Anda di halaman 1dari 32

Telah disetujui preseptor klinik Telah disetujui preseptor akademik

Hari/tanggal: Hari/tanggal :
Tanda Tangan: Tanda tangan:

-------------------------------------- -----------------------------------------
STASE MANAJEMEN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI NERS (PROFESI)

Asuhan keperawatan pada kalien dengan Hipertensi


Di ruang kelas III RSUD Kepahiang tahun 2017

LAPORAN PENDAHULUAN

Oleh:
JOHAN WAHYUDI
NPM : 172426111NS

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS DEHASEN BENGKULU
TAHUN 2017
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN HIPERTENSI
OLEH : JOHAN WAHYUDI

1. Kasus.

Hipertensi

2. Proses terjadinya masalah

a. Definisi

√ Hipertensi menurut Caraspot merupakan peningkatan tekanan

sistolik lebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan atau tekanan

diastolic sama atau lebih besar 95 mmHg (Kodim Nasrin, 2003 ).

√ Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana

tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg.

Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik

160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. (Smeltzer, 2001).

√ Hipertensi adalah tekanan darah sistolik >140 mmHg dan tekanan

darah diastolik >90 mmHg, atau bila pasien memakai obat

antihipertensi.

√ Hipertensi didefinisikan oleh Joint National Committee on

Detection (JIVC) sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140/90

mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat keparahannya, mempunyai

rentang dari tekanan darah (TD) normal tinggi sampai hipertensi

maligna.
√ Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140

mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg (Luckman

Sorensen,1996).

√ Hipertensi dikategorikan ringan apabila tekanan diastoliknya antara

95 – 104 mmHg, hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara

105 dan 114 mmHg, dan hipertensi berat bila tekanan diastoliknya

115 mmHg atau lebih. Pembagian ini berdasarkan peningkatan

tekanan diastolik karena dianggap lebih serius dari peningkatan

sistolik (Smith Tom, 1995).

b. Klasifikasi

Klasifikasi hipertensi menurut WHO

1. Tekanan darah normal yaitu bila sistolik kurang atau sama dengan

140 mmHg dan diastolik kurang atau sama dengan 90 mmHg

2. Tekanan darah perbatasan (broder line) yaitu bila sistolik 141-149

mmHg dan diastolik 91-94 mmHg

3. Tekanan darah tinggi (hipertensi) yaitu bila sistolik lebih besar

atau sama dengan 160 mmHg dan diastolik lebih besar atau sama

dengan 95mmHg.

Klasifikasi menurut The Joint National Committee on the Detection

and Treatment of Hipertension

1. Diastolik

a. < 85 mmHg : Tekanan darah normal

b. 85 – 99 : Tekanan darah normal tinggi


c. 90 -104 : Hipertensi ringan

d. 105 – 114 : Hipertensi sedang

e. >115 : Hipertensi berat

2. Sistolik (dengan tekanan diastolik 90 mmHg)

a. < 140 mmHg : Tekanan darah normal

b. 140 – 159 : Hipertensi sistolik perbatasan

terisolasi

c. > 160 : Hipertensi sistolik teriisolasi

Krisis hipertensi adalah Suatu keadaan peningkatan tekanan darah

yang mendadak (sistole ≥180 mmHg dan/atau diastole ≥120 mmHg),

pada penderita hipertensi, yg membutuhkan penanggulangan segera

yang ditandai oleh tekanan darah yang sangat tinggi dengan

kemungkinan timbulnya atau telah terjadi kelainan organ target (otak,

mata (retina), ginjal, jantung, dan pembuluh darah).

Tingginya tekanan darah bervariasi, yang terpenting adalah cepat

naiknya tekanan darah. Dibagi menjadi dua:

a. Hipertensi Emergensi

Situasi dimana diperlukan penurunan tekanan darah yang segera

dengan obat antihipertensi parenteral karena adanya kerusakan organ

target akut atau progresif target akut atau progresif. Kenaikan TD

mendadak yg disertai kerusakan organ target yang progresif dan di

perlukan tindakan penurunan TD yg segera dalam kurun waktu

menit/jam.
b. Hipertensi urgensi

Situasi dimana terdapat peningkatan tekanan darah yang bermakna

tanpa adanya gejala yang berat atau kerusakan organ target

progresif bermakna tanpa adanya gejala yang berat atau kerusakan

organ target progresif dan tekanan darah perlu diturunkan dalam

beberapa jam. Penurunan TD harus dilaksanakan dalam kurun waktu

24-48 jam (penurunan tekanan darah dapat dilaksanakan lebih lambat

(dalam hitungan jam sampai hari).

3. Etiologi

Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik

(idiopatik). Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output

atau peningkatan tekanan perifer. Namun ada beberapa faktor yang

mempengaruhi terjadinya hipertensi:

a. Genetik: Respon neurologi terhadap stress atau kelainan eksresi atau

transport Na.

b. Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan

tekanan darah meningkat.

c. Stress Lingkungan.

d. Hilangnya Elastisitas jaringan dan arterosklerosis pada orang tua serta

pelebaran pembuluh darah.

Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu:

a. Hipertensi Esensial (Primer)


Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi

seperti genetika, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik,

system rennin angiotensin, efek dari eksresi Na, obesitas, merokok

dan stress.

b. Hipertensi Sekunder

Dapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vaskuler renal.

Penggunaan kontrasepsi oral yaitu pil. Gangguan endokrin dll.

Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya

perubahan – perubahan pada :

a. Elastisitas dinding aorta menurun

b. Katub jantung menebal dan menjadi kaku

c. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah

berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun

menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.

d. Kehilangan elastisitas pembuluh darah

Hal ini terjadi karena kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk

oksigenasi Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.

4. Patofisiologi

Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah

terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini

bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan

keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen.

Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak


ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini,

neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut

saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya

noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor

seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh

darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat

sensitiv terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas

mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh

darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang,

mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal

mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal

mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons

vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan

penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Renin

merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi

angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang

sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi

natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra

vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.

Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan

fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan

tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi
aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam

relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan

kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya,

aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi

volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan

penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer, 2001).

Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya “hipertensi palsu”

disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff

sphygmomanometer (Darmojo, 1999).

Menurunnya tonus vaskuler merangsang saraf simpatis yang diteruskan ke sel

jugularis. Dari sel jugularis ini bisa meningkatkan tekanan darah. Dan apabila

diteruskan pada ginjal, maka akan mempengaruhi eksresi pada rennin yang

berkaitan dengan Angiotensinogen. Dengan adanya perubahan pada

angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh

darah, sehingga terjadi kenaikan tekanan darah.Selain itu juga dapat

meningkatkan hormone aldosteron yang menyebabkan retensi natrium. Hal

tersebut akan berakibat pada peningkatan tekanan darah. Dengan peningkatan

tekanan darah maka akan menimbulkan kerusakan pada organ-organ seperti

jantung. ( Suyono, Slamet. 1996 ).


Pathways
5. Tanda Dan Gejala

Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :

a. Tidak ada gejala

Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan

peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh

dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan

pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.

b. Gejala yang lazim

Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi

meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini

merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang

mencari pertolongan medis.

Menurut Rokhaeni ( 2001 ), manifestasi klinis beberapa pasien yang

menderita hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala, pusing Lemas,

kelelahan, Sesak nafas, Gelisah, Mual Muntah, Epistaksis,

Kesadaran menurun

Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah :

a. Peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg 2.

b. Sakit kepala

c. Pusing / migraine

d. Rasa berat ditengkuk

e. Penyempitan pembuluh darah

f. Sukar tidur
g. Lemah dan lelah

h. Nokturia

i. Azotemia

j. Sulit bernafas saat beraktivitas

6. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan penunjang dilakukan dua cara yaitu :

1) Pemeriksaan yang segera seperti :

√ Darah rutin (Hematokrit/Hemoglobin): untuk mengkaji hubungan

dari sel-sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat

mengindikasikan factor resiko seperti: hipokoagulabilitas,

anemia.

√ Blood Unit Nitrogen/kreatinin: memberikan informasi tentang

perfusi / fungsi ginjal.

√ Glukosa: Hiperglikemi (Diabetes Melitus adalah pencetus

hipertensi) dapat diakibatkan oleh pengeluaran Kadar

ketokolamin (meningkatkan hipertensi).

√ Kalium serum: Hipokalemia dapat megindikasikan adanya

aldosteron utama (penyebab) atau menjadi efek samping terapi

diuretik.

√ Kalsium serum : Peningkatan kadar kalsium serum dapat

menyebabkan hipertensi
√ Kolesterol dan trigliserid serum : Peningkatan kadar dapat

mengindikasikan pencetus untuk/ adanya pembentukan plak

ateromatosa ( efek kardiovaskuler )

√ Pemeriksaan tiroid : Hipertiroidisme dapat menimbulkan

vasokonstriksi dan hipertensi

√ Kadar aldosteron urin/serum : untuk mengkaji aldosteronisme

primer (penyebab)

√ Urinalisa: Darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal

dan ada DM.

√ Asam urat : Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko

hipertensi

√ Steroid urin : Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme

√ EKG: 12 Lead, melihat tanda iskemi, untuk melihat adanya

hipertrofi ventrikel kiri ataupun gangguan koroner dengan

menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian gelombang

P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.

√ Foto dada: apakah ada oedema paru (dapat ditunggu setelah

pengobatan terlaksana) untuk menunjukan destruksi kalsifikasi

pada area katup, pembesaran jantung.

2) Pemeriksaan lanjutan ( tergantung dari keadaan klinis dan hasil

pemeriksaan yang pertama

√ IVP :Dapat mengidentifikasi penyebab hipertensi seperti penyakit

parenkim ginjal, batu ginjal / ureter.


√ CT Scan: Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati.

√ IUP: mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti: Batu

ginjal,

perbaikan ginjal.

√ Menyingkirkan kemungkinan tindakan bedah neurologi: Spinal

tab, CAT scan.

√ (USG) untuk melihat struktur gunjal dilaksanakan sesuai kondisi

klinis pasien

7. Komplikasi

Efek pada organ :

a. Otak

√ Pemekaran pembuluh darah

√ Perdarahan

√ Kematian sel otak : stroke

b. Ginjal

√ Malam banyak kencing

√ Kerusakan sel ginjal

√ Gagal ginjal

c. Jantung

√ Membesar

√ Sesak nafas (dyspnoe)

√ Cepat lelah

√ Gagal jantung
8. Penatalaksanaan

Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas

akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan

pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg.

Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi :

1. Terapi tanpa Obat è Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk

hipertensi ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang

dan berat. Terapi tanpa obat ini meliputi :

a. Diet

b. Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :

√ Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr

√ Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh

c. Penurunan berat badan

d. Penurunan asupan etanol

e. Menghentikan merokok

f. Latihan Fisik

Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang

dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang

mempunyai empat prinsip yaitu: Macam olah raga yaitu isotonis dan

dinamis seperti lari, jogging, bersepeda, berenang dan lain-lain.

Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik

atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan.

Lamanya latihan berkisar antara 20 – 25 menit berada dalam zona


latihan Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5

x perminggu

g. Edukasi Psikologis

Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi :

1) Tehnik Biofeedback

Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk

menunjukkan pada subyek tanda

tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek

dianggap tidak normal.

Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi

gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk

gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan.

2) Tehnik relaksasi

Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan

untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara

melatih penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam

tubuh menjadi rileks Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan )

Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan

pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan

pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan

hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut.


2. Terapi dengan Obat

Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan

darah saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat

hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. Pengobatan hipertensi

umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita.

Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli

Hipertensi (JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION,

EVALUATION AND TREATMENT OF HIGH BLOOD PRESSURE,

USA, 1988) menyimpulkan bahwa obat diuretika, penyekat beta,

antagonis kalsium, atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat

tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan

penyakit lain yangadapadapenderita.

Pengobatannya meliputi :

a. Step 1

Obat pilihan pertama : diuretika, beta blocker, Ca antagonis, ACE

inhibitor

b. Step 2

Alternatif yang bisa diberikan :

1) Dosis obat pertama dinaikkan

2) Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama

3) Ditambah obat ke –2 jenis lain, dapat berupa diuretika , beta

blocker, Ca antagonis, Alpa blocker, clonidin, reserphin,

vasodilator
c. Step 3 : Alternatif yang bisa ditempuh

1) Obat ke-2 diganti

2) Ditambah obat ke-3 jenis lain

d. Step 4 : Alternatif pemberian obatnya

1) Ditambah obat ke-3 dan ke-4

2) Re-evaluasi dan konsultasi

3) Follow Up untuk mempertahankan terapi

Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan

interaksi dan komunikasi yang baik antara pasien dan petugas

kesehatan (perawat, dokter ) dengan cara pemberian pendidikan

kesehatan.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam interaksi pasien dengan

petugas kesehatan adalah sebagai berikut :

a. Setiap kali penderita periksa, penderita diberitahu hasil

pengukuran tekanan darahnya

b. Bicarakan dengan penderita tujuan yang hendak dicapai

mengenai tekanan darahnya

c. Diskusikan dengan penderita bahwa hipertensi tidak dapat

sembuh, namun bisa dikendalikan untuk dapat menurunkan

morbiditas dan mortilitas

d. Yakinkan penderita bahwa penderita tidak dapat mengatakan

tingginya tekanan darah atas dasar apa yang dirasakannya,

tekanan darah hanya dapat diketahui dengan mengukur memakai


alat tensimeter

Penderita tidak boleh menghentikan obat tanpa didiskusikan

lebih dahulu

Sedapat mungkin tindakan terapi dimasukkan dalam cara hidup

penderita

Ikutsertakan keluarga penderita dalam proses terapi

e. Pada penderita tertentu mungkin menguntungkan bila penderita atau

keluarga dapat mengukur tekanan darahnya di rumah

f. Buatlah sesederhana mungkin pemakaian obat anti hipertensi misal

1 x sehari atau 2 x sehari

g. Diskusikan dengan penderita tentang obat-obat anti hipertensi, efek

samping dan masalah-masalah yang mungkin terjadi

h. Yakinkan penderita kemungkinan perlunya memodifikasi dosis

atau mengganti obat untuk mencapai efek samping minimal dan

efektifitas maksimal

i. Usahakan biaya terapi seminimal mungkin

j. Untuk penderita yang kurang patuh, usahakan kunjungan lebih

sering

k. Hubungi segera penderita, bila tidak datang pada waktu yang

ditentukan.

l. Melihat pentingnya kepatuhan pasien dalam pengobatan maka

sangat diperlukan sekali pengetahuan dan sikap pasien tentang

pemahaman dan pelaksanaan pengobatan hipertensi.


Pengkajian Keperawatan

a. Aktivitas / istirahat

Gejala :

√ Kelemahan

√ Letih

√ Napas pendek

√ Gaya hidup monoton

Tanda :

√ Frekuensi jantung meningkat

√ Perubahan irama jantung

√ Takipnea

b. Sirkulasi

Gejala : Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner /

katup, penyakit serebrovaskuler

Tanda :

√ Kenaikan TD

√ Nadi : denyutan jelas

√ Frekuensi / irama : takikardia, berbagai disritmia

√ Bunyi jantung : murmur

√ Distensi vena jugularis

√ Ekstermitas

Perubahan warna kulit, suhu dingin ( vasokontriksi perifer ), pengisian

kapiler mungkin lambat


c. Integritas Ego

Gejala: Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, marah,

faktor stress multiple ( hubungsn, keuangan, pekerjaan )

Tanda :

√ Letupan suasana hati

√ Gelisah

√ Penyempitan kontinue perhatian

d. Eliminasi

Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu ( infeksi, obstruksi, riwayat

penyakit ginjal )

e. Makanan / Cairan

Gejala :

√ Makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam,

lemak dan kolesterol

√ Mual

√ Muntah

√ Riwayat penggunaan diuretik

Tanda :

√ BB normal atau obesitas

√ Edema

√ Kongesti vena

√ Peningkatan JVP

√ glikosuria
f Neurosensori

Gejala :

√ Keluhan pusing / pening, sakit kepala

√ Episode kebas

√ Kelemahan pada satu sisi tubuh

√ Gangguan penglihatan ( penglihatan kabur, diplopia )

√ Episode epistaksis

Tanda :

√ Perubahan orientasi, pola nafas, isi bicara, afek, proses pikir atau memori (

ingatan )

√ Respon motorik : penurunan kekuatan genggaman

√ Perubahan retinal optik

g. Nyeri/ketidaknyamanan

Gejala :

√ nyeri hilang timbul pada tungkai

√ sakit kepala oksipital berat

√ nyeri abdomen

h. Pernapasan

Gejala :

√ Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas

√ Takipnea

√ Ortopnea

√ Dispnea nocturnal proksimal


√ Batuk dengan atau tanpa sputum

√ Riwayat merokok

Tanda :

√ Distress respirasi/ penggunaan otot aksesoris pernapasan

√ Bunyi napas tambahan ( krekles, mengi )

√ Sianosis

i. Keamanan

Gejala : Gangguan koordinasi, cara jalan

Tanda : Episode parestesia unilateral transien

j. Pembelajaran / Penyuluhan

Gejala :

√ Factor resiko keluarga ; hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung, DM ,

penyakit serebrovaskuler, ginjal

√ Faktor resiko etnik, penggunaan pil KB atau hormon lain

√ Penggunaan obat / alkohol

Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul

a. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan

dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, hipertrofi/rigiditas ventrikuler,

iskemia miokard

b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, ketidakseimbangan

suplai dan kebutuhan oksigen.

c. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral


d. Cemas berhubungan dengan krisis situasional sekunder adanya hipertensi

yang diderita klien

e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang

proses penyakit
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2,
Jakarta, EGC,
Hamzah, : Ensiklopedia Artikel Indonesia, Surabaya
Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit
Buku Kedokteran, EGC,
Goonasekera CDA, Dillon MJ, 2003. The child with hypertension. In: Webb NJA,
Postlethwaite RJ, editors. Clinical Paediatric Nephrology. 3rdedition.
Oxford: Oxford University Press
Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second
Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second
Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006.
Jakarta:
Prima Medika
Smet, Bart.1994. Psikologi Kesehatan. Pt Grasindo:Jakarta
Soeparman dkk,2007 Ilmu Penyakit Dalam , Ed 2, Penerbit FKUI, Jakarta
Smeljer,s.c Bare, B.G ,2002 Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah,
Imam, S Dkk.2005. Asuhan Keperawatan Keluarga.Buntara Media:malang
RENCANA KEPERAWATAN

NO DIANGOSA KEPERAWATAN DAN


TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC)
DX KOLABORASI
1 Resiko tinggi terhadap penurunan curah NOC : NIC :
jantungberhubungan denganpeningkatan v Cardiac Pump effectiveness Cardiac Care
afterload, vasokonstriksi, hipertrofi/rigiditas
v Circulation Status § Evaluasi adanya nyeri dada (
ventrikuler, iskemia miokard v Vital Sign Status intensitas,lokasi, durasi)
Kriteria Hasil: § Catat adanya disritmia jantung
§ Tanda Vital dalam rentang normal § Catat adanya tanda dan gejala penurunan
(Tekanan darah, Nadi, respirasi) cardiac putput
§ Dapat mentoleransi aktivitas, tidak ada
§ Monitor status kardiovaskuler
kelelahan § Monitor status pernafasan yang menandakan
§ Tidak ada edema paru, perifer, dan gagal jantung
tidak ada asites § Monitor abdomen sebagai indicator
§ Tidak ada penurunan kesadaran penurunan perfusi
§ Monitor balance cairan
§ Monitor adanya perubahan tekanan darah
§ Monitor respon pasien terhadap efek
pengobatan antiaritmia
§ Atur periode latihan dan istirahat untuk
menghindari kelelahan
§ Monitor toleransi aktivitas pasien
§ Monitor adanya dyspneu, fatigue, tekipneu
dan ortopneu
§ Anjurkan untuk menurunkan stress

Vital Sign Monitoring


§ Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
§ Catat adanya fluktuasi tekanan darah
§ Monitor VS saat pasien berbaring, duduk,
atau berdiri
§ Auskultasi TD pada kedua lengan dan
bandingkan
§ Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan
setelah aktivitas
§ Monitor kualitas dari nadi
§ Monitor adanya pulsus paradoksus

§ Monitor adanya pulsus alterans


§ Monitor jumlah dan irama jantung
2 Intoleransi aktivitasberhubungan NOC : NIC :
dengankelemahan, ketidakseimbanganv Energy conservation Energy Management
suplai dan kebutuhan oksigen. v Self Care : ADLs § Observasi adanya pembatasan klien dalam
Kriteria Hasil : melakukan aktivitas
§ Berpartisipasi dalam aktivitas fisik § Dorong anal untuk mengungkapkan
tanpa disertai peningkatan tekanan perasaan terhadap keterbatasan
darah, nadi dan RR § Kaji adanya factor yang menyebabkan
§ Mampu melakukan aktivitas sehari kelelahan
hari (ADLs) secara mandiri § Monitor nutrisi dan sumber energi
tangadekuat
§ Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik
dan emosi secara berlebihan
§ Monitor respon kardivaskuler terhadap
aktivitas
§ Monitor pola tidur dan lamanya
tidur/istirahat pasien
Activity Therapy
§ Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi
Medik dalammerencanakan progran terapi
yang tepat.
§ Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas
yang mampu dilakukan
§ Bantu untuk memilih aktivitas konsisten
yangsesuai dengan kemampuan fisik,
psikologi dan social
§ Bantu untuk mengidentifikasi dan
mendapatkan sumber yang diperlukan
untuk aktivitas yang diinginkan
§ Bantu untuk mendpatkan alat bantuan
aktivitas seperti kursi roda, krek
§ Bantu untu mengidentifikasi aktivitas yang
disukai
§ Bantu klien untuk membuat jadwal latihan
diwaktu luang
§ Bantu pasien/keluarga untuk
mengidentifikasi kekurangan dalam
beraktivitas
§ Sediakan penguatan positif bagi yang aktif
beraktivitas
§ Bantu pasien untuk mengembangkan
motivasi diri dan penguatan
§ Monitor respon fisik, emoi, social dan
spiritual

3 Nyeri akut berhubungan dengan NOC : NIC :


peningkatan tekanan vaskuler serebral vPain Level, Pain Management
vPain control, § Lakukan pengkajian nyeri secara
vComfort level komprehensif termasuk lokasi,
Kriteria Hasil : karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan
§ Mampu mengontrol nyeri (tahu faktor presipitasi
penyebab nyeri, mampu§ Observasi reaksi nonverbal dari
menggunakan tehnik nonfarmakologi ketidaknyamanan
untuk mengurangi nyeri, mencari§ Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk
bantuan) mengetahui pengalaman nyeri pasien
§ Melaporkan bahwa nyeri berkurang§ Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
dengan menggunakan manajemen § Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
nyeri § Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan
§ Mampu mengenali nyeri (skala, lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri
intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) masa lampau
§ Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri § Bantu pasien dan keluarga untuk mencari
berkurang dan menemukan dukungan
§ Tanda vital dalam rentang normal § Kontrol lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan
§ Kurangi faktor presipitasi nyeri
§ Pilih dan lakukan penanganan nyeri
(farmakologi, non farmakologi dan inter
personal)
§ Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
menentukan intervensi
§ Ajarkan tentang teknik non farmakologi
§ Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
§ Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
§ Tingkatkan istirahat
§ Kolaborasikan dengan dokter jika ada
keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil
§ Monitor penerimaan pasien tentang
manajemen nyeri

Analgesic Administration
§ Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan
derajat nyeri sebelum pemberian obat
§ Cek instruksi dokter tentang jenis obat,
dosis, dan frekuensi
§ Cek riwayat alergi
§ Pilih analgesik yang diperlukan atau
kombinasi dari analgesik ketika pemberian
lebih dari satu
§ Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe
dan beratnya nyeri
§ Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian,
dan dosis optimal
§ Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk
pengobatan nyeri secara teratur
§ Monitor vital sign sebelum dan sesudah
pemberian analgesik pertama kali
§ Berikan analgesik tepat waktu terutama saat
nyeri hebat
§ Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan
gejala (efek samping)

4 Cemas berhubungan dengan krisis Setelah dilakukan tindakan Anxiety Reduction


situasional sekunder adanya hipertensi yang keperawatan selama 3 x 24§ Gunakan pendekatan yang menenangkan
diderita klien jam, cemas pasien berkurangdengan§ Nyatakan dengan jelas harapan terhadap
kriteria hasil: pelaku pasien
v Anxiety Control § Jelaskan semua prosedur dan apa yang
v Coping dirasakan selama prosedur
v Vital Sign Status § Temani pasien untuk memberikan
§ Menunjukan teknik untuk keamanan dan mengurangi takut
mengontrol cemas è teknik nafas§ Berikan informasi faktual mengenai
dalam diagnosis, tindakan prognosis
§ Postur tubuh pasien rileks dan§ Dorong keluarga untuk menemani anak
ekspresi wajah tidak tegang § Lakukan back / neck rub
§ Mengungkapkan cemas berkurang § Dengarkan dengan penuh perhatian
§ TTV dbn § Identifikasi tingkat kecemasan
TD = 110-130/ 70-80 mmHg § Bantu pasien mengenal situasi yang
RR = 14 – 24 x/ menit menimbulkan kecemasan
N = 60 -100 x/ menit § Dorong pasien untuk mengungkapkan
S = 365 – 375 0C perasaan, ketakutan, persepsi
§ Instruksikan pasien menggunakan teknik
relaksasi
§ Barikan obat untuk mengurangi kecemasan

5 Kurang pengetahuan berhubungan dengan NOC : NIC :


kurangnya informasi tentang proses v Kowlwdge : disease process Teaching : disease Process
penyakit v Kowledge : health Behavior § Berikan penilaian tentang tingkat
Kriteria Hasil : pengetahuan pasien tentang proses penyakit
§ Pasien dan keluarga menyatakan yang spesifik
pemahaman tentang penyakit,
§ Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan
kondisi, prognosis dan program bagaimana hal ini berhubungan dengan
pengobatan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang
§ Pasien dan keluarga mampu tepat.
melaksanakan prosedur yang
§ Gambarkan tanda dan gejala yang biasa
dijelaskan secara benar muncul pada penyakit, dengan cara yang
§ Pasien dan keluarga mampu tepat
menjelaskan kembali apa yang § Gambarkan proses penyakit, dengan cara
dijelaskan perawat/tim kesehatan yang tepat
lainnya. § Identifikasi kemungkinan penyebab, dengna
cara yang tepat
§ Sediakan informasi pada pasien tentang
kondisi, dengan cara yang tepat
§ Hindari harapan yang kosong
§ Sediakan bagi keluarga atau SO informasi
tentang kemajuan pasien dengan cara yang
tepat
§ Diskusikan perubahan gaya hidup yang
mungkin diperlukan untuk mencegah
komplikasi di masa yang akan datang dan
atau proses pengontrolan penyakit
§ Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
§ Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau
mendapatkan second opinion dengan cara
yang tepat atau diindikasikan
§ Eksplorasi kemungkinan sumber atau
dukungan, dengan cara yang tepat
§ Rujuk pasien pada grup atau agensi di
komunitas lokal, dengan cara yang tepat
§ Instruksikan pasien mengenai tanda dan
gejala untuk melaporkan pada pemberi
perawatan kesehatan, dengan cara yang
tepat

Anda mungkin juga menyukai