Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Akne vulgaris merupakan kelainan folikuler umum yang mengenai folikel sebasea
(folikel rambut) yang rentan dan paling sering ditemukan di daerah muka, leher serta
badan bagian atas (Suzanne,2001). Kligman melaporkan 15% remaja mempunyai akne
klinis (akne mayor) dan 85% akne fisiologi (akne minor), yaitu akne yang hanya terdiri
dari beberapa komedo (Soetjiningsih, 2004).
Keadaan ini sering dialami oleh mereka yang berusia remaja dan dewasa muda antara
30%-60% dengan insiden tertinggi antara usia 14 dan 17 tahun untuk anak perempuan
serta antara usia 16 dan 19 tahun untuk anak laki-laki (Clark, 1993). Munculnya jerawat
sering terjadi pada masa pubertas, tubuh mengalami perubahan hormonal disertai
peningkatan jumlah kelenjar minyak. Peningkatan produksi minyak mengakibatkan muara
kelenjar tersumbat dan timbul bintil-bintil kasar pada kulit (komedo). Penyumbatan dapat
pula akibat sisa kulit mati, sisa kosmetik atau kotoran pada kulit yang disebabkan oleh
peningkatan hormon. Kadar hormon androgen yang disebut sebagai penyebab jerawat,
sepanjang masa kehidupan perempuan, kadarnya relatif tidak turun secara drastis. Ini
memungkinkan jerawat muncul dalam masa kehidupan perempuan. Hormon androgen ini
berasal dari suatu mekanisme perubahan lemak, khususnya kolesterol.
Melalui proses yang kompleks dibantu oleh bermacam macam enzim, kolesterol
berubah menjadi komponen androgen yang kemudian dapat terus berubah lagi menjadi
komponen hormon estrogen. Kedua hormon ini, androgen dan estrogen merupakan dua
hormon yang ada pada pria dan wanita. Perbedaannya hanya dalam kadar atau jumlah
yang dihasilkan. Hormon androgen lebih banyak pada pria sedangkan hormon estrogen
lebih banyak pada wanita. Meskipun diduga kuat hormon androgen sebagai pencetus
jerawat, namun tidak selalu berarti bahwa banyak jerawat berarti hormon androgen akan
meningkat. Pada pria dengan kadar testosteron cukup tinggi dalam waktu yang lama,
kejadian timbulnya jerawat jarang dialami (Biben, 2009).
Akne tampaknya berakar dari interaksi faktor genetik, hormonal dan bakterial. Pada
sebagian besar kasus terdapat riwayat akne dalam keluarga (Stawiski, 1992). Dengan
munculnya jerawat pada masa remaja, maka kesadaran akan pentingnya penampilan diri
dalam kehidupan sosial yang pada akhirnya dapat mempengaruhi konsep diri remaja putri.

1
Hasil penelitian diketahui bahwa konsep diri siswi berjerawat sebagian besar adalah
dalam kategori buruk. Konsep diri yang sebagian besar buruk ini disebabkan karena para
remaja putri kurang menyadari tentang harga diri dan kepercayaan dirinya sendiri. Semua
perempuan pada dasarnya menginginkan kulit muka yang bersih, begitu pun remaja di
mana masa membentuk diri dalam segala segi dengan sebaik-baiknya. Kondisi lingkungan
separa siswir erat kaitannya dengan timbulnya jerawat. banyak debu dari kendaraan yang
lalu lalang serta udara yang panas merupakan salah satu faktor penyebab timbulnya
jerawat.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari acne vulgaris?
2. Apa saja klasifikasi acne vulgaris ?
3. Apa etiologi dari acne vulgaris?
4. Bagaimana manifestasi klinis dari acne vulgaris ?
5. Bagaimana pathway dari acne vulgaris ?
6. Bagaimana patofiologis dari acne vulgaris ?
7. Apa saja pemeriksaan diagnostik acne vulgaris ?
8. Bagaimana komplikasi dari acne vulgaris ?
9. Bagaimana penatalaksanaan pada acne vulgaris ?
10. Bagaimana pencegahan pada acne vulgaris ?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian dari acne vulgaris.


2. Untuk mengetahui klasifikasi acne vulgaris.
3. Untuk mengetahui etiologi acne vulgaris.
4. Untuk mengetahui manifestasi klinis acne vulgaris.
5. Untuk mengetahui pathway pada acne vulgaris.
6. Untuk mengetahui patofisiologis pada acne vulgaris.
7. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostik acne vulgaris.
8. Untuk mengetahui komplikasi acne vulgaris.
9. Untuk mengetahui penatalaksanaan pada acne vulgaris.
10. Untuk mengetahui pencegahan pada acne vulgaris.

2
BAB II
DASAR TEORI
A. Definisi Akne Vulgaris
Akne Vulgaris (AV) adalah penyakit swasirna berupa peradangan menahun pada unit
folikel pilosebasea yang banyak terjadi pada remaja. Gambaran klinis AV sering
pleimorfik, yaitu berupa papul, pustul, nodul, dan jaringan parut Akne Vulgaris dapat
terjadi di wajah, leher, dan lengan atas. Akne Vulgaris biasanya timbul pada masa
pubertas dan merupakan tanda awal peningkatan produksi hormon seks.
Defenisi lain akne vulgaris atau disebut juga common acne adalah penyakit radang
menahun dari apparatus pilosebasea, lesi paling sering di jumpai pada wajah, dada dan
punggung.Kelenjar yang meradang dapat membentuk papul kecil berwarna merah muda,
yang kadang kala mengelilingi komedo sehingga tampak hitam pada bagian tengahnya,
atau membentuk pustule atau kista; penyebab tak diketahui, tetapi telah dikemukakan
banyak faktor, termasuk stress, faktor herediter, hormon, obat dan bakteri, khususnya
Propionibacterium acnes, Staphylococcus albus, dan Malassezia furfur, berperan dalam
etiologi.

B. Klasifikasi Acne Vulgaris


Akne diklarifikasikan menjadi :
1. Jerawat klasik (jerawat biasa)
Tampilannya mudah dikenali yaitu tonjolan kecil berwarna pink atau kemerahan , kulit
memproduksi minyak yang menjadi tempat berkembang biaknya bakteri akibatnya
pori-pori tersumbat karena terinfeksi oleh bakteri. Bakteri ini bisa yg terdapat
dipermukaan kulit, bisa juga dari waslap, kuas makeup, jari tangan, juga telepon.
Stress, hormon dan udara yg lembab dpt memperbesar kemungkinan infeksi jerawat,
krn menyebabkan kulit memproduksi minyak, yang merupakan tempat berkembang-
biaknya bakteri. Jerawat yg disebabkan oleh hormon biasanya muncul di sekitar rahang
dan dagu, menurut seorang ahli kulit, yang merekomendasikan pemakaian pil KB yang
rendah estrogen, seperti Orthotricyclen, Orthocept dan Alesse. (Untungnya, menurut
penelitian ternyata coklat dan French fries tidak mempunyai pengaruh pada berbiaknya
jerawat).
2. Cystic acne (jerawat batu) Bentuknya besar dengan tonjolan yang meradang hebat,
berkumpul hampir diseluruh area wajah , ini terjadi karena kelenjar minyak yang over

3
aktif yang membanjiri pori-pori dengan minyak dan terjadi penyumbatan pada duktus
pilosebaseus yang menyalurkan sebum.
3. Komedo
Terdiri atas 2 jenis:
a. Komedo yang terbuka (blookhead) : terlihat seperti pori-pori yang membesar dan
menghitam (yang berwarna hitam tersebut adalah penyumbatan pori-pori yang
berubah warna karena akumulasi lipid, bakteri serta debris epitel )
b. Komedo yang tertutup (whitehead) : adanya penumpukan sebum dibawah kulit
sehingga terlihat seperti tonjolan putih kecil.
Menurut wasitaatmadja (1982) dalam Djuanda (2003) di Bagian Imu Penyakit Kulit
dan Kelamin FKUI/RSUPN Dr. Cipto Mangun Kusumo membuat gradasi sebagai berikut:
1. Ringan, bila beberapa lesi tak beradang pada satu predileksi, sedikit lesi tak beradang
pada beberapa tempat predileksi, sedikit lesi beradang pada satu predileksi.
2. Sedang, bila banyak lesi tak beradang pada satu predileksi, beberapa lesi tak beradang
lebih dari satu predileksi, beberapa lesi beradang pada satu predileksi, sedikit lesi
beradang pada lebih dari satu predileksi.
3. Berat, bila banyak lesi tak beradang pada lebih dari satu predileksi, banyak lebih
beradang pada satu atau lebih predileksi.

C. Etiologi
Akne vulgaris adalah penyakit yang disebabkan multifaktor, menurut Pindha (dalam
Tumbuh Kembang Remaja danPermasalahannya 2004) faktor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya akne adalah :
1. Sebun
Merupakan faktor utama penyebab akne. Akne yang keras selalu disertai pengeluaran
sebore yang banyak.
2. Faktor genetik
Faktor genetik memegang peranan penting terhadap kemungkinan seseorang menderita
akne. Penelitian di Jerman menunjukkan bahwa akne terdapat pada 45% remaja yang
salah satu atau kedua orang tuanya menderita akne, dan hanya 8% bila kedua orang
tuanya tidak menderita akne.
3. Bakteri
Mikroba yang terlibat pada terbentuknya akne adalah Corynebacterium acnes,
Staphylococcus epidermis.

4
4. Hormonal
Hormon androgen memegang peranan penting karena kelenjar palit sangat sensitif
terhadap hormon ini. Hormon androgen berasal dari kelenjar adrenalin yang
menyebabkan kelenjar palit bertambah besar dan produksi sebum meningkat.
5. Diet
Tidak ditemukan adanya hubungan antara akne dengan asupan total kalori dan jenis
makanan, walapun beberapa penderita menyatakan akne bertambah parah setelah
mengkonsumsi beberapa makanan tertentu seperti coklat dan makanan berlemak.
6. Iklim
Cuaca yang panas dan lembab memperburuk akne. Hidrasi pada stratum koreneum
epidermis dapat merangsang terjadinya akne. Pajanan sinar matahari yang berlebihan
dapat memperburuk akne.
7. Kosmetik
Pemakaian kosmetik secara terus menerus dapat menyebabkan akne ringan.
8. Lingkungan
Akne lebih sering ditemukan dan gejalanya lebih berat di daerah industri dan
pertambangan dibandingkan dengan di pedesaan.
9. Stres
Akne dapat kambuh atau bertambah buruk pada penderita stres emosional. Mekanisme
yang tepat dari proses jerawat tidak sepenuhnya dipahami, namun diketahui dicirikan
oleh sebum berlebih, hiperkeratinisasi folikel, stres oksidatif dan peradangan.
Androgen, mikroba dan pengaruh pathogenetic juga bekerja dalam proses terjadinya
jerawat.
Perubahan patogenik pertama dalam akne adalah :
1. Keratinisasi yang abnormal pada epitel folikel, mengakibatkan pengaruh pada sel
berkeratin didalam lumen.
2. Peningkatan sekresi sebum oleh kelenjar sebasea. Penderita dengan akne vulgaris
memiliki produksi sebum yang lebih dari rata-rata dan biasanya keparahan akne
sebanding dengan produksi sebum (Pindha dalam Tumbuh Kembang Remaja dan
Permasalahanya 2004).
3. Proliferasi proprionebacteriumakne dalam folikel.
4. Radang

5
D. Manifestasi Klinis
Akne vulgaris ditandai dengan empat tipe dasar lesi: komedo terbuka dan tertutup,
papula, pustula dan lesi nodulokistik. Satu atau lebih tipe lesi dapat mendominasi; bentuk
yang paling ringan yang paling sering terlihat pada awal usia remaja, lesi terbatas pada
komedo pada bagian tengah wajah. Lesi dapat mengenai dada, pungguang atas dan daerah
deltoid. Lesi yang mendominasi pada kening, terutama komedo tertutup sering disebabkan
oleh penggunaan sediaan minyak rambut (akne pomade). Mengenai tubuh paling sering
pada laki-laki. Lesi sering menyembuh dengan eritema dan hiperpigmentasi pasca radang
sementara; sikatrik berlubang, atrofi atau hipertrofi dapat ditemukan di sela-sela,
tergantung keparahan, kedalaman dan kronisitas proses.
Akne dapat disertai rasa gatal, namun umumnya keluhan penderita adalahkeluhan
estetika. Komedo adalah gejala patognomonik bagi akne berupa papulmiliar yang di
tengahnya mengandung sumbatan sebum, bila berawarna hitammengandung unsure
melanin disebut komedo hitam atau komedo terbuka (blackcomedo, open comedo).
Sedang bila berwarna putih karena letaknya lebih dalam sehingga tidak mengandung
unsure melanin disebut komedo putih atau komedo tertutup (white comedo, close comedo).

6
E. Pathway

F. Patofisiologis
Jerawat merupakan proses inflamasi kronik pada kelenjar sebasea, yang sering
dialami oleh remaja dan dewasa muda dan akanmenghilang dengan sendirinya pada usia
20-30 tahun. Walaupun demikian ada banyak kasus orang setengah baya yang mengalami
akne. Akne biasanya berkaitan dengan tingginya sekresi sebum.

7
Pada system hormone, hormone androgen adalah perangsang sekresi sebum,
sedangkan estrogen mengurangi produksi sebum. Suatu awitan mendadak serangan akne
yang disertai hirsutisme dan / atau kelainan menstruasi mungkin menunjukkan adanya
gangguan endokrin pada pasien wanita. Akne pada wanita berusia sekitar 20-an. 30-an,
dan 40-an sering kali disebabkan oleh kosmetik dan pelembab yang bahan dasarnya
minyak dan menimbulkan komedo.
Faktor-faktor mekanik, seperti mengusap, tekanan friksi, dapat juga mencetuskan
akne. Obat-obatan juga dapat mencetuskan akne. Kortikosteroid oral kronik yang dipakai
untuk mengobati penyakit lain (seperti lupus eritemasus sistemik atau transplan ginjal)
dapat menimbulkan putula di permukaan kulit wajah, dada, dan punggung. Kontrasepsi
oral biasanya dapat membantu pengobatan akne karena mengandung estrogen. Akan
tetapi, pada beberapa wanita, kontrasepsi oral justru dapat memperburuk keadaan. Obat-
obatan lain yang diketahui dapat mempercepat atau memperberat akne adalah bromide,
yodida, difetonin, litium, dan hidrazid asam isonikotinat.

G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan Laboratorium
Penegakan diagnosis acne vulgaris berdasarkan diagnosis klinis. Pada pasien wanita
dengan nyeri haid (dysmenorrhea) atau hirsutisme, evaluasi hormonal sebaiknya
dipertimbangkan. Pasien dengan virilization haruslah diukur kadar testosteron totalnya.
Banyak ahli juga mengukur kadar free testosterone, DHEA-S, luteinizing hormone
(LH), dan kadar follicle-stimulating hormone (FSH). Kultur lesi kulit untuk me-rule out
gram-negative folliculitis amat diperlukan ketika tidak ada respon terhadap terapi atau
saat perbaikan tidak tercapai.
2. Pemeriksaan Histopatologis
Microcomedo dicirikan oleh adanya folikel berdilatasi dengan a plug of loosely
arranged keratin. Seiring kemajuan (progression) penyakit, pembukaan folikular
menjadi dilatasi dan menghasilkan suatu komedo terbuka (open comedo). Dinding
follicular tipis dan dapat robek (rupture). Peradangan dan bakteri terlihat jelas, dengan
atau tanpa follicular rupture. Follicular rupture disertai reaksi badan asing (a foreign
body reaction). Peradangan padat (dense inflammation) menuju dan melalui dermis
dapat berhubungan dengan fibrosis dan jaringan parut (scarring).

8
H. Komplikasi Akne Vulgaris
Semua tipe akne berpotensi meninggalkan sekuele. Hampir semua lesi acne akan
meninggalkan akula eritema yang bersifat sementara setelah lesi sembuh. Pada warna kulit
yang lebih gelap, hiperpigmentasi post inflamasi dapat bertahan berbulan- bulan setelah
lesi acne sembuh. Acne juga dapat menyebabkan terjadinya scar pada beberapa individu.
Selain itu, adanya acne juga menyebabkan dampak psikologis. Dikatakan 30–50%
penderita acne mengalami gangguan psikiatrik karena adanya akne.

I. Penatalaksanaan
Tujuan utama dalam penatalaksanan ini adalah untuk mengurangi koloni bakteri,
menurunkan aktivitas kelenjar sebasea, mencegah agar folikel tidak tersumbat,
mengurangi inflamasi, memerangi infeksi sekunder, meminimalkan pembentukan jaringan
parut dan mengeliminasi faktor-faktor predisposisi terjadinya akne (Smelter, 2001).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengobatan akne, yaitu:
1. Perhatian terhadap keadaan emosional remaja tidak boleh diabaikan
2. Pengobatan perlu waktu beberapa bulan dan pengobatan topical sering menyebabkan
akne lebih parah dalam 3-4 minggu
3. Diet makanan tidak meningkatkan keparahan akne sehingga pembatasan diet tidak
diperlukan, kecuali pada penderita yang mengeluhkan penyakitnya memburuk setelah
mengkonsumsimakanan tertentu
4. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik Penderita wanita perlu diperiksa adanya
histurisme, alopsia dan obesitas. Perlu ditanyakan tentang siklus menstruasi
danpenggunaan pil kontrasepsi oral (Soetjiningsih, 2004).
Pengobatan akne dibagi menjadi medikamentosa dan non medikamentosa lain.
1. Medikamentosa, terdiri dari :
a. Pengobatan Topikal
Pengobatan topikal dilakukan untuk mencegah pembentukan komedo, menekan
peradangan, dan mempercepat penyembuhan lesi. Obat topikal terdiri atas: bahan
iritan yang dapat mengelupas kulit; antibiotika topikal yang dapat mengurangi
jumlah mikroba dalam folikel akne vulgaris seperti Eritromycin dan Clindamycin
anti peradangan topikal dan lainnya seperti asam laktat 10% yang untuk
menghambat pertumbuhan jasad renik. Benzoil Peroksida memiliki efek anti
bakterial yang poten .Retinoid topikal akan menormalkan proses keratinasi epitel

9
folikuler, sehingga dapat mengurangi komedo dan menghambat terbentuknya lesi
baru.
b. Pengobatan Sistemik
Pengobatan sistemik ditujukan terutama untuk menekan pertumbuhan jasad renik di
samping juga mengurangi reaksi radang, menekan produksi sebum, dan
mempengaruhi perkembangan hormonal. Golongan obat sistemik terdiri atas: anti
bakteri sistemik; obat hormonal untuk menekan produksi androgen dan secara
kompetitif menduduki reseptor organ target di kelenjar sebasea; vitamin A dan
retinoid oral sebagai antikeratinisasi; dan obat lainnya seperti anti inflamasi non
steroid.
2. Non Medikamentosa
Nasehat untuk memberitahu penderita mengenai seluk beluk akne vulgaris. perawatan
wajah, perawatan kulit kepala dan rambut, kosmetika, diet, emosi dan faktor
psikosomatik.

J. Pencegahan Acne Vulgaris


Akne dapat dikendalikan dengan terapi bijaksana yang diteruskan sampai proses
penyakit menghilang spontan, Ditujukan untuk mencegah pembentukan mikrokomedo,
melalui pengurangan hyperkeratosis folikel dan produksi sebum. Pengendalian awal
memerlukan waktu paling sedikit 4-8 minggu juga penting untuk memperhatikan
pengaruh emosional berat pada akne. Adapun pencegahan yang dapat dilakukan yaitu :
1. Cuci selalu wajah pagi dan malam dengan pembersih mengandung salicylic-acid untuk
mengelupas sel kulit mati. Atau scrub kulit wajah minimal seminggu sekali. Bawalah
selalu kertas penyerap minyak untuk menyerap kelebihan minyak di wajah. Gunakan
juga masker untuk kulit berminyak seminggu sekali.
2. Untuk membunuh bakteri penyebab jerawat, gunakan sabun muka yg mengandung
benzoyl-peroxida, atau sabun sulfur. Dan gunakan masker anti bakteri/jerawat
seminggu sekali. Kalau obat-obat jerawat yg dijual bebas tidak mempan, mintalah ke
dokter kulit obat jerawat yg mengandung vitamin A derivatif seperti Retin-A.
3. Diet rendah lemak.
4. Cukup istirahat.
5. Penggunaan kosmetik secukupnya.
6. Hindari polusi debu.
7. Hindari pemencetan.

10
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Biodata
Informasi mengenai identitas/data dasar meliputi, nama, umur, jenis kelamin, agama,
alamat, tanggal pengkajian, pemberi informasi.
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama : Gatal pada bagian wajah
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien masuk ke rumah sakit dengan keluhan gatal pada bagian wajah seta mengeluh
karna pada bagian wajahnya terdapat jerawat.
c. Riwayat Kesehatan Dahulu
Haruslah diketahui baik yang berhubungan dengan system integument maupun
penyakit sistemik lainnya. Demikian pula riwayat penyakit keluarga, terutama yang
mempunyai penyakit menular, herediter.
3. Pola Kesehatan
a. Aktivitas istirahat
Tanda: perasaan klien gelisah akan keadaan kulitnya
b. Integritas ego
Gejala : ansietas, emosi, kesal,factor stress
Tanda : menolak perhatian terhadap sekitarnya ,Depresi karena memikirkan akan
proses penyembuhan
c. Makanan
Pembatasan makanan seperti coklat, yang berkola dan makanan yang dihasilkan dari
susu serta mengandung yodium karena dapat memicu peningkatan intensitas acne
semakin parah
d. Neurosensori
Gejala : dapat meningkatkan emosional seperti rasa tidak nyaman ,dan gatal
Tanda : perubahan diri, orientasi dan perilaku.
e. Nyeri
Tanda : klien mengeluh nyeri pada akne
f. Interaksi social
Gejala : hubungan dengan orang lain kurang terbina

11
Tanda : adanya lesi pada kulit,kemerahan dan edema
4. Pemeriksaan Fisik
Pada kulit dilakukan :
a. Inspeksi komedo
Inspeksi lesi dengan meregangkan kulit secara perlahan, komedo yang tertutup
tampak seperti papula kecil yang agak menonjol sedangkan komedo yang terbuka
akan terlihat agak menonjol dengan pemadatan bagian tengah folikel.
b. Palpasi Nyeri tekan pada daerah akne yang meradang.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman ( nyeri dan gatal ) b/d proses peradangan
2. Gangguan perubahan citra tubuh b/d rasa malu dan frustasi terhadap tampilan dirinya
3. Kurang pengetahuan b/d kurang informasi tentang penyakitnya
4. Ansientas b/d kecacatan
5. Kerusakan integritas kulit b/d kerusakan permukaan kulit
6. Resiko terjadi penyebaran infeksi b/d pertahanan primer tidak adekuat

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Dx 2 : Gangguan rasa nyaman (nyeri dan gatal) b/d proses peradangan
Intervensi :
a. Kaji keluhan nyeri , perhatikan lokasi / karakter dan intensitas
b. Libatkan pasien dalam penentuan jadwal aktifitas, pengobatan dan pemberian obat
c. Jelaskan preosedur/ berikan informasi seiring dengan tepet, khususnya selama
debridemen luka
d. Berikan aktifitas terpeutik
Rasional :
a. Mengetahui derajat nyeri pasien
b. Meningkatkan rasa control pasien dan kekuatan mekanisme
c. membantu menghilangkan nyeri / meningkatkan relaksasi , memberikan
kesempatan pada pasien untuk menyiapkan diri dan meningkatkan rasa kontrol
d. Membantu mengurangi konsentrasi nyeri yang dialami dan memfokuskan perhatian

12
2. Dx 3 : Gangguan perubahan citra tubuh b/d rasa malu dan frustasi terhadap tampilan
dirinya
Intevensi :
a. Observasi makna perubahan yang dialami oleh pasien
b. Libatkan keluarga atau orang terdekat dalam perawatan
c. Catat perilaku menarik diri : peningkatan ketergantungan, manipulasi atau tidak
terlibat pada perawatan
d. Berikan dorongan positif terhadap kemajuan dan dorongan usaha untuk mengikuti
tujuan
Rasional :
a. Mengetahui perasaan pasien tentang keadaannya dan control emosinya
b. Dukung keluarga dan orang terdekat dapat mempercepat proses penyembuhan
c. Dugaan masalah pada penilaian yang dapat memerlukan evaluasi lanjut dan terapi
lebih ketat
d. Mendukung terjadinya perilaku koping positif
3. Dx 4 : Kurang pengetahuan b/d kurang informasi tentang penyakitnya
Intervensi :
a. Diskusikan tentang perawatan kulit,contoh :penggunaan pelembab dan pelindung
sinar matahari
b. Berikan HE tentang Higiene,pencegahan dan pengobatan penyakitnya
c. Tekankan pentingnya mengevaluasi perawatan
Rasional :
a. Meningkatkan perawatan diri setelah pulang dan kemandirian
b. Meningkatkan pengetahuan pasien
c. Dukungan jangka panjang continue dan perubahan terapi dibutuhkan untuk
mencapai penyembuhan optimal
4. Dx 5 : Ansientas b/d kecacatan
Intervensi :
a. Observasi derajat ansietas pasien
b. Informasikan pasien bahwa perasaannya normal
c. BerIkan kenyaman fisik, lingkungan tenang dan istirahat
d. Berikan penjelasan dengan sering dan informasi tentang prosedur perawatan
Rasional:
a. Mengetahui tingkat ansietas pasien sehingga dapat memberikan HE yang tepat

13
b. Pemahaman bahwa perasaan normal dapat membantu pasien meningkatkan beberapa
perasaan kontrol emosi
c. Rasa nyaman dapat meningkatkan relaksasi sehingga membantu menurunkan
ansietas
d. Menurunkan ketakutan dan ansietas memperjelas tentang konsep penyakit dan
meningkatkan kerja sama
5. Dx 6 : Kerusakan integritas kulit b/d kerusakan permukaan kulit
Intervensi :
a. Obeservasi atau catat ukuran, warnadan keadaan kulit di ara sekitar luka
b. Ubah posisi dengan sering
c. Beri perawatan kulit sering agar tidak terjadi kering atau lembab
Rasional :
a. Mengetahui perkembangan luka pasien dan kulit di sekitarnya
b. Memperbaiki sirkulasi darah
c. Terjadi kering / lembab dapat merusak kulit dan mempercepat kerusakan
6. Dx 1 : Resiko terjadi penyebaran infeksi b/d pertahanan primer tidak adekuat
Intervensi :
a. Observasi keadaan luka pasien
b. Gunakan tehnik septic dan aseptic selama perawatan luka
c. Tekankan tehnik cuci tangan yang baik untuk setiap individu yang kontak dengan
pasien
d. Kolaborasi pemberian antibiotic
Rasional:
a. Mengetahui keadaan luka pasien
b. Mencegah terpajan organism infeksius
c. Mencegah kontaminasi silang dan menurunkan resiko penyebaran infeksi
d. Antibiotic dapat membantu mengurangi penyebaran infeksi

14
D. IMPLEMENTASI
Melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan intervensi yang telah direncanakan.

E. EVALUASI
Hasil yang diharapkan :

1. Mengembangkan peningkatan pemahaman terhadap masalah kulit :


a. Meninjau gambaran lesi akne yang obstruktif dan inflamatori
b. Membaca brosur pendidikan pasien
c. Membaca brosur informasi produk dan instruksi tertulis tentang obat yang
diresepkan
2. Mematuhi terapi yang diresepkan
a. Mengutarakan dengan kata-kat komitmen pasien pada terapi yang diperlukan yang
dapat berlangsung berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
b. Mengekspresikan bahwa terapi harus terus berlangsung ketika kulit sudah bersih.
c. Mengikuti program pencucian muka.
3. Mengembangkan kemampuan untuk menerima keadaan diri
Mengidentifikasi orang yang bisa diajak bicara mengenai masalah pasien dan
mengekspresikan optimisme tentang hasil akhir terapi.
4. Memperlihatkan tidak adanya komplikasi
a. Melaporkan tidak adanya tanda-tanda infeksi
b. Mengutarakan dengan kata-kata bahwa memegang dan memijit jerawat/ lesi akan
memperburuk keadaan dan dapat menyebabkan sikatriks.
c. Melaporkan tidak adanya sikatriks atau peningkatan intensitas lesi.
d. Mematuhi terapi.

15
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Acne vulgaris ( jerawat ) penyakit kulit akibat perdangan kronik folikel pilosebasea
yang umunya terjadi pada masa remaja dengan gambaran klinis berupa komedo, papula,
pustul, nodus, dan kista pada tempat predileksinya. Hampir semua orang pernah
mengalami penyakit ini sehingga acne vulgaris disebut sebagai penyakit kulit yang timbul
secara fisiologis. Orang dengan acne vulgaris tidak perlu dirawat dirumah sakit, namun
ada beberapa macam terapi yang diberikan pada pasien acne yaitu pengobatan sistemik,
pengobatan topikal dan pembedahan. Sedangkan untuk mencegah timbulnya acne
dianjurkan untuk diet, perawatan kulit, dan memberikan informasi yang cukup kepada
pasien mengenai penyebab penyakit serta pencegahannya.

B. SARAN
Dari hasil pembahasan diatas, maka disarankan agar dalam memberikan asuhan
keperawatan pada pasien acne vulgaris harus diperhatikan pendidikan kesehatan yang
penting yaitu diet, perawatan diri dan menghindari kosmetik berlebihan.

16