Anda di halaman 1dari 11

Modul perpindahan panas dasar

PERTEMUAN KE-12:
PERPINDAHAN PANAS PERLUASAN PERMUKAAN

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Adapun tujuan pembelajaran yang akan dicapai adalah:
1. Mahasiswa mampu memahami perpindahan panas pada perluasan
permukaan.
2. Mahasiswa mampu menghitung perpindahan panas pada bentuk
permukaan fin silinder.

B. URAIAN MATERI

PERPINDAHAN PANAS PADA PERLUASAN PERMUKAAN


Pada bagian ini, kita akan menganalisa perpindahan panas dari
pengembangan permukaan, seperti fin. Perkembangan permukaan biasanya
dikembangkan struktur bertujuan meningkatkan laju penghilangan panas.
Perluasan permukaan berpengaruh kepada perbesaran area.
Contoh yang paling popular pada perluasan permukaan seperti sendok yang
diletakkan di dalam secangkir kopi panas. Tangkai sendok diperluas untuk
menghasilkan permukaan bebas dari larutan. Panas yang hilang dari kopi melalui
sisi cangkir, bawah, dan permukaan. Panas juga dikonduksi terhadap tangkai
sendok, menyebabkan tangkai menjadi lebih hangat dari pada udara lingkungan.
Panas terkonduksi ke tangkai yang kemudian berpindah ke lingkungan udara
dengan konveksi.
Di dalam industri, fin sangat luas penggunaannya, seperti peralatan elektrik untuk
membantu penghamburan panas. Fin didisain untuk peralatan pendingin
elektronik ditunjukan pada Gambar 12.1. Aplikasi fin lainnya seperti singel dan
double pipe heat exchanger.

S1 Teknik Mesin- Universitas Pamulang 1


Created by yohan
Modul perpindahan panas dasar

Gambar 12.1. fin peralatan pendingin elektronik

Aplikasi yang lebih dikenal pada fin ditemukan pada mesin pendingin udara atau
kompresor, dimana bentuk fin melintang dicetak pada bagian dinding silinder
mesin. Gambar 12.2. berisi gambar beberapa jenis fin.

Gambar 12.2. Silinder dinding kompresor

Konveksi penting untuk proses perpindahan panas dari perluasan permukaan.


Dinding bidang yang mengalami peningkatan temperatur akan menghilangkan
panas melalui kontak dengan fluida yang lebih dingin. Hilangnya panas pada
dinding dapat ditingkatkan dengan cara meningkatkan koefisien lapisan konveksi

S1 Teknik Mesin- Universitas Pamulang 2


Created by yohan
Modul perpindahan panas dasar

( h ), atau dengan memperluas permukaan (A). Meningkatkan koefisien film dapat


menggunakan kipas atau pompa. Meningkatkan area dengan arti memperluas
permukaan atau fin dapat mengurangi biaya untuk meningkatkan laju perpindahan
panas. Dalam pemasangan fin perlu mengetahui efisiensi pendingin maksimum
terhadap jumlah minimal material dan biaya. Pertimbangan lainnya termasuk
berat dan kebutuhan tempat, aliran fluida lingkungan dan kekuatan yang sesuai.

19.2. PERSAMAAN UMUM DIFFERENSIAL UNTUK PERLUASAN


PERMUKAAN
Tujuan menambah luas permukaan bertujuan menghamburkan panas.
Sebagaimana kasus konduksi sebelumnya, jika pendistribusian temperatur
diketahui, kemudian laju perpindahan panas dapat ditentukan. Pada bab ini, kita
akan mengembangkan persamaan diferensial untuk memperluas permukaan.
Kita akan pisahkan lebar dz pada volume yang dianalisis. Panas yang terkonduksi
ke kontrol volum pada laju qz, qz+dz merupakan terkonduksi keluar, sedangkan
dqc merupakan terkonveksi melalui permukaan area dAz. Sehingga kondisi
keadaan tetap, kondukstivitas termal tetap, dan tidak ada panas internal, dan
mengabaikan radiasi, kita tuliskan
laju energi laju energi laju energi
konduksi ke dalam = konduksi keluar dari + terkonveksi dari
kontrol volume kontrol volume kontrol volume
Untuk sistem pada Gambar 19.3. Persamaan ini menjadi

S1 Teknik Mesin- Universitas Pamulang 3


Created by yohan
Modul perpindahan panas dasar

Gambar 12.3. Perluasan permukaan bentuk sembarang

Penyederhanaan dan penyusunan kembali

..................................................... 12.11
Hukum fourier , kita dapatkan
dT
q = −k A
dz
Dimana : k merupakan konduktivitas termal dari material fin, A merupakan area
lintas dengan variasi z, dan dT/dz merupakan gradien temperatur. Diferensial
terhadap z diberikan

.............................................12.12
Perpindahan panas akibat konveksi dievaluasi dengan hukum newton :
dq = h A (T − T )
Dimana hc merupakan koefisien konfeksi yang diasumsikan konstan yang masuk
melalui permukaan fin, dAs merupakan luas permukaan, dan (T-Tw) merupakan
perbedaan temperatur antara fin dan lingkungan. Untuk menghitung energi yang
terkonveksi terbuang, kita menggunakan hukum newton pendingin. Berdasarkan,
koefisien konveksi hc diasumsikan konstan.

S1 Teknik Mesin- Universitas Pamulang 4


Created by yohan
Modul perpindahan panas dasar

d dT
−k A = h A (T − T )
d dz
Dibagi dengan k dz sehingga menghasilkan

Penyusunan kembali

...............................12.13

Sejumlah kasus, membantu kita untuk lebih mudah memahami persamaan


diferensila dengan memperkenalkan variabel baru. Prosedur ini tidak selalu di
butuhkan, tetapi agar membuat matematika lebih mudah. Perhatikan persamaan
19.4 variabel terkait didalam istilah pertama dan kedua adalah temperatur T. Di
dalam istilah ke tiga variable terkait adalah T − T . kita mengetahui bahwa
perbedaan temperatur bersifat sugnifikan, karena hal itu memberikan gaya untuk
memindahkan panas. Maka kita mengarapkan penulisan kembali persamaan 12.4
membuat lebih mudah. Berdasarkan pengalaman persamaan diferensial, kita
berikan istilah baru dengan variabel θ , yang didefenisikan sebagai
θ = T − T ...........................................12.14a
derivatif temperatur terhadap z sebagai berikut

= ..............................................12.14b

Dan juga

= .............................................12.14c

Substitusi persamaan 19.6 ke dalam persamaan 19.4

...............................12.15

19.3. ANALISIS PIN FIN


Pada bagian ini, kita akan memilah bagian spesifik pada fin dan menganalisanya.
Fin yang kita pilih dikenal sebagai ” pin fin” atau sirip. Pin fin merupakan tangkai
yang melekat pada bidang yang ditunjukkan pada Gambar 19.6. pin fin

S1 Teknik Mesin- Universitas Pamulang 5


Created by yohan
Modul perpindahan panas dasar

mempunyai panjang L, diameter D dengan tegak lurus A, perimeter P, koefisien


konveksi hc, dan konduktivitas termal k. Temperatur lingkungan yaitu T , kita
asumsikan bahwa baik sedikit atau tidak ada panas yang terdapat di ujung pin,
karena area ujung dianggap kecil dibandingkan dengan luas permukaan yang
tersisa dari fin (yaitu sirip panjang). Ini setara dengan asumsi ujung fin terisolasi
yang merupakan kondisi batas. Pada akar sirip (melekat pada bidang), temperatur
bidang yaitu Tw, dengan luas penampang konstan.

= 0 .......................................................12.16

Perimeter fin dapat dituliskan dalam istilah area permukaan


P dz = dAs

Gambar 12.4. Sketsa fin silinder atau spine

= P ....................................................12.17

Substitusi persaman 12.6 dan 12.7 ke persamaan 12.5

...........................................12.18
Cara biasa untuk mendefenisikan parameter m yaitu

......................................................12.19

− m θ = 0 ...........................................12.20

Persamaan umum untuk persamaan 12.20 dapat ditulis dengan dua cara
θ = C cosh( ) + C sinh (mz) ............................12.21a
θ=C + C ................................12.21b

S1 Teknik Mesin- Universitas Pamulang 6


Created by yohan
Modul perpindahan panas dasar

dimana variabel C merupakan konstanta integrasi. Secara matematis tidak ada


perbedaan didalam persamaan ini. Secara fisika kita lebih ke persamaan 12.21a.
persamaan 12.21b ditulis dalam bentuk eksponen, yang lebih sesuai untuk
geometri tak hingga atau sangat luas.
Konstanta C1 dan C2 dapat dievaluasi dengan membatasinya.
1. Pada saat z =0, T = Tw
2. Pada saar z = L , dT/dz = 0
Kondisi batas 1 (B.C.1) menentukan temperatur dinding, ketika B.C.2 dikatakan
tidak adanya panas yang berpindah di daerah ujung. Ini alasan diasumsikannya,
karena area ujung kecil kemungkinan. Istilah θ = T-Tw. Kondisi batas menjadi
1. Pada saat z = 0, θ = T − T

2. Pada saat z = L, =0

Dimana notasi θ telah diketahui. Diperoleh B.C.1 ke persamaan 12.21a


θ = C cosh( ) + C sinh (mz)
θ = C (1) + C (0)
θ =C

Sebelumnya diperoleh B.C.2, kita harus tentukan :

θ = θ cosh( ) + C sinh (mz)



= θ sinh( ) + C cosh (mz)
dz
Diperoleh B.C.2 , didapatkan
0 = θ sinh( ) + C cosh (mL)
θ sinh( )
C =−
C cosh (mL)
Solusinya menjadi
( ) ( ) ( ) ( )
= ( )
................................12.22a

Bentuk alternatif menggunakan identitas triginometri menjadi


([ ( / )]
= ( )
..........................................12.22b

[ ]
= .......................................12.22c

S1 Teknik Mesin- Universitas Pamulang 7


Created by yohan
Modul perpindahan panas dasar

Panas yang hilang dari fin sama dengan panas yang terkonduksi ke dalamnya pada
dinding. Menggunakan hukum Fourier

q = −k A =q = −k A

q = tanh(m ) kAmθ ..........................................................(12.23a)

Contoh soal
Sebuah pemanggang terdiri dari dasar dan gantungan penutup. Penutup terbuka
dengan menaikkan batang logam ke penutup, lihat gambar 19.7. selama
penggunaan, penutup mencapai peningkatan temperatur seragam 200 oF. Aanalisa
batang (a) tentukan temperatur profil dan (b) menghitung seberapa banyak panas
batang yang terbuang. Tentukan juga (c) efisiensi dan (d) efektivitas
Solusi
Batang akan didefinisikan sebagai fin terhadap temperatur bidang 200 oF

Gambar 19.8 efektifitas pin fin. Catatan bahwa efektifitas tidak selalu kurang dari
1.0

S1 Teknik Mesin- Universitas Pamulang 8


Created by yohan
Modul perpindahan panas dasar

Gambar 12.9. pemanggang terdiri dari base dan penutup


(a) Temperatur profil dapat kita hitung dengan persamaan 19.10

Dimana m = h p/kA . dengan D = 5/16 inci, sehingga

P=π = 0,0818 ft

πD π 5
A= = = 0,000533 ft
4 4 6(12)
Dari lampiran Tabel B.82, untuk baja karbon rendah (1C), mempunyai k = 24,8
BTU/(hr.ft.oR). sehingga

1(0,0818)
m= = 2,488/ft
[24,8(0,000533)]

panjang batang
L= 4,5 inci = 0,375 ft
Mensubtitusikan persamaan

Perpindahan panas menjadi

S1 Teknik Mesin- Universitas Pamulang 9


Created by yohan
Modul perpindahan panas dasar

(b) efisiensi fin dapat ditemukan dengan grafik


dengan mL = 2,48 (0,375) = 0,933 sehingga didapat

(c) efektifitas dapat ditentukan dengan persamaan

C. TUGAS
1. Sebuah probe temperatur udara berbentuk fin. Hitunglah temperatur yang
direkam oleh alat dengan panjang probe , L = 20 mm, k = 19 W/m.K, D = 3 mm,
kemudian terdapat koefisien perpindahan panas h = 50 W/m2.K, dimana
temperatur udara 50 oF dan temperatur permukaan probe 60 oC.

D. DAFTAR PUSTAKA
Ambarita, H. 2015. Diktat kuliah perpindahan panas I. Repository teknik mesin
USU press. Universitas Sumatera Utara.
Kaviany, M. 2014. Heat Transfer physics Second Edition. Cambridge University
Press. Cambridge.
Lienhard, J.H,. 2006. A Heat Transfer text book third edition. Phlogiston press,
Cambridge.
Howard, E.B. 1984. Practical Heat treating. American Society for Metal. Georgia
Theodore, L.B., Lavine, A.S., Incropera, F.P., Dewitt, D.P. 2011. Fundamental of
Heat and Mass Transfer Seven Edition. John and Willey
Sons. United State of America : ISBN 13 978-0470-50197-9.

S1 Teknik Mesin- Universitas Pamulang 10


Created by yohan
Modul perpindahan panas dasar

William, S.J.2000. Engineering Heat Transfer. Second Edition. CRC press. New
york.

S1 Teknik Mesin- Universitas Pamulang 11


Created by yohan