Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PRAKTIKUM

SISTEM PERTANIAN TERPADU

Oleh:
Kelompok D3

1. Chrisnanda Eka Pramudita (145050100111024)


2. Mampetua Raja Pandiangan (145050100111043)
3. Yulianto (145050100111055)
4. Indra Nurul Laili (145050100111058)
5. Yuana Dewi Aprilia (145050100111059)

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat

serta hidayah-Nya sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah praktikum Sistem

pertanian Terpadu.

Makalah ini berisikan pemaparan mengenai contoh-contoh penerapan sistem

pertanian campuran, pertanian yang berintregasi dengan ternak, pertanian tekno-ekologis,

disertai pemaparan analisa usaha dan analisa produksinya.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan

saran dari semua pihak yang bersifat membangun penulis harapkan demi kesempurnaan

penyusunan makalah berikutnya. Penulis berharap makalah ini dapat memberikan

informasi kepada para pembaca. Akhir kata, penulis sampaikan terima kasih kepada semua

pihak yang telah berperan dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga

Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Malang, 18 April 2016

Penulis

ii
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR....................................................................................................i
DAFTAR ISI..................................................................................................................ii
DAFTAR TABEL..........................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR.....................................................................................................iv
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................................v
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................1
1.1. Latar Belakang.............................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah........................................................................................2
1.3. Tujuan..........................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................................................3
2.1 Usaha Tani Campuran (Mixed Farming System).........................................3
2.2 Sistem Produksi Tanaman-Ternak................................................................4
2.3 Model Pertanian Tekno-Ekologis di Lahan Sawah......................................5
2.4 Model Pertanian Tekno-Ekologis di Lahan Perkebunan..............................6
BAB III MATERI DAN METODE.............................................................................8
3.1 Waku dan Lokasi Praktikum........................................................................8
3.2 Materi Praktikum.........................................................................................8
3.3 Metode.........................................................................................................8
BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN.........................................10
4.1 Usaha Tani Campuran (Mixed Farming System).........................................10
4.2 Sistem Produksi Tanaman-Ternak................................................................12
4.3 Model Pertanian Tekno-Ekologis di Lahan Sawah......................................14
4.4 Model Pertanian Tekno-Ekologis di Lahan Perkebunan..............................17
BAB V PENUTUP.........................................................................................................22
5.1 Kesimpulan..................................................................................................22
5.2 Saran.............................................................................................................22
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................23
LAMPIRAN...................................................................................................................25

iii
DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman


1. Analsis Usaha Pertanian Campuran......................................................................11
2. Analisis Usaha Sistem Produksi Tanaman – Ternak.............................................13
3. Analisis Usaha Model Pertanian Tekno – Ekologis di Lahan Sawah....................15
4. Analisis Usaha Model Pertanian Tekno – Ekologis di Lahan Perkebunan...........18

iv
DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman


1. Mixed Farming System...............................................................................................3
2. Pemanenan Tebu.........................................................................................................16
3. Tanaman Kelapa dan Padi...........................................................................................18
4. Pemanenan Padi..........................................................................................................20

v
DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul Halaman


1. Dokumentasi Hasil Field Trip.....................................................................................25

vi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia terkenal dengan negara agraris yaitu negara yang mengandalkan sektor
pertanian. Menurut Djaenudin (2008) luas daratan Indonesia mencapai 188,20 juta Ha dan
yang potensial 94,10 juta Ha, yaitu untuk pertanian lahan basah 25,40 juta Ha, tanaman
semusim lahan kering 25,10 juta Ha, dan tanaman tahunan 43,60 juta Ha. Dari luas total
lahan basah yang potensial, 8,50 juta Ha telah menjadi sawah, sehingga yang masih
tercadang sekitar 16,90 juta Ha, yaitu 3,50 juta Ha berupa lahan rawa dan 13,40 juta Ha
lainnya nonrawa. Lahan potensial untuk pertanian lahan kering tersedia 68,64 juta Ha,
yaitu untuk tanaman semusim 25,09 juta Ha dan untuk tanaman tahunan 43,55 juta Ha.
Namun, semakin tahun ke tahun luas lahan sawah mengalami penurunan karena banyaknya
pembangunan yang terus menerus. Hal ini dibuktikan dari data statistik lahan pertanian
tahun 2009-2013 Kementerian Pertanian (2014) bahwa di Kabupaten Malang tahun 2009
luas lahan 43,426Ha, tahun 2010 luas lahan 43,855Ha, tahun 2011 luas lahan 43,812Ha,
tahun 2012 luas lahan 45,523Ha, dan tahun 2013 luas lahan 39,820Ha.
Indonesia pada saat ini dan terlebih lagi pada masa mendatang mengahadapi masalah
dan dilema dalam mencukupi produksi pangan, terkait dengan jumlah penduduk yang
sangat besar dan menurunnya kualitas lingkungan. Penambahan jumlah penduduk yang
memaksa pemerintah untuk menigkatkan produksi pangan pada lahan pertanian yang
relatif sempit dan bahkan terus berkurang. Untuk mengatasi permasalahan tersebut,
Diwyanto, Bambang dan Darwinsyah (2002) mengatakan bahwa Departemen Pertanian
telah mengarahkan agar pengembahan sistem dan usaha agribisnis harus berpihak pada
peternakan (pertanian) rakyat dan memperhatikan pelaksanaan otonomi daerah, serta
menjamin kelestarian lingkungan agar agribisnis tersebut dapat berjalan secara
berkelanjutan.
Sistem pertanian adalah suatu sistem yang menggunakan ulang dan mendaur ulang,
menggunakan tanaman dan hewan sebagai mitra , menciptakan suatu ekosistem meniru
cara alam bekerja. Sistem pertanian terpadu telah merubah dengan cepat peternakan
konvensional , budidaya perairan, hortikultura, agroindustri dan segala aktivitas pertanian.
Menurut Nurhidayati, Pujiwati, Solichah, Djuhari dan Basit (2008) bahwa sistem pertanian
terpadu dapat mengatasi semua kendala tersebut, tidak saja dari aspek ekonomi dan
permasalahan ekologis, tetapi juga menyediakan sarana produksi yang diperlukan seperti
bahan bakar, pupuk dan makanan, disamping produktivitas terus meningkat. Hal itu dapat

1
mengubah sistem pertanian yang penuh resiko kearah sistem pertanian ekonomis dan
kondisi ekologi seimbang.
Melihat permasalahan diatas mengenai lahan pertanian dan kebutuhan pakan di
Indonesia maka, penggunaan sistem pertanian terpadu sangatlah tepat. Banyaknya manfaat
dari pertanian terpadu tersebut diharapkan dapat membuat lahan pertanian efektif dan
efisien serta memberikan manfaat kepada masyrakat dalam pemenuhan kebutuhan pangan
dan meningkatkan ekonomi masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana sistem pertanian yang ada di Indonesia?
2. Apa saja model-model sistem pertanian terpadu?
3. Bagaimana analisis usaha dari hasil pertanian terpadu?
4. Bagaimana keuntungan dan kerugian dari hasil pertanian terpadu?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui sitem pertanian yang ada di Indonesia
2. Untuk mengetahui model-model sistem pertanian terpadu
3. Untuk mengetahui analisis usaha dari hasil pertanian terpadu
4. Untuk mengetahui keuntungan dan kerugian dari hasil pertanian terpadu

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Usaha Tani Campuran (Mixed Farming Systems)

2
Gambar 1. Mixed Farming System
Pertanaman campuran merupakan sistem pertanaman yang menanam lebih dari
satu jenis tanaman pada satu petak dalam musim tanam yang lama. Pertanaman campuran
ini komposisinya sangat beraneka tergantung pada petani. Sistem ini dapat diterapkan pada
lahan sawah/lahan kering (Nurhidayat, dkk, 2008).
Usaha tani campuran dapat memaksimalkan penerimaan dan meminimalkan risiko,
serta meningkatkan manfaat keterkaitan antar cabang usaha, seperti tanaman dan ternak
(sumber pakan), ternak dan tanah (kesuburan), serta tanaman dan tanaman (tumpang sari)
(Soedjana, 2007).
Kaliandra selain berfungsi sebagai pagar, juga bisa dimanfaatkan untuk pakan
ternak. Kaliandra dipilih sebagai tanaman pagar, karena mempunyai bentuk tajuk yang
lebar dan rapat. Kaliandra yang ditanam dengan jarak yang rapat, batangnya akan saling
menutupi dan berfungsi sebagai pagar, sehingga ternak tidak dapat masuk ke dalam
pertanaman (Suryanto dan Prasetyawati, 2014).
Produksi tinggi dan kualitas produk meningkat disebabkan oleh pemenuhan
kebutuhan hara esensial bagi tanaman baik unsur hara makro dan mikro yang terkandung
dalam pupuk mineral plus seperti: N, P, K, Ca, Mg, Na, Cl, Fe, Si, Mn, Mo, dan B yang
dibutuhkan oleh tanaman (Lanya, Subadiyasa, Kusmawati, Adi, Dibia, Kusmiyarti,
Sardiana dan Wikarniti, 2013).
Pada saat menerapkan sistem pertanian polikutur, petani sering dihadapkan pada
permasalahan mendasar, yaitu bagaimana menentukan proporsi dalam pemanfaatan lahan
pertanian sehingga menghasilkan keuntungan yang maksimal dengan mengalokasikan luas
lahan dan modal yang dimiliki (Saputro, Mahmudy, dan Dewi 2015).
2.2 Sistem produksi Tanaman- Ternak (Crops- Livestock Production System)
Sistem pertanian terpadu adalah sistem pengelolaan (usaha) yang memadukan
komponen pertanian, seperti tanaman, hewan dan ikan dalam suatu kesatuan yang utuh.
Definisi lain menyatakan, SPT adalah suatu sistem pengelolaan tanaman, hewan ternak dan
ikan dengan lingkungannya. Sistem ini akan signifikan dampak positifnya dan memenuhi
kriteria pembangunan pertanian berkelanjutan karena berbasis organik dan
dikembangkan/diarahkan berbasispotensi lokal (sumberdaya lokal). Tujuan penerapan
sistem tersebut yaitu untuk menekan seminimal mungkin input dari luar (input/masukan
rendah) sehingga dampak negatif sebagaimana disebutkan di atas, semaksimal mungkin
dapat dihindaridan berkelanjutan (Nurcholis, 2011).

3
Wanatani diartikan sebagai sistim penggunaan lahan yang berutama memadukan
antara tanaman pangan berumur pendek dengan tanaman pohon, semak atau rumput
makanan ternak. Contoh teknologi yang sudah memasyarakat antara lain; pertanian sejajar
kontur, budidaya lorong, tumpangsari (Taungnya), teknologi lahan miring, teknik
konservasi air, peternakan dan usaha tani terpadu ' yang memanfaatkan tanaman multiguna
(Nurhidayati,2008)
Lahan pertanian yang makin berkurang akibat beralih fungsi menjadi pemukiman,
misalnya, menyebabkan petani-peternak harus mempunyai alternatif usaha untuk
meningkatkan pendapatan, antara lain dengan mengatur pola tanam secara bergantian
maupun campuran. Alternatif lain adalah meningkatkan usaha ternak sapi melalui integrasi
sapi-tanaman pangan atau tanaman perkebunan (kelapa). Pengembangan peternakan dapat
melalui diversifikasi ternak sapi dengan lahan persawahan, perkebunan, dan tambak.
Penerapan pola usaha tani padi sawah sapi potong melaporkan sistem ini dapat
meningkatkan produksi dan keuntungan petani berlahan sempit (Elly,2008).
Meskipun sistem tanaman-ternak terpadu telah digunakan global selama ribuan
tahun, di abad yang lalu, petani di Amerika Utara cenderung menuju peningkatan
spesialisasi. Ada minat baru di reintegrasi tanaman dan ternak karena kekhawatiran tentang
degradasi sumber daya alam, profitabilitas dan stabilitas pertanian pendapatan,
keberlanjutan jangka panjang, dan meningkatkan regulasi terkonsentrasi operasi makanan
hewan. Sistem tanaman-ternak terpadu bisa menumbuhkan sistem tanam beragam,
termasuk penggunaan abadi dan hijauan legum, yang bisa tumbuh di daerah yang dipilih
dari lanskap untuk mencapai beberapa manfaat lingkungan. sistem yang terintegrasi
inheren akan memanfaatkan kotoran hewan, yang meningkatkan ladangmu tanah,
kesuburan, dan C penyerapan. Integrasi tanaman dan ternak bisaterjadi dalam sebuah
peternakan atau di antara peternakan (Russelle,2007).
Hal ini mengacu pada sistem pertanian yang mengintegrasikan ternak dan produksi
tanaman. Selain itu, sistem membantu miskin petani kecil, yang memiliki lahan yang
sangat kecil memegang untuk produksi tanaman dan beberapa kepala ternak untuk
diversifikasi produksi pertanian, meningkatkan pendapatan kas, meningkatkan kualitas dan
kuantitas makanan yang diproduksi dan eksploitasi sumber yang tidak digunakan.
pertumbuhan penduduk, urbanisasi dan pertumbuhan pendapatan yang memicu
peningkatan substansial dalam permintaan untuk makanan yang berasal dari hewan,
sementara juga memperparah persaingan antara tanaman dan ternak (meningkatkan tanam
daerah dan mengurangi rangelands). Integrasi tanaman dan ternak, kompleksitas sistem

4
tersebut bisa membatasi adopsi. Namun, petani harus mengharapkan bahwa adopsi sistem
tanaman-ternak terpadu akan meningkatkan baik profitabilitas dan kelestarian lingkungan
pertanian dan komunitas mereka ( Gupta,2012).
2.3 Model Pertanian Tekno-Ekologis (di Ekosistem Lahan Sawah)
Penanaman padi, jagung, gandum atau tanaman pokok lain bersifat monokultur
karena memudahkan perawatan. Dalam setahun misalnya, satu lahan sawah ditanami
hanya padi, tanpa variasi apa pun. Sistem monokultur menjadikan penggunaan lahan
efisien karena memungkinkan perawatan dan pemanenan secara cepat dengan bantuan
mesin pertanian dan menekan biaya tenaga kerja karena keseragaman tanaman yang
ditanam (Nurhidayati, Pujiwati, Solichah, Djuhari, dan Basit ,2008).
Integrasi antara tanaman pangan dan ternak ruminansia dimaksudkan adanya saling
ketergantungan dan mendukung antara tanaman dan ternak untuk memberikan efek ganda
yaitu efisien dan optimal dalam penggunaan bahan lokal yang dimiliki dengan harapan
adanya nilai tambah peningkatan pendapatan( Subiharta, 2006 ) .
Salah satu teknologi pengelolaan kesuburantanah yang penting adalah
pemupukanberimbang. Penerapan teknologi pemupukan organik juga sangat penting
dalam pengelolaan kesuburan tanah( Abdurachman,2008).
Ciri utama integrasi taman ternak adalah adanya sinergisme atau keterkaitan yang
saling menguntungkan antara tanaman dan ternak. Petani memanfaatkan kotoran ternak
sebagai pupuk organik untuk tanamannya, kemudian memanfaatkan limbah pertanian
sebagai pakan ternak (Kariyasa, 2005).
Penggunaan pupuk kandang (organik) pada sistem integrasi tanaman ternak telah
terbukti mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani serta mengurangi biaya
produksi.Keuntungan dari sistem integrasi yaitu memacu berkembangnya sektor
peternakan Indonesia, perbaikan kondisi lahan pertanian yang bermuara pada
meningkatnya produktivitas dan pendapatan petani, mengurangi biaya pupuk kimia,
memperkuat ketahanan pangan baik di tingkat lokal maupun nasional (Kariyasa, 2005).
Pemanenan tebu dapat dilakukan secara manual dengan menggunakan golok atau
sabit.Pemanenan dengan mesin sugarcane harvester jarang diaplikasikan karena kondisi
lahan yang tidak rata dan biaya operasional yang cukup tinggi, sehingga alat yang
diaplikasikan untuk pemanenan tebu saat ini adalah golok atau parang (kurniawati, 2013).
2.4 Model Pertanian Tekno- Ekologis (di Ekosistem Lahan Perkebunan)
Pertanian Tekno-ekologis adalah usaha pertanian yang mengintegrasikan teknologi
produksi maju yang produktif-efisien, dengan tindakan pelestarian lingkungan dan mutu

5
sumber daya lahan, sehingga sistem produksi dapat berkelanjutan selain itu juga
menerapkan teknologi terbaru yang sesuai dengan kondisi agroekologi dan sosial ekonomi
petanianya. Teknologi terbaru tersebut berupa alat-alat mesin pertanian, sarana dan
prasarana usahatani, dan pengelolaan usahatani (Sumarno,2006).
Sistem tanam yang sesuai dengan pertanian tekno-ekologis adalah sistem tanam
benih langsung (tabela) karena memiliki keunggulan antara lain lebih hemat waktu, lebih
hemat air, produktivitas meningkat (rata-ratasekitar 16,4 %) dan lebih hemat tenaga karena
tidak memerlukan tenaga untuk mencabut dan menanam bibit (Istiantoro, 2013).
Pemanfaatan lahan perkebunan dengan model tekno-ekologis dengan penerapan
pemeliharaan berbagai komoditi secara bersama-sama (kombinasi) atau berurutan antara
tanaman pohon (hutan) dengan komoditi pertanian (tanaman, ternak, dan atau ikan/kolam)
secara optimal merupakan sebuah sistem pertanian terpadu tidak hanya memberikan hasil
nyata (tangible) produk pertanian dan kehutanan, namun sekaligus berperan dalam
pelestarian lingkungan berupa kesejukan, kesegran, keindahan, biodiversitas, dan bahkan
membantu memitigasi gas rumah kaca (produk intangible) di kawasan pemukiman secara
berkelanjutan (Rauf dkk, 2013).
Tanaman pakan yang diintegrasikan pada lahan usahatani tanaman pangan telah
menambah hasil hijauan pakan ternak dan dapat memenuhi kebutuhan pakan ternak yang
dipelihara petani di lokasi penelitian yang sebagian besar lahannya untuk pertanian selain
itu petani biasa menggunakan teknologi tertentu untuk mengolah pakan ternak (Bambang
dkk, 2006).
Alat pemanen padi berkembang dariani-ani menjadi sabit biasa, kemudian
menjadi sabit bergerigi dengan bahan bajayang sangat tajam, dan terakhir diintroduksikan
reaper, stripper, dan combine harvester. Reaper merupakan mesin pemanenuntuk
memotong padi dengan sangat cepat. Prinsip kerjanya mirip dengan panen menggunakan
sabit. Mesin ini sewaktu bergerak maju akan menerjang dan memotong tegakan tanaman
padi dan menjatuhkan atau merobohkannya ke arah samping mesin reaper. Ada pula yang
mengikat tanaman yang terpotong menjadi seperti berbentuk sapu lidi ukuran besar. Pada
saat ini terdapat tiga jenis reaper, yaitu reaper tiga baris, empat baris, dan lima
baris.Combine harvester adalah mesin panen padi yang mampu menyelesaikan pekerjaan
menuai, merontok, memisahkan, membersihkan, dan mengayak gabah dalam satu urutan.
Karena strukturnya kompak, mobilitas tinggi, stabil, andal, ekonomis, dan kuat
aksesibilitasnya ke lahan sawah, pemanenan satu hektare padi hanya membutuhkan waktu

6
5 jam. Keuntungan lain, mesin ini hemat bahan bakar. Untuk mengoperasikan alat
bermesin diesel 25PK hanya membutuhkan solar 6,5 l/ha (Iswari, 2012 ).
Ampas kelapa mengandung protein, karbohidrat, rendah lemak dan kaya akan
serat yang dibutuhkan untuk proses fisiologis dalam tubuh ternak tetapi untuk
memaksimalkan hasil perlu adanya pengolahan dengan teknologi pengeringan beku (freeze
dryer) yang merupakan salah satu metode pengeringan yang mempunyai keunggulan
dalam mempertahankan mutu hasil pengeringan, khususnya untuk produk-produk yang
sensitif terhadap panas, selain itu juga dapat mempertahankan stabilitas produk
(menghindari perubahan aroma, warna, dan unsur organoleptik lain) dan dapat
mempertahankan stabilitas struktur bahan (pengkerutan dan perubahan bentuk setelah
pengeringan sangat kecil) (Yulvianti dkk, 2015 ).

BAB III
MATERI DAN METODE

3.1 Waktu dan Lokasi Praktikum


Praktikum matakuliah Sistem Pertanian Terpadu dilaksanakan pada hari Selasa,
tanggal 29 Maret 2016, pukul 15.00 WIB di Dsn. Sekarsari RT 03 RW 02 Ds. Tlogowaru
Kec. Kedungkandang Malang.
3.2 Materi Praktikum
Materi 1 : Usaha Tani Campuran (Mixed farming System)
Nama Petani : Pak Teguh
No HP : 081333777179
Jenis Tanaman : Padi, cabe, kaliandra, dan rumput gajah
Materi 2 : Sistem Produksi Tanaman Ternak (Crops – Livestock
Production Systems)
Nama Petani : Pak Suher
No. HP : 085103148866
Jenis Tanaman : Padi, gamal, dan rumput gajah
Jenis Ternak : Kambing
Materi 3 : Model Pertanian Tekno-Ekologis di Sawah
Nama Petani : Bu Sukarmi
No HP : 085655399634
Jenis Tanaman : Tebu
Jenis Ternak : Kambing
7
Jenis Teknologi : Sabit
Materi 4 : Model Pertanian Tekno Ekologis di Perkebunan - Ternak
Nama Petani : Pak Sukaeni
No HP ; 0813333840076
Jenis Tanaman : Kelapa dan padi
Jenis Ternak : Entok dan kambing
Jenis Teknologi : Reaper
3.3 Metode
Metode yang dilakukan dalam praktikum matakuliah Sistem Pertanian Terpadu ini
adalah observasi dan wawancara. Pada metode observasi kita melakukan pengamatan
secara langsung atau survey ke petani. Disana kita mengamati sistem pertanian apa yang
digunakan oleh petani dan mengamati keadaan pertanian mereka. Selanjutnya pada metode
wawancara, kita menanyakan apa saja jenis tanaman dan ternak yang dimiliki, analisis
usaha mereka serta, keuntungan dan kerugian sistem pertanian mereka.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

8
4.1 Usaha Tani Campuran (Mixed Farming System)
Materi 1 : Usaha Tani Campuran (Mixed farming System)
Nama Petani : Pak Teguh
No HP : 081333777179
Jenis Tanaman : Padi, cabe, kaliandra, dan rumput gajah
Waktu : 29 Maret 2016
Lokasi : Dsn. Sekarsari RT 03 RW 02 Ds. Tlogowaru Kec.
Kedungkandang Malang

Usaha tani campuran atau pertanian polikultur adalah usaha tani yang dilakukan
lebih dari satu jenis komoditas. Petani dapat menanami lahannya dengan tanaman pakan
ternak dan tanaman pangan dalam waktu bersamaan dan di tempat yang sama. Hal ini
seperti yang diungkapkan Nurhidayati, dkk (2008) bahwa pertanaman campuran
merupakan sistem pertanaman yang menanam lebih dari satu jenis tanaman pada satu petak
dalam musim tanam yang lama. Pertanaman campuran ini komposisinya sangat beraneka
tergantung pada petani. Sistem ini dapat diterapkan pada lahan sawah/lahan kering. Alasan
petani memilih sistem pertanian campuran karena dari potensi usaha akan menghasilkan
pendapatan yang lebih tinggi dari pertanian monokultur selain itu, petani merasa sistem ini
lebih efektif dan efisien dalam hal waktu, tenaga, dan sumber daya yang ada (misal pupuk
dan lahan). Hal ini seperti pernyataan Soedjana (2007) bahwa usaha tani campuran dapat
memaksimalkan penerimaan dan meminimalkan risiko, serta meningkatkan manfaat
keterkaitan antar cabang usaha, seperti tanaman dan ternak (sumber pakan), ternak dan
tanah (kesuburan), serta tanaman dan tanaman (tumpang sari).
Pada hasil pengamatan petani menanami lahannya dengan sistem pertanian
campuran dengan menanam padi, cabe, rumput gajah dan kaliandra. Tanaman padi
merupakan tanaman utama, tanaman cabe hanya sebagai selingan dalam usaha petani,
sedangakan rumput gajah dan kaliandra sebagai tanaman pakan ternak. Kaliandra selain
sebagai pakan ternak juga dapat digunakan sebagai tanaman pagar, karena tumbuhan ini
tumbuh dengan merapat sehingga dapat digunakan sebagai tanaman pembatas. Pernyataan
ini sama seperti pendapat Suryanto dan Prasetyawati (2014) bahwa kaliandra selain
berfungsi sebagai pagar, juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak. Kaliandra dipilih
sebagai tanaman pagar, karena mempunyai bentuk tajuk yang lebar dan rapat. Kaliandra
yang ditanam dengan jarak yang rapat, batangnya akan saling menutupi dan berfungsi
sebagai pagar, sehingga ternak tidak dapat masuk ke dalam pertanaman.
Tabel 1. Tabel Analisis Usaha Pertanian Campuran
Jenis Biaya Jenis Komuditas Jumlah Harga (Rp)
Pengeluaran Padi Lahan 1 Ha 500.000

9
Cabe 270 m² = 300 pohon 60.000
@1 pohon = Rp 200
Kaliandra 80 pohon Tanpa biaya
Rumput gajah 30 m² Tanpa biaya
Obat-obatan Secukupnya 510.000
Pupuk NPK 8 kw 2.000.000
@1kw = Rp 250.000
Pembuatan galengan 8 orang 800.000
@1orang =
Rp 100.000
Pekerja sulam 35 orang 875.000
@1 orang =
Rp 25.000
Pekerja Tanam 35 orang 875.000
@1 orang =
Rp 25.000
Biaya tanam 1.800.000
Total 7.420.000
Pemasukan Padi 7000 kg 31.500.000
@1 kg = Rp 4.500
Cabe 9 kg 180.000
@1 kg = Rp 20.000
Rumput gajah 900 kg -
Kaliandra 10 kg -
Total 31.680.000
Keuntungan Rp. 31.680.000 - Rp. 7.420.000 = Rp. 24.260.000

Dalam pemeliharaan pertanian ini petani memilih menggunakan pupuk NPK


karena dalam pupuk tersebut mengandung unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanah untuk
membantu dalam proses penyuburan, serta menurut petani bila menggunakan pupuk NPK
maka hasil yang didapatkan kan lebih tinggi. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Lanya,
Subadiyasa, Kusmawati, Adi, Dibia, Kusmiyarti, Sardiana, dan Wikarniti (2013) bahwa
produksi tinggi dan kualitas produk meningkat disebabkan oleh pemenuhan kebutuhan
hara esinsial bagi tanaman baik unsur hara makro dan mikro yang terkandung dalam pupuk
mineral plus seperti: N, P, K, Ca, Mg, Na, Cl, Fe, Si, Mn, Mo, dan B yang dibutuhkan oleh
tanaman.
Dalam sistem pertanian campuran ini petani mengeluhkan tentang pembagian lahan
penanaman. Dalam menanam padi, lahanya harus terbagi dengan tanaman cabe, rumput
gajah, dan kaliandra, yang mana berarti petani kehilangan beberapa penghasilan dari padi

10
lebih rendah daripada penanaman padi saja. Masalah ini juga telah diteliti oleh Saputro,
Mahmudy, dan Dewi (2015) bahwa pada saat menerapkan sistem pertanian polikutur,
petani sering dihadapkan pada permasalahan mendasar, yaitu bagaimana menentukan
proporsi dalam pemanfaatan lahan pertanian sehingga menghasilkan keuntungan yang
maksimal dengan mengalokasikan luas lahan dan modal yang dimiliki.
4.2 Sistem Produksi Tanaman Ternak (Crops-Livestock Production Systems)
Materi 2 : Sistem Produksi Tanaman Ternak (Crops – Livestock
Production Systems)
Nama Petani : Pak Suher
No. HP : 085103148866
Jenis Tanaman : Padi, gamal, dan rumput gajah
Jenis Ternak : Kambing
Waktu : 29 Maret 2016
Lokasi : Dsn. Sekarsari RT 03 RW 02 Ds. Tlogowaru Kec.
Kedungkandang Malang

Pada pengamatan yang telah dilakukan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa


pemanfaatan lahan menjadi sistem pertanian terpadu merupakan suatu alternatif yang
memberikan keuntungan yang besar baik bagi petani maupun untuk kelanjutan sistem
pertaniannya. Adapun penelitian Nurcholis (2011), menjelaskan bahwa Sistem pertanian
terpadu adalah sistem pengelolaan (usaha) yang memadukan komponen pertanian, seperti
tanaman, hewan dan ikan dalam suatu kesatuan yang utuh. Definisi lain menyatakan, SPT
adalah suatu sistem pengelolaan tanaman, hewan ternak dan ikan dengan lingkungannya.
Sistem ini akan signifikan dampak positifnya dan memenuhi kriteria pembangunan
pertanian berkelanjutan karena berbasis organik dan dikembangkan/diarahkan
berbasispotensi lokal (sumberdaya lokal).
Adapun sistem pertanian yang dilakukan oleh petani Dusun sekarsari Desa
Tologowaru kecamatan Kedung Kandang adalah dengan memadukan pertanian,perikanan,
dan peternakan. Sistem ini biasa dikenal dengan nama wanatani. Menurut Nurhidayati
(2008), Wanatani diartikan sebagai sistim penggunaan lahan yang berutama memadukan
antara tanaman pangan berumur pendek dengan tanaman pohon, semak atau rumput
makanan ternak. Contoh teknologi yang sudah memasyarakat antara lain; pertanian sejajar
kontur, budidaya lorong, tumpangsari (Taungnya), teknologi lahan miring, teknik
konservasi air, peternakan dan usaha tani terpadu ' yang memanfaatkan tanaman multiguna.
Tabel 2. Analisis Usaha Sistem Produksi Tanaman - Ternak
Jenis Biaya Jenis Komuditas Jumlah Biaya (Rp)
Pengeluaran Padi Lahan 750 m² 375.000

11
Rumput gajah dan Hanya dipinggir -
gamal
Obat padi 383.000
Pupuk 1.500.000
Galengan 600.000
Pekerja 20 orang 800.000
Biaya panen 1.350.000
Kambing 5 ekor 4.000.000
Total 9.008.000
Pemasukan Padi 5 ton = 5000 kg 22.500.000
@1 kg = Rp 4.500
Kambing 5 ekor 10.000.000
@1 ekor =
Rp 2.000.000
Total 32.500.000
Keuntungan Rp.32.500.000 - Rp.9.008.000 = Rp.23.493.000

Pertanian yang digunakan petani Desa Sekarsari adalah perpaduan antara tanaman
pangan dan tanaman pakan ternak. Tanaman pangan yaitu tanaman padi, sedangkan
tanaman pakan ternak adalah adalah gamal dan rumput gajah (Pennisetum purpureum).
Pengolahan seperti ini menurut petani setempat sangat membantu petani terutama dalam
persediaan kebutuhan pakan ternak. Sistem seperti ini sebenarnya sudah lama digunakan di
amerika. Russelle (2007), Meskipun sistem tanaman-ternak terpadu telah digunakan global
selama ribuan tahun, di abad yang lalu, petani di Amerika Utara cenderung menuju
peningkatan spesialisasi. Ada minat baru di reintegrasi tanaman dan ternak karena
kekhawatiran tentang degradasi sumber daya alam, profitabilitas dan stabilitas pertanian
pendapatan, keberlanjutan jangka panjang, dan meningkatkan regulasi terkonsentrasi
operasi makanan hewan. Sistem tanaman-ternak terpadu bisa menumbuhkan sistem tanam
beragam, termasuk penggunaan abadi dan hijauan legum, yang bisa tumbuh di daerah yang
dipilih dari lanskap untuk mencapai beberapa manfaat lingkungan.
Selain itu, Elly ( 2008) mengatakan bahwa lahan pertanian yang makin berkurang
akibat beralih fungsi menjadi pemukiman, misalnya, menyebabkan petani-peternak harus
mempunyai alternatif usaha untuk meningkatkan pendapatan, antara lain dengan mengatur
pola tanam secara bergantian maupun campuran. Alternatif lain adalah meningkatkan
usaha ternak sapi melalui integrasi sapi-tanaman pangan atau tanaman perkebunan
(kelapa). Pengembangan peternakan dapat melalui diversifikasi ternak sapi dengan lahan
persawahan, perkebunan, dan tambak. Penerapan pola usaha tani padi sawahsapi potong
melaporkan sistem ini dapat meningkatkan produksi dan keuntungan petani berlahan
sempit.

12
Oleh karena itu diciptakan suatu alternatif yang mengintegrasikan lahan pertanian
menjadi sistem pertanian terpadu seperti yang dilakukan oleh petani Sekar Sari, yang
mengintegrasikan padi,gamal dan rumput gajah dengan peternakan. Gupta (2012),
mengatakan bahwa Lahan pertanian yang makin berkurang akibat beralih fungsi menjadi
pemukiman, misalnya, menyebabkan petani-peternak harus mempunyai alternatif usaha
untuk meningkatkan pendapatan, antara lain dengan mengatur pola tanam secara
bergantian maupun campuran. Alternatif lain adalah meningkatkan usaha ternak sapi
melalui integrasi sapi-tanaman pangan atau tanaman perkebunan (kelapa). Pengembangan
peternakan dapat melalui diversifikasi ternak sapi dengan lahan persawahan, perkebunan,
dan tambak. Penerapan pola usaha tani padi sawahsapi potong melaporkan sistem ini dapat
meningkatkan produksi dan keuntungan petani berlahan sempit.
4.3 Model Pertanian Tekno-Ekologis di Sawah
Materi 3 : Model Pertanian Tekno-Ekologis di Sawah
Nama Petani : Bu Sukarmi
No HP : 085655399634
Jenis Tanaman : Tebu
Jenis Ternak : Kambing
Jenis Teknologi : Sabit
Waktu : 29 Maret 2016
Lokasi : Dsn. Sekarsari RT 03 RW 02 Ds. Tlogowaru Kec.
Kedungkandang Malang

Berdasarkan data diatas, ibu Sukarmi menerapkan model pertanian tekno-ekologis


di sawah dengan menggunakan tanaman tebu dalam satu lahan pertanian (monokultur),
dengan sistem ini, penggunaan lahan efisien karena memungkinkan perawatan dan
pemanenan secara cepat dan menekan biaya tenaga kerja karena keseragaman tanaman
yang ditanam sehingga diharapkan dapat menjadi salah satu solusi bagi peningkatan
produktivitas lahan. Hal ini sesuai dengan penjelasan Nurhidayati, Pujiwati, Solichah,
Djuhari, dan Basit (2008) yang menyatakan bahwa, Pertanaman padi, jagung, gandum atau
tanaman pokok lain bersifat monokultur karena memudahkan perawatan. Dalam setahun
misalnya, satu lahan sawah ditanami hanya padi, tanpa variasi apa pun. Sistem monokultur
menjadikan penggunaan lahan efisien karena memungkinkan perawatan dan pemanenan
secara cepat dengan bantuan mesin pertanian dan menekan biaya tenaga kerja karena
keseragaman tanaman yang ditanam.
Dalam proses pengelolaan tanah, ibu Sukarmi menerapkan teknologi tradisional
yaitu menggunakan cangkul untuk menggemburkan tanah sebelum penyemaian benih,
dan dilakukan pemupukan setiap kurun waktu tertentu agar tebu yang dihasilkan
berproduksi secara baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Abdurachman (2008) yang

13
menyatakan bahwa, Salah satu teknologi pengelolaan kesuburantanah yang penting adalah
pemupukanberimbang.Penerapan teknologi pemupukan organik juga sangat penting dalam
pengelolaan kesuburan tanah. Hal tersebut juga sebanding dengan penjelasan
Kariyasa(2005) yang menyatakan bahwa, Penggunaan pupuk kandang (organik) pada
sistem integrasi tanaman ternak telah terbukti mampu meningkatkan produktivitas dan
pendapatan petani serta mengurangi biaya produksi.Keuntungan dari sistem integrasi yaitu
memacu berkembangnya sektor peternakan Indonesia, perbaikan kondisi lahan pertanian
yang bermuara pada meningkatnya produktivitas dan pendapatan petani, mengurangi
biaya pupuk kimia, memperkuat ketahanan pangan baik di tingkat lokal maupun nasional.
Tabel 3. Analisis Usaha Model Pertanian Tekno-Ekologis di Lahan Sawah
Jenis Biaya Jenis Komoditas Jumlah Harga (Rp)
Pengeluaran Tebu Luas lahan 875 m² 0 ( dari biaya produksi
sebelumnya)
Kambing 8 ekor 4.000.000
Sabit 20 buah @ Rp. 20.000 400.000
Pupuk ponska 7000 kg @ Rp. 2400 16.800.000
Pupuk ZA 3000 kg @Rp. 2600 7.800.000
Konsentrat 50 kg @ Rp. 3000 150.000
Tenaga kerja 1.500.000
Total 30.650.000
Pemasukan Tebu 43,75 ton @ Rp. 18.375.000
420.000/ton
Kambing 8 ekor @ Rp. 3000.000 24.000.000
Total 42.375.000
Keuntungan Rp.42.375.000 - Rp.30.650.000 = Rp.11.725.000

Berdasarkan data diatas, tebu dipanen secara tradisional menggunakan sabit,


caranya dengan memotong bagian pangkal batang tebu menggunakan sabit. Hasil yang di
dapatkan ialah bentuk lonjoran batang tebu.Kelebihan dari alat potong tebu tradisional
adalah hasil pemotongan dapat di pilih antara tebu yang baik dan tebu yang kurang baik.
Kakurangan dari pemanenan tradisional ini yaitu pemanenan mebutuhkan waktu yang
relatif lama serta membutuhkan biaya lebih untuk upah pekerja .Hasil pengamatan ini
sesuai dengan pendapat kurniawati (2013) yang menyatakan bahwa, pemanenan tebu dapat
dilakukan secara manual dengan menggunakan golok atau sabit.Pemanenan dengan mesin
sugarcane harvester jarang diaplikasikan karena kondisi lahan yang tidak rata dan biaya
operasional yang cukup tinggi, sehingga alat yang diaplikasikan untuk pemanenan tebu
saat ini adalah golok atau parang.

14
Gambar 2. Pemanenan Tebu
Tanaman tebu merupakan tanaman penghasil gula yang merupakan kebutuhan pokok
masyarakat.Pada model integrasi sederhana tanaman padi di integrasikan dengan ternak,
pada lahan milik ibu Sukarmi tanaman padi di integrasikan dengan kambing. Sejalan
dengan pernyataan Kariyasa (2005) Ciri utama integrasi taman ternak adalah adanya
sinergisme atau keterkaitan yang saling menguntungkan antara tanaman dan ternak. Petani
memanfaatkan kotoran ternak sebahgai pupuk organik untuk tanaman nya, kemudian
memanfaatkan limbah pertanian sebagai pakan ternak.
Dalam suatu sistem pertanian dibutuhkan teknologi untuk memudahkan dalam
pengolahannya. Selain itu ibu Sukarmi juga menerapkan sistem Integrasi antara tanaman
pangan (tanaman tebu) dengan ternak yang dipeliharanya, artinya hasil pertanian
dimanfaatkan manusia sebagai sumber pangan sedangkan limbahnya berupa pucuk tebu
dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, selain itu kotoran yang dihasilkan oleh ternak
dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Sehingga adanya ketergantungan satu dengan
yang lain yang saling menguntungkan. Hal ini didukung oleh pernyataan Subiharta ( 2006 )
yang menyatakan; Integrasi antara tanaman pangan dan ternak ruminansia dimaksudkan
adanya saling ketergantungan dan mendukung antara tanaman dan ternak untuk
memberikan efek ganda yaitu efisien dan optimal dalam penggunaan bahan lokal yang
dimiliki dengan harapan adanya nilai tambah peningkatan pendapatan.
4.4 Model Pertanian Tekno-Ekologis di Ekosistem Lahan Perkebunan
Materi 4 : Model Pertanian Tekno Ekologis di Perkebunan - Ternak
Nama Petani : Pak Sukaeni
No HP ; 0813333840076
Jenis Tanaman : Kelapa dan padi
Jenis Ternak : Entok dan kambing
Jenis Teknologi : Reaper
Waktu :29 Maret 2016
Lokasi : Dsn. Sekarsari RT 03 RW 02 Ds. Tlogowaru Kec.
Kedungkandang Malang

15
Pertanian tekno-ekologis merupakan suatu bentuk sistem pertanian yang
memadukan lebih dari satu jenis tanaman dalam suatu lahan yang sama dengan
menerapkan teknologi yang sesuai dengan kondisi lingkungan sekitar misalnya
penggunaan alat tradisional berupa sabit yang digunakan Pak Sukaeni untuk memanen
kelapa atau memanen padi. Hal ini didukung oleh pernyataan dari Sumarno (2006) bahwa
Pertanian Tekno-ekologis adalah usaha pertanian yang mengintegrasikan teknologi
produksi maju yang produktif-efisien, dengan tindakan pelestarian lingkungan dan mutu
sumber daya lahan, sehingga sistem produksi dapat berkelanjutan selain itu juga
menerapkan teknologi terbaru yang sesuai dengan kondisi agroekologi dan sosial ekonomi
pertaniannya. Teknologi terbaru tersebut berupa alat-alat mesin pertanian, sarana dan
prasarana usahatani, dan pengelolaan usahatani.

Gambar 3. Tanaman Padi dan Kelapa


Dalam pemanfaatan lahan perkebunan Pak Sukaeni memadukan dua jenis tanaman
yang berbeda yaitu tanaman padi dan tanaman kelapa yang memiliki peran masing masing.
Tanaman padi sebagai tanaman pangan dan limbahnya digunakan sebagai bahan pakan
cadangan untuk ternak kambing sedangkan pohon kelapa berperan menambah pendapatan
dan mengisi lahan kosong dipinggir perkebunan serta menambah keindahan kelestarian
lingkungan. Hal ini sebanding dengan pendapat Rauf dkk (2013) bahwa Pemanfaatan lahan
perkebunan dengan model tekno-ekologis dengan penerapan pemeliharaan berbagai
komoditi secara bersama-sama (kombinasi) atau berurutan antara tanaman pohon (hutan)
dengan komoditi pertanian (tanaman, ternak, dan atau ikan/kolam) secara optimal
merupakan sebuah sistem pertanian terpadu tidak hanya memberikan hasil nyata (tangible)
produk pertanian dan kehutanan, namun sekaligus berperan dalam pelestarian lingkungan
berupa kesejukan, kesegran, keindahan, biodiversitas, dan bahkan membantu memitigasi
gas rumah kaca (produk intangible) di kawasan pemukiman secara berkelanjutan.
Hal tersebut juga sebanding dengan pendapat dari Bambang dkk (2006) Tanaman
pakan yang diintegrasikan pada lahan usahatani tanaman pangan telah menambah hasil
hijauan pakan ternak dan dapat memenuhi kebutuhan pakan ternak yang dipelihara petani

16
di lokasi penelitian yang sebagian besar lahannya untuk pertanian selain itu petani biasa
menggunakan teknologi tertentu untuk mengolah pakan ternak.
Tabel 4. Analisis Usaha Model Pertanian Tekno-Ekologis di Lahan Perkebunan
Jenis Biaya Jenis komuditas Jumlah Harga
Pengeluaran Bibit kelapa 22 buah 1 bibit= 2.000
110.000
Padi 2 Ha 1.000.000
Bibit entok 10 ekor 1 ekor= 40.000
400.000
Kambing 10 ekor 7.000.000
Obat padi 1.020.000
Pupuk 4.000.000
Pembuatan galengan 1.600.000
Biaya panen padi 2.000.000
Biaya pekerja padi 50 orang 1.500.000
Konsentrat kambing 100 kg 300.000
Reaper 2.000.000
Biaya panen kelapa 2 orang 330.000
Dedak pakan entok 180 kg 360.000
Total 23.260.000
Pemasukan Padi 13 ton 58.500.000
Kelapa 440 buah 2.200.000
Kambing 10 ekor 30.000.000
Entok 30 ekor 1.200.000
Total 91.900.000
Keuntungan Rp.91.900.000 - Rp.23.260.000 = Rp.68.640.000

Sistem tanam yang digunakan oleh Pak Sukaeni yaitu tergantung dari proses
menanam tanaman misalnya tanaman pohon kelapa yang cara penanamannya
menggunakan tunas sedangkan untuk tanaman padi menggunakan benih karena dalam segi
ekonomis lebih murah dan daya tumbuhnya lebih tinggi. Hal ini sebanding oleh pendapat
Istiantoro (2013) bahwa sistem tanam yang sesuai dengan pertanian tekno-ekologis adalah
sistem tanam benih langsung (tabela) karena memiliki keunggulan antara lain lebih hemat
waktu, lebih hemat air, produktivitas meningkat (rata-ratasekitar 16,4 %) dan lebih hemat
tenaga karena tidak memerlukan tenaga untuk mencabut dan menanam bibit.

Gambar 4. Pemanenan Padi


17
Alat yang digunakan Pak Sukaeni untuk memanen padi dan kelapa pada
umumnya adalah sabit karena masih menggunakan peralatan tradisional. Pemanenan padi
dilakukan dengan cara memotong batang padi memakai sabit pada jarak 20-30cm dari
tanah. Selanjutnya, potongan batang padi tersebut diletakkan pada alas yang telah
disiapkan, lalu digulung dan dibawa ke tempat perontokkan, sedangkan cara pemanenan
kelapa dilakukan dengan menaiki pohon kelapa kemudian memotong tangkai kelapa
menggunakan sabit dan dibiarkan kelapa tersebut berjatuhan. Hal ini diperkuat oleh
pendapat Iswari (2012) bahwa alat pemanen padi berkembang dari sabit biasa, kemudian
menjadi sabit bergerigi dengan bahan baja yang sangat tajam, dan terakhir diintroduksikan
reaper, stripper, dan combineharvester. Reaper merupakan mesin pemanen untuk
memotong padi dengan sangat cepat. Prinsip kerjanya mirip dengan panen menggunakan
sabit. Mesin ini sewaktu bergerak maju akan menerjang dan memotong tegakan tanaman
padi dan menjatuhkan atau merobohkannya ke arah samping mesin reaper. Ada pula yang
mengikat tanaman yang terpotong menjadi seperti berbentuk sapu lidi ukuran besar. Pada
saat ini terdapat tiga jenis reaper, yaitu reaper tiga baris, empat baris, dan lima baris.
Combine harvester adalah mesin panen padi yang mampu menyelesaikan pekerjaan
menuai, merontok,memisahkan, membersihkan, dan mengayak gabah dalam satu urutan.
Karena strukturnya kompak, mobilitas tinggi, stabil, andal, ekonomis, dan kuat
aksesibilitasnya ke lahan sawah, pemanenan satu hektar padi hanya membutuhkan waktu 5
jam. Keuntungan lain, mesin ini hemat bahan bakar dan pengoperasian alat bermesin diesel
25PK hanya membutuhkan solar 6,5 l/ha.
Penanaman pohon kelapa oleh Bapak Sukaeni selain dimanfaatkan sebagai
sumber pendapatan ke dua juga di gunakan sebagai pakan ternak entoknya yang berasal
dari limbah buah kelapa berupa ampas kelapa karena banyak kandungan protein dan
karbohidrat yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan dari ternak tersebut. Hal ini
sebanding dengan pendapat Yulvianti dkk, (2015) bahwa ampas kelapa mengandung
protein, karbohidrat, rendah lemak dan kaya akan serat yang dibutuhkan untuk proses
fisiologis dalam tubuh ternak tetapi untuk memaksimalkan hasil perlu adanya pengolahan
dengan teknologi pengeringan beku (freeze dryer) yang merupakan salah satu metode
pengeringan yang mempunyai keunggulan dalam mempertahankan mutu hasil
pengeringan, khususnya untuk produk-produk yang sensitif terhadap panas, selain itu juga
dapat mempertahankan stabilitas produk (menghindari perubahan aroma, warna, dan unsur
organoleptik lain) dan dapat mempertahankan stabilitas struktur bahan (pengkerutan dan
perubahan bentuk setelah pengeringan sangat kecil).

18
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
1. Sistem pertanian campuran adalah penanaman berbagai macam tanaman baik
tanaman pangan maupun pakan pada satu lahan. Disini pertanian campuran
meliputi tanaman padi, cabe, kaliandra, dan rumput gajah.
2. Wanatani diartikan sebagai sistem penggunaan lahan yang berutama memadukan
antara tanaman pangan berumur pendek dengan tanaman pohon, semak atau
rumput makanan ternak.
3. Sistem pertanian tekno-ekologis adalah sistem pertanian yang menggabungkan
antara pertanian (tebu) dengan teknologi baik sederhana maupun modern serta
pemeliharaan ternak.
4. Sistem pertanian tekno-ekologis di lahan kebun merupakan sistem pertanian yang
menggabungkan antara penanaman tanaman kebun (kelapa) dan padi dengan
menggunakan teknologi pemanenan, serta terdapat pemeliharaan ternak.
5.2. Saran

19
Perlu pemahaman dan metode baru yang diterapkan oleh petani Dusun Sekar Sari,
terutama dalam mengolah lahan yang begitu luas sehingga mendapat pendapatan yang
lebih dan bisa diintegrasikan sebagai pertanian yang sustainabel.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurachman A. 2008. Strategi Dan Teknologi Pengelolaan Lahan Kering Mendukung


Pengadaan Pangan Nasional. Jurnal Litbang. 27 (2). 43-49
Bambang, S. R., Prawiradiputra dan Panjaitan, M. 2006. Integrasi Tanaman Pakan Pada
Sistem Usaha Tani Di Kecamatan Bayongbong Kabupaten Garut. Jurnal penelitian
peternakan.4(4).1-7
Djaenudin, D. 2008. Perkembangan Penelitian Sumber Daya Lahan dan Kontribusinya
untuk Mengatasi Kebutuhan Lahan Pertanian di Indonesia. Jurnal Litbang
Pertanian. 27(4):137-135.
Dwiyanto,K., Bambang, R. P. dan Darwinsyah, L. 2002. Integrasi Tanaman Ternak dalam
Pengembangan Agribisnis yang Berdaya Saing, Berkelanjutan dan Berkerakyatan.
Wartozoa. 12(1):1-9.
Elly, F. H. 2008. Pengembangan Usaha Ternak Sapi Rakyat Melalui Integrasi Sapi-
Tanaman Di Sulawesi Utara. Jurnal Litbang Pertanian, 27(2):63-68.
Guptav, V. 2012. Integrated Crop-Livestock Farming Systems: A Strategy for Resource
Conservation and Environmental Sustainability. Indian Research Journal of
Extension Education, Special Issue,2(1):49-54.
Istiantoro. B., Azis, N. dan Retnaningsih, S. T. 2013. Tingkat Penerapan Sistem Pertanian
Berkelanjutan Pada Budidaya Padi Sawah (Studi Kasus Di Kecamatan Ambal
Kabupaten Kebumen). Jurnal Nasional Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan
Lingkungan.1(2): 19-25.

20
Iswari, K. 2012. Kesiapan Teknologi Panen Dan Pascapanen Padi Dalam Menekan
Kehilangan Hasil dan Meningkatkan Mutu Beras. Jurnal Litbang Pertanian. 31 (2).
58-67
Kariyasa, K. 2005. Sistem Integrasi Tanaman-Ternak dalam Prespektif Reorientasi
Kebijakan Subsidi Pupuk dan Peningkatan Pendapatan Petani. Analisis Kebijakan
Pertanian. 3(1). 68-80.
Kasma, I. 2012. Kesiapan Teknologi Panen Dan Pascapanen Padi Dalam Menekan
Kehilangan Hasil dan Meningkatkan Mutu Beras. Jurnal Litbang Pertanian. 31 (2).
58-67
Kementerian Pertanian. 2014. Statistik Lahan Pertanian Tahun 2009-2013. Jakarta. Pusat
Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian.
Kurniawati, S. A., 2013. Analisis Kebisingan dan Getaran Mekanis Pada Mesin Saccof
Havester.Jurnal keteknikan pertanian. 27(1): 35-40.
Lanya, I., Subadiyasa, N. N., Kusmawati, T., Adi, I. G. P. R., Dibia, N, Kusmiyarti, T. B.,
Sardiana, K., dan Wikarniti, N. M. 2013. Pemberadyaan Masyarakat Tani Kota
Denpasar Menuju Pertanian Ramah Lingkungan Melalui Pelatihan Pembuatan
Pupuk Mineral Plus. Jurnal Udayana Mengabdi. 12(1):1-4.
Nurcholis, M. 2011. Pengembangan Integrated Farming System Untuk Pengendalian Alih
Fungsi Lahan Pertanian. Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian,1(1):71-84.
Nurhidayati, Pujiwati, I., Solichah, A., Djuhari, dan Basit, A. 2008. Pertanian Organik
Suatu Kajian Sistem Pertanian Terpadu dan Berkelanjutan. Malang. Fakultas
Pertanian Universitas Islam Malang.
Rauf, A .R. dan Said, D. B. 2013. Sistem Pertanian Terpadu Di Lahan Pekarangan
Mendukung Ketahanan Pangan Berkelanjutan Dan Berwawasan Lingkungan. Jurnal
online Pertanian Tropik Pasca Sarjana FP USU.1(1): 1-8
Russelle, M. P.2007. Reconsidering Integrated Crop–Livestock Systems in North America.
Agronomy Journal. 99(1):325-334.
Saputro, H. A., Mahmudy, W. F., dan Dewi, C. 2015. Implementasi Algoritma Genetika
untuk Optimasi Penggunaan Lahan Pertanaian. Jurnal Mahasiswa PTIIK
Universitas Brawijaya. 5(12):1-12.
Setiawan, E. 2009. Kearifan Lokal Pola Tanam Tumpangsari di Jawa Timur. Jurnal
Agrovigor. 2(2): 79-88.
Soedjana, T. D. 2007. Sistem Usaha Tani Terintegrasi Tanaman-Ternak sebagai Respons
Petani terhadap Faktor Risiko. Jurnal Litbang Pertanian. 26(2):82-87.

21
Subiharta, B. 2006. Sistem Integrasi Tanaman dan Ternak Berbasis Tanaman Pangan.
Laporan Tahunan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah.
Sumarno. 2006. Konsep Pertanian Modern, Ekologis Dan Berkelanjutan. Jurnal Politik
Pertanian. 5(3): 33-59
Suryanto, H. dan Prasetyawati, C. A. 2014. Model Agroforestri untuk Rehabilitasi Lahan di
Spoilbank Dam Bili-Bili Kabupaten Gowa. Jurnal Info Teknis EBONI. 11(1):15-26.
Yulvianti, M., Ernayati, W., Tarsono dan Alfian A. R. 2015. Pemanfaatan Ampas Kelapa
Sebagai Bahan Baku Tepung Kelapa Tinggi Serat Dengan Metode Freeze Drying.
Jurnal integrasi proses. 5 (2): 101- 107.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Dokumentasi Hasil Field Trip

Sawah Pak Teguh Setelah Panen Padi

Sawah setelah dipanen Foto bersama Pak Teguh

22
Sawah Pak Suhaer Yang Di Tanami Rumput Gajah
Pada Tepian

Sawah Bu Sukarmi yang Di Tanami Tebu

Sawah Pak Sukaeni Yang Siap Di Panen

23
Kambing Pak Sukaeni Yang Sedang Di Kandang
Entok Pak Sukaeni Yang Sedang Bermain

Teknologi Yang Di Pakai Pak Sukaeni Untuk Panen


Padi

24