Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Setiap mahluk hidup berhubungan dengan dunia luarnya. Untuk
mengenali dunia luarnya itu, setiap mahluk hidup dilengkapi dengan
organ indra. Sistem indra pada manusia juga dikenal dengan nama
panca indra. Panca indra adalah lima buah organ yang dikhususkan
untuk menerima jenis rangsangan tertentu. Di dalam tubuh manusia
terdapat organ-organ indra yang sangat penting (Alamsyah &
Wiratama, 2012).
Organ indra adalah bagian tubuh yang dapat bereaksi terhadap
cahaya, aroma, suara, rasa, zat kimia, dan sentuhan. Tubuh manusia
memiliki lima organ indra, yaitu: mata sebagai indra penglihatan yang
peka terhadap rangsangan cahaya, hidung sebagai indra penciuman
dan indra pembau yang peka terhadap rangsangan gas atau uap,
telinga sebagai indra pendengaran yang peka terhadap rangsangan
bunyi atau suara, lidah sebagai indra pengecap yang peka terhadap
rangsangan rasa dan kulit sebagai indra perasa dan indra peraba
yang peka terhadap rangsangan sentuhan, rabaan, suhu dan tekanan
(Alamsyah & Wiratama, 2012).
Masing-masing organ indra memiliki fungsi dan cara kerja yang
berbeda-beda yang perlu dipahami atau di mengerti oleh setiap orang.
Selain itu setiap orang juga mengetahui gangguan-gangguan yang
terjadi pada pancaindra manusia serta cara merawat panca indra
tersebut (Alamsyah & Wiratama, 2012).
Adapun hubungan percobaan dalam bidang farmasi yaitu
karena dalam bidang farmasi juga diperlukan pengetahuan mengenai
sistem indera yang berhubungan dengan pemerian obat dan
mekanisme kerja obat terhadap sistem indera tersebut.
I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
I.1.1 Maksud Percobaan
Untuk mengetahui dan memahami anatomi dan fisiologi
sistem indera.
I.1.2 Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui dan memahami bagian-bagian organ
dari setiap sistem indera dan proses impuls dari organ-organ
sistem indera
I.3 Prinsip Percobaan
Melakukan pengamatan sistem indera mulai dari bentuk,
nama, letak dan fungsinya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Teori Umum
Organ indra adalah bagian tubuh yang dapat bereaksi
terhadap cahaya, aroma, suara, rasa, zat kimia, dan sentuhan.
Sistem indera pada manusia dibagi menjadi : (Alamsyah, 2012)

1. Indera Penglihatan (Mata)

(Gambar Anatomi Mata)


Mata adalah indra pengelihatan. Mata dibentuk untuk
menerima rangsangan berkas-berkas cahaya pada retina lantas
dengan pengantaran serabut-serabut nerfus optikus mengalihkan
rangsangan ini kepusat pengelihatan pada otak untuk ditafsirkan
(Pearce, 2013).
Mata berbentuk seperti bola, terletak di rongga mata.
dinding rongga mata itu adalah tulang-tulang tengkorak, jadi sangat
keras. Hal ini baik sekali untuk melindungi mata yang lunak. Bola
mata mempunyai garis tengah kira-kira 2,3 cm, bagian depannya
bening. Adapun penerima rangsang cahaya yang akan dihayati
oleh otak sebagai pengelihatan ini terdapat di dalam bola mata
berbentuk sebagai selaput jala atau retina. Bagian dari alat
peneglihatan beserta kelengkapannya ialah bola mata, otot-otot
penggerak bola mata, kelopak mata dan kelenjar air mata sebagai
berikut : (Irianto, Des, 2012).
a. Bola Mata (Okulus)
Alat indra penerima rangsangan cahaya yang akan
dihayati oleh otak sebagai pengelihatan ini terdapat di dalam
bola mata (bulbus okuli). Bola mata itu sendiri mempunyai
lapisan dinding dan alat penerima rangsangan cahaya tersebut
terhadap lapisan terdalam yang dinamakan selaput jala atau
retina. Bola mata merupakan bentuk bundaran yang berongga
berisi suatu cairan bening setengah padat dan beberapa
kelengkapan lain yang berguna untuk penyempurnaan
pengelihatan. Dinding bola mata dari luar ke dalam berturut-
turut ialah:
1. Lapisan padat yang terdiri atas jaringan pengikat, lapisan
sebagian besar berwarna putih hingga dinamakan putih
mata atau sklera. Di daerah kutub depan, lapisan ini berubah
menjadi bening tembus cahaya. Bagian lapisan ini
dinamakan selaput bening atau kornea.
2. Lapisan anyaman pembuluh darah atau khoroid, dibelakang
selaput bening, lapisan anyaman pembuluh darah akan
memisahkan diri dan membentuk lempengan dengan lubang
ditengah. Lempeng yang terdapat di depan lensa disebut iris
dengan lubang bulat di tengah sebagai pupil.
b. Otot-otot Penggerak Bola Mata
Bola mata terletak dalam cekungan yang terbentuk oleh
bagian-bagian tulang tengkorak. Diantara tulang dan bola mata
terdapat jaringan lemak yang merupakan bantalan yang
melindungi alat vital tersebut. Untuk memperluas daerah
pengelihatan, maka bola mata harus dapat digerakkan ke
segenap penjuru sesuai kebutuhan. Bola mata tersebut dapat
digerakkan atas kehendak kita karena adanya otot-otot sean
lintang yang melekat pada permukaan luasr bola mata yaitu
sclera atau bagian putih bola mata.
c. Kelopak Mata
Karena bola mata merupakan alat pengelihatan yang
sangat penting bagi seseorang maka perlulah mendapat
perlindungan seperlunya. Untuk itu di sebelah depan dilengkapi
sepasang kelopak mata yang dapat ditutup atau dibuka menurut
kehendak kita. Gerak kelopak mata karena mengerutnya otot-
otot seran lintang.
d. Kelenjar Air Mata
Air mata merupakan cairan yang sangat penting.
Mengeluarkan air mata sangat berguna karena melumasi mata
agar terjaga kelembapannya. Dengan mengeluarkan air mata
maka akan terbebas dari debu dan partikel-partikel asing yang
sempat masuk ke dalamnya. Keluarnya air mata tal lepas dari
lapisan yang ada di dalam mata. lapisan air mata berfungsi
melindungi mata dari infeksi. Air mata membentuk lapisan
pelindung pada permukaan mata yang disebut lapisan air mata,
lapisan ini yang melapisi dan membasuh kornea mata kita
dalam hitungan detik, bila tidak dilindungi oleh air mata. lapisan
air mata sangat peka dan halus, letaknya di atas bola mata.
2. Indera Pendengaran dan Keseimbangan (Telinga)

(Gambar Anatomi Telinga)


Telinga merupakan alat indera yang peka terhadap rangsangan
berupa gelombang suara. Telinga manusia mampu mendengar suara
dengan frekuensi antara 20-20.000 Hz. Selain sebagai alat
pendengaran, telinga juga berfungsi menjaga keseimbangan
tubuh manusia (Pearce, 2013).
a. Bagian-bagian telinga (Pearce, 2013)
Telinga manusia dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu
bagian luar, bagian tengah, dan bagian dalam.
1. Telinga bagian luar
Telinga bagian luar terdiri atas:
- Daun telinga, berfungsi untuk menampung getaran.
- Saluran telinga luar atau lubang telinga, berfungsi menyalurkan
getaran.
- Kelenjar minyak, berfungsi menyaring udara yang masuk
sebagai pembawa gelombang suara.
- .Membran timpani atau selaput gendang, berfungsi menerima
dan memperbesar getaran suara.
2. Telinga bagian tengah
- Telinga bagian tengah terletak di sebelah dalam membran
timpani. Fungsi dari telinga bagian tengah adalah untuk
meneruskan getaran dari suara telinga bagian luar ke telinga
bagian dalam. Pada telinga tengah terdapat saluran Eustachius
dan tiga tulang pendengaran.
- Saluran Eustachius, berfungsi untuk mengurangi tekanan udara
di telinga tengah sehingga tekanan udara di luar dan di dalam
akan sama. Keseimbangan tekanan ini akan menjaga gendang
telinga supaya tidak rusak. Saluran ini akan tertutup dalam
keadaan biasa, dan akan terbuka jika kita menelan sesuatu.
- Tulang pendengaran, berfungsi untuk mengantarkan dan
memperbesar getaran ke telinga bagian dalam. Tulang
pendengaran ada tiga, yaitu tulang martil, tulang landasan, dan
tulang sanggurdi. Tulangtulang ini menghubungkan gendang
telinga dan tingkap jorong.
3. Telinga bagian dalam
Telinga bagian dalam berfungsi mengantarkan getaran suara ke
pusat pendengaran oleh urat saraf. Penyusun telinga bagian dalam
adalah sebagai berikut.
- Tingkap jorong, berfungsi menerima dan menyampaikan
getaran.
- Rumah siput, berfungsi menerima, memperbesar, dan
menyampaikan getaran suara ke saraf pendengaran. Di dalam
saluran rumah sifut terdapat cairan limfe dan terdapat ujung-
ujung saraf pendengaran.
- Tiga saluran setengah lingkaran, berfungsi sebagai alat untuk
mengetahui posisi tubuh dan menjaga keseimbangan.
b. Mekanisme kerja pendengaran
Suara yang kita dengar akan ditangkap oleh daun telinga,
kemudian sampai ke gendang telinga sehingga membuat gendang
telinga bergetar. Getaran ini diteruskan oleh tiga tulang pendengaran
ke tingkap jorong dan diteruskan ke rumah siput. Di dalam rumah siput,
cairan limfe akan bergetar sehingga meransang ujung-ujung saraf
pendengaran dan menimbulkan impuls saraf yang ditujukan ke otak
(Pearce, 2013).
Di dalam otak, impuls tersebut akan diolah sehingga kita bisa
mendengar dan mengenali suara tersebut.
Selain sebagai indera pendengar, telinga juga berfungsi sebagai
indera keseimbangan. Letak indera keseimbangan terdapat di dalam
ampula, yaitu pangkal dari tiga saluran setengah lingkaran yang
menggembung. Di dalam ampula terdapat sel-sel rambut yang peka
terhadap gravitasi. Bila kepala menggeleng, arah sel-sel rambut
berubah. Perubahan ini diterima oleh sel-sel saraf kemudian diteruskan
ke otak.
c. Gangguan pada Telinga
Ada dua penyebab gangguan telinga, yaitu gangguan
penghantar bunyi dan gangguan saraf. Gangguan telinga yang
disebabkan oleh gangguan saraf dan gangguan penghantar bunyi bisa
diatasi menggunakan alat pendengaran buatan. Alat ini mampu
memperbesar gelombang suara sebelum suara masuk ke telinga. Ada
bermacam gangguan telinga, yaitu : (Pearce, 2013)
1. Tuli, tuli ada dua macam yaitu:
- Tuli konduktif, terjadi karena gangguan transmisi suara ke dalam
koklea misalnya kotoran yang menumpuk, nanah yang memenuhi
telinga tengah pada peradangan menimbulkan kerusakan pada
tulang- tulang pendengaran.
- Tuli saraf, bila terjadi kerusakan koklea atau saraf pendengaran.
Ganguan telinga disebabkan oleh luka pada telinga bagian luar
yang telah terinfeksi atau otitis sehingga mengeluarkan nanah.
Gangguan ini dapat bersifat permanent jika terjadi infeksi yang
sangat parah. Penderita ini harus segera memeriksakan
telinganya pada dokter supaya bisa cepat disembuhkan.
Penumpukan kotoran sehingga menghalangi getaran suara untuk
sampai ke gendang telinga. Oleh karena itu, kita harus
membersihkan telinga dari kotoran dengan kapas minimal satu
kali dalam seminggu.
2. Kerusakan gendang telinga, misalnya gendang telinga pecah
Pecahnya gendang telinga bisa disebabkan oleh dua hal,
yaitu kapasitas suara yang didengar terlalu kuat dan terkena suatu
benda yang tajam, misalnya membersihkan telinga dengan peniti
atau lidi sehingga menyentuh gendang telinga dan menyebabkan
gendang telinga menjadi sobek. Gendang telinga sangat tipis
sekali.
- Otosklerosis, adalah kelainan pada tulang sanggurdi yang
ditandai dengan gejala tinitus (dering pada telinga) ketika masih
kecil.
- Presbikusis, adalah perusakan pada sel saraf telinga yang
terjadi pada usia manula.
- Rusaknya reseptor pendengaran pada telinga bagian dalam
akibat dari mendengarkan suara yang amat keras.
3. Indera penciuman/pembau (Hidung)

(Gambar Anatomi Hidung)


Hidung adalah alat indera yang menanggapi rangsangan berupa
bau atau zat kimia yang berupa gas. Di dalam rongga hidung terdapat
selaput rongga hidung. Pada selaput ini terdapat sel-sel pembau. Pada
sel-sel pembau terdapat ujung-ujung saraf pembau atau kranial (nerfus
olfaktorius) yang selanjutnya akan bergabung membentuk serabut-
serabut saraf pembau untuk berjalin dengan serabut-serabut otak
(bubus olfaktorius). Fungsi hidung adalah untuk menerima rangsangan
bau-bauan. Sel-sel pembau itu mempunyai rambut-rambut halus yang
mempunyai tugas menerima rangsangan bau-bauan yang berupa uap.
Dari sel-sel pembau itu keluar serabut-serabut saraf yang manuju ke
dalam otak melalui lubang-lubang tulang tapis (Irianto, Kus. 2013).
Indera pembau pada hidung dapat mengalami kelainan,
misalnya anosmia. Anosmia adalah kehilangan rasa bau yang dapat
disebabkan oleh : (Irianto, Kus. 2013)
a. Penyumbatan rongga hidung misalnya oleh tumor, polip.
b. Reseptor pembau rusak karena infeksi virus atau atrophi.
c. Gangguan pada saraf kesatu, bulbus, traktus alfaktorius ataupun
korteks otak karena benturan kepala ataupun tumor.
4. Indera Pengecap (Lidah)

(Gambar Anatomi Lidah)


Lidah adalah alat indera yang peka terhadap rangsangan berupa
zat kimia larutan. Lidah memiliki otot yang tebal, permukaannya
dilindungi oleh lendir dan penuh dengan bintil-bintil. Kita dapat
merasakan rasa pada lidah karena terdapat reseptor yang dapat
menerima rangsangan. Reseptor itu adalah papilla pengecap atau
kuncup pengecap. Kuncup pengecap merupakan kumpulan ujung-ujung
saraf yang terdapat pada bintil-bintil lidah. Papilla agak kasar karena
memiliki tonjolan-tonjolan pada permukaan lidah. Di dalam papila
terdapat banyak kuncup-kuncup pengecap (taste bud) yaitu suatu
bagian berbentuk bundar yang terdiri dari dua jenis sel yaitu sel-sel
penyokong dan sel-sel pengecap yang berfungsi sebagai reseptor
(Pearce, 2013).
Ganguan yang bersifat permanent misalnya terjadi padan orang
yang mengalami trauma pada bagian tertentu otak. Pada lidah juga
sering terjadi iritasi karena luka atau kekurangan vitamin C (Pearce,
2013).
5. Indera Peraba (Kulit)

Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan


membatasi dari lingkungan hidup manusia, juga merupakan organ
yang esensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan
kehidupan, disamping sebagai sarana kominikasi non verbal antara
individu. Kelembutan kulit bervariasi, demikian juga tebal tipis dan
elastisitasnya. Kulit yang elastic dan longgar terdapat pada kelopak
mata, bibir dan genitalia wanita. Kulit yang tebal terdapat pada telapak
tangan dan kaki. Kulit yang halus terdapat disekitar mata dan leher
(Amiruddin, 2003).
Kulit merupakan salah satu organ terbesar dari tubuh dimana
kulit membentuk 15% dari berat badan keseluruhan. Kulit mempunyai
daya regenerasi yang besar. Kulit menutupi dan melindungi
permukaan tubuh dan bersambung dengan selaput lendir yang
melapisi rongga (Setiadi, 2007).
Secara histologist, kulit tersusun atas: (Amiruddin, 2003)
a. Lapisan epidermis, dibentuk oleh 5 lapisan sel yaitu stratum
korneum (lapisan tanduk), lapisan kulit yang paling luar, stratum
lusidum berada langsung di bawah stratum korneum, jelas Nampak
pada telapak tangan dan kaki. Stratum spinosum, jelas pada
telapak tangan dan kaki. Diantrara sel-sel stratum spinosum
terdapat sel Langerhans yang mempunyai peranan penting dalam
sistem imun tubuh. Stratum basal, merupakan dasar epidermis
berproduksi dengan cara mitosis. Lapisan ini terdiri atas 2 jenis sel
yaitu, sel berbentuk koluminar dan sel pembentuk melanin, sel ini
mengandung butiran pigmen.
b. Lapisan dermis, lapisan ini jauh lebih tebal dari pada lapisan
epidermis, terbentuk oleh jaringan elastik dan fibrosan dengan
elemen seluler, kelenjar dan rambut sebagai adneksa kulit terdiri
atas pars papilaris dan paers retikularis.
c. Lapisan subkutis, lapisan ini merupakan kelanjutan dermis, terdiri
atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak.
Kulit dapat mengalami gangguan dan kelainan. Kelainan-
kelainan pada kulit antara lain: (Amiruddin, 2013)
1) Jerawat (acne) Ialah suatu peradangan dari kelenjar sebasea
terutama di daerah wajah, leher, dada, dan punggung. Biasanya
jerawat terjadi sewaktu pubertas karena waktu pubertas terjadi
perubahan komposisi hormon. Hormon akan merangsang
pertumbuhan dan aktivitas kelenjar sebasea. Kelenjar sebasea
memproduksi lemak bersama keringat. Lemak merupakan media
yang cocok bagi pertumbuhan bakteri.
2) Dermatitis, ialah suatu peradangan pada permukaan kulit yang
biasanya terasa gatal dengan tanda-tanda merah, bengkak,
melepuh, dan berair. Ini dapat disebabkan terkena zat kimia.
BAB III
PEMBAHASAN

Alat indra adalah alat tubuh yang berguna ntuk mengetahui


keadaan diluar tubuh. Alat indra ada 5 yaitu, mata, telinga, hidung dan
kulit. Kelima alat tersebut disebut panca indra. Pada setiap alat indra
terdapat saraf. Saraf ini akan menerima rangsangan dari luar tubuh,
kemudian mengirimkannya pada otak. Saat rangsangan diterima oleh otak
dengan baik, maka kita akan dapat melihat, mendengar, membau,
mengecap atau merabah.
a. Indra pengelihatan
Mata adalah indra pengelihatan. Mata dibentuk untuk menerima
rangsangan berkas-berkas cahaya pada retina lantas dengan
pengantaran serabut-serabut nerfus optikus mengalihkan rangsangan
ini kepusat pengelihatan pada otak untuk ditafsirkan (Pearch, 2013).
b. Indra Pendengaran
Telinga adalah organ pendengaran. Saraf yang melayani indra
ini adalah saraf kranial ke delapan atau nerfus auditorius. Telinga
terdiri atas tiga bagian: (Pearce, 2013)
1. Telinga luar, terdiri atas aurikel atau pina, yag pada binatang
rendahan berukuran besar serta dapat bergerak dan membantu
mengumpulkan gelombang suara. dan meatus auditorius eksterna
yang menjorok ke dalam menjauhi pina, serta menghantarkan
getaran suara menuju memran timpani.
2. Telinga tengah, atau rongga timpani adalah bilik kecil yang
mengandung udara. Rongga itu terletak di sebelah dalam memran
tempani atau gendang telinga yang memisahkan rongga itu dari
meatus auditorius eksterna. Rongga itu sempit dan memiliki dinding
tulang dan tulang memranosa, sementara pada bagian
belakangnya bersambung dengan atntrum mastoid dalam
prosesusmastoideus pada tulang temporalis, melalui sebuah celah
yang disebut aditus.
3. Rongga telinga dalam, berada dalam vagian os pertosum tulang
temporalis. Rongga telinga dalam itu terdiri atas berbagai rongga
yang menyerupai saluran-saluran dalam tulang temporalis.
c. Indra pembau (Hidung)
Di dalam rongga hidung terdapat selaput rongga hidung. Pada
selaput ini terdapat sel-sel pembau. Pada sel-sel pembau terdapat
ujung-ujung saraf pembau atau kranial (nerfus olfaktorius) yang
selanjutnya akan bergabung membentuk serabut-serabut saraf
pembau untuk berjalin dengan serabut-serabut otak (bubus
olfaktorius). Fungsi hidung adalah untuk menerima rangsangan bau-
bauan. Sel-sel pembau itu mempunyai rambut-rambut halus yang
mempunyai tugas menerima rangsangan bau-bauan yang berupa uap
(Irianto, Kus. 2013).
d. Indra pengecap (Lidah)
Lidah sebagian besar terdiri dari dua kelompok otot, yaitu : Otot
intrinsik lidah melakukan semua gerakan halus, sementara otot
ekstrinsik mengaitkan lidah pada bagian-bagian sekitarserta
melakukan gerakan-gerakan kasar yang sangat menekannya pada
langit-langit dan gigi yang pada akhirnya mendorong masuknya faring
(Irianto, Kus. 2013).
e. Indra peraba (Kulit)
Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan
membatasi dari lingkungan hidup manusia, juga merupakan organ
yang esensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan
kehidupan, disamping sebagai sarana kominikasi non verbal antara
individu (Amiruddin, 2003).
Kulit merupakan salah satu organ terbesar dari tubuh dimana
kulit membentuk 15% dari berat badan keseluruhan. Kulit mempunyai
daya regenerasi yang besar. Kulit menutupi dan melindungi
permukaan tubuh dan bersambung dengan selaput lendir yang
melapisi rongga (Setiadi, 2007).
Epidermis merupakan lapisan paling luar kulit dan terdiri atas
epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk. Epidermis hanya terdiri
dari jaringan epitel, tidak mempunyai pembuluh darah maupun limfa
oleh karena itu semua nutrien dan oksigen diperoleh dari kapiler pada
lapisan dermis. Epidermis terdiri atas 5 lapisan yaitu, dari dalam ke luar,
stratum basal, stratum spinosum, stratum granulosum, stratum lusidum,
dan stratum korneum : (Kalangi, 2013)
1. Stratum basal (lapis basal, lapis benih)
Lapisan ini terletak paling dalam dan terdiri atas satu lapis
sel yang tersusun berderet-deret di atas membran basal dan
melekat pada dermis di bawahnya. Sel-selnya kuboid atau silindris.
Intinya besar, jika dibanding ukuran selnya, dan sitoplasmanya
basofilik. Pada lapisan ini biasanya terlihat gambaran mitotik sel,
proliferasi selnya berfungsi untuk regenerasi epitel. Sel-sel pada
lapisan ini bermigrasi ke arah permukaan untuk memasok sel-sel
pada lapisan yang lebih superfisial. Pergerakan ini dipercepat oleh
adalah luka, dan regenerasinya dalam keadaan normal cepat.
2. Stratum spinosum (lapis taju)
Lapisan ini terdiri atas beberapa lapis sel yang besar-besar
berbentuk poligonal dengan inti lonjong. Sitoplasmanya kebiruan.
Bila dilakukan pengamatan dengan pembesaran obyektif 45x, maka
pada dinding sel yang berbatasan dengan sel di sebelahnya akan
terlihat taju-taju yang seolah-olah menghubungkan sel yang satu
dengan yang lainnya. Pada taju inilah terletak desmosom yang
melekatkan sel-sel satu sama lain pada lapisan ini. Semakin ke
atas bentuk sel semakin gepeng.
3. Stratum granulosum (lapis berbutir)
Lapisan ini terdiri atas 2-4 lapis sel gepeng yang
mengandung banyak granula basofilik yang disebut granula kerato-
hialin, yang dengan mikroskop elektron ternyata merupakan partikel
amorf tanpa membran tetapi dikelilingi ribosom. Mikro-filamen
melekat pada permukaan granula.
4. Stratum lusidum (lapis bening)
Lapisan ini dibentuk oleh 2-3 lapisan sel gepeng yang
tembus cahaya, dan agak eosinofilik. Tak ada inti maupun organel
pada sel-sel lapisan ini. Walaupun ada sedikit desmosom, tetapi
pada lapisan ini adhesi kurang sehingga pada sajian seringkali
tampak garis celah yang memisahkan stratum korneum dari lapisan
lain di bawahnya.
5. Stratum korneum (lapis tanduk)
Lapisan ini terdiri atas banyak lapisan sel-sel mati, pipih dan
tidak berinti serta sitoplasmanya digantikan oleh keratin. Sel-sel
yang paling permukaan merupa-kan sisik zat tanduk yang
terdehidrasi yang selalu terkelupas.
Proses Pembentukan Melanin : (Bloom, 2004)
Melanin dibentuk oleh melanosit dengan enzim tirosinase
memainkan peranan penting dalam proses pembentukannya.
Sebagai akibat dari kerja enzim tironase, tiroksin diubah menjadi
3,4 dihidroksiferil alanin (DOPA) dan kemudian menjadi
dopaquinone, yang kemudian dikonversi, setelah melalui beberapa
tahap transformasi menjadi melanin. Enzim tirosinase dibentuk
dalam ribosom, ditransfer dalam lumer retikulum endoplasma kasar,
melanosit diakumulasi dalam vesikel yang dibentuk oleh kompleks
golgi. 4 tahapan yang dapat dibedakan pada pembentukan granul
melanin yang matang.
Tahap 1 : Sebuah vesikel dikelilingi oleh membran dan menunjukkan
awal proses dari aktivitas enzim tirosinase dan
pembentukan substansi granul halus; pada bagian
perifernya. Untaian-untaian padat elektron memiliki suatu
susunan molekul tirosinase yang rapi pada sebuah matrik
protein.
Tahap 2 : Vesikel (melanosom) berbentuk oval dan memperlihatkan
pada bagian dalam filamen-filamen dengan jarak sekitar
10 nm atau garis lintang dengan jarak sama. Melanin
disimpan dalam matriks protein.
Tahap 3 : Peningkatan pembentukan melanin membuat struktur
halus agak sulit terlihat.
Tahap 4 : Granul melanin matang dapat terlihat dengan mikroskop
cahaya dan melanin secara sempurna mengisi vesikel.
Utrastruktur tidak ada yang terlihat. Granul yang matang
berbentuk elips, dengan panjang 1 μm dan diameter 0,4
μm.
e. Indra pengecap (Lidah)
Lidah sebagian besar terdiri dari dua kelompok otot, yaitu : Otot
intrinsik lidah melakukan semua gerakan halus, sementara otot
ekstrinsik mengaitkan lidah pada bagian-bagian sekitarserta
melakukan gerakan-gerakan kasar yang sangat menekannya pada
langit-langit dan gigi yang pada akhirnya mendorong masuknya faring
(Irianto, Kus. 2013).
BAB IV
PENUTUP

IV.1 Kesimpulan
Alat indera adalah alat tubuh yang berguna untuk mengetahui
keadaan d luar tubuh. Alat indra ada lima yaitu mata, telinga, hidung,
lidah dan kulit. Kelima alat indra itu disebut panca indra. Pada setiap
alat indra terdapat saraf. Saraf ini akan menerima rangsangan dari
luar tubuh, kemudian mengirimkannya pada otak. Saat rangsangan
diterima oleh otak dengan baik maka kita dapat melihat, mendengar,
membau, mengecap atau meraba.
IV.2 Saran
Disarankan agar sebaiknya alat yang berhubungan dengan
praktikum disediakan sebelum praktikum sehingga praktikum
berjalan dengan lancar.
DAFTAR PUSTAKA

Alamsyah, 2012, Perangkat Lunak Pembelajaran Pancaindra Manusia


Untuk Tingkat SMP Berbasis Android, Program Studi Teknik
Informatika STMIK LPKIA, Jurnal LPKI, Vol.1. No. 1.p.22.

Amiruddin, 2003, Ilmu Penyakit Kulit. LKis, Yogyakarta

Bloom, 2004, Buku Ajar Histologi. Edisi ke-12, Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta.

Irianto, Des, 2012, Anatomi dan Fisiologi. Penerbit Alfa Beta, Bandung

Irianto, Kus, 2013, Anatomi dan Fisiologi Untuk Manusia. Alfa Beta:
Bandung

Kalangi, Sony, 2013, Histologi Kulit, Jurnal Biomedik (JBM), Volume 5,


Nomor 3, Suplemen. hlm. S12-20.

Pearce, Evelyn, 2013, Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis, PT.


Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Setiadi, 2007, Anatomi Dan Fisiologi Manusia, Graha Ilmu, Yogyakarta.


LAPORAN PRAKTIKUM

ANATOMI DAN FISIOLOGI MANUSIA

“SISTEM INDERA”

OLEH :
KELOMPOK : I (SATU)
ANGGOTA : RIZKI WAHYUNI 16.01.268
YUSTI PUNAMA SARI 16.01.273
ROSALIA MEKTILDIS 16.01.288
WARDIAH ADAM 16.01.278
WAHYUNI ABDULLAH 16.01.283
GEBBY SELLA PATASIK 14.01.172
GOLONGAN : I (SATU)
KELAS : TRANSFER B
ASISTEN : MARIANA BARUNG

LABORATORIUM FARMAKOLOGI

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI

MAKASSAR

2017