dihasilkan
- memasang sliver pada - menimbang seluruh waste
Condensator dengan - menghitung Persentase
melewatkan ujung sliver waste :
pada slot.
- melewatkan sliver pada alat Persentase waste =
pemegang dan pengantar berat waste
bahan x 100%
berat sliver  berat waste
- menjalankan Condensator
selama waktu yang
ditentukan 5.13.5 Setting Pada Mesin
- hasil ketidakrataan dapat Carding
dibaca langsung pada
Integrator Penyetelan antar jarak
permukaan yang berhadapan
5.13.4.3 Pengujian perlu diperhatikan betul, agar
Persentase Waste penguraian serta pembersihan
dapat dilakukan tanpa
Pengujian Persentase waste menimbulkan kerusakan pada
pada mesin Carding dilakukan serat yang diolahnya maupun
dengan cara : terjadinya waste yang
- menimbang can yang akan berlebihan.
digunakan untuk Pada umumnya, makin panjang
menampung sliver Carding seratnya akan makin besar
- menyiapkan lap yang perbedaan kecepatan relatifnya,
standar pada lap stand makin longgarlah
- menghentikan penyuapan penyetelannya. Dan makin
- mematikan mesin hingga pendek seratnya atau makin
bagian-bagian yang berputar kecil perbedaan kecepatan
berhenti relatifnya, makin dekatnya jarak
penyetelannya.
125
Berikut ini diberikan pedoman penyetelan, sedangkan bila
jarak-jarak penyetelan pada bahan (serat) yang diolah
mesin Carding serta bagian- mengalami perubahan maka
bagian yang umumnya harus jarak penyetelan dapat
disetel, (gambar 5.65). Jarak ini disesuaikan dengan perubahan
hanya digunakan pada awal bahan (serat) tadi.

Gambar 5.65
Daerah Setting Mesin Carding

Contoh berikut diambil dari Sacco Lowell Service Manual.

Tabel 5.4
Setting Mesin Carding

Urutan Jarak penyetelan


Daerah penyetelan
setting per 100 inci
1. Dish Pelate dengan Taker in 9
2. Silinder dengan Taker in 7
3. Silinder dengan Doffer 4
4. Silinder dengan Top Pelate I 9
5. Silinder dengan Top Pelate II 9
6. Silinder dengan Top Pelate III 9
7. Silinder dengan Top Pelate IV 9
8. Silinder dengan Front Sheet (Upper) 27
9. Silinder dengan Front Sheet (Under) 34
10. Silinder dengan Back Sheet (Upper) 12
11. Silinder dengan Back Sheet (Under) 12
12. Doffer dengan Front Sheet (Upper) 34
13. Doffer dengan Front Sheet (Under) 15
14. Doffer dengan Doffer Comb 12
126
Untuk keperluan penyetelan, 7. Pembersihan under casing
biasanya digunakan gauge setiap 3 hari.
likmen yaitu leaf gauge. 8. Pembersihan feed roll dan
rantai setiap 15 hari.
9. Setting doffer setiap 3 bulan.
10. Setting top flat setiap 1
tahun.
11. Setting taker in setiap 6
bulan.
12. Penggerindaan jarum
silinder, doffer, dan top flat
setiap 6 bulan.
Gambar 5.66 Leaf Gauge 13. Balancing cylinder setiap 5
tahun.

5.13.7 Perhitungan Regangan

Seperti halnya pada mesin


Blowing, maka regangan yang
terjadi pada mesin Carding
dapat dihitung berdasarkan
kecepatan permukaan rol
penggilas pada coiler dengan
Gambar 5.67 rol lap.
Leaf Gauge Khusus Top Flat Regangan yang demikian
dikenal dengan sebutan
5.13.6 Pemeliharaan mesin Regangan Mekanik (RM).
Carding Selain itu dapat pula dihitung
Pemeliharaan pada mesin dari bahan yang masuk (lap)
Carding meliputi : dan bahan keluar (sliver).
1. Pembersihan bagian coiller Regangan ini disebut Regangan
dan doffer setiap 6 bulan. Nyata (RN).
2. Pelumasan bagian coiller
dan doffer setiap 6 bulan. 15.13.7.1 Putaran Lap Roll
3. Pembersihan callender roll
dan tube setiap 1 bulan. Puli motor A berhubungan
4. Pelumasan bearing doffer dengan puli B dengan
dan silinder setiap 1 tahun. perantaraan belt. Seporos
5. Pembersihan jarum doffer, dengan puli B terdapat silinder
silinder, top flat setiap 15 dan pada bagian lainnya
hari. terdapat puli C. Puli C
6. Pembersihan dan dihubungkan dengan puli D
pelumasan comb bar setiap melalui belt yang dipasang
6 bulan.
127
silang. Seporos dengan puli D
terdapat taker-in.
Disebelah puli D terdapat roda
gigi R 1 yang berhubungan
tegak lurus dengan roda gigi
R2 .
Poros R 2 memanjang ke arah
panjang mesin dan pada bagian
lainnya terdapat roda gigi R 3 .
Roda gigi R 3 berhubungan
tegak lurus dengan roda gigi
R4 .
Roda gigi R 4 mempunyai poros
memanjang ke arah lebar mesin
dan pada bagian lainnya
terdapat roda gigi R 5 .
Roda gigi R 5 berhubungan
dengan roda gigi R 7 melalui
roda gigi perantara R 6 . Seporos
dengan R 7 terdapat roda gigi
R 8 yang berhubungan dengan
roda gigi R 9 . Seporos dengan
R 9 terdapat doffer, sedang
pada bagian lain terdapat roda
gigi R 10 .
128

Rpm = 220

Gambar 5.68
Susunan Roda Gigi Mesin Carding
129
Keterangan : perantara R 11 . Sedangkan
A = puli, Ø 109 mm
dengan R 12 terdapat roda gigi
B = puli, Ø 460 mm
C = puli, Ø 428 mm payung R 13 . R 13 berhubungan
D = puli, Ø 280 mm dengan roda gigi payung R 14 .
Roda gigi R 1 = 29 gigi
Poros R 14 memanjang ke arah
Roda gigi R 2 = 15 gigi panjang mesin dan pada bagian
Roda gigi R 3 = 8 gigi lain terdapat roda gigi R 15 .
Roda gigi R 4 = 85 gigi Roda gigi R 15 berhubungan
Roda gigi R 5 = 24 gigi tegak lurus dengan roda gigi
Roda gigi R 6 = 30 gigi R 16 . Pada poros R 16 terdapat
Roda gigi R 7 = 40 gigi rol lap.

Roda gigi R 8 = 15 gigi 5.13.7.2 Putaran Rol


Roda gigi R 9 = 71 gigi Penggilas pada
Coiler
Roda gigi R 10 = 11 gigi
Roda gigi R 11 = 30 gigi Puli motor A berhubungan
dengan puli B.
Roda gigi R 12 = 34 gigi
Seporos dengan puli B terdapat
Roda gigi R 13 = 12 – 24 (RPR) puli C yang berhubungan
Roda gigi R 14 = 20 gigi dengan puli D. Seporos dengan
Roda gigi R 15 = 12 gigi puli D terdapat roda gigi R 1
yang berhubungan tegak lurus
Roda gigi R 16 = 58 gigi
dengan roda gigi R 2 . Seporos
Roda gigi R 17 = 32 gigi dengan R 2 terdapat roda gigi
Roda gigi R 18 = 15 gigi R3 yang berhubungan tegak
Roda gigi R 19 = 15 gigi lurus dengan roda gigi R 4 . Satu
Roda gigi R 20 = 50 gigi poros dengan R 4 terdapat roda
Roda gigi R 21 = 30 gigi gigi R5 yang berhubungan
Roda gigi R 22 = 30 gigi dengan roda gigi R 17 melalui
Roda gigi R 23 = 21 gigi roda gigi R 6 dan R 7 . Satu
Roda gigi R 24 = 28 gigi poros dengan R 17 terdapat roda
Roda gigi R 25 = 23 gigi gigi R 18 yang berhubungan
dengan roda gigi 19 . Satu poros
R 10 berhubungan dengan roda
dengan R 19 terdapat roda gigi
gigi R 12 melalui roda gigi
130
R 20 yang berhubungan 5.13.7.3 Tetapan Regangan
(TR) atau Draft Constant (DC)
dengan roda gigi R 21 . Satu
poros dengan R 21 terdapat roda Perhitungan Tetapan Regangan
gigi payung yang dilakukan dengan menghitung
22
Regangan Mekanik (RM) dari
berhubungan dengan roda gigi
gambar 5.68 susunan roda gigi
payung R 23 . Satu poros dengan mesin Carding dengan
R 23 pada bagian lain terdapat memisalkan Roda gigi
Pengganti Regangan (RPR) = 1.
roda gigi payung R 24 yang
berhubungan dengan roda gigi Bila rol lap berputar 1 (satu)
payung R 25 . Satu poros dengan putaran, maka putaran rol
R 25 terdapat rol penggilas pada penggilas pada coiler :
coiler.
Secara singkat urutan gerakan R16 R R R
=1x x 14 x 12 x 9 x
dari pusat gerakan ke rol R15 R13 R10 R8
penggilas pada coiler dapat R7 R18 R20 R22
diikuti sebagai berikut : x x x x
Puli motor A; Puli B; Puli C; Puli R17 R19 R21 R23
D; Roda gigi R 1 ; Roda gigi R 2 ; R24
Roda gigi R 3 ; Roda gigi R 4 ; R25
Roda gigi R 5 ; Roda gigi R 6 ;
Roda gigi R 7 ; Roda gigi R 8 ; Bila R 13 adalah RPR
memasukkan harga dalam
Roda gigi R 9 ; Roda gigi R 10 ;
Gambar 5.68 didapat putaran
Roda gigi R 11 ; Roda gigi R 12 ; Rol penggilas pada Coiler :
Roda gigi R 13 ; Roda gigi R 14 ;
58 20 34 71
Roda gigi R 15 ; Roda gigi R 16 ; =1x x x x x
12 RPR 11 15
Roda gigi R 17 ; Roda gigi R 18 ; 40 15 50 30 28
Roda gigi R 19 ; Roda gigi R 20 ; x x x x
32 15 30 21 23
Roda gigi R 21 ; Roda gigi R 22 ; putaran
Roda gigi R 23 ; Roda gigi R 24 ;
Pada gambar 5.68 susunan
Roda gigi R 25 ; Rol penggilas roda gigi mesin Carding,
pada coiler. diameter rol penggilas pada
coiler = 58 mm dan diameter rol-
lap = 164 mm. Maka :
131
58 12 34 71 40 15 50 30 28
x x x x x x x x x S x 58
RM = 12 RPR 11 15 32 15 30 21 23
1 x S x 164

5.68, maka harus digunakan


2416,2 Roda gigi Pengganti Regangan
RM = (RPR) yang mempunyai jumlah
RPR
gigi sedikit. Sebaliknya untuk
memperkecil regangan,
Tetapan Regangan (TR) atau
digunakan RPR yang
Draft Constant (DC) = 2416,2.
mempunyai jumlah gigi banyak.
5.13.7.4 Regangan Mekanik
5.13.7.5 Regangan Nyata (RN)
(RM)
Regangan nyata dapat dihitung
Dari perhitungan di atas telah
dengan membandingkan berat
didapat :
bahan yang masuk (lap) dan
berat bahan yang keluar (sliver)
Tetapan Regangan dalam satuan panjang yang
RM =
RPR sama.
2416,2 Atau dengan membandingkan
= nomor keluar (sliver) dengan
RPR
nomor masuk (lap).
Bila dipasang RPR yang Bila mesin Carding ini
mempunyai gigi sebanyak 20 menggunakan lap yang
gigi, maka : mempunyai panjang 40 yards
dan beratnya = 16,45 kg,
sedangkan sliver yang
2416,2
RM = = 120,81 dihasilkan adalah Ne 1 = 0,149,
20
maka RN dapat dihitung
sebagai berikut :
Bila dipasang RPR yang
mempunyai gigi sebanyak 21
16,45 kg lap = 40 yads
gigi, maka :
453,6
1 lb lap = x
2416,2 ( 16,45 x 1000 )
RM = = 115,05
21 40
hank = 0,00131 hank
840
Dari perhitungan di atas, maka Jadi nomor lap = 0,00131 (Ne 1 )
bila akan memperbesar
regangan pada mesin Carding
untuk jenis seperti pada gambar
132
Regangan Nyata (RN) Bila silinder berputar sebanyak
Nomor keluar 220 putaran per menit, nomor
= sliver yang dibuat adalah Ne 1
Nomor masuk
0,149.
0,149 Maka produksi mesin Carding
= = 113,74
0,00131 dapat dihitung sebagai berikut :

Dari Regangan Nyata, dapat RPM rol penggilas pada coiler :


dihitung Regangan Mekaniknya.
Bila mesin Carding mempunyai C R R R5
limbar sebesar 5 %, maka : = 220 . . 1 . 3 . .
D R2 R4 R17
( 100  % limbah ) R18
.
R20 R22 R24
. .
RM = x RN
100 R19 R21 R23 R25
( 100  5 ) 428 29 8 24
= x 113,74 = 220 . . . . .
100 280 15 85 32
= 108,05 15 50 30 28
. . .
15 30 21 23
5.13.8 Perhitungan Produksi = 133,02 putaran
Produksi mesin Carding Bila mesin Carding mempunyai
biasanya dinyatakan dalam efisiensi = 85 %, maka :
satuan berat per satuan waktu Produksi teoritis per jam
tertentu. = 0,85 . n . S . d . 60 cm.
Perhitungan produksi di mana n = RPM rol penggilas
berdasarkan susunan roda gigi, coiler
adalah produksi teoritis. S = 3,14
Sedangkan produksi
d = diameter rol penggilas
berdasarkan hasil penimbangan
coiler (cm).
sliver, adalah produksi nyata.
Produksi teoritis per jam
= 0,85 . 133,02 . 3,14 . 5,8 . 60
5.13.8.1 Produksi Teoritis
cm = 123550 cm = 123,550 m.
Produksi teoritis mesin Carding Ne 1 0,149 Nm = 1,693 x
dapat dihitung berdasarkan 0,149 = 0,25
susunan roda gigi (gambar Nm = 0,25 Berat 1 gram
5.68), dapat dihitung kecepatan sliver mempuyai panjang
permukaan dari rol penggilas = 0,25 m
pada coiler dan nomor sliver
yang dihasilkan.
133
Produksi teoritis per jam KJ = 4.410 jam mesin
1235,50 JJB = 720 jam mesin
= gram = 4942 gram
0,25
JJE = 3.690 jam mesin
= 4,942 kg
Jadi produksi nyata rata-rata
5.13.8.2 Produksi Nyata
16.051,50
jam per mesin =
Produksi nyata mesin Carding 3,690
adalah berupa sliver, yang = 4,35 kg
didapat dari penimbangan sliver
dalam satuan waktu tertentu. Keterangan :
Untuk mendapatkan jumlah KJ : Kecepatan jam
produksi rata-rata per jam dari JJB : Jumlah jam berhenti
mesin Carding, diambil data- JJE : Jumlah jam efektif
data hasil produksi nyata
selama periode waktu tertentu, 5.13.8.3 Efisiensi
misalnya satu minggu.
Kemudian dihitung jumlah jam Efisiensi mesin Carding dapat
efektif dari mesin tersebut. dihitung dengan
Jumlah jam efektif didapat dari membandingkan produksi nyata
jumlah jam kerja dalam dan produksi teoritis per satuan
seminggu dikurangi jumlah jam waktu yang dinyatakan dalam
berhenti dari mesin. Jadi jumlah proses.
produksi nyata rata-rata per jam Pada waktu berproduksi, terjadi
adalah jumlah produksi nyata waktu-waktu yang tidak
per minggu dibagi jumlah jam menghasilkan produksi, di mana
efektif per minggu. Misalkan mesin harus berhenti yang
dalam satu minggu menurut disebabkan antara lain : waktu
jadwal kerja, jumlah jam jalan yang diperlukan untuk
mesin = 4410 jam untuk 30 pembersihan, pelumasan dan
mesin Carding. perbaikan mesin.
Hasil penimbangan lap dalam Berdasarkan uraian di atas,
seminggu, menurut laporan jumlah teoritis / jam / mesin
adalah = 16.051,50 kg. Untuk = 4,942 kg. Sedangkan jumlah
perawatan mesin-mesin produksi nyata / jam / mesin
Carding, diperlukan waktu 720 = 4.35 kg.
jam mesin. Dengan data-data di
atas, dapat dihitung produksi Jadi efisiensi mesin Carding
nyata rata-rata per jam untuk 4,35
tiap mesin sebagai berikut : = x 100 % = 88,02 %
4,942
134
5.13.9 Pergantian Roda Gigi Tetapan Regangan
RPR =
RM
Pada mesin Carding terdapat
roda gigi yang dapat diganti- 2416,2
RPR = = 21,96
ganti. Hal ini dimaksudkan bila 110
akan mengubah nilai regangan
maupun produksi, sesuai Karena tidak ada roda gigi yang
dengan ketentuan yang jumlah giginya pecahan, maka
diinginkan. angka tersebut dibulatkan
Untuk mengubah nilai menjadi 22.
regangan, roda gigi yang perlu
diganti adalah roda gigi 5.13.9.2 Roda Gigi Pengganti
pengganti regangan (RPR). Produksi
Bila produksi yang akan diubah
perlu dilakukan penggantian Sama halnya dengan regangan,
Roda gigi Pengganti Produksi maka produksi mesin Carding
(RPP). dapat diubah pula. Untuk
mengubah produksi mesin
5.13.9.1 Roda Gigi Penggan Carding, dapat dilakukan
ti Regangan dengan mengganti roda gigi
pengganti produksi. Pada
Telah dijelaskan di atas bahwa : gambar susunan roda gigi
Regangan Mekanik (gambar 5.68), R 2 adalah
Tetapan Regangan merupakan roda gigi pengganti
=
RPR produksi (RPR).
Tetapan Regangan mesin Seperti pada perhitungan
Carding menurut gambar produksi teoritis yang telah
susunan roda gigi (gambar dibahas di muka, maka :
5.68) RPM rol penggilas coiler :
= 2416,2. C R R R5
= 220 . . 1 . 3 . .
R 13 adalah roda gigi pengganti D R2 R4 R17
regangan. R18 R20 R22 R24
Bila pada mesin Carding . . .
tersebut diperlukan regangan R19 R21 R23 R25
sebesar 110, maka kita dapat 428 29 8 24
mengganti roda gigi pengganti = 220 . . . . .
280 RPP 85 32
regangan yang sesuai dengan
15 50 30 28
nilai regangan yang diinginkan, . . .
tanpa mengubah roda-roda gigi 15 30 21 23
lainnya. 1995,3
= putaran
Tetapan Regangan RPP
RM =
RPR
135
Putaran rol penggilas coiler per dengan menggunakan jarum-
1995,3 jarum atau gigi-gigi yang tajam.
jam = . 60 putaran Akibat adanya pukulan-pukulan
RPP
dan penarikan-penarikan
tersebut serta sifat elastis dari
Diameter rol penggilas coiler
serat, maka ujung-ujung serat
= 5,8 cm
cenderung untuk membentuk
Panjang sliver yang dihasilkan
tekukan (hook), sehingga serat-
1995,3 serat yang ada dalam sliver
selama 1 jam = . 60 .
RPP carding, tidaklah lurus dan
21803 sejajar kearah sumbu dari
3,14 . 5,8 cm = m slivernya.
RPP
Bila RPP = 1, maka Tetapan Hasil penelitian dengan
menggunakan tracer fiber
21803
Produksi = = 21803 (m) technique yang dilakukan oleh
1 beberapa peneliti menunjukkan
Bila digunakan RPP = 15 gigi bahwa :
maka produksi teoritis mesin x Sebagian besar dari serat-
21803 serat mempunyai tekukan
Carding per jam =
15 pada salah satu atau kedua
= 1453,53 m. ujungnya.
x Hampir setengah dari jumlah
5.14 Proses di Mesin serat-serat, ujung
Drawing belakangnya mempunyai
tekukan-tekukan, sedang
Proses pada mesin Drawing ujung depan yang
merupakan langkah yang mempunyai tekukan hanya
sangat penting dalam tahap merupakan seper-enamnya
pembuatan benang dan saja.
dilakukan setelah proses pada x Secara keseluruhannya,
mesin Carding, apabila derajat kelurusan serat yang
pembuatan benang tersebut merupakan perbandingan
tidak menggunakan mesin antara panjang serat dalam
Combing. keadaan tertekuk (extent)
Seperti yang telah dijelaskan dengan panjang serat dalam
bahwa fungsi mesin Carding keadaan lurus, pada sliver
ialah untuk menguraikan serat- carding ini hanya 50 %.
serat menjadi serat-serat
individu serta sekaligus Dengan demikian, proses
membersihkan kotoran-kotoran berikutnya setelah carding pada
yang ada di dalam gumpalan umumnya dimaksudkan untuk
kapas, dengan cara pemukulan- meluruskan dan mensejajarkan
pemukulan dan penarikan, serat terlebih dahulu kearah
136
sumbu sliver, sebagai persiapan x Meluruskan dan
sebelum serat-serat tersebut mensejajarkan serat-serat
akan diregangkan dan dibuat dalam sliver ke arah sumbu
menjadi benang di mesin pintal. dari sliver.
Pelurusan dan pensejajaran x Memperbaiki kerataan berat
serat-serat tersebut dilakukan di per satuan panjang,
mesin drawing, dimana campuran atau sifat-sifat
beberapa sliver dilalukan lainnya dengan jalan
bersama-sama melalui perangkapan.
beberapa pasangan rol penarik, x Menyesuaikan berat sliver
yang mempunyai jarak tertentu, per satuan panjang dengan
dengan kecepatan keperluan pada proses
permukaannya makin depan berikutnya.
makin cepat. Dengan demikian,
apabila sliver disuapkan ke Dari ketiga tujuan tersebut,
pasangan-pasangan rol penarik, pelurusan serat dan perataan
maka serat-serat dalam sliver dari hasilnya adalah hal yang
tersebut akan mengalami sangat penting dalam
peregangan-peregangan peregangan di mesin drawing.
sampai ke tingkat tertentu, yang Kerataan dari hasilnya jelas
besarnya tergantung kepada sangat penting, karena hal ini
perbandingan kecepatan tidak saja diperlukan untuk
pasangan-pasangan rol dapat menghasilkan benang
tersebut. Dan sebagai akibatnya dengan mutu yang baik, tetapi
serat-serat yang mempunyai juga untuk menghindari
tekukan-tekukan akan kemungkinan-kemungkinan
diluruskan, karena mendapat kesulitan yang dapat timbul
gesekan-gesekan dari serat- dalam proses-proses sebelum
serat disekelilingnya. dipintal. Pelurusan serat dalam
Penyuapan beberapa sliver sliver sebelum dipintal perlu
bersama-sama ke mesin sekali, karena derajat kelurusan
drawing tersebut disebut dari serat-serat dalam sliver
perangkapan (doubling) dan akan menentukan sifat-sifatnya
dimaksudkan untuk melakukan selama peregangan. Serat-serat
pencampuran agar kerataan dalam sliver yang sangat lurus
dari sliver yang dihasilkan lebih akan memudahkan
baik. Dengan jalan peregangannya, sedangkan
perangkapan, maka serat-serat yang tidak teratur
ketidakrataan dalam berat per letaknya akan menghasilkan
satuan panjang juga dapat sliver yang kurang baik.
dikurangi. Dengan demikian
maka tujuan dari mesin drawing
dapat diterangkan sebagai
berikut :
137
x Prinsip Bekerjanya Mesin mesin carding, maka sliver
Drawing tersebut dikerjakan di mesin
drawing. Pada garis besarnya
Untuk meluruskan dan mesin drawing terdiri dari
mensejajarkan serat-serat yang bagian-bagian penyuapan,
terdapat pada sliver hasil sliver peregangan dan menampung.

Gambar 5.69
Skema Mesin Drawing

Can penyuap (1) yang berisi (10) yang melalui kedudukan


sliver ditempatkan di bagian horizontal, karena adanya
belakang mesin. Jumlah can proses peregangan dan
umumnya sebanyak 6 atau 8 pembebanan pada rol-rol
buah. tersebut.
Dari can penyuap (1) sliver Karena kecepatan rol-rol
ditarik ke atas, dilewatkan pada peregang berturut-turut dari
pengantar sliver (2), kemudian belakang ke depan makin tinggi,
ke rol penyuap (3) dan tumbler maka sliver akan mengalami
stop motion (4). Di sini apabila proses penarikan dan
ada sliver yang putus, maka peregangan. Pada umumnya
mesin akan berhenti. peregangan berkisar antara 6
Selanjutnya ke 6 atau 8 sliver sampai 8 kali.
tersebut bersama-sama Dengan demikian maka
disuapkan pada keempat sebagian besar serat-serat
pasang rol peregang (6,7,8,9) menjadi lurus dan sejajar ke
melalui pengantar sliver (5) arah sumbu sliver.
yang dapat bergerak ke kanan Sliver yang keluar dari rol
dan ke kiri. Rol-rol peregang peregang (9), menjadi
diletakkan di atas penyangga rol berbentuk seperti pita dan
138
berukuran lebih kurang sama Pengantar sliver yang gunanya
dengan sliver yang disuapkan. untuk menjaga agar bagian-
Pita-pita tadi kemudian bagian sliver yang tebal atau
dilewatkan melalui front stop rusak dapat tertahan.
motion (11), sehingga kalau ada
sliver yang putus, maka
hasilnya tidak akan menumpuk.
Kemudian melalui terompet
(12), ke rol penggilas (13), ke
coiler (14). Akhirnya sliver
ditampung di dalam can
penampung (15) yang berputar
di atas landasan can. Gambar 5.71
Pengantar Sliver
5.14.1 Bagian Penyuapan
5.14.1.3 Rol Penyuap
Bagian penyuapan mesin
Drawing terdiri dari : Pasangan rol penyuap gunanya
untuk menarik sliver yang
5.14.1.1 Can Penyuap disuapkan.

Can penyuap yang berjumlah 6 5.14.1.4 Traverse Guide


atau 8 berisi sliver hasil mesin
carding untuk setiap delivery. Pengantar sliver yang bergerak
Jumlah sliver didalam can ke kanan dan ke kiri (traverse
supaya diatur sedemikian rupa, guide) untuk menghindarkan
sehingga tidak akan habis agar jalannya sliver tidak
dalam waktu yang bersamaan. setempat, sehingga rol atas
terhindar dari keausan.

Gambar 5.70 Can Gambar 5.72 Traverse Guide

5.14.1.2 Pengantar Sliver Untuk penyuapan mesin


drawing passage kedua,
diperlukan 6 atau 8 buah can
139
penyuap yang berisi sliver hasil Pasangan rol-rol penarik yang
mesin drawing passage terdiri dari rol-rol bawah dan rol-
pertama dan masing-masing rol atas seperti terlihat pada
can penyuap hendaknya gambar 5.63.
diusahakan dari delivery yang
berbeda. Ia, IIa, IIIa, IVa = rol atas
Ib, IIb, IIIb, IVb = rol bawah
5.14.2 Bagian Peregangan J 1 = jarak antara titik jepit
Ib – IIb
Daerah peregangan ini terdiri
J 2 = jarak antara titik jepit
dari :
IIb – IIIb
J 3 = jarak antara titik jepit
5.14.2.1 Pasangan Rol-rol IIIb – IVb
Penarik

Gambar 5.73
Pasangan Rol-Rol Penarik

5.14.2.2 Rol Bawah dengan rol atas pada saat


terjadinya peregangan. Setiap
Rol bawah dibuat dari baja yang delivery terdapat tempat
dikeraskan pada seluruh dudukan untuk menyangga rol-
permukaannya dan beralur rol bawah dan selalu mendapat
halus pada bagian tempat pelumasan agar rol-rol tersebut
jalannya serat-serat. Jarak dari dapat berputar lancar.
alur-alur tersebut dibuat Diameter rol bawah dibuat tidak
sedemikian rupa, sehingga garis sama dengan diameter rol atas,
titik jepit terhadap rol atas tidak dengan maksud agar jangan
selalu pada tempat yang sama. sampai terjadi keausan
Fungsi dari alur ialah untuk setempat pada rol atasnya.
mengurangi terjadinya slip Diameter rol bawah yang
140
terdepan harus diambil sebesar- dengan jalan menggeser-
besarnya, sedang rol bawah geserkan rol bawah yang
yang kedua dibuat lebih kecil kedua, ketiga dan yang paling
dari pada rol bawah terdepan. belakang.
Rol bawah yang ketiga dan
yang paling belakang, 5.14.2.3 Rol Atas
diameternya sama dengan
diameter rol bawah yang Rol atas dibuat dari besi tuang
terdepan. Rol bawah yang dan dilapisi dengan kain flanel
kedua diameternya dibuat lebih dan kulit atau dari karet sintetis.
kecil dari pada diameter yang Diameter rol atas sedikit lebih
lain dengan maksud agar titik besar dari ada diameter rol
jepit antara rol bawah yang bawah.
terdepan dengan rol bawah Rol atas menurut konstruksinya
yang kedua dapat disetel lebih dikenal dua jenis, yaitu rol
dekat disesuaikan dengan masip (solid, loose bosh roller)
panjang serat yang diolah serta dimana pada kedua ujungnya
besarnya regangan dibagian terdapat pelat dari logam lunak
tersebut. (bushing) tempat dudukan
Rol bawah yang terdepan kaitan beban dan rol berongga
biasanya tidak dapat digeser- (shell roller type) yang
geser, tetapi dipasang tetap mempunyai arbour C pada
pada dudukan legernya, sedang bagian tengahnya serta rongga
untuk keperluan penyetelan titik pada bagian luarnya D (gambar
jepit antar rol dapat diatur 5.74).

Gambar 5.74
Rol Atas
141
Rol atas ini baik jenis masip Hingga terjadi lekukan (crimp)
maupun jenis berongga dilapisi mengikuti garis jepit alur.
dengan bahan kulit, gabus atau Dengan demikian produksi
dari sintetis sepanjang alur pada panjang yang dihasilkannya,
rol bawah sebagai bantalan akan lebih panjang dari pada rol
dimana serat-serat melaluinya. biasa dengan diameter yang
Lapisan kulit memerlukan sama.
ketelitian yang sempurna dalam
pemilihan kwalitas, harus yang 5.14.2.4 Pembebanan pada
halus tak berlubang-lubang atau Rol Atas
cacat serta mempunyai tebal
yang rata. Untuk mencegah agar serat-
Dewasa ini rol atas dibuat serat tidak tergelincir pada
sedikit lebih besar atau lebih waktu proses peregangan
kecil dari pada rol bawah. Hal ini berlangsung serta untuk
gunanya untuk menghindari memperlancar tekanan rol atas
terjadinya keausan setempat pada rol bawah, maka rol-rol
sebagai akibat gesekan dengan peregang diberi tekanan.
rol bawah. Disamping rol-rol
sebagaimana diutarakan diatas 5.14.2.4.1 Pembebanan
juga ada rol yang dari logam Sendiri (Self
(metalic roller). Weighting)
Rol atas maupun rol bawahnya
beralur lebih dalam dari pada rol Pada pembebanan sendiri
bawah pada jenis rol biasa. digunakan rol-rol yang besar
Irisan alurnya berpegangan yang mempunyai berat cukup
seperti roda gigi. Agar tidak untuk memberi tekanan pada
terlalu berhimpitan, pada kedua serat.
ujungnya terdapat roller,
sehingga garis titik jepit kedua
pasangan rol terhadap serat
terletak pada sisi kaki alur
(gambar 5.75).

Gambar 5.76
Pembebanan Sendiri

Keterangan :
Gambar 5.75 Tekanan = Berat rol atas
Alur pada Penampang Rol Atas P = G
dan Rol Bawah dari Logam
142
5.14.2.4.2 Pembebanan Mati / 5.14.2.4.4 Pembebanan
Bandul (Dead dengan Tuas (Lever
Weighting) Weighting)

Pada cara ini rol atau diberi


tekanan bandul. Bandul
dikaitkan pada rol atas dengan
dudukan melalui sebuah kaitan
yang dibuat dari besi tuang.

Gambar 5.79
Pembebanan dengan Tuas

Gambar 5.77
Pembebanan Mati/Bandul

Keterangan :
Tekanan = Berat bandul
P = W

5.14.2.4.3 Pembebanan Gambar 5.80


Pelana (Saddle Pembebanan dengan Per
Weighting)
5.14.2.4.5 Pembebanan
b dengan Per (Spring
Tekanan P 1 = xW Pressure)
ab
a Pembebanan dibuat sedemikian
Tekanan P 2 = xW
ab rupa sehingga memudahkan
pemasangan dan
pelepasannya. Pada waktu
mesin berhenti dalam jangka
waktu yang agak lama, beban-
beban perlu dilepaskan supaya
rol-rol tidak cepat aus.

Gambar 5.78
Pembebanan Pelana
143
5.14.2.5 Peralatan rol penarik dari kotoran-kotoran,
Pembersih serat-serat pendek yang
beterbangan dan lain-lain agar
Peralatan pembersih berfungsi tidak terbawa masuk bersama
untuk menjaga kebersihan rol- sliver.

Gambar 5.81
Peralatan Pembersih Rol Bawah

Gambar 5.82
Peralatan Pembersih Rol Atas

Peralatan pembersihan rol memutarkan gigi Rachet N pada


bawah pada gambar diatas T, sehingga D turut berputar.
terbuat dari sebilah papan tipis Penggaruk G bergerak maju
yang terbungkus dengan flanel, mundur, sejalan dengan
menekan rol bawah dari bawah. gerakan batang penyetop B,
Peralatan pembersih rol atas, yang berfungsi mengumpulkan
gambar bisa disebut Ermen’s kotoran-kotoran yang melekat
clearer. Peralatan pembersih ini pada D. Pusat gerakan T ada
terbuat dari flanel D yang juga berasal dari rol belakang
terpasang diantara dua buah rol melalui sebuah perantara.
T dan S. Gerakan D akan
144
5.14.2.6 Proses Peregangan dilakukan dengan
menggunakan pasangan-
Sebelum mempelajari lebih pasangan rol yang berputar
lanjut mengenai pelurusan dan dengan kecepatan permukaan
penyejajaran serat-serat dalam yang berbeda, ialah makin
sliver pada mesin drawing kedepan makin cepat. Dengan
dengan cara peregangan, adanya kecepatan permukaan
kiranya perlu dibahas terlebih yang berbeda tersebut, maka
dahulu mengenai prinsip-prinsip setibanya serat-serat
yang mendasari peregangan. dipasangkan rol yang berikutnya
Dalam semua tahap pembuatan seolah-olah akan seperti ditarik
benang dari pembukaan sampai dan bergerak lebih cepat. Hal
dengan pemintalan, masalah yang demikian akan
peregangan ini selalui dijumpai mengakibatkan bahwa serat-
dan menjadi dasar dari teori serat akan dicabut secara terus-
pembuatan benang, dimana menerus dan sedikit demi
gumpalan-gumpalan serat yang sedikit dari kelompoknya
mula-mula mempunyai ukuran sehingga bergeser posisinya.
dengan berat per satuan Akibatnya berat per satuan
panjang yang besar, secara panjang dari bahan yang
berangsur-angsur diubah dihasilkan akan lebih kecil,
menjadi benang dengan berat tetapi menjadi lebih panjang.
per satuan panjang yang sangat Untuk mempermudah mengikuti
kecil. uraian diatas, baiklah melihat
Peregangan tersebut pada gambar 5.72.
mesin drawing biasanya

Gambar 5.83
Pasangan-pasangan Rol pada Proses Peregangan

Keterangan : Bh = berat bahan yang


Bs = berat bahan yang dihasilkan per satuan
disuapkan per satuan panjang
panjang
145
Ns = nomor bahan yang
disuapkan dalam Vb . Bs = Vd . Bh atau
sistem Ne 1 Vd Bs Nh
= =
Nh = nomor bahan yang Vb Bh Ns
dihasilkan dalam
sistem Ne 1 Jadi kalau besar peregangan
Rba = rol belakang yang atas atau draft sama dengan enam,
Rbb = rol belakang yang maka permukaan rol depan
bawah harus enam kali kecepatan
Rta = rol tengah yang atas permukaan rol belakang dan
Rtb = rol tengah yang bawah berat persatuan panjang bahan
Rda = rol depan yang atas yang dihasilkan menjadi
Rdb = rol depan yang bawah seperenam dari berat bahan
Db = daerah peregangan yagn disuapkan, untuk satuan
belakang panjang yang sama.
Dd = daerah peregangan
depan x Distribusi Regangan Pada
Mesin Drawing
Untuk menyederhanakan
persoalannya, maka untuk Untuk mendapatkan hasil
sementara pasangan rol tengah drawing yang baik dengan nilai
ditiadakan dahulu, sehingga ketidakrataan yang rendah,
susunannya sebagai berikut maka besar regangan pada
(gambar 5.84) : masing-masing daerah
peregangan perlu diatur, agar
serat-serat yang bergerak
dalam daerah peregangan
(drafting zone) dapat dikontrol
sejauh mungkin. Pengontrolan
serat-serat tersebut sebenarnya
tergantung pada sifat seratnya
Gambar 5.84 sendiri, kecepatan putaran dari
Dua Pasang Rol pada Proses rol, pembebanan pada rol dan
Peregangan besarnya regangan pada
masing-masing daerah
Kalau misalkan kecepatan regangan.
permukaan rol depan dan rol Walaupun demikian,
belakang berturut-turut ialah Vd berdasarkan pengalama, Saco-
dan Vb, sedangkan selama Lowell memberikan pedoman
pereganan tidak terjadi limbah, untuk menentukan besarnya
maka jumlah bahan yang regangan pada masing-masing
dihasilkan harus sama dengan daerah peregangan,
bahan yang disuapkan. berdasarkan atas penyusutan
146
yang sama atas bahan yang dan keluar dari daerah
mengalami peregangan. Untuk peregangan.
lebih jelasnya dapat diikuti pada Untuk mencari besarnya
contoh berikut : regangan dari masing-masing
daerah peregangan adalah
Contoh 1 : sebagai berikut :
Daerah peregangan 1 :
Misalkan saja kita mengerjakan 860 860
sliver pada mesin drawing yang = = 1,305
860  201 659
mempunyai 4 daerah
peregangan. Daerah peregangan 2 :
659 659
= = 1,439
659  201 458
Daerah peregangan 3 :
458 458
= = 1,782
458  201 257
Gambar 5.85 Daerah peregangan 4 :
Empat Daerah Peregangan 257 257
= = 4,588
257  201 56
Berat bahan yang disuapkan
860 grain/yard, sedang sliver Bukti = 1,305 x 1,439 x 1,782 x
yang diinginkan ialah 56 4,588 = 15,35
grain/yard
Contoh 2 :
Caranya ialah sebagai berikut :
Besar draft keseluruhannya
860
= = 15,35
56
Selanjutnya kurangi berat bahan Gambar 5.86
yang masuk dengan yang Tiga Daerah Peregangan
keluar, hasilnya akan
merupakan penyusutan Dengan cara yang sama diatas,
berat/yard. maka regangan keseluruhan
dari keseluruhan regangan
6 x 56
860 – 56 = 804. = = 5,895
Kemudian bagilah angka ini 57
dengan banyaknya daerah
804 Penyusutan keseluruhan
peregangan = 201 = 6 x 56 – 57 = 336 – 57 = 279
4 Penyusutan setiap daerah
Angka ini merupakan selisih
279
berat dari bahan ketika masuk = = 93
3
147
Maka perhitungan selanjutnya : dari hasil slivernya. Hal ini dapat
Daerah peregangan 1 : terlihat pada gambar 5.87, yang
336 336 menunjukkan hubungan antara
= = 1,382 jarak rol dengan ketidakrataan
336  93 243
dari hasil slivernya.
Daerah peregangan 2 :
243 243
= = 1,62
243  93 150

Daerah peregangan 3 :
150 150
= = 2,633
150  93 57

Bukti = 1,382 x 1,62 x 2,633 Gambar 5.87


= 5,89 Pengaruh Jarak antar Rol
dengan Ketidakrataan dari
Dibandingkan dengan Sliver yang dihasilkan
pelaksanaannya, mungkin
regangan didaerah peregangan Karena serat kapas mempunyai
depan sedikit lebih besar, variasi panjang yang tidak tetap,
namun sebagai pedoman dapat maka kemungkinan untuk dapat
dicoba. menentukan jarak antar rol pada
masing-masing daerah
5.14.2.7 Penyetelan Jarak peregangan sangatlah sulit.
antar Pasangan Rol Walaupun demikian Shirley
Peregang Institute, telah mengembangkan
suatu rumus empiris, yang
Penyetelan jarak yang paling dapat dipakai sebagai pedoman
penting pada mesin Drawing penyetelan rol, sehingga untuk
lainnya. Penyetelan hanya mendapatkan jarak antar rol
dilakukan terhadap rol bawah yang tepat, masih perlu
(bottom-roll). Hal ini dilakukan diadakan sedikit penyesuaian.
karena rol bawah adalah Penyetelan yang sangat penting
berputar aktif dan langsung sebenarnya didaerah
berhubungan dengan roda-roda peregangan depan (front zone)
gigi yang berhubungan dengan dimana regangan yang
sumber gerakan. Sedangkan rol dikenakan ialah yang terbesar,
atas hanya berputar karena sedang didaerah lainnya
gesekan dari rol bawah. regangannya kecil, sehingga
Penyetelan jarak yang terlalu ketelitian jarak antar rol kurang
dekat maupun terlalu jauh akan dirasakan.
meningkatkan ketidakrataan
148
Berikut ini diberikan pedoman Dalam praktik cara untuk
penyetelan oleh Shirley Institute mengukur jarak permukaan rol
untuk pengolahan serat kapas, (roller gauge) digunakan alat
yang didasarkan antar titik jepit pengukur jarak (setting gauge)
pasangan rol. yang diletakkan diantara kedua
Daerah peregangan depan = permukaan rol pada bagian
Effective Length (panjang yang dilalui serat.
3 1 Hubungan antara besarnya nilai
efektif) + s/d inch. jarak permukaan rol (roller
16 4
gauge) dengan jarak titik jepit
Daerah peregangan tengah =
diperlihatkan seperti rumus
3 7 sebagai berikut :
Effective Length + s/d
8 16
inch.
Daerah peregangan belakang =
5 11
Effective Length + s/d ”
8 16
Dengan diketahuinya diameter
rol, maka kita dapat
menentukan jarak antar rol
dengan mudah. Gambar 5.88
J.C. Boel memberikan pedoman Roller Gauge
penyetelan rol sebagai berikut :
Daerah peregangan depan dimana :
= Effective length + 3 mm e = jarak permukaan rol
Daerah peregangan tengah L = jarak titik tengah rol
= Effective length + 6 mm d1 . d 2 = diameter masing-
Daerah peregangan belakang masing rol
= Effective length + 9 mm
Penyetelan tersebut Contoh :
dimaksudkan untuk
mendapatkan jarak permukaan Diketahui : Diameter rol depan
rol (roller gauge) antara dua 1
pasangan rol untuk setiap jarak =1 inch
4
titik jepit yang ditentukan. Jarak
Diameter rol ke-2 = 1 inch
titik jepit adalah jarak antara
Ditanyakan :
garis singgung dua pasangan
Besarnya jarak permukaan
rol dimana serat-serat tepat
(gauge) yang diperlukan untuk
terpegang oleh titik jepitan.
setting 1 516 inch
Biasanya jarak ini merupakan
jarak antara titik tengah rol-rol Jawab :
yang bersangkutan. d1  d 2
e = L-
2
149

5
( 1 514  1 ) jarak antar rol penarik
= 1 16 - dilaksanakan sedemikian rupa,
2
3
sehingga tidak terlalu sempit
= 16 inch atau terlalu longgar. Jika
penyetelan terlalu sempit akan
5.14.2.8 Faktor-Faktor yang terjadi banyak serat putus atau
Mempengaruhi keriting (cracking fiber) dan jika
Penyetelan Jarak terlalu lebar akan terjadi banyak
antar Rol Peregang serat yang mengambang
diantara dua pasangan rol
Faktor-faktor yang (floating fibers) sehingga
mempengaruhi penyetelan jarak menimbulkan ketidakrataan
susunan rol peregang adalah hasil slivernya.
sebagai berikut : Gambar 5.89 menunjukkan
kemungkinan kedudukan serat-
x Panjang Serat yang diolah serat pada saat melalui dua
pasangan rol penarik.
Sebagaimana diketahui serat
yang terdapat pada bal-bal
kapas yang diolah memiliki
variasi panjang yang berbeda.
Serat-serat pendek biasanya
dipisahkan pada proses Carding
dan Combing, sedangkan serat-
serat panjang diteruskan dalam
proses selanjutnya.
Biasanya serat-serat pada saat
sampai mesin drawing Gambar 5.89
panjangnya berkurang 5 – 10 Kedudukan Serat antara Dua
persen dari pada panjang serat Pasangan Rol Penarik
kapas aslinya sebelum diolah.
Hal ini disebabkan oleh proses- Va = kecepatan permukaan
proses sebelumnya dimana rol A
serat-serat mengalami Vb = kecepatan permukaan
permukulan (misalnya pada rol B
cleaning point) sehigga
menimbulkan banyak serat Keterangan :
putus. - Serat a yang dijepit oleh
Pada proses mesin drawing, pasangan rol A akan
untuk menghindari bergerak dengan kecepatan
kemungkinan terjadinya banyak Va
serat-serat putus atau jatuh - Serat b yang dijepit oleh
diantara pasangan rol pasangan rol B akan
peregang, maka penyetelan
150
bergerak dengan kecepatan Bila sliver yang melalui
Vb pasangan rol, diameternya lebih
- Serat c yang mengambang besar, maka rol atas
diantara kedua pasangan mempunyai kecenderungan
rol A dan rol B kemungkinan untuk bergeser naik atau lebih
akan jatuh diantaranya. renggang terhadap rol
- Serat d ujung belakang bawahnya. Ini berarti bahwa
bergerak lambat, ujung tekanan pembebanan terhadap
depannya bergerak lebih serat bertambah besar serta titik
cepat, akibatnya depan atau garis jepitnya bertambah
putus apabila jepitannya lebar pula.
cukup kuat atau rusak kalau Gambar 5.90 menunjukkan
tercabut dengan paksa. bahwa makin tebal slivernya,
makin panjang daerah
x Tebal Tipisnya Sliver yang jepitannya, sehingga kalau
diolah penyetelan jarak antar rolnya
tetap, maka sebenarnya relatif
akan lebih pendek.

Gambar 5.90
Sliver yang melalui Rol dengan Ukuran yang Berbeda

Jadi untuk sliver yang lebih


berat atau diameternya besar x Proses Sebelumnya
diperlukan penyetelan rol yang
lebih lebar. Hal ini untuk Meskipun serat-serat pada
menghindari serat-serat terjepit sliver Carding sedikit banyak
oleh dua buah pasangan rol. sudah mengalami pelurusan,
Karena itu penyetelan jarak rol namun belum dapat dikatakan
pada bagian penyuapan atau rol lurus sebagaimana serat-serat
belakang dengan rol ke-3 dibuat pada sliver Combing. Karena itu
longgar, rol ke-3 dengan ke-2 penyetelan rol pada mesin
sedang, rol ke-2 dengan rol Drawing untuk pengolahan
depan sempit. Ini diakibatkan sliver Carding lebih sempit dari
adanya pengurangan berat pada untuk pengolahan sliver
karena terjadinya proses combing.
peregangan.
151
x Sifat Serat yang diolah

Serat yang kasar dan kaku lebih


sulit terkontrolnya pada saat
terjadinya penarikan dari pada
serat-serat halus. Karena itu
untuk serat yang kasar
penyetelan lebih sempit.

x Jenis Rol Peregang Gambar 5.91


Pelat Penampung Sliver
Rol logam memerlukan
penyetelan yang lebih lebar dari 5.14.3.2 Terompet
pada rol biasa karena titik
jepitnya bertambah lebar. Terompet ini dibuat dari besi
tuang (cast iron) atau bronce,
5.14.3 Bagian Penampungan letaknya diantara rol depan dan
rol penggilas. Panjangnya
Bagian penampungan dari 1” – 1,5”, diameter atasnya kira-
mesin Drawing terdiri dari : kira 1,5 inch dan bawahnya kira-
- pelat penampung kira 0,25”. Ukuran diameter
- terompet lubang terompet tergantung
- rol penggilas pada jenis dan ukuran sliver
- coiler yang diolah. Dibawah ini adalah
- can penampung sliver rumus yang biasa digunakan
untuk menentukan diameter
5.14.3.1 Pelat Penampung lubang terompet untuk jenis
sliver yang diolah seperti terlihat
Pelat penampung dibuat dari pada gambar 5.91.
pelat besi yang membentuk
seperti trapesium dengan
bagian yang kecil menuju ke
terompet. Permukaan dari pelat
ini biasanya dipolis licin sekali
sehigga berfungsi sebagai
pengantar sliver yang keluar
dari rol depan seperti terlihat
pada gambar 5.91. *) pada bagian ini mengecilnya
sedikit sekali

Gambar 5.92
Penampang Terompet
152
Diameter terompet (inch) = k x
berat sliver dalam grain/yard
dimana k adalah suatu angka
tetapan.
Untuk drawing passage pertama
k = 0,0172
Untuk drawing passage kedua
k = 0,0156
Untuk Combed drawing
k = 0,0141
Gambar 5.93 Coiler
5.14.3.3 Rol Penggilas
Ujung atas dari tabung langsung
Fungsi dari rol penggilas ialah berada diatas titik pusat pelat
untuk menggilas dan menarik bergigi, kira-kira 4 inch
sliver yang keluar dari rol depan diatasnya dan 0,5 inch dibawah
melalui terompet menjadi rol penggilas.
sebuah sliver dan
meneruskannya ke dalam coiler. 5.14.3.5 Can Penampung
Sliver
5.14.3.4 Coiler
Can penampung dibuat dari
Fungsi dari coiler ialah untuk bahan sintetik seperti karton
meletakkan sliver kedalam can yang keras dan kuat atau dari
dengan teratur, sehingga pelat logam dengan diameter
memudahkan penarikan berkisar antara 10 sampai
kembali dari dalam can pada dengan 40 inch dan tingginya ±
proses selanjutnya tanpa 36 inch seperti halnya can pada
mengalami perpanjangan atau mesin carding, di dalamnya
sering putus. Coiler ialah pelat terdapat alas yang ditahan oleh
bergigi yang cukup besar dan per. Can ini diletakkan diatas
biasanya disebut tube gear, landasan besi bundar bergigi
letaknya datar tepat dibawah rol (turn table) yang berputar
penggilas. Permukaan sangat lambat melalui susunan
bawahnya licin dan bagian roda-roda gigi. Perlu
atasnya merupakan tabung diperhatikan disini bahwa titik
dengan diameter lubangnya 1,5 pusat coiler tidak terletak pada
inch membuat sudut tertentu satu garis vertikal dengan titik
terlihat pada gambar 5.93. pusat dari landasan can.
Dengan demikian maka
letaknya sliver dalam can dapat
tersusun rapi seperti terlihat
pada gambar 5.94.
153
Pengawasan terhadap mutu
sliver hasil mesin Drawing
meliputi :
- pengujian Nomor Sliver
Drawing
- pengujian kerataan Sliver
Drawing

5.14.4.1 Pengujian Nomor


Sliver Drawing
Gambar 5.94
Letak Sliver Dalam Can Pengujian nomor dilakukan
dengan cara :
5.14.3.6 Pemeliharaan mesin - menyiapkan alat pengukur
Drawing panjang sliver yang disebut
Pemeliharaan pada mesin Wrap Block
Drawing meliputi - menyiapkan alat pengukur
1. Pembersihan mesin Drawing berat yang disebut Neraca
secara rutin setiap 1 bulan. Analitik
2. Pelumasan bearing top roll, - mengukur sliver sepanjang 6
bottom roll setiap 1 minggu. yard atau 6 meter sebanyak
3. Pelumasan top roll setiap 1 4 kali atau bisa lebih
bulan. - menimbang sliver yang telah
4. Pelumasan sub gear box, diukur panjangnya
gear box setiap 3 bulan. - menghitung nomor sliver
5. Setting bottom roll setiap 4 dengan cara penomoran
bulan. tertentu.
6. Pencucian top roll setiap 1
minggu 5.14.4.2 Pengujian Kerataan
7. Penggerindaan top roll Sliver Drawing
setiap 2 bulan.
- menyiapkan alat pengukur
5.14.4 Pengujian Mutu Hasil kerataan sliver yang disebut
Uster evenes tester, lengkap
Mutu sliver hasil mesin Drawing dengan condensator
merupakan kunci dari mutu pengukur
benang yang akan dihasilkan, - recorder, alat untuk
mengingat pada proses mencatat grafik
selanjutnya tidak lagi proses ketidakrataan bahan (sliver
perbaikan mutu bahan terutama carding)
dalam perbaikan mutu kerataan - integrator, alat yang
bahan. mencatat langsung harga
ketidakrataan u% dan cv%
154
- spectograph dan sliver. Karena putaran dari coiler
recordernya, alat yang yang mengatur penampungan
mencatat periodisity dari sliver pada can, maka pada
bahan yang diuji (sliver sliver ini terdapat antihan yang
Carding) tidak besar tapi dapat
- menyiapkan sliver sebanyak memberikan kekuatan yang
benang lebih ditengah can cukup pada sliver. Regangan
- memasang sliver pada untuk membuka antihan ini
Condensator dengan disebut Break Draft.
melewatkan ujung sliver Dengan mengalikan nilai-nilai
pada slot. regangan yang terdapat pada
- melewatkan sliver pada alat tiap-tiap daerah regangan
pemegang dan pengantar jumlah (total draft).
bahan
- menjalankan Condensator 5.14.5.1 Putaran Rol Penyuap
selama waktu yang
ditentukan Puli motor A memutarkan puli B
- hasil ketidakrataan dapat dengan perantaraan belt.
dibaca langsung pada Satu poros dengan B terdapat
Integrator roda gigi R 15 yang berhubungan
dengan roda gigi R 14 . Satu
5.14.5 Perhitungan Regangan
poros dengan R 14 terdapat roda
Perhitungan regangan gigi R 13 yang berhubungan
berdasarkan susunan roda gigi
mesin Drawing dapat dilakukan dengan R 12 . Seporos dengan
dengan membandingkan R 12 tedapat roda gigi R 6 yang
kecepatan permukaan dari rol berhubungan dengan roda gigi
penggilas (Callender) dengan
R 4 melalui roda gigi perantara
kecepatan permukaan dari rol
penyuap. Hasil perhitungan ini R5.
disebut regangan jumlah (total Seporos dengan R 4 terdapat
draft). Pada mesin Drawing
roda gigi R 3 yang berhubungan
biasanya diperlukan
perhitungan-perhitungan dari dengan roda gigi R 1 melalui
tiap-tiap daerah regangan (draft roda gigi perantara R 2 . Pada
zone). Misalnya daerah
regangan antara rol belakang poros roda gigi R 1 terdapat rol
(rol I) dan rol II. Daerah ini penyuap.
adalah daerah regangan yang
diperlukan untuk membuka
antihan yang terdapat pada
155

Gambar 5.95
Susunan Roda Gigi Mesin Drawing
156
Keterangan : roda gigi R 5 ; roda gigi R 3 ; roda
A = puli Ø 112 mm
gigi R 2 ; roda gigi R 1 ; rol
B = puli Ø 340 mm
Roda gigi R 1 = 58 gigi penyuap.
Roda gigi R 2 = 30 gigi 5.14.5.2 Putaran Rol-rol
Roda gigi R 3 = 47 gigi Peregang
Roda gigi R 4 = 20 gigi
Puli motor A berhubungan
Roda gigi R 5 = 43 gigi dengan puli B. Satu poros
Roda gigi R 6 = 25 gigi dengan B terdapat roda gigi
R 15 , R 16 dan rol peregang IV
Roda gigi R 7 = 50 gigi
yang merupakan rol depan dari
Roda gigi R 8 = 20 gigi rol-rol peregang. Roda gigi R 15
Roda gigi R 9 = 49 gigi berhubungan dengan roda gigi
Roda gigi R 10 = 40 gigi R 14 . Seporos dengan roda gigi
Roda gigi R 11 = 20 gigi R 14 terdapat roda gigi R 13 yang
Roda gigi R 12 = 50 gigi berhubungan dengan roda gigi
Roda gigi R 13 = 40-60 (RPR)gigi R 12 . Satu poros dengan R 12

Roda gigi R 14 = 120 gigi terdapat R 9 , R 6 dan rol


peregang I yang merupakan rol
Roda gigi R 15 = 30 gigi
peregang belakang dari rol-rol
Roda gigi R 16 = 27 gigi peregang. Roda gigi R 6 ,
Roda gigi R 17 = 70 gigi berhubungan dengan roda gigi
Roda gigi R 18 = 53 gigi R 8 melalui roda gigi perantara
Roda gigi R 19 = 25 gigi R 7 . Pada poros R 8 terdapat rol
Roda gigi R 20 = 25 gigi peregang II. Roda gigi R 9
Roda gigi R 21 = 35 gigi berhubungan dengan roda gigi
R 11 melalui roda gigi perantara
Roda gigi R 22 = 38 gigi
R 10 . Pada poros R 11 terdapat
Roda gigi R 23 = 24 gigi
rol peregang III.
Secara singkat, hubungan dari
Secara singkat, gerakan dari
sumber gerakan ke rol-rol
sumber gerakan ke rol penyuap
peregangan dapat diikuti
dapat diikuti sebagai berikut :
sebagai berikut :
Puli motor A puli B, roda gigi
Puli A; Puli B; rol peregang IV
R 14 ; roda gigi R 13 ; roda gigi
(rol depan). Roda gigi R 15 ; roda
R 12 ; roda gigi R 6 ; roda gigi R 5 ;
157
gigi R 14 ; roda gigi R 13 ; roda gigi penggilas II melalui roda gigi
R 12 rol peregang I. Roda gigi R 19 dan R 20 .
Secara singkat, hubungan
R 6 ; roda gigi R 7 ; roda gigi R 8 ;
sumber gerakan ke rol
rol peregang II. Roda gigi R 9 ; penggilas dapat diikuti sebagai
roda gigi R 10 ; roda gigi R 11 ; rol berikut :
peregang III.
Puli A; puli B; roda gigi R 17 ,
5.14.5.3 Putaran Rol roda gigi R 18 ; rol penggilas.
Penggilas (Calender)
5.14.5.4 Tetapan Regangan
Puli motor A berhubungan
dengan puli B satu poros Seperti pada mesin-mesin
dengan B terdapat roda gigi R 16 sebelum mesin Drawing, maka
yang berhubungan dengan roda tetapan regangan dapat dihitung
gigi R 18 terdapat rol penggilas I dari perhitungan regangan
mekanik dengan memisalkan
yang berhubungan dengan rol roda gigi Pengganti Regangan
= 1.

Kecepatan permukaan rol penggilas


RM =
Kecepatan permukaan rol penyuap

Dimisalkan rol penyuap berputar 1 kali, maka rol penggilas akan


berputar.
R1 R 2 R 4 R5 R12 R14 R16 R17
=1· · · · · · · ·
R 2 R3 R5 R 6 R13 R15 R 27 R18
58 30 20 43 50 120 27 70
=1· · · · · · · · putaran
30 47 43 25 RPR 30 70 53
1 · 58 · 30 · 20 · 43 · 50 · 120 · 27 · 70 · S · 75
RM =
30 · 47 · 43 · 25 · RPR · 30 · 70 · 53 · S · 30
271,56
= Tetapan regangan = 271,56
RPR

5.14.5.5 Regangan Mekanik permukaan rol penggilas


dengan kecepatan permukaan
Regangan mekanik dapat dari rol penyuap. Hasil
dihitung dengan perhitungan disini adalah
membandingkan kecepatan
158
merupakan regangan jumlah c) Regangan antara rol II dan
dari mesin Drawing. rol III

Menurut perhitungan di atas, Kec. permk rol III


didapat : RM =
Kec. permk rol II
271,56 20 49
RM = 1 . . . 3,14 . 25
RPR = 25 20 1,63
1 . 3,14 . 30
Bila RPR yang digunakan,
mempunyai gigi sebanyak 45, d) Regangan antara rol III dan
maka : rol IV

271,56 Kec. permk rol IV


RM = = 6,034 RM =
45 Kec. permk rol III
20 50 120
Regangan jumlah dapat pula 1. . . . 3,14. 30
dihitung dari hasil perkalian dari = 49 45 30
regangan masing-masing 1 . 3,14. 25
bagian dari daerah Regangan. = 2,18

a) Regangan antara rol e) Regangan antara rol IV dan


penyuap dan rol I. rol penggilas

Kec. permk rol I Kec. permk rol penggilas


RM = RM =
Kec. permk rol penyuap Kec. permk rol IV

58 20 27
1· · · · 30 1. . 3,14 . 75
= 47 25 53
= 1,27
1 · · 30 1 . 3,14 . 30
= 0,987
Regangan jumlah antara rol
b) Regangan antara rol I dan penyuap dan rol penggilas
rol II
= 0,987 x 1,25 x 1,63 x 2,18 x
Kec. permk rol II 1,27
RM = = 5,57
Kec. permk rol I
25
1. . 3,14 . 30
= 20 1,25
1 . 3,14 . 30
159
5.14.5.6 Regangan Nyata (100  2)
RM = · RN
100
Regangan nyata dapat dihitung
dengan membandingkan berat 98
= · 6,16
bahan masuk persatuan 100
panjang tertentu dan berat = 6,037
bahan keluar persatuan panjang
tertentu. Atau dapat pula 5.14.6 Perhitungan Produksi
membandingkan antara nomor
bahan keluar dengan nomor Produksi mesin Drawing, pada
bahan masuk untuk sistem umumnya dinyatakan dalam
nomor Ne 1 . satuan berat per satuan waktu
Misalkan mesin Drawing tertentu.
mengolah sliver Carding yang
5.14.6.1 Produksi Teoritis
mempunyai Ne 1 0,149 dan
disuapkan dengan 6 rangkapan. Berdasarkan gambar susunan
Sedangkan hasilnya berupa roda gigi mesin Drawing
sliver yang mempunyai nomor (gambar 5.95) kecepatan
Ne 1 0,145. Maka regangan permukaan dari rol penggilas
nyata dapat dihitung sebagai terlebih dahulu.
berikut :
Kecepatan permukaan rol
Rangkpn · No. keluar penggilas
RN = A R R
Nomor masuk RPM motor · · 16 · 17 ·
6 x 0,149 B R17 R18
= = 6,16 22
0,145 · 75 mm/menit
7
Bila limbah yang dihasilkan Bila mesin Drawing
selama proses pada mesin menghasilkan sliver dengan
Drawing adalah sebesar 2%, nomor Ne 1 0,135 dan mesin ini
maka : mempunyai 5 delivery, efisiensi
mesin = 90%, maka
produksi/jam/5 delivery :

112 27 22
= 0,9 · 990 · · · · 75 · 5 · 60 mm
340 53 7
0,9 · 990 · 112 · 27 · 22 · 75 · 5 · 60
=
340 · 53 · 7 · 1000
Nm = 1,693 · 0,135 = 0,229
160
Produksi/Jam/5 delivery
0,9 · 990 · 112 · 27 · 22 · 75 · 5 · 60
= kg
340 · 53 · 7 · 1000 · 0,229 · 1000
= 46,17 kg
46,17
Produksi/Jam/del = = 9,23 kg
5

5.14.6.2 Produksi Nyata 5.14.6.3 Efisiensi

Produksi nyata mesin Drawing Perhitungan efisiensi mesin


dapat dilihat dari hasil pencatat Drawing dapat dilakukan
panjang sliver (hank-meter) dengan membandingkan
pada mesin tersebut. Hasil produksi teoritis dan produksi
pencatatan ini biasanya nyata yang dinyatakan dalam
dikumpulkan untuk suatu proses.
periode tertentu misalnya satu Menurut perhitungan di atas
minggu. produksi teoritis/jam/delivey
Misalnya dalam satu minggu = 9,23 kg. Sedangkan produksi
tercatat dari hasil pengumpulan nyata rata-rata per jam
data-data, menunjukkan = 330,6 = 8,29 kg maka efesiensi mesin
hank/delivery. Drawing
Menurut jadwal produksi untuk 8,29
minggu ini, mesin harus berjalan x 100% = 90%
9,23
selama = 155,5 jam. Jumlah
mesin berhenti = 21,75 jam.
Jumlah jam mesin berjalan 5.14.7 Penggantian Roda Gigi
efektif = 133,75 jam.
Produksi yang dicapai selama Roda gigi yang terdapat pada
satu minggu/delivery = 330,6 mesin Drawing, tidak semuanya
hank. mengalami penggantian atau
perubahan jumlah gigi. Bila
Nomor sliver = N m 0,229
akan dibuat perubahan macam-
macam produksi dalam
Produksi/minggu/delivery pembuatan benang, roda gigi
330,6 x 768 1 yang mengalami perubahan
= x kg adalah :
0,229 1000
= 1.108,74 kg
5.14.7.1 Roda Gigi Pengganti
Regangan
Jadi produksi nyata rata-rata
1.108,74 Bila akan diadakan perubahan
= per jam/del =
133,75 nilai regangan pada mesin
= 8,29 kg
161
Drawing, maka diadakan A R16 R17
penggantian roda gigi. RPM motor = · ·
Roda gigi ini adalah Roda gigi
B R17 R18
Pengganti Regangan (RPP).
Pada perhitungan di muka, A R16
RPM motor = ·
didapat : B R18
271,56 Dalam hal ini, RPM motor, Puli
RM =
RPR A, R 16 dan R 18 adalah tetap.
Maka bila B diperkecil, akan
271,56 didapat RPM rol penggilas
RPR =
RM menjadi besar, yang berarti
produksi akan menjadi besar
Misalnya mesin Drawing pula. Sebaliknya bila puli B
diperlukan untuk memproses diperbesar, maka RPM rol
sliver yang memerlukan penggilas akan menjadi kecil
regangan = 5,73. dan produksi akan kecil pula.
Maka RPR yang diperlukan
adalah yang mempunyai jumlah 5.15 Persiapan Combing
gigi :
Tujuan dari proses persiapan
271,56 combing adalah untuk
= 47,2 meluruskan serat, memperbaiki
5,73
kerataan berat persatuan
panjang dan dan mengubah
Karena jumlah gigi tidak ada
sliver carding menjadi lap kecil
pecahan, maka dibulatkan
yang sesuai untuk penyuapan
menjadi 48.
mesin combing.
5.14.7.2 Roda Gigi Pengganti
Pada mesin-mesin persiapan
Produksi (RPP)
combing model lama, beberapa
sliver carding disuapkan berjajar
Pada mesin Drawing, bila akan
satu sama lain pada mesin
mengubah jumlah Produksi,
sliver lap dan hasilnya berupa
diadakan penggantian diameter
lap kecil yang digulung pada
puli produksi. Puli ini disebut
bobin.
puli pengganti produksi (PPP),
Beberapa lap kecil tersebut
sedangkan untuk memperbesar
kemudian disuapkan ke mesin
produksi, maka putaran rol
ribbon lap dan hasilnya berupa
penggilas harus diperbesar
lap kecil yang lebih rata dan
pula. Menurut gambar 5.95
lebih lurus serat-seratnya.
susunan gigi mesin Drawing,
Karena penggulungan lap kecil
RPM rol penggilas =
pada bobin di mesin sliver lap
162
tidak dapat memuat banyak, Secara singkat urutan proses
maka bobin lekas penuh dan persiapan combing dapat
segera harus dilakukan doffing digambarkan sebagai berikut :
sehingga efisiensi mesin
menjadi rendah. Model Lama Model Baru

Apabila lap kecil pada mesin Carding Carding


ribbon lap, maka gulungan lap
kecil pada bobin juga cepat Sliver lap pre Drawing
habis, penggantian lap kecil
yang disuapkan harus sering Ribbon lap lap former
dilakukan, sehingga memer (super lap)
lukan perhatian dan pelayanan
yang lebih banyak. Combing Combing

Untuk meningkatkan efisiensi Gambar 5.96


mesin-mesin persiapan combing Urutan Proses Persiapan
maka pada mesin model baru, Combing
beberapa sliver carding yang
disuapkan dan telah mengalami Kalau kita perhatikan perkem
peregangan tidak digulung bangan proses persiapan
dalam bentuk lap kecil combing seperti terlihat pada
melainkan dikumpulkan menjadi kedua urutan proses tersebut
satu melalui terompet dan diatas, pada hakekatnya tidak
ditampung dalam can besar. ada penyingkatan proses, kecu
Karena mesin tersebut tidak ali peningkatan efisiensi. Hal ini
menghasilkan lap kecil, maka disebabkan karena apabila satu
sesuai dengan tujuan mesin proses dihilangkan maka seba
tersebut, lazim disebut mesin gian besar dari serat-serat yang
pre drawing. Beberapa sliver mempunyai tekukan akan
hasil mesin pre drawing disuapkan dalam arah yang
kemudian disuapkan ke mesin salah sehingga hasil pelurusan
lap former (super lap) dan serat selama penyisiran kurang
hasilnya berupa lap kecil yang efektif.
sesuai untuk penyuapan mesin Menurut teori Prof. Morton yang
combing. Karena sliver yang didasarkan atas beberapa hasil
disuapkan tersedia cukup penyelidikannya, menunjukkan
banyak dalam can, maka bahwa serat-serat didalam sliver
penyuapan tidak cepat habis, hasil mesin carding sebagian
sehingga tidak banyak besar mempunyai ujung yang
memerlukan perhatian dan tertekuk dibagian belakangnya.
pelayanan. Dengan adanya tekukan serat,
maka pelurusan dan penjajaran
serat pada mesin drawing tidak
163
akan sempurna. Untuk menghi tidak terluruskan pada waktu
langkan / meluruskan tekukan- penyisiran.
tekukan serat tersebut, selain Berdasarkan uraian tersebut
mesin drawing juga mesin com diatas, maka pada urutan
bing dapat melaksanakannya proses persiapan combing baik
dengan jalan penyisiran. Penyi model lama maupun baru, harus
siran ini juga dapat berfungsi disusun sedemikian rupa
meluruskan tekukan serat disam sehingga penyuapan serat pada
ping serat ini terjadi bilamana mesin combing, sebagian besar
letak tekukan selama penyua tekukan serat berada dibagian
pan ada dibagian depan serat, depan seperti yang terlihat pada
sedang bagian belakangnya gambar 5.97a. Dengan
dalam keadaan dijepit. demikian sebagian besar
Hal ini dapat terlihat jelas pada tekukan serat dengan mudah
gambar berikut ini. dapat diluruskan oleh sisir-sisir
mesin combing.
Dengan cara model baru yaitu
dengan urutan mesin-mesin pre
drawing dan lap former, maka
selain mesin pre drawing
mengubah kedudukan tekukan
serat dari bagian belakang
(a) (travelling hook) ke bagian
depat serat (leading hook),
maka mesin pre drawing juga
berfungsi sebagai mesin
drawing.
Gambar 5.98 menunjukkan
susunan mesin pada proses
persiapan combing dengan
(b) keadaan tekukan serat-
seratnya.
Gambar 5.97 Dengan memasang 1 atau 3
Arah Penyuapan Serat pada mesin drawing sebagai proses
Mesin Combing pre drawing, yang kemudian
hasil slivernya disuapkan pada
Gambar 5.97a memperlihatkan lap former, maka serat-serat
arah penyuapan tekukan serat dari lap hasil lap former yang
yang betul sehigga tekukan akan disuapkan ke dalam mesin
serat dapat diluruskan selama combing, akan mempunyai
penyisiran. Sedang gambar tekukan yang terletak dibagian
5.97b memperlihatkan arah depan (leading hook). Dengan
penyuapan tekukan serat yang demikian sisir pada mesin
salah sehingga tekukan serat combing dapat menyisir serat
164
serta meluruskan tekukan, kare an yang kecil. Dengan demikian
na bagian belakang serat dalam hasil proses berikutnya tidak
keadaan dijepit. akan lebih baik dari cara seperti
Pemakaian mesin lap former pada gambar 5.98b, dimana
dan mesin ribbon lap (gambar dengan cara ini lebih banyak
5.98a), meskipun juga mengu dilakukan peregangan dengan
bah letak tekukan serat dari mesin drawing, sehingga serat-
bagian belakang (lap hasil lap seratnya makin terarah dan
former) ke bagian depan (lap sejajar.
hasil ribbon lap) yang kemudian Karena adanya kekurangan pa
disuapkan ke mesin combing, da cara seperti gambar 5.98a,
tetapi dengan cara ini perega maka cara yang konvensional
ngan (drafting) dan pelurusan ini tidak lazim dipakai lagi, yang
tekukan serat sebagai akibat berarti bahwa mesin sliver lap
proses peregangan pada mesin juga sudah jarang sekali
drawing kurang sempurna, dijumpai dalam urutan proses
karena fungsi utama dari lap persiapan combing pada proses
former yaitu membuat lap pemintalan model baru.
dengan memberikan peregang
SL

Gambar 5.98
Tekukan Serat yang disuapkan ke Mesin Combing

Keterangan : Cb. Combing


C. mesin Carding SL. Sliver Lap
D. mesin Drawing RL. Ribbon Lap
LF. Lap Former
165
Pada cara seperti gambar 5.98c adalah mesin Pre Drawing
dimana urutan proses terdiri dari dan mesin lap Former.
pre drawing dan lap former, Mesin Pre Drawing ini
merupakan suatu cara proses bekerjanya adalah sama
persiapan combing yang lebih dengan mesin drawing biasa.
baik dalam pembuatan benang Sebagai bahan penyuapan
sisir. digunakan sliver hasil mesin
Dengan banyaknya peregangan Carding. Biasanya 6 – 8 buah
(drafting) dalam urutan proses sliver dirangkap menjadi satu,
tersebut, maka serat-serat juga kemudian setelah melalui
akan lebih sejajar, yang berarti proses peregangan akan
memudahkan dan menyempur dihasilkan sliver yang lebih rata,
nakan penyisiran yang sesung letak serat-seratnya lebih sejajar
guhnya pada mesin combing. jika dibandingkan dengan sliver
Dengan makin lurus dan hasil mesin Carding.
sejajarnya serat, maka pada Penempatan can yang berisi
waktu penyisiran kemungkinan sliver hasil mesin Carding harus
putusnya serat-serat sebagai diatur sedemikian rupa
akibat dari penyisiran akan sehingga slivernya tidak boleh
berkurang, sehingga dapat habis dalam waktu yang
memperkecil terjadinya limbah. bersamaan.

5.15.1 Proses di Mesin Pre


Drawing

Mesin persiapan combing model


baru pada prinsipnya berfungsi
sama, yaitu membuat lap kecil
yang lebih rata sebagai bahan
penyuap combing. Mesin
persiapan combing model baru
banyak digunakan dewasa ini Gambar 5.99
Mesin Pre Drawing
166

Gambar 5.100
Alur Proses Mesin Pre Drawing

Keterangan : Rol atas dibuat dari baja


1. Pengatur sliver berbentuk silinder yang
2. Pelat penampung dilapisi dengan bahan
3. Pasangan rol peregang sintetis.
4. Pembersih 2. Pembersih (4) yang dibuat
5. Pelat pengantar dari kain wol atau flanel.
6. Terompet
7. Rol penggilas 5.15.1.3 Bagian
8. Coiler Penampungan
9. Penyangga can (can table) Bagian penampungan terdiri
10. Can dari :

5.15.1.1 Bagian Penyuapan 1. Pelat pengantar (5) yang


Bagian penyuapan pada mesin dibuat dari pelat baja
Pre Drawing terdiri dari : dengan permukaan atas yang
1. Pengantar sliver (1) licin untuk memperlancar
berbentuk pelat yang diberi jalannya serat.
lekukan atau berupa rol 2. Terompet (6) dibuat dari
(lifting roll). logam atau bahan lain yang
2. Pelat penampung (colecting berbentuk seperti corong
bar) (2) berbentuk lekukan, dengan permukaan dalam
berguna untuk meluruskan yang licin.
sliver yang disuapkan, 3. Rol penggilas (7) (calender
supaya tidak bertumpukan. roll) terdiri dari sepasang
silinder besi dan berputar
5.15.1.2 Bagian Peregangan aktif.
Bagian peregangan terdiri dari : 4. Coiler (8) terdiri dari dua rol
kecil berputar aktif untuk
1. Rol peregang (3) yang terdiri menarik sliver dan
dari 4 pasangan rol atas dan seterusnya sliver disalurkan
bawah. melewati poros corong dan
Rol bawah dibuat dari baja keluar pada bagian tepi.
yang berbentuk silinder dan 5. Penyangga can (9) (can
beralur. table) berbentuk pelat
167
bundar bergigi yang menghentikan mesin apabila
berputar aktif. Pada terdapat sliver putus.
penyangga ini diletakkan
can. 5.15.5 Pemeliharaan mesin
Pre Drawing
5.15.1.4 Prinsip Bekerjanya Pemeliharaan pada mesin Pre
Mesin Pre Drawing Drawing meliputi :
1. Pembersihan mesin Pre
Can berisi sliver carding Drawing secara rutin setiap
diletakkan secara teratur di 1 bulan.
belakang mesin sebanyak 8 2. Pelumasan bearing top roll,
sampai 10 buah can. Ujung bottom roll setiap 1 minggu.
sliver satu per satu dilalukan 3. Pelumasan top roll setiap 1
melalui pengantar sliver (1). bulan.
Dari pengantar sliver diteruskan 4. Pelumasan sub gear box,
ke pelat penampung (2) yang gear box setiap 3 bulan.
biasanya terdapat sekat untuk 5. Setting bottom roll setiap 4
memisahkan sliver satu dengan bulan.
lainnya agar supaya penyuapan 6. Pencucian top roll setiap 1
dapat merata pada rol peregang minggu
(3). Oleh rol peregang belakang 7. Penggerindaan top roll
sliver ditangkap dan diteruskan setiap 2 bulan.
ke rol di depannya, dimana
kecepatan permukaan rol 5.16 Proses di Mesin Lap
peregang ini makin ke depan Former (Super Lap)
semakin besar, sehingga sliver
lebih sejajar dan lurus dan Seperti halnya pada mesin
sekeluarnya dari rol depan terus persiapan combing lama, maka
meluncur di atas pelat pada akhir proses mesin
pengantar (5) untuk diantarkan persiapan combing model
ke coiler. barupun berakhir dengan hasil
Selanjutnya kapas dilewatkan lap, yang dapat digunakan
melalui terompet (6) kemudian sebagai bahan penyuap mesin
digilas oleh rol penggilas (7) dan combing.
hasilnya berupa sliver terus Sliver yang dihasilkan oleh
masuk ke dalam can tersusun mesin pre drawing, dikerjakan
rapih karena perputaran coiler. lebih lanjut pada mesin lap
Di atas rol peregang terdapat former. Jadi tujuan dari proses
pembersih (4) yang gunanya lap former adalah :
untuk membersihkan serat - Mengadakan perangkapan
kapas yang menempel pada rol beberapa sliver pre drawing
peregang atas. Mesin ini untuk disuapkan bersama-
biasanya diperlengkapi dengan sama ke mesin lap former.
peralatan otomatis yang dapat
168
- Mengadakan peregangan Gambar 5.101
lebih lanjut untuk Mesin Lap Former
mendapatkan kesejajaran
serat yang lebih baik dan
lebih lurus.
- Membuat lap dengan ukuran
kecil sebagai penyuap
mesin Combing.

Karena sebagai penyuap mesin


lap former berupa sliver hasil Gambar 5.102
pre drawing yang letak serat- Alur Proses Mesin Lap Former
seratnya sudah lurus dan
sejajar, maka dihasilkan lap Keterangan :
yang lebih rata dan letak serat- 1. Rol pengantar
seratnya lebih sempurna. Di 2. Pelat pengantar
samping membantu 3. Pasangan rol peregang
mempermudah proses 4. Pembersih
penyisiran, kerusakan serat juga 5a. Rol penekan
berkurang. 5b. Rol penggilas
Karena letak serat-seratnya 6. Rol penggulungn lap
sudah teratur maka penyisiran 7. Penahan bobin
pada mesin combing akan
berlangsung lebih mudah, Nama-nama bagian yang
sehingga kemungkinan dapat penting dari mesin lap former
mempercepat proses penyisiran
yang berarti kecepatan mesin 5.16.1 Bagian Penyuapan
bertambah efisiensi mesin akan Bagian penyuapan pada mesin
lebih baik. Apabila hal ini dapat Lap Former terdiri dari :
terjadi maka biaya ongkos 1. Rol pengantar (1) yang
produksi dapat lebih kecil. dibuat dari besi atau baju.
2. Pelat pengantar (2) dibuat
dari pelat baja tipis saling
bertumpukan.

5.16.2 Bagian Peregangan


Bagian peregangan terdiri dari :
1. Rol peregang (3) yang terdiri
dari 3 pasangan rol atas dan
bawah.
Rol bawah tersebut terbuat
dari baja dan beralur dan rol
atas terbuat dari baja yang
169
dibalut dengan bahan Sliver yang melewati pengantar
sintetis. (2) terkumpul berjajar selebar
2. Pembersih (4) dibuat dari rol peregang. Di sini kapas akan
kain flanel. mengalami proses peregangan
3. Rol penekan (5a) dibuat dari dan peregangan ini terjadi
besi. karena adanya perbedaan
4. Sepasang rol penggilas (5b) kecepatan permukaan rol
besar kecilnya tekanan pada peregang yang satu terhadap
rol penggilas dapat diatur. rol peregang yang lainnya.
Sekeluarnya dari rol peregang
5.16.3 Bagian Penggulungan terus diadakan peregangan
Bagian penggulungan terdiri pada rol penggilas untuk
dari : memadatkannya.
1. Rol penggulung lap (lap roll) Setelah kapas keluar dari rol
(6) terdiri dari dua buah peregang kemudian digilas oleh
silinder baja yang beralur rol penggilas (5b) dan hasilnya
untuk menahan agar yang berupa lap yang cukup padat,
digulung tidak slip. terus digulung pada bobin.
2. Penahan bobin (7) yang Besarnya tekanan rol penggilas
terletak di sebelah kanan kiri (5b) dapat diatur menurut
bobin. tebalnya lap yang dihasilkan.
Agar supaya penggulungan lap
5.16.4 Prinsip Bekerjanya dapat berlangsung dengan baik,
Mesin Lap Former maka bobin harus betul-betul
(Super Lap) menempel pada rol penggulung.
Setelah penggulungan lap pada
Bahan yang disuapkan berupa bobin telah mencapai ukuran
sliver hasil mesin pre drawing, yang diinginkan, kemudian
yang kemudian dikerjakan lebih dilakukan doffing (pengambilan
lanjut pada mesin lap former. lap). Dengan demikian maka lap
Sliver dalam can hasil mesin pre yang dihasilkan telah siap untuk
drawing diletakkan secara disuapkan ke mesin Combing.
teratur dibelakang mesin.
Pengaturan dilakukan
sedemikian rupa, sehingga
sliver dalam can tidak boleh
habis dalam waktu yang 5.16.5. Pemeliharaan mesin
bersamaan. Lap Former (Super
Selanjutnya ujung sliver Lap).
dilalukan pada pengatur (1) Pemeliharaan pada mesin Lap
pelat pengantar (2), rol penekan Former ( Super lap) meliputi :
(5a) rol peregang (3), rol 1. Pembersihan mesin Lap
penggilas (5b) terus digulung Former secara rutin setiap 1
pada rol penggulung (6). bulan.
170
2. Pelumasan gear box setiap Pada prinsipnya, mesin pre
1 tahun. Drawing tidak berbeda dengan
3. Pelumasan bearing top roll mesin Drawing dalam hal cara-
setiap 4 bulan. cara perhitungan regangan
4. Pelumasan top roller cots maupun produksinya.
setiap 3 tahun. Dengan demikian maka cara-
5. Pencucian rantai motor cara perhitungan ini, dapat
utama setiap 6 bulan. diikuti pada bab mengenai
6. Penggerindaan top roller Drawing.
cots setiap 3 tahun.
7. Pemeriksaan break motor x Mesin Lap Former
dan magnetic cluth setiap 4
bulan. - Gearing Diagram Mesin
Lap Former

5.16.6 Perhitungan Produksi Sumber gerakan dari mesin Lap


Mesin Lap Former Former didapat dari sebuah
(Super Lap) motor yang mempunyai
kekuatan ± 3 PK dengan
Sebelum serat-serat diproses di putaran 900 – 1000 putaran per
mesin Combing, perlu adanya menit.
persiapan-persiapan yang harus
dilakukan agar tidak terjadi Gerakan-gerakan yang terdapat
hambatan-hambatan. Proses pada mesin Lap Former antara
persiapan ini antara lain adalah lain adalah :
: membuat sliver agar serat- a. Pergeseran rol penyuap dan
seratnya lebih sejajar dan rata rol-rol peregang
serta pembuatan lap dari b. Pergerakan rol lap
penggabungan beberapa sliver.
Untuk ini diperlukan mesin- Gerakan-gerakan ini didapat
mesin yang mengolah serat- dari sumber gerakan melalui
serat tadi agar menghasilkan puli dan roda-roda.
bahan (lap) sebagai penyuap
mesin Combing.
Mesin-mesin persiapan
Combing ini adalah :

x Mesin Pre Drawing


171

Gambar 5.103
Susunan Roda Gigi Mesin Lap Former

Keterangan : Roda gigi R 13 = 35 – 65 gigi


A = puli Ø 110 mm
B = puli Ø 420 mm Roda gigi R 14 = 30 gigi
Roda gigi R 1 = 22 gigi Roda gigi R 15 = 20 gigi
Roda gigi R 2 = 44 gigi Roda gigi R 16 = 40 gigi
Roda gigi R 3 = 26 gigi Roda gigi R 17 = 22 gigi
Roda gigi R 4 = 98 gigi Roda gigi R 18 = 18 gigi
Roda gigi R 5 = 32 gigi Roda gigi R 19 = 20 gigi
Roda gigi R 6 = 98 gigi
Roda gigi R 7 = 26 gigi
- Pergerakan Rol
Penyuapan dan Rol-rol
Roda gigi R 8 = 59 gigi Peregang
Roda gigi R 9 = 39 gigi
Puli motor A berhubungan
Roda gigi R 10 = 54 gigi dengan puli B dengan
Roda gigi R 11 = 25 gigi perantaraan belt. Satu poros
Roda gigi R 12 = 25 gigi dengan B terdapat roda gigi R 1
172
yang berhubungan dengan R 2 / Roda gigi R14; Roda gigi R15;
Roda gigi R16; rol-rol penyuap.
Seporos dengan R 2 terdapat
roda gigi R 3 yang berhubungan
dengan roda gigi R 7 . Pada - Pergerakan Rol Lap
poros R 7 terdapat rol penggilas Puli motor A berhubungan
dan pada bagian lain terdapat dengan puli B dengan
roda gigi R 8 yang berhubungan perantaraan belt. Seporos
dengan B terhadap roda gigi R1
dengan roda gigi R 9 .
yang berhubungan dengan roda
Seporos dengan R 9 terdapat gigi R2.
roda gigi R 10 yang berhubungan Satu poros dengan Roda gigi R2
terdapat roda gigi R3 yang
dengan roda gigi R 11 . berhubungan dengan roda gigi
Pada poros R 11 terdapat rol R4. Pada poros R4 terdapat rol
depan dari pasangan rol penggulung lap.
Secara singkat hubungan dari
peregang. Roda gigi R 11
sumber gerakan ke rol
berhubungan dengan roda gigi penggulung lap dapat diikuti
R 13 melalui roda gigi perantara sebagai berikut :
R 12 .
Puli A; Puli B; Roda gigi R1;
Pada poros R 11 terdapat rol Roda gigi R2; Roda gigi R3;
belakang dari pasangan rol Roda gigi R4; rol penggulung lap
peregang dan roda gigi R 14
yang berhubungan dengan roda - Perhitungan Produksi
gigi R 16 melalui roda gigi
Produksi mesin Lap Former
perantara R 15 . Pada poros roda adalah berbentuk lap dan
gigi R 16 terdapat rol penyuap. dinyatakan dalam satuan berat
Secara singkat, urutan dari per satuan waktu tertentu.
sumber gerakan ke rol penyuap
dan rol peregang dapat diikuti
sebagai berikut :
- Produksi Teoritis
Puli A; Puli B; Roda gigi R 1 ;
Produksi teoritis mesin Lap
Roda gigi R2; Roda gigi R3; Former dapat dihitung
Roda gigi R7; Roda gigi R8; berdasarkan susunan roda gigi
Roda gigi R9; Roda gigi R10; (gambar 5.103). Putaran rol lap
Roda gigi R11; (rol peregang yang didapat dari sumber
depan); Roda gigi R12; Roda gigi gerakan dalam satu waktu yang
R13; (rol peregang belakang);
173
tertentu menghasilkan panjang Panjang lap yang tergulung per
lap yang digulung. menit :
Pada gambar 5.103, putaran
motor = 900 RPM dan diameter
rol penggulung lap = 450 mm.
A R1 R 3
= 900 . . . . 3 ,14 . 450 mm
B R2 R4
110 22 26 450
= 900 . . . . 3,14 . meter
420 44 98 1000

Kalau efisiensi mesin = 90% dan nomor lap yang dihasilkan adalah
Ne1 0,0086. Maka produksi lap per jam :
95 110 22 26 450
= . 60 . 900 . . . . 3,14 . meter
100 420 44 98 1000

Ne1 = 0,0086 o Nm
= 1,693 . 0,0086
= 0,01456

Produksi per jam :


95 110 22 26 450 1
= . 60 . 900 . . . . 3,14 . . gram
100 420 44 98 1000 0 , 01456
= 172960 gram
= 172,96 kg
- Produksi Nyata doffing adalah sebanyak 23,8
jam.
Produksi nyata dapat diketahui Mesin Produksi mesin rata-rata
dari hasil penimbangan selama per jam dapat dihitung sebagai
satu periode waktu tertentu, berikut :
misalnya satu minggu. Jumlah jam mesin menurut
Sebagai contoh, satu mesin Lap jadwal = 143,6
Former menurut pencatatan Jumlah jam berhenti = 23,8
penimbangan menghasilkan lap Jumlah jam mesin jalan
seberat 19477,08 kg dalam sebenarnya = 119,8
waktu seminggu. Menurut
jadwal kerja, mesin harus Jadi produksi rata-rata per jam
berjalan dalam waktu 143,6 jam. 19.477,08
Jumlah jam mesin berhenti = 162,58 kg
119,8
untuk waktu perawatan,
gangguan-gangguan dan
- Efisiensi
174
Menurut perhitungan di atas, di mesin Combing ini akan terjadi
dapat produksi teoritis mesin proses penyisiran.
Lap Former per jam = 172,96 Proses penyisiran tersebut pada
kg. Sedangkan produksi rata- hakekatnya terdiri dari beberapa
rata per jam = 162,58. gerakan secara bergantian
dengan urutan sebagai berikut :
Jadi efisiensi - Lap yang disuapkan oleh
162,58 sepasang penjepit ke arah
= u 100% 94% lebar lap.
172,96
- Ujung-ujung serat yang
keluar dari jepitan kemudian
5.17 Proses di Mesin disisir oleh pasangan
Combing beberapa sisir.
- Ujung-ujung serat yang
Setelah hasil mesin Carding di panjang kemudian dicabut
proses dalam mesin-mesin oleh pasangan rol melalui
persiapan Combing, maka sisir atas.
hasilnya berupa lap yang
digunakan sebagai bahan
penyuap mesin. Combing. Pada

Gambar 5.104
Skema Mesin Combing

Keterangan : 3. Pelat penyuap lap


1. Lap hasil mesin super lap 4. Rol penyuap lap
2. Rol pemutar lap 5. Sisir atas
175
6. Landasan penjepit tersebut disebut benang sisir
7. Pisau penjepit (Combed Yarn).
8. Rol pencabut Disamping untuk pembuatan
9. Sisir utama benang halus, benang-benang
10. Sikat pembersih rajut dan benang jahit juga
11. Silinder penyaring dibuat melalui proses Combing.
12. Pelat penampung Selain itu dalam pembuatan
benang campuran kapas rayon,
Dengan cara demikian maka benang campuran kapas
serat-serat pendek, kotoran- poliester misalnya, sebelum
kotoran akan dipisahkan dan diblending serat kapasnya juga
serat-seratnya menjadi lurus harus diproses melalui mesin
dan sejajar. Serat-serat pendek Combing.
tersebut harus dipisahkan kare Untuk kapas yang panjang
na dapat mengurangi kerataan seratnya kurang dari 1 18 inch
benang yang dihasilkannya. biasanya tidak dikerjakan
Tujuan dari proses penyisiran melalui proses Combing dan
pada mesin Combing ialah biasanya digunakan untuk
untuk : pembuatan benang nomor
- memisahkan serat-serat pen sedang (Ne 1 20 kebawah).
dek.
- memisahkan / membuang Benang-benang yang terakhir
kotoran-kotoran yang ada ini biasanya disebut benang
pada kapas garu (Carded Yarn).
- meluruskan serat-serat se Nama-nama bagian yang
hingga letak serat-seratnya penting dari mesin Combing
sejajar satu sama lain. ialah :
1. Bagian penyuapan
Pada umumnya kapas yang 2. Bagian penyisiran
dikerjakan melalui proses 3. Bagian penampungan serat
Combing adalah kapas yang panjang
serat-seratnya panjang dan 4. Bagian penampung limbah
5. Bagian perangkapan,
biasanya lebih dari 1 116 inch.
peregangan dan
Misalnya : penampungan sliver
- kapas Sea Island panjang
seratnya 1 - 2 inch x Bagian Peyuapan
- kapas Amerika Egypton pan
jang seratnya 1 - 1 inch

Biasanya kapas yang dikerjakan


melalui proses Combing untuk
pembuatan benang nomor halus
(Ne 1 50 ke atas) dan benang
176
menjaga agar lap tidak
bergerak ke kiri dan ke
kanan maka disebelah kiri
kanan lap dipasang pelat
penahan.
Gambar 5.105
Skema Bagian Penyuapan
Mesin Combing

Keterangan :
1. Lap hasil mesin super lap
2. Rol pemutar lap (lap roll)
3. Pelat penyuap
4. Rol penyuap lap Gambar 5.108 Pelat Penyuap
5. Landasan penjepit (Coshion
Pelate) x Pelat penyuap (3) yang
6. Pisau penjepit (Nipper knife) dibuat dari baja dengan
permukaan yang licin untuk
Bagian penyuapan terdiri dari : memperlancar jalannya lap.

Gambar 5.106 Gulungan Lap


Gambar 5.109 Rol Penyuap
x Lap hasil mesin lap former
(1) atau hasil mesin super x Rol penyuap lap (4) yang
lap atau hasil mesin hi lap. dibuat dari baja yang beralur
untuk memberikan
penyuapan lap sesuai
dengan kebutuhan setiap
penyisiran.

Gambar 5.107
Rol Pemutar Lap
x Rol pemutar lap (lap roll) (2)
terdiri dari dua buah rol yang
dibuat dari alumunium
beralur besar. Kedua rol ini
berputar secara aktif untuk
membantu pembukaan lap
pada waktu penyuapan
sedang berlangsung untuk
177
Gambar 5.110 searah secara periodik. Rol (2)
Landasan Penjepit berputar secara aktif dan
panjang setiap penyuapan
x Landasan penjepit (Coshion diatur sesuai dengan keperluan.
pelate) (5) yang dibuat dari Ujung lap dilakukan pada pelat
pelat baja yang agak tebal, penyuap (3) untuk diteruskan
bagian ujung depan kepada rol penyuap (4). Disini
landasan ini dibuat sedikit lap dijepit oleh landasan
menonjol ke atas penjepit (6) dan pisau penjepit
memudahkan penjepitan (7) yang bentuknya demikian
ujung lap. rupa sehingga dapat menjepit
dengan baik.
Rol penyuap (4) berputar secara
periodik disesuaikan dengan
putaran rol pemutar lap (2),
yang kemudian diteruskan
kepada penjepit yang terdiri dari
landasan penjepit (6) dan pisau
penjepit (7). Pada waktu
Gambar 5.111 Pisau Penjepit penyuapan dilakukan, keadaan
penjepit tersebut dalam posisi
x Pisau penjepit (Nipper knife) terbuka (lihat gambar 5.112)
(6) yang dibuat dari pelat
baja yang agak tebal dan
bagian bawahnya dibuat
lekukan sesuai dengan
benjolan dari landasan
penjepit. Dengan bentuk
landasan penjepit yang
demikian, dimaksudkna
untuk memperoleh
penjepitan yang baik
terhadap lap yang
disuapkan. Gambar 5.112
Awal Penyuapan Lap
Prinsip bekerja bagian dan setelah lap maju karena
penyuapan. putaran periodik dari rol
Sebagai bahan untuk penyuap (4) pisau penjepit (7)
penyuapan mesin Combing bergerak turun untuk melakukan
adalah berupa lap berukuran penjepitan bersama-sama
kecil yang dihasilkan oleh mesin dengan landasan penjepit (lihat
super lap. Lap-lap (1) tersebut gambar 5.113)
diletakkan pada setiap rol
pemutar lap (2) yang berputar
178

Gambar 5.113
Penjepitan Lap
Gambar 5.115
Karena bentuk ujung landasan Skema Bagian Penyisiran Mesin
penjepit (6) dan ujung pisau Combing
penjepit (7) dibuat lekukan
sedemikian rupa, maka ujung Keterangan :
lap dapat menyerupai rumbai- 5. Sisir atas (top comb)
rumbai. Pada saat ini sisir 8. Rol pencabut (detaching roll)
utama (9) mengenai pada 9. Sisir utama (cylinder comb)
bagian yang rata. (lihat gambar
5.114) Nama-nama peralatan yang
penting dari bagian penyisiran

x Sisir utama (9) yang


berbentuk silinder dimana
sebelah dari permukaannya
dipasang deretan sisir yang
jumlahnya berkisar antara
15 sampai 24 sisir. Ada dua
jenis silinder utama yang
ada yaitu Uni Comb dan Hi
Gambar 5.114 Comb. Perbedaannya jenis
Posisi Sisir Utama pada saat Uni Comb nomor sisir yang
Penjepitan Lap dipakai dari depan ke
belakang sama sedang
Karena sisir utama berputar pada jenis Hi Comb makin
secara terus menerus, maka ke belakang nomor sisirnya
pada suatu saat rumbai-rumbai semakin kecil (halus).
lap akan terkena bagian sisir
mulai dari bagian depan terus
sampai yang belakang.

5.17.2 Bagian Penyisiran


179

Gambar 5.116
Sisir Utama
Gambar 5.118 Sisir Atas
Sebelah permukaan lainnya
terdiri dari silinder besi yang x Sisir atas (top comb) (5)
halus, untuk permukaan sisir yang dibuat dari pelat baja
berjarak sama dari poros yang tebal dengan ujung
silinder dan sisir tersebut dari bawahnya dipasang sisir
deretan depan ke belakang yang sedikit melengkung ke
kehalusannya berbeda dari belakang dan fungsinya
yang kasar menjadi semakin untuk mengadakan
halus. Pada sisir yang terdepan penyisiran pada ujung
kedudukannya agak condong belakang serat.
dengan kehalusan 22 jarum per
inchi dengan bentuk yang besar - Prinsip Bekerjanya Bagian
dan kasar, sedang makin ke Penyisiran
belakang sisirnya 84 jarum per
inchi dengan kedudukan yang Karena sisir utama (9) berputar
lebih tegak. secara terus menerus maka
pada suatu saat rumbai-rumbai
lap akan terkena bagian sisir
mulai dari bagian depan terus
sampai yang belakang. Karena
kehalusan sisir bertingkat, maka
serat akan terkena penyisiran
Gambar 5.117 Rol Pencabut juga secara bertingkat, dari sisir
yang jarumnya besar dan jarang
x Rol pencabut (detaching roll) sampai sisir yang jarumnya
(8) yang terdiri dari dua halus dan rapat. Jadi pada awal
pasang rol. Rol bawah penyisiran yang tersangkut
dibuat dari baja dengan alur pada sisir hanya kotoran yang
yang halus sedang rol besar dan seterusnya sampai
atasnya dibuat dari baja penyisiran terakhir kotoran yang
yang dibalut dengan bahan kecil dan semua serat yang
sentetis (acotex cots) untuk tidak terjepit oleh landasan
memudahkan penjepitan penjepit akan tersangkut pada
terhadap kapas. sisir selanjutnya.
Untuk lebih jelasnya maka
berikut ini diberikan gambaran
mengenai tahap-tahap
terjadinya proses penyisiran
seperti gambar dibawah ini.
180
Penjepit bersam-sama lap
bergerak kedepan perlahan-
lahan.

Gambar 5.119
Penyuapan Lap

Gambar 5.119 menunjukkan Gambar 5.121


bahwa penyuapan lap sedang Penyisiran Telah Selesai
berlangsung, pisau penjepit (7)
mulai bergerak turun dan Gambar 5.121 menunjukkan
landasan penjepit (6) bergerak bahwa proses penyisiran telah
maju sedang sisir utama (9) selesai. Rol penyuap (4)
belum mulai menyisir. memberikan penyuapan lap
sedikit kedepan, sehingga lap
yang sudah tersisir lebih maju
kedepan. Pisau penjepit (7)
sudah bergerak keatas dan sisir
atas (5) masih bergerak turun.
Kedua pasangan rol pencabut
(8) berputar kearah ke belakang
dan rol pencabut atas (8) yang
sebelah belakang menggeser
pada permukaan rol pencabut
bawah, sehingga ujung lap
Gambar 5.120 sebelah belakang yang sudah
Penyisiran Sedang Berlangsung tersisir keluar ke belakang
menempel pada permukaan rol
Gambar 5.120 menunjukkan
pencabut bawah.
bahwa proses penyisiran
sedang berlangsung, rol
x Penyambungan dan
penyuap (4) dalam keadaan
Pencabutan Serat
berhenti, lap yang disuapkan
dalam keadaan terjepit oleh
- Prinsip dan Cara Kerjanya
pisau penjepit (7) dan landasan
penjepit (6), sedang sisir atas
Setelah penyisiran oleh sisir
(5) sedang bergerak turun.
utama (9) selesai dilakukan,
181
maka serat yang telah disisir
dan masih terjepit akan dibawa
kedepan sampai mencapai
posisi paling depan. Pada waktu
penyisiran berlangsung, penjepit
(6 dan 7) juga bergerak
kedepan secara perlahan-lahan.
Pada waktu serat terbawa Gambar 5.122
kedepan, maka rol-rol pencabut Pencabutan Serat
(8) berputar ke belakang
(gambar 5.120). Dengan Gambar 5.122 menunjukkan
demikian maka ujung depan terjadinya proses pencabutan.
serat yang masih terjepit Kedua pasangan rol pencabut
tersebut akan bertemu dan (8) berputar kearah depan, rol
berimpitan dengan ujung pencabut atas (8) bagian
belakang dari serat pada rol belakang menggeser kedepan,
pencabut (gambar 5.121), kedua ujung lap yang sudah
sehingga dapat terjepit oleh tersisir menempel tersambung
pasangan rol pencabut menjadi satu dan bersama-
belakang (8) pada waktu rol sama terjepit oleh pasangan rol
pencabut ini berputar kedepan pencabut belakang (8). Karena
lagi. perputaran dari rol pencabut
Bersamaan dengan berputarnya maka lap yang sudah tersisir
kembali rol pencabut (8) akan tercabut dan terbawa
kedepan, maka penjepit atas (7) kedepan. Sisir atas (5) pada
bergerak keatas, serta melepas kedudukan terbawah, sehingga
serat dari jepitannya dan pada saat lap tercabut dan
sebaliknya sisir atas (5) akan terbawa kedepan, sisa-sisa
turun kebawah dan menembus serat pendek yang tidak tersisir
serat yang sedang dicabut oleh sisir utama (9) akan tersisir
(gambar 5.122). oleh sisir atas (5).
Akibat pencabutan serat-serat Landasan penjepit (6) bergerak
melalui sisir atas (5) tersebut, ke belakang, penyuapan lap
maka serat-serat akan tersisir berlangsung kembali.
kembali dan menjadi lurus, serta x Penampungan Limbah
kotoran, nep dan serat-serat
pendek yang mungkin masih
tertinggal dapat ditahan oleh
sisir atas (5) dan terpisahkan
dari serat-serat yang panjang.
182

Gambar 5.123 Skema Bagian


Penampungan Limbah
Gambar 5.125 Kipas
Keterangan :
9. Sisir utama x Kipas (fan) (13) untuk
10. Sikat pembersih memberikan hisapan pada
11. Silinder penyaring silinder penyaring (1).
13. Fan (penghisap)
14. Rol penekan
15. Gulungan limbah

Disamping sisir utama (9)


seperti yang telah diuraikan Gambar 5.126 Rol Penekan
diatas dibagian penyisiran ini
terdapat pula beberapa bagian x Rol penekan (14) yang
lain yang fungsinya untuk terdiri rol besi untuk
membersihkan serat-serat menekan serat-serat pendek
pendek yang tersisir dan berada yang terserap oleh silinder
dipermukaan sisir utama. penyaring (9).
Bagian-bagian tersebut terdiri
dari : - Prinsip Kerja
Penampungan Limbah

Sebagaimana telah diterangkan


diatas, akibat penyisiran
terhadap serat yang disuapkan,
maka serat-serat pendek yang
tidak terjepit akan terbawa oleh
sisir utama (9) dan memenuhi
Gambar 5.124 permukaannya, sehingga
Silinder Penyaring kemungkinan besar dapat
mengganggu proses penyisiran
x Silinder penyaring (screen) berikutnya.
(11) yang terdiri pelat Agar penyisiran berikutnya
silinder yang pada dapat lebih efektif, maka serat-
permukaannya terdapat serat pendek yang berada
lubang-lubang kecil. dipermukaan sisir utama (9)
perlu dibersihkan dahulu.
Pembersihan serat-serat
pendek pada permukaan sisir
utama (9) dilakukan oleh sikat
pembersih (10) pada waktu
183
kedudukan sisir utama (9) ada secara periodik, maka bagian
dibagian bawah dari silinder. permukaan yang tidak tertutup
Pada posisi ini, kecepatan oleh pelat penahan hisapan
keliling jarum-jarum pada sisir akan menghisap serat-serat
utama (9) relatif adalah lebih pendek oleh adanya hisapan
lambat daripada kedudukan udara dari fan (13). Serat-serat
sebelumnya, sehingga pendek tersebut akan tertahan
pembersihan serat-serat pendek pada permukaan silinder
dari permukaannya lebih efektif penyaring (11) dan karena
dilakukan oleh sikat pembersih perputarannya maka serat-serat
(10) yang berputar dengan pendek yang telah terkumpul
kecepatan yang cepat dan pada permukaan silinder
tetap. Selanjutnya serat-serat penyaring (11) tersebut
pendek yang telah dibersihkan kemudian dibawa berputar dan
oleh sikat pembersih tersebut bebas dari hisapan udara
dikumpulkan melalui pipa karena terhalang oleh adanya
penghisap oleh adanya hisapan pelat penahan hisapan. Dengan
udara yang ditimbulkan oleh fan demikian serat-serat pendek
(13). yang telah bebentuk seperti lap
Pada ujung pipa penghisap tersebut mudah untuk
terdapat suatu silinder dipindahkan dari permukaan
penyaring (11), yang berfungsi silinder penyaring (11).
untuk menahan serat yang Dibagian atas dari silinder
dihisap pada permukaannya. penyaring (11) terdapat suatu
Pada bagian dalam dari silinder rol penekan (14) yang berfungsi
saringan (11) ini terdapat suatu untuk memadatkan lapisan
pelat penahan hisapan yang serat-serat pendek yang ada
letaknya konsentris terhadap dipermukaan silinder penyaring
silinder penyaring (11) tersebut. (11), sehingga lebih mudah
Pelat penahan hisapan ini untuk dipindahkan dan digulung
bentuknya seperti silinder juga, pada penggulung limbah (15).
tetapi permukaannya tidak
berlubang-lubang, hanya 5.17.3 Bagian Penampungan
diameternya sedikit lebih kecil Serat Panjang (web)
serta tidak berputar.
Pada bagian yang berhadapan
dengan pipa penghisap,
permukaan silinder penyaring
(11) yang berlubang-lubang
tersebut tidak tertutup oleh pelat
penahan hisapan, sehingga
udara yang dihisap dapat
melaluinya. Karena silinder
penyaring (11) ini berputar
184

x Pelat penampang web (12)


Gambar 5.127 yang dibuat dari pelat baja
Skema Bagian Penampungan yang permukaannya licin
Web berbentuk melengkung tidak
simetris.
Keterangan :
8. Rol pencabut
12. Pelat penampung web
13. Terompet
14. Rol penggilas
15. Pembelok sliver
16. Pelat penyalur sliver

Serat-serat panjang yang telah Gambar 5.129 Terompet


disisir dan dicabut oleh rol
pencabut (8) tersebut masih x Terompet (13) yang dibuat
dalam bentuk web tipis yang dari baja atau yang
mempunyai bekas-bekas berbentuk corong dengan
cabutan atau sambungan pada permukaan bagian dalam
waktu pencabutan sehingga yang licin, untuk
tidak rata. Untuk dapat diproses menyatukan web yang
lebih lanjut dengan baik serat ditampung oleh pelat
mempunyai kekuatan terhadap penampung.
tarikan dan sebagainya, maka
web ini, seperti halnya pada
mesin drawing, perlu diubah
bentuknya terlebih dahulu
menjadi sliver yang lebih padat.

Gambar 5.130
Rol Penggilas
Bagian penampung web terdiri x Rol penggilas (14) yang
dari : terdiri dari sepasang silinder
yang dibuat dari baja
dengan permukaan licin
untuk memadatkan serat-
serat hasil penyisiran
sehingga menjadi sliver.

Gambar 5.128
Pelat Penampung Web
185
kemudian ditarik oleh rol
penggilas (14). Karena tarikan
Gambar 5.131 rol penggilas dan penyuapan
Pelat Pembelok web yang ditarik, maka sliver
yang melalui terompet seolah-
x Pelat pembelok (15) yang olah akan menggerak-gerakan
dibuat dari pelat besi tebal terompet yang berhubungan
berbentuk setengah dengan stop motion. Apabila
lingkaran. Permukaan sliver putus, misalnya karena
luarnya dibuat licin dengan web yang terdapat pada pelat
arah pembelokan 90º, untuk penampung web (12) berlebihan
penyuapan rangkapan sliver hingga penyumbatan pada
kepada rol peregang. terompet terjadi, maka akan
mengakibatkan berhentinya
gerakan terompet dan sebagai
akibatnya stop motion akan
mulai bekerja untuk
menghentikan jalannya mesin
Combing. Untuk dapat
menjalankan mesin kembali
maka sliver perlu disambung
Gambar 5.132 dahulu dan banyaknya web
Pelat Penyalur Silver dalam pelat penampung (12)
perlu disesuaikan dengan
x Pelat penyalur sliver (16) ukuran semestinya agar tidak
yang dibuat dari pelat baja menyumbat lubang terompet
yang permukaannya licin atau mengganggu lancarnya
untuk menyalurkan penarikan sliver.
penyuapan rangkapan sliver Setelah sliver-sliver dari setiap
kepada rol peregang. tempat proses penyisiran ditarik
rol penggilas (14), maka
masing-masing sliver akan
- Prinsip dan Cara Kerjanya dibelokkan jalannya 90º oleh
pembelok sliver (15) pada pelat
Setelah proses penyisiran serat penyalur sliver (16). Setelah
selesai dilakukan oleh sisir masing-masing sliver
utama (9) dan sisir atas (5), mengalami pembelokan 90º
maka dapat dicabut oleh rol-rol pada pelat penyalur sliver (16)
pencabut (8) dan serat yang maka masing-masing sliver
berupa web itu disalurkan akan bergerak sejajar dan
melalui pelat penampung web berdampingan menuju ke
(12). Kemudian serat dalam bagian peregangan dari mesin
bentuk web ditampung melalui Combing.
terompet (13) menjadi sliver dan
186

5.17.4 Bagian Perangkapan, Peregangan dan Penampungan


Sliver

Gambar 5.133
Skema Bagian Perangkapan, Peregangan dan Penampungan
Sliver

Keterangan : proses penyambungan web


16. Pelat penyalur sliver oleh pasangan rol pencabut
17. Rol peregang belakang, sehingga sliver yang
18. Terompet keluar dari rol penggilas (14)
19. Rol penggilas belum rata. Untuk mendapatkan
20. Coiler hasil sliver Combing yang rata
21. Can maka perlu dilakukan
perangkapan sliver. Biasanya
Sebagaimana telah diutarakan pada mesin Combing terdapat
diatas bahwa setiap selesai 6 – 8 unit penyisiran, sehingga
penyisiran kemudian terjadi disini terdapat 6 – 8 buah sliver
187
yang keluar dari rol pengilas terdiri dari rol bawah dan rol
(14). Sliver-sliver tersebut atas. Rol bawah dibuat dari
masing-masing dibelokkan silinder baja beralur kecil,
melalui pembelok (15) terus sedang rol atas terbuat dari
bertemu bersama-sama pada silinder baja yang dilapisi
meja penyalur (16). Biasanya dengan bahan sintetis.
6 – 8 buah sliver tersebut dibagi
menjadi dua dan sekarang
masing-masing bagian terdiri
dari 3 – 4 sliver yang dirangkap
menjadi satu. Dari meja
penyalur (16) masing-masing
rangkapan sliver manuju ke
pasangan rol peregang (17).
Disini rangkapan sliver tersebut
mengalami proses peregangan
sebesar kurang lebih 3 – 4 kaki. Gambar 5.135
Dengan adanya proses Terompet
perangkapan dan peregangan
tersebut diharapkan hasil x Terompet (18) yang bentuk
slivernya menjadi lebih rata. dan bahannya seperti yang
Sliver yang keluar dari telah diterangkan diatas.
pasangan rol peregang (17)
kemudian melalui terompet (18),
pasangan rol penggilas (19)
terus melalui coiler (20) masuk
ke dalam can (21).

Bagian perangkapan,
peregangan dan penampungan Gambar 5.136
sliver terdapat peralatan- Rol Penggilas
peralatan yang penting :
x Rol penggilas (callender roll)
(19) yang terdiri dari
sepasang rol silinder
permukaannya licin.
Besarannya tekanan rol
penggilas sedemikian untuk
Gambar 5.134 mendapatkan kepadatan
Rol Peregang sliver Combing yang
dihasilkan.
x Rol peregang (17) yang
terdiri dari dua pasang rol
silinder yang masing-masing
188

Gambar 5.137 Gambar 5.138 Can


Coiler
x Can (21) yang dibuat dari
x Coiler (20) yang dibuat dari bahan semacam karton
baja yang tebal dengan sintetis yang tahan terhadap
lubang pemasukan berupa minyak lumas berbentuk
pipa pada poros lingkaran silinder yang besar,
dan pengelurannya pada dilengkapi dengan per dan
bagian tapi lingkaran, untuk pelat pada bagian atas
mengatur penempatan sliver sebagai tempat menampung
pada can. sliver.

- Prinsip dan Cara Kerjanya

Mengenai prinsip bekerjanya


dari masing-masing peralatan
bagian perangkapan,
peregangan dan penampungan
mesin Combing tersebut adalah
sama seperti halnya peralatan
yang terdapat pada mesin
Drawing, dengan pengecualian
bahwa pada mesin Combing
lazimnya menggunakan sistem
bi-coiler, yaitu dengan memakai
dua coiler yang masing-masing
dilewati oleh sebuah sliver.
189

Tabel 5.5
Penyetelan Jarak dan Pengaturan Waktu

5.17.5 Penyetelan Jarak dan Pengaturan Waktu

Bentuk peralatan yang


Bagian yang disetel Cara penyetelan
dipakai

1. Jarak antara sisir utama


dengan rol pencabut
bawah.

2. Jarak antara landasan


pencabut dengan rol
pencabut bawah, dengan
menggunakan step
gauge.
190
Bentuk peralatan yang
Bagian yang disetel Cara penyetelan
dipakai

3. Kesejajaran dan jarak


antara rol-rol pencabut
dengan menggunakan
trowel gauge

4. Jarak antara ujung jarum


sisir utama dengan ujung
pisau penjepit, dengan
menggunakan trowel
gauge.
191
Bentuk peralatan yang
Bagian yang disetel Cara penyetelan
dipakai

5. Jarak antara posisi


terendah ujung jarum sisir
atas terhadap rol-rol
pencabut atas.

6. Pengukuran besarnya
sudut dari posisi sisir atas
dengan menggunakan
angle-setting.
192
Bentuk peralatan yang
Bagian yang disetel Cara penyetelan
dipakai

7. Jarak antara poros sisir


utama dengan poros sikat
pembersih.

8. Jarak antara ujung jarum Periksa no. 4


sisir atas dengan rol-rol
pencabut bawah.
193

5.17.6 Pemeliharaan Mesin Pada saat tersebut mesin harus


Combing di doffing. Dengan demikian
Pemeliharaan pada mesin panjang sliver pada setiap
Combing meliputi : doffing selalu tetap, sesuai
1. Pembersihan mesin dengan rencana. Keseragaman
Combing secara rutin setiap panjang sliver pada setiap
1 bulan. doffing ini sangat penting untuk
2. Pelumasan gear box setiap can yang direncanakan atau
8 bulan. dipersiapkan pada proses
3. Pembersihan dan pelumas berikutnya nanti yaitu pada
an bearing star gear, rachet mesin Drawing.
feed roll dan roller weight
setiap 3 bulan. 5.17.8 Pengendalian Mutu
4. Pembersihan dan pelumas
an cam ball dan bearing Test yang dilakukan untuk
roller setiap 4 bulan. mesin Combing meliputi :
5. Pembersihan detaching roll
setiap 1 bulan. x Berat Sliver
6. Pembersihan dan peluma Hal ini dilakukan dengan
san bearing calender roll menimbang sliver tiap 4 yard
dan nipper shaft setiap 6 dan kemudian
bulan. membandingkan dengan
7. Pembersihan dan nipper seti standarnya
ap 1 bulan.
8. Setting top comb setiap 1 x Ketidakrataan Sliver
bulan. Combing
9. Pembersihan dan peluma Untuk ini digunakan alat
san top detaching roll setiap “User Evernness Tester”,
1 bulan. dengan alat ini langsung
dapat diketahui angka
5.17.7 Menentukan Doffing ketidakrataannya.

Mesin ini doffingnya tidak x Combing Noil


otomatis seperti pada lap Tes ini dimaksudkan untuk
former, melainkan di doffing mengontrol terhadap
dengan tenaga manusia. persentase noil yang terjadi
Untuk menentukan kapan harus serta kerataannya. Untuk ini
di doffing diukur dengan biasanya dilakukan
counter. Bila counter yang penimbangan untuk waktu
ditentukan sudah dicapai, maka tertentu proses, misalnya 20
lampu doffing (biasanya warna menit.
putih) akan menyala dan mesin
berhenti.
194

Tapi cara yang baik, 30 detik noilnya ditimbang,


dilakukan dengan bagian- sehingga dapat diketahui
bagian waktu. Misalnya tiap pula ketidakrataannya.

Gambar 5.139
Susunan Roda Gigi Mesin Combing

Keterangan : Roda gigi R12 : 25 gigi


Puli A : Ø 100 mm Roda gigi R13 : 40 gigi
Puli B : Ø 420 mm Roda gigi R14 : 68 gigi
Roda gigi R1 : 24 gigi Roda gigi R15 : 62 gigi
Roda gigi R2 : 92 gigi Roda gigi R16 : 20 gigi
Roda gigi R3 : 35 gigi Roda gigi R17 : 20 gigi
Roda gigi R4 : 35 gigi Roda gigi R18 : 20 gigi
Roda gigi R5 : 35 gigi Roda gigi R19 : 20 gigi
Roda gigi R6 : 35 gigi Roda gigi R20 : 74 gigi
Roda gigi R7 : 37 gigi Roda gigi R21 : 42 gigi
Roda gigi R8 : 37 gigi Roda gigi R22 : 75 gigi
Roda gigi R9 : 37 gigi Roda gigi R23 : 32 gigi
Roda gigi R10 : 37 gigi Roda gigi R24 : 44 gigi
Roda gigi R11 : 25 gigi Roda gigi R25 : 44 gigi
195

5.17.9 Perhitungan Bila roda gigi Rachet berputar 5


Penyisiran gigi setiap ayunan dan R 23
yang merupakan roda gigi ganti
Apabila motor berputar 1400 mempunyai jumlah gigi = 42
RPM, maka putaran sisir utama gigi, maka jumlah penyuapan
dapat dihitung sebagai berikut : lap per penyisiran :
Putaran sisir utama
5 42 32 22
A R1 = x x x x
= RPM motor x x x 74 75 44 7
B R2 75 mm
R3 R = 6,486 mm
x 5
R4 R6
100 24 35 35 5.17.11 Perhitungan
= 1400 x x x x Produksi
420 92 35 35
= 87 Produksi mesin Combing adalah
berupa gulungan lap yang
Untuk setiap putaran sisir dinyatakan dalam satuan berat
utama, terjadi satu kali per satuan waktu tertentu (lihat
penyisiran. Dengan demikian gambar 5.139)
maka jumlah penyisiran per
menit = 87 kali. x Produksi Teoritis
5.17.10 Perhitungan Menurut perhitungan
Penyuapan penyisiran dan penyuapan,
untuk penyisiran 87 kali,
Seperti telah diterangkan sedangkan putaran roda gigi
dimuka, bahwa roda gigi Rachet Rachet adalah 5 gigi dan
(Rc) digerakkan oleh batang roda gigi ganti R23 = 42 gigi,
berayun. Setiap ayunan dari maka besarnya produksi
batang berayun roda gigi mesin Combing per menit :
Rachet dapat diputarkan = 87 x 6,486 mm
sebanyak 4, 5 atau 6 gigi = 564,28 mm
tergantung dari keperluan.
Kecepatan penyuapan lap Apabila berat lap yang
adalah sama dengan kecepatan disuapkan mempunyai berat
permukaan dari rol penyuap. 44 gram per meter maka
Banyaknya penyuapan lap per besarnya produksi mesin
penyisiran : Combing per menit :
putaran roda gigi Rachet ( Rc) 564,28 x 44
x = gram
R20 1000
R21 22 = 24,83 gram
x x 75 mm
R22 7
196

Kalau satu mesin Combing Jadi produksi rata-rata per


mempunyai 6 unit 722,99
penyisiran, efisiensi mesin = jam = = 5,931 kg
121,9
94 % dan pemisahan serat
pendek = 14 %, maka
produksi mesin Combing per Keterangan :
jam : JJJMJ = Jumlah jam jalan
menurut jadwal
86
= 24,83 x 60 x 6 x x JJB = Jumlah jam berhenti
100 JJJE = Jumlah jam jalan
94 efisien
= 7226,13 gram
100
= 7,226 kg x Efisiensi

x Produksi Nyata Menurut perhitungan


dimuka, produksi teoritis per
Produksi nyata mesin jam = 7,226 kg.
Combing didapat dari hasil Produksi nyata rata-rata per
penimbangan sliver per satu jam = 5,931 kg
periode tertentu misalnya 5,931
Maka efisiensi = x
seminggu. 7,226
Misalnya dalam satu 100 % = 82,08 %
minggu, hasil pencatan
penimbangan sliver adalah 5.18 Proses di Mesin Flyer
seberat = 722,99 kg.
Jumlah jam mesin jalan Seperti telah diketahui bahwa
menurut jadwal yang ada hasil dari mesin drawing berupa
adalah 145,6 jam. sliver yang lebih rata dan letak
Sedangkan jumlah jam serat-seratnya sudah sejajar
mesin berhenti untuk satu sama lain. Walaupun dari
perawatan, gangguan- bentuk sliver dapat juga
gangguan dan penggantian langsung dibuat menjadi
shift adalah 23,7 jam. benang. Namun untuk
Dengan demikian rata-rata memperoleh hasil benang yang
per jam dari mesin Combing baik, maka sliver tersebut perlu
dapat dihitung sebagai diperkecil tahap demi tahap
berikut : melalui proses peregangan di
JJJMJ = 145,6 jam mesin flyer. Akibat pengecilan,
JJB = 23,7 jam sliver tersebut akan menjadi
JJJE = 121,9 jam lelah dan untuk memperkuatnya
perlu diberikan sedikit antihan
(twist) sebelum digulung pada
bobin.
197

Karena roving tersebut nantinya empat pasangan rol peregang,


masih akan dikerjakan lebih dimana kecepatan putaran
lanjut pada mesin Ring permukaan dari masing-masing
Spinning. Maka pemberian pasangan rol tersebut makin
antihan hanya secukupnya saja kedepan semakin besar.
sekedar untuk mendapatkan Dengan makin besarnya
kekuatan saat digulung pada kecepatan permukaan rol
bobin. Apabila antihannya peregang depan, maka kapas
terlalu tinggi, dalam proses yang disuapkan makin kedepan
selanjutnya akan mengalami menjadi semakin kecil karena
banyak kesulitan pada waktu terjadinya proses peregangan
peregangan di mesin Ring setelah keluar dari rol depan
Spinning. Sebaliknya apabila kemudian diberi antihan dan
pemberian antihan terlalu digulung pada bobin sudah
rendah, hal tersebut akan berupa roving sesuai dengan
menyebabkan roving tidak yang dibutuhkan.
mempunyai kekuatan yang
cukup sehingga roving mudah
putus pada saat proses
penggulungan berlangsung.

Kedua hal tersebut di atas


menyebabkan proses
pembuatan benang menjadi Gambar 5.140
kurang lancar, benang sering Proses Peregangan
putus sehingga dapat
menyebabkan menurunnya x Proses Pengantihan
efisiensi mesin Ring Spinning.
Setelah kapas mengalami
Fungsi mesin flyer secara proses peregangan, bentuknya
umum seperti telah diuraikan di menjadi lebih kecil. Untuk
atas, ialah untuk membuat mendapatkan kekuatan, maka
roving sebagai bahan penyuap roving perlu diberi antihan dan
mesin Ring Spining. Untuk antihan tidak boleh terlalu besar
pembuatan roving tersebut pada maupun terlalu kecil tetapi
mesin flyer terdapat tiga proses hanya secukupnya saja untuk
utama yaitu proses peregangan, dapat digulung pada bobin.
pengantihan (twist) dan Pemberian antihan dilakukan
pergantihan penggulungan. oleh sayap (flyer) yang
bentuknya sedemikian rupa
x Proses Peregangan seperti terlihat pada gambar
5.149.
Proses peregangan pada mesin Kapas yang keluar dari rol
flyer, dilakukan oleh tiga atau depan terus masuk pada flyer
198

dari atas secara axial dan dan terjadilah roving yang telah
seterusnya kapas keluar dari cukup mempunyai kekuatan
arah samping secara radial. untuk digulung pada bobin.
Karena sayap tersebut Karena putaran sayap sangat
bertumpu pada spindel yang cepat maka pengantihan tidak
berputar cepat, maka sayap hanya terjadi pada sayap saja,
juga turut berputar sehingga tetapi diteruskan sampai rol
terjadi pengantihan pada kapas depan pada saat kapas keluar.

Gambar 5.141
Proses Pengantihan

x Proses Penggulungan

Setelah kapas mengalami


proses peregangan dan anthan
kemudian digulung pada bobin.
Proses penggulungan ini terjadi
karena adanya perbedaan
banyaknya putara bobin dengan
putaran spindel per menit.
Untuk pembentukan gulungan
roving pada bobin dilakukan
oleh suatu peralatan yang
disebut Trick Box. Gambar 5.142
Proses Penggulungan
199

Gambar 5.143
Skema Mesin Flyer

Keterangan : - Prinsip Bekerjanya Mesin


1. Rol pengantar Flyer
1a. Can
2. Terompet (pengantar sliver) Sliver drawing dari pengerjaan
3. Tiga pasang rol peregang terakhir (passage akhir) sebagai
4. Penampung (colektor) bahan untuk disuapkan ke
5. Pembersih mesin flyer diletakkan secara
6. Sayap (flyer) teratur di belakang mesin.
7. Spindel Ujung-ujung dari sliver yang
8. Bobin terdapat pada can (1a)
9. Gulungan roving pada bobin dilakukan pada rol pengantar
10. Penyekat (separator) (1), sliver-sliver terpisahkan oleh
11. Cradle penyekatannya sehingga tidak
bersilang satu sama lain.
Dengan demikian sliver tersebut
200

tidak saling bergesekan yang letaknya satu sama lain. Supaya


dapat merusak slver dan serat-serat tidak bertebaran
penyuapan dapat tepat pada maka diantara rol-rol tersebut
daerah peregangan. Rol dipasang penampung (4).
pengantar ini berputar aktif Kapas yang melalui pasangan
maksudnya untuk membantu rol peregang tersebut akan
penyuapan sliver dan mendapatkan jepitan dan
menghindarkan terjadinya penjepitnya tidak boleh terlalu
penarikan (false draft) karena kuat dapat mengakibatkan serat
beratnya sliver sendiri. Setelah banyak yang rusak dan kalau
disuapkan oleh pengantar rol terlalu lemah serat akan banyak
(1), sliver melewati terompet slip pada waktu proses
pengantar (2) yang dapat peregangan.
bergerak ke kiri dan ke kanan
pada daerah peregangan Jarak titik jepit antara pasangan
secara aktif. rol peregang yang satu
terhadap pasangan rol
Tujuan gerakan tersebut ialah peregang yang lain harus diatur
menghindari keausan setempat demikian rupa, tidak boleh
dari rol peregang. Dengan terlalu jauh dan tidak boleh
adanya terompet pengantar ini, terlalu dekat disesuaikan
penyuapan sliver dapat dengan panjang serat yang
terarahkan pada daerah diolah. Kalau jarak antar titik
peregangan saja. Setelah sliver jepit terlalu jauh akan terjadi
melewati terompet pengantar banyak serat yang
sliver (2), sliver masuk daerah mengembang (flooting fibre)
peregangan dan diterima oleh dan kalau jaraknya terlalu dekat
sepasang rol belakang. Dengan akan timbul serat yang putus
putaran yang lambat sliver atau bergelombang (cracking
diantarkan kepada rol tengah fibre).
yang kecepatan permukaannya
lebih cepat, sehingga terjadi Setelah kapas keluar dari
peregangan. pasangan rol depan terus
masuk lubang sayap bagian
Dari rol tengah serat-serat atas terus ke sayap (6a),
diteruskan ke pasangan rol selanjutnya dibelitkan pada
depan yang kecepatan lengan sayap (6b) lalu digulung
permukaannya lebih tinggi dari pada bobin (8). Karena putaran
rol tengah, sehingga terjadi dari sayap berikut lengan
peregangan yang berikutnya. sayapnya, maka terjadi antihan
pada rovingnya.
Akibat proses peregangan maka
letak serat-seratnya menjadi Antihan yang terdapat pada
lebih lurus dan lebih sejajar roving tidak boleh terlalu besar
201

dan tidak boleh terlalu kecil Nama-nama peralatan penting


tetapi secukupnya saja asal dari bagian penyuapan adalah :
rovingnya sudah cukup kuat
untuk digulung pada bobin. 5.18.1.1 Can
Kalau antihan pada roving
terlalu tinggi, mungkin dapat
mengakibatkan banyaknya
benang yang putus pada proses
dispinning dan sebaliknya kalau
antihan terlalu rendah, roving
akan banyak putus pada waktu
penggulungan.

Proses penggulungan roving


pada bobin terjadi karena
adanya perbedaan kecepatan
putaran bobin dan putaran
sayapnya. Gambar 5.145
Can
Nama-nama bagian yang
penting dari mesin flyer adalah : Can (12) yang dibuat dari bahan
1. Bagian penyuapan semacam karton sintetis yang
2. Bagian peregangan tahan terhadap minyak pelumas
3. Bagian penampungan berbentuk silinder yang besar
dilengkapi dengan per dan pelat
5.18.1 Bagian Penyuapan pada bagian atas sebagai
tempat menampung sliver hasil
mesin drawing.

5.18.1.2 Rol Pengantar

Gambar 5.146
Rol Pengantar
Gambar 5.144
Skema Bagian Penyuapan Rol pengantar (1), biasanya
Mesin Flyer terdiri dari dua buah silinder
besi berbentuk pipa, panjang rol
202

pengantar ini sepanjang mesin yang dapat bergerak ke kiri dan


dan diberi sekat yang dibuat ke kanan dibelakang rol
dari bahan alumunium atau peregang.
ebonit sebagai pemisah sliver
untuk memudahkan pengaturan 5.18.1.4 Penyekat (Separator)
penyuapan.

5.18.1.3 Terompet Pengantar


Sliver

Gambar 5.148
Penyekat

Penyekat (separator) (10) dibuat


Gambar 5.147 dari ebonite, gunanya untuk
Terompet Pengantar Sliver membatasi / memisahkan sliver
yang disuapkan supaya tidak
Terompet pengantar sliver saling terkena satu sama lain
(traverse guide) (2) yang dibuat sehingga dapat mengakibatkan
dari bahan porselin atau ebonit, sliver rangkap dan putus.
dipasang pada batang besi

5.18.2 Bagian Peregangan

Gambar 5.149
Skema Bagian Peregangan Mesin Flyer
203

Nama-nama peralatan penting yang disuapkan, dipasangkan


dari bagian peregangan adalah : pada batang besi.

5.18.2.1 Rol Peregang 5.18.2.3 Pembersih

Gambar 5.150
Rol Peregang

Rol peregang yang terdiri dari 3 Gambar 5.152


pasang rol besi baja (3). Pada Pembersih
tempat-tempat terjadinya
regangan, rol bawah dibuat Pembersih rol atas (5) yang
beralur memanjang, sedang rol dibuat dari bahan wool atau
atas dibuat dari besi baja yang planel.
bagian luarnya dilapisi karet
sintetis. Rol atas diberi beban 5.18.2.4 Cradle
untuk mendapatkan tekanan
yang baik terhadap rol bawah
guna menjepit serat kapas yang
melaluinya.

5.18.2.2 Penampung
(Colektor) (4)

Gambar 5.153
Cradle

Cradle (11) yaitu suatu batang


yang konstruksinya sedemikian
rupa untuk memegang rol atas
Gambar 5.151 dan dilengkapi dengan beban
Penampung penekan rol sistem per.

Penampung (kolektor) (4) dibuat


dari porselin atau ebonite yang
berbentuk seperti corong
terbuka, sebagai penyalur sliver
204

5.18.2.5 Penyetelan Jarak 5.18.2.6 Pemeliharaan mesin


antara Titik Jepit Rol Flyer.
Pemeliharaan pada mesin Flyer
Salah satu faktor yang meliputi :
menentukan mutu hasil roving, 1. Pembersikan mesin Flyer
terutama yang menimbulkan secara rutin setiap 1 bulan.
ketidakrataan adalah 2. Pembersihan dan
penyetelan jarak antara titik jepit pelumasan bearing bottom
(setting) masing-masing roll, bobbin wheel, flyer
pasangan rol peregang. wheel setiap 2 bulan.
3. Pembersihandan pelumas-
Pedoman penyetelan jarak an bearing top roll, bearing
antara titik jepit (setting) yang bobbin wheel, bearing flyer
disarankan oleh pabrik Suessen wheel setiap 8 bulan.
WST untuk mesin flyer adalah : 4. Pembersihan dan
a. Penyetelan jarak antara titik pelumasan main gear,draft
jepit (setting) daerah gear setiap 1 bulan.
regangan utama pada mesin 5. Pembersihan top clearer
roving sistem regangan 3 dan trick box setiap 1 bulan.
diatas 3 untuk proses serat 6. Pencucian dan pengerinda-
28 – 51 mm, dengan alat an top roll setiap 2 bulan.
setting gauge adalah
48 – 58 mm. 5.18.2.7 Pembebanan pada
b. Sedangkan penyetelan jarak Rol Atas
antara titik jepit (setting)
pada daerah regangan Maksud dan tujuan daripada
belakang minimal 50 mm. pembebanan adalah untuk
memperbesar tekanan rol atas
pada rol bawah sepanjang garis
jepit dan mengontrol serat-serat
agar tidak slip pada saat
peregangan berlangsung.

Pembebanan dilakukan
terhadap setiap pasangan rol
karena berat rol sendiri dapat
dikatakan belum cukup untuk
Gambar 5.154 mendapatkan tenaga jepit serta
Penyetelan Jarak antara Titik tekanan yang sempurna.
Jepit Rol Peregang
Dewasa ini pembebanan rol
peregangan pada mesin flyer
lebih banyak digunakan sistem
per daripada sistem bandul.
205

Berikut ini adalah gambar Keuntungan-keuntungan


konstruksi peralatan daripada pembebanan sistem
pembebanan (pendulum per, diantaranya adalah :
weighting arm) 1. Konstruksinya sederhana
sehingga memudahkan
permasangan,
pembongkaran dan
pemeliharaannya.
2. Penyetelan besarnya beban
dapat disesuaikan dengan
nomor sliver yang
disuapkan.
Gambar 5.155 3. Miringnya kedudukan rol
Pembebanan pada Rol Atas tidak banyak pengaruhnya
terhadap nilai beban.
Peralatan ini pada ujung
depannya diperlengkapi dengan
peralatan penunjuk pengatur
beban. Pengatur beban tersebut
mempunyai tanda warna untuk 5.18.3 Bagian Penggulungan
setiap besarnya beban yang
digunakan. Dengan demikian
setiap saat dapat dengan
mudah dilihat berapa beban
yang diberikan. Penyetelan
besarnya beban dapat dengan
mudah dilaksanakan dengan
jalan memutar lubang sekrup ke
kiri dan ke kanan dengan
peralatan kunci yang khusus
disediakan untuk keperluan
tersebut (gambar (5.156)

Gambar 5.157
Skema Bagian Penampungan
Mesin Flyer

Nama-nama peralatan penting


dari bagian penampungan
Gambar 5.156 adalah :
Penyetel dan Penunjuk Beban
206

5.18.3.1 Flyer
Bobin (8) yang dibuat dari
karton, kayu atau dari plastik
berbentuk silinder yang bagian
atas dan bawahnya dibungkus
besi.

Ujung bawahnya diberi lekukan


sebagai tempat mengaitkan
bobin pada roda gigi pemutar
bobin.

5.18.3.3 Penggulungan
Roving pada Bobin
Gambar 5.158 Flyer
Pada waktu berlangsungnya
Sayap (flyer) (6) dibuat dari baja penggulungan roving pada
yang berbentuk seperti jangkar bobin, maka bobin bergerak
terbalik yang terdiri dari bagian naik turun secara teratur
puncak, sayap yang masif dan terbawa oleh gerakan kereta,
sayap yang berlubang dengan sehingga roving diletakkan pada
lengannya lubang dari sayap ini bobin sejajar merapat satu
merupakan rongga dari pipa sama lain.
sebagai tempat jalannya roving.
Selanjutnya roving dibelitkan Seperti kita ketahui bahwa
pada lengan sayap, kemudian spindel berikut lengan sayap
digulung pada bobin. dan pengantar roving tetap
berada pada tinggi yang
5.18.3.2 Bobin tertentu, maka tentunya harus
ada yang menggerakkan bobin
keatas dan kebawah untuk
pembentukan gulungan roving
pada bobin dan yang
menggerakkan bobin ini ialah
kereta.

Kalau misalnya :
Kecepatan kereta persatuan
waktu = Kk
Gambar 5.159 Bobin
Diameter bobin pada suatu
Kapas yang keluar dari rol waktu = b”
depan = L” Diameter roving = r “
Jumlah gulungan = g
207

Maka Kk = g x r” R 1 - R 3 , cone drum atas,


L cone drum bawah, R 22 , R 23 ,
= xr
Sb
R 24 , R 25 , poros VIII ke
Kalau diameter bobin menjadi bawah, R 26 , R 28 , poros VI,
besar, misalnya B, R 29 , R 30 , R 31 , R 32 , R 33 dan
L setang-setang yang bergigi
maka Kk = xr
SB pada balok kereta pada
Jadi kecepatan kereta akan gambar 5.160 kita jumpai R 27
bertambah lambat seperti dan R 28 yang berganti-ganti
halnya kecepatan bobin yang
makin lama makin lambat berhubungan dengan R 26
sesuai dengan bertambah yang menyebabkan
besarnya diameter bobin. pembalikan gerakan kereta
Kereta digerakkan dari poros dari atas kebawah dan dari
utama melalui roda-roda gigi bawah keatas
208

Gambar 5.160
Susunan Roda Gigi Mesin Flyer
Setiap terjadinya lapisan - Memperpendek setiap
gulungan roving yang baru, lapisan gulungan roving
maka tinggi gulungan roving berikutnya dengan jalan
pada bobin dikurangi dari atas menurunkan dan menaikkan
dan dari bawah dengan satu gulungan kurang lebih
diameter roving pada bobin setebal diameter roving.
dibatasi oleh sebuah kerucut - Penggeseran belt pada
yang terpotong. kedua cone drum untuk
mengurangi perputaran roda
Untuk pembentukan gulungan gigi pengatur putaran dari
roving pada bobin ada 3 bobin serta pergerakan
gerakan yang diperlukan yaitu : kereta.
- Pembalikan kereta setelah
menyelesaikan satu lapisan Ketiga pergerakan tersebut
gulungan roving, yaitu dari dijalankan oleh peralatan yang
atas ke bawah atau disebut Trick Box.
sebaliknya.
209

5.18.3.4 Trick Box

Gambar 5.161
Batang Penggeser

Pada gambar 5.161 terlihat ((2) sebelah kanan akan


bahwa batang peluncur (2) terbawa bergerak naik turun.
dipasang mati pada kereta Dengan terbawanya stang
(bobin rail), sedang balok bergigi (2) naik turun, maka
peluncur (2a) dapat meluncur batang bersayap (4) akan
dengan bebas ke kiri dan ke bergerak ke kanan dan ke kiri.
kanan pada alur batang Karena pada batang bersayap
peluncur. Balok peluncur (2a) tersebut dipasangkan baut
dihubungkan dengan stang berulir (5a) dan (5b) maka baut
bergeser (2) yang dipegang juga akan turut bergerak turun
oleh batang bersayap (4). naik.

Karena pergerakan kereta naik Sekarang perhatikan gambar


atau turun maka stang bergigi 5.162.
210

Gambar 5.162
Peralatan Trick Box

Karena gerakan dari baut (5a) Dengan demikian maka baut


dan (5b) maka hal ini akan (5a) akan bergerak ke bawah,
mempengaruhi tuil (6a) atau yang pada suatu saat akan
(6b) tertekan turun secara menekan tuil (6a) yang sedang
bergantian. menahan batang pemikul (7)
pada lekukan atas.
Apabila sekarang kereta
bergerak ke atas, maka batang Karena adanya beban G yang
peluncur (1) juga terbawa ke dipasang pada kanan dan kiri
atas, stang bergeser (2) pemikul, hal ini akan membantu
bergerak dan memutarkan melepaskan batang pemikul (7)
batang bersayap (4) secara oleh tuil (6a) karena gaya putar
perlahan-lahan arah ke kanan. ke kanan. Setelah baut (5a)
211

menyentuh tuil (6a) dan gerakan Pada ujung atas dari poros (14)
masih terus berlangsung, lama dipasang rantai (16) yang
kelamaan penahan (6a) yang ujungnya diberi beban (18).
menahan lekukan batang Karena berat beban (18), maka
pemikul (7) akan terlepas. akan menimbukan gaya tarik ke
bawah, sehingga akan menarik
Beban G yang kiri akan rantai ke arah kanan, karena
terangkat oleh batang yang pangkal rantai tersebut
dipasang pada peluncur (1) dibelitkan pada poros (14) maka
pada gambar tidak tampak, akan menimbulkan gaya putar
sedang beban G yang kanan terhadap poros (14) sesuai
tidak terangkat dan akan dengan arah panah.
menarik sayap pemikul (7a) ke
bawah. Dengan tergeraknya Selagi pal (8b) masih menahan
sayap (7a) maka poros pun roda gigi Rachet (11), maka
pada ujung bawah dari batang gaya tersebut tertahan dan
pemikul (7) berputar ke kanan pada saat pal (8b) lepas dari
membawa batang (9) yang penahan terhadap roda gigi
sebelah atas juga ke kanan. Rachet (11). Kesempatan itu
Batang (9) ini berhubungan digunakan oleh gaya putar
dengan pal penahan (8a) dan poros (14) untuk memutarkan
(8b), sehingga pal 8b terlepas poros tersebut dengan melalui
dari roda gigi Rachet (11). perantaraan roda gigi panjang
Untuk seterusnya perhatikan (13) ke kanan (berlawanan
gambar 5.163. jarum jam), yang seterusnya
memutarkan roda gigi panjang
(12) juga ke arah kanan (searah
jarum jam). Roda gigi panjang
(12) ini seporos dengan roda
gigi Rachet (11), yang juga
berputar ke arah kanan sesuai
dengan arah anak panah dan
roda gigi Rachet (11) ini
seporos dengan roda gigi (3)
pada gambar 5.161.

Dengan berputarnya roda gigi


(15) karena terbawa oleh
putaran poros (14) maka batang
bergigi (17) akan bergerak ke
kiri sesuai dengan arah anak
panah. Karena kesempatan
Gambar 5.163 berputar dari poros (14) sangat
Gaya Putar pada Trick Box singkat disebabkan pal (8a)
212

telah menahan roda gigi Rachet


(11) kembali, maka gerakan Mengenai batang (9) selain
batang bergigi (17) juga sangat menggerakkan pal penahan
terbatas. Gerakan batang (8b) dan (8a), juga
bergigi (17) ini digunakan untuk menggerakkan batang (10) ke
menggeser kedudukan ban arah kanan dimana batang (10)
(belt) dari cone drum, sehingga ini dihubungkan dengan roda
putaran dari cone drum bawah gigi (19a) dan (19b) yang
yang berputar pasif menjadi giginya berhadapan.
lebih lambat setiap kali ban
digeser kedudukannya.

Gambar 5.164
Roda Gigi Bauble

5.18.3.5 Kesalahan Bentuk


Gulungan Roving - Kesalahan Bentuk
Gulungan dan Cara
Mengatasinya

x Memperlihatkan bentuk
gulungan roving yang
normal.
x Menunjukkan bentuk
gulungan yang ujung
Gambar 5.165 kerucut atas dan bawahnya
Macam Bentuk Gulungan
Roving pada Bobin
213

bersudut besar dan bawah dari bentuk kerucut


gulungan yang curam. sering merosot yang
Bentuk ini sebenarnya bukan mengakibatkan roving sering
merupakan suatu kesalahan, putus pula pada creel (bobin
hanya mempunyai beberapa houlder) sewaktu disuapkan ke
kekurangan antara lain : mesin ring spinning, sehingga
- Penggulungan roving pada menambah besarnya limbah.
bobin cepat penuh, Cara perbaikannya adalah
sehingga sering melakukan kebalikan dari bentuk B.
penggantian (doffing) dan
hal ini menyebabkan mesin x Bentuk gulungan bagian
sering diberhentikan. atas datar dan bagian
- Pemakian bentuk gulungan bawah terlalu curam, untuk
yang demikian pada mesin mengatasi gulungan yang
ring spinning akan lebih demikian dapat dilakukan
cepat pula habisnya. dengan jalan :
- Diperlukan persediaan bobin - Menyetel kembali
kosong yang lebih banyak, kedudukan kereta, pada
juga roving waste (reused waktu bobin kosong
waste) menjadi bertambah diusahakan lengan sayap
banyak. berada ditengah-tengah
bobin dan kedudukan
Untuk perbaikan bentuk batang bergigi (2) harus
gulungan yang demikian, datar (horizontal).
dilakukan dengan jalan Baut berulir (5a) dan (5b)
menggeser lebih ke kiri disetel demikian rupa
kedudukan poros peluncur, sehingga pada waktu kereta
kalau dengan pengeseran ini dijalankan dari bagia tengah
sudut gulungan terlalu kecil ke atas dan ke bawah
(tumpul) maka dapat ditolong menempuh jarak yang
dengan menurunkan baut sama.
berulir (5)
5.18.3.6 Mendoffing
x Memperlihatkan bentuk
gulungan roving yang Mendoffing adalah tugas
bagian atas dan bawahnya memungut bobin yang sudah
terlalu tumpul, ini adalah penuh dan menggantinya
kebalikan dari bentuk B. dengan bobin kosong dan start
Adapun kekurangan dari kembali.
bentuk gulungan yang Cara mendoffing adalah
demikian antara lain : sebagai berikut :
- Siapkan bobin kosong
Karena bentuk gulungan yang disebelah spindel.
sangat tumpul, maka bagian Meletakkan ini hendaknya
214

dilakukan dengan cermat, Ada 4 macam pengetesan mutu


agar tidak tersangkut oleh produksi mesin flyer yaitu :
gulungan roving yang masih A. Test nomor roving
berputar. B. Test kerataan roving
- Berhentikan mesin dengan C. Test antihan pada roving
mengendorkan belt, hingga
terjadi roving yang sebagian 5.18.4.1 Pengujian Nomor
tidak tergulung dan Roving
kemudian tarik roving-roving
tersebut agar tidak Pengujian ini dilakukan dengan
menyumbat pada lubang menimbang roving tiap 20 yards
flyer. atau 30 yards. Penimbangan ini
- Pegang bobin kosong dilakukan dengan gram balance
dengan tangan kiri, sambil dengan satuan berat gram.
mengangkat bobin penuh
dengan tangan kanan dan
dan meletakkannya /
menempatkannya pada 5.18.4.2 Pengujian Kerataan
kereta bobin penuh. Roving
- Masukan bobin kosong pada
kedudukannya (bobin Untuk ini dilakukan dengan alat
pinion). Uster Evernness Tester.
- Demikian dilakukan dari Dengan alat ini kita akan
spindel yang satu ke spindel mendapatkan angka persentase
lainnya hingga selesai. ketidakrataan dari roving
- Naikkan kereta sampai mata dengan satuan U%.
flyer berada tepat ditengah-
tengah bobin kosong. 5.18.4.3 Pengujian Kekuatan
- Selanjutnya belitkan roving Roving
pada bobin kosong.
- Geser belt cone drum pada Pada perkembangannya
kedudukan awal gulungan pengendalian mutu belakangan
dan atur tegangannya. ini, roving juga dikontrol
- Mesin siap untuk distart kekuatannya. Hal ini dilakukan
kembali. dengan penarikan roving per
helai dengan satuan gram.
5.18.4 Pengendalian Mutu
5.18.4.4 Pengujian Antihan
Hasil dari mesin flyer adalah pada Roving
roving. Roving ini harus selalu
dikontrol mutunya agar tidak Untuk ini dilakukan dengan alat
menyimpang dari standar yang Twist Tester dan jumlah
ditetapkan. pengujiannya umumnya
dilakukan 15 kali pengujian.
215

5.18.5 Perhitungan Peregangan

Gambar 5.166
Susunan Roda Gigi Mesin Flyer
216

Keterangan : Roda gigi f = 12 – 36 gigi


Puli A = ‡ 5 inci Roda gigi g = 44 gigi
Puli B = ‡ 8 inci Roda gigi h = 22 gigi
Roda gigi C = 40 gigi Roda gigi j = 22 gigi
Roda gigi D = 44 gigi Roda gigi k = 18 gigi
Roda gigi E = 45 – 104 gigi Roda gigi l = 70 gigi
Roda gigi F = 34 gigi Roda gigi m = 70 gigi
Roda gigi G = 36 gigi Roda gigi n = 14,16,20 gigi
Roda gigi H = 40 gigi Roda gigi p = 80 gigi
Roda gigi I = 22 gigi Roda gigi q = 13 gigi
Roda gigi J = 20 – 70 gigi Roda gigi r = 57 gigi
Roda gigi K = 96 gigi Roda gigi t = 18 gigi
Roda gigi L = 32,40,48,56 gigi Batang bergigi u = 0,3491 pitch
Roda gigi M = 30 gigi Seperti terlihat pada gambar
Roda gigi N = 62 gigi gearing Diagram (gambar
Roda gigi O = 40 gigi 5.166), rol peregang depan
Roda gigi P = 80 gigi diputar dengan kecepatan yang
Roda gigi Q = 14 – 36 gigi tetap (konstan) sebesar n
Roda gigi R = 68 gigi putaran per menit (RPM).
Roda gigi S = 44 gigi Putaran ini didapat dari putaran
Roda gigi T = 50 gigi poros utama melalui roda gigi J
Roda gigi U = 59 gigi (TJW), roda gigi K, roda gigi L,
Roda gigi V = 19 gigi roda gigi M, roda gigi N, roda
Roda gigi W = 34 gigi gigi O dan akhirnya roda gigi P
Roda gigi X = 32 gigi yang terpasang pada rol depan.
Roda gigi Y = 40 gigi
Roda gigi Z = 22 gigi Gambar 5.167 memperlihatkan
Roda gigi a = 32 gigi susunan roda gigi pada rol
Roda gigi b = 36/36 gigi peregang yang merupakan
Roda gigi d = 36 gigi bagan dari gambar 5.155.
Roda gigi e = 36 gigi

Gambar 5.167
Susunan Roda Gigi dari 3 Pasangan Rol Peregang
217

x Tetapan Regangan atau a · c · d'


Draft Constant (DC) =
F · RPR · b'
Seperti telah diuraikan pada bab 80 52 d'
= · ·
yang terdahulu, bahwa yang 20 RPR b'
dimaksud dengan draft constant
ialah draft yang didapat dengan Angka-angka pada persamaan
jalan menghitung besarnya diatas adalah tetap (konstan)
Mechanical Draft (MD) dari kecuali RPR (roda gigi
suatu susunan roda gigi dengan pengganti regangan) yang
memasukkan besarnya roda sering diganti untuk membuat
gigi pengganti regangan (RPR) perubahan regangan adalah
dimisalkan = 1. roda gigi RPR.
Sedangkan Mechanical Draft
ialah besarnya regangan yang Bila roda gigi pengganti
dihitung berdasarkan atas regangan RPR dimisalkan - 1,
perbandingan antara kecepatan dan dimasukkan dalam
permukaan dari rol pengeluaran persamaan diatas, maka
dan rol pemasukan. persamaan tersebut akan
menjadi :
Dengan demikian maka :
52 · 80 · d 1
Mechanical Draft (MD) MD =
KPR depan 1 · 20 · b1
=
KPR belakang 52 · 80 · d 1
= misalkan
20 · b1
Keterangan : = x1
KPR = Kecepatan permukaan
rol Semua angka-angka diatas
Kalau :
adalah tetap (konstan), maka x 1
diameter rol depan = d 1 diatas disebut angka tetapan
diameter rol belakang = b 1 regangan (Draft Constant = DC)
52 · 80 · d 1
dan putaran rol depan = n Jadi DC =
putaran per menit, maka : 20 · b1

n · .S · d' x Regangan Mekanik (RM)


MD = atau Mechanical Draft
F RPR
n· · · S · b' (MD)
a c
n · a · c ·S · d' KPR depan
= RM =
n · F · RPR ·S · b' KPR belakang
218

Keterangan : Dari persamaan diatas didapat :


KPR = Kecepatan permukaan DC = MD · RPR
rol
DC
Kalau rol depan berputar 1 kali, RPR =
MD
maka rol belakang akan
berputar :
Pada umumnya diameter rol
depan adalah sama dengan
20 RPR diameter rol belakang,
1· · putaran
80 c sehingga :

Dengan demikian maka : c · 80 · d 1


DC =
20 · b1
1 · S · d1
RM = c · 80
20 RPR =
1· · · S · b1 20
80 c
1 · 80 · c · S · d 1 Seperti telah diterangkan diatas,
RM =
1 · 20 · RPR · S · b1 bahwa roda gigi C jarang
diganti, dan apabila jumlah gigi
Kalau besarnya regangan roda gigi C= 50, maka besarnya
mekanik akan diubah, biasanya Draft Constant adalah :
yang diubah adalah roda gigi
RPR yaitu yang biasanya 50 · 80
DC =
disebut Roda gigi pengganti 20
Draft atau draft change wheel DC = 200
(DCW). maka :
Kalau RPR = 30, maka
1 · 80 · c · S · d1 besarnya
RM =
1 · 20 · RPR · S · b1
DC
atau MD =
RPR
1 80 · c · S · d 1
= 200
RPR 1 · 20 · S · b1 MD =
30
1 x1 MD = 6,67
= -
RPR 1
Kalau RPR = 28, maka
x1 = Draft Constant besarnya
DC DC DC
RM = atau MD = MD =
RPR RPR RPR
219

200 diperbesar, maka Mechanical


MD = Draft akan menjadi kecil.
28
Selain sistem 3 – rol peregang,
MD = 7,14
ada pula mesin Flyer yang
menggunakan sistem 4 – rol
Berdasarkan uraian diatas,
peregang. Gambar 5.168
maka kalau RPR diperkecil,
menunjukkan susunan roda gigi
Mechanical Draft menjadi besar
dari 4 pasang rol peregang.
dan sebaliknya bila DCW

Gambar 5.168
Susunan Roda Gigi dari 4 Pasangan Rol Peregang

Regangan yang terjadi antara 21 C H


rol belakang dan rol ketiga 1· · · putaran
75 D G
adalah sama dengan kecepatan
permukaan rol ketiga dibagi
Dengan demikian maka :
dengan kecepatan permukaan
rol belakang.
1 · S · r3
RM S  R =
KPR ketiga ( R) 21 C H
RMs – r = 1· · · · S · r4
KPR belakang ( S ) 75 D G
1 · 75 · D · G · S · r3
=
Keterangan : 1 · 21 · C · H · S · r4
KPR = Kecepatan permukaan
rol Regangan yang terjadi antara
rol ketiga dan rol kedua sama
Kalau rol ketiga dimisalkan dengan kecepatan permukaan
berputar 1 putaran maka rol rol kedua dibagi dengan
belakang akan berputar kecepatan permukaan rol
sebanyak : ketiga.
220

KPR kedua (Q)


RM R  Q =
KPR ketiga ( R) 1·S · r1
RM q  p =
20 A E
1· · · · S · r2
Keterangan : 80 B F
KPR = Kecepatan permukaan 1 · 80 · B · F · S · r1
rol =
1 · 20 · A · E · S · r2
Kalau rol kedua dimisalkan
berputar satu putaran, maka rol Regangan yang terjadi antara
ketiga akan berputar sebanyak : rol belakang dengan rol depan
F adalah sama dengan kecepatan
1 · putaran permukaan rol depan dibagi
E dengan kecepatan rol belakang.
Dengan demikian maka :
KPR depan ( p )
RM s  p =
1 · S · r2 KPR belakang ( s )
RM R  Q =
F
1 · · S · r3 Keterangan :
E KPR = Kecepatan permukaan
1 · E · S · r2 rol
=
1 · F · S · r3
Kalau rol depan dimisalkan
Regangan yang terjadi antara berputar 1 putaran, maka rol
rol kedua dan rol depan adalah belakang akan berputar
sama dengan kecepatan sebanyak :
permukaan rol depan dibagi 20 A 21 C H
1 · · · · ·
kecepatan permukaaan rol 80 B 75 D G
kedua. putaran

KPR depan ( P) Dengan demikian maka :


RM q  p =
KPR kedua (Q)
RM s  p =
Keterangan : 1· S · r1
KPR = Kecepatan permukaan 20 A 21 C H
rol 1· · · · · · S · r4
80 B 75 D G
Kalau rol depan dimisalkan 1· 80 · B · 75 · D · G · S · r1
=
berputar satu putaran, maka rol 1· 20 · A · 21 · C · H · S · r4
kedua akan berputar sebanyak :
80 · B · 75 · D · G · r1
20 A E atau
1· · · putaran 20 · A · 21 · C · H · r4
80 B F
221

serat yang menjadi limbah


RM s  p = (Waste).
RM S  P · RM r  q · RM z  p Betapapun kecilnya, limbah
1 · 75 · D · G 1 1 · 80 · B pasti ada dan limbah tersebut
= · · perlu diperhitungkan dalam
1 · 21 · C · H 1 1 · 20 · A
mencari besarnya regangan dan
75 · D · G · 80 · B · r1 regangan ini disebut Regangan
=
21 · C · H · 20 · A · r4 Nyata (RN) atau Actual Draft
(AD).
Pada susunan roda gigi
Misalkan limbah yang terjadi
sebagaimana terlihat pada
selama proses pembuatan
gambar 5.168, terdapat roda
roving adalah sebesar 2%,
gigi pengganti regangan A.
maka :
Untuk mencari besarnya
tetapan regangan dapat dihitung
Regangan Nyata
dengan memisalkan roda gigi A
sama dengan satu. 100
= · MD
Dengan demikian angka tetapan (100  2)
regangan :
Regangan Nyata dapat pula
75 · D · G · 80 · B · r1 dihitung berdasarkan nomor
21 · C · H · 20 · A · r4 bahan yang keluar dibagi
dengan nomor bahan yang
masuk.
x Regangan Nyata (RN) atau
Actual Draft (AD) Pada sistem penomoran kapas,
maka regangan nyata dapat
Dalam proses pembuatan dihitung sebagai berikut :
benang Roving pada mesin
Flyer, karena adanya prosesnya Regangan Nyata
peregangan maka kemungkinan
nomor Keluar ( NK )
terdapat serat yang menempel =
pada rol pembersih dan rol atas, nomor Masuk ( NM )
atau mungkin juga ada yang
jatuh atau beterbangan Kalau Roving yang dihasilkan
walaupun sedikit. mesin Flyer nomornya Ne 1 1,83
dan sliver yang disuapkan ke
Dengan demikian, tidak semua
sliver yang disuapkan pada mesin Flyer nomornya Ne 1
mesin Flyer akan menjadi 0,15, maka :
Roving, tetapi ada sebagian
222

Regangan Nyata Untuk mengetahui besarnya


nomor Keluar antihan, biasanya dinyatakan
= per satuan panjang (inch). Jadi
nomor Masuk
besarnya antihan dinyatakan
dalam antihan per inch atau
1,83 Twist per Inch (TPI).
RN =
0,15
RN = 12,2 atau AD = 12,2 KS / menit
TPI =
KPRPD / menit
Bila limbah yang terjadi selama Keterangan :
proses pada mesin adalah KS = Kecepatan spindel
sebesar 2% maka : KPRPD = Kecepatan
permukaan rol
(100  2) peregang depan
RM = RM
100
98 x Twist Per Inch
RM = · 12,2
100
Dari susunan roda gigi pada
RM = 12
gambar 5.166 besarnya antihan
per inch dapat dihitung sebagai
5.18.6 Perhitungan Antihan
berikut :
(Twist)
Apabila putaran poros utama
berputar n putaran per menit
Bahan yang keluar dari rol
maka :
peregang depan masih
- Spindel akan berputar :
merupakan jajaran serat-serat
yang belum mempunyai F H
n · · putaran/ menit
kekuatan. G I
Agar bahan tadi mempunyai - Rol depan akan berputar :
kekuatan, perlu diberi antihan L M
(Twist). n · · putaran/ menit
J P
Makin besar antihan yang
atau kecepatan permukaan
diberikan pada bahan, makin
rol depan =
besar pula kekuatan yang
L M
didapat. Tetapi biasanya n· · · S · r 1 inch per
antihan yang diberikan hanya J P
secukupnya agar bahan menit
mempunyai cukup kekuatan
untuk digulung pada bobin. KS / menit
Disini akan dibahas mengenai TPI =
KPRPD / menit
perhitungan antihan
berdasarkan susunan roda gigi
mesin Flyer gambar 5.166. Keterangan :
KS = Kecepatan spindel
223

KPRPD = Kecepatan 67,7


permukaan rol Atau TPI = atau
RPA
peregang depan
TC
TPI =
J = Roda gigi pengganti antihan RPA
atau twist change wheel
(TCW). x Tetapan Antihan (TA) atau
Twist Constant (TC)
F H
· Tetapan antihan ini perlu dicari
TPI = G I
dan gunanya untuk
L M
· · S · r1 mempercepat perhitungan
J P apabila pada suatu ketika
32 36 diperlukan untuk mengganti
· roda gigi RPA.
= 30 14
RPA 30 22 3
· · ·1 Roda gigi RPA perlu diganti
40 80 7 8 apabila diinginkan antihan per
32 · 36 · 40 · 80 · 7 · 8 inch pada Roving lebih besar
=
30 · 14 · TCW · 30 · 22 · 11 atau lebih kecil.
Sebagai contoh misalnya
67 · 7 apabila antihan per inch pada
=
RPA Roving = 1, maka besarnya gigi
RPA dapat dihitung sebagai
Angka 67,7 adalah angka yan berikut :
diperoleh darihasil perhitungan
susunan dan gigi dan diameter TA
rol depan. Susunan roda gigi TPI =
RPA
tersebut tidak berubah-ubah,
dan yang bisa diganti-ganti
TA 67,7
RPA = = = 67,7
hanya roda, gigi RPA yang TPI 1
dalam perhitungan diatas RPA
tidak digunakan. Begitu juga Jumlah gigi tidak ada yang
diameter rol peregang depan pecahan sehingga angka 67,7
juga tidak akan berubah. harus dibulatkan menjadi
Karena angka tersebut 68 · gigi.
diperoleh dalam rangka mencari
twist, dan nilainya tetap (tidak Apabila diinginkan TPI = 1,2
berubah) maka angka tersebut maka besarnya gigi RPA =
merupakan angka tetapan 67,7
antihan (TA) atau twist constant = 56,4 dan dibulatkan
1,2
(TC). Jadi TA pada perhitungan
menjadi 56 gigi.
diatas = 67,7.
224

Dari uraian diatas dapat pada roving. Dengan demikian


diperoleh rumus umum sebagai diperlukan adanya kekuatan
berikut : antihan yang cukup pada
roving, sehingga pada waktu
- Twist per inch = terjadi proses penggulungan
pada bobin, roving tidak
Tetapan antihan mengalami regangan palsu
(false draft), atau roving akan
Roda gigi pengganti antihan
putus. Bila terjadi regangan
palsu dan roving tidak putus,
TA maka roving akan menjadi kecil,
(TPI = )
RPA roving menjadi kurang rata dan
nomor yang dihasilkan akan
TA tidak sesuai dengan nomor
- RPA = yang direncanakan.
TPI
Disamping itu roving tersebut
- RPA, TPI = TA harus mempunyai kekuatan
yang cukup untuk memutarkan
Dari ketiga uraian diatas dapat bobin pada crell pda waktu
disimpulkan bahwa : pengerjaan di mesin Ring
- Twist per inch berbanding Spinning tanpa terjadi regangan
terbalik dengan delivery dari palsu.
front roller, jadi berbanding
terbalik dengan produksi. Sebaliknya kalau antihan pada
- Twist per inch berbanding roving terlalu besar, maka akan
terbalik dengan roda gigi mengalami kesulitan paada
pengganti antihan (RPA). proses peregangan di mesin
- Twist Change Wheel Spinning.
berbanding lurus dengan
produksi. Oleh karena itu pemberian
antihan pada roving tidak boleh
Berdasarkan uraian-uraian terlalu besar dan tidak boleh
diatas, maka untuk terlalu kecil, tetapi secukupnya
mendapatkan produksi yang saja kira-kira mampu untuk
sebesar-besarnya, diusahakan digulung digulung pada bobin
pemakaian roda gigi pengganti sewaktu proses penggulungan
antihan (RPA) yang sebesar- di mesin Flyer tanpa mengalami
besarnya sehingga didapat banyak putus.
antihan yang sekecil-kecilnya.
Tetapi bila antihan terlalu kecil,
x Koefisien Antihan atau
harus diingat bahwa
Twist Koefisien
penggulungan roving pada
bobin memerlukan penarikan
225

Besar kecilnya antihan pada


Roving tergantung kepada Dimana D adalah merupakan
panjang serat kapas yang Koefisien antihan.
diolah. Besarnya antihan per Harga dari Koefisien antihan
inch dapat digunakan rumus : tergantung pada jenis serat dan
TPI = D Ne1 panjang serat yang akan diolah.

Tabel dibawah ini menggambarkan Koefisien antihan yang umum


digunakan pada mesin Flyer.

Tabel 5.6
Koefisien Antihan pada Mesin Flyer

KAPAS MESIN KOEFISIEN ANTIHAN


Kapas Mesir Slubbing Frame 0,64

Kapas Mesir Intermediate Frame 0,76

Kapas Mesir Roving Frame 0,9

Kapas Amerika Slubbing Frame 0,95

Kapas Amerika Intermediate Frame 1,05

Kapas Amerika Roving Frame 1,15

Kapas India Slubbing Frame 1,3

Kapas India Intermediate Frame 1,4

Kapas India Roving Frame 1,5

Kapas pendek Slubbing Frame 1,5

Kapas pendek Intermediate Frame 1,8

Kapas pendek Roving Frame 2,0

Dari tabel diatas dapat dilihat Koefesien antihan dan berarti


bahwa makin panjang serat makin kecil pula jumlah
yang diolah, makin kecil antihannya.
226

5.18.7 Perhitungan Produksi Kecepatan spindel per menit

Biasanya produksi suatu mesin


v Ne1
pemintalan pada umumnya N sp
dinyatakan dalam satuan berat =
per satuan waktu yang tertentu.
v Ne1
Begitu pula untuk mesin Flyer,
produksinya dinyatakan dalam Bila mesin Flyer :
satuan berat (kg) per satuan - mempunyai jumlah spindel
waktu tertentu (jam). = 132 buah
- koefisien antihan ( v ) = 0,9
x Produksi Teoritis - nomor roving yang akan
dibuat = Ne 1 · 1
Produksi Teoritis adalah - putaran spindel per menit
produksi yang dihitung = 900
berdasarkan susunan Roda Gigi
dengan memperhatikan nomor Maka produksi mesin Flyer
roving yang akan dibuat pada dapat dihitung sebagai berikut :
mesin Flyer serta jenis kapas
yang diolah. Produksi per spindel per menit
N sp
Produksi per spindel per menit = inch
adalah : v Ne1

Kecepatan Spindel menit Produksi per spindel per jam


Antihan Per Inch N sp x 60
= inch
v Ne1
Sedangkan TPI = v Ne1

Produksi per spindel per menit :


Kalau efisiensi mesin = 85%, maka produksi per mesin per jam
0,85 x 132 x N sp x 60
= inch
v Ne1
N sp 1
= 0,85 · 132 · · 60 · yards
v Ne1 36
N sp 1 1
= 0,85 · 132 · · 60 · · hanks
v Ne1 36 840
227

N sp 1 1 1
= 0,85 · 132 · · 60 · · · lbs
v Ne1 36 840 Ne1
N sp 1 1 1
= 0,85 · 132 · · 60 · · · 453,6 gram
v Ne1 36 840 Ne1
N sp 1 1 1 453,6
= ,85 · 132 · · 60 · · · · kg
v Ne1 36 840 Ne1 1000
0 ,85 · 132 · 900 · 60 · 453,6
= kg = 101 kg
0 , 9 1 · 36 · 840 · 1 · 1000
656,06
Bila mesin Flyer yang = 421,7 inch
digunakan mempunyai susunan
1,15 1,83
roda gigi seperti terlihat pada
gambar 5.155, dimana : Produksi teoritis per spindel per
- Rpm motor = 1200 menit = 421,7 inch
- Nomor roving = Ne 1 · 1,83 Produksi teoritis per jam per
mesin :
- Kapas Amerika jenis
sedang, v = 1,15
656,06 1
= 60 · 132 · · ·
Maka untuk menghitung 1,15 1,83 36
produksi teoritis mesin Flyer
1 1 453,6
dapat dilakukan sebagai · · kg
berikut : 840 1,83 1000
= 27,4 kg
Menurut susunan roda gigi Flyer
A C F H Produksi teoritis per spindel per
N sp = Rpm motor · · · · 27,4
B E G I jam = = 0,21 kg
5 40 34 40 132
N sp = 1200 · · · ·
8 80 36 22
= 656,06 x Produksi Nyata

Produksi nyata adalah hasil


TPI = v Ne1 = 1,15 1,83 roving dari Flyer, yang didapat
= 1,56 dari hasil penimbangan Roving
dalam satuan waktu tertentu.
Produksi per spindel menit Biasanya untuk mengetahui
N sp jumlah produksi nyata rata-rata
= per jam dari mesin Flyer,
Ne1 diambil data hasil produksi
nyata selama periode waktu
228

tertentu, misalnya satu minggu. peregang depan, rol peregang


Kemudian dihitung jumlah jam tengah dan rol peregang
efektif dari mesin tersebut. belakang.
Jumlah jam efektif didapat dari Untuk dapat digulung pada
jumlah jam kerja dalam bobin benang harus cukup kuat
seminggu dikurangi jumlah jam dan diperlukan pengantihan.
berhenti dari mesin itu. Jadi Kalau pemberian antihan pada
jumlah produksi nyata per jam mesin flyer hanya secukupnya
adalah : jumlah produksi nyata saja, maka pemberian antihan
per minggu dibagi jumlah efektif pada mesin ring spinning
per minggu. didasarkan atas pemakaian
Misalkan dalam satu minggu benang tersebut dan harus
menurut jadwal waktu kerja = cukup kuat untuk diproses lebih
147 jam. Jumlah mesin Flyer lanjut.
yang jalan 5 buah @ 132 Pada mesin flyer sayapnya
spindel menurut pengamatan merupakan pengantar roving
selama satu minggu terdapat : 4 sewaktu dilakukan
mesin yang diservis masing- penggulungan dan sayap ini
masing memerlukan waktu 7 tidak bergerak naik turun,
jam. Menurut laporan ternyata sedang pada mesin ring
jumlah produksi hasil spinning traveller yang dipasang
penimbangan = 18.000 kg. pada Ring merupakan
pengantar benang selama
5.19 Proses Mesin Ring penggulungan benang pada
Spinning bobin sambil bergerak naik
turun. Pada mesin flyer yang
Mesin Ring Spinning adalah membuat antihan pada roving
kelanjutan daripada mesin adalah putaran sayap, sedang
Flyer, dimana terjadi proses pada mesin ring spinning yang
perubahan Roving menjadi membuat antihan pada benang
benang dengan jalan adalah putaran dari traveller.
peregangan, pengantihan dan Jadi pada mesin Ring Spinning
penggulungan. Proses di mesin kapas yang keluar dari rol
spinning merupakan proses depan masih sejajar, dan
terakhir dalam pembuatan dengan perantaraan pengantar
benang, sedang proses-proses ekor babi (lappet) terus
selanjutnya hanya merupakan melewati traveller ring yang
proses penyempurnaan. Pada terputarkan spindel. Karena
waktu roving dikerjakan di adanya putaran traveller pada
mesin spinning terjadi proses ring mengelilingi spindel,
peregangan oleh pasangan rol terbentuklah antihan pada
peregang. Peregangan terjadi benang dan dengan demikian
karena adanya perbedaan benang mendapat kekuatan.
kecepatan permukaan antara rol
229

Pada umumnya terjadinya Lapisan gulungan roving di


penggulungan di mesin flyer mesin flyer sejajar poros bobin,
karena putaran sayap lebih sedang lapisan gulungan
lambat dari putaran bobin. Pada benang di mesin Ring Spinning
mesin spinning terjadinya arahnya miring terhadap bobin.
penggulungan benang pada Jadi perbedaan mesin Ring
bobin karena traveller berputar Spinning dengan mesin flyer
lebih lambat dari putaran bobin. antara lain :

Tabel 5.7
Perbedaan Mesin Ring Spinning dengan Mesin Flyer

Mesin Ring
Jenis Mesin Flyer
Spinning
Putaran Spindel Aktif Aktif
Putaran bobin Aktif dan lebih Aktif dan berputar
lambat dari putaran bersama dengan
spindel putaran spindel
Kecepatan putaran Makin lama makin Tetap
bobin lambat
Terjadinya gulungan g = N sp - N sy g = N sp - Ntr
Lapisan Gulungan Tegak sejajar bobin Miring
Hasil akhir Roving Benang

Keterangan :
g = gulungan
N sp = putaran spindel per menit
N sy = putaran sayap per menit
Ntr = putaran traveller per menit
230

Prinsip bekerjanya mesin Ring Spinning :

Gambar 5.169
Skema Mesin Ring Spinning
231

Keterangan : peregangan (5) yang diterima


1. Rak bobin oleh pasangan rol belakang.
2. Penggantung (bobin holder) Dari peregangan rol belakang
3. Pengantar roving diteruskan ke pegangan
4. Terompet pengantar rol tengah dengan kecepatan
(traverse guide) permukaan yang lebih besar,
5. Rol peregang dan roving diregangkan pelan-
6. Cradle pelan sehingga antihannya
7. Penghisap (pneumafil) terbuka kembali, dan serat-
8. Ekor babi seratnya menjadi sejajar.
9. Pengontrol baloning Peregangan yang terjadi antara
10. Penyekat (separator) pasangan rol peregang
11. Traveller belakang dan rol peregang
12. Ring tengah disebut break draft.
13. Spindel Selanjutnya oleh pasangan rol
14. Tin Roller tengah diteruskan ke pasangan
rol depan yang mempunyai
Sebagai bahan penyuap mesin kecepatan permukaan yang
ring spinning adalah roving hasil lebih besar daripada rol tengah,
mesin flyer. Gulungan roving sehingga terjadi proses
pada bobin satu persatu peregangan yang sebenarnya.
dipasang pada tempat Peregangan yang terjadi di
penggantung (2) dan diatur daerah ini disebut mean draft.
supaya isi bobin tidak sama Biasanya pada rol pasangan rol
sehingga habisnya tidak tengah dipasang sepasang
bersamaan. Ujung-ujung roving apron, dan fungsinya antara lain
dilakukan pengantar (3) supaya sebagai pengantar serat-serat
mudah ditarik dan tidak putus. dan memperkecil jarak titik jepit
Pada saat penyuapan roving terhadap rol depan.
sedang berlangsung. Gulungan Di atas dan di bawah rol
roving pada bobin turut berputar peregang ini dipasang
untuk menghindarkan terjadinya pembersih (8), sehingga serat
regangan palsu. dan debu yang menempel pada
Dari pengantar (3) roving rol dapat dicegah. Setelah
dilalukan pada terompet kapas keluar dari rol
pengantar (4) yang bergerak ke peregangan depan akan
kiri dan ke kanan. Gerakan ini terhisap oleh pengisap (7). Bila
masih terbatas pada daerah benang sudah disambung maka
peregangan dengan maksud serat yang keluar dari rol depan
untuk mengarahkan penyuapan langsung dilalukan ekor babi (9)
supaya tidak terjadi pengausan terus melalui traveller (10) yang
setempat pada rol peregang. berputar pada ring sehingga
Dari terompet pengantar (4) terbentuk antihan pada benang
roving disuapkan ke daerah dan benang telah cukup kuat
232

untuk digulung pada bobin. suatu peralatan yang disebut


Karena putaran spindel sangat Cam Screw. Setelah
cepat, maka traveller juga pembentukan pangkal gulungan
terbawa berputar dengan cepat selesai, kemudian disusul
pada ring mengelilingi spindel penggulungan yang sebenarnya
yang menimbulkan gaya sehingga gulungan benang
centrifugal yang besar. pada bobin menjadi penuh.
Dibandingkan dengan berat Penggulungan benang pada
benang antara rol depan sampai bobin ini berbeda dengan
bobin, maka gaya centrifugal penggulungan roving. Kalau
dapat mengakibatkan timbulnya pada roving bobin penggulung
bayangan benang berputar bergerak naik turun dan
seperti balon yang biasa disebut sayapnya berputar ditempat,
baloning. sebagai pengantar roving pada
Untuk menjaga kebersihan dari bobin dan gerakan naik
traveller, pada dekat ring turunnya bobin hampir setinggi
biasanya dipasang baja pelat bobinnya dan benang pada
kecil disebut pisau, gunanya bobin, spindel berikutnya
untuk menahan serat-serat yang bobinnya berputar di tempat dan
terbawa dan menyangkut pada traveller pada ring berikut ring
traveller. Bilamana bobin yang rail bergerak naik turun.
digunakan panjang (9”), maka Gerakan naik dari ring rail lebih
baloning yang terjadi sangat lambat daripada gerakan turun,
besar. Untuk mencegah dan dan pada waktu ring rail naik
membatasi besarnya baloning terjadi penggulungan benang
biasa dibantu dengan antinode yang sebenarnya, sedang pada
ring. waktu ring rail turun terjadi
Disamping antinode ring untuk gulungan bersilang sebagai
membersihkan pemisahan pembatas lapisan gulungan
antara baloning pada spindel yang satu terhadap lapisan
satu dengan spindel lainnya gulungan yang berikutnya.
juga diberi penyekat (14), sebab Pada hakikatnya mesin Ring
apabila baloning bergesekan Spinning dapat dibagi menjadi
dengan arah yang berlawanan tiga bagian :
akan menimbulkan bulu benang 1. Bagian penyuapan
atau mungkin akan saling 2. Bagian peregangan
menyangkut dan benang dapat 3. Bagian penggulungan
putus.
Setelah benang diberi antihan 5.19.1. Bagian Penyuapan
benang terus digulung pada
bobin. Pada awal penggulungan Bagian penyuapan terdiri dari
pada pangkal bobin, bentuk Rak (1) Penggantung (2) Topi
gulungan benangnya harus penutup (2a) Gulungan roving,
khusus dan untuk ini digunakan
233

Pengantar (3) dan Pengantar penguluran roving dari


(traverse guide) (4). gulungannya dapat lancar.
Besarnya masing-masing
Rak (1) berfungsi untuk gulungan roving yang disuapkan
menempatkan penggantung harus diatur sedemikian rupa
(bobin holder) (2) yang sehingga gulungan roving tidak
jumlahnya sama dengan jumlah habis dalam waktu yang
spindel yang terdapat pada satu bersamaan. Fungsi topi penutup
frame. Pada setiap roving (2a) ialah untuk
penggantung (bobin holder) mencegah menempelnya serat-
dipasang gulungan roving hasil serat yang beterbangan pada
mesin flyer, dan gulungan roving, agar tidak menambah
roving tersebut dapat berputar ketidakrataan pada roving yang
dengan mudah pada disuapkan. Sedang pengantar
penggantungnya pada saat (traverse guide) (4) yang
roving ditarik oleh pasangan rol bergerak ke kanan dan ke kiri
peregang. Setiap roving yang fungsinya untuk mengatur
akan disuapkan ke pasangan rol penyuapan roving agar keausan
peregang belakang harus rol peregang merata.
melalui pengantar (4) agar

Gambar 5.170
Skema Bagian Penyuapan Mesin Ring Spinning
234
Nama-nama peralatan penting Pengantar (3), yang berbentuk
dari bagian penyuapan adalah : pipa bulat kecil memanjang
gunanya untuk mempermudah
5.19.1.1 Rak penarikan roving yang
disuapkan.

5.19.1.4 Terompet Pengantar


(Traverse Guide)

Gambar 5.171 Rak

Rak (1), dibuat dari pipa besi


sebagai tempat untk
menyimpan bobin roving
persediaan penyuapan.
Gambar 5.174
5.19.1.2 Penggantung Bobin Terompet Pengantar

Terompet pengantar (traverse


guide) (4), bentuknya seperti
corong kecil dari bahan
semacam ebonite yang
dipasang berangkai pada suatu
batang besi dan dapat bergerak
Gambar 5.172 ke kanan dan ke kiri untuk
Penggantung Bobin menghindarkan terjadinya aus.
(Bobin Holder)
5.19.2. Bagian Peregangan
Penggantung bobin (bobin
holder) (2), dibuat dari silinder Bagian peregangan ini terdiri
besi dengan konstruksi yang dari tiga pasangan rol peregang
dapat diputar pada poros yang (5) yang diperlengkapi dengan
terpasang di rak untuk per penekan yang fungsinya
menggantungkan bobin roving. untuk dapat memberikan
tekanan pada rol peregang atas
5.19.1.3 Pengantar terhadap rol peregang bawah,
sehingga dperoleh garis jepit
yang diharapkan. Akibat adanya
tarikan-tarikan pasangan rol
peregang ada sebagian serat
yang putus menjadi serat-serat
pendek maka pada rol atas
Gambar 5.173 Pengantar dipasang pembersih yang
235
gunanya untuk membersihkan kecepatan permukaan rol
serat-serat yang menempel tengah. Pada bagian
pada rol atas. Pada rol peregangan dilengkapi pula
peregang tengah dipasang dengan penghisap (pneumafil)
apron (6) yang fungsinya untuk (7) yang fungsinya untuk
mengantarkan serat-serat ke menghisap serat yang keluar
pasangan rol depan. Dengan dari pasangan rol peregang
perantaraan apron tersebut, depan apabila ada benang yang
maka kecepatan serat yang putus.
pendek juga selalu mengikuti

Gambar 5.175
Skema Bagian Peregangan Mesin Ring Spinning

Nama-nama peralatan penting Rol Peregang (5) terdiri dari tiga


dari bagian peregangan adalah : pasang rol atas dan rol bawah.
Rol bawah belakang dan rol
5.19.2.1 Rol peregang bawah depan mempunyai alur
kecil dan halus, mesin model
lama alurnya lurus ke arah
panjang, sedang untuk model
baru alurnya miring. Khusus rol
tengah alurnya saling miring
dan berpotongan untuk
memutarkan apron. Rol atasnya
dibuat dari besi yang
Gambar 5.176 permukaannya dilapis bahan
Rol Peregang sintetis. Rol bawah berputar
aktip dan rol atas berputar
236
secara pasip karena adanya penghisap ini ialah untuk
gesekan dengan rol bawah. menghisap kapas apabila ada
benang yang keluar dari rol
5.19.2.2 Cradle depan putus, dan juga untuk
mempermudah penyambungan
benang yang putus.

5.19.2.4 Penyetelan Jarak


antara Rol Peregang

Salah satu faktor yang


menentukan mutu hasil benang,
Gambar 5.177 terutama yang menimbulkan
Cradle ketidakrataan adalah
penyetelan jarak masing-masing
Cradle (6) yaitu suatu batang pasangan rol peregang.
yang konstruksinya sedemikian Penyetelan jarak antara rol
rupa untuk memegang rol atas, pada daerah utama ini
dan dilengkapi dengan beban ditentukan oleh ukuran cradle
penekan rol system per. apron atas dan jaraknya tetap.
Sedangkan penyetelan jarak
5.19.2.3 Penghisap pada daerah belakang
(Pneumafil) bervariasi tergantung pada
besarnya nilai regangan
pendahuluan dan bahan baku
yang diolah.
Bila regangan pendahuluan
rendah (low break draft) yaitu
mencapai 1,4 maka tidak
diperlukan untuk menyesuaikan
Gambar 5.178 penyetelan terhadap panjang
Penghisap (Pneumafil) staple. Sedangkan bila
regangan pendahuluan tinggi
Penghisap (pneumafil) (7), (high break draft) yaitu lebih dari
dibuat dari pipa aluminium atau 2, maka penyetelan daerah
besi yang tipis dan pada belakang harus disesuaikan
tempat-tempat tertentu dimana dengan panjang staple.
benang dari rol depan keluar Berikut ini table penyetelan
terdapat lubang penghisap kecil. yang disarankan oleh pabrik
Penghisap ini dihubungkan Suessen WST.
dengan fan melalui pipa, fungsi
237
Tabel 5.8
Penyetelan Staple Menurut Pabrik Suessen WST

Regangan rendah Regangan tinggi


(sampai 1,4) (lebih dari 2)
Penyetelan
Untuk panjang staple
(mm) Cradle apron atas
sampai
4,5 mm 60 mm 45 mm 60 mm

H 44 67 44 67

H’ 49 73 49 73

V 54 70 L+2 L+2

V’ 52 67 L L

Keterangan : pendahuluan (break draft)


L = panjang stapel + 2 mm mesin ring spinning = 1,33.
Tentukan besarnya jarak antara
titik jepit pasangan rol peregang
depan dan pasangan rol
peregang belakang mesin Ring
Spinning tersebut.
Jawab :
- panjang serat (L) = 28,5 mm +
2 mm = 30,2 mm
- besar jarak antara titik jepit
pasangan rol depan :
h = panjang cradle apron +
Gambar 5.179 Penyetelan Jarak 1 mm
antar Rol Peregang = 51 mm + 1 mm
= 52 mm
Contoh : - besar jarak antara titik jepit
pasangan rol belakang
Diketahui panjang serat yang v = panjang staple (L) +
diproses pada mesinRing 22,2 mm
Spinning = 28,5 mm panjang = 30,2 mm + 22,2 mm
cradle apron = 51 mm dan = 52,4 mm
besarnya regangan
238
5.19.2.5 Pembebanan pada dapat dengan mudah
Rol Atas dilaksanakan dengan jalan
memutar lubang sekrup ke kiri
Maksud dan tujuan daripada dan ke kanan dengan peralatan
pembebanan sebagaimana kunci yang khusus disediakan
diketahui yaitu untuk untuk keperluan tersebut
mendapatkan tekanan (gambar 5.179)
sepanjang garis jepit dan
mengontrol serta mencegah
terjadinya slip pada saat
peregangan berlangsung.
Dewasa ini pembebanan rol
peregang pada mesin ring
spinning lebih banyak
digunakan sistem per daripada
sistem bandul. Berikut ini adalah
gambar konstruksi peralatan
pembebanan (pendulum
weighting arm)

Gambar 5.181
Kunci Penyetel Pembebanan
pada Rol Atas

Keuntungan-keuntungan
daripada pembebanan system
per, diantaranya adalah :
 Konstruksinya sederhana
sehingga memudahkan
pemasangan,
Gambar 5.180 pembongkaran dan
Pembebanan pada Rol Atas pemeliharaannya.
 Penyetelan besarnya beban
Peralatan ini pada ujung dapat disesuaikan dengan
depannya diperlengkapi dengan nomor roving yang
peralatan penunjuk pengatur disuapkan.
beban. Pengatur beban tersebut  miringnya kedudukan rol
mempunyai tanda warna merah tidak banyak pengaruhnya
untuk setiap besarnya beban terhadap nilai beban.
yang digunakan. Dengan
demikian setiap saat dapat
dengan mudah dilihat berapa
beban yang diberikan.
Penyetelan besarnya beban
239
5.19.3. Bagian Penggulungan benang yang dipintal tidak
saling berkaitan dipasang
Bagian penggulungan terdiri penyekat (separator) (10)
bobin yang dipasang pada diantara spindel, di atas spindel
spindel (13), spindel berikut dipasang ekor babi (8) yang
bobin diputarkan oleh tin roller fungsinya agar bentuk balon
(14) dan traveller (11) yang simetris terhadap spindel,
dipasang pada ring dan sehingga benang tidak
fungsinya sebagai pengantar bergesekan dengan ujung
benang, bergerak naik turun spindel.
pada saat penggulungan
benang sedang berlangsung.
Untuk mengurangi tegangan
benang dipasang pengontrol
baloning (9) yang fungsinya
untuk membatasi kemungkinan
membesarnya baloning, agar
240

Gambar 5.182
Skema Bagian Penggulungan Mesin Ring Spinning

Nama-nama peralatan penting Ekor babi (lappet) (8) dibuat dari


dari bagian penggulungan kawat baja yang dibengkokkan
adalah : menyerupai ekor babi dan
dipasang tepat di atas spindel,
5.19.3.1 Ekor Babi (Lappet) gunanya untuk menyalurkan
benang supaya tepat pada
poros spindel.

5.19.3.2 Traveller

Gambar 5.183
Ekor Babi (Lappet)
Gambar 5.184
Traveller
241
5.19.3.5 Pengontrol Baloning
Traveller (11) dibuat dari baja (Antinode Ring)
dan bentuknya seperti huruf C,
fungsinya sebagai pengantar
benang.

5.19.3.3 Ring

Gambar 5.187
Pengontrol Baloning
(Antinode Ring)
Pengontrol baloning (antinode
ring) (9) dibuat dari kawat baja
yang melingkari spindel,
Gambar 5.185 Ring gunanya untuk menjaga agar
baloning tidak teralu besar.
Ring (12) dibuat dari baja dan
dipasang pada Ring Rail, 5.19.3.6 Penyekat (separator)
dimana traveller ditempatkan

5.19.3.4 Spindel

Gambar 5.186
Spindel Gambar 5.188
Penyekat (Separator)
Spindel (13) dbuat dari baja
dimana bobin ditempatkan / Penyikat (separator) (10) dibuat
dipasang. dari besi pelat, atau aluminium
yang tipis, dan dipasang
diantara spindel yang satu
terhadap spindel yang lain dan
gunanya untuk membatasi
baloning tidak saling terkena
satu sama lain, sehingga dapat
mengakibatkan benang putus.
242
5.19.3.7 Tin Roll traveller sebagai pemutar ujung
untaian serat yang keluar dari
rol peregang depan, sedangkan
ujung yang lainnya tetap
dipegang atau dijepit oleh rol
peregang depan.
Banyaknya antihan yang
diberikan pada benang
tergantung kepada
perbandingan banyaknya
Gambar 5.189 Tin Roll putaran dari mata pintal dengan
panjangnya benang yang
Tin rol (14) suatu silinder besi dikeluarkan dari rol depan untuk
sebagai poros utama mesin ring waktu yang sama.
spinning, dan juga untuk Banyaknya antihan yang
memutarkan spindel dengan diberikan pada benang
perantaraan pita (spindel tape) dirumuskan sebagai berikut :
yang ditegangkan oleh
peregang jocky pulley. TPI = C x Ne1
5.19.3.8 Proses Pengantihan
(Twisting) Dimana :
TPI = Twist per inch
Yang dimaksud proses C = konstanta antihan atau
pengantihan ialah penyusunan twist multiplier
serat-serat yang akan dibuat Ne1 = nomor dari benang
benang agar menempati untuk sistem tidak
kedudukan seperti spiral langsung
sedemikian sehingga serat-
serat tersebut saling mengikat Hubungan antihan dengan
dan menampung serat-serat nomor benang seperti yang
yang masih terlepas satu sama dirumuskan di atas dapat
lainnya yang dalam bentuk pita dijelaskan sebagai berikut :
menjadi suatu massa yang Apabila suatu untaian dari serat-
kompak sehingga memberikan serat diputar mengelilingi sumbu
kekuatan pada benang yang panjangnya, maka serat-serat
dibentuknya. komponennya dapat dianggap
Pemberian antihan ini pada akan menempati kedudukan
prinsipnya dilakukan dengan sebagai spiral sempurna atau
memutar satu ujung dari untaian tidak sempurna. Bentuk spiral
serat, sedang ujung yang yang tidak sempurna tergantung
lainnya tetap diam. Pada proses kepada kesamaan (uniformity)
pemintalan pemberian antihan serta keteraturan (regularity)
dilakukan oleh spindel dan dari susunan serat-serat pada
243
untaian serat yang akan diberi yang sedemikian, serat-serat
twist tersebut. mudah tergeser satu dengan
Apabila untaian tersebut akan yang lainnya dan untaian serat-
mengalami tegangan dan serat tersebut akan putus,
perpanjangan (stretching), apabila tarikan yang dikenakan
seperti halnya kalau suatu per cukup besar.
ditarik, sepanjang tidak terjadi Sebaliknya apabila putaran
pergeseran atau slip antara yang diberikan pada untaian
serat. Apabila tegangan ini serat persatuan panjangnya
menyebabkan adanya diperbanyak, maka sudut
perpanjangan atau mulur, maka putarannya (spiralnya) akan
serat-serat yang menempati membesar, demikian pula
kedudukan yang paling luar tekanan kedalam pada serat-
akan mendesak kedalam, serat akan meningkat dan
sehingga mengakibatkan gesekan antara serat makin
penampang dari untaian serat kuat. Hal ini akan mengurangi
tersebut akan menciut/mengecil. atau menghentikan pergeseran-
Hal yang demikian berarti pergeseran antara serat,
bahwa akibat dari adanya reaksi sehingga kekuatan benangnya
dari tarikan tersebut, maka dapat ditingkatkan sampai
timbul gaya menekan kearah mencapai titik kekuatan
titik pusat untaian tersebut, yang maksimumnya (titik kritis).
cenderung untuk mendorong Apabila banyaknya putaran
serat-serat individu makin ditambah lagi melebihi titik
berdekatan dan berkelompok kritisnya, maka serat-seratnya
menjadi satu dan bersamaan akan harus mulur lebih banyak
dengan ini akan meningkatkan karena adanya tegangan
gesekan antar serat atau daya tersebut, dan kalau batas
kohesinya (daya lekatnya). mulurnya dilampaui, maka serat
Dengan demikian maka akan putus dan mengakibatkan
sebenarnya timbul dua macam benangnya putus pula.
gaya sebagai akibat adanya Andaikata serat-seratnya belum
tarikan tersebut, masing-masing putus, tetapi serat-serat tersebut
ialah gaya yang cenderung sebenarnya telah mengalami
untuk memisahkan serat-serat tegangan yang cukup berat,
dan satunya lagi ialah gaya- sehingga sisa kekuatan yang
gaya yang cenderung untuk masih ada pada serat akan
mengikat serat-serat menjadi digunakan untuk mengatasi
satu. Resultante dari gaya-gaya beban dari luar, dan sisa
ini tergantung dari besarnya kekuatan ini akan berkurang.
sudut dari spiralnya. Hal ini dapat dilihat pada
Apabila jumlah putaran per gambar dibawah ini.
satuan panjang sedikit, maka
sudut spiralnya kecil. Dalam hal
244
5.19.3.9 Proses
Penggulungan
Benang pada Bobin

Proses penggulungan benang


pada ring spinning akan jauh
berbeda bila dibandingkan
dengan proses penggulungan
roving di mesin flyer. Perbedaan
tersebut antara lain ialah :
- Pada mesin ring spinning
Gambar 5.190 pengantar benang naik
Hubungan antara TPI dan turun, bobin berputar tetap
Kekuatan Benang pada tempatnya, sedangkan
Jadi, banyaknya antihan yang pada mesin flyer pengantar
harus diberikan pada benang benangnya tetap pada
merupakan masalah yang harus tempatnya dan bobinnya
kita pertimbangkan, baik ditinjau disamping berputar juga
dari segi teknis (operasionil) bergerak naik turun.
maupun ekonomi. - Pada mesin ring spinning
penggulungan terjadi karena
x Arah Antihan adanya perbedaan
kecepatan antara putaran
Arah antihan pada benang ada spindel (Nsp) dengan
dua macam tergantung dari putaran traveller (Ntr)
arah putaran spindelnya. Kedua sehingga jumlah gulungan
arah antihan tersebut disebut benang g = Nsp – Ntr.
arah Z (kanan) atau S (kiri), Pada mesin flyer
seperti terlihat pada gambar penggulungan terjadi karena
5.191. adanya perbedaan
kecepatan antara putaran
bobin (Nb) dengan putaran
spindel, sehingga jumlah
gulungan roving g = Nb – Nsp
- Sistem penggulungan
benang mesin ring spinning
adalah konis, dan
penggulungan roving pada
bobin di mesin flyer adalah
paralel.
- Bentuk gulungan benang
Gambar 5.191 pada bobin di mesin ring
Arah Antihan spinning dapat terlihat pada
gambar 5.192a. sedang
245
bentuk gulungan roving seperti terlihat pada gambar
pada bobin di mesin flyer 5.192b.

Gambar 5.192
Bentuk Gulungan Benang dan Roving pada Bobin

Traveller merupakan pengantar yang bergerak naik turun adalah


benang pada mesin ring bobin bersama-sama dengan
spinning yang dipasang pada keretanya.
ring rail, turut bergerak naik Gerakan naik turun dari ring rail.
turun bersama-sama dengan Peralatan yang mengatur
ring railnya. Sedang pada mesin gerakan naik turunnya ring
flyer, lengan flyer merupakan disebut builder motion, seperti
pengantar roving yang tidak tampak pada gambar di bawah
dapat bergerak naik turun, tetapi ini :
tetap pada tempatnya, sedang

Gambar 5.193
Peralatan Builder Motion
246

Keterangan : menempel pada batang (2)


1. Eksentrik berada pada kedudukan teratas.
2. batang penyangga Naik turunnya batang (2) akan
3. Roda gigi Racet (Rachet selalu mengikuti gerakan
Wheel) berputarnya eksentrik (1).
4. Pal
5. Pen x Gerakan Naik Turunnya /
A. titik putar Ring Rail
B. Rantai
C. Rol C Stang rail (11) dipasang pada
suatu tabung yang mati pada
x Prinsip Bekerjanya Builder rangka mesin, sehingga
Motion gerakan naik turunnya ring rail
dapat stabil. Setiap putaran
Gambar di atas memperlihatkan eksentrik (1), rail akan bergerak
peralatan builder motion dengan naik dan turun satu kali yang
batang penyangga (2) yang disebut satu gerakan penuh
selalu menempel pada eksentrik atau satu traverse. Karena pada
(1) yang berputar secara aktif. waktu menggulung benang di
Menempelnya batang bobin dikehendaki suatu lapisan
penyangga (2) tersebut pemisah antara gulungan yang
disebabkan oleh rantai (B) yang satu dengan gulungan
dihubungkan dengan ring rail. berikutnya, maka gerakan ring
Karena berat penyangga (2) rail waktu dan turun
selalu menempel pada eksentrik kecepatannya dibuat tidak
(1). Batang penyangga sebelah sama. Pada waktu naik ring rail
kiri mempunyai titik putar (A). bergerak lambat, sehingga
Bila bagian yang tinggi dari terjadi penggulungan yang
eksentrik menempel pada sejajar, sedang waktu turun ring
batang (2) maka batang rail bergerak cepat sehingga
penyangga (2) berada pada terjadi gulungan pemisah yang
kedudukan yang terendah. tidak sejajar.
Begitu juga bagian yang rendah
247

Gambar 5.194
Ring Rail

Sebagaimana telah diuraikan 5.194 terlihat rol (c) adalah


dimuka bahwa setiap putaran penggulung dari rantai (B) yang
dari eksentrik satu kali terdapat pada ujung batang (2),
menyebabkan ring rail bergerak sehingga pada waktu eksentrik
naik dan turun satu kali, yang berputar batang (2) terbawa
disebut satu traverse dan naik turun pula. Pen (5)
gerakan ini disebut gerakan dipasangkan mati pada rangka
printer. Setelah ring rail mesin, jadi tidak turun karena
bergerak naik dan turun satu gerakan naik turun dari batang
kali, maka kedudukan ring rail (2).
akan naik satu diameter benang Pada waktu batang (2) bergerak
dan gerakan ini disebut gerakan naik maka pal (4)
sekunder. kedudukannya tergeser ke
Kalau panjang rantai B tetap, kanan karena pen (5) diam di
maka setiap putaran eksentrik tempat, dan pada waktu batang
(1) akan mengakibatkan (2) turun pal (4) akan
gerakan naik turun dari ring rail mendorong maju roda gigi
juga tetap. Tetapi apabila rantai rachet (3).
B diturunkan sedikit, maka hal Banyak sedkitnya gigi rachet
ini menyebabkan ring rail juga yang didorong akan
naik sedikit. Turunnya rantai (B) mempengaruhi perputaran
sedikit tersebut disebabkan rahet, yang juga mempunyai
karena berputarnya rol (C) putaran rol (C) yang
sesuai arah anak panah. Rol C mengggulung rantai (B).
berputar karena diputar oleh Dengan tergulungnya rantai B
roda gigi rachet (3) seperti pada sedikit dari sedikit setiap
gambar 5.193. Pada gambar gerakan naik turun dari batang
248
(2), maka rantai B akan menjadi pula yang akibatnya (10b)
semakin pendek. Karena bertambah naik yang diikuti
kedudukannya tetap dalam dengan naiknya stang ring rail
batang (2) maka rol (D) akan (11) beserta ring railnya (12).
terputar ke kiri oleh rantai (B) Untuk membentuk gulungan
yang semakin pendek. Dengan benang pada bobin di mesin
demikian rantai (7) juga tertarik ring spnning terbagi dalam
ke kiri oleh rol (B) yang terputar tahap yaitu :
oleh rol (D). Jadi kedudukan 1. Pembentukan gulungan
rantai (7) makin lama makin benang pada pangkal bobin
bergeser ke kiri, dan peralatan 2. Pembentukan gulungan
(8) semakin condong ke kiri. Hal benang setelah gulungan
ini akan menarik batang (9) ke pangkal bobin
kiri dan (10a) bergerak ke kiri

Gambar 5.195
Cam Screw dan Gulungan Benang pada Pangkal Bobin

x Pembentukan Gulungan rantai (8) juga dipasang melalui


Benang pada Pangkal cam screw terus ke rol C, maka
Bobin pada waktu rol C turun sebesar
a cm, maka rol D tidak akan
Kalau pada gambar 5.195 cam berputar sebesar busur yang
screw tidak dipasang pada rol lebih kecil dari a cm, tetapi
D, maka waktu rol C turun mengulurnya rantai (8) sebesar
sebentar a cm, rol D juga akan a cm, hal ini terjadi karena
berputar oleh rantai (8) sebesar rantai (8) dilalukan cam screw,
busur yang sama dengan a cm. sehingga dengan demikian
Kalau sekarang pada rol D walaupun rol C turun sebesar a
dipasang cam screw (6) dan cm, rol D akan berputar sedikit
249
dan hal ini akan menyebabkan x Pembentukan Gulungan
naiknya ring rail juga sedikit. Benang setelah
Karena rol C selalu menggulung Penggulungan Benang
rantai (8) untuk setiap gerakan pada Pangkal Bobin
batang (2) naik turun, maka
kedudukan cam screw makin Setelah pembentukan gulungan
lama makin ke bawah, sehingga benang pada pangkal bobin
akhirnya rantai (8) tidak melalui selesai, kemudian diteruskan
cam screw lagi, tetapi langsung dengan penggulungan benang
rol D terus ke rol C. Pada saat berikutnya. Sebagaimana telah
yang demikian ini cam screw diuraikan di muka pada waktu
tidak menyinggung rantai (8) ring rail turun terjadi
lagi, sehingga pada waktu rol C penggulungan benang yang
turun sebesar a cm, rol D juga sejajar dan pada waktu ring rail
diputar oleh rantai (8) sebesar turun dengan kecepatan yang
busur a cm dan rol E juga lebih besar daripada kecepatan
berputar sebesar busur a cm, pada waktu naik, sehingga
dan hal ini menyebabkan terjadi penggulungan benang
naiknya ring rail sebesar a cm yang tidak sejajar.
juga. Gulungan benang yang tidak
Pada saat cam screw tidak sejajar tersebut merupakan
menyinggung rantai (8) lagi, lapisan pemisah antara
maka gerakan naik rai ring rail gulungan benang yang satu
sudah tidak dipengaruhi lagi terhadap lapisan gulungan
oleh screw, dan dengan benang yang berikutnya.
demikian pembentukan Demikian penggulungan benang
gulungan benang pada pangkal berlangsung terus hingga
bobin telah selesai. gulungan benang pada bobin
penuh seperti terlihat pada
gambar 5.195.
250
5.19.3.10 Bentuk Gulungan Benang pada Bobin

Gambar 5.196
Bentuk Gulungan Benang pada Bobin

Didalam praktik sering terjadi b. Bentuk gulungan benang


bentuk gulungan yang tidak yang tidak normal karena
normal, hal ini mungkin terjadi dalam proses benang sering
kesalahan dala melakukan putus dan
penggulungan benang. penyambungannya sering
Kesalahan tersebut dapat terlambat.
disebabkan oleh pengaruh c. Bentuk gulungan benang
mesin atau kesalahan operator tidak normal, karena bagian
dalam melayani mesin. bawahnya besar.
Kesalahan yang disebabkan d. Bentuk gulungan benang
pengaruh mesin mungkin tidak normal, karena bagian
karena penyetelan yang kurang atasnya besar.
betul, sedangkan kesalahan e. Bentuk gulungan benang
yang disebabkan oleh operator tidak normal, karena terlalu
karena terlambat menyambung. kurus.
Pada gambar 5.196 terlihat f. Bentuk gulungan benang
macam bentuk gulungan tidak normal, karena terlalu
benang pada bobin. gemuk.
a. Bentuk gulungan yang g. Bentuk gulungan benang
normal. Isi gulungan tidak normal, karena bagian
tergantung panjang bobin atas membesar.
dan diameter ring. Gulungan h. Bentuk gulungan benang
tidak mudah rusak dan tidak tidak normal, karena bagian
sulit sewaktu dikelos di bawah membesar.
mesin kelos (winder).
251
i. Bentuk gulungan benang 5.19.4 Pengendalian Mutu
normal, tetapi tidak penuh.
j. Bentuk gulungan benang Karena hasil mesin ring
tidak normal, karena bagian spinning ini sudah berupa
bawahnya kosong. benang, maka control mutu
k. Bentuk gulungan benang dilakukan pada semua factor
tidak normal, karena bagian yang turut menentukan mutu
tengah ada benang yang benang antara lain :
tidak tergulung.
5.19.4.1 Nomor benang
5.19.3.11 Proses Doffing
Pengujian nomor benang ini
a. Tentukan mesin yang akan dapat dilakukan dengan dua
di doffing, cara menentukan cara yaitu :
doffing yang baik adalah a. Dengan menimbang benang
berpedoman pada hank sepanjang 1 lea atau 120
meter yang ada pada mesin. yards. Alat yang dipakai
Bila angka yang ditentukan adalah Grain Balance,
sudah dicapai maka saatnya dengan bantuan tabel atau
mesin harus didoffing. perhitungan dapat
b. Siapkan alat-alat doffing ditentukan nomornya.
yaitu kereta doffing lengkap b. Dengan menggunakan
dengan bobin kosong dan Kwadrant Scale, dengan alat
box benang. ini dapat dibaca langsung
c. Pada mesin-mesin yang nomornya, sampel
modern, saat doffing sudah benangnya juga berupa
tertentu dan diatur dengan benangnya sepanjang 1 lea
otomatis, yaitu ring rail akan atau 120 yards.
turun bila saatnya doffing
tiba. Bahkan pada mesin- 5.19.4.2 Kekuatan Benang
mesin yang lebih modern
doffingnyapun telah Untuk menguji kekuatan
dilakukan secara otomatis benangpun biasa dilakukan
pula. dengan dua cara yaitu :
Untuk mesin-mesin yang a. Kekuatan benang per
konvensional doffingnya bundel, alat yang dipakai
dilakukan sebagai berikut : Lea Tester yaitu dengan
- matikan mesin dengan menarik benang sepanjang
menekan tombol OFF, 1 lea, yang telah dibentuk
sambil menurunkan ring rail. bundel yang terdiri dari 80
rangkap. Kekuatan benang
ini lazim dipakai dengan
satuan Lbs/Lea.
252
b. Kekuatan benang per helai, dilengkapi juga dengan IP.1
alat yang dipakai ada yang dapat mengetahui jumlah
bermacam-macam yang bagian-bagian yang mengecil,
pada prinsipnya menarik menggembung dan neps.
selembar benang dengan
jarak/panjang tertentu. 5.19.4.5 Putus Benang
Biasanya 50 cm, alat ini
umumnya mempunyai Putus benang selama proses
satuan dalam gram. Alat ini perlu pula diperiksa karena
selain mencatat putus benang selain
kekuatannya juga mencatat mempengaruhi mutu benang
mulurnya dalam persen. juga berpengaruh besar
terhadap effisiensi produksi.
5.19.4.3 Twist per Inch (TPI) Putus benang biasanya
diperiksa untuk tiap 100 spindel
Ini dimaksudkan untuk menguji dalam waktu 1 jam.
jumlah puntiran benang setiap
inchnya, alat yang dipakai 5.19.4.6 Grade Benang
adalah Twist Tester. Pada
prinsipnya alat ini dipakai untuk Hal ini dimaksudkan menguji
melepaskan puntiran benang mutu benang dari segi
dan atau memberikan puntiran kenampakannya. Untuk itu
kembali dengan arah benang disusun pada sebuah
berlawanan. papan dan dibandingkan
Dengan menghitung jumlah dengan standarnya.
putaran tersebut dapat pula Faktor-faktor yang
ditentukan berapa jumlah dipertimbangkan aalah :
puntiran tersebut dapat pula a. warna
ditentukan berapa jumlah b. kebersihan
puntiran untuk panjang 1 inch c. neps
atau twist per inch. Biasanya d. bulu-bulu benang
pengujian ini dilakukan pada e. kerataannya
panjang benang 5 inch atau 10
inch.

5.19.4.4 Ketidakrataan
Benang

Ketidakrataan benang diperiksa


dengan peralatan Uster
Evenness Tester. Dengan alat
ini akan diketahui Persentase
ketidakrataan dalam U % atau
CV %. Alat ini kadang-kadang
253

5.19.5 Susunan Roda Gigi Mesin Ring Spinning

Gambar 5.197
Susunan Roda Gigi Mesin Ring Spinning
254
Keterangan : L; roda gigi M; roda gigi N; roda
Puli A = ‡ 20 cm gigi O dan rol peregang tengah.
Puli A = ‡ 32 cm Dari roda gigi M; roda gigi P,
Roda gigi C = 61 gigi roda gigi Q, roda gigi R dan rol
Roda gigi D = 160 gigi peregang belakang.
Roda gigi E = 48 gigi
Roda gigi F = 170 gigi x Pergerakan Spindel /
Roda gigi G = 84 gigi Bobin
Roda gigi H = 15 gigi
Roda gigi I = 135 gigi Pergerakan spindel / bobin
Roda gigi K = 30 – 40 gigi merupakan pergerakan yang
Roda gigi L = 40 gigi terpendek dibandingkan dengan
Roda gigi M = 40 gigi pergerakan rol-rol peregangan
Roda gigi N = 20 gigi an pergerakan kereta/ring rail.
Roda gigi O = 22 gigi Gerakan dimulai dari puli motor
Roda gigi P = 44 gigi A ke puli B, yang langsung
Roda gigi Q = 56 gigi memutarkan Tin rol. Gerakan
Roda gigi R = 30 gigi spindel/bobin didapat dari
Roda gigi S = 20 gigi putaran Tin-Rol, melalui spindel
Roda gigi T = 71 gigi tape.
Roda gigi U = 24 gigi
Roda gigi V = 63 gigi x Pergerakan Kereta / Ring
Roda gigi W = 38 gigi Rail
Roda gigi X = 20 gigi
Roda gigi Y = 20 gigi Gerakan kereta/ring rail dimulai
Roda gigi Z = roda gigi cacing dari puli motor A ke puli B. satu
poros dengan puli B terdapat rol
Selain roda gigi M berhubungan an roda gigi C. Roda gigi C
dengan roda gigi P. satu poros berhubungan dengan roda gigi
dengan P terdapat roa gigi Q D.
yang berhubungan dengan roda Seporos dengan D terdapat
gigi R. Pada poros roda gigi R roda gigi E yang berhubungan
terdapat rol peregang belakang. dengan roda gigi F. seporos
Secara singkat, hubungan dari dengan roda gigi F terdapat
sumber gerakan (motor) ke roda gigi S yang berhubungan
pasangan rol-rol peregang pada dengan roda gigi U melalui roa
gambar susunan roda gigi gigi perantara T. Seporos
mesin Ring Spinning dapat dengan U, terdapat roda gigi V
diikuti sebagai berikut : yang berhubungan dengan roda
Motor (puli A); puli B; roda gigi gigi W. Satu poros dengan roda
C; roda gigi D; roda gigi E; roda gigi W terdapat roda gigi payung
gigi F; roda gigi G dan rol X yang berhubungan dengan
peregang depan, roda gigi R, roda gigi payung Y. Roda
roda gigi I; roda gigi K; roda gigi payung Y pada bagian lainnya
255
terdapat roda gigi cacing Rc 8. Pelumasan bearing gear
yang berhubungan dengan roda end setia 4 tahun.
gigi Z. Satu poros dengan roda 9. Kontrol jockey pulley setiap
gigi Z terdapat cam yang 2 tahun.
berbentuk eksentrik. Karena 10. Kontrol lifting shaft dan rante
perputaran dari eksentrik gear end setiap 4 tahun.
tersebut maka dengan peralatan 11. Penggantian rubber cots
yang lain dapat menaikkan an setiap 4 tahun.
menurunkan kereta/ring rail. 12. Pelumasan dan penggerin
Gerakan naik turun ini dilakukan daan top roll setiap 1 tahun.
oleh peralatan yang dinamakan 13. Pembersihan apron band
Builder Motion. Secara singkat dan pengobatan top roll
pergerakan kereta/ring rail apat setiap 6 bulan.
diikuti sebagai berikut :
Motor (puli A); roda gigi C; roda 5.19.7 Perhitungan Regangan
gigi D; roda gigi E; roda gigi F;
roda gigi S; roda gigi T; roda Pada dasarnya cara
gigi U; roda gigi V; roda gigi W; perhitungan regangan yang
roda gigi X; roda gigi Y; roda terdapat pada mesin ring
gigi Rc; roda gigi Z (terpasang spinning adalah sama dengan
Cam untuk peralatan Builder mesin sebelumnya yaitu seperti
motion) pada mesin roving.
Perbedaannya hanya terdapat
5.19.6 Pemeliharaan mesin pada besarnya atau kecilnya
Ring Spinning regangan. Pada susunan rol-rol
peregang yang menggunakan
Pemeliharaan mesin Ring sistem 3 pasang rol peregang,
Spinning meliputi : digunakan apron pada rol
1. Pembersihan rutin mesin tengah.
dan penggantian traveller Pada susunan roda gigi
setiah hari. (gambar 5.197) menunjukkan
2. Pelumasan gear end dan rol-rol peregang dengan
out end setiap 2 minggu. susunan 3 pasang rol peregang.
3. Pelumasan spindel setiap 6
bulan. x Tetapan Regangan (TR)
4. Pelumasan bearing tin roll atau Draft Constant (DC)
setiap 6 bulan.
5. Pelumasan bearing bottom Tetapan regangan didapat
roll setiap 3 bulan. dengan jalan menghitung
6. Centering lappet, antinode besarnya Regangan Mekanik
ring dan spidelsetiap 1 (RM) atau Mechanical Draft
tahun. (MD) dari susunan roda gigi
7. Setting bottom roll dan top dengan memasukkan besarnya
roll setiap 1 tahun. Roda gigi Pengganti Regangan
256
(RPR) dimisalkan 1 (satu). Keterangan :
Regangan mekanik ialah KPR = Kecepatan Permukaan
besarnya regangan yang Rol
dihitung berdasarkan
perbandingan kecepatan Kecepatan permukaan rol
permukaan dari rol pengeluaran belakang B
an rol pemasukan. Bila :
Kecepatan permukaan rol Diameter rol depan = 1 inch
depan D Diameter rol belakang = 1 inch
Regangan Mekanik Regangan mekanik = RM
KPR depan D Putaran rol depan
= = n putaran per menit
KPR belakang B

Maka
n ˜ S ˜1
RM =
H K M Q
n ˜ ˜ ˜ ˜ ˜ S ˜1
I L P R

n ˜S ˜1
RM =
15 RPR 20 56
n ˜ ˜ ˜ ˜ ˜S ˜1
135 40 44 30

135 ˜ 40 ˜ 44 ˜ 30
RM =
15 ˜ RPR ˜ 20 ˜ 56

424,29
RM =
RPR

TR = 424,29

x Regangan Mekanik (RM) n ˜S ˜1


atau Mechanical Draft =
H K M Q
(MD) n˜ ˜ ˜ ˜ ˜S ˜1
I L P R
Dari perhitungan di atas RM
didapat : n ˜ S ˜1
=
15 RPR 20 56
RM
n˜ ˜ ˜ ˜ ˜ S ˜1
135 40 44 30
257
424,29 n ˜S ˜1
RM = =
RPR H K M Q
n˜ ˜ ˜ ˜ ˜S ˜1
I L P R
Apabila dipasang Roda gigi n ˜S ˜1
Pengganti Regangan (RPR) =
22 56
dengan Roda gigi 35, maka n ˜ ˜ ˜ S ˜1
besarnya Regangan Mekanik 44 30
adalah : 44 30
= ˜ 1, 07
22 56
424,29
RM = = 12,12
35 Keterangan :
KKR = Kecepatan Keliling Rol
Bila RPR = 40, maka :
x Regangan Nyata (RN) atau
424,29 Actual Draft (AD)
RM = = 10,61
40
Adanya peregangan pada
proses pembuatan benang di
Dari uraian di atas, maka
mesin ring spinning, akan
apabila RPR diperbesar, maka
mengakibatkan timbulnya
MD akan menjadi kecil dan
limbah (waste) seperti pada
sebaliknya, bila RPR kecil,
mesin roving. Dengan adanya
maka MD akan menjadi besar.
limbah, maka tidak semua
Untuk membuka atau
roving yang disuapkan pada
menghilangkan antihan yang
mesin ring spinning menjadi
terdapat pada roving yang
benang seluruhnya. Dengan
disuapkan, maka antara rol
demikian maka regangan yang
tengah dan rol belakang
diberikan pada bahan, bukanlah
terdapat regangan yang tidak
sebesar yang dinyatakan dalam
boleh terlalu besar. Regangan
perhitungan berdasarkan
ini disebut Break Draft.
Regangan Mekanik (RM). Bila
Sedangkan regangan utamanya
limbah yang terjadi pada proses
terjadi antara rol tengah dan rol
di mesin Ring spinning misalnya
depan.
= 1 % maka :
Besarnya Break Draft menurut
Regangan Nyata (RN)
gambar susunan Roda gigi
100
Mesin Ring Spinning di atas = ˜ RM
adalah : 100  1

KKR tengah T Regangan Nyata dapat pula


Break Draft =
KKR belakang B dihitung dari nomor bahan
masuk roving dan nomor bahan
keluar (benang).
258
Karena bahan yang diolah 5.19.8 Perhitungan Antihan
adalah bahan kapas, maka (Twist)
Regangan Nyata dapat dihitung
sebagai berikut : Antihan diberikan terhadap
benang yang baru keluar dari rol
Regangan Nyata (RN) depan agar benang menjadi
Nomor Keluar ( NK ) cukup kuat. Besar kecilnya
= antihan sangat mempengaruhi
Nomor Masuk ( NM )
kekuatan benang. Makin besar
antihan makin kuat benang
Contoh : yang dihasilkan. Tetapi
Mesin Ring Spinning digunakan pemberian antihan yang terlalu
untuk membuat benang kapas besar tidak menjamin kualitas
nomr Ne120. mesin tersebut benang. Agar benang yang
mempergunakan roving nomor dihasilkan memenuhi syarat-
Ne1 1,78. syarat yang diinginkan, maka
antihan diberikan secukupnya
Contoh : hingga benang mempunyai
Mesin Ring Spinning digunakan kekuatan yang optimum.
untuk membuat benang kapas Jumlah antihan yang diberikan
nomor Ne1 20. Mesin tersebut pada benang biasanya
mempergunakan roving nomor dinyatakan per satuan panjang.
Ne1 1,78. Satuan panjang dapat diambil
dalam inch atau meter.
Regangan Nyata (RN) Bila diambil satuan panjang
Nomor Keluar ( NK ) inch, maka antihannya adalah
=
Nomor Masuk ( NM ) Twist Per Inch (TPI). Bila
satuannya diambil dalam meter,
20
RN = maka antihannya adalah
1,78 Antihan Per Meter (APM).
= 11,24
Jadi regangan nyata = 11,24
Bila limbah yang terjadi selama
proses pada mesin adalah x Tetapan Antihan (TA) atau
sebesar 1%, maka : Twist Constant (TC)

(100  1) N sp / menit
RM = ˜ RN TPI =
100 L inch / menit
(100  1)
RM = ˜ 11,24
100 Keterangan :
RM = 11,13 Nsp = Kec. Putaran spindel
L = Panjang bahan yang
dikeluarkan
259
RPA dimisalkan = 1, dan
Apabila tin rol berputar n dimasukkan dalam persamaan
putaran per menit, maka spindel di atas, maka akan didapat
akan berputar : Tetapan Antihan (TA) atau Twist
Contact (TC)
diameter tin rol
N sp n. Tetapan Antihan (TA)
diameter spindle
701,04
Kalau Diameter Tin-Rol TA = ˜ 701,04
= 250 mm dan diameter spindel 1
= 25 mm, maka : TA TC
TPI = atau TPI
RPA TCW
250 mm
Nsp = n· put / menit
25mm x Antihan Per Inch (API)
= n . 10 putaran per menit
Pada persamaan dimuka :
Benang yang keluar dari rol TA 701,04
TPI
depan apabila Tin rol berputar n RPA RPA
ppm adalah :
dimana angka 701,04 adalah
C E tetapan antihan.
L= n . . . S . ) rol depan
D G Apabila pada mesin Ring
Spinning ini digunakan roda gigi
61 RPA 22 pengganti antihan (RPA) = 40
= n. . . . 1 inch gigi, maka akan didapat :
160 84 7
701,04
TPI
Nsp 40
Jadi Twist Per Inch (TPI) = TPI = 17,53
L
n . 10 Seperti halnya pada mesin
TPI =
61 RPA 22 Flyer, maka pada mesin Ring
n. . . .1 Spinning terdapat pula
160 84 7
persamaan-persamaan sebagai
berikut :
n . 10 . 160 . 84 . 7
=
n . 61 . RPA . 22 . 1 1. Antihan per Inch
Tetapan Antihan
= atau
701,4 RPA
TPI =
RPA Twist Contact
Twist per inch
TCW
Semua angka-angka di atas
adalah tetap kecuali RPA. Bila
260
TA pula pada nomor benang yang
2. RPA akan dibuat.
TPI
x Twist Multiplier atau
3. RPA x TPI TA
Koefisien Antihan (D)
dimuka telah dikemukakan
bahwa : Dalam proses pembuatan
benang, untuk mendapatkan
Nsp TA kekuatan benang yang optimum
TPI dan TPI
L RPA dengan jumlah antihan per inch
kecil, sangat bergantung dari
Dari persamaan di atas dapat panjang serat yang digunakan.
dikemukakan pula bahwa : Panjang serat ini akan
14. Twist Per Inch berbanding mempengaruhi besarnya D
terbalik dengan delivery dari TPI = D Ne1
front roller, jadi berbanding
terbalik dengan produksi. Keterangan :
15. Twist Per Inch berbanding TPI = Twist Per Inch
terbalik dengan besarnya D = Koefisien antihan atau
Roda gigi Pengganti Antihan Twist Multiplier
(RPA). Ne1 = nomor benang yang
16. Roda gigi Pengganti Antihan dibuat
(RPA) berbanding lurus
dengan produksi. Harga D bergantung pada jenis
Berdasarkan uraian di atas, dan panjang serat yang diolah.
maka harus diingat bahwa Berikut ini diberikan suatu
pemakaian RPA harus contoh besarnya D yang
disesuaikan dengan API untuk digunakan pada mesin Ring
mendapatkan kekuatan benang Spinning Type M-1.
yang optimum. API bergantung

Tabel 5.9
Twist Multiplier

Twist Multiplier *)
Jenis Kapas
Lusi Pakan
Kapas Pendek 4,50 3,85 – 4,00
Kapas Amerika (pendek) 4,25 3,65
Kapas Amerika (baik) 4,00 3,50
Kapas Mesir dan Sea Island 3,60 3,20

x Mengkeret Antihan (MA)


atau Twist Contraction
261
Mengkeretnya benang sebagai 5.19.9 Perhitungan Produksi
akibat dari pemberian antihan,
disebut mengkeret antihan atau Seperti halnya pada mesin
Twist Contraction. Pengurangan roving, produksi mesin ring
panjang benang biasanya spinning juga dinyatakan alam
terjadi antara rol depan dan berat per satuan waktu tertentu.
bobin. Pengurangan panjang ini
biasa dinyatakan dalam x Produksi Teoritis
persen (%).
Dengan adanya pengurangan Produksi Teoritis didapat dari
atau perubahan panjang perhitungan berdasarkan
benang yang dihasilkan, maka Susunan Roda Gigi mesin Ring
akan ada perubahan nomor Spinning. Dalam perhitungan ini
benang yang dihasilkan oleh harus diperhatikan nomor
mesin. benang yang akan dibuat, serta
Misalnya benang kapas jenis kapas yang diolah
mempunyai nomor Ne1 20, ini terutama mengenai panjangnya.
berarti bahwa benang tersbut Hal ini perlu karena ada
tiap berat 1 (Satu) pound hubungannya dengan jumlah
mempunyai panjang 20 hank. antihan yang akan diberikan
Pada proses pembuatan pada benang dan jumlah
benang terjadi mengkeret antihan tersebut mempengaruhi
antihan misalnya sebesar 6 %. jumlah produksi yang
Untuk membuat benang Ne1 dihasilkan.
20, dalam perhitungan Produksi per spindel per menit
regangannya harus adalah :
menggunakan nomor benang
yang belum mendapatkan KPS per menit
antihan, yaitu benang yang baru
Twist per Inch
keluar dari rol depan.
Jadi benang yang
diperhitungkan adalah : Keterangan :
106 KPS = Kecepatan putaran
x 20 21,20 spindel
100
Seperti telah diterangkan
Agar mendapatkan bahan yang dimuka bahwa :
keluar dari rol depan
mempunyai nomor Ne1 = 21,20 TPI = D Ne1
maka nilai regangan pada mesn Produksi per spindel per menit
tersebut harus dinaikkan, yang adalah :
berarti bahwa regangan KPS per menit
dibesarkan atau nomor roving D Ne1
dipertinggi.
262
Nsp 400 tiap frame, nomor benang
. inch yang akan dibuat adalah Ne1
D Ne1 dan efisiensi mesin = 80%,
maka produksi mesin Ring
Keterangan : Spinning per menit adalah :
KPS = Kecepatan putaran 80 Nsp
spindel . 400 . . inch
100 D Ne1
Bila satu Mesin Ring Spinning
mempunyai jumlah mata pintal =

Produksi mesin per jam adalah :


80 N sp
. 60 . 400 . . inch
100 D Ne1
80 N sp 1
. 60 . 400 . . yards
100 D Ne1 36
80 N sp 1 1
= . 60 . 400 . . . hanks
100 D Ne1 36 840
80 N sp 1 1 1
. 60 . 400 . . . . lbs
100 D Ne1 36 840 Ne1
80 N sp 1 1 1
. 60 . 400 . . . . . 453 , 6 gr
100 D Ne 1 36 840 Ne 1
80 N sp 1 1 1 453 , 6
. 60 . 400 . . . . . kg
100 D Ne 1 36 840 Ne 1 1000

Contoh perhitungan produksi Spinning dapat dilakukan


bila mesin Ring Spinning sebagai berikut :
mempunyai data sebagai Dari susunan roda gigi mesin
berikut : Ring Spinning dapat dihitung
- RPM Motor = 1400 putaran spindel per menit.
- Nomor benang yang dibuat
= Ne1 20 A D.Tin Rol
- Kapas Amerika jenis pendek D N sp RPM Motor .
B D. Spindle
= 4,25
- Efisiensi mesin = 90 % 20 250
1400 . .
32 25
Maka untuk menghitung = 8750 putaran/menit
produksi teoritis mesin Ring
TPI = D Ne1
263

= 4,25 . 20 N sp 8750
= . inch
TPI 4,25 . 20
Produksi per spindel per menit

Produksi per jam per mesin


Efisiensi x jumlah spindle / me sin x N sp . 60 453,6
= . kg
1 1 1000
D Ne1 . . . Ne1
36 840
90 8750 . 20 1 1 1 453,6
= . 400 . . . . . kg
100 4,25 . 20 36 840 20 1000
= 8,7 kg

Produksi per jam per spindel


8,7
= kg
400
= 0,02 kg
= 20 gram
264
x Produksi Nyata pencatatan besarnya produksi
untuk tiap-tiap shift dan dapat
Untuk menghitung produksi dilihat pada catatan produksi
nyata dari mesin Ring Spinning dalam satu minggu untuk tiap
dapat dilakukan dengan mesin.
menghitung atau menimbang Sebagai misal, diambil data
jumlah benang yang dihasilkan. realisasi produksi mesin Ring
Penghitungan dapat dilakukan Spinning untuk minggu ke-35
pada setiap kali doffing atau untuk suatu tahun produksi
dalam satu periode waktu sebagai berikut :
tertentu. Dalam pabrik
pemintalan biasanya diadakan

- Jumlah Produksi = 4.889,85 kg


- ketentuan jumlah jam kerja = 982,50 jam
- Jumlah jam mesin berhenti = 321,71 jam
Jumlah jam mesin berproduksi = 660,79 jam

Realiasasi produksi/jam/mesin =
4.889,85
kg 7,4 kg
660,79

Kalau jumlah spindel per mesin keperluan doffing dan terjadi


= 400, maka produksi/spl/jam gangguan-gangguan selama
7,4 x 100 produksi. Dengan berhentinya
= gram mesin, maka produksi akan
400
berkurang dan ini akan
7400 mengurangi efisiensi produksi.
= 18,50 gram
400 Untuk mendapatan efisiensi
produksi mesin Ring Spinning,
x Efisiensi diambil data perhitungan
produksi teoritis dan
Seperti halnya pada mesin- perhitungan produksi nyata.
mesin sebelum Ring Spinning
maka untuk menghitung Produksi teoritis/jam/spindel
efisiensi produksi mesin Ring = 20 gram
Spinning dilakukan dengan Produksi teoritis/jam/spindel
membandingkan antara = 18,5 gram
produksi teoritis dengan
produksi nyata. Mesin kadang- Jadi efisiensi produksi mesin
kadang berhenti karena untuk Ring Spinning adalah :
265
annya maupun tegangannya,
18,5 sehingga sering diperoleh hasil
x 100 % 92,5% gintiran yang kurang rata. Untuk
20
mesin yang tidak dilengkapi
dengan stop motion, pada
5.20 Proses di Mesin Ring
setiap pengantar benang single,
Twister kemungkinan besar terjadi salah
gintir, umpamanya karena
Yang dimaksud dengan beberapa helai benang putus
penggintiran benang ialah yang masih terus digintir.
proses merangkap beberapa
helai benang, yang kemudian - Cara tidak langsung
sekaligus diberi puntiran (twist)
yang tertentu untuk untuk setiap Beberapa helai benang single
panjang tertentu. Hasil dari dirangkap dulu pada mesin
proses ini disebut benang gintir rangkap. Keuntungan dari cara
(plied yarn). Ada dua cara ini yaitu antara lain :
proses penangkapan, yaitu : - tegangan tiap-tiap benang
- Perangkapan langsung terkontrol
dilaku kan diatas mesin - tiap-tiap bobin telah terisi
gintir benang rangkap, sehingga
pada waktu diproses
Pada cara ini setiap kelosan (ditarik) pada mesin gintir,
benang single diletakkan pada kemungkinan benang putus
rak bobin diatas mesin. kecil.
Beberapa helai benang single - kemungkinan akan
ditarik bersama-sama melalui terjadinya salah gintir
rol pengantar, ke delivery roll, (penggintiran tunggal) kecil.
terus digintir dan digulung pada - efisiensi produksi dapat
bobin spindel dari mesin gintir. ditingkatkan, begitu pula
Keuntungan cara ini ialah dengan mutu benang gintir
bahwa prosesnya pendek, tidak yang dihasilkan.
memerlukan mesin perangkap.
Kekurangannya ialah : tiap helai
benang sukar dikontrol keada
266

Gambar 5.198
Skema dan Cara Penulisan Benang Gintir

x Macam-macam Mesin x Penggintiran Turun (Down


Ruang Twister Twister)

Berdasarkan jalannya benang, Pada sistem ini, jalannya


mesin gintir (ring twister) dapat benang yang dikerjakan dari rak
dibagi menjadi : kelosan sampai digulung pada
1. mesin gintir turun bobin dari atas kebawah (down
2. mesin gintir naik proses). Skema penggintiran
turun (down twist) ini dapat
dilihat pada gambar 5.199.
267

Gambar 5.199
Skema Penggitiran Turun (Down Twist)

Keterangan : spindel yang berada di bawah,


1. Rak benang (creel) maka didapat benang gintir
2. Pengantar yang tergulung pada spindel
3. Rol penarik bobin.
4. Lappet Jadi pada mesin ini jalannya
5. Bobin benang adalah dari atas
6. Spindel kebawah. Bagian-bagian dari
7. Tin roll mesin gintir ini dapat dilihat
8. Pita (tape) pada gambar 5.199 dan prinsip
9. Ring kerjanya adalah sebagai
10. Traveller berikut :
Motor penggerak memutarkan
Pada mesin gintir ini benang- roda-roda gigi yang berada di
benang yang akan digintir dalam gear box. Roda-roda gigi
ditempatkan di atas. Dengan ini diantaranya ada yang
menarik beberapa benang berhubungan dengan roda gigi
tunggal, yang lalu digintir pada yang menggerakkan rol penarik
268
(3). Karena perputaran rol Penggulungan pada bobin (5)
penarik (3) maka benang- terjadi karena adanya selisih
benang dari kelosan akan perputaran antara spindel (6)
tertarik rol penarik (3) ini (bobin) dengan traveller (10).
berfungsi juga sebagai pengatur Putaran spindel (6) sangat
jumlah produksi. Benang- cepat yaitu berkisar antara 7000
benang yang keluar dari rol sampai 9000 putaran per menit.
penarik (3) dilakukan ke lappet Karena spindel (6) ini banyak
(4). Fungsi lappet (4) adalah jumlahnya dan memerlukan
sebagai pengatur tegangan putaran per menit yang tinggi,
benang yang akan dihasilkan. maka sumber gerakan diperoleh
Dari lappet (4) benang dari silinder panjang yang
dilakukan ke traveler (10) yang disebut tin roll (7) yang
berfungsi mengantarkan benang berdiameter jauh lebih besar
yang akan digulung ke bobin. dari diameter spindel (6). Tin roll
Traveler (10) berjalan di atas (10) dihubungkan ke spindel
ring. Ring (9) ini ditempatkan dengan pita (tape) (8). Pita-pita
pada ring–bank yang (8) ini dapat diatur untuk
gerakannya naik turun. Gerakan mengubah arah putaran dari
naik turun dari ring-bank spindel agar sesuai dengan
tersebut akan membentuk arah puntiran yang dikehendaki,
traverse pada gulungan. Dari sedangkan arah putaran silinder
traveller (10), benang digulung adalah tetap, yaitu sesuai
pada spindel bobin (5). Bobin dengan arah putaran motor
(5) ini diterapkan pada spindel penggerak.
(6) sehingga bobin (5) berputar
menurut putaran spindel (6) x Penggintiran Naik
karena perputaran bobin (5) (Uptwister)
maka benang yang akan
digulung menarik traveller (10) Berbeda dengan mesin gintir
yang berputar mengelililngi ring dengan sistem down twisting,
(9). Besarnya perputaran pada mesin gintir naik jalannya
traveller (10) ini akan benang dari bawah keatas.
menentukan jumlah puntiran Skemanya tertera pada gambar
pada benang yang akan digintir. 5.200.
269

Gambar 5.200
Skema Penggintiran Naik (Up Twister)

Keterangan : penggintiran turun, malahan


1. Tin roll pada mesin-mesin uptwister
2. Spindel tape modern tidak lagi menggunakan
3. Spindel tin roll untuk memutar spindel,
4. Benang tetapi cukup dengan sepasang
5. Lapet roda yang dipasang pada
6. Pengantar masing-masing di ujung rangka
7. Bobin mesin dan pada roda tersebut
dipasang ban kulit yang tak
Benang disuapkan dari bobin berujung dan menggeser
(4) yang dipasang dan diputar pangkal-pangkal spindel yang
oleh spindel (3) yang digerakan ada di kedua sisi rangka mesin.
oleh tin roll (1), dengan Keistimewaan daripada mesin
perantaraan spindel tape (2). ini adalah bahwa benang yang
Benang dari bobin (4) dilalukan digulung pada bobin (penyuap)
melalui lappet (5) terus ke garpu harus sudah dirangkap, karena
pengantar/pengatur jalannya tiap-tiap spindel khusus
benang untuk digulung pada melayani satu bobin
bobin (7) yang diputar oleh penggulungan. Secara teoritis
drum friksi. Dilihat sepintas lalu besarnya twist (gintiran) adalah
proses penggintiran ini lebih sama dengan banyaknya
sederhana daripada putaran spindel (3) dibagi oleh
270
kecepatan penggulungan bobin berbeda yaitu lebih kecil, hal ini
(7) untuk waktu yang sama. disebabkan adanya slip.
Contoh : Perubahan TPI dapat
Putaran spindel (rpm) = 10.000 dilaksanakan dengan jalan
Diameter drum penggulung (D) mengubah rangkaian roda-roda
= 2 inci gigi yang menghubungkan drum
Putaran drum (rpm) = 100 friksi (7). Berlainan dengan
Menurut rumus : mesin gintir biasa, mesin ini
Twist per Inci (TPI) tidak menggunakan ring dan
rpm spindle traveler, karena fungsi bobin (4)
= tidak menggulung benang,
kecepatan keliling bobin
bahkan melepasnya; jadi juga
tidak membutuhkan lifter
Maka : Twist per Inci (TPI) (builder motion).
10.000 Perlu diperhatikan bahwa
=
S .D.n putaran spindel (3) (=arah twist)
yang dikehendaki harus searah
10.000 dengan arah gulungan benang
=
3,14 x 2 x 100 pada bobin penggulung.
10.000 Mengingat konstruksinya, mesin
= = 16 ini sangat cocok untuk
628 mengerjakan benang-benang
Twist per inch tersebut adalah filament dan benang yang tidak
perhitungan secara teori, tetapi tahan gesekan (berbulu)
dalam kenyataannya tentu

5.20.1 Bagian Penyuapan

Gambar 5.201
Skema Bagian Penyuapan
271

Nama-nama peralatan yang Pengantar benang (2), yang


penting dari bagian penyuapan berebentuk pipa bulat kecil
mesin gintir (mesin ring twister ) memanjang gunanya untuk
adalah : mempermudah penarikan
benang yang akan digintir.
5.20.1.1 Rak Kelos (Creel)
5.20.1.3 Rol Penarik

Gambar 5.202
Rak Kelos

Rak kelos (creel) (1) yang


berbentuk pipa besi bulat kecil Gambar 5.204 Rol Penarik
panjang tertentu tertentu,
gunanya untuk tempat Rol penarik (3), rol atasnya
kedudukan bobin-bobin dibuat dari besi yang
gulungan benang tunggal atau permukaannya dilapisi bahan
benang rangkap. sintetis, rol bawahnya berputar
aktif dan rol atasnya berputar
5.20.1.2 Pengantar Benang secara pasif karena adanya
gesekan dengan rol bawah,
gunanya untuk menarik benang
dari rak kelos, dan seterusnya
diberikan kepada spindel untuk
diberi antihan (twist).

Gambar 5.203
Pengantar Benang
272

5.20.2 Bagian Penggulungan

Gambar 5.205
Skema Bagian Penggulungan

Nama-nama peralatan yang


penting dari bagian 5.20.2.2 Pengontrol Baloning
penggulungan mesin gintir (Antinode Ring)
(mesin ring twister) adalah :

5.20.2.1 Ekor Babi (Lappet)

Gambar 5.207
Pengontrol Baloning
(Antinode Ring)
Gambar 5.206
Ekor Babi (Lappet) Pengontrol baloning (antinode
ring) (9) dibuat dari kawat baja
Ekor babi (lappet) (8) dibuat dari yang melingkari spindel,
kawat baja yang dibengkokkan gunanya untuk menjaga agar
menyerupai ekor babi dan baloning tidak teralu besar.
dipasang tepat di atas spindel,
gunanya untuk menyalurkan
benang supaya tepat pada
poros spindel.
273

5.20.2.3 Penyekat (Separator) 5.20.2.5 Ring

Gambar 5.210 Ring

Ring (12) dibuat dari baja dan


Gambar 5.208 dipasang pada Ring Rail,
Penyekat (Separator) dimana traveller ditempatkan.

Penyikat (separator) (10) dibuat 5.20.2.6 Traveller


dari besi pelat, atau aluminium
yang tipis, dan dipasang
diantara spindel yang satu
terhadap spindel yang lain dan
gunanya untuk membatasi
baloning tidak saling terkena
satu sama lain, sehingga dapat
mengakibatkan benang putus.
Gambar 5.211 Traveller
5.20.2.4 Spindel
Traveller (11) dibuat dari baja
dan bentuknya seperti huruf C,
fungsinya sebagai pengantar
benang.

5.20.2.7 Tin Roll


Gambar 5.209 Spindel

Spindel (13) dbuat dari baja


dimana bobin ditempatkan /
dipasang.

Gambar 5.212 Tin Roll


274
panjangnya benang yang
Tin rol (14) suatu silinder besi dikeluarkan dari rol depan untuk
sebagai poros utama mesin ring waktu yang sama.
spinning, dan juga untuk Banyaknya antihan yang
memutarkan spindel dengan diberikan pada benang
perantaraan pita (spindel tape) dirumuskan sebagai berikut :
yang ditegangkan oleh
peregang jocky pulley. TPI = C x Ne1
5.20.2.8 Proses Pengantihan
(Twisting) Dimana :
TPI = Twist per inch
Yang dimaksud proses C = konstanta antihan atau
pengantihan ialah penyusunan twist multiplier
serat-serat yang akan dibuat Ne1 = nomor dari benang
benang agar menempati untuk sistem tidak
kedudukan seperti spiral langsung
sedemikian sehingga serat-
serat tersebut saling mengikat Hubungan antihan dengan
dan menampung serat-serat nomor benang seperti yang
yang masih terlepas satu sama dirumuskan di atas dapat
lainnya yang dalam bentuk pita dijelaskan sebagai berikut :
menjadi suatu massa yang Apabila suatu untaian dari serat-
kompak sehingga memberikan serat diputar mengelilingi sumbu
kekuatan pada benang yang panjangnya, maka serat-serat
dibentuknya. komponennya dapat dianggap
Pemberian antihan ini pada akan menempati kedudukan
prinsipnya dilakukan dengan sebagai spiral sempurna atau
memutar satu ujung dari untaian tidak sempurna. Bentuk spiral
serat, sedang ujung yang yang tidak sempurna tergantung
lainnya tetap diam. Pada proses kepada kesamaan (uniformity)
pemintalan pemberian antihan serta keteraturan (regularity)
dilakukan oleh spindel dan dari susunan serat-serat pada
traveller sebagai pemutar ujung untaian serat yang akan diberi
untaian serat yang keluar dari twist tersebut.
rol peregang depan, sedangkan Apabila untaian tersebut akan
ujung yang lainnya tetap mengalami tegangan dan
dipegang atau dijepit oleh rol perpanjangan (stretching),
peregang depan. seperti halnya kalau suatu per
Banyaknya antihan yang ditarik, sepanjang tidak terjadi
diberikan pada benang pergeseran atau slip antara
tergantung kepada serat. Apabila tegangan ini
perbandingan banyaknya menyebabkan adanya
putaran dari mata pintal dengan perpanjangan atau mulur, maka
275
serat-serat yang menempati membesar, demikian pula
kedudukan yang paling luar tekanan kedalam pada serat-
akan mendesak kedalam, serat akan meningkat dan
sehingga mengakibatkan gesekan antara serat makin
penampang dari untaian serat kuat. Hal ini akan mengurangi
tersebut akan menciut/mengecil. atau menghentikan pergeseran-
Hal yang demikian berarti pergeseran antara serat,
bahwa akibat dari adanya reaksi sehingga kekuatan benangnya
dari tarikan tersebut, maka dapat ditingkatkan sampai
timbul gaya menekan kearah mencapai titik kekuatan
titik pusat untaian tersebut, yang maksimumnya (titik kritis).
cenderung untuk mendorong Apabila banyaknya putaran
serat-serat individu makin ditambah lagi melebihi titik
berdekatan dan berkelompok kritisnya, maka serat-seratnya
menjadi satu dan bersamaan akan harus mulur lebih banyak
dengan ini akan meningkatkan karena adanya tegangan
gesekan antar serat atau daya tersebut, dan kalau batas
kohesinya (daya lekatnya). mulurnya dilampaui, maka serat
Dengan demikian maka akan putus dan mengakibatkan
sebenarnya timbul dua macam benangnya putus pula.
gaya sebagai akibat adanya Andaikata serat-seratnya belum
tarikan tersebut, masing-masing putus, tetapi serat-serat tersebut
ialah gaya yang cenderung sebenarnya telah mengalami
untuk memisahkan serat-serat tegangan yang cukup berat,
dan satunya lagi ialah gaya- sehingga sisa kekuatan yang
gaya yang cenderung untuk masih ada pada serat akan
mengikat serat-serat menjadi digunakan untuk mengatasi
satu. Resultante dari gaya-gaya beban dari luar, dan sisa
ini tergantung dari besarnya kekuatan ini akan berkurang.
sudut dari spiralnya. Hal ini dapat dilihat pada
Apabila jumlah putaran per gambar dibawah ini.
satuan panjang sedikit, maka
sudut spiralnya kecil. Dalam hal
yang sedemikian, serat-serat
mudah tergeser satu dengan
yang lainnya dan untaian serat-
serat tersebut akan putus,
apabila tarikan yang dikenakan
cukup besar.
Sebaliknya apabila putaran
yang diberikan pada untaian
serat persatuan panjangnya
diperbanyak, maka sudut Gambar 5.213
putarannya (spiralnya) akan
276
Hubungan antara TPI dan roving di mesin flyer. Perbedaan
Kekuatan Benang tersebut antara lain ialah :
Jadi, banyaknya antihan yang - Pada mesin ring spinning
harus diberikan pada benang pengantar benang naik
merupakan masalah yang harus turun, bobin berputar tetap
kita pertimbangkan, baik ditinjau pada tempatnya, sedangkan
dari segi teknis (operasionil) pada mesin flyer pengantar
maupun ekonomi. benangnya tetap pada
tempatnya dan bobinnya
x Arah Antihan disamping berputar juga
bergerak naik turun.
Arah antihan pada benang ada - Pada mesin ring spinning
dua macam tergantung dari penggulungan terjadi karena
arah putaran spindelnya. Kedua adanya perbedaan
arah antihan tersebut disebut kecepatan antara putaran
arah Z (kanan) atau S (kiri), spindel (Nsp) dengan putaran
seperti terlihat pada gambar traveller (Ntr) sehingga
5.203. jumlah gulungan benang g =
Nsp – Ntr.
Pada mesin flyer
penggulungan terjadi karena
adanya perbedaan
kecepatan antara putaran
bobin (Nb) dengan putaran
spindel, sehingga jumlah
gulungan roving g = Nb – Nsp
- Sistem penggulungan
benang mesin ring spinning
adalah konis, dan
Gambar 5.214 penggulungan roving pada
Arah Antihan bobin di mesin flyer adalah
paralel.
5.20.2.9 Proses - Bentuk gulungan benang
Penggulungan pada bobin di mesin ring
Benang pada Bobin spinning dapat terlihat pada
gambar 5.215a. sedang
Proses penggulungan benang bentuk gulungan roving
pada ring spinning akan jauh pada bobin di mesin flyer
berbeda bila dibandingkan seperti terlihat pada gambar
dengan proses penggulungan 5.215b.
277

Gambar 5.215
Bentuk Gulungan Benang dan Roving pada Bobin

Traveller merupakan pengantar yang bergerak naik turun adalah


benang pada mesin ring bobin bersama-sama dengan
spinning yang dipasang pada keretanya.
ring rail, turut bergerak naik Gerakan naik turun dari ring rail.
turun bersama-sama dengan Peralatan yang mengatur
ring railnya. Sedang pada mesin gerakan naik turunnya ring
flyer, lengan flyer merupakan disebut builder motion, seperti
pengantar roving yang tidak tampak pada gambar di bawah
dapat bergerak naik turun, tetapi ini :
tetap pada tempatnya, sedang

Gambar 5.216
Peralatan Builder Motion
278
Keterangan : menempel pada batang (2)
6. Eksentrik berada pada kedudukan teratas.
7. batang penyangga Naik turunnya batang (2) akan
8. Roda gigi Racet (Rachet selalu mengikuti gerakan
Wheel) berputarnya eksentrik (1).
9. Pal
10. Pen x Gerakan Naik Turunnya /
A = titik putar Ring Rail
B = Rantai
C = Rol C Stang rail (11) dipasang pada
suatu tabung yang mati pada
x Prinsip Bekerjanya Builder rangka mesin, sehingga
Motion gerakan naik turunnya ring rail
dapat stabil. Setiap putaran
Gambar di atas memperlihatkan eksentrik (1), rail akan bergerak
peralatan builder motion dengan naik dan turun satu kali yang
batang penyangga (2) yang disebut satu gerakan penuh
selalu menempel pada eksentrik atau satu traverse. Karena pada
(1) yang berputar secara aktip. waktu menggulung benang di
Menempelnya batang bobin dikehendaki suatu lapisan
penyangga (2) tersebut pemisah antara gulungan yang
disebabkan oleh rantai (B) yang satu dengan gulungan
dihubungkan dengan ring rail. berikutnya, maka gerakan ring
Karena berat penyangga (2) rail waktu dan turun
selalu menempel pada eksentrik kecepatannya dibuat tidak
(1). Batang penyangga sebelah sama. Pada waktu naik ring rail
kiri mempunyai titik putar (A). bergerak lambat, sehingga
Bila bagian yang tinggi dari terjadi penggulungan yang
eksentrik menempel pada sejajar, sedang waktu turun ring
batang (2) maka batang rail bergerak cepat sehingga
penyangga (2) berada pada terjadi gulungan pemisah yang
kedudukan yang terendah. tidak sejajar.
Begitu juga bagian yang rendah
279

Gambar 5.217 Ring Rail

Sebagaimana telah diuraikan terdapat pada ujung batang (2),


dimuka bahwa setiap putaran sehingga pada waktu eksentrik
dari eksentrik satu kali berputar batang (2) terbawa
menyebabkan ring rail bergerak naik turun pula. Pen (5)
naik dan turun satu kali, yang dipasangkan mati pada rangka
disebut satu traverse dan mesin, jadi tidak turun karena
gerakan ini disebut gerakan gerakan naik turun dari batang
printer. Setelah ring rail (2).
bergerak naik dan turun satu Pada waktu batang (2) bergerak
kali, maka kedudukan ring rail naik maka pal (4)
akan naik satu diameter benang kedudukannya tergeser ke
dan gerakan ini disebut gerakan kanan karena pen (5) diam di
sekunder. tempat, dan pada waktu batang
Kalau panjang rantai B tetap, (2) turun pal (4) akan
maka setiap putaran eksentrik mendorong maju roda gigi
(1) akan mengakibatkan rachet (3).
gerakan naik turun dari ring rail Banyak sedkitnya gigi rachet
juga tetap. Tetapi apabila rantai yang didorong akan
B diturunkan sedikit, maka hal mempengaruhi perputaran
ini menyebabkan ring rail juga rahet, yang juga mempunyai
naik sedikit. Turunnya rantai (B) putaran rol (C) yang
sedikit tersebut disebabkan mengggulung rantai (B).
karena berputarnya rol (C) Dengan tergulungnya rantai B
sesuai arah anak panah. Rol C sedikit dari sedikit setiap
berputar karena diputar oleh gerakan naik turun dari batang
roda gigi rachet (3) seperti pada (2), maka rantai B akan menjadi
gambar 5.216. Pada gambar semakin pendek. Karena
5.217 terlihat rol (c) adalah kedudukannya tetap dalam
penggulung dari rantai (B) yang batang (2) maka rol (D) akan
280
terputar ke kiri oleh rantai (B) dengan naiknya stang ring rail
yang semakin pendek. Dengan (11) beserta ring railnya (12).
demikian rantai (7) juga tertarik Untuk membentuk gulungan
ke kiri oleh rol (B) yang terputar benang pada bobin di mesin
oleh rol (D). Jadi kedudukan ring spnning terbagi dalam
rantai (7) makin lama makin tahap yaitu :
bergeser ke kiri, dan peralatan 1. Pembentukan gulungan
(8) semakin condong ke kiri. Hal benang pada pangkal bobin
ini akan menarik batang (9) ke 2. Pembentukan gulungan
kiri dan (10a) bergerak ke kiri benang setelah gulungan
pula yang akibatnya (10b) pangkal bobin
bertambah naik yang diikuti

Gambar 5.218
Cam Screw dan Gulungan Benang pada Pangkal Bobin

x Pembentukan Gulungan pada waktu rol C turun sebesar


Benang pada Pangkal a cm, maka rol D tidak akan
Bobin berputar sebesar busur yang
lebih kecil dari a cm, tetapi
Kalau pada gambar 5.218 cam mengulurnya rantai (8) sebesar
screw tidak dipasang pada rol a cm, hal ini terjadi karena
D, maka waktu rol C turun rantai (8) dilalukan cam screw,
sebentar a cm, rol D juga akan sehingga dengan demikian
berputar oleh rantai (8) sebesar walaupun rol C turun sebesar a
busur yang sama dengan a cm. cm, rol D akan berputar sedikit
Kalau sekarang pada rol D dan hal ini akan menyebabkan
dipasang cam screw (6) dan naiknya ring rail juga sedikit.
rantai (8) juga dipasang melalui Karena rol C selalu menggulung
cam screw terus ke rol C, maka rantai (8) untuk setiap gerakan
281
batang (2) naik turun, maka Gulungan benang yang tidak
kedudukan cam screw makin sejajar tersebut merupakan
lama makin ke bawah, sehingga lapisan pemisah antara
akhirnya rantai (8) tidak melalui gulungan benang yang satu
cam screw lagi, tetapi langsung terhadap lapisan gulungan
rol D terus ke rol C. Pada saat benang yang berikutnya.
yang demikian ini cam screw Demikian penggulungan benang
tidak menyinggung rantai (8) berlangsung terus hingga
lagi, sehingga pada waktu rol C gulungan benang pada bobin
turun sebesar a cm, rol D juga penuh seperti terlihat pada
diputar oleh rantai (8) sebesar gambar 5.218.
busur a cm dan rol E juga
berputar sebesar busur a cm, 5.20.2.10 Proses Doffing
dan hal ini menyebabkan
naiknya ring rail sebesar a cm x Untuk mesin gintir (ring
juga. twister turun.
Pada saat cam screw tidak - Turunkan kereta (ring rail)
menyinggung rantai (8) lagi, apabila angka counter (hank
maka gerakan naik rai ring rail meter) sudah mencapai
sudah tidak dipengaruhi lagi angka yang telah ditentukan
oleh screw, dan dengan dengan melepas tuil pad gigi
demikian pembentukan Rachet.
gulungan benang pada pangkal - Matikan mesin dengan
bobin telah selesai. menekan tombol STOP.
- Ganti bobin penuh dengan
x Pembentukan Gulungan bobin kosong dan masukan
Benang setelah bobin penuh ke box benang
Penggulungan Benang pad kereta.
pada Pangkal Bobin - Naikkan kedudukan ring rail
dengan mengetek kembali
Setelah pembentukan gulungan kedudukan Rachet untuk
benang pada pangkal bobin menentukan awal gulungan
selesai, kemudian diteruskan benang pada bobin.
dengan penggulungan benang - Jalankan mesin dengan
berikutnya. Sebagaimana telah menekan tombol START.
diuraikan di muka pada waktu - Periksa benang dan
ring rail turun terjadi sambung benang-benang
penggulungan benang yang yang putus.
sejajar dan pada waktu ring rail
turun dengan kecepatan yang x Untuk mesin gintir (ring
lebih besar daripada kecepatan twister) naik.
pada waktu naik, sehingga - Matikan mesin dengan
terjadi penggulungan benang menekan tombol STOP
yang tidak sejajar. apabila angka counter (hank
282
meter) sudah mencapai
angka yang telah ditentukan. 5.20.2.12 Pemeliharaan mesin
- Lepaskan gulungan benang Ring Twister
dengan hati-hati dan cermat Pemeliharaan mesin Ring
agar tidak merusak Twister meliputi :
gulungan benang. 1. Pembersihan rutin mesin
- Pasang cones kosong pada dan penggantian traveller
dudukannya kemudian setiah hari.
gulung benang pada coner 2. Pelumasan gear end dan
untuk awal gulungan. out end setiap 2 minggu.
- Jalankan mesin dengan 3. Pelumasan spindel setiap 6
menekan tombol START. bulan.
- Periksa benang dan 4. Pelumasan bearing tin roll
sambung benang-benang setiap 6 bulan.
yang putus. 5. Pelumasan bearing bottom
roll setiap 3 bulan.
6. Centering lappet, antinode
ring dan spidelsetiap 1
5.20.2.11 Proses Steaming. tahun.
7. Pelumasan bearing gear
Steaming adalah proses end setia 4 tahun.
penguapan terhadap benang 8. Kontrol jockey pulley setiap
gintir yang memiliki twist sangat 2 tahun.
tinggi. Proses ini bertujuan 9. Kontrol lifting shaft dan rante
untuk mematikan twist yang gear end setiap 4 tahun.
terjadi pada benang sehingga 10. Penggantian rubber cots
tidak terjadi snarling. setiap 4 tahun.
Proses steaming dilakukan de 11.Pelumasan dan
gan cara memasukkan benang penggerindaan top roll
yang memiliki twist tinggi setiap 1 tahun.
kedalam tabung, kemudian
kedalam tabung dialirkan uap
dengan suhu 950C selama
kurang lebih 20 menit.
283

5.20.2.13 Bentuk Gulungan Benang pada Bobin

Gambar 5.219
Bentuk Gulungan Benang pada Bobin

Didalam praktik sering terjadi sulit sewaktu dikelos di


bentuk gulungan yang tidak mesin kelos (winder).
normal, hal ini mungkin terjadi b. Bentuk gulungan benang
kesalahan dala melakukan yang tidak normal karena
penggulungan benang. dalam proses benang sering
Kesalahan tersebut dapat putus dan
disebabkan oleh pengaruh penyambungannya sering
mesin atau kesalahan operator terlambat.
dalam melayani mesin. c. Bentuk gulungan benang
Kesalahan yang disebabkan tidak normal, karena bagian
pengaruh mesin mungkin bawahnya besar.
karena penyetelan yang kurang d. Bentuk gulungan benang
betul, sedangkan kesalahan tidak normal, karena bagian
yang disebabkan oleh operator atasnya besar.
karena terlambat menyambung. e. Bentuk gulungan benang
Pada gambar 5.219 terlihat tidak normal, karena terlalu
macam bentuk gulungan kurus.
benang pada bobin. f. Bentuk gulungan benang
a. Bentuk gulungan yang tidak normal, karena terlalu
normal. Isi gulungan gemuk.
tergantung panjang bobin g. Bentuk gulungan benang
dan diameter ring. Gulungan tidak normal, karena bagian
tidak mudah rusak dan tidak atas membesar.
284
h. Bentuk gulungan benang pengujian ini dilakukan pada
tidak normal, karena bagian panjang benang 10 inch.
bawah membesar.
i. Bentuk gulungan benang 5.20.4 Perhitungan Antihan
normal, tetapi tidak penuh. (Twist)
j. Bentuk gulungan benang
tidak normal, karena bagian Antihan diberikan terhadap
bawahnya kosong. benang yang baru keluar dari rol
k. Bentuk gulungan benang penarik agar benang gintir
tidak normal, karena bagian menjadi cukup kuat.
tengah ada benang yang Besar kecilnya antihan sangat
tidak tergulung. mempengaruhi kekuatan
benang gintir. Makin besar
5.20.3 Pengendalian Mutu antihan, makin kuat benang
gintir yang dihasilkan.
Hasil mesin gintir (ring twister) Agar benang gintir yang
adalah benang gintir, maka test dihasilkan memenuhi syarat-
yang dilakukan adalah syarat yang diinginkan, maka
pengujian Twist per Inch (TPI). antihan diberikan secukupnya
Pengujian ini dimaksudkan hingga benang mempunyai
untuk menguji jumlah pintiran kekuatan yang optimum.
benang setiap inchnya. Alat Jumlah antihan yang diberikan
yang dipakai adalah “Twist pada benang gintir biasanya
tester”. Pada prinsipnya alat ini dinyatakan per satuan panjang.
dipakai untuk melepaskan Satuan panjang dapat diambil
puntiran benang dan atau dalam inch atau meter.
memberikan puntiran kembali Bila diambil satuan panjang
dengan arah berlawanan. inch, maka antihannya adalah
Dengan menghitung jumlah Twist per Inch (TPI).
putaran tersebut dapat pula Bila satuannya diambil dalam
ditentukan berapa jumlah meter, maka antihannya adalah
puntiran untuk panjang 1 inch antihan per meter (APM).
atau twist per inch. Biasanya
285

Gambar 5.220
Susunan Roda Gigi Mesin Ring Twister

Antihan per Inch (API) atau Twist per Inch (TPI)

Kecepatan putaran spindel ( N sp ) / menit


TPI =
Panj. benang yg dikeluarkan dari rol penarik ( L) inch / menit
N sp per menit
TPI =
L inch per menit
286
Lihat gambar 5.220 Susunan antihan tersebut mempengaruhi
roda gigi mesin ring twister. jumlah produksi yang
180 200 dihasilkan.
Nsp = 1430 x x
230 25
Produksi per spindel per menit
= 8953 putaran per menit
adalah :
180 27 40
L = 1430 x x x x KPS per menit
230 54 40 = inch
Twist per Inch (TPI )
40 25 40 50
x x x x 3,14 8953
60 50 60 25,4 =
= 768,6 inch 11,6
= 768,6 inch
N sp
Jadi TPI = Keterangan :
L KPS = Kecepatan Permukaan
8953 Spindel
= 11,6
768,6
Bila satu mesin ring twister
mempunyai jumlah mata pintal =
5.20.5 Perhitungan Produksi
400 tiap frame, nomor benang
Seperti halnya pada mesin ring yang akan digintir adalah Ne1
spinning, produksi mesin ring 40/2 (Ne1 20), dan efisiensi
twister, juga dinyatakan dalam mesin = 95%, maka produksi
berat per satuan waktu tertentu. mesin ring twister per menit
adalah :
= efisiensi mesin x jml spindel x
x Produksi Teoritis
N sp
Produksi teoritis didapat dari TPI
perhitungan berdasarkan 80 8953
susunan roda gigi mesin ring = x 400 x
twister (lihat gambar 5.220).
100 11 , 6
Dalam perhitungan ini harus = 246979,31 inch
diperhatikan nomor benang
tunggal yang akan digintir, dan Produksi mesin per jam adalah :
jumlah rangkapannya. 80 N sp 1
Hal ini perlu karena ada = x 400 x 60 x x x
100 TPI 36
hubungannya dengan nomor 1 1 453,6
benang yang dihasilkan, dan x x kg
jumlah antihan yang akan 840 Ne1 1000
diberikan pada benang gintir, 80 8953 1
karena nomor benang gintir = x 400 x 60 x x x
100 11,6 36
yang dihasilkan dan jumlah
287
1 1 453,6 x Efisiensi
x x kg
840 20 1000
= 11,14 kg Seperti halnya pada mesin-
mesin sebelum ring twister,
maka untuk menghitung
x Produksi Nyata
efisiensi produksi mesin ring
twister dilakukan dengan
Untuk menghitung produksi
membandingkan antara
nyata dari mesin ring twister
produksi teoritis dengan
dapat dilakukan dengan
produksi nyata.
menghitung atau menimbang
Untuk menentukan efisiensi
jumlah benang gintir yang
produksi mesin ring twister,
dihasilkan.
diambil data perhitungan
Penghitungan atau
produksi teoritis dan
penimbangan dapat dilakukan
perhitungan produksi nyata.
pada setiap kali doffing atau
Produksi teoritis/mesin/jam
dalam satu periode waktu
= 11,114 kg
tertentu.
Produksi nyata/mesin/jam
Sebagai misal, diambil data
= 9,5 kg
realisasi produksi mesin ring
Jadi efisiensi produksi mesin
twister untuk satu kali doffing =
ring twister adalah :
38 kg.
Waktu doffing yang diperlukan
untuk memproduksi benang Prod. nyata/ mesin/ jam
= x100%
gintir Ne1 40/2 (Ne1 20) = 4 jam, Prod.teoritis/ mesin/ jam
maka : 9,5
= x 100%
Realisasi produksi / jam / mesin 11,14
38 = 85,47 %
= 9,5 kg
4
PENUTUP

Buku ini diharapkan dapat membantu guru dan siswa dalam


mengadakan observasi pada mesin-mesin Pembuatan Benang dan
mesin-mesin Pembuatan Kain Tenun di dunia usaha dan dunia
industri.

Selain itu masih diperlukan juga pengembangan bahan ajaran


untuk ilmu pengetahuan dan teknologi Pembuatan Benang dan
Pembuatan Kain yang sudah ada di industri namun landasan
teorinya belum tercakup pada buku ini.

Masih diperlukan pengkajian tentang isi buku ini yang meliputi


kedalamanan dan keluasannya serta materi cara penyajiannya agar
lebih dapat dipahami oleh siswa maupun guru.

A1
DAFTAR PUSTAKA

1. Baba Sangyo Kikai Co LTD. Baba High Performance Sizing


Machine. Osaka,Japan

2. Baba Sangyo Kikai Co LTD. Universal Sectional Warp Sizing


Machine. Osaka,Japan

3. Baba Sangyo Kikai Co LTD. Baba High Speed Warping


Machine. Osaka,Japan

4. Elang, S.Teks dkk. 1982. Pedoman Praktikum Persiapan


Pertenunan. Bandung. Institut Teknologi Tekstil.

5. Hamamatsu.1967.Haw To Handle Sakamoto’s SO Type Cop-


Change Automatic Loom. Japan.

6. John Wiley & Sons,Inc.1976. Modern Textiles.Toronto.

7. Liek Soeparlie,S.Teks dkk.1973.Teknologi Pertenunan.


Bandung. Institut Teknologi Tekstil.

8. Liek Soeparlie,S.Teks dkk.1974.Teknologi Persiapan


Pertenunan. Bandung. Institut Teknologi Tekstil.

9. Nagoya International Training Center. 1976. Weaving Machine.


Japan. International Cooperation Agency.

10. Oldrich Talavasek / and Vladimir Svaty.1981.Shuttleless


Weaving Machines. New York. Elsever Scientific Publishing
Company.

11. Pawitro,S.Teks.dkk.1973. Teknologi Pemintalan Bagian


Pertama. Bandung. Institut Teknologi Tekstil.

12. Pawitro,S.Teks.dkk.1975. Teknologi Pemintalan Bagian Kedua.


Bandung. Institut Teknologi Tekstil.

13. R.E Dachlan,S.Teks dkk.1998.Teknologi Pertenunan Tanpa


Teropong. Bandung. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil.

B1
14. Soji Muramatsu. Jacquard Weaving .Kyoto Japan.
Murata Textile Machine. CO.LTD.

15. Toyoda Automatic Loom Works LTD. 1990. Intruction Manual


For Ring Spinning Frame Model RY 5 4th Edition. Tokyo Japan.

16. Toyoda Automatic Loom Works LTD. 1990. Intruction Manual


For Roving FL 16. 9th Edition. Tokyo Japan.

17. To Do Seikusho. Information and Direction For Using Reaching


Machine.Osaka Japan.

18. Wibowo Moerdoko,S.Teks.dkk.1973.Evaluasi Tekstil Bagian


Fisika. Bandung. Institut Teknologi Tekstil.

B2
DAFTAR GAMBAR

Ganbar 2.1 Klasifikasi Serat Berdasarkan Asal Bahan. 5


Gambar 2.2 Hand Stapling............................................. 7
Gambar 2.3 Baer Sorter ................................................ 7
Gambar 2.4 Pinset Pencabut Serat ................................ 7
Gambar 2.5 Garpu Penekan Serat ................................ 7
Gambar 2.6 Fraksi Serat Kapas diatas Beludru ............ 7
Gambar 2.7 Skema Single Fibre Strength Tester.......... 8
Gambar 2.8 Skema Pressley Cotton Fibre Strength
Tester ........................................................ 9
Gambar 2.9 Vice (tempat mengencangkan klem) ......... 9
Gambar 2.10 Klem Serat dan Kunci Pas......................... 9
Gambar 2.11 Skema Micronaire...................................... 10
Gambar 3.1. Pemintalan secara Mekanik...................... 12
Gambar 3.2. Pemintalan secara Kimia ........................... 12
Gambar 3.3. Benang Stapel ........................................... 13
Gambar 3.4. Benang Monofilamen................................. 14
Gambar 3.5. Benang Multifilamen .................................. 14
Gambar 3.6. Filamen Low .............................................. 14
Gambar 3.7. Benang Logam .......................................... 15
Gambar 3.8. Benang Tunggal ........................................ 15
Gambar 3.9. Benang Rangkap ....................................... 15
Gambar 3.10 Benang Gintir............................................. 15
Gambar 3.11 Benang Tali ............................................... 15
Gambar 3.12 Benang Hias .............................................. .. 16
Gambar 3.13 Benang Jahit.............................................. .. 17
Gambar 4.1. Landasan Bal Kapas ................................. 27
Gambar 4.2. Bal Kapas dengan jumlah Pelat Besi 6...... 27
Gambar 4.3 Besi Pelepas Pelat Pembalut Kapas ......... 27
Gambar 4.4 Gunting Pemotong Pelat Pembalut Bal
Kapas ........................................................ 27
Gambar 5.1 Sistem Pintal dengan Flyer........................ 33
Gambar 5.2 Sistem Pintal dengan Cap ......................... 34
Gambar 5.3 Sistem Pintal Ring ..................................... 35
Gambar 5.4 Sistem Pintal Open End............................. 36
Gambar 5.5 Urutan Proses Ordinary Draft System....... 37
Gambar 5.6 Urutan Proses High Draft System ............ 38
Gambar 5.7 Urutan Proses Super High Draft System 38
Gambar 5.8 Urutan Proses Hock System ..................... 39
Gambar 5.9 Urutan Proses Gombed Yarn.................... 40

C1
Gambar 5.10 Urutan Proses Pembuatan Benang
Tunggal dan Benang Gintir....................... 41
Gambar 5.11 Urutan Proses Pemintalan Benang
Wol Garu .................................................. 42
Gambar 5.12 Pengelompokan Serat Wol Berdasarkan
3 Kelas....................................................... 45
Gambar 5.13 Pengelompokan Serat Wol Berdasarkan
4 Kelas....................................................... 45
Gambar 5.14 Skema Proses Pemintalan Rami .............. 52
Gambar 5.15 Skema Reeling Sutera............................... 55
Gambar 5.16 Filamen Keriting......................................... 59
Gambar 5.17 Filamen Helix ............................................. 59
Gambar 5.18 Unit Mesin Blowing .................................... 62
Gambar 5.19 Skema Mesin Loftex Charger .................... 63
Gambar 5.20 Skema Mesin Hopper Feeder.................... 64
Gambar 5.21 Skema Mesin Hopperv Feeder Cleaner .... 64
Gambar 5.22 Alur Gerakan antara Permukaan Berpaku. 65
Gambar 5.23 Skema Mesin Pre Opener Cleaner............ 67
Gambar 5.24 Skema rol pemukul dan batang saringan .. 68
Gambar 5.25 Skema rol pemukul mesin Pre Opener
Cleaner ...................................................... 68
Gambar 5.26 Skema Mesin Condensor at Cleaner......... 69
Gambar 5.27 Skema pemisah kotoran mesin Condensor
at Cleanser ................................................ 69
Gambar 5.28 Skema Mesin Opener Cleaner .................. 70
Gambar 5.29 Skema Rol Pemukul dan Batang saringan 71
Gambar 5.30 Skema mesin Condensor at Picker ........... 71
Gambar 5.31 Skema Pemisah kotoran Mesin
Condensor at Cleaner ............................... 71
Gambar 5.32 Skema Mesin Micro Even Feeder.............. 72
Gambar 5.33 Skema Mesin Scutcher.............................. 73
Gambar 5.34 Pengatur Penyuapan ................................. 74
Gambar 5.35 Pengatur Penyuapan (Feed Regulator)..... 75
Gambar 5.36 Pergerakan Pedal dan Perpindahan Belt .. 76
Gambar 5.37 Bagian penyuapan mesin Scutcher ........... 80
Gambar 5.38 Terpisahnya kotoran dari serat .................. 80
Gambar 5.39 Tekanan Rol Penggilas pada Kapas ......... 83
Gambar 5.40 Tekanan Batang Penggulung Lap ............. 84
Gambar 5.41 Tekanan Batang Penggulung pada Rol
Penggulung Lop ........................................ 86
Gambar 5.42 Susunan Roda Gigi Mesin Scutcher
dengan satu sumber gerakan .................... 89
Gambar 5.43 Mesin Carding ........................................... 99
Gambar 5.44 Gulungan Lap ............................................ 101

C2
Gambar 5.45 Lap Roll ..................................................... 101
Gambar 5.46 Lap Stand .................................................. . 101
Gambar 5.47 Lap Cadangan ........................................... 102
Gambar 5.48 Pelat Penyuap ........................................... 102
Gambar 5.49 Bentuk dari Gigi-gigi pada Taker-in ........... 103
Gambar 5.50 Rol Pengambil dan Silinder ....................... 104
Gambar 5.51 Rol Pengambil, Pisau Pembersih dan
Saringan .................................................... 106
Gambar 5.52 Sistem Pembebanan dengan Bandul
pada Rol Penyuap ..................................... 106
Gambar 5.53 Bagian dari Rol Pengambil ........................ 108
Gambar 5.54 Gaya-gaya yang bekerja pada kotoran
dan kapas .................................................. 109
Gambar 5.55 Penampang Melintang dan memanjang
dari Flat Carding ........................................ 111
Gambar 5.56 Saringan Silinder (Cylinder Screen) .......... 112
Gambar 5.57 Stripping Action ......................................... 113
Gambar 5.58 Carding Action ........................................... 113
Gambar 5.59 Doffer Comb .............................................. 119
Gambar 5.60 Rol Penggilas (Calender Roll) ................... 120
Gambar 5.61. Letak Sliver didalam Can........................... 121
Gambar 5.62. Penampungan Sliver dalam Can ............... 122
Gambar 5.63. Warp Block ................................................ 123
Gambar 5.64. Neraca Analitik .......................................... 123
Gambar 5.65. Daerah Setting Mesin Carding................... 125
Gambar 5.66. Leaf Gauge ................................................ 126
Gambar 5.67. Leaf Gauge khusus Top Flat ..................... 126
Gambar 5.68. Susunan Roda Gigi Mesin Carding ........... 128
Gambar 5.69. Skema Mesin Drawing............................... 137
Gambar 5.70. Can ............................................................ 138
Gambar 5.71 Pengantar Sliver ........................................ 138
Gambar 5.72 Traverse Guide .......................................... 138
Gambar 5.73 Pasangan Rol-rol Penarik.......................... 139
Gambar 5.74 Rol Atas ..................................................... 140
Gambar 5.75 Alur pada penampang Rol Atas dan
Rol Bawah dari Logam .............................. 141
Gambar 5.76 Pembebanan Sendiri ................................ 141
Gambar 5.77 Pembebanan Mati/Bandul ......................... 142
Gambar 5.78 Pembebanan Pelana ................................. 142
Gambar 5.79 Pembebanan dengan Tuas ....................... 142
Gambar 5.80 Pembebanan dengan Per.......................... 142
Gambar 5.81 Peralatan Pembersih Rol Bawah............... 143
Gambar 5.82 Peralatan Pembersih Rol Atas................... 143

C3
Gambar 5.83 Pasangan-pasangan Rol pada Proses
Peregangan ............................................... 144
Gambar 5.84 Dua Pasang Rol pada proses Peregangan 145
Gambar 5.85 Empat Daerah Peregangan ....................... 146
Gambar 5.86 Tiga Daerah Peregangan .......................... 146
Gambar 5.87 Pengaruh jarak antar Rol dengan
ketidakrataan dari sliver yang dihasilkan ... 147
Gambar 5.88 Roller Gauge ............................................. 148
Gambar 5.89 Kedudukan Serat antara dua pasangan
rol penarik .................................................. 149
Gambar 5.90 Sliver yang melalui rol dengan ukuran
yang berbeda............................................. 150
Gambar 5.91 Pelat penampung Sliver ............................ 151
Gambar 5.92 Penampang Terompet ............................... 151
Gambar 5.93 Coiler ......................................................... 152
Gambar 5.94 Letak Sliver dalam Can ............................. 153
Gambar 5.95 Susunan pada gigi mesin Drawing ............ 155
Gambar 5.96 Urutan Proses Persiapan Combing........... 162
Gambar 5.97 Arah Penyuapan pada Mesin Combing ..... 163
Gambar 5.98 Tekukan serat yang diserapkan ke Mesin
Combing .................................................... 164
Gambar 5.99 Mesin Pre Drawing .................................... 165
Gambar 5.100 Alur Proses Mesin Pre Drawing................. 166
Gambar 5.101 Skema Mesin Lap Former ........................ 168
Gambar 5.102 Alur Proses Mesin Lap Former .................. 168
Gambar 5.103 Susunan Roda Gigi Mesin Lap Former ..... 171
Gambar 5.104 Skema Mesin Combing ............................. 174
Gambar 5.105 Skema Bagian Penyuapan mesin
Combing .................................................... 176
Gambar 5.106 Gulungan Lap ............................................ 176
Gambar 5.107 Rol Pemutar Lap........................................ 176
Gambar 5.108 Pelat Penyuap ........................................... 176
Gambar 5.109 Rol Penyuap .............................................. 176
Gambar 5.110 Landasan Penjepit..................................... 177
Gambar 5.111 Pisau Penjepit............................................ 177
Gambar 5.112 Awal Penyuapan Lap................................. 177
Gambar 5.113 Penjepitan Lap........................................... 178
Gambar 5.114 Posisi Sisir Utama pada saat penjepitan
lap.............................................................. 178
Gambar 5.115 Skema Bagian Penyisisran Mesin
Combing .................................................... 178
Gambar 5.116 Sisir Utama ................................................ 179
Gambar 5.117 Rol Pencabut ............................................. 179
Gambar 5.118 Sisir Atas ................................................... 179

C4
Gambar 5.119 Penyuapan Lap ......................................... 180
Gambar 5.120 Penyisiran sedang berlangsung ................ 180
Gambar 5.121 Penyisiran telah selesai ............................. 180
Gambar 5.122 Pencabutan Serat ...................................... 181
Gambar 5.123 Skema Bagian Penampungan Limbah ...... 182
Gambar 5.124 Silinder Pengering ..................................... 182
Gambar 5.125 Kipas.......................................................... 182
Gambar 5.126 Rol Penekan .............................................. 182
Gambar 5.127 Skema Bagian Penampungan Web........... 184
Gambar 5.128 Pelat Penampung Web.............................. 184
Gambar 5.129 Terompet .................................................. 184
Gambar 5.130 Rol Penggilas ............................................ 184
Gambar 5.131 Pelat Pembelok ......................................... 185
Gambar 5.132 Pelat Penyalur Sliver ................................. 185
Gambar 5.133 Skema Bagian Perangkapan Peregangan
dan penampungan Sliver........................... 186
Gambar 5.134 Rol Peregang............................................. 187
Gambar 5.135 Terompet ................................................... 187
Gambar 5.136 Rol Penggilas ............................................ 187
Gambar 5.137 Coiler ......................................................... 188
Gambar 5.138 Can ............................................................ 188
Gambar 5.139 Susunan Roda gigi mesin Combing .......... 194
Gambar 5.140 Proses Peregangan ................................... 197
Gambar 5.141 Proses Pengantihan .................................. 198
Gambar 5.142 Proses Penggulungan ............................... 198
Gambar 5.143 Skema Mesin Flyer .................................... 199
Gambar 5.144 Skema Bagian Penyuapan Mesin Flyer..... 201
Gambar 5.145 Can ............................................................ 201
Gambar 5.146 Rol Pengantar............................................ 201
Gambar 5.147 Terompet Pengantar Sliver........................ 202
Gambar 5.148 Penyekat.................................................... 202
Gambar 5.149 Skema Bagian Peregangan mesin Flyer ... 202
Gambar 5.150 Rol Peregang............................................. 203
Gambar 5.151 Penampung ............................................... 203
Gambar 5.152 Pembersih ................................................. 203
Gambar 5.153 Cradle ........................................................ 203
Gambar 5.154 Penyetelan Jarak antara titik jepit
rol peregang .............................................. 204
Gambar 5.155 Pembebanan pada Rol Atas...................... 205
Gambar 5.156 Penyetelan dan Penunjuk beban............... 205
Gambar 5.157 Skema Bagian penampungan mesin flyer… 205
Gambar 5.158 Flyer........................................................... 207
Gambar 5.159 Bobin ......................................................... 207
Gambar 5.160 Susunan Roda Gigi mesin Flyer ................ 209

C5
Gambar 5.161 Batang Penggeser ..................................... 210
Gambar 5.162 Peralatan Trick Box ................................... 211
Gambar 5.163 Gaya Putar pada Trick Box........................ 212
Gambar 5.164 Roda Gigi Bauble ...................................... 213
Gambar 5.165 Macam Bentuk gulungan Roving pada
Bobin ......................................................... 213
Gambar 5.166 Susunan Roda Gigi Mesin Flyer ................ 216
Gambar 5.167 Susunan Roda Gigi 3 pasang rol
peregang ................................................... 217
Gambar 5.168 Susunan Roda Gigi dari 4 pasang rol
peregang ................................................... 220
Gambar 5.169 Skema Mesin Ring Spinning ..................... 231
Gambar 5.170 Skema Bagian Penyuapan Mesin Ring
Spinning..................................................... 234
Gambar 5.171 Rak ............................................................ 235
Gambar 5.172 Penggantung Bobin (Bobin Holder) ........... 235
Gambar 5.173 Pengantar .................................................. 235
Gambar 5.174 Terompet Pengantar.................................. 235
Gambar 5.175 Skema Bagian Peregangan Mesin Ring
Spinning..................................................... 237
Gambar 5.176 Rol Peregang............................................. 237
Gambar 5.177 Cradle ........................................................ 238
Gambar 5.178 Penghisap (Pneumafil) .............................. 238
Gambar 5.179 Penyetelan Jarak Antar Rol Peregang ...... 239
Gambar 5.180 Pembebanan pada Rol Atas...................... 240
Gambar 5.181 Kunci Penyetel Pembebanan pada Rol
Atas ........................................................... 241
Gambar 5.182 Skema Bagian Penggulungan Mesin Ring
Spinning..................................................... 242
Gambar 5.183 Ekor Babi (Lappet)..................................... 242
Gambar 5.184 Traveller..................................................... 242
Gambar 5.185 Ring .......................................................... 243
Gambar 5.186 Spindel....................................................... 243
Gambar 5.187 Pengontrol Baloning (Antinode Ring) ........ 243
Gambar 5.188 Penyekat (Separator) ................................ 243
Gambar 5.189 Tin Roll ...................................................... 244
Gambar 5.190 Hubungan Antara TPI dan Kekuata42
Benang ...................................................... 246
Gambar 5.191 Arah Antihan .............................................. 246
Gambar 5.192 Bentuk Gulungan Benang dan Roving
pada Bobin ................................................ 247
Gambar 5.193 Peralatan Builder Motion ........................... 247
Gambar 5.194 Ring Rail .................................................... 249

C6
Gambar 5.195 Cam Screw dan Gulungan Benang
pada Pangkal Bobin .................................. 250
Gambar 5.196 Bentuk Gulungan Benang Pada Bobin ...... 252
Gambar 5.197 Susunan Roda Gigi mesin Ring Spinning.. 255
Gambar 5.198 Skema dan cara penulisan Benang Gintir . 268
Gambar 5.199 Skema Penggintiran Turun (Down Twist) .. 269
Gambar 5.200 Skema Penggintiran Naik (Up Twister)...... 271
Gambar 5.201 Skema Bagian Penyuapan ........................ 272
Gambar 5.202 Rak Kelos .................................................. 273
Gambar 5.203 Pengantar Benang..................................... 273
Gambar 5.204 Rol Penarik ................................................ 273
Gambar 5.205 Skema Bagian Penggulungan ................... 274
Gambar 5.206 Ekor Babi (Lappet)..................................... 274
Gambar 5.207 Pengontrol Baloning (Antinode Ring) ....... 274
Gambar 5.208 Penyekat (Separator) ................................ 275
Gambar 5.209 Spindel....................................................... 275
Gambar 5.210 Ring ........................................................... 275
Gambar 5.211 Traveller..................................................... 275
Gambar 5.212 Tin Roll ...................................................... 275
Gambar 5.213 Hubungan antara TPI dan kekuatan
Benang ...................................................... 277
Gambar 5.214 Arah Antihan .............................................. 278
Gambar 5.215 Bentuk Gulungan Benang dan Roving
pada Bobin ................................................ 279
Gambar 5.216 Peralatan Builder Motion ........................... 279
Gambar 5.217 Ring Rail .................................................... 281
Gambar 5.218 Cam Screw dan Gulungan Benang pada
Pangkal Bobin ........................................... 282
Gambar 5.219 Bentuk Gulungan Benang pada Bobin ...... 285
Gambar 5.220 Susunan Roda Gigi Mesin Ring Twister .... 287
Gambar 6.1 Benang Lusi............................................... 291
Gambar 6.2 Benang Pakan ........................................... 291
Gambar 6.3 Lusi di atas Pakan ..................................... 291
Gambar 6.4 Lusi di bawah Pakan ................................. 292
Gambar 6.5 Efek Lusi dan Efek Pakan ......................... 292
Gambar 6.6 Contoh Rencana Tenun untuk Rol Kerek
dan Dobi .................................................... 293
Gambar 6.7 Desain Strip Horisontal .............................. 294
Gambar 6.8 Desain Strip Vertikal .................................. 294
Gambar 6.9 Desain Strip Miring .................................... 294
Gambar 6.10 Desain Kotak Teratur ................................ 295
Gambar 6.11 Desain Kotak Tidak Teratur ...................... 295
Gambar 6.12 Plaid Desain .............................................. 295
Gambar 6.13 Desain Zigzag dan Desain Bayangan ....... 295

C7
Gambar 6.14 Anyaman Polos ......................................... 296
Gambar 6.15 Anyaman Keper ......................................... 297
Gambar 6.16 Anyaman Satin 5 gun ................................ 297
Gambar 6.17 Anyaman Rib Lusi ..................................... 297
Gambar 6.18 Anyaman Rib Pakan .................................. 297
Gambar 6.19 Anyaman Panama ..................................... 298
Gambar 6.20 Anyaman Huck back.................................. 298
Gambar 6.21 Anyaman Berlobang (Perforated Fabries) . 298
Gambar 6.22 Anyaman Keper Rangkap ......................... 299
Gambar 6.23 Anyaman Keper diperkuat ......................... 299
Gambar 6.24 Anyaman Keper diperkuat ......................... 299
Gambar 6.25 Rencana Tenun Anyaman keper Tulang .. 300
51
Gambar 6.26 Keper / 2 (63°) … .................................. 300
22
53
Gambar 6.27 / 3 (70°) …............................................. 301
22
612
Gambar 6.28 / 4 (75°) …........................................... 301
322
Gambar 6.29 Anyaman Gabardine Keper .......................
3
/ 2 (63°) ................................................. 301
2
Gambar 6.30 Basis Satin Pakan Teratur 8V3.................. 302
Gambar 6.31 Basis Satin Pakan Tidak Teratur 8 Gun ... 302
Gambar 6.32 Anyaman Crepe dengan Metoda
Pembalikan Anyaman................................ 302
Gambar 6.33 Anyaman Zand Crepe................................ 302
Gambar 6.34 Anyaman Armures ..................................... 303
Gambar 6.35 Satin 5 V 8 Venetian .................................. 303
Gambar 6.36 Satin 8 V 3 Bucksin ................................... 303
Gambar 6.37 Anyaman Satin 5 V 3 Penambahan Efek
Lusi ............................................................ 303
Gambar 6.38 Satin 7 V 3 ................................................ 304
Gambar 6.39 Satin 8 V 3 ................................................ 304
Gambar 6.40 Turunan Satin Ganjil > 7 Gun .................... 304
Gambar 6.41 Anyaman Atas ........................................... 305
Gambar 6.42 Anyaman Bawah ....................................... 305
Gambar 6.43 Ikatan Lusi ................................................. 305
Gambar 6.44 Anyaman Rangkap .................................... 306
Gambar 6.45 Silangan Anyaman Leno ........................... 307
Gambar 7.1 Skema Proses Persiapan Pertenunan
(Shuttless Loom) ....................................... 310

C8
Gambar 7.2 Skema Proses Pertenunan (Shuttleless
Loom) ........................................................ 311
Gambar 7.3 Bobin Kerucut ............................................ 312
Gambar 7.4 Bobin Cakra ............................................... 312
Gambar 7.5 Bobin Silinder ............................................ 313
Gambar 7.6 Penggulung Pasif ...................................... 313
Gambar 7.7 Penggulung Aktif ....................................... 314
Gambar 7.8 Pengantar Bersayap .................................. 315
Gambar 7.9 Pengantar Silinder Beralur Exentrik........... 316
Gambar 7.10 Pengantar Silinder Beralur Spiral .............. 316
Gambar 7.11 Pengatur Tegangan dengan Per ............... 317
Gambar 7.12 Pengatur Tegangan dengan Cincin ........... 317
Gambar 7.13 Glub Catcher Type Blade .......................... 319
Gambar 7.14 Catcher Type Comb (Sisir) ........................ 319
Gambar 7.15 Leaf Gauge ................................................ 320
Gambar 7.16 Haspel ....................................................... 322
Gambar 7.17 Spindel (Pasak) ......................................... 322
Gambar 7.18 Spindel Bobin (Pemegang Bobin).............. 323
Gambar 7.19 Otomatis Penjaga Benang Putus ............. 324
Gambar 7.20 Pengatur Gulungan Penuh dengan Cincin
Penggantung ............................................. 325
Gambar 7.21 Pengatur Gulungan Penuh dengan Alat
Ukur ........................................................... 325
Gambar 7.22 Peralatan Penjaga Benang Kusut ............. 326
Gambar 7.23 Peralatan Pembakar Bulu Benang ............ 327
Gambar 7.24 Pengatur Bentuk Gulungan Benang .......... 327
Gambar 7.25 Diagram Poros Friksi ................................. 328
Gambar 7.26 Bentuk Gulungan Benang Pakan .............. 330
Gambar 7.27 Bobin Palet Biasa ...................................... 331
Gambar 7.28 Bobin Palet Peraba Elektrik ....................... 331
Gambar 7.29 Bobin Palet Peraba Mekanik ..................... 331
Gambar 7.30 Bobin Palet Shuttle Change Peraba
Mekanik ..................................................... 332
Gambar 7.31 Bobin Palet Peraba Foto Elektrik............... 332
Gambar 7.32 Full Automatic Weft Pirn Winder Type
110’S Murata ............................................. 334
Gambar 7.33 Mekanisme Penggerak Mesin Pallet
Otomatis Murata Type 100’S .................... 335
Gambar 7.34 Starting and Stopping ................................ 336
Gambar 7.35 Diagram Mekanisme Gerakan ................... 337
Gambar 7.36 Otomatis Gulungan Penuh ........................ 339
Gambar 7.37 Gerakan Pergantian Palet ......................... 340
Gambar 7.38 Pengatur Tebal Gulungan ......................... 341
Gambar 7.39 Gulungan Benang Cadangan Bunch ......... 342

C9
Gambar 7.40 A, B, C, D, E Peralatan Gerakan
Gulungan Benang Cadangan (Bunch)....... 344
Gambar 7.41A. Pengatur Tegangan Tension Washer........ 345
Gambar 7.41B. Pengatur Tegangan ................................... 346
Gambar 7.41C. Pengatur Tegangan Pegas (Per Spiral)..... 346
Gambar 7.41D. Pengatur Tegangan (Per Spiral) ............... 347
Gambar 7.41E. Arah Jalan Benang pada Pengukur
Tegangan .................................................. 347
Gambar 7.42 Cylinder Sectional Warping Machine......... 352
Gambar 7.43 Skema Mesin Hani Seksi Kerucut ............. 353
Gambar 7.44 Creel tanpa Spindel Cadangan ................. 354
Gambar 7.45 Creel dengan Spindel Cadangan
Gambar 7.46 Creel dengan Kereta Dorong..................... 355
Gambar 7.47 Creel Bentuk V .......................................... 356
Gambar 7.48 Cara Penempatan Spindel dan Pengantar
Benang (Pengatur Tegangan) ................... 357
Gambar 7.49 Pengatur Tegangan Type Universal .......... 358
Gambar 7.50 Pengatur Tegangan Type Kapas............... 358
Gambar 7.51 Sisir Silang dengan 2 silangan .................. 359
Gambar 7.52 Sisir Silang Ganda ..................................... 360
Gambar 7.53 Peralatan Sisir Silang ................................ 360
Gambar 7.54 Jalan Benang pada Sisir Silang................. 361
Gambar 7.55 Penarikan Datar ........................................ 362
Gambar 7.56 Penarikan Tegak ....................................... 362
Gambar 7.57 Sisir Hani ................................................... 363
Gambar 7.58 Mesin Hani Seksi Kerucut Type K-50 III .... 365
Gambar 7.69 Elevation Wing Angle ................................ 368
Gambar 7.60 Stang Penyetel Pergeseran Sisir Hani ...... 369
Gambar 7.61 Drum Revolution Counter .......................... 370
Gambar 7.62 Traveling Fron Reed dan Counter Length . 370
Gambar 7.63 Posisi Band Lusi dan Drum ....................... 371
Gambar 7.64 Pengatur Kecepatan Putaran Drum........... 371
Gambar 7.65 Mesin Penggulung ..................................... 373
Gambar 7.66 High Speed Warping Machine ................... 385
Gambar 7.67 Skema Penggulung Benang ...................... 385
Gambar 7.68 Sisir Ekspansi Model Zig-zag .................... 387
Gambar 7.69 Alat Penjaga Benang Putus Sistem
Elektrik ....................................................... 388
Gambar 7.70 Penampang Benang Terkanji .................... 394
Gambar 7.71 Pembangkit Uap dan Tempat Penguapan. 398
Gambar 7.72 Mesin Kanji Hank....................................... 400
Gambar 7.73 Unit Proses Penganjian ............................. 401
Gambar 7.74 Penganjian dengan Mesin Hani Seksi
Kerucut ...................................................... 402

C10
Gambar 7.75 Penganjian dengan Mesin Hani Lebar....... 403
Gambar 7.76 Alat Pemasak Kanji Terbuka ..................... 404
Gambar 7.77 High Pressure Cooker ............................... 405
Gambar 7.78 Grafik Viscositas dan Waktu...................... 406
Gambar 7.79 Visko Cup .................................................. 406
Gambar 7.80 Grafik Kecepatan habisnya Larutan
terhadap Cps, untuk Viskocup ∅ 6 mm..... 407
Gambar 7.81 Skema Proses Mesin Kanji Slasher........... 410
Gambar 7.82 Penempatan Bum dan Arah Penarikan
Benang ...................................................... 411
Gambar 7.83 Penguluran Pasif dengan Pemberat
(Bandul) ..................................................... 411
Gambar 7.84 Pengereman Sistem Servomotor............... 412
Gambar 7.85 Pengereman Sistem Elektromagnet .......... 412
Gambar 7.86 Bagian Penganjian (Sizing Section) .......... 412
Gambar 7.87a Pemeras Tunggal ...................................... 413
Gambar 7.87b Pemeras Ganda dan Perendam tunggal ... 413
Gambar 7.87c Pemeras Ganda dan Dua perendam......... 414
Gambar 7.87d Pemeras Ganda, Perendam Tunggal, dan
dua Bak Kanji ............................................ 414
Gambar 7.88 Posisi peralatan Rol Pemisah Basah......... 415
Gambar 7.89 Pengering dengan 5 Silinder ..................... 416
Gambar 7.90 Pengering Ruang Pengering dan Silinder . 417
Gambar 7.91 Pengering dengan Udara Panas ............... 418
Gambar 7.92 Rol Pemisah Benang Lusi Kering .............. 419
Gambar 7.93 Peralatan Penggulung Benang.................. 420
Gambar 7.94 Skema Urutan Proses Pencucukan........... 422
Gambar 7.95 Peralatan Pencucukan .............................. 423
Gambar 7.96 Carriage ..................................................... 424
Gambar 7.97 Kawat Cucuk Tunggal................................ 425
Gambar 7.98 Kawat Cucuk Ganda.................................. 425
Gambar 7.99 Pisau Cucuk .............................................. 425
Gambar 7.100 Sisir Mesin Tenun Konvensional ............... 426
Gambar 7.101 Sisir Mesin Tenun Air Jet Loom................. 427
Gambar 7.102 Sisir Mesin Tenun Rapier, Water Jet,
Projectile.................................................... 427
Gambar 7.103 Gun (Wire Head) ....................................... 428
Gambar 7.104 Droper........................................................ 428
Gambar 7.105 Gulungan Benang Lusi Bum Tenun........... 429
Gambar 7.106 Pemasangan Benang Lusi......................... 430
Gambar 7.107 Bagian-bagian Peralatan Kerangka Mesin
Cucuk ........................................................ 431
Gambar 7.108 Lebar Cucuk pada Sisir Tenun .................. 432
Gambar 8.1 Pembentukan Kain Tenun ......................... 439

C11
Gambar 8.2 Bagian-bagian Utama Mesin Tenun .......... 441
Gambar 8.3 Diagram Engkol Anyaman Polos ............... 442
Gambar 8.4 Diagram Lintasan Pembawa Pakan .......... 444
Gambar 8.5 Macam-macam Rangka Mesin .................. 447
Gambar 8.6 Tipe Penggerak Sederhana....................... 449
Gambar 8.7 Kopling Konis............................................. 450
Gambar 8.8 Rem Mesin Tenun ..................................... 451
Gambar 8.9 Kopling Magnit Listrik dan Pengereman .... 452
Gambar 8.10 Kopling Pelat Tunggal................................ 453
Gambar 8.11 Kopling dengan Pengontrol Rem oleh
Magnit Listrik Tunggal................................ 454
Gambar 8.12 Ban Rem pada Beam Lusi......................... 456
Gambar 8.13 Rem Beam Lusi Otomatis.......................... 457
Gambar 8.15 Mekanisme Penyuapan Lusi...................... 459
Gambar 8.16 Penguluran Lusi untuk Dua Beam ............. 460
Gambar 8.17 Macam-macam Beam Lusi ........................ 461
Gambar 8.18 Lokasi Back Rest pada Mesin Tenun ........ 463
Gambar 8.19 Pengontrol Kain dan Lusi pada Mesin
Tenun ........................................................ 466
Gambar 8.20 Ayunan Batang Silangan ........................... 467
Gambar 8.21 Roller Temple ............................................ 469
Gambar 8.22 Ring Temple Mendatar .............................. 470
Gambar 8.23 Clamp Temple ........................................... 470
Gambar 8.24 Penggulung Kain Satu Pawl ...................... 471
Gambar 8.25 Penggulungan Sistem Multi Pawl .............. 472
Gambar 8.26 Penggulungan tanpa Pawl......................... 472
Gambar 8.27 Gerakan Pembalikan Gun ......................... 474
Gambar 8.28 Macam-macam Cam Positif....................... 475
Gambar 8.29 Dobby Pengangkatan Ganda .................... 476
Gambar 8.30 Bagian-bagian dalam Mesin Jacquard ...... 477
Gambar 8.31 Butter, Silinder dan Kartu........................... 478
Gambar 8.32 Diagram Tali Harness dengan atau Tanpa
Harness Guide........................................... 482
Gambar 8.33 Mesin Jacquard 1300 Jarum .................... 484
Gambar 8.34 Perbandingan antara Tegangan Lusi
dengan Tinggi Mulut Lusi........................... 485
Gambar 8.35 Panjang Mulut Lusi diperbesar .................. 485
Gambar 8.36 Pembentukan Mulut Tengah...................... 485
Gambar 8.37 Kombinasi Hook Jarum dan Benang Lusi.. 486
Gambar 8.38 Posisi Awal Jacquard saat Peluncuran
Pakan Pertama .......................................... 487
Gambar 8.39 Hubungan Kartu, Jarum dan Hook pada
Sistem Pengangkatan Ganda Dua Silinder 489
Gambar 8.40 Jacquard Dua Silinder tanpa Pegas .......... 490

C12
Gambar 8.41 Mesin Jacquard Cross Border ................... 491
Gambar 8.42 Mesin Jacquard Veldol .............................. 492
Gambar 8.43 Mekanisme Gerakan Jacquard Dua
Silinder....................................................... 493
Gambar 8.44 Foto Mesin Jacquard Veldol ...................... 493
Gambar 8.45 Mekanisme Pengetekan Link..................... 495
Gambar 8.46 Mekanisme Cam........................................ 496
Gambar 8.47 Mekanisme Roda Gigi ............................... 497
Gambar 8.48 Penenunan dengan Shuttle ....................... 499
Gambar 8.49 Shuttle ....................................................... 500
Gambar 8.50 Mekanisme Pukulan .................................. 501
Gambar 8.51 Sistem Penyisipan Pakan pada Jet Loom . 502
Gambar 8.52 Transmisi Pakan pada Rapila.................... 503

C13
DAFTAR TABEL
l

Tabel 2.1 Penilaian Serat Kapas terhadap Kehalusan ............ 10


Tabel 4.1 Macam-macam Perbandingan Persentase
Campuran................................................................. 30
Tabel 5.1 Macam-macam Perbandingan Persentase
Campuran................................................................. 61
Tabel 5.2 Hubungan antara Tebal Kapas dengan Putaran
Cone Drum ............................................................... 78
Tabel 5.3. Diameter Terompet yang sesuai untuk Ukuran
Sliver ....................................................................... 121
Tabel 5.4 Setting Mesin Carding ............................................. 125
Tabel 5.5 Penyetelan Jarak dan Pengaturan Waktu ............... 189
Tabel 5.6 Koefisien Antihan pada Mesin Flyer ........................ 226
Tabel 5.7 Perbedaan Ring Spinning dengan Mesin Flyer ....... 230
Tabel 5.8 Penyetelan Staple menurut Pabrik Suessen WST .. 239
Tabel 5.9 Twist Multiplier......................................................... 262
Tabel 7.1 Tegangan Benang Proses Pengelosan................... 317
Tabel 7.2 Beban Cincin dalam Pengelosan ............................ 318
Tabel 7.3 Jarak Celah Slub Catcher ....................................... 319
Tabel 7.4 Jarak Celah Slub Catcher ....................................... 320
Tabel 7.5 Berat Jenis Serat..................................................... 321
Tabel 7.6 Constanta Sudut Kerucut ........................................ 367
Tabel 7.7 Traveling Distance Table......................................... 368
Tabel 7.8a Pemasangan Cones pada Creel dengan Cara
Penarikan ................................................................ 378
Tabel 7.8b Pemasangan Cones pada Creel dengan Cara
Penarikan ................................................................ 379
Tabel 7.9 Raport Hanian ......................................................... 390
Tabel 7.10 Resep Benang Polyester 65%, Kapas 35 %........... 409
Tabel 7.11 Resep Benang Polyester 65%, Rayon 35 % ........... 409
Tabel 8.1 Penyetelan Panjang Tali Harness ........................... 480
Tabel 8.2 Standar Berat Lingoes............................................. 480
Tabel 8.3 Hubungan antara Jumlah Lubang dan Nomor
Comberboard .......................................................... 481

C14