Anda di halaman 1dari 23

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Dermatofitosis
1.1.1 Definisi
Dermatofitosis adalah penyakit jamur pada jaringan yang mengandung

zat tanduk, seperti kuku, rambut, dan stratum korneum pada epidermis, yang

disebabkan oleh golongan jamur dermatofita. 1

1.1.2 Etiologi

Penyebab dermatofitosis adalah jamur golongan dermatofita yang

merupakan golongan jamur yang dapat mencerna keratin dengan enzim

keratinase. Jamur dermatofita itu terdiri atas 3 genus, yaitu : 1,2,3

a. Trichophyton, sp
b. Microsporum, sp
c. Epidermophyton, sp.

Berdasarkan ekologi :

a. Antropofilik : T. rubrum, T. mentagrophytes var.


b. Zoofilik : M. canis, T. mentagrophytes var. granulare
c. Geofilik : M. Gypseum

Spesies dan lokasi infeksi :

a. Rambut : Microsporum, Trichophyton


b. Kulit : Trichophyton, Microsporum, Epidermophyton
c. Kuku : Trichophyton, Epidermophyton, Microsporum

1.1.3 Klasifikasi

Klasifikasi berdasarkan lokasi :

1. Tinea kapitis
Merupakan dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala.
2. Tinea barbe
Merupakan dermatofitosis pada dagu dan jenggot.
3. Tinea kruris

1
Merupakan dermatofitosis pada daerah genitokrural, sekitar anus, bokong, dan

kadang-kadang sampai perut bagian bawah.


4. Tinea pedis et manum
Merupakan dermatofitosis pada kaki dan tangan.
5. Tinea unguium
Merupakan dermatofitosis pada kuku jari kaki dan tangan.
6. Tinea korporis
Merupakan dermatofitosis pada bagian lain yang tidak termasuk bentuk 6 tinea

diatas.

Selain 6 bentuk tinea, dikenal istilah yang mempunyai arti khusus, yaitu :

a. Tinea imbrikata
Merupakan dermatofitosis dengan susunan skuama yang konsentris dan

disebabkan Trichopyton concentricum.


b. Tinea favosa atau favus
Merupakan dermatofitosis yang gambaran klinisnya terbentuk skutula dan

berbau seperti tikus (mousy odor) yang terutama disebabkan oleh Trichopyton

schoenleini.
c. Tinea fasialis, Tinea aksilaris
Merupakan dermatofitosis yang menunjukkan daerah lain seperti wajah

(fasialis) dan ketiak (aksilaris).


d. Tinea sirsinata, arkuata

2
Merupakan penamaan berdasarkan deskriptif morfologis.
e. Tinea kognito
Merupakan dermatofitosis dengan bentuk klinis tidak khas oleh karena telah

diobati dengan steroid topical kuat.

1.2 Tinea Korporis

1.2.1 Definisi

Tinea korporis adalah penyakit dermatofit pada kulit glabrosa, selain kulit

kepala, wajah, kaki, telapak tangan dan kaki, janggut dan lipatan paha. 1,2,3

Manifestasinya akibat infiltrasi dan proliferasinya pada stratum korneum dan

tidak berkembang pada jaringan yang hidup.1,4 Metabolisme dari jamur dipercaya

menyebabkan efek toksik dan respon alergi. Tinea korporis umumnya tersebar

pada seluruh masyarakat tapi lebih banyak di daerah tropis.1

Penyakit ini dapat terjadi pada semua umur dan paling sering terjadi pada

iklim yang panas (tropis dan subtropis).5,6 Ada beberapa macam variasi klinis

dengan lesi yang bervariasi dalam ukuran derajat inflamasi dan kedalamannya.

Variasi ini akibat perbedaan imunitas hospes dan spesies dari jamur.5

1.2.2 Epidemiologi

Tinea korporis merupakan infeksi yang umumnya sering dijumpai didaerah

yang panas, Tricophyton rubrum merupakan infeksi yang paling umum diseluruh

dunia dan sekitar 47 % menyebabkan tinea korporis. Tricophyton tonsuran

merupakan dermatofit yang lebih umum menyebabkan tinea kapitis, dan orang

dengan infeksi tinea kapitis antropofilik akan berkembang menjadi tinea

korporis.. Walaupun prevalensi tinea korporis dapat disebabkan oleh peningkatan

Tricophyton tonsuran, Microsporum canis merupakan organisme ketiga sekitar

14 % menyebabkan tinea korporis.7

3
Tinea korporis mungkin ditransmisikan secara langsung dari infeksi

manusia atau hewan melalui autoinokulasi dari reservoir, seperti kolonisasi

T.rubrum di kaki. Anak-anak lebih sering kontak pada zoofilik patogen seperti

M.canis pada kucing atau anjing. Pakaian ketat dan cuaca panas dihubungkan

dengan banyaknya frekuensi dan beratnya erupsi. 2

Infeksi dermatofit tidak menyebabkan mortalitas yang signifikan tetapi

mereka bisa berpengaruh besar terhadap kualitas hidup. Tinea korporis

prevalensinya sama antara pria dan wanita. Tinea korporis mengenai semua orang

dari semua tingkatan usia tapi prevalensinya lebih tinggi pada preadolescen. Tinea

korporis yang berasal dari binatang umumnya lebih sering terjadi pada anak-

anak.7,8 Secara geografi lebih sering pada daerah tropis daripada subtropis.8

Berdasarkan habitatnya dermatofit digolongkan sebagai antropofilik

(manusia), zoofilik (hewan), dan geofilik (tanah). Dermatofit yang antropofilik

paling sering sebagai sumber infeksi tinea, tetapi sumber yang zoofilik di

identifikasi (jika mungkin) untuk mencegah reinfeksi manusia.9

1.2.3 Etiologi

Tinea korporis dapat disebabkan oleh berbagai spesies dermatofit seperti

Trichophyton, Microsporum, dan Epidermophyton. Variasi penyebabnya dapat

ditemukan berdasarkan spesies yang terdapat di daerah tertentu.1,6 Namun

demikian yang lebih umum menyebabkan tinea korporis adalah T.rubrum,

T.mentagrophytes, dan M.canis.1

1.2.4 Patofisiologi

Dermatofitosis bukanlah patogen endogen. Transmisi dermatofit kemanusia

dapat melalui 3 sumber masing-masing memberikan gambaran tipikal. Karena

4
dermatofit tidak memiliki virulensi secara khusus dan khas hanya menginvasi

bagian luar stratum korneum dari kulit.3

Tabel 1.1 Perjalanan Penyakit berdasarkan cara penularannya

Types Of Dermatophytes Based On Mode Of Transmission


Category Mode of transmission Typical clinical features
Antropofilik Manusia ke manusia Ringan, tanpa inflamasi, kronik

Zoofilik Hewan ke manusia Inflamasi hebat (mungkin pustula dan

vesikel), akut.

Geofilik Tanah ke manusia atau Inflamasi sedang

hewan

Lingkungan kulit yang sesuai merupakan faktor penting dalam

perkembangan klinis dermatofitosis. Infeksi alami disebabkan oleh deposisi

langsung spora atau hifa pada permukaan kulit yang mudah dimasuki dan

umumnya tinggal di stratum korneum, dengan bantuan panas, kelembaban dan

kondisi lain yang mendukung seperti trauma, keringat yang berlebih dan maserasi

juga berpengaruh.4,7,10

Pemakaian bahan yang tidak berpori akan meningkatkan temperatur dan

keringat sehingga mengganggu fungsi barier stratum korneum. Infeksi dapat

ditularkan melalui kontak langsung dengan individu atau hewan yang terinfeksi,

benda-benda seperti pakaian, alat-alat dan lain-lain. Infeksi dimulai dengan

terjadinya kolonisasi hifa atau cabang-cabangnya dalam jaringan keratin yang

mati. Hifa ini memproduksi enzim keratolitik yang mengadakan difusi ke dalam

jaringan epidermis dan merusak keratinosit. 7,10

Setelah masa perkembangannya (inkubasi) sekitar 1-3 minggu respon

5
jaringan terhadap infeksi semakin jelas dan meninggi yang disebut ringworm,

yang menginvasi bagian perifer kulit. Respon terhadap infeksi, dimana bagian

aktif akan meningkatkan proses proliferasi sel epidermis dan menghasilkan

skuama. Kondisi ini akan menciptakan bagian tepi aktif untuk berkembang dan

bagian pusat akan bersih. Eliminasi dermatofit dilakukan oleh sistem pertahanan

tubuh (imunitas) seluler.7,10

Pada masa inkubasi, dermatofit tumbuh dalam stratum korneum, kadang-

kadang disertai tanda klinis yang minimal. Pada carier, dermatofit pada kulit yang

normal dapat diketahui dengan pemeriksaan KOH atau kultur.10

1.2.5 Gambaran Klinik

Tinea korporis bisa mengenai bagian tubuh manapun meskipun lebih sering

terjadi pada bagian yang terpapar. Pada penyebab antropofilik biasanya terdapat di

daerah yang tertutup atau oklusif atau daerah trauma.6

Keluhan berupa rasa gatal. Pada kasus yang tipikal didapatkan lesi bulla

yang berbatas tegas, pada tepi lesi tampak tanda radang lebih aktif dan bagian

tengah cenderung menyembuh. Lesi yang berdekatan dapat membentuk pola

gyrate atau polisiklik. Derajat inflamasi bervariasi, dengan morfologi dari eritema

sampai pustula, bergantung pada spesies penyebab dan status imun pasien. Pada

penyebab zoofilik umumnya didapatkan tanda inflamasi akut. Pada keadaan

imunosupresif, lesi sering menjadi lebih luas.6

Tinea korporis dapat bermanifestasi sebagai gambaran tipikal, dimulai

sebagai lesi eritematosa, plak yang bersisik yang memburuk dan membesar,

selanjutnya bagian tengah dari lesi akan menjadi bentuk yang anular akan

mengalami resolusi, dan bentuk lesi menjadi anular.1,5,7,10,11 berupa skuama, krusta,

6
vesikel, dan papul sering berkembang, khususnya pada bagian tepinya. Kadang-

kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan. Lesi pada umumnya merupakan

bercak terpisah satu dengan yang lainnya.10

Pada tinea korporis yang menahun, tanda radang akut biasanya tidak terlihat

lagi. Kelainan ini dapat terjadi pada tiap bagian tubuh dan bersama-sama dengan

kelainan pada sela paha. Dalam hal ini disebut tinea korporis dan kruris.12

Bentuk khas tinea korporis yang disebabkan oleh Trichophyton

concentricum disebut tinea imbrikata. Tinea imbrikata mulai dengan bentuk papul

berwarna coklat, yang perlahan-lahan menjadi besar. Stratum korneum bagian

tengah ini terlepas dari dasarnya dan melebar. Proses ini setelah beberapa waktu

mulai lagi dari bagian tengah, sehingga terbentuk lingkaran-lingkaran skuama

yang konsentris. 7

Infeksi dermatofit secara zoofilik atau geofilik lebih sering menyebabkan

respon inflamasi daripada yang disebabkan oleh mikroba antropofilik. Umumnya,

pasien HIV-positif atau imunokompromise bisa terlihat dengan abses yang dalam

dan meluas. 7

Tinea korporis lebih sering ditemukan sebagai asimptomatik atau gatal

ringan. Secara obyektif tipikal lesinya mulai sebagai makula eritematosa atau

papul yang menjalar dan berkembang menjadi anular, dan lesi berbatas tegas,

skuama atau vesikel, tepi yang berkembang dan healing center. Tinea korporis

lebih sering pada permukaan tubuh yang terbuka antara lain wajah, lengan dan

bahu.13

1.2.6 Pemeriksaan Penunjang

Dalam patogenesisnya, jamur patogen akan menyebabkan kelainan pada

7
kulit sehingga atas dasar kelainan kulit inilah kita dapat membangun diagnosis.

Akan tetapi kadang temuan efloresensi tidak khas atau tidak jelas, sehingga

diperlukan pemeriksaan penunjang. Sehingga diagnosis menjadi lebih tepat. 14

Pemeriksaan mikroskopik langsung terhadap bahan pemeriksaan merupakan

pemeriksaan yang cukup cepat, berguna dan efektif untuk mendiagnosis infeksi

jamur.6

Pemeriksaan KOH merupakan pemeriksaan tunggal yang paling penting

untuk mendiagnosis infeksi dermatofit secara langsung dibawah mikroskop

dimana terlihat hifa diantara material keratin.5

Tabel 1.2 Gambaran efloresensinya sebagai berikut 6

Penyakit jamur Floresensi


Tinea kapitis Hijau, biru kehijauan

Pitiriasis versikolor Kuning keemasan


Bukan Penyakit jamur Effloresensi
Eritasma Merah bata

Obat tetrasiklin Kuning

1.2.7 Diagnosis

Diagnosis ditetapkan berdasarkan gambaran klinis dan lokalisasinya atau

pemeriksaan sediaan langsung kerokan lesi dengan larutan KOH 20%, untuk

melihat elemen jamur dermatofit. Biakan jamur diperlukan untuk identifikasi

spesies jamur penyebab yang lebih akurat.10

Diagnosis pasti digunakan melakukan pemeriksaan dengan menggunakan

mikroskop untuk mengidentifikasi adanya hifa dan spora untuk mengetahui

infeksi dermatofit. Infeksi dapat dikonfirmasi atau beberapa dari keadaan ini

diidentifikasi dari hasil positif kerokan oleh kultur jamur. 14

8
1.2.8 Diagnosis Banding

Bergantung variasi gambaran klinis, tinea korporis kadang sulit dibedakan

dengan beberapa kelainan kulit yang lainnya. Antara lain dermatitis kontak,

dermatitis numularis, dermatitis seboroik, ptiriasis rosea,6,12 dan psoriasis.6,7,12

Untuk alasan ini, tes laboraturium sebaiknya dilakukan pada kasus dengan lesi

kulit yang tidak jelas penyebabnya.6

Kelainan kulit pada dermatitis seboroik selain dapat menyerupai tinea

korporis, biasanya dapat terlihat pada tempat-tempat predileksi, misalnya dikulit

kepala, lipatan-lipatan kulit, misanya belakang telinga, daerah nasolabial dan

sebagainya. Psoriasis dapat dikenal dari kelainan kulit dari tempat predileksi,

yaitu daerah ekstensor, misalnya lutut, siku dan punggung. Kulit kepala berambut

juga sering terkena pada penyakit ini. Adanya lekukan lekukan pada kuku dapat

pula menolong untuk menentukan diagnosis. 12

Pitiriasis rosea, yang distribusi kelainan kulitnya simetris dan terbatas, tubuh

dan bagian proksimal anggota badan, sukar dibedakan dengan tinea korporis tanpa

heral patch yang dapat membedakan penyakit ini dengan tinea korporis.

Pemeriksaan laboratoriumlah yang dapat memastikan diagnosisnya. 12

1.2.9 Penatalaksanaan

Menghilangkan faktor predisposisi penting, yaitu dengan langkah promotif

dan preventif. Secara garis besar berupa penjelasan mengenai penyakit agar tidak

residif, pengobatan yang tepat, menghindari faktor risiko dan faktor

predisposisi yang dapat menyebabkan tinea kembali. Hal-hal yang perlu

diedukasi antara lain :

a. Menggunakan pakaian yang menyerap keringat, tipis dan longgar.


b. Mengeringkan tubuh setelah mandi atau berkeringat.

9
c. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
d. Tidak menggunakan pakaian, handuk maupun selimut bergantian dengan

orang lain, membersihkan pakaian yang terkontaminasi dengan jamur.


e. Jaga daeraah yang pernah atau sedang terinfeksi agar tetap kering,
f. Jika pasien mengalami obesitas maka disarankan untuk menurunkan berat

badan.
g. Menggunakan kaus kaki sebelum mengenakan celana untuk meminimalkan

transfer jamur dari kaki ke sela paha (autoinokulasi). 14

Terapi medikamentosa dibagi menjadi dua, yaitu lokal dan sistemik.

A. Terapi topikal

Terapi direkomendasikan untuk infeksi lokal karena dermatofit biasanya hidup

pada jaringan. Berbagai macam preparat imidazol dan alilamin tersedia dalam

berbagai formulasi. Dan semuanya memberikan keberhasilan terapi (70-100%).

Terapi topikal digunakan 1-2 kali sehari selama 2 minggu tergantung agen yang

digunakan. Topikal azol dan allilamin menunjukkan angka perbaikan perbaikan

klinik yang tinggi.7

Berikut obat yang sering digunakan :

1. Topical azol terdiri atas :

a. Econazol 1 %

b. Ketoconazol 2 %

c. Clotrinazol 1%

d. Miconazol 2% dll.

Derivat imidazol bekerja dengan cara menghambat enzim 14-alfa-dimetilase

pada pembentukan ergosterol membran sel jamur. 7,15

2. Allilamin bekerja menghambat allosterik dan enzim jamur skualen 2,3

epoksidase sehingga skualen menumpuk pada proses pembentukan ergosterol

10
membran sel jamur.10 yaitu aftifine 1 %, butenafin 1% Terbinafin 1%

(fungisidal bersifat anti inflamasi ) yang mampu bertahan hingga 7 hari

sesudah pemakaian selama 7 hari berturut-turut.7,15

3. Sikloklopirosolamin 2% (cat kuku, krim dan losio) bekerja menghambat

masuknya bahan esensial selular dan pada konsentrasi tinggi merubah

permeabilitas sel jamur merupakan agen topikal yang bersifat fungisidal dan

fungistatik, antiinflamasi dan anti bakteri serta berspektrum luas.7

4. Kortikosteroid topikal yang rendah sampai medium bisa ditambahkan pada

regimen anti jamur topikal untuk menurunkan gejala. Tetapi steroid hanya

diberikan pada beberapa hari pertama dari terapi. 5,7

B. Terapi sistemik

Pedoman yang dikeluarkan oleh American Academy of Dermatology

menyatakan bahwa obat anti jamur (OAJ) sistemik dapat digunakan pada kasus

hiperkeratosis terutama pada telapak tangan dan kaki, lesi yang luas, infeksi

kronis, pasien imunokompromais, atau pasien tidak responsif maupun intoleran

terhadap OAJ topikal. 14

1. Griseofulvin

Obat ini berasal dari penicillium griceofulvum dan masih dianggap baku emas

pada pengobatan infeksi dermatofit genus Trichophyton, Microsporum,

Epidermophyton. Berkerja pada inti sel, menghambat mitosis pada stadium

metafase. 12

2. Ketokonazol

Merupakan OAJ sistemik pertama yang berspektrum luas, fungistatik,

termasuk golongan imidazol. Absorbsi optimum bila suasana asam. 12

11
3. Flukonazol

Mempunyai mekanisme kerja sama dengan golongan imidazol, namun absorbsi

tidak dipengaruhi oleh makanan atau kadar asam lambung. 12

4. Itrakonazol

Merupakan OAJ golongan triazol, sangat lipofilik, spektrum luas, bersifat

fungistatik dan efektif untuk dermatofita, ragi, jamur dismorfik maupun jamur

dematiacea. Absorbsi maksimum dicapai bila obat diminum bersama dengan

makanan. 12

5. Amfosterin B

Merupakan anti jamur golongan polyen yang diproduksi oleh Streptomyces

nodosus. Bersifat fungistatik, pada konsentrasi rendah akan menghambat

pertumbuhan jamur, protozoa dan alga. Digunakan sebagai obat pilihan pada

pasien dengan infeksi jamur yang membahayakan jiwa dan ti dak sembuh

dengan preparat azol.12

1.2.10 Prognosis

Untuk tinea korporis yang bersifat lokal, prognosisnya akan baik dengan

tingkat kesembuhan 70-100% setelah pengobatan dengan azol topikal atau

allilamin atau dengan menggunakan anti jamur sistemik.14

BAB II

LAPORAN KASUS

STATUS PASIEN

1. Identitas Pasien

a. Nama : Tn. I

12
b. Jenis Kelamin : Laki- laki

c. Umur : 25 tahun

d. Rekam Medik : IV 000703

e. Pekerjaan/pendidikan : Mahasiswa

f. Alamat : Jl. Purus III no. 18, Purus,

Padang Barat

2. Keluhan Utama

Bercak - bercak merah pada punggung yang terasa gatal sejak satu minggu

yang lalu.

3. Riwayat Penyakit Sekarang

 Muncul bercak - bercak merah pada punggung yang terasa gatal

sejak satu minggu yang lalu.


 Awalnya bercak tersebut muncul di daerah punggung, karena gatal

yang dirasakan kemudian pasien menggaruknya dan bercak semakin hari

bertambah banyak dan meluas sampai ke kedua lengan atas, dada dan perut.
 Bercak dirasakan semakin gatal ketika berkeringat.
 Pasien mandi 2 kali sehari, menggunakan sabun, dan keramas setiap

hari.
 Riwayat menggunakan sabun, handuk, dan baju bersama ada dengan

temannya.
 Riwayat kontak dengan binatang peliharaan seperti kucing tidak ada.
 Riwayat berkebun atau kontak dengan tanah tidak ada.
 Riwayat menggunakan pakaian berlapis - lapis ada.
 Keluhan kuku, rambut, selangkangan dan daerah kemaluan tidak

ada.
 Riwayat demam, batuk atau nyeri tenggorokan sebelumya tidak ada.
 Riwayat mengonsumsi obat-obatan jangka panjang tidak ada.

13
 Riwayat alergi obat, makanan, debu, bersin-bersih di pagi hari, asma

tidak ada.
 Pasien tidak pernah mengalami sakit seperti ini sebelumnya.
 Tidak ada anggota keluarga yang terkena penyakit seperti pasien.
4. Riwayat Penyakit Sebelumnya
Pasien belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.
5. Riwayat Keluarga
 Tidak ada anggota keluarga yang mengeluhkan hal serupa.

 Riwayat hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung koroner, penyakit hati

dan ginjal tidak ada.

6. Riwayat Pengobatan
Pasien sempat berobat ke apotek, memperlihatkan bercak tersebut, kemudian

diberikan obat. Pasien mendapat obat makan dan bedak gatal, nama obat yang

diberikan adalah ctm, namun pasien menyatakan tidak ada perubahan.

Kemudia pasien kembali mengunjungi apotek namun apotek yang berbeda,

dan mendapatkan obat ctm dan metiprednisolon, namun pasien belum sempat

meminumnya.

7. Riwayat Sosial - Ekonomi - Demografi

a. Status Perkawinan : Belum menikah

b. Jumlah Anak : Tidak ada

c. Status Ekonomi Keluarga : Tidak diketahui

8. Pemeriksaan Fisik

a. Status Generalis

Keadaan Umum : Baik

Kesadaran : Komposmentis kooperatif

Nadi : 68x/ menit

Nafas : 16x/menit

14
Suhu : 36,7oC

BB : 48 kg

TB : 165 cm

Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak

ikterik

Kulit : Status dermatologikus

Paru : Suara nafas bronkovesikular, Rh -/-, Wh -/-

Jantung : Irama reguler, bising (-), Gallop (-)

Abdomen : Tidak tampak membuncit, BU (+) normal

Punggung : Sudut kostovertebra: nyeri tekan (-), nyeri

ketok (-)

Genitalia : Tidak dilakuksn pemeriksaan

Anus : Tidak dilakukan pemeriksaan

Ekstremitas : Akral teraba hangat, crt < 2 detik, edema

(-)

b. Status lokalis

15
Status Dermatologikus :
 Lokasi : punggung, kedua lengan atas, perut dan dada
 Distribusi : regional
 Bentuk : tidak khas
 Susunan : polisiklik
 Batas : tegas

16
 Ukuran : miliar – numular
 Efloresensi : tampak gambaran lesi makula eritem dengan pinggir lesi aktif.

9. Pemeriksaan Anjuran

Kerokan Kulit dengan KOH 10 %

10. Diagnosis Kerja

Tinea korporis

11. Diagnosis Banding

a. Psoriasis
b. Urtikaria

12. Manajemen

a. Promotif

1. Edukasi kepada pasien bahwa penyakit ini disebabkan oleh infeksi jamur di

mana penyakit ini berhubungan dengan higienitas yang rendah, pakaian dan

keringat. Hal tersebut yang menjadi kondisi-kondisi yang meningkatkan

pertumbuhan jamur karena berkaitan dengan kelembapan yang tinggi, dan

berikan edukasi bagaimana cara mengatasi kelembaban tersebut.


2. Berikan edukasi bahwa tinea ini menular, dapat ditularkan melalui manusia

(antropofilik), binatang (zoofilik), maupun tanah (geofilik) yang

mengandung elemen jamur, oleh sebab itu pasien dilarang untuk menggaruk

kulitnya karena elemen jamur tersebut bisa menempel di kulit sehingga

dapat menularkan ke bagian tubuh yang lain (antropofilik). Selain itu

beritahukan kepada pasien bahwa penggunaan pakaian dan handuk

bersamaan dengan pasien tinea dapat menularkan tinea (antropofilik). Untuk

zoofilik, diterangkan bahwa penularannya pada binatang peliharaan seperti

anjing, kucing yang mempunyai kelainan kulit dengan gambaran bulu-bulu

rontok dan ada bintik-bintik pada kulit atau kurap.

17
3. Berikan edukasi kepada pasien bahwa pengobatan tinea ini membutuhkan

waktu yang lama sekitar 4-6 minggu, dan tidak boleh putus obat. Kemudia

kontrol berobat setelah 7 hari pengobatan.

b. Preventif

1. Edukasi kepada keluarga pasien untuk meningkatkan kebersihan per

orangan dan lingkungan, antara lain biasakan mandi 2 kali sehari dengan

menggunakan sabun per orang dan menggosok anggota badan dengan baik

serta keramas secara rutin.


2. Tidak menggunakan pakaian, handuk, sprei bersama anggota keluarga

serumah dan bersama teman- teman.


3. Mengganti pakaian jika lembab
4. Hindari pemakaian pakaian yang berlapis-lapis
5. Usahakan badan tetap kering
6. Hindari menggaruk-garuk gatal dengan tangan untuk mencegah penularan

ke bagian tubuh yang lain.


7. Gunting kuku karena kuku yang panjang memudahkan terjadinya lecet pada

kulit akibat garukan.

c. Kuratif

Sistemik : Griseofulvin 125mg  1x4 tablet pada malam hari selama 4 – 6

minggu.

Chlorphenyramine maleat (CTM) 4mg  saat terasa gatal 3x1

tablet.

Topikal : Ketokonazol krim 2%  dioleskan pada lesi 2-3x1 setelah mandi

dan

dilebihkan 1 cm dari pinggir lesi.

d. Rehabilitatif

1. Perbaikan pola hidup pada pasien yang suka memakai baju secara bersama

18
dengan teman - temannya.

2. Kontrol teratur ke Puskesmas karena pengobatan memerlukan waktu yang

lama.

Dinas Kesehatan Kota Padang

Puskesmas Padang Pasir

dr. xxx
Padang, 18 September 2017

R/ tube Ketokonazol krim 2% No. II

/ s 2 d d applic loc dol

R/ tab Griseofulvin 125 mg No. XXVIII

//S 1 d d tab 4 (malam)

R/ CTM 4 mg No. X

// s p r n max 3 dd tab I

Pro : Tn. I

Umur : 25 tahun

Alamat : Jl. Purus III No. 18- Padang Barat

BAB III
DISKUSI

19
Telah datang seorang laki-laki berusia 25 tahun ke Puskesmas Padang
Pasir pada tanggal 18 September 2017, dengan keluhan utama muncul bercak-
bercak kemerahan pada punggung yang terasa gatal sejak 1 minggu yang lalu.
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien kasus ini,
didapatkan gejala dan tanda yang mengarahkan diagnosis kepada tinea korporis.
Pada kasus ini pasien mengeluhkan adanya bercak- bercak merah yang gatal pada
punggung sejak satu minggu yang lalu. Awalnya bercak-bercak merah hanya di
daerah punggung, kemudian bertambah banyak sampai ke kedua lengan atas,
dada, dan perut. Keluhan gatal dirasakan bertambah gatal saat pasien berkeringat.
Pada pemeriksaan dermatologi ditemukan ruam kulit berupa makula
eritem dengan skuama putih halus diatasnya dan terdapat central healing yaitu
bagian tepi lesi lebih aktif daripada bagian tengah pada beberapa lesi. Lesi
ditemukan pada punggung, kedua lengan atas, dada, dan perut. Hal ini sesuai
dengan kepustakaan yang menyatakan bahwa gejala klinis dari tinea korporis
yaitu lesi terdapat di lokasi selain kulit dan rambut kepala (tinea kapitis), dagu dan
jenggot (tinea barbe), genito-krural, sekitar anus, dan bokong (tinea kruris), pada
kaki dan tangan (tinea pedis et manum), dan pada kuku jari dan tangan (tinea
unguium) dan lesi awalnya berupa berupa bercak eritem kecil, berskuama, dapat
berkrusta atau vesikuler, lalu menyebar dengan batas tegas.
Diagnosa banding dari pasien ini adalah Urtikaria dan Psoriasis. Diagnosa
kerja pada pasien ini adalah Tinea Korporis. Pada kasus ini seharusnya dilakukan
pemeriksaan anjuran kerokan kulit dengan KOH 10%, namun karena keterbatasan
alat dan bahan maka pemeriksaan tersebut tidak dilakukan.
Penatalaksanaan pada pasien ini secara 2 cara yaitu secara umum dan
khusus. Secara umum yaitu menjaga higienis perseorangan, mengurangi
kelembaban badan dengan cara menghindari pemakaian pakaian berlapis dan
tidak menyerap keringat, tidak menggunakan handuk dan pakaian pribadi secara
bersama-sama. Terapi khusus yang diberikan pada kasus ini diberikan secara
topical dan oral. Pengobatan untuk tinea korporis secara topikal dapat diberikan
salah satu dari golongan imidazol, allilamin, sikloklopirosolamin dan
kortikosterois topikal. Sedangkan untuk sistemik yang biasanya digunakan yaitu

20
griseofulvin, ketokonazol, flukonazol, itrakonazol dan amfoterisin B. Pasien
diberikan obat ketoconazole salf 2% dengan pengolesan 2-3 x 1, dengan
melebihkan pengolesan 1 cm dipinggir lesi. Ketokonazol merupakan turunan
imidazol sintetik yang bersifat lipofilik dan larut dalam air pada pH asam.
Ketokonazol digunakan untuk pengobatan dermatofita, pitiriasis versikolor,
kutaneus kandidiasis, dan dapat juga untuk pengobatan dermatitis seboroik. Obat
ini bekerja dengan cara menghambat 14-α-dimetilase pada pembentukan
ergosterol membrane jamur. Pasien juga diberikan griseovulvin, dengan dosis 1x4
tab, diminum pada malam hari, dikarenakan efek fotofobia yang dapat
ditimbulkan. Griseofulvin merupakan obat yang bersifat fungistatik. Obat ini
bekerja dengan cara masuk ke dalam sel jamur dan berinteraksi dengan
mikrotubulus dalam jamur yang merusak serat mitotik dan menghambat mitosis.
Obat ini berakumulasi di daerah yang terinfeksi, disintesis kembali dalam jaringan
yang mengandung keratin sehingga menyebabkan pertumbuhan jamur terganggu.
Terapi harus dilanjutkan sampai jaringan normal menggantikan jaringan yang
terinfeksi dan biasanya membutuhkan beberapa minggu sampai bulan. Untuk efek
sampingnya, obat ini dapat menyebabkan sefalgia, gejala fotosensitif, dan
hepatotoksisitas. Selain itu pasien juga diberi antihistamin CTM 4 mg dengan
dosis 3x1 atau minum hanya bila gatal muncul, dimana ini bertujuan untuk
penanganan simptomatis yaitu mengurangi keluhan gatal.

DAFTAR PUSTAKA

21
1. Rasad A. Ilmu penyakit kulit kelamin. Jakarta : FKUI; 2008.
2. Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Jakarta: Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia; 2009.


3. Hainer . dermatophyte infections. American family physician. 2003.
4. Straten VMR, Hossain MA, Ghannoum MA. Cutaneous infections:

dermatophytosis, onchomycosis, and tinea versicolor. Infection disease

clinics of north america. 2003.


5. Patel GA, Wiederkehr M, Cshwartz RA. Tinea cruris in children. Cutis.

2009
6. Konsil kedokteran indonesia. Standar kompetensi dokter indonesia.

Edisi ke 2. Jakarta: konsil kedokteran inodnesia:2012.


7. Mila. 2011. Tinea cruris. http://doktercute.blogspot.com/2011/01/tinea-

cruris.html (diakses tanggal 25 Juli 2017).


8. Price SA,Wilson L.M. Patofisiologi. Edisi Keenam. 2006. Jakarta:

Penerbit Buku Kedokteran EGC.


9. Adiguna MS. Update teratment in inguinal intertrigo and its differential.

Denpasar: fakultas kedokteran universitas udayana: 2011.


10. Abdelal EB, Shalaby MA, Abdo MH, Alzafarany MA, Abubakar AA.

Detection of dermatophytes in clinically normal extracrural sites in

patients with tinea cruris. The gulf journal of dermatology and

venereology. 2013.
11. Sarika G, Purva A, Rahul R, Saksham G. Prevalence of dermatophytic

infection and determining sensitivity of diagnostic procedures.

International journal of pharmacy and pharmaceutical science. 2014.


12. Noble SL, Forbes RC, Stamm PL. Diagnostic and management of

commond tinea infections. American family phycisian. 1998.


13. Hidayati NA, Suyono S, Hinda D, Sandra E. Mikosis suerficial di divisi

mikologi unit rawat jalan penyakit kulit dan kelamin RSUD Dr.

22
soetomo surabaya tahun 2003-2005. Surabaya: departement kesehatan

kulit dan kelamin fakultas kedokteran universitas airlangga : 2009.


14. Risdianto A, Kadir D, Amin S. Tinea corporis and tinea cruris cause by

trichophyton mentagrophytes type granular in ashtma bronchiale

patient. Departement of dermatovenereology universitas hasanuddin.

2013.

23