Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dengue Hemoragic Fever (DHF) atau yang biasa disebut dengan
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh
virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti.
Penyakit DHF cenderung meningkat dan meluas ke seluruh wilayah
nusantara. Di beberapa negara penularan virus dengue dipengaruhi oleh
adanya musim, jumlah kasus biasanya meningkat bersamaan dengan
peningkatan curah hujan. Di Indonesia pengaruh musim terhadap DBD tidak
begitu jelas, tetapi secara garis besar dapat dikemukakan bahwa jumlah
penderita meningkat antara bulan September sampai bulan Februari dan
mencapai puncaknya pada bulan Januari.
Berdasarkan jumlah kasus DHF, Indonesia merupakan urutan yang
kedua setelah Thailand.
Di Indonesia kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah dengue
terbesar terjadi pada tahun 1998 dengan incidence rate (IR) 35,19 per
100.000 penduduk. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10,17 %,
namun tahun – tahun berikutnya IR cenderung meningkat yaitu 15,99 (tahun
2000), 21,66 (tahun 2001), 19,24(tahun 2002), dan 23,87 (tahun 2003).
Cara menanggulangi demam berdarah adalah dengan memberantas
sarang nyamuk (PSN) dan program menguras, menutup dan mengubur atau
sering di sebut dengan 3 M. Upaya lain yang dapat dilakukan adalah
pengasapan (fogging), di beberapa daerah dikategorikan rawan demam
berdarah. Dapat pula dilakukan pengendalian secara kimiawi seperti
memberikan bubuk abate, serta pengendalian secara biologis seperti
menggunakan ikan untuk memakan jentik nyamuk. Untuk lebih efektif dapat
dilakukan dengan 3 M Plus yaitu menutup, menguras dan mengubur selain itu
juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik,
menggunakan bubuk abate.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari DHF?
2. Apa etiologi dari penyakit DHF
3. Apa Epidemologi dari penyakit DHF?
4. Apa klasifikasi dari penyakit DHF?
5. Apa manifestasi klinis dari penyakit DHF?
6. Jelaskan Petofisiologi dari DHF?
7. Jelaskan Pathway dari DHF?
8. Apa saja pemeriksaan laboratorium untuk penyakit DHF?
9. Apa Penatalaksanaan dari penyakit DHF
10. Jelaskan pencegahan dari penyakit DHF?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari DHF
2. Untuk mengetahui etiologi dari penyakit DHF
3. Untuk mengetahui Epidemologi dari penyakit DHF
4. Untuk mengetahui klasifikasi dari penyakit DHF
5. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari penyakit DHF
6. Untuk mengetahui Petofisiologi dari DHF
7. Untuk mengetahui Pathway dari DHF
8. Untuk mengetahui pemeriksaan laboratorium untuk penyakit DHF
9. Untuk mengetahui Penatalaksanaan dari penyakit DHF
10. Untuk mengetahui pencegahan dari penyakit DHF
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
1. Dengue Haemoragic Fever ( DHF ) merupakan suatu infeksi akut yg
disebabkan oleh adanya arbovirus (arthropodbom virus) & ditularkan melalui
gigitan dari nyamuk Aedes (Aedes albopictus & Aedes aegypti) (ngastiyah,
2005).
2. DHF ( Dengue Haemoragic Fever ) Suatu penyakit infeksi yg umumnya
disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis yaitu demam, nyeri otot
& juga adanya nyeri sendi yang disertai dengan adanya lekopenia,
ruam, trombositopenia, limfadenopati, & diastesis haemoragic (Suhendro, dkk,
2007).
3. Demam berdarah dengue merupakan suatu penyakit demam akut yang
umumnya di sebabkan oleh 4 type serotipe virus dengue & ditandai dengan
adanya 4 gejala klinis utama yakni demam yg tinggi, manifestasi sebuah
perdarahan, hepatomegali, dan beberapa tanda kegagalan sirkulasi hingga
timbulnya sebuah renjatan ( sindrom renjatan dengue) sebagai akibat dari
adanya suatu kebocoran plasma yg dapat menyebabkan sebuah kematian.(Abdul
Rohim,dkk,2002).
B. Etiologi
1. Virus dengue
DHF disebabkan oleh virus dengue, yang termasuk dalam golongan genus
flavivirus, keluarga flaviviridae. Flavivirus ialah suatu virus dengan diameter
sekitar 30 mm yg terdiri dari asam aribonukleat rantai tunggal dengan berat
molekul mencapai 4 x 106. Terdapat 4 type serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2,
DEN-3 dan DEN-4 ygkeseluruhannya dapat menyebabkan terjadinya demam
dengue. Ke 4 type serotipe ini bisa ditemukan di Indonesia dengan DEN-3
merupakan serotipe terbanyak ditemukan (Suhendro, 2007).
Virus Dengue merupakan family flaviviridae dengan 4 serotipe ( DEN 1, 2,
3, 4 ). Yang terdiri dari genom RNA stranded yg dikelilingi oleh nukleokapsid.
Virus Dengue memerlukan adanya asam nukleat untuk bereplikasi, sehingga
akan mengganggu pada proses sintesis protein sel pejamu.
2. Vektor
Virus dengue dengan serotipe 1, 2, 3, dan 4 yang ditularkan melalui vektor
yakni nyamuk aedes aegypti, aedes polynesiensis, nyamuk aedes albopictus, dan
beberapa spesies lain yg merupakan sebuah vektor yg kurang berperan
berperan. Infeksi yang di timbulkan dari salah satu serotipe akan memunculkan
adanya antibodi seumur hidup pada serotipe yg bersangkutan namun tidak ada
perlindungan terhadap serotipe dari jenis yg lainnya (Arief Mansjoer &
Suprohaita; 2000).
3. Host
Apabila seseorang mendapatkan sebuah infeksi dengue untuk pertama
kalinya maka ia akan mendapatkan suatu imunisasi yg spesifik namun tidak
sempurna, sehingga ia masih mungkin untuk bisa terinfeksi kembali pada virus
dengue yg sama typenya atauupun virus dengue dari type lainnya. Dengue
Haemoragic Fever (DHF) dapat saja terjadi jika seseorang yg pernah
memperoleh infeksi virus dengue type tertentu mendapatkan infeksi ulangan
untuk kedua kalinya atau bisa lebih. Misalnya terjadi pada bayi yg mendapat
infeksi virus dengue untuk pertama kalinya apabila ia telah mendapatkan
sebuah imunitas terhadap dengue dari ibunya melalui tali plasenta. (Soedarto,
1990 ; 38).
C. Epidemologi
Penyakit ini terdapat di daerah tropis, terutama di negara asean dan pasific
barat. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk aedes,
di indonesia dikenal dua jenis nyamuk aedes yaitu :
1. Aedes aegypti
Adalah nyamuk yang hidup di daerah tropis, terutama hidup dan berkembang
biak di dalam rumah yaitu di tempat penampungan air jernih atau tempat
penampungan air di sekitar rumah. Paling sering ditemukan. Nyamuk ini
sepintas lalu nampak berlurik, berbintik bintik putih. Biasanya menggigit pada
siang hari, terutama pada pagi dan sore hari. Jarak terbang 100 meter
2. Aedes albopictus.
Tempat habitatnya di tempat air jernih. Biasanya disekitar rumah atau pohon
pohon, dimana tertampung air hujan yang bersih yaitu pohon pisang, pandan,
kaleng bekas, dll. Menggigit pada waktu siang hari. Jarak terbang 50 meter.
Pola Epidemiologis
1. Interaksi Virus
Untuk memahami berbagai situasi epidemiologis yang muncul, penting
untuk mengenali beberapa aspek dasar interaksi virus. Aspek – aspek
tersebut meliputi :
a. Infeksi dengue tidak jarang menimbulkan kasus ringan pada anak
b. Infeksi dengue pada orang dewasa sering menimbulkan gejala, yang
infeksi tersebut : pada beberapa epidemi rasio kesakitan yang tampak
hampir mencapai 1. Akan tetapi, beberapa strain virus mengakibatkan
kasus yang sangat ringan baik pada anak mauun orang dewasa yang
sering tidak dikenali sebagai kasus dengue dan menyebar tanpa terlihat
di dalam masyarakat.
c. Infeksi primer maupun sekunder dengue pada orang dewasa mungkin
menimbukan perdarahan gastrointestinal yang parahbegitu juga kasus
peningkatan permeabilitas pembuluh darah. Contoh, tahun 1988 di
Taiwan, banyak orang dewasa yang mengalai pedarahan yang berat
yang di hubungkan dengan DEN -1 juga mengalami penyakit ulkus
peptikum.
Siklus Penularan
a. Vektor : Aedes aegypti, spesies Aedes (Stegomyia) lain
b. Masa inkubasi ekstrinsik berlangsung selama 8 – 10 hari
c. Infeksi virus dengue pada manusia disebabkan oleh gigitan nyamuk.
d. Masa inkubasi instrinsik sekitar 4 – 13 hari (rata – rata 4 – 7 hari )
e. Viraemia tampak sebelum awitan gejala dan berlangsung selama rata –
rata lima hari setelah awitan
f. Penularan vertikan dapat terjadi, yang mungkin penting bagi
kelangsungan hidup virus, tetapi tidak dalam siklus epidemi.
D. Klasifikasi
Klasifikasi DHF berdasarkan patokan dari WHO (1999) DBD dibagi menjadi 4
derajat :
1. Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanoa perdarahan spontan uji torniquet (+),
trombositopenia dan hemokonsentrasi.
2. Derajat II
Derajat I dan disertai perdarahan spontan pada kulit atau di tempat lain.
3. Derajat III
Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan darah
rendah (hipotensi), gelisah, sianosis sekitar mulut, hidung dan ujung jari.
4. Derajat IV
Renjatan berat (DSS) dengan nadi tak teraba dan tekanan darah tak dapat
diukur.
Dengue Shock Syndrome ( DSS ) Dengue shock syndrome ( DSS ) adalah
sindroma syok yang terjadi pada penderita Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)
atau demam berdarah dengue.
Dengue syok sindrom bukan saja merupakan suatu permasalahan kesehatan
masyarakat yang menyebar dengan luas atau tiba – tiba, tetapi juga merupakan
suatu permasalahan klinis, karena 30 – 50 % penderita demam berdarah dengue
akan mengalami renjatan dan berakhir dengan demam suatu kematian terutama
bila tidak ditangani secara dini dan adekuat.

E. Manifestasi Klinis
1. Demam
Awalnya akut, cukup tinggi, dan kontinu, berlangsung lama 2 – 7 hari. Setiap
manifestasi perdarahan berikut : petekia, purpura, ekimosis,epistaksis, gusi
berdarah, dan hematemesis dan / atau melena.
2. Uji torniquet positif
Uji torniquet dilakukan dengan memompa manset tekanan darah sampai suatu
titik tengah antara tekanan sistolik dan diastolik selama 5 menit. Hasil uji di
nyatakan positif jika tampak 10 atau lebih petekia per 2,5 cm2. Pada kasus DHF,
uji tersebut biasanya memberikan hasil yang pasti positif bila tampak 20 petekia
atau lebih. Hasil uji mungkin negatif atau agak positif selama fase syok yang
dalam. Hasil tersebut kemudian akan menjadi positif, bahkan terkadang sangat
positif, jika dilakukan setelah pulih dari syok.
3. Pembesaran hati (hepatomegali)
Tampak pada beberapa tahap penyakit yaitu sekitar 90 – 98 % pada anak anak di
thailand, tetapi di negara lain frekuensinya mungkin bervariasi.
4. Syok
Di tandai dengan denyut yang cepat dan lemah di sertai tekanan denyut yang
menurun ( 20 mmHg atau kurang ), atau hipotensi, juga dengan kulit yang
lembab, dingin, dan gelisah.
5. Temuan laboratorium
a. Trombositipenia ( 100.000 / mm3 atau kurang )
b. Hemokonsentrasi, peningkatan jumlah hematokrit sebanyak 20% atau lebih.
Dua kriteria klinis pertama, di tambah dengan trombositopenia dan
hemokonsentrasi atau peningkatan jumlah hematokrit, sudah cukup untuk
menetapkan diagnosis klinis DHF. Efusi pleura ( tampak melalui rontgen dada )
dan / atau hipoalbuminemia menjadi bukti penunjang adanya kebocoran plasma.
Bukti ini sangat berguna terutama pada pasien yang anemia dan / atau
mengalami perdarahan berat. Pada kasus syok, jumlah hematokrit yang tinggi
dan trombositipenia memperkuat diagnosis terjadinya DHF / DSS. ( WHO, 2005
: 19 )

F. Patofisiologi
Virus dengue bisa masuk kedalam tubuh melalui gigitan dari nyamuk aedes
aegypti lalu kemudian bereaksi dengan antibodi di dalam tubuh & terbentuklah
adanya kompleks virus-antibody, dalam sirkulasi akan dapat mengaktivasi system
komplemen (Suriadi & Yuliani, 2001). Akibat adanya aktivasi C3 & C5 akan
dilepasnya C3a & C5a,dua peptida yg berdaya buat melepaskan sebuah histamine &
suatu merupakan mediator yg kuat sebagai factor yg menyebabkan meningkatnya
permeabilitas dari dinding pembuluh darah & menghilangkan plasma melalui
endotel dinding tersebut. Reaksi tubuh merupakan sebuah reaksi yg biasa terlihat
pada infeksi oleh virus. Reaksi yg amat sangat berbeda akan terlihat, apabila
seseorang mendapatkan infeksi berulang dengan type virus dengue yg lainnya. Dan
DHF dapat terjadi apabila seorang yg telah terinfeksi pertama kali, mendapat infeksi
berulang dari virus dengue lainnya. Re-infeksi ini bisa menyebabkan adanya suatu
reaksi anamnestik antibody, sehingga menimbulkan adanya konsentrasi yg kompleks
antigen-antibodi (kompleks virus-antibodi) yg tinggi . Hal pertama yg akan terjadi
jika virus masuk ke dalam tubuh ialah viremia yg menyebabkan penderita
mengalami demam, adanya sakit kepala, merasa mual, nyeri otot, dan merasa pegal-
pegal diseluruh tubuh, ruam atau terdapat bintik-bintik merah pada kulit (petekie),
adanya hyperemia tenggorokan dan kelainan yg mungkin saja muncul pada system
retikuloendotelial seperti adanya pembesaran pada kelenjar-kelenjar getah bening,
hati & limpa. Ruam pada DHF disebabkan lantara adanya kongesti pembuluh darah
dibawah kulit bisa pembesaran hati (Hepatomegali) dan juga pembesaran limpa
(Splenomegali).Peningkatan permeabilitas dinding kapiler membuat berkurangnya
volume plasma, sehingga terjadi hipotensi, dan hipoproteinemia, dan
hemokonsentrasi, serta efusi juga adanya renjatan (syok).

G. Pathway

H. Pemeriksaan Laboratorium
1. Darah
Pada DHF umumnya dijumpai trombositopenia dan hemokonsentrasi. Uji
tourniquet yang positif merupakan pemeriksaan penting. Masa pembekuan masih
dalam batas normal, tetapi masa perdarahan biasanya memanjang. Pada analisis
kuantitatif ditemukan penurunan faktor II, V, VII, IX, dan X. Pada pemeriksaan
kimia darah tampak hipoproteinemia, hiponatremia, serta hipokloremia. SGPT,
SGOT, ureum dan pH darahmungkin meningkat, sedangkan reserve alkali
merendah.
2. Air Seni
Mungkin ditemukan albuminuria ringan.
3. Sumsum Tulang
Pada awal sakit biasanya hiposelular, kemudian menjadi hiperselular pada hari ke
– 5 dengan gangguan maturasi sedangkan pada hari ke – 10 biasanya sudah
4. Serologi
Uji serulogi untuk infeksi dengue dapat dikategorikan atas dua kelompok besar,
yaitu :
a. Uji serulogi memakai serum ganda, yaitu serum yang diambil pada masa akut
dan masa konvalesen. Pada uji ini yang dicari adalah kenaikan antibodi
antidengue sebanyak minimal empat kali. Termasuk dalam uji ini pengikatan
komplemen ( PK ), uji neutralisasi ( NT ) dan uji dengue blot.
b. Uji serulogi memakai serum tunggal. Pada uji ini yang dicari ada tidaknya
atau titer tertentu antibodi antidengue. Termasuk dalam golongan ini adalah
uji dengue blot yang mengukur antibodi antidengue tanpa memandang kelas
antibodinya ; uji IgM antidengue yang mengukur hanya antibodi antidengue
dari kelas IgM.

I. Penatalaksanaan
Setiap pasien tersangka DHF sebaiknya dirawat di tempat terpisah dengan
pasien penyakit lain, sebaiknya pada kamar yang bebas nyamuk ( berkelambu ).
Penatalaksanaan pada DHF ialah :
1. Tirah baring atau istirahat baring.
2. Diet makan lunak.
3. Minum banyak (2-2,5 liter/24 jam) dapat berupa : susu, teh manis, sirup
dan beri penderita sedikit oralit, pemberian cairan merupakan hal yang
paling penting bagi penderita DHF.
4. Pemberian cairan intravena (biasanya ringer laktat, NaCl Faali)
merupakan cairan yang paling sering digunakan.
5. Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu, nadi, tensi, pernafasan) jika
kondisi pasien memburuk, observasi ketat tiap jam.
6. Periksa Hb, Ht dan trombosit setiap hari.g.Pemberian obat antipiretik
sebaiknya dari golongan asetaminopen.
7. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut.
8. Pemberian antibiotik bila terdapat kekuatiran infeksi sekunder.
9. Monitor tanda-tanda dan renjatan meliputi keadaan umum, perubahan
tanda-tanda vital, hasil pemeriksaan laboratorium yang memburuk.
10. Bila timbul kejang dapat diberikan Diazepam.

J. Pencegahan
Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian
vektornya, yaitu nyamuk Aedes Aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut
dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu :
1. Lingkungan.
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain
dengan pemberantasan sarang nyamuk, pengelolaan sampah padat,
modifikasi tempat pengembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan
manusia.
2. Biologis.
Pengendalian biologis dengan menggunakan ikan pemakan jentik (ikan
cupang).
3. Kimiawi.
Pengendalian kimiawi antara lain :
a. Pengasapan/fogging berguna untyk mengurangi kemungkinan
penularan sampai batas waktu tertentu.
b. Memberikan bubuk abate pada tempat-tempat penampungan air
seperti gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN.
1. Identitas Klien.
Nama, umur (Secara eksklusif, DHF paling sering menyerang anak – anak
dengan usia kurang dari 15 tahun. Endemis di daerah tropis Asia, dan
terutama terjadi pada saat musim hujan (Nelson, 1992 : 269), jenis kelamin,
alamat, pendidikan, pekerjaan.
2. Keluhan Utama.
Panas atau demam.
3. Riwayat Kesehatan.
a. Riwayat penyakit sekarang.
Ditemukan adanya keluhan panas mendadak yang disertai menggigil
dengan kesadaran kompos mentis. Turunnya panas terjadi antara hari ke 3
dan ke 7 dan keadaan anak semakin lemah. Kadang disertai keluhan batuk
pilek, nyeri telan, mual, diare/konstipasi, sakit kepala, nyeri otot, serta
adanya manifestasi pendarahan pada kulit
b. Riwayat penyakit yang pernah diderita.
Penyakit apa saja yang pernah diderita klien, apa pernah mengalami
serangan ulang DHF.
c. Riwayat imunisasi.
Apabila mempunyai kekebalan yang baik, maka kemungkinan akan
timbulnya komplikasi dapat dihindarkan.
d. Riwayat gizi.
Status gizi yang menderita DHF dapat bervariasi, dengan status gizi yang
baik maupun buruk dapat beresiko, apabila terdapat faktor
predisposisinya. Pasien yang menderita DHF sering mengalami keluhan
mual, muntah, dan nafsu makan menurun. Apabila kondisi ini berlanjut
dan tidak disertai dengan pemenuhan nutrisi yang mencukupi, maka akan
mengalami penurunan berat badan sehingga status gizinya menjadi
kurang.
e. Kondisi lingkungan.
Sering terjadi di daerah yang padat penduduknya dan lingkungan yang
kurang bersih ( seperti air yang menggenang dan gantungan baju dikamar
).
4. Acitvity Daily Life (ADL)
a. Nutrisi : Mual, muntah, anoreksia, sakit saat menelan.
b. Aktivitas : Nyeri pada anggota badan, punggung sendi,
kepala, ulu hati, pegal-pegal pada seluruh tubuh, menurunnya aktivitas
sehari-hari.
c. Istirahat, tidur : Dapat terganggu karena panas, sakit kepala dan
nyeri.
d. Eliminasi : Diare / konstipasi, melena, oligouria sampai
anuria.
e. Personal hygiene : Meningkatnya ketergantungan kebutuhan
perawatan diri.
5. Pemeriksaan fisik, terdiri dari :
a. Inspeksi, adalah pengamatan secara seksama terhadap status kesehatan
klien (inspeksi adanya lesi pada kulit).
b. Perkusi, adalah pemeriksaan fisik dengan jalan mengetukkan jari tengah
ke jari tengah lainnya untuk mengetahui normal atau tidaknya suatu
organ tubuh.
c. Palpasi, adalah jenis pemeriksaan fisik dengan meraba klien.
d. Auskultasi, adalah dengan cara mendengarkan menggunakan stetoskop
(auskultasi dinding abdomen untuk mengetahu bising usus).
Adapun pemeriksaan fisik pada anak DHF diperoleh hasil sebagai berikut:
a. Keadaan umum :
Berdasarkan tingkatan (grade) DHF keadaan umum adalah sebagai
berikut :
1) Grade I : Kesadaran kompos mentis, keadaan umum lemah,
tanda – tanda vital dan nadi lemah.
2) Grade II : Kesadaran kompos mentis, keadaan umum lemah,
ada perdarahan spontan petekia, perdarahan gusi dan telinga, serta
nadi lemah, kecil, dan tidak teratur.
3) Grade III : Keadaan umum lemah, kesadaran apatis, somnolen,
nadi lemah, kecil, dan tidak teratur serta tensi menurun.
4) Grade IV : Kesadaran koma, tanda – tanda vital : nadi tidak
teraba, tensi tidak terukur, pernapasan tidak teratur, ekstremitas
dingin berkeringat dan kulit tampak sianosis.
b. Kepala dan leher.
1) Wajah : Kemerahan pada muka, pembengkakan sekitar mata,
lakrimasi dan fotobia, pergerakan bola mata nyeri.
2) Mulut : Mukosa mulut kering, perdarahan gusi, lidah kotor,
(kadang-kadang) sianosis.
3) Hidung : Epitaksis
4) Tenggorokan : Hiperemia
5) Leher : Terjadi pembesaran kelenjar limfe pada sudut atas rahang
daerah servikal posterior.
c. Dada (Thorax)
Nyeri tekan epigastrik, nafas dangkal.
Pada Stadium IV :
Palpasi : Vocal – fremitus kurang bergetar.
Perkusi : Suara paru pekak.
Auskultasi : Didapatkan suara nafas vesikuler yang lemah.
d. Abdomen (Perut).
Palpasi : Terjadi pembesaran hati dan limfe, pada keadaan dehidrasi
turgor kulit dapat menurun, suffiing dulness, balote ment point (Stadium
IV).
e. Anus dan genetalia.
Eliminasi alvi : Diare, konstipasi, melena.
Eliminasi uri : Dapat terjadi oligouria sampai anuria.
f. Ekstrimitas atas dan bawah.
1) Stadium I : Ekstremitas atas nampak petekie akibat RL
test.
2) Stadium II – III : Terdapat petekie dan ekimose di kedua
ekstrimitas.
3) Stadium IV : Ekstrimitas dingin, berkeringat dan sianosis
pada jari tangan dan kaki.
6. Pemeriksaan laboratorium.
Pada pemeriksaan darah klien DHF akan dijumpai :
a. Hb dan PCV meningkat ( ≥20%).
b. Trambositopenia (≤100.000/ml).
c. Leukopenia.
d. Ig.D. dengue positif.
e. Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan : hipoproteinemia,
hipokloremia, dan hiponatremia.
f. Urium dan Ph darah mungkin meningkat.
g. Asidosis metabolic : Pco2<35-40 mmHg.
h. SGOT/SGPT mungkin meningkat.

B. DIAGNOSA.
Nursalam (2001) dan Nanda (2009) menyatakan, diagnosa keperawatan
yang dapat timbul pada klien dengan DHF adalah :
1. Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan peningkatan laju
metabolisme.
2. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan untuk mencerna makanan.
4. Perubahan perfusi jaringan kapiler berhubungan dengan perdarahan.
5. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan tidak familiar dengan sumber
informasi.
C. INTERVENSI.
Nanda (2009) dan Doenges (2000), menyatakan bahwa rencana tindakan
keperawatan yang dapat disusun untuk setiap diagnose adalah :
1. Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan peningkatan laju
metabolisme.
Tujuan Rencana Rasional
 Mempertahankan suhu a. Ukur tanda-tanda a. Suhu 38,90C-
tubuh normal. vital (suhu). 41,10C
 KH : menunjukkan
a. Suhu tubuh antara proses penyakit
360– 370C. infeksi akut.
b. Membrane mukosa b. Berikan kompres b. Kompres hangat
basah. hangat. akan terjadi
c. Nyeri otot hilang. perpindahan panas
konduksi.
c. Tingkatkan intake c. Untuk mengganti
cairan. cairan tubuh yang
hilang akibat
evaporasi.

2. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif.


Tujuan Rencana Rasional
 Kebutuhan cairan a. Observasi tanda- a. Penurunan
terpenuhi. tanda vital paling sirkulasi darah
 KH : sedikit setiap tiga dapat terjadi dari
a. Mata tidak cekung. jam. peningkatan
b. Membrane mukosa kehilangan cairan
tetap lembab. mengakibatkan
c. Turgor kulit baik. hipotensi dan
takikardia.
b. Observasi dan cata b. Menunjukkan
intake dan output. status volume
sirkulasi, terjadinya
perbaikan
perpindahan cairan,
dan respon
terhadap terapi.

c. Timbang berat c. Mengukur


badan. keadekuatan
penggantian cairan
sesuai fungsi
ginjal.

d. Monitor pemberian d. Mempertahankan


cairan melalui keseimbangan
intravena setiap cairan/elektrolit.
jam.

3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


ketidakmampuan untuk mencerna makanan.
Tujuan Rencana Rasional
 Kebutuhan nutrisi a. Berikan makanan a. Mengganti
adekuat. yang disertai kehilangan
 KH : dengan suplemen vitamin karena
Berat badan stabil atau nutrisi untuk malnutrisi/anemia.
meningkat. meningkatkan
kualitas intake
nutrisi.
b. Anjurkan kepada b. Porsi lebih kecil
orang tua untuk dapat
memberikan meningkatkan
makanan dengan masukan.
teknik porsi kecil
tapi sering secara
bertahap.
c. Timbang berat c. Mengawasi
badan setiap hari penurunan berat
pada waktu yang badan.
sama dan dengan
skala yang sama.
d. Pertahankan d. Mulut yang bersih
kebersihan mulut meningkatkan
klien. selera makan dan
pemasukan oral.
e. Jelaskan pentingnya e. Jelaskan
intake nutrisi yang pentingnya intake
adekuat untuk nutrisi yang
penyembuhan adekuat untuk
penyakit. penyembuhan
penyakit.

4. Perubahan perfusi jaringan kapiler berhubungan dengan perdarahan.


Tujuan Rencana Rasional
 Perfusi jaringan perifer a. Kaji dan catat a. Penurunan
adekuat. tanda-tanda vital. sirkulasi darah
 KH : dapat terjadi dari
 TTV stabil. peningkatan
kehilangan cairan
mengakibatkan
hipotensi.
b. Nilai b. Kondisi kulit
kemungkinan dipengaruhi oleh
terjadinya sirkulasi, nutrisi,
kematian jaringan dan immobilisasi.
pada ekstremitas
seperti dingin,
nyeri,
pembengkakan
kaki.

5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak familiar dengan sumber


informasi
Tujuan Rencana Rasional
 Klien mengerti dan a. Tentukan a. Adanya
memahami proses kemampuan dan keinginan untuk
penyakit dan kemauan untuk belajar
pengobatan. belajar. memudahkan
penerimaan
informasi.
b. Jelaskan rasional b. Dapat
pengobatan, dosis, meningkatkan
efek samping dan kerjasama dengan
pentingnya minum terapi obat dan
obat sesuai resep. mencegah
penghentian pada
obat dan atau
interkasi obat
yang merugikan.
c. Beri pendidikan c. Dapat
kesehatan mengenai meningkatkan
penyakit DHF. pengetahuan
pasien dan dapat
mengurangi
kecemasan.

D. IMPLEMENTASI.
Implementasi, yang merupakan komponen dari proses keperawatan, adalah
kategori dari perilaku keperawatan dimana tindakan yang diperlukan untuk
mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan dilakukan
dan diselesaikan. (Perry & Potter, 2005).
1. Tindakan Keperawatan Mandiri.
Tindakan yang dilakukan Tanpa Pesanan Dokter. Tindakan
keperawatan mendiri dilakukan oleh perawat. Misalnya menciptakan
lingkungan yang tenang, mengompres hangat saat klien demam.
2. Tindakan Keperawatan Kolaboratif.
Tindakan yang dilakukan oleh perawat apabila perawata bekerja
dengan anggota perawatan kesehatan yang lain dalam membuat keputusan
bersama yang bertahan untuk mengatasi masalah klien.

E. EVALUASI.
Langkah evaluasi dari proses keperawatan mengukur respons klien
terhadap tindakan keperawatan dan kemajuan klien kea rah pencapaian tujuan.
Evaluasi terjadi kapan saja perawat berhubungan dengan klien. Penekanannya
adalah pada hasil klien. Perawat mengevaluasi apakah perilaku klien
mencerminkan suatu kemunduran atau kemajuan dalam diagnosa keperawatan
(Perry Potter, 2005).
Hasil asuhan keperawatan pada klien dengan DHF sesuai dengan tujuan
yang telah ditetapkan. Evaluasi ini didasarkan pada hasil yang diharapkan atau
perubahan yang terjadi pada pasien. Adapun sasaran evaluasi pada pasien demam
berdarah dengue sebagai berikut :
a. Suhu tubuh pasien normal (360C - 370C), pasien bebas dari demam.
b. Pasien akan mengungkapkan rasa nyeri berkurang.
c. Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi, pasien mampu menghabiskan makanan
sesuai dengan porsi yang diberikan atau dibutuhkan.
d. Keseimbangan cairan akan tetap terjaga dan kebutuhan cairan pada pasien
terpenuhi.
e. Aktivitas sehari-hari pasien dapat terpenuhi.
f. Pasien akan mempertahankan sehingga tidak terjadi syok hypovolemik
dengan tanda vital dalam batas normal.
g. Infeksi tidak terjadi.
h. Tidak terjadi perdarahan lebih lanjut.
i. Kecemasan pasien akan berkurang dan mendengarkan penjelasan dari
perawat tentang proses penyakitnya.