Anda di halaman 1dari 10

Pantun adalah jenis puisi lama yang setiap baitnya terdiri dari empat baris, memiliki

sampiran, dan isi serta sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Selain
itu pantun juga mempunyai sebuah aturan dan ketentuan yang mengikat.

Pantun sendiri berasal dari kata “patuntun” yang dalam bahasa Minangkabau
memiliki maknan petuntun. Pantun didalam bahasa Jawa sering di sebut atau
dikenal sebagai parikan. Kalau dalam bahasa sunda sering dikenal
sebagai paparikan, dan pantun dalam bahasa batak disebut
dengan umpasa. (wikipedia)

Pantun pada awalnya dipopulerkan oleh sastrawan dari Riau yaitu raja Ibrahim datuk
kaya muda. Raja Ibrahim merupakan salah satu sastrawan yang hidup satu zaman
dengan raja Ali Haji yang dikenal dengan karyanya gurindam 12.

Pantun merupakan salah satu jenis karya sastra lisan yang masih populer sampai
saat ini. Seiring dengan perkembangan zaman, pantun masih tetap populer
meskipun ada yang belum mengenalnya.
Pantun juga bisa memberikan pengarung baik terhadap diri sendiri. Contohnya
adalah dapat menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan bahasa diri sendiri
serta meningkatkan kreativitas dalam berbahasa.

Sedangkan untuk dampak positif terhadap orang lain adalah bisa memberikan
nasehat dengan cara yang santun, dan dapat juga menghibur orang lain. Pantun
tidak bisa disebut dengan pantun, jika dalam pembuatannya tidak mengikuti kriteria
yang mengikatnya.

Ciri-ciri Pantun

Berikut ini ciri-ciri pantun :

1. Pada Umumnya Pantun Terdiri dari 4 Baris/Larik

Apabila bentuk prosa mempunyai paragraf yang tiap rangkaian kalimat berada
dalam satu gagasan utama. Untuk jenis puisi lebih sering disebut dengan bait,
biasanya setiap bait berisi kerangka kata-kata yang berada dalam satu gagasan.
Pada umumnya puisi mempunyai ciri khas masing-masing tergantung dengan
jenisnya.

Namun, untuk pantun atau puisi lama ini mempunya ciri khas yang kuat, yaitu tiap
baitnya terdiri atas empat baris. Sering juga kata-kata dalam pantun dikenal dengan
sebutan larik.
2. Satu Bait Terdiri dari 8 Sampai 12 Suku Kata

Pada awalnya pantun tidak dituliskan, tapi melainkan di sampaikan secara lisan.
Dari situlah, tiap baris pada dibuat sesingkat mungkin, tapi masih banyak makna dan
juga padat dengan isi. Maka dari itu, alasan inilah yang mengungkapkan bahwa tiap
baris pada pantun umumnya terdiri dari 8 sampai 12 suku kata.

3. Baris Pertama dan Kedua merupakan Sampiran

Pantun memiliki sebuah keunikan yang membuatnya menjadi mudah diingat, puisi
lama ini tidak hanya padat isi, namun melainkan juga mempunyai pengantar yang
sangat puitis, sehingga terdengar jenaka ketika dilantunkan.

Biasanya pengantar tersebut tidak berkaitan dengan isi, tapi menjelaskan tentang
peristiwa maupun kebiasaan yang terjadi pada masyarakat. pengantar isi puisi lama
inilah yang sering lebih dengan nama sampiran. Untuk letaknya sampiran didalam
pantun, yaitu berada di baris pertama dan kedua.

4. Baris Ketiga dan Keempat yaitu Isi

Setelah mengetahui itu letak sampiran yang ada didalam pantun, sekarang saatnya
mengetahui letak isi pada pantun. Isi pantun ini berada pada baris ketiga dan
keempat.

5. Bersajak a-a-a-a atau a-b-a-b

Terkadang jenis puisi lama banyak dengan rima, termasuk dengan pantun. Rima
atau yang sering dikenal dengan sajak merupakan kesamaan bunyi yang terdapat
pada puisi. Untuk pantun sendiri mempunyai ciri khas yaitu rimanya adalah a-a-a-a
atau a-b-a-b.

Maksudnya adalah ada kesamaan bunyi antara baris pertama dengan ketiga pada
pantun, dan baris yang kedua sama halnya dengan baris keempat. Jadi,
kesimpulannya yaitu kesamaan bunyi pada pantun selalu terjadi antara sampiran
dan isi.
6. Sampiran dan Isi merupakah Inti yang Terpisah.
7. Pantun merupakan Sebuah Karya yang Bersifat Anonim (tidak diketahui
pengarangnya).
Jenis – jenis Pantun
Sebenarnya jenis pantunini ada banyak sekali kategorinya. Namun di artikel ini saya
akan menyamp[aikan yang umum saja. Jenis pantun ini dibedakan menjadi dua
kelompok yaitu Pantun berdasarkan keterkaitan sampiran dan isi, serta pantun
berdasarkan isi. Berikut ini penjelasannya lebih lengkap :

Pantun berdasarkan keterkaitan sampiran dan isi

1. Pantun Mulia

Yaitu pantun yang sampiran dan isi berkaitan. Kata-kata yang disusun dan
diungkapkan pada sampiran merupakan indikasi keterkaitan terhadap isi. Contoh :

jangan suka makan mentimun


karna mentimun banyak getahnya
hai kawan jangan melamun
melamun itu tak ada gunanya

2. Pantun tak Mulia

Yaitu pantun yang tidak mempunyai keterkaitan antara sampiran dan isi, pantun tak
mulia adalah kebalikannya dengan pantun mulia. Contohnya :

ke pasar membeli gitar


Jangan lupa beli sukun
Jika kamu ingin pintar
Belajarlah dengan tekun

Pantun berdasarkan Isi

1. Pantun Nasehat

Pantun nasehat adalah pantun yang didalamnya memberi imbauan dan anjuran
kepada seseorang atau masyarakat. Pantun nasehat merupakan pantun yang isinya
sering banyak dijumpai. Jenis pantun ini memiliki isi yang bertujuan untuk
menyampaikan pesan moral dan pendidikan. Contoh :

Bertamu ke rumah paman


Jangan lupa bawa kedondong
Jika ingin miliki teman
Jangan engkau berlaku sombong
2. Pantun Agama

Pantun yang membahas mengenai manusia dengan pencipta-Nya. Tujuan dari


pantun ini sama dengan pantun nasehat, yaitu memberikan pesan moral dan
pendidikan pada pendengar ataupun pembaca. Namun, tema dari pantun ini lebih
mendetail karena mengandung nilai-nilai dan prinsip agama tertentu. Contoh :

Asam kandis asam gelugur


Ketiga asam si riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang

3. Pantun Jenaka

Pantun ini memiliki kandungan isi yang lucu dan menarik, sesuai dengan namanya
yaitu jenaka. Tujuan dari pantun jenaka yaitu untuk menghibur kepada pendengar
ataupun pembacanya.

Pantun jenaka jarang sekali digunakan untuk menyampaikan sindiran dengan


kondisi masyarakat, dan peungkapannya juga dibentuk dengan ringan. Contoh :

Petik buah di rawa rawa


Jangan ambil yang belum masak
Sakit perut sebab tertawa
Lihat kucing duduk berbedak

4. Pantun Anak-anak

Pantun bukan hanya untuk orang dewasa, namun bisa juga disampaikan terhadap
anak-anak. Tujuan pantun ini adalah untuk mengenalkan anak dengan pantun,
sekaligus memberikan didikan moral bagi anak. Dan pastinya isi dari pantun tersebut
lebih ringan serta membahas tentang hal-hal yang bisa menyenangkan si anak-
anak. Contoh :

Kita menari ke luar bilik


Sembarang tari kita tarikan
Kita bernyanyi bersama adik
Sembarang lagi kita nyanyikan
5. Pantun Teka-teki

Pantun ini mempunyai sebuah ciri khas, dan beda sendiri dengan lainnya. Ciri
khasnya yaitu terdapat pada isinya yang diakhiri dengan pertanyaan pada larik
terakhir. Tujuan dari pantun ini adalah untuk hiburan dan kebersamaan. Contoh :

Terendak bentan lalu dibeli


Untuk pakaian, saya turun ke sawah
Kalaulah tuan bijak bestari
Apa binatang kepala di bawah?

6. Pantun Cinta

Pantun ini berisi tentang cinta dan kasih sayang. Pada umumnya pantun cinta ini
populer di kehidupan para pemuda dan pemudi melayu. Tujuan pantun ini yaitu
untuk menyampaikan perasaan mereka kepada kekasihnya atau terhadap orang
yang disukai. Contoh :

Jelas sudah muram si duda


Karena kasihnya tiada lagi asa
Tiada detik bias wajah dinda
Hingga lapar tak lagi terasa

7. Pantun Persahabatan

Pantun ini berisi tentang kisah-kisah persahabat seorang pribadi. Terkadang pantun
persahabatan mengungkapkan tentang hubungan baik atau peristiwa-peristiwa
dengan teman atau sahabat.

8. Pantun Pahlawan

Pantun ini berisi tentang kisah-kisah pengorbanan dan perjuangan oleh para
pahlawan. Tujuan dari pantun ini adalah untuk mengenang jasa-jasa yang telah ia
korbankan kepada negara.

9. Pantun Budi Pekerti

Pantun ini berisi kesopanan dan perilaku. Tujuannya adalah untuk memberikan
adab-adab terhadap orang lain atau kepada orang yang lebih tua dengan kita.

10. Pantun Perpisahan

Pantun ini berisi tentang kata-kata perpisahaan atau kata-kata pentup.


Struktur Pantun

Pada umumnya teks pantun hanya dibentuk oleh dua elemen, yaitu sampiran dan
isi. Dari elemen-elemen tersebut sehingga menjadi sebuah teks yang utuh.

1. Sampiran, merupakan elemen yang berada pada teks pantun yang terletak di dua
baris pertama. Dan umumnya mempunyai rangkaian kata yang tidak memiliki
hubungan sama sekali dengan bagian kedua ataupun bagian isi.

2. Isi, juga merupakan sebuah elemen yang berada pada teks pantun dan terletak
pada dua baris terakhir. Yang dimana itu merupakan sebuah tujuan atau hal yang
penting dari pantun dibuat.

Contoh Pantun

Pak Tegus pergi ke Bali


Melihat bule sedang menari
Aduh pantas kau bau sekali
Kau belum mandi enam hari

Makan pagi sepiring berdua


Rasanya enak tiada tara
Awas cowok pandai menggoda
Diam-diam watak buaya
Hari rabu memetik salak
Buahnya segar hilang dahaga
Hormati Ibu juga Bapak
Agar kelak masuk surga

Sungguh indah syair setanggi


Menyusun kata bagai hiasan
Ilmu itu mesti tinggi
Jangan dunia sebagai batasan

Jalan-jalan ke Ciamis
Ada gedung parkirnya gratis
Aku cinta sama si kumis
orangnya ganteng lagi romantis

Kemanapun kaki melangkah


Aku selalu mengurai doa
Kemanapun cinta merambah
Aku selalu mengurai setia

Badan siapa terkena kudis


Obati saja dengan lada
Siang malam merayu gadis
Duduk bersanding bersama janda

Makan bubur di atas meja…,


Minumnya jus di balik rak…,
Hari libur terus bekerja..,
Dapat bonus ambilnya di ira, wkwk

Air cuka bercampur pasta,


terkena mata jadi terluka.
Jangan suka berkata dusta,
Kalau tak ingin masuk neraka

Kalau tuan pergi ke Tuban


Jangan lupa mampir ke Daka
Shalat itu perintah Tuhan
Jika ingkar masuk neraka